EVALUASI ANGGARAN BIAYA PEMBANGUNAN GEDUNG
IDB INTEGRATED LABORATORY FOR SCIENCE POLICY
AND MENGGUNAKAN METODE BUILDING
INFORMATION MODELING (BIM)
SKRIPSI
Oleh :
Farras Faridah Putri
NIM 151910301127
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
2018
EVALUASI ANGGARAN BIAYA PEMBANGUNAN GEDUNG
IDB INTEGRATED LABORATORY FOR SCIENCE POLICY
AND COMMUNICATION MENGGUNAKAN METODE
BUILDING INFORMATION MODELING (BIM)
SKRIPSI
Diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi salah satu
syarat untuk menyelesaikan Program Studi Teknik Sipil (S1) dan
mencapai gelar sarjana
Oleh :
Farras Faridah Putri
NIM 151910301127
PROGRAM STUDI S1 TEKNIK SIPIL
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pesatnya perkembangan yang terjadi dalam sektor konstruksi dikarenakan
sektor konstruksi merupakan bagian yang penting dalam pembangunan suatu
negara. Perkembangan yang pesat dan tingkat kompleksitas proyek yang tinggi,
menuntut pihak penyedia jasa konstruksi harus bekerja lebih efektif dan efisien.
Hal tersebut mau tidak mau mendorong perkembangan bidang konstruksi pada
arah yang lebih terintegrasi. Saat ini perkembangan teknologi dan ilmu
komunikasi mampu menjawab permasalahan tersebut, salah satunya adalah
dengan menggunakan Building Information Modeling (BIM) yang memfasilitasi
proses desain dan konstruksi yang lebih terintegrasi agar didapatkan hasil yang
efisien. Perencanaan waktu yang tepat menjadi tantangan tersendiri bagi penyedia
jasa konstruksi. Ketersediaan waktu serta perencanaan biaya yang baik merupakan
salah satu faktor utama keberhasilan suatu proyek konstruksi.
Sebuah pendekatan untuk mendisain bangunan, konstruksi dan menejemn
proyek dapat digambarkan melalui prinsip Building Information Modeling (BIM).
Model bangunan 3D dapat digunakan untuk mendapat gambar proyek yang
diperlukan, model bangunan ini termasuk dalam prinsip dasar pemodelan BIM.
BIM ini dapat mencakup kebutuhan konstruksi seperti gambar proyek,
perencanaan kuantitas, penjadwalan proyek, bahkan setimasi harga sekalipun.
Dalam penelitian sebelumnya yang berjudul “Perbandingan Efisiensi Waktu,
Biaya, dan Sumber Daya Manusia antara Metode Building Information Modelling
(BIM) dan Konvensional” menyimpulkan bahwa penggunaan metode BIM dapat
menghemat waktu perencanaan sebesar 50% dan meminimalisir kebutuhan
sumber daya manusia sebesar 26,66% sehingga dapat menghemat biaya
pengeluaran sebesar 52,25%.
BIM saat ini semakin populer dan diyakini akan mempercepat proses
perencanaan dan pengerjaan proyek. Penggunaanya terus meluas di dunia. Bahkan
Thom Mayne, seorang arsitek yang tergabung dalam American Institute of
Asrhitect menyatakan bahwa perusahaan yang tidak menggunakan aplikasi BIM
akan hilang peredaraanya dalam sepuluh tahun kedepan. Pernyataan ini sangat
menarik tentunya harus kita sikai dengan bijak. Kita harus mulai membuka mata
dan mempelajari perkembanagan perencanaan struktur dengan berbasis BIM
(Ramadiaprani, 2012).
Universitas Jember saat ini sedang melakukan pembangunan secara besar-
besaran demi memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana yang belum tersedia.
Proyek yang sedang dijalankan yakni proyek yang berada di Jubung dan Tegal
Boto yang mendapatkan pinjaman dana dari Islamic Development Bank (IDB).
Untuk proyek di Jubung yaitu berupa Training Center and Showroom, General
Public Facilities, Musholla, Tenant Facility, Limited Field Trial Facility, Green
House, Agrotechnopark Itegrated Facility, Product Storage, Pilot Industry for
Biofertilizer, Training Center Dormitory, dan Infrastructure. Untuk Proyek di
Kampus Tegal Boto sebanyak 6 gedung yaitu Auditorium, Integrated Laboratory
for Science Policy and Communication, Integrated Laboratory for Natural Science
and Food Technology, Integrated Laboratory for Engineering Biotechnology,
Integrated Laboratory for Plan and Natural Medicine dan Integrated Labortory for
Health Science. Dari banyaknya proyek yang dilaksanakan, maka dibutuhkan
suatu monitoring dan evaluasi yang tepat, cepat dan terintegrasi. Maka dengan
digunakannya BIM pada kegiatan konstruksi tersebut, akan membantu proses
monitoring dan evaluasi proyek.
