MAKALAH
PENGEMBANGAN INSTRUMENT JENIS TES DAN NON TES
OLEH:
KELOMPOK 7
ASTRIANTI ILUSIVA
IRMAWATI LETE
MARIA ELTI WELA
HERMANTO SELI
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADYAH KUPANG
2024
DAFTAR ISI
Halaman Judul
Kata Pengantar
Daftar Isi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Rumusan Masalah
1.3 Tujuan
1.4 Manfat
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengembangan Instrumen Tes Yang Valid dan Raliabel
2.2 Langkah-Langkah Pengembangan Instrumen Non Tes Untuk Aspek Afektif
dan psikomotorik
2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Keakuratan dan Objektifitas Hasil
Pengukuran Dengan Instumen Tes dan Non Tes
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penilaian adalah komponen penting dalam proses pembelajaran, karena berfungsi untuk
mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. Penilaian yang akurat dan komprehensif
membutuhkan alat ukur yang tepat, salah satunya adalah instrumen tes dan non-tes.
Instrumen tes biasanya digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif, sedangkan
instrumen non-tes lebih banyak digunakan untuk mengukur aspek afektif dan psikomotorik
seperti sikap, motivasi, dan keterampilan.
Pengembangan instrumen penilaian, baik tes maupun non-tes, memerlukan pemahaman yang
mendalam tentang karakteristik masing-masing jenis instrumen. Instrumen tes, seperti
pilihan ganda dan esai, seringkali lebih mudah dikembangkan namun perlu melalui uji
validitas dan reliabilitas agar hasilnya dapat diandalkan. Di sisi lain, instrumen non-tes
seperti angket, observasi, dan wawancara membutuhkan pendekatan yang berbeda, terutama
dalam hal pengumpulan data yang bersifat lebih subjektif.
Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan, guru dan peneliti pendidikan perlu
mengembangkan instrumen penilaian yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan tujuan
pembelajaran. Instrumen yang baik akan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang
perkembangan akademik maupun kepribadian peserta didik. Oleh karena itu, pengembangan
instrumen tes dan non-tes yang valid dan reliabel menjadi salah satu tantangan dalam dunia
pendidikan saat ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana prosedur yang tepat dalam pengembangan instrumen tes yang valid dan
reliabel untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik?
[Link] saja langkah-langkah yang diperlukan dalam pengembangan instrumen non-tes untuk
menilai aspek afektif dan psikomotorik peserta didik?
[Link] apa saja yang mempengaruhi keakuratan dan objektivitas hasil pengukuran dengan
menggunakan instrumen tes dan non-tes?
1.3 Tujuan
Mengembangkan prosedur yang tepat dalam penyusunan instrumen tes yang valid dan
reliabel untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik.
Menyusun langkah-langkah pengembangan instrumen non-tes yang efektif dalam menilai
aspek afektif dan psikomotorik peserta didik.
1.3 Manfaat
Instrumen tes dan non-tes yang dikembangkan dengan baik dapat membantu guru melakukan
penilaian yang lebih objektif dan komprehensif terhadap kemampuan kognitif, sikap, dan
keterampilan siswa.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Penegmbangan Instumen Tes Yang Valid dan Raliabel
Pengembangan instrumen tes yang valid dan reliabel untuk mengukur kemampuan kognitif
peserta didik membutuhkan tahapan yang sistematis dan terstruktur. Proses ini bertujuan
untuk memastikan bahwa instrumen yang digunakan dapat memberikan hasil yang akurat
serta konsisten. Berikut adalah prosedur yang tepat dalam pengembangan instrumen tersebut:
1. Menentukan Tujuan dan Ruang Lingkup Tes
Langkah awal adalah menetapkan tujuan tes dengan jelas, yaitu kemampuan kognitif apa
yang ingin diukur. Guru atau pengembang instrumen harus merujuk pada kompetensi dasar
dan indikator yang terdapat dalam kurikulum. Hal ini akan memastikan bahwa tes yang
dibuat relevan dengan tujuan pembelajaran. Misalnya, jika ingin mengukur kemampuan
analisis, maka soal-soal yang disusun harus mencakup tingkat kognitif yang lebih tinggi,
seperti aplikasi, analisis, dan evaluasi berdasarkan Taksonomi Bloom.
2. Menyusun Kisi-Kisi Tes
Kisi-kisi adalah panduan penting dalam pengembangan tes, yang mencakup indikator, materi
yang diujikan, jumlah soal, dan tingkat kesulitan soal. Dengan adanya kisi-kisi, pengembang
dapat memastikan bahwa soal-soal yang dibuat merata di seluruh aspek yang diukur. Kisi-
kisi ini juga membantu menjaga keseimbangan antara berbagai tingkat kognitif, mulai dari
pemahaman hingga penerapan.
