0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan36 halaman

Sengketa Pertanahan di Klaten 2020

Diunggah oleh

reno leksono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan36 halaman

Sengketa Pertanahan di Klaten 2020

Diunggah oleh

reno leksono
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

Secara administrasi Kabupaten Klaten mempunyai luas 65.556 Ha yang terbagi

menjadi 391 desa dan 10 kelurahan. Wilayah kecamatan Kemalang merupakan wilayah

terluas yaitu 5,166 Ha dan wilayah terkecil adalah kecamatan Klaten Tengah seluas 0,890

Ha. Dengan luas wilayah Kabupaten Klaten sebesar 65.556 Ha maka jumlah bidang tanah

mencakup ± 655.955 bidang tanah. Adapun jumlah bidang tanah yang sudah bersertipikat

sebanyak 629.328 bidang (95,94%). Dan jumlah bidang tanah yang belum terdaftar

sebanyak 26.627 bidang tanah (4,06%) dan jumlah bidang tanah yang sudah terpetakan

sebanyak 450.214 (71,54%). (Laporan Kinerja Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten Tahun

2019).

Berdasarkan Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan

Nasional Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2020 tentang Penyelesaian Kasus

Pertanahan, Kantor Pertanahan adalah instansi vertikal Badan Pertanahan Nasional di

Kabupaten/Kota yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri

melalui Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional. Kantor Pertanahan Kabupaten

Klaten ini menempati tanah seluas ±2.580 M² dan bangunan dibagi 3 (tiga) lantai dengan

seluas ±1.980 M², dan terletak di Jalan Veteran No.88, Barenglor, Klaten Utara, Klaten,

Jawa Tengah, 57401.


2

Dalam rangka mewujudkan pelayanan publik yang baik, Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten mempunyai visi dan misi yang dilaksanakan pada Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten. Visi Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, yaitu “Terciptanya Perubahan

Menuju Pelayanan Prima”. Sedangkan Misi Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, yaitu:

1) meningkatkan kualitas sumber daya manusia/aparatur Kantor Pertanahan yang

profesional;

2) meningkatkan pelayanan pendfataran tanah dan menyelesaikan sengketa, konflik, dan

perkara pertanahan;

3) mengoptimalkan kebijakan pertanahan yang berkaitan dengan penguasaan, pemilikan,

penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang mengacu pada tata ruang wilayah;

4) meningkatkan infrastruktur yang berkaitan dengan pelayanan perkantoran;

5) mengembangkan dan membangun sistem informasi serta tata kelola pengamanan

dokumen.

Adapun tujuan utama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional

adalah memastikan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai

oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk itu

Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional menetapkan sasaran

strategis tahun 2016-2020 adalah:

1) meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan agraria yang adil dan

berkelanjutan;

2) terwujudnya ruang yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan;

3) berkurangnya kasus tata ruang dan pertanahan (sengketa, konflik dan perkara).

Sehingga, Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten dalam mewujudkan sasaran stratregis


3

tersebut dengan melaksanakan:

1) program dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kementerian

Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional;

2) program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Kementerian Agraria dan Tata

Ruang/Badan Pertanahan Nasional;

3) program pengelolaan pertanahan daerah;

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten dipimpin oleh seorang Kepala Kantor Pertanahan.

Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh beberapa kepala

Seksi/Kepala Bagian yang memimpin beberapa seksi/bagian di Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten. Jumlah pegawai di Kantor Pertanahan Klaten, sebagai berikut:

Tabel 1. Jumlah Pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

No. Status Kepegawaian Jumlah


1 Pegawai Negeri Sipil 88
2 Pegawai Pemerintah Non Pegawai 60
Negeri (PPNPN)
3 Pegawai Honorer dari Diploma I (DI) 19
TOTAL 167
Sumber: Data pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

Selanjutnya struktur organisasi Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten dapat dilihat

dalam gambar berikut:

Gambar 3.1 Struktur Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten Tahun 2019


4

Sumber: Data pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

4.2.2 Sengketa Pertanahan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

Dari berbagai sengketa pertanahan yang ada di Kabupaten Klaten, jenis-jenis sengketa

yang biasanya diselesaikan melalui mediasi pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

adalah Sengketa Waris, Sengketa Batas Tanah, Sengketa Jual Beli, Sengketa Hak Milik,

Sengketa Kepemilikan dan Penguasaan Atas Tanah serta Sengketa Lainnya. Berdasarkan

data yang berhasil dikumpulkan pada arsip register penyelesaian sengketa pertanahan di

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, pada tahun 2020 jumlah kasus sengketa tanah yang

ditangani Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten adalah 16 kasus, dengan jumlah kasus

sebagai berikut:

1. SHM No. 392/Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Luas 1.955 M², SHM No. 393/

Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Luas 1.740 M², Pelapor Wiwit Nur Hidayati,

terlapor: Badrun dan Siti Aminah, dengan tipologi sengketa yaitu sengketa

kepemilikan. Pokok sengketa tersebut yaitu Sdri. Wiwit Nur Hidayati melaporkan
5

sertipikat bidang tanah atas nama ayahnya yaitu SHM No. 392/Gempol dan SHM No.

393/Gempol atas nama Sukemi yang telah hilang, ketika akan mengurus penerbitan

sertipikat pengganti, ternyata sertipikat tersebut diblokir oleh Sdr. Badrun. Bahwa

setelah diadakan mediasi, ternyata terhadap permasalahan tersebut telah ada

kesepakatan perdamaian yang didaftarkan di PN Klaten No. 11/Pdt.G/2016/[Link]

dengan kesepakatan SHM No. 392/Gempol dan SHM No. 393/Gempol dibagi 3

(Sukemi, Siti Aminah dan Badrun). Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah

selesai dan dilaksanakan mediasi.

2. SHM No. 182/Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Luas 2.090 M², SHM No. 183/ Desa

Sumber, Kecamatan Trucuk, Luas 2.390 M², SHM No. 184/ Desa Sumber, Kecamatan

Trucuk, Luas 555 M², pelapor atas nama Jaminem dan terlapor yaitu para Ahli Waris

Mbok Paikem Pairoinangun, dengan tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan.

Pokok sengketa tersenut ahwa Ny. Jaminem mengaku merupakan ahli waris yang sah

dari pemilik bidang tanah C No. 550 Desa Sumber, Kec. Trucuk, Kab. Klaten. Bahwa

C No. 550 atas nama Paikem Pawiroinangun merupakan hibahan dari C No. 167 atas

nama B. Kartodimedjo Surip. Menurut keterangan pelapor, B. Kartodimedjo bukan

merupakan ahli waris yang sah dari pemilik bidang tanah yaitu Somodikromo. Bahwa

bidang tanah tersebut saat ini sudah menjadi SHM No. 182, 183 dan 184/Sumber atas

nama Paikem Pawiroinangun. Berdasarkan kasus tersebut telah dibuatkan surat

penyelesaian masalah dengan kesimpulan bahwa pihak yang bersengketa akan

mengambil jalur hukum. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan

dilaksanakan mediasi.
6

3. SHM No. 758/Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Luas 205 M², SHM No.

759/T Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Luas 203 M², SHM No. 760/

Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Luas 204 M², dengan tipologi sengketa

yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Mardewi Saptaningtyas, dkk, dan

terlapor atas nama Ny. Sri Maryati, Ny. Sri Mulat, dan Ny. Sri Haryono. Pokok

sengketa yaitu bahwa para pelapor adalah anak dari Ahmat Daroji, semasa

perkawinan antara Ahmat Daroji dengan Supiah Jogoprayitno memperoleh tanah dan

bangunan seluas ± 600 M² yang kemudian terdaftar menjadi SHM No.

