PENERAPAN HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI UPAYA
PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK PADA
MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS KELAS VII MTs AN-NUR
KOTA CIREBON
SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk
Memperolah Gelar Sarjana Pendidikan ([Link])
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Oleh:
Nama : Hafsyah
Nim : 0101191102
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA CIREBON
2023
LEMBAR PERSETUJUAN
PENERAPAN HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN
KARAKTER RELIGIUS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AL-
QUR’AN HADITS KELAS VII MTS AN-NUR KOTA CIREBON
SKRIPSI
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Disusun Oleh :
HAFSYAH
NIM : 0101191102
Telah disetujui pada tanggal 5 Agustus 2023
Pembimbing :
Pembimbing I, Pembimbing II,
Tosuerdi., S. HI, [Link].I Dr. Tuti Alawiyah, [Link].I, [Link].I
NIDN. 0421037903 NIDN. 0420127903
i
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN
Yang bertandatangan dibawah ini:
Nama : Hafsyah
Nim : 0101191102
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Fakultas Agama Islam
Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon
Menyatakan bahwa Skripsi yang berjudul : Penerapan hafalan juz ‘amma
sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran Al-
Qur’an Hadits kelas VII MTs An-Nur KoTa Cirebon, secara keseluruhan adalah ASLI
hasil penelitian saya, kecuali pada bagian-bagian yang dirujuk sumbernya dan
disebutkan dalam daftar pustaka.
Pernyataan ini dibuat dengan sejujur-jujurnya dan dengan penuh kesungguhan
hati, disertai kesiapan untuk bertanggungjawab atas segala resiko yang mungkin terjadi,
sesuai dengan peraturan yang berlaku, apabila dikemudian hari ditemukan adanya
pelanggaran terhadap etika keilmuan atau ada klaim terhadap keaslian karya saya ini.
Cirebon, Agustus 2023
Yang menyatakan,
Hafsyah
NIM. 0101191102
iii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – INDONESIA
Pengalihan huruf Arab-Indonesia dalam naskah ini didasarkan atas Surat
Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia, tanggal 22 Januari 1988, No. 158/1987 dan
0543.b/U/1987, sebagaimana yang tertera dalam buku Pedoman Transliterasi
Bahasa Arab (A Guide to Arabic Tranliterastion), INIS Fellow 1992.
Arab Latin Arab Latin
ا A ط T
ب B ظ Z
ت T ع ‘
ث Ts غ G
ج J ف F
ح H ق Q
خ Kh ك K
د D ل L
ذ Dz م M
ر R ﻥ N
ﺯ Z ﻭ W
س S ه H
ش Sy ء ,
ص Sh ي Y
ض Dh
Vokal diftong dan panjang
Arab Latin Arab Latin
آ â (a panjang) ´َ ˚و Aw
ا ˚ي î (i panjang) ˚َ ا ´ي Ay
اُ ˚و û (u panjang)
iv
ABSTRAK
Penerepan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan
untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap tuhan yang Maha Esa,
diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan. Siswa MTs An-Nur
Kota Cirebon rata-rata menetap dipesantren dan sebagian kecil mereka pulang
pergi. Setelah peneliti amati, peneliti menemukan siswa yang belum mampu
menghafal surat-surat pendek (Juz 30).
Berdasarkan uraian tersebut maka rumusan masalah yang dapat ditarik
adalah penerapan hafalan juz ''amma sebagai upaya pembentukan karakter
religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur'an hadits.
Penelitian ini merupakan jenis penelitian field research yang biasa
disebut dengan penelitian lapangan yang dijadikan sebagai pendekatan dalam
penelitian kualitatif. Peneliti mengamati penerapan hafalan juz’amma sebagai
upaya pembentukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran al-
qur’an hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon kemudian dianalisis. Pada
penelitian ini, akan menggambarkan bagaimana penerapan hafalan juz ‘amma
sebagai nupaya pembentukan karakter religius peserta didik pada mata
pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembentukan karakter religius pada diri
siswa, memerlukan berbagai cara, metode, pendekatan, dan perlu dilakukan
disegala situasi. Salah satu cara yaitu dengan cara pembiasaan. Kegiatan
pembiasaan hafalan Juz’amma sangat efektif untuk pembinaan karakter
religius anak karena dilakukan terus menerus dan berulang-ulang, sehingga
dapat melekat di dalam diri siswa kemudian dapat membentuk karakter
religius seperti yang diinginkan. Penerapan hafalan juz ‘amma pada siswa
kelas VII di MTs An-Nur dilakukan pada mata pelajaran al-qur’an hadits
dengan metode muroja’ah setiap pagi jam 07.00 sekitar 10-15 menit, kemudian
siswa maju satu persatu menyetorkan hafalan juz ‘amma pada guru entah itu
hanya 1 surat ataupun hanya 1-2 ayat saja.
Berdasarkan data-data dan laporan yang tersaji dari hasil penelitian dan
pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dalam skripsi ini peneliti
mengambil kesimpulan. Penerepan hafalan juz ‘amma sebagai upaya
pementukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an
hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon dapat dilakukan dengan cara,
Membiasakan membaca dan menghafal juz ‘amma (juz 30) setiap pagi setelah
baca do’a bersama, Siswa menghafalkan hafalan juz ‘amma lalu disetorkan
kepada guru.
Kata Kunci: Penerapan hafalan juz ‘amma, Karakter Religius. Mata
pelajaran
v
Al-Qur’an Hadits
ABSTRACT
Penerepan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon
Character education is a system of cultivating character values which includes
components of knowledge, awareness or will, and actions to carry out these values,
both towards God Almighty, oneself, others, the environment, and nationality. On
average, students of MTs An-Nur in Cirebon City stay at the Islamic boarding school
and a small number of them commute. After the researcher observed, the researcher
found students who had not been able to memorize short letters (Juz 30).
Based on this description, the formulation of the problem that can be drawn is
the application of memorizing juz' 'amma as an effort to form the religious character
of students in the subject of Al-Qur'an Hadith.
This research is a type of field research which is commonly referred to as field
research which is used as an approach in qualitative research. The researcher
observed the application of juz'amma memorization as an effort to form the religious
character of students in the class VII Qur'an hadith subject at MTs An-Nur Cirebon
City and then analyzed it. In this study, it will describe how the application of
memorizing juz 'amma as an effort to form the religious character of students in class
VII Al-Qur'an Hadith MTs An-Nur Cirebon City.
In everyday life, the formation of religious character in students requires
various ways, methods, approaches, and needs to be done in all situations. One way is
by habituation. The habit of memorizing Juz'amma is very effective for fostering the
religious character of children because it is carried out continuously and repeatedly,
so that it can be embedded in students and can then form the desired religious
character. The application of memorizing juz 'amma to class VII students at MTs An-
Nur is carried out in the Al-Qur'an hadith subject with the muroja'ah method every
morning at 07.00 for about 10-15 minutes, then students advance one by one
depositing the memorization of juz 'amma in teacher, whether it's just 1 letter or only
1-2 verses.
Based on the data and reports presented from the results of the research and
discussion and analysis that has been carried out in this thesis, the researcher draws
conclusions. The implementation of memorizing juz 'amma as an effort to determine
the religious character of students in the subject of the Qur'an hadith class VII MTs
An-Nur Cirebon City can be done by getting used to reading and memorizing juz
'amma (juz 30) every morning after reading do 'a together, students memorize juz
'amma and then submit it to the teacher.
vi
Keywords: Application of memorizing juz 'amma, Religious Character. Subjects
Al-Qur'an Hadith
DAFTAR ISI
LEMBAR PERSETUJUAN........................................................................... i
HALAMAN PENGESAHAN........................................................................ ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN.......................................................... iii
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB – INDONESIA............................. iv
ABSTRAK....................................................................................................... v
DAFTAR ISI................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL........................................................................................... ix
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang...................................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah.............................................................................. 6
C. Pembatasan Masalah............................................................................. 6
D. Rumusan Masalah................................................................................. 7
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................ 7
BAB II LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori..................................................................................... 9
1. Penerapan Hafalan Juz ‘Amma...................................................... 9
a. Penerapan.................................................................................. 9
b. Hafalan Juz ‘Amma ................................................................. 10
2. Pembentukan Karakter Religius..................................................... 26
a. Pembentukan............................................................................. 26
b. Karakter Religius ..................................................................... 26
3. Peserta Didik .................................................................................. 33
4. Faktor Pendukung dan Penghambat Menghafal Juz ‘Amma......... 35
a. Faktor Penghambat................................................................... 35
b. Faktor Pendukung..................................................................... 38
B. Penelitian Terdahulu............................................................................. 41
vii
C. Kerangka Pemikiran Penelitian............................................................ 44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian........................................................... 47
B. Metode Penelitian................................................................................. 48
C. Penentuan Sumber Informasi/Informan................................................ 48
D. Instrumen Pengumpulan Data............................................................... 48
E. Teknik Pengumpulan Data................................................................... 49
F. Teknik Analisis Data............................................................................ 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian..................................................................................... 53
B. Pembahasan.......................................................................................... 57
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan........................................................................................... 66
B. Saran..................................................................................................... 67
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Waktu Penelitian........................................................................... 47
Tabel 1.2 Daftar Nama Guru, Kelas dan Mata Pelajaran yang diampu........ 55
Tabel 1.3 Deskripsi Siswa-Siswi MTs An-Nur............................................ 57
ix
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Allah Swt yang telah memberikan
nikmat iman dan islam serta rahmat, dan Hidayah-Nya sehingga proposal skripsi
ini dapat peneliti selesaikan. Shalawat serta salam peneliti limpahkan kepada
Baginda Nabi Muhammad Saw yang telah menuntun umatnya dengan penuh
kesabaran menuju jalan yang diridhai Allah SWT, juga kepada para keluarganya,
sahabatnya, dan umatnya hingga akhir zaman nanti. Aamiin..
Adapun judul yang peneliti ambil untuk skripsi ini adalah “PENERAPAN
HAFALAN JUZ ‘AMMA SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER
RELIGIUS PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN
HADITS KELAS VII MTS AN-NUR KOTA CIREBON”
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah
membantu menyumbangkan pikiran, maupun dorongan semangat dalam
penelitian skripsi ini sehingga dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Peneliti
berharap agar skripsi ini dapat dijadikan referensi guna untuk perbaikan dan
evaluasi pihak-pihak yang berkepentingan terkait dengan judul tersebut.
Peneliti menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam skripsi ini.
Oleh karena itu, diperlukan saran dan kritik yang membangun yang sangat peneliti
harapkan untuk perbaikan proposal skripsi ini.
Dalam proses pembuatan skripsi ini, berbagai hambatan dan kesulitan
peneliti hadapi, namun berkat Rahmat, taufik, dan hidayah Allah SWT. dan
berbagai dorongan, saran dan bimbingan dari semua pihak, akhirnya penelitian
skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Oleh karena itu, peneliti
x
mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang telah membantu,
diantaranya :
1. Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon, Bapak Dr. Agus
Sugiarto, S.H, M.H, M.M
2. Tosuerdi, SHI.,[Link].I selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas
Nahdlatul Ulama Cirebon.
3. A Alvian Fitriyanto,[Link] selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam
Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon yang telah memberikan
kemudahan secara administrasi bagi peneliti dalam menyusunan skripsi
ini.
4. Tosuerdi, SHI.,[Link].I dan Tuti Alawiyah, [Link].I.,[Link].I Selaku
dosen Pembimbing dalam memberikan saran dan arahan dalam
penyusunan skripsi ini.
5. Seluruh dosen dan karyawan akademik Fakultas Agama Islam
Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon.
6. Kepada kedua orang tua ( [Link] & Ibu Hanipah ) tercinta yang
tulus memberikan segalanya, baik cinta, kasih, sayang, perhatian,
pikiran, do’a, motivasi, kritik dan saran, arahan, senyum dan usaha
untuk mencukupi segala kebutuhan peneliti.
7. Kakak tercinta ( Teh Hamidah), terima kasih dengan telah membantu,
mendukung dan mengkritik peneliti agar segera menyelesaikan skripsi
ini.
xi
8. Teman-teman, ( Santika, Santia, Ajeng, Hamdi, Upi ) terimakasih atas
dukungan moral yang kalian berikan dalam penyususnan skripsi ini.
Semoga Allah membalas kebaikan dengan berlipat-lipat.
9. Rekan-rekan seperjuangan di Fakultas Agama Islam khususnya di
jurusan Pendidikan Agama Islam angkatan 2019, yang tidak dapat
peneliti sebutkan satu persatu, terima kasih untuk semangat
persaudaraan, kekeluargaannya ini tetap eksis dan tali silaturahmi kita
tetap terjalin. Aamiin
Kepada mereka semuanya hanya seuntai do’a dari lubuk hati
yang dapat penulis sampaikan “Jazakumullah Khairoan Katsira wa
barakallah fi hayatikum wa salamatu fihayatikum”, semoga Allah
Ta’ala membalas kebaikan semua dengan kebaikan yang lebih baik di
dunia ini dan kelak di akhirat nanti. Amiin
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Cirebon, Agustus 2023
Hafsyah
xii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter
yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan
untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap tuhan yang Maha Esa,
diri sendiri, sesame, lingkungan, maupun kebangsaan. Pengembangan karakter
bangsa dapat dilakukan melalui perkembangan karakter individu seseorang.
Akan tetapi, karena manusia hidup dalam lingkungan social dan budaya
tertentu, maka perkembangan karakter individu seseorang hanya dapat
dilakukan dalam lingkungan social dan budaya yang bersangkutan. Artinya,
perkembangan budaya dan karakter dapat dilakukan dalam suatu proses
pendidikan yang tidak melepaskan peserta didik dari lingkungan social,
budaya masyarakat, dan budaya bangsa. Lingkungan social dan budaya
bangsa adalah pancasila, jadi pendidikan budaya dan karakter adalah
pengembangan nilai-nilai pancasila pada diri peserta didik melalui pendidikan
hati, otak dan fisik.1
Pendidikan karakter dapat didefinisikan sebagai segala usaha yang dapat
dilakukan untuk mempengaruhi karakter siswa. Tetapi, untuk mengetahui
pengertian yang tepat, dapat dikemukakan disini definisi pendidikan karakter
yang disampaikan oleh Thomas Lickona. Lickona (1991) menyatakan bahwa
pendidikan karakter adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu
1
Omeri, N. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Manajer
Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana, 9(3).
seseorang sehingga ia dapat memahami, memperhatikan, dan melakukan nilai-
nilai etika yang inti. Pengertian yang disampaikan Lickona di atas
memperhatikan adanya proses perkembangan yang melibatkan pengetahuan
(moral knowing), perasaan (moral feeling), dan tindakan (moral action),
sekaligus juga memberikan dasar yang kuat untuk membangun pendidikan
karakter yang koheren dan komprehensif. Definisi diatas juga menekankan
bahwa kita harus mengikat para siswa dan kegiatan-kegiatan yang akan
mengantarkan mereka berpikir kritis mengenai persoalan-persoalan etikan dan
moral, menginspirasi mereka untuk setia dan loyal dengan tindakan-tindakan
etika dan moral, dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk
mempraktikan perilaku etikan dan moral tersebut.2
Pendidikan agama sangat efektif digunakan untuk membentuk generasi
bangsa yang beriman dan bertaqwa. Sebagai umat islam, kita tidak hanya
memerlukan pendidikan umum saja akan tetapi pendidikan agama juga
diperlukan untuk menyeimbangkan antara kehidupan dunia dan kehidupan
akhirat. Ketika lembaga sekolah memiliki kegiatan keagamaan, misalnya
membaca maupun menghafal al-Qur’an atau Juz ‘Amma yang diselipkan di
dalam pembelajaran maupun kegiatan rutin.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembentukan karakter religius pada diri
siswa, memerlukan berbagai cara, metode, pendekatan, dan perlu dilakukan
disegala situasi. Salah satu cara yaitu dengan cara pembiasaan. Kegiatan
pembiasaan hafalan Juz’amma sangat efektif untuk pembinaan karakter
2
Sudrajat, A. (2011). Mengapa pendidikan karakter?. Jurnal Pendidikan Karakter, 1(1).
