Pentingnya Pendidikan dan Bahasa Arab
Pentingnya Pendidikan dan Bahasa Arab
BAB I
PENDAHULUAN
1
Rahmat Hidayat, MA Abdillah, [Link], [Link] Ilmu Pendidikan “Konsep, Teori dan Aplikasinya” (LPPPI medan
2019) hal.1
2
Saihu konsep pembaharuan pendidikan vol2 no 1 tahun 2020 jurnal pendidikan islam
2
3
Al quran surat Al mujadillah ayat 11
3
َوَلَق ۡد َض َر ۡبَنا ِللَّن اِس ِفي َٰه َذا ٱ ۡلُق ۡرَءاِن ِمن ُك ِّل َمَث ٖل
ُق ۡرَءاًن ا َعَر ِبًّي ا َغ ۡيَر ِذي ِع َو ٖج َّلَعَّلُه ۡم٢٧ َّلَعَّلُه ۡم َيَتَذَّكُر وَن
٢٨ َيَّتُقوَن
Artinya
Sesungguhnya telah Kami buatkan bagi manusia dalam Al Quran ini setiap macam
perumpamaan supaya mereka dapat pelajaran
(Ialah) Al Quran dalam bahasa Arab yang tidak ada kebengkokan (di dalamnya)
supaya mereka bertakwa. Q.S az zumar 27-28
4
Dengan demikian, solusi strategis yang diharapkan dapat mengatasi kegundahan dan
kerumitan belajar bahasa Arab, khususnya gramatikanya, adalah menjadikan Alquran sebagai
basis pembelajaran bahasa Arab. Artinya, pembelajaran bahasa Arab itu pada level pemula
dirancang untuk mengenal bunyi bahasa Arab Alquran, kosakata Alquran, struktur dasar bahasa
Alquran, berikut pemaknaannya, agar mencapai dua tujuan sekaligus: bisa membaca dan bisa
mengerti isi teks yang dibaca. Dengan kata lain, pembelajaran bahasa Arab berabasis Alquran
target minimalnya adalah penguasaan keterampilan reseptif (maharat istiqbaliyyah), yaitu
membaca.4
Keberhasilan seorang guru dalam menyampaikan materi pembelajaran, tidak hanya
dipengaruhi oleh kemampuannya dalam menguasai materi yang akan disampaikan. Akan tetapi
ada faktor-faktor lain yang harus dikuasainya sehingga ia mampu menyampaikan materi secara
profesional dan efektif. , “pada dasarnya ada tiga komponen yang harus dimiliki oleh guru yaitu
kompetensi kepribadian, kompetensi penguasaan atas bahan, dan kompetensi dalam cara-cara
mengajar”. Tanpa ada salah satunya akan menjadi faktor penghambat sehingga pembelajaran
menjadi tidak efektif. Pendidikan bertanggungjawab dalam "transfer knowledge”. Peranan guru
dan anak didik sangat penting dalam proses pembelajaran dengan cara berkolaborasi dalam
meningkatkan keterampilan dan kualitas kehidupan kedepan. 5 Penerapan berbagai strategi
pembelajaran menjadi salah satu solusi untuk menemukan ramuan yang pas dalam
mentransformasikan pengetahuan kepada anak usia dini yang baik bagi perkembangan. 6
4
[Link] akses pada tanggal 5 april
2022
5
Sriwahyuni, pendidikan guru usia dini jurnal obsesi, vol 4 no 2,tahun 2020 hal 1 (sriwahyuni, 2020)
6
Eko suhendro strategi pembelajaran anak sekolah dini jurnal golden age vol5 n0 3 tahun 2020 hal 1
7
Pra Riset Obsservasi di Kelas 4 MI Diniyyah Putri Lampung pada hari Jum’at 13 Januari 2022.
5
8
Departemen Agama RI, ‘’Pedoman Pengajaran Bahasa Arab di Perguruan Tinggi Agama Islam IAIN’’
(Jakarta: Dirjen Bimas Islam, 2019), h. 7 (ri, 2019) 72-73.
6
TABEL 1.1
Data Nilai Siswa
Bilal 20 80 13
Mushab 23 80 4
Anas 31 80 26
.
Berikut data nilai ujian tengah semester yang didapat dari guru mata pelajaran bahasa
arab, ada 3 kelas dikelas VI yaitu kelas,bilal, mushab dan anas, berikut nilai rata-rata dari 3
kelas tersebut. Pertama, kelas Bilal berjumlah 20 siswa dengan perolehan nilai tertinggi 90
dan nilai terendah 73 dengan jumlah siswa yang nilainya diatas KKM 13 siswa. Kedua kelas
Mushab berjumlah 23 siswa nilai tertinggi 80 dan nilai terendah 72 dengan jumlah siswa yang
nilainya diatas KKM 4 siswa. Ketiga kelas Annas berjumlah 31 nilai tertinggi 90 sedangkan
nilai terendah 78 dengan jumlah siswa yang nilainya diatas KKM berjumlah 26 siswa.
Berdasarkan data nilai di atas, kelas mushab lebih banyak siswa yang nilainya tidak
memenuhi standar KKM antara kelas yang lain, maka dari itu peneliti akan menggunakan
kelas mushab tersebut sebagai kelas exsperimen.
Oleh karena itu, sangatlah penting diterapkan metode yang mampu menjadikan
pembelajaran yang menyenangkan dan memberikan ruang agar siswa yang lebih aktif dari
pada gurunya. Banyak metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab, salah
satunya adalah dengan menerapkan metode Silent Way. Metode Silent Way adalah metode
yang mempunyai keheningan atau kesunyian (silence). Di dalam metode ini guru hanya
berperan sebagai pemandu, pengorganisir, dan pengevaluasi kesalahan siswa. Sebaliknya
setiap siswa terlibat dalam pembelajaran akan berfikir aktif untuk mengikuti detail demi detail
materi yang diberikan guru.9
Metode Silent Way menganggap bahwa unit dasar bahasa adalah kalimat. 10 Model
kalimat yang diberikan hanya satu kali, sehingga mendidik siswa untuk selalu
9
M. Kamil Ramma Oensyar dan Ahmad Hifni, 2018‘’Pengantar Metodologi Pembelajaran Bahasa
Arab’’(Banjarmasin; Chicago style), h. 126-127.
10
Ibid, h. 123.
