OSCE THT ARYA
RHINITIS ALERGI RINOSINUSITIS KRONIS
Rinitis yang terjadi karena paparan alergen pada 1. Rinosinusitis yang berlangsung > 12
orang yang sensitif. minggu.
Anamnesis: 2. Banyak faktor penyebab
1. Ada faktor genetik (multifaktorial): a.l. Kelainan anatomis
2. Dapat disertai alergi di organ lain (asma, terutama di KOM, Alergi, Polip dsb.
urtikaria)
3. Serangan terjadi karena paparan alergen debu
rumah, ditempat kerja.
4. Hidung gatal, bersin beruntun, rinorea ingus
encer seperti air, disusul dengan buntu hidung.
Pemeriksaan: Pemeriksaan:
– Rongga hidung sempit, konka udim, tidak 1. Secret mukopurulen di meatus nasi
hiperemis dan sinus
– Alergi shiner pada mata 2. Konka hiperemi
– Nasal crease hidung
Diagnosis pasti: Tes kulit (positif untuk alergen Foto Water’s & CT SCAN
hirupan). IgE spesifik
Terapi: 1. Rujuk ke dokter gigi untuk masalah gigi
1. Hindari paparan alergen berlubang
2. Farmakoterapi awal: antihistamin 2. Cuci hidung dengan NaCl 3x sehari
Loratadine 10mg 3x1, CTM 2mg 3x1 3. Amoxicilin 500 mg 3x1
Pseudoefedrin 30 3x1 4. Pseudoefedrin 30mg 3x1
5. FESS = jika dalam 4 -12 minggu tidak
membaik
Komplikasi: Komplikasi:
Rhinosinusitis kronis, polip hidung, OMA, OME 1. Meningitis, abses cerebri, ensefalitis
2. Bronchitis, pneumonia, abses orbita
Edukasi:
Menata lingkungan di dalam rumah untuk
mengurangi tempat terkumpulnya debu (karpet, tirai
berlapis, pakaian kotor, tumpukan buku/majalah)
OSCE THT ARYA
OTITIS MEDIA SUPURATIF AKUT OTITIS MEDIA AKUT
• Infeksi akut supuratif mukosa kavum timpani, • Banyak terjadi pada anak pra sekolah
menyebabkan tekanan tinggi, membran timpani • Didahului ISPA
bulging/bombans. • Etiologi bakteri/virus
• Etiologi: S. pneumonia, H. Influenzae (bakteri) • Gejala:
• Gejala: 1. Nyeri telinga mendadak → rewel
1. Demam tinggi, dapat disertai kejang 2. Gangguan pendengaran
2. Nyeri telinga hebat (sebelum perforasi) 3. Tinitus
3. Biasanya datang dengan otorea mukopurulen 4. Tidak ada otorea
(setelah perforasi spontan)
Otoskopi: • Pemeriksaan:
MAE: hiperemi – Liang telinga tidak ada sekret
MT: refleks cahaya -, perforasi sentral pada inferior – Nyeri tekan tragus/nyeri tarik daun
pars tensa, hiperemi, keluar secret mukopurulen. telinga tidak ada (pada anak yang
kecil sulit dievaluasi)
– Biasanya tidak mudah melihat
membran timpani
1. Cuci telinga dengan larutan H2O2 3% Aurikula 1. Amoxicillin 30-50 mg/kg/hari 3x1
dekstra 2x2 tetes 3-5 hari atau sampai sudah tidak 2. Paracetamol sirup 120 mg/5 ml 3x1
berbusa 3. Pseudoefedrin 1-4 mg/kg/x 3x1
2. Amoxicilin 40 mg/kgbb/hr 3x1 4. CTM 0,1 mg/kg/x 3x1
3. Pseudoefedrine 1-4mg/kgbb/kali 3x1 5. Ambroxol 1,5 mg/kg/hari 3x1
