Penguatan Karakter Kebangsaan di Madrasah
Penguatan Karakter Kebangsaan di Madrasah
[Link]@[Link]
ABSTRAK
Kemajuan teknologi yang sangat masif saat ini berpengaruh pada hampir semua aspek kehidupan
manusia termasuk aspek berbangsa dan bernegara. Identitas karakter kebangsaan menjadi modal sosial
yang sangat mendasar dalam pergaulan masyarakat global. Diperlukan upaya yang sistematis untuk
memperkuat Karakter Kebangsaan pada generasi muda Indonesia saat ini, supaya Generasi muda
Indonesia dapat menjadi warga masyarakat global dengan identitas karakter kebangsaan yang kokoh.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya penguatan nilai-nilai Karakter Kebangsaan bagi
siswa di Madrasah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dimana
teknik pengambilan datanya dilakukan dengan tehnik wawancara dan observasi langsung. Penelitian
ini dilaksanakan di Madrasah Aliyah Negri 1 Garut dan Madrasah Aliyah Negeri 1 Pangandaran. Hasil
penelitian ini menunjukan bahwa upaya penguatan karakter kebangsaan siswa di Madrasah
dilaksanakan dengan pendekatan integratif holistik melalui insersi kurikulum pada mapel rumpun
PAI, habituasi dalam kegiatan ekskul keagamaan di Madrasah, serta pembentukan role-model melalui
peneladanaan oleh stakeholder Madrasah. Adapun langkah-langkah penguatan nilai karakter
kebangsaan dimulai dengan merumuskan tujuan, menentukan model pembelajaran yang tepat, serta
implemetasi model baik di dalam pembelajaran maupun dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan
dan umum di Madrasah. Hasil penguatan nilai karakter kebangsaan menunjukan trend yang positif
pada peserta didik. Masih ditemukan faktor hambatan, yakni; peserta didik kurang memahami makna
nilai kebangsaan, kurang adanya dukungan orang tua, faktor guru dalam menyampaikan materi serta
lingkungan luar pendidikan. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam
pemodelan implementasi pendidikan karakter kebangsaan di Madrasah.
Kata kunci: Penguatan Karakter Kebangsaan; Siswa Madrasah; Integratif Holistik Approach
741
A. PENDAHULUAN
Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, nilai-nilai karakter kebangsaan
yang terintegrasi dalam pendidikan nasional memiliki fungsi yang fundamental dalam
membentuk karakter unggul sebagai penggerak peradaban unggul yang berbasis pada nilai
moderasi, toleran dan saling menghargai satu sama lain sebagai warga bangsa. Peserta didik
harus disiapkan untuk mampu menghadapi tantangan global saat ini yang syarat dengan
ketidakpastian. Oleh karena itu pengembangan nilai yang bermuara pada pembentukan
karakter bangsa yang diperoleh melalui berbagai jalur, jenjang, dan jenis pendidikan, akan
mendorong mereka menjadi anggota masyarakat, anak bangsa, dan warga negara yang
memiliki kepribadian unggul seperti diharapkan dalam tujuan pendidikan nasional (Sudrajat,
2011). Kegagalan pendidikan dalam membangun karakter bangsa disebabkan banyak faktor.
Karena ada banyak komponen dalam pendidikan, seperti berhubungan dengan pendidik,
peserta didik, kurikulum, sarana prasarana maupun komitmen pemerintah untuk memajukan
pendidikan nasional (Ariandy, 2019). Keseriusan pemerintah harus dibuktikan dengan aksi
nyata, yaitu dengan memberikan angaran pendidikan yang memadai, meningkatkan
kesejateraan pendidik serta memberikan pengelolaan pendidikan kepada yang ahli di
bidangnya dalam artian pendidikan jangan dijadikan sebagai komuditas kepentingan politik.
Selain dari itu pendidik (guru) juga harus memiliki komitmen yang tinggi dalam membangun
mentalitas dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia, pendidik harus sadar bahwa mereka
memiliki peran yang sangat strategis dalam pembentukan dan pembangaunan generasi
penerus bangsa (Wiyono, 2012).
