Morfometri DAS Sausu dan Banjir Parigi
Morfometri DAS Sausu dan Banjir Parigi
Oleh :
i
HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL TUGAS AKHIR
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN..............................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR..............................................................................................v
DAFTAR TABEL.................................................................................................vi
PENDAHULUAN...................................................................................................1
2.1.1 Geomorfologi...........................................................................................5
iii
2.4.3 Relief Morfometri..................................................................................16
2.5 Banjir............................................................................................................23
3.1.1 Alat........................................................................................................26
3.1.2 Bahan.....................................................................................................26
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................32
iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.6 Bagan Pengendalian Banjir Metode Struktur dan Non Struktur…...25
v
DAFTAR TABEL
Tabel
3. 1 Perencanaan waktu penelitian 31
vi
BAB I
PENDAHULUAN
Sungai adalah sistem aliran air yang penting bagi kehidupan manusia dan
sepanjang sungai sausu telah menjadi ancaman yang semakin meningkat bagi
banyak daerah di kabupaten Parigi Moutong. Banjir sering terjadi akibat curah
hujan yang tinggi, tetapi karakteristik morfometri DAS sungai juga memainkan
Konsep daerah aliran sungai atau yang sering disingkat dengan DAS
merupakan dasar dari semua perencanaan hidrologi. Mengingat DAS yang besar
pada dasarnya tersusun dari DAS-DAS kecil, dan DAS kecil ini juga tersusun dari
DAS-DAS yang lebih kecil lagi. Secara umum DAS dapat didefinisikan sebagai
suatu wilayah, yang dibatasi oleh batas alam, seperti punggung bukit-bukit atau
gunung, maupun batas buatan, seperti jalan atau tanggul, dimana air hujan yang
Menurut kamus webster, DAS adalah suatu daerah yang dibatasi oleh pemisah
terkait dengan aspek geomorfologi suatu daerah. Karakteristik ini terkait dengan
proses pengatusan (drainase) air hujan yang jatuh di dalam DAS. Parameter
1
tersebut adalah luas DAS, bentuk DAS, jaringan sungai, kerapatan aliran, pola
seberapa besar pengaruh morfometri DAS terhadap fenomena banjir bagian hilir
di wilayah tersebut.
ini yaitu:
sungai ?
2. Untuk mengetahui upaya mitigasi kenaikan muka air banjir di bagian hilir
sungai.
mengenai kajian tentang peran serta pengaruh morfometri DAS terhadap banjir di
2
dapat dijadikan rujukan bagi pemerintah setempat dalam melakukan upaya dan
kedepannya.
daerah aliran sungai Sausu bagian hilir. Secara rinci ruang lingkup penelitian
1. Penelitian difokuskan pada lima Sub Das yang ada pada daerah aliran
2. Aspek morfometri DAS yang dikaji meliputi luas DAS, bentuk DAS,
3. Mitigasi kenaikan muka air banjir di bagian hilir sungai dengan sistem
non struktural.
pada koordinat 1200 25’ 00”- 1200 35’ 00” E dan 10 00’ 00”- 10 10’ 00”. Daerah
Penelitian dapat ditempuh dari kota Palu + 6 jam menggunakan transportasi darat
3
Gambar 1. 1 Peta Tunjuk Daerah Penelitian
4
3. Sukardan, T, dkk. (2019). Peran Karakteristik Morfometri Daerah Aliran
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Provinsi Sulawesi Tengah. Lokasi penelitian masuk dalam Peta Geologi Regional
Lembar Poso oleh (Simandjuntak, Surono, & Supandjono, 1997) (Gambar 2.1).
