6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Pemasaran
1. Pengertian Pemasaran
Inti dari pemasaran (marketing) adalah mengidentifikasi dan memenuhi
kebutuhan manusia dan sosial. Definisi pemasaran menurut American
Marketing Association (AMA) dalam Kotler dan Keller (2009:5) adalah fungsi
organisasi dan serangkaian proses untuk menciptakan, mengkomunikasikan,
dan memberikan nilai kepada pelanggan dan untuk mengelola hubungan
pelanggan dengan cara yang menguntungkan organisasi dan pemangku
kepentingan.
Assauri (2010:5) mendefinisikan pemasaran sebagai kegiatan manusia
yang diarahkan untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan dan keinginan
melalui proses pertukaran. Sedangkan Swastha (2009:7) mengartikan
pemasaran sebagai suatu kegiatan usaha yang mengarahkan aliran barang dan
jasa dari produsen kepada konsumen atau pemakai.
Pemasaran menurut Kotler dan Keller (2009:5) adalah memenuhi
kebutuhan dengan cara yang menguntungkan. Selain menjual suatu produk
atau jasa, proses pemasaran juga mencakup kegiatan-kegiatan lain seperti
menciptakan pemuas kebutuhan dan keinginan pelanggan baik itu pelanggan
lama atau calon pelanggan. Kegiatan pemasaran perusahaan harus dapat
6
7
berjalan secara terus-menerus dan konsumen memiliki pandangan yang baik
terhadap perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu untuk selalu
menganalisa dan menafsirkan segala sesuatu yang terjadi di pasar agar
perusahaan dapat menciptakan cara serta dapat menguatkan kepuasan
konsumen.
2. Bauran Pemasaran
Strategi pemasaran merupakan cara yang digunakan untuk mencapai
sasaran pemasaran dan umumnya berkaitan dengan empat elemen utama yang
disebut marketing mix (bauran pemasaran). Marketing mix atau bauran
pemasaran menurut Swastha (2009:42) adalah kombinasi dari empat variabel
atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan yaitu
produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi.
Empat elemen marketing mix (bauran pemasaran) dalam strategi
pemasaran dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Produk (Product)
Pengertian produk menurut Kotler dan Keller (2009:4) adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan kedalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan suatu
keinginan/semua kebutuhan. Sedangkan menurut Kotler dalam Mursid
(2010:70), produk adalah hasil akhir yang mengandung elemen-elemen
fisik, jasa, dan hal-hal yang simbolis yang dibuat dan dijual oleh
perusahaan untuk memberikan kepuasan dan keuntungan bagi pembelinya.
8
Jadi produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan pasar
untuk mendapatkan perhatian untuk dimiliki dan digunakan yang meliputi
barang fisik, kepribadian, tempat, organisasi dan gagasan. Produk dapat
digunakan sebagai sarana untuk mencapai sasaran perusahaan. Untuk itu
perusahaan seharusnya menghasilkan produk-produk yang akan dihasilkan
sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen sasarannya sehingga
konsumen akan melakukan pembelian dan perusahaan akan memperoleh
pendapatan dari penjualan produk tersebut.
b. Harga (Price)
Swastha (2009:147) memberikan pengertian tentang harga yaitu
jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan
untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanan.
Sedangkan pengertian harga menurut Kotler dan Armstrong (2007:79)
adalah jumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh
suatu produk.
Harga suatu produk seringkali dijadikan referensi oleh konsumen
dalam menilai kualitas suatu produk. Konsumen mempersepsikan suatu
produk berkualitas tinggi karena produk tersebut dipasarkan dengan harga
yang tinggi, sebaliknya bila suatu produk mempunyai kualitas kurang baik,
sulit dijual dengan harga tinggi. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
harga merupakan suatu pengorbanan yang harus dilakukan konsumen
untuk mendapatkan kualitas yang dipersepsikan konsumen.
9
c. Distribusi (Place)
Dalam rangka kegiatan mempelancar arus barang dari produsen ke
konsumen, maka salah satu faktor penting yang harus adalah memilih
secara tepat saluran distribusi yang akan digunakan. Pengertian saluran
distribusi menurut Mursid (2010:85) adalah semua kegiatan yang
berhubungan dengan usaha untuk menyampaikan barang-barang hasil
produksi suatu perusahaan dari produsen kepada para pembeli atau kepada
calon konsumen.
Saluran distribusi ibarat urat nadi kehidupan bagi perusahaan.