Pada penelitian kali ini akan dilakukan perhitungan volume pekerjaan pada
gedung IDB Auditorium Universitas Jember yakni Integrated Laboratory for
Science Policy and Communication menggunakan metode Building Information
Modeling (BIM) dengan program bantu Revit Architecture
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat diteliti
adalah :
1. Bagaimana perhitungan volume pekerjaan pada gedung IDB Integrated
Laboratory for Science Policy and Communication Universitas Jember
menggunakan metode Building Information Modeling (BIM)?
2. Bagaimana perbandingan perhitungan volume pekerjaan dan anggaran
biaya pembangunan gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy
and Communication Universitas Jember menggunakan metode Building
Information Modeling (BIM) dengan metode konvensional?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang dapat diteliti, maka penelitian ini bertujuan :
1. Menghitung volume pekerjaan dan anggran biaya pada gedung IDB
Integrated Laboratory for Science Policy and Communication Universitas
Jember menggunakan metode Building Information Modeling (BIM).
2. Membandingkan perhitungan volume pekerjaan dan anggaran biaya
pembangunan gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy and
Communication Universitas Jember menggunakan metode Building
Information Modeling (BIM) dengan metode konvensional
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat khusus yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Dapat menghitung volume pekerjaan pada gedung IDB Integrated
Laboratory for Science Policy and Communication Universitas Jember
menggunakan metode Building Information Modeling (BIM).
2. Dapat membandingkan perhitungan volume pekerjaan dan anggran biaya
pembangunan gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy and
Communication Universitas Jember menggunakan metode Building
Information Modeling (BIM) dengan metode konvensional
Manfaat umum yang dapat diambil dari penelitian ini adalah :
1. Dapat dijadikan sebagai referensi utuk kegiatan serupa selanjutnya.
1.5 Batasan Masalah
Batasan masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah :
1. Pemodelan yang dilakukan adalah meninjau proyek gedung IDB
Auditorium Universitas Jember.
2. Pemodelan yang dilakukan menggunakan program bantu perangkat lunak
Autodesk Revit.
3. Hanya meninjau kebutuhan volume pekerjaan.
4. Manajemen proyek yang ditinjau hanya dari segi biaya struktural.
5. Tidak meninjau penjadwalan proyek, kebutuhan alat berat, kebutuhan
pekerja, dan upah pekerja.
6. Tidak dilakukan analisis bangunan gedung
7. Tidak meninjau pekerjaan MEP
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Peneliti Terdahulu
Peneliti pertama dengan judul penelitian “Aplikasi Building Information
Modeling (BIM) menggunakan Software Tekla Strukture 17 pada Konstruksi
Gedung Kuliag Tiga Lantai Fahutan IPB, Bogor” yang ditulis oleh Ranti
Ramadiaparni tahun 2012 membahas mengenai pengaplikasian Building
Information Modeling (BIM) menggunakan Software Tekla Strukture 17 pada
pembangunan gedung kuliah tiga lantai Fahutan IPB secara 3D dan 4D.
Peneliti kedua ditulis oleh Choliq Komarudin Kohar ditahun 2014 dengan
penelitiannya yang berjudul Analisis Pembangunan Gedung AD Pre,ier
berdasarkan Tahapan Kinerja Waktu Menggunakan Microsoft Project 2010 dan
Pemodelan 3D menggunakan Sowftware Tekla 17. Penelitian ini membandingkan
proyek pengembangan gedung AD Premier dengan menggunakan barchat dan
kurva S dengan Critical Path Method. Analisis penelitian ini menunjukan bahwa
gedung AD Premier telah dibangun sesuai rencana dan telah sesuai dengan
metode jalur kritis. Realisasi bobot bulanan kumulatif selalu selalu melebihi
kumulatif bobot rencana bulanan, dengan nilai terkecil pada bulan pertama
+1.926% dan nilai teresar pada bulan keempat sebesar +4.203%.
Penelitian ketiga dengan judul “Penerapan Building Information Modeling
(BIM) pada Pembangunan Struktur Gedung Perpustakaan IPB menggunakan
SoftwareTekla Structures 17” telah diselesaikan oleh Febriana Saputri ditahun
2012 dimana penelitian ini membahas mengenai pemodelan gedung yang
mengoptimasi waktu, biaya serta sumber daya manusia dengan menggunakan
perangkat bantu Tekla Structure 17.
