0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Hakekat dan Karakteristik Matematika

Diunggah oleh

Faraaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan28 halaman

Hakekat dan Karakteristik Matematika

Diunggah oleh

Faraaa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Hakekat Matematika

Sebelum kita membahas lebih jauh tentang adakah pengaruh Adversity

Quotient terhadap prestasi belajar peserta didik, akan lebih baik jika terlebih

dahulu kita ketahui hakekat matematika.

1. Definisi Matematika

Membahas tentang definisi matematika, Herman Hudojo menyatakan

bahwa sampai saat ini belum ada kesepakatan yang bulat di antara

matematikawan mengenai apa yang disebut matematika itu. 1 Sasaran

penelaahan matematika tidaklah konkrit, tetapi abstrak. Menurutnya, dengan

mengetahui sasaran penelaahan matematika, kita dapat mengetahui hakekat

matematika yang sekaligus dapat kita ketahui juga cara berpikir matematika.

Istilah matematika berasal dari kata Yunani “mathein” atau “mathenein”

yang artinya “mempelajari”. Mungkin juga, kata tersebut erat hubungannya

dengan kata sansakerta “medha” atau “widya” yang artinya “kepandaian”,

“ketahuan”, atau “intelegensi”.2

1
Herman Hudojo, Mengajar Belajar Matematika, (Jakarta: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan
Tenaga Kependidikan, 1988), hal. 2
2
Moch. Masykur, Ag., Abdul Halim Fathoni, Matematika Intelligence: Cara Cerdas Melatih
Otak dan Menanggulangi Kesulitan Belajar, (Yogyakarta: Ar Ruz Media , 2008), hal. 42

12
13

Selain istilah di atas, Soedjadi menyebutkan beberapa definisi atau

pengertian tentang matematika sebagai berikut:3

a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara

sistematik.

b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan dan kalkulasi.

c. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta-fakta kuantitatif dan masalah

tentang ruang dan bentuk.

d. Matematika adalah pengetahuan tentang penalaran logik dan berhubungan

dengan bilangan.

e. Matematika adalah pengetahuan tentang struktur-struktur yang logik.

f. Matematika adalah pengetahuan tentang aturan-aturan yang ketat.

Di samping definisi-definisi tersebut, Herman Hudojo menyatakan bahwa

matematika berkenaan dengan ide-ide/konsep-konsep abstrak yang tersusun

secara hirarkis dan penalarannya deduktif.4

Beberapa definisi di atas hanyalah definisi-definisi yang diungkapkan

oleh para ahli berdasarkan sudut pandang, kemampuan, pemahaman dan

pengalaman masing-masing. Untuk mendeskripsikan definisi matematika,

para matematikawan belum pernah mencapai satu titik kesepakatan. Oleh

sebab itu matematika tidak akan pernah selesai untuk didiskusikan dan

3
R. Soedjadi, Kiat Pendidikan Matematika di Indonesia, (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional 1999/2000), hal. 11
4
Herman hudojo, Mengajar Belajar...., hal. 3
14

dibahas. Penjelasan mengenai matematika akan terus mengalami

perkembangan.

2. Karakteristik Matematika

Seperti dikatakan sebelumnya bahwa pendefinisian matematika belum

mencapai kesepakatan. Meskipun demikian, dari beberapa definisi menurut

sudut pandang masing-masing ahli terdapat ciri-ciri khusus atau karakteristik

matematika yang secara umum disepakati bersama. Beberapa karakteristik itu

adalah:5

a. Memiliki objek kajian abstrak

Dalam matematika, objek dasar yang dipelajari adalah abstrak yang

sering juga disebut sebagai objek mental. Objek-objek itu merupakan objek

pikiran. Objek dasar itu meliputi fakta, konsep, operasi ataupun relasi, dan

prinsip.

b. Bertumpu pada kesepakatan

Kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting dalam

matematika. Kesepakatan yang amat mendasar adalah aksioma dan konsep

primitif. Aksioma adalah pernyataan yang diterima sebagai kebenaran

tanpa memerlukan pembuktian.6 Sedangkan konsep primitif yang juga

disebut sebagai undefined term ataupun pengertian-pengertian pangkal

tidak perlu didefinisikan.

5
R. Soedjadi, Kiat Pendidikan..., hal. 13
6
ST. Negoro dan B. Harahap, Ensiklopedia Matematika, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2010),
hal.10
15

c. Berpola pikir deduktif

Dalam matematika sebagai “ilmu” hanya diterima pola pikir deduktif.