141/Tanjungsari. Bahwa sepeninggal Ahmat Daroji, SHM No. 141/Tanjungsari

dijual dan dipecah menjadi 3 yaitu: SHM No. 758/Tanjungsari atas nama Nyonya Sri

Maryati, SHM No. 759/Tanjungsari atas nama Nyonya Sri Mulat dan SHM No.

760/Tanjungsari atas nama Nyonya Sri Haryono. Bahwa kemudian para pelapor

(anak dari Ahmat Daroji) menuntut bagian terhadap tanah obyek sengketa.

Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi.

4. SHM No. 1251/Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Luas 755 M², dengan tipologi

sengketa yaitu sengketa batas. Pelapor atas nama Samidi dan Terlapor atas nama

Wiyardi. Bahwa pelapor memiliki sebidang tanah SHM No. 1251/Dlimas seluas 755

M². Bahwa dari bidang tanah tersebut, sebagian diberikan untuk jalan selebar 1,5 M,

akan tetapi oleh pemilik sebelahnya yaitu terlapor bidang tanah yang diperuntukan

jalan tersebut diuruk dan dibangun talud. Pelapor meminta pengukuran ulang dan

menuntut bidang tanah yang untuk jalan dikeluarkan. Perkembangan penyelesaian

kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi, serta telah dilaksanakan

pengukuran ulang pada hari Jumat 23 Oktober 2020.


7

5. SHM No. 308/Desa Pucang Miliran, Kecamatan Tulung dengan Luas 2.060 M²,

dengan tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Siti

Warsiatun, Alwi Masruri, S.T., Sri Wiyani, Nur Choiriyah, [Link]., Supriyadi, S.E.,

Arif Maskuri dan terlapor yaitu Kepala Desa Pucang Miliran. Bahwa Pelapor

merupakan ahli waris dari pemilik SHM No. 308 seluas 2.060 M² atas nama

Wiludjiyem Harsosumarto yang terletak di Desa Pucang Miliran, Kec. Tulung, Kab.

Klaten. Bahwa status tanah SHM No. 308/Pucang Miliran saat ini terjadi

pemblokiran dikerenakan telah terjadi tukar menukar dengan tanah kas desa milik

Pemerintah Desa Pucang Miliran. Bahwa menurut ahli waris Wiludjiyem

Harsosumarto SHM tersebut tidak pernah proses tukar menukar maupun jual beli.

Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi.

Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah dengan kesimpulan bahwa pihak yang

bersengketa akan mengambil jalur hukum.

6. SHM No. 251/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen Luas 1.525 M² dan SHM No.

252/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen Luas 1.965 M², dengan tipologi sengketa

yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor yaitu Nursalim (Cucu dari Alm. Singopawiro)

dan terlapor yaitu Sukri Rusdi (Anak Kandung Alm. Singopawiro); Munjayanah

(Cucu dari Alm. Singopawiro). Bahwa Alm. Singopawiro memiliki harta warisan

berupa :

a) Tanah Pertanian C Desa No. 273 Persil 186 Klas Ivb seluas ± 1.525 M², terletak di

Dusun Klemut, Desa Ngawen, Kec. Ngawen, Kab. Klaten


8

b) Tanah Pertanian C Desa No. 273 Persil 138 Klas IIa seluas ± 1.965 M², terletak di

Dusu Sono, Desa Ngawen, Kec. Ngawen, Kab. Klaten, keduanya tertulis atas

nama Singopawiro

c) Tanah Non Pertanian C Desa No. 273 Persil 114p Klas III.d seluas ± 1.025 M²

Bahwa menurut daftar C desa kedua tanah pertanian tersebut terdaftar sebagai SHM

No. 251/Ngawen dan SHM No. 252/Ngawen. Bahwa sampai sekarang tanah tersebut

dikuasai oleh Terlapor, yang seharusnya tanah tersebut milik kami bersama ahli waris

dari Alm. Singopawiro. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan

dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah dengan kesimpulan

bahwa pihak yang bersengketa akan mengambil jalur hukum.

7. SHM No. 614/Desa Glagah Wangi, Kecamatan Polanharjo, Luas 990 M², dengan

tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Gomo Tiyono,

Sriyanto,dan Subagyo, sedangkan terlapor atas nama Sujani dan Ngadinem. Bahwa

Pelapor adalah ahli waris Alm. Supono. Bahwa selama hidupnya Alm. Supono

menikah dengan Ibu Ngadinem Jogo Suwito, selama perkawinan tersebut tidak

mempunyai keturunan dan mengadopsi saudari Sujani (Tidak ada surat legalitas

adopsi anak). Bahwa Alm. Supono meninggalkan harta warisan berupa sebidang

tanah pekarangan dengan SHM No. 614/Glagah Wangi seluas 990 M². Karena

Pelapor sebagai ahli waris Alm Supono maka Pelapor menanyakan harta warisan

peninggalan tersebut kepada Sdri. Sujani. Bahwa menurut pengakuan Sdri. Sujani

harta warisan tersebut telah disertipikatkan atas nama Sujani setelah Alm. Supono

meninggal. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan


9

dilaksanakan mediasi, namun tidak terjadi kesepakatan, dan akan melanjutkan

mediasi di Desa tanggal 24 September 2020.

8. SHM No. 531/ Desa Kurung, Kecamatan Ceper Luas 2.240 M², SHM No. 647/ Desa

Kurung, Kecamatan Ceper Luas 1.775 M², dan SHM No. 764/ Desa Kurung,

Kecamatan Ceper Luas 1.950 M², dengan tipologi sengketa yaitu sengketa

kepemilikan. Pelapor atas nama Panut Setyo Nugroho, Hj. Ratminingsih, [Link],

sedangkan terlapor atas nama [Link] Suminah dan Soeradi Marhaentiyoso, BA.

Bahwa telah dibuat Akta Perdamaian dari Penitera/Sekretaris Pengadilan Negeri

Klaten mengacu pada Register Perkara Perdata di Kepaniteraan Pengadilan Negeri

Klaten No. 11/Pdt.G/2007/[Link] Jo. No. 157/Pdt/2008/[Link] Jo. No. 437

K/Pdt/2009 Jo. No. 432 PK/Pdt/2020, akta perdamaian tersebut belum dilaksanakan

oleh para pihak sebagaimana mestinya. Bahwa pihak Pelapor telah kooperatif untuk

melaksanakan Akta Perdamaian dari Kepaniteraan Pengadilan Negeri Kabupaten

Klaten, namun dari pihak terlapor sampai sekarang belum menunjukan itikad baik

melaksanakan Akta Perdamaian tersebut. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut

sudah selesai dan dilaksanakan mediasi.

9. SHM No. 580/ Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Luas 995 M², dengan tipologi

sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Saelan sedangka terlapor

yaitu Sujinah, Tri Indrawati, dan Ali Suratman. Bahwa Saelan adalah salah satu

ahliwaris dari pemilik tanah SHM No. 580/Pundungan atas nama Sadi Djojomartono.

Bahwa diatas bidang tanah tersebut telah ditinggali oleh 3 keluarga yaitu para

Terlapor. Bahwa sebelumnya telah diadakan mediasi di Desa dan terjadi kesepakatan

akan diadakan proses jual-beli terhadap bidang tanah tersebut sesuai luas tanah yang
10

ditepati. Bahwa sampai dengan saat ini belum terjadi transaksi jual-beli tersebut.

Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi.

10. SHM No. 893/Desa Krajan, Keacamatan Kalikotes Luas 1.128 M² , SHM No. 894/

Desa Krajan, Keacamatan Kalikotes Luas 1.172 M², dengan tipologi sengketa yaitu

sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Sutarno, Jumini, Suparman dan Sarmini,

sedangkan terlapor yaitu Teguh Widodo, Sugiyem, Sumarmi dan Marinten. Bahwa

Para Pelapor adalah ahli waris dari Alm. Karsimin Wongso Tiyoso dari pernikahan

kedua dengan Mbok Paiyem Rejo [Link] Para Terlapor adalah ahli waris dari

Alm. Karsimin Wongso Tiyoso dari pernikahan pertama dengan Mbok Wongso

Tiyoso Wiji. Bahwa tanah obyek sengketa tersebut yang seharusnya dibagi dengan

Para Pelapor sampai saat ini di kuasai oleh Para Terlapor. Perkembangan penyelesaian

kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat

penyelesaian masalah dengan kesimpulan bahwa pihak yang bersengketa akan

mengambil jalur hukum.