2
religius anak karena dilakukan terus menerus dan berulang-ulang, sehingga
dapat melekat di dalam diri siswa kemudian dapat membentuk karakter
religius seperti yang diinginkan. Terkait dengan hal di atas, kegiatan
pembiasaan diharapkan siswa terbiasa, kemudian dapat tertanam dalam pola
pikir mereka sehingga apa yang telah diajarkan dapat menjadi pondasi ilmu
mereka pada tahap belajar di Madrasah tsanawiyah.
Mts An-Nur Kota Cirebon merupakan salah satu pendidikan formal
yang melaksanakan pembentukan karakter pada peserta didik, tentunya dari
pihak madrasah menginginkan agar peserta didiknya berprestasi dan
berkualitas dalam bidang keagamaan, pembelajaran di Madrasah tsanawiyah
tersebut tidak hanya mempelajari pendidikan umum dan agama saja, akan
tetapi juga mempelajari pedidikan. Pendidikan karakter tersebut untuk
membentuk pribadi peserta didik melakukan kebiasaan baik dan bersikap
sopan sesuai dengan perintah agama dan atas dasar negara. Nilai adalah
prinsip umum yang digunakan masyarakat dengan satu ukuran atau untuk
membuat penilaian dan pemilihan mengenai tindakan yang dianggap baik
maupun buruk. Terdapat 18 nilai karakter yang dikembangkan dalam
pendidikan karakter yang terdiri dari religius, toleransi, jujur, disiplin, kerja
keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan,
cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat atau komunikatif, cinta
damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung
jawab.
3
Dalam beberapa nilai-nilai karakter tersebut, salah satu nilai yang akan
dikembangkan dalam penelitian ini yaitu nilai religius, karena sesuai dengan
karakteristik dan kebutuhan siswa serta lingkungan sekitar sekolah yang akan
dikaji. Religius adalah nilai-nilai religiusitas yang diajarkan kepada siswa di
sekolah, khususnya dalam pembelajaran di kelas melalui beberapa kegiatan
yang sifatnya religius. Aspek karakter religius yang dapat diajarkan kepada
siswa dalam pembelajaran meliputi: membiasakan membaca surat-surat
pendek, menjalankan kewajiban umat Islam, mensyukuri keunggulan
manusia sebagai makhluk pencipta dan penguasa dibandingkan makhluk lain,
bersyukur kepada Tuhan karena merasakan kekuasaan Tuhan yang telah
menciptakan berbagai keteraturan di alam semesta.3
Salah satu sekolah yang menerapkan kegiatan menghafal Juz’amma
untuk meningkatkan karakter religius siswa yaitu di MTs An-Nur Kota
Cirebon. Siswa dibimbing dan diajarkan untuk menghafalkan, memang
mengajarkan hafalan untuk siswa tidak mudah tetapi guru menggunakan cara
menghafalkan Juz’amma secara diulang-ulang setiap pagi yang dilakukan di
dalam kelas. Kegiatan tersebut dilakukan supaya tidak membosankan dalam
proses menghafal siswa, seperti menggunakan catatan hafalan Juz’amma
dilakukan secara bergantian agar siswa selalu antusias dalam mengikuti
proses hafalannya sehingga akan berjalan dengan baik. Maka hal diatas dapat
dengan mudah terwujud sebagaimana Hadist Nabi:
3
Kementrian pendidikan nasional (2011:8),
4
َقاَل َر ُس ْوُل اللِه َصَّلى اللُه َعَلْيِه: َوَعِن اْبِن َمْس ُعْوٍد َر ِضَي اللُه َعْنُه َقاَل
َأ
َوَسَأ َّلَم “َمْن َقَأَر َح ْر ًفا ِمْن ِكَتاِب اللِهَأَفَلُه َح َس َنٌة َوالَح َس َنُة ِبَعْش ِر
َال ُقْوُل الم َح ْر ٌف َوَلِكْن ِلٌف َح ْر ٌف َوَالٌم َح ْر ٌف َوِمْيٌم َح ْر ٌف, ْمَثاِلَها4”
Yang Artinya: “Kata Abdullah Bin Mas’ud, Rasulullah SAW, “Siapa saja
membaca satu huruf dari kitabullah (Al-Qur’an) maka dia akan mendapat
satu kebaikan, sedangkan satu kebaikan dilipatkan kepada sepuluh
semisalnya, aku tidak mengatakan Alif lam mim satu huruf tetapi alif satu
huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. ([Link]-Tirmidzi).
Mata pelajaran Qur’an Hadits adalah salah satu mata pelajaran yang
diajarkan dibangku madrasah mulai tingkat ibtidaiyah, tsanawiyah sampai
Aliyah. Mata pelajaran ini diajarkan pada siswa dengan tujuan agar siswa
memiliki bekal kemampuan menguasai al-Qur’an dan Hadist sebagai pedoman
hidup menuju kebahagiaan hakiki yakni kebahagiaan didunia dan kebahagiaan
diakhirat. Qur’an dan Hadist salah satu mata pelajaran didalamnya terdapat
sejumlah materi yang berkaitan dengan kompetensi membaca, menulis,
menghafal, menerjemahkan sampai mengetahui kandungan ayat atau hadits
juga terhadap asbabun nuzul atau asbabul wurud dari materi tersebut.
Siswa MTs An-Nur Kota Cirebon rata-rata menetap dipesantren dan
sebagian kecil mereka pulang pergi. Setelah saya amati, saya menemukan
siswa yang belum mampu menghafal surat-surat pendek (Juz 30) dan
kurangnya antusias peserta didik dalam membaca juz ‘amma, padahal
kegiatan tersebut dilakukan setiap pagi sebelum pembelajaran dimulai. Setelah
itu saya berinisiatif untuk menerapkan hafalan pada siswa, kemudian respon
siswa sangat baik dan antusias untuk menghafal. Penerapan hafalan juz ‘amma
4
Imam Nawawi. (2015). Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur’an “At-Tibyaan fii Aadaabi
Halamatil” KONSIS Media.
5
tersebut menjadi pembiasaan agar siswa dapat menghafal surat-surat pendek
(juz 30).
Oleh karena itu, pembiasaan tersebut bertujuan untuk menanamkan
kecintaan siswa pada al-Qur’an dan mencetak generasi bangsa yang Qur’ani
yang memiliki karakter Islami. Pembiasaan tersebut mampu membentuk jiwa
yang religius maka peneliti menyebutnya sebagai karakter islami. Selain itu,
melalui kegiatan tersebut siswa terbiasa untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Berdasarkan uraian di atas, penulis tertarik ingin mengungkapkan
permasalahan di atas dalam suatu penelitian yang berjudul “Penerapan
Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Religius Peserta
Didik Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas peneliti dapat mengidentifikasi
masalah sebagai berikut :
1. Kurangnya Penerapan Hafalan Juz ‘Amma pada peserta didik
2. Apa saja Upaya yang dilakukan dalam Penerapan Hafalan Juz ‘Amma
C. Pembatasan Masalah
Masalah dalam penelitian perlu dibatasi dengan jelas sehingga dapat
mengarahkan perhatian secara seksama pada masalah tersebut. Agar dapat
dikaji dan dijawab secara mendalam, maka dalam penelitian ini peneliti
membatasi masalah pada:
6
1. Penerapan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon.
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma Kelas VII di MTs An-Nur Kota
Cirebon?
2. Bagaimana Penerapan Hafalan Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan
Karakter Religius Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits
Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Penerapan Hafalan
Juz ‘Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Religius Peserta didik
Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII MTs An-Nur Kota
Cirebon?
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui Kegiatan hafalan juz ‘amma kelas VII di MTs An-Nur
Kota Cirebon.
b. Untuk mengetahui penerapan Hafalan juz ‘Amma Sebagai Upaya
Pembentukan Karakter Religius peserta didik Pada Mata Pelajaran Al-
Qur’an Hadits Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon.
c. Untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan
penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius
7
peserta didik Pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII di MTs An-
Nur Kota Cirebon.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat peneliti harapkan dari penelitian ini adalah
sebagai berikut:
a. Secara Teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
kontribusi dan sumbangan pemikiran dalam rangka memperkaya khazanah
keilmuan bagi lembaga pendidikan islam khususnya pada pelaksanaan
pembiasaan menghafal juz ‘amma dalam membentuk karakter religius
siswa di MTs An-nur Kota Cirebon.
b. Secara praktis
1) Bagi Guru
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
evaluasi dan perbaikan bagi guru pembimbing hafalan untuk
mengoptimalkan pelaksanaan pembiasaan menghafal juz’amma dalam
membentuk karakter religius siswa di MTs An-Nur Kota Cirebon.
2) Bagi siswa
Hasil penelitian dapat digunakan sebagai motivasi bagi peserta
didik untuk mengembangkan pembentukan karakter religius melalui
pembiasaan menghafal juz’amma yang dilaksanakan.
8
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Landasan Teori
1. Penerapan hafalan Juz ‘Amma
a. Pengertian penerapan
Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pengertian
penerapan adalah perbuatan menerapkan, sedangkan menurut beberapa
ahli, penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekan suatu teori,
metode, dan hal lain untuk mencapai tujuan tertentu dan untuk suatu
kepentingan yang diinginkan oleh suatu kelompok atau golongan yang
telah terencana dan tersusun sebelumnya.5
Menurut Usman, penerapan (Implementasi) adalah bermuara pada
aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya mekanisme suatu sistem.
Implementasi bukan sekedar aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang
terencana dan untuk mencapai tujuan kegiatan.6
Menurut Setiawan, penerapan (Implementasi) adalah perluasan
aktivitas yang saling menyesuaikan proses interaksi antara tujuan dan
5
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Ed. IV (Jakarta:PT Gramedia Pustaka Agama,
2008), h. 1448.
6
Usman & Nurdin. (2002). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta:PT. Raja Grafindo
Persada.
9
tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan pelaksana,
birokrasi yang efektif.7
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan
bahwa kata penerapan (Implementasi) bermuara pada aktivitas, adanya
aksi, tindakan, atau mekanisme suatu system. Ungkapan mekanisme
mengandung arti bahwa penerapan (Implementasi) bukan sekedar
aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang terencana yang dilakukan secara
sungguh-sungguh berdasarkan acuan norma tertentu untuk mencapai
tujuan kegiatan.
b. Hafalan Juz ‘Amma
1) Pengertian Hafalan
Pendidikan Al-Qur’an merupakan dasar penting yang harus
diajarkan orang tua kepada anaknya sejak dini. Hal tersebut adalah
suatu fondasi Islam untuk mengembangkan anak sesuai dengan
fitrahnya. Serta dalam mencetak generasi yang Qur’ani yang cerdas
adalah dengan mengajarkan Al-Qur’an dan menanamkan rasa
kecintaan kepada Al-Qur’an. Belajar Al-Qur’an merupakan kewajiban
yang utama bagi setiap muslim, begitu juga mengajarkannya, belajar
Al-Qur’an dapat dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu, belajar
membaca sampai lancer dan baik, yang kedua yaitu belajar arti dan
maksud yang terkandung di dalamnya, dan yang terakhir yaitu
7
Setiawan, Guntur. (2004). Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan. Bandung:Remaja
Rosdakarya Offset.
10
menghafal.8 Al-Qur’an merupakan pedoman hidup umat islam,
sehingga harus diajarkan kepada anak sejak dini, untuk mencetak
generasi Qur’ani yang memiliki rasa kecintaan kepada Al-Qur’an.
Dalam belajar Al-Qur’an sendiri terdapat tiga tingkatan yang meliputi
membaca dengan benar dan lancar sesuai dengan kaidah ilmu tajwid,
memahami isi kandungannya, serta menghafal.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), menghafal
adalah berusaha menerapkan ke dalam pikiran agar selalu ingat,
Menurut Alex Sobur dalam bukunya yang berjudul psikologi umum
dalam lintasan sejarah menghafal dapat didefinisikan sebagai
kemampuan untuk memproduksi atau meresapi tanggapan-tanggapan
yang telah tersimpan secara tepat dan sesuai dengan tanggapan-
tanggapan yang diterima. Menghafal juga dapat dimaknai dengan
belajar atau mempelajari sesuatu dan mencoba menyimpannya di
ingatan. Lebih lanjut Abdul Aziz Abdul Ra’uf mengemukakan bahwa
menghafal adalah proses mengulang sesuatu, baik dengan membaca
atau mendengar.9 Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa
menghafal merupakan suatu Aktivitas membaca maupun mendengar
yang dilakukan secara berulang-ulang untuk memasukan materi
hafalan ke dalam memory (ingatan), sehingga menghafal mampu
melafalkan materi hafalan tersebut tanpa melihat catatan (tulisan).
8
Ali Mahtarom dan Wiwin Qomariyah, “Implementasi Metode Apel Dalam Menghafal Juz
‘Amma Guna Meningkatkan Daya Ingat Santri Madin Children,” Jurnal Al-Murabbi, 1 (2016),
32-33.
9
Ibid., hlm. 36
11
Maka dari itu, keberhasilan kegiatan menghafal sangat berkaitan erat
dengan upaya penghafal dalam memasukan materi hafalan ke dalam
ingatan.
2) Pengertian Juz ‘Amma
Juz terakhir, juz 30 dalam Al-Qur’an disebut juz ‘amma. Hal ini
disandarkan pada bunyi bacaan awal juz terakhir ini, yaitu ‘amma
yatasaalun. Juz 30 ini terdiri dari 37 surah, yang dimulai dari surah
An-Naba’ yang merupakan surah ke-78, sampai surah yang terakhir
yaitu surah An-Naas, yang merupakan surah ke-114. Sedangkan
jumlah ayat dalam juz ‘amma ini adalah 564 ayat.10
Juz ‘Amma merupakan juz ke-30 dari kitab suci Al-Qur’an dan
bagian yang paling sering didengar dan dibaca ketika belajar Al-
Qur’an dimasa kecil dan juga sering digunakan untuk bacaan saat
sholat, hal pertama yang dipelajari adalah membaca dan menghafal
surah-surah yang terdapat di juz ‘amma. Di dalamnya terdapat 37
surah yang sebagian besar dari surah-surah tersebut yaitu 34 surah
termasuk surah makiyyah, sedangkan 3 surah sebelumnya yaitu surah
Al-Bayyinah, Al-Zalzalah, dan An-Nashr merupakan surah
madaniyyah.11
3) Metode Sorogan
10
Erwan Komara, “Pesan-Pesan Transedental Dalam Al-Qur’an Juz 30,” Jurnal Komunikasi, 1
(2016), 49.
