0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan15 halaman

Proses Belajar dan Pembelajaran Siswa

Diunggah oleh

Renato Hutabarat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
58 tayangan15 halaman

Proses Belajar dan Pembelajaran Siswa

Diunggah oleh

Renato Hutabarat
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kerangka Teoritis

2.1.1 Pengertian Belajar

Belajar adalah suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau
tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu. Belajar
adalah suatu kewajiban bagi manusia. Sebagai usaha untuk membangun
mengembangkan, dan mempertahankan eksistensi dirinya. Tanpa belajar manusia
akan mengalami kesulitan, baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan
maupun kesulitan memenuhi tuntutan hidup dan kehidupan yang selalu berubah.
Secara psikologis, belajar dapat didefinisikan sebagai hasil suatu proses usaha
yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya. “Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang
luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik” (Sudjana, 2021, hlm
3). “Belajar adalah proses menghasilkan penyesuaian tingkah laku siswa dalam
proses pembelajaran” (Suprijono, 2021, hlm. 16-25).

Menurut Khasanah (2022,hlm.2) berpendapat bahwa “Belajar adalah


perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.
Perubahan disposisi tersebut akan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan
seseorang secara alamiah”. Selain itu, Menurut Lutfiandi & Hartanto (dalam
Azeti, 2019, hlm. 10-17) mengatakan “Belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya”.

Selanjutnya Sardiman (2016:21) menyatakan “Belajar adalah berubah”,


dalam hal ini yang dimaksudkan belajar berarti usaha merubah tingkah laku. Jadi
belajar akan membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Sedangkan
Menurut Gagne (2015:10) menyatakan bahwa. “Belajar adalah kegiatan yang
kompleks”, hasil belajar berupa kapabilitas. Setelah belajar orang memiliki
keterampilan, pengetahuan, sikap, dan nilai. Timbulnya kapabilitas tersebut
adalah dari stimulasi yang berasal dari lingkungan, dan proses kognitif yang
dilakukan pembelajar.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan dari teori-teori di atas bahwa belajar


merupakan suatu proses yang dilakukan seseorang untuk berubah kearah yang
lebih baik. Belajar merupakan suatu perubahan tingkah laku dalam diri seseorang
yang sifatnya menetap dari sebuah pengalaman dan juga berusaha untuk
menguasai suatu hal yang baru didalam proses pembelajaran.

2.1.2 Pengertian Pembelajaran

Pembelajaran merupakan kegiatan yang melibatkan seseorang dalam


upaya memperoleh pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai positif dengan
memanfaatkan berbagai sumber untuk belajar pembelajaran dapat melibatkan dua
pihak yaitu siswa sebagai pembelajaran dan guru sebagai fasilitator. Istilah
pembelajaran pada dasarnya mencakup dua konsep yang saling terkait, yakni
belajar dan mengajar. Menurut teori belajar kognitif, belajar adalah perubahan
persepsi dan pemahaman. Pembelajaran merupakan suatu rangkaian peristiwa
yang kompleks dan sistematis.

Menurut Anurahman (2010) pembelajaran merupakan upaya mengubah


masukan berupa siswa yang belum terdidik, siswa yang belum memiliki
pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.
Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi peserta didik dan
kreativitas pendidik. Peserta didik yang memiliki motivasi tinggi ditunjang
dengan pendidik yang mampu memfasilitas motivasi tersebut akan membawa
pada keberhasilan pencapaian target belajar. Ihsana (2015:38) “pembelajaran
adalah sebagai seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses
belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian.
Menurut Anurahman (2010) pembelajaran merupakan upaya mengubah
masukan berupa siswa yang belum terdidik, siswa yang belum memiliki
pengetahuan tentang sesuatu, menjadi siswa yang memiliki pengetahuan.
Arikunto (2010) mengemukakan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang
mengandung terjadinya proses penguasaan pengetahuan, keterampilan dan sikap
oleh subjek yang sedang belajar dan merupakan pendidikan kepada anak didik
agar mencapai kedewasaan di bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap.