Pendidikan karakter merupakan upaya untuk membangun dan mengembangkan
kualitas perilaku-perilaku baik sesuai dengan norma agama, nilai budaya, falsafah negera
maupun sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Bangsa yang maju adalah bangsa yang
warga masyarakatnya berkarakter unggul. Oleh karena itu, penguatan pendidikan karakter
pada semua level dan jenjang pendidikan menjadi amat penting dan mendesak. Lahirnya
warga negara Indonesia yang memiliki karakter kuat merupakan buah dari proses pendidikan
yang dapat membentuk peradaban tinggi dan unggul. Pendidikan akan melahirkan karakter
bangsa yang kuat (Komara, 2018).
Karakter kebangsaan merupakan modal sosial dalam membangunan peradaban tingkat
tinggi. Sebuah Bangsa yang masyarakat memiliki karkater jujur, mandiri, bekerjasama, taat
aturan, dapat dipercaya, tangguh serat memiliki etos kerja yang tinggi, akan memiliki sistem
kehidupan sosial yang teratur dan baik, sebaliknya ketidakteraturan sosial akan melahirkan
perilaku-perilaku kriminalitas, radikalisme, terorisme. (Hasanah, 2009).
Munculnya fenomena sosial akhir-akhir ini cukup menghawatrikan. Kekerasan terjadi
di berbagai lembaga, baik di keluarga, sosial bahkan sudah menjamur di lembaga pendidikan.
Berdasarkan data Komnas Perempuan (2014) berdasarkan sumber catatan kekerasan terhadap
perempuan tahun 2013 terdapat 11.719 kasus kekerasan dalam relasi personal di Indonesia.
Dengan kasus kekerasan terhadap istri berada diperingkat pertama, yaitu sebanyak 7.548
kasus atau 64% dari jumlah kasus kekerasan dalam relasi personal yang terjadi. Sebuah
laporan penelitian tentang kekerasan di sekolah menyampaikan bahwa muncul beberapa
bentuk kekerasan yang terjadi disekolah, sebesar 32,6% merupakan kekerasan dalam bentuk
verbal, 46,1% terjadi kekerasan psikologis, dan kekerasan fisik sebesar 12,4%. Maraknya
prilaku amoral seks bebas (free sex) yang telah mencoreng bangsa yang dilakukan oleh para
pelajar dan mahasiswa, seperti yang disampaikan Kementerian Kesehatan pada 2009 pernah
merilis perilaku seks bebas remaja dari hasil penelitian di empat kota: Jakarta Pusat, Medan,
Bandung, dan Surabaya. Hasilnya, sebanyak 35,9 persen remaja punya teman yang sudah
pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Bahkan, 6,9 persen responden telah
melakukan hubungan seksual pranikah. Selain itu, tingkat korupsi sangat tinggi, hal ini terlihat
742
lebih 500 kepala daerah, Gubernur, Bupati dan Walikota, Menteri, Ketua Lembaga Tinggi
Negara berurusan dengan aparat penegak hukum, bahkan sudah masuk penjara.
Beberapa penelitian yang membahas terkait tema pendidikan karakter adalah yang
dilakukan oleh Zuhdi (2012) bahwa sekolah belum siap mendukung pelaksanaan pendidikan
karakter, strategi indoktrinasi masih digunakan walau tidak terlalu besar, perlu menambah
kadar keteladanan, keterampilan moral belum maksimal, dan iklim pendidikan karakter belum
kondusif. Penelitian yang dilakukan oleh Faizah (2009) menyimpulkan bahwa cerita
bergambar efektif untuk pendidikan nilai dan keterampilan, pengembangan model pendidikan
karakter terintegrasi menyimak dan membaca. Model pembelajaran IPA berbasis karakter
sangat efektif dalam meningkatkan nilai kejujuran, tanggung jawab, dan ketaatan beribadah,
serta hasil belajar ini memiliki poin yang baik pada domain kognitif, afektif dan psikomotor
(Banawi, 2014). Dan penelitian lain menyimpulkan bahwa model pendidikan karakter yang
efektif adalah dengan pendekatan komprehensif. Hal ini bukan hanya menekankan pada salah
satu bidang studi saja, tetapi diinternalisasikan ke seluruh bidang studi. Metode dan strategi
yang digunakan perlu bervariasi dan mencakup inkulkasi (lawan dari indoktrinasi),
keteladanan, fasilitas nilai, dan pengembangan soft skills. Seluruh stakeholder sekolah perlu
terlibat dan baik dalam kelas maupun luar kelas perlu dijadikan tempat pendidikan karakter
(Zuchdi, 2006).
Penelitian ini tentu memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya, yakni
penelitian ini berada pada wilayah kajian pendidikan karakter yang fokus kajiannya pada
nilai-nilai kebangsaan di Madrasah. Penelitian ini mengandung unsur kebaruan (novelty)
dilihat dari sisi pendekatan dan pemodelannya yang komprehensif integral dalam
mengimplementasikan nilai karakter berwawasan kebangsaan bagi siswa di lingkungan
Madrasah Aliyah. Berbagai fenomena perilaku negatif sebagaimana di kemukakan di atas,
mengindikasikan telah terjadi pergeseran nilai-nilai etika dan moral di kalangan masyarakat
Indonesia. Nilai-nilai agama, budaya, dan falsafah negara telah mengalami pelemahan yang
signifikan. Munculnya berbagai konflik sosial, konflik agama, suku, budaya, serta
menguatnya identitas kelompok sempit yang bernuansa SARA. Oleh sebab itu upaya
penguatan pendidikan karakter yang berwawasan kebangsaan menjadi amat penting,
mengingat Indonesia adalah bangsa yang plural, multi etnis, agama, suku, budaya dan lain-
lain (Purnomo, 2014).
Penelitian ini dilaksanakan untuk merumuskan upaya penguatan karakter kebangsaan
peserta didik di madrasah, melalui pendekatan yang integratif dan holistik, maka penting
mengoptimalkan pembelajaran rumpun Pendidikan Agama Islam melalui kurikulum dan
model pembelajaran yang memadai dan berkualitas serta pembiaasaan (habituasi) dalam
bentuk religius culture di lingkungan madrasah serta adanya keteladanan yang diperlihatkan
oleh Kepala Madrasah dan Guru akan secara efektif membentuk peserta didik untuk memiliki
karakter kebangsaan yang kokoh.
B. METODE
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif (Lambert & Lambert, 2013). Metode
yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif analitik (Magilvy &
Thomas, 2009). Data kualitatif menjelaskan tentang kualitas objek penelitian. Data ini berupa
hasil wawancara dengan Kepala Madrasah dan guru-guru pada Rumpun PAI, observasi
partisipan dalam penelitian ini dilakukan peneliti dengan ikut ambil bagian dalam kegiatan
yang dilakukan oleh objek yang diselidiki, serta studi dokumentasi. Observasi ini dilakukan
dengan mengamati dan mencatat langsung terhadap objek penelitian, yaitu dengan mengamati
pelaksanaan pembelajaran. Penelitian ini dilakukan di Madrasah Aliyah Negeri 1 Kab. Garut
dan Madrasah Aliyah Negeri 1 Kab. Pangandaran. Teknik analisis data dalam penelitian ini
dilakukan dengan lima langkah: 1) Membaca, mempelajari, menelaah, dan memahami semua
743
data yang terkumpul; 2) Menyusun satuan-satuan abstraksi data ke dalam satuan-satuannya; 3)
Melakukan pemeriksaan mengenai keabsahan data; 4) Menafsirkan data; dan 5) Membuat
Model Penguatan Karakter Kebangsaan di Madrasah Aliyah.
Pada penelitian ini dirumuskan sepuluh nilai-nilai karakter kebangsaan yang diinsersi
pada mapel rumpun PAI di Madrasah, yakni; keberagamaan, kejujuran, sikap toleransi,
kedisiplinan, sikap demokratis, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli
sosial, serta tanggung jawab. Penanaman dan penguatan sepuluh nilai karakter kebangsaan ini
dilaksanakan dengan pendekatan integratif holistik untuk mendapatkan hasil yang efektif.
Pendekatan integratif holistik yakni menginsersi nilai-nilai karakter kebangsaan pada mapel
rumpun PAI, membentuk habituasi melalui kegiatan ekstrakurikuler keagamaan dan umum
serta penguatan role model melalui keteladanan yang diperlihatkan oleh pimpinan Madrasah,
guru dan semua stakeholder di Madrasah. Hal ini juga diperkuat dengan adanya komitmen
nasional tentang pendidikan karakter tersebut telah disosialisasikan, diperkaya, dan dikuatkan
dalam acara Rembuk Nasional Pendidikan Tahun 2010 tanggal 3-4 Maret 2010 yang diawali
dengan Pengarahan Menteri Pendidikan Nasional dan dilanjutkan dengan pembahasan secara
meluas dan mendalam dalam Sidang Komisi Penguatan Peran Pendidikan dalam Upaya
Peningkatan Akhlak Mulia dan Pembangunan Karakter Bangsa (Manullang, 2013).
Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kebangsaan adalah
upaya sadar, terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal, memahami, menghayati
hingga mengimani, bertaqwa dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran Agama Islam
dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadis melalui bimbingan, dan pengajaran
(Maunah, 2016). Model pembelajaran pendidikan agama Islam dalam membangun karakter
bangsa pada dasarnya adalah suatu cara, cara atau upaya yang dilakukan oleh pendidik
(fasilitator) dengan memberikan fasilitas kepada peserta didik untuk belajar dengan mudah,
dalam rangka pembelajaran agama Islam fasilitas tersebut ditawarkan dalam bentuk kerangka
pengembangan karakter bangsa yang baik, atau bagi siswa untuk mengembangkan karakter
baik mereka sendiri (Sunarso, 2020).
Hasil temuan dan pembahasan dalam penelitian ini dibagi kedalam tiga bagian
pembahasan yakni; 1. Merumuskan tujuan penanaman dan penguatan nilai-nilai karakter
kebangsaan di dua sekolah yang menjadi lokus penelitian yakni MAN 1 Garut dan MAN 1
Pangandaran, 2. Mengidentifikasi program pembelajaran pada rumpun PAI di Madrasah
melalui insersi materi pelajaran, kesiapan guru, peserta didik, lingkungan. 3.
Mengimplementasikan model penanaman dan penguatan nilai-nilai karakter kebangsaan secara
komprehensif.
b. Program Pembelajaran
Program pembelajaran yang disusun oleh dua MAN sebagai lokus penelitian, memiliki
kekhasannya masing-masing sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah. Secara umum
penyusunan program pembelajaran untuk menguatkan nilai-nilai karakter kebangsaan meliputi
program pembelajaran dinsersi ke materi bahan ajar, kesiapan peserta didik, serta kompetensi
guru.
1) Materi pelajaran adalah apa yang akan disampaikan guru kepada peserta didik.
Menyusun materi pelajaran guru harus mengetahui dengan pasti, materi yang
akan diajarkan adalah berupa konsep, pengetahuan faktual atau keterampilan
agar mudah dalam menentukan model. Sejalan dengan yang disampaikan oleh
responden “Materi pelajaran yang akan disampaikan tanpa memperhatikan
pemakaian model justru akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan
pembelajaran. pengalaman membuktikan bahwa kegagalan pengajaran salah
satunya disebabkan oleh pemilihan model yang kurang tepat. Hal ini sama
seperti yang dijelaskan Juhana bahwa kelas yang kurang bergairah dengan
kondisi peserta didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan model yang
kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran,
Nilai strategisnya adalah model dapat mempengaruhi jalannya belajar. Karena
itu guru sebaiknya memperhatikan dalam pemilihan dan penentuan model
model sebelum mengajar di kelas.
2) Peserta didik yang berbeda-beda memiliki latar belakang berbeda, minat bakat
yang tak sama dan sifat yang berlainan. Perbedaan tersebut perlu dikelola dan
disesuaikan dengan model yang akan digunakan, setidaknya yang dijadikan
patokan adalah persamaan klasikal dalam menentukan model. Perbedaan latar
belakang siswa yang sangat variatif dari sisi ekonomi, sosial dan latar belakang
pendidikan orang tua membutuhkan penanganan yang bersungguh-sungguh
dari guru dalam menyelenggarakan proses pembelajaran yang efektif.
745
3) Fasilitas Menentukan model juga perlu memperhatikan fasilitas yang dimiliki
karena ada atau tidaknya fasilitas akan menentukan model apa yang akan kita
pilih, hal ini juga akan berpengaruh pada ketersediaan alat dan bahan dalam
penerapan model. Di kedua Madrasah ketersediaan sarana prasarana
pembelajaran dianggap sudah memadai oleh guru, tinggal bagaimana
pemanfaatannya secara optimal oleh guru dan peserta didik.
4) Kompetensi Guru menjadi penting, karena bagaimanapun dalam proses
pembelajaran guru memegang kendali mutu proses dan mutu hasil
pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran juga perlu memperhatikan
kecenderungan guru dalam menguasai komponen dan langkah-langkah model
pembelajaran yang akan diguanakan. Kompetensi guru di kedua sekolah relatif
baik ditunjukan dengan semua guru sudah memiliki kualifikasi S1 bahkan
banyak yang sudah S2 serta sebagian besar sudah bersertifikat pendidik
profesional. Hal ini sangat menunjang terhadap keberhasilan dari penanaman
nilai-nilai karakter kebangsaan. Guru merumuskan lebih dari satu tujuan
instruksional husus dalam penerapan model pembelajaran serta penggunaan
model pembelajaran yang bervariasi didalam kelas.
c. Implementasi Model
Implementasi model pendidikan nilai nilai karakter kebangsaan yang meliputi sepuluh
nilai karakter membutuhkan pendekatan yang integratif dan berkesinambungan. Karena
penanam nilia-nilai karakter merupakan proses pembudayaan yang membutuhkan komitmen
semua pihak. Seperti yang disampaikan oleh Aan Hasanah bahwa "Penanaman nilai-nilai
karakter kebangsaan tidak bisa instant, tetapi membutuhkan sistem yang mendukung dalam
pelaksanaan pembelajaran baik di dalam kelas, maupun di luar kelas (Hasanah, 2009). Pada
Tabel 1. ini disajikan indikator nilai-nilai karakter berwawasan kebangsaan yang
dikembangkan dalam penelitian ini.
Tabel 1.
Indikator Nilai Karakter Kebangsaan
JENIS NILAI INDIKATOR
1. Keberagamaan Sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran
agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan
ibadah agama lain, dan hidup rukun dengan pemeluk
agama lain.
2. Kejujuran Perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya
sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam
perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Sikap Toleransi Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama,
suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang
berbeda dari dirinya.
4. Kedisiplinan Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh
pada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Sikap Demokratis Cara berfikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama
hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
6. Semangat Kebangsaan Cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya.
746
7. Cinta Tanah Air Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan
kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi
terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi, dan politik bangsa.
8. Cinta Damai Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang
lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
9. Peduli Sosial Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan
pada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
10. Tanggung-jawab Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas
dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan, terhadap
diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial dan
budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.
747
3) Model evaluasi yang komprehensif penting untuk menilai keberhasilan siswa
dalam menginternalisasi nilai-nilai karakter kebangsaan secara outentik.
Evaluasi yang berkesinambungan menjadi sangat urgen dalam proses
pendidikan, tujuan evaluasi pendidikan bukan hanya untuk mengukur
keberhasilan program pendidikan, tetapi juga sebagai langkah korektif untuk
terus memperbaiki dan mengembangkan pendidikan untuk menguatkan nilai-
nilai karakter kebangsaan bagi siswa Madrasah. Evaluasi yang
berkesinambungan dilakukan oleh pihak manajmen madrasah dan guru PAI.
para guru di kedua Madrasah yakin bahwa “Solusi yang baik untuk mengatasi
hambatan di atas adalah harus adanya kerjasama yang baik antara guru
pendidikan agama Islam dengan guru mata pelajaran yang lainya dan juga
kerjasama dengan orang tua peserta didik karena yang bisa membantu peserta
didik dalam penanaman karakter kebangsaan peserta didik di sekolah adalah
seorang guru dan yang dapat membantu peserta didik membentuk akhlak mulia
di rumah adalah orang tua. Dengan demikian hambatan-hambatan yang lain
bukan lagi menjadi masalah dan akan terselesaikan dengan baik jika adanya
kerjasama antara pihak sekolah dan pihak orang tua di rumah.”
4) Aktifitas di luar kelas terintegrasi dalam kegiatan ektra kurikuler baik kegiatan
umum maupun kegiatan ketra kurikuler keagamaan. Sebagaimana dijelaskan
dalam Peraturan Pemerintah No. 81 A tahun 2013 tentang implemetasi
kurikulum, bahwa pengembangan potensi peserta didik sebagaimana dimaksud
dalam tujuan pendidikan nasional tersebut dapat diwujudkan melalui kegiatan
ekstrakurikuler yang merupakan salah satu kegiatan dalam program kurikuler.
Kegiatan ekstrakurikuler menjembatani kebutuhan perkembangan peserta didik
yang berbeda; seperti perbedaan sense akan nilai moral dan sikap, kemampuan,
dan kreativitas. Melalui partisipasinya dalam kegiatan ekstrakurikuler peserta
didik dapat belajar dan mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja
sama dengan orang lain, serta menemukan dan mengembangkan potensinya.
Kegiatan ekstrakurikuler juga memberikan manfaat sosial yang besar. Kegiatan
ektrakurikuler dapat dengan efektif mengembangkan nilai nilai kerakter
kebangsaan dengan pendekatan program yang variatif seperti Kepramukaan,
kelompok pencinta alam, Rohis, dan kelompok kegiatan lain yang sejalan.
5) Untuk menanamkan nilai pendidikan karakter kebangsaan perlu adanya
dukungan dari pihak luar sekolah seperti orang tua peserta didik dan elemen
pendukung lainnya. Sama halnya yang diutarakan oleh responden “Jika
dukungan dari pihak orang tua kurang, maka akan menjadi tugas yang berat bagi
guru Pendidikan Agama Islam dalam penanman nilai- nilai kebangsaan peserta
didik di sekolah karena selain orang tua guru juga sebagai salah satu penentu
siswa mengamalkan nilai kebangsaanya.” Dan responden lain juga
mengungkapkan bahwa “Orang tua adalah pokok dari segala pembelajaran, jika
orang tua sudah mengabaikan maka anak yang akan menjadi beban Negara, oleh
sebab itu peran seorang pendidik adalah sebagai pengganti orang tua dalam
memberikan kasih sayang baik berupa ilmu pengetahuan maupun akhlak.”
D. KESIMPULAN
749
Pendidikan agama Islam dalam penguatan karakter kebangsaan di MAN 1 Garut dan MAN 1
Pangandaran adalah, Siswa masih kurang mengerti tentang arti nilai kebangsaan, kurangnya
dukungan orang tua, gaya mengajar guru dalam menyampaikan materi, kesadaran lingkungan
masyarakat yang masih beragam dalam memahami nilai kebangsaan, dan masih membutuhkan
optimalisasi penggunaan saran dan prasarana yang disediakan pemerintah dalam mendukung
terlaksananya kegiatan pembinaan siswa yang dilakukan sekolah serta masih terbatasnya
peranan pemerintah dalam membina semangat kebangsaan peserta didik.
Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, diketahui pendekatan model pembelajaran
yang integratif komprehensif cukup efektif dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan
terhadap peserta didik. Pada dasarnya pembelajaran kontekstual merupakan konsep
pembelajaran yang membantu guru dalam mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan
nyata siswa, dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dipelajarinya
dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kontekstual menerapkan sejumlah prinsip belajar.
Prinsip-prinsip tersebut meliputi: 1) Konstruktivisme (Constructivism), 2) Bertanya
(Questioning), 3) Inkuiri (Inquiry), 4) Masyarakat Belajar (Learning Community), 5)
Pemodelan (Modeling), 6) Refleksi (Reflection), 7) Penilaian Otentik (Authentic Assessment).
Penelitian ini baru langkah awal, masih menyisakan ruang yang luas untuk peneliti lain
melengkapi dan menindaklanjuti penelitian ini terutama pada penerapan model, ujicoba model
yang luas serta menambah indikator nilai-nilai karakter kebangsaan yang lebih komprehensif.
750
DAFTAR PUSTAKA
Arend, R. (1997). Classroom Instructional Management. New York: The Mc Graw – Hill
Company.
Ariandy, M. (2019). Kebijakan Kurikulum dan Dinamika Penguatan Pendidikan Karakter di
Indonesia. Sukma: Jurnal Pendidikan, 3(2), 137–168.
[Link]
Azra, Azyumardi. (1999). Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium
Baru. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
Banawi, A. (2014). Keefektifan Strategi Project Base Learning Dalam Meningkatkan
Kreativitas Dan Hasil Belajar IPA. Fisika Pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan
Keguruan Iain Ambon Angkatan 2013. Inovasi Jurnal Diklat Keagamaan, 8(04).
Buchori, M. (1992). Posisi dan Fungsi Pendidikan Agama Islam Dalam Kurikulum
Pendidikan Tinggi Islam. Makalah pada Seminar IKIP Malang. 24 Februari.
Depdiknas, (2002). Pendidikan Berorientasi Kecakapan Hidup (Life Skill) melalui
Pendekatan Broad-Based Education (Draft). Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Faizah, U. (2009). Keefektifan Cerita Bergambar Untuk Pendidikan Nilai Dan Keterampilan
Berbahasa Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 5(1),
1–8.
[Link]
[Link]/2986/1/[Link]%0A[Link]
/[Link]/1471-
2458/12/58%0A[Link]
Hasanah, A. (2009). Pendidikan Berbasis Karakter.
Hasanah, A. (2011). Pendidkan Karakter Berperspektif Islam. Insan Komunika.
Komara, E. (2018). Penguatan Pendidikan Karakter dan Pembelajaran Abad 21.
SIPATAHOENAN: South-East Asian Journal for Youth, Sports & Health Education, 4(1),
17–26.
Joyce, B.R. & Weil, M. (1980). Models of Teaching. Englewood Cliffs, New Jersey:
Prentice–Hall Inc.
Kementrian Pendidikan Nasional. (2010). Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter
Bangsa: Pedoman Sekolah. Jakarta: Puskur Balitbang Kemendiknas.
Krischenbaum, H. (1995). 100 Ways To Enhance Values and Morality in School and Youth
Setting. Boston: Allyn anf Bacon.
Lambert, V. a., & Lambert, C. E. (2013). Qualitative Descriptive Research: An Acceptable
Design. Pacific Rim International Journal of Nursing Research, 16(4), 255–256.
[Link]
Magilvy, J. K., & Thomas, E. (2009). A first qualitative project: Qualitative descriptive design
for novice Researchers: Scientific inquiry. Journal for Specialists in Pediatric Nursing,
14(4), 298–300. [Link]
Manullang, B. (2013). Grand Desain Pendidikan Karakter Generasi Emas 2045. Jurnal
Pendidikan Karakter, 1, 122070. [Link]
Maunah, B. (2016). Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembentukan Kepribadian
Holistik Siswa. Jurnal Pendidikan Karakter, 1, 90–101.
[Link]
Mawardi, Imam. (2012). Pengembangan Model Pembelajaran Untuk Meningkatkan Life
Skills Peserta Didik. Disertasi UPI Bandung: Tidak dipublikasikan.
Miller, J.P. & Seller, W. (1985). Curriculum: Perspective & Practice. New York: Longman.
751
Muhaimin. (2009). Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan,
Manajemen Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Prasetyo, A., & Sumardjoko, B. (2017). Penanaman Nilai-Nilai Kebangsaan Di Pondok
Pesantren Khalafiyah (Studi Kasus di Pondok Pesantren Al Huda Doglo Candigatak
Cepogo Boyolali Tahun 2016). Vidya Karya, 31(1).
[Link]
Purnomo, S. (2014). Pendidikan Karakter Di Indonesia: Antara Asa Dan Realita. Jurnal
Kependidikan, II(2), 66–84.
Rusman. (2008). Manajemen Kurikulum: Seri Manajemen Sekolah Bermutu. Bandung: Mulia
Mandiri Press.
Sudrajat, A. (2011). Mengapa Pendidikan Karakter. Jurnal Pendidikan Karakter, I(1), 47–58.
[Link]
Sagala, Saiful. 2005. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Al-fabeta.
Sanjaya, Wina. (2009). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Ed. I.
Cet. 6. Jakarta: Kencana
Shaleh, A.R. (2005). Pendidikan Agama dan Pembangunan Watak Bangsa. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
Sukmadinata, Nana Syaodih. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Sunarso, A. (2020). Revitalisasi Pendidikan Karakter Melalui Internalisasi Pendidikan Agama
Islam (Pai) Dan Budaya Religius. Jurnal Kreatif : Jurnal Kependidikan Dasar, 10(2),
155–169.
Susilana, R., dkk. (2006). Kurikulum dan Pembelajaran. Ed. 2. Bandung: Jurusan Kutekpen
FIP UPI.
Wiyono, H. (2012). Pendidikan karakter dalam bingkai pembelajaran di sekolah. Jurnal Ilmiah
CIVIS, II(2).
Zamroni. (2000). Paradigma Pendidikan Masa Depan. Yogyakarta: Bigraf Publishing.
Zuchdi, D. (2006). Pengembangan model pendidikan karakter terintegrasi dalam pembelajaran
bidang studi di sekolah dasar. Cakrawala Pendidikan, 1, 1–12.
Zuchdi, D. (2008). Humanisasi Pendidikan: Menemukan Kembali Pendidikan yang
Manusiawi. Jakarta: Bumi Aksara.
Zuhdi, M. H. (2012). Islam Dan Pendidikan Karakter Bangsa. EL-HIKAM: Jurnal Pendidikan
Dan Kajian Keislaman, 5(1), 83–103.
Zulaikhah, S. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter Melalui Pendidikan Agama Islam Di
Smpn 3 Bandar Lampung. Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam, 10(1), 83–93.
[Link]
752