0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan91 halaman

Hafalan Juz 'Amma dan Karakter Religius

Diunggah oleh

Hafsyah 19
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan91 halaman

Hafalan Juz 'Amma dan Karakter Religius

Diunggah oleh

Hafsyah 19
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI UPAYA

PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK PADA


MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS KELAS VII MTs AN-NUR
KOTA CIREBON

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk


Memperolah Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Oleh:
Nama : Hafsyah
Nim : 0101191102
Program Studi : Pendidikan Agama Islam

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA CIREBON
2023
LEMBAR PERSETUJUAN

PENERAPAN HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN


KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AL-
QUR’AN HADITS KELAS VII MTS AN-NUR KOTA CIREBON

SKRIPSI

Program Studi : Pendidikan Agama Islam

Disusun Oleh :
HAFSYAH
NIM : 0101191102

Telah disetujui pada tanggal 5 Agustus 2023

Pembimbing :

Pembimbing I, Pembimbing II,

Tosuerdi., S. HI, [Link].I Dr. Tuti Alawiyah, [Link].I, [Link].I


NIDN. 0421037903 NIDN. 0420127903

i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN

Yang bertandatangan dibawah ini:


Nama : Hafsyah
Nim : 0101191102
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam
Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon

Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul : Penerapan hafalan juz ‘amma


sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran Al-
Qur’an Hadits kelas VII MTs An-Nur KoTa Cirebon, secara keseluruhan adalah ASLI
hasil penelitian saya, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya dan
disebutkan dalam daftar pustaka.

Pernyataan ini dibuat dengan sejujur-jujurnya dan dengan penuh kesungguhan


hati, disertai kesiapan untuk bertanggungjawab atas segala resiko yang mungkin terjadi,
sesuai dengan peraturan yang berlaku, apabila dikemudian hari ditemukan adanya
pelanggaran terhadap etika keilmuan atau ada klaim terhadap keaslian karya saya ini.

Cirebon, Agustus 2023


Yang menyatakan,

Hafsyah
NIM. 0101191102

iii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – INDONESIA

Pengalihan huruf Arab-Indonesia dalam naskah ini didasarkan atas Surat


Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, tanggal 22 Januari 1988, No. 158/1987 dan
0543.b/U/1987, sebagaimana yang tertera dalam buku Pedoman Transliterasi
Bahasa Arab (A Guide to Arabic Tranliterastion), INIS Fellow 1992.

Arab Latin Arab Latin


‫ا‬ A ‫ط‬ T
‫ب‬ B ‫ظ‬ Z
‫ت‬ T ‫ع‬ ‘
‫ث‬ Ts ‫غ‬ G
‫ج‬ J ‫ف‬ F
‫ح‬ H ‫ق‬ Q
‫خ‬ Kh ‫ك‬ K
‫د‬ D ‫ل‬ L
‫ذ‬ Dz ‫م‬ M
‫ر‬ R ‫ﻥ‬ N
‫ﺯ‬ Z ‫ﻭ‬ W
‫س‬ S ‫ه‬ H
‫ش‬ Sy ‫ء‬ ,
‫ص‬ Sh ‫ي‬ Y
‫ض‬ Dh

Vokal diftong dan panjang

Arab Latin Arab Latin


‫آ‬ â (a panjang) ‫´َ ˚و‬ Aw
‫ا ˚ي‬ î (i panjang) ˚َ ‫ا ´ي‬ Ay
‫اُ ˚و‬ û (u panjang)

iv
ABSTRAK
Penerepan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan
untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap tuhan yang Maha Esa,
diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Siswa MTs An-Nur
Kota Cirebon rata-rata menetap dipesantren dan sebagian kecil mereka pulang
pergi. Setelah peneliti amati, peneliti menemukan siswa yang belum mampu
menghafal surat-surat pendek (Juz 30).
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah yang dapat ditarik
adalah penerapan hafalan juz ''amma sebagai upaya pembentukan karakter
religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur'an hadits.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian field research yang biasa
disebut dengan penelitian lapangan yang dijadikan sebagai pendekatan dalam
penelitian kualitatif. Peneliti mengamati penerapan hafalan juz’amma sebagai
upaya pembentukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran al-
qur’an hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon kemudian dianalisis. Pada
penelitian ini, akan menggambarkan bagaimana penerapan hafalan juz ‘amma
sebagai nupaya pembentukan karakter religius peserta didik pada mata
pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembentukan karakter religius pada diri
siswa, memerlukan berbagai cara, metode, pendekatan, dan perlu dilakukan
disegala situasi. Salah satu cara yaitu dengan cara pembiasaan. Kegiatan
pembiasaan hafalan Juz’amma sangat efektif untuk pembinaan karakter
religius anak karena dilakukan terus menerus dan berulang-ulang, sehingga
dapat melekat di dalam diri siswa kemudian dapat membentuk karakter
religius seperti yang diinginkan. Penerapan hafalan juz ‘amma pada siswa
kelas VII di MTs An-Nur dilakukan pada mata pelajaran al-qur’an hadits
dengan metode muroja’ah setiap pagi jam 07.00 sekitar 10-15 menit, kemudian
siswa maju satu persatu menyetorkan hafalan juz ‘amma pada guru entah itu
hanya 1 surat ataupun hanya 1-2 ayat saja.
Berdasarkan data-data dan laporan yang tersaji dari hasil penelitian dan
pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dalam skripsi ini peneliti
mengambil kesimpulan. Penerepan hafalan juz ‘amma sebagai upaya
pementukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an
hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon dapat dilakukan dengan cara,
Membiasakan membaca dan menghafal juz ‘amma (juz 30) setiap pagi setelah
baca do’a bersama, Siswa menghafalkan hafalan juz ‘amma lalu disetorkan
kepada guru.
Kata Kunci: Penerapan hafalan juz ‘amma, Karakter Religius. Mata
pelajaran

v
Al-Qur’an Hadits

ABSTRACT

Penerepan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter


Religius Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon
Character education is a system of cultivating character values which includes
components of knowledge, awareness or will, and actions to carry out these values,
both towards God Almighty, oneself, others, the environment, and nationality. On
average, students of MTs An-Nur in Cirebon City stay at the Islamic boarding school
and a small number of them commute. After the researcher observed, the researcher
found students who had not been able to memorize short letters (Juz 30).

Based on this description, the formulation of the problem that can be drawn is
the application of memorizing juz' 'amma as an effort to form the religious character
of students in the subject of Al-Qur'an Hadith.

This research is a type of field research which is commonly referred to as field


research which is used as an approach in qualitative research. The researcher
observed the application of juz'amma memorization as an effort to form the religious
character of students in the class VII Qur'an hadith subject at MTs An-Nur Cirebon
City and then analyzed it. In this study, it will describe how the application of
memorizing juz 'amma as an effort to form the religious character of students in class
VII Al-Qur'an Hadith MTs An-Nur Cirebon City.

In everyday life, the formation of religious character in students requires


various ways, methods, approaches, and needs to be done in all situations. One way is
by habituation. The habit of memorizing Juz'amma is very effective for fostering the
religious character of children because it is carried out continuously and repeatedly,
so that it can be embedded in students and can then form the desired religious
character. The application of memorizing juz 'amma to class VII students at MTs An-
Nur is carried out in the Al-Qur'an hadith subject with the muroja'ah method every
morning at 07.00 for about 10-15 minutes, then students advance one by one
depositing the memorization of juz 'amma in teacher, whether it's just 1 letter or only
1-2 verses.

Based on the data and reports presented from the results of the research and
discussion and analysis that has been carried out in this thesis, the researcher draws
conclusions. The implementation of memorizing juz 'amma as an effort to determine
the religious character of students in the subject of the Qur'an hadith class VII MTs
An-Nur Cirebon City can be done by getting used to reading and memorizing juz
'amma (juz 30) every morning after reading do 'a together, students memorize juz
'amma and then submit it to the teacher.

vi
Keywords: Application of memorizing juz 'amma, Religious Character. Subjects

Al-Qur'an Hadith
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN.......................................................... iii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – INDONESIA............................. iv
ABSTRAK....................................................................................................... v
DAFTAR ISI................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL........................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah.............................................................................. 6
C. Pembatasan Masalah............................................................................. 6
D. Rumusan Masalah................................................................................. 7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................ 7

BAB II LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori..................................................................................... 9
1. Penerapan Hafalan Juz ‘Amma...................................................... 9
a. Penerapan.................................................................................. 9
b. Hafalan Juz ‘Amma ................................................................. 10
2. Pembentukan Karakter Religius..................................................... 26
a. Pembentukan............................................................................. 26
b. Karakter Religius ..................................................................... 26
3. Peserta Didik .................................................................................. 33
4. Faktor Pendukung dan Penghambat Menghafal Juz ‘Amma......... 35
a. Faktor Penghambat................................................................... 35
b. Faktor Pendukung..................................................................... 38
B. Penelitian Terdahulu............................................................................. 41

vii
C. Kerangka Pemikiran Penelitian............................................................ 44

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Pendekatan Penelitian........................................................... 47


B. Metode Penelitian................................................................................. 48
C. Penentuan Sumber Informasi/Informan................................................ 48
D. Instrumen Pengumpulan Data............................................................... 48
E. Teknik Pengumpulan Data................................................................... 49
F. Teknik Analisis Data............................................................................ 51

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian..................................................................................... 53
B. Pembahasan.......................................................................................... 57

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan........................................................................................... 66
B. Saran..................................................................................................... 67

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Waktu Penelitian........................................................................... 47

Tabel 1.2 Daftar Nama Guru, Kelas dan Mata Pelajaran yang diampu........ 55

Tabel 1.3 Deskripsi Siswa-Siswi MTs An-Nur............................................ 57

ix
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan
nikmat iman dan islam serta rahmat, dan Hidayah-Nya sehingga proposal skripsi
ini dapat peneliti selesaikan. Shalawat serta salam peneliti limpahkan kepada
Baginda Nabi Muhammad Saw yang telah menuntun umatnya dengan penuh
kesabaran menuju jalan yang diridhai Allah SWT, juga kepada para keluarganya,
sahabatnya, dan umatnya hingga akhir zaman nanti. Aamiin..

Adapun judul yang peneliti ambil untuk skripsi ini adalah “PENERAPAN
HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER
RELIGIUS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN
HADITS KELAS VII MTS AN-NUR KOTA CIREBON”

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah


membantu menyumbangkan pikiran, maupun dorongan semangat dalam
penelitian skripsi ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Peneliti
berharap agar skripsi ini dapat dijadikan referensi guna untuk perbaikan dan
evaluasi pihak-pihak yang berkepentingan terkait dengan judul tersebut.

Peneliti menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam skripsi ini.


Oleh karena itu, diperlukan saran dan kritik yang membangun yang sangat peneliti
harapkan untuk perbaikan proposal skripsi ini.

Dalam proses pembuatan skripsi ini, berbagai hambatan dan kesulitan


peneliti hadapi, namun berkat Rahmat, taufik, dan hidayah Allah SWT. dan
berbagai dorongan, saran dan bimbingan dari semua pihak, akhirnya penelitian
skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Oleh karena itu, peneliti

x
mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu,
diantaranya :

1. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon, Bapak Dr. Agus

Sugiarto, S.H, M.H, M.M

2. Tosuerdi, SHI.,[Link].I selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas

Nahdlatul Ulama Cirebon.

3. A Alvian Fitriyanto,[Link] selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam

Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon yang telah memberikan

kemudahan secara administrasi bagi peneliti dalam menyusunan skripsi

ini.

4. Tosuerdi, SHI.,[Link].I dan Tuti Alawiyah, [Link].I.,[Link].I Selaku

dosen Pembimbing dalam memberikan saran dan arahan dalam

penyusunan skripsi ini.

5. Seluruh dosen dan karyawan akademik Fakultas Agama Islam

Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon.

6. Kepada kedua orang tua ( [Link] & Ibu Hanipah ) tercinta yang

tulus memberikan segalanya, baik cinta, kasih, sayang, perhatian,

pikiran, do’a, motivasi, kritik dan saran, arahan, senyum dan usaha

untuk mencukupi segala kebutuhan peneliti.

7. Kakak tercinta ( Teh Hamidah), terima kasih dengan telah membantu,

mendukung dan mengkritik peneliti agar segera menyelesaikan skripsi

ini.

xi
8. Teman-teman, ( Santika, Santia, Ajeng, Hamdi, Upi ) terimakasih atas
dukungan moral yang kalian berikan dalam penyususnan skripsi ini.
Semoga Allah membalas kebaikan dengan berlipat-lipat.
9. Rekan-rekan seperjuangan di Fakultas Agama Islam khususnya di
jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2019, yang tidak dapat
peneliti sebutkan satu persatu, terima kasih untuk semangat
persaudaraan, kekeluargaannya ini tetap eksis dan tali silaturahmi kita
tetap terjalin. Aamiin
Kepada mereka semuanya hanya seuntai do’a dari lubuk hati
yang dapat penulis sampaikan “Jazakumullah Khairoan Katsira wa
barakallah fi hayatikum wa salamatu fihayatikum”, semoga Allah
Ta’ala membalas kebaikan semua dengan kebaikan yang lebih baik di
dunia ini dan kelak di akhirat nanti. Amiin

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Cirebon, Agustus 2023

Hafsyah

xii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter

yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan

untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap tuhan yang Maha Esa,

diri sendiri, sesame, lingkungan, maupun kebangsaan. Pengembangan karakter

bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang.

Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan social dan budaya

tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat

dilakukan dalam lingkungan social dan budaya yang bersangkutan. Artinya,

perkembangan budaya dan karakter dapat dilakukan dalam suatu proses

pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan social,

budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan social dan budaya

bangsa adalah pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah

pengembangan nilai-nilai pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan

hati, otak dan fisik.1

Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat

dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi, untuk mengetahui

pengertian yang tepat, dapat dikemukakan disini definisi pendidikan karakter

yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona (1991) menyatakan bahwa

pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu


1
Omeri, N. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Manajer
Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana, 9(3).
seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-

nilai etika yang inti. Pengertian yang disampaikan Lickona di atas

memperhatikan adanya proses perkembangan yang melibatkan pengetahuan

(moral knowing), perasaan (moral feeling), dan tindakan (moral action),

sekaligus juga memberikan dasar yang kuat untuk membangun pendidikan

karakter yang koheren dan komprehensif. Definisi diatas juga menekankan

bahwa kita harus mengikat para siswa dan kegiatan-kegiatan yang akan

mengantarkan mereka berpikir kritis mengenai persoalan-persoalan etikan dan

moral, menginspirasi mereka untuk setia dan loyal dengan tindakan-tindakan

etika dan moral, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk

mempraktikan perilaku etikan dan moral tersebut.2

Pendidikan agama sangat efektif digunakan untuk membentuk generasi

bangsa yang beriman dan bertaqwa. Sebagai umat islam, kita tidak hanya

memerlukan pendidikan umum saja akan tetapi pendidikan agama juga

diperlukan untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan

akhirat. Ketika lembaga sekolah memiliki kegiatan keagamaan, misalnya

membaca maupun menghafal al-Qur’an atau Juz ‘Amma yang diselipkan di

dalam pembelajaran maupun kegiatan rutin.

