Chapter 5
Dalam pagi yang berkabut dengan misteri, aku belajar suatu hal. Segelap apapun malam,
esoknya pasti fajar akan datang, dan itu akan terus berlalu. Setinggi apapun lereng, setelah
puncak turunan landai pasti berada. Kehidupan akan selalu seperti itu, adakalanya kita tunduk
dan ada waktunya untuk menundukkan.
“Untuk saat ini aku akan menjelaskan apa yang sedang memenuhi pandanganmu itu, dan
seterusnya tergantung dirimu menyikapi keadaan itu. Meskipun aku selalu bersamamu, tidak
seenaknya aku terus menerus memberitahumu. Pelaut hebat tidak lahir di laut yang tenang
bukan?”
Aku mengangguk yakin, paham akan maksud dari kalimatnya itu. Ibarat kata jika di sebuah
permainan, tidak mungkin terus ada tutorial. Perkembangan signifikan atau tidaknya itu
tergantung dari bagaimana kita melaju.
“Untuk bar horizontal menangga itu adalah Enerion dan ketahanan tubuhmu atau bisa disebut
energi,” jelasnya singkat.
“Warna hijau pasti energi sedangkan biru itu adalah Enerion bukan?”
“Benar, untuk penggunaan skill atau kekuatan khusus, bar berwarna biru itulah yang berkurang.
Semakin kuat dampak skill yang dihasilkan, semakin banyak pula penggunaan Enerion-nya.”
Aku paham, tidak asing hal itu bagiku. “Mengacu di game MMoRPG atau MOBA yang
kumainkan di dunia nyata, saat menggunakan kemampuan karakter pasti menggunakan Magic
Point. Dan di dunia ini dinamakan Enerion.”
“Jumlah totalnya 72 ini ya? Lalu, bagaimana jika Enerion di tubuhku habis? Apakah aku akan
mati?” Aku fokus dengan detail dari bar tersebut untuk lebih memahaminya.
“Kamu tidak akan mati kok,” Mashiro menggelengkan kepala. “Seperti halnya jika dirimu belum
makan, kamu akan merasakan gejala seperti pusing, penglihatan memburam, serta immune tubuh
yang akan berkurang. Semua itu juga akan berpengaruh dalam penggunaan energi serta “tubuh”
mu,” lanjutnya.
“Maksudmu indikator tubuh dengan bagian-bagian yang sangat rinci hingga ujung jari itu?”
Ia mengangguk senang, merasa apa yang dikatakannya langsung kupahami. Kemudian
melanjutkan penjelasannya, “Benar, itu juga saling berhubungan dengan kedua bar horizontal,
setiap gerakan yang dilakukan oleh setiap bagian tubuhmu itu akan terhitung sebagai
penggunaan energi.”
“Ah, aku paham. Penggunaan skill dan kekuatan khusus memanfaatkan Enerion. Dan untuk
kegiatan sehari-hari adalah energi seperti pada umunya bukan?” simpulku.
“Tepat sekali, kamu sangat cepat daripada dugaanku.”
“Tentu saja karena ini seperti tutorial di game,” pikirku.
Setelahnya tidak ada topik, namun setelah aku memandangi tubuhku yang tidak ada
perbedaannya ini. Sebuah pertanyaan muncul di benakku, pertanyaan yang belum pernah
kutanyakan sama sekali padanya.
“Mashiro, aku penasaran. Mengapa orang yang ada di tubuh ini mati? Apakah ia mati karena
menggunakan skillnya ini?”
“Eumm? Soal itu, ia tersambar petir,” jawabnya singkat dengan ekspresi polos.
“Hah?!”
“Ia mati di saat pengalaman pertamanya latihan skill bersama teman-temannya. Itu terjadi
semalam….
“Cerita itu mirip seperti kejadianku di dunia asal.”
…. Karena ketidakkeberuntungan, dan faktor ia tidak bisa menggunakan skillnya.”
Ceritanya mengingatkankanku sewaktu kami berlima berhenti untuk bermain game, dan
memutuskan untuk menonton film. Dan di sela itu Kineku mengatakan sesuatu tentang kekuatan
yang dipotong mentah-mentah oleh gemuruh.
“Apa itu berhubungan?” Pertanyaan itu langsung memenuhi benakku.
“Kelanjutannya mungkin Hoshizora dan lainnya membawaku kesini. Karena berpikir kalau aku
hanya pingsan saja?”
“Tidak sesimpel itu, tubuh manusia setelah tersambar petir jantungnya akan langsung berhenti.
Hal itu menyebabkan terhentinya sirkulasi darah dalam tubuh serta kerusakan pada saraf otak,
hasilnya adalah kematian.”
“Hah? Lalu bagaimana? Apakah kamu menggunakan penyembuhan atau semacamnya? Dan
yang terpenting, bagaimana bisa aku bisa di tubuh ini?”
Mashiro terdiam mematung dan hanya menganggukkan kepalanya. Hening.
Aku berpikir gadis itu menyembunyikan sebuah rahasia. Meskipun fakta antara gemuruh yang
kemungkinan ada hubungannya dengan kehadiranku, aku sedikit tidak percaya. Kedatanganku di
sini tidak ada alasannya, sungguh membingungkan.