5
2.1.1 Geomorfologi
daerah ini dapat dibagi menjadi satuan pedataran, perbukitan, dan pegunungan.
berlangsung sejak zaman Trias, terutama pada Mandala Geologi Sulawesi Bagian
Timur dimulai pada Kapur Akhir atau Awal Tersier. Pada Zaman ini di bagian
berbagai macam batuan metamorf yaitu kuarsit, genes, serpentinit, batusabak, dan
ke arah barat menunjam dibawah ESO sehingga terbentuk zona subduksi baru
sehingga pada sisi bagian timur ESO dan Kompleks Pompangeo mengalami
6
Tpps Formasi Puna terdiri dari serpih, lanau, batupasir, konglomerat,
padat dan berlapis baik. Lanau berwarna kelabu kehitaman, padat, keras dan
berlapis baik, tebal lapisan sekitar 10-30 cm. Batupasir berwarna coklat kehijauan
sampai kehitaman, agak keras dan berlapis baik, tebal lapisan sekitar 30-200 m.
kuarsa, semen berupa karbonat yang padat dan keras. Batulempung gampingan
laut dangkal. Tebal formasi sekitar 800 m, Formasi ini menindih tak selaras
Kompleks Pompangeo.
berwarna putih berbintik hitam, berbutir sedang sampai kasar, terdiri atas granit
Qal Aluvium dan Endapan Pantai terdiri dari pasir, lempung, lumpur,
7
2.2 Pengertian DAS
punggung gunung, di mana air hujan yang jatuh di daerah tersebut akan
melalui sungai-sungai kecil ke sungai utama (Asdak, 1995). Kajian DAS pada
1. Bagian Hulu
20%).
2. Bagian Tengah
3. Bagian Hilir
8
c. Merupakan daerah dengan kemiringan lereng kecil sampai sangat kecil
Salah satu fungsi (DAS) adalah fungsi hidrologis, dimana fungsi tersebut
sangat dipengaruhi oleh jumlah curah hujan yang diterima, geologi dan
terhadap longsor). Fungsi suatu DAS merupakan fungsi gabungan yang dilakukan
oleh seluruh faktor yang ada pada DAS tersebut, yaitu vegetasi, bentuk wilayah
topografi, tanah, dan manusia. Apabila salah satu faktor tersebut mengalami
perubahan, maka hal tersebut akan mempengaruhi juga ekosistem DAS tersebut
berkurang atau sistem penyalurannya menjadi sangat boros. Kejadian itu akan
menyebabkan melimpahnya air pada musim penghujan dan sangat minimum pada
musim kemarau, sehingga fluktuasi debit sungai antara musim hujan dan musim
9
2.4 Morfometri DAS
(Van Zuidam, 1985). Morfometri DAS merupakan suatu cara memberi nilai
morfometri DAS sangat berkaitan dengan kondisi topografi, batuan, dan iklim
suatu daerah. Menurut Stahler (1952) suatu DAS atau Sub DAS memiliki 3
1. Linear morfometri,
3. Relief morfometri.
10
Untuk dapat mengetahui keseluruh aspek di atas, pertama kita harus
mengetahui orde sungai dari setiap DAS. Orde sungai adalah tingkatan suatu
segmen sungai dalam suatu pola aliran. Banyak ahli telah menentukan cara
pemberian nilai orde suatu sungai seperti Horton (1945), Strahler (1952), dan
merupakan orde pertama. Namun tidak semua segmen diberi keterangan orde,
bergabung, maka akan menjadi orde-dua. Dua orde-dua bergabung akan menjadi
orde-tiga.
pertama. Ketika dua segmen orde-pertama bergabung, maka akan terbentuk orde
kedua. Dua segmen orde-dua akan membentuk orde-tiga. Dua orde-tiga akan
membentuk orde-empat, dan seterusnya. Setiap segmen dapat ditempel oleh orde
dengan nilai yang lebih kecil namun tidak akan merubah atau meningkatkan nilai
ordenya. Dalam penentuan orde sungai pada penelitian ini menggunakan metode
Strahler. Sedangkan metode (Shreve, 1967) setiap segmen yang bertemu akan
11
menambah nilai orde selanjutnya. Metode Shreve sering digunakan dalam
penelitian geomorfologi untuk mencari hubungan antara hujan dan air permukaan.
Karena orde pertama sungai berfungsi sebagai pengumpul utama air hujan dalam
banjir akan lebih mudah diketahui dari pada penggunaan metode Strahler.
atau 𝑅𝑏 (bifurcation ratio) suatu DAS. Bifurkasi merupakan pola jaringan yang
a. Suatu segmen sungai terbagi menjadi dua bagian, setiap bagian masing-
b. Suatu sungai dengan dua cabang, salah satu cabangnya menjadi dominan
c. Sudut segmen sungai mengecil, dan dua cabang bergabung menjadi satu.