Kendala dalam pemilihan saluran distribusi dapat mengganggu kelancaran
perkembangan perusahaan. Saluran distribusi yang terlalu panjang
menyebabkan mata rantai yang ikut dalam kegiatan pemasaran, hal ini
berarti bahwa kemungkinan penyebaran barang produksi secara luas tetapi
sebaliknya menimbulkan biaya yang lebih besar sehingga menyebabkan
harga yang mahal sampai ke konsumen ataupun keuntungan perusahaan
kecil dalam penghasilannya. Sebaliknya saluran distribusi yang terlalu
pendek kurang efektif untuk penyebarluasan tetapi karena mata rantai
pemasaran lebih pendek maka biaya produksi dapat ditekan sehingga
harga sampai ke konsumen dapat lebih rendah.
d. Promosi (Promotion)
Setelah perusahaan selesai memproduksi suatu barang yang sesuai
dengan kebutuhan dan selera konsumen, perusahaan kemudian
memberitahukan kepada konsumen tentang keberadaan produk tersebut
10
dan karakteristiknya. Dalam hal ini kegiatan promosi sangat penting
dilakukan untuk tujuan pemasaran secara keseluruhan yang direncanakan,
diarahkan dan dikendalikan dengan baik, sehingga diharapkan dapat
meningkatkan penjualan.
2.1.2 Promosi
1. Pengertian Promosi
Suatu produk betapapun bermanfaat akan tetapi jika tidak dikenal oleh
konsumen, maka produk tersebut tidak akan diketahui manfaatnya dan
mungkin tidak dibeli oleh konsumen (Assauri, 2010:200). Oleh karena itu,
perusahaan harus berusaha mempengaruhi konsumen untuk menciptakan
permintaan atas produk itu kemudian dipelihara dan dikembangkan. Usaha
tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan promosi. Kegiatan promosi yang
dilakukan oleh perusahaan merupakan penggunaan kombinasi yang terdapat
dalam unsur-unsur atau peralatan promosi yang mencerminkan pelaksanaan
kebijakan promosi dari perusahaan tersebut.
Pengertian promosi menurut Assauri (2010:264) adalah penggunaan
kombinasi yang terdapat dalam unsur-unsur atau peralatan promosi yang
mencerminkan pelaksanaan kebijakan promosi dari perusahaan tersebut”.
Sedangkan pengertian promosi menurut Swastha (2009:237) adalah arus
informasi atau persuasi satu arah untuk mengarahkan seseorang atau organisasi
kepada tindakan yang menciptakan pertukaran di dalam pemasaran.
11
Promosi juga merupakan kegiatan yang dilakukan perusahaan untuk
melengkapi strategi pemasaran, dengan memberikan informasi kepada
konsumen tentang kegunaan, ciri-ciri produk, jasa yang disediakan. Disamping
itu dengan promosi perusahaan berusaha meyakinkan konsumen tentang
keunggulan dan kegunaan dari produk ditawarkan.
2. Bauran Promosi (Promotion Mix)
Variabel-variabel yang ada dalam promotion mix menurut Swastha
(2009:350) ada 4 (empat) yaitu
a. Periklanan
Periklanan atau advertising merupakan suatu bentuk dorongan yang tidak
bersifat pribadi, untuk meningkatkan permintaan barang dan jasa.
Periklanan atau advertising merupakan komunikasi yang dilakukan oleh
sponsor dan bersifat massal karena menggunakan media massa seperti
televisi, surat kabar, radio dan sebagainya.
b. Personal Selling
Personal selling merupakan presentasi lisan melalui percakapan langsung
dengan satu calon pembeli atau lebih yang ditujukan untuk menciptakan
penjualan. Jadi personal selling merupakan interaksi secara langsung antara
pihak penjual dengan calon pembeli yang tujuannya untuk menciptakan
transaksi atau penjualan.
c. Publisitas
Publisitas merupakan dorongan permintaan secara non pribadi untuk suatu
jenis produk, jasa ataupun ide dengan mempergunakan berita komersial
12
dalam media masa dimana sponsor tidak dibebani sejumlah bayaran secara
langsung. Menurut pendapat dari Basu Swastha (2011 : 273) publisitas
adalah sejumlah informasi tentang seseorang barang atau organisasi yang
disebar luaskan ke masyarakat melalui media tanpa dipungut biaya atau
tanpa pengawasan dari sponsor.
d. Promosi Penjualan
Promosi penjualan adalah kegiatan-kegiatan pemasaran selain personal
selling, periklanan dan publisitas yang mendorong efektivitas pembelian
konsumen dan pedagang dengan menggunakan alat-alat seperti peragaan,
pameran, demonstrasi dan sebagainya.
2.1.3 Iklan
1. Pengertian Periklanan
Hermawan (2012:72) mengatakan bahwa faktor kunci utama periklanan
adalah iklan harus menggugah perhatian calon konsumen terhadap produk atau
jasa yang ditawarkan perusahaan. Para konsumen potensial dibuat untuk
memperhatikan dan peduli terhadap produk yang memberikan manfaat
kepadanya yang akan memberikan alasan bagi konsumen untuk membeli.
Periklanan juga penting untuk menghubungkan konsumen yang sudah ada dan
mengingatkan mereka akan alasan dalam memilih produk yang diiklankan.
Konsumen yang sudah ada tetap menjaga hubungan dengan produk dan jasa
terbaru yang tersedia bagi mereka, dengan mengingatkan keberadaan produk
secara intensif.
13
Periklanan menurut Lupiyoadi (2013:178) merupakan salah satu bentuk
dari komunikasi impersonal (impersonal communication) yang digunakan oleh
perusahaan dalam mengkomunikasikan produknya, baik barang maupun jasa.
