0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Kontrak Jiwa Aoi Shiraishi

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan5 halaman

Kontrak Jiwa Aoi Shiraishi

Diunggah oleh

afrizalshevar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 4

“Selamat datang di sini, Aoi Shiraishi. Dunia dimana yang lemah adalah makanan, dan yang kuat
makan.”
Suara itu jelas tanpa hambatan sedikit pun masuk di gendang telingaku, perasaan campur aduk
menjadi satu, bingung, terkejut, tidak percaya, penasaran, dan sebagainya. Entah apakah diriku
ini bisa menerima atau tidak.
“Tunggu, apa maksudmu?”
“Ya ini maksudku, sekarang ini adalah duniamu. Kamu sudah melihat sekelilingmu bukan? Ini
tidak ada bedanya dengan dunia asalmu, bahkan kamu memiliki kekuatan khusus di sini,” jelas
Mashiro.
“Ini, duniaku?” Sambil memandangi kedua telapak tanganku yang gemetaran, entah karena pagi
hari ini yang dingin atau ucapannya itu.
“Apakah tidak ada kemungkinan aku kembali ke duniaku?”
“Aku tidak berjanji, tapi kemungkinan besarnya adalah tidak, karena sebelumnya pemilik tubuh
yang mati itu sudah terikat janji,” balasnya dengan ekspresi berpikir dan menggeleng pasrah.
“Janji?”
“Biarku jelaskan semuanya, ini semua karena sebuah Skill, yaitu kekuatan khusus. Dan skill itu
digunakan untuk mengikat jiwa pengguna dan jiwa orang lain, namun karena kematiannya itu
bersamaan dengan skill yang digunakannya, jadilah jiwamu yang menggantikan.”
“Jiwaku yang menggantikan? Jadi sekarang aku yang terikat dengan jiwa orang lain? Tapi
dengan siapa memangnya orang itu mengikat jiwanya?” tanyaku langsung setelah memahami
penjelasan panjang lebarnya.
Gadis dengan mata dan rambut laksana laut luas itu tersenyum kecil, menampakkan rasa senang,
“Pertanyaan yang bagus, tentu saja kemampuan mengikat jiwa itu dilakukan denganku.”
“De-denganmu? Tunggu, kenapa? Jangan memainkanku, aku tahu kamu tidak serius dengan
ucapanmu itu,” sanggahku.
“Sejak kapan aku berbohong denganmu, lagi pula jiwa kita sudah terikat satu sama lain. Kamu
tentunya juga tahu kalau aku membual atau tidak.”
“Jiwa kita sudah terikat? Oleh Skill?”
“Benar, Devico Sunt Servanda.”
“Devico Sunt Servanda?”
Ia mengangguk, memandangi tubuhku dari bawah hingga mata kami saling bertemu, “Iya, salah
satu dari skillmu, yang berarti pembuatan sebuah kontrak.”
“Skillku, adalah kekuatan untuk membuat kontrak dengan jiwa lain?” telaahku memahami
perkataanya. “Lalu mengapa kontrak itu terjadi? Dan apa yang harus kulakukan agar kontrak ini
terselesaikan?”
“Sederhana saja, kontrak terjadi karena persetujuan kedua pihak bukan? Dan dari masing-masing
pihak memiliki permintaan atau perjanjian untuk dikehendaki. Tentu, jika perjanjian itu selesai,
kontrak akan berakhir.”
“Kalau kontrak berakhir, apakah aku akan kembali ke dunia asalku? Ah tidak, sebelum itu apa
perjanjian dari skill ini?”
Mashiro termenung mulutnya tertutup, “Aku tidak terlalu memahaminya, yang kuketahui
hanyalah orang yang sebelumnya berada di tubuhmu itu ingin mengetahui apa kekuatan dalam