7
berkonsentrasi terhadap materi pelajaran, juga dituntut untuk berusaha sendiri dalam
belajar.11 Siswa akan diberikan pola-pola kalimat bahasa asing dan diberikan aturan-aturan
bahasa melalui proses induktif.12
Menurut penelitian Putri irawati, penelitiannya yang berjudul “ penerapan metode silent
way dalam meningkatkan penguasaan mufrodat” dengan menggunakan metode silent way
siswa menjadi aktif dan menjadi lebih mudah ,memahami hal-hal apa saja yang digunakan guru
dalam pembelajaran. Siswapun tidak merasa jenuh terhadap pembelajaran karna di ajak aktif
dan tidak monoton, siswa akan merasa dilibatkan dalam hal pembelajaran dan siswa merasa
senang berperan andil dalam pembelajaran.
Berangkat dari latar belakang tersebut, maka penulis termotivasi untuk mengadakan
penelitian dengan judul “Pengaruh Metode Silent Way Terhadap Hasil Belajar Bahasa
Arab Kelas IV Di Mi Diniyyah Putri Lampung”
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat di identifikasikan beberapa
masalah di anataranya :
1. Siswa masih kurang menguasai pelajaran bahasa arab
2. Kegiatan belajar mengajar masih berpusat pada guru sehingga siswa kurang aktif
dalam kegiatan pembelajaran.
3. Kurangnya semangat dalam proses belajar mengajar
C. Rumusan Masalah
Berangkat dari latar belakang identifikasi masalah yang telah peneliti temukan, dapat
rumuskan permasalah yaitu; Apakah ada pengaruh penerapan yang signifikan dalam Metode
Silent Way terhadap hasil belajar Bahasa Arab Kelas IV Di Mi Diniyyah Putri Lampung?
D. Tujuan Penelitian
Atas dasar rumusan masalah dan latar belakang di atas maka penelitian ini secara
umum memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan yang signifikan dalam metode
silent way terhadap hasil belajar bahasa arab kelas IV di MI Dinniyyah Putri Lampung.
11
Abd Wahab Rosyidi dan Mamlu’atul Ni’mah,2015 ‘’Memahami Konsep Dasar Pembelajaran
Bahasa Arab’’, (Malang: UIN Maliki Press, 2019), h. 17.
12
Ibid, h.123
8
E. Manfaat Penelitian
Berdasarkan identifikasi tujuan penelitian diatas terdapat beberapa manfaat
penelitian , yaitu sebagai berikut;
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan prespektif atau kualitas
wawasan tentang pengaruh metode silent way dalam pembelajaran bahasa Arab di MI
Dinniyyah Putri Lampung.
2. Manfaat Praktis
Secara praktis penelitian ini dapat bermanfaat:
a) Bagi Penulis
Sebagai penerapan ilmu pengetahuan yang penulis peroleh serta untuk
menambah pengalaman dan wawasan baik dalam bidang penelitian pendidikan
maupun penulisan karya ilmiah. Dapat dijadikan sebagai referensi atau
pertimbangan mengenai meetode pembelajaran yang cocok dalam penguasaan
kosakata siswa sehingga mampu untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
b) Bagi Guru
Diharapkan dapat menambah wawasan dalam penggunaan metode sebagai
proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan suasana pembelajaran yang lebih
segar dan bervariatif, sehingga parasiswa tidak merasa bosan ketika berada di dalam
kelas.
c) Bagi Sekolah
Sebagai tambahan informasi kepustakaan sekolah terkait metode dalam
pembelajaran bahasa Arab.
d) Bagi Siswa
Membantu siswa untuk mempercepat menghafal kosakata dan mampu
menyimpannya dalam waktu yang lama, sehingga mampu meningkatkan
penguasaan kosakata siswa.
e) Bagi Kepala Sekolah
Sebagai bahan pertimbangan dalam mengatasi permasalahan pembelajaran
kosakata bahasa Arab demi meningkatkan mood pengajarannya.
f) Bagi Pembaca yang akan datang
Sebagai sumber bahan kajian yang dapat dimanfaatkan bagi peneliti yang lain
dengan studi kasus sejenis khususnya jurusan pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
9
F. Kajian Pustaka
Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh peneliti, ditemukan berbagai hasil
penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Beberapa hasil penelitian yang dimiliki
relevansi dengan pokok masalah tersebut, antara lain:
1. Dyah Ayu Prihatin, dengan penelitiannya yang berjudul “ Penggunaan Metode Silent
Way Dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Di Pia English Club”. Berdasarkan hasil
penelitian tentang penggunaan metode Silent Way di PIA English Course Manado, dapat
disimpulkan bahwa pengajaran bahasa Inggris di PIA menggunakan silabus sesuai dengan
metode Silent Way. Guru dapat mengajar secara terstruktur sehingga materi pembelajaran
sesuai pada waktu yang sudah direncanakan.13
2. Aulia Azmi, Kemampuan membuat kalimat siswa kelas V dengan menerapkan metode
Silent Way dalam pembelajaran bahasa Arab di MIN 4 Banjar Kabupaten Banjar tahun
ajaran 2017/2018 amat baik. Hal ini berdasarkan dari nilai rata-rata posttest siswa kelas
eksperimen adalah sebesar 80,45 berada pada kualifikasi amat baik dan nilai rata-rata
pretest adalah 55,63 berada pada kualifikasi cukup. Kelas eksperimen ini mengalami
peningkatan pada kategori sedang dengan hasil N-Gain 0,56. Kemudian nilai rata-rata
pretest siswa kelas kontrol adalah 52,38 berada pada kualifikasi kurang dan nilai rata-rata
posttest adalah sebesar 73,33 berada pada kualifikasi baik. Kelas kontrol ini mengalami
peningkatan pada kategori sedang dengan hasil N-Gain 0,44. Selanjutnya, hasil pengujian
uji t diperoleh thitung 6,59 sedangkan ttabel = 2,00 pada taraf signifikasi 5%. Harga
thitung lebih besar dari ttabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima, sehingga dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penerapan metode Silent Way terhadap
kemampuan membuat kalimat dalam pembelajaran bahasa Arab siswa kelas V di MIN 4
Banjar Kabupaten Banjar tahun ajaran 2017/2018.14
3. Junanah, Silent Way atau metode guru diam adalah metode jenius di antara beberapa
metode cerdas yang dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa Arab. Seorang pendidik
tidak cukup hanya dengan mengandalkan metode ini dalam pembelajaran di kelas karena
peserta didik lambat laun akan merasa bosan. Beberapa metode lain perlu digunakan
13
Dyah Ayu Prihatin, 2014 ‘’Penggunaan Metode Silent Way Dalam Pengajran Bahasa I (p, 2014)nggris di PIA
Emgglis course Manado” , (Manado, Universitas SAM Ratulangi Mandado), h. 13.
