0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan11 halaman

Panduan Subnetting dan VLSM IP

Diunggah oleh

OmZogi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
22 tayangan11 halaman

Panduan Subnetting dan VLSM IP

Diunggah oleh

OmZogi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

SUBNETTING & ROUTING

ABDUL ROSYID PRAYOGI

14 MI 0001

AKADEMI MANAJEMEN DAN INFORMATIKA KOMPUTER

AMIK PGRI KEBUMEN

2017
SUBNETTING

Subnetting adalah proses membagi atau memecah sebuah network menjadi beberapa
network yang lebih kecil atau yang sering di sebut subnet yang bertujuan untuk
mempercepat jalur data.

Subnet mask adalah istilah yang mengacu kepada angka biner 32 bit yang digunakan
untuk membedakan network ID dengan host ID. Semua bit yang ditujukan agar
digunakan oleh network dentifier diset ke nilai 1. Semua yang ditujukan agar
digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0.

Representasi panjang prefiks dari sebuah subnet mask :

Cara yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah subnet mask dengan


menggunakan bit yang mendefinisikan network identifier sebagai sebuah network
prefix dengan menggunakan notasi network prefix.

 CIDR (Classless Inter-Domain Routing)

merupakan sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat-alamat IP


berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan
kelas E. Disebut juga sebagai supernetting. CIDR merupakan mekanisme routing
yang lebih efisien dibandingkan dengan cara yang asli, yakni dengan membagi
alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C. Masalah yang terjadi pada
sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut meninggalkan banyak sekali alamat
IP yang tidak digunakan. Sebagai contoh, alamat IP kelas A secara teoritis
mendukung hingga 16 juta host komputer yang dapat terhubung, sebuah jumlah yang
sangat besar. Dalam kenyataannya, para pengguna alamat IP kelas A ini jarang yang
memiliki jumlah host sebanyak itu, sehingga menyisakan banyak sekali ruangan
kosong di dalam ruang alamat IP yang telah disediakan. CIDR dikembangkan
sebagai sebuah cara untuk menggunakan alamat-alamat IP yang tidak terpakai
tersebut untuk digunakan di mana saja. Dengan cara yang sama, kelas C yang secara
teoritis hanya mendukung 254 alamat tiap jaringan, dapat menggunakan hingga
32766 alamat IP, yang seharusnya hanya tersedia untuk alamat IP kelas B.

 VLSM ( Variable Length Subnet Masking )

Vlsm adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam vlsm dilakukan


peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik subneting,
subnet zeroes, dan subnet- ones tidak bisa digunakan. selain itu, dalam subnet
classic, lokasi nomor IP tidak efisien.

Jika proses subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host
yang sama telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen
jaringan tersebut memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan
lebih banyak alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus
dilakukan berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak.
Untuk memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun
diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan ukuran
bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik subnetting
seperti ini disebut juga variable-length subnetting. Subjaringan-subjaringan yang
dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask yang disebut sebagai Variable-
length Subnet Mask (VLSM).

Karena semua subnet diturunkan dari network identifier yang sama, jika subnet-
subnet tersebut berurutan (kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang
sama yang dapat saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke
subnet-subnet tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang
asli.
Teknik variable-length subnetting harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet
yang dibentuk pun unik, dan dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat
dibedakan dengan subnet lainnya, meski berada dalam network identifer asli yang
sama. Kehati-hatian tersebut melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-
segmen jaringan yang akan menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat
dan berapa banyak jumlah host dalam setiap segmennya.
Dengan menggunakan variable-length subnetting, teknik subnetting dapat
dilakukan secara rekursif: network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan,
di-subnet-kan kembali. Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut
harus bersifat tetap dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit
host.
Tentu saja, teknik ini pun membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol
routing yang mendukung variable-length subnetting adalah Routing Information
Protocol (RIP) versi 2 (RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border
Gateway Protocol (BGP versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak
mendukungya, sehingga jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol
tersebut, maka router tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang
dibagi dengan menggunakan teknik variable-length subnet mask.
Perhitungan IP Address menggunakan metode VLSM adalah metode yang
berbeda dengan memberikan suatu Network Address lebih dari satu subnet mask.
Dalam penerapan IP Address menggunakan metode VLSM agar tetap dapat
berkomunikasi kedalam jaringan internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat
memenuhi persyaratan :
1. Routing protocol yang digunakan harus mampu membawa informasi mengenai
notasi prefix untuk setiap rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP,
OSPF dan lainnya, bahan bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2),
2. Semua perangkat router yang digunakan dalam jaringan harus mendukung
metode VLSM yang menggunakan algoritma penerus packet informasi.

