0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan49 halaman

Pengaruh Pengetahuan Keluarga ASI Eksklusif

Diunggah oleh

megaarul2024
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan49 halaman

Pengaruh Pengetahuan Keluarga ASI Eksklusif

Diunggah oleh

megaarul2024
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

ASI eksklusif menurut World Health Organization (WHO)

merupakan pemberian hanya ASI saja tanpa cairan atau makanan padat

apapun kecuali vitamin, mineral atau obat batuk tetes atau sirup sampai bayi

berusia 6 bulan. Pemberian ASI eksklusif sejak bayi dilahirkan sangat baik

dilakukan karena bayi akan memperoleh kolestrum yang berupa air susu ibu

berwarna kekuningan yang keluar di hari pertama sampai hari ketiga saat ibu

menyusui (WHO, 2019).

Cakupan pemberian ASI eksklusif di Afrika Tengah sebanyak 25%,

Amerika Latin dan Karibia sebanyak 32%, Asia Timur sebanyak 30%, Asia

Selatan sebanyak 47% dan negara berkembang sebanyak 46%. Secara

keseluruhan, kurang dari 40 persen anak di bawah usia enam bulan diberi

ASI Eksklusif (Winda, Yessy, 2020).

Data dari United National Childrens Found (UNICEF) ada 123 negara

yang menunjukkan jika di seluruh dunia sebagian besar bayi pernah

menerima ASI dengan cakupan sebesar 95%, tetapi angka ini cukup

bermacam-macam antara negara yang berpenghasilan rendah, menengah dan

negara berpenghasilan tinggi. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah

hanya sebesar 4% bayi yang tidak mendapatkan ASI, lalu di negara

berpenghasilan tinggi sebesar 21% bayi tidak pernah menerima ASI (Unicef,

2018).
2

1
ASI eksklusif memiliki banyak manfaat bagi ibu maupun bayi yaitu

bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan pola asuh yang tepat akan tumbuh

dan berkembang secara optimal. ASI eksklusif membantu menurunkan angka

kesakitan dan kematian bayi, tidak mudah terserang penyakit infeksi,

meningkatkan ketahanan tubuh bayi, membantu perkembangan otak dan fisik.

Sedangkan, manfaat pemberian ASI eksklusif pada ibu yaitu mengembalikan

fungsi organ-organ ibu setelah melahirkan dan mencegah terjadinya kanker

payudara. pemberian ASI juga mampu mempererat ikatan emosional antara

ibu dan anak sehingga diharapkan akan menjadi anak dengan ketahanan

pribadi yang mampu mandiri (Kemenkes RI, 2021).

Pemberian ASI eksklusif yang kurang sesuai di Indonesia

menyebabkan derajat kesehatan dan gizi anak Indonesia masih

memprihatinkan (Kemenkes, 2020). Bayi yang tidak diberikan ASI secara

eksklusif mempunyai beberapa dampak negatif, bayi yang tidak diberikan

ASI eksklusif pada 6 bulan pertama memiliki risiko diare yang fatal dan

risiko kematian bayi lebih besar karena mengalami malnutrisi. Bayi yang

tidak mendapatkan pemberian ASI eksklusif memiliki risiko kematian karena

diare 3,94 kali (Haryani, dkk, 2020).

ASI eksklusif berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun

2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif adalah ASI yang diberikan kepada

bayi sejak dilahirkan selama enam bulan, tanpa menambahkan atau

mengganti dengan makanan atau minuman lain (kecuali obat, vitamin, dan
3

mineral). ASI mengandung kolostrum yang kaya akan antibodi karena

mengandung protein untuk daya tahan tubuh dan bermanfaat untuk

mematikan kuman dalam jumlah tinggi (Kemenkes RI, 2020)

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa pemberian ASI eksklusif

pada bayi berusia 0-5 bulan sebesar 71,58% pada 2021. Angka ini

menunjukkan perbaikan dari tahun sebelumnya sebesar 69,62%. Namun,

sebagian besar provinsi masih memiliki persentase pemberian ASI ekslusif di

bawah rata-rata nasional. Gorontalo tercatat sebagai provinsi dengan

persentase terendah yakni hanya 52,75%, diikuti Kalimantan Tengah dan

Sumatera Utara sebesar 55,98% dan 57,83%. Persentase pemberian ASI

eksklusif di Papua Barat dilaporkan sebesar 58,77%. Sementara, di

Kepulauan Riau sebesar 58,84%. DKI Jakarta juga termasuk provinsi yang

persentasenya di bawah nasional sebesar 65,63%. Persentase tertinggi

cakupan pemberian ASI eksklusif terdapat pada Provinsi Nusa Tenggara

Barat (86,26%). Persentase cakupan masih sesuai dengan target WHO 70%

dan 80% secara nasional (Kemenkes RI, 2023).

Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah salah satu pusat budaya di

Indonesia. Dinas Kesehatan Provinsi NTB telah menyelenggarakan beberapa

program untuk meningkatkan angka ASI eksklusif di Propinsi NTB seperti

kelompok pendukung ASI, konseling dan promosi ASI eksklusif pada ibu

menyusui, pelatihan inisiasi menyusu dini pada tenaga kesehatan, dan

menyediakan ruang menyusui di tempat-tempat kerja (Dinas Kesehatan

Provinsi NTB, 2024).


4

Menurut Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Timur Jumlah bayi

yang diberi ASI ekslusif dari 35 puskesmas yang berada di Kabupaten

Lombok timur berjumlah 1576 dengan persentase 73%. Penyebab gagalnya

pemberian ASI eksklusif tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja

melainkan banyak faktor yang memengaruhinya (Dinas Kesehatan Kabupaten

Lombok Timur, 2023).

Puskesmas Rarang adalah Puskesmas yang berada di Kabupaten

Lombok Timur, Puskesmas ini memiliki layanan untuk kesehatan ibu dan

anak. Kendala yang ada adalah dari pihak ibu dan keluarga yang belum

mengetahui secara rinci tentang ASI eksklusif. Masalah yang biasanya terjadi

adalah ketidaktahuannya ibu mengenai teknik dan pelekatan menyusui yang

benar (Puskesmas Rarang, 2024).

Menyusui tidak hanya memberikan manfaat untuk bayi, namun

memberikan manfaat juga bagi tubuh ibu. ASI yang diproduksi secara alami

oleh tubuh untuk memenuhi kebutuhan bayi dan merupakan makanan terbaik

untuk bayi. Cara menyusui yang baik dan benar akan memberikan dampak

yang positif bagi bayi. Ada beberapa manfaat dari teknik menyusui yang baik

dan benar yaitu putting susu tidak lecet, perlekatan menyusu pada bayi kuat,

bayi menjadi tenang dan tidak terjadi gumoh (Wahyuningsih, 2019).

Meskipun menyusui adalah sebuah fenomena alam, keberhasilan

menyusui dapat menjadi tugas yang kompleks bagi ibu dan bayi. Beberapa

faktor yang digunakan untuk mengukur keefektifan menyusui, termasuk

diantaranya adalah cara ibu memposisikan bayi di payudaranya, tingkat


5

kenyamanan ibu, jenis putting susu ibu, tekhnik menyusui bayi seperti reflex

rooting, pelekatan bayi, keaktifan bayi dalam menghisap dan bunyi menelan

(Pambudi, 2017).

Salah satu faktor yang menyebabkan kegagalan ibu dalam

memberikan bayinya ASI Eksklusif yaitu : kurangnya edukasi yang diberikan

oleh tenaga kesehatan terhadap ibu nifas sehingga mempengaruhi

pengetahuan ibu tentang ASI Ekslusif. Oleh karena itu, untuk meningkatkan

cakupan pemberian ASI Ekslusif pada bayi, maka edukasi yang diberikan

kepada ibu nifas perlu ditingkatkan agar keberhasilan dalam pemberian ASI

eksklusif dapat tercapai dengan baik. Selain itu, kegagalan pemberian ASI

Eksklusif pada bayi disebabkan karena adanya putting susu lecet, mastitis,

hepatitis dan sectio sesarea (Banowati, 2019).