dirinya. Selebihnya aku tidak tahu.”
“Orang yang di tubuh ini sebelumnya ingin kekuatan, mungkin dia menciptakan kontrak
dengannya. Kalau begitu bukannya semua sudah selesai? Masuk akal. Tapi jika memang begitu,
apa permintaan dari Mashiro?” pikirku. Aku mencoba menyimpulkan semua kejadian yang ia
ceritakan menjadi satu untuk menarik sebuah kesimpulan.
“Mengikat kontrak hanya untuk mengetahui kekuatan dalam diri?”
“Benar, meskipun di dunia AtthilaX ini semua manusia memiliki kekuatan khusus sejak mereka
dilahirkan, namun banyak dari mereka yang tidak tahu apa-apa tentang itu. Malahan tidak sedikit
juga yang sudah mati tanpa mengetahuinya.”
Mati tanpa mengetahui kelebihan diri sendiri, sungguh ironisnya dunia ini. Tapi, dengan itu
kekuatan di sini akan menjadi sebuah batasan, keadaan lingkungan serta sumber daya manusia
akan tetap berlaku serupa.
“Jadi dengan kata lain, salah satu skill yang kumiliki adalah ini? Devico Sunt Servanda?”
simpulku.
“Iya, akhirnya kamu paham dengan apa yang kujelaskan. Tidak hanya itu skill yang kamu miliki,
ada satu lagi, Skill tingkat passive dengan core light, Escalation.”
“Oh ya, agar kamu tidak salah paham. Di dunia ini ada 3 tingkatan Skill di setiap manusia, yaitu
passive, active, dan special. Dan untuk setiap core, ada banyak macam,” sambungnya
menjelaskan.
Aku tertegun, banyak sekali hal yang harus dipelajari. Mengenal skill saja sudah cukup
menguras otakku untuk berpikir. “Kalau begitu, Skill Devico Sunt Servanda sebelumnya itu?”
“Kalau aku jelaskan satu persatu, bakal lama dan merepotkan. Mau tidak mau aku harus
melepaskan batasannya, bersiaplah.”
“Huh, hah? Maksudmu?” gagapku.
Mashiro memejamkan mata, mulutnya berucap begitu cepat namun nadanya tak keluar. Ia sangat
fokus, kali ini jari-jarinya saling menyilangkan di depan depannya. Terakhir, matanya terbuka
bercahaya dan kembali normal secara bertahap.
Bersamaan dengan redup cahaya di matanya, pandanganku membaur pudar sampai gelap
memenuhi penglihatan.
“Aoi?”
“Aoi Shiraishi?”
“Suara itu?”
Entah tanpa alasan tertentu, akhirnya aku bisa membuka mataku. Sosok pertama yang kulihat
adalah Hoshizora, dan tentu masih ada di dunia aneh ini.
“Eh Aoi? Kamu tidak apa-apa?” tanyanya sontak.
“Ya, eh-oh tidak apa.”
Aku terbata bukan karena terkejut, dan juga bukan karena aku tidak memperhatikan Hoshizora
yang tidak ada bedanya sama sekali di duniaku, bahkan nada suaranya juga. Namun, penyebab
utamanya adalah pandanganku yang tertutup oleh beberapa gambar, itu seperti notifikasi dalam
sebuah game.
“Apa ini? Status seperti di game-game RPG? Tidak, ini tertalu rumit dan juga detail,” gumamku
memperhatikan salah satu notifikasi berbentuk tubuh berwarna biru dengan beberapa pemisah,
seperti bagian antara kelima jari dan tangan.
“Kamu beneran tidak apa Aoi?” tanya Hoshizora sekali lagi.
“Ya, aku tidak apa,” jawabku langsung tanpa memperhatikannya, aku fokus dengan beberapa bar
vertikal menangga bertahap warna hijau dan biru itu.
“Tapi matamu?”
