0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan19 halaman

Peningkatan Kasus Stroke di Indonesia

SH

Diunggah oleh

kiki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan19 halaman

Peningkatan Kasus Stroke di Indonesia

SH

Diunggah oleh

kiki
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Penderita stroke cenderung terus meningkat setiap tahun, bukan hanya menyerang
penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh mereka yang berusia muda dan produktif. Saat ini
Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah penderita stroke terbesar di Asia (Yastroki,
2009). Angka ini diperberat dengan adanya pergeseran usia penderita stroke yang semula
menyerang orang usia lanjut kini bergeser ke arah usia produktif. Bahkan, kini banyak
menyerang anak-anak usia muda (Gemari, 2008).

Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologis akut yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-
tidaknya secara cepat (dalam beberapa jam) dengan gejala - gejala dan tanda-tanda yang
sesuai dengan daerah fokal otak yang terganggu World Health Organization (WHO, 2005).

Stroke merupakan satu masalah kesehatan yang besar dalam kehidupan modern saat
ini. Di Indonesia, diperkirakan setiap tahun terjadi 500.000 penduduk terkena serangan
stroke, sekitar 2,5 % atau 125.000 orang meninggal, dan sisanya cacat ringan maupun berat.
Jumlah penderita stroke cenderung terus meningkat setiap tahun, bukan hanya menyerang
penduduk usia tua, tetapi juga dialami oleh mereka yang berusia muda dan produktif. Stroke
dapat menyerang setiap usia, namun yang sering terjadi pada usia di atas 40 tahun. Angka
kejadian stroke meningkat dengan bertambahnya usia, makin tinggi usia seseorang, makin
tinggi kemungkinan terkena serangan stroke (Yayasan Stroke Indonesia, 2006).

Stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.


Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena Stroke, dari jumlah tersebut, sepertiganya
bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan fungsional ringan sampai sedang
dan sepertiga sisanya mengalami gangguan fungsional berat yang mengharuskan penderita
terus menerus di tempat tidur (HIMAPID FKM UNHAS, 2007).

Stroke merupakan masalah kesehatan dan perlu mendapat perhatian khusus. Stroke
merupakan penyebab kematian dan kecacatan utama di hampir seluruh RS di Indonesia.
Angka kejadian stroke meningkat dari tahun ke tahun, Setiap tahun 7 orang yang meninggal
di Indonesia, 1 diantaranya karena stroke (DEPKES,2011).

Berdasarkan catatan rekam medis RSPAD Gatot Soebroto Jakarta Pusat, Khususnya
Ruang ICU pada bulan Januari – Maret 2015, pasien dengan masalah Stroke Haemoragik
berjumlah 6 orang dari 429 pasien (1,39%), selama tiga bulan terakhir ini.
1
Adapun faktor risiko yang memicu tingginya angka kejadian stroke adalah faktor
yang tidak dapat dimodifikasi (non-modifiable risk factors) seperti usia, ras, gender, genetik,
dan riwayat Transient Ischemic Attack atau stroke sebelumnya. Sedangkan faktor yang dapat
dimodifikasi (modifiable risk factors) berupa hipertensi, merokok, penyakit jantung, diabetes,
obesitas, penggunaan oral kontrasepsi, alkohol, dislipidemia (PERDOSSI, 2007).

B. TUJUAN

1. Tujuan umum
Penulis memperoleh pengalaman dan gambaran secara nyata dalam memberikan asuhan
keperawatan pada klien dengan Stroke

2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan Stroke
b. Menentukan masalah keperawatan klien dengan Stroke
c. Merencanakan asuhan keperawatan klien dengan Stroke
d. Melaksanakan tindakan keperawatan klien dengan Stroke
e. Melakukan evaluasi keperawatan klien dengan Stroke.
f. Mendokumentasikan asuhan keperawatan klien dengan Stroke

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2
A. DEFINISI

Stroke merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani
secara cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang
disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja
dan kapan saja (Muttaqin, 2008).
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas
selain vaskuler
Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak (Corwin,
2009). Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan
oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit
serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer et al, 2002).
Stroke atau cidera cerebrovaskuler (CVK) adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak (Brunner & suddarth, 2002 ).

