LAPORAN
APLIKASI SOFTWARE AKUAKULTUR
“UJI EFEKTIVITAS SENYAWA PADA BROKOLI (Brassica
oleracea Folium) SEBAGAI ANTIMIKROBA TERHADAP
SERANGAN BAKTERI Staphylococcus aureus (PDB 3VSL)
MENGGUNAKAN MOLEKULAR DOCKING (PyRx)”
Dosen Pengampu: Muhammad Dailami, [Link]., [Link].
Oleh:
Asy-Syfa` Rahma Nur`Aini 215080500111041
Lilian Diah Apriliani 215080500111047
Sitti Aisyah 215080500111048
Ni Putu Anggun Larasati 215080500111049
I Made Kresna Denanta 215080500111051
Mohammad Bagus Ramadhani 215080500111052
Kelas B01
Aplikasi Software akuakultur
PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN
DEPARTEMEN MANAJEMEN SUMBERDAYA PERIKANAN DAN KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2024
UJI EFEKTIVITAS SENYAWA PADA BROKOLI (Brassica
oleracea Folium) SEBAGAI ANTIMIKROBA TERHADAP
SERANGAN BAKTERI Staphylococcus aureus (PDB 3VSL)
MENGGUNAKAN MOLEKULAR
DOCKING (PyRx)
Abstrak
Brokoli (Brassica oleracea Folium) memiliki senyawa metabolit berupa Apigenin,
Caulilexin C, Cinnamate, Formononetin, Glucobrassicin, Glutation, Inositol,
Kaempferol, Neoglucobrassicin, Quercetin, Salicylic acid, dan Thiamine yang
bersifat antibakteri. Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes, Bacillus
subtilis, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas aeruginosa,
merupakan bakteri yang sering menimbulkan penyakit pada ikan, terutama
Staphylococcus aureus. 12 senyawa ligand melewati hasil docking terbukti
memiliki ikatan hidrogen paling erat dengan PBP3-Methicillin-Resistant
Staphylococcus aureus Dalam Protein Data Bank (PDB) senyawa tersebut
memiliki PDB ID 3VSL. Aplikaksi software seperti PyRx, Open Babel, dan
Discovery Studio Visualizer digunakan dalam menentukan nilai affinitas. Analisis
energi afinitas atau binding affinity yang dilakukan pada proses docking
menghasilkan kesimpulan bahwa antibakteri pada ligand Glucobrassicin,
Neoglucobrassicin, Quercetin. dapat mengatasi masalah penyakit pada ikan
disebabkan PBP3-Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus. Hal tersebut
didasarkan pada nilai ΔG terendah sebesar -8,6 kkal/mol pada ligan
Glucobrassicin, ligand Neoglucobrassicin -8,4 kkal/mol, ligan Quercetin sebesar -
8.0 kkal/mol. Hasil tersebut menunjukkan senyawa Glucobrassicin pada brokoli
dengan reseptor target saling berinteraksi dengan kondisi energi yang paling
rendah sehingga molekul berada pada kondisi stabil.
Kata kunci : PyRx, PBP3-Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus, terendah,
reseptor, stabil
Abstract
Broccoli (Brassica oleracea Folium) contains various bioactive compounds,
including Apigenin, Caulilexin C, Cinnamate, Formononetin, Glucobrassicin,
Glutathione, Inositol, Kaempferol, Neoglucobrassicin, Quercetin, Salicylic acid,
and Thiamine, which exhibit antibacterial properties. Among these bacteria,
Staphylococcus aureus is particularly prevalent in fish diseases. Docking studies
revealed that 12 ligand compounds demonstrated the strongest hydrogen
bonding interactions with PBP3-Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus.
These compounds were identified in the Protein Data Bank (PDB) with PDB ID
3VSL. Software applications like PyRx, Open Babel, and Discovery Studio
Visualizer were employed to determine the affinity values. Affinity energy analysis
during the docking process concluded that Glucobrassicin, Neoglucobrassicin,
and Quercetin possess the potential to combat fish diseases caused by PBP3-
Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus. This conclusion is based on the
lowest ΔG values observed: -8.6 kcal/mol for Glucobrassicin, -8.4 kcal/mol for
Neoglucobrassicin, and -8.0 kcal/mol for Quercetin. These results indicate that
the Glucobrassicin compound in broccoli interacts with its target receptor in the
most energetically favorable manner, leading to a stable molecular state.
keyword : PyRx, PBP3-Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus, lower,
reseptor, state state.
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Penyakit pada ikan merupakan suatu proses atau kondisi abnormal yang
terjadi pada tubuh atau bagian-bagian tubuh ikan, baik dalam hal fisik, morfologi,
maupun fungsi. Kehadiran penyakit pada ikan dapat menimbulkan kerugian
ekonomi yang signifikan bagi para pembudidaya, serta berdampak negatif
terhadap perkembangan budidaya ikan secara keseluruhan. Penyakit pada ikan
di budidaya dapat memengaruhi populasi ikan di alam melalui penularan.
Penentuan dan pengendalian penyakit pada ikan dapat berpatokan pada
patologi, yaitu cabang ilmu biologi yang mempelajari sifat dan penyebab
penyakit. Patologi memiliki peran penting dalam memahami dan mengendalikan
penyakit ikan dengan memberikan dasar ilmiah untuk diagnosis, pencegahan,
dan pengobatan. Investigasi terhadap penyakit ikan dan penentuan organisme
patogen penyebabnya merupakan langkah awal yang sangat penting dalam
upaya pencegahan dan pengobatan penyakit sebelum penyebarannya semakin
luas dan menjadi wabah. Histopatologi menjadi acuan penting dalam
pengendalian penyakit ikan agar upaya yang dilakukan dapat berjalan efektif dan
efisien sesuai tujuan (Nur, 2019).