11. SHM No.42/Desa Gunting, Kecamatan Wonosari, Luas 2.410 M² dan SHM No.43/

Desa Gunting, Kecamatan Wonosari, Luas 2.820 M², dengan tipologi sengketa yaitu

sengketa kepemilikan. Pelapor : Aditya Dimas Pradana & Rekan (selaku kuasa hukum

Wito Diharjo), Wito Diharjo, dan terlapor : Sriyono; Sadiyem; Suparti. Bahwa semasa

hidupnya Simin Wongso Semito menikah sebanyak 2 kali. Dari pernikahan pertama

memiliki 3 orang anak yaitu Sinem, Samin dan Sabar. Dari pernikahan kedua memiliki

1 orang anak yaitu Wito Diharjo. Sepeninggal Simin Wongso Semito meninggalkan

harta warisan berupa tanah pekarangan dan tanah sawah. Untuk tanah pekarangan

telah dibagi rata kepada 4 orang ahli warisnya. Untuk tanah sawah dinamakan Samin
11

selaku anak laki-laki pertama. Bahwa oleh ahli waris Samin (Para Terlapor) tanah

sawah tersebut dikuasai dan ahli waris lain darn Alm. Simin Wongso Semito hanya

diberi hak untuk mengolah seumur hidup. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut

sudah selesai dan dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah

dengan kesimpulan bahwa pihak yang bersengketa akan mengambil jalur hukum

12. SHM No. 1273/ Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Luas 648 M², dengan tipologi

sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Aluisius Punta Winadi dan

Sariyatun dan terlapor atas nama Sri Lestiyananingsih. Bahwa pihak Pelapor

menyatakan keberatan dan untuk diberhentikan peralihan jual-beli tanah atas nama Sri

Lestiyananingsih. Bahwa Sri Lestiyananingsih telah meninggal dan memiliki anak

berumur 10 tahun. Bahwa tanah tersebut dijual oleh suami Sri Lestiyananingsih untuk

membeli tanah yang akan di atas namakan anaknya. Perkembangan penyelesaian kasus

tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat penyelesaian

pekerjaan karena obyek sengketa terletak dalam IPL proyek pembangunan jalan Tol

Jogja-Solo

13. SHM No. 312/ Desa Sentono, Kecamatan Karangdowo, Luas 2.115 M², dengan

tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Surawan dan terlapor

atas nama Suyatmi dan Taufik Yudanto selaku Kuasa dari Sarmiatun. Bahwa Surawan

telah membeli SHM No. 312/Sentono dari Suyatmi. Bahwa ditengah perjalanan

sertipikat tanah tersebut di pinjam oleh Suyatmi dengan alasan untuk dicarikan

pinjaman di bank, ternyata sertipikat tersebut tidak dipinjamkan di bank melainkan

dijual kepada pihak ketiga. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai

dan dilaksanakan mediasi.


12

14. SHM No. 177/ DesaTlogo, Kecamatan Prambanan, Luas 1.995 M², dengan tipologi

sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Tri Jaka Waluya dan Terlapor

atas nama Purwanta, S.E. Bahwa SHM No. 177/Tlogo semula atas nama

Rantowiyono. Bahwa pelapor adalah ahli waris Bapak Rantowiyono. Bahwa SHM No.

177/Tlogo telah beralih menjadi atas nama Purwanto, S.E. berdasarkan surat

keterangan waris tanggal 29-10-2019 yang dibuat oleh para ahli waris. Bahwa pelapor

tidak pernah dilibatkan dalam pembuatan surat keterangan waris tersebut.

Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi.

Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah dengan kesimpulan bahwa pihak yang

bersengketa akan mengambil jalur hukum.

15. SHM No. 3031/Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Luas 7.332 M² dan SHM No. 3145/

Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Luas 7.000 M², dengan tipologi sengketa yaitu

sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Sudiyani dan terlapor atas nama Ny. Padmo

Sumanto, Siswo Hartono, Sugino Alm, Ny. Hartini, Suwarni, Suparman dan Karso

Mulyo Suratman. Bahwa sebagian tanah SHM No. 3031/Troketon diakui menjadi

SHM No. 3145/Troketon. Bahwa telah diadakan mediasi di Desa, tetapi tidak berhasil.

16. C. 269 Desa Tanjungan, Kecamatan Wedi, Luas 2.355 M², dengan tipologi sengketa

yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Sukiman dan terlapor atas nama

Suwagino bin Suwiyono. Bahwa Bapak Swagno bin Suwiyono telah menguasai sawah

yang sudah dibeli oleh Bapak Danu Sumarto Bahwa jual beli tersebut dilaksanakan

dengan perjanjian jual beli Bahwa pelapor adalah ahli waris dari Bapak Danu Sumarto.

Perkembangan penyelesaian kasus ini yaitu sudah dilaksanakan mediasi namun nelum

selesai.
13

4.2. Pembahasan

4.2.1 Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Tanah Hak Milik Melalui Jalur Mediasi Oleh

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

Dalam teori penyelesaian sengketa terdapat dua peneyelesaian, yaitu litigasi dan non

litigasi. Mediasi merupakan salah satu penyelesaian sengketa tanah non litigasi, Mediasi

juga dapat diartikan sebagai upaya penyelesaian sengketa para pihak dengan kesepakatan

bersama melalui mediator yang bersikap netral, dan tidak membuat keputusan atau

kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator untuk terlaksananya dialog antar

pihak dengan suasana keterbukaan, kejujuran, dan tukar pendapat untuk tercapainya mufakat

(Susanti Adi Nugroho, 2009:21). Fungsi mediator dalam penyelesaian sengketa pertanahan

melalui mediasi, yaitu menyelenggarakan pertemuan, memimpin pertemuan, mencatat,

membuat agenda, mengajukan usulan terbaik penyelesaian sengketa, memelihara ketertiban

pertemuan, hingga membantu merumuskan kesepakatan para pihak.

Berbagai sengketa pertanahan harus segera diselesaikan, agar terjaga hubungan hak

dan kewajiban antar subjek hukumnya. (Mulyana, 2019:181). Untuk meningkatkan tingkat

efektivitas perlu adanya alternatif untuk meminimalisir kendala yang muncul pada saat

proses penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi. (Khoirruni’mah, dkk, 2022:5717).

Dalam melaksanakan tugas penyelesaian sengketa pertanahan, Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten dilandasi dengan kewenangan-kewenangan yang sah dengan berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar utama, yaitu Peraturan Menteri Agraria

dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 21 Tahun

2020 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan. Penyelesaian Kasus Pertanahan bertujuan

untuk memberikan kepastian hukum dan keadilan mengenai penguasaan, pemilikan,


14

penggunaan dan pemanfaatan tanah. Penanganan sengketa yang masuk pada Kantor

Pertanahan merupakan kewenangan Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian

Pertanahan (PMPP).

Dalam melaksanakan tugas, Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan

(PMPP) menyelenggarakan fungsi:

a. pelaksanaan pencegahan, penanganan dan penyelesaian sengketa/konflik pertanahan,

serta analisis dan penyiapan usulan pembatalan hak atas tanah;

b. pelaksanaan penanganan dan penyelesaian perkara pertanahan, analisis dan penyiapan

usulan pembatalan hak atas tanah berdasarkan putusan pengadilan atau hasil

perdamaian;

c. pelaksanaan pengendalian dan pemantauan pemanfaatan pertanahan;

d. pelaksanaan penelitian data dan penyiapan usulan serta rekomendasi penertiban dan

pendayagunaan tanah terlantar; dan

e. pelaksanaan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, evaluasi dan pelaporan di seksi

penanganan masalah dan pengendalian pertanahan.

