0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan15 halaman

Kebudayaan Sekolah dalam Pendidikan

Diunggah oleh

Alhabib Amini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
3 tayangan15 halaman

Kebudayaan Sekolah dalam Pendidikan

Diunggah oleh

Alhabib Amini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH SOSIOLOGI PENDIDIKAN

Masyarakat dan kebudayaan sekolah

DISUSUN OLEH:

FARID NAZHMI ALFATIH 2330104015

Al HABIB AMINI 2330104002

FALIB AKBAR 2330104013

DOSEN PENGAMPU:

[Link],[Link]

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS (PBI A)

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR

1446 H/2024 M
KATA PENGANTAR

Bismillahirrahamaanirrahiim

Alhamdulillah,Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan


pemakalahkemudahan dalam menyelesaikan makalah tepat waktu. Tanpa rahmat dan
pertolongan-Nya, Penulis tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini dengan baik. Tidak lupa
pulakitakirimkan shalawat beserta salam kepada nabi besar kita Muhammad SAW.

Penulis mengucapkan syukur pada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nyasehingga
makalah dengan judul “Masyarakat dan kebudayaan sekolah” ini dapat terselesaikan.
Terimakasih pemaklah sampaikan kepada dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Pendidikan,
[Link],[Link] yang telah mengarahkan dan membimbing pembuatan makalah yang baik dan
benar. Pemakalah menyadari bahwa dalampenulisan makalah ini masih terdapat banyak
kekurangan, walaupun pemakalahtelahberusaha menyajikan yang terbaik bagi pembaca. Oleh
karena itu, kritik dan saranuntukmenyempurnakan makalah ini dengan senang hati penulis
terima. Semoga makalahini bermanfaat bagi pembaca, Aamiin.

Batusangkar, 4 Oktober 2024

Pemakalah

1
DAFTAR ISI

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebudayaan merupakan sekumpulan nilai, norma, tradisi, dan perilaku yang
berkembang dalam suatu masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam
konteks pendidikan, kebudayaan sekolah menjadi penting karena mencakup semua aspek
yang mempengaruhi interaksi di lingkungan sekolah, termasuk cara mengajar, norma
sosial, serta kebiasaan dan tradisi yang dijalankan oleh seluruh anggota komunitas
sekolah. Kebudayaan sekolah ini tidak hanya berfungsi sebagai dasar untuk pembentukan
karakter peserta didik, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan iklim belajar yang
kondusif.
Bentuk-bentuk kebudayaan sekolah dapat dibedakan menjadi beberapa kategori,
seperti kebudayaan akademik, sosial, dan kultural. Kebudayaan akademik berkaitan
dengan metode pengajaran, kurikulum, serta penilaian hasil belajar. Sementara itu,
kebudayaan sosial mencakup interaksi antar siswa, guru, dan staf, serta bagaimana
hubungan ini mempengaruhi dinamika kelas dan atmosfer sekolah. Kebudayaan kultural
meliputi tradisi dan kegiatan yang dilakukan di sekolah, seperti perayaan hari-hari besar,
kegiatan ekstrakurikuler, dan tradisi yang dijaga oleh sekolah.
Ciri-ciri masyarakat sekolah juga menjadi elemen penting dalam memahami
kebudayaan sekolah. Masyarakat sekolah biasanya terdiri dari siswa, guru, staf, dan
orang tua yang memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Struktur sosial ini
dipengaruhi oleh norma dan disiplin yang diterapkan di lingkungan sekolah, yang
bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan produktif. Disiplin dan
norma berfungsi sebagai pedoman perilaku yang membentuk interaksi sosial, sedangkan
pola kurikulum mengarahkan proses belajar mengajar sesuai dengan tujuan pendidikan
yang ditetapkan.
Dengan memahami kebudayaan dan struktur yang ada di dalam sekolah, kita
dapat mengidentifikasi potensi yang ada untuk pengembangan pendidikan yang lebih
baik. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan tidak hanya berfokus pada
penguasaan pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan sosial
siswa. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis kebudayaan sekolah secara
komprehensif agar dapat mendukung proses pembelajaran yang efektif dan inklusif
(Sujanto, 2018; Sarlito, 2020)

