TUGAS AKHIR (RC184803)
PERENCANAAN REKLAMASI SERTA DETAIL
BREAKWATER PADA TERSUS GALANGAN
KAPAL PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN
FIANY DARA NOVELITA
NRP 03111645000027
Dosen Pembimbing
Ir. Dyah Iriani W, [Link].
Cahya Buana,S.T,M.T.
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya 2018
TUGAS AKHIR–RC184803
PERENCANAAN REKLAMASI SERTA DETAIL
BREAKWATER PADA TERSUS GALANGAN
KAPAL PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN
FIANY DARA NOVELITA
NRP 3111645000027
Dosen Pembimbing I:
Ir. Dyah Iriani Widyastuti, [Link].
Dosen Pembimbing II:
Cahya Buana, ST., MT
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2018
FINAL PROJECT–RC184803
RECLAMATION AND BREAKWATER’S DETAIL
DESIGN FOR PACIRAN SHIPYARD, LAMONGAN
DISTRICT
FIANY DARA NOVELITA
NRP 3111645000027
Consultancy Lecturer I:
Ir. Dyah Iriani Widyastuti, [Link].
Consultancy Lecturer II:
Cahya Buana, ST., MT
DEPARTEMEN OF CIVIL ENGINEERING
Civil, Enviromental, and Geo Engineering Faculty
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Surabaya
2018
PERENCANAAN REKLAMASI SERTA DETAIL
BREAI(WATER PAI}A TERSUS GALANGAN
KAPAL PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN
TUGAS AKI{IR
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Teknik
pada
Program Studi S-1 Lintas Jalur Departemen Tekaik Sipil
Fakultas Teknik Sipil, Lingkungan, dan Kebumian
Institut Teknologi Sepuluh Nopernber
Oleh:
FIAhIY DARA NOYELITA
NRP. 31 11645A00027
Ir. Dyah Iri bimbing I)
'hfr= [)
Cahya Buan4 'l{iaj
DEP&RTE*|6}| /
ng
SIIRABAYA
[Link],2018
11I
PERENCANAAN REKLAMASI SERTA DETAIL
BREAKWATER PADA TERSUS GALANGAN
KAPAL PACIRAN, KABUPATEN LAMONGAN
Nama Mahasiswa : Fiany Dara Novelita
NRP : 3111645000027
Departemen : Teknik Sipil FTSLK-ITS
Dosen Pembimbing : 1. Ir. Dyah Iriani W, [Link]
2. Cahya Buana,S.T., M.T
ABSTRAK
Pertumbuhan kapal di Indonesia tergolong cukup pesat. Pada
tahun 2012, menurut data Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan
Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) kebutuhan reparasi dan
perawatan kapal di Indonesia mencapai 7,5 – 8 juta gross ton
kapal per bulan. Sedangkan jumlah dok dan galangan kapal di
Indonesia mencapai sekitar 30 unit saja dengan kapasitas 7 juta
GT/tahun. Oleh karenanya dirasa perlu direncanakan galangan
kapal baru. Rencana galangan kapal baru berada di Desa Tunggul
Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan. Pantai Utara Jawa di
wilayah Propinsi Jawa Timur. Mengacu pada masterplan, dalam
tugas akhir ini akan merencanakan reklamasi dan struktur
breakwater untuk galangan kapal tersebut.
Dalam perencanaan tersus galangan kapal ini diharapkan
mampu melayani kapal dengan berat maksimum 10000 DWT.
Reklamasi direncakan menggunakan material sirtu pilihan yang
pelaksanaannya dilakukan dari daratan menuju laut. Timbunan
reklamasi dilakukan pada kedalaman maksimal -4 mLWS hingga
mencapai elevasi +4 mLWS dengan luasan 20.08 Ha. Untuk
breakwater ini direncanakan menggunakan tipe rubble mound
iv
dengan armour layer berupa batu limestone yang datangkan dari
darat yang kemudian dituang ke arah laut. Breakwater ini di-
bangun dari elevasi +4.5 mLWS hingga kedalaman -8 mLWS.
Biaya total yang dibutuhkan untuk membangun reklamasi dan
breakwater ini adalah sebesar Rp. 578,489,189,000.00.
Kata kunci : Tersus, Galangan Kapal, Reklamasi, Rubble
Mound, Paciran
v
RECLAMATION AND BREAKWATER’S DETAIL
DESIGN FOR PACIRAN SHIPYARD, LAMONGAN
DISTRICT
Student’s Name : Fiany Dara Novelita
Student’s Registry Number : 3111645000027
Departement : Teknik Sipil FTSLK-ITS
Consultancy Lecturers : 1. Ir. Dyah Iriani W, [Link]
2. Cahya Buana,S.T., M.T.
ABSTRACT
The growth of ships in Indonesia is quite rapid. In 2012,
according to data from Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan
Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), in Indonesia, number of ship
repairs and maintenance necessary reached 7.5 - 8 million gross
tons of ships per month. While the number of docks and shipyards
in Indonesia reaches around 30 units with a capacity of 7 million
GT per year. Therefore planning the new shipyards is needed. The
new shipyard plan is in Tunggul Village, Paciran , Lamongan
district, North Java coast in East Java Province. Referring to the
development masterplan, in this final, project reclamation and
breakwater structures for the shipyard.
These designs are expected to be able to serve ships with a
maximum weight of 10000 DWT. Material of reclamation designed
using sirtu at a maximum depth of -4 mLWS to reach +4 mLWS
elevation. For this breakwater, it is planned to use the rubble
mound type with the armor layer form of limestone stone which
imported from the surrounding land and then poured towards the
sea. This breakwater is built from an elevation of +4.5 mLWS to a
vi
depth of -8 mLWS. The total cost needed to build this reclamation
and breakwater is Rp. 569,980,714,000.
Keywords: Tersus, Shipyard, Reclamation, Rubble Mound,
Paciran
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas ke hadirat Allah SWT.
Yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan tugas akhir yang berjudul
Perencanaan Reklamasi Serta Detail Breakwater pada Tersus
Galangan Kapal Paciran, Kabupaten Lamongan.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan tugas akhir ini masih
terdapat banyak kekurangan. Dalam penyelesaian tugas akhir ini
penulis dibantu oleh berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin
mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada :
1. Kedua orang tua penulis yang selalu mendukung dan
mendoakan agar tugas akhir ini segera selesai.
2. Ir. Dyah Iriana Widyastuti, MSc dan Cahya Buana, ST.,
MT. selaku dosen pembimbing, yang selalu memberikan
arahan dan bimbingan dalam penyusunan tugas akhir ini.
3. Seluruh dosen pengajar dan staff jurusan Teknik Sipil.
4. Kepada kedua adik penulis yang selalu menghibur saat
sedang bosan.
5. Teman - teman penulis, pelabuhan squad yang saling
menyemangati, serta pihak-pihak lain yang telah banyak
membantu yang tidak bisa disebutkan satu persatu.
Akhir kata penulis berharap agar laporan ini dapat bermanfaat
dan dapat memberikan sumbangan ilmu pembaca pada khususnya.
Penulis mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan dimasa
yang akan datang. Atas segala perhatiannya, penulis mengucapkan
terima kasih.