11
Munawwarah, Aisyah Idris, dan Husna Hakim, “Penerapan Metode One Day One Ayat Untuk
Mengembangkan Kemampuan Anak Dalam Menghafal Juz ‘Amma Di TK FKIP Unsyiah Banda
Aceh,”Jurnal Pendidikan Anak Bunayya, 1 (2021), 158-159.
12
Metode yang digunakan agar mempermudah dalam proses
menghafal Juz ‘Amma adalah metode sorogan. Menurut Nur
Handayani dan Suismanto, kata “sorogan” berasal dari bahasa Jawa
yang berarti “sodoran atau yang disodorkan”. Maksudnya suatu sistem
belajar secara individual di mana seorang siswa berhadapan dengan
seorang guru, terjadi interaksi saling mengenal diantara keduanya.
Ahwat Wakit menjelaskan bahwa metode sorogan dapat juga
diartikan sebagai metode pembelajaran dengan cara para santri maju
satu-persatu untuk menyodorkan kitabnya dan berhadapan langsung
dengan guru atau kyai dan terjadi interaksi diantara keduannya dalam
proses pengajaran.12
4) Strategi menghafal
Strategi merupakan suatu seni untuk melaksanakan sesuatu
secara baik atau terampil.13 Strategi merupakan kebutuhan dasar bagi
setiap organisasi, sebagai acuan bagi penentuan taktik dalam
melaksanakan misi, yang bertujuan sebagai pertahanan guna mencapai
suatu posisi yang lebih maju dan baik dari sebelumnya.14
Strategi atau cara dalam menghafal pada dasarnya yang
terpenting adalah keaktifan siswa dalam mentakrir hafalannya, serta
dapat mengatasi kendala baik yang bersumber dari diri penghafal
12
Ahmat Wakit, Efektivitas Metode Sorogan Bernatuan Tutor Sebaya Terhadap Pemahaman
Konsep Matematika, Jurnal JES-MAT, Vol. 2, No. 1, Maret 2016, hal 4.
13
Supian, Dkk, Strategi Pemotivasian dalam Pembelajaran Tahfizh Al-Qur’an: Jurnal Tarbawi
Indonesia Journal of Islamic Education, Vol. 6, No. 2 November 2019, hal. 182.
14
Syahratul Mubarokah, Strategi Tahfizh Al-Qur’an: Jurnal Penelitian Tarbawi. Vol. 4, No. 1
Januari-Juni 2019, hal. 3.
13
maupun dari luar diri penghafal itu sendiri. Ada beberapa strategi
dalam menghafal al Quran sebagai berikut:
a) Strategi pengulangan ganda
Semakin banyak pengulangan maka semakin kuat pelekatan
hafalan itu dalam ingatannya, lisan pun akan membentuk gerak refleks
sehingga seolah-oleh tidak berfikir lagi untuk melafalkannya,
sebagaimana orang membaca surah al-Fatihah. Karena sudah terlalu
seringnya membca maka dari itu sudah menempel pada lisannya
sehingga mengucapkannya merupakan gerak reflektif.15
b) Menggunakan satu jenis mushaf
Menurut Abdul Khaliq, bergantinya penggunaan mushaf akan
membingungkan pola hafalan dalam bayangannya. Sesungguhnya
bentuk dan letak-letak ayat dalam mushaf akan dapat terpatri dalam
hati disebabkan seorang sering membaca dan melihat dalam mushaf
yang sama.16
c) Tidak beralih pada ayat berikutnya sebelum ayat yang sedang
dihafal benar-benar hafal.17
15
Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al Quran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal
68.
16
Abdurrahman Abdul Khaliq, Bagaimana Menghafal Al Quran, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar,
2006), hal 25.
17
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al Quran, (Solo:
Aqwam, 2007), hal 103.
14
Seseorang yang belajar menghafalkan al Quran tidak akan
berganti pada ayat berikutnya sebelum berhasil menghafalkan dengan
baik dan lancar. Jika ayat belum selesai dihafalkan lalu melanjutkan
ke ayat berikutnya akan mempersulit diri sendiri. Sehingga akan lebih
sulit untuk dihafalkan.
d) Menghafal urutan-urutan ayat yang dihafalkanya dalam satu
kesatuan jumlah serta benar-benar hafal ayat-ayatnya.18
Menghafalkan surah harus sesuai dengan urutan yang sudah
tertulis. Selain itu untuk mempermudah mengingat surah yang
dihafalkan hendaknya juga menghafalkan urutan surah-surah dalam al
Quran.
e) Disetorkan pada seorang pengampu.
Seseorang yang telah menghafalkan al Quran wajib disetorkan
kepada guru. Sehingga terdapat bimbingan langsung yang diberikan
guru kepada siswanya. Menurut Al-Hafidz, menghafal al Quran
memerlukan adanya bimbingan yang terus menerus dari seorang
pengampu, baik untuk menambah setoran hafalan baru, atau untuk
takrir, yakni mengulang kembali ayat-ayat yang telah disetorkannya
terdahulu. Menghafal al Quran dengan sistem setoran kepada
pengampu akan lebih baik dibandingkan dengan menghafal sendiri
dan juga akan memberikan hasil yang berbeda.19
5) Fungsi hafalan
18
Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al Quran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hal
69.
19
Ibid., hal. 72
15
Secara teori terdapat tiga aspek fungsi hafalan, antara lain :
mengecamkan yaitu menerima kesankesan, menyimpan kesan-kesan,
dan memproduksi kesan-kesan. Jadi hafalan adalah sebagai kecakapan
untuk menerima, menyimpan dan memproduksikan kesan-kesan.
Seseorang dikatakan memiliki hafalan baik apabila memenuhi tiga ciri
yaitu: (1) cepat atau muda mengecamkan; (2) setia, teguh, luas dalam
menyimpan dan, (3) siap atau sedia dalam memperoduksi kesan-
kesan. Hafalan cepat ialah mudah dalam mengecamkan atau
mengingat sesuatu hal tanpa mengalami kesulitan. Hafalan setia ialah
apa yang dicamkan atau diingat tetap akan tersimpan dengan baik
serta tidak mengalami perubahan. Hafalan teguh ialah menyimpan
kesan dalam waktu lama tidak mudah lupa. Hafalan luas ialah banyak
menyimpan kesan-kesan.
6) Ruang Lingkup Menghafal Juz ‘Amma
Mengahafal berasal dari kata dasar hafal, jika dalam bahasa
Arab hafidza-yahfadzu-hifdzan, yaitu lawan dari lupa, yaitu selalu
ingat dan sedikit lupa1 jadi menghafal adalah mengucapkan kembali
apa yang telah masuk dalam ingatan di luar kepala dan dalam keadaan
sadar serta tidak melihat catatan atau buku.
Menghafal adalah proses aktifitas menanamkan materi kedalam
ingatan, sehingga nanti dapat di produksi (diingat) kembali secara
sempurna sesui dengan materi yang asli. Menghafal merupakan proses
mental untuk menanamkan dan menyimpan kesan-kesan yang
16
nantinya suatu waktu bila diperlukan dapat diingat kembali ke alam
sadar.20
Apabila ditinjau dari aspek psikologi, kegiatan menghafal sama
dengan proses mengingat (memori). Ingatan pada manusia berfungsi
memproses informasi yang diterima setiap saat. Secara singkat kerja
memori melewati tiga tahap, yaitu perekaman, penyimpanan, dan
pemanggilan. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi
melalui reseptor indra dan sirkuit saraf internal. Proses selanjutnya
adalah penyimpanan (storage), yaitu menentukan berapa lama
informasi itu berada beserta kita, dalam bentuk apa dan di mana.
Penyimpanan bisa bersifat aktif atau pasif, dikatakan aktif bila kita
menambahkan informasi tambahan, dan mungkin pasif terjadi tanpa
penambahan. Pada tahapan selanjutnya adalah pemanggilan
(retrieval), dalam bahasa sehari-hari mengingat lagi yakni
menggunakan informasi yang disimpan.21
Senada dengan pemaparan di atas kegiatan menghafal Al-
Qur’an, dimana ketika informasi yang baru diterima melalui proses
membaca, mendangar ataupun dengan menggunakan teknik-teknik
tertentu dalam proses kegiatan menghafal Al-Qur’an juga melewati
tiga tahap yaitu perekaman, penyimpanan dan pemanggilan. Proses
perekaman yang dimaksud adalah saat siswa mencoba untuk
menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang di lakukan secara terus-menerus,
20
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002), hal. 29
21
Jalaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: Remaja Karya, 2005), hal. 79
17
sehingga akhirnya masuk pada proses penyimpanan pada memori otak
dalam jangka pendek dan jangka panjang. Selanjutnya fase
pemanggilan memori yang telah tersimpan yaitu saat siswa
menyetorkan hafalan atau mentasmi’kan hafalanya di hadapan
ustad/instrukturnya.
Menghafal Al-Qur’an harus dilakukan secara sempurna baik
dalam menghafal dan mengiangat kembali. Apabila salah dalam
memasukkan suatu materi atau menyimpan materi, maka akan salah
pula dalam mengingat kembali materi tersebut. Bahkan materi
tersebut akan sulit ditemukan kembali dalam memori atau ingatan. 22
Menghafalkan Al-Qur’an adalah suatu bentuk proses menjaga
dan melestarikan kemurnian kitab suci yang di turunkan kepada
Rasulullah di luar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan
serta dapat menjaga dari kelupaan, baik secara keseluruhan maupun
sebagiannya.23
7) Faktor-faktor yang mempengaruhi hafalan Juz ‘Amma
Faktor-faktor yang mempengaruhi hafalan Juz Amma bisa
dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal, sebagai berikut:
a) Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri
individu penghafal Juz Amma, yaitu meliputi :
22
Wiwin Alawiyah Wahid, Cara Cepat Bisa Menghafal al-Qur’an,( Jogjakarta : Diva Press,
2014), hal.15
23
Munjahid, Strategi Menghafal al-Qur’an 10 Bulan Khatam, (Jogjakarta: Idea Press, 2007),
hal.74
18
(1) Persiapan Individu
Ilmu pendidikan modern menetapkan bahwa pada faktor-
faktor tersebut terdapat sifat-sifat individu yang khusus yang
berperan aktif dalam proses perolehan segala hal yang
diinginkan baik studi, pemahaman, hafalan ataupun mengingat-
ingat.
Sifat-sifat tersebut ialah: 1) minat (desire), 2) menelaah
(expectation), 3) perhatian (interest). Apabila sifat-sifat ini
berkumpul pada seorang penghafal serentak maka pada dirinya
akan ditemukan konsentrasi yang timbul secara serentak, karena
itu ia tidak akan mendapat kesulitan yang besar dalam
menghafal, mengkaji, membaca maupun merenungkan Al-
Qur‟an, menelaahnya, mendalami isinya, dan
mengamalkannya. 24 Dengan adanya tekad yang besar, kuat, dan
terus berusaha untuk menghafalkan Juz Amma, maka semua
ujian-ujian tersebut Insya Allah akan bisa dilalui dengan penuh
rasa sabar. Menghafal Juz Amma merupakan tugas yang sangat
mulia dan besar. Tidak akan ada orang yang sanggup
melakukannya selain Ulul Azmi, yaitu orang yang bertekad
kuat dan berkeinginan membaca. Orang yang memiliki tekad
kuat ialah orang yang senantiasa antusias dan terobsesi
merealisasikan apa saja yang sudah menjadi niatnya, sekaligus
24
Abdurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al Qur‟an Kaifa Tahfazhul Qur‟an, (Bandung :
Sinar Baru Algensindo, 2005), cet.5, 29.
19
melaksanakannya dengan segera tanpa menunda-nundanya.
Dengan demikian seseorang akan mendapatkan kemudahan
dalam menghafal Al-Qur‟an dalam peneitian ini khususnya Juz
Amma karena ketekunan dan kesunggguhannya. Menghafal Al-
Qur‟an ataupun Juz Amma merupakan jalan yang mengandung
berbagai macam kesulitan dan beban yang berat. Sehingga yang
diperlukan dari orang yang ingin melakukan hafalan adalah
sebuah semangat, keuletan, kesungguhan, dan tidak mengenal
keterputusasaan, serta harus ikhlas niatnya karena Allah. Ikhlas
merupakan tujuan pokok dari berbagai macam ibadah, karena
ikhlas merupakan salah satu dari dua rukun yang menjadi dasar
diterimanya suatu ibadah. Seorang penghafal mestinya bersikap
ikhlas dalam berdo‟a kepada Allah SWT. Hal tersebut
dilakukan agar membantu dalam menghafalnya, karena do’a
ada pengaruh yang sangat luar biasa dalam menghilangkan
semua kesulitan yang menghadangnya.25
(2) Kecerdasan dan kekuatan ingatan
Menghafal Al-Qur‟an maupun Juz Amma diperlukan
kecerdasan dan ingatan yang kuat, kecerdasan dan ingatan yang
kuat sangat bergantung pada faktor-faktor genetik yang
diwariskan dan pada upaya perbaikan kecerdasan dan ingatan.
Selain itu juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitarnya,
pola kehidupan yang diperbaharui, ikatan-ikatan keluarganya
25
Ahmad Salim Badwilan, Panduan Cepat Menghafal Al Qur‟an, 37.
20
diperlonggar dan taraf kehidupannya yang diperbaiki. Namun
demikian bukan berarti kecerdasan yang tinggi satu- satunya
faktor yang menentukan kemampuan seseorang dalam
menghafal Al-Qur‟an maupun Juz Amma. Banyak orang yang
memiliki kecerdasan terbatas (rata-rata) mampu menghafal Al-
Qur‟an maupun Juz Amma dengan baik karena adanya
dorongan motivasi yang tinggi. Niat yang sungguh-sungguh,
tekun, gigih dalam setiap keadaan, optimis, dan merespon baik
segala hal yang dapat meningkatkan kesungguhan, berusaha
keras memusatkan pikiran dari hal-hal yang tidak penting
(prioritas) saja, berpindah dari lingkungan yang dapat
melemahkan semangat (tidak kondusif), keinginan untuk
mendapatkan kehidupan akhirat dan menjadikan sebagai satu-
satunya tujuan, banyak mengingat kematian, berteman dengan
orang yang memiliki kesungguhan tinggi, menimba ilmu dari
pengalaman mereka dan meminta nasihat pada orang shalih
serta banyak berdo‟a kepada Allah SWT, semoga berkenan
meningkatkan kesungguhan dan tidak menyimpang dari tujuan
menghafal Juz Amma selama-lamanya.26
(3) Target hafalan
Sebenarnya target bukan merupakan aturan yang
dipaksakan tetapi hanya sebuah kerangka yang dibuat sesuai
26
Abrurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al-Qur‟an Kaifa Tahfadzul Qur‟an, (Bandung :
Sinar Baru Algensindo, 2005), cet.5, 36.
21
dengan kemampuan dan alokasi waktu yang tersedia bagi para
penghafal Juz Amma, namun dengan membuat target,
seseorang penghafal Juz Amma dapat merancang dan mengejar
tarjet yang dia buat, sehingga menghafal Juz Amma akan lebih
giat dan bersemangat. Dengan target yang dibuat dapat
menunjang keajekan hafalan tiap harinya, sehingga hafalan
lebih terkontrol baik untuk tahfiz (hafalan baru) maupun takrir
(hafalan lama/pengulangan). Namun cepat lambatnya
menyelesaikan program ini sangat tergantung kepada penghafal
itu sendiri, sesuai dengan kapasitas waktu dan kemampuan
penghafal, karena setiap penghafal memiliki kemampuan yang
berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.27
b) Faktor Eksternal
Faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasa dari
luar individu penghafal Juz Amma yang meliputi :
(1) Metode yang digunakan.