Potensi pengembangan budidaya perikanan yang sangat besar
mendorong penerapan intensifikasi sebagai pilihan utama. Namun, intensifikasi
budidaya sering kali menyebabkan menurunnya kondisi lingkungan yang pada
akhirnya menimbulkan masalah berupa timbulnya penyakit pada ikan. Bakteri
patogen yang sering menyerang ikan dalam budidaya intensif adalah
Staphylococcus aureus. Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif
yang dapat menyebabkan infeksi pada ikan melalui kontaminasi langsung pada
luka. Bakteri ini dapat tumbuh dengan baik dan mampu memfermentasi mannitol
pada media Mannitol Salt Agar (MSA). Koloni Staphylococcus aureus pada
media MSA berwarna kuning emas dan kemampuannya memfermentasi
mannitol terlihat dari perubahan warna media menjadi kuning. Ciri khas ini
membedakan Staphylococcus aureus dengan bakteri patogen lain, seperti
Staphylococcus epidermidis (Jamaludin et al., 2016).
Penggunaan antibiotik untuk mengobati penyakit pada ikan umumnya
dapat menimbulkan resistensi bakteri. Hal ini menjadi tantangan utama dalam
pengendalian penyakit ikan. Oleh karena itu, pengembangan senyawa
antibakteri dari bahan alam menjadi alternatif yang penting untuk mengatasi
masalah resistensi antibiotik. Brokoli (Brassica oleracea Folium) merupakan
salah satu bahan alam yang terbukti memiliki efek antibakteri terhadap berbagai
bakteri patogen ikan, termasuk Staphylococcus aureus, Streptococcus pyogenes,
Bacillus subtilis, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, dan Pseudomonas
aeruginosa. Brokoli mengandung berbagai senyawa, diantaranya adalah
metabolit berupa Caulilexin C, Glucobrassicin, dan Salicylic acid yang bersifat
antibakteri (Paryati et al., 2021). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
interaksi antara senyawa brokoli dengan reseptor target PBP3 dari Methicillin-
Resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Metode docking molekuler berbasis
protein-ligan digunakan untuk membandingkan afinitas dan interaksi terbaik dari
senyawa-senyawa brokoli terhadap reseptor target. Perlakuan docking
diharapkan dapat menghasilkan kandidat senyawa brokoli yang bersifat
antibakteri dan efektif dalam mengendalikan penyakit pada ikan.
1.2 METODE
1.2.1 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan adalah hardware berupa laptop, Adapun perangkat
lunak yang digunakan dalam molekular docking yaitu PubChem. PubChem
merupakan website yang digunakan untuk mencari database molekul kimia dan
aktivitasnya terhadap penelitian biologi. Website PubChem dapat di akses
melalui [Link] Perangkat lunak lain yang digunakan
dalam molekular docking yaitu RCSB PDB yang dapat diakses pada
[Link] Aplikasi PyRx dan aplikasi Discovery Studio Visualizer.
Bahan yang digunakan pada pengerjaan laporan ini meliputi struktur protein
Staphylococcus aureus dengan kode PDB 3VSL yang diunduh dari PDB melalui
website [Link] kemudian dipreparasi menggunakan program
aplikasi Discovery Studio. Ligan senyawa yang diguanakn dari brokoli (Brassica
oleracea Folium) adalah Apigenin, Caulilexin C, Cinnamate, Formononetin,
Glucobrassicin, Glutation, Inositol, Kaempferol, Neoglucobrassicin, Quercetin,
dan Salicylic acid, Thiamine yang dapat diunduh melalui
[Link]
1.2.2 Preparasi Reseptor
Preparasi reseptor merupakan langkah awal yang dilakukan dalam proses
docking. Preparasi reseptor menurut Sari, et al. (2020), dilakukan dengan tujuan
untuk mendapatkan reseptor dalam bentuk yang murni dan aktif sehingga dapat
digunakan untuk studi lebih lanjut. Preparasi reseptor menurut Amin, et al.
(2024), dilakukan dengan cara memilih reseptor yang sudah diidentifikasi
selanjutnya reseptor diunduh dari PDB dengan format pdb. Kemudian reseptor
dilakukan proses optimasi untuk memisahkan pelarut dengan ligan
menggunakan software YASARA (edit-delete-residu). Selanjutnya
menghilangkan water (edit-delet-water) dan ditambahkan hidrogen pada
strukturnya (edit-add-hydrogen to all). Setelah ditambahkan hidrogen simpan
object (edit-save as-yasara object) dengan nama protein dengan format .mol2.
Preparasi reseptor pada project, dilakukan menggunakan aplikasi Discovery
Studio Visualizer. Pada program ini dilakukan pemurnian protein dengan
menghilangkan molekul air agar tidak mengganggu proses docking serta
memastikan bahwa interaksi yang terjadi murni antara reseptor dan ligan.
1.2.3 Preparasi Ligan
Preparasi ligan dapat dilakukan dengan menentukan jenis ligan yang
akan diuji. Struktur 3 dimensi ligan dapat diunduh melalui website PubChem
dengan format (.sdf). Struktur tersebut kemudian diubah menjadi format (.pdb)
agar bisa dibuka pada aplikasi PyRx. Ligan yang digunakan adalah Apigenin,
Caulilexin C, Cinnamate, Formononetin, Glucobrassicin, Glutation, Inositol,
Kaempferol, Neoglucobrassicin, Quercetin, Salicylic acid, dan Thiamine.
Tahapan berikutnya yaitu proses docking menggunakan software PyRx dengan
mereaksikan ligan dengan protein target untuk mendapatkan nilai energi ikatan
(binding affinity).
1.2.4 Molecular Docking
Molecular docking menurut Manna, et al. (2017), merupakan pemodelan
komputasi yang dilakukan untuk memprediksi interaksi dan situs ikatan.
