100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
15K tayangan6 halaman

Studi Kasus PPG PAUD 2025: Motorik dan Asertif

ppg

Diunggah oleh

LA ODE
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
15K tayangan6 halaman

Studi Kasus PPG PAUD 2025: Motorik dan Asertif

ppg

Diunggah oleh

LA ODE
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1. Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?

2. Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?

3. Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?

4. Pengalaman berharga yang bisa anda petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut?

1. Permasalahan apa yang pernah Anda hadapi?

Permasalahan yang pernah saya hadapi adalah dalam proses


pembelajaran beberapa siswa motorik kasarnya belum berkembang
sesuai dengan yang diharapkan, sehingga siswa mengalami kendala,
siswa cenderung pasif dalam bermain. Misalnya, siswa hanya bisa
berlari dan bermain tapi sulit menangkap dan melempar bola, tetapi
beberapa siswa juga sudah bisa melempar dan menangkap bola
namun masih kaku dan membutuhkan bantuan guru.

2. Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?

Upaya yang saya lakukan dalam menyelesaikan masalah ini adalah


melakukan tes awal untuk melihat perkembangan motorik kasar anak,
kemudian diberikan perlakukan melalui kegiatan bermain yaitu dengan
memberikan berbagai aktivitas permainan seperti lempar tangkap bola
secara berkelanjutan dan terarah.

Melempar merupakan keterampilan manipulative kompleks yang


menggunakan satu atau dua tangan untuk melemparkan suatu benda.
Sedangkan menangkap merupakan keterampilan yang lebih sulit.

Aktivitas permainan memungkinkan anak melepaskan energi fisik yang


berlebihan dan membebaskan perasaan-perasaan yang terpendam.

Salah satu permainan yang saya terapkan adalah permainan lempar


tangkap bola kecil, dimana permainan ini dilakukan dengan
menggunakan bola berukulan kecil dengan cara melempar dan
menangkap bola dengan menggunakan kekuatan tangan kanan dan
kiri.

Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?


Hasil dari upaya tersebut adalah siswa terlihat senang dan menjadi
lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran sehingga siswa perlahan dapat
mengembangkan kemampuan motorik kasarnya melalui permainan
lempar tangkap bola kecil.

Perkembangan aspek motorik kasar ini ada 3, yaitu aspek


keseimbangan, aspek kekuatan dan aspek kelenturan berkembang
individu koordinasi, ukuran tangan, tugas : secepat mungkin, serapi
mungkin, ukuran peralatan. Lingkungan : ketersediaan sumber daya,
dorongan, tekanan teman sebaya.

4. Pengalaman berharga yang bisa anda petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut?

Pengalaman berharga yang bisa saya petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut adalah dalam menentukan tes awal seperti apa
yang harus saya lakukan ntuk mengetahui kemampuan awal motoric
siswa.

Namun semua itu menjadi motivasi saya untuk membuat tes awal yang
baik agar saya dapat menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan
kebutuhan siswa sehingga tujuan pembelajaran tercapai dan
pembelajaran pun menjadi lebih aktif, kreatif dan menyenangkan

1. Permasalahan yang pernah saya hadapi adalah dalam proses


pembelajaran beberapa siswa memiliki keterlambatan motorik
halus yang menyebabkan siswa menjadi rendah diri dan terjadi
rendah kecemburuan, ketergantungan dan muncul rasa
[Link] siswa kesulitan untuk bersosialisasi dengan
teman sebayanya seperti pada saat bermain.

2. Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?

Upaya yang saya lakukan dalam menyelesaikan masalah ini


adalah melakukan tes awal untuk melihat perkembangan motorik
halus siswa, kemudian dengan memberikan stimulus yang tepat
pada yaitu media yang bersifat edukatif, dengan media edukatif
yang tepat dan efektif dapat mengembangkan keterampilan
motorik pada siswa. Salah satunya yaitu melalui buku bertekstur
untuk memberikan stimulus pada motoric halus anak, dengan
media buku ini dapat memperkenalkan anak terhadap media
pengetahuan dan pembiasaan terhadap buku. Selain itu juga bisa
menggunakan Puzzle, Play Doh, menggambar dan membuat
karya dengan kertas origami.

3. Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?