Surabaya, November 2018
Penulis
viii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN.................................................. iii
ABSTRAK ............................................................................ iv
ABSTRACT .......................................................................... vi
KATA PENGANTAR ........................................................ viii
DAFTAR ISI ......................................................................... ix
DAFTAR GAMBAR ........................................................... xii
DAFTAR TABEL.................................................................xv
BAB I PENDAHULUAN ....................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ....................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ......................................................... 2
1.4 Manfaat Penulisan ....................................................... 2
1.5 Lokasi Perencanaan ..................................................... 2
1.6 Lingkup Pekerjaan ...................................................... 5
1.7 Batasan Masalah .......................................................... 5
1.8 Diagram Alir ................................................................ 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ............................................ 9
2.1 Umum............................................................................ 9
2.2 Analisa Data ................................................................. 9
2.2.1 Data Bathymetri ................................................... 9
2.2.2 Data Arus ............................................................. 9
2.2.3 Pasang surut ....................................................... 10
2.2.4 Angin ................................................................. 13
2.2.3 Gelombang......................................................... 13
2.2.5 Tanah ................................................................. 23
2.3 Evaluasi Layout Perairan .......................................... 24
2.3.1 Alur Masuk ........................................................ 24
2.3.2 Kolam Putar ....................................................... 26
2.4 Perencanaan Reklamasi ............................................ 27
2.4.1 Material Reklamasi ............................................ 27
2.4.2 Settlement........................................................... 28
2.4.3 Perencanaan Tinggi Timbunan Awal ................ 31
ix
2.4.4 Waktu Konsolidasi ............................................. 32
2.4.5 Timbunan Bertahap............................................ 32
2.4.6 Stabilitas Reklamasi ........................................... 33
2.5 Perencanaan Breakwater ........................................... 35
2.5.1 Refraksi Gelombang .......................................... 35
2.5.2 Difraksi Gelombang........................................... 38
2.5.1 Layout Breakwater ............................................. 40
2.5.2 Dimensi Breakwater ......................................... 41
2.5.3 Stabilitas Breakwater ......................................... 44
BAB III PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA ......... 45
3.1 Umum .......................................................................... 45
3.2 Data Bathymetri ......................................................... 45
3.3 Data Arus .................................................................... 46
3.4 Data Pasang Surut ..................................................... 46
3.5 Data Angin .................................................................. 49
3.6 Peramalan Gelombang .............................................. 51
3.6.1 Panjang Fetch..................................................... 51
3.6.2 Tinggi Gelombang pada Laut Dalam Berdasarkan
Data Kecepatan Angin Maksimum Tahun 2013-
2017 ................................................................... 54
3.6.4 Refraksi Gelombang .......................................... 58
3.6.3 Tinggi Gelombang Berdasarkan Periode Ulang.70
3.7 Data Tanah ................................................................. 75
3.7.1 Data Tanah Dasar............................................... 75
3.7.2 Data Material Timbunan .................................... 80
BAB IV EVALUASI LAYOUT PERAIRAN..................... 83
4.1 Umum .......................................................................... 83
4.2 Data Kapal .................................................................. 83
4.3 Layout Masterplan ..................................................... 83
4.3.1 Area Penjangkaran (Anchorage Area) ............... 85
4.3.2 Alur Masuk (Entrance Channel)......................... 85
4.3.3 Kolam Putar (Turning Basin) ............................ 85
4.4 Kajian Perencanaan Layout Perairan ..................... 85
4.4.1 Area Penjangkaran (Anchorage Area) ............... 85
x
4.4.2 Alur Masuk (Entrance Channel) ....................... 86
4.4.3 Kolam Putar (Turning Basin) ............................ 86
4.5 Evaluasi Layout Perairan .......................................... 87
BAB V PERENCANAAN REKLAMASI ......................... 89
5.1 Umum ......................................................................... 89
5.2 Data perencanaan Reklamasi ................................... 89
5.2.1 Material Reklamasi ............................................ 89
5.2.2 Elevasi dan Tinggi Rencana .............................. 89
5.3 Perhitungan Besar Pemampatan (Settlement) ....... 91
5.3.1 Penurunan Konsolidasi Primer (Primary
Consolidation Settlement).................................. 91
5.3.2 Penurunan Segera (Immidiate Settlement) ......... 94
5.3.3 Penurunan Total (Stot) ........................................ 97
5.3.4 Penurunan Akibat Timbunan Bertahap ........... 100
5.4 Penentuan Tinggi Timbunan Awal ........................ 103
5.5 Perhitungan Waktu Konsolidasi ............................ 106
5.7 Stabilitas Reklamasi ................................................ 107
5.7.1 Stabilitas Terhadap Puncture Failure .............. 107
5.7.2 Stabilitas Terhadap Sliding .............................. 109
BAB VI PERENCANAAN BREAKWATER .................. 113
6.1 Umum ....................................................................... 113
6.2 Difraksi Layout Masterplan .................................... 113
6.3 Evaluasi Layout Breakwater Masterplan ............. 116
6.4 Perencanaan Layout Breakwater .......................... 117
6.5 Perencanaan Cross Section Breakwater ............... 119
6.5.1 Berat Unit Amour .............................................. 119
6.5.2 Tebal Lapisan .................................................... 122
6.5.3 Lebar Puncak Breakwater.................................. 123
6.6 Elevasi Puncak Breakwater ..................................... 124
6.6.1 Transmisi Gelombang ....................................... 124
6.6.2 Settlement .......................................................... 124
6.6.3 Beda Pasang Surut ............................................. 124
6.6.4 Elevasi Puncak .................................................. 124
6.7 Stabilitas Breakwater ............................................... 125
6.7.1 Settlement .......................................................... 125
xi
6.7.2 Puncture Failure................................................ 130
6.7.3 Sliding ................................................................ 131
BAB VII METODE PELAKASANAAN DAN RENCANA
ANGGARAN BIAYA .............................................. 135
7.1 Umum ........................................................................ 135
7.2. Pekerjaan Persiapan ................................................ 135
7.3 Pelaksanaan Reklamasi ........................................... 135
7.3.1 Pemasangan Tanggul Reklamasi ..................... 135
7.3.2 Pemasangan Instrument Soil Monitoring ......... 136
7.3.3 Pekerjaan Timbunan Reklamasi ...................... 136
7.4 Metode Pelakasanaan Breakwater .......................... 137
7.4.1 Core layer......................................................... 137
7.4.2 Toe Berm ......................................................... 137
7.4.3 Secondary Layer .............................................. 137
7.4.4 Primary Layer .................................................. 138
7.5 Rencana Anggaran Biaya ........................................ 138
7.5.1 Harga Material, Upah Pekerja, dan Sewa Alat 138
7.5.2 Analisa Harga Satuan....................................... 140
7.5.3 Rencana Anggaran Biaya................................. 142
BAB VIII KESIMPULAN ................................................. 145
8.1 Umum ....................................................................... 145
8.2 Perencanaan Reklamasi .......................................... 145
8.3 Perencanaan Breakwater ......................................... 146
8.4 Rencana Anggaran Biaya ........................................ 147
xii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. 1 Lokasi Studi ......................................................... 3
Gambar 1. 2 Lokasi Tersus Galangan Kapal ............................ 4
Gambar 1. 3 Master plan Galangan Kapal Baru ....................... 5
Gambar 1. 4 Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir ................ 6
Gambar 2. 1 Tipe Pasang Surut .............................................. 12
Gambar 2. 2 Hubungan kecepatan angin di darat dan di laut . 14
Gambar 2. 3 Contoh peramalan fetch ..................................... 16
Gambar 2. 4 Diagram Tegangan Tanah Akibat Beban
Surcharge........................................................... 31
Gambar 2. 5 Sliding Rotasional pada Timbunan .................... 34
Gambar 2. 6 Punture Failure Pada Timbunan ........................ 35
Gambar 2. 7 Koefisien Daya Dukung (Nc) vs B/H ................ 36
Gambar 2. 8 Refraksi Gelombang Pada Kontur Lurus Dan
Sejajar ................................................................ 37
Gambar 2. 9 Konvergensi dan Divergensi Energi Gelombang
38
Gambar 2. 10 Difraksi Gelombang di Belakang Rintangan ..... 40
Gambar 3. 1 Peta Bathymetri Perairan Paciran ...................... 47
Gambar 3. 2 Potongan Melintang bathymetri Perairan Paciran
........................................................................... 48
Gambar 3. 3 Grafik Pasang Surut ........................................... 49
Gambar 3. 4 Windrose Data Angin Stasiun Pengamatan A.