Pengetahuan ini berpengaruh terhadap pemberian ASI eksklusif. Ibu

yang mempunyai pengetahuan baik, maka ibu memberian ASI secara

eksklusif kepada bayinya dan sebaliknya pengetahuan ibu yang kurang dapat

dipengaruhi oleh promosi atau iklan produk susu formula yang berpengaruh

kepada ibu sehingga ibu lebih tertarik untuk membeli susu formula

dibandingkan memberikan ASI secara eksklusif kepada bayinya

(Notoatmodjo, 2018)

Selain itu, motivasi keluarga merupakan faktor eksternal yang paling

besar pengaruhnya terhadap keberhasilan ASI eksklusif. Adanya motivasi

keluarga terutama suami maka akan berdampak pada peningkatan rasa

percaya diri atau motivasi dari ibu dalam menyusui. Motivasi dari keluarga
6

sangat menentukan bagi ibu dalam pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan

(Rusli, 2018)

Berdasarkan hasil studi pendahuluan dilakukan oleh peneliti pada

tanggal 2 Oktober 2024 di Puskesmas Rarang, jumlah ibu yang memberikan

bayinya ASI Eksklusif dari bulan Januari sampai dengan Agustus 2024

sebanyak 2.039 orang dan yang tidak diberikan ASI Eksklusif sebanyak 2.211

orang. Dilihat dari data tersebut menunjukkan bahwa jumlah ibu yang tidak

memberikan bayinya ASI Eksklusif lebih banyak dibandingkan dengan ibu

yang memberikan bayinya ASI Eksklusif. Kemudian dari 10 ibu yang

menyusui bayinya didapatkan hasil 2 orang dalam kategori baik, 5 orang

termasuk dalam kategori cukup, dan 3 orang dalam kategori buruk.

Sedangkan dari hasil wawancara diketahui bahwa sebagian besar ibu tidak

pernah mendapatkan informasi tentang teknik menyusui. Hal ini diperkuat

dengan tidak pernah diberikannya edukasi tentang teknik menyusui yang baik

dan benar oleh petugas kesehatan.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk

melaukan penelitian tentang pengaruh pengetahuan dan motivasi keluarga

terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Rarang.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun rumusan

masalahnya sebagai berikut : “Apakah Ada Pengaruh Pengetahuan dan

Motivasi Keluarga Terhadap Pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas

Rarang”.
7

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh

pengetahuan dan motivasi keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif di

Puskesmas Rarang.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pemberian ASI Eksklusif sebelum diberikan

pengetahuan di Puskesmas Rarang.

b. Mengidentifikasi pemberian ASI Eksklusif setelah diberikan

pengetahuan di Puskesmas Rarang.

c. Mengidentifikasi pemberian ASI Eksklusif sebelum diberikan

motivasi oleh keluarga di Puskesmas Rarang.

d. Mengidentifikasi pemberian ASI Eksklusif setelah diberikan motivasi

oleh keluarga di Puskesmas Rarang.

e. Menganalisis pengaruh pengetahuan terhadap pemberian ASI

Eksklusif di Puskesmas Rarang.

f. Menganalisis pengaruh motivasi keluarga terhadap pemberian ASI

Eksklusif di Puskesmas Rarang.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan sebagai

bahan pertimbangan kebijakan dalam pemberian informasi tentang


8

pengaruh pengetahuan dan motivasi keluarga terhadap pemberian ASI

Eksklusif.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi Puskesmas Rarang

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan

sebagai bahan pertimbangan bagi instansi terkait khususnya

Puskesmas Rarang dalam upaya meningkatkan pemberian ASI

Eksklusif dengan memberikan informasi melalui penyuluhan dan

kegiatan sosialisasi agar pengetahuan yang dimilikinya dapat

ditingkatkan dengan baik serta memotivasi keluarga untuk

memberikan semangat kepada ibu untuk memberikan bayinya ASI

Eksklusif.

b. Bagi Ibu

Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat dijadikan

sebagai tambahan informasi bagi ibu dalam meningkatkan

pengetahuan tentang ASI eksklusif dan memotivasi keluarga untuk

memberikan yang terbaik bagi bayinya melalui pemberian ASI

Eksklusif.

c. Bagi Peneliti

Diharapkan dengan adanya penelitian dapat dijadikan sebagai

tambahan pengetahuan dan wawasan dalam memberikan pelayanan

kepada ibu yang memberikan bayinya ASI Eksklusif.

d. Bagi Institusi Pendidikan


9

Diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa dijadikan sebagai

bahan masukan, literatur dan referensi untuk meningkatkan dan

mengembangkan ilmu pengetahuan para mahasiswa khususnya

mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Hamzar

Lombok Timur.

e. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dengan adanya penelitian ini bisa dijadikan sebagai

literatur untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang pengaruh

pengetahuan dan motivasi keluarga terhadap pemberian ASI

Eksklusif.

E. Keaslian Penelitian

Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Nama Judul Metode


Hasil Penelitian Persamaan Perbedaan
Peneliti Penelitian Penelitian
Sri Pengaruh Penelitian ini Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya yaitu
Kurniawati pendidikan menggunakan menunjukkan yaitu pada pada variabel
Anwar (2018) kesehatan metode pre- bahwa ada variabel independentnya
individu terhadap eksperimen pengaruh dependentnya variabel yang diteliti
tingkat dengan rancangan pendidikan sama-sama yaitu pendidikan
pengetahuan penelitian one kesehatan individu meneliti tentang kesehatan invididu
tentang ASI group pretest- terhadap tingkat tingkat sedangkan pada
Eksklusif pada posttest desain. pengetahuan pengetahuan ibu penelitian yang akan
ibu primigravida Jumlah sampel tentang ASI hamil peneliti lakukan
TM III di yang digunakan Eksklusif pada ibu primigravida variabel
Puskesmas sebanyak 20 primigravida TM tentang ASI independentnya
Umbulharjo I orang yang III di Puskesmas Eksklusif. adalah pemberian
diambil dengan Umbulharjo I tahun video edukasi. Selain
cara accidental 2018 dengan nilai itu, waktu dan tempat
sampling. p value = 0,001 < penelitiannya juga
0,05. berbeda.

Febriyeni Pengaruh Jenis penelitian Hasil penelitian Persamaannya Perbedaannya yaitu


(2017) pendidikan yang digunakan menunjukkan yaitu pada pada penelitian yang
kesehatan dalam penelitian bahwa ada variabel dilakukan oleh
menggunakan ini adalah pre- pengaruh dependentnya Febriyeni variabel
10

media audio eksperimen pendidikan sama-sama independentnya yaitu


visual terhadap dengan kesehatan meneliti tentang pengaruh pendidikan
pengetahuan dan pendekatan menggunakan pengetahuan kesehatan
sikap ibu desain freetes media audio visual dan sikap ibu menggunakan media
menyusui tentang posttest. Jumlah terhadap menyusui audio visual
ASI Eksklusif sampel yang pengetahuan dan tentang ASI sedangkan pada
digunakan sikap ibu menyusui Eksklusif. penelitian yang akan
sebanyak 16 tentang ASI peneliti lakukan
orang yang Eksklusif tahun variabel
diambil dengan 2017 dengan nilai p independentnya
menggunakan value sebesar adalah pemberian
teknik kuota 0,000 < 0,05. video edukasi. Selain
sampling. itu, teknik
pengambilan sampel,
waktu dan tempatnya
juga berbeda.

