BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Struktur Modal
Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing
dengan modal sendiri. Modal asing dalam hal ini adalah hutang jangka panjang
maupun jangka pendek. Sedangkan modal sendiri terbagi atas laba ditahan dan
penyertaan kepemilikan perusahaan. Struktur modal yang optimal adalah struktur
modal yang mengoptimalkan keseimbangan antara risiko dan pengembalian
sehingga memaksimumkan harga saham. Untuk itu, dalam penetapan struktur
modal suatu perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang
mempengaruhinya.
2.1.1 Pengertian Struktur Modal
Struktur modal merupakan masalah yang penting bagi perusahaan karena
baik buruknya struktur modal akan mempunyai efek langsung terhadap posisi
finansial perusahaan, terutama dengan adanya hutang yang sangat besar akan
memberikan beban kepada perusahaan.
Struktur modal menurut Sartono (2010:225) didefinisikan sebagai berikut:
“Struktur modal merupakan perimbangan jumlah utang jangka pendek
yang bersifat permanen, utang jangka panjang, saham preferen dan saham
biasa.”
Jadi struktur modal merupakan perimbangan antara jumlah utang jangka
pendek, utang jangka panjang, dan saham.
11
12
Struktur modal menurut Sudana (2011:143) didefinisikan sebagai berikut:
“Struktur modal (capital structure) berkaitan dengan pembelanjaan
jangka panjang suatu perusahaan yang diukur dengan perbandingan utang
jangka panjang dengan modal sendiri.”
Jadi struktur modal merupakan perbandingan antar utang jangka panjang
dengan modal sendiri yang digunakan untuk pembelanjaan perusahaan.
Struktur modal menurut Irham Fahmi (2011:106) didefinisikan sebagai
berikut:
“Struktur modal merupakan gambaran dari bentuk proporsi finansial
perusahaan yaitu antara modal yang dimiliki yang bersumber dari utang
jangka panjang (long-term liabilities) dan modal sendiri (shareholder’s
equity) yang menjadi sumber pembiayaan suatu perusahaan.”
Jadi struktur modal merupakan gabungan sumber dana perusahaan yang
bersumber dari utang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan sebagai
sumber pembiayaan perusahaan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapat
disimpulkan bahwa struktur modal merupakan proporsi keuangan antara utang
jangka pendek, utang jangka panjang dan modal sendiri yang digunakan untuk
pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan.
2.1.2 Komponen Struktur Modal
Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing
dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka
panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas
laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan.
13
Komponen struktur modal menurut Bambang Riyanto (2008:227) terdiri dari 2
(dua), yaitu:
1. Modal Asing
2. Modal Sendiri
Komponen struktur modal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Modal Asing
Modal asing atau utang merupakan salah satu sumber pembiayaan
eksternal yang digunakan oleh perusahaan untuk membiayai kebutuhan
dananya. Dalam pengambilan keputusan akan penggunaan utang ini harus
mempertimbangkan besarnya biaya tetap yang muncul dari utang berupa
bunga yang akan menyebabkan semakin meningkatnya leverage keuangan
dan semakin tidak pastinya tingkat pengembalian bagi para pemegang
saham biasa.
Modal asing menurut Bambang Riyanto (2008:227) didefinisikan sebagai
berikut:
“Modal asing adalah modal yang berasal dari luar perusahaan yang
sifatnya sementara bekerja di dalam perusahaan dan bagi perusahaan yang
bersangkutan modal tersebut merupakan utang yang pada saatnya harus
dibayar kembali.”
Jadi modal asing merupakan modal yang digunakan oleh
perusahaan untuk kegiatan operasionalnya yang berasal dari luar
perusahaan tersebut.
14
Modal asing atau utang sendiri dibagi menjadi tiga golongan, diantaranya :
a. Utang jangka pendek (Short-term Debt)
Utang jangka pendek adalah modal asing yang jangka waktunya paling
lama satu tahun. Sebagian besar utang jangka pendek terdiri dari kredit
perdagangan yaitu kredit yang diperlukan untuk dapat
menyelenggarakan usahanya.
b. Utang jangka menengah (Intermediate-term Debt)
Utang jangka menengah merupakan utang yang jangka waktunya
adalah lebih dari satu tahun atau kurang dari 10 tahun. Bentuk-bentuk
utama dari kredit jangka menengah adalah :
Term Loan merupakan kredit usaha dengna umur lebih dari satu
tahun dan kurang dari 10 tahun.
Leasing merupakan suatu alat atau cara untuk mendapatkan service
dari suatu aktiva tetap yang pada dasarnya adalah sama seperti
halnya kalau kita menjual obligasi untuk mendapatkan service dan
hak milik atas aktiva tersebut, bedanya pada leasing tidak disertai
hak milik.
c. Utang jangka panjang (Long-term Debt)
Utang jangka panjang merupakan utang yang jangka waktunya adalah
panjang, pada umumnya lebih dari 10 tahun. Adapun jenis atau bentuk-
bentuk utama dari utang jangka panjang antara lain:
15
Pinjaman Obligasi merupakan pinjaman untuk jangka waktu yang
panjang, untuk debitur mengeluarkan surat pengakuan utang yang
mempunyai nominal tertentu.
