BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Data
Hasil perbaikan pembelajaran yang dilakukan di kelas IX F
SMPN ...............Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020 melalui dua siklus
dengan menggunakan model quantum teaching menunjukkan hasil yang
maksimal. Penjelasan secara terperinci sebagaimana diuraikan di bawah ini :
1. Kondisi Awal
Kegiatan pembelajaran pada IPS materi benua Asia di
kelas IX F SMPN ………... Kegiatan pembelajaran diawali dengan
mengkondisikan siswa untuk siap mengikuti kegiatan pembelajaran.
Pada saat membuka pelajaran guru mengadakan tanya jawab tentang
pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya, kemudian mencoba
menghubungkan dengan materi yang akan dipelajari. Guru menugaskan
siswa untuk membaca dan mencatat materi yang baru di buku tulis.
Di sini mulai terlihat aktivitas siswa yang semula tertarik menjadi
menurun. Pada awal guru membuka pelajaran siswa tampak tertarik
mengikuti kegiatan pembelajaran, namun ketertarikan siswa berkurang
ketika guru menugaskan untuk membaca dan mencatat materi
pelajaran, kemudian mendengarkan kembali penjelasan materi dari guru,
dan hanya beberapa siswa yang tampak antusias untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Dalam awal pertemuan guru cenderung mengemas proses
pembelajaran dalam bentuk verbalistis. Pengemasan ini tidak hanya
mengakibatkan belajar tidak menarik melainkan membatasi aktivitas
siswa. Guru jarang menggunakan alat peraga atau media pelajaran
sains dan jarang pula melakukan percobaan. Kegiatan kelompokpun
jarang dilaksanakan dan secara otomatis tidak ada diskusi [Link]
tidak aktif karena guru terlalu mendominasi kegiatan pembelajaran.
Secara rinci temuan hasil penelitian awal pada observasi di
kelas IX F SMPN ...............adalah bahwa setiap siswa kurang
34
35
berkonsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran, dan masih ada
beberapa siswa yang kurang memperhatikan ketika guru menyampaikan
materi pembelajaran. Siswa yang kurang tertarik itu ditujukan dengan
bermain-main dengan sesuatu, mengobrol dengan teman sebangku dan
tidak memperhatikan ketika guru menjelaskan, sehingga pemahaman
siswa terhadap materi pembelajaran sangatlah kurang. Hasil evaluasi
siswa berupa nilai tes formatif yang dilaksanakan pada kegiatan awal
ditunjukkan pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Kondisi Awal
Kondisi Awal
No Kriteria Ketuntasan
Jumlah %
1 Tuntas 8 23,53
2 Belum Tuntas 26 76,47
Jumlah 34 100
Nilai terendah 40,00
Nilai tertinggi 70,00
Rata – rata 57,06
Ketuntasan 23,53
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa pada kondisi awal hanya
terdapat 8 siswa atau 23,53% yang dinyatakan tuntas atau mendapat nilai
di atas KKM, sedangkan 26 siswa atau 76,47% dinyatakan belum tuntas
dengan nilai rata-rata sebesar 57,06.
Adapun penjelasan mengenai tingkat aktivitas belajar pada kondisi
awal sebagaimana dijelaskan pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil PenilaianAktivitas Siswapada Kondisi
Awal
No Uraian Jumlah Ket
1 Siswa Tuntas 12
2 Persentase Tuntas 35,29
3 Siswa Belum Tuntas 22
4 Persentase Belum Tuntas 64,71
5 Ketuntasan Klasikal 35,29
Dari penjelasan tabel di atas diketahui hanya terdaat 12 siswa atau
35,29% yang memenuhi kriteria ketuntasan, sedangkan 22 siswa atau
36
64,715 dinyatakan belum tuntas. Oleh karena itu, melalui pelaksanaan
penelitian tindakan kelas ini, peneliti melakukan sebuah inovasi dalam
pembelajaran khususnya pada IPS materi benua Asia dengan
melaksanakan model quantum teaching. Model quantum teaching sangat
tepat jika diterapkan dalam proses pembelajaran karena dengan
penerapan model quantum teaching ini diharapkan dapat tumbuh berbagai
kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan belajar siswa. Dengan
kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru
berperan sebagai penggerak atau pembimbing, sedangkan siswa
berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini
akan berjalan baik apabila siswa banyak aktif dibandingkan guru.