Molecular docking adalah langkah awal dalam pengembangan obat secara in
silico. Molecular docking memiliki kelebihan, yaitu sangat cepat, hemat biaya dan
akurat. Prinsip molecular docking adalah dengan mengikatkan antara dua
molekul, yaitu reseptor dan ligan sehingga membentuk konformasi molekul
kompleks. Molecular docking bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul
ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in-vitro. (Setiawan dan
Irawan, 2017).
1.2.5 Analisis Data
Analisis data pada hasil molecular docking dilakukan dengan
menggunakan senyawa aktif yang terkandung dari Brassica oleracea Folium
berupa Apigenin, Caulilexin C, Cinnamate, Formononetin, Glucobrassicin,
Glutation, Inositol, Kaempferol, Neoglucobrassicin, Quercetin, Salicylic acid, dan
Thiamine. Struktur protein Staphylococcus aureus kode PDB 3VSL sebelum dan
setelah preparasi tersaji pada Gambar 1. Preparasi ligan dilakukan melalui
program Open Babel yang terdapat pada aplikasi PyRx dengan hasil akhir pdbqt.
Visualisasi dan analisis ikatan antara senyawa ligan dengan protein target
dilakukan menggunakan software Discovery Studio Visualizer. Analisis data
tersebut dapat divisualisasi dengan cara copy reseptor kemudian paste pada
senyawa hasil docking di Discovery Studio Visualizer dalam bentuk 2D.
Sumber: Protein Data Bank (2024)
Gambar 1. Struktur 3D dari protein PDB 3VSL: (a) sebelum dilakukan preparasi
(b) setelah dilakukan preparasi
Tabel 1. Nilai binding affinity senyawa Glutation
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -6.6 0.0 0.0
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -6.0 2.022 2.181
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.8 4.583 7.364
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.6 2.808 3.321
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.6 2.252 7.376
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.6 2.822 3.648
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.3 3.477 4.757
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.2 3.382 5.273
reseptor3VSL_124886_uff_E=157.56 -5.2 54.404 55.53
Tabel 2. Nilai binding affinity senyawa Quercetin
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -8.0 0.0 0.0
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.5 4.803 3.066
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.5 5.444 4.25
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.4 7.264 2.919
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.3 6.98 3.169
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.3 4.477 2.517
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.2 54.819 51.371
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.2 3.394 1.847
reseptor3VSL_5280343_uff_E=380.43 -7.1 3.734 1.786
Tabel 3. Nilai binding affinity senyawa Apigenin
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.6 0.0 0.0
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.5 57.543 55.036
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.4 5.559 3.703
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.3 4.244 3.25
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.1 6.66 3.731
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.0 57.496 55.022
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.0 25.607 24.34
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -7.0 22.745 18.863
reseptor3VSL_5280443_uff_E=233.26 -6.7 57.197 54.675
Tabel 4. Nilai binding affinity senyawa Kaempferol
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -7.3 0.0 0.0
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -7.2 2.148 1.405
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -7.2 58.176 55.243
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -7.0 58.202 55.23
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -6.8 33.019 30.357
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -6.6 24.472 20.311
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -6.6 24.649 23.586
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -6.6 60.125 57.128
reseptor3VSL_5280863_uff_E=326.50 -6.6 62.457 59.633
Tabel 5. Nilai binding affinity senyawa Caulilexin C
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -6.0 0.0 0.0
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -5.4 3.689 1.954
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.9 26.213 24.576
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.8 8.135 6.138
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.8 47.899 46.235
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.7 55.524 53.455
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.7 50.253 48.299
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.6 25.215 50.253
reseptor3VSL_11954881_uff_E=492.48 -4.6 44.08 42.46
Tabel 6. Nilai binding affinity senyawa Cinnamate
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -5.8 0.0 0.0
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -5.6 6.267 4.792
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -5.3 4.408 3.266
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -5.2 56.62 54.67
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -5.2 60.724 58.806
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -5.0 56.675 54.719
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -4.9 57.469 55.513
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -4.9 33.2 32.801
reseptor3VSL_5957728_uff_E=83.77 -4.8 32.687 31.712
Tabel 7. Nilai binding affinity senyawa Formononetin
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.9 0.0 0.0
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.7 4.634 2.434
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.5 33.052 31.464
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.5 8.036 1.986
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.4 7.462 1.433
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.3 5.409 3.189
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.2 61.548 56.912
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.2 26.067 24.265
reseptor3VSL_5280378_uff_E=337.60 -6.2 7.295 1.418
Tabel 8. Nilai binding affinity senyawa Glucobrassicin
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.6 0.0 0.0
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.4 4.505 3.18
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.4 6.525 2.775
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.3 3.678 2.125
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.2 2.699 1.857
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.2 4.289 2.852
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.1 7.103 2.595
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -8.1 3.086 2.072
reseptor3VSL_656506_uff_E=946.01 -7.9 4.534 2.912
Tabel 9. Nilai binding affinity senyawa Inositol
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -6.0 0.0 0.0
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.6 8.82 7.103
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.4 3.603 1.864
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.4 3.213 1.852
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.3 3.021 1.438
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.3 3.963 2.202
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.3 3.024 1.235
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.3 8.96 6.8998
reseptor3VSL_892_uff_E=156.51 -5.1 58.941 56.93
Tabel 10. Nilai binding affinity senyawa Neoglucobrassicin,
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -8.4 0.0 0.0
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -8.3 5.832 3.607
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -8.3 4.075 2.816
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -8.2 5.123 3.648
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -7.6 6.879 3.932
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -7.6 2.724 1.907
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -6.9 55.514 52.612
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -6.9 55.901 53.002
reseptor3VSL_9576416_uff_E=962.50 -6.8 63.855 61.855
Tabel 11. Nilai binding affinity senyawa Salicylic acid
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.7 0.0 0.0
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.6 55.497 54.021
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.3 6.361 5.042
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.3 2.92 1.954
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.3 57.257 56.263
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.2 3.081 1.824
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.1 58.156 56.902
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.1 17.803 16.698
reseptor3VSL_338_uff_E=73.50 -5.0 58.364 57.15
Tabel 12. Nilai binding affinity senyawa Thiamine
Ligand Binding RMSD RMSD
Affinity Upper Lower
(kcal/mol) Bound Bound
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -5.2 0.0 0.0
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.9 58.738 57.106
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.8 2.964 2.056
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.7 33.238 31.503
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.6 52.913 51.655
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.5 17.518 16.177
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.5 30.586 29.768
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.5 40.586 38.883
reseptor3VSL_1130_uff_E=395.86 -4.5 58.75 57.113
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Hasil Docking
Hasil docking ditentukan melalui analisis energi afinitas atau binding
affinity (ΔG), yang mencerminkan kekuatan interaksi antara protein dan ligan.