Pinjaman hipotik merupakan pinjaman jangka panjang dimana
pemberi uang (kreditur) diberi hak hipotik pada suatu barang tidak
bergerak, agar bila pihak debitur tidak memenuhi kewajibannya,
barang itu dapat dijual dari hasil penjualan tersebut dapat digunakan
untuk menutupi tagihannya.
2. Modal Sendiri
Modal sendiri atau ekuitas merupakan modal jangka panjang yang
diperoleh dari pemilik perusahaan atau pemegang saham. Modal sendiri
diharapkan tetap berada dalam perusahaan untuk jangka waktu yang tidak
terbatas sedangkan modal pinjaman memiliki jatuh tempo.
Modal sendiri menurut Bambang Riyanto (2008:228) didefinisikan
sebagai berikut:
“Modal sendiri pada dasarnya adalah modal yang berasal dari pemilik
perusahaan dan yang tertanam di dalam perusahaan untuk waktu yang
tidak tertentu lamanya.”
Jadi modal sendiri merupakan modal yang digunakan oleh
perusahaan untuk kegiatan operasionalnya yang berasal dari pemilik
perusahaan tersebut.
16
Modal sendiri di dalam suatu perusahaan yang berbentuk P.T. terdiri dari:
a. Modal Saham
Saham adalah tanda bukti pengembalian bagian atau peserta dalam
suatu P.T.
Adapun jenis-jenis dari saham adalah sebagai berikut :
Saham biasa (Common Stock)
Saham Preferen (Preferred Stock)
Saham Kumulatif (Cummulative Preferred Stock)
b. Cadangan
Cadangan disini dimaksudkan sebagai cadangan yang dibentuk dari
keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan selama beberapa waktu
yang lampau atau dari tahun yang berjalan.
Cadangan yang termasuk modal sendiri adalah :
Cadangan ekspansi
Cadangan modal kerja
Cadangan selisih kurs
Cadangan untuk menampung hal-hal atau kejadian-kejadian yang
tidak diduga sebelumnya (cadangan umum)
c. Laba Ditahan
Keuntungan yang diperoleh oleh suatu perusahaan dapat sebagian
dibayarkan sebagai dividen dan sebagian ditahan oleh perusahaan.
Apabila penahanan keuntungan tersebut sudah dengan tujuan tertentu,
maka dibentuklah cadangan sebagaimana yang telah diuraikan. Apabila
17
perusahaan belum mempunyai tujuan tertentu mengenai penggunaan
keuntungan tersebut, maka keuntungan tersebut
merupakan “keuntungan yang ditahan.”
2.1.3 Teori Struktur Modal
Setiap ada perubahan struktur modal akan mempengaruhi biaya modal
secara keseluruhan, hal ini disebabkan masing-masing jenis modal mempunyai
biaya modal sendiri-sendiri. Selain itu, teori struktur modal dianggap penting
karena besarnya biaya modal keseluruhan ini, nantinya akan digunakan sebagai
cut of rate pada pengambilan keputusan investasi.
Menurut Hanafi (2012:297) teori mengenai struktur modal terdiri dari:
1. Pendekatan Tradisional
2. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM)
3. Teori Trade Off
4. Model Miller dengan Pajak Perusahaan dan Personal
5. Pecking Order Theory
6. Teori Asimetri: Informasi dan Signaling
Teori truktur modal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pendekatan Tradisional
Pendekatan tradisional berpendapat akan adanya struktur modal yang
optimal. Dengan kata lain struktur modal mempunyai pengaruh terhadap
nilai perusahaan. Struktur modal bisa diubah-ubah agar bisa diperoleh nilai
perusahaan yang optimal.
18
2. Pendekatan Modigliani dan Miller (MM)
Pada pendekatan modigliani dan miller (MM), tahun 1960-an kedua
ekonom tersebut memasukan faktor pajak ke dalam analisis mereka.
Mereka sampai pada kesimpulan bahwa nilai perusahaan dengan utang
lebih tinggi adalah tidak relevan dibandingkan nilai perusahaan tanpa
utang. Kenaikan tersebut dikarenakan adanya penghematan pajak dari
penggunaan utang.
3. Teori Trade Off
Teori trade off merupakan gabungan antara teori struktur modal
modigliani dan miller dengan memasukkan biaya kebangkrutan dan biaya
keagenan yang mengindikasikan adanya penghematan pajak dari utang
dengan biaya kebangkrutan.
4. Model Miller dengan Pajak Perusahaan dan Personal
Modigliani dan miller mengembangkan model struktur modal tanpa pajak
dan dengan pajak. Nilai perusahaan dengan pajak lebih tinggi
dibandingkan dengan nilai perusahaan tanpa pajak. Selisih tersebut
diperoleh melalui penghematan pajak karena bunga bisa dipakai untuk
mengurangi pajak. Miller kemudian mengembangkan model struktur
modal dengan memasukkan pajak personal. Pemegang saham dan
pemegang utang harus membayar pajak jika mereka menerima dividen
(untuk pemegang saham) atau bunga (untuk pemegang utang). Menurut
model tersebut, tujuan yang ingin dicapai adalah tidak hanya
meminimalkan pajak perusahaan, tetapi meminimalkan total pajak yang
19
harus dibayarkan (pajak perusahaan, pajak atas pemegang saham, dan
pajak atas pemegang utang).
