LAPORAN PENDAHULUAN
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI NY. I.K DENGAN
MASALAH KEPERAWATAN RESPIRATORY DISTRESS SYNDROME (RDS)
OLEH
JOY SANTI TIIP
83102823
MENGETAHUI
PEMBIMBING AKADEMIK PEMBIMBING KLINIK
Ns. Kornelius Nama Beni, [Link]., Maria Yuventa Wanda [Link].,Ns
[Link]
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MARANATHA
KUPANG
2024
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. PENGERTIAN
Sindrom gangguan pernapasan / Respiratory Distress syndrome (RDS)
adalah gangguan pada sistem pernapasan neonatus, khususnya karena
kurangnya surfaktan yang efektif dan kurangnya tekanan permukaan
alveoli untuk mencegah kolaps pada alveoli. (S. Suminto, 2019)
2. ETIOLOGI
Penyebab penyakit pernafasan yang paling umum ialah Respiratory
Distress syndrome (RDS). RDS sendiri ialah kurangnya surfaktan di paru-
paru. Surfaktan adalah cairan yang menutupi bagian dalam paru-paru.
Paru-paru janin mulai memproduksi surfaktan pada pertengahan ketiga
kehamilan (hingga minggu ke-26 persalinan).Surfaktan adalah zat di
dalam kantung udara pada paru-paru. Hal tersebut membantu menjaga
paru-paru tetap mengembang sehingga bayi bisa bernafas setelah
dilahirkan (NHLBI, 2021).
3. PATOFISIOLOGI
Neonatus yang lahir kurang bulan dengan keadaan paru-paru yang belum
siap seutuhnya untuk berfungsi sebagai organ pertukaran gas yang efektif.
Hal tersebut merupakan faktor penting terjadinya RDS. Ketidaksiapan
paru-paru melakukan fungsinya tersebut terlebih lagi disebabkan oleh tidak
adanya surfaktan atau kurangnya surfaktan. Kekurangan atau
ketidakefektifan fungsi sufaktan menyebabkan ketidakseimbangan
peningkatan pada saat inspirasi dan kolaps alveoli saat ekspirasi. Ketidak
adanya surfaktan, janin tidak mampu menjaga paru- parunya untuk tetap
mengembang. Setiap kali bernafas menjadi sulit dan memerlukan usaha
yang keras untuk mengembangkan parunya pada setiap hembusan napas
(ekspirasi). Hal tersebut menyebabkan bayi baru lahir lebih banyak
menggunakan oksigen untuk menghasilkan energi daripada menerima
sehingga mengakibatkan bayi merasa kelelahan. Jika bayi semakin
merasakan kelelahan, alveoli pada bayi akan semakin sedikit membuka.
Ketidakmampuan mempertahankan pengembangan paru ini dapat
menyebabkan atelektasis (Asrining Surasmi,2020). Kolaps paru dapat
menyebabkan terganggunya ventilasi pulmonal sehingga dapat
mengakibatkan hipoksia. Akibat dari hipoksia adalah kontraksi
vaskularisasi pulmonal yang menyebabkan penurunan oksigenasi jaringan
kemudian dapat menyebabkan metabolisme anaerobik. Metabolisme
anaerobik menghasilkan timbunan asam laktat sehingga terjadi asidosis
metabolik pada neonatus dan penurunan curah jantung yang menurunkan
perfusi ke organ fundamental. Atelektasis dan asidosis juga dapat
mengakibatkan aliran darah paru semakin sedikit dan dapat menyebabkan
berkurangnya pembentukan zat surfaktan. Atelektasis menyebabkan paru
tidak mampu mengeluarkan karbon dioksida dari sisa pernapasan sehingga
terjadi asidosis respiratorik. Penurunan pH menyebabkan vasokonstriksi
yang semakin berat. Dengan menurunnya sirkulasi pada paru-paru dan
perfusi alveolar, PaO2 akan menurun tajam, pH juga akan menurun
drastis, serta materi yang diperlukan untuk produksi surfaktan tidak
mengalir ke dalam alveoli. Sintesis surfaktan dipengaruhi sebagian oleh
pH, suhu dan perfusi typical, asfiksia, hipoksemia dan iskemia paru
terutama berkaitan dengan hipovolemia, hipotensi dan stress dingin dapat
menekan sintesis surfaktan. Lapisan epitel paru dapat juga terkena injury
akibat kadar oksigen yang tinggi dan pengaruh penatalaksanaan
pernapasan yang mengakibatkan penurunan surfaktan lebih lanjut
(Asrining Surasmi, Siti Handayani 2020). Akibat lain adalah kerusakan
endotel kapiler dan epitel duktus alveolus yang mengakibatkan terjadinya
transudasi ke dalam alveoli dan terbentuknya fibrin, selanjutnya fibrin
bersama-sama dengan jaringan epitel yang nekrotik membentuk suatu
lapisan yang disebut membran hialin. Membran hialin tersebut melapisi
alveoli dan menghambat pertukaran gas sehingga timbul masalah
gangguan pertukaran gas
Neonatus dengan gangguan pernapasan bisa menimbulkan efek
yang sangat berat bagi bayi itu sendiri yaitu kerusakan pada otak bahkan
sampai dengan kematian. Pengaruh dari gangguan sistem pernafasan
adalah hipoksia atau kekurangan oksigen pada tubuh bayi itu sendiri.