Afinitas ikatan merupakan nilai kekuatan interaksi antara protein dan ligan yang
semakin besar apabila nilainya semakin rendah. Interaksi tesebut terdiri atas
ikatan hidrogen, interaksi elektrostatik, interaksi Van Der Waals, dan interaksi
hidrofobik. Akan tetapi, metode simulasi komputasi hanya mampu menduga
interaksi berdasarkan jarak antar atom dan sifat atomik senyawa dengan protein.
Afinitas yang baik berupa nilai ΔG yang semakin negatif (rendah), di mana
afinitas yang rendah menunjukkan bahwa senyawa uji memerlukan sedikit energi
ketika pengikatan.
Tabel 13. Sifat-sifat kemopreventif diosmin
Senyawa Target mekanisme Pustaka
Apigenin Senyawa apigenin juga Sudirman et al.,
merupakan flavonoid yang (2016)
memiliki aktivitas antioksidan.
Caulilexin C Antikanker serta antiinflamasi Fatharanni dan
yang dapat mencegah atau Anggraini. (2017)
membalikan kerusakan pada
lapisan pembuluh darah yang
juga disebabkan oleh
peradangan karena kronis.
Cinnamate Sebagai antibakteri yang Syafnir dan
menghambat sintesis asam Maulana (2022)
nukleat, menghalangi fungsi
membran sitoplasma dan
motilitas bakteri serta sebagai
antijamur dan antivirus.
Formononetin Sebagai antioksidan, anti- Syafnir dan
inflamasi, antimikroba, Maulana (2022)
vasodilatasi, antiiskemia dan
efek antikanker.
Glucobrassicin, Antikanker serta antiinflamasi Fatharanni dan
yang dapat mencegah atau Anggraini (2017)
membalikan kerusakan pada
lapisan pembuluh darah yang
juga disebabkan oleh
peradangan karena kronis.
Glutation Senyawa yang dapat Yulliana (2023)
menyerap atau menetralisir
radikal bebas sehingga mampu
mencegah penyakit-penyakit
degeneratif seperti
kardiovaskuler, karsinogenesis,
dan penyakit lainnya.
Inositol Senyawa inositol diketahui Peres et al.,
memiliki fungsi terhadap (2004)
ketahanan tubuh serta mampu
meningkatkan pertumbuhan
ikan Tilapia sungai Nil juvenil.
Kaempferol Kemampuan kaempferol untuk Ginting et al.,
menurunkan kadar (2020)
superoksida pada konsentrasi
rendah dapat memainkan
peran penting dalam aktivitas
antioksidannya, karena
pembentukan anion
superoksida diperlukan untuk
produksi normal sebagian
besar RONS yang terlibat
dalam stres oksidatif.
Neoglucobrassicin Memiliki aktivitas sebagai Sari dan Al (2021)
antibakteri, antioksidan, dan
anti diabetes melitus.
Quercetin Quercetin akan menetralkan Setiawan dan
radikal bebas sebelum Felix (2013)
merusak Deoxyribonucleid
Acid (DNA).
Salicylic acid Antiinflamasi serta melawan Estiasih et al.,
bakteri patogen. (2021)
Thiamine Menghasilkan efektivitas Setiawan dan
antibakteri pada bakteri Felix (2013)
Staphylococcus aureus dengan
respon hambatan pertumbuhan
bakteri dalam kategori lemah.
Tabel 14. Hasil Docking Apigenin
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking senyawa apigenin dengan target mekanisme pada reseptor
3VSL menunjukkan variasi dalam afinitas pengikatan dan RMSD (Root Mean
Square Deviation) yang mempengaruhi stabilitas dan interaksi antara senyawa
tersebut dengan reseptor. Nilai afinitas pengikatan senyawa apigenin yang
bervariasi mulai dari -7.6 hingga -6.7 kcal/mol. Nilai afinitas yang lebih negatif
menunjukkan interaksi yang lebih kuat antara senyawa apigenin dan reseptor
3VSL. Pada nilai -7.6 kcal/mol terdapat afinitas pengikatan yang paling kuat.
Sementara pada nilai -6.7 kcal/mol terdapat afinitas pengikatan yang sedikit lebih
rendah. Variasi dalam RMSD yang menggambarkan perbedaan konformasi atau
posisi senyawa apigenin pada reseptor. RMSD Upper Bound dan RMSD Lower
Bound menunjukkan variasi dalam jangkauan nilai RMSD dengan nilai
maksimum mencapai sekitar 57.5 Å dan nilai minimum sekitar 3.25 Å. Nilai
RMSD yang lebih tinggi menandakan adanya variasi yang signifikan dalam posisi
senyawa apigenin pada reseptor, sementara nilai yang lebih rendah
menunjukkan stabilitas dalam posisi tersebut.