Ratna Pengaruh Metode penelitian Hasil penelitiannya Persamaannya Perbedaannya yaitu


Ariesta pemberian yang digunakan menunjukkan yaitu pada pada penelitian yang
Dewi pendidikan adalah quasi bahwa ada variabel dilakukan oleh Ratna
Andriani kesehatan tentang experiment pengaruh dependent sama- Ariesta Dewi
(2017) kehamilan dengan design pemberian sama meneliti Andriani variabel
terhadap tingkat one group pre- pendidikan tentang dependentnya hanya
pengetahuan test and post-test. kesehatan tentang pengetahuan ibu 1 yaitu : pengetahuan
primigravida Sampel yang kehamilan terhadap hamil sedangkan pada
dalam digunakan tingkat primigravida penelitian yang akan
menghadapi sebanyak 36 pengetahuan peneliti lakukan
persalinan di orang yang primigravida dalam variabel
Bidan Praktek diambil dengan menghadapi dependentnya ada
Mandiri Atik. menggunakan persalinan di Bidan dua yaitu :
teknik accidental Praktek Mandiri pengetahuan dan
sampling. Atik dengan nilai sikap. Selain itu,
p value = 0,000 < jenis penelitian,
0,05. waktu dan tempat
juga berbeda.
11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teori

1. Konsep Dasar Pengetahuan

a. Definisi Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah

orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia, yakni indra

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga

(Notoatmodjo, 2018).

b. Tingkatan Pengetahuan

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat

penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour).

Tingkat pengetahuan di dalam domain kognitif mempunyai enam

tingkatan (Notoatmodjo, 2018), yaitu:

1) Tahu (know)

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah

dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat

ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dan

seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Oleh sebab itu, tahu merupakan tingkatan pengetahuan yang

paling rendah.
12

2) Memahami (comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk

menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat

mengintrepretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang

telah paham terhadap obyek atas materi dapat mnejelaskan,

menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan

sebagainya terhadap obyek yang dipelajari.

3) Aplikasi (aplication)

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan

materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real

(sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau

pengguanaan hukum-hukum, metode, prinsip, dan sebagainya

dalam konteks atau yang lain.

4) Analisis (analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi

atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di

dalam suatu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu

sama lain.

5) Sintesis (synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu

bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah


13

suatu bentuk kemampuan menyusun formulasi baru dari

formulasi-formulasi yang baru.

6) Evaluasi (evaluation)

Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

justfikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek.

Penilaian-penilaian ini didasarkan pada suatu kriteria yang

ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah

ada.

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan

menggunakan wawancara atau angket yang menanyakan tentang

isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden.

Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur

dapat disesuaikan dengan tingkatan-tingkatan di atas.

c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan

seseorang, yaitu:

1) Faktor Internal meliputi:

a) Umur

Semakin cukup umur tingkat kematangan dan kekuatan

seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja dari

segi kepercayaan masyarakat yang lebih dewasa akan lebih

percaya dari pada orang yang belum cukup tinggi


14

kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman jiwa

(Nursalam, 2016).

b) Pengalaman

Pengalaman merupakan guru yang terbaik (experience is

the best teacher), pepatah tersebut bisa diartikan bahwa

pengalaman merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman

itu merupakan cara untuk memperoleh suatu kebenaran

pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat

dijadikan sebagai upaya untuk memperoleh pengetahuan

(Notoadmodjo, 2018).

c) Pendidikan

Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang semakin

banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya semakin

pendidikan yang kurang akan mengahambat perkembangan

sikap seseorang terhadap nilai-nilai yang baru diperkenalkan

(Nursalam, 2017).

d) Pekerjaan

Pekerjaan adalah kebutuhan yang harus dilakukan

terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan

keluarganya. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi

lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang

membosankan berulang dan banyak tantangan (Nursalam,

2017).
15

e) Jenis Kelamin

Istilah jenis kelamin merupakan suatu sifat yang melekat

pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikontruksikan

secara sosial maupun kultural.

2) Faktor eksternal

a) Informasi

Menurut Nursalam dan Pariani (2017) informasi

merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa

cemas. Seseorang yang mendapat informasi akan

mempertinggi tingkat pengetahuan terhadap suatu hal.

b) Lingkungan

Menurut Notoatmodjo (2018), hasil dari beberapa

pengalaman dan hasil observasi yang terjadi di lapangan

(masyarakat) bahwa perilaku seseorang termasuk terjadinya

perilaku kesehatan, diawali dengan pengalaman-pengalaman

seseorang serta adanya faktor eksternal.

c) Sosial budaya

Semakin tinggi tingkat pendidikan dan status sosial

seseorang maka tingkat pengetahuannya akan semakin tinggi

pula.

d. Cara Memperoleh Pengetahuan


16

Menurut Notoatmodjo (2018), terdapat beberapa cara

memperoleh pengetahuan, yaitu:

1) Cara kuno atau non modern

Cara kuno atau tradisional dipakai untuk memperoleh

kebenaran pengetahuan, sebelum ditemukannya metode ilmiah,

atau metode penemuan statistik dan logis. Cara-cara penemuan

pengetahuan pada periode ini meliputi:

a) Cara coba salah (trial and error)

Cara ini dilakukan dengan mengguanakan kemungkinan

dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan

tersebut tidak bisa dicoba kemungkinan yang lain.

b) Pengalaman pribadi

Pengalaman merupakan sumber pengetahuan untuk

memperoleh kebenaran pengetahuan.

c) Melalui jalan fikiran

Untuk memeperoleh pengetahuan serta kebenarannya

manusia harus menggunakan jalan fikirannya serta

penalarannya. Banyak sekali kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-

tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran

apakah yang dilakukan baik atau tidak.

2) Cara modern

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan

lebih sistematis, logis, dan alamiah. Cara ini disebut “metode


17

penelitian ilmiah” atau lebih populer disebut metodologi

penelitian, yaitu:

a) Metode induktif

Mula-mula mengadakan pengamatan langsung terhadap

gejala-gejala alam atau kemasyarakatan kemudian hasilnya

dikumpulkan atau diklasifikasikan, akhirnya diambil

kesimpulan umum.

b) Metode deduktif

Metode yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih

dahulu untuk seterusnya dihubungkan dengan bagian-

bagiannya yang khusus.

e. Kriteria Pengetahuan

Menurut Arikunto (2019), pengetahuan seseorang dapat

diketahui dan diinterpretasikan dengan skala yang bersifat kualitatif,

yaitu:

1) Baik, bila subyek menjawab benar 76%-100% seluruh pertanyaan.

2) Cukup, bila subyek menjawab benar 56%-75% seluruh

pertanyaan.

3) Kurang, bila subyek menjawab benar <56% seluruh pertanyaan.

2. Konsep Dasar Motivasi Keluarga

a. Pengertian Motivasi

Motivasi berasal dari kata motif dapat diartikan sebagai daya


18

upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif

dapat dikatakan sebagai daya penggerak dari dalam dan didalam

subjek untuk melakukan aktifitas-aktifitas tertentu demi mencapai

suatu tujuan. Bahkan motif dapat dikatakan sebagai suatu kondisi

intern (kesiapsiagaan). Berawal dari kata motif ini, maka motivasi

dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif

(Sardiman, 2017).

Menurut Nuryanti dan Hadjam (dalam Sopiyani, 2018),

motivasi memberikan ASI eksklusif yaitu dorongan yang timbul untuk

mulai menyusui, mempertahankan perilaku menyusui, dan

mengarahkan perilaku tersebut pada tujuan yang hendak dicapai ibu

dengan menyusui bayinya secara eksklusif. Motivasi bisa datang dari

dalam diri individu itu sendiri atau dari luar individu.

b. Komponen Motivasi

Menurut Yuwono, Suhariadi, Handoyo, Fajrianthi, Muhammad

(2018) motivasi mempunyai 3 komponen, yaitu:

1) Arousal

Arousal merupakan komponen motivasi yang berkaitan

dengan dorongan energi yang berada dibalik perilaku. Kondisi ini

dapat menstimulasi individu untuk melakukan suatu kegiatan yang

berkaitan dengan objek motivasi.

