0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan19 halaman

Pengertian dan Faktor Belajar Siswa

Diunggah oleh

magdalenaisus200
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan19 halaman

Pengertian dan Faktor Belajar Siswa

Diunggah oleh

magdalenaisus200
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis
1. Pengertian Analisis
Dalam kegiatan manusia, kegiatan analisis tentunya akan selalu ada, baik
dalam kegiatan pembelajaran, penelitian dan pekerjaan lainnya. Analisa
merupakan kegiatan yang dilakukan manusia untuk memeriksa secara rinci yang
akan diuji. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, analisis adalah kata bantu
penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan penelaahan bagian itu
sendiri, serta hubungan antar bagian untuk mendapatkan pengertian yang tepat
dan pemahaman makna keseluruhan; Proses pencairan jalan keluar yang
berangkat dari dugaan akan kebenarannya.
Nana Sudjana (2016:27) menyatakan bahwa “Analisis adalah usaha menilai
suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian sehingga jelas dari hierar-
kinya dan atau susunannya”. Dimyati Mujiono (2015:201) menyatakan bahwa
analisis merupakan kemampuan menjabarkan isi pelajaran ke bagian-bagian yang
menjadi unsur pokok. Hasnidah (2015:5) menyatakan bahwa “Analisis adalah
kata bantu penguraian suatu pokok atau berbagai bagiannya dan penelaahan bagi-
an itu sendiri serta hubungan antara untuk mendapatkan pengertian yang tepat dan
pemahaman makna keseluruhan; proses pencarian jalan keluar yang berangkat
dari dugaan akan kebenarannya; penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk
mengeta-hui keadaan yang sebenarnya.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa analisis
adalah suatu kegiatan memecahkan dan menguraikan suatu peristiwa menjadi
berbagai komponen untuk mengetahui keadaan sebenarnya.

2. Pengertian Belajar
Dalam dunia pendidikan kegiata Belajar adalah suatu proses atau usaha
yang dilakukan oleh setiap individu untuk mendapatkan suatu perubahan didalam
kehi-dupannya baik tingkah laku, pengetahuan, sikap, keterampilan, pola atau

7
8

daya pi kir, nilai kehidupan, dan berbagai kemampuan lainnya yang diperlukan di
dalam kehidupan. Ihsana El Khuluqo (2017:1) menyatakan “belajar merupakan
akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah
belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya”. Menurut
teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output
yang berupa respons. Oleh karena itu, belajar dapat disimpulkan sebagai suatu
usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik
melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan
psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu.
Bell-Gredler di dalam buku ([Link] & Heni Mularsih 2017:13)
menyatakan bahwa: “Belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk
mendapatkan aneka ragam kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan
sikap (attitude) yang diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan”. Hamdani
(2017:71) berpendapat bahwa “belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa
yang kompleks”. Sebagai tindakan, belajar hanya dialami oleh siswa sendiri.
Siswa adalah penentu terjadi atau tidaknya proses belajar. Proses belajar terjadi
karena memperoleh sesuatu yang ada dilingkungan sekitar.
Dari beberapa pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh para ahli
tersebut diatas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah
perbuatan yang terjadi karena interaksi seseorang dengan lingkungannya yang
akan menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada berbagai aspek,
diantaranya pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Perubahan-perubahan yang
terjadi disadari oleh individu yang belajar, belajar juga akan membawa perubahan
yang positif, hal itu terjadi karena peran aktif dari pembelajaran, tidak bersifat
sementara, bertujuan, dan perubahan yang terjadi meliputi keseluruhan tingkah
laku pada sikap, keterampilan, pengetahuan dan sebagainya.

3. Tujuan Belajar
Sardiman (2016:25) menyatakan bahwa ada tiga jenis tujuan belajar, yaitu:
a. Untuk mendapatkan Pengetahuan
Untuk dapat mengembangkan kemampuan berpikir perlu pengetahuan,
kemampuan berpikir akan memperkaya pengetahuan.
b. Penanaman Konsep dan Keterampilan
9

Penanaman konsep memerlukan suatu keterampilan. Keterampilan yang


dimaksud adalah keterampilan yang bersifat jasmani dan rohani
c. Pembentukan Sikap
Pembentukan sikap mental, perilaku dan pribadi anak didik, guru sebagai
contoh atau model dalam mengarahkan motivasi dan berpikir