Pola pikir deduktif secara sederhana dapat dikatakan sebagai pemikiran

“yang berpangkal dari hal yang bersifat umum, diterapkan atau diarahkan

kepada hal yang bersifat khusus”. Pola pikir deduktif ada yang sederhana

dan ada yang tidak sederhana atau ketat.

d. Memiliki simbol yang kosong dari arti

Dalam matematika banyak sekali simbol yang digunakan, baik

berupa huruf ataupun bukan huruf, rangkaian simbol-simbol matematika

dapat membentuk suatu model matematika. Model matematika dapat

berupa persamaan, pertidaksamaan, bangun geometrik tertentu dan

sebagainya. Simbol kosong dari arti dapat dimanfaatkan oleh yang

memerlukan matematika sebagai alat. Menempatkan matematika sebagai

simbol.

e. Memperhatikan semesta pembicaraan

Sehubungan dengan kosongnya arti simbol-simbol dan tanda-tanda

dalam matematika menunjukkan bahwa dalam menggunakan matematika

diperlukan kejelasan dalam lingkup apa model itu dipakai. Lingkup

pembicaraan inilah yang disebut dengan semesta pembicaraan. Semesta

pembicaraan bermakna sama dengan universal set. Semesta pembicaraan

dapat sempit dapat juga luas sesuai dengan keperluan.


16

f. Konsisten dalam sistemnya

Dalam matematika terdapat banyak sistem. Ada sistem yang

mempunyai kaitan satu sama lain, tetapi juga ada sistem yang dapat

dipandang terlepas satu sama lain. Konsisten juga berarti Anti-kontradiksi.

3. Matematika Sekolah

Defnisi-definisi matematika yang telah diuraikan sebelumnya adalah

pengertian matematika sebagai ilmu. Sedangkan matematika yang diajarkan di

sekolah mulai dario jenjang pendidikan dasar sampai menengah disebut

sebagai matematika sekolah. Adapun definisi dari matematika sekolah adalah

unsur-unsur atau bagian-bagian dari Matematika yang dipilih berdasarkan

atau berorientasi kepada kepentingan kependidikan dan perkembangan

IPTEK.7 Hal ini menunjukkan bahwa matematika sekolah tidak sepenuhnya

sama dengan matematika sebagai ilmu karena terdapat beberapa perbedaan di

antara keduanya. Perbedaan tersebut antara lain terletak pada:8

a. Cara Penyajian

Penyajian matematika dalam buku sekolah tidak selalu diawali

dengan teorema atau definisi, akan tetapi disesuaikan dengan

perkembangan intelektual peserta didik.

7
R. Soedjadi, Kiat Pendidikan..., hal. 37
8
Ibid., hal. 37
17

b. Pola Pikir

Pola pikir dalam matematika sebagai ilmu adalah deduktif. Namun

tidak demikian halnya dengan matematika sekolah. Meskipun pada

akhirnya peserta didik tetap diharapkan mampu berpikir deduktif, namun

dalam proses pembelajaran dapat digunakan pola pikir induktif. Pola

induktif yang digunakan dimaksudkan untuk menyesuaikan dengan

perkembangan intelektual peserta didik.

c. Keterbatasan Semesta

Sebagai akibat dipilihnya unsur atau elemen matematika untuk

matematika sekolah dengan memperhatikan aspek kependidikan, dapat

terjadi penyederhanaan dari konsep matematika yang kompleks. Semesta

pembicaraan tetap diperlukan tapi lebih dipersempit, selanjutnya semakin

meningkat usia peserta didik maka semesta itu diperluas lagi.

d. Tingkat Keabstrakan

Seorang guru matematika harus berusaha untuk mengurangi sifat

abstrak dari objek matematika sehingga memudahkan peserta didik

menangkap pelajaran matematika di sekolah. Seorang guru matematika,

sesuai perkembangan penalaran peserta didiknya, harus mengusahakan

agar fakta, konsep, operasi ataupun prinsip dalam matematika itu terlihat

konkret. Semakin tinggi jenjang sekolah, semakin banyak sifat abstraknya

sehingga pembelajaran tetap diarahkan kepada kemampuan berpikir

abstrak.
18

4. Tujuan Pendidikan Matematika

Sebagai wahana pendidikan, matematika tidak hanya dapat digunakan

untuk mencapai satu tujuan, misalnya mencerdaskan peserta didik, tetapi

dapat pula untuk membentuk kepribadian peserta didik serta mengembangkan

ketrampilan tertentu.9

Tujuan umum diberikannya matematika di jenjang pendidikan dasar dan

pendidikan umum adalah: 10

a. Mempersiapkan peserta didik agar sanggup menghadapi perubahan

keadaan di dalam kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui

bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur,

efektif dan efisien.

b. Merpersiapkan peserta didik agar dapat menggunakan pola pikir

matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai

ilmu pengetahuan.

