0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Pembelajaran Kontekstual untuk Guru

CTL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan9 halaman

Pembelajaran Kontekstual untuk Guru

CTL
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

-->

 By Zenius Untuk Guru on


 January 20, 2022
 0
Pembelajaran Kontekstual dan Kenyataan – Zenius
untuk Guru

Halo Bapak dan Ibu Guru, bagaimana kegiatan pembelajarannya? Semoga


kita bisa terus semangat untuk memberi pembelajaran yang bermakna ke
siswa ya.
Supaya semangatnya menular ke siswa, kita bisa menerapkan model
pembelajaran yang menyenangkan dan menarik perhatian mereka, salah
satunya adalah pembelajaran kontekstual.

Pembelajaran kontekstual, dikenal juga dengan Contextual Teaching and


Learning (CTL), membuat siswa menjadi lebih aktif sebab mereka
berusaha mempelajari konsep sekaligus menerapkan dan mengaitkannya
ke dunia nyata. Model pembelajaran ini merangsang otak untuk
menyusun pola-pola yang akhirnya membentuk makna.

Sekarang, mari kita bahas bersama tentang pembelajaran kontekstual


agar Bapak dan Ibu Guru bisa coba menerapkannya di kelas.

Daftar Isi
 Apa Itu Pembelajaran Kontekstual?
o Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
o 7 Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual
 Strategi Pembelajaran Kontekstual
 Contoh Penerapan Pembelajaran Kontekstual

Apa Itu Pembelajaran Kontekstual?

Menurut Al-Tabany dalam Mendesain Model Pembelajaran Inovatif,


Progresi, dan Kontekstual (2017), pembelajaran kontekstual adalah model
pembelajaran yang membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran
dengan situasi yang ada di dunia nyata, dan memotivasi siswanya untuk
mencari tahu hubungan antara pengetahuan dan penerapannya.

Pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa untuk memperkuat dan


menerapkan pengetahuannya di dunia nyata. Prosesnya menekankan
pada pemikiran kritis, pengumpulan, penganalisaan, serta penafsiran
informasi dari berbagai sumber dan pandangan.

Jadi, pembelajaran tidak hanya fokus pada pemberian pengetahuan


teoritis, tapi juga pada proses keterlibatannya untuk menemukan materi
serta menghubungkannya dengan situasi di kehidupan nyata.

Terus, bagaimana cara membedakan pembelajaran kontekstual dengan


model pembelajaran lainnya? Nah, kita bisa melihatnya dari karakteristik
yang dimiliki. Simak di bawah ini ya.

Baca Juga: Mengenal Character Building , Proses Membentuk Karakter


Siswa
Karakteristik Pembelajaran Kontekstual

Dalam Pembelajaran Terpadu (2020), disebutkan ada lima karakteristik


penting dalam proses pembelajaran kontekstual, yaitu:

 Pembelajaran merupakan proses pengaktifan pengetahuan yang


sudah ada, artinya pengetahuan yang akan dan sudah dipelajari
saling berkaitan satu sama lain.

 Kegiatan belajar mengajar bertujuan untuk memperoleh dan


menambah pengetahuan baru.

 Pengetahuan yang diperoleh bukan untuk dihafal, tapi untuk


dipahami dan diyakini.

 Pengetahuan dan pengalaman yang didapatkan harus diterapkan


dalam kehidupan nyata.

 Adanya refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan


sebagai umpan balik untuk proses perbaikan dan penyempurnaan.
7 Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual

Tujuh komponen pembelajaran kontekstual. (Arsip Zenius)

Selain karakteristik, pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh


komponen utama yang harus kita kembangkan dalam proses
penerapannya.

1. Konstruktivisme
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir dalam pembelajaran
kontekstual, di mana pengetahuan dibangun oleh manusia secara
perlahan dan hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas.
Karena itu, strategi dalam pembelajaran kontekstual lebih
menekankan siswa untuk mencari sendiri pengetahuannya lewat
keterlibatan aktif di kelas dan menemukan cara untuk
menghubungkan konsep dengan kenyataan.

2. Menemukan
Proses menemukan adalah kegiatan inti dari pembelajaran
kontekstual. Lewat proses ini, siswa akan mengetahui bahwa
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan lainnya bukan hanya
hasil dari mengingat, tapi juga hasil dari menemukan sendiri.

3. Bertanya
Pada dasarnya, pengetahuan seseorang dimulai dari pertanyaan.
Dalam penerapannya, kita harus memfasilitasi siswa untuk bertanya
dan menggunakan pertanyaan yang diberikan untuk mendorong
peningkatan kualitas dan produktivitas pembelajaran.

Kegiatan bertanya juga berguna untuk menggali informasi,


mengecek pemahaman siswa, membangkitkan respon siswa
terhadap pembelajaran, mengetahui sejauh mana keinginan siswa,
memfokuskan perhatian, dan menyegarkan kembali pengetahuan
yang sudah dimiliki siswa.

4. Masyarakat Belajar
Konsep masyarakat belajar artinya membiasakan siswa untuk
mendapatkan pengetahuan melalui proses kerjasama dengan orang
lain. Dengan berbagi pengalaman antar teman atau kelompok, siswa
akan terbiasa untuk saling memberi dan menerima pendapat,
gagasan, serta umpan balik.

