LAPORAN PRAKTIKUM
PENCAPAN KAIN POLIAMIDA DENGAN ZAT WARNA DISPERSI DENGAN
METODA ESTA (DISCHARGE PRINTING)
diajukan untuk memenuhi tugas mata kulliah praktikum pencapan 2
Disusun oleh:
Kelompok 4
Hasya Rachma Kautsar (20420039)
[Link] (20420052)
Ghina Nia Fakhriyah Darmawan (21420038)
Mia Aulia (21420040)
Arini Mayan Fauni (21420041)
Group : 3K2
Dosen/Asisten : Sukirman., [Link].,MIL.
: Brilyan M. R. R., SST.
: David Chistian, SST.
PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL
POLITEKNIK STTT BANDUNG
2023
I. Maksud dan Tujuan
1.1. Maksud
Melakukan pencapan discharge pada kain poliamida dengan menggunakan
zat warna dispersi pada warna dasar zat warna dispersi.
1.2. Tujuan
Mengetahui prinsip dasar teknik pencapan discharge kain poliamida dengan
zat warna dispersi pada warna dasar zat warna dispersi, mengetahui
pengaruh variasi waktu bakung, dan variasi zat reduktor pada proses
pencapan discharge zat warna dispersi dengan warna dasar zat warna
dispersi dan mampu menganalisis dan mengevaluasi hasil pencapan.
II. Teori Dasar
2.1 Poliamida
Poliamida adalah serat yang derajat kristalinitasnya tinggi, yang
terbentuk akibat rantai polimer yang linear dan antar rantai polimernya
berikatan hidrogen sehingga strukturnya relatif sangat rapat dan bersifat
hidrofob. Oleh karena itu, poliamida dapat dicelup dengan zat warna
dispersi yang molekulnya relatif kecil dan bersifat hidrofob. Namun
demikian sebaiknya dipilih struktur molekul zat warna dispersi yang
bentuknya langsing agar zat warna dapat berdifusi dengan baik ke dalam
serat. Hasil pencelupan poliamida dengan zat warna dispersi umumnya
mempunyai kerataan yang baik tetapi ketahanan luntur terhadap sinar
relatif kurang baik. Bahan poliamida yang dicelup dengan zat warna
dispersi diperuntukan untuk bahan sandang yang jarang terkena sinar
matahari.
Poliamida dikenal pula dengan sebutan nylon yang merupakan
serat sintetik yang cukup banyak digunakan baik untuk tekstil sandang
maupun non sandang. Poliamida untuk keperluan industri mempunyai
kekuatan sangat tinggi dengan mulur kecil, sedangkan yang ditujukan
untuk pakaian mempunyai kekuatan yang lebih rendah dengan mulur
lebih tinggi. Sifat kimia yang dimiliki poliamida adalah tahan terhadap
asam-asam encer dan sangat tahan terhadap basa. Poliamida dapat
dicelup dengan zat warna dispersi, zat warna asam dan zat warna reaktif.
Poliamida yang banyak diproduksi adalah nylon 6 dan nylon 66. Nylon 6
banyak digunakan untuk benang ban, tali pancing, tali temali, kaos kaki,
karpet, kain penyaring dan kain untuk pakaian. Kelebihan yang dimiliki
oleh nylon 6 dibandingkan dengan nylon 66 adalah pembuatan nylon 6
lebih sederhana, tahan sinar, memiliki affinitas yang tinggi terhadap zat
warna, daya celup serta elastisitas dan stabilitas terhadap panas yang
lebih baik. Nylon 66 memiliki kekuatan yang lebih besar (high tenacity)
dibandingkan nylon 6 sehingga banyak digunakan untuk industri non
sandang, memiliki sifat ketahanan gosok dan elastisitas yang baik.
Perbedaan proses manufaktur pada nylon berpengaruh terhadap hasil
pencelupannya. Perkembangan terbaru dari serat poliamida adalah
digunakan sebagai serat penguat untuk komposit karena memiliki
fleksibilitas yang baik dan ketahanan abrasi yang tinggi. Poliamida
memiliki gugus fungsi -N-H,-C-O-.