2.2 Bangunan Gedung
Menurut UU RI Nomor 28 Tahun 2002 tentang bangunan gedung, bangunan
gedung adalah wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan
tempat kedudukannya, sebagian atau seluruhnya berada diatas dan/atau di dalam
tanah dan/atau air, yang berfungsi sebagai tempat tinggal, kegiatan keagamaan,
kegiatan usaha, kegiatan sosial, budaya, maupun kegiatan khusus.
Fungsi bangunan gedung merupakan ketetapan pemenuhan persyaratan teknis
bangunan gedung, baik ditinjau dari segi tata bangunan dan lingkungannya,
maupun kendala bangunan gedung. Hal ini telah dijelaskan di dalam PP Nomor
36 Tahun 2005. Mengenai fungsi bangunan gedung sebagaimana yang dimaksud
juga terkadung di dalam peraturan pemerintah tersebut adalah fungsi hunian,
fungsi keagamaan, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya, serta fungsi khusus.
Klasifikasi gedung yang terkandung menurut PP Nomor 36 Tahun 2005
adalah :
1. Klasifikasi berdasarkan tingkat kompleksitas meliputi :
a. Bangunan gedung sederhana
b. Bangunan gedung tidak sederhana
c. Bangunan gedyng khusus
2. Klasifikasi berdasarkan tingkat permanensi meliputi :
a. Banguna gedung permanen
b. Bangunan gedung semi permanen
c. Bangunan gedung darurat atau sementara
3. Klasifikasi berdasarkan tingkat risiko kebakaran meliputi :
a. Bangunan gedung tingkat risiko kebakaran tinggi
b. Bangunan gedung tingkat risiko kebakaran sedang
c. Bangunan gedung tingkat risiko kebakaran rendah
4. Klasifikasi berdasarkan zona gempa meliputi tingkat zonasi gempa yang
ditetapkan oleh instansi yang berwenang.
5. Klasifikasi berdasarkan lokasi meliputi :
a. Bangunan gedung di lokasi padat
b. Bangunan gedung di lokasi sedang
c. Bangunan gedung di lokasi renggang
6. Klasifikasi berdasarkan ketinggian meliputi :
a. Bangunan gedung bertingkat tinggi
b. Bangunan gedung bertingkat sedang
c. Bangunan gedung bertingkat rendah
7. Klasifikasi berdasarkan kepilikan meliputi :
a. Bangunan gedung milik negara
b. Bangunan gedung milik badan usaha
c. Bangunan gedung milik perorangan
2.3 Volume Pekerjaan
Perhitungan jumlah banyaknya kebutuhan kapasitas atau isi pekerjaan suatu
bangunan dalam satu satuan disebut dengan volume pekerjaan. Volume pekerjaan
merupakan salah satu hal penting yang sering ditemui. Volume pekerjaan sendiri
memiliki peranan yang sangat penting bagi suatu pekerjaan pembangunan
konstruksi dimana volume pekerjaan ini dapat menetukan rencana anggaran biaya
suatu proyek konstruksi. Tidak hanya itu menurut Maharani dan Fajarwati (2006)
menjelaskan volume pekerjaan juga mempengaruhi durasi pekerjaan proyek
konstruksi.
Perhitungan volume pekerjaan suatu proyek biasanya meliputi beberapa
perhitungan pekerjaan, diantaranya :
a. Pekerjan Persiapan
b. Pekerjaan Tanah
c. Pekerjaan Pondasi
d. Pekerjaan Beton Bertulang
e. Pekerjaan Dinding
f. Pekerjaaan Instalasi Listrik
g. Pekerjaan Instalasi air Bersih dan Air Kotor
h. Pekerjaan Keramik
i. Pekerjaan Plafond
j. Pekerjaan Pemasangan Kusen, Pintu, Jendela
k. Pekerjaan Besi
l. Pekerjaan Atap
m. Pekerjaan Finishing
2.4 Building Information Modeling (BIM)
BIM dianggap lebih dari sekedar teknologi biasa, meainkan cara baru untuk
menangani proses pembangunan. Dengaan menggunakan BIM dapat diperoleh
3D, 4D, 5D, dan 6D. Dimana 3D berbasis obyek pemodelan parametric, 4D
adalah urutan dan penjadwalan material, pekerja, luasan area, waktu dan lain-lain,
5D termasuk estimasi biaya dan part-list, dan 6D mempertimbangkan untuk
fasilitas manajemen, biaya siklus hidup, dan dampak lingkungan. Konsep ini
sangat tergantung pada teknologi software yang digunakan. Inti dari konsep
tersebut adalah bahwa model BIM berisi informasi-informasi, model suatu objek
tidak hanya geometri tetapi model tersebut juga berisi informasi tentang bahan
yang digunakan, berat, biaya, waktu dan bagaimana bagian dipsang dan lain-lain.