Tujuan yang dikemukakan di atas mengarah pada klasifikasi atau

pengelolaan tujuan pembelajaran matematika disemua jenjang pendidikan

persekolahan tujuan yang bersifat formal dan tujuan yang bersifat material. 11

Adapun tujuan yang bersifat formal lebih menekankan penalaran dan

membentuk kepribadian. Sedangkan tujuan yang bersifat material lebih

9
Ibid., hal. 7
10
Ibid., hal. 43
11
Ibid., hal. 45
19

menekankan pada kemampuan menerapkan matematika dalam ketrampilan

matematika.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran

matematika di sekolah tidak hanya menekankan pada kemampuan

mengerjakan soal-soal matematika, akan tetapi juga bertujuan untuk

membentuk sikap dan kepribadian peserta didik serta menata nalarnya untuk

dapat menghadapi masalah dalam kehidupan sehari-hari.

B. Adversity Quotient

1. Pengertian Adversity Quotient

Adversity Quotient, merupakan suatu penilaian yang mengukur

bagaimana respon seseorang dalam menghadapi masalah untuk dapat

diberdayakan menjadi peluang.12 Adversity Quotient adalah ukuran untuk

mengukur respons seseorang dalam menghadapi kesulitan apakah permanen

atau sementara.13 Adversity Quotient adalah penentu kesuksesan seseorang

untuk mencapai puncak pendakian.14 Menurut Stoltz, kesuksesan seseorang

tidak dapat ditentukan oleh kecerdasan (IQ) maupun emosional (EQ) saja, ada

satu lagi faktor utama yang menentukan kesuksesan seseorang, yaitu

12
Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, dalam
[Link] diakses 4
Nopember 2010.
13
Adversity Quotient, [Link] diakses 4
Nopember 2010
14
Yusuf Yudi Prayudi, Adversity Quotient,
[Link] diakses 4 Nopember 2010
20

Adversity Quotient (AQ). AQ adalah kecerdasan yang dimiliki seseorang

dalam mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup. Dengan AQ,

seseorang diukur kemampuannya dalam mengatasi setiap persoalan hidup.

Faktor dominan pembentuk AQ adalah sikap pantang menyerah.

Selain beberapa pengertian di atas, Yosi Novlan dan Faqih

mendefinisikan Adversuty Quotient sebagai kemampuan seseorang untuk

menyambut baik beragam tantangan dan mereka hidup dengan pemahaman

bahwa ada hal-hal yang mendesak dan harus segera diselesaikan. Menurut

mereka, dengan AQ seseorang mampu memotivasi diri sendiri, memiliki

semangat tinggi dan berjuang untuk mendapatkan yang terbaik dari hidup.15

Stoltz, dalam bukunya menjelasakan bahwa suksesnya pekerjaan

seseorang terutama ditentukan oleh Adversity Quotient (AQ) yang

dimilikinya:16

a. AQ memberi tahu seseorang seberapa jauh dia mampu bertahan

menghadapi kesulitan dan kemempuannya untuk mengatasi kesulitan

tersebut.

b. AQ meramalkan siapa yang mampu mengatasi kesulitan dan siapa yang

akan hancur.

c. AQ meramalkan siapa yang akan melampaui harapan-harapan atas kinerja

dan potensinya serta siapa yang akan gagal.


15
Yosi Novlan dan N. Faqih Syarif H., Q-LAT: Cara Cepat Menemukan Kunci Motivasi Anda,
(Surabaya: PT. Java Pustaka Media Utama, 2008), hal. 16
16
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang.
Terjemahan: T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2000 ), hal. 8-9
21

d. AQ meramalkan siapa yang akan menyerah dan siapa yang akan bertahan.

Dari beberapa uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa adversity

quotient adalah kemampuan seseorang untuk merespon atau menyikapi suatu

masalah atau kesulitan, apakah seseorang memandang masalah sebagai

hambatan dalam perjalanannya ataukah terus bertahan dalam menghadapinya

hingga mencapai tujuan yang dikehendaki atau mencapai sebuah kesuksesan.

2. Tipe-Tipe/Kelompok Individu Menurut Adversity Quotient

Seseorang dilahirkan dengan satu dorongan inti yang manusiawi untuk

terus mendaki. Mendaki di sini diartikan secara lebih luas, yaitu

menggerakkan tujuan hidup ke depan, apapun tujuan itu. Meskipun setiap

orang memiliki naluri yang sama untuk mendaki, tapi tidak semuanya

mencapai puncak yang sama. Hal ini dapat terjadi karena setiap individu

memiliki tipe yang berbeda.

Di dalam adversity quotient, kelompok atau tipe individu dibagi

menjadi tiga bagian, dimana hal ini melihat sikap dari individu tersebut dalam

menghadapi setiap masalah dan tantangan hidupnya. Kelompok atau tipe

tersebut adalah:17

a. Mereka yang Berhenti (Quitters)

17
Adversity Quotient: Mengubah Hambatan Menjadi Peluang, dalam
[Link] diakses 4
Nopember 2010.
22

Merupakan kelompok orang yang kurang memiliki kemauan untuk

menerima tantangan dalam hidupnya. Kelompok ini memilih untuk keluar,

menghindari kewajiban, mundur, dan berhenti. Secara tidak langsung

mereka menolak kesempatan dan peluang yang datang menghampirinya,

karena peluang dan kesempatan tersebut banyak yang dibungkus dengan

masalah dan tantangan. Ciri kelompok ini adalah usahanya sangat minim,

begitu melihat kesulitan akan memilih mundur, dan tidak berani

menghadapi kesulitan.