Tubuh bayi akan beradaptasi dengan hipoksia yaitu dengan mengaktifkan
metabolisme anaerob. Bilamana keadaan kekurangan oksigen semakin
memburuk dan dalam waktu lama, metabolisme anaerob akan
mengeluarkan asam [Link] asidosis memburuk dan aliran darah ke
otak menurun, otak dan organ lain dapat rusak karena hipoksia dan
iskemia. Pada tahap awal, terjadi hiperventilasi terlebih dahulu, lalu tahap
apnea primer. Dalam hal ini, bayi tampak ungu, tetapi peredaran darahnya
relatif baik. Peningkatan curah jantung dan kontraksi ringan pada
pembuluh darah di sekitarnya dapat menyebabkan peningkatan tekanan
darah dan refleks bradikardia. Depresi pernapasan dapat diobati saat ini
dengan meningkatkan stimulasi seperti impuls kulit yang masuk. Apnea
normal berlangsung sekitar 1-2 menit, dan apnea primer dapat berlangsung
lama dan sistem peredaran darah [Link] dan asidosis
miokard dapat memperburuk bradikardia, vasokonstriksi, dan hipotensi.
Kondisi ini dapat berlangsung hingga 5 menit, dan kemudian terjadi apnea
sekunder. Selama apnea berlangsung detak jantung, tekanan darah dan
kadar oksigen terus menurun. Bayi tidak merespon stimulus dan tidak
menunjukkan usaha untuk bernapas secara spontan. Jika pernapasan
buatan dan oksigen tidak segera dimulai, kematian akan terjadi (Marmi &
Rahardjo, 2020).
4. MANIFESTASI KLINIS
Kematangan paru sangat berpengaruh dengan tingkat keparahan
RDS atau beratnya gejala klinis. Gejala klinis akan semakin parah jika
berat badan dan usia kehamilan juga semakin rendah. Gejala akan muncul
setelah beberapa jam bayi dilahirkan. Bayi dengan RDS yang dapat
mempertahankan hidupnya pada 96 jam pertama memiliki prognosis yang
lebih baik. Gejala umum yang terjadi pada RDS adalah: sesak nafas (> 60x
/ menit), nafas pendek, ngorok, bibir keunguan, kulit pucat, kelelahan,
apnea dan pernafasan yang tidak teratur, suhu tubuh mengalami
penurunan, retraksi supra dan tulang dada bagian bawah, pernafasan lobus
hidung (Surasmi dkk, 2022).
5. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Pemeriksaan pada RDS menurut Warman (2021), antara lain :
1) Tes kematangan pada paru
Tes biokimia : Paru-paru pada janin berkaitan pada cairan amnion
maka dari itu jumlah fosfilipid pada cairan amnion berguna untuk
memperkirakan hasil surfaktan, sebagaimana menjadi tolak ukur
kematangan paru.
2) Analisa gas darah
Gas darah menentukkan respiratorik yang diiringi dengan kekurangan
oksigen dan asidosis metabolik. Asidosis terjadi akibat dari atelaksis
alveolus atau pembesaran pada jalan napas terminal.