(Janni Tjell, 2010)
Menurut Eastman et al (2008) BIM merupakan salah satu perkembangan
yang paling menjajikan dalam industri arsitektur, rekayasa dan konstruksi (AEC).
Dengan teknologi BIM, model virtual yang akurat mengandung geometri yang
tepat dan data relavan yang diperlukan untuk mendukung kegiatan konstruksi,
fabrikasi, dan pengadaan yang diperlukan untuk mewujudkan bangunan. BIM
juga mengakomodasi banyak fungsi yang diperlukan untuk memodelkan siklus
bangunan, menyediakan dasar bagi kemampuan konstruksi baru dan mengubah
peran dan hubungan diantara tim proyek. Ketika diimplementasikan dengan tepat,
BIM memfasilitasi desain yang lebih terintegrasi rendah dan durasi proyek
berkurang.
Menurut Ramadiprani R. (2012) menjelaskan bahwa salah satu tujuan utama
dari teknologi BIM adalah untuk mendukung semua proses dimulai dari tahap
pra-konstruksi berlanjut sampai tahap pemeliharan pada siklus hidup seluruh
bangunan. Kelebihan penggunaan BIM dari setiap tahap pembangunan proyek
adalah:
1. Tahap Pra-Konstruksi
Dalam tahap pra-konstruksi owner mencoba untuk
menentukan/mengestimasi ukuran proyek sesuai dengan anggaran proyek
yang tersedia. Estimasi proyek pada tahap ini masih terbilang sangat
kasar. Dengan menggunakan BIM, perkiraan model bangunan dapat
dihubungkan dengan database dan biaya harga proyek yang akan
dihitung langsung. Dalam tahap awal, hanya menggunakan skema model
dan berfungsi untuk mengevaluasi fungsi bangunan. Hal ini dapat
mendefinisikan arah pengembangan proyek tepat di tahap awal yang
dapat meningkatkan kualitas keseluruhan bangunan.
2. Tahap Desain
Pada tahap desain merupakan kolaborasi tim konstruksi dengan insinyur,
arsitek dan owner. Pada tahap ini BIM harus segera dilaksanakan.
Jika arsitek hanya menyediakan gambar 2D, maka manajer konstruksi
harus mengubah gambar 2D menjadi gambar 3D. Upaya koordinasi
manajer konstruksi dan kontraktor bertujuan untuk mengurangi
kesalahan desain dan untuk lebih memahami pekerjaan yang akan
dilakukan.
3. Tahap Konstruksi dan Fabrikasi
Pada tahap ini menggunakan model 4D yang bertujuan untuk
mensimulasikan proses konstruksi, memvisualisasikan bagaimana
bangunan akan dibangun hari demi hari dan untuk menemukan
potensi masalah yang dihadapi sehingga dapat dilakukan perbaikan.
Teknologi BIM memungkinkan mengidentifikasikan bentrokan
sebelum konstruksi berlangsung, sehingga dapat mempercepat proses
konstruksi, mengurangi risiko penaikan biaya proyek akibat
bentrokan dan diperlukan solusi untuk memperbaiki kesalahan. Selama
konstruksi mungkin akan muncul perubahan desain, sehingga
memperbaharui perkiraan biaya dan jadwal pelaksanaan. Teknologi
BIM dapat memfasilitasi proses fabrikasi. Elemen 3D dari model dapat
dikirim ke pabrik-pabrik elemen proses produksi secara otomatis.
4. Tahap Pemeliharaan
Model BIM penuh dengan informasi yang dapat berguna untuk
membangun proses operasi. Hal ini dapat mendukung monitoring sistem
kontrol proyek.
2.5 Autodesk Revit
Autodesk Revit merupakan salah satu perangkat lunak yang membantu
metode pemodelan Building Information Modeling (BIM) untuk memodelkan
informasi konstruksi gedung, arsitek, struktural serta MEP yang telah
dikembangkan oleh Autodesk. Revit dapat digunakan dalam lingkup disiplin ilmu
desain bangunan.
Gambar 2.1 Autodesk Revit
(Sumber : Wikipedia)
Autodesk telah dikenal dengan jajaran produk AutoCAD, membeli Revit
Technology Corporation yang berbasis di Massachusetts dengan harga US $ 133
juta pada tahun 2002, berdasarkan sumber Wikipedia. Pada tahun 2005 Revit
Structure berganti nama menjadi Revit Architecture. Pada tahun 2013, Autodesk
merilis fitur terbatas revit LT untuk pasar entry level bersama dengan fitur
lengkap Revit 2013. Pada tahun yang sama Autodesk memperkenalkan lisensi
sewa untuk beberapa prodek mereka, termasuk Revit.