Penerapan metode yang tepat sangat mempengaruhi
pencapaian keberhasilan dalam proses belajar mengajar
dalam hal ini menghafal Juz Amma. Prinsip pengajaran Juz
Amma pada dasarnya bisa dilakukan dengan bermacam-
macam metode. Penggunaan metode yang variatif dapat
membangkitkan motivasi belajar anak didik (penghafal Al-
Qur‟an).
27
Abrurrab Nawabuddin, Teknik Menghafal Al-Qur‟an Kaifa Tahfadzul Qur‟an, 37.
22
(2) Berkumpul bersama orang-orang yang menghafal Juz
Amma
Ketika seseorang bersama dengan orang-orang yang
menghafal Juz Amma maka dengan sendirinya ia akan
termotivasi untuk ikut menghafakan Juz Amma. hal
tersebut dikarenakan ketika seseorang berkumpul dengan
seseorang penghafal Juz Amma kemudian mendengar
temannya melantunkan Juz Amma ama kelamaan seseorang
tersebut akan hafal dengan sendirinya ataupun tertarik
untuk mempelajarinya.
(3) Membiasakan mendengar seorang Hafidz membaca Juz
Amma
Ketika kita mendengarkan seorang hafidz
melantunkan surat-surat Juz Amma tanpa sadar dapat
berpengaruh dalam hafalan yang sedang kita lakukan. Hal
tersebut dikarenakan ketika kita menengrkan sesuatu secara
terus menerus maka lama kelamaan kita akan hafal dengan
sendirinya, dalam hal ini adalah lantunan surat dari seorang
hafidz baik melalui rekaman atau internet. Beberapa hal
yang perlu kita cermati ketika mendengarkan bacaan hafidz
agar mendapatkan manfaatnya antara lain : pertama,
perhatikan bagimana hafidz menerapkan hukum-hukum
tiawah dan tajwidnya. Kedua, dengarkan baik-baik irama
23
yang di lantunkan. Ketiga, jadikan kekhususan hafidz
dalam membaca surat-surat sebagai motivasi kita dalam
menghafal.
(4) Mengulang hafalan dengan orang lain
Mengulang hafalan Juz Amma bersama dengan orang
ain merupakan sesuatu yang penting. Kita dapat bergantian
dengan orang lain dalam menyimak hafalan masing-
masing. Dengan demikian penghafal akan lebih cepat dala
menghafal dan cepat matang. Selain itu, dengan mengulang
hafalan bersama orang lain kita dapat memperoleh manfaat
dari orang yang lebih lancar hafalannya dengan cara
koreksinya terhadap bacaan kita. Dengan begitu kita akan
termotivasi untuk memperbaikinya.
(5) Selalu membaca dalam shalat membaca Juz Amma saat
sholat susunannya akan lebih runtut, serius dan
membutuhkan konsentrasi penuh terebih ketika imam yang
membacanya. Maka bagi seseorang yang sedang
menghafalkan Juz Amma cara terbaik untuk menghafalkan
Juz Amma ialah dengan sealu melafalkan nya ketika sedang
sholat.
24
Dari beberapa penjelasan di atas mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi hifdzil juz amma ada 2 faktor yaitu faktor internal
yang terdiri dari persiapan individu, kecerdasan dan kekuatan ingatan
menghafal juz amma, juga target hafalan. Sedangkan faktor eksternal
meliputi metode yang digunakan, berkumpul dengan orang-orang
yang menghafal juz amma, membiasakan mendengar seseorang hafidz
membaca juz amma, mengulang hafalan dengan orang lain, dan juga
selalu membaca juz amma dalam melaksanakan shalat.
8) Indikator Kemampuan Menghafal
Kemampuan menghafal Al-Quran seseorang dapat dilihat dari
tiga aspek, yaitu: kelancaran, kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu
tajwid dan fashahah.
a) Kelancaran dalam menghafal Al-Quran
Salah satu ingatan yang baik yaitu siap, bisa memproduksi
hafalan saat dibutuhkan dan diantara syarat menghafal Al-Quran
yaitu, teliti serta menjaga hafalan dari lupa. Sehingga kemampuan
menghafal Al-Quran bisa dikataan baik apabila orang yang
menghafal Al-Quran bisa menghafalnya dengan benar dan sedikit
kesalahan.
b) Kesesuaian bacaan dengan kaidah ilmu tajwid
Seorang penghafal Al-Quran harus mampu membaca Al-
Quran sesuai kaidah ilmu tajwid, diantaranya:
(1) Makharijul huruf (tempat keluarnya huruf)
25
(2) Shifatul huruf (sifat atau keadaan ketika membaca huruf)
(3) Ahkamul huruf (hukum atau kaidah bacaan)
(4) Ahkamul mad wa qashr (hukum panjang dan pendeknya
bacaan)
c) Fashahah
(1) Al-wafu wa al-ibtida’ (kecepatan berhenti dan memulai
bacaan Al-Quran)
(2) Mura’atul huruf wa al-harakat (menjaga keberadaan huruf
dan harakat)
(3) Mur’aatul kalimah wa al-ayat (menjaga dan memelihara
keberadaan kata dan ayat).
2. Pembentukan Karakter Religius
a. Pengertian pembentukan
Pembentukan merupakan proses yang ditempuh untuk melakukan
perubahan yang diinginkan. Proses tersebut akan terbentuk melalui
beberapa cara agar tercapai sesuai dengan yang diharapkan. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kata pembentukan mempunyai
arti proses, cara, dan perbuatan membentuk. 28 Pembentukan adalah suatu
usaha yang dilakukan secara sadar dan terarah yang menghasilkan suatu
kebaikan dan kesempurnaan dalam bertindak.
28
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2017), hal 136.
26
b. Karakter Religius
1) Pengertian Karakter
Karakter merupakan suatu sifat yang khas melekat pada diri
seseorang yang dapat membedakan dirinya dengan yang lain. 29
Menurut Suyanto, karakter ditinjau dari makna lesikal berarti sifat
bawaan, suara hati, pancaran jiwa, jati diri kepribadian, budi
pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempermen, atau
watak.30 Menurut Rianawati, Karakter sering dihubungkan dengan
istilah akhlak. Sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku
manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia,
baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, dengan diri sendiri,
dengan sesame manusia, maupun dengan lingkungan, yang
terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan
berdasarkan norma-norma Agama, hukum, tata karma, budaya, dan
adat istiadat.31
2) Pengertian Religius
Religius merupakan sikap dan perilaku yang baik sesuai
dengan ajaran agama yang dianutnya. Menurut mustari, religius
merupakan nilai karakter yang berhubungan antara manusia dengan
Tuhannya. Religius adalah nilai karakter yang menunjukan pikiran,
29
Adi Wijayanto, dkk, Akademisi dan Jurus Jitu Pembelajaran Daring, (Tulungagung: Akademia
Pustaka, 2021), hal 39
30
Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter, (Jakarta: Ditjen Dikdasmen-Kementerian Pendidikan
Nasional, 2010), hal 39.
31
Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter pada Pelajaran Pendidikan Islam (PAI) Tingkat
SLTA, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2014), hal 21.
27
perkataan, dan tindakan seseorang yang selalu diupayakan
berdasarkan nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agamanya. 32 Menurut
Miftahul Jannah, bahwa nilai religius yang terbentuk dalam
pendidikan karakter merupakan nilai yang bersumber dari ajaran
agama yang dianut seseorang yang dilaksanakan dalam kehidupan
sehari-hari.33
Yaumi mengemukakan dalam bukunya bahwa, karakter
religius sebagai kendali diri manusia saat berinteraksi dengan tuhan
dan sesama manusia. Religius adalah karakter yang menunjukan
perilaku patuh dalam pelaksanaan ajaran agama, toleran terhadap
pelaksanaan ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain.34 Menjadi penting adanya pendidikan karakter,
sebagaimana pendapat dari Rahma, Alwy dan Imam bahwa
karakter religius merupakan karakter pertama dan utama yang
harus ditanamkan kepada anak sedini mungkin yang menjadi dasar
agama dalam kehidupan individu, masyarakat dan bangsa
Indonesia. Karakter religius bukan saja terkait dengan hubungan
ubudiyah saja, tetapi juga menyangkut hubungan antar sesama
manusia. Sehingga perannya penting ditanamkan pada sekolah
dasar menjadikan pondasi awal siswa untuk jenjang sekolah
32
Mustari Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan, (Jakarta: PT Remaja Grafindo Persada,
2014), hal 1.
33
Miftahul Jannah, Metode dan Strategi Pembentukan Karakter Religius yang Ditetapkan di
SDTQ-T An Najah Pondok Pesantren cindai Alus Martapura, dalam Al-Madrasah: Jurnal
Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, Vol. 4, No. 1, Juli-Desember 2019, hal 90.
34
Yaumi, Pendidikan Karakter Landasan Pilar, dan Implementasi, (Jakarta:nPrenadamrdia Grup,
2014), hal 85.
28
setelahnya.35 Penulis menyimpulkan bahwa pembentukan karakter
religius adalah hasil suatu usaha atau proses yang dilakukan secara
sadar untuk membentuk ciri khas siswa yang baik berdasarkan
agama islam.
Pendidikan dan pembentukan karakter mempunyai hubungan
yang erat. Melakukan pendidikan terutama dalam pembentukan
karakter siswa adalah usaha bersama antara keluarga, sekolah, dan
masyarakat. Ketiga lembaga tersebut harus sejalan secara terpadu
untuk memajukan satu tujuan yang bersifat saling melengkapi
antara lainnya.36 Menurut Hambali dan Yulianti, pendidikan
karakter adalah usaha sadar dan terencana yang bertujuan
menginternalisasikan nilai-nilai moral dan akhlak sehingga
terwujud dalam implementasi sikap dan perilaku yang baik. 37
Melalui pendidikan karakter akan terbentuk karakter yang merubah
seseorang menjadi lebih baik. Menurut Kesuma, dkk, pendidikan
karakter adalah sebuah usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat
mengambil keputusan dengan bijak dan mempraktikannya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan
kontribusi yang positif dalam lingkungannya. Definisi lainnya
dikemukakan oleh Fakry Gaffar, pendidikan karakter adalah
35
Rahma Nur Baiti, dkk, Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembiasaan Aktivitas
Keagamaan, dalam el Bidayah: Journal of Islamic Elementary Education, Vol. 2, Desember 2018,
hal 194.
36
Adi Wijayanto, dkk, Jurus Jitu Pendidikan dalam Pelaksanaan Daring, (Tulungagung:
Akademia Pustaka, 2021), hal 40.
37
Muh Hambali dan Eva Yulianti, Ekstrakulikuler Keagamaan Terhadap Pembentukan Karakter
Religius Peserta Didik di Kota Majapahid: Jurnal Pedagogik, Vol. 5, No. 2, Desember 2018, hal
194.
29
sebuah proses transformasi nilai-nilai kehidupan untuk
ditumbuhkembangkan dalam kepribadian seseorang sehingga
menjadi satu dalam perilaku kehidupan orang itu. Dalam definisi
tersebut, ada tiga ide pemikiran penting, yaitu proses transformasi
nilai-nilai, ditumbuh kembangkan dalam kepribadian, dan menjadi
satu dalam perilaku.38
Penulis menyimpulkan bahwa pembentukan karakter religius
adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk membentuk ciri
khas siswa berdasarkan nilai-nilai ketuhanan atau ajaran
keagamaannya. Pembentukan karakter religius harus dilatih sejak
dini agar terbiasa berperilaku baik.
3) Ruang Lingkup Karakter Religius
Menurut Muhammad Ali Hasyimi ruang lingkup karakter
seorang Muslim ialah sebagai berikut:
a) Seseorang dengan Tuhannya.
b) Seseorang dengan dirinya sendiri.
c) Seseorang dengan kedua oranguanya. d. Seseorang dengan
pasanganya.
d) Seseorang dengan anak-anaknya.
e) Seseorang dengan keluarga besarnya.
f) Seseorang bersama keluarga kecilnya.
g) Seseorang bersama kerabatnya.
38
Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah, (Bandung: PT
Remaja Rosdakarya, 2018), hal 5.
30
h) dan seseorang dengan masyarakat lingkungan sosialnya.
Berdasarkan hal-hal yang disebutkan di atas maka kesimpulan
yang dapat di ambil ialah seorang Muslim harus senantiasa
mendekatkan diri kepada Tuhannya dan orang-orang yang ada
disekitarnya baik keluarga, sahabat, maupun lingkungan sekitarnya.
4) Faktor yang Mempengaruhi Karakter Religius
Thouless menyebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi
karakter religius, yaitu:
a) Pengaruh pengajaran atau pendidikan serta bebagai tekanan sosial
(faktor sosial). Dalam keyakinan dan perilaku keagamaan
berpengaruh besar pada faktor sosial dalam agama, dari
pendidikan yng diterima pada saat saat masa kanak-kanak,
beberapa sikap dan pendapat masyarakat sekitar, serta berbagai
tradisi pada masa lampau yang kita terima.
b) Banyaknya pengalaman, khususnya pengalaman tentang
kebaikan, keselarasan, dan keindahan yang ada di dunia ini atau
biasa disebut faktor alami, yang dapat diartikan bahwa seseorang
menyadari bahwa segala sesuatu itu ada karena Allah Subhanahu
Wa Ta’ala, mulai dari yang terkecil dan tersembunyi seperti atom
bahkan yang terbesar lagi Nampak seperti gunung semua yang
menciptakan adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Kemudian
faktor moral yaitu konflik moral, pengalaman seseorang pada
31
konflik moral pelaku akan mengembangkan perasaan bersalahnya
kietika dia melakukan kesalahan yang dianggap salah oleh
pendidikan sosial yang diterimanya, misal ketika peserta didik
mencontek saat ujian sedangkan 16 temannya tidak ada yang
melakukan hal tersebut, maka dia akan terus menyalahkan dirinya
atas perbuatannya tersebut karena jelas bahwa mencotek adalah
perbuatan yang kurang baik. Selanjutnya, pengalaman emosional
keagamaan (faktor afektif), pengalaman ini bisa didapatkan pada
saat seseorang mendengarkan khutbah untuk laki-laki pada saat
jum’atan di masjid, bagi perempuan bisa melalui mendengarkan
ceramah agama dan pengajian.
5) Indikator Karakter Religius
Karakter religius merupakan salah satu karakter yang harus
ditanamkan pada anak sejak dini. Hal ini karena karakter religius
merupakan karakter utama yang menentukan kepribadian anak,
apakah anak tersebut akan memilih langkah atau sikap yang baik
atau sebaliknya. Adapun karakter religius dapat dilatih dan
ditanamkan melalui pendidikan disekolah. Indikator-indikator
pencapaian pembelajaran karakter religius adalah sebagai berikut:
a) Beraqidah lurus
b) Beribadah yang benar
c) Berdoa sebelum memulai dan sesudah pembelajaran
d) Melaksanakan shalat dhuha
32
e) Melaksanakan shalat zuhur berjamaah
Berdasarkan rumusan Kemendiknas Balitbang Puskur diuraikan
indikator sikap religius adalah sebagai berikut:
a) Megenal dan mensyukuri tubuh dan bagainnya sebagai ciptaan
Tuhan melalui cara merawatnya dengan baik
b) Mengagumi keberasan tuhan karena kelahirannya di dunia dan
hormat kepada orang tuanya
c) Mengagumi kekuasaan Tuhan yang telah menciptakan berbagai
jenis bahasa dan suku bangsa
d) Senang mengikuti aturan kelas dan sekolah untuk kepentingan
hidup bersama
e) Senang bergaul dengan teman sekelas dan satu sekolah dengan
berbagai perbedaan yang telah diciptakan-Nya
f) Mengagumi sistem dan cara kerja organ-organ tubuh manusia yang
sempurna dalam sinkronisasi fungsi organ
g) Bersyukur kepada tuhan karena memiliki keluarga yang
menyayanginya; dan
h) Membantu teman yang memerlukan bantuan sebagai suatu ibadah
atau kebajikan.