Dalam kehidupan sehari-hari, pembentukan karakter religius pada diri

siswa, memerlukan berbagai cara, metode, pendekatan, dan perlu dilakukan

disegala situasi. Salah satu cara yaitu dengan cara pembiasaan. Kegiatan

pembiasaan hafalan Juz’amma sangat efektif untuk pembinaan karakter

2
Sudrajat, A. (2011). Mengapa pendidikan karakter?. Jurnal Pendidikan Karakter, 1(1).

2
religius anak karena dilakukan terus menerus dan berulang-ulang, sehingga

dapat melekat di dalam diri siswa kemudian dapat membentuk karakter

religius seperti yang diinginkan. Terkait dengan hal di atas, kegiatan

pembiasaan diharapkan siswa terbiasa, kemudian dapat tertanam dalam pola

pikir mereka sehingga apa yang telah diajarkan dapat menjadi pondasi ilmu

mereka pada tahap belajar di Madrasah tsanawiyah.

Mts An-Nur Kota Cirebon merupakan salah satu pendidikan formal

yang melaksanakan pembentukan karakter pada peserta didik, tentunya dari

pihak madrasah menginginkan agar peserta didiknya berprestasi dan

berkualitas dalam bidang keagamaan, pembelajaran di Madrasah tsanawiyah

tersebut tidak hanya mempelajari pendidikan umum dan agama saja, akan

tetapi juga mempelajari pedidikan. Pendidikan karakter tersebut untuk

membentuk pribadi peserta didik melakukan kebiasaan baik dan bersikap

sopan sesuai dengan perintah agama dan atas dasar negara. Nilai adalah

prinsip umum yang digunakan masyarakat dengan satu ukuran atau untuk

membuat penilaian dan pemilihan mengenai tindakan yang dianggap baik

maupun buruk. Terdapat 18 nilai karakter yang dikembangkan dalam

pendidikan karakter yang terdiri dari religius, toleransi, jujur, disiplin, kerja

keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,

cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta

damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung

jawab.

3
Dalam beberapa nilai-nilai karakter tersebut, salah satu nilai yang akan

dikembangkan dalam penelitian ini yaitu nilai religius, karena sesuai dengan

karakteristik dan kebutuhan siswa serta lingkungan sekitar sekolah yang akan

dikaji. Religius adalah nilai-nilai religiusitas yang diajarkan kepada siswa di

sekolah, khususnya dalam pembelajaran di kelas melalui beberapa kegiatan

yang sifatnya religius. Aspek karakter religius yang dapat diajarkan kepada

siswa dalam pembelajaran meliputi: membiasakan membaca surat-surat

pendek, menjalankan kewajiban umat Islam, mensyukuri keunggulan

manusia sebagai makhluk pencipta dan penguasa dibandingkan makhluk lain,

bersyukur kepada Tuhan karena merasakan kekuasaan Tuhan yang telah

menciptakan berbagai keteraturan di alam semesta.3

Salah satu sekolah yang menerapkan kegiatan menghafal Juz’amma

untuk meningkatkan karakter religius siswa yaitu di MTs An-Nur Kota

Cirebon. Siswa dibimbing dan diajarkan untuk menghafalkan, memang

mengajarkan hafalan untuk siswa tidak mudah tetapi guru menggunakan cara

menghafalkan Juz’amma secara diulang-ulang setiap pagi yang dilakukan di

dalam kelas. Kegiatan tersebut dilakukan supaya tidak membosankan dalam

proses menghafal siswa, seperti menggunakan catatan hafalan Juz’amma

dilakukan secara bergantian agar siswa selalu antusias dalam mengikuti

proses hafalannya sehingga akan berjalan dengan baik. Maka hal diatas dapat

dengan mudah terwujud sebagaimana Hadist Nabi:

3
Kementrian pendidikan nasional (2011:8),

4
‫ َقاَل َر ُس ْوُل اللِه َصَّلى اللُه َعَلْيِه‬: ‫َوَعِن اْبِن َمْس ُعْوٍد َر ِضَي اللُه َعْنُه َقاَل‬
‫َأ‬
‫َوَسَأ َّلَم “َمْن َقَأَر َح ْر ًفا ِمْن ِكَتاِب اللِهَأَفَلُه َح َس َنٌة َوالَح َس َنُة ِبَعْش ِر‬
‫ َال ُقْوُل الم َح ْر ٌف َوَلِكْن ِلٌف َح ْر ٌف َوَالٌم َح ْر ٌف َوِمْيٌم َح ْر ٌف‬, ‫ ْمَثاِلَها‬4”
Yang Artinya: “Kata Abdullah Bin Mas’ud, Rasulullah SAW, “Siapa saja
membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an) maka dia akan mendapat
satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh
semisalnya, aku tidak mengatakan Alif lam mim satu huruf tetapi alif satu
huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. ([Link]-Tirmidzi).

Mata pelajaran Qur’an Hadits adalah salah satu mata pelajaran yang

diajarkan dibangku madrasah mulai tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah sampai

Aliyah. Mata pelajaran ini diajarkan pada siswa dengan tujuan agar siswa

memiliki bekal kemampuan menguasai al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman

hidup menuju kebahagiaan hakiki yakni kebahagiaan didunia dan kebahagiaan

diakhirat. Qur’an dan Hadist salah satu mata pelajaran didalamnya terdapat

sejumlah materi yang berkaitan dengan kompetensi membaca, menulis,

menghafal, menerjemahkan sampai mengetahui kandungan ayat atau hadits

juga terhadap asbabun nuzul atau asbabul wurud dari materi tersebut.

Siswa MTs An-Nur Kota Cirebon rata-rata menetap dipesantren dan

sebagian kecil mereka pulang pergi. Setelah saya amati, saya menemukan

siswa yang belum mampu menghafal surat-surat pendek (Juz 30) dan

kurangnya antusias peserta didik dalam membaca juz ‘amma, padahal

kegiatan tersebut dilakukan setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai. Setelah

itu saya berinisiatif untuk menerapkan hafalan pada siswa, kemudian respon

siswa sangat baik dan antusias untuk menghafal. Penerapan hafalan juz ‘amma

4
Imam Nawawi. (2015). Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur’an “At-Tibyaan fii Aadaabi
Halamatil” KONSIS Media.

5
tersebut menjadi pembiasaan agar siswa dapat menghafal surat-surat pendek

(juz 30).

Oleh karena itu, pembiasaan tersebut bertujuan untuk menanamkan

kecintaan siswa pada al-Qur’an dan mencetak generasi bangsa yang Qur’ani

yang memiliki karakter Islami. Pembiasaan tersebut mampu membentuk jiwa

yang religius maka peneliti menyebutnya sebagai karakter islami. Selain itu,

melalui kegiatan tersebut siswa terbiasa untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik ingin mengungkapkan

permasalahan di atas dalam suatu penelitian yang berjudul “Penerapan

Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Religius Peserta

Didik Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas peneliti dapat mengidentifikasi

masalah sebagai berikut :

1. Kurangnya Penerapan Hafalan Juz ‘Amma pada peserta didik

2. Apa saja Upaya yang dilakukan dalam Penerapan Hafalan Juz ‘Amma

C. Pembatasan Masalah

Masalah dalam penelitian perlu dibatasi dengan jelas sehingga dapat

mengarahkan perhatian secara seksama pada masalah tersebut. Agar dapat

dikaji dan dijawab secara mendalam, maka dalam penelitian ini peneliti

membatasi masalah pada:

6
1. Penerapan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter

Religius Peserta Didik pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII

MTs An-Nur Kota Cirebon.

D. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma Kelas VII di MTs An-Nur Kota

Cirebon?

2. Bagaimana Penerapan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan

Karakter Religius Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits

Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon?

3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Penerapan Hafalan

Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Religius Peserta didik

Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII MTs An-Nur Kota

Cirebon?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui Kegiatan hafalan juz ‘amma kelas VII di MTs An-Nur

Kota Cirebon.

b. Untuk mengetahui penerapan Hafalan juz ‘Amma Sebagai Upaya

Pembentukan Karakter Religius peserta didik Pada Mata Pelajaran Al-

Qur’an Hadits Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon.

c. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan

penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius

7
peserta didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII di MTs An-

Nur Kota Cirebon.

2. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat peneliti harapkan dari penelitian ini adalah

sebagai berikut:

a. Secara Teoritis

Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan

kontribusi dan sumbangan pemikiran dalam rangka memperkaya khazanah

keilmuan bagi lembaga pendidikan islam khususnya pada pelaksanaan

pembiasaan menghafal juz ‘amma dalam membentuk karakter religius

siswa di MTs An-nur Kota Cirebon.

b. Secara praktis

1) Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan

evaluasi dan perbaikan bagi guru pembimbing hafalan untuk

mengoptimalkan pelaksanaan pembiasaan menghafal juz’amma dalam

membentuk karakter religius siswa di MTs An-Nur Kota Cirebon.

2) Bagi siswa

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai motivasi bagi peserta

didik untuk mengembangkan pembentukan karakter religius melalui

pembiasaan menghafal juz’amma yang dilaksanakan.

8
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Landasan Teori

1. Penerapan hafalan Juz ‘Amma

a. Pengertian penerapan

Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pengertian

penerapan adalah perbuatan menerapkan, sedangkan menurut beberapa

ahli, penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekan suatu teori,

metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu

kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang

telah terencana dan tersusun sebelumnya.5

Menurut Usman, penerapan (Implementasi) adalah bermuara pada

aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem.

Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang

terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.6

Menurut Setiawan, penerapan (Implementasi) adalah perluasan

aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan

5
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Ed. IV (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Agama,
2008), h. 1448.
6
Usman & Nurdin. (2002). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta:PT. Raja Grafindo
Persada.

9
tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana,

birokrasi yang efektif.7

Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan

bahwa kata penerapan (Implementasi) bermuara pada aktivitas, adanya

aksi, tindakan, atau mekanisme suatu system. Ungkapan mekanisme

mengandung arti bahwa penerapan (Implementasi) bukan sekedar

aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana yang dilakukan secara

sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai

tujuan kegiatan.

b. Hafalan Juz ‘Amma

1) Pengertian Hafalan

Pendidikan Al-Qur’an merupakan dasar penting yang harus

diajarkan orang tua kepada anaknya sejak dini. Hal tersebut adalah

suatu fondasi Islam untuk mengembangkan anak sesuai dengan

fitrahnya. Serta dalam mencetak generasi yang Qur’ani yang cerdas

adalah dengan mengajarkan Al-Qur’an dan menanamkan rasa

kecintaan kepada Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an merupakan kewajiban

yang utama bagi setiap muslim, begitu juga mengajarkannya, belajar

Al-Qur’an dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu, belajar

membaca sampai lancer dan baik, yang kedua yaitu belajar arti dan

maksud yang terkandung di dalamnya, dan yang terakhir yaitu

7
Setiawan, Guntur. (2004). Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan. Bandung:Remaja
Rosdakarya Offset.

10
menghafal.8 Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat islam,

sehingga harus diajarkan kepada anak sejak dini, untuk mencetak

generasi Qur’ani yang memiliki rasa kecintaan kepada Al-Qur’an.

Dalam belajar Al-Qur’an sendiri terdapat tiga tingkatan yang meliputi

membaca dengan benar dan lancar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid,

memahami isi kandungannya, serta menghafal.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menghafal

adalah berusaha menerapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat,

Menurut Alex Sobur dalam bukunya yang berjudul psikologi umum

dalam lintasan sejarah menghafal dapat didefinisikan sebagai

kemampuan untuk memproduksi atau meresapi tanggapan-tanggapan

yang telah tersimpan secara tepat dan sesuai dengan tanggapan-

tanggapan yang diterima. Menghafal juga dapat dimaknai dengan

belajar atau mempelajari sesuatu dan mencoba menyimpannya di

ingatan. Lebih lanjut Abdul Aziz Abdul Ra’uf mengemukakan bahwa

menghafal adalah proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca

atau mendengar.9 Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa

menghafal merupakan suatu Aktivitas membaca maupun mendengar

yang dilakukan secara berulang-ulang untuk memasukan materi

hafalan ke dalam memory (ingatan), sehingga menghafal mampu

melafalkan materi hafalan tersebut tanpa melihat catatan (tulisan).

8
Ali Mahtarom dan Wiwin Qomariyah, “Implementasi Metode Apel Dalam Menghafal Juz
‘Amma Guna Meningkatkan Daya Ingat Santri Madin Children,” Jurnal Al-Murabbi, 1 (2016),
32-33.
9
Ibid., hlm. 36

11
Maka dari itu, keberhasilan kegiatan menghafal sangat berkaitan erat

dengan upaya penghafal dalam memasukan materi hafalan ke dalam

ingatan.

2) Pengertian Juz ‘Amma

Juz terakhir, juz 30 dalam Al-Qur’an disebut juz ‘amma. Hal ini

disandarkan pada bunyi bacaan awal juz terakhir ini, yaitu ‘amma

yatasaalun. Juz 30 ini terdiri dari 37 surah, yang dimulai dari surah

An-Naba’ yang merupakan surah ke-78, sampai surah yang terakhir

yaitu surah An-Naas, yang merupakan surah ke-114. Sedangkan

jumlah ayat dalam juz ‘amma ini adalah 564 ayat.10

Juz ‘Amma merupakan juz ke-30 dari kitab suci Al-Qur’an dan

bagian yang paling sering didengar dan dibaca ketika belajar Al-

Qur’an dimasa kecil dan juga sering digunakan untuk bacaan saat

sholat, hal pertama yang dipelajari adalah membaca dan menghafal

surah-surah yang terdapat di juz ‘amma. Di dalamnya terdapat 37

surah yang sebagian besar dari surah-surah tersebut yaitu 34 surah

termasuk surah makiyyah, sedangkan 3 surah sebelumnya yaitu surah

Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, dan An-Nashr merupakan surah

madaniyyah.11

3) Metode Sorogan

10
Erwan Komara, “Pesan-Pesan Transedental Dalam Al-Qur’an Juz 30,” Jurnal Komunikasi, 1
(2016), 49.
11
Munawwarah, Aisyah Idris, dan Husna Hakim, “Penerapan Metode One Day One Ayat Untuk
Mengembangkan Kemampuan Anak Dalam Menghafal Juz ‘Amma Di TK FKIP Unsyiah Banda
Aceh,”Jurnal Pendidikan Anak Bunayya, 1 (2021), 158-159.

