BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
1. Kondisi Awal
Data penelitian diperoleh dari data observasi berupa pengamatan
pengelolaan model pembelajaran Numbered Head Together dan pengamatan
aktivitas guru dan siswa pada setiap siklus. Data lembar observasi diambil
dari dua pengamatan yaitu data pengamatan pengelolaan model
pembelajaran Numbered Head Together yang digunakan untuk pengetahui
pengaruh penerapan model pembelajaran Numbered Head Together dalam
meningkatkan prestasi belajar siswa dan data pengamatan aktivitas guru dan
siswa. Data tes formatif untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar
siswa setelah diterapkannya model pembelajaran Numbered Head Together
pada kondisi awal sebagaimana dijelaskan tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Rekapitulasi Hasil Tes Formatif Kondisi Awal
Kondisi Awal
No Kriteria Ketuntasan Ket
Jumlah %
1 Tuntas 4 16,00
2 Belum Tuntas 21 84,00
Jumlah 25 100.00
Nilai terendah 40,00
Nilai tertinggi 80,00
Rata – rata 64,40
Ketuntasan 16,00
Penjelasan mengenai aspek aktivitas belajar yang dinilai
menggunakan lembar observasi dengan 10 indikator, yaitu turut aktif dalam
proses pembelajaran, mengikuti pelajaran dengan baik, mengerjakan tugas
baik terstruktur maupun tanpa terstruktur di kelasdan di rumah dengan baik,
mengambil keterangan atau informasi dari buku, berinisiatif mempelajari
dan mengerjakan materi pelajaran yang belum dan akan di ajarkan,
menyelidiki jawaban atas pertanyaan, menyampaikan pendapat, ide atau
33
34
sanggahan, mencari jalan memecahkan masalah, membuat catatan ringkas,
menyampaikan jawaban hasil diskusi kelompok maupun mandiri. Hasil
pengamatan pada kondisi awal sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Siswa pada Kondisi
Awal
No Uraian Jumlah Ket
1 Siswa Tuntas 6
2 Persentase Tuntas 24,00
3 Siswa Belum Tuntas 19
4 Persentase Belum Tuntas 76,00
5 Ketuntasan Klasikal 24,00
Berdasarkan data tersebut di atas maka peneliti merasa perlu
mengadakan perbaikan dalam masalah pembelajaran yang akan
dilaksanakan pada siklus I. Dari hasil analisis data awal dari nilai Tes
formatif serta observasi yang dilakukan menunjukkan hal-hal sebagai
berikut:
a. Metode yang digunakan guru tidak membuat siswa tidak belajar
mengalami langsung. Dalam penelitian ini guru masih
menggunakan metode ceramah dalam pembelajaran IPS, meskipun
sesekali diselangi dengan metode yang lainnya sehingga kesan
yang timbul dalam proses belajar mengajar tersebut ternyata
proses transfer informasi yang disampaikan secara lisan dari guru
kepada siswa.
b. Aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar tampak masih
statis, sekedar mengejar target kurikulum yang telah ditentukan
interaksi guru dengan siswa bersifat satu arah dari guru kepada siswa
sehingga interaksi antara siswa dengan siswa jarang terjadi.
c. Tidak adanya penggunaan alat peraga, sehingga kesan yang timbul
dalam kegiatan belajar mengajar tersebut siswa tidak bersemangat
Berdasarkan pada hasil observasi awal peneliti teraktivitas untuk
melakukan penelitian tindakan selanjutnya berupa penelitian tindakan
kelas. Hal ini penulis lakukan melihat latar belakang penggunaan metode
35
secara umum yang dilakukan oleh guru masih merujuk pada metode
ceramah yang pada intinya pembelajaran masih berpusat pada guru. oleh
karena itu peneliti berupaya memilih model pembelajaran Numbered Head
Together untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Pada penelitian ini
penulis membagi 2 siklus yakni siklus I dan siklus II.
2. Siklus I
a. Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan, peneliti membuat berbagai
perencanaan yaitu:
1) Menelaah materi pembelajaran indikator yang perlu dicapai.