Sedangkan menurut Assauri (2010:272) periklanan atau advertising adalah cara
untuk mempromosikan barang atau jasa yang dibiayai oleh sponsor yang
dikenal, dalam rangka untuk menarik calon konsumen guna melakukan
pembelian sehingga dapat meningkatkan penjualan produk perusahaan.
Masyarakat perlu diberitahu siapa (sponsor) yang bertindak melalui
media iklan tersebut. Dalam hal ini pihak sponsor membayar kepada media
yang membawakan berita itu. Kegiatan periklanan adalah suatu alat untuk
membuka komunikasi dua arah antara penjual dan pembeli, sehingga keinginan
mereka dapat terpenuhi dalam cara yang efisien dan efektif, dalam hal ini
komunikasi dapat menunjukkan cara-cara untuk mengadakan pertukaran yang
saling memuaskan.
Mursid (2010:98) mengatakan bahwa media apapun yang telah
ditetapkan sehubungan dengan pemilihan media yang paling cocok untuk
periklanan produk yang dihasilkan, tidak boleh terlepas dari pemikiran
bagaimana cara-cara penyajian periklanan yang paling tepat sehingga dapat
mencapai sasaran yang dikehendaki. Untuk penyajian suatu periklanan, maka
hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Dapat menimbulkan perhatian
b. Dapat menarik
c. Dapat menimbulkan keinginan
14
2. Fungsi Periklanan
Fungsi periklanan dalam pemasaran menurut Assauri (2010:273) adalah
sebagai berikut:
a. Sebagai alat untuk memberi informasi/penerangan dalam memperkenalkan
produk baru ke pasaran.
b. Untuk membantu ekspansi atau perlusan pasar
c. Untuk menunjang program personal selling
d. Untuk mencapai orang-orang yang tidak dapat dikunjungi oleh pramuniaga
(sales-person)
e. Untuk membentuk nama baik (good will) perusahaan
3. Jenis-Jenis Media Periklanan
Jenis media yang digunakan untuk mengkomunikasikan berita-berita atau
informasi kepada calon penerimanya, advertensi menurut Assauri (2010:274)
dapat dibedakan terdiri dari:
a. Advertensi cetak (print advertising) berupa iklan pada harian surat kabar
atau majalah.
b. Advertensi elektronik (electronic advertising) meliputi siaran radio dan
televisi.
c. Advertensi di luar rumah (outdoor advertising) berupa papan reklame atau
poster.
d. Advertensi khusus (speciality advertising), termasuk segala macam barang
hariah atau pemberian dengan cuma-cuma seperti pulpen, kalender dan
lain-lain barang yang harganya relatif murah dan biasanya disertai dengan
nama perusahaan yang memberikan.
15
e. Kiriman langsung (direct mail) berupa barang cetakan yang dikirim secara
langsung dengan pos kepada calon pembeli.
f. Transit advertising berupa buletin, poster, tanda-tanda (sign) dan stiker
yang terdapat di dalam dan di luar kendaraan umum dan pada stasiun-
stasiun.
2.1.4 Produk
1. Pengertian Produk
Kotler dan Keller (2009:4) menyatakan bahwa produk adalah segala
sesuatu yang dapat ditawarkan ke dalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki,
dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan suatu keinginan/semua
kebutuhan. Produk-produk yang dipasarkan meliputi barang fisik, jasa,
pengalaman, acara-acara, orang, tempat, properti, organisasi, dan gagasan.
Produk menurut Swastha (2009:94) adalah suatu sifat yang komplek baik
dapat diraba maupun tidak dapat diraba, termasuk bungkus, warna, harga,
prestise perusahaan dan pengecer, pelayanan perusahaan dan pengecer, yang
diterima oleh pembeli untuk memuaskan keinginan dan kebutuhannya.
Sedangkan menurut Hermawan (2012:36) produk adalah segala sesuatu yang
dapat ditawarkan ke pasar untuk memuaskan suatu kebutuhan atau keinginan.
Dari pengertian tentang produk di atas maka dapat disimpulkan bahwa
produk adalah segala sesuatu yang dapat memenuhi dan memuaskan kebutuhan
dan keinginan manusia, baik yang dapat diraba atau nyata maupun tidak dapat
diraba atau jasa atau layanan.
16
2. Tingkatan Produk
Kotler dan Armstrong (2007:338) menyatakan bahwa produk terdiri dari 3
(tiga) komponen utama yaitu produk inti (core product), produk aktual (actual
product), dan produk tambahan (augmented product). Ketiga tingkatan produk
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Produk inti (core product), merupakan manfaat utama dari suatu produk
yang benar-benar dicari oleh pelanggan atau alasan dari seorang pelanggan
untuk membeli suatu produk.
b. Produk aktual (actual product), merupakan atribut utama yang dimiliki produk
dalam mengkomunikasikan dan membawa manfaat produk tersebut. Produk
aktual (actual product) minimal harus memiliki lima sifat yaitu kualitas, fitur,
desain, merek dan kemasan.
c. Produk tambahan (augmented product), merupakan manfaat atau service
tambahan yang diperoleh melalui pelanggan dari produk tersebut dalam
memenuhi kebutuhan pelanggan, seperti pembayaran dan pengiriman, layanan
purna jual, garansi dan pemasangan, dan lain-lain.
