Pengaruh Kualitas Pelayanan Lab Komputer
Pengaruh Kualitas Pelayanan Lab Komputer
Oleh:
BOGOR
2015
1
HALAMAN PENGESAHAN
Menyetujui,
Ketua Lembaga Penelitian
2
3
BAB I
PENDAHULUAN
Proses meningkatkan sumber daya manusia yang memiliki intelektual dan unggul,
mampu bersaing dalam bidangnya, tidak terlepas dari peranan Perguruan Tinggi sebagai
berkualitas. Proses belajar dan mengajar saja tidak cukup tetapi perlu didukung dengan
komputer merupakan salah satu sarana pelayanan yang dipergunakan sebagai penunjang
diupayakan guna memenuhi kebutuhan dan kepuasan mahasiswa sebagai pengguna serta
Laboratorium tentu tidak hanya digambarkan sebagai ruangan yang penuh dengan
berfungsi lebih jauh, seperti dipergunakan sebagai unit bisnis atau unit pengabdian
kepada masyarakat dengan mengundang khalayak umum atau masyarakat untuk belajar
(mahasiswa) menjadi salah satu tujuan pelayanan suatu Laboratorium Komputer. Untuk
fisik tetapi perlu juga diperhatikan sumber dan akses informasi, kualitas pelayanan, dan
pemakai.
teknis di lingkungan STIE Kesatuan Bogor dengan fasilitas yang relatif memadai. Namun
4
demikian, masih diakui bahwa masih terdapat keluhan yang disampaikan oleh para
mahasiswa. Tentu hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja. Diperlukan perhatian dan
mencoba melihat pengaruh tersebut berdasarkan pada lima dimensi, yaitu: Bukti fisik,
adalah aspek-aspek nyata yang bisa dilihat dan diraba, termasuk sumber daya manusia.
umum atau kemampuan mewujudkan jasa sesuai dengan yang telah dijanjikan secara
cepat. Ketanggapan, adalah keinginan untuk membantu mahasiswa dan menyediakan jasa
jasa serta dapat menangkap aspirasi-aspirasi yang muncul dari mahasiswa. Jaminan,
sumber daya dalam memberikan pelayanan yang sesuai dengan standar. Empati, adalah
5
1.3 Pendekatan Masalah
memanfaatkan dari produk jasa Laboratorium Komputer. Gronroos (dalam Ratminto dan
Winarsih 2005) ”Pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian aktivitas yang bersifat
tidak kasat mata (tidak dapat diraba) yang terjadi sebagai akibat adanya interaksi antara
konsumen dengan karyawan atau hal-hal lain yang disediakan oleh perusahaan pemberi
pelanggan dapat dipenuhi. Suatu pelayanan dinilai dapat memuaskan bila pelayanan
mahasiswa merupakan elemen penting dalam menyediakan pelayanan yang lebih baik,
lebih efesien dan lebih efektif. Kotler (1995) menyatakan ”Kepuasan konsumen
merupakan fungsi dari seberapa dekat antara harapan pembeli atas suatu produk dengan
daya guna yang dirasakan dari produk tersebut”. Seandainya produk tersebut berada di
bawah harapan pelanggan, maka pelanggan tersebut merasa dikecewakan (tidak puas) dan
jika memenuhi harapan maka pelanggan tersebut merasa puas. Hubungan kualitas
pelayanan dengan kepuasan sangat erat sekali. Pelanggan akan merasa puas bila mereka
mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan.
melakukan lebih banyak transaksi dengan vendor tersebut. Heskett et al. (dalam Gefen,
2002) menyatakan ”Salah satu cara untuk meningkatkan loyalitas pelanggan adalah
dengan memberikan pelayanan yang berkualitas baik, yang diharapkan dapat membuat
6
pelanggan untuk kembali melakukan transaksi dengan vendor tersebut”. Hubungan
kepuasan dengan loyalitas adalah berkaitan, walaupun keterkaitannya adalah tidak selalu
harus dimulai dengan memberikan kualitas produk/jasa yang unggul atau superior,
Berdasarkan kepada teori-teori dan pendapat para pakar yang tersebut di atas maka
dapat disusun sebuah kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
7
4. Jaminan berpengaruh positif terhadap kepuasan mahasiswa dalam menggunakan
8
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
pelayanan yang biasanya menjadi bagian dari Jurusan atau Program Studi yang
informasi dan teknologi, hampir seluruh mata kuliah di Perguruan Tinggi diarahkan untuk
optimal dan lebih berkembang. Sebut saja, mata kuliah Statistika, E-Commerce, Riset
Pemasaran, merupakan mata kuliah yang tidak terlepas dari penggunaan sarana di
Laboratorium Komputer.