2) Menyusun perangkat pembelajaran sesuai indikator yang telah
ditetapkan sesuai dengan model pembelajaran NHT
3) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati ketrampilan guru dan
aktivitas siswa yang akan digunakan dalam proses penelitian.
b. Tindakan
Pada siklus I kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan proses
pembelajaran yang menggunakan Model pembelajaran Numbered Head
Together sebagai bagian dari strategi pembelajaran dalam meningkatkan
hasil belajar siswa. Langkah-langkah kegiatan yang dilakukan peneliti
adalah sebagai berikut :
1) Membagi para siswa menjadi beberapa kelompok atau tim yang
beranggotakan 5 siswa dan memberi mereka nomor sehingga tiap
siswa dalam tim tersebut memiliki nomor yang berbeda.
2) Mengajukan suatu pertanyaan kepada para siswa. Pertanyaan dapat
bervariasi, dari yang bersifat spesifik hingga yang bersifat umum.
3) Para siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan
bahwa tiap orang mengetahui jawaban tersebut.
4) Guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan
nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban untuk
seluruh kelas.
36
5) Memberikan bimbingan kepada siswa untuk dapat menyimpulkan
hasil kerja kelompok serta memberikan penguatan terhadap hasil
belajar yang diperoleh media pembelajaran.
Adapun hasil tes formatif pada akhir siklus pertama dijabarkan
pada tabel berikut ini
Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran IPS
pada Siklus Pertama
Siklus Pertama
No Kriteria Ketuntasan
Jumlah %
1 Tuntas 11 44,00
2 Belum Tuntas 14 56,00
Jumlah 25 100,00
Nilai terendah 50,00
Nilai tertinggi 90,00
Rata – rata 73,20
Ketuntasan 44,00
Dari tabel di atas di atas dapat diterangkan bahwa pada siklus
pertamamengalami kenaikan menjadi 73,20. dan jumlah siswa yang
telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 11 siswa (44,00%). Dari
penjelasan di atas, peneliti bersama observer sepakat bahwa
pelaksanaan pembelajaran perlu dilanjutkan pada siklus II, karena
prestasi belajar siswa belum mencapai perolehan di atas KKM sebesar
78,00 dengan tingkat ketuntasan belajar mencapai angka di atas 85%.
c. Observasi
Penjelasan mengenai aspek aktivitas belajar yang diamati dengan
10 indikator, yaitu turut aktif dalam proses pembelajaran, mengikuti
pelajaran dengan baik, mengerjakan tugas baik terstruktur maupun tanpa
terstruktur di kelasdan di rumah dengan baik, mengambil keterangan atau
informasi dari buku, berinisiatif mempelajari dan mengerjakan materi
pelajaran yang belum dan akan di ajarkan, menyelidiki jawaban atas
pertanyaan, menyampaikan pendapat, ide atau sanggahan, mencari jalan
memecahkan masalah, membuat catatan ringkas, menyampaikan jawaban
hasil diskusi kelompok maupun mandiri. Hasil observasi pada
37
pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I sebagaimana tabel di
bawah ini :
Tabel 4.4 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Aktivitas
Siswa pada Siklus I
No Uraian Jumlah Ket
1 Siswa Tuntas 13
2 Persentase Tuntas 52,00
3 Siswa Belum Tuntas 12
4 Persentase Belum Tuntas 48,00
5 Ketuntasan Klasikal 52,00
Dari data pada tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai
berikut pada siklus ke I, siswa yang menunjukkan peningkatan keaktivan
siswa sebanyak 13 siswa atau 52,00% pada siklus ke I, siswa yang belum
meningkat keaktifan belajarnya sebanyak 12 siswa atau 48,00%. Melihat
hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer sepakat untuk
melanjutkan pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus II dengan
harapan pada siklus II keaktifan belajar siswa dapat mencapai perolehan
di atas 85% sesuai dengan indikator dan kriteria keberhasilan yang telah
ditetapkan.
d. Refleksi
Refleksi tindakan pada siklus I ini lebih difokuskan pada
permaslahan yang muncul dan keberhasilan yang tampak selama
pembelajaran. Permasalahan dan keberhasilan tersebut adalah sebagai
berikut :
1) Guru kurang jelas dalam menjelaskan materi dan kurang
memperdalam materi.