14
Aulia Azmi. 2018. ‘’Pengaruh Penerapan Metode Silent Way Terhadap Kemampuan Membuat Kalimat dalam
Pembelajaran Bahasa Arab Siswa Kelas V di MIN 4 Banjar Kabupaten Banjar Tahun Ajaran 2017/2018, (UIN Antasari
Banjarmasin ) h.7.
10
G. Sistematika Penulisan
BAB I. PENDAHULUAN
BAB Ini Berisi Tentang Latar Belakang Masalah, Identifikasi Masalah, Rumusan Masalah,
Tujuan Dan Manfaat, Kajian Penelitian Terdahulu Yang Relevan Dan Sistematika
Penelitian.
BAB II. TINJUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORI
Memuat Uraian Tentang Tinjauan Pustaka Terdahulu Dan Pengajuan Hipotesis
BAB III. METODE PENELITIAN
Memuat Secara Rinci Metode Penelitian Penelitian Yang
Digunakan Peneliti Beserta Justifikasi/Alasannya, Waktu Dan Tempat Penelitian, Jenis
Penelitian, Desain, Lokasi, Populasi Dan Sampel, Metode Pengumpulan Data, Instrumen
15
Junanah,2014 ‘’ Silent Way: Metode Pembelajaran Bahasa Arab yang Mendorong Peserta Didik Lebih Kreatif,
Mandiri, dan Bertanggung Jawab’’ ( yogyakarta; UII), h.49.
16
Iis Wartini, 2015 ‘’Efektivitas Penggunaan Metode Silent Way Terhadap Kemampuan Berbicara Siswa Kelas Xi
Sma Pasundan 8 Bandung’’. ( Bandung; UPI), h.69.
11
Penelitian Uji Validitas Dan Rehabilitas Data,Definisi Konsep Dan Variable, Serta Analisis
Data Yang Digunakan.
12
BAB II
KAJIAN TEORI
Silent Way adalah nama suatu metode pengajaran bahasa yang ditemukan oleh
Caleb Gattegno, seorang ahli pengajaran bahasa yang menerapkan prinsip-prinsip
kognitivisme dan ilmu filsafat dalam pengajarannya. Silent Way umumnya telah digunakan
untuk mengajar bahasa Inggris dan Perancis di seluruh dunia dan terbukti efektif. 21 Metode ini
berorientasi pada tujuan bahasa sebagai alat. Artinya, bahasa dipandang sebagai alat
komunikasi dalam kehidupan, sehingga inti belajar bahasa adalah kemampuan untuk
19
Hermawan, Acep, 2019 “metodologi pembelajaran bahasa arab” (PT Remaja Rosdakarya Bandung ). h. 200
20
Dedih Wahyudin, 2020‘’Metodelogi Pembelajaran Bahasa Arab Berdasarkan Teori Unit dan Parsial’’ (Bandung;
PT Remaja Rosdakarya), h.71.
21
Ibid. hal 201
14
menggunakan bahasa tersebut secara aktif dan memahami ucapan atau ungkapan dalam
bahasa tersebut.22
Metode diam adalah nama lain dari at-Tharīqah al-Shāmitah. Metode ini memiliki
pengertian yaitu metode yang dimana dalam proses pembelajaran berlangsung, peserta didik
dibiarkan terlebih dahulu melakukan kesalahan. Hal tersebut dilakukan agar peserta didik
merasa tidak tertekan dan lebih bebas. Terutama bebas dalam mengutarakan pendapat atau ide-
idenya. Pada metode ini pendidik hanya sebagai perantara dalam menyampaikan materi
pembelajaran. Selebihnya, peserta didik lah yang mengembangkan pemikirannya. Kata kunci
yang terkait dan melekat dengan metode ini adalah kebebasan, otonomi, dan
pertanggungjawaban. Metode ini beranggapan bahwa peserta didik melakukan pekerjaannya
melalui sumber yang ada pada diri mereka masing-masing. Struktur inti pada metode ini yang
dapat digunakan sebagai acuan pengembangan peserta didik adalah kemampuan kognitif,
pengalaman, perasaan, dan pengetahuan tentang dunia luas di luar sana. Secara keseluruhan,
tujuan dari metode ini adalah untuk melatih siswa mengutarakan apa yang ingin disampaikan.
Melalui metode ini, siswa diharapkan bisa menguasai keterampilan berbahasa secara lisan dan
kepekaan dalam menyimak materi. Siswa juga diharapkan mencapai kelancaran berbahasa
hampir sama dengan penutur aslinya. Oleh karena itu lafal, tekanan, ritme, intonasi dan jeda
saat berbicara juga diajarkan pada metode ini.24
Silent Way juga dikaitkan dengan serangkaian premis yang disebut sebagai
“Pendekatan-Pendekatan Problem Solving Pada Pembelajaran”. Premis-premisnya ini terwakili
oleh ucapan Benjamin Franklin:
22
Muhammad thohir 2021 hal 114
23
Ibid hal 115
24
Muhammad thohir hal 115
25
Dedih wahyuddin hal 71
15
Silent Way atau cara diam adalah kegiatan- kegiatan pemecahan masalah dengan
meng- gunakan kartu-kartu khusus dan balok-balok berwarna yang mendapat tanggapan
positif dari para pakar bahasa. Para pakar teori peng- ajaran bahasa komunikatif kemudian
meng- anjurkan pemakaian tugas-tugas yang melibat- kan kesenjangan informasi dan
pemindahan informasi. Misalnya, para pembelajar mengerja- kan tugas yang sama, tetapi setiap
pembelajar memerlukan informasi yang berbeda untuk menyelesaikan tugasnya 26.
26
Ibid h. 16
16
Ketika seseorang belajar ‘secara sadar’, ke- kuatan kesadaran seseorang dan
kapasitasnya untuk belajar menjadi lebih besar. Karena itu, Silent Way menyatakan
bahwa hal tersebutmempermudah apa yang disebut para psikolog sebagai learning to
learn. Rangkaian proses yang membangun kesadaran berasal dari perhatian, penggunaan,
perbaikan diri, dan [Link] koreksi diri melalui kesadaran diri inilah yang
membuat Silent Way berbeda dari metode pembelajaran bahasa yang lain.
27
Arsyad, Azhar. 2019. ‘’Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya’’ ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar). h. 28-29.
17
28
Wahyudin dedith 2020 ‘’metododlogi pembelajaran bahasa arab ‘’ (Bandung, PT remaja rosdakarya) h. 71
29
Ibid h 73
18
kekuatan diri. Tujuan Gattegno bukanlah sekedar pembelajar- an bahasa kedua, melainkan
pendidikan untuk kepekaan dan kekuatan spiritual [Link] umum Silent Way
adalah mengajarkan pembelajar bagaimana cara belajar bahasa, dan keterampilan-
keterampilan yang dikembang- kan melalui proses pembelajaran bahasa asing atau bahasa
kedua dapat digunakan untuk mempelajari segala hal lain yang belum diketahui.