Dari berbagai penejelasan diatas, dapat dipahami bahwa
indikator dari karakter religius itu sangatlah penting untuk diketahui
oleh anak-anak sejak dini dan di terapkan pada kehidupan sehari-hari
terutama pada saat anak-anak sudah menginjak jenjang pendidikan.
33
3. Peserta Didik
Peserta didik menurut ketentuan umum undang-undang RI No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota
masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses
pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan
tertentu.39 Dengan demikian peserta didik adalah orang yang mempunyai
pilihan untuk menempuh ilmu sesuai dengan cita-cita dan harapan masa
depan.
Oemar Hamalik mendefinisikan peserta didik sebagai suatu
komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses
dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas
sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Menurut Abu Ahmadi peserta
didik adalah sosok manusia sebagai individu/pribadi (manusia seutuhnya).
Individu di artikan "orang seorang tidak tergantung dari orang lain, dalam
arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak
dipaksa dari luar, mempunyai sifat-sifat dan keinginan sendiri". 40
Sedangkan Hasbullah berpendapat bahwa siswa sebagai peserta didik
merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses
pendidikan.41 Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi
proses pengajaran. Sebabnya ialah karena peserta didiklah yang
39
Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen & Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, (Bandung:
Permana, 2006), h. 65.
40
Tim Dosen Administrasi Pendidikan UPI, Manajemen Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2009),
h. 205.
41
Hasbullah, Otonomi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2010), h. 121
34
membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha
memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik.42
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, bisa dikatakan bahwa
peserta didik adalah orang/individu yang mendapatkan pelayanan
pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya agar tumbuh
dan berkembang dengan baik serta mempunyai kepuasan dalam menerima
pelajaran yang diberikan oleh pendidiknya.
4. Faktor Penghambat dan Pendukung menghafal Juz ‘Amma
a. Faktor penghambat
Faktor penghambat adalah faktor yang menyebabkan jalannya suatu
kegiatan atau program menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Menurut Zamani dan Maksum, dalam proses menghafal al Quran terdapat
beberapa faktor penghambat menghafal al Quran sebagai berikut.
1) Malas, Tidak Sabar dan Berputus Asa
Malas adalah kesalahan yang jamak dan sering terjadi. Tidak
terkecuali dalam menghafal al Quran, karena harus bergelut dengan
rutinitas setiap hari. Jadi tidak aneh jika suatu ketika seseorang tersebut
dilanda [Link] al Quran adalah kalam yang tidak
menimbulkan kebosanan dalam membaca dan mendengarkannya tetapi
menimbulkan kebosanan dalam membaca dan mendengarkannya bagi
sebagian orang yang belum merasakan nikmatnya al Quran. Rasa bosan
ini akan menimbulkan malas muraja’ah al Quran.
42
Departemen Agama, Wawasan Tugas Guru dan Tenaga Kependidikan, ([Link]., Direktorat
Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2005), h. 47
35
2) Tidak Bisa Mengatur Waktu
Masalah ini telah banyak dibahas oleh para ahli, tetapi masih
banyak yang melalaikannya. Oleh karena itu, haru selalu ingat akan hal
ini. Selayaknya ingat akan ajaran al Quran dan sunnah Nabi Muhammad
Saw. yang mengajari dalam hal mengatur waktu dan memanfaatkannya
sebaik-baiknya. Kesibukan itu pasti ada tetapi yang terpenting adalah
bagaimana seseorang bisa mengatur waktu sehingga kewajibannya bisa
dilaksanakan dengan baik.
3) Sering Lupa
Menurut Khadijah lupa adalah hilangnya kemampuan untuk
menyebutkan atau memunculkan kembali apa-apa yang sebelumnya telah
kita pelajari.43 Lupa adalah sifat yang biasa pada diri manusia. Hal yang
terpenting adalah bagimana bisa menjaga dan membuat hafalan yang
hilang itu Kembali lagi. Rajin melakukan muraja’ah dan intropeksi diri
agar melihat kesalahan apa serta hal apa yang perlu dilakukan demi
menjaga hafalan dengan baik.
4) Goyangnya Rasa Percaya Diri
Rasa takut dan kebimbangan bersekutu dan membentuk sebuah
kekuatan yang mengekang kemajuan melalui ilustrasi negatif. 44 Rasa
takut harus dilawan dan dibuang sehingga rasa takut tersebut akan hilang
dan tidak akan menggerogoti potensi kita. Tetap semangat dengan sepuh
43
Nyayu Khadijah, Psikologi Pendidikan, (Palembang: CV. Grafika Telindo Press, 2011), hal 142.
44
Zaki Zamani dan Syukron Maksum, Metode Cepat Menghafal Al Quran, (Yogyakarta: Al
Barokah, 2014), hal 69-71.
36
hati serta yakin dalam mengontrol diri sangat penting untuk dilakukan
agar hafalan yang dimiliki tetap terjaga dan terus lebih baik.
Faktor lain penghambat hafalan al Quran dikemukakan juga oleh
Ahlan, dkk yaitu meliputi:
a) Tidak mendapatkan motivasi dari orang terdekat
Menurut Ngalim Purwanto motivasi adalah pendorong sesuatu
usaha yang didasari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar
bergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga tercapai
hasil dan tujuannya.45 Motivasi orang terdekat yang dimaksudkan adalah
orang tua, keluarga dan teman sebayanya, teman sebaya atau teman
kelompok bermain juga mempengaruhi proses hafalan.
b) Belum istiqamah
Keistiqamahan yang tinggi dan kuat serta kegigihan yang
membaja akan mengantarkan pada kesuksesan sesuai bidang yang
ditekuni bukan hanya pada hafalan.
c) Tidak dapat membagi waktu
Penghafal harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu yang
dianggap sesuai dan tepat untuk menghafal al Quran. Manajemen waktu
yang baik akan berpengaruh besar pada tinggat ketajaman iangatan.
d) Malas muraja’ah
Rasa malas adalah hambatan yang paling banyak ditemui, maka
perlu adanya sifat istikamah atau konsiten seperti yang dijelaskan diatas
45
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), hal 60.
37
agar terhindar dari sifat malas. Bisa juga dilakukan dengan tantangan
terhadap diri sendiri.
e) Lupa ayat
Manusia memang tempatnya lupa dan salah, dan lupa merupakan
hal yang sering dialami oleh para penghafal al Quran.46
Faktor penghambat merupakan suatu yang tidak dapat dihindari.
Oleh karena itu dengan adanya faktor penghambat harus ditumbuhkan
lagi niat yang sungguh-sungguh dalam belajar menghafalkan al Quran.
Agar jiwa jadi tergugah dari hal-hal negatif yang tumbuh pada diri. Lalu
akan bersungguh-sungguh lagi dalam belajar. Selain niat, harus berdoa
dengan sungguh-sungguh memohon peningkatan keimanan pada diri
sendiri.
b. Faktor pendukung
Faktor pendukung merupakan faktor yang bersifat baik dalam
menempuh suatu yang diinginkan. Faktor ini akan memberikan dorongan
penuh sehingga akan mempermudah sesuatu yang akan dilakukan.
Menurut Alawiyah Wahid faktor pendukung dalam menghafal al Quran
sebagai berikut.
1) Faktor Kesehatan
Kesehatan adalah salah satu faktor yang penting bagi orang yang
akan menghafalkan al Quran. jika tubuh sehat maka proses menghafalkan
46
Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho, dan Difla Nadjih, Upaya Santri dalam Pemeliharaan
Hafal dl Qur’an di MANU Kota Gede Yogyakarta: Jurnal Ulumuddin, Vol. 8, No. 2, Desember
2018, hal 134-135.
38
akan menjadi lebih mudah dan cepat tanpa adanya penghambat dan batas
waktu menghafal pun menjadi relatif cepat. Namun, bila tubuh tidak
sehat maka akan sangat menghambat ketika menjalani proses menghafal.
2) Faktor Psikologis
Faktor Psikologis berkaitan dengan kejiwaan, yang di dalamnya
mencakup intelegensi, motivasi, bakat, minat, dan kesiapan. 47 Jika faktor
psikologis terganggu makan akan memperlambat proses menghafal.
Orang yang menghafalkan al Quran sangat membutuhkan ketenangan
jiwa, baik dari segi pikiran maupun hati.
Namun, bila banyak sesuatu yang dipikirkan atau dirisaukan proses
menghafal akan menjadi tidak tenang.
3) Faktor Kecerdasan
Kecerdasan sebenarnya dibagi menjadi tiga, yaitu kecerdasan
intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. 48 Kecerdasan
merupakan salah satu faktor pendukung dalam menjalani proses
menghafalkan al Quran. Setiap individu mempunyai kecerdasan yang
berbeda-beda. Sehingga cukup mempengaruhi terhadap proses hafalan
yang dijalani. Meskipun demikian, bukan berarti kurangnya kecerdasan
menjadi alasan untuk tidak bersemangat dalam proses menghafalkan al
Quran.
47
Munirwan Umar, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Anak: Jurnal
Ilmiah Edikasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2015, hal 23.
48
Lisda Rahmasari, Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan
Spiritual Terhadap Kinerja Karyawan: Jurnal Majalah Ilmiah Informatika, Vol. 3, No. 1, Januari
2012, hal 1.
39
4) Faktor Motivasi
Orang yang menghafalkan al Quran pasti sangat membutuhkan
motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua, keluarga dan sanak
kerabat serta guru. Dengan adanya motivasi yang diberikan akan
menumbuhkan semangat dalam menghafal al Quran. Kurangnya motivasi
yang diberikan akan menghambat dalam proses menghafalkan al Quran.
5) Faktor Usia
Usia akan menjadi faktor penghambat apabila jika usia penghafal
sudah memasuki masa-masa dewasa. Selain itu kecerdasan otak orang
dewasa tidak sejernih orang yang masih muda dan sudah banyak
memikirkan hal-hal yang lain.49
Faktor pendukung lain dalam hafalan al Quran dikemukakan juga oleh
Ahlan, dkk yaitu meliputi:
a) Sudah lancar membaca al Quran
Seseorang yang sudah lancar membaca al Quran akan mudah
juga dalam menghafalkan al Quran, dikarenkan faham akan
pengucapan dan tulisannya.
b) Sabar
Biasanya anak akan malas apabila hafalannya sulit dan
menemukan kesulitan lain, maka sabar adalah obatnya. Dengan sabar
dia akan ikhlas menerima masukan dan terus berusaha memperbaiki
hafalannya.
49
Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal Al Quran Super Kilat, (Yogyakarta: DIVA Press,
2015), hal 139-142.
40
c) Motivasi orang terdekat
Keberadaan orang terdekat sangat mempengaruhi proses
hafalan al Quran, doa dan dukungan menjadi semangat tersendiri bagi
seseorang yang sedang menghafal al Quran.
d) Muraja’ah hafalan al Quran dalam salat
Muraja’ah hafalan al Quran dalam salat sangatlah dianjurkan,
dikarenakan sholat adalah ibadah yang wajib dilakukan lima kali
sehari, ditambah lagi kalau salat sunah, maka semakin sering pula
hafalan tersebut dimuraja’ah.50
Faktor pendukung harus ditumbuhkan secara terus menerus agar
mencapai hasil yang baik. Faktor dukungan dari orang tua dan guru
merupakan penggugah semangat siswa dalam belajar. Selain itu
lingkungan juga sangat berpengaruh terhadap siswa dalam belajar.
Sehingga lingkungan yang baik akan menumbuhkan karakter yang
baik bagi siswa.
B. Penelitian Terdahulu
Pertama, Rif’atul Khoriyah dalam jurnalnya, “Implementasi Metode 3T
+ 1M Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi
Menghafal Peserta Didik di SDN 2 Tawangrejo Lamongan”. Jurnal penelitian
ini bertujuan untuk meningkatkan motivasi menghafal pada program Tahfidh
Juz ‘Amma. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
kualititatif field research atau peneltian lapangan. Teknik analisis data
50
Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho, dan Difla Nadjih, Upaya Santri dalam Pemeliharaan
Hafal dl Qur’an di MANU Kota Gede Yogyakarta: Jurnal Ulumuddin, Vol. 8, No. 2, Desember
2018, hal 132-133.
41
melalui tahapan reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. 51 Persamaan
penelitian yang dilakukan oleh Rif’atul Khoriyah dengan peneliti adalah
sama-sama meneliti tentang menerapkan hafalan juz ‘amma pada peserta
didik. Sedangkan perbedaan penelitiannya adalah terletak pada fokus
penelitian dimana penelitian ini fokus kepada konsep dan peran program
Tahfidh Juz ‘amma untuk meningkatkan motivasi menghafal peserta didik di
SDN 2 tawangrejo lamongan, sedangkan peneliti lebih fokus pada konsep dan
peran penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter
religius peserta didik kelas VII di MTs An-Nur Kota Cirebon.
Kedua, Rois Zulfa Nuraini dalam jurnalnya, “Pembentukan Karakter
Religius Siswa Melalui Pembiasaan Menghafal Juz ‘Amma, Hadits, dan Do’a-
Do’a Harian di MTsN 1 Ponorogo”. Jurnal penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pelaksanaan pembiasaan menghafal dalam pembentukan
karakter religius siswa di MTsN 1 Ponorogo, untuk mendeskripsikan faktor
pendukung dan penghambat siswa dalam menghafal, dan untuk menganalisis
implikasi pembiasaan menghafal terhadap pembentukan karakter religius
siswa di MTsN 1 Ponorogo. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan jenis fenomenologi. Dalam teknik pengumpulan data, peneliti
menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis
data dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif Miles,
Huberman, dan Saldana yang meliputi kondensasi data, penyajian data dan
51
Rif’atul Khoriyah, Cholifah, Neny Liftiyarotun Nadhiro, “Implementasi Metode 3T + 1M
Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi Menghafal Peserta Didik di SDN 2
Tawangrejo Lamongan”, (Surabaya: Jurnal Pendidikan, Vol. 11, No. 3, 2022), hlm. 16.
42
penarikan kesimpulan yang dilengkapi dengan teknik pengkodean. 52
Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Rois Zulfa Nuraini dengan peneliti
adalah sama-sama meneliti tentang penerapan hafalan juz ‘amma pada peserta
didik. Sedangkan perbedaan penelitiannya adalah terletak pada fokus
penelitian yaitu menghafal juz ‘amma, Hadist, dan Do’a-Do’a Harian.
Sedangkan peneliti lebih fokus pada konsep dan peran penerapan hafalan juz
‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII di
MTs An-Nur Kota Cirebon.
