0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Konflik Agama di Indonesia: Penyebab dan Dampak

Diunggah oleh

inigo adi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan15 halaman

Konflik Agama di Indonesia: Penyebab dan Dampak

Diunggah oleh

inigo adi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KONFLIK ISLAM DENGAN AGAMA – AGAMA MINORITAS

DI INDONESIA

2.1 Pengertian Konflik

Perbedaan adalah aspek yang senantiasa ada dalam kehidupan. Perbedaan

membuat hidup lebih menarik dan diperkaya olehnya. Oleh sebab itu, perbedaan

dapat menjadi potensi jika dipahami secara baik dan dikelola secara konstruktif 1.

Selain menjadi potensi apabila dipahami dan dikelola dengan baik, perbedaan juga

dapat menimbulkan pertentangan atau konflik dalam kehidupan manusia. Hal itu

bisa terjadi karena sifat manusia sebagai makhluk konfliktis (homo conflictus)

yaitu mahkluk yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, dan persaingan

baik itu sukarela ataupun terpaksa2. Kita bisa melihat bahwa akhir-akhir ini

Indonesia kerap diwarnai oleh konflik yang kebanyakan disebabkan oleh adanya

perbedaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konflik memiliki arti

sebagai percecokan dan pertentangan3. Oleh sebab itu, konflik bisa dipahami

sebagai pertentangan yang ditandai dengan pergerakan dari beberapa pihak,

sehingga terjadi persinggungan4. Persinggungan yang terjadi disebabkan oleh

dorongan untuk mencapai kebutuhan yang berbeda satu sama lain.

2.1.2 Konflik Antaragama.

1
Wahab Abdul Jamil, Manajemen Konflik Keagamaan, Penerbit PT Elex Media Komputindo,
Jakarta 2014, hlm 6.
2
Wahab Abdul Jamil, Manajemen Konflik Keagamaan, hlm 5.
3
Poerwadarminta W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta 1982,
hlm 519.
4
Wahab Abdul Jamil, Manajemen Konflik Keagamaan, hlm 5.

6
Konflik antaragama adalah pertentangan mengenai dasar iman yang dianut

oleh umat beragama dan melibatkan kelompok agama yang berbeda. Konflik

antaragama mewujud dalam pertentangan ide, pertentangan mengenai cara

seseorang atau kelompok agama mendekatkan diri kepada Tuhan dan cara hidup

seseorang atau kelompok agama menurut dasar agamanya.

Mengapa agama dapat menjadi sumber konflik? Penyebab konflik agama

menurut faktornya terbagi menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor

internal itu antara lain; orientasi agama yang mengarah kepada perpecahan dan

adanya penafsiran tertentu yang berbeda satu sama lain. Sedangkan, faktor

eksternal adalah kesenjangan ekonomi, konflik sosial budaya, kepentingan

ekonomi, dan politik

2.2 Konflik antaragama di Indonesia.

2.2.1 Kemajemukan sebagai potensi konflik

Indonesia adalah negara yang majemuk. Kemajemukan di negara ini

berasal dari banyaknya keragaman sosial – budaya di setiap daerah. Indonesia

memiliki suku, agama, dan ras yang berbeda di setiap daerahnya. Keragaman

antardaerah menjadi sarana untuk saling melengkapi atau sebaliknya

menimbulkan konflik.

Kebanyakan konflik antaragama yang terjadi di Indonesia ditimbulkan

oleh tindakan intoleransi yang dilakukan oleh pemerintah ataupun kelompok

keagamaan, terutama kelompok – kelompok Islam radikal. Penyebabnya adalah

pemahaman sempit mengenai Islam dan ketidakmampuan untuk menerima

perbedaan, khususnya dalam hidup bersama denga agama – agama lain. Selain itu,

7
ketidakmampuan mereka dalam mengintegrasikan nilai, ajaran, dan konsep Islam

ke dalam struktur masyarakat modern juga menjadi salah satu alasan timbulnya

konflik dalam kehidupan beragama di Indonesia5.