5. Pecking Order Theory
Teori pecking order bisa menjelaskan kenapa perusahaan yang
mempunyai tingkat keuntungan yang tinggi justru mempunyai tingkat
utang yang lebih kecil. Tingkat utang yang kecil tersebut tidak
dikarenakan perusahaan mempunyai target tingkat utang yang kecil, tetapi
karena mereka tidak membutuhkan dana eksternal. Tingkat keuntungan
yang tinggi menjadikan dana internal mereka cukup untuk memenuhi
kebutuhan investasi.
6. Teori Asimetri Informasi dan Signaling
Konsep signaling dan asimetri informasi berkaitan erat. Teori asimetri
mengatakan bahwa pihak-pihak yang berkaitan dengan perusahaan tidak
mempunyai informasi yang sama mengenai prospek dan risiko
perusahaan. Pihak tertentu mempunyai informasi yang lebih baik
dibandingkan pihak lainnya. Manajer biasanya mempunyai informasi yang
lebih baik dibandingkan dengan pihak luar (investor). Karena itu bisa
dikatakan terjadi asimetri informasi antara manajer dengan investor.
Teori signaling adalah model dimana struktur modal (penggunaan utang)
merupakan signal yang disampaikan oleh manajer ke pasar. Perusahaan
yang meningkatkan utang bisa dipandang sebagai perusahaan yang yakin
dengan prospek perusahaan di masa mendatang. Karena cukup yakin,
maka manajer perusahaan tersebut berani menggunakan utang yang lebih
20
besar. Investor diharapkan akan menangkap signal tersebut, signal bahwa
perusahaan mempunyai prospek yang baik. Dengan demikian utang
merupakan tanda atau signal positif.
2.1.4 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Struktur Modal
Tidak mudah bagi manajer untuk menentukan perimbangan struktur modal
yang optimal yaitu yang dapat meningkatkan nilai perusahaan. Masalah struktur
modal merupakan masalah yang penting bagi setiap perusahaan karena baik
buruknya struktur modal akan mempunyai efek yang langsung terhadap posisi
financial perusahaan.
Menurut Brigham dan Houston (2011:188) yang dialih bahasakan oleh Ali
Akbar Yulianto, faktor-faktor yang dapat mempegaruhi keputusan struktur modal
terdiri dari:
1. Stabilitas Penjualan
2. Struktur Aset
3. Leverage Operasi
4. Tingkat Pertumbuhan
5. Profitabilitas
6. Pajak
7. Kendali
8. Sikap Manajemen
9. Sikap Pemberi Pinjaman dan Lembaga Penilai Pemeringkat
10. Kondisi Pasar
11. Kondisi Internal Perusahaan
12. Fleksibilitas Keuangan
21
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi struktur modal tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Stabilitas Penjualan
Suatu perusahaan yang penjualannya relatif stabil dapat secara aman
mengambil utang dalam jumlah yang lebih besar dan mengeluarkan beban
tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan perusahaan yang
penjualannya tidak stabil.
2. Struktur Aset
Perusahaan yang asetnya memadai untuk digunakan sebagai jaminan
pinjaman cenderung akan cukup banyak menggunakan utang. Aset umum
yang dapat digunakan oleh banyak perusahaan dapat menjadi jaminan
yang baik, sementara tidak untuk aset dengan tujuan khusus. Jadi,
perusahaan real estate biasanya memiliki leverage yang tinggi sementara
pada perusahaan yang terlibat dalam bidang penelitian teknologi, hal
seperti ini tidak berlaku.
3. Leverage Operasi
Perusahaan dengan leverage operasi yang lebih rendah akan lebih mampu
menerapkan leverage keuangan karena perusahaan tersebut akan memiliki
risiko usaha yang lebih rendah.
4. Tingkat Pertumbuhan
Jika hal yang lain dianggap sama, maka perusahaan yang memiliki
pertumbuhan lebih cepat harus lebih mengandalkan diri pada modal
eksternal. Selain itu, biaya emisi yang berkaitan dengan penjualan saham
22
biasa akan melebihi biaya emisi yang terjadi ketika perusahaan menjual
utang, mendorong perusahaan yang mengalami pertumbuhan pesat untuk
lebih mengandalkan diri pada utang. Namun, pada waktu yang bersamaan
perusahaan tersebut seringkali menghadapi ketidakpastian yang lebih
tinggi, cenderung akan menurunkan keinginan mereka untuk
menggunakan utang.
5. Profitabilitas
Sering kali diamati bahwa perusahaan dengan tingkat pengembalian atas
investasi yang sangat tinggi ternyata menggunakan utang dalam jumlah
yang relatif sedikit. Salah satu penjelasan praktisnya adalah perusahaan
yang sangat menguntungkan seperti Intel, Microsoft, dan Coca-Cola tidak
membutuhkan pendanaan utang terlalu banyak. Tingkat pengembalian
yang tinggi memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan
sebagian besar pendanaannya melalui dana yang dihasilkan secara internal.