Yani semarang ................................................... 51
Gambar 3. 5 Fetch Arah Barat Laut ....................................... 52
Gambar 3. 6 Fetch Arah Utara ............................................... 52
Gambar 3. 7 Fetch Arah Timur Laut ...................................... 53
Gambar 3. 8 Peta Geologi Perairan Paciran ........................... 76
Gambar 3. 9 Keterangan Peta Geologi ................................... 77
Gambar 3. 10 Grafik Plastisitas Cassagrande ........................... 79
Gambar 4. 1 Layout Perairan Masterplan Tersus Galangan
Kapal.................................................................. 84
Gambar 5. 1 Sketsa Timbunan Reklamasi.............................. 89
Gambar 5. 2 Layout Pengembangan Tersus ........................... 90
xiii
Gambar 5. 3 Sketsa Tebal Lapisan untuk Perhitungan σo ...... 91
Gambar 5. 4 Sketsa Setengah Geometri Timbunan ................ 93
Gambar 5. 5 Grafik Pemampatan Tanah Akibat Timbunan
Bertahap ...................................................... 103
Gambar 5. 6 Grafik Hubungan Antara Hinitial dengan Hfinal
.................................................................... 105
Gambar 5. 7 Grafik Hubungan Hinitial dengan Settlement .... 106
Gambar 5. 8 Grafik Daya Dukung ........................................ 109
Gambar 5. 9 Sliding pada Timbunan Reklamasi .................. 110
Gambar 5. 10 SF Terhadap Sliding ........................................ 111
Gambar 6. 1 Titik yang Ditinjau untuk Perhitungan Difraksi
......................................................................... 114
Gambar 6. 2 Diagram Difraksi dengan B/L=1.78 ................ 115
Gambar 6. 3 Layout Breakwater Masterplan dan Layout
Turning Basin .................................................. 116
Gambar 6. 4 Layout Breakwater Baru .................................. 118
Gambar 6. 5 Diagram Difraksi dengan B/L=1.64 ................ 118
Gambar 6. 6 Titik Layout Breakwater Baru yang Ditinjau
Untuk Perhitungan Difraksi ............................. 120
Gambar 7. 1 Penimbunan Material Core Layer dengan
Menggunakan Dump Truck ............................. 137
Gambar 7. 2 Perapian Puncak Secondary Layer................... 138
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 2. 1 Penabelan Fetch Efektif ....................................... 17
Tabel 2. 2 Persamaan Analisa Tinggi Gelombang ................ 18
Tabel 2. 3 Penabelan Tinggi dan Periode Gelombang di Laut
Dalam ................................................................... 19
Tabel 2. 4 Tinggi Gelombang Maksimum Tiap Tahun ......... 20
Tabel 2. 5 Perhitungan Periode Ulang Gelombang
Menggunakan Metode Weibul ............................. 20
Tabel 2. 6 Tinggi Gelombang Berdasarkan Periode Ulang
dengan Metode Weibul ........................................ 22
Tabel 2. 7 Korelasi Nilai SPT ............................................... 24
Tabel 2. 8 Kebutuhan ukuran alur masuk.............................. 24
Tabel 2. 9 Kedalaman Perairan ............................................. 26
Tabel 2. 10 Panjang Alur Masuk ............................................. 26
Tabel 3. 1 Konstanta Harmonik ............................................ 49
Tabel 3. 2 Distribusi Fekuensi Data Angin Stasiun A. Yani,
Semarang Tahun 2006-2015 ................................ 50
Tabel 3. 3 Kecepatan Angin Maksimum Tahunan Stasiun A.
Yani, Semarang .................................................... 50
Tabel 3. 4 Perhitungan Fetch Efektif .................................... 55
Tabel 3. 5 Analisa Tinggi Gelombang dengan Menggunakan
Metode SBM ........................................................ 57
Tabel 3. 6 Ho Tahun 2013 - 2017 ......................................... 59
Tabel 3. 7 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut
Tahun 2013........................................................... 62
Tabel 3. 8 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut
Tahun 2014........................................................... 62
Tabel 3. 9 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut
Tahun 2015........................................................... 63
Tabel 3. 10 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut
Tahun 2016........................................................... 63
Tabel 3. 11 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut
Tahun 2017........................................................... 64
xv
Tabel 3. 12 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara
Tahun 2013 ........................................................... 64
Tabel 3. 13 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara
Tahun 2014 ........................................................... 65
Tabel 3. 14 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara
Tahun 2015 ........................................................... 65
Tabel 3. 15 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara
Tahun 2016 ........................................................... 66
Tabel 3. 16 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara
Tahun 2017 ........................................................... 66
Tabel 3. 17 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut
Tahun 2013 ........................................................... 67
Tabel 3. 18 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut
Tahun 2014 ........................................................... 67
Tabel 3. 19 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut
Tahun 2015 ........................................................... 68
Tabel 3. 20 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut
Tahun 2016 ........................................................... 68
Tabel 3. 21 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut
Tahun 2017 ........................................................... 69
Tabel 3. 22 Tinggi Gelombang Setelah Refraksi pada -8
mLWS ........................................................... 70
Tabel 3. 23 Perhitungan Regresi linear ................................... 71
Tabel 3. 24 Koefisien untuk Menghitung Deviasi Standar ..... 73
Tabel 3. 25 Batas interval Keyakinan Prediksi Tinggi
Gelombang ........................................................... 73
Tabel 3. 26 Tinggi Gelombang pada kedalaman -8 mLWS
Arah Timur Laut dengan Periode Ulang 50 Tahun
.............................................................................. 74
Tabel 3. 27 Tinggi Gelombang pada kedalaman -8 mLWS
Arah Utara dengan Periode Ulang 50 Tahun ....... 75
Tabel 3. 28 Tinggi Gelombang pada kedalaman -8 mLWS
Arah Barat Laut dengan Periode Ulang 50 Tahun75
xvi
Tabel 3. 29 Hasil Soil Investigation di Desa Tunggul,
Kecamatan Paciran ............................................... 76
Tabel 3. 30 Korelasi SPT dan Korelasinya ............................. 78
Tabel 3. 31 Parameter ϒ Dan Ø Tanah Dasar ......................... 78
Tabel 3. 32 Parameter Tanah e, Cc, dan Cs ............................ 79
Tabel 4. 1 Hasil Evaluasi Layout Perairan ............................87
Tabel 5. 1 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan
Htimb = 4m ............................................................. 95
Tabel 5. 2 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan
Htimb = 6m ............................................................. 95
Tabel 5. 3 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan
Htimb = 8m ............................................................. 95
Tabel 5. 4 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan
Htimb = 10m ........................................................... 96
Tabel 5. 5 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan
Htimb = 12m ........................................................... 96
Tabel 5. 6 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 4m
.............................................................................. 98
Tabel 5. 7 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 6m
.............................................................................. 98
Tabel 5. 8 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 8m
.............................................................................. 98
Tabel 5. 9 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 10m
.............................................................................. 99
Tabel 5. 10 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb =
12m....................................................................... 99
Tabel 5. 11 Total Penurunan yang Terjadi .............................. 99
Tabel 5. 12 Perhitungan Hintial dan Hfinal .......................... 104
Tabel 5. 13 Derajat Konsolidasi Berdasarkan Waktu ........... 108
Tabel 6. 1 Tinggi Gelombang Setelah Difraksi ................... 116
Tabel 6. 2 Tinggi Gelombang Setelah Difraksi pada Layout
Breakwater Baru................................................. 119
Tabel 6. 3 Nilai Kd dari Berbagai Jenis Armour Unit......... 121
Tabel 6. 4 Berat Unit Armour pada Setiap Lapisan
Breakwater ......................................................... 122
Tabel 6. 5 Nilai n dan kΔ dari Berbagai Jenis Armour ....... 122
xvii
Tabel 6. 6 Tebal Lapisan Armour Layer Breakwater .......... 123
Tabel 6. 7 perhitungan Primary Conssolidation Setttlement
Breakwater.......................................................... 129
Tabel 6. 8 Perhitungan Immidiate Settlement Breakwater .. 129
Tabel 7. 1 Daftar Harga Material ........................................ 139
Tabel 7. 2 Daftar Harga Sewa Alat ..................................... 139
Tabel 7. 3 Daftar Upah Tenaga Kerja ................................. 139
Tabel 7. 4 Analisa Harga Satuan ......................................... 140
Tabel 7. 5 Rencana Anggaran Biaya ................................... 142
Tabel 7. 6 Rekapitulasi Anggaran Total .............................. 143
Tabel 8. 1 Berat Armour unit Setiap Bagian ....................... 146
Tabel 8. 2 Tebal Lapisan Breakwater setiap Bagian ........... 147
Tabel 8. 3 Rekapitulasi Anggaran Total .............................. 147
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pertumbuhan kapal di Indonesia tergolong cukup pesat.
Menurut Kementerian Perhubungan mencatat jumlah kapal
komersial nasional per Februari 2014 mencapai 13.326 unit atau
meningkat 120% dari Mei 2005. Pada tahun 2012, menurut data
Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Lepas Pantai Indonesia
(Iperindo) kebutuhan reparasi dan perawatan kapal di Indonesia
mencapai 7,5 – 8 juta gross ton kapal per bulan. Sedangkan jumlah
dok dan galangan kapal di Indonesia miliki kapasitas 7 juta
GT/tahun. Oleh karenanya galangan kapal untuk pembuatan kapal
baru juga masih dibutuhkan dan ditingkatkan jumlahnya.