Dari berbagai pengertian pembelajaran di atas, maka dapatlah dimengerti


bahwa yang dimaksud pembelajaran adalah suatu proses kegiatan yang
memungkinkan guru dapat mengajar dan siswa dapat menerima materi pelajaran
yang diajarkan oleh guru secara sistematik, dan saling mempengaruhi dalam
kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang diinginkan pada suatu
lingkungan belajar serta hasil yang mengacu kepada perubahan dengan hasil yang
positif. adanya hubungan interaksi antara guru dan siswa pada saat proses
pembelajaran serta sarana yang memungkinkan membantu proses belajar peserta
didik dalam proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran
dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik.

2.1.3 Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan salah satu alat ukur untuk melihat capaian
seberapa jauh siswa dapat menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan
oleh guru. Hasil belajar juga salah satu kemampuan yang dimiliki siswa setelah
iya menerima pengalaman belajar yang diperoleh melalui usaha dalam
menyelesaikan tugas belajar. Bukti keberhasilan usaha yang telah dicapai setelah
seseorang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui pengukuran serta penilaian
belajar, yang ditandai dengan bentuk angka, huruf, atau simbol tertentu yang
disepakati oleh pihak penyelenggara pendidikan. Menurut Bloom (1964) definisi
hasil belajar adalah mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Domain kognitif adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension
(pemahaman, menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan),
analysis (menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan,
merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain
efektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon),
valuing (nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi).
Domain psikomotor meliputi initiatory, preroutine, dan routinized. Psikomotor
juga mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan
intelektual.

Maka hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar
(perubahan tingkah laku: kognitif, afektif dan psikomotorik) setelah selesai
melaksanakan proses pembelajaran dengan strategi pembelajaran information
search dan metode resitasi yang dibuktikan dengan hasil evaluasi berupa nilai.

1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar


Menentukan keberhasilan dalam proses belajar dapat ditentukan degan
kemampuan belajar peserta didik. Dalam proses belajar, ada faktor-faktor
yang memengaruhinya. Hal ini disebutkan oleh Djaali (2020:101), sebagai
berikut:
a. Motivasi, kondisi atau keadaan yang ada dalam diri individu yang
mendorong untuk melakukan aktivitas guna mencapai tujuan’
b. Sikap, suatu kesiapan mental dalam berbagai jenis tindakan pada situasi
yang tepat
c. Minat, rasa ketertarikan pada suatu hal tanpa adanya paksaan dari pihak
mana pun.
d. Kebiasaan belajar, cara yang diperoleh dari belajar secara berulang-ulang.
e. Konsep diri, pandangan seseorang tentang diri sendiri yang menyangkut
apa yang diketahui dan dirasakan tentang perilakunya, isi pikiran dan
perasaannya, serta bagaimana perilakunya tersebut berpengaruh terhadap
orang lain.
Menurut pandangan Slameto (2018:55) menyatakan bahwa faktor
yang memengaruhi hasil belajar ada dua golongan, yaitu faktor intern
(berasal dari dalam diri) dan faktor ekstern (berasal dari luar).
a. Faktor-faktor Intern
1) Faktor jasmaniah, terdiri dari kesehatan dan cacat tubuh.
2) Faktor psikologis, terdiri dari intelegensi, perhatian, minat, bakat,
motif, dan kematangan.
3) Faktor kelelahan, dapat dihilangkan dengan istirahat dan tidur yang
cukup.
b. Faktor-faktor Ekstern
1) Faktor keluarga, terdiri dari cara orang tua mendidik anak, suasana
dalam rumah, relasi antara anggota keluarga, keadaan ekonomi,
dan perhatian orang tua.
2) Faktor sekolah, terdiri dari metode mengajar, kurikulum,
kedisiplinan, fasilitas di sekolah, metode belajar, dan tugas rumah.
3) Faktor masyarakat, terdiri dari teman bergaul, kehidupan
masyarakat, media masa, dan kegiatan peserta didik.
Sejalan dengan itu, menurut Syah (2018:145) menyatakan bahwa
faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar dapat dibedakan menjadi
tiga macam, yakni:
a. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari dalam peserta didik
yang meliputi dua aspek, yakni:
1) Aspek fisiologis, keadaan jasmani dapat memengaruhi semangat
peserta didik dalam mengikuti pelajaran.
2) Aspek psikologis, aspek ini dapat memengaruhi kuantitas dan
kualitas perolehan pembelajaran peserta didik. Faktor-faktor
psikologis yang tergolong esensial yaitu inteligensi, sikap, bakat,
minat, dan motivasi peserta didik.
b. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal dari luar atau dari
lingkungan.
Faktor eksternal terdiri dari dua macam, yakni:
1) Lingkungan sosial, seperti teman sebaya atau teman sekelas, guru,
dan staf dapat memengaruhi semangat belajar peserta didik. Guru
yang menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dalam hal
belajar dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan
belajar peserta didik. Selain itu, masyarakat, tetangga, dan keluarga
juga berpengaruh terhadap kegiatan belajar peserta didik.
2) Lingkungan nonsosial, faktor yang termasuk ke dalam lingkungan
nonsosial yaitu gedung sekolah, rumah tempat tinggal keluarga,
alat-alat belajar, keadaan cuaca, dan waktu belajar. Faktor-faktor
tersebut turut menentukan tingkat keberhasilan belajar peserta
didik.