2.2.2 Daerah – daerah Konflik di Indonesia

Survei dari the Wahid Institute mengenai daerah - daerah konflik

antaragama yang terjadi di Indonesia, dari tahun 2009 – 2014, menyatakan bahwa

provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama sebagai daerah dengan konflik

antaragama terbanyak di Indonesia. Faktor yang menyebabkan adalah karena

konteks sejarah lokal yaitu daerah Jawa Barat menjadi basis perjuangan untuk

mendirikan Darul Islam (Negara Islam) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo. Selain

itu, kelompok dan ormas Islam radikal seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) 6 dan

JAT (Jamaah Ansharut Tauhid)7 tumbuh subur di tempat ini8.

Pemerintah juga ambil bagian dalam konflik dan tindakan intoleransi

terhadap umat beragama. Hal itu terlihat dari 46 kebijakan pemerintah yang

5
Arif Syaiful, Islam, Pancasila, dan Deradikalisasi, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta
2018, hlm 174.
6
Hizbut Tahrir pertama kali ada terbentuk di Indonesia pada tahun 2002, melalui konferensi
Internasional bertajug Khilafah Islamiyah yang digelar di Istora Senayan. Pahamnnya sudah ada di
Indonesia pada kisaran tahun 1982-1983 melalui Abdurrahman al-baghdadi yang menetap di
Pesantren Al-Ghazali milik Kiai Abdullah bin Nuh di [Link] paham HT dimulai
dengan interaksi Abdurrahman dengan para aktivis masjid kampus di Masjid Al-Ghifari, IPB
Bogor. Dari sini, pemikiran mengenai HT didiskusikan dan dibentuklah pengajian-pengajian kecil
untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan [Link] jaringan Lembaga Dakwah Kampus (LDK),
ajaran HT menyebar ke kampus-kampus di luar Bogor, seperti UNPAD, UNAIR hingga keluar
jawa seperti [Link] pergerakannya, sasaran HTI mengincar masjid besar di ibukota
kabupaten/kota dan kampus sebagai tempat penyebaran pahamnya.
7
Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) adalah organisasi Islam di Indonesia yang merupakan pecahan
dari MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Organisasi ini didirikan pada 27 Juli 2008 oleh Abu
Bakar Baasyir. JAT lebih menekankan terror dalam aksinya dan organisasi ini juga mendukung
pendirian negara Islam yang dilakukan ISIS, serta beberapa anggotanya adalah teroris.
8
Dja’far Alamsyah M, (IN) [Link] Kebencian & Kekerasan Atas Nama Agama,
Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2018, hlm 144.

8
Grafik 1. Jumlah Pelanggaran dan Intoleransi berdasarkan Sebaran Wilayah pada tahun 2014

diskriminatif yang salah satu contohnya adalah penahanan pemberian KTP

Elektronik bagi warga JAI di Manislor Kabupaten Kuningan. Hal ini terjadi

karena adanya tekanan dari kelompok-kelompok agama (Islam) yang menolak

keberadaan warga Ahmadiyah di Kuningan.

Setelah Jawa Barat, menyusul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai

daerah yang rawan konflik agama. Kebanyakan motif intoleransi yang terjadi

Yogyakarta adalah perihal pergulatan politik yang dibungkus dengan isu agama.

Tujuannya tidak lain untuk menarik sentimen masyarakat terhadap problem yang

terjadi.

Sumatera Utara menempati urutan ketiga. Hal ini disebabkan karena

banyaknya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama Islam yang akan

mengarahkan menjadi Islam aliran keras.

2.2.3 Bentuk Tindakan dan Pelaku

Konflik antaragama menurut pelakunya terbagi menjadi dua, yaitu

pemerintah dan kelompok – kelompok keagamaan. Setiap pelaku tentu memiliki

motifnya sendiri – sendiri.

9
Survei dari the Wahid Institute pada tahun 2009 – 2014 menunjukan

bahwa tindakan intoleransi yang paling sering dilakukan pemerintah beserta

aparatnya berupa pembatasan rumah ibadah, kriminalisasi atas dasar agama,

diskriminasi atas dasar agama, dan melarang kegiatan keagamaan. Indonesia

sendiri mengalami 17 peristiwa pelarangan atau penyegelan rumah ibadah,

Grafik 2. Konflik dan tindakan intoleransi yang dilakukan oleh pemerintah

tindakan kriminalisasi atas dasar agama sebanyak 14 peristiwa dalam kurun waktu

lima tahun. Selain itu, tindakan lain yang juga tinggi adalah diskriminasi atas

dasar agama serta melarang atau menghentikan kegiatan keagamaan dengan

masing - masing 12 peristiwa.