12
Metode yang digunakan agar mempermudah dalam proses

menghafal Juz ‘Amma adalah metode sorogan. Menurut Nur

Handayani dan Suismanto, kata “sorogan” berasal dari bahasa Jawa

yang berarti “sodoran atau yang disodorkan”. Maksudnya suatu sistem

belajar secara individual di mana seorang siswa berhadapan dengan

seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya.

Ahwat Wakit menjelaskan bahwa metode sorogan dapat juga

diartikan sebagai metode pembelajaran dengan cara para santri maju

satu-persatu untuk menyodorkan kitabnya dan berhadapan langsung

dengan guru atau kyai dan terjadi interaksi diantara keduannya dalam

proses pengajaran.12

4) Strategi menghafal

Strategi merupakan suatu seni untuk melaksanakan sesuatu

secara baik atau terampil.13 Strategi merupakan kebutuhan dasar bagi

setiap organisasi, sebagai acuan bagi penentuan taktik dalam

melaksanakan misi, yang bertujuan sebagai pertahanan guna mencapai

suatu posisi yang lebih maju dan baik dari sebelumnya.14

Strategi atau cara dalam menghafal pada dasarnya yang

terpenting adalah keaktifan siswa dalam mentakrir hafalannya, serta

dapat mengatasi kendala baik yang bersumber dari diri penghafal

12
Ahmat Wakit, Efektivitas Metode Sorogan Bernatuan Tutor Sebaya Terhadap Pemahaman
Konsep Matematika, Jurnal JES-MAT, Vol. 2, No. 1, Maret 2016, hal 4.
13
Supian, Dkk, Strategi Pemotivasian dalam Pembelajaran Tahfizh Al-Qur’an: Jurnal Tarbawi
Indonesia Journal of Islamic Education, Vol. 6, No. 2 November 2019, hal. 182.
14
Syahratul Mubarokah, Strategi Tahfizh Al-Qur’an: Jurnal Penelitian Tarbawi. Vol. 4, No. 1
Januari-Juni 2019, hal. 3.

13
maupun dari luar diri penghafal itu sendiri. Ada beberapa strategi

dalam menghafal al Quran sebagai berikut:

a) Strategi pengulangan ganda

Semakin banyak pengulangan maka semakin kuat pelekatan

hafalan itu dalam ingatannya, lisan pun akan membentuk gerak refleks

sehingga seolah-oleh tidak berfikir lagi untuk melafalkannya,

sebagaimana orang membaca surah al-Fatihah. Karena sudah terlalu

seringnya membca maka dari itu sudah menempel pada lisannya

sehingga mengucapkannya merupakan gerak reflektif.15

b) Menggunakan satu jenis mushaf

Menurut Abdul Khaliq, bergantinya penggunaan mushaf akan

membingungkan pola hafalan dalam bayangannya. Sesungguhnya

bentuk dan letak-letak ayat dalam mushaf akan dapat terpatri dalam

hati disebabkan seorang sering membaca dan melihat dalam mushaf

yang sama.16

c) Tidak beralih pada ayat berikutnya sebelum ayat yang sedang

dihafal benar-benar hafal.17

15
Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al Quran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal
68.
16
Abdurrahman Abdul Khaliq, Bagaimana Menghafal Al Quran, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2006), hal 25.
17
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al Quran, (Solo:
Aqwam, 2007), hal 103.

14
Seseorang yang belajar menghafalkan al Quran tidak akan

berganti pada ayat berikutnya sebelum berhasil menghafalkan dengan

baik dan lancar. Jika ayat belum selesai dihafalkan lalu melanjutkan

ke ayat berikutnya akan mempersulit diri sendiri. Sehingga akan lebih

sulit untuk dihafalkan.

d) Menghafal urutan-urutan ayat yang dihafalkanya dalam satu

kesatuan jumlah serta benar-benar hafal ayat-ayatnya.18

Menghafalkan surah harus sesuai dengan urutan yang sudah

tertulis. Selain itu untuk mempermudah mengingat surah yang

dihafalkan hendaknya juga menghafalkan urutan surah-surah dalam al

Quran.

e) Disetorkan pada seorang pengampu.

Seseorang yang telah menghafalkan al Quran wajib disetorkan

kepada guru. Sehingga terdapat bimbingan langsung yang diberikan

guru kepada siswanya. Menurut Al-Hafidz, menghafal al Quran

memerlukan adanya bimbingan yang terus menerus dari seorang

pengampu, baik untuk menambah setoran hafalan baru, atau untuk

takrir, yakni mengulang kembali ayat-ayat yang telah disetorkannya

terdahulu. Menghafal al Quran dengan sistem setoran kepada

pengampu akan lebih baik dibandingkan dengan menghafal sendiri

dan juga akan memberikan hasil yang berbeda.19

5) Fungsi hafalan
18
Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al Quran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal
69.
19
Ibid., hal. 72

15
Secara teori terdapat tiga aspek fungsi hafalan, antara lain :

mengecamkan yaitu menerima kesankesan, menyimpan kesan-kesan,

dan memproduksi kesan-kesan. Jadi hafalan adalah sebagai kecakapan

untuk menerima, menyimpan dan memproduksikan kesan-kesan.

Seseorang dikatakan memiliki hafalan baik apabila memenuhi tiga ciri

yaitu: (1) cepat atau muda mengecamkan; (2) setia, teguh, luas dalam

menyimpan dan, (3) siap atau sedia dalam memperoduksi kesan-

kesan. Hafalan cepat ialah mudah dalam mengecamkan atau

mengingat sesuatu hal tanpa mengalami kesulitan. Hafalan setia ialah

apa yang dicamkan atau diingat tetap akan tersimpan dengan baik

serta tidak mengalami perubahan. Hafalan teguh ialah menyimpan

kesan dalam waktu lama tidak mudah lupa. Hafalan luas ialah banyak

menyimpan kesan-kesan.

6) Ruang Lingkup Menghafal Juz ‘Amma

Mengahafal berasal dari kata dasar hafal, jika dalam bahasa

Arab hafidza-yahfadzu-hifdzan, yaitu lawan dari lupa, yaitu selalu

ingat dan sedikit lupa1 jadi menghafal adalah mengucapkan kembali

apa yang telah masuk dalam ingatan di luar kepala dan dalam keadaan

sadar serta tidak melihat catatan atau buku.

Menghafal adalah proses aktifitas menanamkan materi kedalam

ingatan, sehingga nanti dapat di produksi (diingat) kembali secara

sempurna sesui dengan materi yang asli. Menghafal merupakan proses

mental untuk menanamkan dan menyimpan kesan-kesan yang

16
nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali ke alam

sadar.20

Apabila ditinjau dari aspek psikologi, kegiatan menghafal sama

dengan proses mengingat (memori). Ingatan pada manusia berfungsi

memproses informasi yang diterima setiap saat. Secara singkat kerja

memori melewati tiga tahap, yaitu perekaman, penyimpanan, dan

pemanggilan. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi

melalui reseptor indra dan sirkuit saraf internal. Proses selanjutnya

adalah penyimpanan (storage), yaitu menentukan berapa lama

informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa dan di mana.

Penyimpanan bisa bersifat aktif atau pasif, dikatakan aktif bila kita

menambahkan informasi tambahan, dan mungkin pasif terjadi tanpa

penambahan. Pada tahapan selanjutnya adalah pemanggilan

(retrieval), dalam bahasa sehari-hari mengingat lagi yakni

menggunakan informasi yang disimpan.21

Senada dengan pemaparan di atas kegiatan menghafal Al-

Qur’an, dimana ketika informasi yang baru diterima melalui proses

membaca, mendangar ataupun dengan menggunakan teknik-teknik

tertentu dalam proses kegiatan menghafal Al-Qur’an juga melewati

tiga tahap yaitu perekaman, penyimpanan dan pemanggilan. Proses

perekaman yang dimaksud adalah saat siswa mencoba untuk

menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang di lakukan secara terus-menerus,

20
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002), hal. 29
21
Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Karya, 2005), hal. 79

17
sehingga akhirnya masuk pada proses penyimpanan pada memori otak

dalam jangka pendek dan jangka panjang. Selanjutnya fase

pemanggilan memori yang telah tersimpan yaitu saat siswa

menyetorkan hafalan atau mentasmi’kan hafalanya di hadapan

ustad/instrukturnya.

Menghafal Al-Qur’an harus dilakukan secara sempurna baik

dalam menghafal dan mengiangat kembali. Apabila salah dalam

memasukkan suatu materi atau menyimpan materi, maka akan salah

pula dalam mengingat kembali materi tersebut. Bahkan materi

tersebut akan sulit ditemukan kembali dalam memori atau ingatan. 22

Menghafalkan Al-Qur’an adalah suatu bentuk proses menjaga

dan melestarikan kemurnian kitab suci yang di turunkan kepada

Rasulullah di luar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan

serta dapat menjaga dari kelupaan, baik secara keseluruhan maupun

sebagiannya.23

7) Faktor-faktor yang mempengaruhi hafalan Juz ‘Amma

Faktor-faktor yang mempengaruhi hafalan Juz Amma bisa

dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, sebagai berikut:

a) Faktor Internal

Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri

individu penghafal Juz Amma, yaitu meliputi :

22
Wiwin Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal al-Qur’an,( Jogjakarta : Diva Press,
2014), hal.15
23
Munjahid, Strategi Menghafal al-Qur’an 10 Bulan Khatam, (Jogjakarta: Idea Press, 2007),
hal.74

18
(1) Persiapan Individu

Ilmu pendidikan modern menetapkan bahwa pada faktor-

faktor tersebut terdapat sifat-sifat individu yang khusus yang

berperan aktif dalam proses perolehan segala hal yang

diinginkan baik studi, pemahaman, hafalan ataupun mengingat-

ingat.

Sifat-sifat tersebut ialah: 1) minat (desire), 2) menelaah

(expectation), 3) perhatian (interest). Apabila sifat-sifat ini

berkumpul pada seorang penghafal serentak maka pada dirinya

akan ditemukan konsentrasi yang timbul secara serentak, karena

itu ia tidak akan mendapat kesulitan yang besar dalam

menghafal, mengkaji, membaca maupun merenungkan Al-

Qur‟an, menelaahnya, mendalami isinya, dan

mengamalkannya. 24 Dengan adanya tekad yang besar, kuat, dan

terus berusaha untuk menghafalkan Juz Amma, maka semua

ujian-ujian tersebut Insya Allah akan bisa dilalui dengan penuh

rasa sabar. Menghafal Juz Amma merupakan tugas yang sangat

mulia dan besar. Tidak akan ada orang yang sanggup

melakukannya selain Ulul Azmi, yaitu orang yang bertekad

kuat dan berkeinginan membaca. Orang yang memiliki tekad

kuat ialah orang yang senantiasa antusias dan terobsesi

merealisasikan apa saja yang sudah menjadi niatnya, sekaligus

24
Abdurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al Qur‟an Kaifa Tahfazhul Qur‟an, (Bandung :
Sinar Baru Algensindo, 2005), cet.5, 29.

19
melaksanakannya dengan segera tanpa menunda-nundanya.

Dengan demikian seseorang akan mendapatkan kemudahan

dalam menghafal Al-Qur‟an dalam peneitian ini khususnya Juz

Amma karena ketekunan dan kesunggguhannya. Menghafal Al-

Qur‟an ataupun Juz Amma merupakan jalan yang mengandung

berbagai macam kesulitan dan beban yang berat. Sehingga yang

diperlukan dari orang yang ingin melakukan hafalan adalah

sebuah semangat, keuletan, kesungguhan, dan tidak mengenal

keterputusasaan, serta harus ikhlas niatnya karena Allah. Ikhlas

merupakan tujuan pokok dari berbagai macam ibadah, karena

ikhlas merupakan salah satu dari dua rukun yang menjadi dasar

diterimanya suatu ibadah. Seorang penghafal mestinya bersikap

ikhlas dalam berdo‟a kepada Allah SWT. Hal tersebut

dilakukan agar membantu dalam menghafalnya, karena do’a

ada pengaruh yang sangat luar biasa dalam menghilangkan

semua kesulitan yang menghadangnya.25

(2) Kecerdasan dan kekuatan ingatan

Menghafal Al-Qur‟an maupun Juz Amma diperlukan

kecerdasan dan ingatan yang kuat, kecerdasan dan ingatan yang

kuat sangat bergantung pada faktor-faktor genetik yang

diwariskan dan pada upaya perbaikan kecerdasan dan ingatan.

Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya,

pola kehidupan yang diperbaharui, ikatan-ikatan keluarganya


25
Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al Qur‟an, 37.

20
diperlonggar dan taraf kehidupannya yang diperbaiki. Namun

demikian bukan berarti kecerdasan yang tinggi satu- satunya

faktor yang menentukan kemampuan seseorang dalam

menghafal Al-Qur‟an maupun Juz Amma. Banyak orang yang

memiliki kecerdasan terbatas (rata-rata) mampu menghafal Al-

Qur‟an maupun Juz Amma dengan baik karena adanya

dorongan motivasi yang tinggi. Niat yang sungguh-sungguh,

tekun, gigih dalam setiap keadaan, optimis, dan merespon baik

segala hal yang dapat meningkatkan kesungguhan, berusaha

keras memusatkan pikiran dari hal-hal yang tidak penting

(prioritas) saja, berpindah dari lingkungan yang dapat

melemahkan semangat (tidak kondusif), keinginan untuk

mendapatkan kehidupan akhirat dan menjadikan sebagai satu-

satunya tujuan, banyak mengingat kematian, berteman dengan

orang yang memiliki kesungguhan tinggi, menimba ilmu dari

pengalaman mereka dan meminta nasihat pada orang shalih

serta banyak berdo‟a kepada Allah SWT, semoga berkenan

meningkatkan kesungguhan dan tidak menyimpang dari tujuan

menghafal Juz Amma selama-lamanya.26

(3) Target hafalan

Sebenarnya target bukan merupakan aturan yang

dipaksakan tetapi hanya sebuah kerangka yang dibuat sesuai

26
Abrurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al-Qur‟an Kaifa Tahfadzul Qur‟an, (Bandung :
Sinar Baru Algensindo, 2005), cet.5, 36.