Penyampaian materi pembelajaran perlu dirancang suatu strategi
pembelajaran yang tepat, yakni anak akan mendapatkan pengalaman baru
dalam belajarnya, selain itu siswa akan merasa nyaman.
2. Siklus I
Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran dengan menggunakan
model quantum teaching, hasil yang diharapkan dapat tercapai secara
maksimal. Hal tersebut sebagaimana diuraikan pada penjelasan di bawah
ini :
a. Data Hasil Perencanaan
Pada tahap perencanaan pada siklus I ditulis dalam bentuk RPP
yang terdiri dari pendahuluan, kegiatan inti dan penutup yang
disesuaikan dengan fase-fase model quantum teaching. (RPP
selengkapnya terlampir) Perbedaan rancangan pembelajaran dengan
menggunakan model quantum teaching dari rancangan pembelajaran
yang dibuat pada umumnya adalah pada kegiatan pembelajarannya
lebih menekankan pada pemberian keleluasaan pada siswa untuk
membangun pengetahuan yang telah mereka miliki sebelumnya,
yang kemudian dibuktikan dengan melakukan kegiatan percobaan
dengan melaksanakan demontrasi secara langsung dan mendiskusikan
kegiatan tersebut dengan temannya maupun dengan pelaksanaan
37
diskusi kelompok maupun kelas, sehingga pembelajaran akan menjadi
lebih bermakna bagi siswa sehingga hasil yang diharapkan dapat
tercapai sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
b. Data Hasil Pelaksanaan Tindakan
Data hasil pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran
menggunakan model quantum teaching pada pembelajaran IPS
materi benua Asia di kelas IX F
SMPN ...............sebagaimana tabel di bawah ini
Tabel 4.3 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif Pembelajaran pada
Siklus I
Kondisi Awal
No Kriteria Ketuntasan
Jumlah %
1 Tuntas 19 55,88
2 Belum Tuntas 15 44,12
Jumlah 34 100
Nilai terendah 50,00
Nilai tertinggi 80,00
Rata – rata 65,94
Ketuntasan 55,88
Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa setelah dilakukan
perbaikan pembelajaran dengan menggunakan model quantum
teaching, nilai rata-rata meningkat menjadi 65,94, dan jumlah siswa
yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar 19 siswa (55,88%)
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan
observer sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada
siklus II, karena nilai rata-rata hasil belajar baru mencapai angka 65,94
yang berarti masih berada di bawah KKM sebesar 70,00 sesuai dengan
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dan tingkat ketuntasan
belajar baru 55,88%. Hal ini menunjukkan ketuntasan belajar belum
mencapai 85% dari jumlah seluruh siswa sesuai dengan kriteria
keberhasilan yang telah ditentukan
38
c. Data Hasil Pengamatan
Pada tahap pengamatan mengenai aktivitas siswa
padapembelajaran IPS materi benua Asia di kelas IX F
SMPN ...............dapat diterangkan sebagai berikut:
Tabel 4.4 Tabel Aktivitas Siswa Pembelajaran pada Siklus I
No Uraian Jumlah Ket
1 Siswa Tuntas 23
2 Persentase Tuntas 67,65
3 Siswa Belum Tuntas 11
4 Persentase Belum Tuntas 32,35
5 Ketuntasan Klasikal 67,65
Dari data pada tabel di atas dapat diperoleh keterangan bahwa
sebelum perbaikan, siswa yang menunjukkan aktivitas belajar
sebanyak 23 siswa atau 67,65%, setelah pembelajaran dilaksanakan
dengan menggunakan metode demonstasi, siswa yang belum
menunjukkan peningkatan aktivitas belajar sebanyak 11 siswa atau
32,35%
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan
observer sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada
siklus II karena belum memenuhi indikator dan kriteria keberhasilan
yang telah ditentukan sehingga diharapkan pada pelaksanaan perbaikan
pembelajaran pada siklus II aktivitas belajar siswa dapat mencapai
perolehan di atas 85% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah
ditetapkan.
d. Data Hasil Refleksi
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus I ini bertujuan untuk
meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap pembelajaran IPS
materi benua Asia Pada waktu pertama kali pertemuan dengan
diadakan pembelajaran dengan Metode Quantum Teching para siswa
masih bingung dan merasa canggung, apalagi pada waktu
mengerjakan soal awalpara siswa masih ada yang tidak senang dengan
39
teman kelompoknya, dengan demikian tugas yang dikerjakan secara
kelompok masih satu atau dua orang saja yang mengerjakan karena
mereka tidak senang dengan teman kelompoknya. Apalagi pada waktu
guru memberikan tugas untuk mengaitkan ilustrasi gambar dengan
kehidupan sehari-hari mereka kelihatan bingung dan berusaha tidak
menerimanya, dan akhirnya dengan pengarahan guru mereka dapat
menerimanya. Quantum teaching merupakan belajar yang berpusat
pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator, peran guru dalam
Quantum teaching sangatlah sederhana.