3
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kebudayaan dan kebudayaan sekolah serta peranannya dalam
pendidikan?
2. Apa saja bentuk-bentuk kebudayaan yang terdapat di lingkungan sekolah?
3. Apa ciri-ciri pokok dari masyarakat sekolah dan bagaimana interaksi antar
anggotanya?
4. Bagaimana struktur organisasi di dalam sekolah dan apa ciri-cirinya?
5. Apa saja ciri-ciri kebudayaan sekolah yang membedakannya dari kebudayaan
masyarakat umum?
6. Apa norma dan disiplin yang diterapkan di sekolah, dan bagaimana pengaruhnya
terhadap perilaku siswa?
7. Bagaimana pola kurikulum yang diterapkan di sekolah dan relevansinya terhadap
kebudayaan sekolah?

C. Tujuan
1 Untuk menjelaskan pengertian kebudayaan dan kebudayaan sekolah serta
peranannya dalam proses pendidikan.
2 Untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan bentuk-bentuk kebudayaan yang
terdapat di lingkungan sekolah.
3 Untuk menganalisis ciri-ciri pokok dari masyarakat sekolah dan interaksi antar
anggotanya.
4 Untuk menguraikan struktur organisasi di dalam sekolah dan ciri-cirinya.
5 Untuk menggambarkan ciri-ciri kebudayaan sekolah yang membedakannya dari
kebudayaan masyarakat umum.
6 Untuk menjelaskan norma dan disiplin yang diterapkan di sekolah serta pengaruhnya
terhadap perilaku siswa.
7 Untuk menganalisis pola kurikulum yang diterapkan di sekolah dan relevansinya
terhadap kebudayaan sekolah.

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Kebudayaan dan Kebudayaan Sekolah


Kata "kebudayaan" berasal dari bahasa Sansekerta "Buddayah," bentuk jamak
dari "buddhi" yang berarti budi dan akal, sehingga kebudayaan berkaitan dengan hal-hal
yang melibatkan akal dan budi. Istilah "culture," dari bahasa Latin "colere" yang berarti
mengolah atau mengerjakan (misalnya bertani), kemudian berkembang menjadi
pengertian tentang kegiatan manusia dalam mengubah dan mengolah alam. Dalam bahasa
Indonesia, "culture" kadang diterjemahkan menjadi "kultur." Budaya adalah elemen dasar
kehidupan sosial yang berperan dalam membentuk pola pikir, pola pergaulan, dan
kepribadian suatu masyarakat. Budaya mencakup aktivitas sehari-hari, cara berpikir,
kepercayaan, dan ideologi yang dianut individu atau kelompok.

Kebudayaan sekolah adalah seperangkat nilai, norma, kebiasaan, tradisi, dan


simbol yang berlaku dalam lingkungan sekolah yang memengaruhi cara berpikir,
berperilaku, serta hubungan sosial antara siswa, guru, dan seluruh komunitas sekolah.
Kebudayaan ini mencerminkan identitas sekolah dan memiliki peran penting dalam
membentuk karakter dan prestasi akademis siswa.

Berikut penjelasan kebudayaan sekolah menurut ahli:


Soerjono Soekanto menjelaskan bahwa kebudayaan sekolah merupakan hasil
interaksi sosial dalam lingkungan pendidikan yang mempengaruhi cara berpikir dan
berperilaku siswa. Kebudayaan ini tercermin dalam berbagai aspek, mulai dari perilaku
sehari-hari hingga tradisi dan norma yang dipegang oleh komunitas sekolah.
Pierre Bourdieu: Bourdieu memperkenalkan konsep "habitus" yang merujuk pada
disposisi sosial yang dibawa individu. Kebudayaan sekolah dapat dipahami melalui
habitus siswa, yang mencerminkan cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi berdasarkan
latar belakang sosial mereka. Sekolah, sebagai institusi, memiliki peran dalam
membentuk habitus ini melalui kebudayaan yang ada.

