Sengketa Pertanahan di Klaten 2020
Sengketa Pertanahan di Klaten 2020
BAB IV
menjadi 391 desa dan 10 kelurahan. Wilayah kecamatan Kemalang merupakan wilayah
terluas yaitu 5,166 Ha dan wilayah terkecil adalah kecamatan Klaten Tengah seluas 0,890
Ha. Dengan luas wilayah Kabupaten Klaten sebesar 65.556 Ha maka jumlah bidang tanah
mencakup ± 655.955 bidang tanah. Adapun jumlah bidang tanah yang sudah bersertipikat
sebanyak 629.328 bidang (95,94%). Dan jumlah bidang tanah yang belum terdaftar
sebanyak 26.627 bidang tanah (4,06%) dan jumlah bidang tanah yang sudah terpetakan
sebanyak 450.214 (71,54%). (Laporan Kinerja Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten Tahun
2019).
Kabupaten/Kota yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri
melalui Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional. Kantor Pertanahan Kabupaten
Klaten ini menempati tanah seluas ±2.580 M² dan bangunan dibagi 3 (tiga) lantai dengan
seluas ±1.980 M², dan terletak di Jalan Veteran No.88, Barenglor, Klaten Utara, Klaten,
Kabupaten Klaten mempunyai visi dan misi yang dilaksanakan pada Kantor Pertanahan
Kabupaten Klaten. Visi Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, yaitu “Terciptanya Perubahan
Menuju Pelayanan Prima”. Sedangkan Misi Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, yaitu:
profesional;
perkara pertanahan;
penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang mengacu pada tata ruang wilayah;
dokumen.
Adapun tujuan utama Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
adalah memastikan bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai
oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Untuk itu
berkelanjutan;
3) berkurangnya kasus tata ruang dan pertanahan (sengketa, konflik dan perkara).
2) program peningkatan sarana dan prasarana aparatur Kementerian Agraria dan Tata
Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten dipimpin oleh seorang Kepala Kantor Pertanahan.
Dalam melaksanakan tugasnya, Kepala Kantor Pertanahan dibantu oleh beberapa kepala
Dari berbagai sengketa pertanahan yang ada di Kabupaten Klaten, jenis-jenis sengketa
yang biasanya diselesaikan melalui mediasi pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten
adalah Sengketa Waris, Sengketa Batas Tanah, Sengketa Jual Beli, Sengketa Hak Milik,
Sengketa Kepemilikan dan Penguasaan Atas Tanah serta Sengketa Lainnya. Berdasarkan
data yang berhasil dikumpulkan pada arsip register penyelesaian sengketa pertanahan di
Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, pada tahun 2020 jumlah kasus sengketa tanah yang
ditangani Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten adalah 16 kasus, dengan jumlah kasus
sebagai berikut:
1. SHM No. 392/Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Luas 1.955 M², SHM No. 393/
Desa Gempol, Kecamatan Karanganom, Luas 1.740 M², Pelapor Wiwit Nur Hidayati,
terlapor: Badrun dan Siti Aminah, dengan tipologi sengketa yaitu sengketa
kepemilikan. Pokok sengketa tersebut yaitu Sdri. Wiwit Nur Hidayati melaporkan
5
sertipikat bidang tanah atas nama ayahnya yaitu SHM No. 392/Gempol dan SHM No.
393/Gempol atas nama Sukemi yang telah hilang, ketika akan mengurus penerbitan
sertipikat pengganti, ternyata sertipikat tersebut diblokir oleh Sdr. Badrun. Bahwa
dengan kesepakatan SHM No. 392/Gempol dan SHM No. 393/Gempol dibagi 3
(Sukemi, Siti Aminah dan Badrun). Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah
2. SHM No. 182/Desa Sumber, Kecamatan Trucuk, Luas 2.090 M², SHM No. 183/ Desa
Sumber, Kecamatan Trucuk, Luas 2.390 M², SHM No. 184/ Desa Sumber, Kecamatan
Trucuk, Luas 555 M², pelapor atas nama Jaminem dan terlapor yaitu para Ahli Waris
Pokok sengketa tersenut ahwa Ny. Jaminem mengaku merupakan ahli waris yang sah
dari pemilik bidang tanah C No. 550 Desa Sumber, Kec. Trucuk, Kab. Klaten. Bahwa
C No. 550 atas nama Paikem Pawiroinangun merupakan hibahan dari C No. 167 atas
merupakan ahli waris yang sah dari pemilik bidang tanah yaitu Somodikromo. Bahwa
bidang tanah tersebut saat ini sudah menjadi SHM No. 182, 183 dan 184/Sumber atas
mengambil jalur hukum. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan
dilaksanakan mediasi.
6
3. SHM No. 758/Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Luas 205 M², SHM No.
759/T Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Luas 203 M², SHM No. 760/
Desa Tanjungsari, Kecamatan Manisrenggo, Luas 204 M², dengan tipologi sengketa
yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Mardewi Saptaningtyas, dkk, dan
terlapor atas nama Ny. Sri Maryati, Ny. Sri Mulat, dan Ny. Sri Haryono. Pokok
sengketa yaitu bahwa para pelapor adalah anak dari Ahmat Daroji, semasa
perkawinan antara Ahmat Daroji dengan Supiah Jogoprayitno memperoleh tanah dan
dijual dan dipecah menjadi 3 yaitu: SHM No. 758/Tanjungsari atas nama Nyonya Sri
Maryati, SHM No. 759/Tanjungsari atas nama Nyonya Sri Mulat dan SHM No.