Dirasa perlu direncanakan galangan kapal baru. Rencana
galangan kapal baru berada di Desa Tunggul Kecamatan Paciran,
Kabupaten Lamongan. Pantai Utara Jawa di wilayah Propinsi Jawa
Timur. Hal ini disebabkan besarnya volume lalu lintas kapal di laut
Jawa dan akan memudahkan bagi kapal untuk merapat dan nan-
tinya melaut kembali. Lahan yang digunakan untuk galangan
tersebut adalah lahan reklamasi. Letak galangan kapal tersebut
berada pada pantai utara jawa, sehingga dirasa perlu untuk
merencanakan breakwater. Hal ini dimaksudkan agar kapal yang
memasuki galanagn kapal tersebut aman dari gelombang. Mengacu
pada masterplan, penulis akan merencanakan reklamasi dan
struktur breakwater untuk galangan kapal tersebut. Diharapkan
mampu memenuhi kebutuhan akan fasilitas perawatan, perbaikan
dan dok untuk pembuatan kapal-kapal baru.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dikemukakan dalam
tugas akhir ini antara lain:
a. Lahan yang digunakan untuk galangan kapal baru di
Paciran menggunakan lahan reklamasi. Sehingga perlu pe-
rencanaan reklamasi seluas ±20 Ha, termasuk talud.
1
2
b. Dibutuhkan perairan yang tenang sepanjang tahun untuk
keamanan dan kestabilan kapal yang akan masuk ke dalam
galangan. Diperlukan perencanaan breakwater untuk
melindungi perairan dari pengaruh gelombang dari laut
dalam.
c. Reklamasi akan dilakasanakan hingga kedalaman -4 m
LWS, sehingga perlu adanya perencanaan yang efisien
dalam metode pelaksanaan serta perlu adanya perhitungan
anggaran biaya dalam perencanaannya. Selain itu perlu
adanya perencanaan breakwater yang efisien dalam meto-
de pelaksanaan serta perlu adanya perhitungan anggaran
biaya dalam perencanaannya
.
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan ini antara lain:
a. Mampu merencanakan timbunan reklamasi seluas ±20 Ha.
b. Mampu merencanakan detail breakwater yang mampu
melindungi dari pengaruh gelombang dar laut dalam.
c. Mampu merencanakan metode pelaksanaan untuk rekla-
masi dan detail breakwater, serta merencanakan anggaran
biaya.
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun mafaat dari penulisan ini sebagai referensi untuk
perencanaan reklamasi dan detail breakwater di paciran,
Lamongan.
1.5 Lokasi Perencanaan
Galangan kapal baru direncanakan berada di pantai utara
Jawa desa Tunggul, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan.
Untuk lebih rincinya, lokasi perencanaan dapat dilihat pada
Gambar 1. 1 dan Gambar 1. 2, serta perencanaan galangan kapal
dapat dilihat pada Gambar 1. 3.
3
Lokasi rencana tersus galangan kapal bagian barat
berbatasan langsung dengan dermaga ASDP. Untuk bagian selatan
dan bagian timur berbatasan dengan pemukiman dan pabrik
pemrosesan udang. Adapun koordinat batas lahan tarsus galangan
kapal dapat dilihat pada Tabel 1. 1.
Tabel 1. 1 Koordinat Batas Lahan Tersus Galangan Kapal
Lokasi Studi
Gambar 1. 1 Lokasi Studi
Sumber: google earth
4
Gambar 1. 2 Lokasi Tersus Galangan Kapal
Sumber: google earth
5
Gambar 1. 3 Master plan Galangan Kapal Baru
Sumber: LPPM ITS
1.6 Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan yang nantinya akan dikerjakan dalam
tugas akhir ini adalah :
a. Evaluasi layout perairan
b. Perencanaan reklamasi dan perbaikan tanah bila diper-
lukan
c. Perencanaan detail breakwater
d. Metode pelaksanaan reklamasi dan breakwater
e. Analisa anggaran biaya
1.7 Batasan Masalah
Batasan-batasan masalah yang nantinya akan digunakan
dalam penulisan tugas akhir ini adalah:
6
a. Data yang digunakan adalah data skunder
b. Lokasi quarry sudah ditentukan
c. Tidak membahas masalah sedimentasi.
d. Tidak membahas saran bantu navigasi pealayaran (SBNP)
e. Pembahasan hanya dikhususkan pada perencanaan layout
perairan, perncanaan reklamasi, dan perencanaan
breakwater.
1.8 Diagram Alir
Adapun langkah-langkah yang akan dikerjakan tersaji pada
gambar 1.3
Mempelajari latar belakang dan
Pendahuluan permasalahan yang ada di proyek
Analisa Data
Tinjauan Evaluasi Layout Perairan
Pustaka Perencanaan Reklamasi
Perencanaan Breakwater
A
Gambar 1. 4 Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir
7
A
Data yang digunakan berupa
data skunder:
Data bathymetri
Data arus
Pengumpulan Data pasang surut
dan Analisa Data angin
Data Data tanah
Analisa data meliputi:
Analisis data bathymetri
Analisis data arus
Analisi data pasang surut
Analisis data angin
Analisis data gelombang
Analisis parameter tanah
Evaluasi
Layout Evaluasi layout perairan
a. Perencanaan settlement, H
final, H inisial timbunan
Perencanaan reklamasi
Reklamasi b. Perencanaan perbaikan tanah
bila diperlukan
c. Perhitungan peningkatan daya
dukung tanah akibat perbaikan
tanah
d. Kontrol stabilitas timbunan
reklamasi
B
Gambar 1. 4 Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir (lanjutan)
8
B
a. Penentuan tinggi gelombang
rencana
Perhitungan b. Perencanaan cross section
Struktur breakwater
Breakwater c. Kontrol stabilitas breakwater
Perencanaan
Metode a. Metode pelakasanaan reklamasi
Pelaksanaan b. Metode pelakasanaan breakwater
Perhitungan a. Perhitungan RAB reklamasi
RAB b. Perhitungan RAB breakwater
Penutup Kesimpulan hasil perencanaaan
Gambar 1. 4 Diagram Alir Pengerjaan Tugas Akhir (lanjutan)
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Umum
Menurut PP 61 Tahun 2009 Bab I Pasal 1 “pelabuhan adalah
tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan batas-
batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan
perusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar,
naik turun penumpang, dan/atau tem-pat bongkar muat barang,
berupa terminal dan tempat ber-labuh kapal yang dilengkapi
dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan kegiatan
penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan
antar modal trans-portasi.
2.2 Analisa Data
2.2.1 Data Bathymetri
Peta Bathymetri berfungsi untuk mengetahui kedalaman
kontur dasar laut yang diukur dari posisi 0.00 m LWS . Hasil dari
peta bathymetri ini akan digunakan untuk :
a. Mengetahui kedalaman tanah dasar laut untuk kemudian
dapat digunakan untuk merencanakan kedalaman perairan
yang aman bagi kapal rencana.
b. Menentukan posisi yang tepat untuk lokasi dermaga dan
fasilitas-fasilitas dermaga.
c. Mengetahui daerah-daerah yang berbahaya untuk ber-
labuhnya kapal sehingga dapat diantisipasi dengan pem-
berian tanda.
2.2.2 Data Arus
Arus dapat terjadi oleh beberapa sebab meliputi adanya
perbedaan muka tanah dibawah air, perbedaan level muka air,
perbedaan kerapatan/densitas air dan juga perbedaan suhu air. Pada
umumnya arus yang terjadi di sepanjang pantai merupakan arus
9
10
yang terjadi akibat perbedaan muka air pasang surut satu lokasi
dengan lokasi yang lain, sehingga kondisi pasang surut suatu lokasi
sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surut lokasi tersebut itu
pula. Data arus ini dalam perencanaan pelabuhan digunakan untuk
menghindari pengaruh tekanan arus yang arahnya tegak lurus
terhadap kapal (cross current) sehingga kapal dapat melakukan
manuver dengan mudah dan aman. Sedangkan pada pelabuhan
yang berada di sungai, data arus digunakan untuk menghitung debit
air, intrusi laut, sediment transport arah membeloknya delta
sungai, dsb.
Salah satu metode untuk mendapatkan kecepatan arus ada-
lah dengan menggunakan alat currentmeter. Pengambilan data di-
lakukan sedikitnya di tiga titik secara bersamaan agar poala arus
yang ada dapat terwakili. Setiap pengukuran dilakukan dalam tiga
pengamatan, yaitu pada kedalaman 0,2d, 0,6d dan 0,8d dimana d
adalah kedalaman perairan pada posisi pengukuran.
Analisis data yang dilakukan untuk mengetahui kecepatan
dan arah arus maksimum yang terjadi. Analisis data ini bertujuan
untuk mengetahui tekanan arus serta kelayakannya untuk kapal
berlabuh. Dalam perencanaan disyaratkan kecepatan maksimum
dalam Thoressen Handbook Standard halaman 65 yaitu arus
maksimum sebesar 3 knot atau 1,5 m/s pada 0° dan 180°.
