BAB II
KONFLIK ISLAM DENGAN AGAMA – AGAMA MINORITAS
DI INDONESIA
2.1 Pengertian Konflik
Perbedaan adalah aspek yang senantiasa ada dalam kehidupan. Perbedaan
membuat hidup lebih menarik dan diperkaya olehnya. Oleh sebab itu, perbedaan
dapat menjadi potensi jika dipahami secara baik dan dikelola secara konstruktif 1.
Selain menjadi potensi apabila dipahami dan dikelola dengan baik, perbedaan juga
dapat menimbulkan pertentangan atau konflik dalam kehidupan manusia. Hal itu
bisa terjadi karena sifat manusia sebagai makhluk konfliktis (homo conflictus)
yaitu mahkluk yang selalu terlibat dalam perbedaan, pertentangan, dan persaingan
baik itu sukarela ataupun terpaksa2. Kita bisa melihat bahwa akhir-akhir ini
Indonesia kerap diwarnai oleh konflik yang kebanyakan disebabkan oleh adanya
perbedaan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) konflik memiliki arti
sebagai percecokan dan pertentangan3. Oleh sebab itu, konflik bisa dipahami
sebagai pertentangan yang ditandai dengan pergerakan dari beberapa pihak,
sehingga terjadi persinggungan4. Persinggungan yang terjadi disebabkan oleh
dorongan untuk mencapai kebutuhan yang berbeda satu sama lain.
2.1.2 Konflik Antaragama.
1
Wahab Abdul Jamil, Manajemen Konflik Keagamaan, Penerbit PT Elex Media Komputindo,
Jakarta 2014, hlm 6.
2
Wahab Abdul Jamil, Manajemen Konflik Keagamaan, hlm 5.
3
Poerwadarminta W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Penerbit Balai Pustaka, Jakarta 1982,
hlm 519.
4
Wahab Abdul Jamil, Manajemen Konflik Keagamaan, hlm 5.
6
Konflik antaragama adalah pertentangan mengenai dasar iman yang dianut
oleh umat beragama dan melibatkan kelompok agama yang berbeda. Konflik
antaragama mewujud dalam pertentangan ide, pertentangan mengenai cara
seseorang atau kelompok agama mendekatkan diri kepada Tuhan dan cara hidup
seseorang atau kelompok agama menurut dasar agamanya.
Mengapa agama dapat menjadi sumber konflik? Penyebab konflik agama
menurut faktornya terbagi menjadi dua yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor
internal itu antara lain; orientasi agama yang mengarah kepada perpecahan dan
adanya penafsiran tertentu yang berbeda satu sama lain. Sedangkan, faktor
eksternal adalah kesenjangan ekonomi, konflik sosial budaya, kepentingan
ekonomi, dan politik
2.2 Konflik antaragama di Indonesia.
2.2.1 Kemajemukan sebagai potensi konflik
Indonesia adalah negara yang majemuk. Kemajemukan di negara ini
berasal dari banyaknya keragaman sosial – budaya di setiap daerah. Indonesia
memiliki suku, agama, dan ras yang berbeda di setiap daerahnya. Keragaman
antardaerah menjadi sarana untuk saling melengkapi atau sebaliknya
menimbulkan konflik.
Kebanyakan konflik antaragama yang terjadi di Indonesia ditimbulkan
oleh tindakan intoleransi yang dilakukan oleh pemerintah ataupun kelompok
keagamaan, terutama kelompok – kelompok Islam radikal. Penyebabnya adalah
pemahaman sempit mengenai Islam dan ketidakmampuan untuk menerima
perbedaan, khususnya dalam hidup bersama denga agama – agama lain. Selain itu,
7
ketidakmampuan mereka dalam mengintegrasikan nilai, ajaran, dan konsep Islam
ke dalam struktur masyarakat modern juga menjadi salah satu alasan timbulnya
konflik dalam kehidupan beragama di Indonesia5.
2.2.2 Daerah – daerah Konflik di Indonesia
Survei dari the Wahid Institute mengenai daerah - daerah konflik
antaragama yang terjadi di Indonesia, dari tahun 2009 – 2014, menyatakan bahwa
provinsi Jawa Barat menempati urutan pertama sebagai daerah dengan konflik
antaragama terbanyak di Indonesia. Faktor yang menyebabkan adalah karena
konteks sejarah lokal yaitu daerah Jawa Barat menjadi basis perjuangan untuk
mendirikan Darul Islam (Negara Islam) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo. Selain
itu, kelompok dan ormas Islam radikal seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) 6 dan
JAT (Jamaah Ansharut Tauhid)7 tumbuh subur di tempat ini8.