Kembali pada tujuan peneliti menerapkan pendidikan dengan
pendekatan Metode Quantum teaching adalah untuk meningkatkan
aktivitas dan hasil siswa terhadap pembelajaran IPS materi benua
Asia melalui pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, maka
peneliti menyimpulkan bahwa pada siklus I ini penerapan Metode
Quantum teaching, mampu menunjukkan peningkatan prestasi belajar,
namun hasil yang dapat diperoleh sangat minim sekali. Hal ini dapat
dilihat dari:
1) Kegiatan diskusi kelompok kurang bisa membawa siswa untuk
aktif berbicara mengemukakan pendapat, bertanya dan menjawab
pertanyaan,
2) Sebagian siswa mengandalkan kemampuan menjawab pertanyaan
guru bukan pada kemampuan menyikapi atau memecahkan
persoalan materi yang di pelajari siswa.
3) Aktivitas belajar siswa terhadap pembelajaran IPS materi
benua Asia hanya dimiliki mereka yang sebagian besar memiliki
prestasi di kelas, sedangkan mereka yang berprestasi rendah/kurang
cenderung pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini tidak
terlepas dari kebiasaan siswa dalam proses belajar yang dialami
sebelumnya.
40
Berdasarkan hasil analisis dan rediksi dari siklus I, maka peneliti
akan melanjutkan pembelajaran pada siklus II dengan mengambil
langkah-langkah sebagai berikut:
1) Guru lebih banyak memberikan dorongan tentang manfaat materi
pelajaran yang dipelajari, terutama pada kelompok yang pasif dan
kurang bersemangat dalam proses pembelajaran.
2) Memotivasi siswa agar lebih berani mengungkapkan gagasannya.
3) Memberi pengertian akan pentingnya kerjasama dalam kelompok.
4) Pada pembelajaran tindakan sebaiknya dominasi guru agak
dikurangi sehingga proses belajar mengajar lebih tampak proses
belajar yang berpusat pada siswa sehingga dapat meningkatkan
aktivitas belajar siswa pada pembelajaran IPS materi benua
Asia
5) Memacu siswa untuk lebih banyak membaca buku, baik di
perpustakaan atau buku pendukung lainnya
3. Siklus II
Setelah mempertimbangkan hasil refleksi pada siklus pertama, maka
pada siklus kedua peneliti mencoba menyempurnakan pelaksanaan
perbaikan pembelajaran. Setelah dilaksanakan perbaikan pembelajaran
dengan menggunakan model quantum teaching, hasil yang diharapkan
dapat tercapai secara maksimal. Hal tersebut sebagaimana diuraikan pada
penjelasan di bawah ini :
a. Data Hasil Perencanaan
Pada tahap perencanaan, data yang diperoleh berupa data hasil
refleksi pelaksanaan pembelajaran pada siklus [Link]
pelaksanaan perbaikan pembelajaran (RPPP) yang di dalamnya
tercakup komponen skenario pembelajaran yang akan
diimplementasikan; seperangkat instrumen yang akan digunakan untuk
pengumpulan data; dan data pendukung pembelajaran berupa lembar
kerja siswa (LKS) dengan penambahan inovasi-inovasi baru seputar
pelaksanaan pembelajaran dengan model quantum teaching.
41
b. Data Hasil Pelaksanaan Tindakan
Data hasil pelaksanaan tindakan perbaikan pembelajaran
menggunakan model quantum teaching pada pembelajaran IPS
materi benua Asia sebagaimana tabel di bawah ini :
Tabel 4.5 Rekapitulasi Nilai Tes Formatif pada Siklus II
Kondisi Awal
No Kriteria Ketuntasan
Jumlah %
1 Tuntas 30 88,24
2 Belum Tuntas 4 11,76
Jumlah 34 100
Nilai terendah 60,00
Nilai tertinggi 90,00
Rata – rata 75,88
Ketuntasan 88,24
Dari tabel di atas mengenai rekapitulasi hasil nilai tes formatif
pada akhir siklus kedua dapat diterangkan bahwa pada pelaksanaan
siklus IIdiketahui bahwa nilai rata-rata hasil belajar meningkat sebesar
75,88 dan jumlah siswa yang telah mencapai tingkat ketuntasan belajar
atau mendapat nilai di atas KKM sebanyak 30 siswa (88,24%).