21
dengan kemampuan dan alokasi waktu yang tersedia bagi para

penghafal Juz Amma, namun dengan membuat target,

seseorang penghafal Juz Amma dapat merancang dan mengejar

tarjet yang dia buat, sehingga menghafal Juz Amma akan lebih

giat dan bersemangat. Dengan target yang dibuat dapat

menunjang keajekan hafalan tiap harinya, sehingga hafalan

lebih terkontrol baik untuk tahfiz (hafalan baru) maupun takrir

(hafalan lama/pengulangan). Namun cepat lambatnya

menyelesaikan program ini sangat tergantung kepada penghafal

itu sendiri, sesuai dengan kapasitas waktu dan kemampuan

penghafal, karena setiap penghafal memiliki kemampuan yang

berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.27

b) Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasa dari

luar individu penghafal Juz Amma yang meliputi :

(1) Metode yang digunakan.

Penerapan metode yang tepat sangat mempengaruhi

pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar

dalam hal ini menghafal Juz Amma. Prinsip pengajaran Juz

Amma pada dasarnya bisa dilakukan dengan bermacam-

macam metode. Penggunaan metode yang variatif dapat

membangkitkan motivasi belajar anak didik (penghafal Al-

Qur‟an).
27
Abrurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al-Qur‟an Kaifa Tahfadzul Qur‟an, 37.

22
(2) Berkumpul bersama orang-orang yang menghafal Juz

Amma

Ketika seseorang bersama dengan orang-orang yang

menghafal Juz Amma maka dengan sendirinya ia akan

termotivasi untuk ikut menghafakan Juz Amma. hal

tersebut dikarenakan ketika seseorang berkumpul dengan

seseorang penghafal Juz Amma kemudian mendengar

temannya melantunkan Juz Amma ama kelamaan seseorang

tersebut akan hafal dengan sendirinya ataupun tertarik

untuk mempelajarinya.

(3) Membiasakan mendengar seorang Hafidz membaca Juz

Amma

Ketika kita mendengarkan seorang hafidz

melantunkan surat-surat Juz Amma tanpa sadar dapat

berpengaruh dalam hafalan yang sedang kita lakukan. Hal

tersebut dikarenakan ketika kita menengrkan sesuatu secara

terus menerus maka lama kelamaan kita akan hafal dengan

sendirinya, dalam hal ini adalah lantunan surat dari seorang

hafidz baik melalui rekaman atau internet. Beberapa hal

yang perlu kita cermati ketika mendengarkan bacaan hafidz

agar mendapatkan manfaatnya antara lain : pertama,

perhatikan bagimana hafidz menerapkan hukum-hukum

tiawah dan tajwidnya. Kedua, dengarkan baik-baik irama

23
yang di lantunkan. Ketiga, jadikan kekhususan hafidz

dalam membaca surat-surat sebagai motivasi kita dalam

menghafal.

(4) Mengulang hafalan dengan orang lain

Mengulang hafalan Juz Amma bersama dengan orang

ain merupakan sesuatu yang penting. Kita dapat bergantian

dengan orang lain dalam menyimak hafalan masing-

masing. Dengan demikian penghafal akan lebih cepat dala

menghafal dan cepat matang. Selain itu, dengan mengulang

hafalan bersama orang lain kita dapat memperoleh manfaat

dari orang yang lebih lancar hafalannya dengan cara

koreksinya terhadap bacaan kita. Dengan begitu kita akan

termotivasi untuk memperbaikinya.

(5) Selalu membaca dalam shalat membaca Juz Amma saat

sholat susunannya akan lebih runtut, serius dan

membutuhkan konsentrasi penuh terebih ketika imam yang

membacanya. Maka bagi seseorang yang sedang

menghafalkan Juz Amma cara terbaik untuk menghafalkan

Juz Amma ialah dengan sealu melafalkan nya ketika sedang

sholat.

24
Dari beberapa penjelasan di atas mengenai faktor-faktor yang

mempengaruhi hifdzil juz amma ada 2 faktor yaitu faktor internal

yang terdiri dari persiapan individu, kecerdasan dan kekuatan ingatan

menghafal juz amma, juga target hafalan. Sedangkan faktor eksternal

meliputi metode yang digunakan, berkumpul dengan orang-orang

yang menghafal juz amma, membiasakan mendengar seseorang hafidz

membaca juz amma, mengulang hafalan dengan orang lain, dan juga

selalu membaca juz amma dalam melaksanakan shalat.

8) Indikator Kemampuan Menghafal

Kemampuan menghafal Al-Quran seseorang dapat dilihat dari

tiga aspek, yaitu: kelancaran, kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu

tajwid dan fashahah.

a) Kelancaran dalam menghafal Al-Quran

Salah satu ingatan yang baik yaitu siap, bisa memproduksi

hafalan saat dibutuhkan dan diantara syarat menghafal Al-Quran

yaitu, teliti serta menjaga hafalan dari lupa. Sehingga kemampuan

menghafal Al-Quran bisa dikataan baik apabila orang yang

menghafal Al-Quran bisa menghafalnya dengan benar dan sedikit

kesalahan.

b) Kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu tajwid

Seorang penghafal Al-Quran harus mampu membaca Al-

Quran sesuai kaidah ilmu tajwid, diantaranya:

(1) Makharijul huruf (tempat keluarnya huruf)

25
(2) Shifatul huruf (sifat atau keadaan ketika membaca huruf)

(3) Ahkamul huruf (hukum atau kaidah bacaan)

(4) Ahkamul mad wa qashr (hukum panjang dan pendeknya

bacaan)

c) Fashahah

(1) Al-wafu wa al-ibtida’ (kecepatan berhenti dan memulai

bacaan Al-Quran)

(2) Mura’atul huruf wa al-harakat (menjaga keberadaan huruf

dan harakat)

(3) Mur’aatul kalimah wa al-ayat (menjaga dan memelihara

keberadaan kata dan ayat).

2. Pembentukan Karakter Religius

a. Pengertian pembentukan

Pembentukan merupakan proses yang ditempuh untuk melakukan

perubahan yang diinginkan. Proses tersebut akan terbentuk melalui

beberapa cara agar tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Menurut

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata pembentukan mempunyai

arti proses, cara, dan perbuatan membentuk. 28 Pembentukan adalah suatu

usaha yang dilakukan secara sadar dan terarah yang menghasilkan suatu

kebaikan dan kesempurnaan dalam bertindak.


28
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2017), hal 136.

26
b. Karakter Religius

1) Pengertian Karakter

Karakter merupakan suatu sifat yang khas melekat pada diri

seseorang yang dapat membedakan dirinya dengan yang lain. 29

Menurut Suyanto, karakter ditinjau dari makna lesikal berarti sifat

bawaan, suara hati, pancaran jiwa, jati diri kepribadian, budi

pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempermen, atau

watak.30 Menurut Rianawati, Karakter sering dihubungkan dengan

istilah akhlak. Sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku

manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia,

baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri,

dengan sesame manusia, maupun dengan lingkungan, yang

terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan

berdasarkan norma-norma Agama, hukum, tata karma, budaya, dan

adat istiadat.31

2) Pengertian Religius

Religius merupakan sikap dan perilaku yang baik sesuai

dengan ajaran agama yang dianutnya. Menurut mustari, religius

merupakan nilai karakter yang berhubungan antara manusia dengan

Tuhannya. Religius adalah nilai karakter yang menunjukan pikiran,

29
Adi Wijayanto, dkk, Akademisi dan Jurus Jitu Pembelajaran Daring, (Tulungagung: Akademia
Pustaka, 2021), hal 39
30
Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter, (Jakarta: Ditjen Dikdasmen-Kementerian Pendidikan
Nasional, 2010), hal 39.
31
Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter pada Pelajaran Pendidikan Islam (PAI) Tingkat
SLTA, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2014), hal 21.

27
perkataan, dan tindakan seseorang yang selalu diupayakan

berdasarkan nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya. 32 Menurut

Miftahul Jannah, bahwa nilai religius yang terbentuk dalam

pendidikan karakter merupakan nilai yang bersumber dari ajaran

agama yang dianut seseorang yang dilaksanakan dalam kehidupan

sehari-hari.33

Yaumi mengemukakan dalam bukunya bahwa, karakter

religius sebagai kendali diri manusia saat berinteraksi dengan tuhan

dan sesama manusia. Religius adalah karakter yang menunjukan

perilaku patuh dalam pelaksanaan ajaran agama, toleran terhadap

pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk

agama lain.34 Menjadi penting adanya pendidikan karakter,

sebagaimana pendapat dari Rahma, Alwy dan Imam bahwa

karakter religius merupakan karakter pertama dan utama yang

harus ditanamkan kepada anak sedini mungkin yang menjadi dasar

agama dalam kehidupan individu, masyarakat dan bangsa

Indonesia. Karakter religius bukan saja terkait dengan hubungan

ubudiyah saja, tetapi juga menyangkut hubungan antar sesama

manusia. Sehingga perannya penting ditanamkan pada sekolah

dasar menjadikan pondasi awal siswa untuk jenjang sekolah

32
Mustari Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan, (Jakarta: PT Remaja Grafindo Persada,
2014), hal 1.
33
Miftahul Jannah, Metode dan Strategi Pembentukan Karakter Religius yang Ditetapkan di
SDTQ-T An Najah Pondok Pesantren cindai Alus Martapura, dalam Al-Madrasah: Jurnal
Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, Vol. 4, No. 1, Juli-Desember 2019, hal 90.
34
Yaumi, Pendidikan Karakter Landasan Pilar, dan Implementasi, (Jakarta:nPrenadamrdia Grup,
2014), hal 85.

28
setelahnya.35 Penulis menyimpulkan bahwa pembentukan karakter

religius adalah hasil suatu usaha atau proses yang dilakukan secara

sadar untuk membentuk ciri khas siswa yang baik berdasarkan

agama islam.

Pendidikan dan pembentukan karakter mempunyai hubungan

yang erat. Melakukan pendidikan terutama dalam pembentukan

karakter siswa adalah usaha bersama antara keluarga, sekolah, dan

masyarakat. Ketiga lembaga tersebut harus sejalan secara terpadu

untuk memajukan satu tujuan yang bersifat saling melengkapi

antara lainnya.36 Menurut Hambali dan Yulianti, pendidikan

karakter adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan

menginternalisasikan nilai-nilai moral dan akhlak sehingga

terwujud dalam implementasi sikap dan perilaku yang baik. 37

Melalui pendidikan karakter akan terbentuk karakter yang merubah

seseorang menjadi lebih baik. Menurut Kesuma, dkk, pendidikan

karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat

mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam

kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan

kontribusi yang positif dalam lingkungannya. Definisi lainnya

dikemukakan oleh Fakry Gaffar, pendidikan karakter adalah


35
Rahma Nur Baiti, dkk, Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembiasaan Aktivitas
Keagamaan, dalam el Bidayah: Journal of Islamic Elementary Education, Vol. 2, Desember 2018,
hal 194.
36
Adi Wijayanto, dkk, Jurus Jitu Pendidikan dalam Pelaksanaan Daring, (Tulungagung:
Akademia Pustaka, 2021), hal 40.
37
Muh Hambali dan Eva Yulianti, Ekstrakulikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik di Kota Majapahid: Jurnal Pedagogik, Vol. 5, No. 2, Desember 2018, hal
194.

29
sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk

ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga

menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dalam definisi

tersebut, ada tiga ide pemikiran penting, yaitu proses transformasi

nilai-nilai, ditumbuh kembangkan dalam kepribadian, dan menjadi

satu dalam perilaku.38

Penulis menyimpulkan bahwa pembentukan karakter religius

adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk membentuk ciri

khas siswa berdasarkan nilai-nilai ketuhanan atau ajaran

keagamaannya. Pembentukan karakter religius harus dilatih sejak

dini agar terbiasa berperilaku baik.

3) Ruang Lingkup Karakter Religius

Menurut Muhammad Ali Hasyimi ruang lingkup karakter

seorang Muslim ialah sebagai berikut:

a) Seseorang dengan Tuhannya.

b) Seseorang dengan dirinya sendiri.

c) Seseorang dengan kedua oranguanya. d. Seseorang dengan

pasanganya.

d) Seseorang dengan anak-anaknya.

e) Seseorang dengan keluarga besarnya.

f) Seseorang bersama keluarga kecilnya.

g) Seseorang bersama kerabatnya.

38
Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2018), hal 5.

30
h) dan seseorang dengan masyarakat lingkungan sosialnya.

Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas maka kesimpulan

yang dapat di ambil ialah seorang Muslim harus senantiasa

mendekatkan diri kepada Tuhannya dan orang-orang yang ada

disekitarnya baik keluarga, sahabat, maupun lingkungan sekitarnya.

4) Faktor yang Mempengaruhi Karakter Religius

Thouless menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi

karakter religius, yaitu:

a) Pengaruh pengajaran atau pendidikan serta bebagai tekanan sosial

(faktor sosial). Dalam keyakinan dan perilaku keagamaan

berpengaruh besar pada faktor sosial dalam agama, dari

pendidikan yng diterima pada saat saat masa kanak-kanak,

beberapa sikap dan pendapat masyarakat sekitar, serta berbagai

tradisi pada masa lampau yang kita terima.

b) Banyaknya pengalaman, khususnya pengalaman tentang

kebaikan, keselarasan, dan keindahan yang ada di dunia ini atau

biasa disebut faktor alami, yang dapat diartikan bahwa seseorang

menyadari bahwa segala sesuatu itu ada karena Allah Subhanahu

Wa Ta’ala, mulai dari yang terkecil dan tersembunyi seperti atom

bahkan yang terbesar lagi Nampak seperti gunung semua yang

menciptakan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian

faktor moral yaitu konflik moral, pengalaman seseorang pada

31
konflik moral pelaku akan mengembangkan perasaan bersalahnya

kietika dia melakukan kesalahan yang dianggap salah oleh

pendidikan sosial yang diterimanya, misal ketika peserta didik

mencontek saat ujian sedangkan 16 temannya tidak ada yang

melakukan hal tersebut, maka dia akan terus menyalahkan dirinya

atas perbuatannya tersebut karena jelas bahwa mencotek adalah

perbuatan yang kurang baik. Selanjutnya, pengalaman emosional

keagamaan (faktor afektif), pengalaman ini bisa didapatkan pada

saat seseorang mendengarkan khutbah untuk laki-laki pada saat

jum’atan di masjid, bagi perempuan bisa melalui mendengarkan

ceramah agama dan pengajian.

