1.
0 SCOPE
Dimensional control merupakan sebuah metode untuk melakukan pengukuran secara
presisi. Prosedur dimensional control ini menjabarkan secara lengkap requirement serta
tanggung jawab dari konsorsium PT. Titian dan PT. Gemala Saranaupaya:
a. Menjamin bahwa seluruh proses aktivitas jasa konstruksi, fabrikasi harus dilakukan
secara sistematis dan dikontrol pengukurannya serta penuh (100% dimensionally
controlled),
b. Memastikan dari awal approved sampai hasil akhir 100% barang fabrikasi telah
sesuai dengan persyaratan/ permintaan dari client.
Seluruh aktivitas harus dilakukan kontrol dimensi agar hasil yang didapatkan sesuai
dengan:
a. Memverifikasi proses fabrikasi di workshop: Ini berarti memeriksa kembali semua
proses pembuatan di bengkel untuk memastikan bahwa komponen pipa dan struktur
baja sudah dibuat dengan benar sebelum dikirim. Tujuannya adalah untuk
memastikan bahwa barang yang sudah jadi sesuai dengan:
1. Desain atau gambar (drawing) dari klien: Barang yang sudah jadi harus persis
sama dengan gambar yang sudah disetujui oleh klien.
2. Kontrak pekerjaan: Semua pekerjaan yang dilakukan harus sesuai dengan
perjanjian yang sudah dibuat dengan klien.
b. Memastikan kualitas dari hasil akhir: Selain bentuknya yang harus sesuai, kualitas
bahan dan hasil akhir dari produk juga harus memenuhi standar yang telah
ditetapkan.
c. Memastikan proses fit-up yang baik: Proses penyambungan antara pipa atau struktur
harus dilakukan dengan benar agar tidak ada kebocoran atau kerusakan.
d. Agar segala proses sesuai dengan persyaratan QA/QC dan kontrak pekerjaan: Semua
tahapan pekerjaan, mulai dari konstruksi, fabrikasi, hingga pemasangan harus sesuai
dengan standar kualitas (QA/QC) dan perjanjian yang sudah dibuat dengan klien."
2.0 SCOPE
Client/ Company : PT. Harbour Energy Indonesia
Contractor : Konsorsium PT. Titian dan PT. Gemala Saranaupaya
Precision : Dapat diketahui sebagai proses pembacaan/ pengukuran yang
dilakukan secara berulah-ulang terhadap suatu benda yang
diharapkan akan mendapatkan sesuatu hasil yang pasti.
Accuracy : Merupakan kombinasi dari biasa dan presisi terhadap sebuah
Analisa yang menunjukan seberapa dekat hasil pengukuran
dengan angka pastinya
MT : Material transfer
MTO : Material Take Off
ITP : Inspection and Test Plan
MDR : Manufacturing Data Records
SR : Service Request, dalam pengertian juga sebagai Job Order
3.0 REFERANCE
ASME Sec. V Non Destructive Examination
ASME Sec. VIII Div. 1 Rules for Construction of Pressure
Vessel
ASME Sec. IX Welding, Brazzing and Fusing
Qualifications
ASME B31.3 Piping Process
API 1104 Pipeline
AWS D1.1 Structural Welding Code – Steel
Drawing Fabrikasi Client
Pressure Vessel Hand Book – Twelfth Edition
4.0 REFERANCE
Prosedur ini berlaku untuk mengontrol ukuran-ukuran yang sangat penting dalam proses
pembuatan, pengujian, dan pemeriksaan pada proyek kerjasama antara PT Guna Tesuma
Internasional dan PT Gemala Saranaupaya dengan klien. Tujuannya adalah untuk
memastikan bahwa semua alat ukur yang digunakan sudah sesuai dengan standar yang
ditetapkan oleh klien.
Dokumen kontrol ukuran ini dibuat untuk memastikan bahwa hasil pengelasan sesuai
dengan gambar desain yang sudah disetujui. Beberapa hal yang perlu dikontrol ukurannya
adalah:
a. Uji dimensi: Ini adalah cara untuk mengukur panjang, bentuk, dan posisi suatu benda
dengan menggunakan alat ukur.
b. Inspeksi dimensi: Ini adalah pemeriksaan terhadap ukuran-ukuran dari bahan baku,
pelat, tanda material, penyambungan, pengelasan, dan hasil akhir produk yang akan
dibuat.
5.0 PERAN DAN TANGGUNG JAWAB
A. QA/ QC Coordinator
1. QA/QC Coordinator atau Manager bertanggung jawab untuk melakukan
supervisi terhadap aktifitas dari Quality Control Staff dan mengkoordinasikan
Quality Control Staff untuk memastikan bahwa hasil yang dikeluarkan telah
sesuai dengan contract requirements.