Pemerintah juga ambil bagian dalam konflik dan tindakan intoleransi
terhadap umat beragama. Hal itu terlihat dari 46 kebijakan pemerintah yang
5
Arif Syaiful, Islam, Pancasila, dan Deradikalisasi, Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta
2018, hlm 174.
6
Hizbut Tahrir pertama kali ada terbentuk di Indonesia pada tahun 2002, melalui konferensi
Internasional bertajug Khilafah Islamiyah yang digelar di Istora Senayan. Pahamnnya sudah ada di
Indonesia pada kisaran tahun 1982-1983 melalui Abdurrahman al-baghdadi yang menetap di
Pesantren Al-Ghazali milik Kiai Abdullah bin Nuh di [Link] paham HT dimulai
dengan interaksi Abdurrahman dengan para aktivis masjid kampus di Masjid Al-Ghifari, IPB
Bogor. Dari sini, pemikiran mengenai HT didiskusikan dan dibentuklah pengajian-pengajian kecil
untuk mengeksplorasi gagasan-gagasan [Link] jaringan Lembaga Dakwah Kampus (LDK),
ajaran HT menyebar ke kampus-kampus di luar Bogor, seperti UNPAD, UNAIR hingga keluar
jawa seperti [Link] pergerakannya, sasaran HTI mengincar masjid besar di ibukota
kabupaten/kota dan kampus sebagai tempat penyebaran pahamnya.
7
Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) adalah organisasi Islam di Indonesia yang merupakan pecahan
dari MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Organisasi ini didirikan pada 27 Juli 2008 oleh Abu
Bakar Baasyir. JAT lebih menekankan terror dalam aksinya dan organisasi ini juga mendukung
pendirian negara Islam yang dilakukan ISIS, serta beberapa anggotanya adalah teroris.
8
Dja’far Alamsyah M, (IN) [Link] Kebencian & Kekerasan Atas Nama Agama,
Penerbit PT Elex Media Komputindo, Jakarta 2018, hlm 144.
8
Grafik 1. Jumlah Pelanggaran dan Intoleransi berdasarkan Sebaran Wilayah pada tahun 2014
diskriminatif yang salah satu contohnya adalah penahanan pemberian KTP
Elektronik bagi warga JAI di Manislor Kabupaten Kuningan. Hal ini terjadi
karena adanya tekanan dari kelompok-kelompok agama (Islam) yang menolak
keberadaan warga Ahmadiyah di Kuningan.
Setelah Jawa Barat, menyusul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sebagai
daerah yang rawan konflik agama. Kebanyakan motif intoleransi yang terjadi
Yogyakarta adalah perihal pergulatan politik yang dibungkus dengan isu agama.
Tujuannya tidak lain untuk menarik sentimen masyarakat terhadap problem yang
terjadi.
Sumatera Utara menempati urutan ketiga. Hal ini disebabkan karena
banyaknya kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama Islam yang akan
mengarahkan menjadi Islam aliran keras.
2.2.3 Bentuk Tindakan dan Pelaku
Konflik antaragama menurut pelakunya terbagi menjadi dua, yaitu
pemerintah dan kelompok – kelompok keagamaan. Setiap pelaku tentu memiliki
motifnya sendiri – sendiri.
9
Survei dari the Wahid Institute pada tahun 2009 – 2014 menunjukan
bahwa tindakan intoleransi yang paling sering dilakukan pemerintah beserta
aparatnya berupa pembatasan rumah ibadah, kriminalisasi atas dasar agama,
diskriminasi atas dasar agama, dan melarang kegiatan keagamaan. Indonesia
sendiri mengalami 17 peristiwa pelarangan atau penyegelan rumah ibadah,
Grafik 2. Konflik dan tindakan intoleransi yang dilakukan oleh pemerintah
tindakan kriminalisasi atas dasar agama sebanyak 14 peristiwa dalam kurun waktu
lima tahun. Selain itu, tindakan lain yang juga tinggi adalah diskriminasi atas
dasar agama serta melarang atau menghentikan kegiatan keagamaan dengan
masing - masing 12 peristiwa.