2) Aktivitas yang diberikan guru masih kurang sehingga siswa masih
ragu-ragu dalam berpendapat.
3) Guru belum mampu mengelola kelas dengan baik karena di tengah-
tengah pembelajaran sebagian kecil siswa membuat gaduh sehingga
menjadikan pembelajaran kurang kondusif.
38
4) Siswa masih belum terbiasa menanggapi jawaban dari kelompok
yang maju pada saat presentasi kelompok sehingga belum terjadi
interaksi yang baik saat kegiatan presentasi kelompok.
5) Sebagian siswa tidak memperhatikan siswa yang sedang
mempresentasikan hasil diskusi kelompok siswa lain.
6) Keterampilan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPSmelalui
model NHT masuk dalam kategori baik.
7) Aktivitas siswa dalam pembelajaran IPS melalui model NHT masuk
dalam kategori baik.
Berdasarkan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan siklus I
yang telah diuraikan di atas, maka hal yang perlu diperbaiki atau direvisi
untuk pelaksanaan tindakan berikutnya adalah :
1) Guru memperdalam dalam menjelaskan materi krang meberikan
penekanan.
2) Guru memberikan aktivitas pada siswa untuk percaya diri dalam
mempresentasikan hasil diskusi kelompok dengan penguatan positif.
3) Guru menegur siswa yang membuat gaduh dengan berbagai cara
baik secara halus ataupun dengan sedikit penguatan negatif agar
kondisi pembelajaran kondusif.
4) Guru mengajak siswa untuk menanggapi setiap jawaban yang
disampaikan oleh siswa dan memancing siswa dengan pemberian
reward berupa tanda bintang untuk siswa yang mau menanggapi
hasil diskusi.
3. Siklus II
a. Perencanaan
Pelaksanaan tindakan siklus II dilaksanakan melalui model NHT
pada pembelajaran IPS dengan materi kondisi geografis benua Asia dan
benua lainnya melalui peta rupa bumi. Hasil penelitian yang diperoleh
selama pelaksanaan tindakan pada siklus II ini akan dipaparkan sebagai
berikut
1) Menyiapkan perbaikan terhadap kekurangan pada siklus I
39
2) Menyusun perangkat pembelajaran dengan indikator masalah terntang
materi kondisi geografis benua Asia dan benua lainnya melalui peta
rupa bumi.
3) Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati ketrampilan guru dan
aktivitas siswa yang akan digunakan dalam proses penelitian.
b. Tindakan
Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran
dengan memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau
kekuarangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Pengamatan
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar
mengajar. Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II
dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses
belajar mengajar yang dilakukan Pada langkah ini beberapa hal yang
diharapkan terlihat pada perkembangan siswa antara lain :
1) siswa merasa teraktivitas untuk lebih meningkatkan pemahaman
tentang materi yang diajarkan sehinga berdampak pada peningkatan
hasil belajar.
2) siswa merasa bangga, puas dan percaya diri sehingga muncul suasana
kelas yang lebih semarak dan dan menyenangkan.
Sedangkan penjelasan mengenai pelaksanaan tindakan pada siklus
kedua sebagaimana dijelaskan di bawah ini.
1) Pada awal pembelajaran peneliti menjelaskan secara singkat model
pembelajaran kooperatif tipe NHT yang akan diterapkan kepada
peserta didik.
2) Peneliti menyajikan rencana atau tujuan pembelajaran kepada peserta
didik sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai
3) Peneliti mempersilahkan semua peserta didik untuk membuka dan
mempelajari materi kondisi geografis benua Asia dan benua lainnya
melalui peta rupa bumi pada beberapa sumber belajar yang sudah
dipersiapkan.