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar


Muhibbin Syah (2017:129) mengemukakan secara global, faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yakni:
(1)Faktor Internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan
rohani siswa.(2)Faktor Eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi
lingkungan disekitar siswa.(3)Faktor Pendekatan Belajar (approach to learning),
yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan
siswa untuk melakukan kegiatan mempelajari materi-materi pelajaran.
Faktor-faktor diatas banyak hal yang sering saling berkaitan dan
mempengaruhi satu sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap
ilmu pengetahuan atau bermotif ekstrinsik (faktor eksternal). Umpamanya,
biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar yang sederhana dan tidak
mendalam. Sebaliknya, seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor internal)
dan mendapat dorongan positif dari orang tuannya (faktor eksternal), mungkin
akan memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas hasil belajar.
Jadi, karena pengaruh faktor-faktor tersebut diataslah, muncul siswa-siswa yang
high-achievers (berprestasi tinggi) dan underachievers (berprestasi rendah) atau
gagal sama sekali. Dalam hal ini, seorang guru yang kompeten dan professional
diharapkan mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan munculnya
kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan dengan berusaha
mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat proses belajar mereka.
1) Faktor Internal Siswa
Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni:(a)
aspek fisiologi (yang bersifat jasmaniah); (b) aspek psikologis (yang bersifat
rohaniah).
a) Aspek Fisiologis, yaitu kondisi umum jasmani dan tonus (tegang otot) yang
menandai tingkat kebugaran organ-organ tubuh dan sendinya, yang dapat
10

mempengaruhi semangat dan intensitas siswa dalam mengikuti pelajaran.


Untuk mempertahankan tonus jasmani agar tetap bugar, siswa sangat
dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang bergizi. Aspek
Fisiologis juga mempengaruhi anak dalam mengutarakan pendapat di depan
umum badannya yang kecil atau pendek, wajah yang tidak mengutungkan
sehingga siswa malu dan minder. Dan orang yang tidak terima dengan
fisiologisnya yang mengakibatkan siswa tidak percaya diri dalam
mengemukakan pendapatnya.
b) Aspek Psikologis, meliputi: (1)Intelegensi Siswa diartikan sebagai
kemampuan psikofisik untuk mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri
dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Intelegensi sebenarnya bukan
hanya persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organ-organ
tubuh lainnya. (2) Sikap Siswa adalah gejala internal yang berdimensi
afektif berupa kecenderungan untuk mereaksi dan merespon (response
tendency) dengan cara yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan
sebagainya, baik secara positif maupun negatif. (3) Bakat siswa adalah
kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan
pada masa yang akan datang. (4) Minat Siswa berarti kecenderungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Tubuh yang penyakitan dan kejiwaan yang kurang sehat dapat
mengakibatkan siswa cenderung tidak konsentrasi dalam belajar sehingga siswa
tidak memahami materi dan pertanyaan yang diajukan guru. Emosi yang tinggi
juga dapat mengakibatkan rasa takut sehingga siswa tidak berani mengutarakan
pendapatnya
2) Faktor Eksternal Siswa
Faktor eksternal juga terdiri atas dua macam, yakni: (a) faktor lingkungan
sosial dan (b) faktor lingkungan nonsosial.
(a) Lingkungan Sosial sekolah seperti para guru, para tetangga, para tenaga
kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan teman-teman sekelas
dapat memengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang selalu
menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan memperlihatkan suri
teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin
11

membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi
kegiatan belajar siswa. Selanjutnya, yang termasuk lingkungan sosial siswa
adalah masyarakat dan tetangga juga teman-teman sepermainan di sekitar
perkampungan siswa tersebut. Kondisi masyarakat di lingkungan kumuh
yang serba kekurangan dan anak-anak penggangur, misalnya akan sangat
mempengaruhi aktivitas belajar siswa. Paling tidak, siswa tersebut akan
menemukan kesulitan ketika menemukan teman belajar atau berdiskusi atau
meminjam alat-alat belajar tertentu yang kebetulan belum dimilikinya.
Lingkungan sosial yang lebih banyak mempengaruhi kegiatan belajar ialah
orangtua dan keluarga siswa itu sendiri. Sifat-sifat orangtua, praktik
pengelolaan keluarga, ketegangan keluarga, dan demografi keluarga (letak
rumah), semuanya dapat memberi dampak baik atau buruk terhadap
kegiatan belajar dan hasil belajar yang dicapai oleh siswa.
Guru yang pendiam tidak mampu membangkitkan suasana KBM
sehingga suasana menjadi kaku dan guru yang pemarah akan membuat
siswa takut dan juga tidak suka pada guru tersebut. Hal ini akan berdampak
pada sulitnya siswa dalam memahami materi pelajaran yang diajarkan.
Siswa pun akan merasa segan dan takut dalam bertanya maupun
mengutarakan pendapat terhadap pertanyaan yang diajukan guru.
(b) Lingkungan Nonsosial ialah faktor yang meliputi gedung sekolah dan
letaknya, rumah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat
belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar yang digunakan siswa. Faktor-
faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa.
Contoh: kondisi rumah yang sempit dan berantakan serta perkampungan
terlalu padat dan tak memiliki sarana umum untuk kegiatan remaja (seperti
lapangan voli) akan mendorong siswa untuk berkeliaran ke tempat-tempat
yang sebenarnya tidak pantas dikunjungi. Kondisi rumah dan perkam-
pungan seperti itu jelas berpengaruh buruk terhadap kegiatan belajar siswa.
(c) Faktor Pendekatan Belajar
Pendekatan belajar, seperti yang telah diuraikan secara panjang lebar pada
sebelumnya, dapat dipahami keefektifan segala cara atau strategi yang
digunakan siswa dalam menunjang efektivitas dan efesiensi proses belajar
12

materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah


operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah
atau mencapai tujuan belajar tertentu.
Untuk mengatasi faktor penyebab siswa takut, tidak berani, tidak
percaya diri, malu dalam mengutarakan pendapat di depan umum guru
harus terlebih dahulu mengetahui tipe keperibadian siswa, sehingga guru
mudah dalam menggunakan tipe pendekatan belajar apa yang dipakai, guru
juga harus mampu untuk menjalin komunikasi yang baik dengan para siswa
dan mampu memotivasi siswa agar berani dalam mengemukakan pendapat.
Proses belajar mengajar yang menyenangkan merupakan salah satu faktor
yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran.

