LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH
DENGAN DM PADA PASIEN DI RUANGAN JASMINE
RUMAH SAKIT HJ BUNDA HALIMAH
Oleh: Syafiqah Fakhirah
NPM: 102324006
CI Akademik CI Klinik
( (
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BATAM
TAHUN 2024
A. Pengertian
Diabetes Melitus (DM) adalah penyakit metabolik ditandai dengan
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau
kedua-duanya. Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang terjadi
ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur gula
darah) atau ketika tubuh tidak dapat secara aktif menggunakan insulin yang
dihasilkan (World Health Organization, 2020).
B. Etiologi
Menurut American Diabetes Association (ADA), (2020) etiologi diabetes melitus
adalah :
1. Diabetes Tipe 1
a. Faktor genetik
Pasien diabetes sendiri tidak mewarisi diabetes tipe 1 dengan sendirinya,
tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kerentanan genetik dari diabetes
tipe 1, dan kerentanan genetik ini ada pada individu dengan antigen tipe
HLA.
b. Faktor-fakror imunologi
Terdapat reaksi autoimun yang merupakan reaksi abnormal di mana
antibodi secara langsung terarah pada jaringan manusia normal dengan
bereaksi terhadap jaringan yang dianggap sebagai benda asing yaitu
autoantibodi terhadap sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Toksin atau virus tertentu yang dapat memicu proses autoimun yang
menimbulkan destruksi sel beta.
2. Diabetes Tipe 2
Mekanisme pasti yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi
insulin pada diabetes tipe 2 masih belum jelas. Faktor genetik berperan dalam
perkembangan resistensi insulin menurut Utomo et al (2020), adalah sebagai
berikut:
a. Usia
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga
C. Manifestasi klinis
Menurut Febrinasari et al (2020), manifestasi klinis diabetes melitus adalah:
1. Poliuria (sering kencing)
2. Polidipsia (sering merasa haus)
3. Polifagia (sering merasa lapar)
4. Penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.
Selain hal-hal tersebut, gejala lain adalah:
1. Mengeluh lemah dan kurang energi
2. Kesemutan di tangan atau kaki
3. Mudah terkena infeksi bakteri atau jamur
4. Gatal
5. Mata kabur
6. Penyembuhan luka yang lama.
Manifestasi klinis diabetes melitus menurut (IDF, 2019) adalah :
1. Tipe IDDM seperti :
a. Poliuria, polipagia, polidipsia, BB menurun, lemah, dan somnolen
berlangsung beberapa hari atau minggu.
b. Ketoasidosis dan dapat meninggal jika tidak segera ditangani.
c. Biasanya memerlukan terapi insulin untuk mengontrol karbohidrat.
2. Tipe NIIDM seperti :
a. Jarang menunjukkan gejala klinis
b. Diagnosis didasarkan pada tes darah laboratorium dan tes toleransi
glukosa, Jarang menderita ketoasidosis.
c. Hiperglikemia berat, poliuria, poliuria, kelemahan dan kelesuan.
D. Komplikasi
Komplikasi diabetes melitus sangat mungkin terjadi dan bisa menyerang
seluruh organ tubuh. Apabila kadar gula darah tidak dikendalikan maka akan
terjadi komplikasi baik jangka pendek (akut) maupun jangka panjang (kronis).
Menurut Febrinasari et al (2020) komplikasi diabetes melitus ada 2 (dua) yaitu
1. Komplikasi diabetes melitus akut
Komplikasi diabetes akut dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu naik turunnya
kadar gula darah secara drastis. Keadaan ini membutuhkan perhatian medis
segera, karena jika terlambat dapat menyebabkan hilangnya kesadaran,
kejang dan kematian. Terdapat 3 macam komplikasi diabetes melitus akut:
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kondisi dimana turunnya kadar gula
darah secara drastis akibat terlalu banyak insulin dalam tubuh, terlalu
banyak mengonsumsi obat penurun gula darah, atau terlambat makan.