5
B. Bentuk-Bentuk kebudayaan sekolah

Bentuk-bentuk kebudayaan sekolah mencakup berbagai aspek yang terlihat dalam


kehidupan sehari-hari di sekolah, baik dari nilai-nilai, norma, kebiasaan, maupun
interaksi sosial yang terjadi di dalamnya. Menurut Soerjono Soekanto (2009) dalam
bukunya "Sosiologi Suatu Pengantar", bentuk kebudayaan sekolah dapat dibagi menjadi
tiga, yaitu:

1. Kebudayaan Material

Ini mencakup segala hal yang bersifat fisik, seperti gedung sekolah, ruang
kelas, fasilitas belajar (meja, kursi, buku, dan teknologi), serta lingkungan fisik
yang ada di sekolah. Fasilitas ini berfungsi mendukung kegiatan belajar-mengajar
serta mencerminkan nilai kebersihan, kerapian, dan keteraturan yang dijunjung
oleh sekolah.

2. Kebudayaan Non-Material

Bentuk ini meliputi nilai-nilai, norma, tradisi, dan aturan yang berlaku di
sekolah. Misalnya, nilai disiplin yang dipegang teguh oleh warga sekolah melalui
aturan ketepatan waktu, serta norma-norma seperti penghormatan kepada guru
dan sesama siswa. Tradisi seperti upacara bendera atau kegiatan-kegiatan
ekstrakurikuler juga merupakan bagian dari kebudayaan non-material yang
membentuk karakter siswa.

3. Kebudayaan Sosial

Ini berhubungan dengan interaksi sosial yang terjadi antara siswa, guru,
dan staf sekolah. Dalam kebudayaan sosial, terdapat pola hubungan yang
terbentuk berdasarkan peran dan status masing-masing. Misalnya, bagaimana
guru berperan sebagai pendidik dan pembimbing, sementara siswa mematuhi
instruksi serta aturan. Hubungan sosial ini juga mencakup kerja sama antar siswa,
serta semangat gotong royong dalam berbagai kegiatan di sekolah.

Bentuk-bentuk kebudayaan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya


berfungsi sebagai tempat pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai wadah
sosialisasi di mana siswa belajar nilai-nilai sosial dan budaya yang penting dalam
kehidupan bermasyarakat.

6
C. Ciri-ciri pokok dari masyarakat sekolah
Ciri-ciri kebudayaan sekolah mencerminkan bagaimana nilai, norma, dan tradisi
diterapkan dalam lingkungan sekolah. Kebudayaan ini berkembang seiring dengan waktu
dan berperan penting dalam membentuk perilaku serta sikap siswa, guru, dan seluruh
komponen sekolah. Beberapa ciri utama dari kebudayaan sekolah yang umum dijumpai
di Indonesia adalah:

1. Nilai dan Norma yang Dipegang Sekolah


Setiap sekolah memiliki serangkaian nilai dan norma yang menjadi panduan
dalam berinteraksi dan berperilaku. Nilai dan norma ini bisa bersifat formal, seperti
yang tertuang dalam peraturan sekolah, dan informal, yang berkembang melalui
kebiasaan sehari-hari. Misalnya, nilai disiplin diterapkan melalui aturan jam masuk
sekolah, dan nilai kebersihan diterapkan melalui program seperti kerja bakti
mingguan.

2. Interaksi Sosial yang Teratur


Kebudayaan sekolah sangat dipengaruhi oleh interaksi antara guru, siswa, dan
orang tua. Misalnya, interaksi antara siswa dan guru mencerminkan sikap hormat dan
sopan santun, yang merupakan bagian dari nilai budaya Indonesia secara umum. Di
banyak sekolah di Indonesia, siswa biasanya membungkuk atau mengucapkan salam
ketika bertemu dengan guru sebagai tanda hormat.