5. Pengertian Mengajar
Mengajar pada dasarnya dilakukan oleh seorang guru dengan mentransfer
ilmu pengetahuan. Mengajar merupakan suatu kegiatan yang mengarah maupun
membimbing melalui suatu komunitas secara langsung antara guru siswa untuk
menyampaikan pesan pengajaran yang membantu siswa memperoleh informasi.
Sadirman (2016:48) menyatakan bahwa: “Mengajar adalah suatu aktivitas
mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan
dengan anak, sehingga terjadi proses belajar”. Atau dikatakan mengajar sebagai
upaya menciptakan kondisi yang kondusif untuk berlangsungnya kegiatan belajar
bagi para siswa. Kondisi itu diciptakan sedemikian rupa sehingga membantu
perkembangan anak secara optimal baik jasmani maupun rohani, baik fisik
maupun mental.
Slameto (2015:29) menyatakan “Mengajar adalah penyerahan kebudayaan
berupa pengalaman-pengalaman dan kecakapan kepada anak didik kita. Atau
usaha mewariskan kebudayaan masyarakat pada generasi berikut sebagai generasi
penerus”. Muhibbin (2017:179) menyatakan “Mengajar adalah penyampaian
pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.
Berdasarkan penjelasan di atas tentang pengertian mengajar, maka peneliti
dapat memnyimpulkan bahwa mengajar merupakan mentransfer pengetahuan
yang diberikan itu dan dimengerti oleh anak didik tersebut dan dapat pula
dimanfaatkan bagi kehidupannya kelak untuk mencapai tujuan pendidikan
13

6. Pengertian Pembelajaran
Proses pembelajaran terdiri dari kombinasi dua aspek yaitu: belajar
bertujuan kepada apa yang harus dilakukan oleh siswa, mengajar berorientasi pada
apa yang dilakukan oleh guru sebagai pemberi pelajaran. Kedua aspeknya ini akan
berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi
antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa disaat pembelajaran
sedang berlangsung. Dengan kata lain, pembelajaran pada hakikatnya merupakan
interaksi timbal balik antara peserta didik dan guru dalam proses belajar mengajar
yang dinamis untuk mentransfer nilai-nilai ke siswa supaya dapat melakukan
perubahan tingkah laku maupun pengetahuan
Udin S Wianataputra dalam Ngalimun (2017:30) menyatakan bahwa:
“Pembelajaran merupakan sarana untuk memungkinkan terjadinya proses belajar
dalam arti perubahan perilaku individu melalui proses mengalami sesuatu yang
yang diciptakan dalam rancangan proses pembelajaran”. Selanjutnya Gagne dan
Briggs dalam buku Karwono (2017:23) menyatakan bahwa: “Pembelajaran adalah
serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses
belajar pada peserta didik.
Winkel dalam buku Ihsana El Khuluqo (2017:52) menyatakan bahwa:
“Pembelajaran sebagai perangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung
proses belajar peserta didik, serta memperhitungkan kejadian-kejadian eksternal
yang berperanan terhadap rangkaian kejadian internal yang berlangsung di dalam
diri peserta didik”.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bukan
hanya sekedar transfer ilmu dari guru kepada siswa, melainkan suatu proses
kegiatan, yaitu terajdi interaksi antara guru dengan siswa serta antara siswa
dengan siswa. Dalam hal ini istilah pembelajaran memiliki hakekat perencanaan
dan perancangan sebagai upaya untuk membelajarkan siswa. Itu sebabnya dalam
belajar, siswa tidak berinteraksi dengan guru sebagai salah satu sumber belajar,
tetapi berinteraksi dengan keseluruhan sumber belajar yang mungkin dipakai
untuk mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran menaruh
perhatian pada bagaimana membelajarkan siswa bukan apa yang akan dipelajari
siswa.
14