Hasil dari upaya tersebut adalah siswa terlihat senang dan
menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran mampu
bersosialisasi dengan teman sebayanya.
Melalui media buku bertekstur dapat memberikan stimulus pada
perkembangan motorik halus anak dengan memberikan tekstur-
tekstur yang berbeda pada setiap objeknya untuk disentuh,
seperti penyajian gambar yang informative sesuai dengan tema
yang terdapat dalam buku seperti hewan buah, bunga, dan
sebagainya.

4. Pengalaman berharga yang bisa anda petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut?
Pengalaman berharga yang bisa saya petik ketika menyelesaikan
permasalahan tersebut adalah dalam membuat atau mencari
buku bertekstur, karena sekolah saya berada di pedesaan
sehingga sangat susah ditemui toko buku bertekstur tetapi itu
bukanlah sebuah permasalahan yang rumit. Karena serumit tidak
harus ke toko buku offline, tetapi kita juga membelinya di toko
buku online atau bisa membuatnya sendiri.

1. Permasalahan apa yang pernah anda hadapi?

Permasalahan yang pernah saya hadapi adalah kemampuan


kreativitas pada anak belum berkembang secara optimal.

Beberapa anak masih dibantu oleh guru kelasnya baik ketika


menggunting dan menempel maupun melipat. Bermain seni melipat
dapat mengembangkan kemampuan fisik motorik tertutama motorik
halus.

2. Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?

Upaya yang saya lakukan dalam menyelesaikan masalah ini adalah


melakukan tes awal untuk melihat perkembangan motorik halus anak
melalui kegiatan pembelajaran dengan menggunakan permainan
Mozaik kertas.
Kemudian saya menerapkan rancangan pembelajaran yang menarik
yaitu kegiatan pembelajaran menggunakan permainan Papercraft.

Saat bermain Papercraft, anak membuat lipatan menjadi dua atau lebih
lipatan kertas, sehingga setiap anak belajar mengenal berbagai bentuk
ukuran yang tepat dan benar.

Papercraft dapat menstimulasi anak untuk berpikir kreatif dimana


muncul ide-ide baru dan model baru dari hasil karya yang dibuatnya.

3. Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?

Hasil dari upaya tersebut adalah siswa terlihat senang dan menjadi
lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan dapat mengembangkan
kemampuan kreativitasnya.

Melalui media Papercraft ini mampu menstimulasi kreativitas berpikir


anak, karena pengalaman bermain anak yang seru dan imajinatif
sehingga anak mampu melakukan bermain peran agar menghasilkan
ide yang baru serta inovasi dalam proses bermain.

4. Pengalaman berharga yang bisa anda petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut?

Pengalaman berharga yang bisa saya petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut adalah dalam membuat contoh media
Papercraft kita sebagai guru harus meluangkan waktu lebih untuk
menerapkan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan
anak.

Namun itu bukanlah masalah yang berarti, saya menjadi tambah


wawasan dalam menyelesaikan permasalahan tersebut salah satunya
yaitu dengan cara membuat media Papercraft ini.

1. Permasalahan apa yang pernah anda hadapi?

Permasalahan yang pernah saya hadapi adalah beberapa anak


memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara jujur, tegas, dan lugas,
namun tetap menghargai perasaan orang lain (kemampuan asertif) yang
kurang sehingga menghambat komunikasi dan sosialisasinya.
Kemampuan asertif sendiri adalah perilaku yang terbuka, jujur akan
perasaannya, keinginannya dengan cara proporsional dan tetap
menghargai hak orang lain.

Perilaku asertif yang tidak sesuai tentunya dapat menimbulkan


masalah termasuk mudah merasa takut, ragu-ragu, sering merasa
tertekan, dan merasa tidak nyaman saat berinteraksi dengan teman
karena kesulitan dalam mengkomunikasikan emosi.

2. Bagaimana upaya Anda untuk menyelesaikannya?

Upaya yang saya lakukan dalam menyelesaikan masalah ini adalah


menguraikan beberapa langkah dalam latihan asertif diantaranya yaitu
dengan merumuskan strategi rasional, mengidentifikasi kondisi anak,
membedakan perilaku asertif dan yang tidak, mengeksplorasi tujuan,
berpartisipasi dalam permainan peran, menerima umpan balik,
melaksanakan latihan praktek, mengulang latihan, memberikan tugas
rumah dan tindak lanjut serta menyelesaikan proses latihan.