Ketiga, Wismy Novadhi Putri, SH Saring Marsudi dalam jurnalnya,
“Implementasi Hafalan Juz’amma Untuk Menanamkan Karakter Disiplin dan
Tangung Jawab Pada Siswa Kelas III Mi Muhammadiyah Program Khusus
Wirogunan Kartosuro Tahun Ajaran 2017/2018”. Jurnal penelitian ini bertujuan
untuk mengimplentasikan hafalan juz’amma, Mendeskripsikan implementasi hafalan
juz’amma dalam menanamkan karakter disiplin, Mendeskripsikan implementasi
hafalan juz’amma dalam menanamkan karakter tanggung jawab, Mendeskripsikan
kendala dan solusi mengatasi implementasi hafalan juz’amma. Pendekatan penelitian
adalah kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan
data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data penelitian dengan
mereduksi data, mendisplay data, dan menyimpulkan secara fleksibel agar menjawab
rumusan masalah.53 Persamaan penelitian yang dilakukan oleh Wismy Novadhi
Putri dengan peneliti adalah sama-sama meneliti tentang menerapkan hafalan
52
Rois Zulfa Nuraini, “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan Menghafal Juz
‘Amma, Hadits, dan Do’a-Do’a Harian di MTsN 1 Ponorogo”, (Ponorogo: Artikel Skripsi), hlm.
2.
53
Putri, W. N., & Saring Marsudi, S. H. (2018). Implementasi Hafalan Juz’amma Untuk
Menanamkan Karakter Disiplin dan Tangung Jawab Pada Siswa Kelas III Mi Muhammadiyah
Program Khusus Wirogunan Kartosuro Tahun Ajaran 2017/2018 (Doctoral dissertation,
Universitas Muhammadiyah Surakarta).
43
juz ‘amma pada peserta didik. Sedangkan perbedaan penelitiannya adalah
terletak pada fokus penelitian dimana penelitian ini fokus kepada konsep dan
peran penerapan hafalan juz ‘amma untuk menanamkan karakter disiplin dan
tanggung jawab, sedangkan peneliti lebih fokus pada konsep dan peran
penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius
peserta didik kelas VII di MTs An-Nur Kota Cirebon.
C. Kerangka Berfikir
Penerapan hafalan juz ‘amma merupakan proses pemeliharaan, menjaga
dan melestarikan kemurnian Al-Qur’an yang diturunkan kepada rasulullah
SAW. Diluar kepala agar tidak terjadi perubahan dan pemalsuan serta dapat
menjaga dari kelupaan baik secara keseluruhan maupun sebagiannya. Terlebih
pada perkembangan zaman sekarang generasi muda yang cenderung
ketergantungan pada alat-alat komunikasi. Semakin banyak anak muda
dikalangan remaja yang kurang menghafal Al-qur’an disekitar lingkungan
kita, itu disebabkan kurangnya rasa mencintai pada Al-Qur’an. Seperti dalam
hadist yang diriwayatkan imam bukhori yang disampaikan Ali bin abi tholib:
َخ ْي ُر ُكْم َمْن َتَعَّلَم اْلُق ْر آَن
َوَعَّلَمه54
Artinya: “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur,an dan
mengajarkan.” (Hadits Riwayat Bukhari)
Pembentukan karakter melalui pendidikan Agama Islam dapat
dilakukan melalui lembaga formal maupun non-formal. Melalui lembaga non-
54
Muzakkir, M. (2015). KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-QUR'AN: Metode
Maudhu’i dalam Perspektif Hadis. Lentera Pendidikan: Jurnal Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan, 18(1), 107-121.
44
formal dilakukan dalam lingkungan masyarakat dan keluarga. Sedangkan
pembentukan karakter secara formal dilakukan di sekolah. Sekolah merupakan
lembaga formal yang dirancang oleh Negara untuk meningkatkan kualitas
manusia melalui pendidikan. Dan pembentukan karakter tidak lepas dari peran
orang tua, guru, dan masyarakat.
Tujuan pendidikan karakter adalah untuk meningkatkan mutu dan
penyelenggaraan dan hasil pendidikan yang mengarah pada pencapaian
pembentukan karakter yang terwujud dari akhlak mulia siswa secara utuh,
terpadu, dan seimbang. Melalui pendidikan karakter diharapkan siswa mampu
secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji
dan menginternalisasi nilai-nilai karakter sehingga terwujud dalam akhlak
mulia pada kehidupan sehari-hari. Pendidikan karakter di sekolah perlu
dilakukan identifikasi nilai-nilai karakter sesuai dengan kebutuhan masyarakat
yang dilayani sekolah. Karakter tersebut yang ditanamkan ke dalam diri siswa
agar mendarah daging, menyatu dalam hati, pikiran, ucapan, perbuatan dan
menetapkan pengaruhnya dalam realitas kehidupan secara mudah atas
kemauan sendiri, sehingga akan terwujudnya akhlak siswa secara menyeluruh.
Oleh karena itu penulis memberikan trobosan bukan hal yang terlalu
baru namun bisa dianggap penulis sebagai motivasi atau dorongan agar
peserta didik mempunyai karakter religius dan berakhlakul karimah.
Hasil dari pemikiran yang bisa penulis tuangkan dalam proposal ini
untuk myeiapkan generasi yang lebih cinta terhadap Al-Qur’an dizaman
45
modern ini peneliti hendak mengadakan pembiasaan hafalan juz ‘amma setiap
kelas di MTs An-Nur Kota Cirebon, dan lebih husus di kelas VII MTs An-Nur
Kota Cirebon.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat Dan Waktu Penelitian
46
Penelitian ini berlokasi di MTs An-Nur Kota Cirebon terletak di
[Link] Drajat-Karanganyar Jagasatru Selatan, Kelurahan Jagasatru,
Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon.
Alokasi waktu yang digunakan untuk penelitian ini, dilaksanakan sejak
01 Mei 2023 s/d 30 juni 2023. dengan lokasi tempat penelitian di MTs An-Nur
Kota Cirebon.
a. Waktu Penelitian
Fase-fase April 2023 Mei 2023 Juni 2023
No
penelitian
1 Persiapan √ √
2 Observasi √ √ √
3 Pengamatan √ √ √ √
4 Wawancara √ √ √ √ √
5 Peengambilan √ √
Data
Tabel 1.1
B. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian field research yang biasa
disebut dengan penelitian lapangan yang dijadikan sebagai pendekatan dalam
47
penelitian kualitatif.55 Peneliti mengamati penerapan hafalan juz’amma
sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII MTs An-
Nur Kota Cirebon kemudian dianalisis.
Pada penelitian ini, akan menggambarkan bagaimana penerapan
hafalan juz ‘amma sebagai nupaya pembentukan karakter religius peserta
didik pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas VII MTs An-Nur Kota
Cirebon.
C. Penentuan Sumber Informasi
Orang yang memiliki pengetahuan atau data yang relevan dengan
penelitian disebut informan penelitian. Kepala sekolah, guru mata
pelajaran, dan siswa/siswi.
Informan penelitian ini diantaranya kepala sekolah sebagai
pemimpin dalam struktural di sekolah. Guru kelas sebagai praktisi utama
dalam pembelajaran, serta pihak-pihak yang terlibat secara langsung
maupun tidak.
D. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen dalam penelitian ini adalah wawancara, wawancara adalah
salah satu metode pengumpulan data yang dapat digambarkan sebagai sebuah
intraksi yang melibatkan antara pewawancara dengan yang diwawancarai
dengan maksud mendapatkan informasi yang sah dan dapat dipercaya. Jenis
wawancara yang digunakan oleh peneliti yaitu wawancara terstruktur, yaitu
wawancara yang dilakukan secara langsung dan berpedoman pada pedoman
55
Abizal Muhammad Yati, “Metode Komunikasi Da’i Perbatasan Aceh Singkil dalam Menjawab
Tantagan Dakwah”, (Aceh: Jurnal al-Bayan, Vol. 24, No. 2, 2 Juli-Desember, 2018), hlm. 302.
48
yang telah disiapkan. Peneliti mempersiapkan beberapa pertanyaan untuk
dijadikan bahan data atau sumber yang relevan dalam penelitian tersebut.
Adapun narasumber dari wawancara ini yaitu guru Mata pelajaran Al-Qur’an
Hadits, Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah dan siswa.
E. Teknik Pengumpulan Data
Peneliti menggunakan berbagai pendekatan data untuk mengumpulkan
data informasi yang relevan dengan masalah penelitian:
1. Wawancara
Proses wawancara atau wawancara adalah percakapan antara
pewawancara dengan orang yang diwawancarai guna mengumpulkan
informasi.56 Metode ini peneliti gunakan untuk mencari data secara umum
dengan mewawancari antara lain kepala sekolah, guru mata pelajaran,
siswa/siswi. Menggunakan pendekatan bebas terbimbing untuk
melakukan wawancara akan memungkinkan pemberian tanggapan yang
lebih fleksibel dari orang yang diperiksa, menghasilkan pengumpulan
data yang lebih banyak dan lebih tepat. Masalah sebenarnya mungkin
ditunjukan oleh para peneliti.
2. Observasi
56
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta:Rineka Cipta,
2006), hal. 64
49
Observasi melibatkan melakukan pengamatan langsung terhadap
objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang sedang
dilakukan.57 Untuk mengumpulkan informasi untuk penelitian, observasi
dilakukan dengan mengamati langsung di lapangan dan
mendokumentasikan apa yang ditemukan di sana.
Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengamati kegiatan
di MTs An-Nur Kota Cirebon dengan mempelajari kegiatan belajar
mengajar siswa/siswi tentang penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya
pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII MTs An-nur Kota
Cirebon.
3. Dokumentasi
Dokumen adalah catatan atau karya seseorang tentang sesuatu yang
telah berlalu. Dalam penelitian kualitatif, dukumen-dokumen yang tepat
dan relevan mengenai individu atau kelompok individu, peristiwa, atau
kejadian dalam keadaan social merupakan sumber informasi yang sangat
membantu.58
Dengan metode ini diperoleh data-data akurat mengenai data terkait
Penerapan Hafalan Juz 'Amma Sebagai Upaya Pembentukan Karakter
Peserta Didik pada Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits Kelas VII Mts An-
Nur Kota Cirebon, seperti foto-foto, kegiatan penerapan hafalan juz
57
Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, (Bandung: Alfabeta, 2007), hal. 25-
30
58
A. Muri Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian Gabungan,
(Jakarta:Prenadamedia Group, 2014), hal. 391
50
‘amma sebagai upaya pembentukan karakter peserta didik pada mata
pelajaran al-Qur’an hadits kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan mengklasifikasikan data yang
diperoleh ke dalam kelompok, meringkas data ke dalam unit-unit,
menganalisis data yang signifikan, merangkai atau menyajikan data sesuai
dengan tema penelitian dalam bentuk laporan, dan membuat kesimpulan
yang jelas. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis komponen
deskriptif sesuai dengan pendekatan penelitian tersebut di atas. Analisis
deskriptif komponenial adalah proses mendeskripsikan dan mengevaluasi
informasi yang mengandung perbedaan atau kontras yang dikumpulkan
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dipilih dengan
cermat. Untuk setiap bagian, berbagai dimensi yang berbeda dan berbeda
dapat diperoleh dengan menerapkan pendekatan pengumpulan data
triangulasi ini.59 Komponen-komponen analisis data model komponensial
dijelaskan sebagai berikut:
1. Reduksi Data (Data Reduction)
Peneliti di lapangan menggunakan observasi, dokumentasi, dan
wawancara untuk mengumpulkan data. dikurangi dengan memadatkan,
memilih, dan memusatkan data pada mata pelajaran yang relevan
dengan tujuan penelitian. Pada tahap ini peneliti melakukan reduksi
59
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed Methods),
(Bandung:Alfabeta, 2010 hal. 356.
51
data dengan cara mengklasifikasikan, mengabstraksi, dan memilah
catatan lapangan, wawancara, dan bahan pendukung.
2. Penyajian Data (Data Display)
Data kemudian ditampilkan setelah dikompresi. Dalam
penelitian kualitatif, penyajian data ini dapat berupa tabel, grafik, phi
chard, piktogram, dan alat bantu visual lainnya. Data disortir dan
disusun dalam pola relasional agar mudah dipahami dengan penyajian.
Penyajian data dalam penelitian kualitatif dapat berbentuk
ringkasan singkat, bagan, hubungan antar kategori, bagan alir, dan
representasi visual lainnya. Teks naratif adalah sumber data yang
paling umum digunakan dalam penelitian kualitatif.
3. Kesimpulan (Conclusion Drawing/Verification)
Langkah terakhir dari analisis data kualitatif model komponen
adalah menarik kesimpulan dari verifikasi. berdasarkan informasi yang
telah diringkas dan ditampilkan. Peneliti mengambil kesimpulan pada
tahap pengumpulan data yang didukung oleh bukti-bukti yang kuat.
Kesimpulannya memberikan jawaban atas masalah dan pertanyaan
yangtelah digeluti oleh para sarjana sejak awal.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
52
A. Deskripsi Data
1. Profil sekolah
Nama Madrasah : MTs An-Nur
Alamat :
a. Jalan : Pangeran Drajat-Karanganyar Jagasatru
Selatan
b. Kelurahan : Jagasatru
c. Kecamatan : Pekalipan
d. Kota : Cirebon
Nama & Alamat Yayasan : Yayasan Pendidikan dan Da’wah Islam
Jagasatru, Jl. Jagasatru Ponpes Jagasatru
No. 58 Kota Cirebon 45115
NSS/NSM/NDS : 121232740005
Jenjang Akreditasi :A
Tahun didirikan : 1993
Tahun beroperasi : 1993
Kepemilikan Tanah : Milik Yayasan
Status tanah : Sertifikat Hak Milik
Luas tanah : 1300 M2
Status bangunan : Milik Yayasan
Surat Ijin Bangunan : -
Luas bangunan : 1062 M2
2. Deskripsi Sekolah
MTs An-Nur adalah suatu lembaga pendidikan di bawah yayasan
Pendidikan dan Da’wah Islam Jagasatru yang berlokasi di Jl. Pangeran
Drajat-Karanganyar Jagasatru Selatan, Kelurahan Jagasatru, Kecamatan
Pekalipan, Kota Cirebon. Didirikan pada tanggal 18 Agustus 1993 dengan
nomor akte 04 oleh pendirinya yaitu Habib H. Muhammad Yahya Bin
Sjech Bin Abu Bakar Bin Yahya.