6. Pajak
Bunga merupakan suatu beban pengurang pajak, dan pengurangan ini
lebih bernilai bagi perusahaan dengan tarif pajak yang tinggi. Jadi, makin
tinggi tarif pajak suatu perusahaan, maka makin besar keunggulan dari
utang.
7. Kendali
Pengaruh utang dibandingkan saham pada posisi kendali suatu perusahaan
dapat mempengaruhi struktur modal. Jika manajemen saat ini memiliki
kendali hak suara (lebih dari 50 persen saham) tetapi tidak berada dalam
23
posisi untuk membeli saham tambahan lagi, maka manajemen mungkin
akan memilih utang sebagai pendanaan baru. Pertimbangan kendali dapat
mengarah pada penggunaan baik itu utang maupun ekuitas karena jenis
modal yang memberikan perlindungan terbaik kepada manajemen akan
bervariasi dari satu situasi ke situasi yang lain.
8. Sikap Manajemen
Manajemen dapat melaksanakan pertimbangannya sendiri tentang struktur
modal yang tepat. Beberapa manajemen cenderung lebih konservatif
dibandingkan yang lain, dan menggunakan utang dalam jumlah yang lebih
kecil dibandingkan dengan rata-rata perusahaan di dalam industrinya,
sementara manajemen yang agresif menggunakan lebih banyak utang
dalam usaha mereka untuk mendapatkan laba yang lebih tinggi.
9. Sikap Pemberi Pinjaman dan Lembaga Pemeringkat
Tanpa mempertimbangkan analisis manajemen sendiri atas faktor leverage
yang tepat bagi perusahaan, sikap pemberi pinjaman dan lembaga
pemeringkat sering kali akan mempengaruhi keputusan struktur keuangan.
Perusahaan sering kali membahas struktur modalnya dengan pihak
pemberi pinjaman dan lembaga pemeringkat serta sangat memperhatikan
saran mereka.
10. Kondisi Pasar
Kondisi pasar saham dan obligasi mengalami perubahan dalam jangka
panjang maupun jangka pendek yang dapat memberikan arah penting pada
struktur modal optimal suatu perusahaan. Perusahaan berperingkat rendah
24
yang membutuhkan modal terpaksa pergi ke pasar saham atau pasar utang
jangka pendek, tanpa melihat sasaran struktur modalnya. Namun, ketika
kondisi melonggar perusahaan-perusahaan ini menjual obligasi jangka
panjang untuk mengembalikan struktur modalnya kembali pada sasaran.
11. Kondisi Internal Perusahaan
Kondisi internal suatu perusahaan sendiri juga dapat berpengaruh pada
sasaran struktur modalnya. Perusahaan dapat menjual penerbitan saham
biasa, menggunakan hasilnya untuk melunasi utang, dan kembali pada
sasaran struktur modalnya.
12. Fleksibilitas Keuangan
Fleksibilitas keuangan atau kemampuan untuk menghimpun modal dengan
persyaratan yang wajar dalam kondisi yang buruk. Potensi kebutuhan akan
dana di masa depan dan konsekuensi kekurangan dana akan
mempengaruhi sasaran struktur modal, makin besar kemungkinan
kebutuhan modal dan makin buruk konsekuensi jika tidak mampu untuk
mendapatkannya, maka makin sedikit jumlah utang yang sebaiknya ada di
dalam neraca perusahaan.
2.1.5 Rasio Struktur Modal
Untuk dapat memperoleh gambaran tentang perkembangan finansial suatu
perusahaan, perlu mengadakan analisa atau interprestasi terhadap data finansial
dari perusahaan bersangkutan, dimana data finansial itu tercermin didalam laporan
keuangan.
25
Menurut Sjahrial dan Purba (2013:37) rasio struktur modal terdiri dari:
1. Rasio Total Utang Terhadap Total Aktiva (Total Debt to Total Assets
Ratio/DAR)
2. Rasio Total Utang Terhadap Modal (Total Debt to Equity Ratio/DER)
3. Rasio Utang Jangka Panjang Terhadap Modal (Long Term Debt to Equity
Ratio/LDER)
Rasio struktur modal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Rasio Total Utang Terhadap Total Aktiva (Total Debt to Total Assets
Ratio/DAR)
Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar jumlah aktiva
perusahaan dibiayai dengan utang. Semakin tinggi rasio ini berarti
semakin besar jumlah modal pinjaman yang digunakan untuk investasi
pada aktiva guna menghasilkan keuntungan bagi perusahaan.
Rasio DAR = Total utang x 100%
Total aktiva
2. Rasio Total Utang Terhadap Modal (Total Debt to Equity Ratio/DER)
Rasio ini digunakan untuk mengukur perimbangan antara kewajiban yang
dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Rasio ini juga dapat berati
sebagai kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban membayar
utangnya dengan jaminan modal sendiri.
Rasio DER = Total utang x 100%
Total ekuitas
26
3. Rasio Utang Jangka Panjang Terhadap Modal (Long Term Debt to Equity
Ratio/LDER)
Rasio ini digunakan untuk menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman
jangka panjang yang diberikan kreditur dengan jumlah modal sendiri yang
diberikan oleh pemilik perusahaan. Rasio ini juga digunakan untuk
mengukur seberapa besar perbandingan antara utang jangka panjang
dengan modal sendiri atau seberapa besar utang jangka panjang dijamin
oleh modal sendiri.