3. Tradisi Sekolah yang Menjadi Identitas


Setiap sekolah biasanya memiliki tradisi-tradisi khusus yang diwariskan dari
generasi ke generasi, seperti upacara bendera, peringatan hari besar nasional, atau
perayaan hari-hari penting di sekolah. Tradisi ini tidak hanya menumbuhkan rasa
kebersamaan tetapi juga menjadi ciri khas yang membedakan sekolah satu dengan
yang lainnya. Misalnya, di banyak sekolah di Indonesia, upacara bendera setiap Senin
adalah tradisi yang hampir tidak pernah dilewatkan.

4. Atmosfer dan Lingkungan Fisik Sekolah


Lingkungan fisik sekolah juga mencerminkan kebudayaan sekolah. Sekolah yang
bersih, teratur, dan hijau mencerminkan kepedulian terhadap lingkungan serta
komitmen terhadap kesehatan dan kebersihan. Di banyak sekolah Indonesia,
penghijauan dan kebersihan menjadi bagian dari program sekolah untuk menciptakan
suasana yang nyaman bagi siswa belajar.

5. Simbol dan Seragam

7
Seragam sekolah adalah salah satu ciri khas kebudayaan sekolah yang paling
mudah dikenali. Di Indonesia, seragam telah diatur secara nasional, dengan warna
yang berbeda untuk jenjang pendidikan tertentu. Seragam ini tidak hanya
mencerminkan identitas siswa sebagai bagian dari institusi, tetapi juga menanamkan
rasa kesetaraan di antara siswa. Selain seragam, banyak sekolah juga memiliki logo
atau lambang yang melambangkan visi dan misi mereka.

6. Kegiatan Ekstrakurikuler
Kebudayaan sekolah tidak hanya terlihat dari kegiatan akademik, tetapi juga dari
kegiatan ekstrakurikuler. Di Indonesia, kegiatan seperti Pramuka, OSIS, olahraga,
seni, dan musik menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sekolah. Kegiatan-
kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, belajar
bekerja sama, dan menerapkan nilai-nilai seperti kepemimpinan dan tanggung jawab.

7. Penghargaan dan Pengakuan


Kebudayaan sekolah yang sehat biasanya mendorong penghargaan dan pengakuan
terhadap prestasi siswa dan guru. Sistem penghargaan seperti pemberian piagam,
medali, atau penghargaan siswa teladan tidak hanya menjadi motivasi bagi siswa,
tetapi juga menunjukkan bahwa sekolah menghargai usaha dan pencapaian. Hal ini
menjadi bagian penting dari budaya kompetitif yang positif.

D. Struktur organisasi di dalam sekolah dan ciri-cirinya


Struktur organisasi di sekolah mengatur pembagian tugas, tanggung jawab, dan
wewenang untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. Berikut adalah
ciri-ciri struktur organisasi di sekolah:
1. Kepala Sekolah sebagai pimpinan utama yang bertanggung jawab atas seluruh
operasional sekolah, termasuk manajemen sumber daya manusia dan pengembangan
kurikulum, sesuai dengan Permendikbud No. 6 Tahun 2018.
2. Wakil Kepala Sekolah yang membantu kepala sekolah dan biasanya dibagi menurut
bidang seperti kurikulum, kesiswaan, sarana prasarana, dan hubungan masyarakat.
Ini memungkinkan desentralisasi tugas dan fokus pada area spesifik untuk
meningkatkan efektivitas operasional.
3. Dewan Guru yang memiliki peran kunci dalam proses belajar-mengajar serta
pengembangan kurikulum. Mereka bertanggung jawab untuk merencanakan dan
mengevaluasi pembelajaran, sesuai dengan kompetensi yang diatur dalam Undang-
Undang No. 14 Tahun 2005.
4. Tata Usaha (TU) yang menangani fungsi administratif, termasuk pengelolaan
keuangan, arsip, surat-menyurat, dan dokumentasi. Struktur ini sangat penting untuk
memastikan bahwa semua aspek administratif berjalan lancar, mendukung kegiatan
belajar-mengajar.

