Untuk mengetahui instrumen TKM yang digunakan pada penelitian ini sudah
valid dan realiabel maka perlu dilakukan uji validitas dan realibilitas. Secara detail, uji
validitas dan realibilitas dijelaskan sebagai berikut.
a. Validitas Instrumen Tes Kemampuan Awal Matematika
Validitas instrumen TKM pada penelitian ini merujuk pada validitas menurut
konsep konvensional dan konsep baru (Basuki & Haryanto, 2014). Validitas adalah
suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen.
Suatu instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila
instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya atau memberikan hasil ukur yang
sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut sehingga instrumen yang
digunakan dapat menangkap data yang akan diteliti seacara tepat. Terdapat empat
jenis validitas yang digunakan pada penelitian ini yaitu validitas konstruk, validitas
isi, validitas muka dan validitas butir.
1) Validitas konstruk (construct validity)
Validitas konstruk tes kemampuan awal matematika terkait dengan konstruksi
bidang ilmu yang akan diuji validitas alat ukurnya. Suatu alat ukur memiliki
validitas konstruk yang tinggi apabila hasil alat ukur sesuai dengan ciri-ciri atau
indikator tingkah laku yang diukur. Secara praktis, validitas konstruk dilakukan
dengan mencoba mencari hubungan antar skor dengan prediksi hasil tes
berdasarkan teori (Basuki & Haryanto, 2014). Pada penelitian ini, validitas
konstruk dilakukan dengan memastikan bahwa hasil tes kemampuan awal
matematika mahasiswa calon guru benar-benar mengukur kemampuan
matematika dan bukan variabel lain. Hal tersebut dilakukan dengan mengadaptasi
soal-soal matematika dasar yang diadaptasi dari soal-soal terstandar, dalam hal ini
dipilih dari soal-soal SBMPTN, kemudian dilakukan uji validitas dan
realibilitasnya Dengan demikian, instrumen tes kemampuan awal matematika ini
dapat mengkategorikan mahasiswa yang memiliki kemampuan awal matematika
rendah, sedang dan tinggi.
2) Validitas isi (content validity)
Validitas isi berkaitan dengan sejauhmana suatu instrument mengukur tingkat
penguasaan terhadap isi suatu materi tertentu yang seharusnya dikuasai. Basuki
& Haryanto (2014) menyatakan bahwa validasi isi bertujuan untuk menilai
kemampuan tes mempresentasikan dengan baik ranah yang hendak diukur.
Lebih lanjut, Basuki & Haryanto (2014) menyatakan bahwa agar instrument
penelitian memiliki isi yang baik harus dilakukan penelaahan dan pembuatan
kisi-kisi soal. Penelaahan dan pembuatan kisi-kisi mencakup butir-butir soal dan
penyusunan indikator-indikator soal sehingga tidak ada indikator yang
terlewatkan.
Penelaahan kisi-kisi ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa instrumen
tersebut mewakili atau mencerminkan isi atau materi yang akan diukur. Pada
penelitian ini, validitas isi dilakukan dengan menelaah materi kemampuan
matematika dasar yang harus dimiliki oleh seorang mahasiswa calon guru yang
dapat mendeskripsikan kemampuan awal matematika mereka. Adapun materi
yang diujikan untuk mengetahui kemampuan awal matematika mahasiswa calon
guru adalah materi matematika dasar yang terkait dengan konsep (1) persamaan
garis, (2) barisan dan deret, (3) trigonometri, (4) peluang, (5) persamaan
lingkaran, (6) eksponen (akar/pangkat), (7) limit, (8) logaritma, (9) suku banyak
dan (10) vektor.
3) Validitas muka (face validity)
Validitas muka adalah validitas yang dilakukan untuk mengetahui sejauhmana
validitas instrumen yang digunakan berdasarkan apa yang nampak. Pada
penelitian ini, validasi muka tes kemampuan awal matematika bertujuan untuk
menguji kevalidan alat tes yang ditentukan dengan penelaahan kelayakan oleh
validator dengan memperhatikan unsur kebenaran konsep, kaidah penulisan butir
soal, tampilan misalnya penulisan simbol-simbol dan rumus-rumus matematika,
tanda baca dan gambar serta bahasa yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia yang terdapat pada instrumen tes kemampuan awal matematika.