Pemahaman yang kurang mengenai pluralisme menjadi alasan mengapa

banyak tindakan intoleransi dan diskriminasi dilakukan oleh pemerintah. Di

beberapa daerah seperti Jawa Barat, pemerintah kota masih terjebak dalam budaya

sektarian yang membuat kelompok minoritas ataupun agama-agama minoritas

terpinggirkan.

10
.

Grafik 3. Konflik dan tindakan intoleransi yang dilakukan oleh kelompok -kelompok

agama.

Pelaku dari kelompok – kelompok agama juga tidak kalah banyak. Survei dari the

Wahid Institute pada tahun 2009 – 2014 menunjukan bahwa tindakan intoleransi

yang paling sering dilakukan kelompok – kelompok agama, berupa serangan dan

perusakan properti sebanyak 16 peristiwa, penyebaran kebencian sebanyak 15

peristiwa, penyesatan terhadap kelompok lain sebanyak 10 peristiwa, intimidasi

dan ancaman kekerasan dan pelarangan kegiatan keagamaan sebanyak 9 peristiwa

yang tejadi dalam kurun waktu lima tahun.

Faktor yang menyebabkan tingginya tindakan intoleransi adalah

pemahaman yang sempit dari kelompok – kelompok keberagamaan. Kelompok –

kelompok Islam radikal menyakini kondisi masyarakat Indonesia saat ini berbeda

dengan kehidupan masyarakat Madinah dan Mekkah semasa masa nabi

Muhammad SWT. Kelompok agama di luar Islam dianggap kafir dan harus

diperangi. Oleh sebab itu tindakan intoleransi yang tertera pada grafik merupakan

11
beberapa bentuk tindakan yang mereka yakini sebagai usaha untuk

mengembalikan cara hidup masyarakat Indonesia zaman masyarakat Medinah.

Selain tindakan yang dilakukan oleh kelompok – kelompok Islam

berfaham radikal, tindakan intoleransi juga dilakukan oleh kelompok dari agama

di luar Islam. Contohnya penolakan masjid dan musala. Kasus ini dilakukan oleh

kelompok kristen di daerah Indonesia timur. Penyebabnya adalah dendam karena

banyak gereja yang kesulitan untuk dibangun di Jawa. Karena kejadian itu,

kelompok agama di daerah Indonesia timur melakukan hal yang sama pada

minoritas Muslim di sana.

2.2.4 Kesimpulan

Berdasarkan ketiga grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa pulau Jawa

adalah daerah di Indonesia yang sering mengalami konflik antaragama. Jawa

Barat mengalami 19 kasus non negara, sedangkan 36 kasus dengan pelaku

pemerintah. Kebanyakan bentuk tindakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah

pembatasan rumah ibadah yang terjadi di daerah Bekasi dan Bogor.

Kelompok – kelompok radikal turut mewarnai kisah konflik, khususnya di

Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). DIY mengalami kasus intoleransi sebanyak

16 kasus. Pelaku tindakan intoleransi di DIY paling banyak dilakukan oleh warga

yang tidak menamakan diri, sebab tidak diketahui identitas atau afiliasinya.

Kemungkinan besar pelaku adalah sekumpulan orang yang memanfaatkan isu

agama untuk membakar sentimen untuk kepentingan politik. Pelaku dari

kelompok – kelompok agama kebanyakan melakukan serangan fisik ataupun

perusakan properti. Korbannya adalah aliran yang diduga sesat.

12
2.3 Peristiwa Konflik dan Tindakan Intoleransi yang terjadi di Indonesia

Baru-Baru Ini.

2.3.1 Kasus Meiliana dan Pembakaran Vihara di Tanjungbalai,

Sumatera Utara.

Meiliana adalah korban tindak intoleransi. Tindakan itu berupa tuduhan

penghinaan terhadap ras, agama, negeri asal, tempat asal, keturunan, kebangsaan

atau kedudukan menurut hukum tata negara. Akibat tindakannya tersebut

Meiliana divonis 18 bulan penjara oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri

Medan, Sumatera Utara.

Kejadian ini bermula dari keluhan Meiliana mengenai pengeras suara

adzan dari Masjid Al Maksum Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada Juli 2016.