8
5. Komite Sekolah sebagai mitra dalam pengambilan keputusan, memberikan
pertimbangan dalam kebijakan sekolah, mendukung finansial, serta berpartisipasi
dalam pengawasan dan evaluasi program-program di sekolah, sesuai dengan
Permendikbud No. 75 Tahun 2016.
6. Konselor atau Guru BK yang bertanggung jawab untuk membantu siswa dengan
masalah non-akademik, seperti masalah pribadi dan sosial, sehingga dapat
memastikan kesejahteraan mental dan emosional siswa di lingkungan sekolah.
7. Sistem Hierarki yang Jelas yang mengatur peran dan tanggung jawab di dalam
sekolah, dengan kepala sekolah berada di puncak dan pelaksana di bawahnya. Sistem
ini bertujuan untuk memperlancar komunikasi dan koordinasi antar bagian.
8. Pembagian Tugas Berdasarkan Fungsi yang jelas antara personel, seperti guru yang
berfokus pada pembelajaran, kepala sekolah yang menangani manajemen, dan TU
yang mengurus administrasi, untuk menghindari tumpang tindih dalam pelaksanaan
tugas.
9. Kolaborasi Antar Bagian yang sangat penting untuk mencapai tujuan bersama,
seperti dalam pelaksanaan program ekstrakurikuler yang melibatkan kerja sama
antara wakil kepala sekolah, dewan guru, dan staf TU.
10. Evaluasi dan Pengembangan Berkelanjutan yang dilakukan secara berkala untuk
menilai dan meningkatkan kualitas sistem pendidikan. Proses ini membantu untuk
mengetahui apakah sistem yang ada sudah berjalan dengan baik atau perlu ada
perbaikan dan inovasi demi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah.

E. Ciri-ciri kebudayaan sekolah


Ciri-ciri kebudayaan sekolah dapat dilihat dari nilai-nilai, norma, dan perilaku
yang diinternalisasi oleh warga sekolah, termasuk guru, siswa, dan staf. Kebudayaan
sekolah tercermin dalam sikap disiplin, kepatuhan terhadap aturan, serta interaksi sosial
yang baik antar warga sekolah. Selain itu, suasana kerjasama, toleransi, dan rasa
tanggung jawab juga menjadi ciri penting dari kebudayaan sekolah. Tradisi yang rutin
dilakukan, seperti upacara bendera atau kegiatan ekstrakurikuler, juga memperkuat
identitas kebudayaan sekolah. Lingkungan sekolah yang terjaga kebersihannya dan
suasana belajar yang kondusif menandakan kebudayaan yang baik di sekolah.

F. Norma dan disiplin


1. Pengertian Norma dalam Pendidikan
Norma adalah aturan atau pedoman yang berlaku dalam suatu masyarakat
atau kelompok untuk mengatur perilaku anggota-anggotanya. Dalam konteks
pendidikan, norma adalah aturan-aturan sosial yang diterapkan di sekolah, baik
secara formal maupun informal, yang bertujuan untuk membentuk perilaku siswa
agar sesuai dengan nilai-nilai yang diinginkan.
2. Ciri-ciri Norma dalam Pendidikan:

9
Bersifat mengikat: Norma mengikat semua warga sekolah, baik siswa, guru,
maupun staf lainnya.
Bersifat tertulis dan tidak tertulis: Ada norma yang diatur dalam peraturan sekolah
(tertulis), dan ada pula yang merupakan kebiasaan atau tradisi (tidak tertulis).
Berfungsi sebagai kontrol sosial: Norma membantu menjaga keteraturan dan
mencegah perilaku yang menyimpang.
Contoh Norma di Sekolah:
a. Siswa harus datang tepat waktu.
b. Mengenakan seragam sesuai aturan.
c. Menghormati guru dan sesama siswa.

3. Pengertian Disiplin dalam Pendidikan


Disiplin adalah kemampuan untuk mengontrol diri dan berperilaku sesuai
dengan aturan atau norma yang ada. Dalam konteks pendidikan, disiplin
merupakan sikap yang diajarkan kepada siswa agar mereka bisa mengikuti aturan
dan norma yang berlaku di sekolah, serta bertanggung jawab atas perilaku mereka
sendiri.