760/Tanjungsari atas nama Nyonya Sri Haryono. Bahwa kemudian para pelapor
(anak dari Ahmat Daroji) menuntut bagian terhadap tanah obyek sengketa.
4. SHM No. 1251/Desa Dlimas, Kecamatan Ceper, Luas 755 M², dengan tipologi
sengketa yaitu sengketa batas. Pelapor atas nama Samidi dan Terlapor atas nama
Wiyardi. Bahwa pelapor memiliki sebidang tanah SHM No. 1251/Dlimas seluas 755
M². Bahwa dari bidang tanah tersebut, sebagian diberikan untuk jalan selebar 1,5 M,
akan tetapi oleh pemilik sebelahnya yaitu terlapor bidang tanah yang diperuntukan
jalan tersebut diuruk dan dibangun talud. Pelapor meminta pengukuran ulang dan
kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi, serta telah dilaksanakan
5. SHM No. 308/Desa Pucang Miliran, Kecamatan Tulung dengan Luas 2.060 M²,
dengan tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Siti
Warsiatun, Alwi Masruri, S.T., Sri Wiyani, Nur Choiriyah, [Link]., Supriyadi, S.E.,
Arif Maskuri dan terlapor yaitu Kepala Desa Pucang Miliran. Bahwa Pelapor
merupakan ahli waris dari pemilik SHM No. 308 seluas 2.060 M² atas nama
Wiludjiyem Harsosumarto yang terletak di Desa Pucang Miliran, Kec. Tulung, Kab.
Klaten. Bahwa status tanah SHM No. 308/Pucang Miliran saat ini terjadi
pemblokiran dikerenakan telah terjadi tukar menukar dengan tanah kas desa milik
Harsosumarto SHM tersebut tidak pernah proses tukar menukar maupun jual beli.
Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah dengan kesimpulan bahwa pihak yang
6. SHM No. 251/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen Luas 1.525 M² dan SHM No.
252/Desa Ngawen, Kecamatan Ngawen Luas 1.965 M², dengan tipologi sengketa
yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor yaitu Nursalim (Cucu dari Alm. Singopawiro)
dan terlapor yaitu Sukri Rusdi (Anak Kandung Alm. Singopawiro); Munjayanah
(Cucu dari Alm. Singopawiro). Bahwa Alm. Singopawiro memiliki harta warisan
berupa :
a) Tanah Pertanian C Desa No. 273 Persil 186 Klas Ivb seluas ± 1.525 M², terletak di
b) Tanah Pertanian C Desa No. 273 Persil 138 Klas IIa seluas ± 1.965 M², terletak di
Dusu Sono, Desa Ngawen, Kec. Ngawen, Kab. Klaten, keduanya tertulis atas
nama Singopawiro
c) Tanah Non Pertanian C Desa No. 273 Persil 114p Klas III.d seluas ± 1.025 M²
Bahwa menurut daftar C desa kedua tanah pertanian tersebut terdaftar sebagai SHM
No. 251/Ngawen dan SHM No. 252/Ngawen. Bahwa sampai sekarang tanah tersebut
dikuasai oleh Terlapor, yang seharusnya tanah tersebut milik kami bersama ahli waris
dari Alm. Singopawiro. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai dan
7. SHM No. 614/Desa Glagah Wangi, Kecamatan Polanharjo, Luas 990 M², dengan
tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Gomo Tiyono,
Sriyanto,dan Subagyo, sedangkan terlapor atas nama Sujani dan Ngadinem. Bahwa
Pelapor adalah ahli waris Alm. Supono. Bahwa selama hidupnya Alm. Supono
menikah dengan Ibu Ngadinem Jogo Suwito, selama perkawinan tersebut tidak
mempunyai keturunan dan mengadopsi saudari Sujani (Tidak ada surat legalitas
adopsi anak). Bahwa Alm. Supono meninggalkan harta warisan berupa sebidang
tanah pekarangan dengan SHM No. 614/Glagah Wangi seluas 990 M². Karena
Pelapor sebagai ahli waris Alm Supono maka Pelapor menanyakan harta warisan
peninggalan tersebut kepada Sdri. Sujani. Bahwa menurut pengakuan Sdri. Sujani
harta warisan tersebut telah disertipikatkan atas nama Sujani setelah Alm. Supono
8. SHM No. 531/ Desa Kurung, Kecamatan Ceper Luas 2.240 M², SHM No. 647/ Desa
Kurung, Kecamatan Ceper Luas 1.775 M², dan SHM No. 764/ Desa Kurung,
Kecamatan Ceper Luas 1.950 M², dengan tipologi sengketa yaitu sengketa
kepemilikan. Pelapor atas nama Panut Setyo Nugroho, Hj. Ratminingsih, [Link],
sedangkan terlapor atas nama [Link] Suminah dan Soeradi Marhaentiyoso, BA.
K/Pdt/2009 Jo. No. 432 PK/Pdt/2020, akta perdamaian tersebut belum dilaksanakan
oleh para pihak sebagaimana mestinya. Bahwa pihak Pelapor telah kooperatif untuk
Klaten, namun dari pihak terlapor sampai sekarang belum menunjukan itikad baik
9. SHM No. 580/ Desa Pundungan, Kecamatan Juwiring, Luas 995 M², dengan tipologi
sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Saelan sedangka terlapor
yaitu Sujinah, Tri Indrawati, dan Ali Suratman. Bahwa Saelan adalah salah satu
ahliwaris dari pemilik tanah SHM No. 580/Pundungan atas nama Sadi Djojomartono.