B. KLASIFIKASI

1. Stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala kliniknya, yaitu: (Muttaqin,
2008)
a. Stroke Hemoragik,
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid.
Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu. Biasanya
kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat
istirahat. Hampir 70% kasus stroke hemoragic terjadi pada penderita hipertensi.
Kesadaran pasien umumnya menurun. Perdarahan otak dibagi dua, yaitu:
1) Perdarahan intraserebral
Pecahnya pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hipertensi
mengakibatkan darah masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa yang
menekan jaringan otak, dan menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang
terjadi cepat, dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak.
Perdarahan intraserebral yang disebabkan karena hipertensi sering dijumpai di
daerah putamen, thalamus, pons dan serebelum.

2) Perdarahan subaraknoid
Pedarahan ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Aneurisma yang
pecah ini berasal dari pembuluh darah sirkulasi willisi dan cabang-cabangnya
yang terdapat diluar parenkim [Link] arteri dan keluarnya keruang
subaraknoid menyebabkan TIK meningkat mendadak, meregangnya struktur peka
3
nyeri, dan vasospasme pembuluh darah serebral yang berakibat disfungsi otak
global (sakit kepala, penurunan kesadaran) maupun fokal (hemiparase, gangguan
hemisensorik, dll)

b. Stroke iskemia / Non Hemoragi


Dapat berupa iskemia atau emboli dan thrombosis serebral yang menyebabkan
aliran darah ke otak sebagian atau keseluruhan terhenti, biasanya terjadi saat setelah
lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi perdarahan namun
terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya dapat timbul edema
sekunder. 80% stroke adalah stroke [Link] umumnya baik. Stroke
iskemik ini dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1) Stroke Trombotik: proses terbentunya trombus yang membuat penggumpalan
2) Stroke Embolik: tertutupnya pembuluh arteri oleh bekuan darah
3) Hipoperfusion Sistemik: berkurangnya aliran darah ke seluruh bagian tubuh
karena adanya gangguan denyut jangtung.

2. Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya, yaitu:


a. TIA (Trans Iskemik Attack) gangguan neurologis setempat yang terjadi selama
beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan
spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
b. Stroke involusi: stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan
neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam
atau beberapa hari.
c. Stroke komplit: dimana gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau
permanen . Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA
berulang.

C. ETIOLOGI

Penyebab stroke menurut Arif Muttaqin (2008):


1. Thrombosis Cerebral
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi sehingga
menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan oedema dan kongesti di
sekitarnya. Thrombosis biasanya terjadi pada orang tua yang sedang tidur atau bangun
tidur. Hal ini dapat terjadi karena penurunan aktivitas simpatis dan penurunan tekanan
darah yang dapat menyebabkan iskemi serebral. Tanda dan gejala neurologis memburuk
pada 48 jam setelah trombosis.
Beberapa keadaan di bawah ini dapat menyebabkan thrombosis otak:
a. Aterosklerosis
Aterosklerosis merupakan suatu proses dimana terdapat suatu penebalan dan
pengerasan arteri besar dan menengah seperti koronaria, basilar, aorta dan arteri iliaka
4
(Ruhyanudin, 2007). Aterosklerosis adalah mengerasnya pembuluh darah serta
berkurangnya kelenturan atau elastisitas dinding pembuluh darah. Manifestasi klinis
atherosklerosis bermacam-macam. Kerusakan dapat terjadi melalui mekanisme
berikut:
1) Lumen arteri menyempit dan mengakibatkan berkurangnya aliran darah.
2) Oklusi mendadak pembuluh darah karena terjadi trombosis.
3) Merupakan tempat terbentuknya thrombus, kemudian melepaskan kepingan
thrombus (embolus).
4) Dinding arteri menjadi lemah dan terjadi aneurisma kemudian robek dan terjadi
perdarahan.
b. Hyperkoagulasi pada polysitemia
Darah bertambah kental, peningkatan viskositas/ hematokrit meningkat dapat
melambatkan aliran darah serebral.
c. Arteritis (radang pada arteri)
d. Emboli
Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh bekuan darah,
lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung yang
terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut berlangsung cepat dan
gejala timbul kurang dari 10-30 detik. Beberapa keadaan dibawah ini dapat
menimbulkan emboli:
1) Katup-katup jantung yang rusak akibat Rheumatik Heart Desease (RHD).
2) Myokard infark
3) Fibrilasi. Keadaan aritmia menyebabkan berbagai bentuk pengosongan ventrikel
sehingga darah terbentuk gumpalan kecil dan sewaktu-waktu kosong sama sekali
dengan mengeluarkan embolus-embolus kecil.
4) Endokarditis oleh bakteri dan non bakteri, menyebabkan terbentuknya gumpalan-
gumpalan pada endocardium.