5) Indikator Karakter Religius

Karakter religius merupakan salah satu karakter yang harus

ditanamkan pada anak sejak dini. Hal ini karena karakter religius

merupakan karakter utama yang menentukan kepribadian anak,

apakah anak tersebut akan memilih langkah atau sikap yang baik

atau sebaliknya. Adapun karakter religius dapat dilatih dan

ditanamkan melalui pendidikan disekolah. Indikator-indikator

pencapaian pembelajaran karakter religius adalah sebagai berikut:

a) Beraqidah lurus

b) Beribadah yang benar

c) Berdoa sebelum memulai dan sesudah pembelajaran

d) Melaksanakan shalat dhuha

32
e) Melaksanakan shalat zuhur berjamaah

Berdasarkan rumusan Kemendiknas Balitbang Puskur diuraikan

indikator sikap religius adalah sebagai berikut:

a) Megenal dan mensyukuri tubuh dan bagainnya sebagai ciptaan

Tuhan melalui cara merawatnya dengan baik

b) Mengagumi keberasan tuhan karena kelahirannya di dunia dan

hormat kepada orang tuanya

c) Mengagumi kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan berbagai

jenis bahasa dan suku bangsa

d) Senang mengikuti aturan kelas dan sekolah untuk kepentingan

hidup bersama

e) Senang bergaul dengan teman sekelas dan satu sekolah dengan

berbagai perbedaan yang telah diciptakan-Nya

f) Mengagumi sistem dan cara kerja organ-organ tubuh manusia yang

sempurna dalam sinkronisasi fungsi organ

g) Bersyukur kepada tuhan karena memiliki keluarga yang

menyayanginya; dan

h) Membantu teman yang memerlukan bantuan sebagai suatu ibadah

atau kebajikan.

Dari berbagai penejelasan diatas, dapat dipahami bahwa

indikator dari karakter religius itu sangatlah penting untuk diketahui

oleh anak-anak sejak dini dan di terapkan pada kehidupan sehari-hari

terutama pada saat anak-anak sudah menginjak jenjang pendidikan.

33
3. Peserta Didik

Peserta didik menurut ketentuan umum undang-undang RI No. 20

Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota

masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses

pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan

tertentu.39 Dengan demikian peserta didik adalah orang yang mempunyai

pilihan untuk menempuh ilmu sesuai dengan cita-cita dan harapan masa

depan.

Oemar Hamalik mendefinisikan peserta didik sebagai suatu

komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses

dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas

sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Menurut Abu Ahmadi peserta

didik adalah sosok manusia sebagai individu/pribadi (manusia seutuhnya).

Individu di artikan "orang seorang tidak tergantung dari orang lain, dalam

arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak

dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri". 40

Sedangkan Hasbullah berpendapat bahwa siswa sebagai peserta didik

merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses

pendidikan.41 Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi

proses pengajaran. Sebabnya ialah karena peserta didiklah yang

39
Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen & Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, (Bandung:
Permana, 2006), h. 65.
40
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009),
h. 205.
41
Hasbullah, Otonomi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2010), h. 121

34
membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha

memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik.42

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, bisa dikatakan bahwa

peserta didik adalah orang/individu yang mendapatkan pelayanan

pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh

dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima

pelajaran yang diberikan oleh pendidiknya.

4. Faktor Penghambat dan Pendukung menghafal Juz ‘Amma

a. Faktor penghambat

Faktor penghambat adalah faktor yang menyebabkan jalannya suatu

kegiatan atau program menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.

Menurut Zamani dan Maksum, dalam proses menghafal al Quran terdapat

beberapa faktor penghambat menghafal al Quran sebagai berikut.

1) Malas, Tidak Sabar dan Berputus Asa

Malas adalah kesalahan yang jamak dan sering terjadi. Tidak

terkecuali dalam menghafal al Quran, karena harus bergelut dengan

rutinitas setiap hari. Jadi tidak aneh jika suatu ketika seseorang tersebut

dilanda [Link] al Quran adalah kalam yang tidak

menimbulkan kebosanan dalam membaca dan mendengarkannya tetapi

menimbulkan kebosanan dalam membaca dan mendengarkannya bagi

sebagian orang yang belum merasakan nikmatnya al Quran. Rasa bosan

ini akan menimbulkan malas muraja’ah al Quran.

42
Departemen Agama, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, ([Link]., Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), h. 47

35
2) Tidak Bisa Mengatur Waktu

Masalah ini telah banyak dibahas oleh para ahli, tetapi masih

banyak yang melalaikannya. Oleh karena itu, haru selalu ingat akan hal

ini. Selayaknya ingat akan ajaran al Quran dan sunnah Nabi Muhammad

Saw. yang mengajari dalam hal mengatur waktu dan memanfaatkannya

sebaik-baiknya. Kesibukan itu pasti ada tetapi yang terpenting adalah

bagaimana seseorang bisa mengatur waktu sehingga kewajibannya bisa

dilaksanakan dengan baik.

3) Sering Lupa

Menurut Khadijah lupa adalah hilangnya kemampuan untuk

menyebutkan atau memunculkan kembali apa-apa yang sebelumnya telah

kita pelajari.43 Lupa adalah sifat yang biasa pada diri manusia. Hal yang

terpenting adalah bagimana bisa menjaga dan membuat hafalan yang

hilang itu Kembali lagi. Rajin melakukan muraja’ah dan intropeksi diri

agar melihat kesalahan apa serta hal apa yang perlu dilakukan demi

menjaga hafalan dengan baik.

4) Goyangnya Rasa Percaya Diri

Rasa takut dan kebimbangan bersekutu dan membentuk sebuah

kekuatan yang mengekang kemajuan melalui ilustrasi negatif. 44 Rasa

takut harus dilawan dan dibuang sehingga rasa takut tersebut akan hilang

dan tidak akan menggerogoti potensi kita. Tetap semangat dengan sepuh

43
Nyayu Khadijah, Psikologi Pendidikan, (Palembang: CV. Grafika Telindo Press, 2011), hal 142.
44
Zaki Zamani dan Syukron Maksum, Metode Cepat Menghafal Al Quran, (Yogyakarta: Al
Barokah, 2014), hal 69-71.

36
hati serta yakin dalam mengontrol diri sangat penting untuk dilakukan

agar hafalan yang dimiliki tetap terjaga dan terus lebih baik.

Faktor lain penghambat hafalan al Quran dikemukakan juga oleh

Ahlan, dkk yaitu meliputi:

a) Tidak mendapatkan motivasi dari orang terdekat

Menurut Ngalim Purwanto motivasi adalah pendorong sesuatu

usaha yang didasari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar

bergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga tercapai

hasil dan tujuannya.45 Motivasi orang terdekat yang dimaksudkan adalah

orang tua, keluarga dan teman sebayanya, teman sebaya atau teman

kelompok bermain juga mempengaruhi proses hafalan.

b) Belum istiqamah

Keistiqamahan yang tinggi dan kuat serta kegigihan yang

membaja akan mengantarkan pada kesuksesan sesuai bidang yang

ditekuni bukan hanya pada hafalan.

c) Tidak dapat membagi waktu

Penghafal harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu yang

dianggap sesuai dan tepat untuk menghafal al Quran. Manajemen waktu

yang baik akan berpengaruh besar pada tinggat ketajaman iangatan.

d) Malas muraja’ah

Rasa malas adalah hambatan yang paling banyak ditemui, maka

perlu adanya sifat istikamah atau konsiten seperti yang dijelaskan diatas

45
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hal 60.

37
agar terhindar dari sifat malas. Bisa juga dilakukan dengan tantangan

terhadap diri sendiri.

e) Lupa ayat

Manusia memang tempatnya lupa dan salah, dan lupa merupakan

hal yang sering dialami oleh para penghafal al Quran.46

Faktor penghambat merupakan suatu yang tidak dapat dihindari.

Oleh karena itu dengan adanya faktor penghambat harus ditumbuhkan

lagi niat yang sungguh-sungguh dalam belajar menghafalkan al Quran.

Agar jiwa jadi tergugah dari hal-hal negatif yang tumbuh pada diri. Lalu

akan bersungguh-sungguh lagi dalam belajar. Selain niat, harus berdoa

dengan sungguh-sungguh memohon peningkatan keimanan pada diri

sendiri.

b. Faktor pendukung

Faktor pendukung merupakan faktor yang bersifat baik dalam

menempuh suatu yang diinginkan. Faktor ini akan memberikan dorongan

penuh sehingga akan mempermudah sesuatu yang akan dilakukan.

Menurut Alawiyah Wahid faktor pendukung dalam menghafal al Quran

sebagai berikut.

1) Faktor Kesehatan

Kesehatan adalah salah satu faktor yang penting bagi orang yang

akan menghafalkan al Quran. jika tubuh sehat maka proses menghafalkan


46
Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho, dan Difla Nadjih, Upaya Santri dalam Pemeliharaan
Hafal dl Qur’an di MANU Kota Gede Yogyakarta: Jurnal Ulumuddin, Vol. 8, No. 2, Desember
2018, hal 134-135.

38
akan menjadi lebih mudah dan cepat tanpa adanya penghambat dan batas

waktu menghafal pun menjadi relatif cepat. Namun, bila tubuh tidak

sehat maka akan sangat menghambat ketika menjalani proses menghafal.

2) Faktor Psikologis

Faktor Psikologis berkaitan dengan kejiwaan, yang di dalamnya

mencakup intelegensi, motivasi, bakat, minat, dan kesiapan. 47 Jika faktor

psikologis terganggu makan akan memperlambat proses menghafal.

Orang yang menghafalkan al Quran sangat membutuhkan ketenangan

jiwa, baik dari segi pikiran maupun hati.

Namun, bila banyak sesuatu yang dipikirkan atau dirisaukan proses

menghafal akan menjadi tidak tenang.

3) Faktor Kecerdasan

Kecerdasan sebenarnya dibagi menjadi tiga, yaitu kecerdasan

intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. 48 Kecerdasan

merupakan salah satu faktor pendukung dalam menjalani proses

menghafalkan al Quran. Setiap individu mempunyai kecerdasan yang

berbeda-beda. Sehingga cukup mempengaruhi terhadap proses hafalan

yang dijalani. Meskipun demikian, bukan berarti kurangnya kecerdasan

menjadi alasan untuk tidak bersemangat dalam proses menghafalkan al

Quran.

47
Munirwan Umar, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak: Jurnal
Ilmiah Edikasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2015, hal 23.
48
Lisda Rahmasari, Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan
Spiritual Terhadap Kinerja Karyawan: Jurnal Majalah Ilmiah Informatika, Vol. 3, No. 1, Januari
2012, hal 1.

39
4) Faktor Motivasi

Orang yang menghafalkan al Quran pasti sangat membutuhkan

motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga dan sanak

kerabat serta guru. Dengan adanya motivasi yang diberikan akan

menumbuhkan semangat dalam menghafal al Quran. Kurangnya motivasi

yang diberikan akan menghambat dalam proses menghafalkan al Quran.

5) Faktor Usia

Usia akan menjadi faktor penghambat apabila jika usia penghafal

sudah memasuki masa-masa dewasa. Selain itu kecerdasan otak orang

dewasa tidak sejernih orang yang masih muda dan sudah banyak

memikirkan hal-hal yang lain.49

Faktor pendukung lain dalam hafalan al Quran dikemukakan juga oleh

Ahlan, dkk yaitu meliputi:

a) Sudah lancar membaca al Quran

Seseorang yang sudah lancar membaca al Quran akan mudah

juga dalam menghafalkan al Quran, dikarenkan faham akan

pengucapan dan tulisannya.

b) Sabar

Biasanya anak akan malas apabila hafalannya sulit dan

menemukan kesulitan lain, maka sabar adalah obatnya. Dengan sabar

dia akan ikhlas menerima masukan dan terus berusaha memperbaiki

hafalannya.

49
Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal Al Quran Super Kilat, (Yogyakarta: DIVA Press,
2015), hal 139-142.

40
c) Motivasi orang terdekat

Keberadaan orang terdekat sangat mempengaruhi proses

hafalan al Quran, doa dan dukungan menjadi semangat tersendiri bagi

seseorang yang sedang menghafal al Quran.

d) Muraja’ah hafalan al Quran dalam salat

Muraja’ah hafalan al Quran dalam salat sangatlah dianjurkan,

dikarenakan sholat adalah ibadah yang wajib dilakukan lima kali

sehari, ditambah lagi kalau salat sunah, maka semakin sering pula

hafalan tersebut dimuraja’ah.50

Faktor pendukung harus ditumbuhkan secara terus menerus agar

mencapai hasil yang baik. Faktor dukungan dari orang tua dan guru

merupakan penggugah semangat siswa dalam belajar. Selain itu

lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap siswa dalam belajar.

Sehingga lingkungan yang baik akan menumbuhkan karakter yang

baik bagi siswa.

B. Penelitian Terdahulu

Pertama, Rif’atul Khoriyah dalam jurnalnya, “Implementasi Metode 3T

+ 1M Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi

Menghafal Peserta Didik di SDN 2 Tawangrejo Lamongan”. Jurnal penelitian

ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi menghafal pada program Tahfidh

Juz ‘Amma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

kualititatif field research atau peneltian lapangan. Teknik analisis data


50
Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho, dan Difla Nadjih, Upaya Santri dalam Pemeliharaan
Hafal dl Qur’an di MANU Kota Gede Yogyakarta: Jurnal Ulumuddin, Vol. 8, No. 2, Desember
2018, hal 132-133.

41
melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. 51 Persamaan

penelitian yang dilakukan oleh Rif’atul Khoriyah dengan peneliti adalah

sama-sama meneliti tentang menerapkan hafalan juz ‘amma pada peserta

didik. Sedangkan perbedaan penelitiannya adalah terletak pada fokus

penelitian dimana penelitian ini fokus kepada konsep dan peran program

Tahfidh Juz ‘amma untuk meningkatkan motivasi menghafal peserta didik di

SDN 2 tawangrejo lamongan, sedangkan peneliti lebih fokus pada konsep dan

peran penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter

religius peserta didik kelas VII di MTs An-Nur Kota Cirebon.

Kedua, Rois Zulfa Nuraini dalam jurnalnya, “Pembentukan Karakter

Religius Siswa Melalui Pembiasaan Menghafal Juz ‘Amma, Hadits, dan Do’a-

Do’a Harian di MTsN 1 Ponorogo”. Jurnal penelitian ini bertujuan untuk

menganalisis pelaksanaan pembiasaan menghafal dalam pembentukan

karakter religius siswa di MTsN 1 Ponorogo, untuk mendeskripsikan faktor

pendukung dan penghambat siswa dalam menghafal, dan untuk menganalisis

implikasi pembiasaan menghafal terhadap pembentukan karakter religius

siswa di MTsN 1 Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif

dengan jenis fenomenologi. Dalam teknik pengumpulan data, peneliti

menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis

data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif Miles,

Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data dan

51
Rif’atul Khoriyah, Cholifah, Neny Liftiyarotun Nadhiro, “Implementasi Metode 3T + 1M
Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi Menghafal Peserta Didik di SDN 2
Tawangrejo Lamongan”, (Surabaya: Jurnal Pendidikan, Vol. 11, No. 3, 2022), hlm. 16.