Gejala berupa penglihatan kabur, detak jantung cepat, sakit kepala,
gemetar, berkeringat dingin dan pusing. Kadar gula darah yang terlalu
rendah dapat menyebabkan pingsan, kejang, bahkan koma (Widiastuti,
2020).
b. Ketosiadosis diabetik (KAD)
Ketosiadosis diabetik merupakan keadaan darurat medis yang
disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi. Ini merupakan
komplikasi penyakit diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat
menggunakan gula atau glukosa sebagai sumber bahan bakar, sehingga
tubuh mengolah lemak dan menghasilkan keton sebagai sumber energi.
Jika tidak segera mencari pertolongan medis, kondisi ini dapat
menyebabkan penumpukan asam yang berbahaya di dalam darah,
sehingga dapat menyebabkan dehidrasi, koma, sesak napas, bahkan
kematian (Istianah, 2019).
c. Hyperosmolar hyperglycemic state (HHS)
Situasi ini juga merupakan salah satu situasi darurat, dan tingkat
situasi ini juga merupakan salah satu situasi darurat dimana angka
kematian mencapai 20%. Terjadinya HHS disebabkan oleh peningkatan
mortalitas sebesar 20%. HHS terjadi karena lonjakan kadar glukosa
darah yang sangat tinggi selama periode waktu tertentu. Gejala HHS
ditandai dengan rasa haus, kejang, kelemahan dan gangguan kesadaran
yang menyebabkan koma. Selain itu, penyakit diabetes yang tidak
terkontrol juga dapat menyebabkan komplikasi serius lainnya yaitu
hiperglikemia non ketosis dan sindrom hiperglikemia. Komplikasi akut
diabetes adalah kondisi medis serius yang memerlukan perawatan dan
pemantauan oleh dokter di rumah sakit (Mutia et al, 2021).
2. Komplikasi diabetes melitus kronis
Seringkali komplikasi jangka panjang secara bertahap terjadi saat
diabetes tidak terkontrol dengan baik. Tinggi kadar gula darah yang tidak
terkontrol dari waktu ke waktu akan menyebabkan kerusakan serius pada
semua organ tubuh Beberapa komplikasi jangka panjang pada penyakit
diabetes melitus menurut Febrinasari et al., 2020 yaitu:
a. Gangguan pada mata (retinopati diabetik)
Tingginya kadar gula darah bisa membahayakan pembuluh darah
di retina yang berpotensial menyebabkan kebutaan. Kerusakan
pembuluh darah di mata juga meningkatkan risiko gangguan
penglihatan, seperti katarak dan glaukoma. Deteksi dini dan pengobatan
retinopati dapat dicegah atau ditunda secepat mungkin kebutaan.
Dorong penderita diabetes menjalani pemeriksaan mata secara teratur
(Hariyani, 2020).
b. Kerusakan ginjal (nefropati diabetik)
Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM disebut dengan
nefropati diabetik. Situasi ini bisa menyebabkan gagal ginjal dan bahkan
bisa mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Saat
terjadi gagal ginjal, pasien harus melakukan dialisis rutin atau
transplantasi ginjal. Dikatakan bahwa diabetes adalah silent killer,
karena biasanya tidak menimbulkan gejala khas pada tahap awal.
Namun, pada stadium lanjut, gejala seperti anemia, kelelahan,
pembengkakan pada kaki, dan gangguan elektrolit dapat terjadi.
Diagnosis dini, kontrol gula darah dan tekanan darah, manajemen
pengobatan pada tahap awal kerusakan ginjal, dan membatasi asupan
protein adalah cara yang bisa dilakukan dalam menghambat
perkembangan diabetes yang menyebabkan gagal ginjal (Muhammad,
2018).
c. Kerusakan saraf (neuropati diabetik)
Diabetes juga dapat merusak pembuluh darah dan saraf, terutama
saraf di kaki. Kondisi ini disebut neuropati diabetes, ini karena saraf
mengalami kerusakan baik secara langsung akibat tingginya gula darah,
maupun karena penurunan aliran darah menuju saraf. Rusaknya saraf
dapat menyebabkan gangguan sensorik dengan gelaja berupa mati rasa,
kesemutan, dan nyeri. Kerusakan saraf juga bisa mempengaruhi saluran
pencernaan (gastroparesis). Gejalanya berupa mual, muntah dan cepat
merasa kenyang saat makan. Pada pria, komplikasi diabetes bisa
menyebabkan disfungsi ereksi atau impotensi. Komplikasi ini dapat
dicegah dan penundaan hanya bila diabetes terdeteksi sejak dini agar
kadar gula darah bisa terkontrol melalui pola makan dan gaya hidup
sehat dan minum obat yang sesuai rekomendasi dokter (Isnaini, 2018).