Bahwa diatas bidang tanah tersebut telah ditinggali oleh 3 keluarga yaitu para
Terlapor. Bahwa sebelumnya telah diadakan mediasi di Desa dan terjadi kesepakatan
akan diadakan proses jual-beli terhadap bidang tanah tersebut sesuai luas tanah yang
10
ditepati. Bahwa sampai dengan saat ini belum terjadi transaksi jual-beli tersebut.
10. SHM No. 893/Desa Krajan, Keacamatan Kalikotes Luas 1.128 M² , SHM No. 894/
Desa Krajan, Keacamatan Kalikotes Luas 1.172 M², dengan tipologi sengketa yaitu
sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Sutarno, Jumini, Suparman dan Sarmini,
sedangkan terlapor yaitu Teguh Widodo, Sugiyem, Sumarmi dan Marinten. Bahwa
Para Pelapor adalah ahli waris dari Alm. Karsimin Wongso Tiyoso dari pernikahan
kedua dengan Mbok Paiyem Rejo [Link] Para Terlapor adalah ahli waris dari
Alm. Karsimin Wongso Tiyoso dari pernikahan pertama dengan Mbok Wongso
Tiyoso Wiji. Bahwa tanah obyek sengketa tersebut yang seharusnya dibagi dengan
Para Pelapor sampai saat ini di kuasai oleh Para Terlapor. Perkembangan penyelesaian
kasus tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat
11. SHM No.42/Desa Gunting, Kecamatan Wonosari, Luas 2.410 M² dan SHM No.43/
Desa Gunting, Kecamatan Wonosari, Luas 2.820 M², dengan tipologi sengketa yaitu
sengketa kepemilikan. Pelapor : Aditya Dimas Pradana & Rekan (selaku kuasa hukum
Wito Diharjo), Wito Diharjo, dan terlapor : Sriyono; Sadiyem; Suparti. Bahwa semasa
hidupnya Simin Wongso Semito menikah sebanyak 2 kali. Dari pernikahan pertama
memiliki 3 orang anak yaitu Sinem, Samin dan Sabar. Dari pernikahan kedua memiliki
1 orang anak yaitu Wito Diharjo. Sepeninggal Simin Wongso Semito meninggalkan
harta warisan berupa tanah pekarangan dan tanah sawah. Untuk tanah pekarangan
telah dibagi rata kepada 4 orang ahli warisnya. Untuk tanah sawah dinamakan Samin
11
selaku anak laki-laki pertama. Bahwa oleh ahli waris Samin (Para Terlapor) tanah
sawah tersebut dikuasai dan ahli waris lain darn Alm. Simin Wongso Semito hanya
diberi hak untuk mengolah seumur hidup. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut
sudah selesai dan dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah
dengan kesimpulan bahwa pihak yang bersengketa akan mengambil jalur hukum
12. SHM No. 1273/ Desa Kuncen, Kecamatan Ceper, Luas 648 M², dengan tipologi
sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Aluisius Punta Winadi dan
Sariyatun dan terlapor atas nama Sri Lestiyananingsih. Bahwa pihak Pelapor
menyatakan keberatan dan untuk diberhentikan peralihan jual-beli tanah atas nama Sri
berumur 10 tahun. Bahwa tanah tersebut dijual oleh suami Sri Lestiyananingsih untuk
membeli tanah yang akan di atas namakan anaknya. Perkembangan penyelesaian kasus
tersebut sudah selesai dan dilaksanakan mediasi. Telah dibuatkan surat penyelesaian
pekerjaan karena obyek sengketa terletak dalam IPL proyek pembangunan jalan Tol
Jogja-Solo
13. SHM No. 312/ Desa Sentono, Kecamatan Karangdowo, Luas 2.115 M², dengan
tipologi sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Surawan dan terlapor
atas nama Suyatmi dan Taufik Yudanto selaku Kuasa dari Sarmiatun. Bahwa Surawan
telah membeli SHM No. 312/Sentono dari Suyatmi. Bahwa ditengah perjalanan
sertipikat tanah tersebut di pinjam oleh Suyatmi dengan alasan untuk dicarikan
dijual kepada pihak ketiga. Perkembangan penyelesaian kasus tersebut sudah selesai
14. SHM No. 177/ DesaTlogo, Kecamatan Prambanan, Luas 1.995 M², dengan tipologi
sengketa yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Tri Jaka Waluya dan Terlapor
atas nama Purwanta, S.E. Bahwa SHM No. 177/Tlogo semula atas nama
Rantowiyono. Bahwa pelapor adalah ahli waris Bapak Rantowiyono. Bahwa SHM No.
177/Tlogo telah beralih menjadi atas nama Purwanto, S.E. berdasarkan surat
keterangan waris tanggal 29-10-2019 yang dibuat oleh para ahli waris. Bahwa pelapor
Telah dibuatkan surat penyelesaian masalah dengan kesimpulan bahwa pihak yang
15. SHM No. 3031/Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Luas 7.332 M² dan SHM No. 3145/
Desa Troketon, Kecamatan Pedan, Luas 7.000 M², dengan tipologi sengketa yaitu
sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Sudiyani dan terlapor atas nama Ny. Padmo
Sumanto, Siswo Hartono, Sugino Alm, Ny. Hartini, Suwarni, Suparman dan Karso
Mulyo Suratman. Bahwa sebagian tanah SHM No. 3031/Troketon diakui menjadi
SHM No. 3145/Troketon. Bahwa telah diadakan mediasi di Desa, tetapi tidak berhasil.