7. Hasil Belajar
Hasil belajar dapat menjadi gambaran tentang bagaimana siswa memahami
materi yang disampaikan oleh guru. Hasil belajar biasanya dapat berupa angka
atau huruf yang didapat siswa setelah menerima materi pembelajaran melalui tes
atau tujuan yang diberikan oleh guru. Hasil belajar yang tinggi atau rendah
menunjukkan keberhasilan guru dalam menyampaikan materi pelajaran dalam
proses pembelajaran.
Ahmad Susanto (2013:5) menyatakan “Hasil belajar adalah perubahan-
perubahan yang terjadi pada diri siswa, baik menyangkut aspek kognitif, afektif,
dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar” Sedangkan menurut Nana
Sudjana (2014:22) menyatakan bahwa “Hasil belajar adalah kemampuan-
kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya”.
Purwanto (2016:54) menyatakan bahwa: “Hasil belajar adalah perubahan
perilaku yang terjadi setelah mengikuti proses belajar mengajar sesuai dengan
tujuan pendidikan”.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
tidak hanya dalam bentuk pemahaman semata. Suatu proses pembelajaran
dikatakan berhasil jika kompetensi yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh semua
siswa yang mengikuti proses pembelajaran. Artinya ada perubahan perilaku pada
diri siswa baik dalam bentuk kognitif, afektif maupun psikomotorikkearah yang
lebih baik dari pada sebelum siswa memperoleh pembelajaran.

8. Pengertian Berbicara
Dalam kegiatan berkomunikasi memerlukan keterampilan berbicara yang
baik. Kegiatan berkomunikasi dapat mencakup kegiatan bertanya, mengutarakan
pendapat, bercerita, bertelepon, berdiskusi, dan berwawancara. Kegiatan-kegiatan
tersebut sangat perlu untuk dipelajari agar kegiatan berkomunikasi dapat tercapai
dengan baik.
Guntur Tarigan (2015:16) menyatakan bahwa “Berbicara adalah
kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk
mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan
perasaan”. Sedangkan menurut Djago Tarigan (1990:149) menyatakan bahwa
“Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan
15

Supraptiningsih, dkk. (2018:83) menyatakan bahwa “Berbicara adalah


kemampuan mengucapkan bunyi atau kata untuk mengekspresikan, menyatakan
serta menyampaikan pikiran, dan perasaan. Seorang pembicara dalam
menyampaikan pesan kepada orang lain pasti mempunyai tujuan, ingin
mendapatkan respons atau reaksi yang menjadi harapannya. Tujuan dan harapan
pembicaraan sangat tergantung pada keadaan dan keinginan pembicaraan dengan
mengungkapkan gagasan/perasaan, memotivasi, menyakinkan, mensugesti
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa berbicara
adalah ungkapan pikiran atau perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi
bahasa. Kemampuan berbicara merupakan kemampuan mengucapkan kata-kata
untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, perasaannya di muka umum.

9. Tujuan Berbicara
Seorang pembicara dalam menyampaikan pesan kepada orang lain pasti
mempunyai tujuan, ingin mendapatkan responsi atau reaksi. Responsi atau reaksi
itu merupakan suatu hal yang menjadi harapan. Tujuan atau harapan pembicaraan
sangat tergantung dari keadaan dan keinginan pembicara.
Guntur Tarigan (2015:16) menyatakan bahwa “Tujuan utama dari berbicara
adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran serta efektif,
seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin
dikomunikasikan. Dia harus mampu mengevaluasi efek komunikasinya terhadap
(para) pendengarnya dan harus mengetahui prinsip-prinsip yang mendasari segala
situasi pembicaraan baik secara umum ataupun perorangan.
Mudini (2009:4) menyatakan bahwa ada lima tujuan dalam berbicara (a)
Tujuan suatu uraian dikatakan mendorong atau menstimulasi apabila pembicara
berusaha memberi semangat dan gairah hidup kepada pendengar. Reaksi yang
diharapkan adalah menimbulkan inpirasi atau membangkitkan emosi para
pendengar. Misalnya, pidato Ketua Umum Koni dihadapan para atlet yang
bertanding di luar negeri bertujuan agar para atlet memiliki semangat bertanding
yang cukup tinggi dalam rangka membela Negara. (b) Tujuan suatu uraian atau
ceramah dikatakan menyakinkan apabila pembicara berusaha mempengaruhi
keyakinan, pendapat atau sikap para pendengar. Alat yang paling penting dalam
uraian itu adalah argumentasi. Untuk itu diperlukan bukti, fakta, dan contoh
16

konkret yang dapat memperkuat uraian untuk meyakinkan pendengar. Reaksi


yang diharapkan adalah adanya persesuaian keyakinan, pendapat atau sikap atas
persoalan yang disampaikan. (c) Tujuan suatu uraian disebut menggerakkan
apabila pembicara mendaki adanya tindakan dan perbuatan dari para pendengar.
Misalnya berupa seruan persetujuan dan ketidaksetujuan, pengumpulan dana,
penandatanganan suatu resolusi, mengadakan aksi sosial. Dasar dari tindakan atau
perbuatan itu adalah keyakinan yang mendalam atau terbakarnya emosi. (d)
Tujuan suatu uraian dikatakan menginformasikan apabila pembicara ingin
memberi informasi tentang sesuatu agar para pendengar dapat mengerti dan
memahaminya. Misalnya seorang guru menyampaikan pelajaran di kelas, seorang
dokter menyampaikan masalah kebersihan lingkungan, seorang polisi
menyampaikan masalah tertib berlalu lintas, dan sebagainya. (e) Tujuan suatu
uraian dikatakan menghibur, apabila pembicara bermaksud mengembirakan atau
menyenangkan para pendengarnya. Pebicaraan seperti ini biasanya dilakukan
dalam suatu resepsi, ulang tahun, pesta, atau pertemuan gembira lainnya. Humor
merupakan alat yang paling utama dalam uraian seperti itu. Reaksi atau response
yang diharapkan adalah timbulnya rasa gembira, senang, dan bahagia pada hati
pendengar.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa tujuan
berbicara menyampaikan isi pikiran dalam bentuk informasi (ide,gagasan,pesan)
kepada penerima dan mengharapkan adanya reaksi atau timbal balik dari
penerima. Adapun beberapa tujuan lain seperti (a)memberitahukan suatu kepada
pendengar (b)menyakinkan atau mempengaruhi penengar, dan (c) menghibur
pendengar.