3) Pemeriksaan radiografi dada
Pada neonatus yang mengalami RDS dibuktikan dengan tekanan saat
respirasi yang buruk,terdapat air bronchograms yaitu gambaran yang
ditunjukkan dengan bronkiolus yang terdapat udara di alveoli yang
kolaps. Gambaran pada jantung bisa saja membesar bahkan tidak
terdapat apa-apa/normal. Penemuan ini bisa saja berbeda hasil dengan
dilakukannya terapi surfaktan sedini mungkin dan tambahan ventilasi
mekanik yang tepat.
6. KOMPLIKASI
1) Komplikasi dalam waktu singkat
a. Ateletaktis atau paru-paru tidak terisi oleh udara
b. Adanya infeksi dikarenakan oleh keadaan klien yang menurun yang
dapat menyebabkan terjadinya ketidak seimbangan jumlah leukosit
dan dapat mengakibatkan trombositopeni.
c. Leukomalacia periventikuler dan perdarah intrakranial, bayi RDS
yang lahir kurang bulan dapat terjadi perdarahan intrakranial sebesar
20%-40%
2) Komplikasi dalam waktu lama
a. Komplikasi dalam waktu yang lama disebabkan oleh rusaknya suatu
zat, tekanan yang menetap didalam paru, berkurangnya oksigen yang
mengarah keseluruh organ dan otak. Komplikasi dalam waktu lama
yang sering terjadi :
b. Bronchopulmonary Dsyplasia (BPD) adalah keadaan dimana
gangguan pada paru-paru kronik yang disebabkan oleh pemberian
oksigen pada neonatus dengan masa kehamilan 36 minggu. BPD
berkaitan dengan meningkatnya volume dan tekanan yang
dimanfaatkan pada saat memakai ventilasi mekanik,terdapat infeksi,
perdangan, dan kekurangan vitamin A. BPD dapat terjadi lebih sering
dengan menurunnya masa kehamilan.
c. Retinopathy prematur, ketidaksempurnaan pada fungsi neurologi.
(Respiratory, AcuteSyndrome, Distress, 2018)
7. PENATALAKSANAAN MEDIS
Bayi baru lahir yang menderita RDS harus dirawat secara cepat
supaya tidak mengakibatkan komplikasi yang tidak diharapkan (Fida &
Maya, 2022) berikut beberapa penatalaksanaan yang dapat dilakukan :
1) Lingkungan yang ideal
Usahakan selalu untuk menjaga suhu tubuh dalam kisaran normal (36,5-
37). Untuk mendapatkan suhu tersebut dapat dilakukan pemberian
fototerapi. Kelembapan dalam ruangan juga harus mencukupi yaitu 70-
80%.
2) Memberikan oksigen
Dalam memberikan oksigen harus berhati-hati dikarenakan memiliki efek
yang buruk pada bayi yang lahir kurang bulan. Agar terhindar dari adanya
komplikasi, pemeriksaan analisis gas darah juga harus dilakukan untuk
mengiringi pemberian oksigen. Dan untuk menghindari terjadinya
kehilangan volume saat ekspirasi diharuskan tekanan jalan napas positif
secara berlanjut menggunakan alat bantu pernapasan.
3) Pemberian antibiotik
Memberikan antibiotik memilik tujuan untuk mencegah infeksi minor.
Neonatus dapat menerima penisilin dengan dosis 5.000-10.000 U/Kg
BB/hari bersamaan atau tidak dengan gentamicin 3-5/Kg BB/hari.
4) Pemberian surfaktan eksogen
Pemberian ini dapat melalui endotrakeal tube. RDS dapat diobati secara
efektif menggunakan obat ini.