d. Masalah kaki dan kulit
Komplikasi yang juga sangat umum adalah masalah kulit dan
luka pada kaki yang sulit sembuh. Ini karena kerusakan pembuluh darah
dan saraf serta aliran darah kaki yang sangat terbatas. Gula darah yang
tinggi bisa mempermudah bakteri dan jamur berkembang biak. Selain
itu, akibat diabetes, kemampuan tubuh untuk menyembuhkan dirinya
sendiri juga berkurang. Jika tidak dirawat dengan baik, kaki penderita
diabetes berisiko mengalami cedera dan infeksi, yang dapat
menyebabkan gangren dan ulkus diabetes. Perawatan luka di kaki
penderita diabetes adalah dengan memberi antibiotik, perawatan luka
yang baik, hingga dapat diamputasi jika jaringan rusak ini sudah parah .
e. Penyakit kardiovaskular
Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan rusaknya
pembuluh darah sehingga seluruh sirkulasi darah tersumbat termasuk
jantung. Komplikasi yang menyerang jantung dan pembuluh darah yaitu
penyakit jantung, stroke, serangan jantung dan penyempitan arteri
(aterosklerosis). (Isnaini, 2019).
E. Patofisiologi dan pathway
Pada diabetes tipe 2 tedapat dua masalah utama yang berhubungan
dengan insulin yaitu: resistensi dan gangguan sekresi insulin. Kedua masalah
inilah yang menyebabkan GLUT dalam darah aktif (Brunner & Suddarth, 2018).
Glukose Transporter (GLUT) yang merupakan senyawa asam amino yang
terdapat di dalam berbagai sel yang berperan dalam proses metabolisme glukosa.
Insulin mempunyai tugas yang sangat penting pada berbagai proses metabolisme
dalam tubuh terutama pada metabolisme karbohidrat. Hormon ini sangat
berperan dalam proses utilisasi glukosa oleh hampir seluruh jaringan tubuh,
terutama pada otot, lemak dan hepar (Rini P. S et al, 2018). Pada jaringan perifer
seperti jaringan otot dan lemak, insulin berikatan dengan sejenis reseptor (insulin
receptor substrate) yang terdapat pada membrane sel tersebut. Ikatan antara
insulin dan reseptor akan menghasilkan semacam sinyal yang berguna bagi
proses metabolisme glukosa di dalam sel otot dan lemak, meskipun mekanisme
kerja yang sesungguhnya belum begitu jelas. Setelah berikatan, transduksinya
berperan dalam meningkatkan kuantitas GLUT-4 (Setyawati, 2020).
Proses sintesis dan transaksi GLUT-4 inilah yang bekerja memasukkan
glukosa dari ekstra ke intrasel untuk selanjutnya mengalami metabolisme. Untuk
menghasilkan suatu proses metabolisme glukosa normal, selain diperlukan
mekanisme serta dinamika sekresi yang normal, dibutuhkan pula aksi insulin
yang berlangsung normal. Rendahnya sensitivitas atau tingginya resistensi
jaringan tubuh terhadap insulin merupakan salah satu faktor etiologi terjadinya
diabetes, khususnya diabetes melitus tipe 2. Diabetes melitus tipe 2 terjadi karena
sebetulnya insulin tersedia, tetapi tidak bekerja dengan baik dimana insulin yang
ada tidak mampu memasukkan glukosa dari peredaran darah untuk ke dalam sel-
sel tubuh yang memerlukannya sehingga glukosa dalam darah tetap tinggi yang
menyebabkan terjadinya hiperglikemia. Hiperglikemia terjadi bukan hanya
disebabkan oleh gangguan sekresi insulin (defisiensi insulin), tapi pada saat
bersamaan juga terjadi rendahnya respons jaringan tubuh terhadap insulin
(resistensi insulin) (Usman, J, 2021).