3. Menulis Butir Soal
Setelah kisi-kisi disusun, tahap selanjutnya adalah menulis butir soal. Dalam pengembangan
soal, penting untuk memperhatikan bentuk soal yang sesuai, seperti pilihan ganda, isian
singkat, atau esai. Setiap bentuk soal memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,
dan harus disesuaikan dengan tujuan pengukuran. Selain itu, soal harus dirancang agar jelas,
tidak ambigu, dan menghindari kata-kata yang membingungkan.
Pada tahap ini, soal juga harus diuji agar tidak bias atau menimbulkan interpretasi ganda.
Setiap soal harus mengukur kemampuan yang spesifik dan sesuai dengan indikator yang
telah ditetapkan dalam kisi-kisi.
4. Melakukan Uji Coba Instrumen (Try Out)
Setelah soal disusun, langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba instrumen kepada
sekelompok siswa yang memiliki karakteristik serupa dengan populasi yang akan diuji. Try
out bertujuan untuk menguji validitas dan reliabilitas instrumen. Pada tahap ini, analisis
statistik terhadap hasil uji coba dapat dilakukan untuk mengevaluasi soal-soal yang tidak
sesuai atau kurang valid.
Misalnya, validitas dapat diuji menggunakan validitas isi (content validity) melalui penilaian
ahli (expert judgment) atau validitas empiris dengan menganalisis korelasi antara skor setiap
soal dan skor total. Sementara itu, reliabilitas diukur untuk mengetahui konsistensi instrumen
mengukur hal yang sama secara berulang. Teknik yang sering digunakan untuk mengukur
reliabilitas adalah teknik Alpha Cronbach.
5. Melakukan Revisi Soal Berdasarkan Hasil Uji Coba
Setelah uji coba, butir soal yang memiliki validitas rendah atau yang terbukti tidak reliabel
harus direvisi atau dihapus. Revisi dilakukan dengan mengacu pada analisis data hasil uji
coba, seperti tingkat kesulitan soal, daya pembeda, dan konsistensi jawaban. Soal-soal yang
sudah direvisi kemudian disusun kembali untuk memastikan bahwa tes akhir benar-benar
mengukur aspek kognitif yang ditargetkan.
6. Menyusun Tes Akhir
Setelah semua soal direvisi dan dievaluasi, langkah terakhir adalah menyusun tes akhir. Tes
ini kemudian siap digunakan untuk mengukur kemampuan kognitif peserta didik. Penting
juga untuk menyertakan pedoman penskoran yang jelas dan objektif, terutama untuk soal
esai atau soal dengan jawaban terbuka.
7. Melakukan Analisis Pasca-Penilaian
Setelah tes digunakan, evaluasi hasil penilaian dapat dilakukan untuk melihat efektivitas tes
tersebut. Analisis ini dapat membantu mengidentifikasi apakah ada soal yang tidak berfungsi
sebagaimana mestinya, atau apakah ada perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan
validitas dan reliabilitas instrumen di masa mendatang.
2.2 Langkah-Langkah Pengembangan Instrumen Non-Tes untuk Menilai Aspek Afektif
dan Psikomotorik
Instrumen non-tes digunakan untuk mengukur aspek afektif (sikap, motivasi, minat) dan
psikomotorik (keterampilan fisik) yang tidak dapat diukur dengan tes tertulis seperti tes
kognitif. Pengembangan instrumen non-tes memerlukan pendekatan berbeda karena sifat
data yang lebih subjektif dan beragam. Berikut adalah langkah-langkah pengembangan
instrumen non-tes:
1. Menetapkan Tujuan Penilaian
Langkah pertama adalah menentukan tujuan dari penilaian non-tes. Apa yang ingin diukur
dari aspek afektif atau psikomotorik siswa? Misalnya, apakah tujuannya untuk mengukur
sikap terhadap pembelajaran, kerjasama dalam kelompok, atau keterampilan motorik
tertentu? Penetapan tujuan ini akan membantu dalam merancang instrumen yang tepat untuk
mendapatkan data yang dibutuhkan.
Contoh aspek afektif: Sikap terhadap kerja kelompok, minat terhadap mata pelajaran,
motivasi belajar.
Contoh aspek psikomotorik: Keterampilan menggunakan alat laboratorium, ketepatan dalam
gerakan olahraga, atau kecepatan dalam menyelesaikan tugas tangan.