Setiap subseksi memiliki kewenangan yang berbeda, berikut adalah kewenangan

masing-masing setiap subseksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP):

1. Subseksi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan mempunyai tugas

melakukan penyiapan bahan bimbingan teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan

pencegahan, penanganan dan penyelesaian sengketa/konflik dan perkara pertanahan,

serta analisis dan penyiapan usulan pembatalan hak atas tanah berdasarkan putusan

pengadilan atau hasil perdamaian, serta evaluasi dan pelaporan.


15

2. Subseksi Pengendalian Pertanahan mempunyai tugas menyiapkan bahan bimbingan

teknis, koordinasi, pemantauan, pelaksanaan pengendalian dan pemantauan

pemanfaatan pertanahan dan pelaksanaan penelitian data dan penyiapan usulan serta

rekomendasi penertiban dan pendayagunaan tanah terlantar, serta evaluasi dan

pelaporan.

Sehingga dapat disimpulkan Tim Mediator dalam pelaksanaan mediasi merupakan

Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten yaitu petugas dari Seksi

Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP). Hal tersebut sessuai dengan

Pasal 39 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan

Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus

Pertanahan, yang menegaskan Mediator dari Kementerian, Kantor WilayahBadan

Pertanahan Nasional (BPN) dan/atau Kantor Pertanahan.

Peran Mediator Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten pada sengketa pertanahan ini

bersifat sebagai pihak yang pasif yaitu bersifat menunggu/menerima pengaduan, hanya

melakukan mediasi jika ada pengaduan yang masuk saja, tetapi dalam memberikan hasil

analisa dan mengundang para pihak inilah menjadi bersifat aktif. Hal tersebut dikarenakan

dengan adanya Standar Operasional Pelayanan (SOP) yang hanya diberikan waktu 30 (tiga

puluh) hari dan sebagai Kantor Pelayanan Publik harus mematuhi Standar Operasional

Pelayanan (SOP) tersebut dengan baik.

Peran BPN dalam penyelesaian kasus pertanahan dengan cara bertindak sebagai

mediator bermula dari pengaturan Angka 2 bag. II. Penggolongan, Petunjuk Teknis Nomor

05/Juknis/D.V/2007 tentang Mekanisme Pelaksanaan Mediasi dalam Keputusan Kepala

Badan Pertanahan Nasional No: 34 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan
16

Penyelesaian Masalah Pertanahan. Isinya menyatakan, “Mediator adalah orang/pejabat

yang ditunjuk dari jajaran Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang

disepakati oleh para pihak yang bersengketa untuk menyelesaikan permasalahanya”.

Ketentuan diatas diperkuat berdasarkan pendapat akademik Rosiana dan Junaidi Tarigan

dalam Jurnal Rechten: Riset Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Vol.4/No.2/2022. Artikel

mereka berjudul “Analisis Yuridis Penyelesaian Sengketa Tanah Melalui Mediasi”.

Intinya, BPN dapat bertindak sebagai mediator dalam penanganan dan penyelesaian

kasus pertanahan di luar Pengadilan.

Mediasi dengan BPN bertindak sebagai mediator bisa meminimalkan biaya sekaligus

memberikan kepastian hukum. Kepastian hukum dapat terjamin jika para pihak dalam

mediasi sepakat menyelesaikan permasalahan dengan perdamaian. Perdamaian yang

didapat dari hasil mediasi lalu dituangkan dalam bentuk akta/surat tertulis. Selanjutnya

akta/surat tertulis itu didaftarkan ke Pengadilan Negeri—yang kompetensinya meliputi

letak tanah yang menjadi objek sengketa—untuk memperoleh putusan perdamaian.

Ketentuan ini berdasarkan Pasal 44 ayat 5 Peraturan Menteri Agraria dan Tata

Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.21 Tahun 2020 tentang Penanganan dan

Penyelesaian Kasus Pertanahan.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa,

Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, tanggal 5 Januari

2021. Untuk mengetahui berkas yang masuk tersebut merupakan kewenangan Kementerian

atau bukan kewenangan Kementerian, dapat diketahui setelah berkas pengaduan diterima

dan Petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) melakukan

pengumpulan data dan menganalisa berkas pengaduan tersebut. Lalu Kantor Pertanahan
17

Kabupaten Klaten menginformasikan kepada pengadu dengan mengirimkan surat balasan.

Apabila permohonan pengaduan tersebut bukan merupakan kewenangan Kementerian,

petugas akan menawarkan kepada Pihak Pengadu apakah akan tetap dilakukan mediasi di

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten atau diluar Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten.

Apabila Pihak Pengadu tetap menginginkan proses mediasi berlangsung di Kantor

Pertanahan Kabupaten Klaten, maka proses mediasi tersebut dilaksanakan.

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Khrisnawan Purnama selaku Kasubsi

Pengendalian Pertanahan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten pada tanggal 5 Januari

2021, permohonan pengaduan yang masuk ini dikarenakan sertipikat tanah tidak bisa

menjamin permasalahan yang berkaitan dengan pertanahan selesai, tetapi paling tidak

dengan adanya penyelesaian sengketa tanah tersebut sudah meminimalisir selesainya

sengketa tanah di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten. Karena prinsip sertipikat itu bukan

mutlak tapi kuat dalam artian dimana ada pihak yang mempunyai bukti tanda kepemilikan

yang benar dan dibuktikan dengan alat bukti yang telah diperiksa di pengadilan maka

sertpikat itu dapat dibatalkan, sedangkan arti kuat adalah sertipikat merupakan alas bukti hak

yang paling tinggi kedudukannya diantara alas hak tanah lainnya (Letter C, girik, dan lain-

lain), ada kebenaran yuridis dan fisik.

Berdasarkan data yang ada di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, penjelasan

mengenai masing-masing tipologi sengketa tersebut yang menyangkut sengketa atas tanah

waris ini terjadi apabila terdapat hak-hak dari satu atau beberapa ahli waris dilanggar,

dikurangi atau bahkan dihilangkan oleh ahli waris lainnya, selain itu dapat juga terjadi

karena masalah pembagian waris yang salah satu pihak mengklaim objek tanah sengketa

tersebut merupakan bagian dari hak warisnya padahal bisa jadi belum ada kesepakatan
18

pembagian waris. Hal ini serupa dengan sengketa kepemilikan, kasus yang masuk biasanya

salah satu pihak mengklaim tanah tersebut merupakan tanah milik pihak tersebut, padahal

bukti kepemilikannya belum jelas, tetapi sengketa kepemilikan ini tidak alas haknya tidak

spesifik Hak Milik, bisa juga dari alas hak Letter C. Sedangkan sengketa Hak Milik lebih

mengarah kepada bukti alas hak yang sudah bersertipikat.