2. Hemoragik
Perdarahan intrakranial atau intraserebral termasuk perdarahan dalam ruang
subarachnoid atau kedalam jaringan otak sendiri. Perdarahan ini dapat terjadi karena
atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan
perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat mengakibatkan penekanan,
pergeseran dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga otak akan
membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak, oedema, dan mungkin
herniasi otak.

3. Hipoksia Umum
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia umum, adalah:
a. Hipertensi yang parah.
b. Cardiac Pulmonary Arrest
5
c. Cardiac output turun akibat aritmia

4. Hipoksia Setempat
Beberapa penyebab yang berhubungan dengan hipoksia setempat, adalah:
a. Spasme arteri serebral, yang disertai perdarahan subarachnoid.
b. Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migrain.

Faktor-faktor lain yang dapat menyebabkan stroke:


1. Faktor yang tidak dapat dirubah (Non Reversible)
a. Jenis kelamin: pria lebih sering ditemukan menderita stroke dibanding wanita
b. Usia: makin tinggi usia makin tinggi pula resiko terkena stroke
c. Keturunan: adanya riwayat keluarga yang terkena stroke
2. Faktor yang dapat dirubah (Reversible)
a. Hipertensi
b. Penyakit jantung
c. Kolesterol tinggi
d. Obesitas
e. Diabetes Mellitus
f. Polisetemia
g. Stress Emosional
3. Kebiasaan hidup
a. Merokok
b. Peminum alkohol
c. Obat-obatan terlarang
d. Aktivitas yang tidak sehat: kurang olah raga, makanan berkolesterol.

D. PATOFISIOLOGI

Infark serbral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak. Luasnya
infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan
adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh darah yang
tersumbat. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lmbat atau cepat) pada gangguan lokal
(thrombus, emboli, perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan umum
(hipoksia karena gangguan paru dan jantung). Atherosklerotik sering ataucenderung sebagai
faktor penting terhadap otak, thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotik, atau darah
dapat beku pada area yang stenosis, dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi.
Thrombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai emboli dalam
aliran darah. Thrombus mengakibatkan; iskemia jaringan otak yang disuplai oleh pembuluh
darah yang bersangkutan dan edema dan kongesti disekitar area. Areaedema ini
menyebabkan disfungsi yang lebih besar daripada area infark itu sendiri. Edema dapat
berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. Dengan
6
berkurangnya edema pasien mulai menunjukan perbaikan. Oleh karena thrombosis biasanya
tidak fatal, jika tidak terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh
embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis. Jika terjadi septik infeksi
akan meluas pada dinding pembukluh darah maka akan terjadi abses atau ensefalitis, atau
jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi
aneurisma pembuluh darah. Hal ini akan menyebabkan perdarahan cerebral, jika aneurisma
pecah atau ruptur.
Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur arteriosklerotik dan hipertensi
pembuluh darah. Perdarahan intraserebral yang sangat luas akan menyebabkan kematian
dibandingkan dari keseluruhan penyakit cerebro vaskuler, karena perdarahan yang luas
terjadi destruksi massa otak, peningkatan tekanan intracranial dan yang lebih berat dapat
menyebabkan herniasi otak.
Kematian dapat disebabkan oleh kompresi batang otak, hemisfer otak, dan perdarahan
batang otak sekunder atau ekstensi perdarahan ke batang otak. Perembesan darah ke ventrikel
otak terjadi pada sepertiga kasus perdarahan otak di nukleus kaudatus, talamus dan pons.
Jika sirkulasi serebral terhambat, dapat berkembang anoksia cerebral. Perubahan
disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka waktu 4-6 menit. Perubahan
irreversibel bila anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena
gangguan yang bervariasi salah satunya henti jantung.
Selain kerusakan parenkim otak, akibat volume perdarahan yang relatif banyak akan
mengakibatkan peningian tekanan intrakranial dan mentebabkan menurunnya tekanan perfusi
otak serta terganggunya drainase otak. Elemen-elemen vasoaktif darah yang keluar serta
kaskade iskemik akibat menurunnya tekanan perfusi, menyebabkan neuron-neuron di daerah
yang terkena darah dan sekitarnya tertekan lagi.
Jumlah darah yang keluar menentukan prognosis. Apabila volume darah lebih dari 60
cc maka resiko kematian sebesar 93 % pada perdarahan dalam dan 71 % pada perdarahan
lobar. Sedangkan bila terjadi perdarahan serebelar dengan volume antara 30-60 cc
diperkirakan kemungkinan kematian sebesar 75 % tetapi volume darah 5 cc dan terdapat di
pons sudah berakibat fatal. (Muttaqin 2008)