Defisiensi dan resistensi insulin ini akan memicu sekresi hormon
glukagon dan epinefrin. Glukagon hanya bekerja di hati. Glukagon mula-mula
meningkatkan glikogenolisis yaitu pemecahan glikogen menjadi glukosa dan
kemudian meningkatkan glukoneogenesis yaitu pembentukan karbohidrat oleh
protein dan beberapa zat lainnya oleh hati. Epinefrin selain meningkatkan
glikogenolisis dan glukoneogenesis di hati juga menyebabkan lipolisis di
jaringan lemak serta glikogenolisis dan proteolisis di otot. Gliserol, hasil lipolisis,
serta asam amino (alanin dan aspartat) merupakan bahan baku glukoneogenesis
hati. Faktor atau pengaruh lingkungan seperti gaya hidup atau obesitas akan
mempercepat progresivitas perjalanan penyakit. Gangguan metabolisme glukosa
akan berlanjut pada gangguan metabolisme lemak dan protein serta proses
kerusakan berbagai jaringan tubuh (Nasution, 2021).
Pathway
Diabetes melitus tipe 1 Diabetes melitus tipe 2 Diabetes melitus gestasional
Obesitas, gaya hidup
Genetik
tidak sehat, kurang gerak Pengeluaran hormone
estrogen, progesterone dan
Kerusakan sel beta pankreas Retensi insulin hormone kehamilan
Hiperglikemia Resiko ketidakstabilan
kadar glukosa darah
Menyerang kulit dan
infeksi jaringan subkutan
Menyerang secara sistemik
Mekanisme radang
Akselerasi Edema Kurang informasi Luka
deakselerasi saraf kemerahan tentang penyakit dan terkontaminasi
jaringan sekitas penatalaksanaannya mikroorganisme
Nyeri
Nyeri tekan Mikroorganisme System imun
otot menginfeksi dermis berespons dgn
dan subkutis menaikan
antibody
Gangguan rasa
nyaman dan nyeri
Proses fagositosis Reaksi Ag-Ab
Nyeri akut Eritema lokal
pada kulit
Kerusakan kulit Lesi
Trauma jaringan Kerusakan
lunak integritas
jaringan
Resiko infeksi
Sumber : Aggit (2019), Rohmawardani (2018).
F. Penatalaksanaan
Menurut Putra, I. W. A., & Berawi (2018) penatalaksanaan diabetes melitus
dikenal dengan 4 pilar penting dalam mengontrol perjalanan penyakit dan
komplikasi. Empat pilar tersebut adalah:
1. Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pahami perjalanan penyakitnya,
pentingnya pengendalian penyakit, komplikasi dan resikonya, pentingnya
intervensi obat dan pemantauan glukosa darah, bagaimana menangani
hipoglikemia, kebutuhan latihan fisik teratur, dan metode menggunakan
fasilitas kesehatan. Mendidik pasien bertujuan agar pasien bisa mengontrol
gula darah dan kurangi komplikasi serta meningkatkan keterampilan
perawatan diri sendirian. Diabetes tipe 2 biasanya terjadi pada saat gaya
hidup dan perilaku terbentuk kuat. Petugas kesehatan mendampingi pasien
dan memberikan pendidikan dalam upaya meningkatkan motivasi dan
perubahan perilaku. Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai dengan
memberikan edukasi antara lain: Penderita diabetes bisa hidup lebih lama
dalam kebahagiaan karena kualitas hidup sudah menjadi kebutuhan
seseorang, membantu penderita diabetes bisa merawat diri sendiri sehingga
kemungkinan komplikasi dapat dikurangi, kselain itu jumlah hari sakit bisa
ditekan, meningkatkan perkembangan penderita diabetes, sehingga bisa
berfungsi normal dan manfaatkan sebaik-baiknya (Imelda, 2019).
2. Terapi nutrisi
Perencanaan makan yang bagus merupakan bagian penting dari
manajemen diabetes yang komprehensif. Diet keseimbangan akan
mengurangi beban kerja insulin dengan meniadakan pekerjaan insulin dalam
mengubah gula menjadi glikogen. Keberhasilan terapi ini melibatkan dokter,
perawat, ahli gizi, pasien itu sendiri dan keluarganya. Intervensi nutrisi
bertujuan untuk menurunkan berat badan dan memperbaiki gula darah dan
lipid darah pada pasien diabetes yang kegemukan dan menderita morbiditas.