Lebih jauh lagi, Laboratorium Komputer dapat dikembangkan sebagai unit bisnis
Komputer.
Jasa adalah seluruh dari aktifitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk
dalam bentuk fisik atau konstruksi atau tak kasat mata, yang biasanya dikonsumsi pada
Menurut Zethaml dan Bitner (dalam Lupiyoadi, 2001) ”Jasa adalah seluruh
aktifitas ekonomi yang hasilnya tidak merupakan produk dalam bentuk fisik atau
konstruksi, yang biasanya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang
9
dihasilkan”. Definisi lain yang dikemukakan oleh Kotler (2000) ”Jasa adalah setiap
tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang
pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun”, sedangkan
menurut Rangkuti (2003) ”Jasa adalah merupakan pemberian suatu kinerja atau tindakan
tak kasat mata dari satu pihak kepada pihak lain”. Pada umumnya pemasaran jasa sama
pemasaran industri manufaktur produknya berupa barang yang berwujud, tahan lama, dan
dimiliki sepenuhnya.
Kotler dan Amstrong (2001) menyatakan ”Produk adalah semua yang dapat
ditawarkan kepada pasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau dikonsumsi yang
adalah jasa, yang memiliki karakteristik jasa”. Dapat dipahami bahwa jasa selalu ada
aspek interaksi antar pihak konsumen dan pemberi jasa, kadang-kadang antara pihak
konsumen dan pemberi jasa tidak menyadari bahwa mereka sudah terjadi transaksi jasa,
hal ini disebabkan karena jasa bukan merupakan barang melainkan suatu proses atau
Menurut Berry (dalam Yazid, 1999) “Jasa adalah deeds (tindakan, prosedur,
menurut mereka, wujud jasa bisa mencakup laporan akhir yang tangible, atau berupa
tersebut adalah :
a. Intangibility, jasa tidak dapat dilihat, dirasa, diraba, didengar atau dicium sebelum jasa
itu dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai tidak berwujud yang dialami
10
b. Unstorability, jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang
telah dihasilkan. Karakteristik ini disebut juga tidak dapat (inseparability) dikisahkan
c. Customization. jasa juga sering kali didesain khusus untuk kebutuhan pelanggan,
yaitu:
a. Intangibility, jasa mempunyai sifat tidak berwujud, karena tidak bisa dilihat,
dirasakan, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa itu dibeli. Untuk mengurangi
ketidak pastian, pembeli akan mencari tanda atau bukti dari kualitas jasa tersebut.
penyedianya merupakan bagian dari jasa itu. Karena klien juga hadir saat jasa itu
c. Variability, jasa tergantung pada siapa yang menyediakan serta kapan dan dimana
jasa itu diberikan. Pembeli jasa menyadari keragaman yang tinggi dan sering
d. Perishability, jasa tidak dapat disimpan karena tidak tahan lama. Sehingga dapat
dikatakan bahwa jasa dihasilkan pada saat ada permintaan akan jasa tersebut dan
Menurut Simamora (2001) ”Pelayanan adalah setiap kegiatan atau manfaat yang
ditawarkan suatu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak
11
pemenuhan kebutuhan melalui aktivitas orang lain”. Sedangkan menurut Ivencevich et al.
(dalam Ratminto dan Winarsih, 2005) ”Pelayanan adalah produk-produk yang tidak kasat
mata (tidak dapat diraba) yang melibatkan usaha-usaha manusia dan menggunakan
peralatan”.