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer
menyimpulkan bahwa hasil tes hasil belajar menunjukkan hasil 75,88,
yang berarti sudah melebihi KKM minimal 70, dengan jumlah siswa
yang telah tuntas belajarnya sebanyak 30 siswa atau 88,24%. Hal ini
menunjukkan bahwa ketuntasan belajar juga telah mencapai kriteria
keberhasilan sebesar 85% sehingga proses perbaikan pembelajaran
dinyatakan berhasil dan tuntas pada pelaksanaan pembelajaran pada
siklus II
c. Data Hasil Pengamatan
Pada tahap pengamatan mengenai Aktivitas siswa pada
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) materi benua Asia di
atas dapat diterangkan sebagai berikut:
42
Tabel 4.6 Tabel Aktivitas Siswa pada Siklus II
No Uraian Jumlah Ket
1 Siswa Tuntas 32
2 Persentase Tuntas 94,12
3 Siswa Belum Tuntas 2
4 Persentase Belum Tuntas 5,88
5 Ketuntasan Klasikal 94,12
Dari data pada tabel di atas dapat diperoleh keterangan bahwa p ada
pelaksanaan kegiatan pembelajaran pada siklus ke II, siswa yang
menunjukkan aktivitas belajar sebanyak 32 siswa atau 94,12%.
Melihat hasil di atas maka peneliti bersama-sama dengan observer
menyimpulkan bahwa aktivitas belajar mencapai angka 100%. Hal ini
menunjukkan bahwa aktivitas belajar telah mencapai kriteria
keberhasilan sebesar 85% dari jumlah seluruh siswa, sehingga proses
perbaikan dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua.
d. Data Hasil Refleksi
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II ini tetap sama dengan
siklus siklus sebelumnya yaitu bertujuan untuk meningkatkan prestasi
belajar siswa terhadap pembelajaran IPS materi benua Asia. Pada
siklus II ini, 94,44% dari siswa sudah sangat mengerti dan cocok
dengan model pembelajaran yang diterapkan peneliti. Bahkan
mayoritas dari mereka sudah sangat terbiasa dengan model
pembelajaran yang peneliti terapkan di kelas IX F ini. Seperti
disebutkan di atas, bahwa tujuan peneliti menerapkan MetodeQuantum
teachingadalah untuk meningkatkan prestasi belajar siswa terhadap
pembelajaran IPS materi benua Asia melalui pembelajaran yang
melibatkan siswa secara aktif, maka peneliti menyimpulkan bahwa
pada siklus II ini penerapan Metode Quantum teaching dapat
meningkatkan prestasi belajar siswa yang sangat menggembirakan hal
ini dapat dilihat dari:
43
1) Kegiatan diskusi kelompok yang dapat membawa semua siswa
untuk aktif berbicara mengemukakan pendapat, bertanya dan
menjawab pertanyaan,
2) Siswa sudah dapat mengandalkan kemampuan menyikapi atau
memecahkan persoalan, dan mensinkronkan materi dengan
kehidupan nyata. Aktivitas belajar siswa terhadap pembelajaran
IPS materi benua Asia pada siklus I hanya dimiliki sebagian
siswa, sekarang sudah mencapai angka 94,12% atau 32 siswa
dengan tingkat ketuntasan belajar sebesar 88,24% atau 30 siswa
serta rata-rata hasil belajar sebesar 75,88.
B. Hasil Penelitian
Setelah dilakukan analisa terhadap data yang diperoleh, maka hasil
penelitian dapat dirangkum sebagai berikut :
1. Siklus I
Pada siklus I peneliti menggunakan metode ceramah dan tanya jawab
serta kerja kelompok untuk melaksanakan kegiatan presentasi di depan
kelas pada pembelajaran tema selamatkan mahluk hidup
materi rantai makanan. Adapun penjelasan mengenai hasil
pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus pertama adalah sebagai
berikut :
a. Aktivitas
Peningkatan aktivitas siswa cukup signifikan pada setiap
siklusnya, dimana pada sebelum perbaikan hanya 35,29% atau 12
siswa, meningkat menjadi 67,65% atau 23 siswa pada siklus pertama.