42
penarikan kesimpulan yang dilengkapi dengan teknik pengkodean. 52

Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Rois Zulfa Nuraini dengan peneliti

adalah sama-sama meneliti tentang penerapan hafalan juz ‘amma pada peserta

didik. Sedangkan perbedaan penelitiannya adalah terletak pada fokus

penelitian yaitu menghafal juz ‘amma, Hadist, dan Do’a-Do’a Harian.

Sedangkan peneliti lebih fokus pada konsep dan peran penerapan hafalan juz

‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII di

MTs An-Nur Kota Cirebon.

Ketiga, Wismy Novadhi Putri, SH Saring Marsudi dalam jurnalnya,

“Implementasi Hafalan Juz’amma Untuk Menanamkan Karakter Disiplin dan

Tangung Jawab Pada Siswa Kelas III Mi Muhammadiyah Program Khusus

Wirogunan Kartosuro Tahun Ajaran 2017/2018”. Jurnal penelitian ini bertujuan

untuk mengimplentasikan hafalan juz’amma, Mendeskripsikan implementasi hafalan

juz’amma dalam menanamkan karakter disiplin, Mendeskripsikan implementasi

hafalan juz’amma dalam menanamkan karakter tanggung jawab, Mendeskripsikan

kendala dan solusi mengatasi implementasi hafalan juz’amma. Pendekatan penelitian

adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan

data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data penelitian dengan

mereduksi data, mendisplay data, dan menyimpulkan secara fleksibel agar menjawab

rumusan masalah.53 Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Wismy Novadhi

Putri dengan peneliti adalah sama-sama meneliti tentang menerapkan hafalan


52
Rois Zulfa Nuraini, “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan Menghafal Juz
‘Amma, Hadits, dan Do’a-Do’a Harian di MTsN 1 Ponorogo”, (Ponorogo: Artikel Skripsi), hlm.
2.
53
Putri, W. N., & Saring Marsudi, S. H. (2018). Implementasi Hafalan Juz’amma Untuk
Menanamkan Karakter Disiplin dan Tangung Jawab Pada Siswa Kelas III Mi Muhammadiyah
Program Khusus Wirogunan Kartosuro Tahun Ajaran 2017/2018 (Doctoral dissertation,
Universitas Muhammadiyah Surakarta).

43
juz ‘amma pada peserta didik. Sedangkan perbedaan penelitiannya adalah

terletak pada fokus penelitian dimana penelitian ini fokus kepada konsep dan

peran penerapan hafalan juz ‘amma untuk menanamkan karakter disiplin dan

tanggung jawab, sedangkan peneliti lebih fokus pada konsep dan peran

penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius

peserta didik kelas VII di MTs An-Nur Kota Cirebon.

C. Kerangka Berfikir

Penerapan hafalan juz ‘amma merupakan proses pemeliharaan, menjaga

dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan kepada rasulullah

SAW. Diluar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan serta dapat

menjaga dari kelupaan baik secara keseluruhan maupun sebagiannya. Terlebih

pada perkembangan zaman sekarang generasi muda yang cenderung

ketergantungan pada alat-alat komunikasi. Semakin banyak anak muda

dikalangan remaja yang kurang menghafal Al-qur’an disekitar lingkungan

kita, itu disebabkan kurangnya rasa mencintai pada Al-Qur’an. Seperti dalam

hadist yang diriwayatkan imam bukhori yang disampaikan Ali bin abi tholib:

‫َخ ْي ُر ُكْم َمْن َتَعَّلَم اْلُق ْر آَن‬


‫َوَعَّلَمه‬54
Artinya: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur,an dan
mengajarkan.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Pembentukan karakter melalui pendidikan Agama Islam dapat

dilakukan melalui lembaga formal maupun non-formal. Melalui lembaga non-

54
Muzakkir, M. (2015). KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QUR'AN: Metode
Maudhu’i dalam Perspektif Hadis. Lentera Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, 18(1), 107-121.

44
formal dilakukan dalam lingkungan masyarakat dan keluarga. Sedangkan

pembentukan karakter secara formal dilakukan di sekolah. Sekolah merupakan

lembaga formal yang dirancang oleh Negara untuk meningkatkan kualitas

manusia melalui pendidikan. Dan pembentukan karakter tidak lepas dari peran

orang tua, guru, dan masyarakat.

Tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan mutu dan

penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian

pembentukan karakter yang terwujud dari akhlak mulia siswa secara utuh,

terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan siswa mampu

secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji

dan menginternalisasi nilai-nilai karakter sehingga terwujud dalam akhlak

mulia pada kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter di sekolah perlu

dilakukan identifikasi nilai-nilai karakter sesuai dengan kebutuhan masyarakat

yang dilayani sekolah. Karakter tersebut yang ditanamkan ke dalam diri siswa

agar mendarah daging, menyatu dalam hati, pikiran, ucapan, perbuatan dan

menetapkan pengaruhnya dalam realitas kehidupan secara mudah atas

kemauan sendiri, sehingga akan terwujudnya akhlak siswa secara menyeluruh.

Oleh karena itu penulis memberikan trobosan bukan hal yang terlalu

baru namun bisa dianggap penulis sebagai motivasi atau dorongan agar

peserta didik mempunyai karakter religius dan berakhlakul karimah.

Hasil dari pemikiran yang bisa penulis tuangkan dalam proposal ini

untuk myeiapkan generasi yang lebih cinta terhadap Al-Qur’an dizaman

45
modern ini peneliti hendak mengadakan pembiasaan hafalan juz ‘amma setiap

kelas di MTs An-Nur Kota Cirebon, dan lebih husus di kelas VII MTs An-Nur

Kota Cirebon.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat Dan Waktu Penelitian

46
Penelitian ini berlokasi di MTs An-Nur Kota Cirebon terletak di

[Link] Drajat-Karanganyar Jagasatru Selatan, Kelurahan Jagasatru,

Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon.

Alokasi waktu yang digunakan untuk penelitian ini, dilaksanakan sejak

01 Mei 2023 s/d 30 juni 2023. dengan lokasi tempat penelitian di MTs An-Nur

Kota Cirebon.

a. Waktu Penelitian

Fase-fase April 2023 Mei 2023 Juni 2023


No
penelitian

1 Persiapan √ √

2 Observasi √ √ √

3 Pengamatan √ √ √ √

4 Wawancara √ √ √ √ √

5 Peengambilan √ √

Data

Tabel 1.1

B. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan jenis penelitian field research yang biasa

disebut dengan penelitian lapangan yang dijadikan sebagai pendekatan dalam

47
penelitian kualitatif.55 Peneliti mengamati penerapan hafalan juz’amma

sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII MTs An-

Nur Kota Cirebon kemudian dianalisis.

Pada penelitian ini, akan menggambarkan bagaimana penerapan

hafalan juz ‘amma sebagai nupaya pembentukan karakter religius peserta

didik pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII MTs An-Nur Kota

Cirebon.

C. Penentuan Sumber Informasi

Orang yang memiliki pengetahuan atau data yang relevan dengan

penelitian disebut informan penelitian. Kepala sekolah, guru mata

pelajaran, dan siswa/siswi.

Informan penelitian ini diantaranya kepala sekolah sebagai

pemimpin dalam struktural di sekolah. Guru kelas sebagai praktisi utama

dalam pembelajaran, serta pihak-pihak yang terlibat secara langsung

maupun tidak.

D. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen dalam penelitian ini adalah wawancara, wawancara adalah

salah satu metode pengumpulan data yang dapat digambarkan sebagai sebuah

intraksi yang melibatkan antara pewawancara dengan yang diwawancarai

dengan maksud mendapatkan informasi yang sah dan dapat dipercaya. Jenis

wawancara yang digunakan oleh peneliti yaitu wawancara terstruktur, yaitu

wawancara yang dilakukan secara langsung dan berpedoman pada pedoman


55
Abizal Muhammad Yati, “Metode Komunikasi Da’i Perbatasan Aceh Singkil dalam Menjawab
Tantagan Dakwah”, (Aceh: Jurnal al-Bayan, Vol. 24, No. 2, 2 Juli-Desember, 2018), hlm. 302.

48
yang telah disiapkan. Peneliti mempersiapkan beberapa pertanyaan untuk

dijadikan bahan data atau sumber yang relevan dalam penelitian tersebut.

Adapun narasumber dari wawancara ini yaitu guru Mata pelajaran Al-Qur’an

Hadits, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan siswa.

E. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menggunakan berbagai pendekatan data untuk mengumpulkan

data informasi yang relevan dengan masalah penelitian:

1. Wawancara

Proses wawancara atau wawancara adalah percakapan antara

pewawancara dengan orang yang diwawancarai guna mengumpulkan

informasi.56 Metode ini peneliti gunakan untuk mencari data secara umum

dengan mewawancari antara lain kepala sekolah, guru mata pelajaran,

siswa/siswi. Menggunakan pendekatan bebas terbimbing untuk

melakukan wawancara akan memungkinkan pemberian tanggapan yang

lebih fleksibel dari orang yang diperiksa, menghasilkan pengumpulan

data yang lebih banyak dan lebih tepat. Masalah sebenarnya mungkin

ditunjukan oleh para peneliti.

2. Observasi

56
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:Rineka Cipta,
2006), hal. 64

49
Observasi melibatkan melakukan pengamatan langsung terhadap

objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang sedang

dilakukan.57 Untuk mengumpulkan informasi untuk penelitian, observasi

dilakukan dengan mengamati langsung di lapangan dan

mendokumentasikan apa yang ditemukan di sana.

Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan

di MTs An-Nur Kota Cirebon dengan mempelajari kegiatan belajar

mengajar siswa/siswi tentang penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya

pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII MTs An-nur Kota

Cirebon.

3. Dokumentasi

Dokumen adalah catatan atau karya seseorang tentang sesuatu yang

telah berlalu. Dalam penelitian kualitatif, dukumen-dokumen yang tepat

dan relevan mengenai individu atau kelompok individu, peristiwa, atau

kejadian dalam keadaan social merupakan sumber informasi yang sangat

membantu.58

Dengan metode ini diperoleh data-data akurat mengenai data terkait

Penerapan Hafalan Juz 'Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter

Peserta Didik pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII Mts An-

Nur Kota Cirebon, seperti foto-foto, kegiatan penerapan hafalan juz

57
Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2007), hal. 25-
30
58
A. Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan,
(Jakarta:Prenadamedia Group, 2014), hal. 391

50
‘amma sebagai upaya pembentukan karakter peserta didik pada mata

pelajaran al-Qur’an hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon.

F. Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data yang

diperoleh ke dalam kelompok, meringkas data ke dalam unit-unit,

menganalisis data yang signifikan, merangkai atau menyajikan data sesuai

dengan tema penelitian dalam bentuk laporan, dan membuat kesimpulan

yang jelas. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis komponen

deskriptif sesuai dengan pendekatan penelitian tersebut di atas. Analisis

deskriptif komponenial adalah proses mendeskripsikan dan mengevaluasi

informasi yang mengandung perbedaan atau kontras yang dikumpulkan

melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dipilih dengan

cermat. Untuk setiap bagian, berbagai dimensi yang berbeda dan berbeda

dapat diperoleh dengan menerapkan pendekatan pengumpulan data

triangulasi ini.59 Komponen-komponen analisis data model komponensial

dijelaskan sebagai berikut:

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Peneliti di lapangan menggunakan observasi, dokumentasi, dan

wawancara untuk mengumpulkan data. dikurangi dengan memadatkan,

memilih, dan memusatkan data pada mata pelajaran yang relevan

dengan tujuan penelitian. Pada tahap ini peneliti melakukan reduksi

59
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods),
(Bandung:Alfabeta, 2010 hal. 356.

51
data dengan cara mengklasifikasikan, mengabstraksi, dan memilah

catatan lapangan, wawancara, dan bahan pendukung.

2. Penyajian Data (Data Display)

Data kemudian ditampilkan setelah dikompresi. Dalam

penelitian kualitatif, penyajian data ini dapat berupa tabel, grafik, phi

chard, piktogram, dan alat bantu visual lainnya. Data disortir dan

disusun dalam pola relasional agar mudah dipahami dengan penyajian.

Penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat berbentuk

ringkasan singkat, bagan, hubungan antar kategori, bagan alir, dan

representasi visual lainnya. Teks naratif adalah sumber data yang

paling umum digunakan dalam penelitian kualitatif.

3. Kesimpulan (Conclusion Drawing/Verification)

Langkah terakhir dari analisis data kualitatif model komponen

adalah menarik kesimpulan dari verifikasi. berdasarkan informasi yang

telah diringkas dan ditampilkan. Peneliti mengambil kesimpulan pada

tahap pengumpulan data yang didukung oleh bukti-bukti yang kuat.

Kesimpulannya memberikan jawaban atas masalah dan pertanyaan

yangtelah digeluti oleh para sarjana sejak awal.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

52
A. Deskripsi Data

1. Profil sekolah
Nama Madrasah : MTs An-Nur
Alamat :
a. Jalan : Pangeran Drajat-Karanganyar Jagasatru
Selatan
b. Kelurahan : Jagasatru
c. Kecamatan : Pekalipan
d. Kota : Cirebon

Nama & Alamat Yayasan : Yayasan Pendidikan dan Da’wah Islam


Jagasatru, Jl. Jagasatru Ponpes Jagasatru
No. 58 Kota Cirebon 45115
NSS/NSM/NDS : 121232740005
Jenjang Akreditasi :A
Tahun didirikan : 1993
Tahun beroperasi : 1993
Kepemilikan Tanah : Milik Yayasan
Status tanah : Sertifikat Hak Milik
Luas tanah : 1300 M2
Status bangunan : Milik Yayasan
Surat Ijin Bangunan : -
Luas bangunan : 1062 M2

2. Deskripsi Sekolah

MTs An-Nur adalah suatu lembaga pendidikan di bawah yayasan

Pendidikan dan Da’wah Islam Jagasatru yang berlokasi di Jl. Pangeran

Drajat-Karanganyar Jagasatru Selatan, Kelurahan Jagasatru, Kecamatan

Pekalipan, Kota Cirebon. Didirikan pada tanggal 18 Agustus 1993 dengan

nomor akte 04 oleh pendirinya yaitu Habib H. Muhammad Yahya Bin

Sjech Bin Abu Bakar Bin Yahya.