b. Mereka yang Berkemah (Campers)

Merupakan kelompok orang yang sudah memiliki kemauan untuk

berusaha menghadapi masalah dan tantangan yang ada, namun mereka

melihat bahwa perjalanannya sudah cukup di sini. Berbeda dengan

kelompok quitters, kelompok ini sudah pernah berjuang menghadapi

masalah yang ada, namun karena adanya tantangan dan masalah yang

terus menerjang, mereka memilih untuk berhenti di tengah jalan dan

berkemah. Kelompok ini tidak mau mengambil resiko yang terlalu besar

dan sering mengabaikan kemungkinan-kemungkinan yang akan didapat.

Meskipun telah berhasil mencapai tempat perkemahan, campers tidak

mungkin mempertahankan keberhasilan itu tanpa melanjutkan

pendakiannya. Karena, yang dimaksud dengan pendakian adalah

pertumbuhan dan perbaikan seumur hidup pada seseorang.

c. Para Pendaki (Climbers)


23

Merupakan kelompok yang memilih bertahan untuk berjuang menghadapi

berbagai macam hal yang akan terus menerjang, baik berupa masalah,

tantangan maupun hambatan. Kelompok ini adalah orang-orang yang

memiliki tujuan atau target. Untuk mencapai tujuan itu, mereka mampu

berusaha dengan ulet dan gigih. Mereka juga memiliki keberanian dan

disiplin yang tinggi. Orang-orang dalam kelompok inilah yang tergolong

memiliki AQ yang baik.

Penjelasan di atas memberikan gambaran tipe-tipe orang berdasarkan

AQ, yaitu quitter, camper dan climber. Ketiga tipe tersebut mempunyai

respon yang berbeda terhadap masalah yang dihadapinya. Orang yang bertipe

quitter akan memilih mundur dan tidak mau menghadapi masalah yang ada.

Tipe camper memiliki respon lebih baik karena mereka masih berani

menghadapi masalah meskipun nantinya akan menyerah ketika bertemu

dengan masalah yang lebih rumit lagi. Selanjutnya, tipe climber adalah orang

yang paling berani menghadapi masalah, mereka tidak kenal menyerah. Tipe

yang terakhir ini percaya bahwa di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Hal

ini sesuai dengan Q.S. Al-Insyiroh ayat 6 yang artinya “sesungguhnya

bersama kesulitan ada kemudahan”.

Untuk mengetahui seberapa besar ukuran AQ seseorang, dapat diukur

dengan menggunakan Adversity Response Profile (ARP) yang berisi sejumlah

pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam unsur Control, Origin

dan Ownership, Reach dan Endurance, atau dengan akronim CO2RE. Dari
24

situlah baru akan didapat skor AQ. Dimana bila skor (0-59) adalah AQ rendah,

(95-134) adalah AQ sedang, dan (166-200) adalah AQ tinggi. Skor (60-94)

adalah kisaran untuk peralihan dari AQ rendah ke AQ sedang dan skor (135-

165) adalah kisaran untuk peralihan dari AQ sedang ke AQ tinggi.

Gambar 2.1 Distribusi Normal Skor Adversity Quotient18

AQ AQ AQ
Rendah Sedang Tinggi
0-59 95-134 166-200

Penafsiran rentang AQ:

a. 166-200. Apabila AQ keseluruhan seseorang berada dalam kisaran ini,

seseorang tersebut mungkin mempunyai kemampuan untuk menghadapi

kesulitan yang berat dan terus bergerak maju dan ke atas dalam hidupnya.

b. 135-165. Apabila AQ seseorabg berada dalam kisaran ini, seseorang

tersebut mungkin sudah cukup bertahan menembus tantangan-tantangan

dan memanfaatkan sebagian besar potensinya yang berkembang setiap

hari.
18
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 138
25

c. 95-134. Biasanya seseorang lumayan baik dalam menempuh liku-liku

hidup sepanjang segala sesuatunya berjalan relatif lancar, namun

seseorang tersebut mungkin mengalami penderitaan yang tidak perlu

akibat kemunduran-kemunduran yang lebih besar, atau mungkin menjadi

kecil hati dengan menumpuknya beban frustasi dan tantangan-tantangan

hidup.

d. 60-94. Seseorang cenderung kurang memanfaatkan potensi yang

dimilikinya. Kesulitan dapat menimbulkan kerugian yang besar dan tidak

perlu, dan akan membuat seseorang semakin sulit melanjutkan pendakian.

e. 59 ke bawah. Apabila AQ seseorang berada dalam kisaran ini,

kemungkinan orang tersebut telah mengalami penderitaan yang tidak perlu

dalam sejumlah hal.