Rasio LDER = Total utang jangka panjang x100%
Total ekuitas
2.2 Efektivitas
2.2.1 Pengertian Efektivitas
Kata efektif berasal dari bahasa Inggris yaitu effective yang berarti
berhasil atau sesuatu yang dilakukan berhasil dengan baik. Kamus ilmiah populer
mendefinisikan efetivitas sebagai ketepatan penggunaan, hasil guna atau
menunjang tujuan. Efektivitas berasal dari kata dasar efektif, menurut kamus
besar Bahasa Indonesia efektif adalah ada efeknya, manjur atau mujarab, dapat
membawa hasil, berhasil guna dan mulai berlaku.
Efektivitas menurut Kumorotomo (2005:362) didefinisikan sebagai
berikut:
“Efektivitas adalah suatu pengukuran terhadap penyelesaian suatu
pekerjaan tertentu dalam suatu organisasi.”
27
Jadi efektivitas merupakan pengukuran penyelesaian dari suatu pekerjaan
didalam suatu organisasi.
Efektivitas menurut Agung Kurniawan (2005:109) didefinisikan sebagai
berikut:
“Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi
kegiatan program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya
yang tidak adanya tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya.”
Jadi efektivitas merupakan kemampuan dari suatu organisasi dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya dengan tidak ada ketegangan diantara
pelaksanaannya.
Efektivitas menurut Mahmudi (2005:92) didefinisikan sebagai berikut:
“Efektivitas merupakan hubungan antara output dengan tujuan, semakin
besar kontribusi (sumbangan) output terhadap pencapaian tujuan, maka
semakin efektif organisasi, program atau kegiatan.”
Jadi efektivitas merupakan hubungan seberapa besar kontribusi dari output
dalam mencapai tujuan suatu organisasi, program, maupun kegiatan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapat
disimpulkan bahwa efektivitas adalah suatu konsep yang sangat penting karena
mampu memberikan gambaran mengenai keberhasilan suatu organisasi dalam
mencapai sasarannya atau dapat dikatakan bahwa efektivitas adalah merupakan
tingkat ketercapaian tujuan dari aktivitas-aktivitas yang telah dilaksanakan
dibandingkan dengan target yang telah ditetapkan sebelumnya.
28
2.2.2 Ukuran Efektivitas
Mengukur efektivitas organisasi bukanlah suatu hal yang sangat
sederhana, karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan
tergantung pada siapa yang menilai serta menginterpretasikannya. Bila dipandang
dari sudut produktivitas, maka seorang manajer produksi memberikan
pemahaman bahwa efektivitas berarti kualitas dan kuantitas (output) barang dan
jasa.
Tingkat efektivitas juga dapat diukur dengan membandingkan antara
rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata yang telah diwujudkan. Namun,
jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang dilakukan tidak tepat sehingga
menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran yang diharapkan, maka hal itu
dikatakan tidak efektif.
Menurut Sudarwan Danim (2004:119) ukuran efektivitas terdiri dari:
1. Jumlah hasil yang dapar dikeluarkan
2. Tingkat kepuasan yang diperoleh
3. Produk kreatif
4. Intensitas yang akan dicapai
Ukuran efektivitas tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Jumlah hasil yang dapat dikeluarkan
Hasil tersebut berupa kuantitas atau bentuk fisik dari organisasi, program
atau kegiatan. Hasil dimaksud dapat dilihat dari perbandingan (ratio)
antara masukan (input) dengan keluaran (output).
29
2. Tingkat kepuasan yang diperoleh
Ukuran dalam efektivitas ini dapat kuantitatif (berdasarkan pada jumlah
atau banyaknya) dan dapat kualitatif (berdasarkan pada mutu).
3. Produk kreatif
Penciptaan hubungannya kondisi yang kondusif dengan dunia kerja, yang
nantinya dapat menumbuhkan kreativitas dan kemampuan.
4. Intensitas yang akan dicapai
Memiliki ketaatan yang tinggi dalam suatu tingkatan intens sesuatu,
dimana adanya rasa saling memiliki dengan kadar yang tinggi.
2.3 Kinerja Keuangan Perusahaan
2.3.1 Pengertian Kinerja Keuangan Perusahaan
Kinerja keuangan perusahaan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk
melihat sejauh mana suatu perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan
aturan-aturan pelaksanaan keuangansecara baik dan benar.
Kinerja keuangan menurut Fahmi (2011:2) didefinisikan sebagai berikut:
“Suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana suatu
perusahaan telah melaksanakan dengan menggunakan aturan-aturan
pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.”
Jadi kinerja keuangan merupakan suatu analisis yang dilakukan oleh
perusahaan untuk melihat sejauh mana aturan pelaksanaan keuangan telah
digunakan.
30
Kinerja keuangan menurut Munawir (2010:30) didefinisikan sebagai
berikut:
“Kinerja keuangan merupakan satu diantara dasar penilaian mengenai
kondisi keuangan perusahaan yang dilakukan berdasarkan analisa terhadap
rasio keuangan perusahaan.”