c. Faktor pendekatan belajar merupakan cara atau strategi yang digunakan


peserta didik dalam menunjang keefektifan dan efisiensi proses
pembelajaran tertentu. Faktor pendekatan belajar dapat berpengaruh
terhadap taraf keberhasilan belajar peserta didik tersebut.

Belajar dengan baik akan mendapatkan hasil belajar yang baik.


Pada proses penilaian hasil belajar dapat memberikan informasi kepada
guru tentang kemajuan peserta didik untuk mencapai tujuan belajar
melalui kegiatan belajar.
Faktor-faktor yang memengaruhi hasil belajar menurut Munadi (dalam
Rusman,2017:130), yaitu:
a. Faktor Internal
1) Faktor fisiologis, kondisi fisiologis seperti kondisi kesehatan yang
prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, dan tidak dalam
keadaan cacat jasmani dapat memengaruhi peserta didik dalam
menerima materi pelajaran.
2) Faktor psikologis, setiap peserta didik memiliki kondisi psikologis
yang berbeda-beda, meliputi inteligensi (IQ), perhatian, minat,
bakat, motif, motivasi, kognitif, dan daya nalar peserta didik. Hal
tersebut dapat memengaruhi hasil belajar peserta didik.
3) Kebiasaan belajar, yaitu cara belajar peserta didik yang dilakukan
secara berulang-ulang.
b. Faktor Eksternal
1) Faktor lingkungan, meliputi lingkungan fisik dan lingkungan
sosial.
2) Faktor instrumental, yaitu faktor yang keberadaan dan
penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang
diharapkan.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa
faktor-faktor yang memengaruhi belajar ada tiga golongan, yakni faktor
internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar. Faktor-faktor
tersebut memiliki pengaruh yang kuat dalam proses belajar. Dari
banyaknya faktor tersebut yang memengaruhi hasil belajar diantaranya
adalah kebiasaan belajar dan minat belajar. Hasil belajar peserta didik
dapat dicapai hingga maksimal apabila faktor-faktor yang memengaruhi
tersebut mendukung proses belajar atau berpengaruh positif.

2.1.4 Model Pembelajaran Take and Givea

A. Pengertian Model Pembelajaran

Model pembelajaran merupakan suatu pola atau perencanaan pembelajaran


secara sistematik digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran
di kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran, model pembelajaran mengacu pada
tata tahap dalam kegiatan pembelajaran yang tersusun dan didesain, ditetapkan,
dan dievaluasi untuk mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran yang
diharapkan.

Take and Give merupakan tipe pembelajaran yang memiliki tujuan untuk
membangun suasana belajar yang dinamis, penuh semangat, dan antusiasme, serta
menciptakan suasana belajar dari pasif ke aktif, dari jenuh menjadi riang, serta
mempermudah siswa untuk mengingat materi. Tipe Take and give ini diarahkan
agar tujuan belajar dapat dicapai secara efisien dan efektif dalam suasana yang
gembira meskipun membahas hal-hal yang sulit dan berat (Ikawati, 2016).