Orde atau rasio cabang sungai adalah posisi percabangan alur sungai di
dalam urutannya terhadap induk sungai dalam DAS. Penentuan nilai orde sungai
12
Penentuan orde sungai menurut Strahler (1952), yaitu segmen yang tidak
memiliki percabangan merupakan orde pertama. Ketika dua segmen orde pertama
bergabung maka terbentuk orde kedua, dan seterusnya. Setiap segmen dapat
ditempel oleh orde dengan nilai yang lebih kecil namun tidak akan mengubah atau
akan memiliki range antara 3.0 – 5.0, sedangkan Bila nilai 𝑅𝑏 < 3 atau Rb > 5
(Verstappen, 1983 dalam Van Zuidam, 1985). Strahler (1957) dalam Javed (2009)
daerah yang berbeda, kecuali terdapat pengaruh struktur geologi yang dominan.
Jumlah alur sungai untuk suatu orde dapat ditentukan angka indeksnya
yang
Nu
Rb=
Nu+1
Di mana :
13
Tabel 2. 1 Klasifikasi Indeks Tingkat Percabangan Sungai
O Percabangan Sungai
geomorfologi dua dimensi suatu DAS Strahler (1952). Aspek yang dilihat pada
b. Panjang area
c. Bentuk cekungan
e. Frekuensi aliran
daerah tersebut pada peta topografi dengan penskalaan peta adapun formula dari
14
perhitungan luas yaitu jumlah kotak grid x skala, serta dapat diukur juga
menggunakan planimeter.
Panjang DAS merupakan jarak antara muara atau hulu sungai sampai ke
hilir sungai induk, sedangkan lebar DAS merupakan perbandingan antara luas dan
panjang DAS. Untuk menentukan lebar DAS dapat dihitung menggunakan rumus:
A
W=
Lb
Keterangan :
yang terdapat dalam suatu DAS dengan luas tertentu. Kerapatan sungai yang besar
pada umumnya ditemukan pada daerah yang memiliki jenis tanah relatif mudah
tererosi atau kedap air sedangkan kerapatan sungai yang rendah pada umumnya
ditemukan pada daerah yang memiliki jenis tanah relatif tahan erosi dan tidak
kedap air (Siwi & Harsanugraha, 2008), Besarnya indeks kerapatan sungai
L
Dd=
A
Keterangan:
15
A : Luas DAS (km2)
Semakin besar nilai (𝐷𝑑) semakin baik sistem drainasenya. Secara kuantitatif
berikut:
No Tabel2)2. 2 Kelas
Dd (km/ Klasifikasi indeks tingkat kerapatan pengaliran
kerapatan Keterangan
km
Alur sungai melewati batuan denagn resisten
keras, maka angkutan sedimen yang
1 <0.25 Rendah terangkut aliran sungai lebih kecil jika
dibandingkan pada alur sungai yang melewati
batuan dengan resistensi yang lebih lunak,
apabila kondisi lain yang mempengaruhi
sama.
Alur sungai yang melewati batuan dengan
2 0.25 – 10 Sedang resistensi yang lebih lunak, sehingga
angkutan sedimen yang terangkut lebih besar.
Alur sungai yang melewati batuan dengan
3 10 -25 Tinggi resistensi yang lunak, sehingga angkutan
sedimen yang terangkut lebih besar.
Alur sungai melewati batuan yang kedap air.
4 >25 Sangat tinggi Keadaan ini menunjukkan bahwa hujan yang
menjadi aliran akan lebih besar jika
dibandingkan suatu daerah dengan Dd rendah
melewati batuan yang permeabilitas besar.