2.2.3 Pasang surut
Pasang surut laut merupakan suatu fenomena pergerakan
naik turunnya permukaan air laut secara berkala yang diakibatkan
oleh kombinasi gaya gravitasi dan gaya tarik menarik dari benda-
benda astronomi terutama oleh ma-tahari dan bulan terhadap bumi.
Besarnya gaya gravitasi berbanding lurus dengan dengan massa
benda tetapi berbanding terbalik terhadap jarak kedua benda.
Selain faktor astronomi tersebut, faktor non-astronomi yang me-
mengaruhi pasang surut terutama di perairan semi tertutup seperti
teluk adalah bentuk garis pantai dan topografi dasar perairan.
11
Puncak gelombang disebut pasang tinggi dan lembah ge-
lombang disebut pasang rendah. Sedangkan rentang pasang surut
adalah beda jarak vertikal antara pasang tinggi dan pasang rendah.
Ketika posisi matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lu-
rus, terjadi pasang tinggi yang sangat tinggi dan pasang rendah
yang sangat rendah. Peristiwa tersebut disebut pasang purnama
(spring tide) yang terjadi saat bulan purnama dan bulan baru. Na-
mun ketika posisi matahari, bumi dan bulan membentuk sudut siku,
akan terjadi pasang tinggi yang rendah dan pasang rendah yang
tinggi. Kejadian ini disebut pasang perbani (neap tide)
Dalam perencanaan pelabuhan, data pasang surut digunakan
untuk mengatahui elevasi tertinggi dan terendah. Umumnya nilai
elevasi tertinggi atau elevasi muka air pasang digunakan untuk
menentukan tinggi dermaga atau breakwater. Sedangkan nilai ele-
vasi terendah atau muka air surut digunakan untuk menentukan
alur kedalaman dalam pelayaran. Untuk perencanaan tugas akhir,
data pasang surut dapat diperoleh dengan pengukuran langsung
maupun dengan melihat dokumen data sekunder dari lembaga yang
mengeluarkan data pasang surut tersebut.
Pada suatu daerah dapat terjadi sekali atau dua kali pasang
surut dalam satu hari dengan tipe pasang surut yang berbeda di tiap
daerah. Bentuk dari pasang surut ini secara umum dapat dibedakan
menjadi tiga tipe, yaitu:
Pasang surut harian tunggal (diurnal), bila terjadi satu kali
pasang dan satu kali surut dalam sehari sehingga dalam
satu periode pasang surut berlangsung sekitar 24 jam 50
menit.
Pasang surut harian ganda (semi diurnal), bila terjadi dua
kali pasang dan dua kali surut dalam sehari sehingga dalam
satu periode pasang surut berlangsung sekitar 12 jam 24
menit.
Pasang surut harian campuran (mixed), pada tipe ini
terdapat dua kecenderungan pasang surut, yaitu pasang
12
surut yang lebih dominan pada tipe tunggal dan pasang
surut yang lebih dominan pada tipe ganda.
Perbedaan dari ketiga tipe pasang surut tersebut dapat dilihat
pada Gambar 2. 1.
Gambar 2. 1 Tipe Pasang Surut
Diperlukan juga suatu elevasi yang ditetapkan berdasarkan
data pasang surut karena elevasi muka air laut selalu berubah-
ubah. Penetapan elevasi ini digunakan untuk pedoman dalam
perencanaan suatu pelabuhan. Elevasi penting yang perlu diketahui
sebagai hasil analisis data pasang surut yaitu:
Tipe pasang surut yang dapat dilihat dari periode dan
keteraturannya.
LWS (Low water Spring) adalah hasil perhitungan elevasi
muka air rata-rata terendah yang dicapai pada saat air
surut.
MSL (Mean Sea Level) adalah elevasi rata-rata muka air
pada kedudukan pertengahan antara muka air terendah dan
tertinggi. Elevasi ini digunakan sebagai referensi untuk
elevasi di daratan.
13
HWS (High Water Spring) adalah elevasi rata-rata muka
air tertinggi yang dicapai pada saat air pasang.
2.2.4 Angin
Angin adalah sirkulasi udara yang kurang lebih sejajar
dengan permukaan bumi yang bergerak dari daerah bertekanan
udara tinggi menuju daerah bertekanan udara rendah. Angin me-
rupakan unsur dominan yang membentuk gelombang. Angin dapat
menyebabkan permukaan air laut yang tenang mengalami
gangguan sehingga menimbulkan riak gelombang kecil. Kom-
ponen data angin mencakup distribusi arah dan kecepatan angin.
Data angin yang digunakan adalah minimal data angin lima
tahun untuk dapat mempelajari pola yang terjadi yang disajikan
dalam bentuk tabel. Data dapat diperoleh dari stasiun meteorologi
terdekat yang berada di bandar udara maupun hasil dari analisa
ulang data angin yang sudah ada, bila diperlukan pengukuran lang-
sung digunakan peralatan anemometer. Data yang diperoleh biasa-
nya sudah terklarifikasikan sehingga pengolahan data lebih mudah
dan data dibagi berdasarkan distribusi kecepatan dan arah angin
serta prosentasenya atau lebih dikenal dengan diagram mawar
angin (wind rose). Fungsi dari data angin tersebut diantaranya:
Analisis perhitungan gelombang.
Informasi distribusi kecepatan dan arah angin yang terjadi
di lokasi perencanaan pelabuhan.
Perencanaan beban horizontal pada kapal.
2.2.3 Gelombang
a. Koreksi kecepatan angin
Pengukuran angin dapat dilakukan di daratan maupun di la-
utan. Namun dalam persamaan-persamaan pembangkitan gelom-
bang, data angin yang digunakan adalah yang ada di atas permu-
kaan laut. Untuk itu, apabila pengukuran angin dilakukan di da-
14
ratan, data kecepatan yang didapat harus dikoreksi. Data tersebut
dkoreksi dengan menggunakan per-samaan:
Uw
RL = (2. 1)
UL
dimana :
RL = faktor koreksi terhadap kecepatan angin di darat
UW = kecepatan angin di atas permukaan laut (m/dt)
UL = kecepatan angin di atas daratan (m/dt)
Grafik hubungan antara kecepatan angin di darat dan di laut
dapat dilihat pada Gambar 2. 2.
Gambar 2. 2 Hubungan kecepatan angin di darat dan di laut.
Sumber: Technical Standards and Commentaries for Port and Harbour
Facilities in Japan, 2002
Sedangkan apabila pengukuran dilakukan diatas laut dengan
menggunakan kapal yang sedang bergerak, data kecepatan angin
perlu dikoreksi menggunakan persamaan berikut:
15
U = 2,16 . Us7/9 (2. 2)
dimana:
U = kecepatan angin terkoreksi (m/dt)
Us = kecepatan angin yang diukur oleh kapal (m/s)
Setelah kecepatan angin dikoreksi, kemudian kecepatan
angin dikonversikan terhadap faktor tegangan angin. Hal ini dila-
kukan karena dalam perumusan dan grafik pembangkit gelombang
terdapat variabel UA yang merupakan faktor tegangan angin.
Konversi tersebut dilakukan dengan persamaan berikut:
UA = 0,71 . U 1,23 (2. 3)
dimana :
U = kecepatan angin dalam m/dt
UA = faktor tegangan angin
b. Fetch
Di dalam peramalan gelombang berdasarkan dari data angin,
terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu kecepatan
angin, arah angin, panjang daerah pembangkit gelombang (fetch)
dan lama hembusan angin pada fetch. Fetch dibatasi oleh bentuk
daratan yang mengelilingi laut. Jarak fetch adalah jarak tanpa
halangan diatas air dimana gelombang dibangkitkan oleh angin dan
memiliki arah dan kecepatan yang konstan. Contoh peramalan
fetch dapat dilihat pada Gambar 2.2. Sedangkan fetch efektif
diperoleh dengan persamaan:
Σ(Xi . cosαi )
Feff = Σcosαi
(2. 4)
16
dimana :
Feff = fetch rata –rata efektif
Xi = panjang segmen fetch yang diukur dari titik
observasi gelombang ke ujung akhir fetch
αi = deviasi pada kedua sisi arah angin dengan
menggnakan pertambahan 6ᵒ sampai sudut 42ᵒ
pada kedua sisi dari arah angin.