30
Muhammad Thohir 2021”Metode Pembelajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing”( Kanzum Books Jl.
Kusuma 28 Berbek Waru Sidoarjo) hal 117
19
3. Tujuan Pokok
Metode ini melatih keterampilan para pelajar dalam menggunakan bahasa asing
yang dipelajari secara lisan sehingga mampu men- capai kelancaran berbahasa yang hampir
sama dengan penutur asli. Silent Way juga melatih keterampilan para pelajar dalam
menyimak pem- bicaraan lawan bicara. Menyimak dipandang sebagai unsur yang cukup
sulit apalagi jika bahasa itu dibawakan oleh penutur asli, jadi sebaiknya cermat dalam
menyimak dan dilaku- kan secara berulang. Metode ini juga melatih pelajar agar mampu
mengusai tata bahasa yang praktis. Tata bahasa diberikan secara bertahap dengan proses
induktif, dan tidak terlalu me- nonjolkan konsep verbal.31
Metode diam mendorong peserta didik untuk bisa menggunakan bahasa dengan
ekspresi mereka sendiri dalam mengungkapkan pemikiran, persepsi, dan perasaan32. Untuk
melakukannya mereka perlu mendapat kebebasan dari pendidik untuk mendapatkan
kriteria kebenaran dari dirinya sendiri. Peserta didik menjadi bebas dengan bergantung pada
diri mereka sendiri. Pendidik kemudian hanya memberikan bantuan yang benar-benar
dibutuhkan untuk mendukung pembelajaran.
Ada tiga dimensi bagi suatu metode pada tingkatan prosedur penerapannya yaitu:
31
Hermawan, Acep. 2015.,’’Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab.’’( Bandung: PT Remaja Rosdakarya Offset) .h.
203.
32
33
Tarigan, Henry Guntur. 2017. ‘’Metodologi Pengajaran Bahasa 1’’. (Bandung: Angkasa). h 20.
20
kalimat mereka
Maka pada hakikatnya prosedur memfokuskan diri pada cara suatu metode
menangani fase-fase penyajian, praktek, dan umpan balik pengajaran. Berikut ini, misalnya
kita sajikan suatu deskripsi aspek-aspek prosedural permulaan kursus Silent
Way
a. Pendidik menunjuk pada simbol-simbol yang tidak bermakna pada sebuah kartu
dinding. Simbol-simbol itu mewakili suku kata bahasa lisan. Para peserta didik
membaca bunyi-bunyi itu dengan suara nyaring, mula-mula secara bersama
kemudian dilanjutkan secara individu.
b. Sesudah peserta didik dapat mengucapkan bunyi-bunyi itu, m (guntur, 2017)aka
pendidik beralih kepada perangkat kartu kedua yang berisi kata-kata yang sering dipakai
dalam bahasa itu, termasuk angka-angka. Pendidik membimbing peserta didik
mengucapkan angka-angka yang panjang.
c. Pendidik menggunakan balok-balok ber- warna dan kartu-kartu yang digerakkan untuk
membimbing para siswa ke arah menghasilkan atau membentuk kata-kata dan struktur
gramatikal dasar yang di- perlukan atau yang diinginkan.
Sementara itu langkah-langkah yang bisa diambil oleh guru dalam menggunakan
metode ini secara garis besar:34
dipelajari, guru menyajikan papan peraga kedua yang berisi kosa kata yang terpilih, kosa
kata ini diambil dari kalimat-kalimat yang paling sering digunakan dalam
komunikasi sehari-hari. Kosa kata ini sangat berguna bagi para pelajar dalam
menyusun sebuah kalimat secara mandiri, langkah ini juga masih tahap permulaan.
d. Guru menggunakan tongkat warna-warni yang telah disediakan untuk memancing para
pelajar berbicara bahasa asing yang sedang dipelajari. Dan bermacam contoh kalimat
lainnya. Setelah itu pelajar tersebut diminta untuk melakukan dan mengatakan hal yang
sama kepada temannya yang lain, dan seterus- nya. Dengan demikian para pelajar akan
terangsang untuk membuat kalimat lengkap secara lisan dengan kata-kata yang telah
mereka kuasai sebelumnya. Dalam hal ini penggunaan isyarat yang paling benar cukup
penting sebagai pengganti penjelasan verbal. Guru secara berangsur- angsur berkata
seminimal mungkin, sedangkan para pelajar melakukan hal sebaliknya, dengan
berusaha menghindari penggunaan bahasa mereka, tetapi tetap dalam pengawasan non-
verbal guru. Jika sudah memungkinkan untuk mengem- bangkan perbendaharaan kata-
kata, guru bisa menggunakan alat peraga lainnya yang sesuai, misalnya benda-benda
alam, gambar-gambar, atau worksheet dengan tema-tema tertentu sesuai kebutuhan.
e. Sebagai penutup, guru bisa mengadakan tes keberhasilan peserta didik dalam
penguasaan kosa kata yang telah diajarkan dengan memberikan perintah-perintah yang
sedapat mungkin tidak secara [Link] pengetesan ini tentu harus mem- perhatikan
waktu yang tersedia, karena dengan keterbatasan waktu yang ada, maka tidak mungkin
pengetesan dapat diberikan ke seluruh pelajar
menjamin akan tercapainya tujuan pembelajaran yang dimana peserta didik mampu mencapai
kelancaran berbahasa dengan perhitungan yang hampir mirip dengan penutur aslinya.