a. Rasio Relief
[Link] relatif
16
e. Nilai kekasaran
dalam suatu DAS. Peningkatan relief dan lereng yang curam mengakibatkan
waktu yang diperlukan pada saat pengumpulan air menjadi singkat. Relief rasio
berpengaruh terhadap banjir dan erosi. Semakin tinggi relief rasionya maka aliran
permukaan akan meningkat dan lebih besar dari kapasitas infiltrasinya. Sehingga
erosi yang terjadi akan semakin besar. Untuk mengetahui relief rasio suatu DAS,
Strahler merumuskannya dengan perhitungan antara beda tinggi hulu dan hilir
suatu DAS terhadap panjang sungai utama yang dapat dihitung melalui persamaan
berikut:
Su = ¿ ¿
Keterangan :
17
DAS merupakan daerah yang dibatasi punggung punggun gunung, dimana air
hujan yang jatuh di daerah tersebut akan ditampung oleh cekungan diantara
Kajian DAS pada umumnya meliputi bagian hulu, tengah dan hilir. Suatu
DAS terbagi menjadi beberapa Sub DAS, dan Sub DAS dapat terbagi menjadi
beberapa sub-sub-DAS batasan suatu Sub DAS merupakan suatu garis yang
ditarik melewati kontur dari elevasi tertinggi yang mengelilingi Sub DAS
tersebut. Untuk menarik garis terebut, dimulai dari saluran luar Sub DAS
kemudian ke bagian tepi kirinya, garis selalu harus berada di bagian sudut kanan
dari garis kontur dan tidak memotong jalur sungai. Kemudian ke bagian atas dari
perbandingan antara luas DAS dan kuadrat panjang sungai utama (Sosrodarsono
dan Takeda, 2003). Sementara itu, (Ramdan, 2006) membagi bentuk DAS secara
1. Bentuk DAS bulu burung, yaitu DAS yang memiliki jalur anak sungai di kiri
dan kanan sungai utama yang kemudian mengalir menuju sungai utama.
Karakter lain bentuk DAS ini yaitu memiliki debit banjir yang relatif kecil
2. Bentuk DAS radial, yaitu DAS yang bentuknya menyerupai kipas atau
lingkaran dengan banyak anak sungai yang menuju ke satu titik. Karakter lain
18
bentuk DAS ini yaitu memiliki debit banjir yang relative besar di titik
3. Bentuk DAS paralel, yaitu DAS yang bentuknya memiliki dua jalur aliran
sungai sejajar dan bersatu dibagian hilir, banjir dapat terjadi di titik pertemuan
anak sungai.
4. Bentuk DAS kompleks, yaitu DAS yang memiliki beberapa bentuk DAS
seperti di bawah.
Gambar 2. 4 Berbagai macam bentuk Das (Ramdan, 2006) (A) bentuk DAS
bulu burung, (B) Bentuk DAS radial dan (C) Bentuk DAS pararel.
Bentuk DAS mempengaruhi waktu konsentrasi air hujan yang mengalir
menuju outlet. Semakin bulat bentuk DAS berarti semakin singkat singkat waktu
konsentrasi yang diperlukan, Sehingga fluktuasi banjir yang akan terjadi semakin
tinggi. Bentuk DAS secara kuantitatif dapat diperkirakan dengan nilai nisbah
4π.A A
1/ 2
Rc = Re = 1.129
P2 Lb
Keterangan :
19
A : Luas DAS (km2) Lb : Panjang Sungai Utama (Km)
No Rc Keterangan
suatu daerah yang dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh curah hujan, alur
pengaliran tetap mengalir serta berhubungan erat dengan jenis batuan, struktur
geologi, kondisi erosi dan sejarah bentuk bumi. (Howard, 1967) telah membagi
pola pengaliran dalam beberapa kelompok, yaitu pola dasar (basic patterns), pola
20
1. Dendritik, bentuk umum seperti daun, berkembang pada batuan dengan
kekerasan relatif sama, perlapisan batuan sedimen relatif datar serta tahan
5. Radial, bentuk menyebar dari satu pusat, biasanya terjadi pada kubah
intrusi, kerucut volkanik dan bukit yang berbentuk kerucut serta sisa-sisa
erosi. Memiliki dua sistem, sentrifugal dengan arah penyebaran keluar dari
pusat (cekungan).
21
Mencirikan kubah dewasa yang sudah terpotong atau terkikis dimana
permafrost.
