1.
Konsep Design Thinking Dalam Pembelajaran Yang Berpusat
Pada Peserta Didik
Konsep Design Thinking adalah proses berulang dimana kita berusaha
memahami pengguna menantang asumsi dan mendefinisikan kembali
masalah dalam upaya mengidentifikasi strategi dan solusi alternatif yang
mungkin tidak langsung terlihat dengan tingkat awal pemahaman kita.
Pada saat yang sama, Design Thinking menyediakan pendekatan berbasis
solusi untuk menyelesaikan masalah. Ini adalah cara berpikir dan bekerja
serta kumpulan metode langsung. Design Thinking sangat berguna dalam
mengatasi masalah dengan melakukan reframing masalah dengan cara-
cara yang berpusat pada manusia, menciptakan banyak ide dalam
brainstorming, dan mengadopsi pendekatan langsung dalam pembuatan
prototype dan testing. Design Thinking juga melibatkan eksperimen yang
sedang berjalan, membuat sketsa, membuat prototype, testing, dan
mencoba berbagai konsep dan ide
Design Thinking menyediakan struktur yang fleksibel dan mudah diakses
untuk memandu para pendidik, dan untuk meningkatkan kreativitas
mereka dalam menangani masalah-masalah praktis. Meski memiliki
banyak arti, ada empat karakteristik yang ditemui dalam Design
Thinking.
1. Berbasis Solusi atau People Centered Kepentingan manusia sebagai pengguna
adalah fokus paling utama dalam metode Design Thinking
2. Hands-On
Salah satu tahapan yang dilakukan dalam Design Thinking adalah
prototipe menuangkan ide menjadi produk nyata. Tahap ini
memungkinkan pengujian langsung dari tim desain terhadap produk
setengah jadi.
3. Highly Creative
Ada yang mengatakan kalau kreatif berarti dapat menciptakan sesuatu
yang baru. Ada pula yang berpendapat bahwa seseorang yang kreatif dapat
menghubungkan hal-hal yang tadinya tidak berhubungan
4. Dilakukan Secara Berulang atau Iterative
Design Thinking selalu dimulai dengan mencari masalah.
2. Desain Pembelajaran Berbasis Teknik Design Thinking
1. Mulai dari Diri
Design Thinking adalah sebuah metodologi, juga sebuah pola pikir, untuk
memunculkan potensi kreatif yang ada dalam diri setiap orang
2. Eksplorasi Konsep
3. Ruang Kolaborasi
Sesuai dengan karakteristik Design Thinking yang empatik dan berpusat pada
pengguna, alangkah baik jika kita memulai mengenali Design Thinking dengan
mengalami sendiri prosesnya.
4. Demonstrasi Kontekstual
Setelah mengalami satu siklus Design Thinking, kini saatnya Anda
membagikan pengalaman dan hasil kerja kelompok Anda pada rekan-rekan
sekelas.
5. Elaborasi Pemahaman
6. Koneksi Antara Materi
7. Tugas mandiri atau personal essay
3. Konsep Computational Thinking
Istilah Computational Thinking (CT) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980 dan
1996 oleh Seymour Papert, kemudian Jeanette Wing memperkenalkan kembali istilah
berpikir komputasional dalam ilmu komputerpada Maret 2006. Pada tahun 2011,
Jeannette memperkenalkan definisi baru di mana Computational Thinking adalah
proses berpikir yang diperlukan untuk merumuskan masalah dan solusi agar solusi
tersebut dapat menjadi agen pengolah informasi yang efektif dalam pemecahan
masalah. Dua aspek dari definisi ini adalah:
1. Pemikiran komputasional adalah proses berpikir yang tidak
bergantung pada teknologi.
2. Pemikiran komputasional adalah metode pemecahan masalah yang
dirancang untuk dipecahkan dan dilakukan oleh orang, komputer,
atau keduanya.