Keempat, metode ini hampir sama dengan metode audio-lingual. Karena peserta didik diberi
sedikit materi oleh pendidik, seperti mendengarkan audio, tetap saja peserta didik butuh
pengulangan untuk mendengarkannya.35
Dari segi sumber bacaan yang digunakan untuk belajar saja sudah terlihat hampir
sama. Jika pada buku kurikulum yang lama atau KTSP, materi yang disajikan lebih banyak
teorinya. Sedangkan pada kurikulum 2013, buku yang disajikan pada siswa lebih banyak
latihanlatihan soal daripada materi atau bacaan yang ada. Seiring berkembangnya zaman,
semakin canggih alat komunikasi atau alat elektronik yang ada di muka bumi ini, sehingga
menyebabkan semakin luasnya wawasan yang akan dicari khalayak umum. Karena, pendidik
maupun peserta didik tidak hanya bergantung lagi pada buku yang diberikan oleh sekolah
saja. Tetapi bisa langsung mencari sumber referensi pada internet. Perbedaan materi yang
35
Dedih wahyudin hal 74
23
didapat dari buku dengan yang ada di internet juga tidak bisa disamakan. Jika materi pada
buku lebih mengacu pada pembahasan yang sebelumnya sudah dituliskan pada daftar isi di
awal halamannya, sedangkan pada internet, materi tidak mencakup konteks yang akan
dibahas saja. Contohnya, ketika kita akan mempelajari materi kondisi geografis pada
lingkungan sekitar kita, bisa saja materi yang didapat malah lebih condong tentang bencana-
bencana atau musibah yang terjadi pada bumi ini, walau terkadang juga sudah terdapat materi
mengenai bagaimana cara menanggulanginnya. Sehingga pada intinya, tanpa kita semua
sadari, ternyata atTharīqah al-Mubāsyarah juga sudah diterapkan di lingkungan sekitar kita,
khususnya lingkungan terdekat kita.
Jadi sebenarnya metode ini beragam dan luas. Sebagai bukti, metode ini ternyata cocok
digunakan tidak hanya dalam pembelajaran bahasa saja. Tetapi pada pembelajaran umum
juga bisa diterapkan. Sebagai contoh spesifik pada pembelajaran umum, yaitu pada
pembelajaran ilmu pengetahuan alam, yang pada umumnya mencakup tiga mata pelajaran
inti, tidak lain macamnya adalah kimia, fisika, dan biologi. Penerapan metode ini pada mata
pelajaran kimia biasanya pada waktu melakukan presentasi dengan objek yang disediakan
atau bisa disebut dengan praktikum. Dari hal itu peserta didik dituntut untuk mandiri dengan
hanya mengacu pada bantuan yang ada pada buku. Biasanya pula instruksi praktikum
disajikan dengan bahasa yang singkat dan tidak panjang lebar. Sehingga jika ada peserta
didik yang kemampuan otaknya lambat maka akan berpengaruh sekali pada hasil praktikum
atau saat kerja praktikumnya. Pada mata pelajaran fisika, peserta didik dituntut untuk
mendemonstrasikan kegiatan menghitung suatu objek yang ada pada dunia nyata dengan
rumus yang telah disediakan pada buku. Peserta didik dapat mengasah kemampuan kognitif
khususnya di bidang penalaran, dimana peserta didik membutuhkan konsentrasi lebih dan
mau mencari tahu sendiri seperti apa dan bagaimana saja karakteristik objek tersebut.
Kemudian yang terakhir adalah mata pelajaran biologi. Diantara ketiga mata pelajaran
tersebut, yang paling besar kaitannya dengan at-Tharīqah al-Shāmitah adalah biologi. Karena
di dalamnya terdapat suatu kegiatan penelitian langsung atau yang biasa disebut dengan
observasi.
tersebut. Dari banyaknya kegiatan observasi tersebut, sudah dapat diketahui bahwa siswalah
yang berperan besar untuk aktif dalam kegiatan proses pembelajaran. Sehingga cocok dengan
penjelasan, kaidah, serta penjabaran mengenai bagaimana karakteristik metode ini. Dengan
begitu, banyak pula tentunya manfaat yang dapat diambil oleh peserta didik sehingga proses
belajar mengajar bisa dirasakan ketidaksia-siannya.36
C. Bahasa Arab
Bahasa arab memiliki sebuah peranan yang sangat penting dalam kehidupan umat
Islam. Dalam berbagai kegiatan keagamaan (ibadah) bahasa arab banyak digunakan seperti
shalat, adzan, berdoa, membaca al-qur’an, dll. Selain itu, yaitu al-qur’an dan hadist yang
ditulis dalam bahasa arab. Demikian pula, kitab-kitab tafsir, fiqih, ilmu hadist, dll juga ditulis
dalam bahasa arab dan masih belum banyak diterjemahkan. Sehingga mempelajari bahasa
arab menjadi hal yang sangat penting bagi orang islam. Tanpa penguasaan yang baik tentang
bahasa arab maka seseorang tidak bisa memahami ajaran Islam secara mendalam dan dengan
pemahaman yang benar. Dasar utama dalam memperlajari bahasa arab adalah kemampuan
untuk memahami kosa kata bahasa arab. Sebab penguasaan kosa kata bahasa arab berkaitan
erat dengan penguasaan keterampilan berbahasa yaitu Mendengarkan, Berbicara, Membaca,
dan Menulis. Tanpa penguasaan kosa kata yang baik, maka sulit bagi pelajar untuk menguasai
kosa kata dengan baik pula. Sebaliknya penguasaan yang baik akan membantu pelajar untuk
menguasai 4 keterampilan bahasa tersebut. Dengan kata lain, penguasaan keterampilan bahasa
arab memerlukan penguasaan kosa kata yang baik.
Dalam belajar bahasa arab, siswa harus menguasai kosa kata bahasa arab. Adapun
proses dalam belajar bahasa arab, mempelajari kosa kata merupakan kategori paling penting
dari semua kategori bahasa asing untuk dikuasai oleh siswa. Sehingga masih banyak siswa
yang tidak bisa mengucapkan dengan benar kosa kata bahasa arab dan belum mengerti arti
kosa kata bahasa dengan benar dan masih sedikit kosa kata yang dimiliki siswa. Penguasaan
kosa kata merupakan kemapuan untuk dapat menguasai kosa kata. Dengan demikian,
penguasaan kosa kata meliputi kemampuan seperti mengucapkan dan menuliskan kata dengan
benar, memahami makna kata, kemampuan menggunakan kosa kata tersebut dengan tepat.
1. Menurut Jurji Zaidah
36
Muhammad Thohir 2021”Metode Pembelajaran Bahasa Arab Sebagai Bahasa Asing”( Kanzum Books Jl.
Kusuma 28 Berbek Waru Sidoarjo) hal 117
25
“Bahasa Arab adalah salah satu bahasa Smith, yang mereka maksud bahasa Smith
adalah bahasa yang dipakai anak cucu Syam dan menurut istilah mereka yaitu bahasa
penduduk yang berada di antara dua sungai dan jazirah Arab dan negara Syam.”
37
Wahyudin dedit 2017 “metododlogi pembelajaran bahasa arab” (bandung, PT remaja rosdakarya) h. 204
38
Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia No. 2 Tahun 2008, h. 22
26
D. Metode drill
Metode Drill merupakan suatu cara mengajar dengan memberikan latihan-latian
terhadap apa yang telah dipelajari siswa sehinga memperoleh suatu keterampilan tertentu.