Menurut Hornby (2000) “Service is a system that provides something that the
pelayanan adalah suatu sistem yang memenuhi sesuatu kebutuhan publik, diorganisasikan
Ada beberapa jenis pelayanan yang ditawarkan oleh suatu perusahaan pada pasar,
pelayanan ini dapat merupakan bagian terkecil atau bagian utama dari keseluruhan
penawaran tersebut. Penawaran biasa saja berupa barang pada satu sisi dan layanan murni
pada sisi lain. Penawaran dari suatu perusahaan dapat diklasifikasikan, menurut
a. Produk berwujud murni, penawaran semata-mata hanya terdiri dari produk fisik
misalnya sabun mandi, pasta gigi atau sabun cuci tanpa pelayanan lainnya yang
b. Produk berwujud disertai dengan layanan pendukung, pada kategori ini penawaran
terdiri dari suatu produk fisik disertai dengan satu atau beberapa layanan untuk
produknya. Misalnya seperti seseorang yang baru membeli sepeda motor Honda,
maka konsumen tersebut akan diberi pelayanan (service) sepeda motor gratis untuk
beberapa bulan.
c. Hybrid, penawaran yang terdiri dari barang dan layanan dengan proporsi yang sama
12
d. Pelayanan utama yang disertai barang dan layanan tambahan, penawaran terdiri dari
psikologi.
Kualitas adalah merupakan variabel yang sangat penting dalam dunia bisnis,
suatu definisi operasional, sehingga dapat diukur dengan suatu instrumen. Menurut
Ellitan (2001); Dimensi kualitas pelayanan pada industri jasa yaitu (1) Fungsi, kinerja
primer yang dituntut dari suatu jasa (2) Karakteristik, kinerja yang diharapkan (3)
Kehandalan, kepercayaan terhadap jasa dalam kaitan waktu (5) Kemampuan pelayanan,
Pada penelitian lanjutnya oleh Parasuraman, et al. (1988) terdapat 5 (lima) dimensi
personil.
Laboratorium Komputer
13
2.4 Teori Tentang Kepuasan
kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi. Suatu pelayan dinilai dapat memuaskan bila
lebih baik, lebih efesien dan lebih efektif. Apabila pelanggan tidak merasa puas terhadap
suatu pelayanan yang disediakan, maka pelayanan tersebut dapat dipastikan tidak efektif
Menurut Irawan (2003); Seorang pelanggan yang puas adalah pelanggan yang
merasa mendapatkan value dari pemasok, produsen atau penyedia jasa. Value ini berasal
dari produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Pelanggan yang puas
adalah pelanggan yang akan berbagi kepuasan dengan produsen atau penyedia jasa.
Bahkan pelanggan yang puas akan berbagi pengalaman dengan pelanggan lain. Ini
Menurut Lupiyoadi ( 2001), ada lima faktor yang menentukan tingkat kepuasan,
yaitu :
a. Kualitas produk, pelanggan akan merasa puas apabila hasil evaluasi mereka
b. Kualitas pelayanan, terutama untuk industri jasa, pelanggan akan merasa puas bila
mereka mendapatkan pelayanan yang baik atau yang sesuai dengan yang diharapkan.
orang lain akan kagum kepadanya bila menggunakan produk dengan merek tertentu
14
d. Harga, produk yang mempunyai kualitas yang sama tetapi menetapkan harga yang
relatif murah akan memberikan nilai yang lebih tinggi kepada pelanggannya.
e. Biaya, pelanggan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu
membuang waktu untuk mendapatkan suatu produk atau jasa cenderung puas
Haryono (1998) ”Laboratorium Komputer yang baik dapat diukur dari keberhasilannya
Komputer”.
dalam penelitian ini, menggunakan 3 indikator yaitu (1) Mahasiswa merasa puas terhadap
kinerja (2) Kesesuaian pelayanan yang diberikan dengan harapan. (3) Kualitas
15
Lima faktor utama dari kualitas pelayanan yang harus diperhatikan oleh perusahaan
untuk mengetahui tingkat kepuasan pelanggan, menurut Parasuraman et al. (1988) yaitu
terutama untuk industri jasa. Pelanggan akan merasa puas bila mereka mendapatkan
dengan beberapa pendekatan sebagai berikut Kotler (dalam Lupiyoadi, 2001), yaitu :
pelanggan.