40
4) Membagi peserta didik ke dalam 5 kelompok, karena jumlah siswa
sebanyak 25 orang maka terdapat 5 kelompok dengan anggota 5 siswa
5) Menyusun lembar kegiatan peserta didik, observasi, silabus
pembelajaran, dan alat evaluasi akhir siklus
6) Peneliti memberikan pertanyaan atau permasalahan pada peserta didik
dengan mengacu pada pokok bahasan dan kompetensi dasar yang
akan dicapai untuk dipecahkan bersama-sama dalam kelompok.
7) Peneliti mengecek pemahaman peserta didik dengan menyebut satu
nomor dan para peserta didik dari tiap kelompok dengan nomor yang
sama mengangkat tangan dan menjawab pertanyaan guru, jawaban
peserta didik yang ditunjuk merupakan wakil jawaban dari kelompok.
8) Pada akhir pembelajaran peneliti memfasilitasi peserta didik dalam
membuat rangkuman, mengarahkan, dan memberikan penegasan pada
akhir pembelajaran.
9) Pada akhir siklus dilakukan tes akhir untuk mengetahui perkembangan
peserta didik dalam bentuk objektif tes. Hasil dari tes pada akhir siklus
ini nantinya dapat digunakan sebagai bahan evaluasi untuk tindakan
berikutnya
Pada siklus kedua ini dalam tahap pelaksanaan sudah menunjukkan
adanya peningkatan hasil belajar siswa. Hal tersebut dapat dilihat pada
tabel berikut ini :
Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran IPS pada
Siklus II
Siklus Kedua
No Kriteria Ketuntasan
Jumlah %
1 Tuntas 22 88,00
2 Belum Tuntas 3 12,00
Jumlah 25 100,00
Nilai terendah 60,00
Nilai tertinggi 100,00
Rata – rata 83,20
Ketuntasan 88,00
41
Dari tabel tentang di atas dapat diterangkan sebagai berikut pada
siklus II nilai rata-rata hasil belajar sebesar 83,20 dan jumlah siswa yang
telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 22 siswa (88,00%). Melihat
hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer menyimpulkan
bahwa hasil tes prestasi belajar menunjukkan hasil 83,20. Hal ini
menunjukkan bahwa tes prestasi belajar sudah memenuhi kriteria
keberhasilan karena berada di atas angka kriteria minimal ketuntasan
(KKM) sebesar 78, dengan jumlah siswa yang telah tuntas belajarnya
sebanyak 22 siswa (88,00%) dan telah mencapai kriteria keberhasilan
sebesar 85%.
c. Observasi
Penjelasan mengenai aspek aktivitas belajar yang diamati dengan
10 indikator, yaitu turut aktif dalam proses pembelajaran, mengikuti
pelajaran dengan baik, mengerjakan tugas baik terstruktur maupun tanpa
terstruktur di kelas dan di rumah dengan baik, mengambil keterangan
atau informasi dari buku, berinisiatif mempelajari dan mengerjakan
materi pelajaran yang belum dan akan diajarkan, menyelidiki jawaban
atas pertanyaan, menyampaikan pendapat, ide atau sanggahan, mencari
jalan memecahkan masalah, membuat catatan ringkas, menyampaikan
jawaban hasil diskusi kelompok maupun mandiri. Hasil observasi pada
pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus I sebagaimana tabel di
bawah ini :
Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Observasi Peningkatan Aktivitas
Siswa pada Siklus II
No Uraian Jumlah Ket
1 Siswa Tuntas 24
2 Persentase Tuntas 96,00
3 Siswa Belum Tuntas 1
4 Persentase Belum Tuntas 4,00
5 Ketuntasan Klasikal 96,00
Dari data pada tabel di atas dapat diperoleh keterangan sebagai
berikut pada siklus ke II, siswa yang menunjukkan peningkatan keaktifan
42
belajar sebanyak 24 siswa atau 96,00%, pada siklus ke II, dan terdapat
1 siswa atau 4,00% siswa yang belum meningkat keaktifan belajarnya.