3. Visi dan Misi MTs An-Nur Kota Cirebon
53
a. Visi : Tetwujudnya Madrasah yang Mampu Mencetak Generasi
Muslim Yang Bertaqwa, Berakhlaq Mulia, Menguasai IPTEK Dan
Berdaya Saing.
b. Misi :
1) Mengamalkan aqidah Islam dan akhlaqul karimah dalam kegiatan
sehari-hari
2) Menanamkan sikap nasionalisme
3) Meningkatkan profesionalisme dan kompetensi pendidik dan
tenaga kependidikan
4) Melaksanakan pembinaan dan bimbingan secara optimal
5) Mengoptimalkan sarana dan prasarana pembelajaran
6) Menciptakan lingkungan madrasah yang kondusif
7) Membangun kemitraan dengan stakeholder dalam pengembangan
mutu layanan pendidikan
4. Tujuan
a. Mengembangkan dakwah Islam melalui Pendidikan
b. Untuk menampung para lulusan MI An-Nur Kota Cirebon, agar bisa
melanjutkan belajar setingkat dengan Sekolah Lanjutan Pertama
c. Memfasilitasi keinginan dan harapan masyarakat, agar putra/putrinya
yang lulus SD/MI dapat melanjutkan belajar di Tingkat Tsanawiyah
d. Ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagai salah satu
program pembangunan nasional,
e. Ikut serta mensukseskan program wajib belajar 9
f. Tujuan khusus adalah memberikan bimbingan dan mengarahkan siswa
untuk :
1) Baik dalam aqidah, akhlaq dan beribadah
2) Baik dalam membaca alqur’an
3) Baik dalam berbahasa
4) Memiliki wawasan berfikir yang luas
5) Memiliki dasar-dasar ketrampilan yang mendiri
54
5. Deskripsi Ketenagaan
a. Data Pendidik dan Tenaga Pendidikan
1) Jumlah Guru Keseluruhan : 24 orang
2) Guru Tetap Yayasan : 21 orang
3) Guru Tidak Tetap : - orang
4) Guru PNS : 3 orang
5) Staf Tata Usaha : 4 orang
6) Kebersihan : 1 orang
b. Daftar Nama Guru, Kelas dan Mata Pelajaran yang Diampu:
No Nama Mata Pelajaran Kelas
1 Suhada SAg. BA 7 AB
7 ABCDE & 8
2 Riyana [Link].I B. Ing
CDE
Vidya Syahidah Hakimi 8 AB & 9
3 B. Ing
[Link]. ABCD
7 AB 7 8
4 Dewi Kusniyah [Link]. B. Ind
ABCDE
7 CDE & 9
5 Yeni Setiawati [Link]. B. Ind
ABCD
B. Arab 9 ABCD
6 Cecep Setiawan [Link]. B. Daerah 7 ABCDE &
Cirebon DE
Matematika 7 CDE
7 Tegu Fitrianingsih [Link].I
IPA 7 AB
8 Usman Afif [Link]. Martematika 8 ABCDE
7 AB & 9
9 Rayu [Link].I., MM. Matematika
ABCD
55
7 CDE & 8
10 Umiyati [Link].I IPA
CDE
8 AB & 9
11 Muhammad Umar [Link].I IPA
ABCD
7 ABCDE & 9
12 Rizki Triadi Putra [Link]. PKn
ABCD
7 ABC & 8
13 Drs. Agung Saputra IPS
ABC
7 DE, 8 DE &
14 Amir Hamzah [Link].I` IPS
9ABCD
7 AB, 8 ABC
15 Abdul Hamid Yahya Aqidah Akhlak
& 9 ABCD
8 CDE &
Mulok Arab
16 Eva Lathifah [Link] 9ABCD
Aqidah Akhlak 7 CDE& 8 DE
7 ABCDE & 8
Mulok Arab
17 Evi Luthfiyyah [Link]. AB
SKI 8 ABCDE
7 ABCDE, 8
Qur'an Hadits ABCDE &
Mohamad Subhan SHI., 9ABCD
18
[Link].I
B. Daerah
9 CD
Cirebon
7 ABCDE, 8
19 Suheri Penjasorkes ABCDE &
9ABCD
7 ABCDE, 8
20 Umar Mokhtar [Link].I Seni Budaya ABCDE &
9ABCD
7 ABCDE, 8
Bambang Gunawan ST.,
21 Prajkarya ABCDE &
[Link]
9ABCD
Ibrahim Syaikhon Yahya 7 CDE & 8
22 Bahasa Arab
Lc. ABCDE
56
B. Daerah
23 Drs. Syukron 8 ABC
Cirebon
PKn 8 ABCDE
24 Tuadatin [Link].I B. Daerah
9 AB
Cirebon
7 ABCDE & 9
25 Soleh [Link] SKI
ABCD
7 ABCDE, 8
26 Ahmad Fauzi Fikih ABCDE &
9ABCD
Tabel 1.2
6. Deskripsi Siswa-Siswi MTs An-Nur Kota Cirebon
a. Data Siswa Tahun Pelajaran 2009/2010 s/d 2022/2023 adalah:
Tahun
No Pelajaran Kelas VII Kelas VIII Kelas IX Jumlah
1. 2020/2021 129 117 110 356
2. 2021/2022 147 126 118 391
3. 2022/2023 134 137 120 391
Tabel 1.3
B. Pembahasan
1. Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma Di Kelas VII MTs An-Nur Kota Cirebon
Karakter Religius sangat penting untuk dimiliki oleh setiap manusia,
terlebih oleh siswa Madrasah Tsanawiyah yang mana merupakan insan yang
sedang dalam proses pembentukan karakter agar menjadi muslim yang
kaffah. Yang membedakan karakter dengan karakter islami ialah karakter
suatu watak, sikap, tabiat yang membedakan antara satu pribadi dengan
pribadi yang lain, sedangkan karakter religius ialah suatu watak, sikap, atau
57
biasa di sebut dengan akhlak yang mana di dalam nya telah di terapkan
nilai-nilai keislaman dengan cara membentuknya juga dengan melalui
sesuatu yang bersifat keislaman. Maka dari itu setiap lembaga pendidikan
perlu mengenalkan nilai-nilai keislaman sejak dini kepada siswanya. Setiap
lembaga pendidikan memiliki caranya masing-masing dalam membentuk
karakter religius siswanya, begitu pula dengan MTs An-Nur Kota Cirebon.
Sekolah ini memilih kegiatan hafalan juz ‘amma sebagai salah satu cara
yang diterapkan untuk membentuk karakter religius siswanya.
Berdasarkan penuturan Bapak Suhada beliau memberikan
keterangan:
“Untuk kegiatan hafalan Juz ‘Amma sih sudah lama, sudah lebih
dari 10 tahun, kegiatan hafalan ini menggunakan metode
muroja’ah tidak untuk dihafalkan, kegiatan ini aslinya program
dari pengurus sebelum saya atau kepala sekolah sebelum saya, jadi
saya tinggal melanjutkan program tersebut.”60
Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa kegiatan hafalan juz
‘amma merupakan kegiatan rutin yang dilakukan di MTs An-Nur Kota
Cirebon yang mana merupakan kegiatan turun menurun yang dilaksanakan
kurang lebih 10 tahun terakhir dari pengurus Mts An-Nur Kota Cirebon
terdahulu yang masih dilaksanakan hingga sekarang. Kegiatan hafalan juz
‘amma dilakukan setiap pagi pukul 07.00 WIB sebelum pembelajaran
berlangsung dengan cara pembiasaan tidak untuk dihafalkan. Menurut
beliau:
60
Hasil Wawancara Dengan Bapak Suhada, Selaku Kepala MTs An-Nur Kota Cirebon, Pada
Tanggal 25 Mei 2023
58
“Tujuan utamanya tentu untuk menanamkan rasa cinta al-qur’an
kepada anak mulai sejak dini, minimal anak tahu dan nantinya bisa
diterapkan di kehidupan sehari-hari”.61
Menurut Bapak Cecep setiawan Selaku Kesiswaan, kegiatan hafalan
juz ‘amma di MTs An-Nur Kota Cirebon diikuti oleh seluruh kelas mulai
dari kelas VII sampai Kelas IX. Kemudian masing-masing kelas
menghafalkan mulai dari surat yang termudah yakni al-fatihah sampai yang
tersulit yakni surat an-naba. Kegiatan hafalan tersebut dilakukan setelah
siswa membaca do’a bersama pada pagi hari sekitar pukul 07.00 WIB
selama kurang lebih 10-15 menit sebelum kegiatan pembelajaran di mulai.
Surat-surat yang dihafalkan antara lain yakni surat al-fatihah hingga surat
an-naba (Juz 30 atau juz ‘amma).62
Biasanya guru meminta siswa untuk membawa juz ‘amma dari
rumah, kemudian guru mengawali kegiatan dengan meminta siswa
membuka juz ‘amma yang telah mereka bawa dari rumah, setelah itu siswa
secara bersama-sama membaca juz ‘amma yang telah mereka bawa. Pada
saat kegiatan hafalan berlangsung seluruh siswa terpaku dengan juz ‘amma
yang mereka baca, beberapa dari mereka membaca tanpa melihat juz ‘amma
hal tersebut menunjukan bahwa siswa telah hafal dengan baik dikarenakan
siswa tersebut telah menghafalkan juz’amma sebelumnya
dirumah/dipondok. Akan tetapi ada juga yang terlihat kurang fokus dalam
kegiatan hafalannya dikarenakan siswa tersebut belum hafal dan
61
Hasil Wawancara Dengan Bapak Suhada, Selaku Kepala MTs An-Nur Kota Cirebon, Pada
Tanggal 25 Mei 2023
62
Hasil Wawancara Cecep setiawan, Selaku Kesiswaan di MTs An-Nur Kota Cirebon, Pada
tanggal 2 Juni 2023
59
sebelumnya tidak menghafalkan hafalannya dirumah. Berdasarkan
penuturan bapak suhada beliau mengatakan:
“Adapun kendalanya yaitu ada siswa yang belum bisa menghafal
surat-surat pendek (juz 30) dikarenakan siswa tersebut dirumahnya
tidak ada waktu untuk menghafalkan”.63
Berdasarkan penurturan tersebut ada siswa yang belum bisa menghafal
surat-surat pendek (juz 30), dikarenakan siswa tersebut tidak ada waktu
untuk menghafalkan.
2. Penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter
religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an hadits kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon
Pembentukan karakter religius kepada siswa di MTs An-Nur Kota
Cirebon melalui kegiatan hafalan juz ‘amma tentu saja membutuhkan
waktu yang panjang. Untuk membentuk karakter religius tentu saja
bukanlah hal yang secara instan dapat tercapai, perlu adanya waktu
sehingga berbagai karakter religius dapat terbentuk di dalam diri siswa.
Begitu juga dengan penerapan hafalan juz ‘amma sebagai upaya
pembentukan karakter religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an
hadits MTs An-Nur Kota Cirebon sebagaimana telah di deskripsikan
diatas. Siswa MTs An-Nur Kota Cirebon rata-rata menetap dipesantren
dan sebagian kecil mereka pulang pergi. Setelah peneliti amati, peneliti
menemukan siswa yang belum mampu menghafal surat-surat pendek (Juz
30). Setelah itu peneliti berinisiatif untuk menerapkan hafalan pada siswa,
kemudian respon siswa sangat baik dan antusias untuk menghafal.
63
Hasil Wawancara Bapak Suhada, Selaku Kepala Madrasah, Pada tanggal 25 mei 2023
60
Penerapan hafalan juz ‘amma tersebut menjadi pembiasaan agar siswa
dapat menghafal surat-surat pendek (juz 30).
Penerapan hafalan juz ‘amma pada siswa kelas VII di MTs An-Nur
dilakukan pada mata pelajaran al-qur’an hadits dengan metode muroja’ah
setiap pagi jam 07.00 sekitar 10-15 menit, kemudian siswa maju satu
persatu menyetorkan hafalan juz ‘amma pada guru entah itu hanya 1 surat
ataupun hanya 1-2 ayat saja. Berdasarkan penuturan bapak mohamad
subhan beliau memberikan keterangan:
“belum ada, dalam mata pelajaran al-qur’an hadits yang saya ampu
saya belum menerapkan hafalan juz ‘amma pada siswa”64
Pada mata pelajaran al-qur’an hadits sangat cocok untuk melakukan
penerapan hafalan juz ‘amma karena ada sangku pautnya dengan al-
qur’an. Berdasarkan penuturan bapak mohamad subhan beliau
memberikan keterangan:
“ saya sih setuju, hafalan juz ‘amma itu sangat cocok diterapkan
pada mata pelajaran al-qur’an hadits, karena sebelumnya pada
mata pelajaran yang saya ampu yaitu al-qur’an hadits belum ada
penerapan hafalan juz ‘amma pada siswa”.
Dengan adanya penerapan hafalan juz ‘amma, siswa kelas VII di
MTs An-Nur sangat antusias untuk menghafalkan. Mereka sangat
semangat dengan adanya penerapan hafalan juz ‘amma. Saking
semangatnya ketika jam istirat mereka tidak istirahat tetapi mereka
memilih untuk setoran hafalan pada guru mata pelajaran al-qur’an hadits.
Berdasarkan penuturan dari siswa kelas VII:
64
Hasil Wawancara Bapak Mohamad Subhan, Selaku Guru Mata Pelajaran Al-Qur’an Hadits,
Pada Tanggal 8 juni 2023
61
“Tidak ada, saya setuju bu jika diadakan hafalan juz ‘amma.
Karena nanti saya bisa menghafalkan lebih banyak surat”.65
“Tidak ada, boleh bu saya senang jika hafalan juz ‘amma
diterapkan. Karena sebelumnya saya dirumah tidak ada waktu
untuk menghafalkan dan menyetorkan hafalan”.66
Dari penuturan siswa kelas VII, belum ada penerapan hafalan juz
‘amma, jika di adakan penerapan hafalanpun mereka sangat antusias untuk
menghafalkan, karena sebagian dari mereka sebelumnya tidak ada waktu
untuk menghafalkan/menyetorkan hafalannya.
Peneliti melakukan penerapan hafalan juz ‘amma pada mata
pelajaran al-qur’an hadits, setiap mata pelajaran al-qur’an hadits siswa
dimita muroja’ah setelah do’a selesai, sekitar jam 07.00 kurang lebih 10-
15 menit, setelah selesai siswa maju satu persatu menyetorkan hafalannya
kepada guru entah itu langsung satu surat atau haya 1-2 ayat saja.
3. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan penerapan hafalan
juz ‘amma sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta
didik pada mata pelajaran al-qur’an hadits kelas VII MTs An-Nur
Kota Cirebon
Dalam pelaksanaan suatu program tentunya tidak terlepas dari
adanya faktor pendukung dan penghambat yang membersamai, faktor
pendukung tentu saja akan memperlancar dalam pelaksanaan suatu
program sedangkan faktor penghambat memberikan persoalan-persoalan
yang menghambat dalam pelaksanaan suatu program, sehingga para
stakeholder harus mencari alternative atau solusi terhadap berbagai
persoalan tersebut.
65
Hasil Wawancara Siswa 1 MTs An-Nur (Fahri), pada tanggal 12 juni 2023
66
Hasil Wawancara siswa 2 MTs An-Nur (Sela), pada tanggal 12 juni 2023
62
Pelaksanaan pembentukan karakter religius melalui penerapan
hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur Kota Cirebon tentunya juga terdapat
faktor pendukung dan penghambatnya. Faktor penghambat disebabkan
siswa malas untuk menghafalkan hafalannya.