Istilah Take and Give diartikan “saling memberi dan saling menerima.
Prinsip ini juga menjadi itisari dari model pembelajaran kooperatif tipe Take and
Give. Take and Give merupakan model pembelajaran yang didukun oleh
penyajian data yang diawali dengan pemberian kartu kepada siswa (Huda,
2013:241). Di dalam kartu, ada cacatan yang harus dikuasai atau dihafal masing-
masing siswa. Siswa kemudian mencari pasangannya masing-masing untuk
bertukar pengetahuan sesuai dengan apa yang didapatnya di kartu, lalu kegiatan
pembelajaran diakhiri dengan mengevaluasi siswa dengan menanyakan
pengetahuan yang mereka miliki dengan pengetahuan yang mereka terima dari
pasangannya. Dengan demikian, komponen penting dalam model pembelajaran
kooperatif tipe Take and Give adalah penguasaan materi melalui kartu,
keterampilan bekerja berpasangan dan bertukar informasi, serta evaluasi yang
bertujuan untuk mengetahui pemahaman atau penguasaan siswa terhadap materi
yang diberikan di dalam kartu dan kartu pasangannya.

B. Langkah-langkah Penggunaan Model Pembelajaran Take and Give

Menurut Huda (2014:242) langkah-langkah menggunakan model


pembelajaran Take and give dapat dilihat sebagai berikut:

1. Guru mempersiapkan kartu yang akan digunakan dalam proses


pembelajaran.
2. Guru mendesain kelas sebagaimana mestinya.
3. Guru menjelaskan materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
4. Untuk memantapkan penguasaan siswa, mereka diberi masing-masing satu
kartu untuk dipelajari atau dihafal
5. Semua siswa disuruh berdiri dan mencari pasangan untuk saling memberi
informasi. Tiap siswa harus mencatat nama pasangannya pada kartu yang
dipegangnya.
6. Demikian seterusnya sehingga setiap siswa dapat saling memberi dan
menerima materi masing-masing (Take and give).
7. Untuk mengevaluasi keberhasilan siswa, guru dianjurkan memberi
pertanyaan yang tidak sesuai dengan kartu.
8. Strategi ini dapat dimodifikasi sesuai dengan keadaan.
9. Guru menutup pembelajaran.

C. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Take and give

Menurut Huda (2014:242) terdapat kelebihan dan kekurangan dari model


pembelajaran Take and give. Berikut kelebihan dari model pembelajaran ini yaitu:

1. Dapat dimodifikasi sedemikian rupa sesuai dengan keinginan dan


sesuai pembelajaran.
2. Melatih siswa untuk bekerja sama dan menghargai kemampuan orang
lain.
3. Melatih siswa untuk berinteraksi secara baik dengan teman sekelas.
4. Memperdalam dan mempertajam pengetahuan melalui kartu yang
dibagikan.
5. Meningkatkan tanggung jawab siswa, masing-masing siswa dibebani
pertanggung jawaban atas kartunya masing-masing.

Berikut kekurangan dari model pembelajaran Take and give yaitu:

1. Kesulitan untuk mendisiplinkan siswa dalam kelompok-kelompok.


2. Ketidaksesuaian skill antara siswa yang memiliki kemampuan
akademik yang baik dan siswa yang kurang memiliki kemampuan
akademik.
3. Kecenderungan terjadinya free riders dalam setiap kelompok,
utamanya siswa-siswa yang akrab satu sama lain.

2.1.5 Mata Pelajaran IPA

A. Pengertian IPA

IPA didefinisikan sebagai sekumpulan pengetahuan tentang objek dan


fenomena alam yang diperoleh dari hasil pemikiran dan penyelidikan ilmuan yang
dilakukan dengan keterampilan bereksperimen dengan menggunakan metode
ilmiah. Definisi ini memberi pengertian bahwa IPA merupakan cabang
pengetahuan dan klasifikasi data, dan biasanya disusun dan diverifikasi dalam
hukum-hukum yang bersifat kuantitatif, yang melibatkan aplikasi penalaran
(Hasbullah, 2018).