3. Kualitas Produk
Kualitas mempunyai arti sangat penting dalam keputusan pembelian
konsumen. Apabila kualitas produk yang dihasilkan baik maka konsumen
cenderung melakukan pembelian ulang sedangkan bila kualitas produk tidak
sesuai dengan yang diharapkan maka konsumen akan mengalihkan
pembeliannya pada produk sejenis lainnya. Sering kali dibenak konsumen
sudah terpatri bahwa produk perusahaan tertentu jauh lebih berkualitas
17
daripada produk pesaing dan konsumen akan membeli produk yang mereka
yakini lebih berkualitas. Meskipun konsumen mempunyai persepsi yang
berbeda terhadap kualitas produk, tetapi setidaknya konsumen akan memilih
produk yang dapat memuaskan kebutuhannya.
Pengertian kualitas menurut Assauri (2010:212), kualitas produk
menunjukkan ukuran tahan lamanya produk tersebut, dapat dipercayainya
produk tersebut ketepatan produk, mudah mengoperasikan dan memeliharanya
serta atribut lain yang dinilai. Sedangkan pengertian kualitas produk menurut
Kotler dan Armstrong (2007:347) adalah kemampuan suatu produk untuk
melakukan fungsi-fungsinya, kemampuan tersebut meliputi daya tahan,
kehandalan, ketelitian yang dihasilkan, kemudahan dioperasikan dan
diperbaiki, dan atribut lain yang berharga pada produk secara keseluruhan.
Kualitas menurut Sviokla dalam Lupiyoadi dan Hamdani (2009:176)
memiliki delapan dimensi pengukuran yang terdiri dari :
a. Kinerja (Performance)
Merujuk pada karakter produk inti yang meliputi merek, atribut yang dapat
diukur dan aspek-aspek kinerja individu. Kinerja beberapa produk
biasanya didasari oleh preferensi subyektif pelanggan yang pada dasarnya
bersifat umum.
b. Keragaman Produk (features)
Dapat berupa produk tambahan dari suatu produk inti yang dapat
menambah nilai suatu produk. Keragaman produk biasanya diukur secara
subjektif oleh masing-masing individu (dalam hal ini konsumen) yang
menunjukkan adanya perbedaan kualitas suatu produk atau jasa.
18
c. Keandalan (reliability)
Dimensi ini berkaitan dengan timbulnya kemungkinan suatu produk
mengalami keadaan tidak berfungsi (malfucntion) pada suatu periode.
Keandalan suatu produk menandakan tingkat kualitas sangat berarti bagi
konsumen dalam memilih produk.
d. Kesesuaian (conformance)
Kesesuaian produk diukur dari tingkat akurasi dan waktu penyelesaian
termasuk juga perhitungan kesalahan yang terjadi, keterlambatan yang
tidak dapat diantisipasi, dan beberapa kesalahan lain.
e. Ketahanan atau daya tahan (durability)
Ukuran ketahanan suatu produk meliputi segi teknis maupun ekonomis.
Secara teknik suatu produk didefinisikan sebagai sejumlah kegunaan yang
diperoleh seseorang sebelum mengalami penurunan kualitas. Secara
ekonomis, ketahanan diartikan sebagai usia ekonomis suatu produk dilihat
dari jumlah kegunaan yang diperoleh sebelum terjadi kerusakan dan
keputusan untuk mengganti produk.
f. Kemampuan pelayanan (servicebility)
Kemampuan pelayanan bisa juga disebut dengan kecepatan, kompetensi,
kegunaan, kemudahan produk untuk diperbaiki. Kemampuan pelayanan
suatu produk menghasilkan suatu kesimpulan akan kualitas produk yang
dinilai secara subjektif oleh konsumen.
19
g. Estetika (aesthetics)
Estetika suatu produk dilihat dari abgaimana suatu produk terdengar
konsumen, bagaimana penampiln luar suatu produk, rasa, maupun bau.
Dengan demikian estetika merupakan penilaian dan refleksi yang
dirasakan konsumen.
h. Kualitas yang dipersepsikan (perveiced quality)
Konsumen tidak selalu memiliki informasi yang lengkap mengenai atribut-
atribut produk. Namum umumnya konsumen memiliki informasi tentang
produk secara tidak langsung, misalnya melalui merek, nama dan negara
produsen.
2.1.5 Kualitas Pelayanan
1. Pengertian Kualitas Pelayanan
Kualitas pelayanan merupakan kunci sukses bagi perusahaan dalam
menghadapi era kompetisi yang semakin tajam. Kotler dan Keller (2009:42)
mendefinisikan layanan sebagai setiap tindakan atau kinerja yang dapat
ditawarkan satu pihak ke pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan
tidak mengakibatkan kepemilikan sesuatu. Produksinya mungkin saja terkait
atau mungkin juga tidak terkait dengan produk fisik.