Contoh peramalan fetch dapat dilihat pada Gambar 2. 3
Gambar 2. 3 Contoh peramalan fetch
Sumber : Shore Protection Manual, 1984
Untuk mendapatkan panjang fetch efektif dapat dibuatkan
penabelan seperti pada Tabel 2. 1. Langkah-langkah pembuat-
annya sebagai berikut :
17
Tabel 2. 1 Penabelan Fetch Efektif
Xi Xi cos α
α cos α
BL U TL BL U
TL
Kolom 1, Pada kolom pertama yaitu kolom α, tentukan
besarnya sudut yang ditinjau antara jalur fetch dengan arah
angin, dengan menggunakan pertambahan 60 sampai sudut
sebesar 420 pada kedua sisi dari arah angin.
Kolom 2, Pada kolom kedua, dihitung besarnya cos α baik dari
arah kanan dan kiri jalur fetch. Setelah itu jumlahkan semua
cos α.
∑ cos α =x
Kolom 3, Kolom ketiga ini berupa panjang segmen fetch
yang diukur dari titik observasi ke ujung akhir fetchnya.
Pengukuran panjang ini dilakukan pada ketiga arah yang
paling berpengaruh.
Kolom 4, Kolom keempat ini berupa perhitungan kolom
ketiga berupa panjang segmen fetch yang diukur dikalikan
kolom kedua berupa nilai dari cos α. Setelah dihitung
semuanya lalu dijumlahkan dalam tiap arah yang
berpengaruh. Apabila sudah dihitung total dari ∑ xi cos α dari
setiap arah (BL, U, TL) lalu dihitung panjang fetch efektifnya
sesuai persamaan yang sudah dijelaskan sebelumnya
c. Tinggi dan Periode Gelombang
Besarnya tinggi dan periode gelombang dilaut dalam ini
didapatkan dari hasil analisis data angin yang didapatkan dari
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika dengan panjang
fetch efektif yang sudah diperhitungkan sebelumnya. Perhitungan
tinggi gelombang yang terjadi di laut dalam menggunakan metode
18
Sverdrup Munk Bretscheider (SMB) yang telah dimodifikasi
(Shore Protection Manual, 1984).
Metode tersebut terdapat 2 klasifikasi perhitungan yaitu
berdasarkan Fetch Limited dan Fully Developed. Suatu daerah
dengan fetch tak terbatas atau melebihi fetch maksimum (fetch
maksimum = 200 km) dapat menghasilkan gelombang dengan
periode dan tinggi rata-rata tertentu. Tinggi gelombang pada
kondisi tersebut tidak dapat bertambah terus dan mencapai
maksimum. Hal ini dikarenakan pada saat energi yang didapat dari
angin seimbang dengan energi yang hilang karena adanya
turbulensi maupun pecahnya gelombang. Keadaan ini disebut fully
developed (Yuwono, 1982).
Adapun persamaan-persamaan untuk menganalisa tinggi
dan periode gelombang berdasarkan metode SMB yang telah
dimodifikasi tersaji pada Tabel 2. 2
Tabel 2. 2 Persamaan Analisa Tinggi Gelombang
Metric Units
H(m), T(s),
Dimensionles H(m), T(s), UA(m/s),
UA(m/s) ,F(m),
F(m), t(hr)
t(s)
Fetch Limited (F,U)
𝑔∙𝐻𝑚0
= 1,6 × 𝐻𝑚0 = 5,112 × 10−4 ∙
𝑈𝐴 2 1⁄
𝐻𝑚0 = 1,616 × 10−2 ∙ 𝑈𝐴 ∙
1
𝑔∙𝐹 ⁄2 𝑈𝐴 ∙ 𝐹 2 1⁄
10−3 ( ) 𝐹 2
𝑈𝐴 2
𝑔∙𝑇𝑚
= 2.857 ×
𝑈𝐴 𝑇𝑚 = 6,238 × 10−2 ∙ 𝑇𝑚 = 6,238 × 10−1 ∙ (𝑈𝐴 ∙
1⁄ 1 1
10−1 (
𝑔∙𝐹
)
3 (𝑈𝐴 ∙ 𝐹) ⁄3 𝐹) ⁄3
𝑈𝐴 2
𝑔∙𝑡
= 6,88 × 10 ∙ 𝑡 = 3,215 × 10 ∙ 1⁄
𝑈𝐴
1⁄ 𝐹2 3
2
𝑔∙𝐹 ⁄3 𝐹2 3 𝑡 = 8,93 × 10−1 ∙ ( )
( ) ( ) 𝑈𝐴
𝑈𝐴 2 𝑈𝐴
19
Tabel 2. 2 Persamaan Analisa Tinggi Gelombang
fully Developed
𝑔∙𝐻𝑚0
= 2,433 × 𝐻𝑚0 = 2,482 × 𝐻𝑚0 = 2,482 ×
𝑈𝐴 2
2
10−1
−2
20 ∙ 𝑈𝐴 10−2 ∙ 𝑈𝐴 2
𝑔∙𝑇𝑚
= 8,134
𝑇𝑚 = 8,308 × 𝑇𝑚 = 8,308 × 10−1 ∙
−1 𝑈𝐴
𝑈𝐴 10 ∙ 𝑈𝐴
3
𝑔∙𝑡
= 7,15 × 104 𝑡 = 7,296 × 10 ∙
𝑡 = 2,027 ∙ 𝑈𝐴
𝑈𝐴 𝑈𝐴
𝑔 = 9.8 𝑚/𝑠 2
Untuk mempermudah perhitungan dapat digunakan seperti
Tabel 2. 3. Berikut ini merupakan runtutan cara membuat tabel
tersebut :
Tabel 2. 3 Penabelan Tinggi dan Periode Gelombang di Laut Dalam
Kec Max Arah Fetch tL HSOL T oL
T ahun Bulan Mata RT RL UW UA gt/UA Ket
(knot) (m/s) ( ͦ ) ( km ) ( hr ) ( m ) ( s )
Angin
Keterangan :
a. Kolom 1, urutan tahun berdasarkan data angin yang didapat,
minimal 10 tahun.
b. Kolom 2, urutan bulan pengamatan berdasarkan tahun.
c. Kolom 3, kecepatan maksimum dari tiap bulan pada tahun
tertentu sesuai dengan data yang didapat. Kecepatan yang
didapat biasanya dalam satuan knot.
d. Kolom 4, sama dengan kolom 3 tetapi kecepatan angin
dalam satuan m/s.
e. Kolom 5, arah datangnya angin maksimum dalam sudut.
f. Kolom 6, sama dengan kolom 5 namun klasifikasi arah
datangnya angin berdasarkan arah mata angin.
g. Kolom 7, faktor koreksi terhadap suhu
h. Kolom 8, faktor koreksi terhadap ketinggian pencatatan
kecepatan data angin di darat dan di laut.
20
i. Kolom 9, kecepatan angin (kolom 4) dikalikan Faktor-faktor
koreksi (Kolom 6 dan 7) RT (Gambar 2. 2) dan RL (Gambar
2. 2).
Gelombang yang dihitung sebelumnya merupakan tinggi gelombang
pada laut dalam yang datanya merupakan hasil analisis dari
kecepatan dan arah angin yang telah tercatat beberapa tahun
secara urut sebelum breakwater atau pelabuhan dibuat. Untuk
menentukan tinggi gelombang rencana ini, maka hasil tinggi
gelombang yang didapat sebelumnya dihitung menggunakan
fungsi distribusi probabilitas. Metode probabilitas yang
digunakan dalam tugas akhir ini yaitu metode Weibull.
Berikut ini merupakan penabelan langkah-langkah
pengerjaannya serta penjelasannya, dapat dilihat pada Tabel
2. 4 dan
Tabel 2. 5.
Tabel 2. 4 Tinggi Gelombang Maksimum Tiap Tahun
Tahun H (m) t (jam) Arah (o)
Tabel 2. 5 Perhitungan Periode Ulang Gelombang Menggunakan
Metode Weibul
No Urut Hsm P ym [Link] ym2 (Hsm-Hr)2 Ĥsm Hsm-Ĥsm (Hsm-Ĥsm)2
Langkah-langkah perhitungan Tabel 2. 4:
1. Kolom1, nomor urut tinggi gelombang signifikan selama 10
tahun.
2. Kolom 2, data gelombang yang diurutkan dari besar ke kecil
berdasarkan kolom 1.