Penderita diabetes dan kegemukan akan memiliki resiko yang lebih tinggi
daripada mereka yang hanya kegemukan (Nurdin, 2021).
3. Aktifitas fisik
Kegiatan fisik setiap hari latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu
sekitar 30 menit), adalah salah satu pilar pengelolaan DMT2. Aktivitas
sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, naik turun tangga, dan berkebun
tetap harus dilakukan untuk menjaga kesehatan, menurunkan berat badan,
dan memperbaiki sensitivitas insulin. Latihan fisik dianjurkan yaitu berupa
senam aerobik seperti jalan kaki, bersepeda, jogging, dan berenang,
sebaiknya latihan fisik disesuaikan dengan umur dan status kesegaran. Bagi
mereka yang relatif sehat, dapat meningkatkan intensitas latihan fisik, dan
mereka yang mengalami komplikasi diabetes dapat dikurangi (Kistianita,
2018).
4. Farmakologi
Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan diet dan latihan fisik
(gaya hidup sehat). Pengobatan termasuk dari obat-obatan oral dan suntikan.
Obat hipoglikemik oral berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 5
golongan: Memicu sekresi insulin sulfonylurea dan glinid, peningkatan
metformin insulin dan thiazolidinone, penghambat glukoneogenesis,
penghambat penyerapan glukosa: penghambat glukosidase, penghambat
[Link]-IV inhibitor pertumbuhan dan status gizi, usia, stres akut dan
latihan fisik untuk mencapai dan mempertahankan berat badan yang ideal.
Total kalori yang dibutuhkan dihitung berdasarkan berat tubuh ideal
dikalikan dengan kebutuhan kalori dasar (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan
25 Kkal/kg BB untuk wanita). Lalu tambahkan kalori yang dibutuhkan untuk
aktivitas (10-30% atlet dan pekerja berat bisa lebih banyak lagi, sesuai
dengan kalori yang dikeluarkan). Makanan berkalori berisi tiga makanan
utama pagi (20%), sore (30%) dan malam (25%) dan 2-3 porsi (makanan
ringan 10-15%) (Priyanto, 2018).
G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera
biologis (penurunan perfusi jaringan perifer)
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungandengan
ketidakmampuan menggunakan glukose (tipe 1)
c. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh berhubungandengan
kelebihan intake nutrisi (tipe 2)
d. Defisit Volume Cairan berhubungan dengan kehilangan volume cairansecara
aktif, kegagalan mekanisme pengaturan
e. Perfusi jaringan tidak efektif berhubungan dengan hipoksemia jaringan.
f. PK: Hipoglikemi / PK: Hiperglikem
H. Intervensi
a. Periksa sirkulasi perifer(mis. Nadi perifer, edema, pengisian kalpiler, warna,
suhu, angkle brachial index)
b. Identifikasi faktor resiko gangguan sirkulasi (mis. Diabetes, perokok, orang
tua, hipertensi dan kadar kolesterol tinggi)
c. Monitor panas, kemerahan, nyeri, atau bengkak pada ekstremitas
d. Hindari pemasangan infus atau pengambilan darah di area keterbatasan
perfusi
e. Hindari pengukuran tekanan darah pada ekstremitas pada keterbatasan perfusi
f. Hindari penekanan dan pemasangan torniquet pada area yang cidera
g. Lakukan pencegahan infeksi
DAFTAR PUSTAKA
American Diabetes Association. (2016). Definition of Diabetes Melllitus.
[Link]. diakses tanggal 10 November 2020.
Febrinasari, R. P., Maret, U. S., Sholikah, T. A., Maret, U. S., Pakha, D. N., Maret, U.
S., Putra, S. E., & Maret, U. S. (2020). Buku saku diabetes melitus untuk awam.
November. diakses tanggal 20 November 2020.
IDF. (2019). IDF Diabetes Atlas, 9th edn. Brussels, Belgium. In Atlas de la Diabetes
de la FID.
