Kebudayaan Sekolah dalam Pendidikan
Kebudayaan Sekolah dalam Pendidikan
DISUSUN OLEH:
DOSEN PENGAMPU:
[Link],[Link]
1446 H/2024 M
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahamaanirrahiim
Penulis mengucapkan syukur pada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nyasehingga
makalah dengan judul “Masyarakat dan kebudayaan sekolah” ini dapat terselesaikan.
Terimakasih pemaklah sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Pendidikan,
[Link],[Link] yang telah mengarahkan dan membimbing pembuatan makalah yang baik dan
benar. Pemakalah menyadari bahwa dalampenulisan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, walaupun pemakalahtelahberusaha menyajikan yang terbaik bagi pembaca. Oleh
karena itu, kritik dan saranuntukmenyempurnakan makalah ini dengan senang hati penulis
terima. Semoga makalahini bermanfaat bagi pembaca, Aamiin.
Pemakalah
1
DAFTAR ISI
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan sekumpulan nilai, norma, tradisi, dan perilaku yang
berkembang dalam suatu masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam
konteks pendidikan, kebudayaan sekolah menjadi penting karena mencakup semua aspek
yang mempengaruhi interaksi di lingkungan sekolah, termasuk cara mengajar, norma
sosial, serta kebiasaan dan tradisi yang dijalankan oleh seluruh anggota komunitas
sekolah. Kebudayaan sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai dasar untuk pembentukan
karakter peserta didik, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan iklim belajar yang
kondusif.
Bentuk-bentuk kebudayaan sekolah dapat dibedakan menjadi beberapa kategori,
seperti kebudayaan akademik, sosial, dan kultural. Kebudayaan akademik berkaitan
dengan metode pengajaran, kurikulum, serta penilaian hasil belajar. Sementara itu,
kebudayaan sosial mencakup interaksi antar siswa, guru, dan staf, serta bagaimana
hubungan ini mempengaruhi dinamika kelas dan atmosfer sekolah. Kebudayaan kultural
meliputi tradisi dan kegiatan yang dilakukan di sekolah, seperti perayaan hari-hari besar,
kegiatan ekstrakurikuler, dan tradisi yang dijaga oleh sekolah.
Ciri-ciri masyarakat sekolah juga menjadi elemen penting dalam memahami
kebudayaan sekolah. Masyarakat sekolah biasanya terdiri dari siswa, guru, staf, dan
orang tua yang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Struktur sosial ini
dipengaruhi oleh norma dan disiplin yang diterapkan di lingkungan sekolah, yang
bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan produktif. Disiplin dan
norma berfungsi sebagai pedoman perilaku yang membentuk interaksi sosial, sedangkan
pola kurikulum mengarahkan proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan
yang ditetapkan.
Dengan memahami kebudayaan dan struktur yang ada di dalam sekolah, kita
dapat mengidentifikasi potensi yang ada untuk pengembangan pendidikan yang lebih
baik. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada
penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan sosial
siswa. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis kebudayaan sekolah secara
komprehensif agar dapat mendukung proses pembelajaran yang efektif dan inklusif
(Sujanto, 2018; Sarlito, 2020)
3
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kebudayaan dan kebudayaan sekolah serta peranannya dalam
pendidikan?
2. Apa saja bentuk-bentuk kebudayaan yang terdapat di lingkungan sekolah?
3. Apa ciri-ciri pokok dari masyarakat sekolah dan bagaimana interaksi antar
anggotanya?
4. Bagaimana struktur organisasi di dalam sekolah dan apa ciri-cirinya?
5. Apa saja ciri-ciri kebudayaan sekolah yang membedakannya dari kebudayaan
masyarakat umum?
6. Apa norma dan disiplin yang diterapkan di sekolah, dan bagaimana pengaruhnya
terhadap perilaku siswa?
7. Bagaimana pola kurikulum yang diterapkan di sekolah dan relevansinya terhadap
kebudayaan sekolah?
C. Tujuan
1 Untuk menjelaskan pengertian kebudayaan dan kebudayaan sekolah serta
peranannya dalam proses pendidikan.
2 Untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kebudayaan yang
terdapat di lingkungan sekolah.