4. Paracetamol 10-15mg/kgbb/kali 3x1
Komplikasi: Mastoiditis, Labirinitis, Meninigitis,
Paresis n. Facialis, Abses otak
Edukasi:
1. Jika mengalami ISPA disembuhkan hingga tuntas
2. Tidak mengorek telinga
3. Menjaga kebersihan telinga
4. Imunisasi lengkap
5. Makan dengangizi seimbang
OSCE THT ARYA
TONSILITIS DIFTERI TONSILITIS AKUT TONSILITIS KRONIS
Tonsilitis difteri: Corynebacterium • Infeksi akut tonsil, banyak pada ETIOLOGI
diphteriae (gram positif) anak - Sama dengan TA, faktor
• Gejala : • Etiologi: kuman terutama S. predisposisi : infeksi kronik
1. Malaise (anak terlihat toksik) Pyogenes (GABHS), gigi dan sinus
2. Nyeri kepala Streptokokus b-hemoliticus Ax:
3. Febris tinggi > 39 C grup A 1. Nyeri telan jika eksaserbasi
4. Batuk pilek • Infeksi pada folikel tonsil akut
5. Nyeri tenggorok hebat, odinofagi eksudat ke kanalikuli tonsil 2. Rasa mengganjal tenggorok
bila berat, ptyalismus, tidak ada detritus di kripta tonsil. 3. Tenggorokan kering
trismus • Gejala : 4. Nafas berbau
6. Mendengkur + ada fase tidak 1. Febris tinggi > 390 C 5. Susah menelan (disfagia)
bernafas 2. Nyeri tenggorok hebat, 6. OSAS (sleep apneu)
7. Pembesaran KGB leher nyeri tekan odinofagi bila berat →
8. riw. Imunisasi DPT ptyalismus, tidak ada
trismus
3. Pembesaran KGB leher
nyeri tekan
Pemfis status lokalis tonsil 1. Plummy voice (suara seperti Pmx fisik:
ditemukan T2/T2, beslag, hipermi, penuh makanan) 1. Tonsil membesar dengan
isthmus fausium menyempit 50% 2. Mulut berbau busuk (foeter permukaan tidak rata,
ex ore) 2. Kelenjar limfoid diganti oleh
3. Ptialismus jaringan fibrosis
4. Isthmus faucium menyempit 3. kripta melebar, terisi
5. Tonsil hiperemis dengan detritus
sekret detritus 4. Arkus faring hiperemi
5. Adenoid face
6. Fenomena palatum mole (-)
1. isolasi secara ketat Terapi: 1. Konservativ: Obat kumur
2. antidifteri serum – Tirah baring, makan bubur 2. Operatif
a. Ringan (mata, hidung, kulit): hangat, banyak minum Tonsilektomi/adenotonsilektomi
20.000IU – AB: Penisilin/Sefalosporin, Indikasi :
b. Sedang (tonsil, faring, laring): bila alergi, beri Makrolid 1. Nyeri tenggorok rekuren
40.000-60.000IU IM/IV secara – Diberikan dalam 7 hari, 2. 1-2-3 (7-5-3) → dengan
tetesan untuk eradikasi kuman demam >38,5 atau
c. Berat (+komplikasi)/>48 jam: – Cegah kambuh → limfadenopati servikal
80.000-120.000 IU IV + NaCl tonsilektomi (>2cm, nyeri) atau
dalam 60 menit kultur +
3. Eritromicin PO 50mg/kgBB/hari 3. GABHS
3dd1 2 minggu 4. Pada anak : alergi
4. imunisasi banyak AB, [Link]
peritonsilar
KOMPLIKASI (akibat eksotoksin) • Komplikasi:
Toksik pada jantung dan saraf – lokal → abses peritonsil.