IPA adalah pelajaran yang berhubungan dengan cara mencari tahu tentang
alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan
pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja
tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat
menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam
sekitar, Serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam
kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa IPA merupakan


ilmu pengetahuan tentang fenomena alam baik yang diperoleh dari pemikiran atau
penyelidikan para ilmuwan dan hubungan sebab akibatnya yang tersusun secara
sistematis, teruji kebenarannya melalui serangkaian dalam metode.

B. Materi Pelajaran IPA (Sumber Daya Alam)

Sumber daya alam adalah semua yang terdapat di alam (kekayaan alam) yang
dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi segala kebutuhan hidup.
Sumber daya alam terbagi dua yaitu sumber daya alam hayati dan sumber daya
alam non hayati. Sumber daya alam hayati disebut juga sumber daya alam biotik
semua yang terdapat di alam (kekayaan alam) berupa makhluk hidup. Sedangkan
sumber daya alam abiotik adalah semua kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan
oleh manusia berupa benda mati.

Sumber daya alam merupakan istilah yang berhubungan dengan materi-materi


dan yang penting yang terdapat di planet bumi yang memberikan manfaat bagi
kehidupan manusia. Materi alam tersebut dapat berupa benda hidup (unsur-unsur
hayati), yaitu hewan dan tumbuhan. Terdapat pula benda mati (nonhayati), seperti
tahan, udara, air, bahan galian atau barang tambang. Selain itu terdapat pula
kekuatan-kekuatan alam menghasilkan tenaga atau energi. Misalnya, panas bumi
(geothermal), energi matahari, kekuatan air, dan tenaga angin.
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berada di alam (di luar manusia
yang dinilai memiliki daya guna untuk memenuhi kebutuhan sehingga tercipta
kesejahteraan hidup manusia tersebu, Dalam pengertian lain sumber daya alam
adalah semua kekayaan alam yang terdapat di lingkungan sekitar manusia yang
dapat dimanfaatkan bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Sumber daya alam
semua bahan yang di alam dan dapat dimanfaatkan manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Sumber daya alam dapat didefinisikan sebagai lingkungan
alam (natural environmet) yang mempunyai nilai untuk memenuhi kebutuhan
manusia. Sumber daya alam juga dapat diartikan sebagai keadaan lingkungan dan
bahan-bahan mentah yang digunakan manusia untuk memenuhi kebutuhan dan
memperbaiki kesejahteraannya.

Adapun Sumber Daya Alam (SDA) yang dapat diperbaharui dan yang tidak
dapat diperbaharui adalah sebagai berikut

a) SDA yang Dapat Diperbaharui (Renewable)


SDA yang dapat diperbaharui merupakan sumber daya alam yang
apabila dimanfaatkan dan habis maka dapat dilestarikan kembali.
Sumber daya alam ini dapat bereproduksi dan memiliki daya regenerasi
(pulih kembali). Contohnya air, tanah, tumbuhan dan hewan. Karena
sumber daya alam bersifat terbatas, maka tetap harus dijaga
kelestariannya. Pelestarian ini berfungsi agar keseimbangan ekosistem
dapat terjaga.
b) SDA yang Tidak Dapat Diperbaharui (Non Renewable)
SDA yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber daya alam yang
apabila dimanfaatkan atau digunakan sampai habis maka sumber daya
alam itu tidak dapat dilestarikan kembali. SDA yang tidak dapat
diperbaharui juga dapat diartikan sebagai sumber daya alam yang
pembentukannya berlangsung sangat lambat dalam waktu jutaan tahun.
Oleh karena itu, jumlahnya berkurang karena dimanfaatkan dan pada
saatnya nanti akan habis. Contoh SDA yang tidak dapat diperbaharui
yaitu emas, batu bara.
Sumber daya alam tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.
Akan tetapi dalam pemanfaatan dan pengelolaannya harus dilakukan sesuai
peraturan-peraturan yang mengikat semua pihak agar dapat bermanfaat dalam
jangka waktu yang panjang. Maka hal-hal berikut sangat perlu dilaksanakan,
antara lain :

a) Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang


maksimal, tetapi sumber daya alam harus diusahakan agar produktivitas
nya tetap berkelanjutan.
b) Eksploitasinya harus di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi
sumber daya alam.
c) Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang ada
dapat lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan pengertian sikap
serasi dengan lingkungannya.

