BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tikus berperan dalam penularan beberapa penyakit, salah satunya
Leptospirosis. Leptospirosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Leptospira yang berasal dari kencing tikus. Penyakit ini dapat menular ke
manusia dengan gejala yang tidak khas, bahkan sering terlewat dalam diagnosis.
Pada sejumlah kasus, penanganan yang terlambat bahkan berakibat pada
kematian.
Tikus adalah hama yang dapat dengan mudah beradaptasi dan bertahan
hidup di berbagai habitat yang berbeda. Meskipun demikian, mereka akan lebih
memilih untuk tinggal di dekat manusia agar lebih mudah mendapatkan sumber
makanan yang umumnya berasal dari sisa-sisa makanan dan sampah yang
dibuang oleh manusia. Tikus bisa hidup di mana saja, namun dimana tikus hidup
tergantung pada spesies tikus tertentu dan wilayah (seperti pedesaan atau
perkotaan) yaitu tempat mereka berada. Mereka mampu beradaptasi dengan
cepat pada lingkungan yang berbeda, baik di alam liar maupun di pemukiman
manusia. diri dari predator alami mereka seperti ular dan burung hantu. Pada
saat tikus hidup dekat dengan manusia misalnya di ekosistem perkotaan, tikus
dapat hidup hampir di mana saja asal memiliki akses cukup ke sumber makanan
dan cocok untuk tempat berlindung dan berkembang biak.(Rentokil, 2021).
Keberadaan tikus dapat ditunjukkan dari sejumlah pengamatan. Adanya
kotoran tikus, bangkai dan sarang tikus merupakan indikasi keberadaan tikus di
1
sekitar kita. Apalagi keberadaan tikus juga bisa dideteksi jika ada kerusakan
diakibatkan oleh tikus, seperti gigitan, lubang pada benda-benda di sekitar kita.
Tikus mengeluarkan suara khas saat berkomunikasi dan meninggalkan urin
dengan bau yang menyengat. Adanya jejak tikus atau trail dengan bintik-bintik
di tempat-tempat yang dilalui tikus juga merupakan indikasi keberadaan hewan
pengerat tersebut.(Muhammad Afif, 2021)
Keberadaan tikus dapat ditemukan di seluruh Indonesia dan jumlahnya
sekitar 200 spesies yang tersebar di berbagai wilayah. Beberapa spesies tikus
yang biasa dikenal dan menjadi hama sekaligus sumber penyakit (reservoir)
bagi manusia, diantaranya adalah tikus rumah (Rattus tanezumi), tikus pohon
(Rattus tiomanicus), tikus sawah (Rattus argentiventer), tikus got (Rattus
norvegicus), dan tikus ladang (Rattus exulans) (Muhammad Afif, 2021).
Pengendalian vektor dan binatang pembawa penyakit yang terdapat di
Permenkes RI No. 50 Tahun 2017 menyatakan bahwa terdapat beberapa metode
pengendalian yaitu metode fisik, biologi, kimia dan pengelolaan lingkungan.
Dalam metode pengendalian kimia, penggunaan pestisida sintetik menjadi
pilihan utama dalam pemberantasan tikus akan tetapi karena sifat-sifatnya yang
dapat menyebabkan keracunan akut, iritasi kulit, radang pada mata dan saluran
pernafasan (pneumonitis), keadaan allergis serta mudah terbakar, maka pada
penggunaan rodensida sintetik/pestisida perlu diperhatikan berbagai sudut.
(Achmad, 1977)
Pencemaran lingkungan akibat residu pestisida sintetik semakin serius
bagi lingkungan. Produksi pestisida nabati atau rodentisida nabati merupakan
2
salah satu alternatif yang dapat diterapkan untuk mengurangi dampak
pencemaran. Rodentisida nabati adalah suatu rodentisida yang terbuat dari
bahan-bahan alami, misalnya tanaman atau tumbuhan yang ada disekitar yang
diolah dengan menggunakan campuran bahan alami lainnya yang berfungsi
sebagai alternatif pengusir hama (Zailani, 2015).
Penggunaan pestisida kimia sintetik merupakan pilihan terakhir jika
metode non-kimiawi tidak efektif. Perlu dipahami bahwa penggunaan pestisida
kimia yang tidak tepat dapat membunuh musuh alami hama. Membunuh musuh
alami akan memperburuk penyakit karena musuh alami sebagai pengendali
hama tidak dapat berfungsi dengan baik. Penggunaan pestisida kimia sintetik
perlu diminimalisir atau secara bertahap mengganti pestisida kimia sintetik
dengan pestisida nabati setempat.(Rina D, 2017)
Kendala pengembangan pestisida nabati adalah daya kerjanya relatif
lambat, tidak membunuh langsung hama atau penyakit, tidak tahan terhadap
sinar matahari, dan kadang diperlukan penyemprotan yang berulang-ulang.
