Jenis dan Struktur Rel Kereta Api
Jenis dan Struktur Rel Kereta Api
TINJAUAN PUSTAKA
Sejarah mencatat bahwa pada awal penemuan rel kereta api menggunakan
papan kayu sebagai jalur rel. Rel pertama kali ditemukan pada tahun 1630 di
Inggris, hal ini bertujuan untuk pembangunan dan peningkatan angkutan
pertambangan dan batu bara dengan menggunakan kuda sebagai tenaga
penarik[4]. papan kayu sebagai jalur rel juga menggunakan bantalan-bantalan
yang melintang dari kayu. Penggunaan papan kayu sebagai rel cepat
mengalami kerusakan dan pelapukan, sehingga pada tahun 1734 inovasi
6
dilakukan dengan penggunaan batang besi. Tahun 1776 digunakan besi cor
sebagai sumber pembuatan rel, awalnya roda rel yang digunakan pada batang
besi menggunakan flens yang berada di bagian luar rel dan diganti menjadi
flens sebelah dalam rel. Perkembangan bentuk rel berbentuk T ditemukan oleh
Robert L. Stevens, seorang kepala insinyur berkebangsaan Amerika Serikat di
stasiun Camden dan Amboy Railroad.
7
Gambar 2. 1. Perbandingan panjang rel kereta api di Indonesia
(Sumber : Badan Pusat Statistik )
8
bagian tersebut merupakan tempat tumpuan roda serta agar
mendapatkan umur yang lebih panjang akibat keausan yang diterima
oleh rel akibat gesekan yang terus menerus dari roda rel, bentuk rel
ini dapat dilihat pada gambar 2.2 berikut ini.
9
2.2.2. Rel Berdasarkan Bentuk
Rel berdasarkan bentuk dapat dikelompokkan pada tiga bentuk yang
berbeda yaitu :
10
Gambar 2. 4 Rel alur (Groved rail)
11
lebar diantara kedua sisi kepala rel yang diukur antara 0-14 mm di bawah
permukaan teratas kepal rel tersebut. Lebar jalur disesuaikan dengan
bantalan-bantalan yang terbuat dari kayu, beton serta baja. Bantalan-
bantalan ini dibuat berdasarkan kondisi lapangan serta keakuratan yang
tinggi.
12
2.2.4. Rel Berdasarkan Kelas
Rel berdasarkan kelas dibagi atas 5 jenis kelas, pembagian jenis
tersebut dilakukan menyesuaikan dengan kecepatan rel yang di lintasi.
Kecepatan rel memiliki standar maksimum 120 km/jam [10].
13
Tabel 2. 2 Jenis rel berdasarkan beban
Tipe rel Berat Tinggi Lebar Lebar Tebala Panjang rel standar
(kg/m) rel kaki kepala badan (m)
(mm) (mm) (mm) (mm)
R2/R25 25,75 110 90 53 10 6,80-10,20
R3/R33 33,50 134 105 58 11 11,90-13,60
R14/R41 41,52 138 110 68 13,5 11,90-13,60-17,00
R14A/R42 42,18 138 110 68,5 13,5 13,60-17,00
R50 50,40 153 127 63,8 15 17,00
UIC54/R54 53,40 159 140 70 16 18,00/24,00
R60 60,34 172 150 74,3 16,5
(Sumber : Buku Rekayasa Jalan Kereta Api)
1. Rel Standar
Rel standar merupakan rel yang memiliki panjang 25 m. Rel tersebut
merupakan jenis rel dengan panjang rel yang dipakai oleh PT. Kereta
Api Indonesia, panjang sebelumnya menggunakan 17 meter rel. Rel
standar 25 m ini memiliki beberapa keunggulan dibandingkan rel
panjang 17 m yang sebelumnya dipakai oleh [Link] Api
Indonesia[9].
a. Penggunaan sambungan sepanjang rel akan berkurang dengan
penggunaan ukuran 25 m. Penggunaan penyambung sepanjang
1 km menggunakan 59 penyambung menjadi 40 penyambung
dengan penggunaan ukuran panjang 25 m. Dengan pengurangan
14
jumlah penyambung maka dapat menghemat biaya, selain hal
tersebut penyambungan akan semakin hebat sebanyak 32 %.
b. Berkurangya jumlah penambat rel maka menjadikan rel
semakin stabil dan nyaman karena di setiap sambungan
menimbulkan getaran.
c. Jenis sambungan ini memiliki sifat isolasi yaitu (insulated rail
joint). Jenis penyambung rel ini memiliki sifat yang isolator, hal
ini bertujuan untuk mengisolasi aliran listrik yang terdapat di
setiap ujung sambungan.