1. Faktor pendukung
a. Motivasi
Siswa yang menghafalkan juz ‘amma (juz 30) sangat
membutuhkan motivasi dari orang-orang terdekat, kedua orang tua,
keluarga dan sanak kerabat guru. Dengan adanya motivasi yang
diberikan akan menumbuhkan semangat dalam menghafalkan juz
‘amma. Berdasarkan penuturan bapak mohamad subhan selaku
guru al-qur’an hadits beliau mengatakan:
“motivasi adalah salahsatu peran penting dalam faktor
pendung bagi siswa yang sedang menghafalkan”.67
b. Sabar
Biasanya siswa malas apabila hafalannya sulit dan
menemukan kesulitan lain, maka sabar adalah obatnya. Dengan
sabar siswa akan ikhlas menerima masukan dan terus berusaha
memperbaiki hafalannya. Berdasarkan penuturan dari bapak
Agung saputra beliau mengatakan:
“sabar adalah salah satu peran penting bagi siswa dalam
proses menghafalkan juz ‘amma”.68
c. Muraja’ah
67
Hasil Wawancara Bapak Mohamad Subhan, Selaku guru mata pelajaran al-qur’an hadits, pada
tanggal 8 juni 2023
68
Hasil Wawancara Bapak Cecep Saputra, Selaku Kesiswaan MTs An-Nur, pada tanggal 20 juni
2023
63
Muraja’ah hafalan juz ‘amma sangatlah penting bagi siswa
dalam proses hafalan. Supaya siswa selalu ingat dan hafal pada
saat menyetorkan hafalan. Berdasarkan penutran siswa kelas VII:
“Muroja’ah sangat penting bagi saya dalam proses
menghafalkan hafalan juz ‘amma, saya biasanya di pondok
dan di sekolah sebelum pembelajaran dimulai selalu
muraja’ah supaya hafalan saya lancar ”.69
Jadi, faktor pendukung dalam penerapan hafalan juz amma sebagai
upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas VII MTs
An-Nur Kota Cirebon yaitu adanya dorongan/motivasi dari orang
terdekat (orang tua, keluarga, kerabat terdekat) pada siswa saat
melakukan hafalan juz ‘amma, siswa sangat sabar dan ikhlas dalam
menghafalkan hafalannya, muroja’ah hafalannya sebelum
disetorkan pada guru.
2. Faktor penghambat
a. Tidak mendapatkan motivasi
Tidak adanya motivasi pada siswa dalam proses
menghaflkan bisa menghambat siswa dalam mengahaflkan juz
‘amma karena tidak ada dorongan/motivasi dari orang terdekat.
Berdasarkan penuturan bapak mohamad subhan beliau
mengatakan:
“kurangnya motivasi dari orang terdekat akan menghambat
siswa dalam proses menghafalkan juz ‘amma”.70
b. Malas muraja’ah
69
Hasil Wawancara siswa kelas VII MTs An-nur Kota Cirebon (Sela), pada tanggal 12 juni 2023
70
Hasil Wawancara Bapak Mohamad Subhan, Selaku guru mata pelajaran al-qur’an hadits, pada
tanggal 8 juni 2023
64
Rasa malas hambatan yang paling sering ditemui oleh siswa
saat menghafalkan juz ‘amma, maka perlunya istiqomah atau
konsisten agar terhindar dari sifat malas. Berdasarkan penuturan
bapak agung saputra beliau mengatakan:
“malas muraja’ah biasanya yang menjadi penghambat bagi
siswa saat proses menghafalkan”.71
c. Tidak dapat membagi waktu
Siswa harus mampu mengantisipasi dan memilih waktu
yang dianggap sesuai dan tepat untuk menghafalkan al-qur’an
manajemen waktu yang baik akan berpengaruh besar pada tingkat
ketajaman ingatan. Berdasarkan penuturan siswa kelas VII:
“salah satu penghambat dalam proses hafalan yaitu kurang
membagi waktu dalam proses menghafalkan”.72
Jadi, faktor penghambat dalam penerapan hafalan juz amma
sebagai upaya pembentukan karakter religius peserta didik kelas
VII MTs An-Nur Kota Cirebon yaitu kurangnya dorongan/motivasi
dari orang terdekat (kedua orang tua, keluarga, kerabat terdekat),
siswa malas untuk muroja’ah hafalan juz ‘amma, dan siswa tidak
dapat membagi waktunya untuk menghafalkan juz ‘amma.
71
Hasil Wawancara Bapak Cecep Setiawan, Selaku Kesiswaan MTs An-Nur, pada tanggal 20 juni
2023
72
Hasil Wawancara siswa kelas VII MTs An-nur Kota Cirebon (Sela), pada tanggal 12 juni 2023
65
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
66
Berdasarkan data-data dan laporan yang tersaji dari hasil penelitian
dan pembahasan serta analisis yang telah dilakukan dalam skripsi ini
peneliti mengambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma kelas VII di MTs An-Nur Kota Cirebon
sebagai berikut:
a. Hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur sudah diterapkan kurang lebih
10 tahun menggunakan metode muroja’ah.
b. Hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur dilakukang dengan cara
pembiasaan setiap pagi setelah baca do’a bersama sekita 10-15
menit.
c. Hafalan juz ‘amma di MTs An-Nur dilakukan menggunakan
metode muroja’ah tidak untuk dihafalkan.
2. Penerepan hafalan juz ‘amma sebagai upaya pementukan karakter
religius peserta didik pada mata pelajaran al-qur’an hadits kelas VII
MTs An-Nur Kota Cirebon dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut:
a. Membiasakan membaca dan menghafal juz ‘amma (juz 30) setiap
pagi setelah baca do’a bersama.
b. Siswa menghafalkan hafalan juz ‘amma lalu disetorkan kepada
guru.
3. Faktor pendukung dan penghambat dalam penerapan hafalan juz
‘amma sebagai berikut:
a. Faktor pendukung
Faktor pendukung dalam penerapan hafalan juz ‘amma di
MTs An-Nur Kota Cirebon yaitu adanya dorongan atau motivasi,
sabar dan istiqomah saat menghafalkan, dan muroja’ah hafalan.
67
b. Faktor penhambat
Faktor penghambat dalam penerapan hafalan juz ‘amma
sebagai berikut:
Faktor penghambat dalam penerapan hafalan juz ‘amma di MTs
An-Nur Kota Cirebon yaitu siswa tidak mendapat dorongan atau
motivasi dari orang terdekat saat proses menghafalkan, malas
muroja’ah, tidak bisa membagi waktu untuk menghafalkan.
B. Saran
1. Bagi siswa
Agar lebih rajin dan bersungguh-sungguh dalam melaksanakan
hafalan juz ‘amma karna mengingat keutamaan pahala bagi orang yang
menghafal dan mengajarkan al-qur’an kepada orang lain, siswa
mampu menjaga hafalannya dengan istiqomah muroja’ah dan
bertanggung jawab terhadap hafalannya baik di madrasah maupun di
rumah
2. Bagi guru
Agar selalu hadir disetiap pertemuan sehingga siswa
mendapatkan bimbingan yang maksimal dari pembimbingnya serta
memberikan teladan akhlakul karimah kepada siswa.
3. Bagi sekolah
68
Agar meningkatkan kemampuan pengelolaan penerapan hafalan
juz ‘amma dengan melakukan koordinasi yang lebih intensif sehingga
menjadi tempat bagi semua pihak meningkakan ke efektifan program
dan memperbaiki kekurangan sehingga mampu mencapai tujuan yang
ditentukan.
69
DAFTAR PUSTAKA
[Link] Yusuf, Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan Penelitian
Gabungan, (Jakarta:Prenadamedia Group, 2014)
Abdurrahman Abdul Khaliq, Bagaimana Menghafal Al Quran, (Jakarta: Pustaka
Al-Kautsar, 2006).
Abizal Muhammad Yati, “Metode Komunikasi Da’i Perbatasan Aceh Singkil
dalam Menjawab Tantagan Dakwah”, (Aceh: Jurnal al-Bayan, Vol. 24,
No. 2, 2 Juli-Desember, 2018)
Adi Wijayanto, dkk, Akademisi dan Jurus Jitu Pembelajaran Daring,
(Tulungagung: Akademia Pustaka, 2021)
Adi Wijayanto, dkk, Jurus Jitu Pendidikan dalam Pelaksanaan Daring,
(Tulungagung: Akademia Pustaka, 2021)
Agustina, Rahmi. Syakura, Abdan. “Penerapan Menghafal Juz ‘amma pada Anak
Kelompok B di TK Tahfiz Tunas Mulia Kertak Hanyar”.
Ahlan Abdullah Solo, Taufik Nugroho, dan Difla Nadjih, Upaya Santri dalam
Pemeliharaan Hafal dl Qur’an di MANU Kota Gede Yogyakarta: Jurnal
Ulumuddin, Vol. 8, No. 2, Desember 2018.
Ahsin W. Al-Hafidz, Bimbingan Praktis Menghafal Al Quran, (Jakarta: Bumi
Aksara, 2005).
Ali Mahtarom dan Wiwin Qomariyah, “Implementasi Metode Apel Dalam
Menghafal Juz ‘Amma Guna Meningkatkan Daya Ingat Santri Madin
Children,” Jurnal Al-Murabbi, 1 (2016)
Depdiknas, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2017)
Dharma Kesuma, dkk, Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah,
(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2018)
70
Erwan Komara, “Pesan-Pesan Transedental Dalam Al-Qur’an Juz 30,” Jurnal
Komunikasi, 1 (2016)
Hamdi, Muchlis. 2014. Metodologi Penelitian Administrasi.
Imam Nawawi. (2015). Keutamaan Membaca dan Mengkaji Al-Qur’an “At-
Tibyaan fii Aadaabi Halamatil” KONSIS Media.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, Ed. IV (Jakarta:PT Gramedia
Pustaka Agama, 2008)
Kemendiknas. 2011. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan. Karakter. Jakarta:
Kemendiknas.
Khoriyah, Rif’atul. Cholifah. Neny Liftiyarotun, Nadhiro. “Implementasi Metode
3T + 1M Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi
Menghafal Peserta Didik di SDN 2 Tawangrejo Lamongan”. Jurnal
Pendidikan.
Lisda Rahmasari, Pengaruh Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan
Kecerdasan Spiritual Terhadap Kinerja Karyawan: Jurnal Majalah Ilmiah
Informatika, Vol. 3, No. 1, Januari 2012.
Miftahul Jannah, Metode dan Strategi Pembentukan Karakter Religius yang
Ditetapkan di SDTQ-T An Najah Pondok Pesantren cindai Alus
Martapura, dalam Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah,
Vol. 4, No. 1, Juli-Desember 2019
Muh Hambali dan Eva Yulianti, Ekstrakulikuler Keagamaan Terhadap
Pembentukan Karakter Religius Peserta Didik di Kota Majapahid: Jurnal
Pedagogik, Vol. 5, No. 2, Desember 2018
Muhammad Yati, Abizal. Metode Komunikasi Da’i Perbatasan Aceh Singkil
dalam Menjawab Tantagan Dakwah. Jurnal al-Bayan.
Munawwarah, Aisyah Idris, dan Husna Hakim, “Penerapan Metode One Day
One Ayat Untuk Mengembangkan Kemampuan Anak Dalam Menghafal
71
Juz ‘Amma Di TK FKIP Unsyiah Banda Aceh,”Jurnal Pendidikan Anak
Bunayya, 1 (2021)
Munirwan Umar, Peranan Orang Tua dalam Meningkatkan Prestasi Belajar
Anak: Jurnal Ilmiah Edikasi, Vol. 1, No. 1, Juni 2015.
Mustari Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan, (Jakarta: PT Remaja Grafindo
Persada, 2014)
Musthafa, Izzuddin. 2018. Metodologi Penelitian Bahasa Arab.
Muzakkir, M. (2015). KEUTAMAAN BELAJAR DAN MENGAJARKAN AL-
QUR'AN: Metode Maudhu’i dalam Perspektif Hadis. Lentera Pendidikan:
Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2011).
Nor Riza, Muftiyana. “Implementasi Kegiatan Hafalan Juz ‘Amma dalam
Membentuk Karakter Islami Siswa Kelas VI di MI Kedung Ombo Mayong
Jepara”. 2020. Artikel Thesis.
Nyayu Khadijah, Psikologi Pendidikan, (Palembang: CV. Grafika Telindo Press,
2011).
Omeri, N. (2015). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia
pendidikan. Manajer Pendidikan: Jurnal Ilmiah Manajemen Pendidikan
Program Pascasarjana.
Putri, W. N., & Saring Marsudi, S. H. (2018). Implementasi Hafalan Juz’amma
Untuk Menanamkan Karakter Disiplin dan Tangung Jawab Pada Siswa
Kelas III Mi Muhammadiyah Program Khusus Wirogunan Kartosuro
Tahun Ajaran 2017/2018
Putri, Wismy Novadhi, SH Saring Marsudi, “ Implementasi Hafalan Juz’amma
Untuk Menanamkan Karakter Disiplin dan Tangung Jawab Pada Siswa
72
Kelas III Mi Muhammadiyah Program Khusus Wirogunan Kartosuro
Tahun Ajaran 2017/2018”
Raghib As-Sirjani dan Abdurrahman Abdul Khaliq, Cara Cerdas Hafal Al Quran,
(Solo: Aqwam, 2007).
Rahma Nur Baiti, dkk, Pembentukan Karakter Siswa Melalui Pembiasaan
Aktivitas Keagamaan, dalam el Bidayah: Journal of Islamic Elementary
Education, Vol. 2, Desember 2018
Rianawati, Implementasi Nilai-Nilai Karakter pada Pelajaran Pendidikan Islam
(PAI) Tingkat SLTA, (Pontianak: IAIN Pontianak Press, 2014)
Riduwan, Skala Pengukuran Variabel-variabel Penelitian, (Bandung: Alfabeta,
2007)
Rif’atul Khoriyah, Cholifah, Neny Liftiyarotun Nadhiro, “Implementasi Metode
3T + 1M Program Tahfidh Juz ‘Amma Untuk Meningkatkan Motivasi
Menghafal Peserta Didik di SDN 2 Tawangrejo Lamongan”, (Surabaya:
Jurnal Pendidikan, Vol. 11, No. 3, 2022
Rois Zulfa Nuraini, “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan
Menghafal Juz ‘Amma, Hadits, dan Do’a-Do’a Harian di MTsN 1
Ponorogo”, (Ponorogo: Artikel Skripsi)
Setiawan, Guntur. (2004). Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan.
Bandung:Remaja Rosdakarya Offset.
Sholihah, Mar’atun. “Problematika Pembelajaran Hafalan surat-suat pend
Sudrajat, A. (2011). Mengapa pendidikan karakter?. Jurnal Pendidikan
Karakter, 1(1).
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan Kombinasi (Mixed
Methods), (Bandung:Alfabeta, 2010
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik,
(Jakarta:Rineka Cipta, 2006)
73
Supian, Dkk, Strategi Pemotivasian dalam Pembelajaran Tahfizh Al-Qur’an:
Jurnal Tarbawi Indonesia Journal of Islamic Education, Vol. 6, No. 2
November 2019, hal. 182.
Suyanto, Urgensi Pendidikan Karakter, (Jakarta: Ditjen Dikdasmen-Kementerian
Pendidikan Nasional, 2010)
Syahratul Mubarokah, Strategi Tahfizh Al-Qur’an: Jurnal Penelitian Tarbawi.
Vol. 4, No. 1 Januari-Juni 2019,
Usman & Nurdin. (2002). Konteks Implementasi Berbasis Kurikulum. Jakarta:PT.
Raja Grafindo Persada.
Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal Al Quran Super Kilat, (Yogyakarta:
DIVA Press, 2015).
Yaumi, Pendidikan Karakter Landasan Pilar, dan Implementasi,
(Jakarta:nPrenadamrdia Grup, 2014)
Zaki Zamani dan Syukron Maksum, Metode Cepat Menghafal Al Quran,
(Yogyakarta: Al Barokah, 2014).
Zulfa Nuraini, Rois. “Pembentukan Karakter Religius Siswa Melalui Pembiasaan
Menghafal Juz ‘Amma, Hadits, dan Do’a-Do’a Harian di MTsN 1
Ponorogo”. 2021. Artikel Skripsi.
74