Kendala-kendala tersebut dapat diperbaiki dengan mengutamakan teknik
aplikasi yang benar (Sudarmo & Mulyaningsih, 2014)
Berdasarkan survei pendahuluan di tempat domisili peneliti, pohon
Bintaro banyak ditanam di perumahan-perumahan sebagai tanaman
penghijauan. Sebenarnya tanaman Bintaro merupakan tanaman mangrove yang
hidup di pinggir pantai namun pemanfaatan bintaro sebagai pohon penghijauan
dan peneduh dipinggir jalan sudah menunjukkan bintaro memiliki kemampuan
3
adaptasi yang cukup tinggi. Bintaro mampu hidup di kondisi tanah dipinggir
jalan dimana kondisi tanahnya berbeda dengan tanah mangrove.
Pemanfaatan tanaman Bintaro sebenarnya tidak hanya sebagai tanaman
peneduh jalan saja tetapi ada manfaaat lainnya dan salah satunya sebagai bahan
rodentisida nabati terutama untuk pengendalian tikus. Hanya saja penelitian
tentang penggunaan buah Bintaro sebagai rodentisida nabati dengan variasi
konsentrasi 2 ml/L, 4 ml/L 6 ml/L, 8 ml/L, dan 10 ml/L, masih belum bisa
efektif membunuh tikus serta hanya melemahkan kondisi tikus dengan
konsentrasi terbaik 10 ml/L.(Zailani, 2015)
Senyawa kimia yang terdapat di dalam biji buah bintaro mengandung
senyawa-senyawa yang mempunyai efek penghambat perkembangan hama
tikus yaitu Cerberrin yang bersifat racun kuat. Cerberrin merupakan golongan
alkaloid/glikosida yang diduga berperan terhadap mortalitas tikus. Cerberrin
merupakan glikosida bebas N, yang bekerja sebagai racun jantung yang sangat
kuat. Cerberrin yang tertelan tikus menyebabkan denyut jantung tikus berhenti.
Cerberine dapat menghambat saluran ion kalsium di dalam otot jantung
sehingga dapat mengakibatkan kematian tikus.(Rohimatun, 2011)
Penggunaan umbi gadung (Dioscorea hispida) sebagai rodentisida
organik sudah banyak dikembangkan. Hasil penelitian menunjukkan umbi
gadung mengandung dioskorin yaitu sejenis alkaloid yang larut dalam air dan
dapat menyebabkan muntah darah, sukar bernafas dan kematian. Gadung
merupakan umbi yang mengandung asam sianida (HCN) dalam bentuk bebas
maupun dalam bentuk terikat yang berupa glikosida sianogenik. Pada
4
konsentrasi tinggi, sianida terutama dalam bentuk bebas sebagai HCN dapat
mematikan. Umbi gadung segar bisa dihasilkan sekitar 469, 5 mg/kg sianida
bebas. (Koswara, 2013)
Penelitian yang menggunakan umbi gadung sebagai rodentisida nabati
didapatkan jumlah kematian tertinggi sebanyak 5 ekor tikus yaitu pada
pemakaian rodentisida 30% , sedangkan pada dosis 20% tikus masih dapat
mengkonsumsi makanan lebih banyak akan tetapi rodentisida tidak sampai
membunuh tikus. Reaksi dari rodentisida hanya terlihat pada aktifitas tikus yang
menurun. Sebagian besar tikus pada hari kelima menunjukkan keadaan diam
(44,44%) dan 11,1% menunjukkan malas bergerak.(Posmaningsih et al., 2014).
Berdasarkan kedua penelitian tersebut diatas didapatkan hasil rodentisida
nabati yang masih belum cukup efektif untuk pengendalian tikus. Akan tetapi
dengan adanya kandungan zat racun yang dimiliki baik dalam buah bintaro
maupun umbi gadung maka dengan menggabungkan keduanya diharapkan bisa
menghasilkan sebuah rodentisida nabati baru yang lebih efektif dan lebih cepat
untuk membunuh tikus dengan penentuan konsentrasi campuran berdasarkan
penelitian-penelitian terdahulu
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah : manakah
konsentrasi campuran umbi gadung dan buah bintaro yang paling efektif
sebagai rodentisida nabati terhadap tikus?
5
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui konsentrasi campuran umbi gadung dan buah bintaro yang
paling efektif sebagai rodentisida nabati terhadap tikus
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat kematian tikus pada konsentrasi campuran umbi
gadung dan buah bintaro sebesar 25%
b. Mengetahui tingkat kematian tikus pada konsentrasi campuran umbi
gadung dan buah bintaro sebesar 30%
c. Mengetahui tingkat kematian tikus pada konsentrasi campuran umbi
gadung dan buah bintaro sebesar 40%
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapatkan dari komposisi yang optimal antara umbi gadung dan
buah bintaro akan dihasilkan rodentisida nabati baru yang bisa digunakan untuk
membunuh tikus lebih efektif. Manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Bagi peneliti
Melakukan penerapan ilmu yang didapat serta menambah wawasan dan
pengalaman dalam penelitian.
