C.
Tujuan Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan salah satu
model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan
pendidikan karakter di sekolah. Dengan kata lain, CTL dapat dikembangkan menjadi salah
satu model pembelajaran berkarakter, karena dalam pelaksanaannya lebih menekankan
pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik
secara nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan
kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajaran ini
diharapkan dapat mendorong peserta didik untuk menyadari dan menggunakan
pemahamannya untuk mengembangkan diri dan menyesuaikan berbagai persoalan yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari (Naim, 2009). Berikut adalah tujuan dari
pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL):
1. Pengajaran autentik adalah pembelajaran yang memungkinkansiswa belajar dalam
konteks bermakna strategi ini menyatukan keterangan berfikir dan pemecahan yang
merupakan komponen penting dalam tatanan kehidupan nyata.
2. Pembelajaran berbasis inquiri adalah merupakan pembelajaranyang berpola pada
metode Matematika dan memberikan kesempatan kepadasiswa untuk lebih aktif
pembelajaran.
3. Pembelajaran berbasis masalah adalah merupakan suatu kegiatanyang mengunakan
masalah dunia nyata sebagi kontes bagi siswa untuk belajar berfikir kritis dan
keterangan dalam pemecahan masalah.
4. Pembelajaran kooperatif adalah strategi belajar di mana siswa belajar dalam bentuk
kelompok kecil yang saling membantu untuk memahami suatu materi pembelajaran
dengan memeriksa dan memperbaiki jawaban teman kelompok.
Dalam pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) siswa dirangsang untuk aktif
sehingga menimbulkan semangat belajar karena proses pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal.
Contextual Teaching and Learning (CTL) bukan sekedar mendengarkan dan mencatat,
tetapi belajar dari proses pengalaman secara langsung. Melalui proses pengalaman itu
diharapkan pengetahuan siswa diperoleh secara utuh, yang tidak hanya berkembang
dalam aspek kognitif saja, tetapi juga aspek afektif dan juga psikomotor.
D. Prinsip Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pembelajaran kontekstual memiliki beberapa prinsip dasar. Adapun prinsip-prinsip dalam
pembelajaran kontekstual menurut Suprijono (2011: 80-81) adalah sebagai berikut:
1. Saling ketergantungan, artinya prinsip ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan
ini merupakan suatu sistem. Lingkungan belajar merupakan sistem yang
mengitegrasikan berbagai komponen pembelajaran dan komponen tersebut. saling
mempengaruhi secara fungsional.
2. Diferensiasi, yakni merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari realitas
kehidupan di sekitar siswa. Keanekaragaman mendorong berpikir kritis siswa untuk
menemukan hubungan di antara entitas-entitas yang beraneka ragam itu. Siswa dapat
memahami makna bahwa perbedaan itu rahmat.
3. Pengaturan diri, artinya prinsip ini mendorong pentingnya siswa mengeluarkan
seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan materi akademik
dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang
mengandung prinsip pengaturan diri.
Selanjutnya, Sumiati dan Asra (2009: 18) menjelaskan secara rinci prinsip pembelajaran
kontekstual sebagai berikut:
1. Menekankan pada pemecaham masalah;
2. Mengenal kegiatan mengajar terjadi pada berbagai konteks seperti rumah,
masyarakat, dan tempat kerja;
3. Mengajar siswa untuk memantau dan mengarahkan belajarnya sehingga menjadi
pembelajar yang aktif dan terkendali:
4. Menekankan pembelajaran dalam konteks kehidupan siswa;
5. Mendorong siswa belajar satu dengan lainnya dan belajar bersama-sama:
6. Menggunakan penilaian otentik.
Lain halnya dengan Nurhadi, ia mengemukakan prinsip-prinsip pembelajara kontekstual
yang perlu diperhatikan guru, yakni:
1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan kewajaran mental sosial,
2. Membentuk kelompok yang saling bergantung.
3. Menyediakan lingkungan yang mendukung pembelajaran yang mandiri,
4. Mempertimbangkan keragaman siswa,
5. Mempertimbangkan multi intelegensi siswa,
6. Menggunakan teknik-teknik bertanya untuk meningkatkan pembelajaran siswa,
perkembangan masalah, dan ketrampilan berpikir tingkat tinggi.
7. Menerapkan penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan antitesis dari ujian
stanar, penilaian autentik memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan
kemampuan terbaik mereka sambil mempertunjukkan apa yang sudah mereka.
pelajari
Merujuk pada prinsip-prinsip di atas, maka pembelajaran kontekstual berorientasi pada
upaya membantu siswa untuk menguasai tiga hal, yakni:
1. Pengetahuan, yaitu apa yang ada di pikirannya membentuk konsep, definisi, teori, dan
fakta;
2. Kompetensi atau keterampilan, yaitu kemampuan yang dimiliki untuk bertindak atau
sesuatu yang dapat dilakukan;
3. Pemahaman kontekstual, yaitu mengetahui waktu dan cara bagaiman menggunakan
pengetahuan dan keahlian dalam situasi kehidupan nyata.
Bibliography
Naim, N. (2009). Menjadi Guru Inspiratif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.