Pada sengketa batas biasanya terjadi karena patok yang sebelumnya ditanam,

terkadang disengaja ataupun tidak sengaja dipindahkan oleh pemiliknya, sehingga

menimbulkan kerugian bagi pemilik tanah yang berbatasan. Sengketa jual beli biasanya

tentang wanprestasi, sebagai contoh kedua belah pihak sudah sepakat dengan harga jual beli

tapi setelah berjalannya waktu pihak yang membeli tidak melunasi atau membatalkan secara

sepihak, padahal sudah ada perikatan jual beli. Sebagai contoh sengketa kepenguasaan yang

pernah masuk di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten yaitu tanah kas desa yang dikuasai

oleh masyarakat, sedangkan sengketa lain-lain yang pernah masuk di Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten yaitu pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pungutan liar yang

dilakukan oleh oknum panitia yang dibentuk oleh pihak desa pada program nasional

Pendaftaran Tanah Sistematik Lengkap (PTSL). Berdasarkan wawancara dengan Bapak

Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor

Pertanahan Kabupaten Klaten, tanggal 5 Januari 2021, Pendaftaran Tanah Sistematik

Lengkap (PTSL) merupakan proses pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan

secara serentak dan meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum pernah didaftarkan

di dalam suatu wilayah desa atau kelurahan. Selain itu menurut Bapak Sutikno selaku

Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten. masalah pengaduan masyarakat pada proses pelayanan pendaftaran yang
19

tidak kunjung selesai, yang mana proses tersebut dijalankan oleh pihak notaris. Sengketa

tanah yang batal mediasi dikarenakan para pihak telah dipanggil 3 (tiga) kali namun tidak

memenuhi panggilan. Selain itu pengadu tidak menyertakan alamat surat menyurat yang

lengkap, sehingga dalam proses pengiriman surat undangan mediasi tidak sampai ke pihak

pengadu maupun pihak yang diadukan.

Proses pelaksanaan mediasi antara Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala

Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian

Kasus Pertanahan dengan pelaksanaan mediasi di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

terdapat beberapa perbedaan dalam pelaksanaannya. Berikut pelakasanaan mediasi sesuai

Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik

Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan:

1. Pengaduan terkait Sengketa dan Konflik dari masyarakat yang disampaikan kepada

Kepala Kantor Pertanahan secara tertulis melalui loket pengaduan. Pengaduan tersebut

paling sedikit memuat identitas pengadu dan uraian singkat kasus serta harus dilampiri

dengan:

a) fotokopi identitas pengadu,

b) fotokopi identitas penerima kuasa dan surat kuasa apabila dikuasakan, serta

c) data pendukung atau bukti-bukti yang terkait dengan pengaduan.

2. Setelah Pengaduan diterima, petugas yang bertanggung jawab dalam menangani

pengaduan melakukan pemeriksaan berkas Pengaduan. Dalam hal berkas pengaduan

telah memenuhi syarat petugas menyampaikan berkas Pengaduan kepada pejabat yang

bertanggung jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara pada Kantor

Pertanahan.
20

3. Pengaduan yang telah memenuhi syarat diterima langsung melalui loket Pengaduan,

kepada pihak pengadu diberikan Surat Tanda Penerimaan Pengaduan. Dalam hal

berkas pengaduan tidak memenuhi syarat maka petugas mengembalikan berkas

pengaduan kepada pihak pengadu dengan memberitahukan kekuranglengkapan berkas

Pengaduan secara tertulis.

4. Setelah menerima berkas Pengaduan dari petugas, pejabat yang bertanggung jawab

dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara pada Kantor Pertanahan,

mengadministrasikan pengaduan dimaksud ke dalam Register Penerimaan Pengaduan,

karena Setiap perkembangan penyelesaian Sengketa, Konflik dan Perkara harus dicatat

dalam Register Penyelesaian Sengketa, Konflik dan Perkara dengan melampirkan

bukti perkembangan dimaksud dan/atau dilakukan pengadministrasian data melalui

sistem informasi Sengketa, Konflik dan Perkara.

5. Pengaduan yang telah diadministrasikan, pejabat yang bertanggung jawab dalam

menangani Sengketa, Konflik dan Perkara pada Kantor Pertanahan melakukan

kegiatan pengumpulan data. Data yang dikumpulkan dapat berupa:

a) data fisik dan data yuridis;

b) putusan peradilan, berita acara pemeriksaan dari Kepolisian Negara RI, Kejaksaan

RI, Komisi Pemberantasan Korupsi atau dokumen lainnya yang dikeluarkan oleh

lembaga/instansi penegak hukum;

c) data yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh pejabat yang berwenang;

d) data lainnya yang terkait dan dapat mempengaruhi serta memperjelas duduk

persoalan Sengketa dan Konflik; dan/atau

e) keterangan saksi.
21

6. Pejabat yang bertanggung jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara

pada Kantor Pertanahan melakukan:

a) validasi terhadap data yang kebenarannya dinyatakan oleh pejabat atau lembaga

yang menerbitkan atau pencocokan dengan dokumen asli;

b) permintaan keterangan saksi yang dituangkan dalam Berita Acara, dalam hal data

yang diperoleh berasal keterangan saksi sebagaimana dimaksud

7. Setelah pelaksanaan kegiatan pengumpulan data, pejabat yang bertanggung jawab

dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara pada Kantor Pertanahan melakukan

analisis. Analisis dilakukan untuk mengetahui pengaduan tersebut merupakan

kewenangan kementerian atau bukan kewenangan kementerian. Dalam hal Sengketa

dan Konflik merupakan kewenangan Kementerian pejabat yang bertanggung jawab

dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara melaporkan hasil pengumpulan data

dan hasil analisis kepada Kepala Kantor Pertanahan. Dalam hal Sengketa atau Konflik

bukan kewenangan Kementerian, Kementerian dapat mengambil inisiatif untuk

memfasilitasi penyelesaian Sengketa atau Konflik melalui Mediasi. Dalam hal

Sengketa dan Konflik bukan kewenangan Kementerian, maka pejabat yang

bertanggung jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara menyampaikan

penjelasan secara tertulis kepada pihak pengadu. Penjelasan sebagaimana dimaksud

memuat pernyataan bahwa penyelesaian Sengketa dan Konflik diserahkan kepada

pihak pengadu. Dalam hal salah satu pihak menolak untuk dilakukan Mediasi maka

penyelesaiannya diserahkan kepada para pihak sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.
22

8. Apabila para pihak bersedia untuk dilakukan Mediasi, maka mediasi dilaksanakan

berdasarkan prinsip musyawarah untuk mufakat bagi kebaikan semua pihak.

Pelaksanaan Mediasi dilakukan paling lama 30 (tiga puluh) hari.

9. Dalam hal Mediasi tidak dapat dihadiri oleh salah satu pihak yang berselisih,

pelaksanaannya dapat ditunda agar semua pihak yang berselisih dapat hadir.

10. Apabila setelah diundang 3 (tiga) kali secara patut pihak yang berselisih tidak hadir

dalam Mediasi, maka Mediasi batal dan para pihak dipersilahkan menyelesaikan

Sengketa atau Konflik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dari uraian diatas dapat dibandingkan dengan pelaksanaan mediasi di Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten. Dari beberapa kasus sengketa pertanahan yang masuk di Kantor

Pertanahan Kabupaten Klaten, berikut beberapa contoh kasus yang menjadi objek

penelitian:

1. Kasus Sengketa Tanah Sertipikat Hak Milik No. 1053 Desa Kepanjen,

Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten

Kasus sengketa ini terjadi antara Sri Widodo, dan kawan-kawan (dkk) dengan Sumad.

Objek sengketa ini adalah sebidang tanah Sertipikat Hak Milik No. 1053/Desa

Kepanjen, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten, seluas 1.712 M² atas nama

Doctorandes Sumad.