16. C. 269 Desa Tanjungan, Kecamatan Wedi, Luas 2.355 M², dengan tipologi sengketa
yaitu sengketa kepemilikan. Pelapor atas nama Sukiman dan terlapor atas nama
Suwagino bin Suwiyono. Bahwa Bapak Swagno bin Suwiyono telah menguasai sawah
yang sudah dibeli oleh Bapak Danu Sumarto Bahwa jual beli tersebut dilaksanakan
dengan perjanjian jual beli Bahwa pelapor adalah ahli waris dari Bapak Danu Sumarto.
Perkembangan penyelesaian kasus ini yaitu sudah dilaksanakan mediasi namun nelum
selesai.
13
4.2. Pembahasan
4.2.1 Pelaksanaan Penyelesaian Sengketa Tanah Hak Milik Melalui Jalur Mediasi Oleh
Dalam teori penyelesaian sengketa terdapat dua peneyelesaian, yaitu litigasi dan non
litigasi. Mediasi merupakan salah satu penyelesaian sengketa tanah non litigasi, Mediasi
juga dapat diartikan sebagai upaya penyelesaian sengketa para pihak dengan kesepakatan
bersama melalui mediator yang bersikap netral, dan tidak membuat keputusan atau
kesimpulan bagi para pihak tetapi menunjang fasilitator untuk terlaksananya dialog antar
pihak dengan suasana keterbukaan, kejujuran, dan tukar pendapat untuk tercapainya mufakat
(Susanti Adi Nugroho, 2009:21). Fungsi mediator dalam penyelesaian sengketa pertanahan
Berbagai sengketa pertanahan harus segera diselesaikan, agar terjaga hubungan hak
dan kewajiban antar subjek hukumnya. (Mulyana, 2019:181). Untuk meningkatkan tingkat
efektivitas perlu adanya alternatif untuk meminimalisir kendala yang muncul pada saat
peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar utama, yaitu Peraturan Menteri Agraria
dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 21 Tahun
penggunaan dan pemanfaatan tanah. Penanganan sengketa yang masuk pada Kantor
Pertanahan (PMPP).
usulan pembatalan hak atas tanah berdasarkan putusan pengadilan atau hasil
perdamaian;
d. pelaksanaan penelitian data dan penyiapan usulan serta rekomendasi penertiban dan
serta analisis dan penyiapan usulan pembatalan hak atas tanah berdasarkan putusan
pemanfaatan pertanahan dan pelaksanaan penelitian data dan penyiapan usulan serta
pelaporan.
Aparatur Sipil Negara (ASN) Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten yaitu petugas dari Seksi
Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP). Hal tersebut sessuai dengan
Pasal 39 ayat (1) huruf c Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan
Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus
Peran Mediator Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten pada sengketa pertanahan ini
bersifat sebagai pihak yang pasif yaitu bersifat menunggu/menerima pengaduan, hanya
melakukan mediasi jika ada pengaduan yang masuk saja, tetapi dalam memberikan hasil
analisa dan mengundang para pihak inilah menjadi bersifat aktif. Hal tersebut dikarenakan
dengan adanya Standar Operasional Pelayanan (SOP) yang hanya diberikan waktu 30 (tiga
puluh) hari dan sebagai Kantor Pelayanan Publik harus mematuhi Standar Operasional
Peran BPN dalam penyelesaian kasus pertanahan dengan cara bertindak sebagai
mediator bermula dari pengaturan Angka 2 bag. II. Penggolongan, Petunjuk Teknis Nomor
Badan Pertanahan Nasional No: 34 Tahun 2007 tentang Petunjuk Teknis Penanganan dan
16
yang ditunjuk dari jajaran Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia yang
Ketentuan diatas diperkuat berdasarkan pendapat akademik Rosiana dan Junaidi Tarigan
dalam Jurnal Rechten: Riset Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Vol.4/No.2/2022. Artikel
Intinya, BPN dapat bertindak sebagai mediator dalam penanganan dan penyelesaian
Mediasi dengan BPN bertindak sebagai mediator bisa meminimalkan biaya sekaligus
memberikan kepastian hukum. Kepastian hukum dapat terjamin jika para pihak dalam
didapat dari hasil mediasi lalu dituangkan dalam bentuk akta/surat tertulis. Selanjutnya
Ketentuan ini berdasarkan Pasal 44 ayat 5 Peraturan Menteri Agraria dan Tata
Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional No.21 Tahun 2020 tentang Penanganan dan
Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, tanggal 5 Januari
2021. Untuk mengetahui berkas yang masuk tersebut merupakan kewenangan Kementerian
atau bukan kewenangan Kementerian, dapat diketahui setelah berkas pengaduan diterima
dan Petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) melakukan
pengumpulan data dan menganalisa berkas pengaduan tersebut. Lalu Kantor Pertanahan
17
petugas akan menawarkan kepada Pihak Pengadu apakah akan tetap dilakukan mediasi di
Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten atau diluar Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten.