3. Visi dan Misi MTs An-Nur Kota Cirebon

53
a. Visi : Tetwujudnya Madrasah yang Mampu Mencetak Generasi

Muslim Yang Bertaqwa, Berakhlaq Mulia, Menguasai IPTEK Dan

Berdaya Saing.

b. Misi :

1) Mengamalkan aqidah Islam dan akhlaqul karimah dalam kegiatan

sehari-hari

2) Menanamkan sikap nasionalisme

3) Meningkatkan profesionalisme dan kompetensi pendidik dan

tenaga kependidikan

4) Melaksanakan pembinaan dan bimbingan secara optimal

5) Mengoptimalkan sarana dan prasarana pembelajaran

6) Menciptakan lingkungan madrasah yang kondusif

7) Membangun kemitraan dengan stakeholder dalam pengembangan

mutu layanan pendidikan

4. Tujuan

a. Mengembangkan dakwah Islam melalui Pendidikan


b. Untuk menampung para lulusan MI An-Nur Kota Cirebon, agar bisa
melanjutkan belajar setingkat dengan Sekolah Lanjutan Pertama
c. Memfasilitasi keinginan dan harapan masyarakat, agar putra/putrinya
yang lulus SD/MI dapat melanjutkan belajar di Tingkat Tsanawiyah
d. Ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu
program pembangunan nasional,
e. Ikut serta mensukseskan program wajib belajar 9
f. Tujuan khusus adalah memberikan bimbingan dan mengarahkan siswa
untuk :

1) Baik dalam aqidah, akhlaq dan beribadah


2) Baik dalam membaca alqur’an
3) Baik dalam berbahasa
4) Memiliki wawasan berfikir yang luas
5) Memiliki dasar-dasar ketrampilan yang mendiri

54
5. Deskripsi Ketenagaan

a. Data Pendidik dan Tenaga Pendidikan

1) Jumlah Guru Keseluruhan : 24 orang

2) Guru Tetap Yayasan : 21 orang

3) Guru Tidak Tetap : - orang

4) Guru PNS : 3 orang

5) Staf Tata Usaha : 4 orang

6) Kebersihan : 1 orang

b. Daftar Nama Guru, Kelas dan Mata Pelajaran yang Diampu:

No Nama Mata Pelajaran Kelas


1 Suhada SAg. BA 7 AB
7 ABCDE & 8
2 Riyana [Link].I B. Ing
CDE
Vidya Syahidah Hakimi 8 AB & 9
3 B. Ing
[Link]. ABCD
7 AB 7 8
4 Dewi Kusniyah [Link]. B. Ind
ABCDE
7 CDE & 9
5 Yeni Setiawati [Link]. B. Ind
ABCD
B. Arab 9 ABCD
6 Cecep Setiawan [Link]. B. Daerah 7 ABCDE &
Cirebon DE
Matematika 7 CDE
7 Tegu Fitrianingsih [Link].I
IPA 7 AB
8 Usman Afif [Link]. Martematika 8 ABCDE
7 AB & 9
9 Rayu [Link].I., MM. Matematika
ABCD

55
7 CDE & 8
10 Umiyati [Link].I IPA
CDE
8 AB & 9
11 Muhammad Umar [Link].I IPA
ABCD
7 ABCDE & 9
12 Rizki Triadi Putra [Link]. PKn
ABCD
7 ABC & 8
13 Drs. Agung Saputra IPS
ABC
7 DE, 8 DE &
14 Amir Hamzah [Link].I` IPS
9ABCD
7 AB, 8 ABC
15 Abdul Hamid Yahya Aqidah Akhlak
& 9 ABCD
8 CDE &
Mulok Arab
16 Eva Lathifah [Link] 9ABCD
Aqidah Akhlak 7 CDE& 8 DE
7 ABCDE & 8
Mulok Arab
17 Evi Luthfiyyah [Link]. AB
SKI 8 ABCDE
7 ABCDE, 8
Qur'an Hadits ABCDE &
Mohamad Subhan SHI., 9ABCD
18
[Link].I
B. Daerah
9 CD
Cirebon
7 ABCDE, 8
19 Suheri Penjasorkes ABCDE &
9ABCD
7 ABCDE, 8
20 Umar Mokhtar [Link].I Seni Budaya ABCDE &
9ABCD
7 ABCDE, 8
Bambang Gunawan ST.,
21 Prajkarya ABCDE &
[Link]
9ABCD
Ibrahim Syaikhon Yahya 7 CDE & 8
22 Bahasa Arab
Lc. ABCDE

56
B. Daerah
23 Drs. Syukron 8 ABC
Cirebon
PKn 8 ABCDE
24 Tuadatin [Link].I B. Daerah
9 AB
Cirebon
7 ABCDE & 9
25 Soleh [Link] SKI
ABCD
7 ABCDE, 8
26 Ahmad Fauzi Fikih ABCDE &
9ABCD

Tabel 1.2

6. Deskripsi Siswa-Siswi MTs An-Nur Kota Cirebon

a. Data Siswa Tahun Pelajaran 2009/2010 s/d 2022/2023 adalah:

Tahun
No Pelajaran Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jumlah
1. 2020/2021 129 117 110 356
2. 2021/2022 147 126 118 391
3. 2022/2023 134 137 120 391

Tabel 1.3

B. Pembahasan

1. Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma Di Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon

Karakter Religius sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia,

terlebih oleh siswa Madrasah Tsanawiyah yang mana merupakan insan yang

sedang dalam proses pembentukan karakter agar menjadi muslim yang

kaffah. Yang membedakan karakter dengan karakter islami ialah karakter

suatu watak, sikap, tabiat yang membedakan antara satu pribadi dengan

pribadi yang lain, sedangkan karakter religius ialah suatu watak, sikap, atau

57
biasa di sebut dengan akhlak yang mana di dalam nya telah di terapkan

nilai-nilai keislaman dengan cara membentuknya juga dengan melalui

sesuatu yang bersifat keislaman. Maka dari itu setiap lembaga pendidikan

perlu mengenalkan nilai-nilai keislaman sejak dini kepada siswanya. Setiap

lembaga pendidikan memiliki caranya masing-masing dalam membentuk

karakter religius siswanya, begitu pula dengan MTs An-Nur Kota Cirebon.

Sekolah ini memilih kegiatan hafalan juz ‘amma sebagai salah satu cara

yang diterapkan untuk membentuk karakter religius siswanya.

Berdasarkan penuturan Bapak Suhada beliau memberikan

keterangan:

“Untuk kegiatan hafalan Juz ‘Amma sih sudah lama, sudah lebih
dari 10 tahun, kegiatan hafalan ini menggunakan metode
muroja’ah tidak untuk dihafalkan, kegiatan ini aslinya program
dari pengurus sebelum saya atau kepala sekolah sebelum saya, jadi
saya tinggal melanjutkan program tersebut.”60

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan hafalan juz

‘amma merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di MTs An-Nur Kota

Cirebon yang mana merupakan kegiatan turun menurun yang dilaksanakan

kurang lebih 10 tahun terakhir dari pengurus Mts An-Nur Kota Cirebon

terdahulu yang masih dilaksanakan hingga sekarang. Kegiatan hafalan juz

‘amma dilakukan setiap pagi pukul 07.00 WIB sebelum pembelajaran

berlangsung dengan cara pembiasaan tidak untuk dihafalkan. Menurut

beliau:

60
Hasil Wawancara Dengan Bapak Suhada, Selaku Kepala MTs An-Nur Kota Cirebon, Pada
Tanggal 25 Mei 2023

58
“Tujuan utamanya tentu untuk menanamkan rasa cinta al-qur’an
kepada anak mulai sejak dini, minimal anak tahu dan nantinya bisa
diterapkan di kehidupan sehari-hari”.61

Menurut Bapak Cecep setiawan Selaku Kesiswaan, kegiatan hafalan

juz ‘amma di MTs An-Nur Kota Cirebon diikuti oleh seluruh kelas mulai

dari kelas VII sampai Kelas IX. Kemudian masing-masing kelas

menghafalkan mulai dari surat yang termudah yakni al-fatihah sampai yang

tersulit yakni surat an-naba. Kegiatan hafalan tersebut dilakukan setelah

siswa membaca do’a bersama pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB

selama kurang lebih 10-15 menit sebelum kegiatan pembelajaran di mulai.

Surat-surat yang dihafalkan antara lain yakni surat al-fatihah hingga surat

an-naba (Juz 30 atau juz ‘amma).62

Biasanya guru meminta siswa untuk membawa juz ‘amma dari

rumah, kemudian guru mengawali kegiatan dengan meminta siswa

membuka juz ‘amma yang telah mereka bawa dari rumah, setelah itu siswa

secara bersama-sama membaca juz ‘amma yang telah mereka bawa. Pada

saat kegiatan hafalan berlangsung seluruh siswa terpaku dengan juz ‘amma

yang mereka baca, beberapa dari mereka membaca tanpa melihat juz ‘amma

hal tersebut menunjukan bahwa siswa telah hafal dengan baik dikarenakan

siswa tersebut telah menghafalkan juz’amma sebelumnya

dirumah/dipondok. Akan tetapi ada juga yang terlihat kurang fokus dalam

kegiatan hafalannya dikarenakan siswa tersebut belum hafal dan

61
Hasil Wawancara Dengan Bapak Suhada, Selaku Kepala MTs An-Nur Kota Cirebon, Pada
Tanggal 25 Mei 2023
62
Hasil Wawancara Cecep setiawan, Selaku Kesiswaan di MTs An-Nur Kota Cirebon, Pada
tanggal 2 Juni 2023

59
sebelumnya tidak menghafalkan hafalannya dirumah. Berdasarkan

penuturan bapak suhada beliau mengatakan:

“Adapun kendalanya yaitu ada siswa yang belum bisa menghafal


surat-surat pendek (juz 30) dikarenakan siswa tersebut dirumahnya
tidak ada waktu untuk menghafalkan”.63

Berdasarkan penurturan tersebut ada siswa yang belum bisa menghafal

surat-surat pendek (juz 30), dikarenakan siswa tersebut tidak ada waktu

untuk menghafalkan.

2. Penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter


religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an hadits kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon

Pembentukan karakter religius kepada siswa di MTs An-Nur Kota

Cirebon melalui kegiatan hafalan juz ‘amma tentu saja membutuhkan

waktu yang panjang. Untuk membentuk karakter religius tentu saja

bukanlah hal yang secara instan dapat tercapai, perlu adanya waktu

sehingga berbagai karakter religius dapat terbentuk di dalam diri siswa.

Begitu juga dengan penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya

pembentukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an

hadits MTs An-Nur Kota Cirebon sebagaimana telah di deskripsikan

diatas. Siswa MTs An-Nur Kota Cirebon rata-rata menetap dipesantren

dan sebagian kecil mereka pulang pergi. Setelah peneliti amati, peneliti

menemukan siswa yang belum mampu menghafal surat-surat pendek (Juz

30). Setelah itu peneliti berinisiatif untuk menerapkan hafalan pada siswa,

kemudian respon siswa sangat baik dan antusias untuk menghafal.

63
Hasil Wawancara Bapak Suhada, Selaku Kepala Madrasah, Pada tanggal 25 mei 2023

60
Penerapan hafalan juz ‘amma tersebut menjadi pembiasaan agar siswa

dapat menghafal surat-surat pendek (juz 30).

Penerapan hafalan juz ‘amma pada siswa kelas VII di MTs An-Nur

dilakukan pada mata pelajaran al-qur’an hadits dengan metode muroja’ah

setiap pagi jam 07.00 sekitar 10-15 menit, kemudian siswa maju satu

persatu menyetorkan hafalan juz ‘amma pada guru entah itu hanya 1 surat

ataupun hanya 1-2 ayat saja. Berdasarkan penuturan bapak mohamad

subhan beliau memberikan keterangan:

“belum ada, dalam mata pelajaran al-qur’an hadits yang saya ampu

saya belum menerapkan hafalan juz ‘amma pada siswa”64

Pada mata pelajaran al-qur’an hadits sangat cocok untuk melakukan

penerapan hafalan juz ‘amma karena ada sangku pautnya dengan al-

qur’an. Berdasarkan penuturan bapak mohamad subhan beliau

memberikan keterangan:

“ saya sih setuju, hafalan juz ‘amma itu sangat cocok diterapkan
pada mata pelajaran al-qur’an hadits, karena sebelumnya pada
mata pelajaran yang saya ampu yaitu al-qur’an hadits belum ada
penerapan hafalan juz ‘amma pada siswa”.

Dengan adanya penerapan hafalan juz ‘amma, siswa kelas VII di

MTs An-Nur sangat antusias untuk menghafalkan. Mereka sangat

semangat dengan adanya penerapan hafalan juz ‘amma. Saking

semangatnya ketika jam istirat mereka tidak istirahat tetapi mereka

memilih untuk setoran hafalan pada guru mata pelajaran al-qur’an hadits.

Berdasarkan penuturan dari siswa kelas VII:


64
Hasil Wawancara Bapak Mohamad Subhan, Selaku Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits,
Pada Tanggal 8 juni 2023

61
“Tidak ada, saya setuju bu jika diadakan hafalan juz ‘amma.
Karena nanti saya bisa menghafalkan lebih banyak surat”.65
“Tidak ada, boleh bu saya senang jika hafalan juz ‘amma
diterapkan. Karena sebelumnya saya dirumah tidak ada waktu
untuk menghafalkan dan menyetorkan hafalan”.66

Dari penuturan siswa kelas VII, belum ada penerapan hafalan juz

‘amma, jika di adakan penerapan hafalanpun mereka sangat antusias untuk

menghafalkan, karena sebagian dari mereka sebelumnya tidak ada waktu

untuk menghafalkan/menyetorkan hafalannya.

Peneliti melakukan penerapan hafalan juz ‘amma pada mata

pelajaran al-qur’an hadits, setiap mata pelajaran al-qur’an hadits siswa

dimita muroja’ah setelah do’a selesai, sekitar jam 07.00 kurang lebih 10-

15 menit, setelah selesai siswa maju satu persatu menyetorkan hafalannya

kepada guru entah itu langsung satu surat atau haya 1-2 ayat saja.

3. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan penerapan hafalan


juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta
didik pada mata pelajaran al-qur’an hadits kelas VII MTs An-Nur
Kota Cirebon

Dalam pelaksanaan suatu program tentunya tidak terlepas dari

adanya faktor pendukung dan penghambat yang membersamai, faktor

pendukung tentu saja akan memperlancar dalam pelaksanaan suatu

program sedangkan faktor penghambat memberikan persoalan-persoalan

yang menghambat dalam pelaksanaan suatu program, sehingga para

stakeholder harus mencari alternative atau solusi terhadap berbagai

persoalan tersebut.

65
Hasil Wawancara Siswa 1 MTs An-Nur (Fahri), pada tanggal 12 juni 2023
66
Hasil Wawancara siswa 2 MTs An-Nur (Sela), pada tanggal 12 juni 2023

62
Pelaksanaan pembentukan karakter religius melalui penerapan

hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur Kota Cirebon tentunya juga terdapat

faktor pendukung dan penghambatnya. Faktor penghambat disebabkan

siswa malas untuk menghafalkan hafalannya.