2. Rel Pendek
Rel pendek merupakan rel yang disusun dari rel standar dan
disambung melalui pengelasan. metode pengelasan rel dilakukan
pada dua metode yang berbeda yaitu “flash butt welding”dan
thermit welding. Pengerjaan pengelasan dilakukan di tempat
pengerjaan rel, hal ini bertujuan untuk mempermudah pengangkutan
rel dari pabrik pembuatan ke lapangan pengerjaan jalur rel, panjang
maksimum rel 100 m.
3. Rel Panjang
Rel panjang merupakan kumpulan beberapa rel pendek yang
disambung sepanjang jalur rel dengan ukuran rel 100 m. Pada saat
penyambungan rel menggunakan pengelasan dengan metode
Continuous Welded Rail (CWR). Penentuan panjang rel ini
berdasarkan bantalan-bantalan yang digunakan. Beberapa
pertimbangan yang harus dilakukan ketika menjadikan jalur rel
dengan rel panjang adalah memperhatikan gaya longitudinal rel,
kemungkinan terjadinya tekuk (buckling), patah rel, serta pemuaian
dan penyusutan yang terjadi pada rel. Beberapa keuntungan
penggunaan rel panjang adalah berikut.
1. Meminimalisir terjadinya goncangan di setiap sambungan rel
sehingga kereta api berjalan secara normal.
2. Berkurangnya getaran serta kebisingan yang terjadi pada rel
pendek.
15
3. Memperlambat terjadinya keausan dan kerusakan pada rel.
Penentuan panjang rel berdasarkan bantalan dapat dilihat pada tabel
berikut.
Tabel 2. 3 Bantalan rel berdasarkan tipe rel
Jenis Tipe rel
bantalan R42 R 50 R54 R60
Bantalan kayu 325 m 375 m 400 m 450 m
Bantalan
200 m 225 m 250 m 275 m
beton
Dilihat dari tabel diatas maka standar rel yang digunakan oleh kereta api
Indonesia adalah WR-A. jenis standar ini merupakan jenis standar yang
memiliki nilai yang kadar baja karbon yang tinggi. Nilai standar [Link] Api
Indonesia adalah 0,60-0,80. Sedangkan jenis WR-B, WR-C, Merupakan jenis
baja karbon yang lebih rendah. Berikut merupakan kandungan utama kimia
yang terdapat pada rel.
16
1. Karbon (C)
Zat karbon merupakan suatu unsur kimia yang terdapat didalam baja rel
kereta api. karbon dalam sistem tabel periodik merupakan unsur yang
terletak pada golongan 14 dengan simbol C dan memiliki nomor atom 6.
Unsur karbon banyak ditemukan di alam semesta khususnya pada
matahari, bintang-bintang, atmosfer, komet serta memiliki jumlah berada
pada urutan ke 4 terbanyak di alam semesta. dilihat dari sifatnya, Karbon
merupakan unsur non logam. Unsur non logam memiliki bentuk cair, padat
dan gas. Dalam hal ini karbon termasuk ke dalam bentuk padat. Sifat
karbon umumnya tidak mengkilap, bukan penghantar listrik yang baik,
dan memiliki titik didih atau leleh yang lemah. Dalam kandungan rel ini,
menurut standar yang ditetapkan 0,6-0,8%. Tujuan khusus penggunaan
unsur karbon adalah sebagai penguat dan pengeras.
2. Silikon (Si)
Silicon merupakan salah satu unsur dalam tabel periodik yang
dilambangkan dengan Si dan memiliki nomor atom 14. Dalam material
logam, silikon berfungsi sebagai pencegah keausan. Unsur ini ditemukan
oleh Jons Jakob Berjelius, seorang ilmuan yang berasal dari Swedia. Di
alam semesta, silikon merupakan unsur terbanyak ke delapan. Dalam
material Baja rel, silikon merupakan salah satu penyusun terbesar dengan
jumlah kandungan sebanyak 0,15-0,35 %.
3. Mangan(Mn)
Mangan merupakan unsur kimia bernomor 25 dengan simbol Mn. Mangan
merupakan logam keempat terbanyak digunakan di Dunia, selain itu
mangan juga material kedua paling banyak digunakan dalam kehidupan
sehari, hampir 90 % Mangan banyak digunakan dalam industri material
baja, hal ini sangat dibutuhkan karena mangan memiliki kegunaan sebagai
pencegah sifat getas. Sifat getas merupakan kerusakan yang terjadi pada
material tanpa ada tanda-tanda sebelum terjadinya kerusakan.