Pengendalian Pertanahan pada Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten pada tanggal 5 Januari
2021, permohonan pengaduan yang masuk ini dikarenakan sertipikat tanah tidak bisa
menjamin permasalahan yang berkaitan dengan pertanahan selesai, tetapi paling tidak
sengketa tanah di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten. Karena prinsip sertipikat itu bukan
mutlak tapi kuat dalam artian dimana ada pihak yang mempunyai bukti tanda kepemilikan
yang benar dan dibuktikan dengan alat bukti yang telah diperiksa di pengadilan maka
sertpikat itu dapat dibatalkan, sedangkan arti kuat adalah sertipikat merupakan alas bukti hak
yang paling tinggi kedudukannya diantara alas hak tanah lainnya (Letter C, girik, dan lain-
mengenai masing-masing tipologi sengketa tersebut yang menyangkut sengketa atas tanah
waris ini terjadi apabila terdapat hak-hak dari satu atau beberapa ahli waris dilanggar,
dikurangi atau bahkan dihilangkan oleh ahli waris lainnya, selain itu dapat juga terjadi
karena masalah pembagian waris yang salah satu pihak mengklaim objek tanah sengketa
tersebut merupakan bagian dari hak warisnya padahal bisa jadi belum ada kesepakatan
18
pembagian waris. Hal ini serupa dengan sengketa kepemilikan, kasus yang masuk biasanya
salah satu pihak mengklaim tanah tersebut merupakan tanah milik pihak tersebut, padahal
bukti kepemilikannya belum jelas, tetapi sengketa kepemilikan ini tidak alas haknya tidak
spesifik Hak Milik, bisa juga dari alas hak Letter C. Sedangkan sengketa Hak Milik lebih
Pada sengketa batas biasanya terjadi karena patok yang sebelumnya ditanam,
menimbulkan kerugian bagi pemilik tanah yang berbatasan. Sengketa jual beli biasanya
tentang wanprestasi, sebagai contoh kedua belah pihak sudah sepakat dengan harga jual beli
tapi setelah berjalannya waktu pihak yang membeli tidak melunasi atau membatalkan secara
sepihak, padahal sudah ada perikatan jual beli. Sebagai contoh sengketa kepenguasaan yang
pernah masuk di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten yaitu tanah kas desa yang dikuasai
oleh masyarakat, sedangkan sengketa lain-lain yang pernah masuk di Kantor Pertanahan
Kabupaten Klaten yaitu pengaduan dari masyarakat berkaitan dengan pungutan liar yang
dilakukan oleh oknum panitia yang dibentuk oleh pihak desa pada program nasional
Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor
Lengkap (PTSL) merupakan proses pendaftaran tanah untuk pertama kali yang dilakukan
secara serentak dan meliputi semua objek pendaftaran tanah yang belum pernah didaftarkan
di dalam suatu wilayah desa atau kelurahan. Selain itu menurut Bapak Sutikno selaku
Kabupaten Klaten. masalah pengaduan masyarakat pada proses pelayanan pendaftaran yang
19
tidak kunjung selesai, yang mana proses tersebut dijalankan oleh pihak notaris. Sengketa
tanah yang batal mediasi dikarenakan para pihak telah dipanggil 3 (tiga) kali namun tidak
memenuhi panggilan. Selain itu pengadu tidak menyertakan alamat surat menyurat yang
lengkap, sehingga dalam proses pengiriman surat undangan mediasi tidak sampai ke pihak
Proses pelaksanaan mediasi antara Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala
Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian
Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik
1. Pengaduan terkait Sengketa dan Konflik dari masyarakat yang disampaikan kepada
Kepala Kantor Pertanahan secara tertulis melalui loket pengaduan. Pengaduan tersebut
paling sedikit memuat identitas pengadu dan uraian singkat kasus serta harus dilampiri
dengan:
b) fotokopi identitas penerima kuasa dan surat kuasa apabila dikuasakan, serta
telah memenuhi syarat petugas menyampaikan berkas Pengaduan kepada pejabat yang
bertanggung jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara pada Kantor
Pertanahan.
20
3. Pengaduan yang telah memenuhi syarat diterima langsung melalui loket Pengaduan,
kepada pihak pengadu diberikan Surat Tanda Penerimaan Pengaduan. Dalam hal
4. Setelah menerima berkas Pengaduan dari petugas, pejabat yang bertanggung jawab
karena Setiap perkembangan penyelesaian Sengketa, Konflik dan Perkara harus dicatat
b) putusan peradilan, berita acara pemeriksaan dari Kepolisian Negara RI, Kejaksaan
RI, Komisi Pemberantasan Korupsi atau dokumen lainnya yang dikeluarkan oleh
d) data lainnya yang terkait dan dapat mempengaruhi serta memperjelas duduk
e) keterangan saksi.
21
6. Pejabat yang bertanggung jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara
a) validasi terhadap data yang kebenarannya dinyatakan oleh pejabat atau lembaga
b) permintaan keterangan saksi yang dituangkan dalam Berita Acara, dalam hal data
dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara pada Kantor Pertanahan melakukan
dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara melaporkan hasil pengumpulan data
dan hasil analisis kepada Kepala Kantor Pertanahan. Dalam hal Sengketa atau Konflik
pihak pengadu. Dalam hal salah satu pihak menolak untuk dilakukan Mediasi maka
perundang-undangan.