Mursid (2010:116) menjelaskan jasa atau layanan sebagai suatu kegiatan
yang dapat diidentifikasikan secara tersendiri, pada hakikatnya bersifat tidak
teraba, untuk memenuhi kebutuhan dan tidak harus terikat pada penjualan
produk atau jasa lain. Dalam menghasilkan jasa atau layanan bisa diperlukan
20
atau tidak penggunaan benda nyata. Seandainya penggunaan benda diperlukan
namun tidak terdapat pemindahan hak milik benda itu.
Sedangkan kualitas pelayanan menurut Lupiyoadi dan Hamdani
(2009:182) adalah seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan
pelanggan atas pelayanan yang diterima. Apabila pelayanan yang diterima atau
dirasakan sesuai dengan harapan konsumen, maka kualitas pelayanan
dipersepsikan baik dan memuaskan. Jika pelayanan yang diterima melampaui
harapan konsumen, maka kualitas pelayanan dipersepsikan sebagai kualitas
yang ideal. Sebaliknya jika pelayanan yang diterima lebih rendah dari pada
yang diharapkan, maka kualitas pelayanan dipersepsikan buruk. Baik tidaknya
kualitas pelayanan tergantung pada kemampuan perusahaan memenuhi harapan
pelanggannya secara konsisten.
2. Dimensi Kualitas Pelayanan
Salah satu pendekatan kualitas pelayanan yang banyak dijadikan acuan
dalam riset pemasaran adalah model SERVQUAL (Service Quality). Menurut
Parasuraman, dkk dalam Lupiyoadi dan Hamdani (2009:182) menyatakan
bahwa dimensi kualitas layanan (SERVQUAL) terdiri dari lima dimensi, yaitu
bukti fisik (tangible), keandalan (retiability), ketanggapan (responsiveness),
jaminan dan kepastian (assurance), serta empati (empaty).
Kelima dimensi kualitas pelayanan tersebut dapat dijelaskan di bawah ini:
1. Tangible (bukti fisik)
Tangible (bukti fisik) merupakan kemampuan suatu perusahaan
dalam menunjukkan eksistensinya kepada pihak eksternal. Penampilan dan
21
kemampuan sarana dan prasarana fisik perusahaan yang dapat diandalkan,
keadaan lingkungan sekitarnya merupakan bukti nyata pellayanan yang
diberikan. Hal yang meliputi fasilitas fisik seperti gedung, gudang,
perlengkapan dan peralatan yang digunakan serta penampilan pegawai.
2. Reliability (keandalan)
Reliability (keandalan) merupakan kemampuan perusahaan untuk
memberikan pelayanan sesuai dengan yang dijanjikan secara akurat dan
terpercaya. Kinerja harus sesuai dengan harapan pelanggan yang berarti
ketepatan waktu, pelayanan yang sama untuk semua pelanggan tanpa
kesalahan, sikap yang simpati, dan dengan akurasi yang tinggi.
3. Responsiveness (ketanggapan)
Responsiveness (ketanggapan) merupakan suatu kebijakan untuk
membantu dan memberikan pelayanan yang cepat (responsif) dan tepat
kepada pelanggan dengan penyampaian informasi yang jelas. Membiarkan
konsumen menunggu merupakan persepsi yang negatif dalam kualitas
pelayanan.
4. Assurance (jaminan dan kepastian)
Assurance (jaminan dan kepastian) merupakan pengetahuan,
kesopanan-santunan dan kemampuan para pegawai perusahaan untuk
menumbuhkan rasa percaya para pelanggan kepada perusahaan. Hal ini
meliputi beberapa komponen antara lain
1) Komunikasi (communication), yaitu secara terus menerus memberikan
informasi kepada pelanggan dalam bahasa dan penggunaan kata yang
22
jelas sehingga pelanggan dapat mengerti apa yang diinformasikan
pegawai serta dengan cepat dan tanggap menyikapi keluhan dan
komplain dari para pelanggan.
2) Kredibilitas (credibility), perlunya jaminan atas suatu kepercayaan yang
diberikan kepada pelanggan, sifat kejujuran, menanamkan kepercayaan,
memberikan kredibilitas yang baik bagi perusahaan pada masa yang
akan datang.
3) Keamanan (security), adanya suatu kepercayaan yang tinggi dari
pelanggan akan pelayanan yang diterima. Tentunya pelayanan yang
diberikan memberikan suatu jaminan kepercayaan yang maksimal.
4) Kompetensi (competence) yaitu keterampilan yang dimiliki dan
dibutuhkan agar dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan
dapat dilaksanakan dengan optimal.
5) Sopan santun (courtesy), dalam pelayanan adanya suatu nilai moral
yang dimiliki oleh perusahaan dalam memberikan pelayanan kepada
pelanggan. Jaminan akan kesopan-santunan yang ditawarkan kepada
pelanggan sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada.