2. Bagi mahasiswa
Dijadikan sebagai bahan perbandingan bila akan melakukan penelitian
mengenai campuran umbi gadung dan buah bintaro sebagai bahan
rodentisida nabati
6
3. Bagi institusi pendidikan
Meningkatkan mutu pendidikan dan bahan studi banding serta dapat
memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu kesehatan masyarakat
4. Bagi masyarakat
Memberikan informasi kepada masyarakat untuk pencegahan terjadinya
penyakit dan menggunakan rodentisida yang ramah bagi lingkungan
E. Ruang Lingkup
Ruang lingkup penelitian ini meliputi :
1. Ruang Lingkup Ilmu / Materi
Pengendalian Vektor dan binatang pengganggu
2. Ruang Lingkup Tempat
Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium bertempat di rumah dengan
alamat di VMG 2 Blok W6 No. 81 Karang Satria Tambun Utara Bekasi
3. Ruang Lingkup Waktu
Bulan Agustus – Oktober 2022.
F. Keaslian Penelitian
Penelitian mengenai campuran umbi gadung dan buah bintaro sebagai
rodentisida nabati ini belum pernah dilakukan sebelumnya, adapun beberapa
beberapa studi terkait dijadikan sebegai informasi penelitian yang dilakukan
dan akan mengisi kesenjangan dengan penelitian terdahulu, dimana penelitian-
penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya hanya menguji secara sendiri-
sendiri kemampuan umbi gadung dan buah bintaro sebagai rodentisida nabati.
7
Adapun penelitian ini adalah mencoba menggabungkan umbi gadung dan buah
bintaro dengan harapan akan terjadi peningkatan efektifitas.
Tabel 1. Keaslian Penelitian
Persamaan Perbedaan Hasil Penelitian
Nama Penelitian Jenis Penelitian
Penelitian Penelitian
(Agustin, 2019) Pengaruh Menggunakan Menggunakan Berdasrkan uji
Konsentrasi Ekstrak Biji Bintaro campuran dengan statistic
Biji Bintaro (Carbera sebagai umbi gadung menggunakan
manghas) dan Waktu rodentisida nabati sebagai rodentisida Anova one way
Kontak Terhadap untuk tikus nabati diperoleh P Value
Lethal time Tikus 0,54>α (0,05)
Rumah artinya tidak ada
pengaruh antara
meningkatkan
konsentrasi ektrak
terhadap jumlah
kematian tikus
rumah (Rattus rattus
diardii).
(Posmaningsih et Efektivitas Menggunakan Menggunakan
al., 2014) Pemanfaatan Umbi umbi gadung campuran dengan Rodentisida yang
Gadung (Dioscorea sebagai buah bintaro paling efektif
Hispida Dennust) rodentisida nabati sebagai rodentisida untuk membunuh
pada umpan sebagai untuk tikus nabati tikus adalah
Rodentisida Nabati rodentisida 30%
dalam pengendalian karena sudah
Tikus memenuhi batas
LD 50. Umbi
gadung
mengandung
bahan efek
penekan kelahiran
(aborsi atau
kontrasepsi) yang
mengandung
steroid, dan efek
penekan populasi
/alkaloid.
(Ningtyas & Uji daya bunuh Menggunakan Menggunakan Hasil pengujian
Cahyati, 2017) umpan blok umbi umbi gadung campuran dengan menunjukkan
gadung (Dioscorea sebagai buah bintaro bahwa ada
hispida L) terhadap rodentisida nabati sebagai rodentisida hubungan antara
Tikus. untuk tikus nabati penambahan
8
umbi gadung
dengan kematian
mencit (p=0,001).
Data dianalisis
secara univariat
dan bivariat.
Analisis probit
diperoleh blok
umpan LC50 dan
LC90 adalah
34,024% yaitu
59,298%.
(Zailani, 2015) Uji efektivitas Menggunakan Menggunakan Hasil penelitan
rodentisida nabati buah bintaro campuran umbi menunjukkan
ekstrak buah bintaro sebagai gadung dan bintaro bahwa gejala
(cerbera manghas rodentisida nabati dibuat menjadi keracunan yang
boiteau, pierre l.) untuk tikus pellet disebabkan oleh
terhadap hama tikus rodentisida ekstrak
buah bintaro
terhadap tikus
ditandai dengan
terjadinya efek
knock down,
kemudian
menurunnya tingkat
aktivitas tikus,
terjadi kerontokan
bulu di sekitar
hidung dan lubang
anus dan muntah.
Konsentrasi
rodentisida ekstrak
buah bintaro yang
terbaik adalah 10
ml/L.
(Anna et al., 2017) Efek pemberian Rodentisida Menggunakan Menunjukkan
ekstrak etanol kayu nabati dibuat campuran dengan bahwa pakan
manis (Cinnamomum menjadi pellet umbi gadung dan mempengaruhi
burmannii Ness Ex buah bintaro kadar ureum tikus
BI.) terhadap kadar sebagai rodentisida tetapi kadar
ureum dan kreatinin nabati kreatinin semua
tikus (Rattus perlakuan normal.
novergicus)