2) Direction

Komponen motivasi yang berkaitan dengan arah tindakan


19

yang diambil individu dan akan memilih tindakan berupa kegiatan

atau tingkah laku yang diarahkan pada pencapaian suatu tujuan

3) Maintanance

Maintanance yaitu seberapa lama seseorang akan bertahan

pada pilihan yang dibuatnya untuk mencapai tujuan. Jadi

berdasarkan paparan komponen-komponen motivasi di atas maka

dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga komponen didalam

motivasi yaitu Arousal, Direction, dan Maintanance. Ketiga

komponen ini digunakan peneliti karena sesuai dengan subjek

peneliti yaitu pada ibu menyusui

c. Bentuk-bentuk motivasi

Menurut Santrock (2017) ada dua bentuk motivasi yaitu:

1) Motivasi ekstrinsik

Yaitu melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang

lain (sebuah cara untuk mendapatkan suatu tujuan). Motivasi

ekstrinsik sering kali dipengaruhi oleh insentif eksternal seperti

penghargaan dan hukuman.

2) Motivasi intrinsik

Yaitu motivasi internal untuk melakukan sesuatu demi hal itu

sendiri (sebuah tujuan itu sendiri). Empat jenis motivasi instrinsik:

determinasi diri dan pilihan, pengalaman optimal dan penghayatan

dan keterlibatan kognitif dan tanggung jawab diri sendiri.

Menurut Sardirman (2017) bentuk-bentuk motivasi yaitu:


20

1) Motivasi intrinsik, adalah motif-motif yang menjadi aktif atau

berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar karena dalam diri

individu sudah ada dukungan untuk melakukan sesuatu

2) Motivasi ekstrinsik, motif-motif yang akan aktif fungsinya karena

adanya perangsang dari luar, jadi kalau dilihat dari segi tujuan

dari kegiatan yang dilakukan tidak secara langsung bergayut pada

esensi apa yang dilakukannya itu, oleh karena itu motivasi

ekstrinsik dapat dikatakan motivasi yang didasari oleh dorongan

dari luar.

Jadi berdasarkan bentuk-bentuk motivasi yang dipaparkan oleh

beberapa ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi terbagi

menjadi dua yaitu: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, dimana

motivasi intrinsik ini merupakan motivasi yang tidak perlu menunggu

adanya dorongan dari luar, sedangkan motivasi ekstrinsik merupakan

motivasi yang didasari oleh dorongan dari luar diri.

d. Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi memberikan ASI

Menurut Milkhatun (2018), ada dua faktor yang dapat

mempengaruhi motivasi yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor

internal atau intrinsik adalah motivasi yang berasal dari dalam diri

manusia, biasanya timbul dari perilaku yang dapat memenuhi

kebutuhan sehingga manusia menjadi puas, sedangkan faktor

eksternal atau ekstrinsik adalah faktor motivasi yang berasal dari luar

yang merupakan pengaruh dari orang lain atau lingkungan. Faktor


21

internal atau intrinsik ini meliputi :

1) Fisik

Faktor fisik adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan

kondisi fisik atau kelainan fisik seputar menyusui, misal puting

lecet karena digigit, payudara bengkak, mastitis dan abses. Selain

itu juga status kesehatan dan status gizi ibu menyusui juga akan

mempengaruhi kondisi fisik ibu. Yang cukup sering terjadi, kasus

puting lecet karena posisi bayi menyusu kurang tepat, atau bayi

menggigit puting, yang tentunya membuat ibu merasa sakit.

Akhirnya, banyak ibu memutuskan berhenti menyusui.

2) Proses mental

Motivasi merupakan suatu proses yang tidak terjadi begitu

saja, tetapi ada kebutuhan yang mendasari munculnya motivasi

tersebut. Ibu menyusui yang mengalami ganguan pada proses

mental tentu sulit untuk memberikan ASI pada bayinya. Hal ini

karena proses laktasi akan berhasil bila hormon oksitosin keluar,

hormon ini sangat mempengaruhi kinerja myoepithel dalam

memompa ASI keluar dari alveoli. Sedangkan oksitosin keluar

jika secara mental dan psikologis ibu merasa tenang, mampu dan

mendapat dukungan.

3) Faktor kematangan usia

Kematangan usia akan mempengaruhi pada proses berfikir

dan pengambilan keputusan dalam pemberian ASI. Ibu usia muda


22

yang masih labil ini akan cenderung untuk tidak memberikan ASI,

karena takut bentuk buah dadanya akan rusak apabila menyusui

dan kecantikannya akan hilang, serta takut ditinggalkan oleh

pergaulan teman sebayanya.

4) Keinginan dalam diri sendiri

Di dalam diri tiap individu akan terdapat kemampuan,

ketrampilan, kebiasaan yang menunjukan kondisi orang untuk

melaksanakan pekerjaan yang mungkin dimanfaatkan sepenuhnya

atau mungkin tidak.

5) Pengelolaan diri

Pengelolaan dimaksudkan adanya pengaruh. Pengelolaan

diri seseorang dapat dipengaruhi dari individu itu sendiri atau dari

luar. Tingkat pengetahuan diperoleh dari pengalaman sendiri atau

pengalaman orang lain. Tingkat pengetahuan seseorang

mempengaruhi perilaku individu, yang mana makin tinggi

pengetahuan seseorang maka akan memberikan respon yang lebih

rasional dan juga makin tinggi kesadaran untuk berperan serta,

dalam hal ini adalah pemberian ASI eksklusif.

Sedangkan faktor eksternal atau ekstrinsik ini meliputi :

1) Lingkungan

Lingkungan merupakan sesuatu yang berada disekitar

individu baik secara fisik, biologis maupun sosial (Notoatmodjo,


23

2018). Lingkungan sangat berpengaruh terhadap motivasi ibu

menyusui yang masih dalam tahap perkembangannya pada usia

remaja dalam pemberian ASI eksklusif. Lingkungan yang tidak

mendukung dan kurang kondusif akan membuat stres bertambah.

secara fisik misalnya penataan rumah, konstruksi bentuk bangunan

akan meningkatkan ataupun mengurangi stres dan secara biologis

lingkungan ini tidak mengganggu kenyamanan yang dapat

memicu stres, sedangkan lingkungan sosial salah satunya adalah

dukungan keluarga, khususnya dukungan sosial suami.

2) Dukungan sosial suami

Dukungan sosial suami sangat mempengaruhi dalam

memotivasi istri dalam pemberian ASI eksklusif. Dukungan ini

bisa berwujud perhatian, informasi, finansial, dan emosional.

3) Penguatan/kekuatan

Penguatan atau kekuatan adalah perubahan perilaku yang

dilaksanakan kepada sasaran atau masyarakat sehingga ia mau

melakukan sesuai dengan yang diharapkan. Cara ini misalnya

dengan suatu peraturan undang-undang yang harus dipatuhi

sehingga dengan sendirinya akan muncul motivasi untuk

melaksanakan peratuaran tersebut, contoh undang-undang tentang

pemberian ASI eksklusif yaitu Permenkes nomor

456/MENKES/SK/VI/2004

4) Media
24

Media berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan

pesanpesan atau informasi kesehatan. Dengan adanya media ini

ibu menyusui akan tahu manfaat pemberian ASI eksklusif bagi

bayi dan dirinya (Sugiyono, 2018).

3. Konsep Dasar ASI Eksklusif

a. Definisi ASI Eksklusif

ASI eksklusif adalah Air Susu Ibu (ASI) yang diberikan kepada

bayi dari lahir sampai berusia enam bulan tanpa makanan tambahan

lain. Pemberian ASI eksklusif adalah tidak memberikan bayi makanan

atau minuman lain, termasuk air putih, selain menyusui, kecuali obat-

obatan dan vitamin atau mineral tetes, dimana pemberian ASI perah

diperbolehkan. Pemberian ASI eksklusif dimulai sejak 1 jam setelah

kelahiran bayi tanpa memberikan makanan pralakteal seperti air gula

atau tajin kepada bayi yang baru lahir, menyusui sesuai dengan

kebutuhan bayi, mencakup pemberian ASI pada malam hari dan

cairan yang diperbolehkan hanya vitamin, mineral dan obat dalam

sediaan drops atau sirup (Kemenkes RI, 2019).

Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan terbaik bagi bayi karena

memiliki kandungan zat gizi yang paling sesuai untuk pertumbuhan

dan perkembangan bayi. Ada empat hal yang harus dilakukan untuk

mencapai tumbuh kembang yang optimal, yaitu memberikan ASI

kepada bayi segera dalam 30 menit- 1 jam setelah kelahiran bayi,


25

memberikan ASI eksklusif sejak lahir sampai usia enam bulan,

memberikan makanan pendamping air susu ibu (MPASI) sejak usia 6-

24 bulan, dan meneruskan pemberian ASI sampai anak berusia 24

bulan atau lebih (Mufdlilah, 2017).

Hal ini didukung oleh Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia melalui strategi Pemberian Makanan Bayi dan Anak

(PMBA) diantaranya merekomendasikan tiga tahap standar emas

pemberian makanan pada bayi yang terdiri dari Inisiasi Menyusui Dini

(IMD), ASI eksklusif selama enam bulan, yang diikuti dengan

pemberian ASI dan makanan pendamping ASI (MPASI) hingga anak

berusia minimal dua tahun (Yadika, 2019).

b. Komposisi ASI

ASI mudah dicerna selain karena mengandung zat gizi yang

sesuai, juga mengandung enzim-enzim untuk mencernakan zat-zat

gizi yang terdapat dalam ASI tersebut. ASI mengandung zat-zat gizi

berkualitas tinggi yang berguna untuk pertumbuhan dan

perkembangan kecerdasan anak. Selain mengandung protein yang

tinggi, ASI memiliki perbandingan antara whey dan casein yang

sesuai untuk bayi. Rasio whey dengan casein merupakan salah satu

keunggulan ASI dibandingkan dengan susu sapi. ASI mengandung

whey lebih banyak yaitu 65 : 35. Komposisi ini menyebabkan protein

ASI lebih mudah diserap. Sedangkan pada susu sapi mempunyai


26

perbandingan whey:casein adalah 20:80, sehingga tidak mudah

diserap (Hanafi, 2017).

ASI dilengkapi dengan zat-zat pelindung DHA

(decosahexaenoic acid) dan ARA (arachinoid acid) yang penting bagi

pertumbuhan dan perkembangan jaringan saraf. Selain itu ASI juga

mengandung lebih banyak laktosa yang penting untuk membantu

meningkatkan pertumbuhan bakteri usus yang berguna. ASI juga 8

mengandung jutaan sel darah putih yang beredar ke seluruh sistem

pencernaan bayi dan merusak bakteri yang berbahaya (Armini, 2018)

c. Manfaat ASI Eksklusif

Air Susu Ibu merupakan makanan terbaik dan utama bagi bayi

karena di dalam ASI terkandung antibodi yang diperlukan bayi untuk

melawan penyakitpenyakit yang menyerangnya. Pada dasar-nya ASI

adalah imunisasi pertama karena ASI mengandung bergbagai zat

kekebalan antara lain immunoglobulin (Umboh, et al, 2018).

Selain bermanfaat bagi bayi, ASI juga bermanfaat bagi ibu.

Beberapa manfaat pemberian ASI bagi ibu adalah memberikan ASI

eksklusif adalah cara diet alami bagi ibu, mengurangi resiko terkena

anemia, mencegah kanker, dan lebih ekonomis (Nurkhayati, 2018).

ASI memberikan semua energi dan gizi (nutrisi) yang

dibutuhkan oleh bayi selama 6 bulan pertama setelah kelahirannya.

Pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi tingkat kematian bayi

yang dikarenakan berbagai penyakit yang menimpanya, seperti radang


27

paru-paru serta mempercepat pemulihan bila sakit dan membantu

menjarangkan kelahiran. Bayi di bawah usia enam bulan yang tidak

diberikan ASI eksklusif 5 kali berisiko kematian akibat pneumonia

daripada bayi yang diberikan ASI eksklusif selama enam bulan

(Choyron, 2017).

ASI merupakan sumber gizi dengan komposisi yang seimbang

yang disesuaikan dengan pertumbuhan bayi sehingga menjadi

makanan yang paling ideal, baik kualitas maupun kuantitasnya. Selain

itu, bayi memiliki kemampuan mencerna dan menggunakan nutrisi

dalam ASI secara lebih efisien daripada nutrisi yang terdapat dalam

jenis susu lainnya. Hal ini menyebabkan ASI sebagai makanan

tunggal mampu memberikan kebutuhan gizi bayi selama kurun waktu

enam bulan pertama kehidupan bayi. Akan tetapi, setelah enam bulan,

produksi ASI menurun sehingga kebutuhan nutrisi bayi baik

makronutrien maupun mikronutrien tidak dapat terpenuhi hanya oleh

ASI. Dalam hal ini, peranan Makanan Pendamping ASI (MPASI)

menjadi sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi tersebut.

Disamping itu, keterampilan makan (oromotor skills) terus

berkembang dan bayi mulai memperlihatkan minat akan makanan lain

selain susu (ASI atau susu formula) (IDAI, 2018).

Pemberian makanan selain ASI terlalu dini membuat bayi

menjadi mudah kenyang sehingga keinginan, frekuensi, dan kekuatan

bayi dalam menyusui berkurang. Penurunan hisapan bayi dapat


28

menurunkan stimulasi hormon prolaktin dan oksitosin sehingga

menurunkan produksi ASI yang selanjutnya menyebabkan

berkurangnya konsumsi ASI. Produksi ASI menurun apabila

rangsangan hisapan bayi menurun atau berkurang. Hal ini

menyebabkan konsumsi ASI pada bayi tidak maksimal sehingga dapat

berujung pada kondisi kurang gizi pada bayi. Disamping itu, dampak

dari tidak dikonsumsinya ASI eksklusif melalui pemberian makanan

pendamping ASI dini juga dapat menyebabkan bayi berpotensi

menderita kekurangan gizi besi (KBG). Pengenalan makanan

tambahan ASI seperti serelia dan sayur-sayuran tertentu sebelum bayi

berusia 6 bulan dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dan ASI,

walaupun konsentrasi zat besi dalam ASI rendah, tetapi lebih mudah

diserap oleh tubuh bayi (Mufida, 2017)

d. Kandungan Zat Gizi ASI

1) Karbohidrat

Karbohidrat pada ASI berbentuk laktosa (gula susu) yang

sangat tinggi dibandingkan dengan susu formula. Jumlah laktosa

yang lebih banyak terkandung dalam ASI membuat rasa ASI

menjadi lebih manis dibandingkan dengan susu formula. Laktosa

akan difermentasikan menjadi asam laktat dalam pencernaan bayi,

suasana asam memberi beberapa keuntungan bagi pencernaan

bayi, antara lain:

a) Menghambat pertumbuhan bakteri patologis.


29

b) Memacu pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi

asam organik dan mensitesis protein.

c) Memudahkan terjadinya pengendapan dari Ca-caseinat.

d) Memudahkan absorbsi dari mineral seperti kalsium, fosfor,

dan magnesium

2) Protein

ASI mengandung protein yang lebih rendah dibandingkan

dengan susu formula, namun protein ASI yang diebut “whey” ini

bersifat lebih lembut sehingga mudah dicerna oleh pencernaan

bayi. Protein dalam ASI mengandung alfa-laktalbumin, sedangkan

susu sapi mengandung laktoglobulin dan bovibe serum albumin

yang lebih sering menyebabkan alergi pada bayi. (Rukiyah

Aiyeyeh, dkk, 2017)

3) Lemak

Kadar lemak antara ASI dengan susu formula relatif sama,

namun lemak dalam ASI mempunyai beberapa keistimewaan

antara lain:

a) Bentuk emulsi lemak lebih sempurna karena ASI mengandung

enzim lipase yang memecah trigliserida menjadi digliserida

kemudian menjadi monogliserida sehingga lemak dalam ASI

lebih mudah dicerna dalam pencernaan bayi.