Pemahaman yang kurang mengenai pluralisme menjadi alasan mengapa
banyak tindakan intoleransi dan diskriminasi dilakukan oleh pemerintah. Di
beberapa daerah seperti Jawa Barat, pemerintah kota masih terjebak dalam budaya
sektarian yang membuat kelompok minoritas ataupun agama-agama minoritas
terpinggirkan.
10
.
Grafik 3. Konflik dan tindakan intoleransi yang dilakukan oleh kelompok -kelompok
agama.
Pelaku dari kelompok – kelompok agama juga tidak kalah banyak. Survei dari the
Wahid Institute pada tahun 2009 – 2014 menunjukan bahwa tindakan intoleransi
yang paling sering dilakukan kelompok – kelompok agama, berupa serangan dan
perusakan properti sebanyak 16 peristiwa, penyebaran kebencian sebanyak 15
peristiwa, penyesatan terhadap kelompok lain sebanyak 10 peristiwa, intimidasi
dan ancaman kekerasan dan pelarangan kegiatan keagamaan sebanyak 9 peristiwa
yang tejadi dalam kurun waktu lima tahun.
Faktor yang menyebabkan tingginya tindakan intoleransi adalah
pemahaman yang sempit dari kelompok – kelompok keberagamaan. Kelompok –
kelompok Islam radikal menyakini kondisi masyarakat Indonesia saat ini berbeda
dengan kehidupan masyarakat Madinah dan Mekkah semasa masa nabi
Muhammad SWT. Kelompok agama di luar Islam dianggap kafir dan harus
diperangi. Oleh sebab itu tindakan intoleransi yang tertera pada grafik merupakan
11
beberapa bentuk tindakan yang mereka yakini sebagai usaha untuk
mengembalikan cara hidup masyarakat Indonesia zaman masyarakat Medinah.
Selain tindakan yang dilakukan oleh kelompok – kelompok Islam
berfaham radikal, tindakan intoleransi juga dilakukan oleh kelompok dari agama
di luar Islam. Contohnya penolakan masjid dan musala. Kasus ini dilakukan oleh
kelompok kristen di daerah Indonesia timur. Penyebabnya adalah dendam karena
banyak gereja yang kesulitan untuk dibangun di Jawa. Karena kejadian itu,
kelompok agama di daerah Indonesia timur melakukan hal yang sama pada
minoritas Muslim di sana.
2.2.4 Kesimpulan
Berdasarkan ketiga grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa pulau Jawa
adalah daerah di Indonesia yang sering mengalami konflik antaragama. Jawa
Barat mengalami 19 kasus non negara, sedangkan 36 kasus dengan pelaku
pemerintah. Kebanyakan bentuk tindakan yang dilakukan oleh pemerintah adalah
pembatasan rumah ibadah yang terjadi di daerah Bekasi dan Bogor.
Kelompok – kelompok radikal turut mewarnai kisah konflik, khususnya di
Daerah Istimewa Yogyakarta ( DIY ). DIY mengalami kasus intoleransi sebanyak
16 kasus. Pelaku tindakan intoleransi di DIY paling banyak dilakukan oleh warga
yang tidak menamakan diri, sebab tidak diketahui identitas atau afiliasinya.
Kemungkinan besar pelaku adalah sekumpulan orang yang memanfaatkan isu
agama untuk membakar sentimen untuk kepentingan politik. Pelaku dari
kelompok – kelompok agama kebanyakan melakukan serangan fisik ataupun
perusakan properti. Korbannya adalah aliran yang diduga sesat.
12
2.3 Peristiwa Konflik dan Tindakan Intoleransi yang terjadi di Indonesia
Baru-Baru Ini.
2.3.1 Kasus Meiliana dan Pembakaran Vihara di Tanjungbalai,
Sumatera Utara.
Meiliana adalah korban tindak intoleransi. Tindakan itu berupa tuduhan
penghinaan terhadap ras, agama, negeri asal, tempat asal, keturunan, kebangsaan
atau kedudukan menurut hukum tata negara. Akibat tindakannya tersebut
Meiliana divonis 18 bulan penjara oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri
Medan, Sumatera Utara.
Kejadian ini bermula dari keluhan Meiliana mengenai pengeras suara
adzan dari Masjid Al Maksum Tanjungbalai, Sumatera Utara, pada Juli 2016.