Penyakit serebrovaskuler mengacu pada abnormal fungsi susunan syaraf pusat yang
terjadi ketika suplai darah nornal ke otak terhenti. Patologi ini melibatkan arteri, vena, atau
[Link] serebral mengalami kerusakan sebagai akibat sumbatan partial atau
komplek pada pembuluh darah atau hemoragi yang diakibatlan oleh robekan dinding
pembuluh. Penyakit vaskuler susunan syaraf pusat dapat diakibatkan oleh arteriosklerosis
(paling umum) perubahan hipertensif, malformasi, arteri-vena, vasospasme, inflamasi
arteritis atau embolisme. Sebagai akibat penyakit vaskuler pembuluh darah
kehilangan elastisitasnya menjadimkeras san mengalami deposit ateroma, lumen pembuluh
darah secara bertahap tertutup menyebabkan kerusakan sirkulasi serebral dsan iskemik
otak. Bila iskemik otak bersifat sementara seperti pada serangan iskemik sementara, biasanya

7
tidak terdapat defisit neurologi. Sumbatan pembuluh darah besar menimbulkan infark
serebral pembuluh ini,suplai dan menimbulkan hemoragi. (Brunner & Suddarth, 2002)
Penurunan suplai darah ke otak dapat sering mengenai arteria vertebro basilaris yang
akan mempengaruhi [Link] (assesoris) sehingga akan berpengaruh pada sisitem
mukuloskeletal ([Link]) sehingga terjadi penurunan sistem motorik yang akan
menyebabkan ataksia dan akhirnya menyebabkan kelemahan pada satu atau empat alat gerak,
selain itu juga pada arteri vetebra basilaris akan mempengaruhi fungsi dari otot facial
(oral terutama ini diakibatkan kerusakan diakibatkan oleh kerusakan [Link] (fasialis), [Link]
(glasferingeus) [Link] (hipoglakus), karena fungsi otot fasial/oral tidak terkontrol maka akan
terjadi kehilangan dari fungsi tonus otot fasial/oralsehingga terjadi kehilangan kemampuan
untuk barbicara atau menyebut kata-kata dan berakhir dangan kerusakan artikulasi, tidak
dapat berbicara (disatria). Pada penurunan aliran darah ke arteri vertebra basilaris akan
mempengaruhi fuingsi N.X (vagus) dan [Link] (glasovaringeus) akan mempengaruhi proses
menelan kurang, sehingga akan mengalami refluk, disfagia dan pada akhirnya akan
menyebabkan anoreksia dan menyebabkan gangguan nutrisi. Keadaan yang terkait pada
arteri vertebralis yaitu trauma neurologis atau tepatnya defisit neurologis. N.I (olfaktorius),
[Link] (optikus), [Link] (okulomotorik), [Link] (troklearis), [Link] (hipoglasus) hal
ini menyebabkan perubahan ketajaman pendengaran, pengecapan, dan penglihatan,
penghidungan. Pada kerusakan [Link] (assesori) pada akhirnya akan mengganggu kemampuan
gerak tubuh. (Doengos, 2000)