2.2 Zat warna dispersi
Zat warna dispersi pertama dibuat pada tahun 1923 oleh Baddley
dan Shepherdsondari British Dyestuffe sebagai zat warna Dispersol. Dan
(Sulpho Ricinolei Acid).Zat warna ini mulai ditemukan untuk mencelup
serat selulosa asetat yang bersifat organik yang tidak larut dalam air,
dengan membuatnya suspensi. Penemuan zat dispersi ini menjadi
sangat penting dengan ditemukannya serat sintetik pada serat selulosa
asetat, seperti serat Poliamida, Poliakrilat.
Zat warna dispersi adalah zat warna organik yang dibuat secara
sintesis, yang dispersi. Zat warna tersebut digunakan sintetis atau serat
tekstil yang bersifat hidrofob. mempunyai berat molekul yang kecil dan
tidak mengandung gugus pelarut. Dalam pemakaiannya diperlukan untuk
mendispersikan zat warna dan mendis merata didalam larutan.
2.3 Pencapan Etsa / discharge Pencapan
Pencapan etsa atau pencapan pencapan rusak merupakan
merupakan salah satu metode pencapan khusus. Dengan metode ini
bahan yang telah berwarna baik dengan dicelup maupun dicap sebagai
warna dasar, dicap dengan pasta cap yang mengandung zat perusak
sehingga warna putih tekstil semula akan tampak kembali (etsa putih).
Apabila pada pasta cap ditambahkan zat warna yang tahan terhadap
tahan terhadap zat perusak, zat perusak, maka bahan yan maka bahan
yang dicap g dicap akan berwarna akan berwarna lain (etsa lain (etsa
warna).
Zat warna dasar dipilih zat warna yang tidak tahan terhadap zat
perusak atau zat pengetsa, sedangkan untuk zat warna cap motif dipilih
zat warna yang tahan terhadap zat pengetsa. Zat warna yang digunakan
sebagai zat warna dasar bias dasar biasanya terdiri terdiri dari kromofor
dari kromofor gugus azo yang azo yang kurang /tidak tahan terhadap zat
pengetsa, meskipun rumus bangu tahan terhadap zat pengetsa,
meskipun rumus bangun zat warna keseluruhan warna keseluruhan
sangat menentukan ketahanan terhadap zat pengetsa.
Untuk pemilihan zat warna yang digunakan untuk motif dipilih zat
warna yang tahan terhadap zat pengetsa yang pada umumnya bergugus
antrakinon, ptalosianin atau trifelnilmetan, yang pemilihannya tergantung
dari yang diinginkan, zat pereduksi yang digunakan, dan bahan tekstilnya.
Zat pengetsa yang digunakan adalah zat pereduksi. Secara garis
besar ada beberapa jenis zat pengetsa yang dipergunakan. Hal ini
tergantung dari zat warna yang dipakai, dipakai, dan serat tekstil tekstil
yang digunakan. digunakan. Zat pengetsa pengetsa berfungsi sebagai
zat perusak zat warna dasar. Dalam pencapan etsa ini jumlah
penggunaan zat pereduksi optimum yang digunakan tergantung dari:
1. Zat warna yang akan dietsa
2. Tua muda warna dasar
3. Jenis kain yang akan dicap.
III. Alat dan Bahan
3.1 Alat
• Gelas plastik
• Gelas piala
• Batang pengaduk
• Nampan
• Timbangan
• Mixer
• Mesin Pad
• Screen
• Rakel
• Meja cetak
3.2 Bahan
• Kain poliamida
• Zat warna dispersi
• Zat pendispersi
• Asam sitrat
• Reduktor
• Urea
• Alginat 8%
• Asam asetat
• Na2CO3
• Pembasah
IV. Fungsi Zat
• Zat warna dispersi azo berfungsi untuk mewarnai dasar kain poliamida.
• Zat warna dispersi antrakuinon berfungsu untuk mewarnai motif kain.
• Pengental alginat berfungsi sebagai pengental untuk warna dasar guna
melekatkan zat warna pada kain dan sebagai pengatur viskositas pada pasta
cap.
• Zat pendispersi untuk membantu mendispersikan zat warna dispersi.
• Urea untuk menjaga kelembaban pada kain.
• Reduktor untuk mereduksi zat warna dispersi sehingga warna tersebut
rusak.
• Asam Sitrat untuk memberikan suasana asam pada pasta cap.
• Asam asetat untuk memberikan suasana asam pada larutan pencelupan.