30

b) ASI mengandung asam lemak tak jenuh yaitu omega-3,

omega-6, dan DHA yang dibutuhkan oleh bayi untuk

membentuk jaringan otak.

4) Mineral

ASI mengandung mineral yang lengkap dan cukup untuk

memenuhi kebutuhan bayi sampai berusia 6 bulan. Kandungan

mineral dalam ASI adalah konstans, tetapi ada beberapa mineral

spesifik yang kadarnya dipengaruhi oleh diit ibu. Kandungan zat

besi dan kalsium paling stabil dan tidak dipengaruhi oleh diit ibu.

Mineral lain adalah kalium, natrium, tembaga, mangan, dan fosfor

5) Vitamin

Vitamin dalam ASI cukup lengkap, vitamin A, D, dan C

cukup, sedangkan golongan vitamin B, kecuali riboflavin dan

asam pantothenik kurang. Vitamin lain yang tidak tekandung

dalam ASI bergantung pada diit ibu. Air ASI terdiri dari 88% air,

air berguna untuk melarutkan zat-zat yang terkandung dalam ASI.

Kandungan air dalam ASI yang cukup besar juga bisa meredakan

rasa haus pada bayi.

e. Faktor Yang Mempengaruhi Pemberian ASI Eksklusif

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif

dibedakan menjadi tiga yaitu faktor pemudah (predisposing factors),

faktor pendukung (enabling factors)dan faktor pendorong (reinforcing

factors) (Haryono dan Setianingsih, 2018)


31

1) Faktor Pemudah (predisposing factors)

a) Pendidikan

Pendidikan akan membuat seseorang terdorong untuk

ingin tahu, mencari pengalaman sehingga informasi yang

didapatkan akan menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang

dimiliki akan membentuk keyakinan untuk berperilaku. Ibu

dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima suatu

ide baru dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan rendah.

Sehingga informasi dan promosi tentang ASI akan lebih

mudah diterima dan dilaksanakan.

b) Pengetahuan

Pengetahuan ibu yang kurang tentang ASI eksklusif

menyebabkan gagalnya pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan

yang dimiliki ibu umumnya sebatas pada tingkat “tahu bahwa”

sehingga tidak begitu mendalam dan tidak memiliki

ketrampilan untuk mempraktikkannya. Jika pengetahuan ibu

lebih luas dan mempunyai pengalaman tentang ASI eksklusif

baik yang dialami sendiri maupun dilihat dari teman, tetangga

atau keluarga maka ibu akan lebih terinspirasi untuk

mempraktikkannya. Pengalaman dan pendidikan wanita

semenjak kecil akan mempengaruhi sikap dalam kaitannya

dengan menyusui di kemudian hari. Seorang wanita yang

dalam keluarga atau lingkungan sosialnya secara teratur


32

mempunyai kebiasaan menyusui / sering melihat wanita yang

menyusui bayinya secara teratur akan mempunyai pandangan

yang positif tentang pemberian ASI.

c) Umur

Umur adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan

atau diadakan). Umur ibu berpengaruh terhadap pemberian

ASI eksklusif. Umur ibu sangat menentukan kesehatan

maternal dan berkaitan dengan kondisi kehamilan, persalinan

dan nifas serta cara mengasuh dan menyusui bayinya. lbu yang

berumur kurang dari 20 tahun masih belum matang dan belum

siap dalam hal jasmani dan sosial dalarn menghadapi

kehamilan, persalinan serta dalam membina bayi yang

dilahirkan.

d) Pekerjaan

Segala macam aktivitas yang dilakukan untuk

mendapatkan penghasilan. Pekerjaan ibu berhubungan dengan

pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan responden yang

bekerja lebih baik bila dibandingkan dengan pengetahuan

responden yang tidak bekerja. Semua ini disebabkan karena

ibu yang bekerja di luar rumah (sektor formal) memiliki akses

yang lebih baik terhadap berbagai informasi, termasuk

mendapatkan informasi tentang pemberian ASI eksklusif.

e) Jumlah anak
33

Jumlah anak atau paritas adalah banyaknya kelahiran

hidup yang dipunyai oleh seorang wanita. Jumlah anak dapat

dibedakan menjadi primipara, multipara dan grandemultipara.

1) Primipara adalah perempuan yang telah pernah melahirkan

sebanyak satu kali. 2) Multipara adalah wanita yang telah

melahirkan seorang anak lebih dari satu kali.

Pemberian ASI eksklusif lebih sering terjadi pada ibu

multipara dibandingkan ibu primipara Ibu yang mempunyai

paritas >1 kali berpeluang 2,333 kali lebih besar berperilaku

memberikan ASI Eksklusif dibandingkan dengan ibu

primipara.

f) Pengalaman Menyusui

Pengalaman menyusui pribadi mungkin merupakan

sumber utama pengetahuan dan pengembangan ketrampilan

menyusui dan terkait dengan pengetahuan yang lebih baik,

sikap positif dan kepercayaan diri ibu menjadi lebih tinggi

dalam Seorang ibu muda dengan anak pertama akan

merasakan kesulitan dalam menyusui.

Seorang wanita dengan bayi pertama mungkin tidak tahu

cara menaruh bayi ke payudaranya. Bayi dapat menghisap

namun mungkin tidak tahu cara membawa puting susu

kedalam mulutnya. Memposisikan perlekatan mulut bayi ke

payudara sangat sederhana bila tahu caranya sehingga cara


34

perlekatan yang benar harus diketahui oleh ibu menyusui. Bayi

yang tidak mengambil puting susu dengan benar akan

menimbulkan banyak persoalan memberikan ASI eksklusif.

Pengalaman yang panjang tentang ASI dan menyusui

berkaitan dengan pengetahuan, sikap, kepercayaan dan

efektifitas yang dirasakan dalam pemberian ASI. Pengalaman

menyusui merupakan faktor dominan yang berhubungan

dengan self-efficacy menyusui. Wanita yang tidak pernah

menyusui namun pernah melihat orang lain menyusui lebih

berminat untuk menyusui anaknya dibandingkan wanita yang

tidak pernah melihat orang menyusui.

2) Faktor Pendukung (enabling factors)

a) Pendapatan Keluarga

Pendapatan keluarga adalah penghasilan yang diperoleh

suami dan istri dari berbagai kegiatan ekonomi sehari-hari,

misalnya gaji. Pendapatan tinggi memungkinkan keluarga

cukup pangan sehingga makanan yang dikonsumsi ibu

memiliki kandungan gizi yang baik. Konsumsi makanan

dengan kandungan gizi baik akan menghasilkan ASI dengan

kualitas baik

b) Ketersediaan waktu

Ketersediaan waktu ibu untuk menyusui bayinya secara

eksklusif berkaitan erat dengan status pekerjaannya. Banyak


35

ibu yang berhenti menyusui dengan alasan ibu kembali bekerja

setelah cuti melahirkan selesai.

c) Kesehatan Ibu

Kondisi kesehatan ibu sangat mempengaruhi proses

pemberian ASI eksklusif pada bayi. Ibu yang mempunyai

penyakit menular (HIV/AIDS, TBC, hepatitis B) dan penyakit

pada payudara (kanker payudara, kelainan puting susu) tidak

boleh ataupun tidak bisa menyusui bayinya.