Meiliana yang merasa terganggu dengan suara pengeras suara tersebut
menyampaikan keluhan itu ke tetangganya dan memintanya untuk
menyampaikannya kepada BKM9 masjid agar mengecilkan volume suara speaker
masjid. Pada 29 Juli 2016, tetangga tersebut menyampaikan keluhan Meiliana
kepada pengurus masjid dan malam hari itu juga, pengurus masjid mendatangi
rumahnya untuk berdialog. Suami Meiliana juga sempat mendatangi masjid dan
meminta maaf. Cerita tentang keluhan Meiliana menyebar di antara warga dan
memicu kemarahan. Rumah Meiliana, dan sejumlah kelenteng serta vihara
menjadi objek kemarahan pemuda Tanjungbalai pada 29 Juli 2016 malam.
9
BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) adalah istilah untuk lembaga masyarakat dengan
kedudukan sebagai pimpinan kolektif dari himpunan masyarakat di tingkat desa. BKM
mempunyai tujuan untuk memim[in warga masyarakat desa dalam melakukan upaya
penanggulangan kemiskinan agar lebih terorganisir, terarah dan berkelanjutan. Serta, sebagai
wadah bagi masyarakat dalam mengelola berbagai program dan dana bantuan penanggulangan
kemiskinan baik dari pemerintah swasta, dan kelompok yang peduli terhadap penanggulangan
kemiskinan.
13
Meiliana dilaporkan ke polisi dan ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama
pada Maret 2017. Perkara Meiliana dibawa ke meja hijau hingga akhirnya majelis
hakim PN Medan yang dipimpin oleh Wahyu Prasetyo Wibowo menjatuhkan
vonis 18 bulan penjara dan denda sebesar Rp 5.00010.
Analisis dari kerusuhan di Tanjungbalai menunjukkan bahwa pelaku dari
pembakaran rumah Meiliana, kelenteng dan Vihara adalah para warga dan
pemuda Tanjungbalai. Motif dari tindakan intoleransi ini adalah adanya
ketidaksukaan warga atas pernyataan Meiliana tentang suara speaker masjid yang
keras. Warga berpikir bahwa Meiliana tidak mempunyai wewenang apa-apa untuk
mengatur warga Tanjungbalai yang notabene beragama Islam. Dalam kasus ini
tidak hanya Meiliana saja yang menjadi korban tetapi juga umat Budha dan
Khonghuchu di Tanjungbalai yang tidak bisa beribadah akibat pengrusakan dan
pembakaran kelenteng dan vihara.
Permasalahan dalam kasus Meiliana ini bukan terletak pada pernyataan
Meliana yang memprotes volume pengeras suara dari Masjid Al Maksum, namun
pada keadilan di dalam hukum. Meiliana yang hanya menyatakan bahwa ia
terganggu dengan volume pengeras suara azan harus mendekam di penjara selama
18 bulan. Berbeda dengan para pemuda dari Tanjungbalai yang melakukan
pengrusakan terhadap rumah Meiliana, vihara, dan klenteng. Mereka mendapat
hukuman penjara hanya selama dua bulan. Padahal tindakan yang dilakukan oleh
para pemuda dari Tanjungbalai lebih parah dari perbuatan Meiliana.
10
[Link]
dipenjara-karena-keluhkan-pengeras-suara-azan, diakses pada 18 oktober 2018,pkl.17.01.
14
Pengadilan turut melakukan tindak diskriminasi kaum minoritas dalam
kasus Meiliana ini. Dalam kasus ini pengadilan cenderung membela dan
membenarkan perbuatan para pelaku pengrusakan rumah ibadah, walaupun jika
mau ditelisik lebih dalam, kedua pihak bersalah. Namun karena Islam adalah
agama mayoritas dan lembaga pengadilan diisi oleh orang – orang Islam, keadilan
pun cenderung berpihak kepada golongan Islam, dan kaum minoritas mendapat
perlakuan yang tidak adil.
