-->
By Zenius Untuk Guru on
February 3, 2022
0
Model Pembelajaran Discovery Learning – Zenius
untuk Guru
Halo Bapak dan Ibu Guru, pernahkah menemukan sendiri strategi
pembelajaran yang sesuai kondisi kelas? Pastinya, strategi itu akan selalu
diingat karena melalui proses pencarian yang aktif selama mengajar.
Ngomong-ngomong soal penemuan, ternyata ada satu model
pembelajaran yang fokusnya untuk menemukan fakta dan
menghubungkannya dengan materi pelajaran yaitu discovery
learning (pembelajaran penemuan).
Saat siswa memanfaatkan pengetahuan yang ada dan pengetahuan baru
untuk menemukan ide-ide tentang suatu topik, artinya mereka
menjalankan prinsip pembelajaran penemuan.
Kalau siswa menemukan sendiri pengetahuannya, bagaimana peran guru
dalam pembelajaran? Yuk, berkenalan dengan model discovery learning.
Daftar Isi
Apa Itu Discovery Learning?
o Mengenal Bruner, Sosok di Balik Discovery Learning
o Karakteristik Discovery Learning
Langkah-langkah Discovery Learning
Contoh Discovery Learning
Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning
Apa Itu Discovery Learning?
Bruner dalam Sariani et al. (2021) menyatakan kalau discovery learning
adalah proses pencarian pengetahuan yang dilakukan oleh siswa untuk
menemukan suatu pemecahan masalah atau fakta. Dengan kata lain,
siswa berusaha sendiri untuk mencari pengetahuannya demi
menghasilkan pembelajaran
Aktivitas siswa dalam model discovery learning. (Arsip Zenius)
Dalam model pembelajaran ini, guru tidak mengajarkan materi dengan
cara hafalan tetapi memfasilitasi proses pembelajaran. Artinya, kita
merancang pembelajaran yang membantu siswa untuk menemukan
hubungan antara potongan-potongan informasi.
Baca Juga: Metode Mengajar yang Efektif Sesuai Kebutuhan Siswa
Mengenal Bruner, Sosok di Balik Discovery Learning
Kalau Bapak dan Ibu Guru perhatikan, pembelajaran penemuan erat
kaitannya dengan tokoh yang bernama Jerome S. Bruner.
Sebagai ahli psikologi perkembangan dan psikologi belajar kognitif, Bruner
berpendapat bahwa discovery learning adalah tempat bagi siswa
membangun ide atau konsep baru berdasarkan pengetahuan yang ada.
Bruner mengatakan kalau belajar adalah cara untuk mempertahankan
dan mentransformasikan informasi secara aktif. Dibandingkan diberitahu
oleh guru, siswa akan lebih mengingat pengetahuannya saat menemukan
dan mengidentifikasinya sendiri.
Nah, untuk menerapkan pembelajaran penemuan, ada karakteristik yang
harus diperhatikan, nih. Apa saja ya?
Karakteristik Discovery Learning
Discovery learning berfokus pada siswa. (Dok. Unsplash)
Ada beberapa ciri khusus yang membedakan discovery learning dengan
model pembelajaran lainnya, yaitu:
Pembelajaran dilakukan melalui proses eksplorasi dan pemecahan
masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan
menggeneralisasi pengetahuan.
Kegiatan pembelajaran berfokus pada siswa.
Proses belajar menghubungkan pengetahuan baru dan
pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.
Terlihat jelas ya, bahwa pembelajaran penemuan fokusnya pada proses
penemuan dan pengidentifikasian yang dilakukan siswa sendiri.
Baca Juga: Mengenal Metode Project Based Learning
Langkah-langkah Discovery Learning
Setelah paham karakteristiknya, ada enam langkah yang bisa dilakukan
untuk menerapkan discovery learning menurut Veerman dalam Susana
(2019), dengan penjelasan sebagai berikut:
1. Orientasi
Minta siswa untuk mengidentifikasi permasalahan yang relevan
dengan materi pelajaran. Langkah ini melatih kemampuan
interpretasi, analisis, dan evaluasi siswa pada aspek kemampuan
berpikir kritis.
2. Hipotesis Umum
Siswa merumuskan hipotesis terkait permasalahan yang ditemukan
pada tahap orientasi. Mereka menyusun masalah dan mencari tujuan
dari proses pembelajaran yang kemudian diujikan pada tahap
percobaan.