V. Resep
a. Pengental
• Alginat 8% : 80 g/L
• Air : 620 ml/L
b. Resep Padding
• Zat warna dispersi : 30 g/L
• Zat pendispersi : 30 g/L
• Asam sitrat : 5 g/L
• Urea : 30 g/L
• Pengental : 700 g/L
• Reduktor : 100 g/L
c. Pasta Cap
• Zat warna dispersi : 5 g/L
• Zat pendispersi : 5 g/L
• Pembasah : 1 g/L
• Asam asetat : 5 g/L
d. Cuci Sabun
• Pembasah : 1 ml/L
• Na2CO3 : 2 g/L
• Waktu : 10 menit
• Suhu : 90°C
VI. Perhitungan
a. Pengental
• Alginat 8% : 56 gram
• Air : 644 ml
+
700 ml
b. Larutan Padding
5
• Zat warna dispersi : 1000 × 300 = 1,5 gram
5
• Zat pendispersi : 1000 × 300 = 1,5 gram
1
• Pembasah : 1000 × 300 = 0,3 ml
5
• Asam asetat : 1000 × 300 = 1,5 gram
• Jumlah larutan : 300 – 0,3 = 299,7 ml
c. Pasta Cap
30
• Zat warna dsipersi : 1000 × 75 = 2,25 gram
30
• Zat pendispersi : 1000 × 75 = 2,25 gram
5
• Asam sitrat : 1000 × 75 = 0,375 gram
30
• Urea : 1000 × 75 = 2,25 gram
100
• Reduktor : 1000 × 75 = 7,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
700
• Pengental : 1000 × 75 = 52,5 𝑔𝑟𝑎𝑚
105
• Balance : 1000 × 75 = 7,875 𝑔𝑟𝑎𝑚
+
75 gram
d. Pencucian
1
• Pembasah : × 500 = 0,5 ml
1000
2
• Na2CO3 : 1000 × 500 = 1 gram
• Jumlah air : 500 – 0,5 = 499,5 ml
VII. Langkah Kerja
7.1 Pembuatan Pengental Alginat
1. Ditambahkan pengental sebanyak 35 gram.
2. Ditambahkan air yang sudah ditimbang sebanyak 100 ml.
3. Diaduk secara merata dengan menggunakan mixer.
4. Sampai pengental mengental secara homogen.
7.2 Pembuatan Pasta Cap etsa (Color)
1. Dilarutkan zat warna dispersi, zat pendispersi, asam asetat, urea, dan
Na2S2O4 dengan menggunakan air sesuai dengan perhitungan
kebutuhan.
2. Diambil pengental yang telah jadi sesuai dengan kebutuhan lalu di aduk
sampai semua bagian merata.
7.3 Padding warna dasar
1. Dilarutkan zat warna dispersi, zat pendispersi, asam asetat, dan
pembasah dengan air sesuai perhitungan kebutuhan.
2. Lakukan proses padding pada kain kapas dengan zat warna yang sudah
dibuat dengan WPU 80%.
3. Kain yang telah dilakukan pencelupan dengan padding di keringkan.
7.4 Pembuatan
1. Dilakukan proses setting pada screen agar dihasilkan motif yang sesuai.
2. Kain yang akan dicap dipasang pada meja cap dengan posisi terbuka
sempurna dan konstan pada meja cap.
3. Diletakkan screen tepat berada pada bahan yang akan dicap
4. Pasta cap dituangkan pada bagian atas motif screen (tidak mengenai
motif).
5. Ditahan screen agar tetap mengepres pada bahan, kemudian dilakukan
proses pencapan dengan cara memoles screen dengan pasta cap
menggunakan rakel.
6. Pada proses pencapan, penarikan rakel harus kuat dan menekan ke
bawah agar dapat mendorong zat warna masuk ke motif.
7. Screen kemudian dilepaskan ke atas.
8. Untuk pencapan kali ini hanya dilakukan pada satu motif saja dan
dilakukan dengan pasta cap berwarna.
9. Setelah selesai kain dikeringkan menggunakan pengering (mesin
stenter) dengan suhu 100°C selama 2 menit.