5. Pemodelan
Dalam pembelajaran, perlu adanya model yang bisa ditiru oleh siswa
contohnya guru yang memodelkan langkah-langkah penggunaan
neraca. Sebenarnya, model tidak hanya datang dari kita tapi bisa
juga dirancang dengan melibatkan siswa. Misalnya, minta seorang
siswa untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang
diketahuinya.

6. Refleksi
Refleksi adalah cara berpikir ke belakang tentang apa yang sudah
dilakukan, dikerjakan, atau dipelajari sebelumnya. Pada saat refleksi,
siswa diberi kesempatan untuk mencerna, menimbang,
membandingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya
sendiri. Dengan begitu, siswa bisa mengetahui sesuatu yang
berguna bagi dirinya tentang apa yang baru dipelajari.

7. Penilaian Sebenarnya
Komponen terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah penilaian
yang berfungsi untuk mendapatkan informasi dari proses dan hasil
pembelajaran. Lewat penilaian, kita bisa mengetahui kemajuan,
kemunduran, dan kesulitan siswa dalam belajar, serta nantinya
mempunyai kemudahan untuk melakukan perbaikan dan
penyempurnaan proses belajar selanjutnya.
Setiap komponen di atas harus di kembangkan lewat pembelajaran yang
lebih bermakna. Misalnya, arahkan siswa untuk menemukan sendiri
pengetahuan barunya dengan mengembangkan rasa ingin tahu mereka
melalui pertanyaan.

Supaya makin paham, berikut ini adalah strategi yang bisa dilakukan
untuk menerapkan model pembelajaran kontekstual.

Baca Juga: 6 Tips Membuat Pembelajaran Kreatif

Strategi Pembelajaran Kontekstual

Secara sederhana, Hernowo dalam Rulviana dan Kadarwati (2020)


menjelaskan langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk menerapkan
pembelajaran kontekstual.

Contoh penerapan strategi pembelajaran kontekstual. (Dok. Freepik)

1. Kaitkan setiap materi pelajaran dengan seorang tokoh terkenal yang


berkaitan dengan mata pelajaran tersebut.

2. Ceritakan riwayat hidup atau perjalanan tokoh dalam mencapai


kesuksesan melalui ilmu yang dimilikinya.
3. Berdasarkan pengalaman tokoh, tunjukkan ke siswa manfaat yang
jelas mengenai ilmu yang sedang atau akan mereka pelajari.

4. Upayakan agar ilmu-ilmu yang siswa pelajari bisa memotivasi


mereka untuk menerapkannya di kehidupan sehari-hari, seperti
tokoh yang diceritakan di awal.

5. Berikan kebebasan pada siswa untuk menemukan cara belajarnya


sendiri.

6. Biarkan siswa mengekspresikan emosinya dengan bebas.

7. Bimbing siswa untuk menggunakan emosi yang ada di setiap


pembelajaran agar lebih bermakna.

Baca Juga: Learning Loss, Kemunduran dalam Proses Belajar Siswa

Contoh Penerapan Pembelajaran Kontekstual

Berikut ini adalah contoh penerapan pembelajaran kontekstual dalam


kelas yang mengutamakan pengalaman dan konteks nyata dalam
kehidupan sehari-hari.
Proses pembelajaran kontekstual dalam materi bencana banjir. (Arsip Zenius)

Gunakan media koran sebagai sumber belajar. Mintalah siswa kita untuk
membuat kliping gambar yang menunjukkan kondisi banjir di beberapa
daerah. Secara berkelompok, ajak siswa untuk melakukan pengamatan
yang bertujuan menjawab pertanyaan, “kenapa di lingkungan tersebut
sering terjadi banjir?”. Di tahap ini, siswa berusaha untuk menemukan
penyebab masalah, mengklasifikasikannya, dan mencari solusi dari
permasalahan tersebut.

Setelah semua data terkumpul, secara bergantian siswa akan


mempresentasikan hasil pekerjaannya. Dalam sesi ini, kelompok atau
siswa lain boleh memberikan pertanyaan atau tanggapan terkait hasil
pengamatan yang dilakukan temannya.
Dari contoh kegiatan di atas, siswa bisa mengenali penyebab-penyebab
banjir yang mereka temui di berita koran serta merancang pemecahan
masalahnya. Karena proses penemuan ilmu baru dilakukan secara
mandiri, siswa akan lebih mudah memahami dan menerapkannya di
kehidupan nyata.

Setelah mengetahui lebih dalam tentang pembelajaran kontekstual,


apakah Bapak dan Ibu Guru tertarik untuk menerapkannya di kelas?

Untuk meningkatkan pemahaman siswa akan materi, kamu juga bisa nih
manfaatkan ratusan ribu video materi pelajaran yang ada di Zenius.
Dengan fitur-fitur Zenius untuk Guru (ZenRu), kamu bisa membagikan
video materi, latihan soal, dan melakukan penilaian secara lebih mudah.
Kegiatan belajar mengajar pastinya jadi lebih efektif.

Anda mungkin juga menyukai