2.3.2 Kasus Geraja Santa Lidwina Bedog Yogyakarta
Insiden pembacokan yang dilakukan oleh orang yang tidak dikenal
terhadap Pastor Karl-Edmund Prier SJ atau yang biasa disapa Romo Prier
membuat toleransi kehidupan bergama yang ada di Indonesia ternoda. Kasus ini
terjadi pada hari Minggu, 11 Februari 2018 yang bermula dengan masuknya
seorang pria berkaus hitam pada pukul 08.00 WIB, melalui pintu bagian barat
gereja. Pelaku datang dengan membawa pedang panjang berukuran 1 meter dan
menyerang dengan membabi buta hingga melukai tiga umat beserta Romo Prier
sendiri yang tengah berada di altar. Selain itu, pelaku juga merusak sejumlah
fasilitas gereja, seperti patung dan perabot yang ada di altar. Umat yang saat itu
sedang mengikuti misa pergi meninggalakan gereja untuk menyelamatkan diri dan
sebagian umat laki-laki dan warga sekitar menahan pelaku hingga pihak
kepolisian datang. Pada akhirnya polisi berhasil mengamankan tersangka dengan
menembak kaki pelaku11.
11
[Link]
lidwina-bedog-yogyakarta?page=all,diakses tanggal 18 oktober 2018,pkl.17.01.
15
Pelaku kekerasan di Gereja Bedog terbilang masih muda. Hal ini
menujukkan bahwa generasi muda Indonesia mulai terpengaruh oleh paham
radikal. Hal inilah yang menjadi sumber utama bahwa penyebab dari kasus di
Gereja Bedog ini diakibatkan oleh faktor internal si pelaku yang sudah
terpengaruh oleh paham radikal. Paham radikal yang diterima oleh pelaku
kemungkinan adalah pemahaman sempit mengenai surat al-Fath (48)29 yang
menyatakan bahwa salah satu tanda-tanda seorang Muslim yang baik adalah
“bersikap keras terhadap kafir dan bersifat lembut kepada sesama Muslim.”
Menurut Gus Dur kaum yang harus diperangi adalah kaum kafir yang menyembah
banyak Tuhan (Polytheis) di Mekkah dan Madinah pada jaman nabi Muhammad
swt. Jika kita mencermati pernyataan Gus Dur tersebut, pelaku hanya menangkap
kata “Polytheis” saja, bukan Polytheis di Mekkah dan Madinah. Selain itu
tindakan pelaku yang merusak patung Yesus dan Maria menunjukkan bahwa
patung tersebut merupakan sarana untuk penyembahan berhala. Padahal
sebenarnya patung Yesus dan Maria adalah media untuk mengarahkan bahwa
umat Katolik benar-benar bertemu Tuhan dalam gereja.
Selain disebabkan oleh faktor internal, peristiwa tersebut juga dipengaruhi
oleh faktor eksternal pula. Kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menurut
hasil survei dari The Wahid Institute dari tahun 2009-2014 menyatakan bahwa
daerah DIY menempati posisi kedua sebagai daerah yang rawan akan konflik dan
tindak intoleransi. Kerawanan itu bisa dilihat dari dengan 16 kasus intoleransi
yang dilakukan oleh aktor non negara, dimana pelaku adalah orang sipil pada
umumnya yang adalah non pemerintah .
16
Jenis tindakan yang dilakukan oleh pelaku adalah jenis tindakan yang
paling sering dilakukan oleh pelaku tindak intoleransi non negara di Indonesia.
Tindakan yang terjadi di Gereja Bedog adalah serangan fisik/pengrusakan
property. Dilihat darihal tersebut bisa disimpulkan bahwa DIY adalah daerah yang
termasuk rawan akan konflik keagamaan, dengan pelaku terbanyak adalah aktor
non negara (ormas ataupun warga sipil).
Bagi pelaku, dengan melakukan perbuatan yang menurut agamanya benar,
ia beranggapan bahwa tindakannya dapat membantunya untuk memperoleh pahala
di surga. Padahal dalam kenyataannya, perbuatan itu berakibat pada
ketidaknyamaan dalam kehidupan bermasyarakat dan tumbuhnya pandangan
negatif masyarakat terhadap Islam sebagai agama yang buruk, penyebar teror, dan
pelaku kejahatan.
Bentuk tindakan intoleransi yang terjadi di Gereja Bedog ini dapat
dimasukkan dalam tindakan serangan fisik/perusakan properti. Menurut grafik
dari The Wahid Institute, bentuk tindakan yang terjadi di Gereja Bedog terbilang
tinggi dan kerap terjadi di Indonesia. Hal ini juga dipengaruhi dengan daerah
Yogyakarta yang menempati peringkat nomor dua sebagai daerah yang rawan
akan konflik keagaamaan. Pelaku melakukan tindakan intoleransi ini secara
pribadi dengan maksud yang belum diketahui juga. Kemungkinan motif dari
tindakan ini disebabkan oleh faktor internal yaitu pemahaman sempit dari pelaku
yang belum mampu menerima kemajemukan budaya yang ada di Yogyakarta
khususnya perihal agama.