E. MANIFESTASI KLINIS

Stroke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah
mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adekuat dan jumlah aliran darah
kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi otak tidak akan membaik
sepenuhnya.
Menurut Pujianto (2008),tanda dan gejala yang muncul pada penderita stroke, antara
lain :
1. Kehilangan motorik : hemipelgi (paralisys pada suatu sisi) karena lesi pada sesi otak yang
berlawanan, hemiparesis atau kelemahan salah satu sisi tubuh
2. Tonus otot lemah atau kaku
3. Menurun atau hilangnya rasa peka
4. Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia”
5. Afasia (bicara tidak lancar atau kesulitan memahami ucapan)
6. Kehilangan komunikasi: disartria (kesulitan bicara / bicara pelo atau cadel), disfasia atau
afasia (bicara deektif atau kehilangan bicara), apraksia (ketidakmampuan untuk
melakukan tindakan yang dipelajari sebelumnya).
7. Gangguan persepsi
8. Gangguan status mental
9. Vertigo, mual, muntah, atau nyeri kepala.
8
10. Gangguan persepsi: disfungsi persepsi visual, gangguan hubungan visual spasial,
kehilangan sensori.
11. Disfungsi kandung kemih.

F. KOMPLIKASI

Setelah mengalami stroke pasien mungkin akan mengalmi komplikasi, komplikasi ini
dapat dikelompokan berdasarkan:
1. Berhubungan dengan immobilisasi infeksi pernafasan, nyeri pada daerah tertekan,
konstipasi dan thromboflebitis.
2. Berhubungan dengan paralisis nyeri pada daerah punggung, dislokasi sendi, deformitas
dan terjatuh.
3. Berhubungan dengan kerusakan otak, epilepsi dan sakit kepala.
4. Hidrocephalus.
5. Individu yang menderita stroke berat pada bagian otak yang mengontrol respon
pernapasan atau kardiovaskuler dapat meninggal.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Angiografi serebral
Menentukan penyebab stroke scr spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.
2. Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT).
Untuk mendeteksi luas dan daerah abnormal dari otak, yang juga mendeteksi,
melokalisasi, dan mengukur stroke (sebelum nampak oleh pemindaian CT).
3. CT Scan
Pemindaian ini memperlihatkan secara spesifik letak edema, posisi hematoma, adanya
jaringan otak yang infark atau iskemia dan posisinya secara pasti.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Menggunakan gelombang megnetik untuk menentukan posisi dan bEsar terjadinya
perdarahan otak. Hasil yang didapatkan area yang mengalami lesi dan infark akibat dari
hemoragik.
5. EEG
Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat masalah yang timbul dan dampak dari jaringan
yang infark sehingga menurunya impuls listrik dalam jaringan otak.
6. Pemeriksaan laboratorium
a. Lumbang fungsi: pemeriksaan likuor merah biasanya dijumpai pada perdarahan yang
masif, sedangkan pendarahan yang kecil biasanya warna likuor masih normal
(xantokhrom) sewaktu hari-hari pertama.
b. Pemeriksaan darah rutin (glukosa, elektrolit, ureum, kreatinin)
c. Pemeriksaan kimia darah: pada strok akut dapat terjadi hiperglikemia.

9
d. Gula darah dapat mencapai 250mg di dalam serum dan kemudian berangsur-rangsur
turun kembali.
e. Pemeriksaan darah lengkap: untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri.

H. PENATALAKSANAAN MEDIS

Tujuan intervensi adalah berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan melakukan


tindakan sebagai berikut:
1. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendiryang sering,
oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
2. Mengendalikan tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk untuk usaha
memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
3. Berusaha menentukan dan memperbaiki aritmia jantung.
4. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien
harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
5. Mengendalikan hipertensi dan menurunkan TIK
6. Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan rotasi kepala yang berlebihan.

Pengobatan Konservatif
a. Vasodilator meningkatkan aliran darah serebral (ADS) secara percobaan, tetapi
maknanya: pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
b. Dapat diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.
c. Anti agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan
agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
d. Anti koagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya/ memberatnya trombosis atau
emboli di tempat lain di sistem kardiovaskuler.

Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral :
a. Endosterektomi karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu dengan membuka arteri
karotis di leher.
b. Revaskularisasi terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling
dirasakan oleh pasien TIA.
c. Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke akut
d. Ugasi arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma.

10
BAB III
TEORI ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas klien
Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register, diagnosa
medis.
2. Keluhan utama

11
Biasanya didapatkan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak
dapat berkomunikasi.
3. Riwayat penyakit sekarang
Serangan stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien
sedang melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang
sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan fungsi
otak yang lain.
4. Riwayat penyakit dahulu
Adanya riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma
kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan, aspirin,
vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan.
5. Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus.

B. PENGUMPULAN DATA

1 Aktivitas/istirahat
Klien akan mengalami kesulitan aktivitas akibat kelemahan, hilangnya rasa, paralisis,
hemiplegi, mudah lelah, dan susah tidur.
2 Sirkulasi
Adanya riwayat penyakit jantung, katup jantung, disritmia, CHF, polisitemia. Dan
hipertensi arterial.
3. Integritas Ego
4. Emosi labil, respon yang tak tepat, mudah marah, kesulitan untuk mengekspresikan diri.
5. Eliminasi
Perubahan kebiasaan Bab. dan Bak. Misalnya inkoontinentia urine, anuria, distensi
kandung kemih, distensi abdomen, suara usus menghilang.
6. Makanan/caitan
Nausea, vomiting, daya sensori hilang, di lidah, pipi, tenggorokan, dysfagia

7. Neuro Sensori
Pusing, sinkope, sakit kepala, perdarahan sub arachnoid, dan intrakranial. Kelemahan
dengan berbagai tingkatan, gangguan penglihatan, kabur, dyspalopia, lapang pandang
menyempit. Hilangnya daya sensori pada bagian yang berlawanan dibagian ekstremitas
dan kadang-kadang pada sisi yang sama di muka.
8. Nyaman/nyeri
Sakit kepala, perubahan tingkah laku kelemahan, tegang pada otak/muka
9. Respirasi
Ketidakmampuan menelan, batuk, melindungi jalan nafas. Suara nafas, whezing, ronchi.
10. Keamanan

12
Sensorik motorik menurun atau hilang mudah terjadi injury. Perubahan persepsi dan
orientasi Tidak mampu menelan sampai ketidakmampuan mengatur kebutuhan nutrisi.
Tidak mampu mengambil keputusan.
11. Interaksi sosial
Gangguan dalam bicara, Ketidakmampuan berkomunikasi.

C. DIAGNOSIS KEPERAWATAN

1. Ketidakefektifan Perfusi jaringan serebral b.d aliran darah ke otak terhambat, gangguan
transport O2, gangguan aliran arteri dan vena.
2. Pola Nafas tidak efektif b.d Perusakan/pelemahan muskulo-skeletal
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d Kelemahan otot yang
digunakan untuk menelan/mengunyah
4. Kerusakan komunikasi verbal b.d gangguan sistem saraf pusat
5. Gangguan Mobilitas Fisik berhubungan dengan penurunan masa otot

D. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Diagnosa Keperawatan Tujuan (Kriteria NOC) Intervensi (Kriteria NIC)


1. Ketidakefektifan NOC NIC
Perfusi jaringan  Circulation status Monitor Tanda-Tanda Vital
serebral b.d aliran darah  Neurologic status - Monitor tekanan darah, nadi,
ke otak terhambat,  Tissue Prefusion : suhu, status pernapasan dengan
gangguan transport O2, cerebral
gangguan aliran arteri dan Setelah tepat
dilakukan asuhan
vena. selama………ketidakefektifan - Monitor sianosis sentral dan
perfusi jaringan cerebral perifer
DO teratasi dengan kriteria hasil: Pengaturan Hemodinamika
 Gangguan status 1. Tidak mengalami muntah - Tentukan status perfusi (yaitu :
mental 2. Tidak terjadi penurunan apakah pasien teraba dingin,
 Perubahan perilaku
kesadaran suam-suam kuku atau hangat)
 Perubahan respon
motorik 3. Menunjukkan tingkat - Monitor asupan dan dan
 Perubahan reaksi kesadaran membaik : pengeluaran, output urin dan
pupil compos mentis berat badan pasien
 Kesulitan menelan Status Sirkulasi - Tinggikan kepala 0-45o
 Kelemahan atau 1. Tekanan darah sistole 120- tergantung pada konsisi pasien
paralisis ekstrermitas 100 dan order medis
 Abnormalitas bicara
2. Tekanan darah diastole 60- - Berkolaborasi dengan dokter
80 sesuai indikasi
3. Saturasi Oksigen dalam - Monitor adanya diplopia,
batas normal pandangan kabur, nyeri kepala