Tabel 15. Hasil Docking Caulilexin C
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Senyawa Caulilexin C menunjukkan berbagai tingkat afinitas pengikatan
terhadap reseptor 3VSL dengan nilai terkuat mencapai -6.0 kcal/mol. Interaksi
yang sangat kuat ini yang diindikasikan oleh nilai afinitas yang tinggi
menunjukkan potensi senyawa tersebut sebagai agen antikanker yang
menjanjikan. Afinitas pengikatan yang kuat antara Caulilexin C. dan reseptor
3VSL dapat menghasilkan efek yang merugikan bagi sel kanker termasuk
penghambatan pertumbuhan atau bahkan kematian sel kanker. Nilai RMSD yang
relatif rendah seperti pada posisi dengan afinitas -6.0 kcal/mol dan RMSD 0.0
menunjukkan bahwa konformasi interaksi antara Caulilexin C dan reseptor 3VSL
cenderung stabil dan dapat diandalkan. Caulilexin C sebagai agen antikanker
juga penting untuk mempertimbangkan potensi senyawa tersebut dalam
mengatasi peradangan kronis yang dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan
pembuluh darah. Variasi dalam afinitas pengikatan Caulilexin C. pada posisi-
posisi yang berbeda yang mengindikasikan bahwa efek antiinflamasi dari
senyawa tersebut dapat bervariasi tergantung pada konformasi spesifik interaksi
dengan reseptor 3VSL. Kemampuan Caulilexin C. untuk berikatan dengan
reseptor 3VSL dengan afinitas yang signifikan masih menunjukkan potensi dalam
menghambat atau membalikkan kerusakan pada lapisan pembuluh darah yang
disebabkan oleh peradangan kronis.
Tabel 16. Hasil Docking Cinnamate
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Senyawa Cinnamate menunjukkan interaksi yang cukup signifikan
dengan reseptor 3VSL yang merupakan target mekanisme sebagai agen
antibakteri yang menghambat sintesis asam nukleat, menghalangi fungsi
membran sitoplasma dan motilitas bakteri, serta memiliki potensi sebagai agen
antijamur dan antivirus. Nilai afinitas pengikatan senyawa Cinnamate berkisar
antara -4.8 hingga -5.8 kcal/mol menunjukkan kemampuannya untuk berikatan
dengan reseptor dengan kekuatan yang bervariasi. Hasil yang paling menonjol
adalah interaksi dengan nilai afinitas terkuat sebesar -5.8 kcal/mol dan RMSD
sebesar 0.0 menandakan adanya ikatan yang kuat dan stabil antara Cinnamate
dan reseptor 3VSL pada posisi tertentu. Potensi senyawa tersebut dalam
menghambat aktivitas target antibakteri dengan efektivitas yang tinggi. Hasil lain
dengan RMSD yang lebih tinggi menunjukkan variasi dalam posisi ikatan dan
kemungkinan adanya konformasi alternatif yang memperlihatkan kompleksitas
interaksi antara Cinnamate dan reseptor tersebut.
Tabel 17. Hasil Docking Formononetin
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking senyawa Formononetin menunjukkan serangkaian nilai
afinitas pengikatan yang bervariasi terhadap reseptor 3VSL. Senyawa ini
menunjukkan afinitas pengikatan sebesar -6.9 kcal/mol dengan RMSD yang
sempurna pada 0.0 menandakan interaksi yang sangat kuat dan stabil, meskipun
terdapat variasi dalam nilai afinitas pengikatan dan RMSD pada kondisi lainnya.
Nilai afinitas berkisar antara -6.7 hingga -6.2 kcal/mol dengan RMSD yang
bervariasi antara 1.418 hingga 61.548. Variabilitas ini menunjukkan kemungkinan
adanya posisi alternatif bagi Formononetin dalam berinteraksi dengan reseptor
3VSL, serta tingkat variasi dalam stabilitas interaksi. Interpretasi dari hasil
docking ini mengisyaratkan bahwa Formononetin memiliki potensi sebagai agen
yang bersifat multi-target yang dapat memberikan efek antioksidan, anti-
inflamasi, antimikroba, vasodilatasi, antiiskemia, dan bahkan efek antikanker.
Kemampuan Formononetin untuk berinteraksi dengan berbagai situs pada
reseptor 3VSL secara simultan atau berbeda-beda dapat memberikan dasar bagi
kemampuan senyawa ini dalam mempengaruhi berbagai mekanisme
biologis yang berbeda.
Tabel 18. Hasil Docking Glucobrassicin
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa Glucobrassicin memiliki
afinitas pengikatan yang cukup kuat terhadap target mekanisme antikanker dan
antiinflamasi yang secara potensial dapat membantu mencegah atau bahkan
membalikkan kerusakan pada lapisan pembuluh darah yang disebabkan oleh
peradangan kronis. Nilai afinitas pengikatan senyawa Glucobrassicin bervariasi
antara -8.6 hingga -7.9 kcal/mol menunjukkan kemampuannya untuk berinteraksi
dengan reseptor 3VSL. Posisi dengan nilai afinitas pengikatan yang paling tinggi
yaitu -8.6 kcal/mol dan RMSD 0.0 menunjukkan adanya interaksi yang paling
stabil dan kuat antara senyawa Glucobrassicin dan reseptor tersebut. Variasi
dalam nilai RMSD menunjukkan kemungkinan adanya posisi alternatif atau
kurangnya akurasi dalam prediksi posisi ikatan senyawa Glucobrassicin pada
reseptor tersebut. Keseluruhan hasil docking menunjukkan potensi senyawa
Glucobrassicin sebagai kandidat yang menjanjikan dalam pengembangan terapi
yang bertujuan untuk mengatasi masalah peradangan kronis dan kerusakan
pada lapisan pembuluh darah yang terkait dengan kondisi antikanker
dan antiinflamasi.