3. Dimensi-Dimensi Adversity Quotient

Adversity Quotient memiliki empat dimensi yang masing-masing

merupakan bagian dari sikap atau respon seseorang ketika menghadapi

masalah. Dimensi-dimensi tersebut antara lain:

a. C = Control (Kendali)

C adalah singkatan dari “control” atau kendali. C

mempertanyakan: Berapa banyak kendali yang Anda rasakan terhadap

sebuah peristiwa yang menimbulkan kesulitan?19 Control ini menjelaskan

bagaimana seseorang memiliki kendali dalam suatu masalah yang muncul.

19
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 141
26

Apakah seseorang memandang bahwa dirinya tak berdaya dengan adanya

masalah tersebut, atau ia dapat memegang kendali akibat dari masalah

tersebut.20

Perbedaan antara respons AQ yang rendah dan yang tinggi dalam

dimensi ini cukup dramatis. Mereka yang memiliki AQ lebih tinggi

cenderung melakukan pendakian, sementara mereka yang AQ_nya lebih

rendah cenderung berkemah atau berhenti.

Seseorang yang skornya rendah pada dimensi ini cenderung berpikir:21

1) Ini di luar jangkauan saya.

2) Tidak ada yang bisa saya lakukan sama sekali.

3) Yah, tidak ada gunanya membenturkan kepala Anda ke dinding.

4) Anda tidak mungkin melawan Dewan Kota.

Sementara seseorang yang skornya lebih tinggi, apabila berada dalam

situasi yang sama akan berpikir:

1) Wow! Ini sulit! Tapi saya pernah menghadapi yang lebih sulit lagi.

2) Pasti ada yang bisa saya lakukan. Saya tidak percaya saya tidak

berdaya dalam situasi ini.

3) Selalu ada jalan.

4) Siapa berani, akan menang.

5) Saya harus mencari cara lain.


20
Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang
[Link] Diakses 4
Nopember 2010
21
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 143
27

b. O2 = Origin dan Ownership (Asal Usul dan Pengakuan)

Or = Origin (Asal Usul)

Or adalah kependekan dari “origin” atau asal usul. Or

mempertanyakan: Siapa yang menjadi asal usul kesulitan?22 Or ini

menjelaskan mengenai bagaimana seseorang memandang sumber masalah

yang ada. Apakah ia cenderung memandang masalah yang terjadi

bersumber dari dirinya atau ada faktor-faktor lain di luar dirinya.23

Orang-orang yang skor asal-usulnya (origin) rendah cenderung berpikir:24

1) Ini semua kesalahan saya.

2) Saya memang bodoh sekali.

3) Seharusnya saya lebih tahu.

4) Apa yang tadi saya pikirkan, ya?

5) Saya malah jadi tidak mengerti.

6) Saya sudah mengacaukan semuanya.

7) Saya memang orang yang gagal.

Orang yang memiliki respons asal-usul lebih tinggi akan berpikir:

1) Waktuya tidak tepat.

2) Sekarang ini setiap orang sedang mengalami masa-masa yang sulit.

22
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 146
23
Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang
[Link] Diakses 4
Nopember 2010
24
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 148-149
28

3) Dia hanya sedang tidak gembira hatinya.

4) Tak seorangpun dapat meramalkan datangnya yang satu ini.

5) Ada sejumlah faktor yang berperan.

Ow = Ownership (Pengakuan)

Ow adalah kependekan dari “ownership” atau pengakuan. Ow

mempertanyakan: Sampai sejauh mana saya mengakui akibat-akibat

kesulitan itu?25 Ow ini menjelaskan tentang bagaimana seseorang

mengakui akibat dari masalah yang timbul. Apakah ia cenderung tak

peduli dan lepas tanggung jawab, atau mau mengakui dan mencari solusi

untuk masalah tersebut.26

AQ mengajar orang untuk meningkatkan rasa tanggung jawab

mereka sebagai salah satu cara memperluas kendali, dan motivasi dalam

mengambil tindakan.

Gambar 2.2 AQ, Pembelajaran dan Tanggung Jawab27

AQ Tinggi
Akibat yang Mungkin Terjadi Akibat yang Mungkin Terjadi
Mempertahankan perspektif Berorientasi pada tindakan
25
Ibid., hal. 147
26
Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang
[Link] Diakses 4
Nopember 2010
27
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 151
29

Perbaikan terus-menerus Meningkatnya kendali


Tetap gembira Bertanggung jawab

Penyesalan yang Sewajarnya Sikap Sangat Bertanggung Jawab


Belajar dari
Kesalahan-Kesalahan Seseorang

O2

Asal-Usul Pengakuan
Terlalu Mempersalahkan Tidak Mengakui Masalah
Diri Sendiri

Akibat yang Mungkin Terjadi Akibat yang Mungkin Terjadi


Semangat hancur Gagal bertindak
Konsep diri yang keliru Menyerah
Tekanan terhadap Menuding orang lain
hubungan-hubungan Tidak berkembang
yang sudah terjalin Kinerja berkurang
Merasa tidak berkuasa Membuat marah orang lain
Sistem kekebalan terganggu
Depresi
AQ Rendah

c. R = Reach (Jangkauan)

