0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan86 halaman

Panduan Budidaya Tanaman Nilam

Diunggah oleh

Sri Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan86 halaman

Panduan Budidaya Tanaman Nilam

Diunggah oleh

Sri Wahyuni
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

SEMOGA

• Panjang umur
• Sehat
• Bermanfaat
Jl. Siliwangi 72 Salakan, Trihanggo, Gamping
Sleman, Jogjakarta 55291
Telp. 0274-6499191 (Hunting) | Fax. 0274-6499192 / 6499193
Website : [Link] | e-mail : service@[Link]
Disampaikan Oleh

Ir. Adhy Nugroho


TS PERKEBUNAN
• Pernah di HTI,ASTRA GROUP
• Perkebunan Kelapa Sawit ASTRA
GROUP , Kaltim
• PTPN – 1, Aceh
• PT. NATURAL NUSANTARA
NILAM
Progestemon Cablin Bent

Kemilau dari
DAUN NILAM
DIREBUS-DIKUKUS-DIUAPKAN
• Kadar PA yang tinggi dalam minyak nilam
memberikan arti bahwa akan semakin baik
kualitas minyak tersebut. Patchouli alcohol
berfungsi sebagai bahan pengikat wewangian
agar aroma keharumannya bertahan lebih
lama.
KRITERIA KESESUAIAN LAHAN &
IKLIM NILAM
BUDIDAYA
PEMILIHAN STEK BIBIT
a. Umur tanaman induk ≥ 6 bulan ( 6-12 bln ),
sehingga sudah berkayu (tidak sukulen).
b. Diameter setek: 0,3-0,5 cm
c. Ukuran stek : stek panjang: > 30 cm, setek
pendek: ± 15 - 20 cm. Penentuan ukuran stek
berkaitan dengan target tinggi bibit siap
tanam yang diinginkan dan waktu atau masa
pemeliharaan bibit di persemaian. Pada
prinsipnya penentuan panjang stek didasarkan
pada jumlah ruas.
A. STEK PUCUK B. STEK BATANG
• Ukuran stek minimal adalah satu ruas, tetapi
bisa menggunakan 2- 3 ruas, sehingga peluang
tumbuh dan jumlah tunas akan lebih besar.
d. Fisik stek: segar, sehat, tanpa kahat hara,
bebas dari serangan hama dan penyakit dan,
telah mengayu, tetapi tidak yang sudah tua
e. Kualifikasi stek dapat berasal dari batang,
cabang primer, cabang sekunder.
f. Kebutuhan stek untuk bibit sekitar 40.000 –
50.000 stek/ha atau sekitar 1,5 – 2 ton/ha
KULTUR JARINGAN
Pesemaian di Bedengan
a. Lahan pesemaian harus gembur dan subur
serta datar
b. Dekat dengan sumber air atau mata air.
c. Bedengan dibuat dengan ukuran lebar 80 –
120 cm, tinggi 25 – 30 cm, panjang tergantung
kondisi lapangan.
d. Ukuran tanah dan pasir dengan perbandingan
2 : 1, bagian atas bedengan diberi pupuk
GRANULE ORGANINDO + GLIO secara merata.
e. Penanaman stek bibit dilakukan pada sore hari
dengan jarak tanam 10 x 10 cm, dengan posisi
miring ± 45 º.
f. Penyiangan dan penyiraman harus selalu
dilakukan.
g. Setelah 2 – 3 minggu akan nampak tunas-tunas
muda yang tumbuh, tunas akan tumbuh lebih
cepat dari pada akar
h. Setelah berdaun 3 keatas semprot nasa+hrn 2:1
i. Setelah 4 – 5 minggu tunas dan akar akan
tumbuh merata dan sudah siap untuk
dipindahkan.
Pesemaian di kantong plastik
a. Polybag yang digunakan berukuran 8 x 12 cm
x 0,05 mm dengan dilubangi agar
mendapatkan sirkulasi udara dan air yang
baik.
b. Campuran tanah dan pupuk kandang dengan
perbandingan 2 : 1, dimasukkan ke polybag
sebanyak ¾ dari volume polybag, dibiarkan
selama 4 – 5 hari baru kemudian dipindahkan
ke bedengan.
e. Selanjutnya stek ditanamkan kedalam tanah
polybag pada sore hari dengan sudut
kemiringan 45 º
f. Pada umur 2 – 3 minggu biasanya sudah
tumbuh tunas-tunas baru, oleh karena itu
pada umur 4 minggu naungan sudah dapat
disingkirkan dan stek sudah siap di tanam
dilapangan.
g. Perawatan, penyiraman dan penyiangan
gulma dilakukan sesuai kondisi bedengan.
h. Penyiraman pertama LARUTAN SUPERNASA +
GLIO
SUNGKUP
OLAH TANAH
• Pengolahan tanah dengan pencangkulan
hendaknya dilakukan 1 – 2 bulan sebelum
penanaman dengan kedalam olah ± 30 cm
• Setelah tanah diolah kemudian dibuat bedengan
dengan ukuran tinggi 20 – 30 cm, lebar 1 – 1,5
meter dan panjang disesuaikan dengan kondisi
lapangan. Jarak antara bedengan satu dengan
lainnya berkisar antara 40 – 50 cm.
• Tebar DOLOMIT / kapur pertanian, min 300
Kg/Ha
• Setelah dibentuk bedengan dibiarkan selama
2 minggu, kemudian dicangkul lagi sampai
terbentuk gumpalan – gumpalan tanah yang
halus
• Kemudian siram SUPERNASA 6 – 9 Kg / tebar
GRANUL 5 – 7 zak + GLIO 10-12 kotak per Ha
• 1 minggu kemudian, buat lubang tanam
dengan ukuran 15 x 15 x 15 cm, dengan jarak
tanam menyesuaikan
• Lebar parit 30 - 40 cm dan dalamnya 50 cm.
PEMELIHARAAN
• PENYULAMAN, 2 minggu setelah tanam
• PENYIANGAN,setelah tanaman berumur 2
bulan atau saat tanaman mencapai ketinggian
20 - 30 cm dan telah mempunyai cabang
bertingkat dengan radius 20 cm, areal
pertanaman perlu disiangi.
• PENJARANGAN & PEMANGKASAN, pada
tanaman yang terlalu rapat, dijarangkan.
• Terlalu rimbun pada cabang tingkat 3 keatas,
dipangkas
• PEMBUMBUNAN, biasanya setelah panen,
pendangiran, pemberian tanah, menaikkan
tanah
PENANAMAN
a. Penanaman secara tidak langsung,
• Bibit diambil dari persemaian yang telah
berakar dan mempunyai 2 - 4 daun. Setiap
lubang tanam diisi satu bibit. Bila akarnya
terlalu panjang sebaiknya dipotong, sebab
dalam penanaman akar yang terlalu panjang
akan berlipat-lipat. Lipatan akar dalam tanah
seringkali menyebabkan terjadinya serangan
penyakit busuk akar.
b. Penanaman secara langsung.
• Bibit diambil dari kebun induk, setiap lubang
tanam ditanami 2 - 3 setek untuk menjaga
kemungkinan ada setek yang mati. Jangan
terlalu dangkal sebab tanaman bisa mudah
roboh, yang baik adalah dua buku yang
ditanam. Kebutuhan setek yang banyak
tersebut menjadi perlindungan sehingga cara
ini tidak disarankan untuk diterapkan.
• MONOKULTUR
• TUMPANG SARI
PRODUK NASA
UMUR POC NASA + HRN
SUPERNASA /
TANAMAN
( bln )
(7-10 hari sekali)
(BSA)
GRANULE GLIO BVR
1 3 : 1 kondisional kondisional