2.3.3 Pelemparan kaca gereja di Muntilan dan Salam.12
12
[Link]
17
Akhir – akhir ini tindakan intoleransi kembali terjadi di Indonesia. Kali
ini, tindakan intoleransi antarumat beragama terjadi di Magelang, khususnya di
kecamatan Salam dan Muntilan. Tindakan intoleransi yang dilakukan adalah
pengrusakan rumah ibadah dengan melempar kaca gereja.
Kasus ini dipicu oleh tindakan Banser yang membakar bendera HTI pada
tanggal 22 Oktober 2018 di Garut, Jabar. Pelaku yang berinisial NA tidak dapat
menerima tindakan tersebut lalu merusak dua bangunan gereja di daerah Salam
dan Muntilan.
Pelaku mula- mula melempar Gereja Tyas Dalem yang berada di dusun
Mandungan, desa Bringin, Kecamatan Srumbung, Kabupaten Magelang pada
Jumat, 26 Oktober 2018. Pelaku melempar kaca gereja dengan menggunakan batu
batako yang mengakibatkan dua kaca di sebelah kanan gereja pecah dan satu kaca
bofen tengah pecah. Kemudian pelaku juga melakukan hal yang sama di tempat
yang berbeda yaitu di Gereja Santo Antonius Muntilan yang terletak di Jalan
Kartini No 3, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Akibat kejadian
tersebut kaca jendela di samping Gereja Santo Antonius Muntilan pecah dan tidak
ada korban jiwa dari peristiwa tersebut.
Jenis tindakan yang dilakukan oleh pelaku masih sama dengan tindakan
intoleransi yang terjadi di Bedog. Pelakunyapun melakukan aksinya secara pribadi
dan tindakannya adalah serangan fisik/pengrusakan properti. Dalam pembahasan
mengenai kasus pelemparan kaca gereja ini, perbedaannya dengan kasus di Gereja
Bedog adalah terletak pada motif dan faktor penyebab pelaku melakukan tindak
magelang-1540736205, diakses tanggal 26 November 2018, pkl.20.03
18
intoleransi.
Penyebab dari pelemparan kaca di kedua gereja ini disebabkan oleh faktor
eksternal yaitu konflik yang terjadi di Garut dimana Banser membakar bendera
HTI. Kemungkinan pelaku yang juga penganut Islam radikal tidakterima dengan
tindakan yang dilakukanoleh Banser. Bentuk kekesalan itu pelakuluapkan dengan
melempar gereja di daerah Muntilan dan Salam.
2.3.4 Pembubaran aksi Baksos di Gereja St Paulus Pringgolayan13
Pada Senin, 29 Januari 2018, Front Jihad Islam (FJI) di Yogyakarta
membubarkan aksi baksos yang diadakan oleh gereja St Paulus Pringgolayan,
Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Aksi baksos tersebut dibubarkan secara paksa
oleh FJI karena dianggap sebagai upaya kristenisasi terhadap masyarakat
Yogyakarta yang mayoritas memeluk agama Islam. Ketua FJI Yogyakarta,
Abdurrahman, menggerakkan ratusan laskarnya yang ada di Bantul, Sleman dan
Yogyakarta untuk melakukan tindakan amar ma’ruf nahi munkar14. Tindakan
pembubaran ini sebagai bagian jihad melawan orang-orang kafir.
Pembahasan mengenai kasus di Pringgolayan hampir sama dengan
permasalahan di Gereja Bedog. Faktor yang membedakannya dengan masalah di
Bedog adalah dalam jenis tindakan yang dilakukan oleh pelaku pembubaran yaitu
pembatasan/pelarangan kegiatan keagamaan dengan pelaku aktor non negara.
Pembubaran aksi baksos ini disebabkan oleh faktor internal yaitu adanya
13
[Link]
st-paulus-pringgolayan/, diakses pada 1 Desember 2018,pkl.09.00.
14
Perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang
buruk bagi masyarakat.
19
pemahaman sempit mengenai kegiataan keagamaan yang dilakukan oleh agama
lain. Kelompok FJI menganggap bahwa kegiatan baksos adalah salah satu cara
yang dilakukan oleh gereja untuk mengkristenkan umat Musllim di Yogyakarta.
20