Pada tanggal 23 Agustus 2019 Sri Widodo mewakili ahli waris Tukimin Karto Tiyoso

datang ke Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten untuk menyerahkan berkas pengaduan

ke Loket Pengaduan Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, yang berisi pengajuan

permohonan mediasi pembagian harta warisan Almarhum Tukimin Karto Tiyoso,

dengan Sertipikat Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen Luas 1.712 M² yang telah
23

diatasnamakan Sdr. Sumad dan mohon penangguhan jual beli tanah tersebut sampai

ada keputusan mediasi. Berkas pengaduan yang dilampirkan Sri Widodo antara lain:

a) Surat Permohonan Mediasi Pembagian Hak Warisan

b) Fotokopi KTP dan KK

c) Fotokopi Surat Keterangan Warisan (SKW)

d) Fotokopi Surat Kematian Alm. Tukimin Karto Tiyoso

e) Fotokopi Surat Kematian Almh. Suminem (istri)

f) Fotokopi Surat Kematian Almh. Sumirah (anak ke 1)

g) Fotokopi Surat Kematian Almh. Suparti (anak ke 3)

h) Fotokopi Surat Kematian Almh. Suki (anak ke 5)

i) Fotokopi Sertipikat Hak Milik No. 1053/ Desa Kepanjen

Berkas Pengaduan tersebut kemudian diteruskan kepada Kepala Kantor Pertanahan

untuk mendapatkan disposisi. Setelah mendapat disposisi dari Kepala Kantor

Pertanahan untuk menindaklanjuti sengketa tersebut, maka pihak Tata Usaha

meneruskan ke Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP),

kemudian Petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP)

menuliskan pada lembar formulir penerimaan pengaduan yang berisi tentang

keterangan objek tanah yang bersengketa, identitas pengadu, uraian singkat kasus, data

yang terlampir serta tanda tangan pihak pengadu dan penerima pengadu. Setelah itu

petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) melakukan

pengumpulan data dan menganalisa kasus tersebut.

Dalam rangka penyelesaian sengketa pertanahan Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen

maka Kepala Kantor Pertanahan membuatkan surat tugas untuk melaksanakan


24

pemeriksaan lapangan sengketa terhadap objek sengketa tanah tersebut, dengan nomor

surat: 369/ST-33.10.100-MP.02.01/IX/2019 dengan atas dasar surat permohonan

mediasi yang diajukan oleh Sdr. Sri Widodo. Petugas yang melaksanakan Pemeriksaan

Lapangan Sengketa, yaitu:

1. Sutikno, [Link]., selaku Kepala Sub Seksi Penanganan Sengketa. Konflik dan

Perkara;

2. Kardiyono, selaku Pengelola Data Pengendalian Pertanahan.

Setelah dilaksanakan Pemeriksaan Lapangan, pada tanggal 29 Agustus 2019 pihak

kantor pertanahan mengirimkan surat undangan mediasi yang ditujukan kepada Sri

Widodo dan para ahli waris serta Kepala Desa Kepanjen.

Tim Mediator dalam pelaksanaan mediasi ini, yaitu:

1. Suharlan, S.H, selaku Kepala Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian

Pertanahan (PMPP);

2. Sutikno, [Link]., selaku Kepala Sub Seksi Penanganan Sengketa. Konflik dan

Perkara.

Pada saat pelaksanaan mediasi Sri Widodo menerangkan sengketa yang terjadi

merupakan harta warisan dari Alm. Tukimin Karto Tiyoso dengan Almh. Suminem,

serta menerangkan siapa saja yang menjadi ahli waris dari tanah tersebut. Namun

tanah Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen akan dijual oleh Sdr. Sumad ke Pihak lain

tanpa sepertujun Sri Widodo. Hal tersebut membuat ahli waris lainnya merasa

dirugikan, sehingga Sri Widodo menginginkan tanah tersebut untuk dibagi.

Berhubungan dengan hal tersebut maka hasil dari mediasi ini adalah kedua belah pihak

sepakat untuk menjual tanah Sertipikat Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen, dan hasil
25

penjualannya akan dibagi dengan cara sebagai berikut:

1. 2/3 hasil penjualan akan diberikan kepada Sdr. Sumad

2. 1/3 hasil penjualan akan diberikan kepada ahli waris anak perempuan dari Alm.

Tukimin Karto Tiyoso.

Pelaksanaan mediasi dalam kasus ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dari

para pihak. Hasil kesepakatan ini nantinya akan dibawa ke Notaris/PPAT setempat

untuk dinotariilkan agar mempunyai kekuatan hukum yang pasti. Dalam berita acara

ini telah disepakati bersama dengan tanda tangan Para pihak, Saksi dan Tim Mediator

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten.

2. Kasus Sengketa Tanah Sertipikat Hak Milik No. 893, Hak Milik No. 894 dan Hak

Milik 547/Desa Krajan, Kecamatan Kalikotes, Kabupaten Klaten.

Kasus sengketa ini terjadi antara Sutarno, dan kawan-kawan (dkk) dengan Teguh

Widodo, kawan-kawan (dkk). Pada tanggal 30 Juli 2020 Sutarno selaku Pihak

Pengadu datang ke Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten untuk mengajukan

permohonan penetapan ahli waris dan permohonan mediasi ke Loket Pengaduan

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, dengan membawa data yang dilampirkan yaitu:

1. Fotokopi Kartu Keluarga (KK) dan e-KTP Pengadu (dilegalisir)

2. Fotokopi e-KTP para pengadu (dilegalisir)

3. Fotokopi Surat Keterangan Kematian Bp. Wongso Tiyoso Karsimin (dilegalisir)

4. Fotokopi Surat Keterangan Warisan (SKW) (dilegalisir)

5. Fotokopi Sertipikat tanah obyek sengketa SHM. No. 893, SHM. 894 dan SHM

No. 547.

Berkas Pengaduan tersebut kemudian diteruskan kepada Kepala Kantor Pertanahan


26

untuk mendapatkan disposisi. Setelah mendapat disposisi dari Kepala Kantor

Pertanahan untuk menindaklanjuti sengketa tersebut, maka pihak Tata Usaha

meneruskan ke Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP),

kemudian Petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP)

menuliskan pada lembar formulir penerimaan pengaduan yang berisi tentang

keterangan objek tanah yang bersengketa, identitas pengadu, uraian singkat kasus, data

yang terlampir serta tanda tangan pihak pengadu dan penerima pengadu. Setelah itu

petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) melakukan

pengumpulan data dan menganalisa kasus tersebut.

Tim Mediator dalam pelaksanaan mediasi ini, yaitu:

1. Suharlan, S.H, selaku Kepala Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian

Pertanahan (PMPP);

2. Sutikno, [Link]., selaku Kepala Sub Seksi Penanganan Sengketa. Konflik dan

Perkara.

Pelaksanaan mediasi pertama dilaksanakan pada tanggal 19 Agustus 2020, namun

belum tercapai kesepakatan. Mediasi kedua dilakukan pada tanggal 2 September 2020,

namun pihak teradu tidak menghadiri mediasi. Hingga pada tanggal 9 September 2020

dilaksanakan Kembali mediasi yang ketiga, namun tetap juga tidak tercapai

kesepakatan antara kedua belah pihak. Bahwa oleh karena mediasi yang dilakukan

tidak tercapai kesepakatan maka para pihak dipersilakan untuk menempuh jalur

lain/hukum. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan maka Kantor Pertanahan Kabupaten

Klaten membuat Surat pemberitahuan Penyelesaian Pekerjaan yang menyatakan

penanganan pengaduan sengketa tanah telah selesai.


27

Berdasarkan kasus diatas, dalam proses mediasi para pihak yang bersengketa

mempunyai peran yang aktif dalam menjajaki berbagai alternatif penyelesaian untuk

menetapkan hasil akhir dengan bantuan tim mediator yang bersifat netral dan berperan

untuk membantu tercapainya hal-hal yang disepakati bersama secara musyawarah mufakat.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan prosedur penyelesaian sengketa tanah secara mediasi di

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten antara lain sebagai berikut:

1. Berkas pengaduan ditujukan kepada Kepala Pertanahan secara tertulis yang

disampaikan melalui Loket Pengaduan. Surat pengaduan yang ditujukan kepada

Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten setidak-tidaknya memuat:

a) Identitas Pengadu, dengan mencantumkan nama lengkap dan alamat pengadu.