Pandanganku langsung kembali pada remaja berperawakan rambut merah itu, “Ha? Mataku?”
Ia mengangguk, “Tunggu sebentar.” Berpaling dariku dan pergi keluar ruangan. Tak lama
dinanti, ia datang bersama cermin di tangannya.
“Lihat, apa itu karena sambaran petir semalam?”
Aku memandangi paras wajahku, langsung ternganga. Bagaimana tidak? Mengingat penampilan
rambut hitamku di dunia nyata kini menjadi warna biru gelap sama halnya dengan gadis itu,
namun salah satu yang mencolok adalah iris mata warna belang ini, merah dan biru.
“Biru?”
“Ya, mata kirimu menjadi warna biru. Apakah itu benar-benar tidak apa? Bisa melihat jelas?”
Hoshizora sepertinya khawatir dengan keadaanku.
Aku teringat sesuatu, “Gadis itu, dimana? Dimana dia?”
“Hmm? Siapa? Azuzi? Atau Asteria?” Raut wajah bingung dan datar terpasang di wajah
Hoshizora.
“Bukan, bukan dia, siapa sih namanya? Ah sial,” gerutuku. Tidak tahu mengapa hanya wajahnya
saja yang kuingat, tapi tidak dengan nama.
Hoshizora menghela nafas, disambung dengan simpul senyum kecil. “Mungkin itu mimpimu
sewaktu pingsan, yang terpenting kamu selamat, dan maaf aku telah menyebabkanmu seperti
ini.”
“Aku akan menyiapkan sarapan untuk semuanya jadi untuk saat ini istirahatlah,” pungkasnya
meninggalkanku.
“Ah ya, terima kasih.”
Suasana kembali hening, yang kudengar hanyalah irama burung di luar, meskipun aku sedikit
mendengar dengkuran Kineku. Tapi, tetap saja hal ini selalu mengingatkanku dengan malam aku
bermain dengan mereka. Dan juga, meskipun aku asing di sini, namun aku merasa nyaman.
“Lagi pula, gadis ini kapan bangunnya? Tapi ini masih belum terlalu siang, dan lainnya pun
masih tidur,” batinku melirik ke arah gadis muda di sampingku yang tertidur pulas tanpa
penjagaan.
Ssst…
“Namaku Mashiro loh, masa kamu melupakannya?” bisik Mashiro tepat di samping telingaku.
“Ha?! Apa lagi? Lagian dari mana kamu datang?” geramku.
Mashiro tertawa kecil, ia memandangiku selayaknya bayi yang baru saja menyentuh kakinya di
dataran bumi ini, polos dan tak tahu apa-apa. “Kamu ini lucu sekali ya Aoi.”
“Padahal kamu sudah paham ‘kan maksud dari Skill Devico Sunt Servanda? Aku dan kamu itu
terikat, jadi aku mungkin akan selalu bersamamu,” imbuhnya.
“Tunggu, bersamaku? Yang benar saja?”
“Iya, dan yang bisa melihatku cuma kamu saja, karena keberadaanku hanyalah sebatas jiwa.”
Angin berhembus syahdu pelan menggerakkan tirai-tirai, celah bayang nampak mengeluarkan
pancaran surya pagi. Membantu menerangkan redupnya ruangan ini. Suasana pagi hari tiada
bandingnya, masa yang akan selalu di nanti oleh semua orang.
Aku hanya bisa mengiyakan apa yang terjadi pagi ini, bukan berarti aku pasrah dan membiarkan
semuanya terjadi tanpa adanya kemauanku. Tapi, untuk saat ini hal yang terpenting dalam
kondisi ini adalah adaptasi dan bertahan hidup.
“Lalu Mashiro, bisakah kamu jelaskan apa yang dimaksud dengan kekuatan di setiap makhluk.
Dan beberapa macam gambaran yang ada di pandanganku?”
Gadis berperawakan dokter serta ilmuwan itu tersenyum ringan, “Karena itulah aku akan
bersamamu.”

Anda mungkin juga menyukai