13
4. Tidak ada - Monitor level kebingungan dan
ortostatikhipertensi orientasi
5. Komunikasi jelas - Monitor tonus otot pergerakan
6. Menunjukkan konsentrasi
- Monitor tekanan intrkranial dan
dan orientasi
7. Pupil seimbang dan reaktif respon nerologis
8. Bebas dari aktivitas kejang - Catat perubahan pasien dalam
9. Tidak mengalami nyeri merespon stimulus
kepala - Pertahankan parameter
hemodinamik
2. Pola Nafas tidak efektif NOC NIC
berhubungan dengan :  Respiratory status :  Posisikan pasien untuk
 Hiperventilasi Ventilation memaksimalkan ventilasi
 Penurunan  Respiratory status : Airway  Pasang mayo bila perlu
energi/kelelahan patency  Lakukan fisioterapi dada jika
 Perusakan/pelemahan  Vital sign Status perlu
muskulo-skeletal Setelah dilakukan tindakan  Keluarkan sekret dengan batuk
 Kelelahan otot keperawatan selama ………. atau suction
pernafasan pasien menunjukkan  Auskultasi suara nafas, catat
 Hipoventilasi keefektifan pola nafas, adanya suara tambahan
sindrom dibuktikan dengan kriteria  Berikan pelembab udara Kassa
 Nyeri hasil: basah NaCl Lembab
 Kecemasan  Mendemonstrasikan batuk  Atur intake untuk cairan
 Disfungsi efektif dan suara nafas yang mengoptimalkan keseimbangan.
Neuromuskuler bersih, tidak ada sianosis  Monitor respirasi dan status O2
 Obesitas dan dyspneu (mampu  Bersihkan mulut, hidung dan
 Injuri tulang belakang mengeluarkan sputum, secret trakea
mampu bernafas dg mudah,  Pertahankan jalan nafas yang
DS: tidakada pursed lips) paten
 Dyspnea  Menunjukkan jalan nafas  Observasi adanya tanda tanda
 Nafas pendek yang paten (klien tidak hipoventilasi
DO: merasa tercekik, irama  Monitor adanya kecemasan
 Penurunan tekanan nafas, frekuensi pernafasan pasien terhadap oksigenasi
inspirasi/ekspirasi dalam rentang normal, tidak  Monitor vital sign
 Penurunan ada suara nafas abnormal  Informasikan pada pasien dan
pertukaran udara per  Tanda Tanda vital dalam keluarga tentang tehnik
menit rentang normal (tekanan relaksasi untuk memperbaiki
 Menggunakan otot darah, nadi, pernafasan) pola nafas.
pernafasan tambahan  Ajarkan bagaimana batuk
 Orthopnea efektif
 Pernafasan pursed-  Monitor pola nafas
lip  Berikan bronkodilator : ……..
 Tahap ekspirasi
berlangsung sangat
lama
 Penurunan kapasitas