8. Kontorted, terbentuk pada batuan metamorf dengan intrusi dike, vein yang
menunjukkan daerah yang relatif keras batuannya, anak sungai yang lebih
13. Subparalel, lereng memanjang atau dikontrol oleh bentuk lahan memanjang.
14. Kolinier, kelurusan bentuk lahan bermaterial halus dan beting pasir.
22
Gambar 2. 5 Pola pengaliran sungai menurut Howard (1967); A. Pola pengaliran
dasar; B - C. Pola pengaliran modifikasi
2.5 Banjir
faktor alam atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga
harta benda, dan dampak psikologis. Bencana dapat dibedakan menjadi tiga
antara lain bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial (UU RI No. 24,
2007).
air sungai yang disebabkan oleh debit aliran yang melebihi kapasitasnya. Selain
23
itu luapan air sungai yang menyebabkan banjir dapat terjadi akibat hujan yang
dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan
akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air
yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan
memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat
perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai
menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.
darurat.
24
3. Manajemen Pasca Bencana, meliputi kegiatan pemulihan, rehabilitasi dan
rekonstruksi.
diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu faktor alam dan non alam.
Kawasan rawan banjir merupakan kawasan yang sering atau berpotensi tinggi
Dari tempat asal sampai berakhirnya dilaut atau dari letak geogafisnya, sungai
dapat dibagi menjadi tiga daerah, yaitu : daerah hulu (pegunungan), daerah
transisi, dan daerah hilir (muara atau pantai). Ketiga daerah ini menunjukkan sifat
Debit aliran sungai yang perlu diperhatikan meliputi debit banjir yang pernah
5. Tipe Banjir
Menurut Mulyono Sadyohutomo (2009), ada dua tipe banjir, yaitu banjir dari air
hujan setempat yang menggenang karena drainase pada lokasi tersebut tidak baik,
dan banjir dari luapan air hulu sungai yang mengalir dari daerah hulu.
25
Mitigasi bencana banjir dapat diklasifikasikan atas dua bentuk, yakni mitigasi
BAB III
Gambar 2.6 Bagan Pengendalian Banjir Metode Struktur dan Non Struktur
BAB III
METODE PENELITIAN
yang dapat menunjang keberhasilan kegiatan penelitian. Adapun alat dan bahan
26
3.1.1 Alat
1. Kompas Geologi
3. Kamera digital
3.1.2 Bahan
dkk., 1997).
parameter morfometri DAS terhadap banjir. Data yang digunakan pada penelitian
ini sesuai dengan lingkupnya yaitu perolehan data sekunder dan data primer. Data
shapefile sungai 50_K, shapefile batas DAS Parigi moutong, shapefile batas Sub
27
DAS Parigi moutong (Geometri DAS), shapefile Administrasi Sulawesi Tengah.
Dan untuk data primer yang diperoleh di lapangan berupa data morfologi bentang
tahapan pengambilan data, tahapan analisis dan pengolahan data, serta tahapan
penyusunan laporan.
1. Penentuan Topik Penelitian, hal ini berkaitan dengan judul penelitian yang
2. Studi Literatur, mencari referensi yang berkaitan dengan topik penelitian, studi
tugas akhir serta surat keputusan dosen penguji pada ujian tugas akhir serta
surat izin penelitian guna legalitas kegiatan kepada Prodi Teknik Geologi
28
4. Persiapan perlengkapan lapangan meliputi pengadaan peta dasar (peta
regional, data topografi (DEMNAS), shapefile sungai DAS Parigi Moutong 50_K,
shapefile batas DAS Parigi Moutong, dan shapefile batas Sub DAS Parigi
morfometri meliputi luas DAS, rasio cabang sungai (Rb), dan kerapatan
pengaliran (Dd).
pengolahan, diantaranya berasal dari data morfologi dan morfometri DAS. Tahap
visual tentang bentuk lahan dan bentuk lembah dan pola pengaliran. Adapun
analisis morfometri DAS meliputi luas DAS dan bentuk DAS. Penjabaran tentang
1. Luas DAS
3. Gradien Sungai
29
4. Orde Sungai
5. Kerapatan pengaliran
interpretasikan tingkat kenaikan muka air banjir bagian hilir daerah penelitian.
cabang sungai (Rb) untuk mengetahui orde sungai dan kerapatan pengaliran.