4. Fosfor(P)
Merupakan unsur kimia yang memiliki nilai atom 15. Fosfor termasuk ke
dalam jenis non logam. dalam material baja, fosfor memiliki kegunaan
17
untuk mencegah keropos serta meningkatkan kekuatan, kemampuan
mesin, dan ketahanan dari korosi.
5. Sulfur(S)
Sulfur adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang S
dan nomor atom 16. Sulfur atau yang biasa disebut belerang merupakan
unsur non-logam yang tidak berasa. sulfur dalam bentuk aslinya adalah
sebuah zat padat kristalin kuning.
18
1. Baja Karbon Rendah
Baja karbon rendah merupakan baja yang memiliki kandungan
dengan persentase kurang lebih 0,25% serta memiliki sifat yang
kurang responsif terhadap perlakuan panas. Penggunaan jenis baja
karbon ini sangat luas karena mudah dibentuk dan machining. Jenis
karbon ini banyak ditemukan pada atap rumah, kaleng, pipa serta
plat. biasanya memiliki kekuatan luluh 275 MPa (40.000 psi),
kekuatan tarik antara 415 dan 550 MPa (60.000 dan 80.000 psi).
2. Baja karbon sedang
Baja karbon rendah merupakan baja yang memiliki persentase
karbon antara 0,25% hingga 0,6%. Memiliki tingkat kekuatan dan
ketangguhan yang lebih baik dibandingkan baja karbon rendah,
tidak mudah dibentuk serta susah dilakukan pengelasan.
Penggunaan baja karbon ini sangat luas serta sering dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari seperti poros, roda gigi, rel kereta api
serta berbagai jenis bahan yang membutuhkan kekuatan tinggi.
3. Baja Karbon Tinggi.
Baja karbon sedang memiliki persentase karbon lebih dari 0,6%
sehingga merupakan baja paling kuat diantara jenis baja karbon.
Baja ini memiliki sifat yang sangat keras, kuat, tangguh sehingga
memiliki nilai tahan aus. Memiliki kelemahan yaitu susah
dibentuk karena memiliki nilai keuletan yang sangat rendah.
memiliki kekuatan tarik yang sangat tinggi sehingga penggunaan
jenis baja ini banyak ditemukan di berbagai industri seperti palu,
mata bor, kawat berkekuatan tinggi, mata gergaji [14].
19
tidak memiliki sifat yang baik pada bahan lainya[12]. Berikut ada
delapan sifat mekanik baja rel antara lain.
1. Kekerasan (hardness)
Kekerasan merupakan sesuatu kemampuan material bahan dalam
untuk menahan goresan, kekuatan, pengikisan. Pada sifat ini
memiliki kaitan dengan sifat tahan keausan (wear resistance) suatu
bahan material. Sifat ini memiliki kaitan dengan kekuatan (strength).
2. Kekuatan (strength)
Kekuatan merupakan suatu kemampuan bahan material dalam
menerima tegangan tanpa menyebabkan perubahan sifat material
seperti patah. Ada beberapa kekuatan yang ditentukan berdasarkan
beban yang bekerja yaitu kekuatan tarik, kekuatan geser, kekuatan
tekan, kekuatan puntir, dan kekuatan bengkok.
3. Elastisitas (elasticity)
Elastisitas merupakan kemampuan bahan material dalam menerima
beban tanpa mengalami perubahan bentuk secara permanen.
Perubahan yang dimaksud adalah tanpa terjadinya suatu perubahan
bentuk permanen setelah tegangan dihilangkan. Hal ini memiliki
pertimbangan bahwa jika suatu beban yang diberikan pada material
tanpa melampaui batas tertentu tidak akan mengalami perubahan
secara permanen dan dapat kembali kebentuk semula setelah
menerima deformasi plastis.
4. Kekakuan (stiffness)
Kekakuan merupakan suatu kemampuan material ketika diberikan
beban tanpa mengalami perubahan bentuk (deformasi) dan deflasi.
5. Ketangguhan (toughness)
Kemampuan suatu material ketika diberikan pembebanan pada saat
penyerapan suatu energi tanpa terjadi kerusakan pada material.
Selain itu dapat di defenisikan bahwa kemampuan suatu material
ketika diberikan pembebanan hingga mengalami kegagalan dan
patah. Hal ini juga menjadi tolak ukur penggunaan banyaknya energi
hingga terjadi kegagalan dan patah.