2.2 Kerangka Berpikir

Guru di dalam proses pembelajaran tidak dapat diartikan sebagai seseorang


yang mengetahui dan menguasai segala sumber ilmu pengetahuan, yang kemudian
diberikan kepada siswa secara sempurna, tetapi guru itu sebagai fasilitator bagi
siswa yang membimbing dan mengarahkan bagaimana siswa seharusnya belajar,
proses belajar tersebut diharapkan dapat memberikan hasil yang maksimal berupa
pola dan perilaku sisa sesuai dengan yang diharapkan. Akan tetapi keinginan atau
harapan tersebut harus diikuti dengan kreativitas guru, diantara-Nya menggunakan
model pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan materi pembelajaran, sehingga
semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan menekankan kepada keaktifan
siswa dalam belajar.

Belajar merupakan suatu proses atau upaya yang dilakukan oleh setiap
individu untuk mendapatkan perubahan, baik dalam bentuk pengetahuan,
keterampilan, juga sikap dan nilai positif sebagai sesuatu Pengalaman dari
berbagai materi yang telah dipelajari. Namun di dalam permasalahan dunia
pendidikan hal yang tidak dapat dihiraukan dimana masih banyak terdapat
rendahnya hasil belajar siswa. Dan salah satunya adalah masalah rendahnya hasil
belajar pada mata pelajaran IPA. Karena pelajaran IPA cenderung membosankan,
sulit dan bersifat menghafal dalam proses pembelajarannya dan banyak siswa
yang tidak menyukai pembelajaran IPA sehingga menghasilkan hasil belajar yang
rendah. Oleh karena itu dibutuhkan model pembelajaran yang menarik tidak
membosankan serta dapat membuat siswa jauh lebih aktif untuk mengikuti
pembelajaran. Maka dari itu diperlukan pemilihan model pembelajaran yang tepat
untuk pembelajaran IPA. Dengan munculnya inovasi baru untuk pembelajaran
IPA dengan begitu dapat mengatasi permasalahan pembelajaran IPA ini dengan
menemukan model pembelajaran yang dapat menarik minat belajar siswa pada
pembelajaran IPA dengan begitu dapat mempengaruhi hasil dari belajar siswa dan
salah satunya adalah model pembelajaran Take and give. Dari penjelasan yang
sudah dipaparkan, maka agar dapat dipahami peneliti membuatkan skema dari
pemikiran sebagai berikut:

2.3 Defenisi Oprasional

a) Model pembelajaran Take and Give merujuk pada metode pembelajaran


aktif di mana siswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran
dengan cara saling bertukar informasi dan pemahaman mengenai materi
yang diajarkan.
b) Hasil belajar siswa diukur melalui peningkatan pemahaman konsep,
keterampilan, dan nilai yang diperoleh siswa setelah menerapkan model
pembelajaran tersebut dalam materi sumber daya alam mata pelajaran IPA.
c) Materi sumber daya alam merupakan bagian dari kurikulum IPA yang
membahas tentang sumber daya alam yang dapat diperbaharui dan tidak
dapat di perbaharui.
d) Kelas IV SDN 040552 Samperaya merujuk pada kelompok siswa yang
menjadi subjek penelitian.

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir yang diuraikan maka dapat di
ajukan hipotesis penelitian yaitu, ada pengaruh yang signifikan terhadap
penggunaan model pembelajaran Take and Give terhadap hasil belajar siswa
materi sumber daya alam pada mata pelajaran IPA kelas IV SD Negeri 040552
Samperaya Tahun Pelajaran 2024/2025.

Anda mungkin juga menyukai