Jadi kinerja keuangan merupakan dasar penilaian keuangan perusahaan
berdasarkan penggunaan analisa rasio keuangan perusahaan.
Kinerja keuangan menurut Indriyo Gitosudarmo dan Basri (2002:275)
didefinisikan sebagai berikut:
“Kinerja keuangan adalah rangkaian aktivitas keuangan pada suatu periode
tertentu yang dilaporkan dalam laporan keuangan diantaranya laporan laba
rugi dan neraca.”
Jadi kinerja keuangan merupakan suatu rangkaian aktivitas keuangan dari
suatu perusahaan pada periode tertentu yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli, dapat
disimpulkan bahwa kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk
mengetahui atau melihat kemampuan perusahaan atas rangkaian aktivitas
keuangan yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
2.3.2 Pengukuran Kinerja Keuangan Perusahaan
Pengukuran kinerja digunakan perusahaan untuk melakukan perbaikan
diatas kegiatan operasionalnya agar dapat bersaing dengan perusahaan lain.
Analisis kinerja keuangan merupakan proses pengkajian secara kritis terhadap
31
review data, menghitung, mengukur, menginterprestasi, dan memberi solusi
terhadap keuangan perusahaan pada suatu periode tertentu.
Menurut Jumingan (2006:242) kinerja keuangan dapat dinilai dengan
beberapa alat analisis. Berdasarkan tekniknya, analisis keuangan dapat dibedakan
menjadi 8 (delapan) macam, yaitu:
1. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan
2. Analisis Tren (Tendensi Posisi)
3. Analisis Persentase per Komponen (Common Size)
4. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
5. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas
6. Analisis Rasio Keuangan
7. Analisis Perubahan Laba Kotor
8. Analisis Break Even
8 (Delapan) macam alat analisis keuangan tersebut dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Analisis Perbandingan Laporan Keuangan
Merupakan teknik analisis dengan cara membandingkan laporan keuangan
dua periode atau lebih dengan menunjukkan perubahan, baik dalam jumlah
(absolut) maupun dalam persentase (relatif).
2. Analisis Tren (tendensi posisi)
Merupakan teknik analisis untuk mengetahui tendensi keadaan keuangan
apakah menunjukkan kenaikan atau penurunan.
32
3. Analisis Persentase per Komponen (Common Size)
Merupakan teknik analisis untuk mengetahui persentase investasi pada
masing-masing aktiva terhadap keseluruhan atau total aktiva maupun
utang.
4. Analisis Sumber dan Penggunaan Modal Kerja
Merupakan teknik analisis untuk mengetahui besarnya sumber dan
penggunaan modal kerja melalui dua periode waktu yang dibandingkan.
5. Analisis Sumber dan Penggunaan Kas
Merupakan teknik analisis untuk mengetahui kondisi kas disertai sebab
terjadinya perubahan kas pada suatu periode waktu tertentu.
6. Analisis Rasio Keuangan
Merupakan teknik analisis keuangan untuk mengetahui hubungan di antara
pos tertentu dalam neraca maupun laporan laba rugi baik secara individu
maupun secara simultan.
7. Analisis Perubahan Laba Kotor
Merupakan teknik analisis untuk mengetahui posisi laba dan sebab-sebab
terjadinya perubahan laba.
8. Analisis Break Even
Merupakan teknik analisis untuk mengetahui tingkat penjualan yang harus
dicapai agar perusahaan tidak mengalami kerugian.
33
2.3.3 Tahapan-Tahapan Dalam Menganalisis Kinerja Keuangan
Perusahaan
Penilaian kinerja setiap perusahaan adalah berbeda-beda karena itu
tergantung kepada ruang lingkup bisnis yang dijalankannya. Jika perusahaan
tersebut bergerak pada sektor bisnis pertambangan maka itu berbeda dengan
perusahaan yang bergerak pada bisnis pertanian serta perikanan. Maka begitu juga
pada perusahaan dengan sektor keuangan.
Menurut Irham Fahmi (2011:2) ada 5 (lima) tahapan dalam menganalisis
kinerja keuangan suatu perusahaan secara umum, yaitu :
1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan
2. Melakukan perhitungan
3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh
4. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan
yang ditemukan
5. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
permasalahan yang ditemukan
5 (lima) tahapan dalam menganalisis kinerja keuangan tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Melakukan review terhadap data laporan keuangan
Review di sini dilakukan dengan tujuan agar laporan keuangan yang sudah
di buat tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku
umum dalam dunia akutansi, sehingga dengan demikian hasil laporan
keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.
34
2. Melakukan perhitungan
Penerapan metode perhitungan di sini adalah disesuaikan dengan kondisi
dan permasalahan yang sedang dilakukan sehingga hasil dari perhitungan
tersebut akan memberikan suatu kesimpulan sesuai dengan analisis yang
diinginkan.
3. Melakukan perbandingan terhadap hasil hitungan yang telah diperoleh
Dari hasil hitungan yang sesuai diperoleh tersebut kemudian dilakukan
perbandingan dengan hasil hitungan dari berbagai perusahaan lainnya.