Meiliana yang merasa terganggu dengan suara pengeras suara tersebut

menyampaikan keluhan itu ke tetangganya dan memintanya untuk

menyampaikannya kepada BKM9 masjid agar mengecilkan volume suara speaker

masjid. Pada 29 Juli 2016, tetangga tersebut menyampaikan keluhan Meiliana

kepada pengurus masjid dan malam hari itu juga, pengurus masjid mendatangi

rumahnya untuk berdialog. Suami Meiliana juga sempat mendatangi masjid dan

meminta maaf. Cerita tentang keluhan Meiliana menyebar di antara warga dan

memicu kemarahan. Rumah Meiliana, dan sejumlah kelenteng serta vihara

menjadi objek kemarahan pemuda Tanjungbalai pada 29 Juli 2016 malam.

9
BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) adalah istilah untuk lembaga masyarakat dengan
kedudukan sebagai pimpinan kolektif dari himpunan masyarakat di tingkat desa. BKM
mempunyai tujuan untuk memim[in warga masyarakat desa dalam melakukan upaya
penanggulangan kemiskinan agar lebih terorganisir, terarah dan berkelanjutan. Serta, sebagai
wadah bagi masyarakat dalam mengelola berbagai program dan dana bantuan penanggulangan
kemiskinan baik dari pemerintah swasta, dan kelompok yang peduli terhadap penanggulangan
kemiskinan.

13
Meiliana dilaporkan ke polisi dan ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama

pada Maret 2017. Perkara Meiliana dibawa ke meja hijau hingga akhirnya majelis

hakim PN Medan yang dipimpin oleh Wahyu Prasetyo Wibowo menjatuhkan

vonis 18 bulan penjara dan denda sebesar Rp 5.00010.

Analisis dari kerusuhan di Tanjungbalai menunjukkan bahwa pelaku dari

pembakaran rumah Meiliana, kelenteng dan Vihara adalah para warga dan

pemuda Tanjungbalai. Motif dari tindakan intoleransi ini adalah adanya

ketidaksukaan warga atas pernyataan Meiliana tentang suara speaker masjid yang

keras. Warga berpikir bahwa Meiliana tidak mempunyai wewenang apa-apa untuk

mengatur warga Tanjungbalai yang notabene beragama Islam. Dalam kasus ini

tidak hanya Meiliana saja yang menjadi korban tetapi juga umat Budha dan

Khonghuchu di Tanjungbalai yang tidak bisa beribadah akibat pengrusakan dan

pembakaran kelenteng dan vihara.

Permasalahan dalam kasus Meiliana ini bukan terletak pada pernyataan

Meliana yang memprotes volume pengeras suara dari Masjid Al Maksum, namun

pada keadilan di dalam hukum. Meiliana yang hanya menyatakan bahwa ia

terganggu dengan volume pengeras suara azan harus mendekam di penjara selama

18 bulan. Berbeda dengan para pemuda dari Tanjungbalai yang melakukan

pengrusakan terhadap rumah Meiliana, vihara, dan klenteng. Mereka mendapat

hukuman penjara hanya selama dua bulan. Padahal tindakan yang dilakukan oleh

para pemuda dari Tanjungbalai lebih parah dari perbuatan Meiliana.

10
[Link]
dipenjara-karena-keluhkan-pengeras-suara-azan, diakses pada 18 oktober 2018,pkl.17.01.

14
Pengadilan turut melakukan tindak diskriminasi kaum minoritas dalam

kasus Meiliana ini. Dalam kasus ini pengadilan cenderung membela dan

membenarkan perbuatan para pelaku pengrusakan rumah ibadah, walaupun jika

mau ditelisik lebih dalam, kedua pihak bersalah. Namun karena Islam adalah

agama mayoritas dan lembaga pengadilan diisi oleh orang – orang Islam, keadilan

pun cenderung berpihak kepada golongan Islam, dan kaum minoritas mendapat

perlakuan yang tidak adil.