Menurut Aniendhita R.A., dalam model Revit, setiap halaman gambar, 2D
maupun 3D, dan penjadwalan adalah presentasi dari setiap informasi dari setiap
database model bangunan yang sama, seperti ketika kita bekerja penggambaran
dan penjadwalan. Revit Structure mengumpulkan semua informasi tentang proyek
pembangunan dan mengkoordinasikan informasi dari setiap pihak yang terlibat
dalam proyek, parameter Revit mengubah secara otomatis pengkoordinasian
perubahan yang dibuat dimanapun pada gambar tampak model, lembar gambar,
penjadwalan, potongan dan perencanaan.
Menurut Amir M.I. (2011) menjelaskan mengenai kelebihan dan kelemahan
program bantu Autodesk Revit Architecture, dengan komponen parametric, dalam
perancangan, pengguna dapat langsung menggunakan komponen-komponen yang
sudah tersimpan dalam Revit, seperti misalnya pintu, tekstur bahan, dan furnitur,
sehingga pengguna Revit tidak perlu memasukan kode baru lagi, atau
memprogram ulang untuk bahan yang ingin didapat. Jadi pengguna cukup
memilih bahan atau bentuk yang telah tersedia di pengelompokkan (family) dalam
Revit. Revit menyediakan aplikasi untuk memodifikasi bentuk geometri secara
fleksibel. Sebagai contoh bentuk geometri bola dapat diubah menjadi bola
lonjong. Revit mendukung sistem 64 bit sehingga dapat mendukung projek
berskala besar dengan performa komputer yang lebih stabil untuk proses
rendering dan yang lain-lain. Dengan fitur interferensi checking, pengguna dapat
mencegah bertemunya dua material yang tidak sesuai. Dengan fitur ini material
takeoff pengguna dapat memeriksa kestabilan bangunan, menghitung perkiraan
material yang dibutuhkan untuk menghitung perkiraan biaya. Revit memiliki
antarmuka yang terpisah untuk setiap komponen, misalnya antarmuka untuk
dinding dikhususkan untuk dinding, sedangkan untuk lantai, atap dan kompnen
lain memiliki antarmuka sendiri-sendiri. Revit juga memiliki fitur detailing untuk
menambah rincian pada bagian-bagian tertentu dapat dicetak dengan realistis
seperti foto. Setiap akhir pengerjaan model dengan Revit, maka pengguna dapat
memodifikasi desainnya tanpa menghilngkan desain sebelumnya dan
memunculkan kedua desain ini sebagai pilihan. Salah satu kelemahan yang
dimiliki Revit adalah harganya sangat mahal.
Amir I.M (2011) juga menjelaskan menegenai fitur dari autodesk Revit
Architecture diantaranya :
1. Komponen Parametrik
Komponen parametrik juga dikenal sebagai family, merupakan dasar
untuk semua komponen bangunan yang dirancang di Autodesk Revit
Architecture. Komponen Prametrik
2. Aplikasi Desain Konseptual
Autodesk Revit Architecture menawarkan perangkat lunak yang mudah
digunkan alat desain konseptual yang mendukung kreatif Pengguna
Sketsa bebas, menciptakan model free-bentuk
3. Support 64-bit
Fitur ini meningkatkan kemampuan Autodesk Revit Architectureuntuk
menangani proyek-proyek besar dan meningkatkan kinerja dan stabilitas
untuk tugas-tugas memori-intensif seperti rendering, percetakan, upgrade
model, dan mengimpor dan mengekspor file.
4. Pemeriksaan Interferensi
Fitur ini berguna untuk memnidai model pengguna untuk mencari
tabrakan antar unsur-unsur
5. Material Take Off
Menghitung jumlah material rinci dengan aplikasi tool material Takeoff.
Presisi untuk desain berkelanjutan dan kuantitas pemeriksaan bahan di
perkiraan biaya, material takeoff memfasilitasi pelacakan kuantitas bahan.
Mesin perubahan parametric membantu memastikan bahwa perhitungan
material akurat
6. Antarmuka berdasarkan Tugas (Task-Based)
Antarmuka organisasi desktop menawarkan melalui jendela gambar besar
dan akses ke alat-alat dan perintah yang pengguna butuhkan.
7. Perincian (Detailing)
Memanfaatkan detail tool library luas dan merinci yang merupakan
bagian dari Autodesk Revit Architecture. Presorted untuk menyelaraskan
dengan format CSI, Library detail dapat disesuaikan untuk
mengakomodasi pengguna kantor yang diinginkan. Membuat, mengelola
dan berbagi library detail sendiri.