16
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Jalan Ranggagading No. 1 Bogor, selama tiga bulan mulai Juni 2013 sampai dengan
bulan Agustus 2013. Laboratorium Komputer STIE Kesatuan merupakan salah satu unit
pelaksana teknis dari institusi STIE Kesatuan yang menjalankan fungsi layanan
Laboratorium Komputer kepada para sivitas akademika STIE Kesatuan dan pihak
eksternal.
Komputer STIE Kesatuan Bogor, sedangkan survei dilakukan pada mahasiswa STIE
Kesatuan Bogor. Jenis penelitian adalah penelitian deskriptif kuantitatif yaitu untuk
mengetahui pengaruh kualitas pelayanan yang terdiri dari; bukti fisik, kehandalan,
ketanggapan, jaminan dan empati terhadap kepuasan mahasiswa. Sifat penelitian adalah
untuk mengetahui dan menjelaskan pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepuasan dan
a. Populasi, populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa STIE Kesatuan, terdiri dari
mahasiswa regular dan mahasiswa Karyawan yang terdaftar pada BAAK STIE
b. Sampel, penarikan sample penelitian ini menggunakan metode rumus Slovin, adapun
17
N
n
1 N e2
dimana:
n = Ukuran Sampel
N = Ukuran Populasi
e = Persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan
pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau
diinginkan
Dengan memperhatikan data jumlah mahasiswa sebanyak 1.772 orang dan tingkat
error (e) dalam penetapan responden = 10%, maka akan nampak perhitungan sebagai
berikut :
1.772
n
1 1.772 (0,10) 2
n 94,65812
n 95 orang (dibulatkan)
saja yang bertemu dengan peneliti dan dianggap cocok sebagai sumber data
saat peneliti melakukan penelitian dan sampel dipilih secara acak tanpa
18
3.4 Metode Pengumpulan Data
dijadikan responden
dengan pendidikan dan jumlah pegawai, jumlah mahasiswa dan laporan tahunan
a. Data Primer diperoleh dari pimpinan dan mahasiswa yang dijadikan responden
b. Data Sekunder diperoleh dari studi dokumentasi yang terdiri dari pendidikan dan
1. Variabel independent (bebas) kualitas pelayanan (X) yang terdiri dari; bukti fisik
(X1), kehandalan (X2), ketanggapan (X3), jaminan (X4), dan empati (X5).
19
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel Penelitian Pelayanan Laboratorium Komputer
Skala
Variabel Definisi Indikator
Pengukuran
Bukti Fisik (X1) Aspek-aspek 1. Fasilitas Lab Komputer lengkap Likert
nyata yang 2. Lab Komputer bersih, indah, nyaman dan
dapat dilihat rapi
pada 3. Petugas Lab Komputer berpenampilan bersih
Laboratorium dan rapi
Komputer 4. Fasilitas Lab Komputer bersih, nyaman dan
rapi
Kehandalan (X2) Aspek-aspek 1. Kesesuaian dan Ketepatan Waktu Pelayanan
kehandalan dengan jadwal yang telah tersusun
sistem 2. Perhatian serius Lab Komputer terhadap
pelayanan yang mahasiswa yang menghadapi masalah
diberikan oleh 3. Kehandalan lab komputer dalam
Lab Komputer penyampaina pelayanan dari awal sampai
akhir
4. Keakuratan dalam pengadministrasian dan
pendokumentasian
Ketanggapan Keinginan untuk 1. Petugas Lab Komputer tanggap dalam
(X3) membantu merespon keluhan dan permintaan
mahasiswan dan mahasiswa
menyediakan 2. Kesediaan petugas lab komputer dalam
jasa dan membantu kesulitan yang dihadapi
pelayanan yang mahasiswa
dibutuhkan 3. Keluangan waktu petugas lab komputer
menanggapi permintaan mahasiswa
4. Petugas lab komputer profesional dalam
melayani mahasiswa saat jam sibuk
Jaminan (X4) Adanya jaminan 1. Kompetensi petugas Lab Komputer dalam
yang diberikan pelayanan
berupa 2. Mahasiswa merasa nyaman selama
kenyamanan, berkomunikasi dan berhubungan dengan
kompetensi petugas lab komputer
sumber daya 3. Petugas Lab Komputer memiliki kesabaran
dalam saat pelayanan
pelayanan 4. Kekeliruan dan kesalahan yabng terjadi