1. Jangka pendek: obstruksi jalan – sistemik. → reumatoid artritis,
napas (edema, beslag) glomerulonefritis
2. Jangka panjang: miokarditis, aritmia,
neurolofgi → paralisis otot perifer
(palatum mole, otot pernafasan)
OSCE THT ARYA
CA LARING ANJ CA NASOFARING
• Karsinoma yang mengenai laring • Tumor jinak yang berasal dari • Gejala dini:
(supraglotik, glotik, subglotik). dinding nasofaring, namun secara • Telinga: tinitus, pendengaran
• Gejala dini: suara parau pada ortu > klinis ganas berkurang, grebek-grebek.
2 minggu → perlu pemeriksaan • ETIOLOGI: Masih belum jelas, • Hidung: epistaksis, buntu,
laring seksama. diduga ketidakseimbangan hormon penciuman
• Faktor resiko: androgen dan estrogen • Gejala lanjut: Ekspansif
o Rokok • Ax: - Ke sinus maksila: nyeri pipi
o Alkohol 1. Laki-laki muda (pubertas) - Ke bawah: gangguan menelan/sesak
o 40-50 tahun >>, laki-laki >> 10:1. 2. Epistaksis hebat berulang → napas.
• Gejala lanjut: anemia - Ke atas: masuk ke foramen laserum
1. sesak nafas dan stridor inspirasi 3. Hidung dan wajah membengkak → paresis/paralisis
progresif. 4. Rongga hidung → buntu hidung - N III, IV, VI → ptosis, strabismus,
2. kesulitan menelan → tumor uni/bilateral, sakit kepala ec. diplopia
supraglotik sudah meluas ke faring Blokade sinus paranasal - Ke samping:
atau esofagus. 5. Dorsum nasi: frog face ▪ Menekan N IX, X: gangguan
3. Batuk darah (ulserasi tumor) 6. Orbita: protrusio bulbi menelan.
4. BB turun 7. Dasar tengkorak: cephalgia ▪ Menekan N XI: kelemahan otot
5. Pembesaran kelenjar leher 8. Palatum molle: bombans, masuk bahu
(kadang-kadang). ke orofaring → gangguan ▪ Menekan N XII: deviasi lidah.
menelan dan sesak nafas. - Metastasis
9. Tuba eustachius: OMA → - Pembesaran KGB leher.
ketulian/otalgia - Metastasis jauh ke: hati, paru,
ginjal, limpa, tulang
1. Pemeriksaan THT: laringoskopi Px fisik Pmx Fisik
indirekta (LI) dan laringoskopi 1) Inspeksi: tampak mata menonjol 1. Inspeksi luar: wajah, mata, rongga
direkta (LD) atau laringoskopi serat dan bentuk muka frog face. mulut, leher.
optik(LSO) → tumor laring. 2) TIDAK ADA PEMBESARAN KGB 2. Pemeriksaan THT
2. Pemeriksaan leher: 3) Rinoskopi anterior: tumor di - Otoskopi: liang telinga, membran
• Inspeksi: pembesaran kelenjar leher, posterior rongga hidung, timpani.
laring dan tiroid, permukaan fenomena palatum mole negatif. - Rinoskopi anterior:
hiperemi 4) Rinoskpoi posterior: tumor - Tumor endofitik tak jelas terlihat
• Palpasi: nasofaring merah keunguan. hanya ditemukan >> sekret.
o Konsistensi: keras/lunak - Tumor eksofitik → tertutup sekret
o Ukuran PxLxT mukopurulen, fenomena palatum
o Mobilitas mole negatif.
o Nyeri tekan - Rinoskopi Posterior
o Batas - Tumor endofitik tak terlihat tumor,
o Permukaan mukosa nasofaring tampak agak
menonjol, tak rata dan
vaskularisasi meningkat.
- Tumor eksofitik → tumor
kemerahan.
- Faringoskopi dan Laringoskopi:
- Faring menyempit karena
penebalan jaringan retrofaring.
- Refleks muntah dapat menghilang
(negatif).