Metode yang paling umum dipergunakan untuk perbandingan ini ada dua
yaitu :
a. Time series analysis, yaitu membandingkan secara antar waktu atau
antara periode, dengan tujuan itu nantinya akan terlihat secara grafik.
b. Cross sectional approach, yaitu melakukan perbandingan terhadap
hasil hitungan rasio-rasio yang telah dilakukan antara satu perusahaan
dan perusahaan lainnya dalam ruang lingkup yang sejenis yang
dilakukan secara bersamaan.
4. Melakukan penafsiran (interpretation) terhadap berbagai permasalahan
yang ditemukan
Pada tahap ini analisis melihat kinerja keuangan perusahaan adalah setelah
dilakukan ketiga tahap tersebut selanjutnya dilakukan penafsiran untuk
melihat apa-apa saja permasalahan dan kendala-kendala yang di alami
perusahaan tersebut.
35
5. Mencari dan memberikan pemecahan masalah (solution) terhadap
permasalahan yang ditemukan
Pada tahap terakhir ini setelah ditemukan berbagai permasalahan yang
dihadapi maka dicarikan solusi guna memberikan suatu input atau
masukan agar apa yang menjadi kendala dan hambatan selama ini dapat
terselesaikan.
2.3.4 Rasio Kinerja Keuangan
Indikator kinerja keuangan akan tercermin oleh rasio-rasio keuangan bagi
perusahaan. Rasio keuangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Return
on Equity (ROE).
Menurut menurut Fahmi (2011:137) rasio untuk menilai kinerja keuangan
adalah sebagai berikut:
Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) disebut juga laba atas equity. Dalam beberapa
referensi disebut juga dengan rasio total asset turnover atau perputaran
total asset. Rasio ini menilai sejauh mana suatu perusahaan
mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan
laba atas ekuitas.
ROE = Laba Bersih x 100%
Ekuitas
36
2.4 Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran adalah gambaran tentang keterkaitan antara variabel
independen dengan variabel dependen yang akan diteliti untuk mengetahui suatu
masalah.
Industri barang konsumsi merupakan salah satu sektor industri yang cukup
menarik. Hal ini dikarenakan produk barang konsumsi selalu dibutuhkan dalam
kehidupan manusia. Indonesia merupakan negeri yang kaya akan sumber daya
alam sehingga banyak komoditi yang dapat diproduksi. Selain itu, sumber daya
manusia yang jumlahnnya cukup besar menyebabkan di Indonesia banyak
perusahaan yang berkembang disektor industri barang konsumsi.
Kinerja keuangan perusahaan merupakan ukuran tingkat keberhasilan
manajemen dalam mengelola sumberdaya keuangan perusahaan, terutama pada
pengelolaan investasi sebagai upaya untuk menciptakan nilai bagi pemegang
saham (Elizabeth, 2000). Kinerja keuangan dapat dinilai dari beberapa aspek
dengan beberapa teknik yang dapat digunakan. Salah satu teknik yang paling
banyak digunakan dalam pengukuran kinerja keuangan yaitu dengan rasio
keuangan. Rasio keuangan ini dirancang untuk membantu kita mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan perusahaan (Kamaluddin dan Indriani, 2012).
Optimalisasi kinerja keuangan yang merupakan tujuan perusahaan dapat
dicapai melalui fungsi manajemen keuangan, dimana satu keputusan keuangan
yang diambil akan mempengaruhi keputusan keuangan lainnya dan berdampak
pada kinerja keuangan perusahaan. Faktor yang dapat mempengaruhi kinerja
37
keuangan perusahaan salah satunya adalah struktur modal (Fama dan French,
1998).
Permasalahan modal merupakan salah satu agenda yang harus dipikirkan
secara bersama-sama oleh seluruh unsur manajemen dalam perusahaan dan bukan
hanya menjadi tugas manajer keuangan, karena menyangkut seluruh kegiatan
perusahaan. Keputusan struktur modal perlu dipertimbangkan dengan baik karena
menyangkut risiko yang mungkin terjadi dan perusahaan harus menanggung
dampak dari keputusan tersebut. Oleh karena itu salah satu keputusan penting
manajer keuangan agar tetap berdaya saing dalam jangka panjang adalah
keputusan mengenai struktur modal (Weston dan Brigham, 1994).
Pentingnya kinerja keuangan perusahaan telah membuat banyak peneliti
untuk melakukan penelitian. Pada penelitian ini yang akan diteliti adalah struktur
modal perusahaan yang diukur dengan DAR, DER, dan LDER dan pengaruhnya
terhadap efektivitas kinerja keuangan perusahaan yang diukur dengan ROE.