5. Empaty (empati)
Empaty (empati) adalah memberikan perhatian yang tulus dan
bersifat individual atau pribadi yang diberikan kepada para pelanggan
dengan berupaya memahami keinginan konsumen. Setiap perusahaan
diharapkan memiliki pengertian dan pengetahuan tentang pelanggan,
memahami kebutuhan pelanggan secara spesifik, serta memiliki waktu
pengoperasian yang nyaman bagi pelanggan.
23
2.1.4 Perilaku Konsumen
1. Pengertian Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen sangat mempengaruhi kelangsungan hidup
perusahaan sebagai lembaga yang berusaha memenuhi kebutuhan dan
keinginan konsumen. Tujuan dari bisnis adalah menciptakan dan
mempertahankan konsumen, konsumen dapat dikembangkan dan
dipertahankan melalui strategi pemasaran. Dengan kata lain keberhasilan
suatu bisnis tergantung pada pemahaman, pelayanan dan cara mempengaruhi
konsumen untuk mencapai tujuan perusahaan, sehingga perusahaan dapat
mengembangkan, menentukan harga, melakukan promosi, dan
mendistribusikan produknya secara lebih efektif.
Pengertian perilaku konsumen menurut Mangkunegara (2009:4) suatu
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh individu, kelompok atau organisasi
yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam
mendapatkan, menggunakan barang-barang atau jasa ekonomi yang dapat
dipengaruhi oleh lingkungan.
Kotler dan Keller (2009:166) mendefinisikan perilaku konsumen
sebagai studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih,
membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide, atau pengalaman
untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Sedangkan The
American Marketing Association dalam Setiadi (2010:3) mendefinisikan
perilaku konsumen sebagai interaksi dinamis antara afeksi dan kognisi,
perilaku, dan lingkungannya di mana manusia melakukan kegiatan pertukaran
dalam hidup mereka.
24
Dari definisi perilaku konsumen di atas dapat disimpulkan bahwa
terdapat dua elemen penting dalam mempelajari perilaku konsumen, yaitu
proses pengambilan keputusan dan kegiatan fisik di mana semuanya
melibatkan individu dalam menilai, mendapatkan dan mempergunakan barang
dan jasa. Adapun manfaat yang didapatkan dalam mempelajari perilaku
konsumen secara umum adalah membantu perusahaan mencapai sasaran yang
diinginkan secara efektif. Dalam memahami respon konsumen, yang menjadi
unsur keberhasilan adalah pengetahuan tentang konsumen tersebut.
[Link] Perilaku Konsumen
Teori perilaku konsumen menurut Swastha (2009:76) terdiri dari empat
teori yaitu:
a. Teori Ekonomi Mikro
Teori ekonomi mikro menyatakan bahwa orang adalah ekonomis,
rasional, dan pada setiap saat akan bertindak karena tertarik terhadap
sesuatu. Konsep ini menganut teori kepuasan marginal (marginal utility)
yang menyatakan bahwa konsumen akan meneruskan pembeliannya
terhadap suatu produk untuk jangka panjang, karena telah mendapatkan
kepuasan dari produk sama yang telah dikonsumsinya.
b. Teori Psikologis
Teori psikologis mengatakan bahwa manusia selalu didorong oleh
kebutuhan dasarnya yang ada, sebagai bagian dari pengaruh hidup serta
nampak pada kegiatan-kegiatannya saat sekarang tanpa mengakibatkan
pengaruh masa lampau untuk waktu yang akan datang.
25
c. Teori Sosiologis
Teori sosiologis lebih menitik beratkan pada hubungan dan pengaruh
antara individu-individu yang dikaitkan dengan tingkah laku mereka, jadi
lebih mengutamakan perilaku kelompok, bukannya perilaku individu.
Analisisnya diarahkan pada kegiatan-kegiatan kelompok seperti keluarga,
teman sekerja, perkumpulan-perkumpulan dan sebagainya.
d. Teori Antropologis
Teori antropologis menekankan pada tingkah laku pembelian dari
suatu kelompok masyarakat. Dalam teori ini kelompok yang lebih besar
lebih diutamakan. Dalam teori antropologis yang dimaksud dengan
kelompok disini adalah kebudayaan (kelompok paling besar), sub kultur
(kebudayaan daerah) dan kelas-kelas sosial.
2.1.6 Keputusan Pembelian
Pengambilan keputusan merupakan suatu kegiatan individu yang secara
langsung terlibat dalam mendapatkan dan mempergunakan barang yang
ditawarkan. Proses pengambilan keputusan pembelian menurut Kotler dan
Armstrong (2007:224) melalui 5 tahapan yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian
informasi, pengevaluasian alternatif, keputusan pembelian dan perilaku setelah
pembelian.
Kelima tahap proses pengambilan keputusan pembelian tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
26
1. Pengenalan kebutuhan
Proses pembelian bermula dari pengenalan kebutuhan. Pembeli
merasakan perbedaan antara keadaan aktual dan sejumlah keadaan yang
diinginkan.
2. Pencarian informasi
Konsumen yang tergerak mungkin mencari dan mungkin pula tidak
mencari informasi tambahan. Jika dorongan konsumen kuat dan produk yang
memenuhi kebutuhan terjangkau, maka konsumen terdorong untuk
membelinya. Jika tidak, konsumen akan menyimpan kebutuhan itu ke dalam
ingatan atau mengerjakan pencarian informasi yang berhubungan dengan
kebutuhan itu.