Tabel 19. Hasil Docking Glutation
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa glutation memiliki afinitas
pengikatan yang kuat terhadap reseptor 3VSL dengan nilai tertinggi mencapai -
6.6 kcal/mol. Nilai RMSD 0.0 menandakan bahwa interaksi antara glutation dan
reseptor tersebut sangat stabil dan optimal. Hal ini menunjukkan potensi glutation
dalam menyerap atau menetralisir radikal bebas yang berperan dalam penyakit-
penyakit degeneratif seperti kardiovaskuler, karsinogenesis, dan penyakit
lainnya. Nilai afinitas yang bervariasi dari -6.0 hingga -5.2 kcal/mol dengan
RMSD yang berfluktuasi menunjukkan bahwa glutation memiliki kemampuan
untuk mengambil beberapa posisi berbeda pada reseptor, namun tetap
mempertahankan interaksi yang signifikan. Kemampuan glutation dalam
berikatan pada berbagai posisi ini menunjukkan potensinya dalam merespon dan
melawan radikal bebas yang terlibat dalam berbagai penyakit degeneratif. Hasil
docking ini memberikan wawasan penting tentang potensi glutation sebagai agen
terapeutik atau suplemen yang dapat membantu dalam mencegah atau
mengurangi risiko penyakit-penyakit tersebut.
Tabel 20. Hasil Docking Inositol
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa inositol memiliki afinitas
pengikatan yang cukup kuat terhadap reseptor 3VSL dengan variasi nilai binding
affinity antara -6.0 hingga -5.1 kcal/mol. Nilai afinitas terkuat yaitu -6.0 kcal/mol
mengindikasikan adanya interaksi yang signifikan antara senyawa inositol dan
reseptor. Posisi dengan nilai RMSD 0.0 menunjukkan bahwa interaksi pada
posisi tersebut paling stabil dan mungkin merupakan konformasi preferensial
untuk pengikatan senyawa inositol pada reseptor 3VSL. Terdapat variasi dalam
nilai RMSD yang mengindikasikan kemungkinan adanya beberapa posisi
alternatif di mana senyawa inositol dapat berikatan pada reseptor. Adanya nilai
afinitas yang relatif tinggi dan adanya posisi dengan RMSD yang mendekati nol
dapat diasumsikan bahwa senyawa inositol memiliki potensi untuk berinteraksi
secara signifikan dengan reseptor 3VSL. Sifat senyawa inositol yang diketahui
memiliki fungsi meningkatkan pertumbuhan ikan Tilapia sungai Nil juvenil, hasil
docking ini menunjukkan bahwa senyawa inositol mungkin memiliki kemampuan
untuk mempengaruhi mekanisme target terkait ketahanan tubuh dan
pertumbuhan ikan Tilapia sungai Nil juvenil melalui interaksi
dengan reseptor 3VSL.
Tabel 21. Hasil Docking Kaempferol
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking menunjukkan bahwa kaempferol memiliki afinitas
pengikatan yang signifikan terhadap reseptor 3VSL dengan nilai binding affinity
bervariasi antara -7.3 hingga -6.6 kcal/mol. Kaempferol menunjukkan afinitas
pengikatan paling kuat sebesar -7.3 kcal/mol, yang mengindikasikan adanya
interaksi yang sangat stabil antara kaempferol dan reseptor. Nilai RMSD yang
bervariasi menunjukkan kemungkinan adanya variasi dalam posisi kaempferol
pada reseptor tersebut. Konformasi dengan RMSD yang rendah bahkan
mencapai 0.0 menunjukkan bahwa kaempferol dapat berada pada posisi yang
sangat stabil dan optimal pada reseptor tersebut. Kaemferol untuk mekanisme
yang ditargetkan yaitu kemampuan kaempferol untuk menurunkan kadar
superoksida pada konsentrasi rendah sebagai bagian dari aktivitas
antioksidannya. Hasil docking ini menunjukkan potensi kaempferol dalam
mengatur aktivitas RONS (Reactive Oxygen and Nitrogen Species) terkait
dengan stres oksidatif. Interaksi kuat antara kaempferol dan reseptor pada posisi
dengan afinitas pengikatan tinggi dapat mengindikasikan kemungkinan
kaempferol berperan dalam menghambat pembentukan anion superoksida yang
diperlukan untuk produksi sebagian besar RONS yang terlibat dalam stres
oksidatif. Variabilitas dalam nilai afinitas dan posisi kaempferol pada reseptor
juga menunjukkan potensi adaptabilitas kaempferol dalam menghadapi variasi
kondisi lingkungan dan mekanisme biologis yang kompleks.
Tabel 22. Hasil Docking Neoglucobrassicin
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking Neuglucobrassicin pada reseptor 3VSL terlihat bahwa
senyawa ini menunjukkan sejumlah interaksi yang menarik dengan reseptor
tersebut. Nilai afinitas pengikatan yang diperoleh berkisar antara -8.4 hingga -6.8
kcal/mol menunjukkan adanya potensi interaksi yang kuat antara
Neuglucobrassicin dan reseptor 3VSL. Nilai afinitas tertinggi yaitu -8.4 kcal/mol
menunjukkan interaksi paling stabil dan kuat, sementara nilai yang lebih rendah
masih menunjukkan adanya interaksi yang signifikan. Nilai RMSD yang diperoleh
memberikan gambaran tentang keragaman posisi Neuglucobrassicin pada
reseptor. Rentang RMSD yang ditemukan dari 0.0 hingga 63.855 Å menunjukkan
kemungkinan adanya variasi dalam konformasi Neuglucobrassicin saat
berinteraksi dengan reseptor. Konformasi dengan RMSD yang lebih rendah
cenderung menunjukkan stabilitas interaksi yang lebih baik. Aktivitas biologis
yang diinginkan seperti antibakteri, antioksidan, dan anti-diabetes mellitus pada
hasil docking ini memberikan indikasi bahwa Neuglucobrassicin memiliki potensi
untuk berinteraksi dengan reseptor 3VSL yang relevan dengan mekanisme
aktivitas tersebut. Nilai afinitas pengikatan yang kuat dan keragaman posisi
Neuglucobrassicin pada reseptor menunjukkan kemungkinan untuk
mengoptimalkan struktur senyawa guna meningkatkan efikasi dan spesifisitasnya
sebagai agen terapeutik.