Kata latihan mengandung arti bahwa sesuatu itu selalu diulang-ulang bila situasi belajar itu
berubah-ubah kondisinya sehingga meuntut respon yang berubah, maka keterampilan akan
lebih sempurna. Metode latihan pula pada umumnya digunakan untuk memperoleh suatu
ketangkasan atau keterampilan dari apa yang telah dipelajari. Misalnya keterampilan
kecakapan mental seperti membaca, menghafal dan sebagainya. Hal ini sejalan dengan
bahwa metode drill atau disebut latihan dimaksudkan untuk memperoleh ketangkasan atau
keterampilan latihan terhadap apa yang dipelajari, karena hanya dengan melakukannya
secara praktis suatu pengetahuan dapat disempurnakan dan disiap-siagakan.
Metode ini yang akan digunakan untuk kelas control pada saat [Link]
drill adalah suatu cara mengajar yang dilakukan berulang kali untuk mendapatkan
keterampilan dan ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. lebih dari itu
diharapkan agar pengetahuan atau kterampilan yang telah dipelajari itu menjadi permanen
dan dapat dipergunakan setiap saat oleh yang bersangkutan. Metode drill adalah salah satu
kegiatan melakukan halyang sama, berulang-ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan
untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan agar menjadi
bersifat permanen. Ciri yang khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan yang
berkali-kali dari suatu hal yang sama.40
Sehingga dapat disimpulkan bahwa metode drill adalah latihan dengan praktek
yang dilakukan berulang kali atau kontinyu/untuk mendapatkan keterampilan dan
ketangkasan praktis tentang pengetahuan yang dipelajari. Lebih dari itu diharapkan agar
pengetahuan atau keterampilan yang dipelajari itu menjadi permanen, mantap dan dapat
dipergunakan setiap saat oleh yang bersangkutan. Harus disadari sepenuhnya bahwa apabila
penggunaan metode tersebut tidak/kurang tepat akan menimbulkan hal-hal yang negatif,
anak kurang kratif dan kurang dinamis.
Dalam penggunaan metode mengajar pasti ada kekurangan dan kelebihan, demikian juga
dengan metode drill mempunyai kelebihan dan kekurangan. Menurut Sriyono 1991: 111:
a. Kelebihan Metode Drill
1 Bahan yang diberikan secara teratur, tidak loncat -loncat dan langkah demi
langkah akan melekat pada diri anak dan benar -benar menjadi miliknya.
2 Adanya pengawasan bimbingan dan koreksi yang segera diberikan oleh guru
memungkinkan murid untuk segera melakukan perbaikan terhada p kesalahan-
kesalahannya. Dengan demikian juga akan menghemat waktu belajarnya.
3 Pengetahuan atau ketrampilan siap yang telah terbentuk sewaktu -waktu dapat
dipergunakan dalam keperluan sehari -hari baik untuk keperluan studi maupun untuk
bekal hidup di masya rakat kelak.
a. Kekurangan Metode Drill
1 Dapat membentuk kebiasaan yang kaku. Respon yang terbentuk secara otomatis
akan mempengaruhi tindakan yang bersifat irrasional, rutinitas serta tidak
menggunakan akal.
2 Latihan yang terlampau berat akan menimbulkan pe rasaan benci baik kepada
gurunya ataupun kepada mata pelajarannya
3 Latihan yang dilakukan dengan pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang
serius mudah sekali menimbulkan kebosanan dan kejengkelan. Akhirnya anak
enggan berlatih dan malas serta mereka akan mogok untuk belajar. Kekurangan
yang dimiliki oleh suatu metode pembelajaran dapat ditutupi jika kita bisa
memaksimalkan kelebihan yang dimiliki oleh metode tersebut. Pembelajaran di
kelas tergantung ketrampilan guru dalam pengelolaan kelas agar kelas yang diajar
dengan metode drill bisa maksimal dalam pembelajaran
E. Pengajuan Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. 41
Terdapat perbedaan mendasar pengertian hipotesis menurut statistik dan penelitian. Hipotesis
penelitian diartikan sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian.
Hipotesis statistik merupakan pernyataan statistik tentang parameter populasi yang akan diuji
kebenarannya berdasarkan sampel yang diperoleh dari sampel penelitian. 42
41
Sugiyono. 2019,” Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif dan Kualitatif R & D”. Bandung :
Alfabeta, h. 159
42
Ibid. h 84.
28
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara
dari permasalahan yang perlu diuji kebenarannya melalui analisis. Maka berdasarkan uraian
diatas, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
1. Hipotesis Penelitian Terdapat pengaruh yang signifikan antara Metode silent way terhadap
peningkatan hasil belajar bahsa arab kelas 4.
2. Hipotesis Statistik
a. H0 : Tidak ada pengaruh peningkatan hasil belajar antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol.
b. Ha : Ada pengaruh peningkatan hasil belajar kelas eksperimen dan kelas kontrol
BAB III
METODE PENELITIAN
29
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini mengacu pada pendekatan penelitian kuantitatif. Metode penelitian
kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat
positifisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu teknik pengambilan
sampel pada umumnya dilakukan secara random pengumpulan data menggunakan instrumen
penelitian analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji
hipotesis yang telah ditetapkan. Sedangkan jenis penelitian yang digunakan pada penelitian
ini yaitu penelitian quasi eksperimental design. Mendefinisikan bahwa penelitian eksperimen
yaitu penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang
lain dalam kondisi yang terkendali. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Suharsimi
Arikunto yang mendefinisikan penelitian eksperimen merupakan penelitian yang
dimaksudkan untuk mengetahui ada tidaknya akibat dari treatment pada subjek yang
diselidiki.43 Cara untuk mengetahuinya yaitu membandingkan satu atau lebih kelompok
eksperimen yang diberi treatment dengan satu kelompok pembanding yang tidak diberi
treatment.
44
Menurut Sugiyono , terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yaitu: pre-
exsperimental design, true experimental design, factorial desig, dan quasi experimental
design. Sugiyono menyatakan bahwa ciri utama dari quasi experimental design adalah
pengembangan dari true experimental design, yang mempunyai kelompok kontrol namun
tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabel—variabel dari luar yang
mempengaruhi pelaksanaan eksperimen.45
Berdasarkan pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa quasi experimental design
adalah jenis desain penelitian yang memiliki kelompok kontrol dan kelompok eksperimen
tidak dipilih secara random. Peneliti menggunakan desain quasi experimental design karena
dalam penelitian ini terdapat variabel-varibel dari luar yang tidak dapat dikontrol oleh
peneliti.