8. Visualisasi Desain
Menangkap ide-ide desain dalam keadaan fotorealistik. Dengan interaksi
pengguna mudah, output berkualitas tinggi, dan waktu render lebih cepat,
mesin render metal ray memungkinkan presentasi unggulan
9. Opsi Desain
Mengembangkan dan mengkaji beberapa alternatif desain simultan untuk
membantu membuat keputusan desain kunci. Hadir beberapa skema untuk
klien pengguna dengan lebih mudah. Pengganti masing-masing plihan ke
dalam model untuk visualisasi, kuantifikasi, dan analisis data untuk lebih
menginformasikan pengambilan keputusan
10. Asosiatifitas Bidiresional
Perubahan dimana saja andalah perubahan dimana-mana. Pada Autodesk
Revit Arsitektur perangkat lunak, semua informasi model disimpan di
satu tempat. Akibatnya, setiap informasi yang akan diubah secara efektif
mengubah keseluruhan model
11. Jadwal (Schedulle)
Jadwal hanyalah penggunaan lain dari model Revit Architecture
Autodesk. Sebuah perubahan ke tampilan jadwal secara otomtis tercermin
dalam semua tampilan lain. Fungsi bagian asosiatif split-jadwal dan
elemen desain dipilih melalui penggunaan jadwal, rumus, dan
penyaringan
12. Pembuat Bangunan (The Revit Building Maker)
Fitur The Revit Building Maker menyediakan cara yang lebih halus untuk
mengubah bentuk konseptual menjai desain fungsional
13. Fitur Interoperabilitas (Interoperability)
Fitur ini memungkinkan pengguna untuk bekerja lebih efesien dengan
anggota tim proyek. Pengguna dapat mengekspor model bangunan
lengkap dengan metadata kritis.
2.6 Menejemen Proyek
Proyek bermakna sebuah pekerjaan besar yang kemungkinannya tidak akan
terulang dalam jangka waktu yang singkat. Suatu kesalahan akan sangat mahal,
sehingga sangat diinginkan melaksanakan tahap demi tahap tanpa adanya
kesalahan. Manajemen proyek adalah cara mengontrol, mengorganisir dan
mengelola sumber daya maupun peghasilan yang penting untuk menyelesaikan
proyek. Manajemen proyek merupakan seni mengontrol selama proyek, dari sejak
dimulai sampai selesai (Ramadiaprani Ranti, 2012)
Menurut Febriana Saputri (2011), manajemen proyek ialah pengelolaan
kegiatan pelaksanaan dalam rangka mewujudkan suatu keinginan atau gagasan,
meliputi perencanaan, pelaksanaan serta pengendaliannya dengan batasan-batasan
tertentu sehubungan dengan biaya, mutu dan waktu. Untuk memperoleh batasan-
batasan yang sesuai, maka diperlukan biaya adanya sistem (manajemen) yang
dapat mengelola input (berupa rencana konstruksi dan sumber daya) menjadi
output bangunan jadi.
Manajemen proyek konstruksi pada umumnya akan meliputi fisik konstruksi,
biaya, dan waktu, manajemen material serta manajemen tenaga kerja. Pada
prinsipnya, dalam manajemen konstruksi, makanejemn tenaga kerja merupakan
salah satu hal yang akan lebih ditekankan. Hal ini disebaban manajemen
perencanaan hanya berperan sekitar 20% dari rencana kerja proyek. Sisanya
manajemen pelaksanaan termasuk didalamnya pengendalian biaya dan waktu
proyek. Hal ini bersumber pada wikipedia mengenai manajemen proyek. Adapun
fungsi manajemen konstruksi yaitu :
1. Sebagai Quality Control sehingga dapat menjaga kesesuaian antara
perencanaan dan pelaksanaan.
2. Mengantisipasi terjadinya perubahan konsdisi di lapangan yang tidak
pasto serta mengatasi kendla terjadinya keterbatasan waktu pelaksanaan.
3. Memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicapai. Hal itu
dilakukan dengan opname (laporan) harian, mingguan, dan bulanan.
4. Hasil evaluasi dapat dijadikan tindakan dalam pengambilan keputusan
terhadap masalah-masalah yang terjadi di lapangan.
5. Fungsi manajerial dari manajemen merupakan sebuah sistem informasi
yang baik dapat digunakan untuk menganalis performa dilapangan.
Manajemen proyek terlaksana karena tuntutan untuk mencapai kegiatan yang
terencakan dan teroganisasi dengan baik dan mencapai taget waktu yang telah
ditentukan.