Ada beberapa jenis instrumen non-tes yang dapat digunakan untuk mengukur aspek afektif
dan psikomotorik:
Angket/Kuesioner: Digunakan untuk mengukur aspek afektif, seperti sikap, minat,
dan persepsi siswa terhadap pembelajaran.
Observasi: Cocok untuk menilai keterampilan psikomotorik serta aspek afektif seperti
sikap dan perilaku. Observasi dapat bersifat langsung atau dengan menggunakan
rubrik penilaian.
Skala Likert atau Rating Scale: Instrumen yang biasanya digunakan dalam kuesioner
untuk mengukur derajat sikap atau perasaan siswa terhadap sesuatu.
Wawancara: Dapat digunakan untuk menggali sikap atau perasaan siswa yang tidak
bisa diungkap melalui kuesioner.
Jurnal atau Catatan Harian: Siswa dapat diminta untuk menulis refleksi tentang
pengalaman belajar mereka yang bisa diinterpretasikan untuk menilai aspek afektif.
3. Menyusun Indikator Penilaian
Setiap instrumen yang dikembangkan harus didasarkan pada indikator yang jelas. Indikator
adalah ciri atau tanda yang dapat diukur dari aspek yang ingin dinilai. Untuk aspek afektif,
indikator dapat berupa sikap positif terhadap pembelajaran, kerja sama, atau tanggung jawab.
Sedangkan untuk aspek psikomotorik, indikatornya bisa mencakup keterampilan teknis,
kecepatan, dan ketepatan dalam melakukan suatu tugas.
Contoh indikator afektif:
Menunjukkan sikap positif saat bekerja dalam kelompok.
Menunjukkan minat yang konsisten terhadap materi yang diajarkan.
Contoh indikator psikomotorik:
Menggunakan alat dengan teknik yang benar.
Melakukan gerakan olahraga dengan kelincahan dan ketepatan.
4. Menyusun Instrumen
Setelah indikator ditentukan, langkah selanjutnya adalah menyusun instrumen sesuai jenis
yang telah dipilih. Untuk kuesioner atau angket, pertanyaan atau pernyataan harus
dirumuskan dengan bahasa yang jelas dan mudah dipahami oleh siswa. Untuk observasi,
diperlukan pedoman atau rubrik yang menggambarkan tingkatan kinerja, sehingga penilai
dapat memberikan nilai secara objektif.
Contoh skala Likert untuk sikap: "Saya senang belajar sosiologi di kelas" dengan pilihan
jawaban dari "Sangat Tidak Setuju" hingga "Sangat Setuju".
Contoh rubrik observasi psikomotorik: Dalam olahraga basket, rubrik dapat mencakup
kemampuan menangkap bola, gerakan dribel, serta ketepatan dalam melempar bola ke
keranjang dengan skala penilaian dari 1 (kurang) hingga 5 (sangat baik).
5. Melakukan Uji Validitas dan Reliabilitas
Setelah instrumen disusun, perlu dilakukan uji coba untuk memastikan bahwa instrumen
tersebut valid dan reliabel. Validitas mengacu pada sejauh mana instrumen benar-benar
mengukur apa yang seharusnya diukur. Untuk menguji validitas instrumen non-tes, validitas
isi (content validity) sering digunakan, di mana ahli atau pakar diminta untuk mengevaluasi
kesesuaian instrumen dengan tujuan penilaian.
Reliabilitas instrumen non-tes mengacu pada konsistensi hasil penilaian jika dilakukan
berulang kali. Untuk kuesioner, reliabilitas dapat diuji menggunakan teknik Alpha Cronbach
atau metode split-half untuk memastikan konsistensi antarbutir soal.
6. Melakukan Uji Coba Instrumen
Setelah validitas dan reliabilitas diuji, langkah selanjutnya adalah melakukan uji coba
instrumen kepada kelompok siswa yang relevan. Data yang diperoleh dari uji coba ini dapat
digunakan untuk mengevaluasi apakah instrumen bekerja sesuai harapan dan memberikan
hasil yang diinginkan. Instrumen yang kurang valid atau reliabel harus direvisi berdasarkan
hasil uji coba ini.
7. Melakukan Revisi Instrumen
Berdasarkan hasil uji coba, revisi dilakukan pada butir-butir yang tidak sesuai atau tidak
mampu mengukur aspek yang diinginkan. Revisi ini bisa berupa perubahan pertanyaan,
pernyataan, atau penambahan/ pengurangan butir dalam angket atau rubrik observasi.
