tahsin menjadi panduan para Santri/wati membaca Al-Qur’an yang baik dan
benar. Akhirnya Santri/wati dapat membaca Al-Qur’an dengan baik dan
benar. Pembelajaran tahsin yang dilakukan dan dipraktekkan terus menerus
pada akhirnya menjadikan Santri/wati menjadi lebih baik dalam membaca Al-
Qur’an. Sebagaimana yang disampaikan oleh Hidayaturrohmi selaku Guru
Pembina yang ditempatkan kelas VI:
“Pengetahuan santri ya pasti meningkat. Apalagi di pptq
dibimbing setiap hari dan pendampingan full 24 jam akan
membentuk karakter bacaan yang baik”76.
Najma Aliyah selaku santriwati yang sudah tiga tahun di pondok ketika
ditanya apakah dengan belajar ilmu tahsin di pondok meningkatkan kualitas
membaca Al-Qur’an juga mengatakan:
“Alhamduillah kualitas bacaan Al-Qur’annya sangat meningkat.
Saya menyadari disini itu kualitas lebih penting dibandingkan
kuantitas. Lebih baik hafalannya sedikit tapi bacaannya bagus.
Apalagi disini bacaan Al-Qur’annya kayak Syekh-syekh luar.
Jadi memang cukup sulit ketika awal masuk”77.
Serupa dengan pendapat Cinta Laura Bella, Nur Linda dan Fatimah.
Menurut pendapat Cinta Laura Bella yang merupakan Santriwati baru di SD
Islam Tahfidz Darusshomad mengatakan bahwa:
“Bacaan Al-Qur’annya jadi bagus kak. Selain itu jadi cara
bacanya qur’an yang bagus itu gimana”78.
Kemudian Rian Alhakimi mengatakan:
76
Hasil Wawancara Dengan “Ustadzah Hidayaturrohmi: Guru Pembina”, Sekolah Dasar,
Tanggal 7 September 12.30 WITA.
77
Hasil Wawancara Dengan “Najma Aliyah: Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 8
September 08.00 WITA.
78
Hasil Wawancara Dengan “Cinta Laura Bella: Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 8
September 09.00 WITA.
58
“Dengan belajar tahsin disini kualitas bacaan saya sangat
meningkat. Sebelum disini belum tahu tentang tahsin, sekarang
alhamdulillah bisa”79.
Selain dari meningkatnya kualitas membaca, para Santri/wati juga
dapat menyetorkan hafalannya dengan lancar. Hal tersebut dikarenakan
apabila bacaan qur’annya belum baik ketika menyetorkan hafalan,
Santri/wati harus mengulang hafalannya tersebut. Dari ketidakmauan santri
untuk mengulang hafalannya, para santri berusaha untuk latihan supaya
bacaan Al-Qur’annya lancar sehingga setoran hafalan pun ikut lancar.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti pada hari kamis tanggal 20
September 2024, Santri/wati menyetorkan penambahan hafalan ke 3 Guru
Pembina. Penambahan hafalan hanya disetorkan ke Guru Pembina bukan
pendamping karena Guru Pembina bisa mengevaluasi bacaan Santri/wati
secara langsung, sehingga ketika Santri/wati sudah lancar hafalannya, tidak
ada kesalahan dalam membaca ayat Al-Qur’an. Santri/wati yang masih
terbata-bata dan salah mengucapkan huruf berkali-kali ketika setoran
dipersilahkan ustadz untuk mundur dan menyiapkan hafalannya kembali
untuk disetorkan esok harinya. Santri/wati yang tidak menginginkan untuk
mengulang hafalan akhirnya berusaha memperbaiki bacaan qur’annya
sebelum disetorkan ke Guru Pembina. Sehingga ketika waktunya maju,
hafalan qur’an yang disetorkan ke ustadz lancar dan tidak ada kesalahan.
79
Hasil Wawancara Dengan “Rian Alhakimi: Santri”, Sekolah Dasar, Tanggal 8 September
09.00 WITA.
59
a. Penilaian Pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Tahsin
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ustadz Kholidi bahwa
enerapan Metode Tahsin yang digunakan dalam proses pembelajaran di
dalam kelas. Pada saat menyampaikan materi berawal dari
pendahuluan/awal, kegiatan inti dan penutup.
Dilihat dari tata cara penilaian Pembelajaran Al-Qur’an dengan
Metode Tahsin di SD Islam Tahfidz Darusshomad melakukan dengan cara
melakukan ujian tahfidz pada tengah semester dan ujian tahfidz pada akhir
semester. Waktu penilaian diberikan sepenuhnya kepada guru pembimbing
tahfidz dengan aspek penilaian yang telah disepakati oleh tim tahfidz dan
sekolah, di antaranya: aspek fashahah, aspek tajwid, aspek kelancaran dan
sikap, evaluasi (penilaian) dilaksanakan untuk mengetahui kemampuan
hafalan peserta didik serta mengetahui perkembangan peserta didik dalam
menghafal, dan evaluasi dilakukan oleh tim penguji sebulan sekali.