10. Jenis-Jenis Kegiatan Berbicara


Berbicara terdiri atas berbicara formal dan berbicara informal. Berbicara
formal meliputi mengutarakan pendapat, diskusi, wawancara, bercerita (dalam
situasi formal) sedangkan berbicara informal bertukar pikiran, percakapan,
penyampaian berita, bertelepon, dan memberi petunjuk, dll.
a. Berbicara Formal
1. Mengemukakan pendapat
Anak yang terbiasa mengutarakan pendapatnya akan tumbuh menjadi anak
17

yang berani mengutarakan pendapat di muka umum, seperti sekolah dan


organisasi. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis. Berdasarkan teori Bloom
1975 dalam Karnadi (2009:10) menyatakan bahwa mengutarak-an pendapat
adalah usaha individu untuk mengkomunikasikan secara langsung dan jujur, dan
menentukan pilihan tanpa merugikan atau dirugikan orang lain. Menurut karakter
dari anak yang memiliki kemampuan ini adalah kemampu-an mengekspresikan
ide, kebutuhan dan perasaan serta mempertahankan hak individunya dengan cara
tidak melanggar hak orang lain.
Stefan, 2007 menyatakan bahwa mengemukakan pendapat mempunyai
istilah lain yaitu asertivitas. Asertivitas merupakan kemampuan seseorang untuk
dapat mengemukakan pendapat, saran, dna keinginan yang dimilikinyasecara
langsung, jujur dan terbuka pada orang lain. Orang yang memiliki sifat asertif
adalah orang yang memiliki keberanian untuk mengekspresikan pikiran ,
perasaan, dan hak-hak pribadinya, serta tidak menolak permintaan yang tidak
beralasan.
Poerwadarminta, (2007:1353) menyatakan bahwa mengutarakan berarti
mengatakan, menyatakan, melahirkan (gagasan, pendapat). Sedangkan pendapat
berati pikiran atau anggapan. Jadi dapat disimpulkan bahwa kemampuan
mengutarakan pendapat adalah daya atau kesanggupan untuk menyatakan pikiran
atau perasaan.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka peneliti menyimpulkan
bahwa mengutarakan pendapat adalah keinginan seseorang untuk mengungkapkan
sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pemikiran yang dimilikinya. Lahirnya
kemampuan mengutarakan pendapat karena ada sesuatu yang tidak sepaham atau
sepemikiran dengan apa yang ada dalam dirinya.
2. Diskusi
Diskusi salah satu startegi belajar mengajar yang dilakukan seorang guru di
sekolah, dalam diskusi orang ini berinteraksi antara dua atau lebih individu saling
tukar menukar pengalaman, informasi dan memecahkan masalah.
Kamisa (1997:953) menyatakan bahwa diskusi adalah pendapat untuk
memecahkan suatu masalah atau mencari kebenaran, atau pertemuan ilmiah yang
di dalamnya dilakukan tanya jawab guna membahas suatu masalah.
18

Dimana berdiskusi yang penulis maksud disini yaitu kemampuan siswa


dalam melaksanakan diskusi di dalam kelas sehingga semua siswa dapat
mengikuti kegiatan berdiskusi mampu menjadi individu yang aktif dan berani
dalam menyampaikan/ mengemukakan gagasan, ide, dan pendapat atau saran
yang ingin siswa sampaikan dalam berdiskusi.

3. Wawancara
Dengan melakukan wawancara kita dapat mengetahui sebuah informasi
yang kita cari dan wawancara juga mengajarkan kita untuk berani berbicara dan
bertanya. Esterbeg dalam sugiyono (2017:317) menyatakan bahwa wawancara
adalah pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya
jawab, sehingga dapat mengetahui informasi sebagai data pendukung dalam
dokumentasi.
Ngalimun (2018:157) menyatakan bahwa wawancara adalah suatu teknik
pengumpulan data dengan jalan mengadakan komunikasi dengan sumber.
Komunikasi tersebut dilakukan dengan dialog (tanya jawab) secara lisan, baik
langsung maupun tidak langsung (menggunakan alat komukasi). Sedangkan
Arikunto (2013:199) menyatakan bahwa wawancara adalah dilakukan dengan
mengajukan pertanyaan secara bebas namun masih tetap berada pada pedoman
wawancara yang sudah dibuat.
Berdasarkan pendapat para ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa
wawancara merupakan kegiatan tanya jawab yang terjadi secara langsung antara
dua orang atau lebih. Wawancara bertujuan untuk memperoleh sejumlah
informasi, pendapat, keterangan atau pun data yang akan dipergunakan untuk
kepentingan tertentu.
4. Bercerita
Salah satu cara yang digunakan guru untuk memberi pengalaman belajar
kepada anak. Bercerita yang disampaikan harus mengandung pesan, nasihat, dan
informasi yang bisa ditangkap oleh anak, sehingga anak bisa dengan mudah
memahami cerita dan meneladani hal yang baik terkandung dalam isi cerita yang
bercerita.
19