BAB 3. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penilitian
Penilitian ini bersifat kuantitaif karena hasil pemodelan yang diperoleh
merupakan data biaya sruktural proyek.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai dengan bulan
Februari 2019. Bulan September 2018 dilakukan untuk pengambilan data proyek
gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember, dilanjutkan pada bulan Oktober 2018 untuk memperdalam
kemampuan kemampuan menggunakan software Autodesk Revit, kemudian
setelah data informasi proyek didapatkan langkah selanjutnya dilakukan
pemodelan proyek gedung Auditorium Universitas Jember pada bulan November
2018 hingga selesai.
Objek dalam penelitian ini adalah Gedung IDB IDB Integrated Laboratory for
Science Policy and Communication Laboratory for Science Policy and
Communication Medicine Universitas Jember yang berlokasikan di Jalan
Kalimantan 37 Kampus Tegal Boto Jember.
Gambar 3.1 Proyek Gedung IDB Auditorium Universitas Jember
(Sumber :google maps )
Penelitian ini menggunkan objek yang berlokasi Gedung IDB Auditorium
Universitas Jember yang terletak Jalan Kalimantan 37 Kampus Tegal Boto
Jember.
3.3 Jenis Data
Data yang digunakan pada penelitian ini merupakan data sekunder yang
diperoleh dari kantor gedung Islamic Development Bank Universitas Jember.
Data-data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data as built drawing
gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember yang digunakan untuk pemodelan struktur bangunan serta data
metode pelaksanaan proyek untuk mengetahui struktur yang igunakan serta
mengetahui metode pelaksanaan proyek bangunan tersebut.
3.4 Tahapan Penelitian
1. Studi Literatur
Melakukan studi litaratur dilakukan dengan mencari referenri jurnal,
skripsi atau penelitian terdahulu, buku, dan artikel yang berkaitan mengenai
Building Information Modelling (BIM).
2. Identifikasi Masalah
Pada tahap ini peneliti melakukan analisa proyek Gedung IDB
Auditorium Universitas Jember untuk dimodelkan ke dalam pemodelan BIM
dengan menggunakan program bantu perangkat lunak Autodesk Revit.
3. Pengumpulan Data
Data yang akan dibutuhkan pada penelitian ini merupakan shop drawing
gedung IDB Auditorium Universitas Jember. Data ini merupakan data
sekunder yang diperoleh dari kantor Islamic Development Bank Universitas
Jember.
4. Pengolahan Data
Setelah data-data proyek yang dibutuhkan sudah terkumpul, tahap
selanjutnya yaitu mengelola data dengan membagi data informasi proyek
sesuai dengan jenis pekerjaan yang dimodelkan
5. Pemodelan
Pemodelan merupakan langkah kelima setelah tahapan pengelolaan data.
Pada tahap ini dilakukan dengan memodelkan data yang telah diolah dengan
menggunakan program bantu perangkat lunak Autodesk Revit.
6. Hasil dan Pembahasan
Jika kegitaan penelitian diatas telah dilakukan sesuai dengan tahapan yang
ada, maka hasil penelitian dapat disampaikan dan dijelaskan secara detail
mengenai langkah-langkah pemodelan dan hasil yang didapatkan.
7. Kesimpulan dan Saran
Setelah hasil penelitian dapat diketahui, maka dilakukan penimpulan hasil
terhadap analisa yang dilakukan pada gedung IDB Auditorium Universitas
Jember, dan saran yang dituliskan dapat menjadikan penelitian ini menjadi
lebih baik kedepannya.
3.5 Kerangka Kerja Penelitian
Persiapan
Pengumpulan Data
Pemodelan
Modeling Drawing
3D (Tiga Dimensi) Shop
Drawing
Menggambar Menggambar Detail
Struktur Bangunan : Tulangan :
1. Pondasi 1. Pondasi
2. Kolom 2. Kolom
3. Balok 3. Balok
4. Plat Lantai 4. Plat Lantai
5. Atap
Penyajian Hasil
Gambar 3.2 Diagram alir metode penelitian
3.6 Matriks Penelitian
JUDUL EVALUASI ANGGARAN BIAYA PEMBANGUNAN
GEDUNG IDB INTEGRATED LABORATORY FOR
SCIENCE POLICY AND MENGGUNAKAN METODE
BUILDING INFORMATION MODELING (BIM)
RUMUSAN 1. Bagaimana perhitungan volume pekerjaan pada gedung
MASALAH IDB Integrated Laboratory for Science Policy and
Communication Universitas Jember menggunakan metode
Building Information Modeling (BIM)?