2.3.2 Kasus Geraja Santa Lidwina Bedog Yogyakarta

Insiden pembacokan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal

terhadap Pastor Karl-Edmund Prier SJ atau yang biasa disapa Romo Prier

membuat toleransi kehidupan bergama yang ada di Indonesia ternoda. Kasus ini

terjadi pada hari Minggu, 11 Februari 2018 yang bermula dengan masuknya

seorang pria berkaus hitam pada pukul 08.00 WIB, melalui pintu bagian barat

gereja. Pelaku datang dengan membawa pedang panjang berukuran 1 meter dan

menyerang dengan membabi buta hingga melukai tiga umat beserta Romo Prier

sendiri yang tengah berada di altar. Selain itu, pelaku juga merusak sejumlah

fasilitas gereja, seperti patung dan perabot yang ada di altar. Umat yang saat itu

sedang mengikuti misa pergi meninggalakan gereja untuk menyelamatkan diri dan

sebagian umat laki-laki dan warga sekitar menahan pelaku hingga pihak

kepolisian datang. Pada akhirnya polisi berhasil mengamankan tersangka dengan

menembak kaki pelaku11.

11
[Link]
lidwina-bedog-yogyakarta?page=all,diakses tanggal 18 oktober 2018,pkl.17.01.

15
Pelaku kekerasan di Gereja Bedog terbilang masih muda. Hal ini

menujukkan bahwa generasi muda Indonesia mulai terpengaruh oleh paham

radikal. Hal inilah yang menjadi sumber utama bahwa penyebab dari kasus di

Gereja Bedog ini diakibatkan oleh faktor internal si pelaku yang sudah

terpengaruh oleh paham radikal. Paham radikal yang diterima oleh pelaku

kemungkinan adalah pemahaman sempit mengenai surat al-Fath (48)29 yang

menyatakan bahwa salah satu tanda-tanda seorang Muslim yang baik adalah

“bersikap keras terhadap kafir dan bersifat lembut kepada sesama Muslim.”

Menurut Gus Dur kaum yang harus diperangi adalah kaum kafir yang menyembah

banyak Tuhan (Polytheis) di Mekkah dan Madinah pada jaman nabi Muhammad

swt. Jika kita mencermati pernyataan Gus Dur tersebut, pelaku hanya menangkap

kata “Polytheis” saja, bukan Polytheis di Mekkah dan Madinah. Selain itu

tindakan pelaku yang merusak patung Yesus dan Maria menunjukkan bahwa

patung tersebut merupakan sarana untuk penyembahan berhala. Padahal

sebenarnya patung Yesus dan Maria adalah media untuk mengarahkan bahwa

umat Katolik benar-benar bertemu Tuhan dalam gereja.

Selain disebabkan oleh faktor internal, peristiwa tersebut juga dipengaruhi

oleh faktor eksternal pula. Kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menurut

hasil survei dari The Wahid Institute dari tahun 2009-2014 menyatakan bahwa

daerah DIY menempati posisi kedua sebagai daerah yang rawan akan konflik dan

tindak intoleransi. Kerawanan itu bisa dilihat dari dengan 16 kasus intoleransi

yang dilakukan oleh aktor non negara, dimana pelaku adalah orang sipil pada

umumnya yang adalah non pemerintah .

16
Jenis tindakan yang dilakukan oleh pelaku adalah jenis tindakan yang

paling sering dilakukan oleh pelaku tindak intoleransi non negara di Indonesia.

Tindakan yang terjadi di Gereja Bedog adalah serangan fisik/pengrusakan

property. Dilihat darihal tersebut bisa disimpulkan bahwa DIY adalah daerah yang

termasuk rawan akan konflik keagamaan, dengan pelaku terbanyak adalah aktor

non negara (ormas ataupun warga sipil).

Bagi pelaku, dengan melakukan perbuatan yang menurut agamanya benar,

ia beranggapan bahwa tindakannya dapat membantunya untuk memperoleh pahala

di surga. Padahal dalam kenyataannya, perbuatan itu berakibat pada

ketidaknyamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan tumbuhnya pandangan

negatif masyarakat terhadap Islam sebagai agama yang buruk, penyebar teror, dan

pelaku kejahatan.

Bentuk tindakan intoleransi yang terjadi di Gereja Bedog ini dapat

dimasukkan dalam tindakan serangan fisik/perusakan properti. Menurut grafik

dari The Wahid Institute, bentuk tindakan yang terjadi di Gereja Bedog terbilang

tinggi dan kerap terjadi di Indonesia. Hal ini juga dipengaruhi dengan daerah

Yogyakarta yang menempati peringkat nomor dua sebagai daerah yang rawan

akan konflik keagaamaan. Pelaku melakukan tindakan intoleransi ini secara

pribadi dengan maksud yang belum diketahui juga. Kemungkinan motif dari

tindakan ini disebabkan oleh faktor internal yaitu pemahaman sempit dari pelaku

yang belum mampu menerima kemajemukan budaya yang ada di Yogyakarta

khususnya perihal agama.

