Ejaan
Pengertian
Penulisan huruf
Ejaan
Tanda baca Penulisan kata
Fungsi ejaan
● Gagasan yang disampaikan secara lisan lebih mudah dipahami daripada
secara tertulis.
● Hal itu disebabkan dalam bahasa lisan faktor gerak-gerik, mimik, intonasi,
irama, jeda, dan unsur-unsur non-bahasa lainnya ikut memperlancar
komunikasi itu.
● Dalam hal ini, unsur-unsur non-bahasa tersebut tidak terdapat di dalam
bahasa tulis.
● Ketiadaan hal itu menyulitkan komunikasi dan memberikan peluang untuk
terjadi kesalahpahaman.
● Di sinilah ejaan dan tanda baca (pungtuasi) berperan sampai batas-batas
tertentu, yakni menggantikan beberapa unsur non-bahasa yang diperlukan
untuk memperjelas gagasan atau pesan.
Evolusi Ejaan Bahasa Indonesia
● Sejak bahasa Indonesia masih bernama bahasa Melayu sudah ada ejaan
yang berlaku.
● Bahasa Indonesia berasal dari berbagai bahasa, oleh karenanya ejaan
berubah dari waktu ke waktu.
● Pemerintah Indonesia juga secara resmi menerbitkan kebijakan yang
ditetapkan pejabat berwenang untuk mengatur ejaan Bahasa Indonesia yang
senantiasa diperbaharui.
● Kebijakan ini merupakan peraturan perundangan yang diberlakukan secara
● nasional dan diajarkan di institusi pendidikan (sekolah dan kampus).
Antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu
● Ejaan Bahasa Indonesia banyak dipengaruhi oleh Bahasa Melayu.
● Pada tanggal 23 Mei 1972, Menteri Pelajaran Malaysia Tun Hussein Onn dan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Mashuri menandatangani
sebuah pernyataan bersama.
● Pernyataan bersama tersebut mengandung persetujuan untuk melaksanakan
asas yang telah disepakati oleh para ahli dari kedua negara tentang Ejaa
Baru dan Ejaan Yang Disempurnakan.
● Pada tanggal 16 Agustus 1972, berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 57
Tahun 1972, berlakulah sistem ejaan Latin bagi bahasa Melayu (“Rumi”
dalam istilah bahasa Melayu Malaysia) dan bahasa Indonesia. Di Malaysia,
ejaan baru bersama ini dirujuk sebagai Ejaan Rumi Bersama (ERB).
Ejaan van Ophuijsen
● Pada tahun 1901 ditetapkan peraturan ejaan bahasa Melayu dengan huruf
Latin berdasarkan rancangan Prof. Charles van Ophuijsen, yang dibantu oleh
Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim.
● Ejaan itu kemudian dikenal dengan nama Ejaan van Ophuijsen yang
diterbitkan dalam sebuah buku berjudul “Logat Melajoe”.
● van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku
ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul “Tata Bahasa
Melayu” dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.
● Ejaan ini digunakan untuk menuliskan kata-kata Melayu menurut model yang
dimengerti oleh orang Belanda, yaitu menggunakan huruf Latin dan buny
yang mirip dengan tuturan Belanda
Contoh ejaan van Ophuijsen
Ejaan Soewandi
● Ejaan Republik (edjaan repoeblik) adalah ketentuan ejaan dalam Bahasa
Indonesia yang berlaku sejak 17 Maret 1947.
● Ejaan ini kemudian juga disebut dengan nama Edjaan Soewandi, yaitu
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada masa itu.
● Ejaan ini mengganti ejaan sebelumnya, yaitu Ejaan Van Ophuijsen yang
mulai berlaku sejak tahun 1901.
Perbedaan Ejaan Sowandi dengan Ejaan van Ophuijsen
Ejaan Melindo
● Pada akhir 1959, sidang perutusan Indonesia dan Melayu (Slamet Mulyana-
Syeh Nasir bin Ismail) menghasilkan konsep ejaan bersama yang kemudian
dikenal dengan nama Ejaan Melindo (Melayu-Indonesia)
● Perkembangan politik selama tahun-tahun berikutnya mengurungkan
peresmian ejaan Melindo.
Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD)
● Ejaan Soewandi ini berlaku sampai tahun 1972 lalu digantikan oleh Ejaan
Yang Disempurnakan (EYD) pada masa Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan, Mashuri Saleh.
● Sebagai menteri, Mashuri menandai pergantian ejaan itu dengan mencopot
nama jalan yang melintas di depan kantor departemennya saat itu, dari Djl.
Tjilatjap menjadi Jl. Cilacap.
● Ejaan ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 16 Agustus 1972 oleh
Presiden Republik Indonesia.
● Peresmian itu berdasarkan Putusan Presiden No. 57 Tahun 1972.
Keserumpunan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu
Dengan EYD, ejaan dua bahasa serumpun yakni Bahasa Indonesia dan Bahasa
Malaysia, semakin dibakukan.
EYD Revisi Tahun 1987
● Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan kebijakan melalui keputusan
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengeluarkan Keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0543a/U/1987 tanggal 9 September
1987 tentang Penyempurnaan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia
yang Disempurnakan.
● Lalu dicermatkan pada Rapat Kerja ke-30 Panitia Kerja Sama Kebahasaan di
Tugu, tanggal 16–20 Desember 1990 dan diterima pada Sidang ke-30 Majelis
Bahasa Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia di Bandar Seri Begawan,
tanggal 4–6 Maret 1991.
● Keputusan menteri ini menyempurnakan EYD edisi 1975.
EYD Revisi Tahun 2009
● Kembali Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan kebijakan melalui
keputusan Menteri Pendidikan Nasional (ada pergantian nama departemen
pada saat itu) yang mengeluarkan Permen (Peraturan Menteri) Pendidikan
Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tanggal 31 Juli 2009 tentang Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.
● Dengan dikeluarkannya peraturan menteri tahun 2009 ini, maka EYD edisi
1987 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
EYD Revisi Tahun 2015
● Pemerintah Indonesia secara resmi menerbitkan kebijakan melalui keputusan
Menteri Pendidikan dan kebudayaan yang mengeluarkan Permen (Peraturan
Menteri) Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015 tanggal 26
Nopember 20159 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia.
● Dengan dikeluarkannya peraturan menteri tahun 2015 ini, maka EYD edisi
2009 diganti dan dinyatakan tidak berlaku lagi.
Tata Kata
Tata kata mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta
fungsi perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik
maupun fungsi semantik.
Tata Kalimat
Dalam pemakaian bahasa Indonesia ragam ilmiah,
penyimpangan/kesalahan yang terjadi pada kalimat terjadi karena:
•Pengaruh bahasa daerah dan dialek
•Pengaruh bahasa asing
•Mengandung makna ganda (taksa/ambigu)
•Bermakna tidak logis
•Mengandung gejala pleonasme (mubazir/berlebihan)
•Kalimat terlalu panjang
•Struktur kalimat rancu
•Ketidaklengkapan unsur kalimat ini
Kalimat Pengaruh Bahasa Daerah
Kalimat Pengaruh Bahasa Asing
Kalimat Taksa
Kalimat Nirlogis
Kalimat Rancu
Kalimat Nirlengkap
Kalimat Mubazir
Kalimat Panjang