Madyawati (2016:59) menyatakan bahwa bercerita adalah salah satu


keterampilan berbicara yang bertujuan untuk memberi informasi kepada orang
lain dengan cara menyampaikan berbagai macam ungkapan, perasaanyang sesuai
dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat, dan dibaca.
Tarigan (1981:35) menyatakan bahwa bercerita merupakan salah satu
keterampilan dalam berbicara yang bertujuan untuk memberi informasi kepada
orang lain. Dikatakan demikian karena berbicara termasuk dalam situasi
informatif yang ingin membuat pengertian-pengertian atau makna-makna menjadi
jelas. Dengan bercerita seseorang dapat menyampaikan berbagai macam cerita,
ungkapan berbagai perasaan sesuai dengan apa yang dialami, dirasakan, dilihat,
dibaca dan ungkapan kemauan dan keinginan membagikan pengalaman yang
diperolehnya.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia (2003:210) menyatakan bahwa
bercerita tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal atau
peristiwa atau karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman kebahagiaan
atau penderitaan orang, kejadian tersebut sungguh-sungguh atau rekaan .
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa
bercerita adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menyampaikan
pesan, informasi. Bercerita juga merupakan keterampilan dalam berbicara dalam
menyampaikan berbagai ungkapan berbagai perasa-an sesuai dengan apa yang
dialami, dirasakan, dilihat, dibaca dan ungkapan kemampuan dan keinginan
membagikan pengalaman yang diperolehnya.
b. Berbicara Informal
1. Bertukar Pikiran
Komunikasi tidak dapat dilepaskan dari aktivitas keidupan manusia, melalui
komunikasi manusia dapat bertukar pikiran. Dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia (KBBI) menyatakan bahwa bertukar pikiran adalah berubah pendapat
(keyakinandan sebagainya). Arti lainnya dari bertukar pikiran adalah berbahas
(saling mengutarakan pendapat)
2. Percakapan
Percakapan sering kita artikan sebagai pertukaran informasi antara satu
pihak dengan pihak yang lain, tetapi sesungguhnya percakapan itu memiliki
20

makna yang lebih luas dan spesifik


Grice dalam Gunarwan (2007:247) menyatakan bahwa percakapan adalah
pemahaman pada makna tersirat suatu ujuran mengenai implikatur sangat
diperlukan. Makna yang tersirat dalam suatu percakapan disebut juga implikatur
percakapan. Dengan kata lain impikatur percakapan adalah proposisi atau
pernyataan implikatif, yaitu apa yang mungkin diartikan, disiratkan, dimaksudkan
penutur berbeda dengan sebenarnya dikatakan oleh penutur dalam percakapan.
Antilan purba (2002:95) menyatakan bahwa percakapan adalah pembicaraan
yang diawali dan diinterprestasikan berdasarkan kaidah-kaidah dan norma-norma
kerja sama percakapan yang dipahami secara intuisi dan dibutuhkan secara umum.
Sedangkan Guntur Tarigan (2009:131) menyatak-an bahwa percakapan
merupakan wadah yang paling ampuh bagi penggunaan kaidah-kaidah atau
aturan-aturan wacana secara fungsional.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa
percakapan adalah suatu kegiatan bahasa yang melibatkan partisipan. Dalam
percakapan, proses komunikasi terjadi apabila ada dua partisipan, yaitu pembicara
dan pendengar. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa di dalam percakapan
terjadi pertukaran informasi antara pembicara dengan pendengar. Percakapan
bukan hanya sekedar pertukaran informasi. Oleh sebab itu, jika seseorang
mengambil bagian di dalam percakapan, maka mereka masuk ke dalam proses
percakapantersebut sehingga cara dan tujuan mengenai isi percakapan serta
bagaimana informasi disampaikan berpengaruh dalam penginterprestasian
percakapan.
11. Mengutarakan Pendapat
Achmad Zulkiflin Adnan dalam jurnal (Self-Disclosure Ditinjau dari Tipe
Keperibadian dan Self-Esteem pada remaja) Dalam mengutarakan pendapat ada
tipe keperibadian dalam siswa menurut Jung ( dalam Feist & Feist, 2010)
mengkategorikan tipe keperibadian menjadi dua tipe yakni introvert dan
ekstrovert. Orang-orang dengan kecenderungan introvert selalu mendengarkan
persaan batinnya, dan mempunyai persepsi sendiri. Mereka tetap bersentuhan
dengan dunia luar, namun mereka lebih selektif untuk memilih dunia mana yang
tepat dan didasarkan pada pandangan subjektif mereka. Dengan karakteristik
21