2.3.3 Pelemparan kaca gereja di Muntilan dan Salam.12


12
[Link]

17
Akhir – akhir ini tindakan intoleransi kembali terjadi di Indonesia. Kali

ini, tindakan intoleransi antarumat beragama terjadi di Magelang, khususnya di

kecamatan Salam dan Muntilan. Tindakan intoleransi yang dilakukan adalah

pengrusakan rumah ibadah dengan melempar kaca gereja.

Kasus ini dipicu oleh tindakan Banser yang membakar bendera HTI pada

tanggal 22 Oktober 2018 di Garut, Jabar. Pelaku yang berinisial NA tidak dapat

menerima tindakan tersebut lalu merusak dua bangunan gereja di daerah Salam

dan Muntilan.

Pelaku mula- mula melempar Gereja Tyas Dalem yang berada di dusun

Mandungan, desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang pada

Jumat, 26 Oktober 2018. Pelaku melempar kaca gereja dengan menggunakan batu

batako yang mengakibatkan dua kaca di sebelah kanan gereja pecah dan satu kaca

bofen tengah pecah. Kemudian pelaku juga melakukan hal yang sama di tempat

yang berbeda yaitu di Gereja Santo Antonius Muntilan yang terletak di Jalan

Kartini No 3, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Akibat kejadian

tersebut kaca jendela di samping Gereja Santo Antonius Muntilan pecah dan tidak

ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.

Jenis tindakan yang dilakukan oleh pelaku masih sama dengan tindakan

intoleransi yang terjadi di Bedog. Pelakunyapun melakukan aksinya secara pribadi

dan tindakannya adalah serangan fisik/pengrusakan properti. Dalam pembahasan

mengenai kasus pelemparan kaca gereja ini, perbedaannya dengan kasus di Gereja

Bedog adalah terletak pada motif dan faktor penyebab pelaku melakukan tindak

magelang-1540736205, diakses tanggal 26 November 2018, pkl.20.03

18
intoleransi.

Penyebab dari pelemparan kaca di kedua gereja ini disebabkan oleh faktor

eksternal yaitu konflik yang terjadi di Garut dimana Banser membakar bendera

HTI. Kemungkinan pelaku yang juga penganut Islam radikal tidakterima dengan

tindakan yang dilakukanoleh Banser. Bentuk kekesalan itu pelakuluapkan dengan

melempar gereja di daerah Muntilan dan Salam.

2.3.4 Pembubaran aksi Baksos di Gereja St Paulus Pringgolayan13

Pada Senin, 29 Januari 2018, Front Jihad Islam (FJI) di Yogyakarta

membubarkan aksi baksos yang diadakan oleh gereja St Paulus Pringgolayan,

Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Aksi baksos tersebut dibubarkan secara paksa

oleh FJI karena dianggap sebagai upaya kristenisasi terhadap masyarakat

Yogyakarta yang mayoritas memeluk agama Islam. Ketua FJI Yogyakarta,

Abdurrahman, menggerakkan ratusan laskarnya yang ada di Bantul, Sleman dan

Yogyakarta untuk melakukan tindakan amar ma’ruf nahi munkar14. Tindakan

pembubaran ini sebagai bagian jihad melawan orang-orang kafir.

Pembahasan mengenai kasus di Pringgolayan hampir sama dengan

permasalahan di Gereja Bedog. Faktor yang membedakannya dengan masalah di

Bedog adalah dalam jenis tindakan yang dilakukan oleh pelaku pembubaran yaitu

pembatasan/pelarangan kegiatan keagamaan dengan pelaku aktor non negara.

Pembubaran aksi baksos ini disebabkan oleh faktor internal yaitu adanya

13
[Link]
st-paulus-pringgolayan/, diakses pada 1 Desember 2018,pkl.09.00.
14
Perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang
buruk bagi masyarakat.

19
pemahaman sempit mengenai kegiataan keagamaan yang dilakukan oleh agama

lain. Kelompok FJI menganggap bahwa kegiatan baksos adalah salah satu cara

yang dilakukan oleh gereja untuk mengkristenkan umat Musllim di Yogyakarta.

20

Anda mungkin juga menyukai