Konsumen dapat memperoleh informasi dari berbagai sumber yang
meliputi sumber pribadi (keluarga, teman, tetangga, rekan kerja), sumber
komersial (iklan, penjual, pengecer, bungkus, situs Web), sumber publik
(media massa, organisasi pemberi peringkat, dan sumber berdasarkan
pengalaman (memegang, meneliti menggunakan produk).
3. Pengevaluasian alternatif
Tahap proses keputusan pembelian di mana konsumen menggunakan
informasi untuk mengevaluasi berbagai merek alternatif di dalam serangkaian
pilihan. Pada tahap ini konsumen menyusun peringkat merek dan membentuk
kecenderungan (niat) pembelian.
27
4. Keputusan pembelian
Merupakan tahap proses keputusan, di mana konsumen secara aktual
melakukan pembelian produk.
5. Perilaku setelah pembelian
Tahap proses keputusan pembelian, konsumen melakukan tindakan lebih
lanjut setelah pembelian berdasarkan kepuasan dan ketidakpuasan. Konsumen
yang puas akan membeli produk, berbicara yang menyenangkan tentang
produk, lebih sedikit memperhatikan merek dan iklan pesaing, serta membeli
produk lain dari perusahaan yang sama.
2.1.7 Hubungan antar Variabel
1. Hubungan Iklan dengan Keputusan Pembelian
Iklan merupakan strategi yang tepat untuk digunakan dalam usaha
menarik calon pembeli dan untuk membujuk agar membeli produk yang
ditawarkan. Iklan yang menarik dengan intensitas yang tinggi akan menjadikan
konsumen mengenal dan ada rasa penasaran terhadap produk yang
dipromosikan. Iklan merupakan sarana untuk membangun kepercayaan dan
penilaian konsumen terhadap produk yaitu dengan membina hubungan yang
erat antara perusahaan dengan konsumen. Iklan yang menarik akan
memudahkan konsumen dalam menilai suatu produk karena konsumen
dihadapkan pada beberapa spesifikasi produk dengan keunggulan masing-
masing.
28
Faktor utama periklanan menurut Hermawan (2012:73) adalah bahwa
iklan harus menggugah perhatian calon konsumen terhadap produk atau jasa
yang ditawarkan perusahaan. Para konsumen potensial dibuat untuk
memerhatikan dan peduli terhadap produk yang memberikan manfaat bagi
mereka yang akan memberikan alasan bagi mereka untuk membeli.
2. Hubungan Kualitas Produk dengan Keputusan Pembelian
Tujuan kualitas produk adalah agar produk lebih disukai konsumen,
sehingga lebih memacu penjualan produk, semua itu bertujuan menciptakan
suatu kesan positif atas suatu produk dimata konsumen dengan tujuan akhir
suatu tindakan pembelian. Meskipun konsumen mempunyai persepsi yang
berbeda terhadap kualitas produk, tetapi setidaknya konsumen akan memilih
produk yang dapat memuaskan kebutuhannya. Kualitas produk menentukan
keputusan konsumen untuk melakukan pembelian karena dengan adanya
kualitas produk yang baik akan membuat konsumen menjadi puas dan loyal.
Seperti yang dinyatakan oleh Tjiptono dan Chandra (2012:76) bahwa kualitas
produk yang dirasakan pelanggan akan menentukan persepsi pelanggan
terhadap kinerja produk tersebut, yang pada gilirannya akan berdampak pada
kepuasan pelanggan.
3. Hubungan Kualitas Layanan dengan Keputusan Pembelian
Kualitas layanan menunjukkan kemampuan perusahaan memberikan
layanan terbaik kepada pelanggan sesuai dengan apa yang dijanjikan. Menurut
Tjiptono dan Chandra (2012:77) bahwa kualitas layanan mencerminkan
perbandingan antara tingkat layanan yang disampaikan perusahaan
29
dibandingkan ekspektasi pelanggan. Kualitas layanan diwujudkan melalui
pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan
penyampaiannya dalam mengimbangi atau melampaui harapan pelanggan.
Kualitas layanan harus sesuai dengan harapan konsumen karena
pemenuhan janji dalam layanan akan mencerminkan kredibilitas perusahaan.
Semakin baik kualitas layanan maka kepuasan konsumen juga akan semakin
tinggi, sehingga keinginan konsumen untuk membeli semakin tinggi.
2.2 Penelitian Sebelumnya
2.2.1 Penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013)
Penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013) dengan judul ”Pengaruh Produk,
Harga, Promosi, Layanan Terhadap Keputusan Konsumen Membeli Sepeda
Motor Kawasaki” bertujuan untuk mengetahui pengaruh produk, harga, promosi
dan layanan baik secara bersama-sama maupun parsial mempunyai pengaruh
terhadap variabel keputusan konsumen dalam membeli Sepeda Motor Kawasaki
pada Dealer sepeda motor Kawasaki Ngagel Surabaya.