Tabel 23. Hasil Docking Quercetin
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa quercetin memiliki potensi
yang menarik dalam menetralkan radikal bebas sebelum merusak
Deoxyribonucleic Acid (DNA). Dengan nilai afinitas pengikatan (Binding Affinity)
yang berkisar antara -8.0 hingga -7.1 kcal/mol, quercetin menunjukkan
kecenderungan yang konsisten dalam berinteraksi dengan reseptor yang
ditargetkan. Posisi dengan afinitas pengikatan terkuat, yaitu -8.0 kcal/mol dengan
RMSD 0.0, menandakan adanya interaksi yang sangat stabil dan kuat antara
quercetin dan reseptor, menunjukkan kemungkinan adanya ikatan yang kuat
yang mampu menetralisir radikal bebas dengan efektif. Meskipun terdapat variasi
dalam RMSD, yang menunjukkan adanya variasi dalam posisi quercetin pada
reseptor, nilai afinitas yang signifikan secara konsisten menunjukkan bahwa
quercetin memiliki potensi untuk menjadi agen antioksidan yang efektif,
melindungi DNA dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Dengan
demikian, hasil ini memberikan wawasan yang berharga dalam pengembangan
potensi quercetin sebagai agen perlindungan DNA melalui interaksi dengan
target mekanisme yang ditentukan.
Tabel 24. Hasil Docking Salicylic acid
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking menunjukkan bahwa senyawa salicylic acid memiliki afinitas
pengikatan yang cukup kuat terhadap reseptor 3VSL dengan nilai antara -5.7
hingga -5.0 kcal/mol. Nilai afinitas tersebut menunjukkan kemampuan senyawa
salicylic acid untuk berinteraksi dengan reseptor tersebut dalam mekanisme
antiinflamasi dan potensial dalam melawan bakteri patogen. Nilai RMSD terdapat
yang bervariasi namun pada satu konformasi tertentu dengan RMSD 0.0
interaksi terjadi secara optimal dengan reseptor tersebut. Variabilitas dalam
RMSD mungkin menandakan kemungkinan adanya posisi alternatif yang
diakomodasi oleh senyawa salicylic acid dalam berinteraksi dengan reseptor
yang menunjukkan fleksibilitas dalam mode pengikatan. Nilai afinitas yang
konsisten menunjukkan bahwa senyawa salicylic acid memiliki potensi untuk
menjadi agen antiinflamasi yang efektif dan juga dapat memiliki aktivitas
antimikroba yang berkontribusi terhadap penanganan infeksi bakteri patogen
Tabel 25. Hasil Docking Thiamine
Ligan Asli Hasil docking Aromatic
H-bonds Charge Hydrophobicity
Ionizability SAS Bentuk 2D
Hasil docking Thiamine dengan target mekanisme untuk menghasilkan
efektivitas antibakteri pada bakteri Staphylococcus aureus terlihat bahwa
senyawa tersebut menunjukkan potensi dalam mengikat ke reseptor 3VSL. Nilai
afinitas pengikatan Thiamine bervariasi dari -5.2 hingga -4.5 kcal/mol
menunjukkan adanya perbedaan dalam kekuatan interaksi antara senyawa dan
reseptor. Interaksi dengan afinitas pengikatan -5.2 kcal/mol dan RMSD 0.0
menunjukkan adanya ikatan yang cukup stabil dan kuat antara Thiamine dan
reseptor yang dapat menjadi dasar untuk pengembangan potensial sebagai agen
antibakteri. Nilai RMSD yang bervariasi menunjukkan kemungkinan adanya
variasi dalam posisi Thiamine pada reseptor yang dapat mempengaruhi
efektivitas antibakterinya. Bakteri Staphylococcus aureus dikategorikan sebagai
lemah dalam respon hambatan pertumbuhan bakteri, hasil docking ini dapat
memberikan wawasan awal yang berharga untuk pengembangan lebih lanjut
dalam upaya mencari agen antibakteri yang efektif melawan bakteri ini.
BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Proses docking 12 ligand sebagai senyawa brokoli (Brassica oleracea
Folium) terhadap PBP3-Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus sebagai
protein target mendapatkan kesimpulan. Proses docking menggunakan software
PyRx-Vina, Discovery Studio Visualizer, dan Open Babel. Analisis energi afinitas
atau binding affinity yang dilakukan pada proses docking menghasilkan
kesimpulan bahwa antibakteri pada ligand Apigenin, Caulilexin C, Cinnamate,
Formononetin, Glucobrassicin, Glutation, Inositol, Kaempferol,
Neoglucobrassicin, Quercetin, Salicylic acid, Thiamine dapat mengatasi masalah
penyakit pada ikan disebabkan PBP3-Methicillin-Resistant Staphylococcus
aureus. Nilai affinitas paling rendah manandakan ikatan hidrogen paling erat
yaitu pada 3 senyawa ligand ; Glucobrassicin, Neoglucobrassicin, Quercetin Hal
tersebut didasarkan pada nilai ΔG terendah sebesar -8,6 kkal/mol pada ligan
Glucobrassicin, ligan Neoglucobrassicin sebesar -8,4 kkal/mol, dan ligan
Quercetin sebesar -8.0 kkal/mol. Hasil tersebut menunjukkan senyawa
Glucobrassicin pada brokoli dengan reseptor target saling berinteraksi dengan
kondisi energi yang paling rendah sehingga molekul berada pada kondisi stabil.