Penerapan VLSM
Contoh 1:
[Link]/20
Kita hitung jumlah subnet terlebih dahulu menggunakan CIDR, maka
didapat
11111111.11111111.11110000.00000000 = /20
Jumlah angka binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah4 maka
Jumlah subnet = (2x) = 24 = 16
Maka blok tiap subnetnya adalah :
Blok subnet ke 1 = [Link]/20
Blok subnet ke 2 = [Link]/20
Blok subnet ke 3 = [Link]/20
Dst… sampai dengan
Blok subnet ke 16 = [Link]/20
Selanjutnya kita ambil nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu [Link] kemudian :
– Kita pecah menjadi 16 blok subnet, dimana nilai16 diambil dari hasil
perhitungan
subnet pertama yaitu /20 = (2x) = 24 = 16
– Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan ini kita
gunakan /24, maka didapat [Link]/24 kemudian diperbanyak menjadi 16 blok
lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet VLSM 1-1 = [Link]/24
Blok subnet VLSM 1-2 = [Link]/24
Blok subnet VLSM 1-3 = [Link]/24
Blok subnet VLSM 1-4 = [Link]/24
Dst… sampai dengan
Blok subnet VLSM 1-16 = = 130.20.47/24
– Selanjutnya kita ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu
[Link] kemudian kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke
4 pada Network ID yang kita ubah juga menjadi8 blok kelipatan dari 32 sehingga
didapat :
Blok subnet VLSM 2-1 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-2 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-3 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-4 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-5 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-6 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-1 = [Link]/27
Blok subnet VLSM 2-1 = [Link]/27
Contoh 2:
Diberikan Class C network [Link]/24, ingin di subnet dengan kebutuhan
berdasarkan jumlah host: netA=14 hosts, netB=28 hosts, netC=2 hosts, netD=7
hosts, netE=28 hosts. Secara keseluruhan terlihat untuk melakukan hal tersebut di
butuhkan 5 bit host(2^5-2=30 hosts) dan 27 bit net, sehingga:
netA (14 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 16 hosts
netB (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netC ( 2 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 28 hosts
netD ( 7 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 23 hosts
netE (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
Dengan demikian terlihat adanya ip address yang tidak terpakai dalam jumlah yang
cukup besar. Hal ini mungkin tidak akan menjadi masalah pada ip private akan tetapi
jika ini di alokasikan pada ip public(seperti contoh ini) maka terjadi pemborosan
dalam pengalokasian ip public tersebut.

Untuk mengatasi hal ini (efisiensi) dapat digunakan metoda VLSM, yaitu dengan
cara sebagai berikut:
1. Buat urutan berdasarkan penggunaan jumlah host terbanyak (14,28,2,7,28
menjadi 28,28,14,7,2).
2. Tentukan blok subnet berdasarkan kebutuhan host:
28 hosts + 1 network + 1 broadcast = 30 –> menjadi 32 ip ( /27 )
14 hosts + 1 network + 1 broadcast = 16 –> menjadi 16 ip ( /28 )
7 hosts + 1 network + 1 broadcast = 9 –> menjadi 16 ip ( /28 )
2 hosts + 1 network + 1 broadcast = 4 –> menjadi 4 ip ( /30 )
Sehingga blok subnet-nya menjadi:
netB (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netE (28 hosts): [Link]/27 => ada 30 hosts; tidak terpakai 2 hosts
netA (14 hosts): [Link]/28 => ada 14 hosts; tidak terpakai 0 hosts
netD ( 7 hosts): [Link]/28 => ada 14 hosts; tidak terpakai 7 hosts
netC ( 2 hosts): [Link]/30 => ada 2 hosts; tidak terpakai 0 hosts

Terdapat topologi seperti dibawah ini, maka pembagian subnetnya dapat


digambarkan seperti di bawah dengan cara CIDR/VLSM.

kemudian topologi tersebut bisa kita simulasikan ke sebuah paket tracer. Packet
Tracer adalah simulator alat-alat jaringan Cisco yang sering digunakan sebagai
media pembelajaran dan pelatihan, dan juga dalam bidang penelitian simulasi
jaringan komputer. Program ini dibuat oleh Cisco Systems dan disediakan gratis
untuk fakultas, siswa dan alumni yang telah berpartisipasi di Cisco Networking
Academy. Tujuan utama Packet Tracer adalah untuk menyediakan alat bagi siswa
dan pengajar agar dapat memahami prinsip jaringan komputer dan juga membangun
skill di bidang alat-alat jaringan Cisco. Packet Tracer adalah sebuah software yang
dikembangkan oleh Cisco. Dimana software tersebut berfungsi untuk membuat suatu
jaringan komputer atau sering disebut dengan computer network. Dalam program ini
telah tersedia beberapa komponen–kompenen atau alat–alat yang sering dipakai atau
digunakan dalam system network tersebut, Misalkan contoh seperti kabel Lan cross
over, console, hub, switches, router dan lain sebagainya. Sehingga kita dapat dengan
mudah membuat sebuah simulasi jaringan computer di dalam PC Anda, simulasi ini
berfungsi untuk mengetahui cara kerja pada tiap–tiap alat tersebut dan cara
pengiriman sebuah pesan dari komputer 1 ke computer lain dapat di simulasikan juga
disini.

Screenshot pada paket tracer yang saya buat seperti berikut ini :

Kemudian konfigurasi tiap hostnya sbb :


kemudian konfigurasi iptablesnya sbb :
Untuk pengonfigurasian di UML sbb :

Dari topologi di atas, kita ambil saja contoh pengonfigurasian di Tugu Pahlawan,
bisa dilihat seperti gambar berikut :

Anda mungkin juga menyukai