Selain itu dengan menerapkan penguatan positif seperti


memperkenalkan kepada anak perilaku yang dianggap pantas dan
tepat, dan perilaku yang sebaiknya dihindari. Bisa juga dilakukan
dengan permainan roda emosi sebagai metode intervensi yang
diberikan kepada siswa agar dapat meningkatkan kemampuan asertif
anak.

3. Apa hasil dari Upaya Anda tersebut?

Hasil dari upaya tersebut adalah anak sudah bisa mengungkapkan


dengan jelas apa yang diinginkan. Seperti minta tolong diambilkan
baju, dan anak juga sudah bias mengatakan terimakasih. Anak juga
sudah bisa membela dirinya ketika ada teman yang mengambil
makanannya, seperti “itu punyaku, ijin dulu kalau mau minta”. Anak-
anak mengalami kemajuan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi
dengan teman sekelasnya. Anak lebih percaya diri, dan mau
bergabung dengan temannya, anak juga mulai berani menyampaikan
pendapatkan ketia membuat proyek.

4. Pengalaman berharga yang bisa anda petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut?

Pengalaman berharga yang bisa saya petik ketika menyelesaikan


permasalahan tersebut adalah dalam menerapkan permainan roda
emosi, dimana beberapa anak yang belum memiliki kemampuan asertif
menjadi diam dan tiba-tiba menangis Namun setelah diberi afirmasi
positif dan guru terus mendampingi dalam permainan roda emosi,
bermain peran, mengajak anak berbicara dan bercerita agar anak bisa
mengungkapkan dengan jujur apa yang dia rasa. Sehingga membantu
anak agar dapat menyampaikan pendapatnya.*

Common questions

Didukung oleh AI

The initial assessment of motor skills influences the educational approach by providing valuable baseline data on each child's abilities, allowing educators to tailor interventions and select appropriate activities that align with individual needs. This informed approach ensures that pedagogical strategies are effective in addressing specific skill gaps and promoting overall development .

Play activities can be tailored to enhance both gross and fine motor skills by incorporating elements that require both large movements and precise manipulation. For example, games involving throwing and catching with varied ball sizes can develop gross motor skills, while simultaneous tasks such as aiming or using small tools during play can refine fine motor skills .

Educators learn that resource creativity and adaptability are critical when addressing sensory development issues in resource-constrained environments. The ability to either procure materials online or create homemade textured books can overcome physical resource limitations, demonstrating that innovative solutions and flexibility in teaching strategies can yield effective outcomes .

To address the problem of underdeveloped gross motor skills, strategies include initially conducting a pre-assessment to gauge the current level of motor skills, followed by structured and ongoing play activities like throwing and catching balls. These activities enhance coordination, balance, and flexibility by allowing students to release excess physical energy and improve manipulative skills .

Emotional awareness activities have a significant impact on children's social interaction skills, as these exercises help children recognize and express their emotions effectively, leading to more confident social engagements. Activities like emotion-based games enable children to explore and communicate their feelings, thus enhancing their ability to interact clearly and assertively with peers .

Benefits of integrating Papercraft include enhanced creativity, improved fine motor skills, and stimulation of cognitive and problem-solving abilities in students. Challenges involve time constraints for teachers to prepare adequate resources and the need to align these activities with curriculum standards while maintaining their educational value .

Papercraft enhances creativity by stimulating imaginative play and provoking thought through hands-on activities that require cutting, folding, and assembling paper into various forms. This process encourages children to develop new ideas and models, fostering both cognitive and creative skills through experiential learning .

Key challenges in improving assertive communication include children's difficulty in expressing emotions and fear of social interactions, which can be addressed by implementing assertiveness training through role-play, positive reinforcement, and emotional games. These methods help distinguish assertive from non-assertive behaviors, foster self-expression, and encourage social engagement. Children's ability to articulate needs and feelings, such as asking for help or defending themselves, improves with practice .

Textured books and educational media contribute to fine motor skills by providing tactile stimuli that engage a child's sense of touch, thus enhancing sensory discrimination and hand coordination. Different textures and images related to specific themes, such as animals or fruits, help familiarize children with diverse surfaces and improve manual dexterity .

Teaching assertiveness differs from general communication skills by emphasizing clear and respectful expression of personal needs and emotions. This nuanced approach enables children to communicate confidently and maintain healthy social interactions. Specific benefits include improved self-esteem, conflict resolution abilities, and adaptability in social settings, as children learn to articulate their perspectives while respecting others' rights .

Anda mungkin juga menyukai