22
8. Apabila para pihak bersedia untuk dilakukan Mediasi, maka mediasi dilaksanakan
9. Dalam hal Mediasi tidak dapat dihadiri oleh salah satu pihak yang berselisih,
pelaksanaannya dapat ditunda agar semua pihak yang berselisih dapat hadir.
10. Apabila setelah diundang 3 (tiga) kali secara patut pihak yang berselisih tidak hadir
dalam Mediasi, maka Mediasi batal dan para pihak dipersilahkan menyelesaikan
Dari uraian diatas dapat dibandingkan dengan pelaksanaan mediasi di Kantor Pertanahan
Kabupaten Klaten. Dari beberapa kasus sengketa pertanahan yang masuk di Kantor
Pertanahan Kabupaten Klaten, berikut beberapa contoh kasus yang menjadi objek
penelitian:
1. Kasus Sengketa Tanah Sertipikat Hak Milik No. 1053 Desa Kepanjen,
Kasus sengketa ini terjadi antara Sri Widodo, dan kawan-kawan (dkk) dengan Sumad.
Objek sengketa ini adalah sebidang tanah Sertipikat Hak Milik No. 1053/Desa
Doctorandes Sumad.
Pada tanggal 23 Agustus 2019 Sri Widodo mewakili ahli waris Tukimin Karto Tiyoso
dengan Sertipikat Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen Luas 1.712 M² yang telah
23
diatasnamakan Sdr. Sumad dan mohon penangguhan jual beli tanah tersebut sampai
ada keputusan mediasi. Berkas pengaduan yang dilampirkan Sri Widodo antara lain:
keterangan objek tanah yang bersengketa, identitas pengadu, uraian singkat kasus, data
yang terlampir serta tanda tangan pihak pengadu dan penerima pengadu. Setelah itu
Dalam rangka penyelesaian sengketa pertanahan Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen
pemeriksaan lapangan sengketa terhadap objek sengketa tanah tersebut, dengan nomor
mediasi yang diajukan oleh Sdr. Sri Widodo. Petugas yang melaksanakan Pemeriksaan
1. Sutikno, [Link]., selaku Kepala Sub Seksi Penanganan Sengketa. Konflik dan
Perkara;
kantor pertanahan mengirimkan surat undangan mediasi yang ditujukan kepada Sri
Pertanahan (PMPP);
2. Sutikno, [Link]., selaku Kepala Sub Seksi Penanganan Sengketa. Konflik dan
Perkara.
Pada saat pelaksanaan mediasi Sri Widodo menerangkan sengketa yang terjadi
merupakan harta warisan dari Alm. Tukimin Karto Tiyoso dengan Almh. Suminem,
serta menerangkan siapa saja yang menjadi ahli waris dari tanah tersebut. Namun
tanah Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen akan dijual oleh Sdr. Sumad ke Pihak lain
tanpa sepertujun Sri Widodo. Hal tersebut membuat ahli waris lainnya merasa
Berhubungan dengan hal tersebut maka hasil dari mediasi ini adalah kedua belah pihak
sepakat untuk menjual tanah Sertipikat Hak Milik No. 1053/Desa Kepanjen, dan hasil
25
2. 1/3 hasil penjualan akan diberikan kepada ahli waris anak perempuan dari Alm.
Pelaksanaan mediasi dalam kasus ini berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan dari
para pihak. Hasil kesepakatan ini nantinya akan dibawa ke Notaris/PPAT setempat
untuk dinotariilkan agar mempunyai kekuatan hukum yang pasti. Dalam berita acara
ini telah disepakati bersama dengan tanda tangan Para pihak, Saksi dan Tim Mediator
2. Kasus Sengketa Tanah Sertipikat Hak Milik No. 893, Hak Milik No. 894 dan Hak
Kasus sengketa ini terjadi antara Sutarno, dan kawan-kawan (dkk) dengan Teguh
Widodo, kawan-kawan (dkk). Pada tanggal 30 Juli 2020 Sutarno selaku Pihak
Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, dengan membawa data yang dilampirkan yaitu:
5. Fotokopi Sertipikat tanah obyek sengketa SHM. No. 893, SHM. 894 dan SHM
No. 547.
keterangan objek tanah yang bersengketa, identitas pengadu, uraian singkat kasus, data
yang terlampir serta tanda tangan pihak pengadu dan penerima pengadu. Setelah itu
Pertanahan (PMPP);
2. Sutikno, [Link]., selaku Kepala Sub Seksi Penanganan Sengketa. Konflik dan
Perkara.
belum tercapai kesepakatan. Mediasi kedua dilakukan pada tanggal 2 September 2020,
namun pihak teradu tidak menghadiri mediasi. Hingga pada tanggal 9 September 2020
dilaksanakan Kembali mediasi yang ketiga, namun tetap juga tidak tercapai
kesepakatan antara kedua belah pihak. Bahwa oleh karena mediasi yang dilakukan
tidak tercapai kesepakatan maka para pihak dipersilakan untuk menempuh jalur
lain/hukum. Dalam hal tidak tercapai kesepakatan maka Kantor Pertanahan Kabupaten
Berdasarkan kasus diatas, dalam proses mediasi para pihak yang bersengketa
mempunyai peran yang aktif dalam menjajaki berbagai alternatif penyelesaian untuk
menetapkan hasil akhir dengan bantuan tim mediator yang bersifat netral dan berperan
untuk membantu tercapainya hal-hal yang disepakati bersama secara musyawarah mufakat.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan prosedur penyelesaian sengketa tanah secara mediasi di
Apabila pengaduan dikuasakan, maka nama lengkap dan alamat penerima kuasa
kepemilikikannya/penguasanya.
c) Posisi Kasus (legal standing), yang berisi uraian mengenai asal-usul objek yang
sengketa.