penelitian dan seluruh informasi hasil penelitian yang sudah diolah dan dianalisis
ke dalam sebuah laporan. Adapun tahap penyusunan laporan ini dibagi menjadi
dua tahap pengerjaan, yaitu sebelum penelitian dan setelah penelitian. Pembuatan
laporan sebelum penelitian terutama pada bab I, bab II, dan bab III. Jika hasil
pengolahan dan analisis data sudah diperoleh maka pembuatan laporan dapat
pengolahan data serta menganalisis data tersebut untuk menemukan jawaban dari
30
3.3 Bagan Alir Penelitian
penelitian ini seperti tahap persiapan, tahap pengumpulan dan analisis serta
interpretasi data dapat dilihat pada bagan alir di bawah ini. (Gambar 3.1).
pada bulan April hingga Juni 2023 dengan jadwal waktu pelaksanaan seperti yang
31
3. 4 Perencanaan waktu penelitian
DAFTAR PUSTAKA
32
Azañón, J. M. (2012). Active tectonics in the central and eastern Betic Cordillera
through morphotectonic analysis: the case of Sierra Nevada and Sierra
Alhamilla. Journal of Iberian Geology, 225-238.
Bull, W. B., & McFadden., L. D. (1977). Tectonic Geomorphology North And
South Of The Garlock Fault, California. Geomorphology in arid regions:
Proc. Eighth Annual Geomphology Symposium, State Univerisity New
York, Binghamton,, 115-138.
Dehbozorgi, M., Pourkermani, M., Arian, M., Matkan, A. A., Motamedi, H., &
Hosseiniasl, A. (2010). Quantitative analysis of relative tectonic activity in
the Sarvestan area, central Zagros, Iran. Geomorphology 121, 329–341.
Doornkamp, J. C. (1986). Geomorphological approaches to the stud of
neotectonics. Journal of the Geological Society, 335-342.
Horton, E. R. (1945). Erosional Development of Strams and Their Drainage
Basins Hydrophysical Approach to Quantitative Morphology. Bulletin of
The Geological Society of America, 275-370.
Howard, A. D. (1967). Drainage Analysis in Geologic Interpretation: A
Summation. AAPG bulletin, V 51, 11.
Kadarusman, A. A., Miyashita, S., Maruyama, S., Parkinson, C. D., & Ishikawa,
A. (2004). Petrology, Geochemistry and Paleogeographic. Tectonophysycs,
55-83.
Keller, E. A., & Pinter, N. (1987). Active Tectonics Earthquakes, Uplift, and
Landscape,Eos, Transactions American Geophysical Union. New Jersey,
United States Of America.: Prentice-Hall ,.
Keller, E. A., & Pinter, N. (1996). Active Tectonics Earthquakes, Uplift, and
Landscape, Edition Se. ed, . Environmental & Engineering Geoscience.
Ramdan, H. (2006). Pengelolaan Sumber Air Minum Lintas Wilayah di Kawasan
Gunung Ciremai Propinsi Jawa Barat . Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Schumm, S. A. (1956). Evolution Of Drainage Systems and Slopes in Badlands at
Perth Amboy, New Jersey. Geological Society of America Bulletin, 597-
646.
Shreve, R. l. (1967). Infinite Topologically Random Channel Networks. Journal
Geology, 75,178-186.
Simandjuntak, T. O., Surono, & Supandjono, J. B. (1997). Peta Geologi Lembar
Poso, Sulawesi. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Siwi, S. E., & Harsanugraha, W. K. (2008). Pemanfaatan Citra Satelit
Penginderaan Jauh Untuk Pengelolaan Sumber Daya Air, Studi Kasus :
33
Daerah Aliran Sungai Dodokan, Prov. NTB. 490–501.
Soewarno. (1991). Hidrologi: Pengukuran Dan Pengolahan Data Aliran Sungai.
Bandung: Nova.
Sompotan, A. F. (2012). Struktur Geologi Sulawesi. Bandung: Perpustakaan Sains
Kebumian Institut Teknologi Bandung.
Strahler, A. N. (1952). Hypsometric (Area-Altitude) Analysis of Erosional
Topology. Geological Society of America , Buletin 63.
Sukamto, R., Sumardirdja, h., & Suptandar, T. (1973). Geologi Tinjau Lembar
Palu, Sulawesi 1 : 250.000 (Peta Geologi Tinjau.
Suripin, 2002. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air, Andi, Yogyakarta.
34