Melihat hasil tersebut maka peneliti bersama-sama dengan observer
sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II
dengan harapan pada siklus II aktivitas belajar siswa dapat mencapai
perolehan di atas 85% sesuai dengan kriteria keberhasilan yang telah
ditetapkan.
b. Hasil Belajar
44
Sepertinya halnya peningkatan aktivitas belajar meningkat
cukup baik, yaitu dari nilai rata-rata hasil belajar sebesar 57,06 pada
sebelum perbaikan, menjadi 65,94 pada siklus pertama, sedangkan
tingkat ketuntasan belajar baru mencapai angka 19 siswa atau 55,88%..
Melihat hasil tersebut maka peneliti bersama-sama dengan observer
sepakat untuk melaksanakan perbaikan pembelajaran pada siklus II,
karena nilai rata-rata hasil belajar baru mencapai angka 65,94 yang
berarti masih berada di bawah KKM sebesar 70,00 sesuai dengan
kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan dan tingkat ketuntasan
belajar baru 55,88%. Hal ini menunjukkan ketuntasan belajar belum
mencapai 85% dari jumlah seluruh siswa sesuai dengan kriteria
keberhasilan yang telah ditentukan
Melihat dan menganalisis hasil pembelajaran dari pembahasan
siklus I, dari mulai pertemuan pertama sampai pertemuankedua
dan dari hasil observasi aktivitas siswa, serta hasil tes, ada
beberapa hal yang harus diperbaiki. Dari segi proses
pembelajaran, aktivitas siswa dalam belajar dan dari segi nilai
hasil belajar. Refleksi tindakan siklus I sebagai berikut:
1) Siswa terlihat bingung ketika diberikan lembar kerja pertama,
mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan,
2) Setiap kelompok pada dasarnya dapat menyimpulkan hasil
diskusi, akan tetapi saat diminta untuk mempresentasikan di
depan kelas, mereka saling menunjuk anggota lain untuk ke depan
kelas.
3) Sebagian siswa dalam tiap kelompok bermain-main saja,
sebagian mengganggu anggota kelompok lainnya.
4) Sebagian siswa kurang menanggapi laporan yang dibacakan
oleh temannya.
Kemudian guru melakukan refleksi terhadap tindakan
pembelajaran siklus I yang telah dilaksanakan dengan
merenungkan temuan-temuan yang didapatkan dari lembar
45
observasi agar dapat dicarikan upaya untuk memperbaikinya pada
saat tindakan siklus II. Sebagai untuk memperbaiki kekurangan
yang ditemukan pada saat tindakan pembelajaran siklus I, guru
bersama observer melakukan diskusi untuk merencanakan tindakan
pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu siklus II. Dari hasil
diskusi ini didapatkan perencanaan sebagai berikut.
1) Media dan alat bantu pelajaran yang ada sebaiknya lebih
dioptimalkan dalam pemberdayaannya agar siswa menjadi
tertarik pada materi agar konsentrasi siswa menjadi terfokus
sehingga suasana kelas menjadi kondusif.
2) Guru hendaknya membiasakan diri untuk selalu menumbuhkan
motivasi siswa agar semangat belajar siswa lebih kuat. Agar
siswa lebih menghayati dan memahami maksud dan tujuan dari
pembelajaran.
3) Guru harus menjelaskan tujuan pembelajaran dan kompetensi dasar
yang seharusnya bisa dicapai oleh siswa secara jelas dan dapat
dipahami oleh siswa. Selain itu, guru juga perlu meningkatkan
kemampuan dalam menguasai kelas.
4) Guru lebih melibatkan siswa dalam menyimpulkan hasil
pembelajaran yang telah dilaksanakan agar pengetahuan yang
didapatkan siswa lebih kuat dalam ingatan.
5) Guru terus berupaya mengintensifkan pemberian bimbingan kepada
siswa yang mengalami kesulitan, agar interaksi antara guru
dengan siswa semakin terjalin dengan kuat.
6) Kemampuan guru dalam mengatur waktu harus lebih diefisienkan,
hal ini dimaksudkan agar tahapan yang telah dipersiapkan dapat
direalisasikan dan semua tahapan pembelajaran dengan
menggunakan model quantum teaching dapat dilaksanakan.
2. Siklus II
Siklus II peneliti menggunakan metode kerja kelompok untuk
melaksanakan kegiatan presentasi tentang benua Asia. Hasil perbaikan
46
pembelajaran siklus II sudah mengalami kenaikan dibanding siklus I
namun belum mencapai ketuntasan belajar.
a. Aktivitas Belajar
Peningkatan aktivitas belajar cukup signifikan pada setiap
siklusnya, dimana pada siklus pertama hanya 67,65% atau 23 siswa,
meningkat menjadi 94,12% atau 32 siswa pada siklus kedua. Melihat
hasil tersebut maka peneliti bersama-sama dengan observer
menyimpulkan bahwa aktivitas belajar mencapai angka 94,12%. Hal
ini menunjukkan bahwa aktivitas belajar telah mencapai kriteria
keberhasilan sebesar 85% dari jumlah seluruh siswa, sehingga proses
perbaikan dinyatakan berhasil dan tuntas pada siklus kedua.
b. Hasil Belajar
Sepertinya halnya peningkatan aktivitas belajar, hasil
belajarpun meningkat cukup baik, yaitu dari nilai rata-rata hasil belajar
sebesar 65,94 pada siklus pertama, menjadi 75,88 pada siklus kedua,
sedangkan tingkat ketuntasan belajar mencapai angka 30 siswa atau
88,24%. Melihat hasil tersebut maka peneliti bersama-sama dengan
observer menyimpulkan bahwa hasil tes hasil belajar menunjukkan
hasil73,06, yang berarti sudah melebihi KKM minimal 70, dengan
jumlah siswa yang telah tuntas belajarnya sebanyak 30 siswa atau
88,24%. Hal ini menunjukkan bahwa ketuntasan belajar juga telah
mencapai kriteria keberhasilan sebesar 85% sehingga proses perbaikan
pembelajaran dinyatakan berhasil dan tuntas pada pelaksanaan
pembelajaran pada siklus II
Setelah dilakukan pembelajaran pada tindakan siklus II yang
bertolak dari siklus I yang bertujuan untuk memperbaiki
pembelajaran yang sebelumnya telah dilakukan maka peneliti
bersama observer melakukan diskusi untuk menarik kesimpulan
dari hasil pembelajaran pada siklus II yang merupakan siklus
terakhir dari penelitian ini. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II
47
dinyatakan berhasil dan tuntas. Atas keberhasilan ini, peneliti bersama-
sama observer menyimpulkan bahwa :
1) Guru diharapkan mempertahankan kinerja yang telah dikuasainya.
2) Guru harus lebih meningkatkan kemampuannya dalam menguasai
kelas.
3) Guru hendaknya lebih mengintensifkan pemberian motivasi kepada
siswa agar semangat belajar siswa semakin meningkat.
4) Pemberdayaan media dan alat bantu pelajaran yang ada
sebaiknya lebih dioptimalkan sebagai upaya memperjelas materi
pembelajaran.
5) Pemberian bimbingan terhadap siswa yang memiliki kesulitan
belajar lebih diintensifkan lagi agar interaksi antara guru dan siswa
semakin erat.
Secara umum, hasil yang didapatkan oleh siswa ketika
mengalami pembelajaran pada siklus I, dan II adalah adanya
perubahan dalam diri siswa baik dari segi kemampuan
berpikirnya, aktivitas belajarnya maupun pemahamannya itu
sendiri mengalami peningkatan. Sedikit demi sedikit, wawasan
keilmuan siswa mulai terbuka, sikap siswa mulai berubah positif dan
yang paling penting siswa sedikit demi sedikit dapat memecahkan
masalah yang dihadapinya. Melihat tingkat ketuntasan dan nilai rata-
rata hasil belajar siswa maka setelah dikonsultasikan dengan teman
sejawat, diputuskan bahwa penelitian perbaikan pembelajaran ini
selesai sampai siklus kedua.