Populasi Yulianto dan Khuzaini (2013) adalah seluruh konsumen yang
masih aktif mendapatkan service gratis berkala setelah membeli motor Kawasaki
di Dealer Motor Kawasaki Ngagel Surabaya sedangkan sampel diambil sebanyak
100 orang. Teknik analisis data menggunakan uji validitas dan reliabilitas, uji
asumsi klasik, uji F, dan uji t.
30
Hasil penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013) menunjukkan produk, harga,
promosi, dan layanan secara bersama-sama berpengaruh terhadap keputusan
konsumen membeli sepeda motor pada Dealer sepeda motor Kawasaki Ngagel di
Surabaya. Hasil ini didukung dengan perolehan koefisien determinasi sebesar
76,5% yang menunjukkan sumbangan atau kontribusi dari produk, harga,
promosi, dan layanan secara simultan terhadap keputusan konsumen membeli
sepeda motor pada Dealer sepeda motor Kawasaki Ngagel di Surabaya adalah
besar. Hasil pengujian secara parsial menunjukkan variabel yang digunakan
dalam model penelitian yaitu produk, harga, promosi, dan layanan masing-
masing mempunyai pengaruh signifikan dan positif terhadap keputusan konsumen
membeli sepeda motor pada Dealer sepeda motor Kawasaki Ngagel di Surabaya.
Kondisi ini ditunjukkan dengan tingkat signifikansi masing-masing variabel
tersebut dibawah α = 5%.
Persamaan penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013) dengan penelitian
sekarang adalah:
1. Variabel terikat menggunakan keputusan pembelian
2. Teknik analisis data menggunakan uji validitas dan reliabilitas, uji F, dan uji t
Sedangkan perbedaan penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013) dengan
penelitian sekarang adalah:
1. Variabel bebas penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013) adalah produk, harga,
promosi, dan layanan. Sedangkan penelitian sekarang adalah iklan, kualitas
produk, dan kualitas pelayanan.
31
2. Objek penelitian Yulianto dan Khuzaini (2013) adalah konsumen motor
Kawasaki di Dealer Motor Kawasaki Ngagel Surabaya. Sedangkan penelitian
sekarang adalah semua pembeli dan pengguna kartu seluler XL Prabayar di
Surabaya Timur.
2.2.2 Penelitian Purbarani dan Santoso (2013)
Judul Penelitian Purbarani dan Santoso (2013) adalah ”Analisis Pengaruh
Persepsi Harga, Kualitas Produk, Diferensiasi Produk, Kualitas Layanan Dan
Promosi Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Konsumen Larissa Aesthetic
Center Semarang)”.
Populasi dalam penelitian Purbarani dan Santoso (2013) adalah
masyarakat Semarang yang pernah melakukan perawatan atau menggunakan
produuk dari Larissa Aesthetic Center. Sedangkan sampel yang diambil sebanyak
100 responden.
Hasil penelitian Purbarani dan Santoso (2013) menunjukkan bahwa variabel
persepsi harga, kualitas produk, diferensiasi produk, kualitas layanan dan promosi
berpengaruh positif terhadap keputusan pembelian. Variabel yang paling
berpengaruh terhadap keputusan pembelian adalah variabel promosi, sedangkan
variabel yang pengaruhnya paling kecil adalah variabel kualitas produk.
Persamaan penelitian Purbarani dan Santoso (2013) dengan penelitian
sekarang adalah:
32
1. Variabel terikat menggunakan keputusan pembelian
2. Teknik analisis data menggunakan uji validitas dan reliabilitas, uji F, koefisien
determinasi berganda (R2) dan uji t
Sedangkan perbedaan penelitian Purbarani dan Santoso (2013) dengan
penelitian sekarang adalah:
1. Variabel bebas penelitian Purbarani dan Santoso (2013) adalah persepsi harga,
kualitas produk, diferensiasi produk, kualitas layanan dan promosi. Sedangkan
penelitian sekarang adalah iklan, kualitas produk, dan kualitas pelayanan.
2. Objek penelitian Purbarani dan Santoso (2013) adalah masyarakat Semarang
yang pernah melakukan perawatan atau menggunakan produk dari Larissa
Aesthetic Center. Sedangkan penelitian sekarang adalah semua pembeli dan
pengguna kartu seluler XL Prabayar di Surabaya Timur.
2.3 Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah dan tinjauan teori yang telah dijabarkan di
atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
1. Diduga variabel iklan, variabel kualitas produk, dan variabel kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh secara simultan terhadap keputusan
pembelian kartu seluler XL Prabayar di wilayah Surabaya Timur.
2. Diduga variabel iklan, variabel kualitas produk, dan variabel kualitas
pelayanan mempunyai pengaruh secara parsial terhadap keputusan pembelian
kartu seluler XL Prabayar di wilayah Surabaya Timur.
33
3. Diduga variabel iklan mempunyai pengaruh yang dominan terhadap
keputusan pembelian kartu seluler XL Prabayar di wilayah Surabaya Timur.