“Ahh biar dah,” pasrahku sembari melepaskan nafas besar yang bercampur dengan rasa sesalku.
Hoam….
Tak lama setelah keheningan di antara aku dan Mashiro, suara uapan yang ringan dan lembut
terdengar tepat di sampingku. Sudah jelas itu Azuzi, matanya yang sayup itu menandakan kalau
tidurnya mulai terganggu.
Namun entah karena ini dunia yang berbeda atau bukan, paras wajahnya itu sungguh imut,
ditambah lagi rambutnya yang terurai lepas memberikan bonus tambahkan. “Sejujurnya aku juga
ingin merasakan ini di tiap pagi.”
Dikarenakan cahaya yang merambat masuk, ruangan ini sudah sepenuhnya terang. Azuzi sadar
dan terkejut menyadari aku yang ada di sampingnya.
“Pagi, Kak Aoi,” sapanya terbata-bata dan sedikit teredam karena tertutup oleh selimut.
“Ah-uh ya. Selamat pagi juga.”
Sontak suasana menjadi canggung, tentu saja ini pertama kalinya bagiku bangun dengan seorang
gadis lebih muda dariku. Aku tidak tahu apa lagi yang harus kukatakan. Ini sangat memalukan.
“Bangun pagi bersama gadis yang imut dan lebih muda di tempat tidur yang sama. Bukannya
itu adalah alur yang ada di game visual novel?” pikirku,
“Maaf, aku ketiduran di sini, aku sangat mengkhawatirkan kakak.” Azuzi memecah keheningan
antara kami berdua.
Perkataanya itu juga membuatku tersipu malu, dan sempat berpikir, “Jadi ini ya,rasanya
dikhawatirkan seseorang.”
“Ah aku tidak apa-apa kok, sungguh.”
Mendengar ucapanku itu, sontak Azuzi melihatku. Empat mata kami bertemu, bagiku ini
sungguh memalukan, terlebih lagi baru saja bangun tidur. Dan tentu saja gadis itu menyadari
mata kiriku yang berubah
“Hei, apakah benar begitu? Warna mata kakak berbeda loh,” ucapnya polos, perlahan wajahnya
mendekat. Aku bisa melihat seluruh wajah imutnya memenuhi pandanganku.
“I-iya aku tidak apa,” balasku memalingkan wajah.
“Begitu ya, kakak istirahat saja dahulu. Aku akan membantu Kak Taka menyiapkan sarapan.” Ia
mengatakan itu sambil beranjak turun dari kasur, disertai senyuman kecil di wajahnya.
“Ah ya, terima kasih.” Aku sempat tidak percaya jika di umur Azuzi yang muda itu, ia seakan
menjadi sosok ibu yang peduli dengan sekitarnya.
“Fufu~ Kamu, tertarik dengan gadis yang lebih muda ya?” sahut Mashiro yang sedari tadi
terdiam dan mendengarkan perbincanganku.
“Sial…” umpat diriku.
Pertanyaan satu lagi muncul di benakku, sebelumnya aku lupa untuk menanyakannya, “Lalu
Mashiro, apa maksudnya ini? Mengapa juga mata kiriku berubah? Padahal aku masih bisa
melihat dengan baik,” tanyaku dalam batin. Aku tidak mau obrolan seorang diri ini bisa didengar
oleh lainnya.
“Efek samping dari skill juga ada, aku lupa untuk menjelaskannya.”
“Huh? Maksudnya?”
Mashiro menghela nafas, “Di setiap ada kekuatan pasti ada bayaran yang harus diterima bukan?
Sama halnya dengan ini, seberapa kuat skill yang berhasil kamu gunakan, dampak dari efek
sampingnya mungkin bisa juga merubah bentuk fisik tubuh.”
“Merubah bentuk fisik tubuh? Sampai segitunya?” tanyaku tak percaya.
“Iya, tapi tidak semua skill memiliki efek samping. Kemungkinan besar matamu yang berubah
itu karena skill Devico Sunt Servanda. Lihat warna mataku, warnanya sama bukan?” lanjutnya
memberikan penalaran.
“Oh ya, Aoi. Coba katakan “My Skill” untuk melihat skill yang pernah kamu gunakan.”
“My Skill.”
Tepat setelah mengatakan itu, pandanganku seluruhnya berubah dipenuhi oleh beberapa kata
panjang-pendek.
“Skill default, Escalation core light; Skill active, Devico Sunt Servanda core Mystic; Skill
special, kosong?” ucapku membaca seluruh tulisan yang muncul.
“Tentu saja karena kamu belum pernah mendapatkannya, sebenarnya ada satu jenis skill lagi
yang tersembunyi di dunia ini. Itu adalah skill kutukan, dia tidak memiliki core atau penjelasan.”
“Contohnya?” tanyaku penasaran.
“Tidak jauh-jauh, salah satu temanmu memilikinya.”
“Temanku? Maksudmu antara Hoshizora, Kineku, Asteria, dan Azuzi?”
Mashiro mengangguk yakin, “Benar.”