Terdapat tiga orang validator yang menelaah instrumen tes kemampuan awal
matematika ini. Penelaahan validitas konstruk, validitas isi, dan validitas muka
dilakukan oleh ahli materi, ahli pendidikan, dan ahli bahasa yang memahami
terkait bahasa dan simbol-simbol matematika. Hobri (2010) merumuskan rata-
rata nilai validasi dari semua validator untuk semua indikator adalah sebagai
berikut:
n
∑ V ji
I i= j=1
n
dengan V ji adalah nilai dari validator ke-j terhadap indikator ke-i adalah urutan
validator yang memberikan penilaian, i adalah banyaknya aspek pada lembar
validasi, dan n adalah banyaknya validator yang memberikan penilaian.
Selanjutnya hasil I i yang diperoleh kemudian ditulis pada kolom yang sesuai
dengan tabel. Setelah mendapatkan data I i, kemudian ditentukan nilai rata-rata
total untuk setiap aspek V a dengan persamaan:
n
∑ Ii
V a = i=1
n
dengan V a adalah nilai rata-rata total untuk setiap aspek, I i adalah rata-rata nilai
untuk aspek ke-i, i adalah aspek yang dinilai dan n adalah banyaknya aspek.
Kriteria yang digunakan untuk menentukan tingkat kevalidan instrumen disajikan
pada Tabel 3.2 berikut.
Tabel 3.2
Kriteria Tingkat Kevalidan Instrumen
Nilai V a Tingkat Kevalidan
1 ≤V a< 2 Tidak valid
2 ≤V a< 3 Kurang valid
3 ≤V a <4 Cukup valid
4 ≤V a< 5 Valid
V a ≤5 Sangat valid
Sumber:
Hobri (2010)
Berdasarkan hasil validasi dari ketiga vallidator yang ahli pada bidang
pendidikan matematika, diperoleh hasil validasi yaitu 4, 81 hal ini berarti masuk
pada kriteria valid.
4) Validitas butir (item validity)
Validitas butir dilakukan dengan uji coba secara empiris. Pengujian validitas butir
instrumen soal tes dilakukan dengan menghitung koefisien korelasi antara skor
butir instrument atau soal tes dengan skor total instrument tes. Validitas butir soal
meliputi tingkat kesukaran, daya pembeda dan korelasi skor butir dengan skor
soal.
a) Tingkat kesukaran (difficult index)
Suatu instrumen tes yang baik memiliki butir-butir dengan tingkat kesukaran
yang proporsional, artinya instrumen tersebut tidak didominasi butir-butir yang
relative sukar atau sebaliknya, tidak didominasi oleh butir-butir yang relatif
mudah. Dikarenakan instrumen tes adalah soal esay maka untuk menghitung
tingkat kesukaran menggunakan rumus sebagai berikut
(“Preparing and evaluating essay test questions,” n.d.).
n
∑ f i X i−n X min
P j= i=1 , ⩝i ϵ N
n( X max− X min )
Keterangan:
f i X i : hasil perkalian antara nilai per butir soal dengan jumlah responden
yang mendapatkan nilai itu
X max : nilai tertinggi
X min : nilai terendah
n : banyaknya responden
Kriteria yang digunakan peneliti untuk menentukan indeks kesukaran
instrumen pada penelitian ini disajikan pada Tabel 3.3 berikut.
Tabel 3.3
Kriteria Indeks Kesukaran Butir Soal
Indeks
Kategori
Kesukaran
p<0 , 25 Sukar
0 , 25 ≤ p< 0 ,75 Sedang
75< p Mudah
Sumber: Ratumanan & Lauran (2011)
Hasil perhitungan tingkat kesukaran tes kemampuan matematika pada
penelitian ini disajikan pada Tabel 3.4 berikut.