4. Fungsi Disiplin dalam Pendidikan:


Pembentukan karakter: Disiplin membantu siswa membentuk karakter
yang kuat, seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kerja keras.
Mendukung proses belajar: Disiplin menciptakan lingkungan belajar yang tertib
dan kondusif, yang memungkinkan siswa untuk belajar dengan lebih efektif.
Mencegah perilaku negatif: Disiplin juga berperan dalam mengurangi perilaku
yang merugikan diri sendiri atau orang lain, seperti menyontek atau membolos.
Metode Pembinaan Disiplin di Sekolah:
Pendekatan preventif: Membangun kesadaran siswa tentang pentingnya disiplin
melalui sosialisasi dan pembelajaran moral.
Pendekatan korektif: Memberikan sanksi atau hukuman terhadap siswa yang
melanggar aturan.
5. Hubungan Norma dan Disiplin dalam Pendidikan
Norma dan disiplin saling berkaitan erat dalam sistem pendidikan. Norma
berfungsi sebagai pedoman perilaku, sementara disiplin memastikan bahwa
norma-norma tersebut dijalankan dengan konsisten. Dengan demikian, norma
menciptakan aturan, dan disiplin membantu menegakkannya.

6. Pendekatan Sosiologis dalam Penerapan Norma dan Disiplin


Menurut perspektif sosiologis, norma dan disiplin di sekolah tidak hanya
memengaruhi perilaku individu, tetapi juga membentuk struktur sosial di dalam
sekolah. Sekolah dianggap sebagai "miniatur masyarakat" di mana siswa belajar
untuk hidup dalam kerangka sosial yang lebih besar. Norma-norma yang
10
diterapkan di sekolah mempersiapkan siswa untuk berpartisipasi dalam
masyarakat yang lebih luas dengan nilai-nilai yang berlaku di dalamnya.

G. Pola kurikulum di sekolah


1. Pengertian Kurikulum
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, bahan
pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan (Nasution, 2008). Kurikulum
merupakan landasan bagi proses belajar-mengajar yang dirancang untuk membentuk
karakter dan keterampilan siswa.
3. Fungsi Kurikulum dalam Pendidikan
Menurut Tilaar (2000), kurikulum memiliki fungsi penting dalam pendidikan:
a. Sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan: Kurikulum memberikan arah
yang jelas mengenai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diharapkan
dikuasai siswa.
b. Panduan bagi guru: Kurikulum berperan sebagai acuan dalam menyusun program
pembelajaran yang sistematis dan efektif.
c. Dasar evaluasi: Kurikulum digunakan sebagai acuan untuk menilai hasil belajar
siswa dan menentukan perkembangan mereka dalam proses pendidikan.

3. Pola Kurikulum Merdeka


Kurikulum Merdeka merupakan kebijakan baru yang diperkenalkan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia sebagai upaya untuk
meningkatkan fleksibilitas dan adaptabilitas dalam pembelajaran. Kurikulum ini lebih
fokus pada pengembangan karakter dan kompetensi siswa melalui pendekatan yang
lebih individual dan berbasis proyek. Beberapa ciri utama Kurikulum Merdeka:
a. Pembelajaran Berbasis Proyek:

Siswa dilibatkan dalam proyek yang relevan dengan kehidupan nyata,


sehingga mereka dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif,
dan kolaboratif (Kemendikbud, 2022).

b. Fleksibilitas dalam Pemilihan Materi:

Guru dan sekolah memiliki kebebasan dalam menentukan materi


pembelajaran yang sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa. Hal ini
memungkinkan pendidikan yang lebih adaptif dan relevan bagi siswa
(Kemendikbud, 2022).

11
c. Profil Pelajar Pancasila:

Kurikulum Merdeka bertujuan membentuk siswa yang memiliki karakter


kuat melalui Profil Pelajar Pancasila. Profil ini mencakup enam dimensi:
beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, mandiri, gotong royong,
bernalar kritis, dan kreatif (Kemendikbud, 2022).

d. Pembelajaran yang Disesuaikan dengan Kemampuan Siswa:

Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran yang disesuaikan dengan


kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing siswa. Dengan demikian,
siswa memiliki kesempatan untuk lebih memahami materi tanpa tekanan waktu
yang ketat (Nasution, 2008).

