Nama : Komala Dewi Abas
Nim : 451419051
Kelas : C Pendidikan Geografi 2019
Tugas 9 Mata Kuliah Geografi Transportasi
Ringkasan Materi
BAB 2 SIMPANG BERSINYAL
I. PENDAHULUAN
I.1 LINGKUP DAN TUJUAN
Simpang-simpang bersinyal merupakan bagian dari sistem terkendali waktu yang tetap
dirangkai atau sinyal aktuasi kendaraan tereolisir biasanya memerlukan metode dari
perangkat ini khusus dalam [Link] demikian masukan untuk waktu sinyal dari
suatu simpang yang berdiri sendiri dapat diperoleh dengan menggunakan manual ini.
Pada umumnya sinyal lalu lintas dipergunakan untuk suatu atau lebih dari alasan berikut
- untuk menghindari kemacetan simpang akibat adanya konflik arus lalu lintas sehingga
terjamin bahwa suatu kapasitas tertentu dapat diperthankan,bahkan selama kondisi lalu
lintas jam puncak
- untuk memberi kesempatan kepada kendaraan atau pejalan kaki dari jalan simpang kecil
untuk memotong jalan utama.
- untuk mengurangi jumlah kecelakanan lalu lintas akibat tabrakan antara kendaraan-
kendaraan dan arah yang bertentangan.
Penggunaan sinyal tidak selalu meningkatkan kapasitas dan keselamatan dan simpang
seperti dibahas bab [Link] menerapakan metode-metode yang diuraikan dalam
bab ini atau bab lainnya dari manual ini adalah mungkin untuk memeprkirakan pengaruh
pengguna sinyal terhadap kapasisatas dan perlaku lalu lintas jika dibandingkan dengan
pengaturan tanpa sinyal atau pengaturan bundaran.
Karakteristik sinyal lalu lintas
Untuk sebagian besar fasilitas jalan kapasitas dan perilaku lalu lintas terutama adalah
fungsii dari keadaan geometrik dan tuntutan lalu [Link] menggunakan sinyal
perancang insinyur dapat mendisribusikan kapasisatas kepada berbagai pendekat melalui
pengolakasian waktu hijau pada masing-masing [Link] dari itu untuk menghitung
kapasitas dan perilaku lalu lintas pertama perlu ditentukan fase dan waktu sinyal paling
sesuai untuk kondisi yang ditinjau.
Penggunaan sinyal dengan lampu tiga warns hijsu kuning merah diterapkan untuk
memisahkan lintasan dari gerakan –gerakan lalu lintas yang saling bertentangaan dalam
dimensi [Link] ini adalah keperluan yang mutlak baagi gerakan –gerakan lalu lintas yang
datang dari jalan-jalan yang saling [Link] utama sinyal-sinyal dapat juga
digunakan untuk memisahkan gerakan membelok dari lalu lintas lurus melawan atau
memisahkan gerakan lalu lintas membelok dari pejalan kaki yang menyeberang.
Jika hanya konflik primer yang dipisahkan maka adalah untuk mengatur sinyal lampu
lalu lintas dengan dua fase masing-masing sebuag fase untuk jalan yang [Link]
ini selalu dapat memberikan jika gerakan belok kanan dalam suatu simpang telah
[Link] pengaturan dua fase memberikan kapasitas tertinggi dalam beberapa kejadian
maka pengaturan tersebut disarankan sebagai dasar dalam kebanyaakan analisa lampu lalu
lintas.
Metodologi
Metodologi untuk analisa simpang bersinyal yang diuraikan dibawah ini didasarkan pada
prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Geometri
Perhitungan dikerjakan secara terpisah untuk setiap pendekat suatu lengan simpang dapat
terdiri lebih dari satu pendekat,yaitu dipisahkan menjadi dua atau lebih sub [Link]
ini terjadi gerakan belok kanan atau belok kiri mendapat sinyal hijau pada fase yang
berlainan dengan lalu lintas yang lurus,atau jika dipisahkan secaraa fisik dengan pulau-
pulau lalu lintas dalam pendekat.
b) Arus lalu lintas
Arus lalu lintas perhitungan dilakukan per satuan jam atau lebih periode misalnya
didasarkan pada kondisi arus lalu lintas rencana jam puncak pagi siang dan sore.
c) Model dasar
Kapasitas pendekat simpang bersinyal dapat dinyatakan sebagai berikut
C = S × g/c
di mana:
C = Kapasitas (smp/jam)
Arus Jenuh, yaitu arus berangkat rata-rata dari
S = antrian dalam pendekat selama sinyal hijau
(smp/jam hijau = smp per-jam hijau)
g = Waktu hijau (det).
Waktu siklus, yaitu selang waktu untuk urutan
c = perubahan sinyal yang lengkap (yaitu antara dua
awal hijau yang berurutan pada fase yang sama)
d) Penentuan waktu sinyal.
Penentuan waktu sinyal untuk keadaan dengan kendali waktu tetap dilakukan
berdasarkan metoda Webster (1966) untuk meminimumkan tundaan total pada suatu
simpang. Pertama-tama ditentukan waktu siklus ( c ), selanjutnya waktu hijau ( gi) pada
masing-masing fase ( i ).