seperti pendiam, tidak banyak bicara, malu-malu sedangkan Ekstrovert lebih


banyak dipengaruhi oleh lingkungan sekitar mereka daripada dunia batin mereka
sendiri. Mereka cenderung fokus kepada sifat objektif dan merepresi sikap
subjektifnya. Dengan karakteristik seperti banyak bicara, selalu membutuhkan
orang lain untuk diajak berbicara, tergolong orang ramah.
Mengemukakan pendapat merupakan tahapan yang paling dasar dalam
berbicara. Hal ini terjadi karena dari sekian banyak ragam berbicara hampir
semuanya dituntut pembicara untuk dapat mengemukakan pendapat.
Mengemukakan pendapat atau mengutarakan pendapat adalah kemapuan dalam
menggunakan bahasa yang baik, tepat dan konteks yang masuk akal dan logis
Jos Daniel (1987:3) menyatakan bahwa mengutarakan pendapat merupakan
berkomunikasi secara isyarat untuk mencapai tujuan tersebut orang perlu
memahami teknik dan cara berbahasa, sedangkan Effendi dalam Permatasari
(2010:9) menyatakan bahwa mengutarakan pendapat merupakan suatu respon
yang diberikan seorang komunikan kepada komunikator yang sebelumnya telah
memberikan pertanyaan. Achmad (2009:174) menyatakan bahwa: “Pendapat
berasal dari pola pikir, tanggapan dan pengertian, sebagaimana dikemukakann
bahwa pendapat yaitu hasil pekerjaan pikir, meletakkan hubungan anatara
tanggapan yang satu dengan yang lain, antara pengertian satu dengan pengertian
lain, yang dinyatakan dalam satu kalimat. Untuk menyebutkan sebuah pengertian
atau tanggapan biasanya cukup dengan satu kata.
Berdasarkan pendapat beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pendapat
adalah suatu respon yang diberikan seseorang untuk menjawab suatu pertanyaan
yang merupakan hasil dari pola pikir, tanggapan, mempunyai makna yang relatif.
Kemudian mengemukakan pendapat merupakan suatu keterampilan dalam
berbicara.
Terdapat beberapa tuntutan kemampuan dan keterampilan dalam
mengemukakan pendapat, yaitu:
1. Kemampuan mengemukakan pendapat dengan bahasa yang menyangkut
kemampuan menggunakan bahasa dengan baik, tepat, dan seksama.
2. Kemampuan mengemukakan pendapat secara analisis berarti setiap pendapat
yang dikemukakan dan dianalisis secara terperinci satu persatu
22

3. Kemampuan mengemukakan pendapat secara logis berarti mengemukakan


pendapat masuk aka, sedangkan mengemukakan pendapat secara kreatif berarti
memiliki kemampuan menciptakan artinya pemikirannya bukan berdasarkan
kesepakatan umum.
Mengemukakan pendapat berarti mengemukakan gagasan atau
menyampaikan pemikiran secara verbal. Selain itu kemampuan berpendapat
adalah keinginan seorang untuk mengungkapkan sesuatu berdasarkan
pengetahuan dan pemikiran yang dimilikinya. Tarigan (2015:1) Kemampuan
berpendapat juga dapat melatih siswa untutk berpikir kritis dan terampil dalam
berbicara. Bahasa seseorang mencerminkan pemikirannya, semakin terampil
seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya, keterampilan
dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan.
Maka dengan demikian berpendapat dapat melatih siswa menjadi seseorang
yang berani untuk berbicara dan berpendapat di depan umum khususnya di depan
teman-temannya dan dengan demikian kemampuan berpendapat selain dapat
mengembangkan cara berpikir siswa juga dapat mengembangkan kemampuan
berbicaranya.

12. Faktor-Faktor yang Mengembangkan Keberanian Berpendapat Siswa


Keberanian merupakan suatu usaha sadar terhadap keadaan emosional dan
kemauan yang kuat untuk mencapai suatu tujuan, yaitu perubahan yang positif.
Dalam mencapai keberanian, seseorang dituntut untuk memiliki rasa percaya diri
yang kuat dan meminimalisasi rasa ketakutan dalam dirinya
Karnadi (2009:108) menyatakan bahwa Terdapat 4 faktor yang dapat
mengembangkan keberanian siswa dalam mengutarakan pendapat:
1. Keberanian
Keberanian mempunyai arti tidak takut menghadapi tantangan, kesulitan atau
kesakitan. Berbicara secara terbuka untuk membela yang benar walaupun ada
yang menentangnya, berani bertindak untuk hal-hal yang diyakininya benar
walaupun tak populer.
2. Kegigihan
Menyelesaikan hal-halyang sudah dimulai, pantang menyerah dalam
melakukan suatu walaupun banyak rintangan
23