Tabel 3.4
Hasil Perhitungan Indeks Kesukaran
No. Urut Indeks
Nilai Kategori
Kesukaran
p1 0,77 Mudah
p2 0,63 Sedang
p3 0,65 Sedang
p4 0,63 Sedang
p5 0,57 Sedang
p6 0,67 Sedang
p7 0,77 Mudah
p8 0,40 Sedang
p9 0,42 Sedang
p10 0,20 Sukar
b) Indeks daya pembeda (discrimination index)
Daya pembeda merupakan kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara
seseorang yang sudah menguasai materi dengan seseorang yang belum menguasai
materi dengan baik. Rumus yang digunakan untuk menghitung daya pembeda adalah
sebagai berikut.
∑ f U X−n (X ¿¿ min)
PU = i=1 ¿
n( X max −X min )
n
dan
∑ f L X−n (X ¿¿ min)
P L= i=1 ¿
n( X max− X min )
Keterangan:
PU : Proporsi responden kelompok atas
PL : Proporsi responden kelompok bawah
fU : Frekuensi kelompok atas
fL : Frekuensi kelompok bawah
Untuk menentukan daya pembedanya maka dihitung menggunakan rumus
D=P U −PL (“Preparing and evaluating essay test questions,” n.d.). Kriteria
yang digunakan peneliti untuk menentukan daya pembeda dari instrumen
disajikan pada Tabel 3.5 berikut.
Tabel 3.5
Kriteria Indeks Daya Beda
Indeks Daya
Kategori
Pembeda
0 , 40 ≤ D Butir sangat baik
0 , 30 ≤ D< 0 , 40 Butir baik
0 , 20 ≤ D< 0 ,30 Butir cukup
D<0 , 20 Butir jelek
Sumber: Ratumanan & Lauran (2011)
Hasil perhitungan daya beda tes kemampuan matematika pada penelitian ini
disajikan pada Tabel 3.6 berikut.
Tabel 3.6
Kriteria Indeks Daya Beda Instrumen TKM
Butir soal PU PL Daya Beda Kategori
(P ¿ ¿ U −PL )¿
1 0,95 0,55 0,4 Sangat baik
2 0,9 0,35 0,55 Sangat baik
3 1 0,35 0,65 Sangat baik
4 0,8 0,4 0,4 Sangat baik
5 0,7 0,45 0,25 Cukup
6 0,9 0,5 0,4 Sangat baik
7 1 0,5 0,5 Sangat baik
8 0,6 0,3 0,3 Cukup
9 0,65 0,2 0,45 Sangat baik
10 0,5 0 0,5 Sangat baik
c) Korelasi antara skor butir dengan skor soal
Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan
skor tiap butir dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir. Pada
penelitian ini, perhitungan koefisien korelasi digunakan untuk mengukur
tingkat validitas butir soal apakah butir soal tersebut layak digunakan atau
tidak. Dalam menentukan layak atau tidaknya suatu butir soal, biasanya
digunakan uji signifikansi valid jika berkorelasi signifikan terhadap skor total.
Pada penelitian ini, perhitungan korelasi antara skor butir dengan skor total
menggunakan SPSS 17- korelasi Bivariate Pearson (Produk Momen Pearson).
Hasil perhitungannya terdapat pada Lampiran LB1-548.
Hasil perhitungan korelasi antara skor butir soal dengan skor total soal pada
penelitian ini disajikan pada Tabel 3.7 berikut.
Tabel 3.7
Kriteria Korelasi antara Skor Butir dengan Skor Total
Butir soal r ix Validitas
Item
1 0,630 Valid
2 0,798 Valid
3 0,781 Valid
4 0,581 Valid
5 0,383 Valid
6 0,601 Valid
7 0,768 Valid
8 0,551 Valid
9 0,601 Valid
10 0,633 Valid
Berdasarkan hasil perhitungan validitas butir soal yang meliputi tingkat
kesukaran, daya pembeda dan korelasi antara skor butir dengan skor soal maka
diperoleh kriteria butir soal disajikan pada Tabel 3.8 berikut.
Tabel 3.8
Kriteria Butir Soal
Butir soal p D r ix Status
(Indeks (Daya (Korelasi Butir Soal
Item-i
Kesukaran dengan
Beda)
) Skor
Total)
1 0,77 0,4 0,630 Diterima
2 0,63 0,55 0,798 Diterima
3 0,65 0,65 0,781 Diterima
4 0,63 0,4 0,581 Diterima
5 0,57 0,25 0,383 Diterima
6 0,67 0,4 0,601 Diterima
7 0,77 0,5 0,768 Diterima
8 0,40 0,3 0,551 Diterima
9 0,42 0,45 0,601 Diterima
10 0,20 0,5 0,633 Diterima
b. Realibilitas Instrumen Tes Kemampuan Awal Matematika
Reliabilitas instrumen dapat diartikan bahwa suatu instrumen cukup dapat
dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data, karena instrument itu sudah
baik. Instrument yang dapat dipercaya, yang reliabel akan menghasilkan data yang
dapat dipercaya juga.
Teknik pengukuran reliabilitas instrumen yang digunakan adalah relibilitas
konsistensi gabungan item yang mengukur kemantapan atau konsistensi item-item tes
sebagai satu kesatuan yang mengukur kemampuan awal matematika mahasiswa calon
guru. Untuk mencari koefisien reliabilitas instrument tes uraian, peneliti menggunakan
rumus Alpha sebagai berikut.
[ ][
∑s
]
2
n
α =r 11 = 1− 2 i
(n−1) st
Keterangan:
α =r 11 : koefisien realibilitas
n : Banyaknya butir
∑ s i : Jumlah varians skor setiap butir
2
2
st : Varians skor total
Nilai α atau r yang diperoleh pada perhitungan dengan menggunakan rumus
koefisien Alpha atau Alpha Cronbach di atas memiliki kriteria reliabilitas instrumen
seperti disajikan pada Tabel 3.9 berikut.
Tabel 3.9
Kriteria Reliabilitas Instrumen
Koefisien
Penafsiran
Realibilitas
0 , 80<r Derajat realibilitas tinggi
0 , 40 ≤ r ≤0 ,80 Derajat realibilitas sedang
r <0 , 40 Derajat realibilitas rendah
Sumber: Ratumanan & Lauran (2011)
Pada penelitian ini, kriteria reliabilitas instrumen yang digunakan untuk
menentukan instrumen TKM reliabel atau tidak adalah minimal pada kategori sedang
(0,40 ≤ r < 0,80). Apabila reliabilitas yang diperoleh adalah rendah maka instrumen
TKM akan direvisi.
Berdasarkan kriteria reliabilitas instrumen pada Tabel 3.7 di atas, instrumen
penentuan kemampuan awal matematika yaitu tes kemampuan awal matematika
mahasiswa calon guru memiliki derajat reliabilitas pada kategori sedang yaitu 0,71.
1. Pengembangan Tugas Pemecahan Masalah Matematika
Instrumen lembar tugas pemecahan masalah matematika dikembangkan dengan
mengacu pada hasil konstruksi tahapan berpikir reflektif yang didasarkan pada
tahapan Dewey (1933), Lee (2000), Rodgers (2002) dan Zehavi & Mann (2006) yang
telah dijelaskan pada bab II. Tahapan proses berpikir reflektif tersebut adalah 1)
mendeskripsikan masalah berdasarkan pengalaman (description of problem based on
the experience); (2) mengelaborasi konsep-konsep untuk membentuk strategi
penyelesaian berdasarkan pengalaman (elaboration of the concepts in generating
solution strategies based on the experience); (3) menganalisis penyelesaian dengan
menggunakan pengetahuan berdasarkan pengalaman (analysis of solution by using
insight based on the experience); dan (4) mengevaluasi penyelesaian yang dilakukan
berdasarkan pengalaman (evaluating selected solution based on the experience).