Diadakan pula ujian tengah semester (UTS) dan ujian akhir semester
(UAS). Evaluasi tidak hanya dilakukan pada akhir semester saja, guru
pembimbing juga mengevaluasi peserta didik yang tidak dapat
menyetorkan hafalan.80
Berdasarkan hasil pengamatan proses belajar mengajar di kelas,
diperoleh data sebagai berikut: Penerapan metode tahsin juga dapat
diketahui dengan hasil pengamatan guru yang sudah dilakukan selama
proses belajar mengajar di dalam kelas. Untuk mengetahui penerapan
80
Ibid.
60
metode tahsin di SD Islam Tahfidz Darusshomad maka penulis melakukan
pengamatan pada kelas V dengan menggunakan lembar pengamatan guru.
Adapun hasil dari pengamatan dari penerapan metode tahsin setelah di
hitung setiap pertemuannya dan dapat di rata ratakan sebesar 78.8 %
termasuk kedalam kriteria sangat baik. untuk keterangan skor nilai
pengamatan guru adalah sebagai berikut:
b. Aktivitas
Untuk mengimplementasikan Metode Tahsin dalam rangka
meningkatkan kualitas pembelajaran Al-Qur'an, beberapa aktivitas yang
dapat dilakukan di SD Islam Tahfidz Darusshomad:81
1) Kelas tahsin
Menyediakan kelas tahsin secara teratur dengan jadwal yang
jelas. Santri/wati diberikan bimbingan intensif dalam tajwid,
makharijul huruf dan sifat-sifat huruf82
2) Praktik kelompok
Membentuk kelompok belajar tahsin di mana Santri/wati
membaca secara bergantian dan Pembina saling memberikan koreksi
kepasada Santri/wati. Di SD Islam Tahfidz belajar Tahsin dilakukan
pada pagi hari dan siang hari. Pada pagi hari dikhususkan untuk kelas
I, II dan III sedangkan siang hari untuk kelas IV, V dan VII akan ada
81
Ibid.
82
Ibid.
61
pembagian Guru Pembina ditempatkan yang sudah ditentukan. Berikut
ini nama dan ditempatan untuk mengajar sebagi berikut
Haniati Dwi Lestari ditempatkan di kelas IV
Madinatuzzahra dan Mashur ditempatkan di kelas V
Hidayaturrohmi ditempatkan di kelas VI 83
3) Evaluasi Santri/wati
Melakukan evaluasi secara berkala terhadap kemajuan
Santri/wati dalam pembelajaran tahsin, serta penilaian kemampuan
Santri/wati. Dalam penilaian proses ini berbentuk seperti penilaian
tajwid, makhrijul huruf dan sifat-sifat huruf84
Peneliti mencoba melakukan wawancara kepada 10 Santri/wati
pada kelas V tentang kualitas Santri/wati selama belajar menggunakan
Tahsin. Semua 10 Santri/wati bisa merasakan Metode Tahsin seperti
dikatakan dari Nida Azzahra:
“Senang dan bisa lancar Al-Qur’an”85
Serupa dikatakan Nur Aina, ia mengatatakan:
“Bagus dan senang apalagi banyak teman lain bisa diajak saling
tukar pikiran soal metode tahsin”86
Bahkan Denada Aqila Pribadi sendiri juga ikut merasakan yang
mengatakan:
83
Ibid.
84
Ibid., h.56.
85
Hasil Wawancara Dengan “Nida Azzahra: Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 20
September 09.00 WITA.
86
Hasil Wawancara Dengan “Nur Aina: Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 20 September
09.05 WITA.
62
“Bagus dan senang jadinya bisa membaggakan orang tua dan
bisa membaca Al-Qur’an”87
Dari Ainul Fahrulrozi, Ihan, Baiq Aksana, Annisa Azzahra, Daffa
Athariz dan Atipa Nurjannah mengatakan hal sama seperti:
“Seneng dan seru banyak teman bisa diajak belajar bareng soal
metode tahsin”88
Dari Alifia Intan Zahira sedikit berbeda dengan teman lain
mengatakan:
“Agak sulit tapi alhamdulillah bisa”89
Hasil wawancara dilakukan pada 10 Santri/wati menyatakan
bahwa dalam penggunaan metode Tahfidz sangat penting
meningkatkan kualitas Santri/wati, selain itu Tahsin merupakan salah
satu materi pembelajaran menjadi kegemaran Santri/wati dalam hal
diskusi bersama teman sebaya karena Metode Tahsin merupakan
akar/dasar menjadi lancarnya membaca/menghafal Al-Qur’an.