3. Integritas (ketulusan dan kejujuran)


Berbicara dan bertindak jujur, tidak berpura-pura, tulus dan bertanggung jawab
atas perbuatannya sendiri.
4. Vitalitas
Menjalani kehidupan dengan kegembiraan dan penuh semangat, tidak bekerja
setengah hati, melibatkan kehidupannya sebagai petualangan.
Keempat faktor itu mempunyai peranan penting untuk mengembangkan
keberanian siswa dalam mengutarakan pendapat pribadi tentang pertanyaan yang
diajukan guru dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Keberanian diperlukan
peserta didik untuk menyampaikan pendapat pribadinya saat guru mengajukan
pertanyaan
1. Kegigihan peserta didik dalam proses “menemukan” jawaban atas pertanyaan
guru mendorong peserta didik untuk berusaha pantang menyerah untuk
memikirkan atau mencari jawaban atas pertanyaan guru sehingga peserta didik
berani mengungkapkan pendapat pribadinya
2. Integritas akan mendorong siswa untuk bersikap jujur dalam pembelajaran
tidak ada rekayasa dalam menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
3. Peserta didik yang mempunyai vitalitas yang tinggi akan menjalani setiap
kegiatan dalam pembelajaran dengan penuh semangat sehingga siswa mampu
menjawab pertanyaan yang ajukan guru.

B. Kerangka Berpikir
Anak yang terbiasa mengemukakan pendapatnya akan tumbuh menjadi anak
yang berani menyampaikan pendapat di muka umum, seperti sekolah dan
organisasi. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kritis, percaya diri sehingga
mempengaruhi perjalanan hidupnya ke depan.
Mengemukakan pendapat merupakan tahapan yang paling dasar dalam
berbicara. Hal ini terjadi karena dari sekian banyak ragam berbicara hampir
semuanya dituntut pembicara untuk dapat mengemukakan pendapat.
Mengemukakan pendapat atau mengutarakan pendapat adalah kemapuan dalam
menggunakan bahasa yang baik, tepat dan konteks yang masuk akal dan logis
Dalam mengemukakan pendapat diperlukan yang namanya keterampilan
berbicara yang merupakan seni berbicara yang bisa dimiliki seseorang yang
24

bertujuan untuk menyampaikan pesan lisan secara efektif, sebagai bentuk


komunikasi kepada orang lain.
Nyatanya masih banyak siswa belum beranian siswa dalam mengemukakan
pendapat. Masih banyak siswa yang tidak berkontribusi dalam proses Kegiatan
Belajar Mengajar, terutama dalam menyampaikan pendapat saat guru bertanya,
peserta didik yang berani berpendapat hanya peserta didik yang tertentu,
Kurangnya kemampuan siswa sehingga siswa takut salah dalam mengutarakan
pendapat pribadinya saat ditanya guru, kurangnya konsentrasi siswa ketika guru
mengajukan pertanyaan. Akan tetapi tapi masih banyak faktor yang menyebabkan
seorang siswa tidak mengemukakan pendapatnya di dalam kelas diantaranya
karena tidak percaya diri, tidak memahami masalah yang dibicarakan, dll.

C. Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan pertanyaan penelitian
yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran keberanian siswa dalam mengutarakan pendapat pribadi
tentang pertanyaan yang di ajukan guru untuk mengajar dalam mata pelajaran
Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN 067246 Medan Tahun Pelajaran
2020/2021?
2. Apa kesulitan siswa dalam mengutarakan pendapat pribadinya tentang
pertanyaan yang disampaikan guru dalam mengajar dalam mata pelajaran
Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN 043952 Sukaramai Tahun Ajaran
200/2021?
3. Apa faktor penyebab sehingga siswa tidak berani dalam mengutarakan
pendapat pribadi tentang pertanyaan yang di ajukan guru untuk mengajar
dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN 067246
Medan Tahun Pelajaran 2020/2021?

D. Defenisi Operasional
Untuk menghindari kesalahpamahan dalam memahami istilah-istilah yang
terdapat dalam penelitian ini maka perlu dirumuskan defenisi operasionalnya.
Adapun defenisi operasional dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
25

1. Belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dan dialami seseorang di


lingkungannya dengan sengaja untuk mendapatkan perubahan baik perilaku,
daya pikir, sikap, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh berdasarkan
pengalamannya. Sehingga dalam belajar siswa beranian dalam mengutarakan
pendapat pribadinya tentang pertanyaan yang disampaikan guru dalam
mengajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia.
2. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki peserta didik setelah mengikuti
proses pembelajaran yang mencangkup kemampuan siswa dalam
mengutarakan pendapat pribadi tentang pertanyaan yang disampaikan guru
dalam mengajar pada mata pelajaran bahasa Indonesia
3. Mengemukakan Pendapat adalah keinginan seseorang untuk mengungkapkan
sesuatu berdasarkan pengetahuan dan pemikiran yang dimilikinya. Lahirnya
kemampuan dalam mengutarakan pendapat karena sesuatu yang tidak sepaham
atau sepemikiran dengan apa yang ada dalam dirinya siswa tentang pertanyaan
yang disampaikan guru dalam megajar

Anda mungkin juga menyukai