20
6. Plastisitas (plasticity)
Plastisitas merupakan suatu kemampuan material mengalami
deformasi plastis yang permanen tanpa terjadi patah. Sifat ini sangat
dibutuhkan pada proses material seperti penempaan, rolling,
ekstrusi. Suatu material yang mengalami deformasi plastis disebut
material yang memiliki nilai keuletan yang tinggi atau biasa disebut
bahan yang ulet (ductile). sedangkan bahan yang tidak mengalami
deformasi plastis termasuk pada material keuletan yang rendah atau
biasa disebut getas (brittle).
7. Kelelahan (fatigue)
Kelelahan merupakan suatu keadaan material ketika mengalami
tegangan berulang-ulang (cyclic stress) yang nilai elastisitasnya
masih berada dibawah batas kekuatan material sehingga terjadi
patah. Sebagian besar yang kerusakan-kerusakan yang terjadi pada
mesin diakibatkan kelelahan. Dampak kelelahan pada material baja
akan mengalami fraktur (gagal).
8. Keretakan (creep)
Keretakan merupakan keadaan yang dialami suatu material yang
terjadi deformasi plastis dengan nilai pembeban dan waktu
pembebanan terjadi bersamaan.
21
Diagram fase merupakan sebuah representasi fase yang terdapat dalam
komposisi kimia, suhu, serta sifat suatu material. Gambar diagram
menunjukkan komposisi kesetimbangan karbon suatu material besi
sehingga membentuk baja yang memiliki sifat yang sangat baik. Tetapi
setiap baja karbon memiliki berbagai unsur kimia lainnya. Unsur seperti
Si, Mn, P, S serta unsur kimia lainnya tidak memiliki pengaruh yang
signifikan pada diagram fase sehingga diagram fase dapat dipakai tanpa
memperhatikan unsur tersebut[16]. Dibawah ini merupakan gambar
diagram fase yang dijelaskan sebagai berikut.
1. Ferrite (∝)
kondisi ferrite memiliki padat karbon yang sangat rendah yaitu
0,022 % pada suhu 727 ℃, memiliki susunan Kristal BCC (Body
Center Cubic) dan pada temperatur kamar mempunyai batas
kelarutan karbon 0,08 % C. Sesuai dengan sifatnya maka kondisi
ferrite termasuk ke dalam baja karbon rendah yang memiliki sifat
keuletan yang tinggi dan rendah ketangguhan serta memiliki
kekerasannya lebih kecil dari 90 HRB[17].
2. Austenit (𝛾)
Kondisi austenite memiliki padat karbon yang baik yaitu kelarutan
maksimum 2,14 % pada suhu 1147 ℃ serta memiliki nilai minimum
karbon sebesar 0.8 % pada suhu 727 ℃. Memiliki susunan kristal
FCC (Face Center Cubic). Sesuai dengan sifatnya maka kondisi
austenit merupakan baja karbon tinggi yaitu memiliki keuletan yang
rendah tetapi nilai kekerasan yang sangat baik.
3. Cementit (Fe3 C)
Cementit adalah suatu senyawa yang terdiri dari unsur Fe dan C
dengan perbandingan tertentu. Dapat ditemukan pada besi paduan
yang memiliki nilai karbon 6,7 %.
4. Lediburite
Lediburite adalah campuran Eutectic antara besi Gamma dengan
Cementid yang dibentuk pada temperatur 1130°C dengan
kandungan Karbon 4,3%.
22
5. Pearlite
pearlite adalah Eeutectoid mixture dari ferrite dan cementite
(α+Fe3C), sifat perlite terjadi pada temperatur 723°C dengan
kandungan 0,8 % karbon dan dikategorikan baja karbon tinggi.
6. Titik eutectoid (α+Fe3C)
Titik eutectoid berada pada titik dengan nilai Karbon 0.76 %. Fase
eutectoid berada pada titik ferlit dan cementit (α+Fe3C).
7. Titik eutektik.
Waktu pendinginan fase γ dengan komposisi E dan cementit dalam
komposisi F terbentuk dari cairan komposisi C. Dimana fase
eutektik disebut dengan ledeburit.
8. Feritectic
saat pendinginan austenite pada komposisi J, fase γ terbentuk dari
larutan padatan ⸹ dalam komposisi H dan cairan komposisi B.