Dimensi R ini mempertanyakan: Sejauh manakah kesulitan akan

menjangkau bagian-bagian lain dari kehidupan saya?28 Dimansi R ini

menjelaskan tentang bagaimana suatu masalah yang muncul dapat


28
Ibid., hal. 158
30

mempengaruhi segi-segi kehidupan yang lain dari seseorang. Apakah ia

akan cenderung memandang masalah tersebut meluas atau hanya terbatas

pada masalah tersebut saja.29

Respons-respons dengan AQ yang rendah akan membuat

kesulitan merembes ke segi-segi lain dari kehidupan seseorang. Jadi,

semakin rendah skor R seseorang, semakin besar kemungkinannya

menganggap peristiwa-peristiwa buruk sebagai bencana, dengan

membiarkannya meluas, seraya menyedot kebahagiaan dan ketenangan

pikirannya saat proses berlangsung. Sebaliknya, semakin tinggi skor R

seseorang, semakin besar kemungkinannya membatasi jangkauan

masalahnya pada peristiwa yang sedang dihadapi.

d. E = Endurance (Daya Tahan)

Dimensi ini mempertanyakan dua hal yang berkaitan: Berapa

lamakah kesulitan akan berlangsung? Dan Berapa lamakah penyebab

kesulitan itu akan berlangsung?30 Dimensi ini menjelaskan tentang

bagaimana seseorang memendang jangka waktu berlangsungnya masalah

yang muncul. Apakah ia cenderung untuk memandang masalah tersebut

terjadi secara permanen dan berkelanjutan atau hanya dalam waktu yang

singkat saja.31
29
Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang
[Link] Diakses 4
Nopember 2010
30
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 162
31
Adversity Quotient Mengubah Hambatan Menjadi Peluang
[Link] Diakses 4
31

4. Adversity Response Profile (ARP)

Adversity Response Profile (ARP) adalah suatu instrumen yang

digunakan untuk mengukur seberapa besar AQ seseorang. Di dalam ARP

terdapat sejumlah pertanyaan yang kemudian dikelompokkan ke dalam unsur

Control, Origin dan Ownership, Reach dan Endurance, atau dengan akronim

CO2RE. Dari situlah baru akan didapat skor AQ.

Berbeda dengan ukuran, tes atau instrumen lain, ARP memberikan

suatu gambaran singkat yang baru dan sangat penting mengenai apa yang

mendorong seseorang dan apa yang mungkin menghambat seseorang untuk

melepaskan seluruh potensinya.32

ARP telah dicoba oleh lebih dari 7.500 orang di seluruh dunia dengan

berbagai macam karier, ras, usia, dan kebudayaan. Analisis formal mengenai

hasil-hasilnya mengungkapkan bahwa instrumennya merupakan tolok ukur

yang valid untuk mengukur bagaimana orang merespons kesulitan dan

merupakan peramal kesuksesan yang ampuh.33

C. Prestasi Belajar Matematika

1. Pengertian Prestasi Belajar Matematika

Sebelum membahas tentang apa itu prestasi belajar matematika, maka

kita perlu mengetahui pengertian dari prestasi dan belajar. Prestasi belajar

Nopember 2010
32
Paul G. Stoltz, PhD, Adversity Quotient..., hal. 119
33
Ibid., hal. 120
32

terdiri dari dua kata, yaitu “prestasi” dan “belajar”. Prestasi adalah hasil dari

suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, baik secara individual

maupun kelompok.34 Sedangkan dalam kamus besar Bahasa Indonesia,

prestasi diartikan sebagai hasil baik yang dicapai. 35 Hasil tersebut dapat dilihat

dalam bentuk penguasaan pengetahuan, ketrampilan berpikir maupun

ketrampilan motorik.

Sedangkan pengertian belajar menurut Oemar Hamalik adalah suatu

proses perubahan tingkah laku melalui interaksi dengan lingkungan. 36 Sejalan

dengan itu, Djamarah mendefinisikan belajar sebagai serangkaian kegiatan

jiwa-raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari

pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang

menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.37

Pada dasarnya, prestasi adalah hasil yang diperoleh dari suatu

aktivitas, sedangkan belajar adalah suatu proses yang mengakibatkan

perubahan dalam diri individu. Dengan demikian, prestasi belajar adalah hasil

yang diperoleh yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai

akibat dari aktivitas belajar. Banyak sekali aktivitas belajar di sekolah, di

antaranya adalah belajar matematika. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa, prestasi belajar matematika adalah hasil yang dicapai peserta didik

34
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, (Surabaya: Usaha Nasional,
1994), hal. 19
35
Em Zul Fajri, dkk, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, (Difa PUBLISHER), hal. 670
36
Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), hal. 37
37
Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar…, hal. 23
33

yang menyangkut pengetahuan atau ketrampilan matematika yang dinyatakan

sesudah hasil penilaian.