8. Mengimplementasikan Instrumen dalam Penilaian
Setelah instrumen selesai direvisi, instrumen siap untuk digunakan dalam penilaian aspek
afektif dan psikomotorik siswa secara nyata. Penting bagi pengajar untuk memberikan
pedoman yang jelas mengenai penggunaan instrumen ini, terutama jika melibatkan
pengamatan langsung atau rubrik observasi yang membutuhkan penilaian objektif.
9. Mengevaluasi dan Menggunakan Hasil Penilaian
Setelah instrumen digunakan dalam penilaian, hasil penilaian dianalisis untuk memberikan
umpan balik kepada siswa serta untuk memperbaiki proses pembelajaran. Hasil ini juga
dapat menjadi dasar bagi pengembangan kurikulum atau pengajaran yang lebih efektif,
terutama dalam meningkatkan aspek afektif dan psikomotorik peserta didik.
2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keakuratan dan Objektivitas Hasil
Pengukuran dengan Instrumen Tes dan Non-Tes
Keakuratan dan objektivitas hasil pengukuran dalam penilaian adalah kunci untuk
mendapatkan data yang dapat dipercaya dan sesuai dengan tujuan penilaian. Baik instrumen
tes maupun non-tes dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang memengaruhi kualitas hasil
pengukuran. Berikut adalah beberapa faktor utama yang berpengaruh:
1. Validitas Instrumen
tersebut tidak
sesuai dengan tujuan penilaian. Ada beberapa jenis validitas yang mempengaruhi keakuratan,
seperti:
Validitas isi (content validity): Sejauh mana butir-butir tes mencerminkan materi
yang ingin diukur.
Validitas konstruk (construct validity): Sejauh mana instrumen benar-benar
mengukur konstruk atau konsep yang seharusnya diukur.
Validitas kriteria (criterion-related validity): Sejauh mana hasil pengukuran
berkorelasi dengan hasil dari instrumen lain yang diakui mengukur hal yang sama.
Instrumen yang tidak memiliki validitas yang baik akan mengurangi keakuratan hasil
pengukuran, baik untuk tes maupun non-tes.
2. Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas mengacu pada konsistensi hasil pengukuran dari waktu ke waktu. Instrumen
yang reliabel akan menghasilkan hasil yang konsisten ketika digunakan dalam kondisi yang
serupa. Jika hasil pengukuran tidak konsisten, keakuratan dan objektivitas pengukuran dapat
dipertanyakan. Faktor-faktor yang memengaruhi reliabilitas antara lain:
Konsistensi antar butir soal.
Konsistensi penilaian antar penilai dalam instrumen non-tes, seperti observasi.
Teknik yang biasa digunakan untuk mengukur reliabilitas adalah Alpha Cronbach untuk
kuesioner atau inter-rater reliability untuk observasi.
3. Kejelasan Instrumen
Soal atau pernyataan yang ambigu atau tidak jelas dapat mengakibatkan siswa memberikan
jawaban yang tidak sesuai dengan maksud pertanyaan. Dalam instrumen non-tes seperti
observasi, kriteria yang tidak spesifik dapat menimbulkan interpretasi yang berbeda di antara
penilai, sehingga memengaruhi objektivitas penilaian.
Contoh: Pertanyaan dalam kuesioner yang terlalu umum atau sulit dipahami dapat
menyebabkan siswa memberikan jawaban yang kurang relevan.
4. Kualitas Butir Soal atau Pernyataan
Kualitas butir soal dalam instrumen tes, seperti tes pilihan ganda atau esai, sangat
menentukan keakuratan hasil penilaian. Beberapa masalah yang bisa muncul dalam kualitas
butir soal antara lain:
Tingkat kesulitan soal: Soal yang terlalu mudah atau terlalu sulit tidak akan
memberikan informasi yang akurat tentang kemampuan peserta didik.
Daya pembeda soal: Soal yang tidak mampu membedakan antara siswa yang
memiliki kemampuan tinggi dan rendah akan mengurangi keakuratan hasil penilaian.
Sedangkan pada instrumen non-tes seperti angket atau rubrik observasi, pernyataan yang
tidak mencerminkan indikator yang ingin diukur juga dapat mengurangi objektivitas
penilaian.
5. Pengaruh Penilai (Bias)
Faktor subjektivitas penilai sangat memengaruhi objektivitas, terutama dalam penggunaan
instrumen non-tes seperti observasi atau wawancara. Penilai yang memiliki bias pribadi, baik
secara sadar maupun tidak, dapat memberikan hasil yang kurang objektif. Beberapa bentuk
bias yang sering muncul adalah:
Bias halo effect: Penilai cenderung memberikan penilaian tinggi atau rendah pada
semua aspek berdasarkan kesan umum yang baik atau buruk terhadap peserta didik.