Selain proses belajar, mengajar, dibimbing ada saja hambatan
bagi Santri/wati dalam proses belajar. Dengan adanya kendala-kendala
yang dihadapi Pembina atau Pengajar dalam meningkatkan kualitas
Santri/wati dalam membaca Al-Qur’an di SD Islam Tahfidz
Darusshomad, tidak membuat Pembina/Pengajar tinggal diam dan
87
Hasil Wawancara Dengan “Denda Aqila Pribadi: Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 20
September 09.10 WITA.
88
Hasil Wawancara Dengan “Ainul Fahrulrozi, Ihan, Baiq Aksana, Annisa Azzahra, Daffa
Athariz dan Atipa Nurjannah: Santri/i”, Sekolah Dasar, Tanggal 20 September 09.15 WITA
89
Hasil Wawancara Dengan “Alifia Intan Zahira: Santri/i”, Sekolah Dasar, Tanggal 20
September 09.20 WITA
63
berputus asa. Pengajar/Pembina tetap berupaya untuk mencari solusi
yang tepat, agar kemampuan Santri/wati dalam membaca A-Qur’an itu
mengalami peningkatan, jadi berikut ada beberapa solusi yang
diberikan oleh Pengajar/Pembina didapatkan oleh Peneliti di SD Islam
Tahfidz Darusshomad di antara lain:
1) Menghadapi para Santri/wati dengan lembut
Setiap Santri/wati pasti mempunyai karakter dan cara belajar
yang berbeda-beda, ada yang rajin dan patuh pada guru, dan sebalik ada
juga yang sering mencari-cari perhatian dengan pintar mengambil hati
para Santri/wati dengan mencari cara agar bagaimana ini Santri/wati
bisa menurut, sesuai dengan apa yang di inginkan guru.
Seperti yang diutarakan oleh Ustadzah Mila Maulida sebagai
Wali Kelas III, menyatakan bahwa :
“Kita harus telaten dalam menghadapi santri-santri di SD Islam
Tahfidz Darusshomad, mendidik secara lembut dan tidak kasar
serta memberikan nasehat dengan baik.” 90
Dari pernyataan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa salah satu
solusi yang dilakukan guru agar Santrinya memperhatikan pelajaran
yang di ajarkan kepada mereka yaitu dengan cara mendampingi
Santri/wati saat belajar, dan mengajarkan mereka dengan cara yang
lembut, agar mereka tidak merasa tertekan dan merasa takut sama
gurunya. Dengan cara tersebut guru berharap Santri/wati dapat lebih
90
Hasil Wawancara Dengan “Ustadzah Mila, Wali Kelas III”, Sekolah Dasar, Tanggal 24
September 2024 Pukul 12.30 WITA
64
cepat memahami apa yang di ajarkan oleh guru dan dapat belajar
dengan nyaman.
Hal yang di utarakan oleh guru di atas di benarkan oleh salat satu
Santri/wati yang saya wawancarai yaitu Nida Azzahra, mengatakan
bahwa:
“Saya senang belajar di sini kak karena baik-baik gurunya”91
Selaras dengan pernyataan diatas, Denada Aqila Pribadi pun
mengutarankan hal yang sama, mengatakan bahwa:
“ Saya juga senang di sini kak, karena baik semua gurunya pas
guru ngajar saya lemah lembut”92
Dari kedua pernyataan di atas, peneliti melihat bahwa, apa yang
di upaya guru/pembina/pengajar dengan yaitu mengajarkan dan
menghadapi Santr/wati dengan cara yang lembut, dapat membuat kesan
yang baik pula dari para Santri/wati di SD Islam Tahfidz Darusshomad
dan membuat mereka senang dan lebih semangat lagi untuk belajar.
2) Menetapkan tata tertib
Pada instansi pendidikan baik itu formal maupu nonformal, pasti
didalamnya ada ditetapkan aturan-aturan yang biasa disebut dengan tata
tertib. Tata tertib adalah sebuah peraturan yang ditetapkan dan sudah
disepakati oleh suatu lembaga dan harus di taati oleh semua masyarakat
di lembaga tersebut. Tata tertib sifatnya wajib untuk di taati.
91
Hasil Wawancara Dengan “Nida Azzahra, Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 20
September 09.00 WITA
92
Hasil Wawancara Dengan “Denda Aqila Pribadi, Santriwati”, Sekolah Dasar, Tanggal 20
September 09.10 WITA
65