2. QA/QC Coordinator/Manager bertanggung jawab terhadap pengeluaran dan/atau
rejected work inspeksi/ pengujian yang dijadikan paduan sebagai evaluasi akhir
dari spesifikasi Client dan statutory requirements.
3. QA/QC Coordinator/Manager bertanggung jawab untuk menyetujui (approve)
dari hasil inspeksi yang telah disetujui/diterima.
4. QA/QC Coordinator/Manager bertanggung jawab untuk memastikan bahwa
seluruh peralatan untuk melakukan pengujian serta pengukuran telah terkalibrasi
dengan valid.
5. QA/QC Coordinator/Manager memiliki tanggung jawab untuk memastikan
bahwa seluruh QA/QC Staff merupakan personnel yang terkualifikasi sesuai
dengan Client requirements.
6. QA/QC Coordinator/Manager harus segera melaporkan secara tertulis (melalui
email) perihal sesuai permintaan QC Reps, Client sehingga tidak menghambat
durasi pekerjaan fabrikasi.
B. QA/ QC Inspector
1. QA/QC Inspector memiliki tanggung jawab untuk mengawasi (memonitor)
pelaksanaan prosedur inspeksi dengan mengacu pada spesifikasi klien dan
standar yang telah ditetapkan. Mereka juga bertanggung jawab untuk membuat
jadwal inspeksi, mengawasi hasil dari proses inspeksi, serta membuat laporan
hasil inspeksi dan memberikannya kepada QA/QC Coordinator.
2. QA/QC Inspector harus menjaga dokumen yang berhubungan dengan barang
yang tidak sesuai (non conforming item).
3. QA/QC Inspector memiliki tanggung jawab untuk melaporkan setiap hasil dari
proses pengujian dan inspeksi dari aktivitas yang mereka lakukan kepada
QA/QC Coordinator. Hasil tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam
Laporan Data Produksi.
4. QA/QC Inspector memiliki wewenang untuk melakukan inspeksi setiap saat
dengan mengacu pada jadwal yang telah ditentukan. Mereka juga dapat
memberikan notifikasi bahwa pekerjaan tersebut ditolak atau dihentikan.
5. QA/QC Inspector harus memahami durasi pekerjaan fabrikasi yang diberikan
oleh klien, dan segera melaporkan permintaan dan laporan mengenai proses
fabrikasi yang terkait dengan kualitas.
C. QA/ QC Administration
QA/QC Administration memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan dan
melakukan verifikasi dokumen yang berada di sistem dan melakukan pengontrolan
terhadap semua dokumen yang berhubungan dengan inspeksi dan quality control
dengan mengacu kepada contract requirements.
6.0 PERAN DAN TANGGUNG JAWAB
QA/QC Coordinator/Manager bertanggung jawab dan harus memastikan bahwa semua
personil memiliki kualifikasi yang sesuai dengan minimum requirements-nya masing-
masing.
QA/QC Inspector harus memiliki kemampuan minimum sebagai berikut:
a. Pengetahuan mengenai gambar (drawing), spesifikasi dan prosedur.
b. Pengetahuan mengenai geometry.
c. Kemampuan menggunakan alat ukur.
d. Pengetahuan mengenai simbol pengelasan (welding symbol)
e. Kemampuan untuk membuat dan menjaga rekaman dengan baik dan benar.
7.0 PERAN DAN TANGGUNG JAWAB
a. Spesifikasi dan/atau gambar harus telah disetujui (approved) oleh Client.
b. Spesifikasi dan/atau gambar (drawing) dari bidang kerja harus memiliki referensi
yang jelas, dengan contoh: material, ukuran, dan starting point, orientasi, satuan,
skala, part number, welding joint, persiapan, simbol pengelasan, machining symbol,
dan lain-lain.
8.0 PERALATAN PENGUKURAN
a. Semua peralatan yang akan digunakan untuk pengukuran harus telah terkalibrasi.
b. Alat pengukuran langsung langsung dapat digunakan, seperti:
1. Steel roll meter.
2. Water pass.
3. Dial gauge.
4. Vernier caliper.
5. Steel ruler.
6. Welding gauge.
7. Dan sebagainya (bila diperlukan)
9.0 PEMERIKSAAN
a. Kedatangan material mengacu kepada dokumen Material Transfer, MTO/Drawing
Fabrikasi.
b. Pekerjaan fabrikasi mengacu kepada Fabrikasi Prosedur
c. Pemeriksaan dimensi secara langsung dari sebuah bidang kerja umumnya dibuat
ketika akses cukup untuk dilakukan penglihatan sekitar 24 inch (600 mm) dari
permukaan yang akan diperiksa. Dan pada sudut yang tidak kurang dari 30° dari
permukaan yang akan diperiksa. Pencahayaannya di sekitar obyek (barang) yang
akan diperiksa harus baik dan memiliki jarak pandang yang baik serta alat bantu
pencahayaan dapat digunakan.