23
2.4 Uji Kekerasan
Pada zaman kuno dan abad pertengahan, satu-satunya cara untuk menguji
kekerasan suatu bahan adalah dengan uji kinerja kasar senjata dan peralatan
yang terbuat dari baja. Pedang dipukul pada kayu atau batu untuk menentukan
apakah baja itu cukup keras, menurut sayatan yang dihasilkan. Ketika Abad
pertengahan berakhir, pengujian kekerasan kuantitatif berkembang selangkah
demi selangkah, pertama kali bidang mineralogi. Dengan pembangunan rel
kereta api dan teknik mesin, kebutuhan untuk menguji kekerasan logam
muncul pada paruh kedua abad ke-19[18].
24
yang sederhana dan tidak memerlukan keahlian khusus. Pengujian
model ini memiliki kemudahan dalam hal pengoperasian sehingga lebih
banyak ditemukan dalam industri namun dalam pengujian benda tipis
sulit digunakan[20].
25
Tabel 2. 5 Skala Indentor Rockwell dan simbol huruf
Simbol
Indentor Beban Warna
SkalaHuruf
digunakan (kg)
Awalan
B Bola baja 1/16 100 Merah
inchi
C Brale 150 Hitam
A Brale 60 Hitam
D Brale 100 Hitam
E Bola baja 1/8 inchi 100 Merah
F Bola baja 1/16 60 Merah
inchi
G Bola baja 1/16 150 Merah
inchi
H Bola baja 1/8 60 Merah
inchi
K Bola baja1/8 inchi 150 Merah
L Bola Baja 1/4 60 Merah
inchi
M Bola Baja 1/4 100 Merah
inchi
P Bola Baja 1/4 150 Merah
inchi
R Bola Baja 1/2 60 Merah
inchi
S Bola Baja 1/2 100 Merah
inchi
V Bola Baja 1/2 150 Merah
inchi
26
dibutuhkan semakin besar juga[21]. Selam pengujian beban yang
diberikan memiliki waktu pembeban yang relatif konstan yaitu antara
10 detik hingga 30 detik. nilai kekerasan brinell (HB) adalah nilai yang
dihasilkan dari penekanan indentor melalui besaran beban dan diameter
lekukan.
27
pembebanan dibawah pengujian brinell dan rockwell. Tingkat
pembeban yang dimiliki 1 gram hingga 120 kg. Tingkat pembenan
dapat disesuaikan dengan kebutuhan spesimen. Pengujian vicker
disebut juga pengujian mikro indentation berdasarkan ukuran
indentornya. Hal ini karena pengujian vickers sangat cocok pada
spesimen yang kecil.
28
2.5 Uji Struktur Mikro
Struktur mikro adalah gambaran dari beberapa fase yang hanya dapat diamati
melalui uji metalografi. Metalografi merupakan ilmu logam yang mempelajari
karakteristik dan struktur suatu logam dalam skala mikro menggunakan
mikroskop optik. Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui sifat fase yang
terdapat didalam spesimen baja karbon yang akan diuji. Dengan menggunakan
spesimen uji yang telah dihaluskan agar dapat terlihat kandungan di dalam
benda uji tersebut[23].
Mikroskop optik memiliki prinsip kerja sebagai pengujian struktur mikro dapat
dilihat pada gambar 2.7 dibawah ini, yaitu memberikan cahaya horizontal dari
sumber cahaya melalui lensa objektif dan okuler yang dipantulkan oleh
reflektor. Lensa objektif dan okuler memiliki fungsi sebagai pemberi pantulan
cahaya untuk memberikan pembesaran gambar struktur mikro. Gambar
struktur mikro yang didapatkan melalui pantulan cahaya lensa akan
memberikan hasil lebih akurat.
29
Gambar 2. 10. Seperangkat Alat uji Struktur Mikro
Uji struktur mikro bertujuan untuk mengetahui sifat melihat dan menganalisis
dari jenis serta bentuk struktur mikro. Uji struktur mikro dilakukan untuk
mengetahui sifat mekanik dari suatu logam setelah diketahui struktur
mikronya. Karena setiap logam memiliki sifat mekanik yang berbeda, hal
tersebut dapat dibedakan dari jenis struktur mikronya. Dalam pengujian mikro
struktur dapat dilakukan dengan pertimbangan diagram fase. Hal ini untuk
melihat fase melalui temperatur dan komposisi yang digunakan. Pengujian ini
nantinya mengetahui ukuran dan bentuk butir dari struktur mikro dan
persebaran fase pada material logam serta zat pengotor pada logam[14].
30