- Kelainan fungsi laring
X-foto leher AP/lateral, CT-Scan, Foto Water’s, CT-Scan, Angiografi X-foto thorax AP, Skull AP/lat, foto
Biopsi water’s, CT-Scan, Biopsi, Audiogram
OSCE THT ARYA
1) Trakeotomi: bila sesak nafas. Faskes pertama: Paracetamol, Tatalaksana
a) Laringektomi parsial (LP Amoxicillin, As. Mef - Stadium I,II : radiasi
b) Laringektomi total (LT) Rujuk ke spesialis THT-KL untuk - Stadium III,IV : kemoradiasi /
2) Radioterapi dan kemoterapi: dilakukan radioterapi dulu diikuti kemo
3) Rehabilitasi suara 1) Operasi → midfacial degloving Tx utama: radiasi
2) Radiasi → tumor besar (T4), Tx adjuvan : kemoterapi
residif, sisa tumor post-op
3) Hormonal → preparat hormon
estrogen
Edukasi: Tidak merokok, tidak makan Komplikasi: Perluasan intrakranial,
ikan asin perdarahan banyak (syok
hipovolemik), transformasi ke
malignansi, iatrogenic injury struktur
vital
OSCE THT ARYA
LARINGITIS AKUT EPISTAKSIS
• Keradangan akut laring, merupakan kelanjutan ISPA • Lokasi tersering = Daerah antero-inferior septum nasi,
• Etiologi: pada anak infeksi kuman H. influenzae diatas vestibulum nasi (plexus kiesselbach/little area).
• Gejala: • Penyebab tersering = idiopatik, trauma, infeksi lokal,
o Didahului batuk pilek (ISPA), subfebris sistemik
o Suara parau, batuk berat dan sesak napas • Gejala:
o Gelisah napas berbunyi, tidur tidak nyenyak 1. Onset (spontan/post trauma)
2. Episode perdarahan sebelumnya
3. Durasi dan frekuensi
4. Jumlah darah
5. Mengalir ke dalam tenggorokan? Atau keluar
dari hidung?
6. RPD
7. Riwayat Trauma
8. Obat aspirin, antikoagulan
9. RPK
• Pemeriksaan: Anak gelisah, nangis, stridor inspirasi, Pemeriksaan:
retraksi Rinoskopi anterior: (Lokasi)
supraklavikular/suprasternal/interkostal/epigastric. 1. Anterior cavum nasi (pleksus kiesselbach)
• Derajat sesak nafas: 2. Di atas konka media (A. etmoidalis ante/post)
• RR ↑ 3. Di bawah konka media
• Stridor 4. Bagian posterior kavum nasi
• Retraksi supraklavikula, epigastrial, intercostal 5. Difusa: sumber sulit dicari, sistemik
• Nafas cuping hidung 6. Nasofaring: ANJ, Ca nasofaring
• Sianosis
• Terapi: Kriteria darurat • Tatalaksana:
– oksigenasi, nebulizer 1) Stabilisasi dan tenangkan pasien (Metode trotter)
– kortikosteroid injeksi, antibiotik, awasi sesaknya, antisipasi 2) Bersihkan bekuan darah
kemungkinan tidakan intubasi/trakeotomi 3) Cari lokasi pendarahan
4) Pasang tampon
5) Digital pressure(pencet hidung dengan jari) 5-10
menit- posisi kepala pasien menunduk)
6) Kompres dingin
7) Kauterisasi
• Medikamentosa:
1. Amoxicillin 500mg 3x1
2. As Mef 500mg 3x1
3. Asam Traneksamat 500mg 3x1
Komplikasi: Aspirasi, Anemia, Syok Hipovolemik
OSCE THT ARYA
CORPUS ALIENUM CAVUM ORIS CORPUS ALIENUM CAVUM NASI
1) Riwayat tertelan sesuatu • Terjadi pada anak kecil.
2) Rasa mengganjal/nyeri tenggorok • Gejala:
3) Esofagus servikal: nyeri leher • Bila baru terjadi → tidak ada gejala.
4) Esofagus distal: nyeri substernal • Biasanya dibawa kedokter kalau ada yang
5) Disfagia: edema → obstruksi menyaksikan.
6) Drooling (obs total) → aspirasi → pneumonitis • Bila sudah beberapa hari akan terjadi infeksi
7) Distress nafas sekunder, ada fetor nasi
8) Perforasi: nyeri dada, emfisema kutis,
pneumomediastinum
Pemeriksaan: Pemeriksaan:
1. Tes minum → obs total (muntah) – Bila baru, terlihat benda asing
2. Laringoskopi indirek – Bila sudah lama kavum nasi tertutup sekret purulen
3. Endoskopi
1) Foto soft tissue leher PA/lat, thorax, abdomen
2) Esofagoskopi
Tatalaksana: Ekstraksi benda asing:
1) Rehidrasi → rujuk 1) Pasien diposisikan "rose" → tampon dimasukan pada
2) Endoskopi → esofagoskopi GA nasofaring dan benda asing diambil.
3) Bila gagal → esofagotomi (external approach) 2) Benda asing (kertas, kapas) = bisa menggunakan
4) BA uang logam → bukan gawat darurat tapi harus forsep atau pinset bayonet
ekstraksi dalam 24 jam 3) Benda asing (manik2) → menggunakan kait
5) Esofagoskopi segera → + komplikasi , BA tajam, BA baterai cincin/tajam.
(<4jam) 4) Jika pasien tidak kooperatif bisa dilakukan general
6) Baterai = CITO , jika terkena air akan leakage, isinya alkali anestesi
→ perforasi (nekrosis esofagus)
Resiko bila dilakukan di puskesmas:
1. Corpus alienum Saluran Jalan Napas Atas
2. Trauma hidung → perdarahan / resiko perdarahan
Komplikasi: Kapan Perlu Dirujuk:
3. Dehidrasi 1) Sudah terjadi komplikasi (perdarahan, obstruksi jalan
4. Lesi esofagus nafas, sinusitis)
5. Perforasi esofagus 2) Saat ekstraksi benda semakin masuk kedalam
6. Obstruksi pernafasan 3) Extraksi 2x mengalami kegagalan
7. Abses periesofageal 4) Pasien tidak kooperatif → tindakan general anestesi
OSCE THT ARYA
SERUMEN PROP AURICULA BPPV
• Serumen (wax), produk dari kelenjar serumen di 1. Keluhan didapatkan pendengaran turun
liang telinga(MAE) bagiantulang rawan. mendadak
• Bentuk dan konsitesinya bervariasi lembek, 2. Pusing berputar
padat, keras. 3. Sifat serangan: periodik, kontinu, ringan/berat
• Terjadi pada semua usia. Pada umumnya tidak 4. Factor pencetus: perubahan posisi, ramai, emosi
ada keluhan. 5. Mual muntah bila menghadap keatas atau
• Keluhan yang sering: bawah secara tiba2
– Tiba-tiba pendengaran berkurang 6. Tinnitus
setelah kemasukan air, berenang, cuci 7. Obat: streptomisin, gentamisin, kemoterapi
rambut 8. Post op: temporal bone surgery
– Gatal, dikorek kemudian buntu 9. RPD: DM, HT, jantung
10. Deficit neuro: baal wajah
11. Singkirkan DD Otitis Media (Riwayat ISPA, pemfis
telinga)
• Otoskopi terlihat sumbatan serumen (Cerumen Pemeriksaan:
prop). 1. Idiopatik: dbn
2. Tes dix halpike (BPPV anterior/posterior)
3. Tes supine-roll test (BPPV lateral)
1. Tes keseimbangan sederhana, tes koordinasi
sederhana (stepping test) = (+) pada BPPV
2. Tes garpu tala,Tes audiometri = Tuli
sensorineural nada rendah
• Tindakan: Tatalaksana:
– Lunak → spooling (air hangat spuit 10cc 1. Mengedukasi pasien
ke liang telinga, arahkan ke dinding 2. Hindari tempat keramaian
posterior MAE) 3. Modifikasi life style (mengurangi konsumsi
– Bila padat → ekstraksi (Pengait/hak garam)
tajam) 4. Menghindari perubahan posisi secara tiba-tiba
– Sulit Ekstraksi → tetesi Carboglyerine → 5. Difenhidramin 25 mg 4x1
sudah lembek → irigasi 6. Domperidone 3x10mg
– Serumen padat membatu (kolesteatosis) 7. Terapi definitive:
→ konsul dokter THT a) Kanalis Semisirkularis Posterior: Canalith
Repositioning Treatment (CRT) Epley +
Perasat Liberatory (Semont)
b) Kanalis Semisirkularis Anterior: reverse
Epley atau reverse Semont
c) Kanalis Semisirkularis Horizontal: perasat
lempert
OSCE THT ARYA
TULI KONDUKSI TULI PERSEPSI
Karakteristik: Anamnesa:
1. Test rinne (-) 1. Keparahan ketulian (ringan/sedang/sedang
2. BC > AC berat/berat/total)
3. Lateralisasi ke sisi sakit 2. Deskriminasi nada tutur jelek
4. Lebih mengenali frekuensi 3. Sulit mendegar di tempat ramai
rendah 4. Riwayat kongenital, RPD (infeksi, trauma, obat
5. Audiometri: air bone gap (BC > ototoksik)
AC)
6. Penurunan pendengaran <60 db Pemeriksaan Fisik:
1. Test Rinne (+)
Tatalaksana 2. Schwabach memendek
1. Hilangkan obstruksi MAE 3. Lateralisasi ke sisi sehat
2. Bersihkan cairan 4. Lebih mengenali frekuensi tinggi
3. Mengambil massa pada telinga 5. Audiometri: tidak ada gap antara AC dan BC
tengah 6. Penurunan pendengaran >60 db
4. Stapedectomy
5. Tympanoplasty Tatalaksana:
6. ABD 1. Sifilis telinga tengah → penisilin dosis tinggi +
steroid
2. hipotiroid → replacement therapy
3. labirinitis → terapi infeksi
4. hentikan obat ototoksik
5. ABD
NIHL PRESBIKUSIS
Anamnesis: Penurunan pendengaran tipe
1. Penurunan pendengaran sensorineural pada kedua telinga secara
2. Tinnitus, vertigo perlahan pada frekuensi tinggi.
3. Rekruitmen: peningkatan kerasnya bunyi pada
telinga yang sakit Anamnesis:
1. Gangguan pendengaran simetris
Pemeriksaan Fisik: kanan kiri pada frekuensi tinggi
1. Otoskopi: membrane timpani utuh kecuali pada 2. Gangguan diskriminasi nada tutur
trauma akustik berat 3. Problem limitasi
2. Audiogram: 4. Gejala rekruitmen
(i) Fase awal: tuli sensorineural ringan
(ii) Fase lanjut: penurunan frekuensi lebih luas Pemeriksaan Fisik:
(iii) Pada paparan bising kronik → audiogram 1. Tuli sensorineural pada frekuensi
simetris pada kedua telinga tinggi, bilateral, simetris
(iv) Trauma akustik akut → tuli campuran
unilateral Tatalaksana:
1. Hindari suara bising dan stress
Tatalaksana: 2. Diet rendah lemak
1. Trauma akustik 3. Stop alcohol dan rokok
(i) Kelainan MT → myringoplasty 4. ABD
1. NIHL lebih sulit sembuh 5. Latihan membaca ujaran (speech
(ii) Pencegahan: pakai pelindung telinga pada reading)
lingkungan kerja > 85 db 6. Latihan mendengar (auditory
(iii) Kalua sudah tuli → rehabilitasi, Latihan lip training)
reading, ABD
OSCE THT ARYA