10.0 INSPEKSI DIMENSIONAL
a. Pemeriksaan dimensi harus sesuai dengan gambar yang disetujui. Hasil rekaman
inspeksi harus disiapkan, Setiap penyimpangan harus ditolak dan diperbaiki kecuali
ada persetujuan dari pemilik proyek.
b. Pemeriksaan dimensi harus diperiksa oleh inspektur QC pada saat fit up, setelah
pengelasan selesai dan pemeriksaan terakhir.
c. Untuk setiap pipa spool dengan orientasi yang tidak normal harus dilaporkan dengan
pemeriksaan dan gambar aktual.
d. Semua orientasi flange dan orientasi baut harus diperiksa dan dilaporkan.
e. Pengukuran yang dibutuhkan dicatat oleh Departemen QC dan diperbarui ke dalam
laporan dimensi.
11.0 TOLERANSI DIMENSIONAL
Toleransi yang diberikan di bawah ini adalah sebagai acuan kontraktor untuk memastikan
bahwa dimensi barang hasil fabrikasi yaitu acceptable (dapat diterima) terhadap gambar
(drawing) yang disetujui.
A. Piping
Toleransi dimensi untuk piping mengacu kepada Pipe Fabricator Institute-ES-3.
B. Pressure Vessel
Toleransi dimensi pressure vessel dibuat dengan mengacu kepada ASME Boiler and
Pressure Vessel Code, Section VIII, Div.1 dan Pressure Vessel Handbook - Twelfth
Edition.
C. Structural
Toleransi dimensi untuk struktur harus sesuai dengan AWS D1.1 (Structural Welding
Code- Steel) section 5.23.1 to 5.23.12.
12.0 EVALUASI
Sebuah checklist hasil pemeriksaan harus digunakan untuk merencanakan serta
memverifikasi bahwa sebuah pengujian dimensi telah dilakukan. Checklist ini harus
mengacu kepada ITP yang mana prosedur tersebut menetapkan kriteria minimal dari
proses pemeriksaan dan tidak mengidentifikasikan kriteria maksimal yang mungkin
prosesnya tidak dilakukan oleh perusahaan yang melakukan manufaktur.
a. Material
Inspeksi/pemeriksaan dari bahan baku material dapat menemukan sebuah kesalahan
pada ukuran panjang, ketebalan dan laminasi pada plat.
b. Penandaan Pada Benda Kerja (Marking of Work Piece).
1. Pemeriksaan pada benda kerja yang akan dipotong dapat menemukan kesalahan
pada ukuran, bentuk, orientasi serta kesalahan pada material.
2. Dimensi harus dipastikan dengan melakukan pengukuran, benda kerja harus
diidentifikasi sesuai dengan part number yang tertera pada gambar (drawing)
dan material heat number.
3. Perbaikan harus dilakukan sebelum pekerjaan selanjutnya dilakukan.
c. Fit-Up untuk Welding Part
1. Setelah beberapa bagian dirakit untuk di-welding, maka pemeriksaan harus
melakukan pemeriksaan terhadap dimensi, bentuk dan orientasi dari bagian-
bagian yang telah dirakit untuk memastikan kesesuaian terhadap approved
construction drawing dan WPS yang akan digunakan.
2. Jika seluruh bagian telah dirakit sesuai dengan acuan yang disebutkan pada point
sebelumnya, maka pemeriksaan akan menempatkan "OK Fit-Up" dan "QC OK
Weld" pada bagian yang akan di las (welding) dan rangkaian pengelasan harus
mengacu kepada metode fabrikasi.
3. Jika dimensi dari bagian telah dirakit tidak memenuhi syarat/tidak sesuai dengan
gambar (drawing), maka hal tersebut harus dikonfirmasi kepada fitter dan
Fabrication/Production Supervisor untuk selanjutnya dilakukan perbaikan.
Perbaikan harus dilakukan sebelum pekerjaan dilanjutkan ke tahap selanjutnya.
d. Setelah Pengelasan
Beberapa hal yang akan diperiksa setelah proses pengelasan adalah sebagai berikut:
1. Akurasi dari dimensi,
2. Seberapa banyak distorsi yang terjadi,
3. Orientasi.
13.0 EVALUASI
Sebuah dokumen tertulis dari proses pemeriksaan harus berisi beberapa informasi seperti
dibawah:
a. Tanggal dari proses pemeriksaan,
b. Identifikasi dari bagian serta komponen yang diperiksa,
c. Nomor SR dan Nama Project,
d. Hasil dari dimensional inspection dan visual examination,
e. Pemeriksaan identitas dari personnel.
Ketika dibutuhkan oleh code yang menjadi referensi, rekaman hasil inspeksi, harus
didokumentasikan dan akan dimasukan kedalam MDR Package yang kemudian akan
diajukan ke QA/QC PHE Reps untuk persetujuan (approval).
14.0 LAMPIRAN
Dimensional inspection record Form