Computational Thinking (CT) adalah proses berpikir yang melibatkan proses
merumuskan masalah sehingga solusi mereka dapat direpresentasikan sebagai
langkah-langkah komputasi dan algoritma, yang sering mencakup
dekomposisi masalah dan penalaran abstrak. Karena teknologi komputasi
menjadi bagian yang lebih integral dari kehidupan dan tenaga kerja kita,
penting bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan CT ini sejak dini dan
dengan kesempatan yang sama untuk mempersiapkan mereka untuk karir masa
depan mereka. Mengajar CT di kelas memiliki keuntungan untuk mencegah
efek bias seleksi hadir yang muncul pada program elektif setelah sekolah.
Namun, ini menantang guru secara efektif agar dapat memahami konsep CT,
mengidentifikasi komponen CT dalam pelajaran mereka, dan menumbuhkan
pola pikir CT di antara siswa mereka.
Computational Thinking (CT) merupakan merupakan suatu kemampuan
berpikir secara efektif dalam memformulasikan permasalahan dan menemukan
solusinya (Research Notebook: Computational Thinking--What and Why? |
Carnegie Mellon School of Computer Science, n.d.). Berpikir komputasional
pada prosesnya dapat melibatkan aspek pemikiran yang juga mengacu pada
metodenya, yakni
berpikir logis, berpikir algoritmis, efisiensi, dan berpikir inovatif dengan penjelasan
sebagai berikut:
1. Berpikir Logis
Bagian paling penting dari berpikir komputasional tampaknya adalah
berpikir logis. Berpikir logis dalam hal ini mengarah pada kesimpulan
atau proses menebak berdasarkan informasi yang dimiliki.
2. Berpikir Algoritmik
Di ilmu komputer, algoritma berperan dalam pemecahan masalah,
terutama yang terjadi secara berulang.
3. Efisiensi
Efisiensi dalam ilmu komputer adalah meminimalkan sumber yang
diperlukan oleh suatu algoritma untuk menyelesaikan masalah. Ada dua
sumber yang signifikan dalam menyelesaikan masalah, yaitu waktu dan
kapasitas memori yang diperlukan. Dengan begitu, memecahkan suatu
masalah dengan berpikir komputasional saat menciptakan algoritma
harus didesain dengan baik yang mana menggunakan langkah-langkah
yang paling sedikit untuk menyelesaikan masalah.
4. Berpikir Inovatif
Inovatif berarti bersifat pembaruan. Setiap masalah yang dihadapi akan
melatih kemampuan berpikir seseorang untuk mencari celah dari hal-
hal yang sudah ada. Akhirnya, seseorang mampu menemukan hal baru
atau dapat berpikir dari sudut pandang lainnya (out of the box).
Jadi, Computational Thinking merupakan keterampilan dasar yang
harus dimiliki tiap individu di era digital dimana keterkaitannya sebagai
pendekatan dalam memecahkan masalah. Jika seseorang memiliki
kemampuan memecahkan masalah dari yang sederhana hingga
kompleks dengan langkah yang sistematis dan mutakhir, ia tergolong
sebagai individu yang mampu bersaing dan memiliki kecakapan hidup.
4. Desain Pembelajaran Berbasis Teknik Computational Thinking
Perkembangan dunia melalui Industri 4.0 VUCA, dan Society 5.0 berdampak pada
berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Salah satunya
adalah perubahan pada lingkungan pembelajaran yang berubah menjadi lingkungan
digital yang menggunakan Internet of Things (IoT), Artificial Intelligence (AI), big
data, dan lain-lain. Hal ini membuat informasi menjadi lebih mudah untuk
diperoleh oleh siswa. enerapan computational thinking dalam proses pembelajaran
sebagai problem solving dilakukan dengan menggunakan 4 tahapan yaitu sebagai
berikut (Anderson, 2016):
1. Decomposition, Dekomposisi adalah menguraikan masalah ke
dalam bagian-bagian yang lebih mudah diselesaikan.