PATHWAYS
PREMATURITAS
Surfaktan Tidak Adekuat Konjugasi bilirubin Reflek hisap belum kuat
belum baik
Respiratory Distress
Syndrome Intake tidak adekuat
Hiperbilirubi
n
Retraksi dada Ikterik Neonatus
Peningkatan Usaha Napas Usia <7Hari
Takipnea Kelelahan
Defisit Nutrisi
Pola Napas Tidak Efektif Intoleran aktivitas
(Jaessi,2018)
B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1) Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses pengumpulan data untukdiperoleh
berbagai informasi terkait masalah yang dihadapi [Link] ini dilakukan
dengan berbagai cara, wawancara dengan klien atau keluarga klien,
observasi,Pemeriksaan fisik dan uji diagnostik dilakukan di laboratorium. (Surasmi
dkk., 2013). Data yang dicari dalam riwayat keperawatan adalah
a. Kaji riwayat kehamilan saat ini (selama masa kehamilan, ibu menderita tekanan
darah rendah atau perdarahan)
b. Mengkaji riwayat bayi baru lahir (lahir aconite akibat hipoksia akut,Paparan hipotermia)
c. Evaluasi riwayat keluarga (respon keluarga aktif)
d. Evaluasi nilai apgar yang lebih rendah (jika hasilnya lebih rendah, lakukan Pemulihan
pada bayi/ resusitasi bayi).
e. Pemeriksaan fisik akan menunjukkan tanda dan gejala RDS. Seperti: sesak nafas (>
60x / menit), terdapat bunyi napas tambahan,terdapat tarikan pada dinding dada saat
bernafas, lobus paru-paru, terdapat pernapasan cuping hidung, pucat, rambut, apnea.
2). Diagnosa Keperawatan
1) Pola nafas tidak efektif b.d hambatan upaya napas d.d sesak napas, penggunaan
otot bantu pernapasan
2) Hiportermia b.d. terpapar suhu lingkungan rendah d.d. suhu tubuh dibawah nilai
normal
3). Intervensi keperawatan
No DIAGNOSA SLKI SIKI
1 Pola napas tidak Manejemen jalan napas
Setelah dilakukan tindakan
efektif Tindakan
keperawatan selama 3x24 jam Observasi
1. Monitor pola napas
diharapkan pola nafas klien membaik
(frekuensi,
dengan kriteria hasil : kedalaman, usaha
napas)
2. Monitor bunyi
1. Dispnea menurun
napas tambahan
(mis: gurgling,
2. Penggunaan otot bantu
mengi, wheezing,
napas menurun ronkhi kering )
3. Monitor sputum
(jumlah, warna,
aroma)
Tarapeutik
4. Pertahankan
kepatenan jalan
napas dengan head-
tilt dan chin-tilt
( jaw-thrust jika
curiga trauma
servikal)
5. Posisikan semi
fowler atau fowler
6. Berikan minum air
hangat
7. Lakukan fisioterapi
dada, jika perlu
8. Lakukan
penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
9. Lakukan
hiperoksigenasi
sebelum
penghisapan
endotrakeal
10. Keluarkan sumbatan
benda padat dengan
forsep McGill
11. Berikan oksigenasi ,
jika perlu
Edukasi
12. Anjurkan asupan
cairan 2000 ml/
hari, jika tidak
kontraindikasi
13. Ajarkan teknik
batuk efektif
Kolaborasi
14. Kolaborasi
pemberian
bronkodilator,
ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
2 Hiportermia b.d. Setelah dilakukan tindakan Tindakan
terpapar suhu keperawatan selama 3x24 jam Observasi
lingkungan rendah diharapkan termoregulasi membaik 1. Monitor suhu tubuh
d.d. suhu tubuh dengan kriteria hasil: 2. Identifikasi
dibawah nilai 1. Kulit merah menurun penyebab
normal 2. Suhu tubuh membaik hipotermia (mis,
3. \suhu kulit membaik terpapar suhu
lingkungan rendah,
pakaian tipis,
kerusakan
hipotalamus,
penurunan laju
metabolisme,
kekurangan lemak
subkutan)
3. Monitor tanda dan
gejala hipotermia
(hipotermia ringan,
takipnea, disatria,
menggigil,
hipertensi,diuresis,
hipotermia sedang:
aritmia, hipotensi,
apatis, koagulopi,
refleks menurun;
hipotermia berat:
oliguria, refleks
menghilang, edema
paru, asam-basa
abnormal)
Tarapeutik
4. Sediakan
lingkungan yang
hangat ( mis)
5. Ganti pakian dan/
atau linen yang
basah
6. Lakukan
penghangatan pasif
(mis, selimut,
menutup kepala,
pakaian tebal)
7. Lakukan
penghangatan aktif
internal (mis, infus
cairan hangat,
oksigen hangat,
lavase peritoneal
dengan cairan
hangat)
Edukasi
8. Anjurkan makan/
minum hangat