14
vital
 Respirasi: < 11 – 24
x /mnt
3. Ketidakseimbangan NOC : NIC :
nutrisi kurang dari  Nutritional Status : food Nutrition Management
kebutuhan tubuh and Fluid Intake  Kaji kemampuan pasien untuk
 Nutritional Status : nutrient
Batasan karakteristik : mendapatkan nutrisi yang
 Kelemahan otot yang Intake dibutuhkan
digunakan untuk  Kaji adanya alergi makanan
menelan/mengunyah Kriteria Hasil :  Monitor jumlah nutrisi dan
 Perasaan  Adanya peningkatan berat kandungan kalori
ketidakmampuan badan sesuai dengan tujuan  Kolaborasi dengan ahli gizi
untuk  Beratbadan ideal sesuai
mengunyah untuk menentukan jumlah
makanan dengan tinggi badan kalori dan nutrisi yang
 Keengganan untuk  Mampu mengidentifikasi dibutuhkan pasien.
kebutuhan nutrisi  Berikan makanan yang terpilih (
 Tidk ada tanda tanda sudah dikonsultasikan dengan
malnutrisi ahli gizi) untuk meningkatkan
 Menunjukkan peningkatan protein dan vitamin C
fungsi pengecapan dari  Kolaborasi pemberian terapi
menelan enteral.
 Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti Nutrition Monitoring
 BB pasien dalam batas normal
 Monitor adanya penurunan
berat badan
 Monitor kulit kering dan
perubahan pigmentasi
 Monitor turgor kulit
 Monitor mual dan muntah
 Monitor kadar albumin, total
protein, Hb, dan kadar Ht
 Monitor pucat, kemerahan, dan
kekeringan jaringan konjungtiva
 Monitor kalori dan intake
nuntrisi
4. Kerusakan komunikasi NOC NIC
verbal b.d penurunan Setelah dilakukan tindakan  Libatkan keluarga untuk
sirkulasi ke otak keperawatan selama 3 x 24 membantu memahami /
jam, diharapkan klien mampu memahamkan informasi dari /
untuk berkomunikasi lagi ke klien
dengan kriteria hasil:  Dengarkan setiap ucapan klien
 Dapat menjawab dengan penuh perhatian
pertanyaan yang diajukan  Gunakan kata-kata sederhana
perawat dan pendek dalam komunikasi
 Dapat mengerti dan dengan klien

15
memahami pesan-pesan  Dorong klien untuk mengulang
melalui gambar kata-kata
 - dapat mengekspresikan  Berikan arahan / perintah yang
perasaannya secara verbal sederhana setiap interaksi
maupun nonverbal dengan klien
 Programkan speech-language
teraphy
 Lakukan speech-language
teraphy setiap interaksi dengan
klien
4. Gangguan Mobilitas NOC NIC
Fisik berhubungan  Joint Movement : Active Manajemen Energi
dengan penurunan masa  Mobility Level - Monitor respon oksigen pasien
otot  Self care : ADLs (mialnya tekanan nadi, tekanan
 Transfer performance
darah, respirasi)
Setelah dilakukan tindakan
- Monitor intake/asupan nutrisi
keperawatan selama …x… jam
untuk mengetahui sumber
diharapkan Gangguan mobilitas
energi yang adekuat
fisik teratasi dengan kriteria
- Lakukan ROM aktif / pasif
hasil:
untuk menghilangkan
1. Meningkat dalam
ketegangan otot
aktifitas fisik
- Dampingi dan bantu pasien saat
2. Nadi dalam batas
mobilisasi dan bantu penuhi
normal (60-100
kebutuhan ADL
x/menit)

16
BAB IV
PENUTUPAN

A. KESIMPULAN

Stroke merupakan penyakit neurologis yang sering dijumpai dan harus ditangani
secara cepat dan tepat. Stroke merupakan kelainan fungsi otak yang timbul mendadak yang
disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja
dan kapan saja (Muttaqin, 2008).

17
Menurut WHO stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung
selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas
selain vaskuler.

Stroke adalah cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak (Corwin,
2009). Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan
oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit
serebrovaskuler selama beberapa tahun (Smeltzer et al, 2002).

B. SARAN

Agar pengetahuan tentang “Askep pada Klien Stroke” dapat dipahami dan dimengerti
oleh para pembaca sebaiknya makalah ini di pelajari dengan baik karena dengan mengetahui
“Askep pada Klien Stroke” dapat menambah pengetahuan dan wawasan dalam ilmu medis.
Karena dengan bertambah nya pengetahuan dan wawasan tersebut maka kita akan temotivasi
lagi untuk belajar menjadi orang yang lebih baik dalam hal ilmu pengetahuan.

DAFTAR PUSTAKA

Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI

Marilynn E, Doengoes. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta:
Salemba Medika

[Link]
18
[Link]

19

Anda mungkin juga menyukai