3) Faktor Pendorong (reinforcing factors)

a) Dukungan Keluarga

Dukungan keluarga yaitu suami, orang tua dan saudara

lain sangat mempengaruhi keberhasilan menyusui. Karena

dukungan keluarga berdampak pada kondisi emosi ibu

sehingga akan mempengaruhi produksi ASI. Ibu yang kurang

mendapatkan dukungan menyusui dari keluarga akan 24

menurunkan pemberian ASI.

b) Dukungan Petugas

Kesehatan Petugas kesehatan yang professional akan

menjadi faktor pendukung ibu dalam memberikan ASI.

Dukungan tenaga kesehatan kaitannya dengan nasehat kepada

ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya akan menentukan

keberlanjutan pemberian ASI.


36

B. Kerangka Konsep

Kerangka konsep adalah merupakan abstraksi yang terbentuk oleh

generalisasi dari hal-hal yang khusus. Sedangkan kerangka konsep penelitian

pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin di

amati atau di ukur melalui penelitian yang akan dilakukan (Notoatmojo, 2018)

Independent Dependent

Pengetahuan

Pemberian ASI Eksklusif

Motivasi Keluarga
Faktor yang mempengaruhi
pemberian ASI Eksklusif yaitu :
1. Faktor Pemudah
a. Pendidikan
b. Pengetahuan
c. Umur
d. Pekerjaan
e. Jumlah anak
f. Pengalaman menyusui
2. Faktor pendukung
a. Pendapatan keluarga
b. Ketersediaan waktu
c. Kesehatan ibu
3. Faktor pendorong
a. Dukungan keluarga
b. Dukungan petugas
37

Keterangan :

: Diteliti

: Tidak diteliti

Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian

Sumber : (Modifikasi Notoatmodjo, 2018 dan Haryono, 2018)

C. Hipotesis

Secara etimologis, hipotesis berasal dari dua kata hypo yang berarti

“kurang dari” dan thesis yang brarti pendapat. Jadi hipotesis adalah suatu

pendapat atau kesimpulan yang belum final, yang harus diuji kebenarannya

(Notoadmojo, 2018).

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

Ha : Ada pengaruh pengetahuan dan motivasi keluarga terhadap pemberian

ASI Eksklusif di Puskesmas Rarang.

Ho : Tidak ada pengaruh pengaruh pengetahuan dan motivasi keluarga

terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Rarang.


38

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yaitu

penelitian yang dilakukan untuk mencari berbagai variabel dan menganalisis

setiap variabel yang menjadi objek penelitian. Penelitian ini juga digunakan

untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data

menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau

statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan

(Sugiyono, 2018).

Penelitian ini menggunakan rancangan praexperimental one group

pretest dan posttest design dalam satu kelompok, tidak ada kelompok kontrol,

peneliti memberikan perlakuan pada responden tetapi sebelumnya dilakukan

pengumpulan data dan pengamatan terhadap responden tersebut, dan kembali

dilakukan pengamatan dan pengumpulan data akhir setelah diberikan

perlakuan.

Adapun gambaran rancangan penelitian sebagai berikut :


Pre-test Perlakuan Post-test
O1 X O2

Keterangan :

O1= pre-test pemberian ASI Eksklusif

X = perlakuan (pengetahuan dan motivasi keluarga)

O2= post-test pemberian ASI Eksklusif

41
39

B. Populasi, Sampel dan Teknik Sampling

1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan jumlah yang terdiri atas obyek atau

subyek yang mempunyai karakteristik dan kualitas tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk diteliti dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2018).

Adapun populasi yang diambil dalam penelitian ini adalah semua

ibu menyusui yang ada di Puskesmas Rarang dari bulan April s/d

September 2024 sebanyak 1.359 orang.

2. Sampel

Sampel penelitian adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang

dimiliki oleh populasi tersebut sampel yang diambil dari populasi tersebut

harus betul-betul representative (mewakili). Ukuran sampel merupakan

banyaknya sampel yang akan diambil dari suatu populasi (Sugiyono,

2018).

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagian ibu

menyusui yang ada di Puskesmas Rarang. Untuk mencari besarnya

sampel dihitung dengan menggunakan rumus Slovin (2013) :

N
n= 2
1+ N (d )
1.359
¿
1+ 1.359 ¿ ¿
1.359
¿
1+ 13 ,5 9
1.359
¿
14 , 5 9
40

¿93

Keterangan :

n = Besar Sampel

N = Besar Populasi

d = Nilai kritis (10%)

Jadi besar sampel yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah

sebanyak 93 orang

Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini dibagi

menjadi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi sebagai berikut :

a. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria atau ciri-ciri yang perlu dipenuhi

oleh setiap anggota populasi yang dapat diambil sebagai sampel

(Notoadmodjo, 2018). Kriteria inklusi yang akan dijadikan sampel

dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1) Ibu menyusui yang ada di Wilayah Kerja Puskesmas Rarang.

2) Ibu menyusui yang bersedia dijadikan sebagai responden

3) Ibu menyusui yang bisa berkomunikasi dengan baik

4) Ibu menyusui yang bisa membaca dan menulis

b. Kriteria Eksklusi

Kriteria eksklusi adalah ciri-ciri anggota populasi yang tidak

dapat diambil sebagai sampel (Notoadmodjo, 2018). Kriteria eksklusi

dalam penelitian ini adalah :

1) Ibu menyusui yang ada di luar wilayah kerja Puskesmas


41

Rarang.

2) Ibu menyusui yang tidak bersedia dijadikan sebagai responden

3) Ibu menyusui yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik

4) Ibu menyusui yang tidak bisa membaca dan menulis

3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitiani ni

adalah mengunakan simple random sampling yaitu pengambilan anggota

sampel dari populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan

strata yang ada dalam populasi itu (Sugiyono, 2018).

C. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan di Puskesmas Rarang.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan Oktober 2024.

D. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

1. Variabel Penelitian

a. Variabel Independent

Variabel independent adalah variabel yang mempengaruhi atau

menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependent

(Sugiyono, 2018). Variabel independent dalam penelitian ini yaitu :

pengetahuan dan motivasi keluarga.

b. Variabel Dependent
42

Variabel dependent adalah variabel yang dipengaruhi atau yang

menjadi akibat karena adanya variabel independent (Sugiyono, 2018).

Variabel dependent dalam penelitian ini yaitu : pemberian ASI

Eksklusif.

2. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah variabel penelitian dimaksudkan untuk

memahami arti setiap variabel penelitian sebelum dilakukan analisis

(Sugiyono, 2018).

Tabel 2.1 Definisi Operasional


Variabel Definisi Parameter/ Alat Ukur Hasil Skala
Operasional Indikator Ukur Data
Variabel
Independent:
Pengetahuan Segala sesuatu Pengetahuan ibu tentang SAP 1. Sebelum Nominal
ibu tentang yang diketahui ibu ASI Eksklusif yang diberikan
ASI tentang ASI meliputi: pengetahuan
Eksklusif Eksklusif. 1. Pengertian ASI tentang ASI
Eksklusif Eksklusif
2. Komposisi ASI 2. Setelah
3. Manfaat ASI diberikan
Eksklusif pengetahuan
4. Kandungan zat gizi tentang ASI
ASI Eksklusif
5. Faktor yang
mempengaruhi
pemberian ASI
Eksklusif

Motivasi Daya upaya yang 1. Perhatian SAP 1. Sebelum Nominal


keluarga dilakukan oleh 2. Informasi diberikan
keluarga untuk 3. Finansial motivasi oleh
memberikan 4. Emosional keuarga
dorongan kepada 2. Setelah
ibu untuk diberikan
memberikan motivasi oleh
bayinya ASI keluarga
Eksklusif
Variabel
Dependent
Pemberian ASI Pemberian Air Makanan yang diberikan Kuesioner 1. Diberikan ASI Nominal
Eksklusif Susu Ibu (ASI) pada bayi dari usia 0 – 6 Eksklusif
yang diberikan bulan. 2. Tidak
kepada bayi dari diberikan ASI
43

lahir sampai Eksklusif


berusia enam bulan
tanpa makanan
tambahan lain

E. Instrumen Penelitian dan Metode Pengumpulan Data

1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan

peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan

hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis

sehingga lebih mudah diolah. Variasi jenis instrumen penelitian adalah

angket, check-list, atau daftar centang, pedoman wawancara, pedoman

pengamatan (Sugiyono, 2018). Instrumen yang digunakan dalam

penelitian ini adalah kuesioner.