3 Untuk menganalisis ciri-ciri pokok dari masyarakat sekolah dan interaksi antar
anggotanya.
4 Untuk menguraikan struktur organisasi di dalam sekolah dan ciri-cirinya.
5 Untuk menggambarkan ciri-ciri kebudayaan sekolah yang membedakannya dari
kebudayaan masyarakat umum.
6 Untuk menjelaskan norma dan disiplin yang diterapkan di sekolah serta pengaruhnya
terhadap perilaku siswa.
7 Untuk menganalisis pola kurikulum yang diterapkan di sekolah dan relevansinya
terhadap kebudayaan sekolah.
4
BAB II
PEMBAHASAN
5
B. Bentuk-Bentuk kebudayaan sekolah
1. Kebudayaan Material
Ini mencakup segala hal yang bersifat fisik, seperti gedung sekolah, ruang
kelas, fasilitas belajar (meja, kursi, buku, dan teknologi), serta lingkungan fisik
yang ada di sekolah. Fasilitas ini berfungsi mendukung kegiatan belajar-mengajar
serta mencerminkan nilai kebersihan, kerapian, dan keteraturan yang dijunjung
oleh sekolah.
2. Kebudayaan Non-Material
Bentuk ini meliputi nilai-nilai, norma, tradisi, dan aturan yang berlaku di
sekolah. Misalnya, nilai disiplin yang dipegang teguh oleh warga sekolah melalui
aturan ketepatan waktu, serta norma-norma seperti penghormatan kepada guru
dan sesama siswa. Tradisi seperti upacara bendera atau kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler juga merupakan bagian dari kebudayaan non-material yang
membentuk karakter siswa.
3. Kebudayaan Sosial
Ini berhubungan dengan interaksi sosial yang terjadi antara siswa, guru,
dan staf sekolah. Dalam kebudayaan sosial, terdapat pola hubungan yang
terbentuk berdasarkan peran dan status masing-masing. Misalnya, bagaimana
guru berperan sebagai pendidik dan pembimbing, sementara siswa mematuhi
instruksi serta aturan. Hubungan sosial ini juga mencakup kerja sama antar siswa,
serta semangat gotong royong dalam berbagai kegiatan di sekolah.
6
C. Ciri-ciri pokok dari masyarakat sekolah
Ciri-ciri kebudayaan sekolah mencerminkan bagaimana nilai, norma, dan tradisi
diterapkan dalam lingkungan sekolah. Kebudayaan ini berkembang seiring dengan waktu
dan berperan penting dalam membentuk perilaku serta sikap siswa, guru, dan seluruh
komponen sekolah. Beberapa ciri utama dari kebudayaan sekolah yang umum dijumpai
di Indonesia adalah:
7
Seragam sekolah adalah salah satu ciri khas kebudayaan sekolah yang paling
mudah dikenali. Di Indonesia, seragam telah diatur secara nasional, dengan warna
yang berbeda untuk jenjang pendidikan tertentu. Seragam ini tidak hanya
mencerminkan identitas siswa sebagai bagian dari institusi, tetapi juga menanamkan
rasa kesetaraan di antara siswa. Selain seragam, banyak sekolah juga memiliki logo
atau lambang yang melambangkan visi dan misi mereka.
6. Kegiatan Ekstrakurikuler
Kebudayaan sekolah tidak hanya terlihat dari kegiatan akademik, tetapi juga dari
kegiatan ekstrakurikuler. Di Indonesia, kegiatan seperti Pramuka, OSIS, olahraga,
seni, dan musik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekolah. Kegiatan-
kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, belajar
bekerja sama, dan menerapkan nilai-nilai seperti kepemimpinan dan tanggung jawab.
8
5. Komite Sekolah sebagai mitra dalam pengambilan keputusan, memberikan
pertimbangan dalam kebijakan sekolah, mendukung finansial, serta berpartisipasi
dalam pengawasan dan evaluasi program-program di sekolah, sesuai dengan
Permendikbud No. 75 Tahun 2016.
6. Konselor atau Guru BK yang bertanggung jawab untuk membantu siswa dengan
masalah non-akademik, seperti masalah pribadi dan sosial, sehingga dapat
memastikan kesejahteraan mental dan emosional siswa di lingkungan sekolah.