Selain membuat surat pengaduan, pengadu juga harus melampirkan Fotokopi Kartu
Tanda Penduduk (KTP) dan data pendukung yang terkait dengan pengaduan dapat
berupa:
28
2) Surat keterangan ahli waris apabila objek sengketa tersebut berupa tanah
harta warisan
4) Fotokopi slip pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan, tidak harus namun
berkas pengaduan kepada pejabat yang bertanggung jawab dalam administrasi surat
menyurat yaitu Bagian Tata Usaha. Sedangkan, dalam hal berkas pengaduan tidak
tertulis. Apabila alamat tidak lengkap, maka petugas loket pengaduan meminta agar
(PMPP) untuk bertemu dengan pihak pengadu, lalu pihak pengadu diminta untuk
menjelaskan secara lisan tentang masalah yang sedang terjadi. Setelah menganalisa
tanggal mediasi.
4. Dalam hal pengaduan tersebut diterima, maka setelah pengaduan diterima, petugas
Tata Usaha mengarsipkan dalam buku surat masuk agar tertib administrasi,
sengketa tanah tersebut. Surat pengaduan dan lembar disposisi kemudian diberikan
menerima berkas pengaduan dan disposisi, Petugas Seksi Penanganan Masalah dan
tersebut berupa:
b) Data yang terkait dan dapat mempengaruhi serta memperjelas duduk persoalan
sengketa pertanahan
c) Keterangan saksi
(pihak pengadu dan pihak teradu) sesuai dengan kesepakatan untuk menghadiri
30
Camat, Kepala Desa/Lurah, Kepala Dukuh, Ketua Rukun Warga, dan/atau Ketua
Rukun Tetangga. Hal ini dikarenakan pihak-pihak tersebut lebih mengetahui asal-
usul maupun keadaan fisik dari objek yang dipersengketakan. dan membawa
terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak. Namun apabila ada pihak yang tidak
hadir maka dipanggil 3 (tiga) kali berturut-turut secara patut dan jika tetap tidak
hadir, maka mediasi akan tetap dilaksanakan dan pimpinan akan langsung
pelaksanaan mediasi tidak terjadi kesepakatan antara para pihak maka mediator
Pertanahan. Dalam hal tidak terjadinya kesepakatan antara kedua belah pihak yang
Berita acara mediasi tersebut memuat pokok masalah, kronologi, uraian masalah
Klaten ini merupakan kesepakatan antara kedua belah pihak dan mengikat para pihak yang
bersengketa serta bersifat final dalam artian sudah selesai mediasi melalui proses
kekuatan hukum. Agar mempunyai kekuatan hukum yang pasti maka dibawa ke Kantor
Notaris/PPAT setempat untuk dinotariilkan. Proses penyelesaian sengketa tanah ini tim
mediator bersifat netral. Hasil dari berita acara mediasi tidak ada kontrol dari tim mediator
untuk para pihak melaksanakan sesuai dengan hasil yang tertuang di berita acara, hal
tersebut dikarenakan kewengan tim mediator hanya sebatas pada saat pelaksanaan mediasi
hingga selesai dengan dikeluarkannya berita acara, untuk hasil mediasi diserahkan kepada
para pihak untuk dilaksanakan atau tidak di kemudian hari. Namun dalam hal sengketa
Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan Kantor
Pertanahan Kabupaten Klaten, pada tanggal 5 Januari 2021, selama ini pada Kantor
Pertanahan Kabupaten Klaten belum pernah ditemui kasus yang berdampak luas (Konflik),
perbedaaan proses pelaksanaan mediasi antara Peraturan Menteri Agraria dan Tata
Kabupaten Klaten terletak pada pelaksanaan surat menyurat balasan kepada pihak pengadu
setelah berkas itu diterima dan dilakukan analisa berkas untuk mengetahui sengketa
32
Pada Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyelesaian Kasus Pertanahan apabila
Sengketa dan Konflik bukan kewenangan Kementerian, maka pejabat yang bertanggung
jawab dalam menangani Sengketa, Konflik dan Perkara menyampaikan penjelasan secara
bahwa penyelesaian Sengketa dan Konflik diserahkan kepada pihak pengadu. Sedangkan
dalam penerapan di Kantor Pertanahan proses tersebut tidak dilaksanakan, maka pada saat
dengan tidak mengirimkan surat setelah analisa untuk penyampaian hasil analisis kasus dan
Pihak Kantor Pertanahan tidak menunggu kembali untuk memperoleh surat balasan dari
para pihak. Hal tersebut dikarenakan proses mediasi sesusai dengan Standar Operasional
Pelayanan (SOP) hanya 30 (tiga puluh) hari, yang secara tegas tercantum dalam Pasal 38
ayat (2) Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional
Sesuai dengan Peraturan Agraria dan Tata Ruang dengan Standar Operasional
Pelayanan (SOP) mediasi yang harus selesai dilaksanakan 30 (tiga puluh) hari, oleh karena
itu, semua berkas pengaduan dan permohonan mediasi yang masuk pada Kantor Pertanahan
setiap tahunnya dapat diselesaikan, sehingga tidak ada berkas tunggakan setiap tahunnya.