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer
menyimpulkan bahwa keaktifan belajar mencapai angka 96,00%.
d. Refleksi
Dari analisis hasil penelitian siklus II, diperoleh data berupa hasil
observasi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa pada
pembelajaran IPS melalui model NHT. Data tersebut kemudian dianalisis
kembali bersama guru kolaborator (observer) sebagai bahan prtimbangan
untuk memperbaiki pembelajaran selanjutnya. Refleksi tindakan pada
siklus II ini lebih difokuskan pada permaslahan yang muncul dan
keberhasilan yang tampak selama pembelajaran. Permasalahan dan
keberhasilan tersebut adalah sebagai berikut :
1) Sebagian besar siswa sudah memahami materi pembelajaran.
2) Media yang dibuat sudah dikemas lebih menarik karena ditambahkan
efek suara.
3) Keterampilan guru meningkat dibandingkan dengan siklus- siklus
sebelumnya.
4) Aktivitas siswa juga meningkat dan telah mencapai indikator
keberhasilan yaitu sekurang-kurangnya ketuntasan klasikal 85%.
5) Pada saat kegiatan presentasi hasil diskusi tidak ada siswa yang
membuat kegaduhan atau mengganggu jalannya presentasi sehingga
presentasi lancar.
B. Hasil Penelitian
Pada studi awal dimana peneliti menggunakan metode pembelajaran
klasikal, ternyata hasil ketuntasan belajar sangat mengecewakan, yaitu 4 siswa
atau sebesar 16,00% yang tuntas belajar dari 25 orang siswa yang mengikuti
kegiatan pembelajaran. Upaya perbaikan yang dilakukan adalah menggukana
model NHT akan sangat membantu dalam membangkitkan aktivitas
belajar siswa, ini terbukti dari hasil belajar yang diberikan pada setiap
siklusnya mengalami peningkatan di mana pada siklus I nilai rata-rata
43
yang diperoleh siswa studi awal sebesar 64,40, pada siklus I nilai rata-rata
yang diperoleh siswa adalah 73,20 dan pada siklus II rata-rata nilai yang
diperoleh siswa adalah 83,20. Rekapitulasi nilai hasil Tes formatif siswa
dari kondisi awal, siklus I sampai dengan siklus II dapat dilihat dari tabel di
bawah ini.
Tabel 4.7 Nilai Hasil Tes Formatif Temuan Awal, Siklus I dan Siklus
II
Tuntas Belum Tuntas
No Kegiatan Nilai
Jml % Jml %
1 Pra Siklus 64,40 4 16,00 21 84,00
2 Siklus I 73,20 11 44,00 14 56,00
3 Siklus II 83,20 22 88,00 3 12,00
Dari tabel di atas dapat dijelaskan peningkatan nilai hasil dan ketuntasan
belajar siswa pada siklus I dan II secara terperinci sebagai berikut :
1. Siswa Tuntas Belajar
a. Pada temuan awal siswa yang tuntas sebanyak 4 siswa atau 16,00%
dari 25 siswa.
b. Pada siklus I siswa yang tuntas sebanyak 11 siswa atau 44,00% dari
25 siswa
c. Pada siklus II siswa yang tuntas sebanyak 22 siswa atau 88,00% dari
25 siswa
2. Siswa Belum Tuntas Belajar
a. Pada temuan awal siswa yang belum tuntas sebanyak 21 siswa atau
84,00% dari 25 siswa.
b. Pada siklus I siswa yang belum tuntas sebanyak 14 siswa atau 56,00%
dari 25 siswa
c. Pada siklus II siswa yang belum tuntas sebanyak 3 siswa atau 12,00%
dari 25 siswa.