2 4 : 2 kondisional kondisional

3 5 : 2 kondisional kondisional

SEHABIS 6 – 9 Kg SPR / 5
– 7 zak GRAN kondisional kondisional
PANEN
HAMA
TUNGAU MERAH
BELALANG
CRIKET PEMAKAN DAUN (GRYLLIDAE)
Ulat penggulung daun (Pachyzaneba stultalis)
NEMATODA
KENIKIR & TAGETES
PENYAKIT
Penyakit kusta atau budog
• Penyakit budok disebabkan oleh jamur
Synchytrium [Link]. patchouli.
Jamur ini termasuk patogen tular tanah.
• Jamur S. Pogostemonis bersifat obligat parasit,
yaitu hanya dapat tumbuh dan berkembang di
jaringan tanaman yang masih hidup.
• Pada tanaman nilam, spora S. Pogostemonis
terdapat di dalam kutil pada daun, tangkai
daun (petiole) dan batang tanaman nilam.
• Kutil yang terbentuk mengindikasikan
terjadinya pertambahan jumlah sel
(hiperplasia) dan ukuransel (hipertrofi)
tanaman sebagai reaksi dari tanaman akibat
senyawa yang dikeluarkan oleh Synchytrium
selama infeksi.
• Bubur bordo atau Bordeaux adalah salah satu
pestisida yang bisa dibuat sendiri. Pestisida ini
sudah dikenal sangat lama dan terbukti
manjur untuk mengatasi serangan penyakit
yang disebabkan oleh jamur.
Cara membuat:
• Masukkan prusi ke dalam ember.
• Haluskan gamping dan belerang jadi satu, kemudian dimasukkan ke dalam
ember kedua
• Rebus 6 liter air sampai mendidih.
• Masukkan 3 liter air mendidih ke dalam ember satu yang berisi trusi. Aduk
hingga tercampur merata.
• Masukkan 3 liter air mendidih sisanya ke dalam ember ke dua. Aduk
hingga tercampur merata.
• Satukan masing-masing adonan dan diaduk sampai merata.
• Diamkan adonan semalaman hingga terbentuk cairan bening dan ada
endapannya.
• Ambil cairan yang berwarna bening dan gunakan untuk menyemprot daun
tanaman yang terserang penyakit.
• Endapan bisa digunakan untuk dicampurkan dengan media tanam.
Penyakit Kuning/Daun Merah
Penyakit Layu Bakteri
SIDIK CEPAT
• Tanaman akan mengalami kelayuan dalam
waktu 2 – 5 hari setelah terinfeksi. Pada saat
bersamaam ada cabang yang layu dan sehat,
pada perkembangan lebih lanjut seluruh
bagian tanaman layu dan mati. Pada tanaman
berumur 1 -3 bulan kematian terjadi 6 hari
setelah terlihat gejala serangan. Pada
tanaman berumur 4 -5 bulan kematian terjadi
1 -2 minggu setelah gejala terlihat.
• Jaringan batang dan akar tanaman yang
terserang membusuk sedang kulit akar
sekundernya mengelupas. Irisan melintang
batang terserang memperlihatkan warna
hitam sepanjang jaringan yang layu sampai
kambium. Bila cabang yang layu dipotong
akan tampak lendir seperti susu, begitu pula
bila direndam di dalam air bersih.
Strategi pengendalian penyakit layu bakteri pada
nilam secara umum dapat dilakukan dengan
cara :