Untuk mengetahui keberhasilan peserta didik dalam mencapai prestasi

belajar, diperlukan suatu alat ukur atau instrumen penilaian. Instrumen atau

alat ukur dalam pendidikan sangat berhubungan dengan penampilan variabel

yang hendak diukur. Berdasarkan penampilan variabel yang hendak diukur,

variabel digolongkan menjadi dua, yaitu:38

a. Variabel maksimal adalah variabel yang dalam pengumpulan datanya

responden didorong untuk menunjukkan penampilan maksimalnya.

Instrumen yang digunakan berupa tes. Termasuk dalam variabel

performansi maksimal adalah kreativitas, bakat, prestasi belajar, dan

sebagainya.

b. Variabel tipikal adalah variabel yang dalam pengumpulan datanya

responden tidak didorong untuk menunjukkan penampilan maksimal, tetapi

lebih didorong untuk melaporkan secara jujur keadaan dirinya. Termasuk

dalam variabel ini adalah minat, motivasi belajar, tipe kepribadian dan

sebagainya. Instrumen yang digunakan adalah instrumen nontes.

Dari uraian di atas, diketahui bahwa prestasi belajar merupakan salah

satu variabel maksimal yang dapat diukur dengan menggunakan instrumen

berupa tes. Jenis tes tergantung maksud dari tes dan tujuan belajar yang

38
Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 60
34

hendak diukur. Ada dua bentuk tes, yaitu tes subjektif dan tes objektif. 39 Tes

subjektif pada umumnya berbentuk esai yang memerlukan jawaban yang

bersifat pembahasan. Sedangkan tes objektif adalah tes yang dalam

pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Tes objektif berupa tes

benar-salah, pilihan ganda, menjodohkan, dan melengkapi atau isian.

Dari berbagai jenis tes, dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu tes

penguasaan dan tes kemampuan.40 Tes penguasaan adalah tes yang diujikan

setelah peserta memperoleh sejumlah materi. Sedangkan tes kemampuan

adalah tes yang diujikan untuk mengetahui kepemilikan kemampuan peserta

tes.

2. Indikator Prestasi Belajar

Pada prinsipnya, pengungkapan prestasi belajar ideal meliputi segenap

ranah yang berubah sebagai akibat pengalaman dan proses balajar, namun

pengungkapan perubahan seluruh ranah sangat sulit. Oleh karena itu yang

dapat dilakukan guru adalah mengambil cuplikan perubahan yang terjadi

sebagai hasil belajar peserta didik. Kunci pokok untuk memperoleh ukuran

dan data prestasi belajar peserta didik adalah mengetahui garis-garis besar

indikator dikaitkan dengan jenis prestasi yang hendak diukur.

Tabel 2.1 Jenis, Indikator, dan Cara Evaluasi Prestasi41

39
Asep Jihad dan Abdul Haris, Evaluasi Pembelajaran, (Yogyakarta: Multi Presindo, 2009),
hal. 162
40
Purwanto, Evaluasi Hasil…, hal. 65
41
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja Rosda
Karya, 2008), hal. 151-152
35

Ranah/Jenis Prestasi Indikator Cara Evaluasi


A. Ranah
Cipta/Kognitif
1. Pengamatan 1. Dapat menunjukkan 1. Tes lisan
2. Dapat 2. Tes tertulis
menbandingkan 3. Observasi
3. Dapat
menghubungkan
2. Ingatan 1. Dapat menyebutkan 1. Tes lisan
2. Dapat menunjukkan 2. Tes tertulis
kembali 3. Observasi
3. Pemahaman 1. Dapat menjelaskan 1. Tes lisan
2. Dapat 2. Tes tertulis
mendefinisikan
dengan lisan sendiri
4. Penerapan 1. Dapat memberikan 1. Tes tertulis
contoh 2. Pemberian tugas
2. Dapat menggunakan 3. Observasi
secara tepat
5. Analisis 1. Dapat menguraikan 1. Tes tertulis
2. Dapat 2. Pemberian tugas
mengklasifikasikan/
memilah-milah
6. Sintesis 1. Dapat 1. Tes tertulis
menghubungkan 2. Pemberian tugas
2. Dapat
menyimpulkan
3. Dapat
menggeneralisasikan
B. Ranah Rasa
(Afektif)
1. Penerimaan 1. Menunjukkan sikap 1. Tes tertulis
menerima 2. Tes skala sikap
2. Menunjukkan sikap 3. Observasi
menolak
2. Sambutan 1. Kesediaan 1. Tes skala sikap
berpartisipasi/terlibat 2. Pemberian tugas
36