21
3. Kolom 3, nilai P(Hs ≤ Hsm) yang dihitung berdasarkan
persamaan
0.27
𝑚−0.2−
√𝑘
P(𝐻𝑠 ≤ 𝐻𝑠𝑚) = 1 + 0.27 (2. 5)
𝑁𝑇 +0.2+
√𝑘
Keterangan :
P(Hs≤Hsm) = Probabilitas tinggi gelombang
dengan nilai tertentu yang tidak di
lampaui
Hs = Tinggi Gelombang representatif
Hsm = Tinggi Gelombang dengan nilai
tertentu
NT = Jumlah kejadian gelombang
selama pencatatan
K = Parameter bentuk untuk Weibul
4. Kolom 4, nilai Ym dihitung menggunakan persamaan :
1
𝑌𝑚 = [−𝑙𝑛{1 − 𝐹(𝐻𝑠 ≤ 𝐻𝑠𝑚)}] ⁄𝑘 (2. 6)
5. Kolom 5, kolom 2 dikalikan dengan kolom 4,
Hsm * Ym
6. Kolom 6, kolom 4 dikuadratkan, ym2. Kolom 5 dan 6 ini
digunakan untuk analisis regresi linier guna menghitung
parameter A dan B.
𝑛 ∑ 𝐻𝑠𝑚 𝑦𝑚−∑ 𝐻𝑠𝑚 ∑ 𝑌𝑚
𝐴 = 𝑛 ∑ 𝑌𝑚2 −(∑ 𝑌𝑚)2
(2. 7)
𝐵 = Ĥ𝑠𝑚 − 𝐴Ŷ𝑚 (2. 8)
22
Dengan :
Ĥsm = Rata-rata tinggi gelombang dengan nilai
tertentu
Ŷ𝑚 = Rata-rata ym
7. Kolom 7, digunakan untuk menghitung deviasi standard
gelombang signifikan (σHs).
8. Kolom 8, perkiraan tinggi gelombang yang dihitung dengan
persamaan regresi linier yang dihasilkan oleh,
Hsm = [Link] + B (2. 9)
9. Kolom 9, kolom 2 dikurangi kolom 8. Setelah itu dapat
dihitung besarnya deviasi standard gelombang signifikan
1⁄
1 2
𝜎𝐻𝑠 = [ ∑𝑁(𝐻𝑠𝑚 − 𝐻𝑚𝑠𝑚)2 ] (2. 10)
𝑁−1 1
Tabel 2. 6 Tinggi Gelombang Berdasarkan Periode Ulang dengan
Metode Weibul
Periode ulang yr Hsr Hs-1.28σr Hs+1.28σr
σnr σr
(Tahun) (Tahun) (m) (m) (m)
Langkah-langkah perhitungan Tabel 2. 6
1. Kolom 1, urutan periode ulang yang akan dihitung
2. Kolom 2, menghitung fungsi distribusi probabilitas tiap
periode ulang.
1⁄
𝑌𝑟 = [𝑙𝑛(𝐿 ∙ 𝑇𝑟 )] 𝑘 (2. 11)
𝑁𝑇
𝐿 = 𝐾
(2. 12)
23
Dengan:
Tr = Periode ulang
K = Panjang data
L = Rerata jumlah kejadian per tahun
3. Kolom 3, perhitungan tinggi gelombang signifikan untuk
tiap periode ulang.
Hsr = [Link] + B (2. 13)
4. Kolom 4
1 1⁄
σnr = ⌊1 + α(yr − c + ε ∙ lnv)2 ⌋ 2 (2. 14)
√N
Dengan σnr adalah Standar deviasi yang dinormalkan dari
tinggi gelombang signifikan dengan periode ulang (Tr)
5. Kolom 5
σr = σnr x σHs (2. 15)
Dengan σr adalah Kesalahan standard dari tinggi gelombang
signifikan dengan periode ulang (Tr). Pada perhitungan ini
digunakan interval keyakinan sebesar 80%.
6. Kolom 6, kolom 3 dikurangi dengan 1.28 dikali kolom 5.
Hsr – 1.28x σr
7. Kolom 7, kolom 3 ditambah dengan 1.28 dikali kolom 5.
Hsr + 1.28x σr
2.2.5 Tanah
Dalam Perencanaan pelabuhan, survey data tanah digunakan
untuk mengetahui kondisi tanah yang akan gunakan untuk peren-
canaan struktur bawah breakwater dan perencanaan reklamasi.
Data tanah ini dapat diperoleh dengan melakukan pengeboran de-
ngan mesin bor di beberapa titik yang ditinjau. Selain itu dilakukan
24
uji SPT, dimana dalam uji SPT ini didapatkan nilai N-SPT untuk
mengetahui kedalaman tanah keras serta sifat daya dukung setiap
kedalaman.
Apabila data tanah yang didapatkan hanya terdapat data
SPT, maka perlu dilakukan korelasi nilai SPT untuk mendapat
parameter tanah yang lain. Untuk mendapatkan korelasi N-SPT
dengan sudut geser dalam dan kepadatan tanah pasir dapat dilihat
pada Tabel 2. 7.
Tabel 2. 7 Korelasi Nilai SPT
Sumber: Perencanaan Pondasi Dalam
2.3 Evaluasi Layout Perairan
2.3.1 Alur Masuk
Alur masuk (entrance channel) berawal dari mulut
pelabuhan hingga kapal mulai berputar. Parameter yang harus
diketahui mencakup panjang alur masuk, lebar dan kedalaman alur
masuk. Perumusan kebutuhan panjang alur masuk dapat dilihat
pada Tabel 2. 8.
Tabel 2. 8 Kebutuhan ukuran alur masuk
25
Sumber : Technical Standart and Commentaries for Port and Harbour
Facilities in Japan, 2002
Selain dari tabel diatas, untuk lebar alur masuk standar dapat
ditentukan melalui ketentuan yang ada dalam Keputusan Menteri
Perhubungan Nomor KM 54 Tahun 2002 dibawah ini :
A = WXL
W = 9B + 30 Meter
A = Luas Areal Alur
W = Lebar Alur
L = Panjang Alur Pemanduan dan Penundaan di
Dalam DLKR
B = Lebar Kapal Maksimum
Untuk kedalaman alur masuk dapat ditentukan berdasarkan
Tabel 2. 9.
26
Tabel 2. 9 Kedalaman Perairan
Sumber : Technical Standards for Port and Harbour Facilities in Japan,
2002
Untuk panjang alur masuk dapat ditentukan berdasarkan
Tabel 2. 10.
Tabel 2. 10 Panjang Alur Masuk
Sumber : Technical Standards for Port and Harbour Facilities in Japan,
2002
2.3.2 Kolam Putar
Kolam putar (turning basin), berada di ujung alur masuk
atau dapat diletakkan di sepanjang alur bila alurnya panjang (>Sd).
Kapal diharapkan bermanuver pada kecepatan rendah (mendekati
nol) atau dipandu. Areal yang disediakan dibatasi dengan bentuk
lingkaran berdiameter (Db). Kedalaman perairan dapat disamakan
dengan alur masuk.
Db = 3 LOA (kapal bermanuver tanpa dipandu)
Db = 2 LOA (kapal bermanuver dengan dipandu)
27
Dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 54
Tahun 2002 diatur ketentuan untuk turning basin adalah sebagai
berikut :
Luas Areal Pindah Labuh Kapal Jumlah Lokasi x π x D/4
D > 3L
D : Diameter Areal Kolam Putar
L : Panjang Kapal Maksimum
Untuk kebutuhan kedalaman Turning Basin, sebagai
berikut:
D = 1.1 x Draft
2.4 Perencanaan Reklamasi
Reklamasi menurut definisinya adalah pekerjaan penim-
bunan tanah dengan skala volume dan luasan yang sangat besar,
pada suatu kawasan dan lahan yang relatif masih kosong dan
berair, misalnya di kawasan pantai, daerah rawa-rawa, suatu lokasi
di laut, di tengah sungai yang lebar, ataupun di daratan.
2.4.1 Material Reklamasi
Pada umumnya material reklamasi menggunakan tanah
disekitar area reklamasi, baik yang di daratan maupun yang diambil
dari dasar laut. Dengan persyaratan material timbunan tidak boleh
berupa pasir halus berbutir homogen 100% atau material yang
memili kandungan lempung ≥20%. Timbunan reklamasi di dalam
laut dengan material pasir halus berbutir homogen 100% akan
mengalami liquefaction saat terjadi gempa seismik. Liquefaction
adalah naiknya harga tegangan pori (u) hingga sama dengan nilai
tegangan overburden (σo), sehingga mengakibatkan tegangan
efektifnya (σ’) sama dengan nol. Untuk timbunan reklamasi di
dalam laut dengan material dengan kandungan lempung ≥20%,
akan mengakibatkan instabilitas didalam timbunan reklamasi
tesebut akibat dari kembang susut yang besar, settlement yang
28
besar, partikel tanah mudah bergerak, dll). Apabila kondisi-kondisi
diatas terjadi pada timbunan reklamasi, maka tanah timbunan
reklamasi akan runtuh atau rupture.