segera diperbaiki
Empati (X5) Kemudahan 1. Petugas Lab Komputer mudah dalam
dalam memberikan pelayanan
mendapatkan 2. Petugas Lab Komputer ramah dalam
pelauanan, berkomunikasi melayani mahasiswa
keramahaman, 3. Perhatian petugas Lab Komputer secara
komunikasi dan individu kepada mahasiswa
memahami 4. Petugas Lab Komputer paham akan
kebutuhan kebutuhan dan perasaan mahasiswa
konsumen
Kepuasan Kepuasan 1. Perasaan Puas terhadap kinerja Lab
Mahasiswa dimana Komputer
Keinginan, 2. Kesesuaian Pelayanan Lab Komputer dengan
harapan dan harapan mahasiswa
kebutuhan dapat 3. Kualitas keseluruhan pelayanan yang
terpenuhi diberikan Lab Komputer
Sumber : Data diolah, 2013
20
Untuk mengetahui apakah instrumen angket yang dipakai cukup layak digunakan
sehingga menghasilkan data yang akurat sesuai dengan tujuan ukurannya maka dilakukan
uji validitas setiap butir pertanyaan dengan cara mengkorelasikan skor item masing-
masing variabel dengan skor total masing-masing variabel sehingga akan terlihat butir
instrumen yang layak dan tidak layak untuk mengukur variabel penelitian ini”. Koefisien
Menurut Umar (2004) “Jumlah responden untuk uji coba disarankan minimal 30
orang, agar distribusi skor (nilai) akan lebih mendekati kurva normal”.
Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan dengan software SPSS versi 18.00 untuk
melihat konsistensi jawaban. Menurut Sugiono (2003), “Reliabilitas yang dapat diterima
Untuk menganalisis data digunakan pendekatan Partial Least Square (PLS). PLS
adalah model persamaan Structural Equation Model (SEM) yaitu suatu teknik modeling
statistika yang merupakan kombinasi dari analisis principal component, analisis regresi
dan analisis path (Joko, 2010). SEM merupakan metode analisis data multivariat yang
bertujuan menguji model pengukuran dan model struktural variabel laten (Kusnendi,
2008). Ferdinand (2006) menyatakan beberapa alasan penggunaan program SEM sebagai
konstruk/konsep/faktor
b. Menguji kesesuaian atau ketepatan sebuah model berdasarkan data empiris yang
diteliti
21
c. Menguji kesesuaian model sekaligus hubungan kausalitas antar faktor yang dibangun
Secara teknis SEM dikembangkan berdasarkan dua kelompok yaitu SEM berbasis
kovarian yang diwakili LISREL dan SEM berbasis varian yang paling dominan adalah
Partial Least Square (PLS). Penggunaan PLS berkembang sangat pesat pada berbagai
organisasi, pemasaran dan perilaku pelanggan (Joko, 2010). Menurut Ghozali (2006),
PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis
kovarian menjadi berbasis varian. SEM yang berbasis kovarian umumnya menguji
Tujuan PLS adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten
untuk tujuan prediksi. Model formalnya mendefinisikan variabel laten adalah linier
yang powerfull (Ghozali, 2006), karena tidak didasarkan pada banyak asumsi. Misalnya,
data harus terdistribusi normal, sampel tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk
mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya
hubungan antar variabel laten. PLS dapat sekaligus menganalisis konstruk yang dibentuk
dengan indikator reflektif dan formatif. Model formalnya mendefinisikan variabel laten
komponen skor variable laten didapat berdasarkan bagaimana inner model (model
struktural yang menghubungkan antar variabel laten) dan outer model (model pengukuran
residual variance dari variabel dependen. Estimasi parameter yang didapat dengan PLS
dapat dikategorikan menjadi tiga. Pertama, adalah weight estimate yang digunakan untuk
menciptakan skor variabel laten. Kedua, mencerminkan estimasi jalur (path estimate)
yang menghubungkan variabel laten dan antar variabel laten dan indikatornya (loading).