2. Kesediaan 3. Observasi
memanfaatkan
3. Apresiasi 1. Menganggap penting 1. Tes skala
dan bermanfaat penilaian/sikap
2. Menganggap indah 2. Pemberian tugas
dan harmonis 3. Observasi
3. Mengagumi
4. Internalisasi 1. Mengakui dan 1. Tes skala sikap
meyakini 2. Pemberian tugas
2. mengingkari ekspresif dan
proyektif
3. Observasi
5. Karakterisasi 1. Melembagakan atau 1. Pemberian tugas
meniadakan ekspresir dan
2. Menjelmakan dalam proyektif
pribadi dan perilaku 2. Observasi
sehari-hari
C. Ranah Karsa
(Psikomotorik)
1. Ketrampilan 1. Mengkoordinasikan 1. Observasi
bergerak dan gerak mata, tangan, 2. Tes tindakan
bertindak kaki, dan anggota
tubuh lainnya.
2. Kecakapan 1. Mengucapkan 1. Tes lisan
ekspresi verbal 2. Membuat mimik dan 2. Observasi
gerakan jasmani 3. Tes tindakan

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar


37

Banyak sekali faktor-faktor yang dapat mempengaruhi pencapaian

hasil belajar atau prestasi belajar. Berikut adalah faktor-faktor yang perlu

diperhatikan:42

1. Faktor dari dalam diri

a. Kesehatan

Apabila kesehatan anak terganggu dengan sering sakit kepala, pilek,

deman dan lain-lain, maka hal ini dapat membuat anak tidak bergairah

untuk mau belajar. Secara psikologi, gangguan pikiran dan perasaan

kecewa karena konflik juga dapat mempengaruhi proses belajar.

b. Intelegensi

Faktor intelegensi dan bakat besar sekali pengaruhnya terhadap

kemampuan belajar anak. Menurut Gardner dalam teori Multiple

Intellegence, intelegensi memiliki tujuh dimensi yang semiotonom,

yaitu linguistik, musik, matematik logis, visual spesial, kinestetik fisik,

sosial interpersonal dan intrapersonal.

c. Minat dan motivasi

Minat yang besar terhadap sesuatu terutama dalam belajar akan

mengakibatkan proses belajar lebih mudah dilakukan. Motivasi

merupakan dorongan agar anak mau melakukan sesuatu. Motivasi bisa

berasal dari dalam diri anak ataupun dari luar lingkungan

42
[Link] diakses 23
Desember 2010
38

d. Cara belajar

Perlu untuk diperhatikan bagaimana teknik belajar, bagaimana bentuk

catatan buku, pengaturan waktu belajar, tempat serta fasilitas belajar.

2. Faktor dari lingkungan

a. Keluarga

Situasi keluarga sangat berpengaruh pada keberhasilan anak.

Pendidikan orangtua, status ekonomi, rumah, hubungan dengan

orangtua dan saudara, bimbingan orangtua, dukungan orangtua, sangat

mempengaruhi prestasi belajar anak.

b. Sekolah

Tempat, gedung sekolah, kualitas guru, perangkat kelas, relasi teman

sekolah, rasio jumlah murid per kelas, juga mempengaruhi anak dalam

proses belajar.

c. Masyarakat

Apabila masyarakat sekitar adalah masyarakat yang berpendidikan dan

moral yang baik, terutama anak-anak mereka. Hal ini dapat sebagai

pemicu anak untuk lebih giat belajar.

d. Lingkungan sekitar

Bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas dan iklim juga

dapat mempengaruhi pencapaian tujuan belajar.

D. Hipotesis Penelitian
39

Penelitian kuantitatif semestinya mengandung hipotesis penelitian.

Hipotesis adalah harapan yang dinyatakan oleh peneliti mengenai hubungan

antara variabel-variabel di dalam masalah penelitian.43 Jadi hipotesis merupakan

jawaban sementara dari rumusan masalah yang kebenarannya masih diuji secara

empiris. Dikenal dua macam hipotesis dalam penelitian 44, yaitu hipotesis nol

(Ho), yakni hipotesis yang menyatakan ketidakadanya hubungan antar variabel

dan hipotesis alternatif (Ha), yakni hipotesis yang menyatakan adanya hubungan

antar variabel. Untuk memilih salah satu dari kedua hipotesis tersebut diperlukan

suatu kriteria pengujian yang ditentukan pada suatu statistik uji. Adapun

hipotesis yang penulis ajukan dan harus diuji kebenarannya adalah:

“Ada pengaruh yang signifikan antara adversity quotient terhadap prestasi belajar

matematika peserta didik kelas VII MTsN Aryojeding tahun ajaran 2010/2011”.

43
Consuelo G. Sevilla, et. all., Pengantar Metode Penelitian, terj. Alimuddin Tuwu, (Jakarta:
UI-Press, 1993), hal. 13
44
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: RinekaCipta,
2006), hal. 73

Anda mungkin juga menyukai