Apabila pengaduan dikuasakan, maka nama lengkap dan alamat penerima kuasa

juga harus dicantumkan.

b) Objek yang dipersengketakan, Objek yang dipersengketakan adalah keterangan

tanah yang menjadi objek sengketa berdasarkan tanda bukti

kepemilikikannya/penguasanya.

c) Posisi Kasus (legal standing), yang berisi uraian mengenai asal-usul objek yang

dipersengketakan mulai dasar perolehannya sampai dengan penyebab terjadinya

sengketa.

d) Maksud pengaduan, yang berisi tuntutan atau permintaan pengadu kepada

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten atas sengketa yang tengah dihadapi.

Selain membuat surat pengaduan, pengadu juga harus melampirkan Fotokopi Kartu

Tanda Penduduk (KTP) dan data pendukung yang terkait dengan pengaduan dapat

berupa:
28

a) Fotokopi sertipikat tanah

b) Bukti-bukti dasar pengaduan, seperti:

1) Akta jual beli dan kuintansi pembayaran apabila sengketa tersebut

disebabkan adanya jual beli sebelumnya

2) Surat keterangan ahli waris apabila objek sengketa tersebut berupa tanah

harta warisan

3) Surat perjanjian lainnya

4) Fotokopi slip pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, tidak harus namun

sering dilampirkan dalam surat pengaduan kasus pertanahan

2. Apabila berkas pengaduan telah memenuhi syarat tersebut, petugas menyampaikan

berkas pengaduan kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam administrasi surat

menyurat yaitu Bagian Tata Usaha. Sedangkan, dalam hal berkas pengaduan tidak

memenuhi syarat, maka petugas mengembalikan berkas pengaduan kepada pihak

pengadu dengan memberitahukan kekuranglengkapan berkas pengaduan secara

tertulis. Apabila alamat tidak lengkap, maka petugas loket pengaduan meminta agar

mencatumkan nomor telepon agar bisa dihubungi untuk menyampaikan informasi.

3. Untuk mempersingkat waktu setelah berkas diterima, Petugas Loket Pengaduan

memanggil petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan

(PMPP) untuk bertemu dengan pihak pengadu, lalu pihak pengadu diminta untuk

menjelaskan secara lisan tentang masalah yang sedang terjadi. Setelah menganalisa

kasus tersebut maka dapat diketahui kasus tersebut merupakan kewenangan

Kementerian atau bukan kewenangan Kementerian. Jika merupakan kewenangan

Kementerian maka akan dijelaskan prosedurnya, sedangkan jika bukan merupakan


29

kewenangan Kementerian maka akan ditawarkan proses mediasi dan penentuan

tanggal mediasi.

4. Dalam hal pengaduan tersebut diterima, maka setelah pengaduan diterima, petugas

Tata Usaha mengarsipkan dalam buku surat masuk agar tertib administrasi,

kemudian menyampaikan surat pengaduan tersebut kepada Kepala Kantor

Pertanahan untuk mendapatkan disposisi. Disposisi yang diberikan Kepala Kantor

biasanya langsung mengarah kepada Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian

Pertanahan (PMPP) dengan perintah untuk segera melaksanakan tugas penyelesaian

sengketa tanah tersebut. Surat pengaduan dan lembar disposisi kemudian diberikan

kepada Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP). Setelah

menerima berkas pengaduan dan disposisi, Petugas Seksi Penanganan Masalah dan

Pengendalian Pertanahan (PMPP) mengadministrasikan pengaduan tersebut ke

dalam Register Penerimaan Pengaduan;

5. Kemudian Petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan

(PMPP) melakukan kegiatan pengumpulan data dan analisis. Pengumpulan data

tersebut berupa:

a) Data fisik dan data yuridis;

b) Data yang terkait dan dapat mempengaruhi serta memperjelas duduk persoalan

sengketa pertanahan

c) Keterangan saksi

6. Setelah menganalisa, Kantor Pertanahan melalui Seksi Penanganan Masalah dan

Pengendalian Pertanahan (PMPP) memberikan surat undangan kepada para pihak

(pihak pengadu dan pihak teradu) sesuai dengan kesepakatan untuk menghadiri
30

pelaksanaan mediasi dengan menghadirkan saksi-saksi yang diperlukan meliputi

Camat, Kepala Desa/Lurah, Kepala Dukuh, Ketua Rukun Warga, dan/atau Ketua

Rukun Tetangga. Hal ini dikarenakan pihak-pihak tersebut lebih mengetahui asal-

usul maupun keadaan fisik dari objek yang dipersengketakan. dan membawa

berkas-berkas yang berkaitan dengan kasus sengketa tanah tersebut;

7. Setelah mencapai kesepakatan dengan jalur mediasi, maka Seksi Penanganan

Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) membuatkan berita acara telah

terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Namun apabila ada pihak yang tidak

hadir maka dipanggil 3 (tiga) kali berturut-turut secara patut dan jika tetap tidak

hadir, maka mediasi akan tetap dilaksanakan dan pimpinan akan langsung

menetapkan bahwa mediasi tidak berhasil kemudian dibuatkan Surat

Pemberitahuan Penyelesaian Pekerjaan. Selanjutnya kepada pihak

pemohon/pengadu akan diberikan surat penjelasan bahwasannya mediasi tidak

dapat dilaksanakan dikarenakan ketidakhadiran pihak. Sedangkan apabila dalam

pelaksanaan mediasi tidak terjadi kesepakatan antara para pihak maka mediator

menyerahkan kepada pemohon untuk melakukan mediasi di luar Kantor

Pertanahan. Dalam hal tidak terjadinya kesepakatan antara kedua belah pihak yang

bersengketa pada saat mediasi, Kantor Pertanahan membuatkan Surat

Pemberitahuan Penyelesaian Pekerjaan yang menerangkan bahwa mediasi telah

dilaksanakan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten namun tidak ada

kesepakatan dan akan diselesaikan di luar Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten.

Berita acara mediasi tersebut memuat pokok masalah, kronologi, uraian masalah

dan hasil mediasi.


31

Berita acara dalam penyelesaian sengketa pertanahan di Kantor Pertanahan Kabupaten

Klaten ini merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dan mengikat para pihak yang

bersengketa serta bersifat final dalam artian sudah selesai mediasi melalui proses

penyelesaian sengketa pertanahan di kantor pertanahan sehingga tidak mempunyai

kekuatan hukum. Agar mempunyai kekuatan hukum yang pasti maka dibawa ke Kantor

Notaris/PPAT setempat untuk dinotariilkan. Proses penyelesaian sengketa tanah ini tim

mediator bersifat netral. Hasil dari berita acara mediasi tidak ada kontrol dari tim mediator

untuk para pihak melaksanakan sesuai dengan hasil yang tertuang di berita acara, hal

tersebut dikarenakan kewengan tim mediator hanya sebatas pada saat pelaksanaan mediasi

hingga selesai dengan dikeluarkannya berita acara, untuk hasil mediasi diserahkan kepada

para pihak untuk dilaksanakan atau tidak di kemudian hari. Namun dalam hal sengketa

yang berdampak luas Kantor Pertanahan berkepentingan untuk melakukan pemantauan

mengenai perkembangan hasil mediasi tersebut. Berdasarkan wawancara dengan Bapak

Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor

Pertanahan Kabupaten Klaten, pada tanggal 5 Januari 2021, selama ini pada Kantor

Pertanahan Kabupaten Klaten belum pernah ditemui kasus yang berdampak luas (Konflik),

hanya lebih kepada individu dengan individu.

Dari uraian perbandingan proses pelaksanaan mediasi dapat disimpulkan adanya

perbedaaan proses pelaksanaan mediasi antara Peraturan Menteri Agraria dan Tata

Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016

tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan dengan pelaksanaan mediasi di Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten terletak pada pelaksanaan surat menyurat balasan kepada pihak pengadu

setelah berkas itu diterima dan dilakukan analisa berkas untuk mengetahui sengketa
32

tersebut merupakan kewenangan atau bukan kewenangan.

Pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional

Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan apabila

Sengketa dan Konflik bukan kewenangan Kementerian, maka pejabat yang bertanggung

jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara menyampaikan penjelasan secara

tertulis kepada pihak pengadu. Penjelasan sebagaimana dimaksud memuat pernyataan

bahwa penyelesaian Sengketa dan Konflik diserahkan kepada pihak pengadu. Sedangkan

dalam penerapan di Kantor Pertanahan proses tersebut tidak dilaksanakan, maka pada saat

penyampaian berkas pengaduan, Pihak Pengadu bertemu secara pribadi untuk

menyampaikan informasi-informasi tentang pengaduan tersebut kepada Petugas

Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) agar mempersingkat waktu

dengan tidak mengirimkan surat setelah analisa untuk penyampaian hasil analisis kasus dan

Pihak Kantor Pertanahan tidak menunggu kembali untuk memperoleh surat balasan dari

para pihak. Hal tersebut dikarenakan proses mediasi sesusai dengan Standar Operasional

Pelayanan (SOP) hanya 30 (tiga puluh) hari, yang secara tegas tercantum dalam Pasal 38

ayat (2) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional

Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan.

4.2.2 Faktor Penghambat Keberhasilan Dalam Pelaksaan Mediasi Sengketa Tanah

Hak Milik Oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten

Sesuai dengan Peraturan Agraria dan Tata Ruang dengan Standar Operasional

Pelayanan (SOP) mediasi yang harus selesai dilaksanakan 30 (tiga puluh) hari, oleh karena

itu, semua berkas pengaduan dan permohonan mediasi yang masuk pada Kantor Pertanahan

setiap tahunnya dapat diselesaikan, sehingga tidak ada berkas tunggakan setiap tahunnya.
33

Namun secara teknis, peraturan tidak dapat dilakukan secara keseluruhan di lapangan karena

adanya kendala di lapangan.

Menurut penelitian Rayi dan Suwondo (2021:173) di Kantor Pertanahan Kabupaten

Rembang, faktor-faktor penghambat dalam penyelesaian sengketa ada dua faktor yaitu

faktor internal meliputi masalah sumber daya manusia, masalah ketersediaan anggaran,

masalah sarana prasarana, dan faktor eksternal meliputi masalah kesadaran masyarakat.

Berbeda dengan di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, faktor-faktor yang menjadi

hambatan dalam penyelesaian sengketa-sengketa pertanahan di Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten yang terjadi berdasarkan kasus yang sudah dibahas tersebut, antara lain

tidak tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak, mediasi kedua pihak teradu tidak

menghadiri mediasi, dan mediasi ketiga tidak tercapai kesepakatan.

Selain faktor yang menjadi hambatan berdasarkan kasus yang telah dibahas tersebut,

terdapat pula faktor-faktor lain yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan mediasi, yaitu

alamat surat menyurat yang tidak lengkap baik pihak pengadu maupun pihak teradu,

sehingga pihak Kantor Pertanahan tidak bisa memanggil untuk pelaksanaan mediasi. Pihak

pengadu ataupun teradu yang tidak datang pada saat mediasi dianggap kasus tersebut tidak

pernah masuk, tetapi permohonan kasus sengketa tersebut tetap ada sebagai register

penerimaan pengaduan di Kantor Pertanahan. Selain itu, berdasarkan wawancara dengan

Bapak Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan

Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, pada tanggal 5 Januari 2021, seringnya masing-

masing para pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggap benar, padahal itu belum

tentu benar, dan terkadang sampai hampir terjadi adu fisik karena terlalu mementingkan

emosi tidak mendengarkan mediator serta tidak bisa mengontrol emosi.


34

Selain hambatan dari para pihak, ada kendala internal pula dari Kantor Pertanahan

Kabupaten Klaten sendiri yaitu kurangnya Staff Seksi Penanganan Masalah dan

Pengendalian Pertanahan (PMPP). Tugas dari Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian

Pertanahan (PMPP) tidak hanya menyediakan pelayanan sebatas melakukan mediasi

sengketa pertanahan. Selain menangani penyelesaian sengketa pertanahan, petugas Seksi

Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) juga kerap digugat secara

perdata maupun secara tata usaha negara. Apabila hal tersebut terjadi, maka yang menjadi

kuasa hukum di Pengadilan mewakili Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten adalah Staff

Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP). Banyaknya pekerjaan

yang harus dilakukan oleh petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan

(PMPP) Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten tidak diimbangi dengan jumlah staff yang

melaksanakannya sehingga dapat memperlambat pelayanan penyelesaian sengketa

pertanahan di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten. Hambatan-hambatan yang ada tersebut

dapat diminimalisir oleh petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan

(PMPP), hal tersebut dikarenakan Sumber Daya Manusia (SDM) para pegawai yang

berkualitas dan mempunyai pendidikan yang sesuai dengan bidangnya, sehingga segala

persoalan dapat ditangani dengan kepala dingin sehingga selalu mendapatkan solusi yang

baik pula.

Adapun dari berbagai faktor penghambat dalam proses mediasi berdasarkan kasus yang

telah dibahas diatas dikarenakan para pihak yang tidak datang, maka akan dipanggil kembali

sampai 3 (tiga) kali panggilan. Apabila sampai 3 (tiga) kali tidak datang, akan dibuatkan

berita acara yang hanya ditandatangangi oleh pihak yang hadir saja, dan dianggap tidak

terlaksananya mediasi, sehingga mediasi dianggap batal. Dan apabila pihak pengadu datang
35

setelah panggilan terakhir (setelah 3 kali panggilan) dan sudah dibuatkan berita acara, maka

pihak pengadu diwajibkan untuk membuat surat pengaduan yang baru. Apabila ada alamat

yang tidak sesuai, maka Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten dapat memanggil melalui

telepon atau mengirimkan surat yang dialamatkan ke Kantor Desa sesuai objek tanah pihak

pengadu, sehingga petugas Kantor Desa akan membantu mencarikan alamat pihak pengadu

untuk memanggil pihak tersebut untuk mediasi di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten.

Selain itu jika pengadu datang sendiri membawa suratnya, maka pihak loket pengaduan akan

meminta nomor telepon Pihak Pengadu dan Identitas serta alamat surat menyurat yang

lengkap. Dalam hal masing-masing para pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggap

benar padahal itu belum tentu benar, maka petugas mediator dalam hal ini adalah Aparatur

Sipil Negara (ASN) Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP)

dalam memimpin mediasi bersikap lebih tegas dan menyampaikan aturan-aturan yang

selama proses mediasi berlangsung baik itu mengenai hak jawab masing-masing pihak, serta

menekankan bahwa tujuan mediasi itu adalah mencari titik temu, titik tengah, dan

kesepakatan dari para pihak untuk mencapai satu kata yaitu mufakat. Dikarenakan para

pihak sudah sepakat untuk menempuh jalur mediasi di Kantor Pertanahan sehingga mereka

harus tunduk dengan Peraturan dan tata tertib yang disampaikan Tim Mediator. Namun

apabila mereka masih bersikukuh mempertahankan pendapatnya, maka Pihak Mediator akan

menghentikan mediasi dan menyerahkan keputusan kepada Para Pihak untuk menyelesaikan

sengketa tersebut dengan jalur di luar mediasi Kantor Pertanahan. Meskipun diselesaikan di

luar Kantor Pertanahan, Tim Mediator membuatkan surat pemberitahuan penyelesaian

pekerjaan sebagai hasil dari mediasi, yang menerangkan bahwa mediasi tidak menghasilkan

kata sepakat (perdamaian) dan mengembalikan sepenuhnya kepada Para Pihak untuk
36

menyelesaikan permasalahan di luar jalur mediasi Kantor Pertanahan.

Anda mungkin juga menyukai