Ketiga, berkaitan dengan means dan lokasi parameter (nilai konstanta regresi) untuk
22
indikator dan variabel laten. Untuk memperoleh ketiga estimasi ini, PLS menggunakan
proses iterasi 3 tahap dan setiap tahap iterasi menghasilkan estimasi. Tahap pertama,
menghasilkan weight estimate, tahap kedua menghasilkan estimasi untuk inner model dan
outer model, dan tahap ketiga menghasilkan estimasi means dan lokasi (Ghozali, 2006).
menggambarkan hubungan antar variabel laten berdasarkan pada teori substantif. Model
GeisserQ-square test untuk predictive relevance dan uji t serta signifikansi dari koefisien
parameter jalur struktural. Dalam menilai modal dengan PLS dimulai dengan melihat R-
square untuk setiap variabel laten dependen. Interpretasinya sama dengan interpretasi
pada regresi. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel
laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh
yang substantif (Ghozali, 2006). Disamping melihat nilai Rsquare, model PLS juga
square mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi
parameternya.
Convergent validity dari model pengukuran dengan model reflektif indikator dinilai
berdasarkan korelasi antara item skor/komponen skor dengan konstruk skor yang dihitung
dengan PLS. Ukuran reflektif dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan
konstruk yang ingin diukur. Namun demikian untuk penelitian tahap awal dari
pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,5 sampai 0,60 dianggap cukup (Chin,
1998 dalam Ghozali, 2006). Discriminant validity dari model pengukuran dengan
reflektif indikator dinilai berdasarkan cross loading pengukuran dengan konstruk. Jika
23
korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya,
maka akan menunjukkan bahwa konstruk laten memprediksi ukuran pada blok yang lebih
baik daripada ukuran blok lainnya. Metode lain untuk menilai discriminant validity
adalah membandingkan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE) setiap
konstruk dengan korelasi antara konstruk lainnya dalam model. Jika nilai akar AVE setiap
konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antar konstruk dengan konstruk lainnya dalam
model, maka dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik. Pengukuran ini
dapat digunakan untuk mengukur reabilitas component score variabel laten dan hasilnya
harus lebih besar 0,50 (Fornnel dan Larcker, 1981 dalam Ghozali, 2006). Composite
reability yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi dengan dua macam ukuran yaitu
dikembangkan oleh Jan-Bernd Lohmoller under DOS dan disebut LVPLS versi 1.8
(Latent Variable Partial Least Squares) (Ghozali, 2008). Kemudian software tersebut
dikembangkan pula software PLS yang diberi nama SMARTPLS versi 2.0 M yang
administrasi. Penyelesaian surat-surat izin dan administrasi adalah pekerjaan awal yang
dari keberadaan kegiatan survey pelayanan perpustakaan STIE Kesatuan Bogor. Untuk
24
selanjutnya dapat dirumuskan rekomendasi peningkatan kualitas layanan Laboratorium
PEKAN
No KEGIATAN
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Pendalaman instrumen survey
2 Perizinan dan Konfirmasi Pelaksanaan Survey
3 Uji coba (try-out) instrumen penelitian
Pengumpulan data melalui penyebaran
Quisioner kepada para Mahasiswa yang
4
menggunakan Laboratorium Komputer STIE
Kesatuan Bogor
5 Kompilasi data dari semua lembaran Quisioner
6 Validasi atau verifikasi data hasil survey
Pengolahan dan analisis data oleh Tim
7
Pelaksana
Presentasi draft laporan hasil penelitian kepada
8 Pengelola Lab Komputer dan LPPM STIE
Kesatuan Bogor.