B. Desain Penelitian
Menurut Sugiyono quasi experimental design terdapat dua bentuk yaitu time series
design dan nonequivalent control group design.41 Desain yang digunakan dalam penelitian ini
43
Suharsimi arikunto, 2010 ‘’ Prosedur Penelitian ‘’ (Jakarta : Rineka Cipta) h. 54.
44
Sugiono, 2018 ‘’ Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan kuantitatif, Kualitatif R & D’’ ( Bandung; Alfabeta
Cv ), h. 108.
45
Ibid 114
30
adalah quasi experimental design dan menggunakan model nonequivalent control group
design. Sebelum diberi treatment, baik kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberi
test yaitu pretest, dengan maksud untuk mengetahui keadaan kelompok sebelum treatment.
(arikuntoro, 2010)Kemudian setelah diberikan treatment, kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol diberikan test yaitu posttest, untuk mengetahui keadaan kelompok setelah
treatment.
O1 XO2
O3 O4
Gambar 2. Nonequivalent Control Group Design
Keterangan :
1. Populasi
Popilasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup
dan waktu yang di tentukan. Hadari mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan
objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda-benda, hewan, tumbuhan-tumbuhan,
gejala-gejala, nilai tes, atau peristiwa-peristiwa sebagai sumber data yang memiliki
karakteristik tertentu di dalam suatu penelitian. 46 Populasi dalam penelitian yaitu kelas
mushab dan kelas bilal dengan jumlah siswa 43 siswa .
Table 3.1
46
Ibid. h 117
31
2. Sample
Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
47
tersebut. Teknik dalam pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive
sampling. Purposive sampling menurut Sugiyono adalah teknik penentuan sampel dengan
pertimbangan tertentu. Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas IV bilal
yang jumlahnya 23 Orang sebagai sampel yang menggunakan Metode pembelajaran
konvensional (kelas kontrol) dan peserta didik kelas IV mushab yang berjumlah 20 Orang
sebagai sampel yang menggunakan Metode silent way.
3. Teknik sampling
Teknik sampling merupakan suatu cara pengambilan contoh atau sampel untuk
diteliti. Sampel yang terpilih merupakan sumber data yang akan diolah secara statistik
dan harus mampu memberikan gambaran untuk sebuah populasi. Jadi sampel merupakan
cerminan tingkahlaku populasi. Apabila pengambilan sampelnya tidak benar, maka
sampel tersebut tidak akan mampu memberikan atau mewakili populasi. 48
Teknik Pengambilan Sampel Teknik dalam pengambilan sampel dalam penelitian
ini adalah purposive sampling. Purposive sampling menurut Sugiyono adalah teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu . Adapun langkah-langkah untuk
mengambil subjek yang menjadi sampel ini dilakukan dengan cara:
1) Menentukan dua kelas dari kelas IV
2) Memilih kelas ekperimen yang terdapat banyak siswa dengan nilai rata-rata
dibawah KKM yang nantinya akan diberikan metode silent way
3) Menentukan kelas control yang nantinya akan diberikan metode drilling
47
Ibid.h. 118
48
Dr. Almasdi syahza. [Link].2021, metodologi penelitian (pecan baru, UR Pers)
32
Variabel sebagai ciri atau karakteristik dari individu, objek, peristiwa yang nilainya bisa
berubah-ubah sehingga memungkinkan untuk dilakukan pengukuran, baik secara kuantitatif
maupun secara kualitatif, dapat pula diartikan sebagai konsep yang diberi lebih dari satu nilai.
Karena itu variabel-variabel yang telah ditetapkan dalam penelitian ini perlu didefinisikan secara
operasional dengan jelas Penguasaan kosa kata bahasa arab dalam penelitian ini dimaksud adalah
kemampuan anak untuk mengetahui, mengahafal, menyebutkan, memahami bahasa arab umum
khusus maupun dasar.
Metote silent way yang di maksud adalah metode yang akan digunakan untuk
meningkatkan hasil belajar bahasa arab pada kelas IV di MI diniyyah putri lampung.
1. Variabel Penelitian
Variabel Penelitian yaitu suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau
kegiatan yang variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulan.
2. Identifikasi Variabel
Variabel bebas/independen (X). Variabel bebas/independen (X) adalah
merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya
atau timbulnya variabel dependen (terikat). Pada penelitian ini sebagai variabel
bebas adalah metode sillent way Variabel terikat/dependen (Y). Variabel
terikat/dependen (Y) adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat
karena adanya variabel bebas. Pada penelitian ini yang menjadi variabel terikat
adalah penguasaan kosa kata bahasa arab
3. Hubungan antar Variabel
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas (X)
yaitu metode sillent way dan variabel terikat (Y) yaitu peningkatan hasil belajar bahasa
arab. Jadi dalam hal ini metode sillent way sebagai variabel bebas mempunyai pengaruh
untuk meningkatkan penguasaan kosa kata bahasa arab sebagai variabel terikat. Berikut
merupakan gambar hubungan antar variabel:
a. Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di MI Diniyyah Putri Lampung desa negri sakti kabupaten pesawaran,
salah saltu intsansi dibawah naungan Perguruan Dinniyyah Putri Lampung.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini diawali dengan observasi proses pembelajaran bahasa arab di MI dinniyah putri
lampung kelas IV terdapat 3 kelas, yaitu bilal, mushab , annas. Pada tanggal 18 januari 2022 .
G. Instrumen Penelitian
Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa instrumen penelitian merupakan alat yang
digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data pekerjaan agar lebih mudah diolah.
Instrumen dalam penelitian ini berdasarkan pada peraturan pemerintah Nomor 58 Tahun
2009, serta mengacu pada teori keterampilan membaca permulaan. Kisi-kisi instrumen
penguasaan kosa kata yang diteliti yang terdiri dari variabel, subvariabel, level kognitif soal
dan indikator. Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitupenguasaan kosa kata,
subvariabel yaitu mengenal huruf dan bunyinya serta mengenal suku kata, sedangkan
indikator adalah pengembangan dari subvariabel. Lebih jelas lagi dapat dilihat pada Tabel 3.
34
Berikut merupakan kisi-kisi instrumen penguasaan kosa kata permulaan yang digunakan
sebagai dasar pengambilan data pretest dan posttest:
Tabel 3.2
H. Validitas Instrumen
Peneliti menggunakan beberapa instrumen untuk mendapatkan data-data yang
dibutuhkan dalam penelitian ini. Instrumen yang digunakan adalah uji validitas instrumen.