4. Kurikulum Merdeka dalam Perspektif Sosiologi Pendidikan


Dari sudut pandang sosiologi pendidikan, Kurikulum Merdeka tidak hanya berfungsi
untuk mentransmisikan pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai sosial yang relevan
dengan kehidupan di masyarakat. Kurikulum ini dianggap lebih demokratis karena
memberi kebebasan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan gaya belajar dan
kemampuan mereka (Tilaar, 2000). Selain itu, Kurikulum Merdeka juga membantu
siswa mengembangkan keterampilan yang relevan dengan perubahan sosial yang
cepat di era globalisasi.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

a. Materi ini menguraikan konsep kebudayaan dan kebudayaan sekolah, serta pentingnya
struktur organisasi dan pola kurikulum dalam mendukung proses pendidikan.
Kebudayaan, yang berasal dari bahasa Sansekerta dan Latin, mencakup nilai, norma,
tradisi, dan interaksi sosial yang membentuk identitas suatu masyarakat. Dalam
konteks sekolah, kebudayaan menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran
dan perkembangan karakter siswa.
b. Bentuk kebudayaan sekolah meliputi kebudayaan material, non-material, dan sosial,
yang mencerminkan interaksi antara siswa, guru, dan lingkungan fisik sekolah. Ciri-
ciri kebudayaan sekolah, seperti nilai dan norma yang dipegang, tradisi, serta atmosfer

12
sekolah, berkontribusi pada pembentukan karakter siswa dan pengembangan sikap
positif.
c. Norma dan disiplin berperan penting dalam menciptakan keteraturan di lingkungan
sekolah, memastikan bahwa siswa berperilaku sesuai dengan nilai-nilai yang
diharapkan. Dalam hal ini, norma berfungsi sebagai pedoman, sementara disiplin
membantu menegakkannya. Pendekatan sosiologis menunjukkan bahwa norma dan
disiplin tidak hanya memengaruhi individu tetapi juga membentuk struktur sosial di
sekolah.
d. Kurikulum, sebagai panduan dalam penyelenggaraan pendidikan, memiliki fungsi
penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Kurikulum Merdeka, yang diperkenalkan
oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, menawarkan fleksibilitas
dan pendekatan berbasis proyek untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses
belajar. Kurikulum ini menekankan pengembangan karakter dan kompetensi siswa,
sehingga relevan dengan kebutuhan masyarakat yang terus berkembang.
e. Secara keseluruhan, pemahaman yang mendalam tentang kebudayaan, norma, disiplin,
serta kurikulum di sekolah sangat penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang
kondusif dan mendukung pengembangan siswa secara holistik.

B. Saran
Kami selaku penulis makalah ini sangat menyadari akan kekurangan dalam
pembuatan makalah ini, dan tentunya disebabkan karena masih terbatasnya kemampuan
kami. Oleh karena itu, kami selaku penulis makalah ini sangat mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun dan konstruktif. Dan besar harapan kami agar makalah
yang kami buat ini bisa bermanfaat bagi kami dan juga terkhusus bagi pembacap pada
umumnya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Goleman, D. (1995). Emotional Intelligence: Why It Can Matter More Than IQ. New York:
Bantam Books.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2022). Kurikulum Merdeka:


Panduan Pelaksanaan. Jakarta: Kemendikbud.

Koentjaraningrat. (2000). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Nasution, S. (2008). Dasar-Dasar Kurikulum. Jakarta: Bumi Aksara.

Soekanto, S. (2009). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Sudjana, N. (2010). Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Suryadi, D. (2011). Metode Penelitian Pendidikan: Dari Teori ke Praktik. Bandung: Alfabeta.

Suyanto, M. (2010). Pendidikan Karakter: Konsep dan Implementasi. Jakarta: Rajawali Pers.

Tilaar, H. A. R. (2000). Pendidikan dalam Era Globalisasi. Jakarta: Grasindo.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes.


Cambridge, MA: Harvard University Press.

14

Anda mungkin juga menyukai