• Sanitasi dan eradikasi untuk mengurangi


inokulum.
• Membersihkankan lahan yang sudah terinfeksi
bakteri selama 2-3 tahun dan mencabut
tanaman terserang, serta membakarnya.
• Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan
inang layu bakteri seperti tanaman padi atau
jagung.
• Memperbaiki saluran drainase pada waktu
curah hujan tinggi. Tanaman yang ditanam di
lahan yang tergenang air atau air tanah
dangkal dapat mendorong berkembangnya
organisme pengganggu tumbuhan seperti
cendawan dan bakteri, oleh karena itu
diperlukan adanya parit drainase.
• Menggunakan bibit unggul atau bibit dari tanaman
sehat pada kebun yang belum terserang penyakit
layu bakteri.
• Menggunakan agensia hayati yaitu bakteri
Pseudomonas flourescen, Pseudomonas sepasia,
Bacillus sp., dan Micrococcus sp.
• Penggunaan pestisida nabati dari bahan tanaman
cengkeh dan kayu manis.
• Pestisida kimia digunakan sebagai alternatif terakhir,
yaitu dengan penggunaan pestisida yang berbahan
aktif streptomycin sulfat dan carbofuran
ALELOPATI
• Penurunan produktivitas nilam pada lahan
yang subur dan tidak adanya gejala serangan
organisme pengganggu tanaman (OPT),
kemungkinan dapat disebabkan oleh adanya
senyawa kimia yang bersifat autotoksik
(senyawa alelopati) pada lahan, yang
dihasilkan oleh tanaman nilam itu sendiri.,
2002)
peristiwa pelepasan senyawa yang bersifat racun yang dikeluarkan oleh tumbuhan
yang dapat menghambat pertumbuhan tumbuhan lain atau tumbuhan nya sendiri
• Beberapa tumbuhan yang telah
terbukti mengandung alelopati adalah
• Rumput bermuda (Cynodan dactylon) (L.),
• Jagung (Zea mays L.)
• Akibatnya lahan tersebut tidak dapat
digunakan untuk membudidayakan nilam
kembali, sehingga perlu membuka lahan yang
baru. Untuk menekan pengaruh toksisitas
senyawa alelopati pada tanaman nilam dapat
dilakukan rotasi tanaman (dengan tanaman
Mentha sp.) dan Pengapuran (Djazuli, 2002)

Mint
• Senyawa alelopati dapat dikelompokkan
menjadi 5 jenis, yaitu :
• 1. Asam fenolat (dihasilkan melalui eksudat
akar)
• 2. Koumarat
• 3. Terpinoid
• 4. Flafonoid,
• 5. Scopulaten (penghambat fotosintesis).
PANEN
• Panen pertama dilakukan saat umur
tanaman 6 bulan dan panen
berikutnya dilakukan setiap 4 bulan
sampai tanaman berumur tiga tahun
setelah itu tanaman nilam harus
diremajakan.
• Panen dilakukan pada saat pagi hari atau sore
hari.
• Bila siang hari yang terjadi adalah :
a. Terjadinya proses metabolisme pada sel-sel daun
sehingga mengurangi laju pembentukan minyak
b. Terjadinya proses transpirasi daun yang lebih cepat.
c. Kondisi daun menjadi kurang elastis dan mudah sobek
d. Kesemuanya diatas menyebabkan jumlah minyak yang
dihasilkan berkurang.
KELEBIHAN

• Jumlah daun bertambah


• Berat Kering daun nilam meningkat
• Rendemen meningkat
• PA, meningkat
bersama menuju masa depan yang lebih baik
SUKSES ITU

PASTI
TEAMWORK

Anda mungkin juga menyukai