Untuk lebih jelasnya, proses penyusunan kerangka pemikiran dalam
penelitian ini dapat dilihat pada gambar berikut ini:
DAR (X1)
DER (X2) ROE (Y)
LDER (X3)
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran
38
2.5 Hipotesis
2.5.1 Pengaruh Struktur Modal yang Diukur dengan DAR terhadap
Efektivitas Kinerja Keuangan Perusahaan yang Diukur dengan ROE
Dalam mengukur struktur modal peneliti menggunakan rasio Total Debt to
Total Assets Ratio (DAR). Debt to Total Asset Ratio (DAR) merupakan rasio
hutang terhadap total aktiva yang nilainya bisa diketahui dengan cara membagi
jumlah total hutang perusahaan dengan total aktiva perusahaan dan kemudian
dikalikan dengan 100% untuk mendapatkan persentase dari DAR didalam
perusahaan. DAR merupakan persentase harta atau aset perusahaan yang dibiayai
dengan hutang. Nilai DAR yang tinggi mengakibatkan ketidakmampuan
perusahaan dalam membayar semua kewajibannya (hutang), sedangkan dipihak
pemegang saham mengakibatkan pembayaran bunga yang tinggi dan akan
mengurangi pembayaran deviden. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa
besar aktiva yang dibiyai dengan hutang. Semakin rendah rasio hutang (DAR),
semakin bagus kondisi suatu perusahaan. Karena hanya sebagian kecil aset yang
dibiyai dengan hutang. Jika dana yang dipinjam perusahaan tersebut (hutang)
memperoleh hasil yang lebih besar dibandingkan hutang tersebut, maka
penghasilan atau laba yang diperoleh perusahaan akan bertambah besar sehingga
perusahaan akan mampu untuk mengembalikan kewajibannya (ROE).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nugraha (2013) menunjukkan
bahwa struktur modal yang diukur dengan DAR mempunyai pengaruh dan
signifikan terhadap kinerja perusahaan, berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Binangkit (2014) menunjukkan bahwa struktur modal yang diukur dengan
39
DAR mempunyai pengaruh dan signifikan terhadap terhadap kinerja perusahaan,
dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John (2013) menunjukkan bahwa
struktur modal mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan.
Ha : Struktur Modal yang diukur dengan DAR berpengaruh dan signifikan
terhadap Efektivitas Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Perusahaan Industri
Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2.5.2 Pengaruh Struktur Modal yang Diukur dengan DER terhadap
Efektivitas Kinerja Keuangan Perusahaan yang Diukur dengan ROE
Dalam mengukur struktur modal peneliti menggunakan rasio Total Debt to
Total Equity Ratio (DER). Debt to Total Equity Ratio (DER) merupakan rasio
merupakan perbandingan antara total hutang (hutang lancar dan hutang jangka
panjang) dan modal yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk memenuhi
kewajibannya dengan menggunakan modal yang ada. Rasio ini merupakan rasio
untuk mengukur seberapa bagus struktur permodalan perusahaan. Rasio DER
yang tinggi dapat menggambarkan bahwa perusahaan dapat beroperasi dengan
hutang sebagai modalnya. Tinggi rendahnya DER akan mempengaruhi tingkat
pencapaian ROE yang dicapai perusahaan. Jika biaya yang ditimbulkan oleh
pinjaman lebih kecil daripada biaya modal sendiri, maka sumber dana yang
berasal dari pinjaman atau hutang akan lebih efektif dalam menghasilkan laba
sehingga perusahaan akan mampu untuk mengembalikan kewajibannya (ROE),
demikian juga dengan sebaliknya.
40
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nugraha (2013) menunjukkan
bahwa struktur modal yang diukur dengan DER mempunyai pengaruh dan
signifikan terhadap kinerja perusahaan, berdasarkan penelitian yang dilakukan
oleh Binangkit (2014) menunjukkan bahwa struktur modal yang diukur dengan
DER mempunyai pengaruh dan signifikan terhadap terhadap kinerja perusahaan,
dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John (2013) menunjukkan bahwa
struktur modal mempunyai pengaruh terhadap kinerja keuangan.
Ha : Struktur Modal yang diukur dengan DER berpengaruh dan signifikan
terhadap Efektivitas Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Perusahaan Industri
Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI).
2.5.3 Pengaruh Struktur Modal yang Diukur dengan LDER terhadap
Efektivitas Kinerja Keuangan Perusahaan yang Diukur dengan ROE
Dalam mengukur struktur modal peneliti menggunakan rasio Long Term
Debt to Equity Ratio (LDER). Long Term Debt to Equity Ratio (LDER)
merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur bagian dari modal sendiri yang
dijadikan jaminan untuk hutang jangka panjang. Semakin rendah rasio maka akan
semakin tinggi kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jangka
panjang. Besarnya hutang yang terdapat dalam struktur modal perusahaan sangat
penting untuk memahami perimbangan antara risiko dan laba yang didapat
sehingga perusahaan akan dilihat apakah perusahaan mampu untuk
mengembalikan kewajibannya (ROE). Hutang membawa risiko karena setiap
hutang pada umumnya akan menimbulkan keterikatan yang tetap bagi perusahaan
41
dalam bentuk kewajiban membayar bunga serta cicilan kewajiban pokoknya
secara periodik.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nugraha (2013) menunjukkan
bahwa struktur modal yang diukur dengan LDER tidak mempunyai pengaruh dan
signifikan terhadap kinerja perusahaan, namun berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Binangkit (2014) menunjukkan bahwa struktur modal yang diukur
dengan LDER mempunyai pengaruh dan signifikan terhadap terhadap kinerja
perusahaan, dan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh John (2013)
menunjukkan bahwa struktur modal mempunyai pengaruh terhadap kinerja
keuangan.
Ha : Struktur Modal yang diukur dengan LDER berpengaruh dan signifikan
terhadap Efektivitas Kinerja Keuangan Perusahaan Pada Perusahaan Industri
Barang Konsumsi Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI).