Pengaruh Setting Ruang di Café Terhadap Perilaku Pengguna
Pengaruh Setting Ruang di Café Terhadap Perilaku Pengguna
Abstract
Café is one of the favorite places for young people at this time, the room setting is
the aspect that most influences visitors when visiting so they don't feel bored and
bored while in the café, therefore the author takes the theme of research on the effect
of space settings on user behavior. Behavior mapping approach, using the behavior
mapping method, the writer can find out which places are often visited by users or
visitors to the coffee shop, the research method in this study is a descriptive
qualitative method. , and the conclusion of this study will find the relationship
between room settings and user behavior at Diallo Cofee Semarang.
Abstrak
Café adalah salah satu tempat favorit anak muda pada saat ini, setting ruang adalah
aspek yang paling mempengaruhi pengunjung ketika berkunjung agar tidak merasa
bosan dan jenuh pada saat berada di café tersebut, oleh karena itu penulis mengambil
tema penelitian tentang pengaruh setting ruang terhadap perilaku pengguna dengan
pendekatan behaviour mapping,dengan menggunakan metode behavior mapping
penulis bisa mengetahui tempat mana saja yang sering disinggahi oleh para pengguna
atau pengujung di dialo coffe, metode penelitian pada penelitian ini yaitu metode
deskriptif kualitatif metode ini adalah metode yang paling tepat karena menceritakan
Susana pada objek secara langsung, dan kesimpulan pada penelitian ini akan
ditemukan keterkaitan setting ruang terhadap perilaku pengguna di Diallo Cofee
Semarang.
Pendahuluan
Beberapa ahli menyatakan pengertian tentang tata ruang menurut Liang Gie
(2000:220) lingkungan fisik merupakan segenap faktor fisik, yang bersama sama yaitu
merupakan suasana fisik yang melingkupi suatu tempat kerja. Menurut George terry
menyatakan “Tata ruang adalah penentuan mengenai kebutuhan-kebutuhan dalam
penggunaan ruang secara terperinci maka ruang ini adalah untuk menyiapkan susunan
yang praktis dari faktor-faktor fisik yang dianggap perlu bagi pelaksanaan kerja dengan
biaya yang layak (1988:200).
Reaksi manusia terhadap suhu tempat berbeda tiap individunya, dimana dalam
sebuah arti arsitektural secara alamiah dapat ditentukan reaksi psikologis terhadap
pengaruh ruangan yang lembab atau panas. Kenyamanan yang drasakan oleh
penghuninya dapat mempengaruhi keberhasilan sebuah ruangan dalam perannya sebagai
tempat kegiatan. Tuntutan kenyamanan yang harus dipenuhi adalah kenyamanan fisis d an
psikis (Sugini,2003).
Teritori adalah bagian daam desain ruang yang pertama kali dikembangkan oleh
altman seorang pakar masalah perilaku. Ini merupakan sebuah pengembangan dari teori
behaviour constraint atau hambatan perilaku. Sebuah hambatan perilaku adalah individu
atau kelompok yang kehilangan control terhadap terjadinya situasi tertetntu yang
berdampak pada sebuah desain lingkungan ataupun sebaliknya. Sebuah kawasan teritorial
adalah sebuah mekanisme perilaku untuk mencapai privasi tertentu yaitu terlihat jelas
pada kawasan yang menjadi pembatas antara seorang individu dengan orang lainnya..
Batas tersebut bersifat nyata tapi tetap yang terikat atas kepemilikan atau hak seseorang
atau atas lokasi geografis
Ruang dalam pendekatan ini mempunyai sebuha arti dan nilai yang plural dan
berbeda beda, tergantung tingkat apresiasi dan sebuah kognisis individu yang
mengunakan ruang tersebut. Pendekatan ini melihat bahwa aspek norma,kultur,psikologi
yang berbeda akan menghasilkan konsep dan ruang yang berbdea (Rapoport, 1977).
Pendekatan ekologis menekankan pada sebuah tinjauan ruang sebagai kesatuan ekosistem
dan meleihat komponen ruang saling terkait dan berpengaruh secara mekanistis, oleh
karenanya hubungan mekanistis, system ruang kemudian dapat dimodelkan secara
sistematis, terutama pengaruh satu komponen terhadap komponen lainnya. Pendekatan
ini cenderung melihat ruang sebagai satu system yang tertutup (closed system).
Pendekatan ini mengkaji secara kuantitatif besaran konsumsi manusia yang
dikonversikan dalam satuan lahan (Rees dan Mathis, 1993).
Berdasarkan hal tersebut maka penelitian pengaruh setting ruang privat terhadap
perilaku pengguna dengan pendekatan behavioural mapping menarik dan diperlukan
karena penekanannya pada lemen privasi para pengunjung dengan ruang dengan
memperhatikan aspek perilaku sebagai upaya untuk menyelesaikan persoalan ruag yang
kompleks untuk menuju kesehatan baik secara fisik maupun non fisik.
TINJUAN PUSTAKA
Ruang Privasi (Personal Space)
Alan [Link] menyatakan bahwa privasi merupakan kebutuhan dari setiap
individu, sebagaimana pernyataannya. Privasi seperti halnya space dan territoriality
adalah sebuah proses yang mana suatu peritiwa luar biasa dari kehidupan sehari-hari.
Privasi menurut Irwin Altman yaitu selective control of access to oneself or to one’s
group, either in person or in term of information about oneself. It may be considered as a
preference, expection, value, need, and behavior. Ruang-ruang privasi atau personal
space ini dapat dimasuki oleh individu lainnya, di mana ketika individu-individu dengan
personal space mereka masing-masing saling berhubungan, akan
terjadi interaksi yang membangun ruang publik. Semakin banyak individu yang saling
berinteraksi akan semakin memperbesar nilai kepublikannya. Personal Space menurut
Robert Gifford sebagai komponen geografis dari hubungan antar personal yang saling
berinteraksi membentuk ruang publik dalam bentuk jarak dan orientasi di antar individu-
individu yang saling berinteraksi. Secara rinci ada tiga aspek personal space yang
disampaikan:
1. A Personal, portable territory, tempat yang berada pada wilayah kontrol dari personal
tersebut. Beberapa unsur luar diperkenankan masuk pada wilayah personal ini. Setiap
orang memiliki personal space, kemana pun manusia bergerak baik berdiri maupun
duduk, manusia selalu dikelilingi dan dibatasi oleh personal space.
Personal space merujuk pada jarak antar individu dan pilihan orientasi selama
berlangsungnya interaksi sosial. Hal-hal ini mengatur elemen-elemen teritori, ruang,dan
komunikasi individu.
Komponen Ruang
Warna Ruang
Warna memainkan peranan penting dalam mewujudkan suasana ruang dan
mendukung terwujudnya perilaku-perilaku tertentu. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh
umur, jenis kelamin, latar belakng budaya atau kondisi mental. Menurut Hartini (2007),
warna memiliki berbagai karakteristik energi yang berbeda – beda apabila diaplikasikan
pada tubuh. Pembelajaran mengenai pengaruh warna terhadap perilaku, emosi dan fisik
manusia ini dikenal dengan sebutan psikologi warna. Berdasarkan pengamatan yang
cukup kuat, ditemukan bahwa pembagian spektrum ke warna – warna hangat maupun
dingin memiliki makna yang sangat jelas dan sederhana dengan referensi kepribadian
manusia. Memang, meskipun simpulan yang didapat sebagian besar bersifat empiris,
warna hangat dan dingin memiliki kualitas yang dinamis, kehangatan menandakan
interaksi dengan lingkungan, kesejukan menandakan penarikan diri ke dalam
pemikiran.”(Birren, 1955).
Pada ruang pengaruh warna menimbulkan suasana panas atau dingin, tetapi warna
juga dapat mempengaruhi kualitas ruang tersebut. Warna akan membuat seolah-olah
ruang menjadi lebih luas, lebih sempit, lebih semrawut dan warna bisa juga menunjukkan
status sosial pemakainya. Kenyamanan sebuang ruang / space didalam rumah, maka
jawabannya adalah berbagai macam dari kita akan menyebutkan tingkat kenyaman
tersebut. Hal ini dikarenakan tingkat sikologi atau definisi kenyamanan dari tiap-tiap
orang berbeda. Diantaranya :
1. Merah adalah warna yang paling kuat. Merah memiliki efek ambisius, energik, aktif.
Merah dikaitkan dengan bahaya, keinginan, kecepatan, kekuatan, dan bahkan tanda
berhenti. meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan vitalitas, meningkatkan
kekuatan dan merangsang percakapan. Merah bisa diaplikasikan sebagai warna untuk
ruang makan.
2. Kuning adalah warna diidentikkan dengan warna matahari, warna kuat yang
menunjukkan kehangatan, kekayaan dan kebahagiaan. Efek warna kuning yaitu
membuat Anda merasa bahagia, memberi Anda lebih banyak energy, dan
menyebabkan orang menjadi cepat marah. Kuning cocok bila diterapkan pada ruang
belajar maupun ruang kerja karena warna ini juga memiliki pengaruh meningkatkan
konsentrasi.
3. Hijau adalah warna yang segar untuk digunakan dalam hampir setiap ruangan, dan
merupakan salah satu yang paling sering dikutip warna favorit. Ia mewakili alam,
lingkungan, kesehatan, keberuntungan yang baik, pemuda dan kesuburan. Hijau
mewakili sebuah gaya penyembuhan, peremajaan, alam dan pertumbuhan. Warna
hijau dapat digunakan di setiap ruangan yang Anda inginkan.
4. Biru adalah warna universal penuh dengan kedamaian, ketenangan, stabilitas,
kepercayaan, kepercayaan diri, keamanan, loyalitas, langit, air, dingin, teknologi, dan
bahkan depresi. Bisa diaplikasikan pada ruangan yang ingin memunculkan efek
damai dan tenang.
5. Coklat merupakan bumi dan kemantapan. Coklat cenderung membuat kita merasa
mewah, elegant, terhibur, bersahaja, bijaksana, dan kuat.
6. Putih diartikan sebagai kemurnian, kebersihan, dan netralitas. Perhatikan bahwa
kebanyakan rumah sakit memiliki dinding putih, pengantin perempuan mengenakan
gaun putih dan pagar kayu putih mengelilingi sebuah rumah yang aman dan bahagia.
Warna putih cenderung menambah kejernihan mental Anda, mendorong kita untuk
membersihkan kekacauan atau hambatan, dan membersihkan pikiran atau Tindakan.
Interior
Perabot sebagai variable tak tergantung dari ruang, dapat mempengaruhi persepsi
dan penilaian orang terhadap ukuran ruang. Penataan perabot berperan penting dalam
mempengaruhi kegaitan dan perilaku [Link]-bentuk penataan terseubt
dipilih sesuai dengan sifat dari kegiatan yang ada di dalam ruang. Beberapa dari desain
mempunyai maksud dan tujuan. Hal ini dapat terlihat pada sebuah desain kemasan.
Terkadang mereka melebih-lebihkan suatu produk yang ada di kemasan tersebut. Produk
tersebut diharapkan dapat menarik konsumen untuk dapat setidaknnya memerhatikan dan
juga membelinnya. Begitupun dengan desain suatu interior di sebuah public space.
Sebagai contoh, interior toko pakaian harus dapat memberikan rasa ketertarikan calon
pembeli dengan membuat suatu etalase atau jendela agar dapat memajang benda yang
dijual. Dengan ilmu tambahan seperti tata pajang (visual merchandise), maka seorang
desainer diharapkan mampu membuat ruangan terlihat tidak monoton atau
membosankan.
Metode Penelitian
Bab metodologi berisi metodologi pengumpulan data, metodologi pengolahan
data, serta metodologi analisis data. Bab ini juga menjelaskan terkait objek studi, variabel
penelitian, instrument penelitian serta lokasi penelitian. Penelitian ini berlatar belakang
dari adanya perilaku individu atau kelompok yang terganggu akibat situasi tertentu yang
berdampak pada desain lingkungan ataupun sebaliknya. Dalam konteks bangunan atau
ruang bahwa bangunan dapat mengakibatkan munculnya keluhan dari penghuninya
seperti pusing, infeksi saluran pernapasan, tekanan darah tinggi, stress, dan lainnya yang
disebut Sick Building Syndrom. Variabel Penelitian adalah Data Primer. Data primer
adalah data yang langsung dapat diperoleh dari objek penelitian. Pada penelitian ini data
primer yang digunakan antara lain: Bentuk-bentuk perilaku pengguna (pola perjalanan,
migrasi, perilaku konsumtif, kegiatan rumah tangga, hubungan ketetanggan, penggunaan
fasilitas publik). Seting Ruang (warna, ukuran, bentuk, interior, suara, temperature,
pencahayaan). Data Sekunder, Data sekunder adalah data yang tidak diusahakan sendiri
oleh peneliti. Pada penelitian ini data sekunder yang digunakan antara lain: Identitas
pengguna ruang Dialo Coffee meliputi: umur, latar belakang, karakter. Standar Arsitektur
(Neufert). Literatur terkait dengan arsitektur dan perilaku khususnya behaviour mapping.
1. Keterlibatan dan pengamatan yang menerus serta konsisten terhadap sampel yang
dikaji (persistent observation)
2. Cek silang terhadap informasi untuk meningkatkan validitas informasi (internal
validity),
3. Deskripsi yang jelas terhadap informasi agar menjamin proses pemindahannya
terhadap orang luar (external validity)
4. Pengecekan yang kontinyu terhadap keseluruhan proses observasi untuk mencapai
derat obyektivitas yang tinggi (reliability and objectivity). Pertemuan berkala dapat
dipakai untuk mengatasi persoalan-persoalan teknis lapangan.
Behavioral mapping, yaitu dengan membuat sketsa atau diagram mengenai suatu
area dimana manusia melakukan berbagai kegiatannya. Tujuannya adalah untuk
menggambarkan perilaku dalam peta, mengidentifikasikan jenis dan frekuensi perilaku,
serta menunjukkan kaitan antara perilaku tersebut dengan wujud perancangan yang
spesifik. Adapun junis perilaku yang dapat dipetakan anara lain:
Metode Pengolahan Dan Analisis Data, Dari masing-masing model yang merupakan
objek penelitian tersebut akan diuji menggunakan pemetaan berdasarkan tempat (place–
centered mapping) dan pemetaan berdasarkan pelaku (person-centered mapping):
1. Pemetaan berdasarkan tempat (place cantered mapping), yaitu dengan membuat sketsa
dari tempat atau seting, meliputi unsur fisik yang diperkirakan mempengaruhi perilaku
pengguna ruang tersebut. Kemudian dalam kurun waktu tertentu, peneliti mencatat
berbagai perilaku yang terjadi pada ruang tersebut dengan menggambarkan simbol -
simbol pada peta dasar.
2. Pemetaan berdasarkan pelaku (person-centered mapping), yaitu menekankan pergerakan
manusia pada periode waktu tertentu. Dilakukan dengan memilih sample person atau
sekelompok manusia yang diamati perilakunya. Pengamatan ini dilakukan dengan
membuat sketsa-sketsa dan catatan-catatan peta dasar yang sudah disiapkan.
Kesimpulan
dapat disimpulkan bahwa seting ruang pada Dialo Coffee berpengaruh pada
perilaku pengguna, yaitu : disaat penelitian yaitu pada jam 19.00-24.00 diketahui bahwa
para pengunjung lebih memilih duduk di atas atau dilantai 2 dibandingkan dengan lantai
1, dilihat dari pergerakan yang dilakukan oleh para pengunjung sebegai berikut:
Saran/Rekomendasi
Desain interior pada lantai 2 dialo cafe perlu diperbagus lagi untuk menarik minat
pengunjung agar mengunjungi area dibagian lantai 2 dialo cafe yang sangat sepi, desain
harus disesuaikan dengan kebutuhan anak anak milenial pada jaman sekarang
Bibliografi
Bibliografi
Pustaka yang berupa judul buku
Cresswell, J. (2016). Research Design Pendekatan Metode, Kualitatif, Kuantitatif, dan
Campuran (Diterjemahkan Oleh Fawaid Dan Pancasari. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Grigg, N. d. (2000). Infrastructure system management & optimazation internasional
Civil Engineering Departnebt Diponegoro University.
Hobbs, F. (1995). Perencanaan dan Teknik Lalu Lintas. Yogyakarta: UGM Press.
Kodoatie, R. (Manajemen dan Rekayasa Infrastruktur ). 2003. Yogyakarta: Pustaka
Belajar .
Muhadir, N. (n.d.). METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF. In N. Muhadir,
METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF. Yogya: Rake Sarasin.
Muhadjir, N. (1996). Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Rake Sarasin.
Shirvani, H. (1985). The Urban Design Process. New York: Van Nostrand Reinhold
Co.
Sugiyono. (2015). Pengertian Kualitatif.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D . In Sugiyono,
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D . Jakarta: Alfabeta.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bandung: Alfabeta.
Taylor, B. d. (1975). Pengertian Kualitatif .
Yanti, I. P. (2018). Implementasi Universal Design Pada Fasilitas Perguruan Tinggi.
Jurnal Arsitektur