Untuk mengembangkan tugas pemecahan masalah matematika (TPMM) sesuai
dengan kriteria tersebut yang dimaksud, maka dilakukan langkah-langkah sebagai
berikut.
a. Mengkonstruksi TPMM bersifat non-rutin. Hal ini dimaksudkan agar mahasiswa
dapat menyelesaikan masalah dengan berbagai macam cara, memproduksi
berbagai solusi yang berbeda, memproduksi solusi yang unik. Sehingga, proses
berpikir reflektif mahasiswa dalam pemecahan masalah matematika yang
diberikan dapat terungkap. Pertimbangan dalam mengkonstruksi TPMM ini
adalah: (1) konstruksi masalah, meliputi: kalimat tidak menimbulkan penafsiran
ganda, batasan yang diberikan cukup untuk memecahkan masalah, rumusan
masalahnya menggunakan kalimat tanya atau perintah, batasan masalah yang
diberikan jelas, (2) bahasa, meliputi: menggunakan bahasa sesuai dengan kaedah
bahasa Indonesia yang baik dan benar, rumusan masalah menggunakan kata-kata
yang dikenal oleh mahasiswa, rumusan masalah komunikatif, rumusan masalah
menggunakan kalimat matematika yang benar, rumusan masalah tidak
menimbulkan penafsiran ganda.
b. Instrumen TPMM yang digunakan dalam penelitian ini perlu dilakukan uji
validitas isi dan susunannya dengan analisis rasional melalui uji ahli (expert
judgement). Kriteria validitas instrumen melalui uni ahli meliputi kesesuaian
materi, konstruk dan bahasa seperti dijelaskan secara detail sebagai berikut.
1) Validitas isi (content validity)
Validitas isi materi pada masalah matematika TPMM sesuai dengan tingkat
pemahaman subjek penelitian yaitu materi yang diberikan di Perguruan Tinggi
(PT). Dalam hal ini, materi yang diberikan harus disesuaikan dengan tingkat
akademik mahasiswa yaitu materi yang terdapat pada semester V karena
subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa semester V. Selain itu, masalah
tersebut harus memuat lebih dari satu pengetahuan atau konsep matematika
yang berkaitan dengan menghitung.
2) Validitas konstruk (construct validity)
Validitas konstruk masalah TPMM dilakukan dengan cara menggunakan
masalah yang sesuai dengan definisi masalah dalam penelitian ini yaitu suatu
situasi yang membutuhkan penyelesaian dimana jalan/cara untuk memperoleh
penyelesaian tersebut tidak dapat dilihat secara langsung. Masalah
menggunakan kata tanya/perintah yang menuntut uraian, batasan masalah yang
diberikan jelas. Informasi dan pertanyaan pada masalah mudah dimengerti,
jelas tertangkap maknanya, rumusan masalah menggunakan kata-kata yang
dikenal oleh mahasiswa, rumusan masalah komunikatif, rumusan masalah
menggunakan kalimat matematika yang benar dan tidak menimbulkan
penafsiran.
3) Validitas muka (face validity)
Validitas muka TPMM ditentukan dengan cara menelaah butir-butir lembar
validasi untuk menjamin bahwa butir-butir tersebut sesuai dengan kaidah
penulisan butir, konstruk, materi yang diukur, dan menggunakan kaidah
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Instrumen TPMM tersebut kemudian
ditelaah oleh validator (ahli) yaitu tiga dosen Universitas Negeri Makassar
(UNM) yang aktif mengajar di fakultas MIPA program studi pendidikan
matematika dan mereka pakar pada bidang pendidikan matematika.
Berdasarkan penelaahan lembar validasi TPMM dari ketiga validator (ahli)
diperoleh skor 4,76 dimana skor ini dikategorikan sebagai instrumen yang
memiliki kriteria valid berdasarkan tabel 3.2. Oleh karena itu, instrumen tes
pemecahan masalah matematika ini digunakan untuk mengungkap deskripsi
proses berpikir reflektif mahasiswa calon guru dalam pemecahan masalah
matematika.