Putra, I. W. A., & Berawi, K. (2018). Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabetes
Mellitus Tipe 2. Majority, 4(9), 8–12.
[Link] diakses
tanggal 20 November 2020.
WHO. (2020). Definition of Diabetes Mellitus and Prevalence of Diabetes Mellitus.
diakses pada tanggal 20 Januari 2021 di [Link]
diabetes.
Hariani et al. (2020). Hubungan Lama Menderita Dan Komplikasi DM Terhadap
Kualitas Hidup pasien DM Tipe 2 Diwilayah Puskesmas Batua Kota Makassar.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 15 Nomor 1 Tahun 2020.
Utomo Alya Azzahra et al. (2020). Faktor Resiko Diabetes Mellitus Tipe 2:
Systematic Review. Jurnal Kajian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat
Website : [Link] Vol. 01 Nomor 01
Agustus 2020 Hal. 44 – 52.
Muhammad, I. A. (2018). Diabetic Foot Ulcer: Synopsis of the Epidemiology and
Pathophysiology. International Journal of Diabetes and Endocrinology, 3(2),
23. [Link]
Priyanto, (2018). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dengan Perilaku Pencegahan
Kekambuhan Luka Diabetik, Jurnal Ners dan Kebidanan, Volume 5, Nomor 3,
Desember 2018, hlm. 233–240.
Istianah (2019). Mengidentifikasi Faktor Gizi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
di Kota Depok Tahun 2019. Jurnal Kesehatan Indonesia (The Indonesian
Journal of Health), Vol. X, No. 2, Maret 2020.
Widiastuti Linda. (2019). Acupressure Dan Senam Kaki Terhadap Tingkat
Peripheral Arterial Disease Pada Klien Dm Tipe 2. Jurnal Keperawatan
Silampari Volume 3, Nomor 2, Juni 2020.
Nurdin Fitriyanti. (2021). Persepsi Penyakit Dan Perawatan Diri Dengan Kualitas
Hidup Diabetes Mellitus Type 2. Jurnal Keperawatan Silampari Volume 4,
Nomor 2, Juni 2021.
Isnaini, N., & Ratnasari, R. (2018). Faktor Risiko Mempengaruhi Kejadian Diabetes
Tipe Dua. Jurnal Keperawatan Dan Kebidanan Aisyah, 14(1), 59–68.
Fitriani Nasution. (2021). .Faktor Risiko Kejadian Diabetes Mellitus. Jurnal Ilmu
Kesehatan Vol. 9 No.2, Mei 2021
Imelda, S. I. (2019). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Diabetes Melitus
di Puskesmas Harapan Raya Tahun 2018. Scientia Journal, 8(1), 28–39. JOUR.
Kistianita, A. N., Yunus, M., & Gayatri, R. W. (2018). Analisis faktor risiko diabetes
mellitus tipe 2 pada usia produktif dengan pendekatan WHO stepwise step 1
(core/inti) di Puskesmas Kendalkerep Kota Malang. Preventia: The Indonesian
Journal of Public Health, 3(1), 85–108. JOUR.
Mutia, A., & Lubis, R. (2021). Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian
Komplikasi Sirkulasi Perifer Pasien DM Tipe 2 di Rs Haji Medan Tahun 2020
[Link]
Rini, P. S., Apriany, A., & Romadoni, S. (2019). Hubungan antara Usia dan Lama
Menderita DM dengan Kejadian Disfungsi Ereksi (DE) pada Pasien Diabetes
Melitus. Babul Ilmi: Jurnal Ilmiah Multi Science Kesehatan, 11(1), 196–205.
[Link]
Setyawati, A. D., Ngo, T. H. L., Padila, P., & Andri, J. (2020). Obesity and Heredity
for Diabetes Mellitus among Elderly. JOSING: Journal of Nursing and Health,
1(1), 26–31.
[Link]
Usman, J., Rahman, D., Rosdiana, R., & Sulaiman, N. (2020). Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Diabetes Mellitus pada Pasien di RSUD Haji
Makassar. Jurnal Komunitas Kesehatan Masyarakat, 2(1), 16–22. 759-Article
[Link]