Bias prasangka atau stereotip: Penilai memiliki pandangan tertentu terhadap kelompok
tertentu, yang memengaruhi objektivitas penilaian.
Untuk meminimalkan bias, penting untuk menggunakan pedoman atau rubrik penilaian yang
jelas dan memastikan bahwa penilai memiliki pemahaman yang sama terhadap indikator
penilaian.
6. Lingkungan dan Kondisi Pengujian
Kondisi lingkungan saat tes berlangsung juga mempengaruhi hasil pengukuran. Dalam
pengujian menggunakan tes, gangguan lingkungan seperti kebisingan, suhu ruangan yang
tidak nyaman, atau waktu pelaksanaan yang tidak tepat dapat memengaruhi kinerja peserta
didik, sehingga hasil pengukuran menjadi tidak akurat. Kondisi fisik dan mental peserta
didik, seperti rasa lelah atau stres, juga berperan dalam keakuratan hasil tes.
Sedangkan dalam instrumen non-tes seperti observasi, faktor-faktor lingkungan seperti
suasana kelas atau kondisi fisik siswa dapat memengaruhi perilaku yang diamati, yang
berpotensi menghasilkan penilaian yang tidak objektif.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengembangan instrumen tes dan non-tes memegang peran penting dalam upaya pengukuran
yang akurat dan objektif terhadap berbagai aspek kemampuan peserta didik. Instrumen tes
(seperti pilihan ganda, esai, atau isian) terutama digunakan untuk mengukur aspek kognitif,
sedangkan instrumen non-tes (seperti observasi, kuesioner, dan wawancara) digunakan untuk
menilai aspek afektif dan psikomotorik.
Proses pengembangan kedua jenis instrumen ini harus dilakukan secara sistematis, dimulai
dengan penentuan tujuan penilaian, penyusunan kisi-kisi, penyusunan butir soal atau
indikator, uji validitas dan reliabilitas, serta revisi berdasarkan hasil uji coba. Validitas dan
reliabilitas merupakan dua faktor kunci yang mempengaruhi keakuratan dan konsistensi
instrumen, baik tes maupun non-tes. Instrumen yang baik harus mampu mengukur aspek
yang relevan secara objektif, menghindari bias penilai, serta sesuai dengan kompetensi yang
ingin dicapai.
3.2 Saran
Pengembangan instrumen, baik tes maupun non-tes, harus didasarkan pada kompetensi dasar
yang ingin dicapai. Misalnya, dalam penilaian kognitif, soal harus mampu mengukur tingkat
pemahaman dan penerapan konsep; sedangkan dalam penilaian afektif dan psikomotorik,
instrumen harus mencerminkan kemampuan sikap dan keterampilan yang ingin
dikembangkan.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul "Pengembangan Instrumen Tes dan Non-
Tes". Makalah ini disusun sebagai salah satu syarat dalam memenuhi tugas akademik di dari
mata kuiah Evaluasi Pembelajaran Sosiologi, yang bertujuan untuk memberikan pemahaman
yang lebih mendalam mengenai pentingnya pengembangan instrumen penilaian yang valid
dan reliabel dalam proses pendidikan.
Dalam makalah ini, penulis membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan pengembangan
instrumen tes dan non-tes, termasuk langkah-langkah yang diperlukan, faktor-faktor yang
mempengaruhi keakuratan hasil pengukuran, serta saran-saran untuk meningkatkan kualitas
instrumen penilaian. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan penilaian yang lebih baik dan efektif, baik bagi pendidik maupun peserta
didik.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak terdapat kekurangan.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan di
masa mendatang. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi
pembaca dalam memahami dan mengembangkan instrumen penilaian yang lebih baik.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyusunan makalah ini.
Kupang,8 oktober 2024
Penulis
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (2012). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Azwar, S. (2015). Reliabilitas dan Validitas dalam Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Fraenkel, J. R., Wallen, N. E., & Hyun, H. H. (2011). How to Design and Evaluate Research
in Education (8th ed.). New York: McGraw-Hill.
Gronlund, N. E. (2006). Assessment of Student Achievement (8th ed.). Boston: Pearson
Education.
Mardapi, D. (2012). Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi Pendidikan. Yogyakarta: Nuha
Medika.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Sukardi. (2010). Evaluasi Pendidikan: Prinsip dan Operasionalnya. Jakarta: Bumi Aksara