3.2 Ucapan Terima Kasih
Kami mengucapkan terima kasih yang tulus kepada Bapak Muhammad
Dailami, [Link]., [Link]. atas bantuan dan dukungan yang luar biasa selama
pelaksanaan kajian ini. Bantuan beliau sangat berarti bagi kami dan telah
memungkinkan kami untuk mencapai hasil yang diharapkan. Kami juga ingin
menyampaikan penghargaan yang mendalam kepada semua pihak yang terlibat
dalam penelitian ini, meskipun mereka tidak tercantum sebagai penulis utama
dalam naskah ini. Dukungan dan kontribusi anda, baik secara langsung maupun
tidak langsung, sangat berharga bagi kesuksesan penelitian ini. Kami sangat
menghargai setiap upaya dan bantuan yang telah diberikan, yang tanpa mereka,
penelitian ini tidak akan dapat terlaksana dengan baik.
3.3 Kontribusi Penulis
Kontribusi I Made Kresna Denanta (melakukan docking Apigenin dan
Caulilexin C serta analisis data dan menulis laporan hasil). Lilian Diah Apriliani
(melakukan docking Formononetin dan Glucobrassicin serta menganalisis hasil
dan membuat kesimpulan). Sitti Aisyah (melakukan docking Glucobrassicin dan
Glutation serta menyiapkan alat dan bahan). Ni Putu Anggun Larasati
(melakukan docking Inositol dan Kaempferol serta melakukan preparasi
reseptor). Mohammad Bagus Ramadhani (melakukan docking Neoglucobrassicin
dan Quercetin serta preparasi ligan). Asy-Syfa` Rahma Nur`Aini (melakukan
docking Salicylic acid dan Thiamine serta menganalisis hasil docking dan
membuat tabel kompreventif diosmin).
DAFTAR PUSTAKA
Amin, S., Rianty, A. D., & Hidayat, T. (2024, January). Studi in silico senyawa
yang terkandung dalam tanaman artemisin (Artemisia annua L.) sebagai
anti SARS-COV2. In Perjuangan Nature Pharmaceutical Conference, 1(1)
1-24.
Estiasih, T., Ahmadi, K., & Santoso, V. (2021). Senyawa bioaktif dan potensi
bekatul beras (Oryza sativa) sebagai bahan pangan fungsional. Teknologi
Pangan: Media Informasi dan Komunikasi Ilmiah Teknologi Pertanian,
12(1), 30-43.
Fatharanni. M. O. & Anggraini., D. I.(2017). Efektivitas brokoli (Brassica Oleracea
var. Italica) dalam Menurunkan Kadar Kolesterol Total pada Penderita
Obesitas. Jurnal Majority, 6(1), 64-70.
Ginting, E. C. N., & Chiuman, L. (2020). Perbandingan potensi antioksidan
pemerangkapan No Dan Oh ekstrak kulit Buah Naga dengan senyawa
Kaempferol. Jurnal Ilmiah METADATA, 2(2), 93-99.
Jamaludin, M., et al. (2016). Identification and characterization of Staphylococcus
aureus from farmed catfish (Pangasius hypophthalmus) in Indonesia.
Aquaculture Research, 47(10), 3080-3086.
Manna, A., Laksitorini, M. D., Hudiyanti, D., & Siahaan, P. (2017). Molecular
docking of interaction between e-cadherin protein and conformational
structure of cyclic peptide ADTC3 (Ac-CADTPC-NH2) Simulated on 20 ns.
J. Kim. Sains dan Apl, 20(1), 30-6.
Nur, S. (2019). Patologi Ikan: Konsep, Diagnosa, dan Pengendalian Penyakit.
IPB Press. Bogor.
Paryati, P., et al. (2021). Molecular docking prediction of broccoli (Brassica
oleracea Folium) compounds as potential antibacterials against
methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Biodiversitas,
22(10), 1895-1901.
Peres, H., C. Limb, P. H. Klesius. 2004. Growth, chemical composition and
resistanceto Streptococcus iniae challenge of juvenile Nile tilapia
(Oreochromis niloticus) fed graded levels of dietary inositol. Aquaculture,
235(1),423-432.
Sari, D. P., & Al Basyarahil, B. (2021). Analisis zona hambat Ekstrak Brokoli
(Brassica oleracea L. Var. Italica) terhadap bakteri Staphylococcus
aureus. Indonesian Journal Pharmaceutical and Herbal
Medicine, 1(1), 34-38.
Sari, I. W., Junaidin, J., & Pratiwi, D. (2020). Studi molecular docking senyawa
Flavonoid Herba Kumis Kucing (Orthosiphon Stamineus B.) pada reseptor
Α-Glukosidase Sebagai Antidiabetes Tipe 2. Jurnal Farmagazine, 7(2),
54- 60.
Setiawan D & Felix A. 2013, Fakta Ilmiah Buah dan Sayur.
Penebar Swadaya Grup. Jakarta.
Setiawan, H., & Irawan, M. I. (2017). Kajian pendekatan penempatan ligan pada
protein menggunakan algoritma genetika. Jurnal Sains dan Seni ITS, 6(2),
A68-A72.
Sudirman, S., Nurjanah, A. M. J., & Jacoeb, A. M. (2016). Identifikasi struktur
senyawa antioksidan buah lindur. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan
Indonesia, 19(2), 94-99.
Syafnir, L., & Maulana, I. T. (2022, August). Perbandingan aktivitas antibakteri
ekstrak Etanol Bunga Brokoli (Brassica oleracea var. italica Plenck) dan
Kembang Kol (Brassica oleracea var. botrytis DC.) terhadap
Propionibacterium acnes. In Bandung Conference Series:
Pharmacy, 2(2),919-925).
Yulliana, T. I. (2023). Formulasi dan uji antioksidan sheet mask ekstrak brokoli
(Brassica Oleracea Var. Italica) Dengan Metode ABTS. An-Najat, 1(4),
10-28.