Pengujian validitas instrumen salah satunya dapat dilakukan dengan pengujian validitas
konstrak. Pengujian validitas konstrak yaitu uji instrumen yang dilakukan dengan
menggunakan ahli atau biasa disebut dengan experts judgment. Dalam hal ini setelah
instrumen dikonstruksi tentang aspek- aspek yang akan diukur dengan berlandaskan
penguasaan kosakata, maka selanjutnya dikonsultasikan dengan ahli, yang mana hasilnya
akan digunakan sebagai dasar pengambilan data pretest dan posttest. Instrumen yang telah
disusun oleh peneliti ini telah divalidasi.
1. Uji validitas
Validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes hasil belajar. 49Validitas
merupakan jawaban dari pertanyaan apakah pengukuran yang dilakukan mampu
mengukur dengan benar apa yang diukur. Pengukuran dikatakan memiliki validitas yang
tinggi apabila dari hasil pengukuran data yang akurat dalam memberikan gambaran
terkait dengan variabel yang diukur seperti yang dikehendaki apa yang menjadi tujuan
pengukuran tersebut. Oleh karena itu, untuk mencapai pengukuran yang dikategorikan
memiliki validitas yang tinggi maka alat ukur harus memiliki kemampuan untuk
mengukur secara akurat. Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Suatu instrument yang valid atau sahih
mempunyai validitas tinggi dan sebaliknya apabila instrument yang kurang valid berarti
validitas rendah. Sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
diinginkan. Uji validitas pada penelitian ini menggunakan alat bantu perhitungan yaitu
program SPSS for Windows 16 dengan teknik Corrected item – total correlation.
Pengujian validitas dengan taraf signifikan 0,05 memiliki kriteria pengujian yaitu : jika
rhitung > rtabel maka instrumen atau item-item pernyataan dinyatakan valid, dan jika
rhitung < rtabel maka instrumen atau item-item pernyataan dinyatakan tidak valid. 50
49
Anas Sudijono,2017.” Pengantar Evaluasi Pendidikan”, (Jakarta: Rajawali Pers,), h. 163
50
Putra, Z., F. S., Sholeh, M., & Widyastuti, N.,2017” (putra, 2017) (mangun, 2016)”, 2(1). Hal. 177
36
2. Uji rehabilitas
Reliabilitas merupakan konsistensi dari instrument soal terhadap hasil penilaian
yang dilakukan. Artinya bahwa suatu soal dianggap memiliki reliabilitas apabila soal
untuk mengukur pengetahuan atau kompetensi yang sama pada peserta didik
menghasilkan hasil pengukuran yang konsisten atau tetap walaupun digunakan dalam
waktu dan tempat yang berbeda. Azwar menjelaskan dalam Sigit bahwa reliabilitas dalam
pengukuran atau dalam penilaian pembelajaran memiliki makna sejauh mana hasil suatu
proses pengukuran dapat dipercaya.51 Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila
memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi jika instrument tersebut dapat memberikan
hasil yang tepat. Untuk menentukan tingkat reliabilitas tes berupa soal Multiple Choice
digunakan alat bantu perhitungan yaitu program SPSS for Windows 16 teknik
Cronbach’s Alpha. Dasar pengambilan keputusan dalam uji reliabilitas adalah jika Alpha
> rtabel maka item-item instrumen dinyatakan reliabel atau konsisten, sebaliknya jika
Alpha< rtabel maka item-item instrumen dinyatakan tidak reliabel atau tidak konsisten.
Kriteria Reliabilitas soal adalah sebagai berikut :
Tabel 3.3
Kriteria Realibilitas Soal
3. Tingkat kesukaran
Uji tingkat kesukaran adalah salah satu analisis kuantitatif yang paling sederhana
dan mudah. Uji tingkat kesukaran dimaksudkan untuk mengkaji soal yang mudah, sedang
dan sukar, sehingga bisa menyeimbangkan proporsi soal yang mudah, sedang dan sukar
dalam tes.52 Semakin besar indeks maka akan semakin mudah pula tingkat butir soal,
karena dapat dijawab dengan benar oleh sebagian peserta didik dan begitu juga
51
Sigit Mangun,2016 Pembelajaran Kontruktivisme : “Teori dan Aplikasi Pembelajaran dalam Pembentukan
Karakte”r, (Bandung: Alfabeta, )h.113.
52
Hamzah B. Uno dan Satria Koni, [Link]., h. 156.
37
sebaliknya.53 Uji tingkat kesukaran butir soal dapat dianalisis dengan menggunakan alat
bantu program SPSS for Windows 16. Klasifikasi Tingkat Kesukaran soal sebagai
berikut:
Tabel 3.4
Besar P Interprestasi
P<0.3 Sulit
0.3, ≤p≤0,7 Sedang
p>0,7 Mudah
Sumber : Anas Sudjiono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Rajawali Pers,
2015), h. 372.
Tabel 3.5
53
Ibid. h. 156.
54
Hamzah B. Uno dan Satria Koni, Ibid, h. 157.
38
2. Uji homogenitas varian sebagaimana yang dikemukakan oleh Singgih Santoso bahwa uji
homogenitas yaitu untuk mengetahui apakah kedua kelompok mempunyai rata-rata yang
sama atau tidak. Uji homogenitas yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji anova
dengan bantuan SPSS for windows release 16. Asumsi yang digunakan dalam pengujian ini
yaitu jika data bertipe kuantitatif, baik itu interval atau rasio, data berdistribusi normal, dan
data berjumlah sedikit
Adapun hipotesis uji homogeneity of variances sebagai berikut :
H0 : tidak ada perbedaan nilai varians dari kedua kelas
Ha : ada perbedaan nilai varians dari kedua kelas
Tabel 3.7
Ketentuan Homogeneity of Variances
Probabilitas Keterangan Artinya
Fhitung < Ftabel H0 diterima
tidak ada perbedaan nilai
39
J. Uji Hipotesis
Uji hipotesis pada penelitian perlu diuji untuk membuktikan kebenaran dari
hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Dalam pengujian hipotesis ini peneliti
menggunakan uji independent sample t test dengan bantuan SPSS for windows release 16.
Singgih Santosa menyatakan bahwa uji independent sample t test adalah uji hipotesis ini
digunakan untuk membandingkan rata-rata dari dua grup yang tidak berhubungan satu
dengan yang lain, dengan tujuan apakah kedua grup tersebut mempunyai rata-rata yang
sama atau tidak. Sugiyono untuk menguji daya pembeda secara signifikasi digunakan
rumus sebagai berikut;
34
35
Daftar pustaka
Junanah. (2014). Silent Way Metode Pembelajaran Bahasa Arab Yang Mendorong
Peserta Didik Lebih Kreatif Mandiri Dan Bertanggungjawab . Uii, 49.