10. Kemudian dilakukan proses baking dengan variasi waktu 3 dan 4 menit
dengan suhu 190, 200, dan 210˚C. Kemudian setelah proses baking,
kain tersebut dilakukan pencucian sabun terlebih dahulu pada suhu
90°C selama 10 menit.
11. Setelah dilakukan cuci sabun, kain dikeringkan menggunakan
pengering (mesin stenter) dengan suhu 100°C selama 2 menit.
12. Evaluasi
VIII. Diagram Alir
Persiapan alat dan bahan pencapan
Pencelupan padding pada warna dasar kain
Pengeringan 100˚C 2 menit
Pencapan
a
Pengeringan 100˚C 2 menit
Baking 190, 200 dan 210˚C (3 dan 4 menit)
Cuci panas 90˚C 10 menit
Cuci dingin
Evaluasi
IX. Data Percobaan Variasi Reduktor
9.1 Kerataan
Orang
Variasi fiksasi Orang 1 Orang 2 Orang 3 Orang 4 Jumlah
5
Kain 1 200˚C 3’ 2 3 2 3 3 13
Kain 2 210˚C 3’ 3 2 2 2 2 11
Kain 3 190˚C 4’ 2 2 2 2 2 10
Kain 4 200˚C 4’ 4 3 2 2 3 14
Kain 5 210˚C 4’ 4 2 3 3 3 15
Keterangan : Poin 5 ke 1, maka kerataan warna semakin baik
9.2 Ketuaan
Orang
Variasi fiksasi Orang 1 Orang 2 Orang 3 Orang 4 Jumlah
5
Kain 1 200˚C 3’ 2 2 2 2 3 11
Kain 2 210˚C 3’ 3 3 4 2 4 16
Kain 3 190˚C 4’ 2 2 2 2 2 10
Kain 4 200˚C 4’ 3 3 2 4 3 15
Kain 5 210˚C 4’ 3 3 3 2 3 14
Keterangan : Poin 1 ke 5, maka warna semakin tua
X. Diskusi
Pada praktikum pencapan 2 dengan pengujian pencapan esta
menggunakan zat warna dispersi pada kain poliamida. Zat warna dispersi dapat
mewarnai serat poliamida karena salah satu serat sintetik yang memiliki sifat
serat yang lebih hidrofob dari pada serat selulosa. Metode Pencapan rusak
adalah pencapan untuk merusak warna dasar terutama merusak bagian
kromofornya untuk mendapatkan motif (warna putih ataupun berwarna). Proses
perusakan ini dengan merusak zat warna yang mengandung kromofor azo.
Pencapan menggunakan kain poliamida menggunakan zat warna dispersi
perlu memperhatikan dalam segi warna dasar dan zat warna illuminan yang
mana Ketika praktikum esta, warna dasar yang mudah di rusak terdapat pada
Kain 3 suhu 190˚C waktu 4 menit namun pada kain 3 ini zat pada motif warnanya
tidak tahan terhadap zat pen-discharge yang menyebabkan zat tersebut akan
mudah melewati pipa kapiler dalam serat sehingga akan mudah keluar dari batas
motif yang telah di tentukan disebut dengan terjadinya holoing hal ini dapat
dicegah dengan menggunakan surfoksilat formaldehid yang tidak larut dalam air.
XI. Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan pada pengujian kain poliamida
menggunkan zat warna dispersi. Hasil kerataan warna, ketuaan warna, dan
ketajaman motif kain dengan variasi suhu 210˚C dengan waktu 3 menit. Dengan
demikian, pencapan kain poliamida dengan zat warna dispersi cukup baik dalam
pewarnaan teknik pencapan. Serta pengaruh suhu, waktu, dan zat pereduksi
sangat berpengaruh dalam hasil pencapan kain.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal praktikum pencapan 2
M Ichwan, A. d. (2013). Pedoman Praktikum Pencelupan 2. In A. d. M Ichwan, Pedoman
Praktikum Pencelupan 2 (pp. Bab 2, 7 dan 10). Bandung .
Karyana, [Link] Zat Warna Bandung: Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil
Soeprijono, [Link], P., dkk. [Link]-serat Tekstil Bandung: Institut Teknologi Tekstil
Buku Teknik Pencelupan dan Pencapan Jilid 3
Lubis, Arifin, [Link]., dkk., Teknologi Pencapan Tekstil,STTT, Bandung, 1998
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN
LAMPIRAN