1. Faktor pendukung

a. Motivasi

Siswa yang menghafalkan juz ‘amma (juz 30) sangat

membutuhkan motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua,

keluarga dan sanak kerabat guru. Dengan adanya motivasi yang

diberikan akan menumbuhkan semangat dalam menghafalkan juz

‘amma. Berdasarkan penuturan bapak mohamad subhan selaku

guru al-qur’an hadits beliau mengatakan:

“motivasi adalah salahsatu peran penting dalam faktor


pendung bagi siswa yang sedang menghafalkan”.67
b. Sabar

Biasanya siswa malas apabila hafalannya sulit dan

menemukan kesulitan lain, maka sabar adalah obatnya. Dengan

sabar siswa akan ikhlas menerima masukan dan terus berusaha

memperbaiki hafalannya. Berdasarkan penuturan dari bapak

Agung saputra beliau mengatakan:

“sabar adalah salah satu peran penting bagi siswa dalam


proses menghafalkan juz ‘amma”.68

c. Muraja’ah

67
Hasil Wawancara Bapak Mohamad Subhan, Selaku guru mata pelajaran al-qur’an hadits, pada
tanggal 8 juni 2023
68
Hasil Wawancara Bapak Cecep Saputra, Selaku Kesiswaan MTs An-Nur, pada tanggal 20 juni
2023

63
Muraja’ah hafalan juz ‘amma sangatlah penting bagi siswa

dalam proses hafalan. Supaya siswa selalu ingat dan hafal pada

saat menyetorkan hafalan. Berdasarkan penutran siswa kelas VII:

“Muroja’ah sangat penting bagi saya dalam proses


menghafalkan hafalan juz ‘amma, saya biasanya di pondok
dan di sekolah sebelum pembelajaran dimulai selalu
muraja’ah supaya hafalan saya lancar ”.69

Jadi, faktor pendukung dalam penerapan hafalan juz amma sebagai

upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII MTs

An-Nur Kota Cirebon yaitu adanya dorongan/motivasi dari orang

terdekat (orang tua, keluarga, kerabat terdekat) pada siswa saat

melakukan hafalan juz ‘amma, siswa sangat sabar dan ikhlas dalam

menghafalkan hafalannya, muroja’ah hafalannya sebelum

disetorkan pada guru.

2. Faktor penghambat

a. Tidak mendapatkan motivasi

Tidak adanya motivasi pada siswa dalam proses

menghaflkan bisa menghambat siswa dalam mengahaflkan juz

‘amma karena tidak ada dorongan/motivasi dari orang terdekat.

Berdasarkan penuturan bapak mohamad subhan beliau

mengatakan:

“kurangnya motivasi dari orang terdekat akan menghambat


siswa dalam proses menghafalkan juz ‘amma”.70

b. Malas muraja’ah
69
Hasil Wawancara siswa kelas VII MTs An-nur Kota Cirebon (Sela), pada tanggal 12 juni 2023
70
Hasil Wawancara Bapak Mohamad Subhan, Selaku guru mata pelajaran al-qur’an hadits, pada
tanggal 8 juni 2023

64
Rasa malas hambatan yang paling sering ditemui oleh siswa

saat menghafalkan juz ‘amma, maka perlunya istiqomah atau

konsisten agar terhindar dari sifat malas. Berdasarkan penuturan

bapak agung saputra beliau mengatakan:

“malas muraja’ah biasanya yang menjadi penghambat bagi


siswa saat proses menghafalkan”.71

c. Tidak dapat membagi waktu

Siswa harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu

yang dianggap sesuai dan tepat untuk menghafalkan al-qur’an

manajemen waktu yang baik akan berpengaruh besar pada tingkat

ketajaman ingatan. Berdasarkan penuturan siswa kelas VII:

“salah satu penghambat dalam proses hafalan yaitu kurang


membagi waktu dalam proses menghafalkan”.72

Jadi, faktor penghambat dalam penerapan hafalan juz amma

sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas

VII MTs An-Nur Kota Cirebon yaitu kurangnya dorongan/motivasi

dari orang terdekat (kedua orang tua, keluarga, kerabat terdekat),

siswa malas untuk muroja’ah hafalan juz ‘amma, dan siswa tidak

dapat membagi waktunya untuk menghafalkan juz ‘amma.

71
Hasil Wawancara Bapak Cecep Setiawan, Selaku Kesiswaan MTs An-Nur, pada tanggal 20 juni
2023
72
Hasil Wawancara siswa kelas VII MTs An-nur Kota Cirebon (Sela), pada tanggal 12 juni 2023

65
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan

66
Berdasarkan data-data dan laporan yang tersaji dari hasil penelitian

dan pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dalam skripsi ini

peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma kelas VII di MTs An-Nur Kota Cirebon
sebagai berikut:

a. Hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur sudah diterapkan kurang lebih

10 tahun menggunakan metode muroja’ah.

b. Hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur dilakukang dengan cara

pembiasaan setiap pagi setelah baca do’a bersama sekita 10-15

menit.

c. Hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur dilakukan menggunakan

metode muroja’ah tidak untuk dihafalkan.

2. Penerepan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pementukan karakter


religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an hadits kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:

a. Membiasakan membaca dan menghafal juz ‘amma (juz 30) setiap

pagi setelah baca do’a bersama.

b. Siswa menghafalkan hafalan juz ‘amma lalu disetorkan kepada

guru.

3. Faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan hafalan juz


‘amma sebagai berikut:

a. Faktor pendukung

Faktor pendukung dalam penerapan hafalan juz ‘amma di

MTs An-Nur Kota Cirebon yaitu adanya dorongan atau motivasi,

sabar dan istiqomah saat menghafalkan, dan muroja’ah hafalan.

67
b. Faktor penhambat

Faktor penghambat dalam penerapan hafalan juz ‘amma

sebagai berikut:

Faktor penghambat dalam penerapan hafalan juz ‘amma di MTs

An-Nur Kota Cirebon yaitu siswa tidak mendapat dorongan atau

motivasi dari orang terdekat saat proses menghafalkan, malas

muroja’ah, tidak bisa membagi waktu untuk menghafalkan.

B. Saran

1. Bagi siswa

Agar lebih rajin dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan

hafalan juz ‘amma karna mengingat keutamaan pahala bagi orang yang

menghafal dan mengajarkan al-qur’an kepada orang lain, siswa

mampu menjaga hafalannya dengan istiqomah muroja’ah dan

bertanggung jawab terhadap hafalannya baik di madrasah maupun di

rumah

2. Bagi guru

Agar selalu hadir disetiap pertemuan sehingga siswa

mendapatkan bimbingan yang maksimal dari pembimbingnya serta

memberikan teladan akhlakul karimah kepada siswa.

3. Bagi sekolah

68
Agar meningkatkan kemampuan pengelolaan penerapan hafalan

juz ‘amma dengan melakukan koordinasi yang lebih intensif sehingga

menjadi tempat bagi semua pihak meningkakan ke efektifan program

dan memperbaiki kekurangan sehingga mampu mencapai tujuan yang

ditentukan.

69
DAFTAR PUSTAKA

[Link] Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian


Gabungan, (Jakarta:Prenadamedia Group, 2014)

Abdurrahman Abdul Khaliq, Bagaimana Menghafal Al Quran, (Jakarta: Pustaka


Al-Kautsar, 2006).

Abizal Muhammad Yati, “Metode Komunikasi Da’i Perbatasan Aceh Singkil


dalam Menjawab Tantagan Dakwah”, (Aceh: Jurnal al-Bayan, Vol. 24,
No. 2, 2 Juli-Desember, 2018)

Adi Wijayanto, dkk, Akademisi dan Jurus Jitu Pembelajaran Daring,


(Tulungagung: Akademia Pustaka, 2021)

Adi Wijayanto, dkk, Jurus Jitu Pendidikan dalam Pelaksanaan Daring,


(Tulungagung: Akademia Pustaka, 2021)

Agustina, Rahmi. Syakura, Abdan. “Penerapan Menghafal Juz ‘amma pada Anak
Kelompok B di TK Tahfiz Tunas Mulia Kertak Hanyar”.

Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho, dan Difla Nadjih, Upaya Santri dalam
Pemeliharaan Hafal dl Qur’an di MANU Kota Gede Yogyakarta: Jurnal
Ulumuddin, Vol. 8, No. 2, Desember 2018.

Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al Quran, (Jakarta: Bumi


Aksara, 2005).

Ali Mahtarom dan Wiwin Qomariyah, “Implementasi Metode Apel Dalam


Menghafal Juz ‘Amma Guna Meningkatkan Daya Ingat Santri Madin
Children,” Jurnal Al-Murabbi, 1 (2016)

Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2017)

Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018)

70
Erwan Komara, “Pesan-Pesan Transedental Dalam Al-Qur’an Juz 30,” Jurnal
Komunikasi, 1 (2016)

Hamdi, Muchlis. 2014. Metodologi Penelitian Administrasi.

Imam Nawawi. (2015). Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur’an “At-


Tibyaan fii Aadaabi Halamatil” KONSIS Media.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Ed. IV (Jakarta:PT Gramedia
Pustaka Agama, 2008)

Kemendiknas. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan. Karakter. Jakarta:


Kemendiknas.

Khoriyah, Rif’atul. Cholifah. Neny Liftiyarotun, Nadhiro. “Implementasi Metode


3T + 1M Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi
Menghafal Peserta Didik di SDN 2 Tawangrejo Lamongan”. Jurnal
Pendidikan.

Lisda Rahmasari, Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan


Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Karyawan: Jurnal Majalah Ilmiah
Informatika, Vol. 3, No. 1, Januari 2012.

Miftahul Jannah, Metode dan Strategi Pembentukan Karakter Religius yang


Ditetapkan di SDTQ-T An Najah Pondok Pesantren cindai Alus
Martapura, dalam Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah,
Vol. 4, No. 1, Juli-Desember 2019

Muh Hambali dan Eva Yulianti, Ekstrakulikuler Keagamaan Terhadap


Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik di Kota Majapahid: Jurnal
Pedagogik, Vol. 5, No. 2, Desember 2018

Muhammad Yati, Abizal. Metode Komunikasi Da’i Perbatasan Aceh Singkil


dalam Menjawab Tantagan Dakwah. Jurnal al-Bayan.

Munawwarah, Aisyah Idris, dan Husna Hakim, “Penerapan Metode One Day
One Ayat Untuk Mengembangkan Kemampuan Anak Dalam Menghafal

71
Juz ‘Amma Di TK FKIP Unsyiah Banda Aceh,”Jurnal Pendidikan Anak
Bunayya, 1 (2021)

Munirwan Umar, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar


Anak: Jurnal Ilmiah Edikasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2015.

Mustari Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan, (Jakarta: PT Remaja Grafindo


Persada, 2014)

Musthafa, Izzuddin. 2018. Metodologi Penelitian Bahasa Arab.

Muzakkir, M. (2015). KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-


QUR'AN: Metode Maudhu’i dalam Perspektif Hadis. Lentera Pendidikan:
Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,


2011).

Nor Riza, Muftiyana. “Implementasi Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma dalam


Membentuk Karakter Islami Siswa Kelas VI di MI Kedung Ombo Mayong
Jepara”. 2020. Artikel Thesis.

Nyayu Khadijah, Psikologi Pendidikan, (Palembang: CV. Grafika Telindo Press,


2011).

Omeri, N. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia


pendidikan. Manajer Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan
Program Pascasarjana.

Putri, W. N., & Saring Marsudi, S. H. (2018). Implementasi Hafalan Juz’amma


Untuk Menanamkan Karakter Disiplin dan Tangung Jawab Pada Siswa
Kelas III Mi Muhammadiyah Program Khusus Wirogunan Kartosuro
Tahun Ajaran 2017/2018

Putri, Wismy Novadhi, SH Saring Marsudi, “ Implementasi Hafalan Juz’amma


Untuk Menanamkan Karakter Disiplin dan Tangung Jawab Pada Siswa

72
Kelas III Mi Muhammadiyah Program Khusus Wirogunan Kartosuro
Tahun Ajaran 2017/2018”

Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al Quran,
(Solo: Aqwam, 2007).

Rahma Nur Baiti, dkk, Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembiasaan


Aktivitas Keagamaan, dalam el Bidayah: Journal of Islamic Elementary
Education, Vol. 2, Desember 2018

Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter pada Pelajaran Pendidikan Islam


(PAI) Tingkat SLTA, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2014)

Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, (Bandung: Alfabeta,


2007)

Rif’atul Khoriyah, Cholifah, Neny Liftiyarotun Nadhiro, “Implementasi Metode


3T + 1M Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi
Menghafal Peserta Didik di SDN 2 Tawangrejo Lamongan”, (Surabaya:
Jurnal Pendidikan, Vol. 11, No. 3, 2022

Rois Zulfa Nuraini, “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan


Menghafal Juz ‘Amma, Hadits, dan Do’a-Do’a Harian di MTsN 1
Ponorogo”, (Ponorogo: Artikel Skripsi)

Setiawan, Guntur. (2004). Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan.


Bandung:Remaja Rosdakarya Offset.
Sholihah, Mar’atun. “Problematika Pembelajaran Hafalan surat-suat pend
Sudrajat, A. (2011). Mengapa pendidikan karakter?. Jurnal Pendidikan
Karakter, 1(1).
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed
Methods), (Bandung:Alfabeta, 2010

Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,


(Jakarta:Rineka Cipta, 2006)

73
Supian, Dkk, Strategi Pemotivasian dalam Pembelajaran Tahfizh Al-Qur’an:
Jurnal Tarbawi Indonesia Journal of Islamic Education, Vol. 6, No. 2
November 2019, hal. 182.
Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter, (Jakarta: Ditjen Dikdasmen-Kementerian
Pendidikan Nasional, 2010)

Syahratul Mubarokah, Strategi Tahfizh Al-Qur’an: Jurnal Penelitian Tarbawi.


Vol. 4, No. 1 Januari-Juni 2019,
Usman & Nurdin. (2002). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta:PT.
Raja Grafindo Persada.
Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal Al Quran Super Kilat, (Yogyakarta:
DIVA Press, 2015).

Yaumi, Pendidikan Karakter Landasan Pilar, dan Implementasi,


(Jakarta:nPrenadamrdia Grup, 2014)

Zaki Zamani dan Syukron Maksum, Metode Cepat Menghafal Al Quran,


(Yogyakarta: Al Barokah, 2014).

Zulfa Nuraini, Rois. “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan


Menghafal Juz ‘Amma, Hadits, dan Do’a-Do’a Harian di MTsN 1
Ponorogo”. 2021. Artikel Skripsi.

74

Anda mungkin juga menyukai