2. Metode Pengumpulan Data

Data dalam penelitian ini terdiri dari :

a. Data Primer

Data primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data

kepada pengumpul data (Sugiyono, 2018). Data dikumpulkan sendiri

oleh peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek

penelitian dilakukan. Peneliti menggunakan hasil wawancara yang

didapatkan dari informan mengenai topik penelitian sebagai data

primer. Data primer dalam penelitian ini terdiri dari :

1) Data tentang pemberian ASI Eksklusif sebelum dan setelah

diberikan pengetahuan diperoleh dengan menggunakan alat bantu

kuesioner.
44

2) Data tentang pemberian ASI Eksklusif sebelum dan setelah

diberikan motivasi keluarga diperoleh dengan menggunakan alat

bantu kuesioner.

b. Data Sekunder

Data sekunder yaitu sumber data yang tidak langsung

memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain

atau lewat dokumen. Data sekunder dalam penelitian ini terdiri dari

data:

1) Data tentang jumlah ibu menyusui yang ada di Puskesmas Rarang

diperoleh dari buku register.

2) Data tentang gambaran umum Puskesmas Rarang diperoleh dari

buku profil.

F. Metode Pengolahan Data

Pengolahan data dalam penelitian ini terdiri dari beberapa tahap yaitu :

1. Editing

Editing yaitu kegiatan mempersiapkan data yang sudah diperoleh

sebelum dilakukan pengolahan data lebih lanjut. Dimana peneliti harus

mengecek kembali kelengkapan data.

2. Coding

Coding merupakan kegiatan merubah data berbentuk huruf menjadi

data berbentuk angka/ bilangan.

a. Pengetahuan

Pengetahuan dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu :


45

1) Sebelum diberikan pengetahuan : diberi kode 1

2) Setelah diberikan pengetahuan : diberi kode 2

b. Motivasi Keluarga

Motivasi keluarga dikelompokkan menjadi dua kategori yaitu :

1) Sebelum diberikan motivasi keluarga : diberi kode 1

2) Setelah diberikan motivasi keluarga : diberi kode 2

c. Pemberian ASI Eksklusif

Data mengenai pemberian ASI Eksklusif dikelompokkan menjadi 2

kategori yaitu:

1) Diberikan ASI Eksklusif : diberi kode 2

2) Tidak diberikan ASI Eksklusif : diberi kode 1

3. Tabulating

Tabulating merupakan kegiatan menggambarkan jawaban responden

dengan cara tertentu. Tabulasi juga dapat digunakan untuk menciptakan

statistik deskriptif variabel-variabel yang diteliti atau yang variabel yang

akan di tabulasi silang.

4. Entri

Entri data yaitu kegiatan memasukkan data ke dalam computer untuk

selanjutnya dapat dilakukan analisis data.

G. Analisis Data

Analisis data diartikan sebagai upaya data yang sudah tersedia

kemudian diolah dengan statistik dan dapat digunakan untuk menjawab

rumusan masalah dalam penelitian. Dengan demikian teknik analisis terhadap


46

data, dengan tujuan mengolah data tersebut untuk menjawab rumusan

masalah (Sugiyono, 2018).

1. Analisa Univariat

Analisa data dalam penelitian ini adalah analisis univariat yaitu

analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan setiap variabel yang

diteliti, diagnosis asumsi statistik lanjut deteksi nilai ekstrim/outlier

(Amran, 2018).

Analisa univariat dilakukan terhadap tiap variabel dari hasil

penelitian. Pada umumnya dalam analisis ini hanya menghasilkan

distribusi dan persentase dari tiap variabel yaitu pengetahuan, motivasi

keluarga dan pemberian ASI Eksklusif. Analisis univariat dilakukan

menggunakan rumus berikut : (Notoatmodjo, 2018)

X
P= x 100 %
N

Keterangan :

P : Presentase

X : Jumlah kejadian pada responden

N : Jumlah seluruh responden

2. Analisis Bivariat

Analisis bivariat dilakukan terhadap dua variabel yang diduga

berhubungan atau berkorelasi. Adapun analisis bivariat dalam penelitian

ini meliputi satu variabel independen (pengetahuan dan motivasi keluarga)

dan variabel dependen (pemberian ASI Eksklusif). Pada penelitian ini

menggunakan uji Paired Samples T-Test. Uji tersebut dapat menggunakan


47

bantuan komputerisasi program SPSS (Statistic Product Service Solution)

for windows release 21. Analisis yang digunakan untuk mengetahui

pengaruh pengetahuan dan motivasi keluarga terhadap pemberian ASI

Eksklusif di Puskesmas Rarang dengan pengambilan keputusan sebagai

berikut:

a. Bila p value < α (0,05) berarti ada pengaruh pengetahuan dan motivasi

keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Rarang.

b. Bila p value > α (0,05) berarti tidak ada pengaruh pengetahuan dan

motivasi keluarga terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas

Rarang.

H. Etika Penelitian

Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam

penelitian, mengingat penelitian kebidanan berhubungan langsung dengan

manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan (Hidayat, 2017).

Ada beberapa etika yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu :

1. Lembar Persetujuan Responden (Informed Consent)

Lembar persetujuan akan diberikan kepada responden atau subjek

sebelum penelitian dilaksanakan dengan maksud supaya responden

mengetahui tujuan penelitian, jika subjek bersedia diteliti harus

menandatangani lembar persetujuan tersebut, tetapi jika tidak bersedia

maka `peneliti harus tetap menghormati hak responden (Notoadmodjo,

2018).

2. Tanpa Nama (Anonymity)


48

Peneliti tidak mencantumkan nama responden yang akan dijadikan

sebagai subyek penelitian untuk menjaga kerahasiaan identitas subyek,

tetapi peneliti akan memberi tanda atau kode secara khusus (Notoadmodjo,

2018).

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Peneliti senantiasa akan menjaga kerahasiaan dari data yang

diperoleh, dan hanya akan disajikan kepada kelompok tertentu yang

berhubungan dengan penelitian, sehingga rahasia subyek penelitian benar-

benar terjamin. Metode penelitian merupakan suatu cara dalam melakukan

penelitian, metode yang dipilih berhubungan erat dengan prosedur, alat,

serta desain penelitian yang digunakan (Notoadmodjo, 2018).

I. Alur Penelitian

Surat Pengantar dari Bappeda Kepala Puskesmas


Kampus Rarang

Penelitian Populasi Pengambilan Data


dan Sampel Awal

Penyusunan Proposal Ujian Proposal Revisi Proposal


Penelitian Penelitian Penelitian

Gambar 3.1 Alur penelitian pengaruh pengetahuan dan motivasi keluarga


terhadap pemberian ASI Eksklusif di Puskesmas Rarang.
49

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka


Cipta.

Azwar, 2018. Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta:


Pustaka. Pelajar.

Hidayat, 2017. Metode penelitian Keperawatan dan Teknik Analisis. Data.


Jakarta: Salemba Medika.

Lestari, 2017. Kumpulan Teori Untuk Kajian Pustaka Penelitian Kesehatan.


Yogyakarta : Nuha Medika.

Manuaba, 2017. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : ECG.

Notoatmodjo, 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta

Nursalam, 2018. Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan)
Edisi1. Jakarta : Salemba Medika.

Sugiyono, 2018. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D. Bandung:


Alfabeta.

Anda mungkin juga menyukai