2. Pattern recognition, menemukan pola yang terbentuk dalam suatu
permasalahan sebagai bagian dari upaya menemukan solusi dari
permasalahan yang lain secara efisien.
3. Abstraction, Abstraksi adalah proses eliminasi bagian-bagian yang
tidak relevan dari suatu persoalan. Dengan abstraksi, dapat dibuat
suatu blueprint penyelesaian persoalan yang dapat digunakan
untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sejenis.
4. Algorithm, Algoritma melakukan serangkaian tindakan sistematis
untuk memperoleh solusi permasalahan.
Berikut detail penerapan computational thinking dalam pembelajaran:
1. Dekomposisi (Decomposition):
● Penjelasan: Dekomposisi adalah proses memecah masalah yang
kompleks menjadi masalah yang lebih kecil dan lebih mudah
dikelola. Ini memungkinkan seseorang untuk fokus pada setiap
bagian masalah secara terpisah.
● Contoh dalam Pembelajaran: Ketika mengajarkan matematika,
misalnya, dekomposisi dapat digunakan untuk memecahkan
masalah matematika yang kompleks menjadi serangkaian langkah-
langkah sederhana yang lebih mudah dimengerti.
2. Algoritma (Algorithm):
● Penjelasan: Algoritma adalah langkah-langkah atau instruksi yang
terstruktur untuk menyelesaikan suatu masalah atau tugas.
Algoritma adalah panduan yang sangat spesifik untuk mencapai
suatu tujuan.
● Contoh dalam Pembelajaran: Siswa dapat belajar membuat algoritma
untuk menyelesaikan tugas sehari-hari, seperti merancang
algoritma untuk membuat secangkir teh atau algoritma untuk
mengikuti rute menuju sekolah, dll.
3. Abstraksi (Abstraction):
● Penjelasan: Abstraksi melibatkan penyederhanaan suatu konsep
atau masalah dengan cara mengabaikan detail yang tidak relevan.
Ini memungkinkan pemahaman yang lebih baik tentang inti dari
masalah tersebut.
● Contoh dalam Pembelajaran: Dalam mempelajari Sejarah Islam,
abstraksi dapat digunakan untuk mengekstraksi pola-pola
perubahan sosial, perkembangan agama, dan dampak historis
penting, daripada mengingat setiap detail tanggal dan peristiwa.
4. Mencari Pola (Pattern Recognation):
● Penjelasan: Pola melibatkan mengidentifikasi pola-pola yang
berulang dalam data atau masalah. Ini membantu dalam
pengambilan keputusan dan meramalkan hasil berdasarkan
pengalaman sebelumnya.
● Contoh dalam Pembelajaran: Saat mempelajari matematika,
pengenalan pola dapat membantu siswa dalam mengidentifikasi
aturan dalam deret angka atau mengenali hubungan antara
berbagai bentuk geometri.
Penerapan computational thinking dalam pembelajaran tidak hanya relevan
untuk mata pelajaran komputer atau teknologi, tetapi juga dapat digunakan
dalam berbagai disiplin ilmu, seperti matematika, ilmu sosial, ilmu agama,
ilmu Bahasa, ilmu alam, dan seni. Ini membantu siswa mengembangkan
keterampilan berpikir yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan
karier mereka di masa depan, cara penerapan CT dalam pembelajaran bisa
dilakukan dengan Langkah-langkah berikut:
1. Mulailah dari yang sederhana:
2. Hubungkan CT dengan kehidupan sehari-hari
3. Gunakan berbagai metode pembelajaran
4. Dukung siswa
Dengan menggunakan CT dalam memecahkan masalah (problem solving)
pada setiap mata pelajaran maka akan tumbuh pada peserta didik sikap-sikap
berikut:
1. Menghadapi Keraguan dengan Percaya Diri
2. Tangguh
3. Mampu Bekerja Sama
4. Aktif Mencari Tahu
5. Tidak Pernah Berhenti Belajar