2. Antar Siklus
a. Hasil Belajar
Setelah melakukan analisa terhadap data yang peroleh dari dua
siklus yang dilaksanakan maka dapat dapat disimpulkan bahwa
penggunaan model quantum teaching pada pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) materi benua Asia menunjukkan peningkatan
48
yang signifikan terhadap proses dan hasil pembelajaran. Penjelasan secara
rinci dapat dilihat pada tabel 4.7 di bawah ini :
Tabel 4.7 Rekapitulasi Ketuntasan Hasil Belajar Siswa pada
Sebelum Perbaikan, Siklus I dan Siklus II
Hasil Belajar Siswa
No Pembelajaran
Nilai Rata2 Tuntas % Belum %
1. Sebelum perbaikan 57,06 8 23,53 26 76,47
2. Siklus I 65,94 19 55,88 15 44,12
3. Siklus II 75,88 30 88,24 4 11,76
Untuk lebih jelasnya tentang penjelasan peningkatan nilai rata-rata
hasil belajar siswa dan ketuntasan belajar secara klasikal pada sebelum
perbaikan, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar diagram batang
berikut ini :
100
88.24
90
80 75.88 76.74
70 65.94
60 57.06 55.88
50 44.12
40
30
30 23.53 26
19
20 15
11.76
8
10 4
0
Nilai Jumlah % Jumlah %
Pra Siklus Siklus I Siklus II
Gambar 4.1 Diagram Batang Peningkatan Angka Nilai Rerata
Hasil Belajar dan Ketuntasan Siswa pada Setiap
Siklus Perbaikan Pembelajaran
b. Aktivitas Belajar
Dari hasil analisis terhadap peningkatan aktivitas belajar siswa
pada sebelum perbaikan, siklus I dan siklus II, penjelasan secara terperinci
mengenai peningkatan aktivitas belajar dapat dilihat pada tabel 4.8 di
bawah ini :
49
Tabel 4.8 Rekapitulasi Peningkatan Aktivitas Belajar pada
Sebelum Perbaikan, Siklus I dan Siklus II
Siswa Belum
Jumlah Siswa Tuntas
No Uraian Tuntas
Siswa
Frekuensi % Frekuensi %
1 Awal 34 12 35,29 22 64,71
2 Siklus I 34 23 67,65 11 32,35
3 Siklus II 34 32 94,12 2 5,88
Dari penjelasan pada tabel 4.8 di atas, diperoleh keterangan sebagai
berikut :
1) Pada Sebelum perbaikan, siswa yang menunjukkan aktivitas belajar
sebanyak 12 siswa atau 35,29%
2) Pada siklus I, siswa yang menunjukkan aktivitas belajar sebanyak 23
siswa atau 67,65%
3) Pada siklus II, siswa yang menunjukkan aktivitas belajar sebanyak 32
siswa atau 94,12%
Untuk lebih jelasnya peningkatan aktivitas belajar pada sebelum
perbaikan, siklus I dan siklus II dapat dilihat pada gambar diagram batang
berikut ini :
100 94.12
90
80
67.65 64.71
70
60
50
40 35.29 32.35
32
30 23 22
20 12 11
10 5.88
2
0
Jumlah % Jumlah %
Pra Siklus Siklus I Siklus II
50
Gambar 4.2 Diagram Batang Peningkatan Aktivitas Belajar pada
Sebelum Perbaikan, Siklus I dan Siklus II
C. Pembahasan
Proses perencanaan kegiatan pembelajaran dalam menerapkan
metode quantum teaching untuk meningkatkan prestasi belajar siswa,
dilakukan sebanyak 2 siklus selama 2 kali pertemuan, dilalui dalam 4 tahap
yaitu: tahap perencanaan, pelaksaan, observasi atau pengamatan dan tahap
refleksi.
Pada tahap pelaksanaan siklus I, siswa terlihat antusias dan
bersemangat untuk berpartisipasi dalam mengikuti proses pembelajaran yang
direncanakan. Disamping itu, peneliti juga memberi riward atau penghargaan
kepada siswa yang berprestasi sebagai bentuk cara menumbuhkan hasil
kepada siswa. Sesuai dengan teori yang dikutip oleh Oemar Hamalik dalam
psikologi belajar mmengajar, bahwa untuk menumbuhkan hasil dalam
kegiatan belajar mengajar disekolah, salah satunya dengan cara memberikan
penghargaan dalam belajar adalah bahwa setelah seseorang menerima
penghargaan karena telah melakukan kegiatan belajar dengan baik, ia akan
terus melakukan kegiatan belajarnya sendiri diluar kelas.