7. Sistem Hierarki yang Jelas yang mengatur peran dan tanggung jawab di dalam
sekolah, dengan kepala sekolah berada di puncak dan pelaksana di bawahnya. Sistem
ini bertujuan untuk memperlancar komunikasi dan koordinasi antar bagian.
8. Pembagian Tugas Berdasarkan Fungsi yang jelas antara personel, seperti guru yang
berfokus pada pembelajaran, kepala sekolah yang menangani manajemen, dan TU
yang mengurus administrasi, untuk menghindari tumpang tindih dalam pelaksanaan
tugas.
9. Kolaborasi Antar Bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan bersama,
seperti dalam pelaksanaan program ekstrakurikuler yang melibatkan kerja sama
antara wakil kepala sekolah, dewan guru, dan staf TU.
10. Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan yang dilakukan secara berkala untuk
menilai dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Proses ini membantu untuk
mengetahui apakah sistem yang ada sudah berjalan dengan baik atau perlu ada
perbaikan dan inovasi demi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.
9
Bersifat mengikat: Norma mengikat semua warga sekolah, baik siswa, guru,
maupun staf lainnya.
Bersifat tertulis dan tidak tertulis: Ada norma yang diatur dalam peraturan sekolah
(tertulis), dan ada pula yang merupakan kebiasaan atau tradisi (tidak tertulis).
Berfungsi sebagai kontrol sosial: Norma membantu menjaga keteraturan dan
mencegah perilaku yang menyimpang.
Contoh Norma di Sekolah:
a. Siswa harus datang tepat waktu.
b. Mengenakan seragam sesuai aturan.
c. Menghormati guru dan sesama siswa.
11
c. Profil Pelajar Pancasila:
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
a. Materi ini menguraikan konsep kebudayaan dan kebudayaan sekolah, serta pentingnya
struktur organisasi dan pola kurikulum dalam mendukung proses pendidikan.
Kebudayaan, yang berasal dari bahasa Sansekerta dan Latin, mencakup nilai, norma,
tradisi, dan interaksi sosial yang membentuk identitas suatu masyarakat. Dalam
konteks sekolah, kebudayaan menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran
dan perkembangan karakter siswa.
b. Bentuk kebudayaan sekolah meliputi kebudayaan material, non-material, dan sosial,
yang mencerminkan interaksi antara siswa, guru, dan lingkungan fisik sekolah. Ciri-
ciri kebudayaan sekolah, seperti nilai dan norma yang dipegang, tradisi, serta atmosfer
12
sekolah, berkontribusi pada pembentukan karakter siswa dan pengembangan sikap
positif.
c. Norma dan disiplin berperan penting dalam menciptakan keteraturan di lingkungan
sekolah, memastikan bahwa siswa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang
diharapkan. Dalam hal ini, norma berfungsi sebagai pedoman, sementara disiplin
membantu menegakkannya. Pendekatan sosiologis menunjukkan bahwa norma dan
disiplin tidak hanya memengaruhi individu tetapi juga membentuk struktur sosial di
sekolah.
d. Kurikulum, sebagai panduan dalam penyelenggaraan pendidikan, memiliki fungsi
penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum Merdeka, yang diperkenalkan
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, menawarkan fleksibilitas
dan pendekatan berbasis proyek untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses
belajar. Kurikulum ini menekankan pengembangan karakter dan kompetensi siswa,
sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
e. Secara keseluruhan, pemahaman yang mendalam tentang kebudayaan, norma, disiplin,
serta kurikulum di sekolah sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif dan mendukung pengembangan siswa secara holistik.
B. Saran
Kami selaku penulis makalah ini sangat menyadari akan kekurangan dalam
pembuatan makalah ini, dan tentunya disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan
kami. Oleh karena itu, kami selaku penulis makalah ini sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun dan konstruktif. Dan besar harapan kami agar makalah
yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi kami dan juga terkhusus bagi pembacap pada
umumnya.
13
DAFTAR PUSTAKA
Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York:
Bantam Books.
Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Suryadi, D. (2011). Metode Penelitian Pendidikan: Dari Teori ke Praktik. Bandung: Alfabeta.
Suyanto, M. (2010). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Jakarta: Rajawali Pers.
14