Untuk memperjelas, maka dari penjelasan sebagaimana tersebut di atas
dalam bentuk tabel sebagaimana di bawah ini :
44
Untuk memperjelas kenaikan ketuntasan belajar siswa dan penurunan
ketuntasan belajar siswa dapat dilihat pada diagram batang di bawah ini :
Gambar 4.1 Grafik Peningkatan dan Penurunan Ketuntasan Belajar
Siswa Siklus I dan II
Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa sebelum dilaksanakan
perbaikan pembelajaran melalui penerapan model NHT pada pembelajaran
IPS, diperoleh keterangan sebagai berikut nilai rata-rata hasil belajar
mengalami kenaikan dari siklus awal 64,40, pada siklus I nilai rata-rata
yang diperoleh siswa adalah 73,20 dan pada siklus II rata-rata nilai yang
diperoleh siswa adalah 83,20. Peningkatan nilai rata-rata hasil belajar siswa
dalam bentuk grafik sebagaimana gambar di bawah ini :
Gambar 4.2 Grafik Peningkatan Nilai Rata-rata Belajar Siswa Pada
Siklus I dan II
45
Keberhasilan proses perbaikan pembelajaran tidak hanya dilihat dari
peningkatan hasil belajar atau nilai Tes formatif saja. Aktivitas belajar siswa
selama proses pembelajaran juga merupakan indikator keberhasilan dalam
proses pembelajaran. Data aktivitas siswa diperoleh dari lembar observasi
yang telah diisi oleh observer selama perbaikan pembelajaran berlangsung.
Fokus observasi difokuskan pada aspek-aspek bisa menjawab, mau bertanya
dan aktif dalam kegiatan diskusi. Hasil observasi pada pelaksanaan kegiatan
perbaikan pembelajaran menunjukkan hasil yang positif, dan dibuktikan
dengan adanya peningkatan aktivitas siswa pada setiap siklusnya.
Secara rinci penjelasan mengenai peningkatan aktivitas siswa dalam
proses perbaikan pembelajaran sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 4.8 Rekapitulasi Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa pada
Temuan Awal, Siklus I dan Siklus II
Jumlah Siswa Tuntas Siswa Belum Tuntas
No Uraian
Siswa Frekuensi % Frekuensi %
1 Awal 25 6 24,00 19 76,00
2 Siklus I 25 13 52,00 12 48,00
3 Siklus II 25 24 96,00 1 4,00
Secara jelas peningkatan aktivitas siswa selama proses perbaikan
pembelajaran sebagaimana dijelaskan pada gambar di bawah ini :
Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Siswa Berdasarkan Tingkat Aktivitas
Siswa Pada Siklus I dan II
46
Dari hasil observasi mengenai aktivitas siswa tersebut berdasarkan
kriteria keberhasilan perbaikan pembelajaran dapat disimpulkan bahwa proses
perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil karena peningkatan aktivitas
siswa mencapai angka 96,00% dari 85% batasan minimal yang telah
ditentukan pada kriteria keberhasilan proses perbaikan pembelajaran.
Atas dasar pertimbangan sebagaimana diurakan di atas, maka peneliti
dan observer sepakat memutuskan bahwa kegiatan perbaikan pembelajaran
diakhiri pada siklus II.
C. Pembahasan
Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk mengetahui
peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa dengan penerapan pembelajaran
tipe Numbered HeadsTogether (NHT). Kondisi awal penelitian diperoleh
melalui hasil analisis pada kegiatan prasiklus. Berdasarkan hasil kegiatan
prasiklus tersebut diketahui bahwa pelaksanana proses pembelajaran di kelas
IX B SMPN Neonbat mempunyai permasalahan diantaranya (1) metode
pembelajaran konvensional yang lebih menitik beratkan pada kegiatan
pengajaran ceramah, karena selain sederhana dan mudah dilaksanakan, metode
ini juga tidak memakan banyak waktu. Tetapi metode ini memberikan kesan
siswa cenderung hanya sebagai obyek dan membatasi siswa untuk berperan
aktif dalam kegiatan pembelajaran, (2) sebagian siswa berpendapat bahwa
pelajaran IPS dianggap sulit, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar
yang diperoleh siswa, dan (3) penggunaan model, metode dan media
pembelajaran yang belum tepat sesuai dengan karakteristik siswa sehingga
fungsi model, metode dan media pembelajaran sebagai pembawa informasi
atau pesan pembelajaran belum sesuai dengan pemahaman siswa. Hal ini
berakibat pada rendahnya aktivitas dan hasil belajar siswa.
Pembahasan dalam penelitian tindakan kelas ini difokuskan pada 2
aspek yaitu aktivitas dan hasil belajar siswa sebagaimana dijelaskan di bawah
ini.