3. Pengujian Hipotesis
Selanjutnya, siswa harus merancang dan melaksanakan eksperimen
untuk membuktikan hipotesis yang telah dirumuskan,
mengumpulkan data dan mengkomunikasikan hasil dari eksperimen.
Langkah ini melatih kemampuan siswa dalam regulasi diri, evaluasi,
analisis, interpretasi, dan menjelaskan suatu permasalahan.
4. Penarikan Kesimpulan
Dari pengujian hipotesis, siswa merumuskan fakta-fakta dan
mengidentifikasi kesesuaiannya dengan hipotesis umum yang
sebelumnya sudah disusun. Di tahap ini, siswa membenarkan atau
mengganti hipotesis awal dengan hipotesis yang baru.
5. Regulasi
Langkah terakhir dalam pembelajaran penemuan berkaitan dengan
proses perencanaan, pengawasan, dan evaluasi. Guru
mengkonfirmasi kesimpulan dan mengklarifikasi hasil penemuan
yang tidak sesuai dengan proses pembelajaran.
Hal terpenting yang perlu Bapak dan Ibu Guru perhatikan dalam
penerapan discovery learning adalah memberikan kesempatan yang
besar bagi siswa untuk menemukan dan menggali pengetahuannya
sendiri.
Baca Juga: Metode Flipped Learning untuk Melatih Kemandirian Siswa
Contoh Discovery Learning
Ada banyak cara untuk menerapkan model pembelajaran penemuan,
salah satunya dalam pembelajaran Matematika untuk konsep bilangan
prima.
Minta siswa untuk meletakkan kacang di baris dan kolom. Dalam
prosesnya, siswa akan menemukan angka-angka tertentu di mana kacang
tidak bisa ditata dalam baris dan kolom lengkap karena ada satu yang
terlalu banyak atau sedikit. Dengan begitu, mereka akan menemukan
sendiri konsep bilangan prima.
Contoh kegiatan discovery learning. (Arsip Zenius)
Contoh discovery learning lainnya adalah saat siswa diminta untuk
menemukan sendiri bagaimana lilin bekerja. Mereka akan melakukan
pengamatan sederhana, kemudian membuat ide dan hipotesis yang akan
diuji. Di sini, guru berperan untuk mendukung pembelajaran, lalu
menjelaskan pembakaran dalam Kimia berdasarkan hasil penemuan
siswa.
Kegiatan-kegiatan di atas mendorong keterlibatan siswa secara aktif,
memotivasi mereka dalam belajar, mengembangkan kreativitas dalam
pemecahan masalah, dan memberikan pengalaman belajar yang baru.
Meskipun dinilai sebagai model pembelajaran aktif yang efektif, discovery
learning tentunya mempunyai beberapa kekurangan. Simak kelebihan
dan kekurangannya di bawah ini.
Baca Juga: Eksperimen Sains Sederhana Agar Belajar Jadi Lebih Seru
Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning
Discovery learning bisa diterapkan dalam proses pembelajaran karena
memiliki beberapa kelebihan, di antaranya:
Mendorong keaktifan siswa dalam pembelajaran untuk menemukan
hasil akhir.
Pengetahuan yang ditemukan sendiri oleh siswa melalui proses
kognitif akan masuk ke memori jangka panjang sehingga akan
bertahan lama dalam ingatan mereka.
Pengetahuan yang dipelajari akan lebih mudah digunakan kembali.
Meningkatkan kemampuan siswa dalam penalaran dan berpikir
sistematis.
Di balik kelebihannya, discovery learning punya
beberapa kekurangan yang harus kita hindari, yaitu:
Tidak semua mata pelajaran dan materi dapat diajarkan
menggunakan pembelajaran penemuan.
Model pembelajaran kurang mengembangkan aspek konsep,
keterampilan, dan emosi secara keseluruhan karena lebih berfokus
pada menciptakan pemahaman siswa.
Tidak semua siswa bisa diajak kerjasama untuk melakukan proses
berpikir dalam pembelajaran yang diharapkan.
Demikian penjelasan tentang discovery learning yang memungkinkan
siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan barunya. Apakah Bapak
dan Ibu Guru tertarik untuk menerapkan model pembelajaran ini di kelas?
Penerapan discovery learning juga bisa dimanfaatkan bersama fitur-
fitur Zenius untuk Guru (ZenRu). Siswa bisa mempelajari sendiri video
materi dan latihan soal yang Bapak dan Ibu Guru bagikan di kelas virtual.
Ada juga fitur penilaian yang memudahkan pelaporan hasil belajar siswa.