Finalisasi laporan hasil penelitian oleh Tim
9
Pelaksana.
10 Pelaporan.
25
DAFTAR PUSTAKA
Budiharjo, Utari. 1993. ”Informasi, Kebutuhan Pemakai dan Jasa Informasi”. Majalah IPI
4 (3) : 105 – 113.
Cohen, Jacob. 1988. Statistical Power Analysis for the Behavioral Sciences (second ed.).
Lawrence Erlbaum Associates.
Ellitan, Lenna. 2001. “Strategi Mendongkrak Kualitas Pelayanan”. Jurnal Ekonomi
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia 15/Th. X.
Gefen, David. 2002. “Customer Loyalty in E-Commerce.“ Journal of The Association for
Information Systems 3
Ghozali, Imam. 2005. Analisis Multi Variat dengan Program SPSS. Edisi Ketiga.
Universitas Diponegoro, Semarang.
Irawan, Handi. 2003. 10 Prinsip Kepuasan Pelanggan. Elex Media Komputindo, Jakarta.
Kotler, Philip and Alan R. Andreason. 1995. Strategi Pemasaran untuk Organisasi
Nirlaba. Edisi Ketiga. Penerjemah Ova Emi Emiliam. Penyunting Mubasyir Hasan
Basri. Gadjah Mada University, Yogyakarta.
Kotler, Philip. 2000. Marketing Management. Jilid Pertama. Penerjemah Herujati
Purwoko. Erlangga, Jakarta.
Kotler, Philip and Gary Armstrong. 2001. Dasar-Dasar Pemasaran. Edisi Kesembilan.
Jilid Pertama. Penerjemah Alexander Sindoro. PT. Indeks, Jakarta.
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi Bagaimana Meneliti
dan Menulis Tesis. Erlangga, Jakarta.
Lupiyoadi, Rambat. 2001. Manajemen Pemasaran Jasa : Teori dan Praktek. Salemba
Empat, Jakarta.
Mardalis, Ahmad. 2005. ”Meraih Loyalitas Pelanggan”. Jurnal Manajemen dan Bisnis 9
No. 2 (Tahun 2005) : 111-119.
Maulana, Amalia E. 2005. ”Membentuk Loyalitas Konsumen.”. Majalah Swa (2007).
Muljani, Sri. 1999. ”Persepsi Pemakai Terhadap Kualitas Jasa Layanan Laboratorium
Komputer Universitas Indonesia”. Tesis. Universitas Indonesia.
Mubarak, M.M. and Puspitasari, R., 2012. Mengukur Keputusan Nasabah Melalui
Analisis Brand Association Studi Kasus pada Bank Muamalat Indonesia–
Cabang Bogor. Jurnal Ilmiah Ranggagading (JIR), 10(1), [Link]-45.
Parasuraman, A. Zeithaml V.A. and Berry L.L. 1988. “A Multiple Item Scale for
Measuring Consumer Perception of Service Quality”. Journal of Retailling Vol.
64, spring: 12-14.
26
Rangkuti, Freddy. 2003. Teknik Mengukur dan Strategi Meningkatkan Kepuasan
Pelanggan. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Ratminto dan Atik Septi Winarsih. 2005. Manajemen Pelayanan : Pengembangan Model
Konseptual, Penerapan Citizen’s Charter dan Standar Pelayanan Minimal.
Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Sekaran, Uma. 2006. Metodologi Penelitian untuk Bisnis. Jilid Pertama. Edisi Keempat.
Penerjemah Kwan Men Yon. Salemba Empat, Jakarta.
Simamora, Bilson. 2001. Memenangkan Pasar dengan Pemasaran Efektif dan Profitabel.
Gramedia Pustaka Umum, Jakarta.
Tjiptono, Fandy. 2005. Pemasaran Jasa. Edisi Pertama. Bayumedia, Malang.
Umar, Husein. 2000. Research Methods in Pinance and Banking, Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
...................... 2003. Metode Riset Prilaku Organisasi. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Yazid. 1999. Pemasaran Jasa. Fakultas Ekonomi UII., Yogyakarta.
27