Pedoman penggunaan
Waktu sinyal yang dihitung dengan manual ini disarankan untuk sinyal dengan kendali
waktu tetap bagi kondisi lalu lintas yang digunakan sebagai data masukan untuk keperluan
pemasangan dilapangan suapaya berada pada sisi yang aman terhadap fluktasi lalu lintas
maka disarankan suatu penambahan waktu hijau sebesar sepuluh persen secara prporsional
dan penambahana waktu siklus yang sepadan.
Metoda penentuan waktu sinyal dapat juga digunakan untuk menentukan waktu siklus
minimum pada suatu sistem koordinasi sinyal dengan waktu tetap (yaitu seluruh sistem akan
beroperasi dengan waktu siklus tertinggi yang dibutuhkan untuk salah satu simpangnya).
Nilai Normal
Pada tingkat operasional (c di atas) semua data masukan yang diperlukan pada
umumnya dapat diperoleh karena perhitungan-perhitungan merujuk ke pada simpang
bersinyal yang telah ada. Tetapi untuk keperluan perancangan dan perencanaan sejumlah
anggapan harus dibuat agar dapat menerapkan prosedur-prosedur perhitungan
a. Arus lalu-lintas
Jika hanya arus lalu-lintas harian (LHRT) saja yang ada tanpa diketahui distribusi lalu-
lintas pada setiap jamnya, maka arus rencana per jam dapat diperkirakan sebagai suatu
persentase dari LHRT sebagai berikut:
Tipe kota dan jalan Faktor persen k
k x LHRT = arus rencana/jam
Kota-kota > 1 juta penduduk
- Jalan-jalan pada daerah
7-8%
komersial dan jalan arteri
8-9 %
- Jalan pada daerah permukiman
Kota-kota 1 juta penduduk
- Jalan-jalan pada daerah 8 -
komersial dan jalan arteri 10%
- Jalan pada daerah permukiman 9-12%
Jika distribusi gerakan membelok tidak diketahui dan tidak dapat
diperkirakan, 15% belok-kanan dan 15% belok-kiri dari arus pendekat
total dapat dipergunakan (kecuali jika ada gerakan membelok tersebut
yang akan dilarang):
Nilai-nilai normal untuk komposisi lalu-lintas berikut dapat digunakan
bila tidak ada taksiran yang lebih baik:
Ukuran kota Komposisi lalu-lintas kendaraan bermotor% Rasio
Juta penduduk kendaraan
Kendaraan ringan Kendaraan berat Sepeda motor
tak bermotor
LV HV MC
(UM/MV)
> 3 juta 60 4,5 35,5 0,01
1 - 3 juta 55,5 3,5 41 0,05
0,5 - 1 juta 40 3,0 57 0,14
0,1 - 0,5 juta 63 2,5 34,5 0,05
< 0,1 juta 63 2,5 34,5 0,05
b. Penentuan fase dan waktu sinyal
Jika jumlah dan jenis fase sinyal tidak diketahui, maka pengaturan dengan
dua-fase sebaiknya digunakan sebagai kasus dasar. Pemisahan gerakan-gerakan belok
kanan biasanya hanya dapat dipertimbangkan kalau suatu gerakan membelok melebihi
200 smp/jam.
Waktu antar hijau sebaiknya ditentukan dengan menggunakan metodologi
yang diuraikan pada langkah B-2. Untuk keperluan perancangan dan simpang simetris
nilai normal berikut dapat digunakan (lihat juga langkah C dibawah):
Ukuran simpang Lebar jalan rata-rata Nilai normal waktu antar
hijau
Kecil 6-9m 4 det per
Sedang 10 - 14 fase 5 det
Besar m per fase
15 m 6 det per fase
c. Lebar pendekat
Panduan rekayasa lalu-lintas pada bagian 2.3 di bawah memberikan saran
pemilihan tipe simpang, jumlah lajur dan fase sinyal yang dapat digunakan sehagai
anggapan awal dalam analisa rinci. Untuk perencanaan simpang baru, pemilihan
sebaiknya didasarkan terutama pada pertimbangan ekonomis (bagian 2.3.3b). Untuk
analisa operasional 'simpang yang sudah ada' pemilihan terutama didasarkan pada
perilaku Ialu- Iintas (bagian 2.3.3c), biasanya dengan tujuan untuk memastikan agar
derajat kejenuhan pada jam puncak tidak lebih besar dari 0,75.
Panduan rekayasa lau lintas
Memberikan saran tentang pemilihan tipe pengaturan dan situasi sebagai masukan untuk
berbagai tingkat analisa rinci yang [Link] yang diguanakan pada masing-
masing tingkat pada dasarnya adalah [Link] menghitung waktu sinyal kapasitas dan
kualitas untuk kumpulan data masukannya yang berurutan sampaai diperoleh suatu
peneyelesaian yang memuaskan bagi persoalan yang diberikan.
Pemilihan jenis simpang
1. Untuk menghindari kemacetan sebuah simpang oleh arus lalu lintas yang berlawanan
sehingga kapasitas simpang dipertahankan selama keadaan lalu lintas puncak.
2. Untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh tabrakan antara
keadaan yang berlawanan arah.
3. Untuk mempermudah menyeberangi jalan utama bagi kendaraan atau pejalan kaki dari
jalan minor