2. Bagaimana perbandingan perhitungan volume pekerjaan
dan anggaran biaya pembangunan gedung IDB Integrated
Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember menggunakan metode Building
Information Modeling (BIM) dengan metode konvensional
TUJUAN 1. Menghitung volume pekerjaan dan anggran biaya pada
PENELITIAN gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy and
Communication Universitas Jember menggunakan metode
Building Information Modeling (BIM).
2. Membandingkan perhitungan volume pekerjaan dan
anggaran biaya pembangunan gedung IDB Integrated
Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember menggunakan metode Building
Information Modeling (BIM) dengan metode konvensional
MANFAAT Manfaat Khusus:
PENELITIAN 1. Dapat menghitung volume pekerjaan pada gedung IDB
Integrated Laboratory for Science Policy and
Communication Universitas Jember menggunakan metode
Building Information Modeling (BIM).
2. Dapat membandingkan perhitungan volume pekerjaan dan
anggran biaya pembangunan gedung IDB Integrated
Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember menggunakan metode Building
Information Modeling (BIM) dengan metode konvensional
Manfaat Umum:
1. Dapat menjadi referensi dan informasi bagi pembaca
khusunya mahasiswa Teknik Sipil mengenai Building
Information Modeling (BIM) dengan menggunakan
program bantu Revit Architecture.
BATASAN 1. Pemodelan yang dilakukan adalah meninjau proyek
MASALAH gedung IDB Auditorium Universitas Jember.
2. Pemodelan yang dilakukan menggunakan program bantu
perangkat lunak Autodesk Revit
3. Hanya meninjau kebutuhan volume pekerjaan.
4. Manajemen proyek yang ditinjau hanya dari segi biaya
struktural.
5. Tidak meninjau penjadwalan proyek, kebutuhan alat berat,
kebutuhan pekerja, dan upah pekerja.
6. Tidak dilakukan analisis bangunan gedung
7. Tidak meninjau pekerjaan MEP
DATA & Data Sekunder:
SUMBER 1. File shop drawing proyek Gedung IDB ntegrated
Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember yang diperoleh dari kontraktor proyek
IDB.
2. Bills of Quantities proyek Gedung IDB ntegrated
Laboratory for Science Policy and Communication
Universitas Jember yang diperoleh dari kontraktor proyek
IDB.
METODE Metode yang digunakan dalam penelitian perhitungan volume
PENELITIAN pada gedung IDB Integrated Laboratory for Science Policy and
Communication Laboratory for Science Policy and
Communication Universitas Jember adalah dengan
menggunakan BIM dengan program bantu Revit Architecture
DAFTAR PUSTAKA
Berlian, C. A., R. P. Adhi, A. Hidayat, H. Nugroho. 2016. Perbandingan Efesiensi
Waktu, Biaya, dan Sumber Daya Manusia antara Moteode Building
Information Modeling (BIM) dan Konvensional (Studi Kasus: Perencanaan
Gedung 20 Lantai). Jurnal Karya Teknik Sipil 5(2) : 220-229.
Ramadiaprani, R. 2012. Aplikasi Building Information Modeling menggunakan
Software Tekla Struktures 17 pada Konstruksi Gedung Kuliah Tiga Lantai
Fahutan IPB Bogor. Skripsi Insitut Pertanian Bogor.
Kohar, C. K. 2014. Analisis pada Pembangunan Gedung AD Premier Berdasarkan
Tahapan Kinerja waktu menggunakan Miceosoft Project 2010 dan
Pemodelan 3D menggunakan Software Tekla 17. Skripsi IPB.
Saputri, F. 2012. Penerapan Building Information Modeling (BIM) pada
Pembangunan Struktur Gedung Perpustakaan IPB menggunakan Software
Tekla Strukture 17. Skripsi Insitut Pertanian Bogor.
Latersiya, K. 2017. Investigasi Penerapan Konsep Building Information Modeling
(BIM) pada proyek Konstruksi High Rise Building di Indonesia. Skripsi
Universitas Katolik Parahyangan.
Hergiana, M. 2016. Aplikasi Building Information Modeling dan Analisis Kinerja
Waktu pada Pembangunan Gedung Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB
Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB menggunakan Tekla Struktures.
Skripsi Insitut Pertanian Bogor.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 36 tahun 2005 tentang Peraturan
Pelaksanaan Undang-undang nomor 28 tahun 2002 tentang Bangunan
Gedung.
Tjell Janni. 2010. Building Information Modeling (BIM) in Design Detailing with
Focus on Interior Wall System. Skripsi University Of Denmark.
Amalia R.A. Studi Litearur tentang Program Bantu Autodesk Revit Structure.
Skripsi Institut Teknologi Surabaya.
[Link]
[Link]
[Link]