47
1. Aktivitas Belajar
Setelah melakukan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan
Numbered Heads Together (NHT) ini, aktivitas belajar siswa dapat
meningkat, sebagaimana pengamatan dari siklus I sampai dengan siklus II.
Tidak lupa, pada setiap siklusnya penulis dan guru mengadakan refleksi
sehingga pembelajaran menggunakan model pembelajaran tipe Numbered
Heads Together (NHT) ini menjadi lebih baik.
Berdasarkan hasil analisis data aktivitas belajar siswa pada siklus I
dan siklus II dengan menggunakan 10 indikator yaitu turut aktif dalam
proses pembelajaran, mengikuti pelajaran dengan baik, mengerjakan tugas
baik terstruktur maupun tanpa terstruktur di kelasdan di rumah dengan baik,
mengambil keterangan atau informasi dari buku, berinisiatif mempelajari
dan mengerjakan materi pelajaran yang belum dan akan di ajarkan,
menyelidiki jawaban atas pertanyaan, menyampaikan pendapat, ide atau
sanggahan, mencari jalan memecahkan masalah, membuat catatan ringkas,
menyampaikan jawaban hasil diskusi kelompok maupun mandiri,
menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran meningkat.
Pada kondisi awal hanya terdapat 6 siswa atau 24,00% yang dinyatakan
tuntas, pada siklus I meningkat menjadi 13 siswa atau 52,00% , dan pada
siklus II meningkat menjadi 96,00% atau 24 siswa dinyatakan meningkat
aktivitas belajarnya.
Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran siswa akan keberhasilan
dalam pembelajaran sangatlah penting. Peningkatan tersebut karena adanya
kesadaran akan kebutuhan mereka dalam belajar. Dan juga, karena
himbauan guru agar saat mempresentasikan jawaban ke depan kelas tidak
membawa catatan hasil diskusi kelompok. Dengan begitu, siswa menjadi
lebih termotivasi untuk belajar dan memahami materi pembelajaran yang
telah disampaikan.
2. Hasil Belajar
Adapun untuk mengetahui peningkatan prestasi hasil belajar siswa,
peneliti melakukan tes pada akhir pembelajaran setiap siklusnya. Setelah
48
melakukan penelitian tindakan kelas ini, diketahui bahwa ada peningkatan
rata-rata hasil belajar siswa.
Hasil tes menunjukkan bahwa ada peningkatan rata-rata nilai dari pra
siklus, siklus I ke siklus II yang tadinya 64,40 menjadi 73,20 dan 83,20
pada siklus terakhir dengan penjelasan ketuntasan belajar dari 4 siswa
(16,00%) pada kondisi awal, meningkat menjadi 11 siswa (44,00%) dan 22
siswa (88,00%) pada siklus kedua. Hal ini dikarenakan metode
pembelajaran yang digunakan membuat siswa lebih aktif didalam proses
pembelajaran, yang mana pada prakteknya menuntut siswa untuk lebih
keras dalam memahami materi yang disampaikan. Hal ini tidak terlepas
pada saat siswa mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas, mereka
tidak tahu siapa yang akan maju ke depan kelas. Dengan adanya hal
tersebut, siswa seolah-olah mempunyai dorongan/ motivasi untuk
memahami materi yang telah disampaikan.
Hal ini dapat peneliti simpulkan bahwa pembelajaran dengan model
pembelajaran kooperatif type Numbered Head Together (NHT) selain
meningkatkan aktivitas siswa juga meningkatkan hasil belajar siswa serta
respon siswa menunjukan respon positif. Dengan demikian hipotesis
tindakan dalam Penelitian Tindakan Kelas ini, yang menyatakan bahwa
dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif type numbered head
together (NHT) dalam materi kondisi geografis benua Asia dan benua
lainnya melalui peta rupa bumi, maka aktivitas hasil belajar siswa kelas IX
B SMPN Neonbat Semester 1 Tahun Pelajaran 2018/2019 menunjukkan
peningkatan yang signifikan dan dapat diterima.