Metode Quantum teaching ini, langkah pertama yang dilakukan
adalah membentuk kelompok belajar menjadi beberapa kelompok. Langkah
kedua tiap kelompok melaksanakan tugas yang yang diberikan oleh guru
yaitu saling membantu menguasai bahan ajar atau materi melalui tanya jawab
atau diskusi antar sesama anggota kelompok. Kemudian secara bergiliran
masing-masing kelompok memberikan pengalaman belajar (hasil diskusi) di
depan kelas, dan memberi kesempatan pada kelompok lain yang tidak maju
ke depan untuk bertanya. Forum tanya jawab ini dilakukan untuk
51
membiasakan siswa agar cepat merespon segala permasalahan yang ada
disekelilingnya. Kelebihan pada siklus pertama ini adalah siswa lebih antusias
dan semangat untuk berprestasi dalam mengikuti proses pembelajaran,
tercipta kerja sama antar siswa pada setiap kelompoknya, suasana kelas lebih
hidup, dan peserta didik tidak merasa jenuh selama proses pembelajaran
berlangsung. Sedangkan kelemahan siklus pertama ini, dalam penerapan
quantum teaching ada beberapa siswa yang masih sangat kesulitan dalam
menangkap palajaran.
Hal ini dapat diketahui dari kekurangan rasa ingin tahu mereka
terhadap meteri yang akan diberikan serta minimnya pertanyaan yang
diajukan. Mereka terlihat kebingungan dengan apa yang akan mereka
pertanyakan. Akan tetapi antusias mereka terhadap tugas yang diberikan
cukup baik. Hal ini ditunjukkan dari semangat dan kegembiraan mereka
selama mengikuti pembelajaran.
Berdasarkan data tes, observasi dan refleksi akhir maka untuk
meningkatkan hasil belajar siswa serta mengatasi masalah-masalah yang
muncul pada siklus I peneliti mengambil langkah-langkah sebagai berikut:
1. Memotivasi siswa agar lebih berani mengungkapkan gagasannya.
2. Memberi pengertian akan pentingnya komunikasi dan kerjasama dalam
kelompok melalui pengarahan umum di awal pelajaran berikutnya.
3. Memotivasi siswa untuk membiasakan siswa aktif dalam segala
permasalahan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu peneliti menambah pertemuan lagi untuk penerapan
siklus II. Pada siklus II, peneliti hanya menjelaskan bagian-bagian yang
belum dimengerti oleh peserta didik. Kelebihan siklus II yaitu siswa terlihat
sangat antusias. Dalam menerapkan metode quantum teaching dan tidak ada
siswa yang berbuat curang, disamping itu siswa lebih percaya diri untuk
mengerjakan soal yang diberikan oleh guru pada terakhir season, dan
pembelajaran berjalan sesuai dengan RPP yang dibuat oleh guru, siswa lebih
menguasai pembelajaran yang disajikan, yang ditujukan pada hasil ketuntasan
siswa mencapai angka maksimal dan memenuhi kriteria keberhasilan.
52
Sebagaimana yang telah peneliti paparkan selama pemberian
tindakan pada siklus pertama, dan kedua bahwasannya didapatkan kendala-
kendala dalam pelaksanaan metode Quantum teaching. Diantaranya yaitu,
siswa belum terbiasa terhadap pembelajaran yang menerapkan metode
quantum teaching sehingga mereka masih banyak yang mengalami
kebingungan, kemudian pelaksanaan Metode Quantum teaching
membutuhkan waktu yang banyak sedangkan guru harus menyesuaikan
waktu sesuai dengan waktu yang dialokasikan.
Dari penjelasan mengenai proses dan hasil proses perbaikan
pembelajaran sebagaimana dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kenaikan aktivitas dan hasil belajar belajar siswa yang terjadi pada setiap
siklus menunjukkan kenaikan yang signifikan. Peningkatan aktivitas siswa
menunjukkan perolehan pada sebelum perbaikan hanya 12 siswa atau
35,29%, naik menjadi 23 siswa atau 67,65% pada siklus pertama, dan 94,24%
atau 32 siswa pada siklus kedua. Hal tersebut didukung pula oleh kenaikan
hasil belajar siswa dari rata-rata pada sebelum perbaikan hanya 57,06 naik
menjadi 65,94 pada siklus pertama, dan 75,88 pada siklus kedua, dengan
tingkat ketuntasan belajar sebanyak 8 siswa (23,53%) pada sebelum
perbaikan, 55,88% atau 19 siswa pada siklus pertama, 30 siswa atau 88,24%
pada siklus kedua, dan secara klasikal semua indikator dan kriteria
keberhasilan proses perbaikan pembelajaran telah terpenuhi, sehingga dapat
disimpulkan bahwa proses perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil dan
tuntas pada siklus kedua.