33
Namun secara teknis, peraturan tidak dapat dilakukan secara keseluruhan di lapangan karena
Rembang, faktor-faktor penghambat dalam penyelesaian sengketa ada dua faktor yaitu
faktor internal meliputi masalah sumber daya manusia, masalah ketersediaan anggaran,
masalah sarana prasarana, dan faktor eksternal meliputi masalah kesadaran masyarakat.
Kabupaten Klaten yang terjadi berdasarkan kasus yang sudah dibahas tersebut, antara lain
tidak tercapai kesepakatan antara kedua belah pihak, mediasi kedua pihak teradu tidak
Selain faktor yang menjadi hambatan berdasarkan kasus yang telah dibahas tersebut,
terdapat pula faktor-faktor lain yang menjadi hambatan dalam pelaksanaan mediasi, yaitu
alamat surat menyurat yang tidak lengkap baik pihak pengadu maupun pihak teradu,
sehingga pihak Kantor Pertanahan tidak bisa memanggil untuk pelaksanaan mediasi. Pihak
pengadu ataupun teradu yang tidak datang pada saat mediasi dianggap kasus tersebut tidak
pernah masuk, tetapi permohonan kasus sengketa tersebut tetap ada sebagai register
Bapak Sutikno selaku Kasubsi Penanganan Sengketa, Konflik dan Perkara, Pertanahan
Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten, pada tanggal 5 Januari 2021, seringnya masing-
masing para pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggap benar, padahal itu belum
tentu benar, dan terkadang sampai hampir terjadi adu fisik karena terlalu mementingkan
Selain hambatan dari para pihak, ada kendala internal pula dari Kantor Pertanahan
Kabupaten Klaten sendiri yaitu kurangnya Staff Seksi Penanganan Masalah dan
Pengendalian Pertanahan (PMPP). Tugas dari Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian
Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP) juga kerap digugat secara
perdata maupun secara tata usaha negara. Apabila hal tersebut terjadi, maka yang menjadi
kuasa hukum di Pengadilan mewakili Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten adalah Staff
yang harus dilakukan oleh petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan
(PMPP) Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten tidak diimbangi dengan jumlah staff yang
dapat diminimalisir oleh petugas Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan
(PMPP), hal tersebut dikarenakan Sumber Daya Manusia (SDM) para pegawai yang
berkualitas dan mempunyai pendidikan yang sesuai dengan bidangnya, sehingga segala
persoalan dapat ditangani dengan kepala dingin sehingga selalu mendapatkan solusi yang
baik pula.
Adapun dari berbagai faktor penghambat dalam proses mediasi berdasarkan kasus yang
telah dibahas diatas dikarenakan para pihak yang tidak datang, maka akan dipanggil kembali
sampai 3 (tiga) kali panggilan. Apabila sampai 3 (tiga) kali tidak datang, akan dibuatkan
berita acara yang hanya ditandatangangi oleh pihak yang hadir saja, dan dianggap tidak
terlaksananya mediasi, sehingga mediasi dianggap batal. Dan apabila pihak pengadu datang
35
setelah panggilan terakhir (setelah 3 kali panggilan) dan sudah dibuatkan berita acara, maka
pihak pengadu diwajibkan untuk membuat surat pengaduan yang baru. Apabila ada alamat
yang tidak sesuai, maka Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten dapat memanggil melalui
telepon atau mengirimkan surat yang dialamatkan ke Kantor Desa sesuai objek tanah pihak
pengadu, sehingga petugas Kantor Desa akan membantu mencarikan alamat pihak pengadu
untuk memanggil pihak tersebut untuk mediasi di Kantor Pertanahan Kabupaten Klaten.
Selain itu jika pengadu datang sendiri membawa suratnya, maka pihak loket pengaduan akan
meminta nomor telepon Pihak Pengadu dan Identitas serta alamat surat menyurat yang
lengkap. Dalam hal masing-masing para pihak mempertahankan pendapatnya yang dianggap
benar padahal itu belum tentu benar, maka petugas mediator dalam hal ini adalah Aparatur
Sipil Negara (ASN) Seksi Penanganan Masalah dan Pengendalian Pertanahan (PMPP)
dalam memimpin mediasi bersikap lebih tegas dan menyampaikan aturan-aturan yang
selama proses mediasi berlangsung baik itu mengenai hak jawab masing-masing pihak, serta
menekankan bahwa tujuan mediasi itu adalah mencari titik temu, titik tengah, dan
kesepakatan dari para pihak untuk mencapai satu kata yaitu mufakat. Dikarenakan para
pihak sudah sepakat untuk menempuh jalur mediasi di Kantor Pertanahan sehingga mereka
harus tunduk dengan Peraturan dan tata tertib yang disampaikan Tim Mediator. Namun
apabila mereka masih bersikukuh mempertahankan pendapatnya, maka Pihak Mediator akan
menghentikan mediasi dan menyerahkan keputusan kepada Para Pihak untuk menyelesaikan
sengketa tersebut dengan jalur di luar mediasi Kantor Pertanahan. Meskipun diselesaikan di
pekerjaan sebagai hasil dari mediasi, yang menerangkan bahwa mediasi tidak menghasilkan
kata sepakat (perdamaian) dan mengembalikan sepenuhnya kepada Para Pihak untuk
36