Persyaratan teknis yang biasa digunakan dalam meren-
canakan sebuah timbunan reklamasi menurut Wahyudi (1997)
adalah sebagai berikut:
Berupa tanah pasir bercampur kerikil dan sedikit lanau.
Bersih dan bebas dari bahan organis dan kotoran.
Mempunyai diameter maksimum butiran = 20 cm.
Memiliki persentase material berdimensi halus ( lebih kecil
dari 0.08 mm) adalah kurang dari 20%.
Mempunyai Relative Density (Dr) minimum sebesar 80%
untuk zona diatas permukaan air pasang dan minimum 60%
untuk zona dibawah muka air pasang.
Memiliki permeabilitas (k) minimum = 1x10-5 m/s.
2.4.2 Settlement
Adalah penurunan atau deformasi yang terjadi akibat
pembebanan di permukaan tanah. Besarnya penurunan tanah total
dapat dihitung sesuai dengan rumus berikut.
St = Si + SCP + SCS + Slat (2. 16)
Dengan:
St = penurunan total
Si = immediate settlement
SCP = consolidation primary settlement
SCs = consolidation secondary settlement
Slat = penurunan akibat pergerakan tanah lateral
Penurunan tanah akibat reklamasi pada umumnya meng-
abaikan penurunan akibat secondary settlement (SCs) dan akibat
pergerakan tanah lateral (Slat) (wahyudi, 1997)
29
a. Immediate Settlement (Si)
Menurut Biarez (1973) dalam Wahyudi (1997) disajikan
metode perhitungan besarnya penurunan tanah segera (short term
condition) dari suatu lapisan tanah ditentukan dengan persamaan:
h
si = qΣ E′i (2. 17)
i
Dimana:
q = tegangan yang bekerja pada permukaan tanah
hi = tebal lapisan tanah ke-i
E’ i = modulus oedometrik pada lapisan ke-i.
b. Consolidation Primary Settlement (SCP)
Besar penurunan akibat primary consolidation tergantung
dari sejarah tanahnya, apakah tergolong normally consolidated
(NC) atau overconsolidated (OC).
Apabila tergolong kondisi normally consolidated,
menggunakan perhitungan sebagai berikut.
Cc H ∆σ
Scp = log (1 + ) (2. 18)
1+eo σ′o
Sedangkan untuk overconsolidated menggunakan
perhitungan sebagai berikut.
Untuk σ’o +Δσ ≤ σ’c
𝑠𝐶 𝐻 ∆𝜎
𝑆𝑐𝑝 = 1+𝑒 log (1 + 𝜎′ ) (2. 19)
𝑜 𝑜
Dan untuk σ’o +Δσ > σ’c
𝑠𝐶 𝐻 𝜎′ 𝐶 𝐻 𝜎′𝑜 +∆𝜎
𝑆𝑐𝑝 = 1+𝑒 log (1+𝑒𝑐 ) + 1+𝑒
𝑐
log ( 𝜎′𝑐
) (2. 20)
𝑜 𝑜 𝑜
30
Dengan
H = tebal lapisan lempung
eo = angka pori awal
Cc = compression index
Cs = swelling index
Δσ = besar tegangan di permukaan tanah (surcharge)
σ’o = tegangan overburden
σ’c = tegangan prakonsolidasi
Surcharge yang dimaksud adalah besarnya beban yang be-
kerja diatas permukaan tanah asli dalam satuan tegangan. Diagram
tegangan tanah akibat surcharge dapat dilihat pada Gambar 2. 4.
Besar tegangan surcharge dapat dihitung menggunakan persamaan
berikut.
𝑞 𝐵1 +𝐵2 𝐵
∆𝜎 ′ = 𝑥 [( ) 𝑥 (𝛼1 + 𝛼2 ) − ( 1 𝑥 𝛼2 )] (2. 21)
𝜋 𝐵2 𝐵2
Dimana:
q = beban timbunan (t/m2)
B1 = ½ lebar timbunan (m)
B2 = panjang proyeksi horizontal kemiringan
timbunan (m)
𝐵1 +𝐵2 𝐵
α1 = tan−1 ( ) − tan−1 ( 1 ) (radian)
𝐵2 𝑧
−1 𝐵1
α2 = tan ( 𝑧 ) (radian)
nilai Δσ’ yang didapatkan akibat dari ½ timbunan, maka
untuk mendapatkan nilai tegangan surcharge akibat timbunan
keseluruhan perlu dikalikan 2.
31
α2
α1
Gambar 2. 4 Diagram Tegangan Tanah Akibat Beban Surcharge
Sumber: Modul Ajar Perbaikan Tanah, 2012
2.4.3 Perencanaan Tinggi Timbunan Awal
Tinggi timbunan pada saat pelaksanaan fisik tidaklah sama
dengan tinggi timbunan rencana. Tinggi timbunan total pada saat
pelaksanaan penimbunan haruslah lebih tinggi lagi, yaitu dengan
memperhatikan adanya penurunan tanah asli (settlement) yang
akan terjadi sebagai akibat adanya timbunan tersebut. Penentuan
tinggi timbunan awal untuk pelaksanaan fisik dapat dhitung
menggunakan persamaan berikut.
𝑞+[(𝑆𝑡𝑜𝑡 +𝐻𝑤 )(𝛾𝑡𝑖𝑚𝑏 −𝛾′𝑡𝑖𝑚𝑏 )]
𝐻𝑖𝑛𝑖𝑡𝑖𝑎𝑙 = 𝛾𝑡𝑖𝑚𝑏
(2. 22)
32
2.4.4 Waktu Konsolidasi
Lama Konsolidasi Menurut Terzaghi dalam Das (1990),
lamanya waktu konsolidasi dapat ditentukan dengan menggunakan
persamaan:
Tv(Hdr)2
t= Cv
(2. 23)
Dimana:
t = lama konsolidasi
Tv = faktor waktu
Hdr = panjang aliran air tanah yang dialirkan
Cv = koefisien konsolidasi vertical
a. Faktor Waktu (Tv)
Faktor waktu Tv adalah merupakan fungsi langsung dari
derajat konsolidasi ( U % ) danbentuk dari distribusi tegangan pori
( u ) di dalam tanah ( aliran satu arah atau dua arah ). Harga faktor
waktu dan derajat konsolidasi dapat dinyatakan dengan satu hu-
bungan yang sederhana.
Untuk U = 0 sampai dengan 60 %,
𝜋 𝑈% 2
𝑇𝑣 = 4
𝑥 ( 100
) (2. 24)
b. Koefisien Konsolidasi Vertikal (Cv)
Koefisien konsolidasi vertical Cv, diperoleh dari grafik ko-
relasi antara besarnya penurunan tanah dengan waktu ( t ), ber-
dasarkan hasil konsolidasi Oedometric test.
𝐻
0.197 ( )2
2
𝐶𝑣 = 𝑡50
(2. 25)
2.4.5
Tegangan akan mengalami perubahan akibat adanya
penahapan timbunan. Setiap tahap timbunan akan mendis-
tribusikan tegangan yang berbeda-beda ke tanah dasar. Per-
33
hitungan distribusi tegangan per tahap (Δσn’) ketika derajat
konsolidasi (U) = 100% menggunakan persamaan. Perubahan
tegangan (σn’) dapat dihitung dengan menambahkan distribusi
tegangan per tahap (Δσn’) pada tegangan sebelumnya seperti pada
persamaan berikut.
𝜎𝑛′ = ∑0𝑛 𝜎0 + ∆𝜎1 + ⋯ + ∆𝜎𝑛 (2. 26)
Untuk peninjauan penambahan tegangan yang berubah
berdasarkan derajat konsolidasi tahapan timbunan (Ui) masing-
masing dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.
𝜎𝑛 ′ 𝑈𝑖
∆𝜎𝑛𝑈𝑖 = [(𝜎 ′
) 𝑥 𝜎𝑛−1 ] − 𝜎𝑛−1 (2. 27)
𝑛−1
Daya dukung tanah dasar dapat meningkat akibat dari
penambahan beban timbunan yang diletakkan secara bertahap.
Peningkatan daya dukung tanah akibat pemampatan dapat dihitung
dengan persamaan menurut Ardana dan Mochtar sebagai berikut.
Untuk PI < 120%
𝐶𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑢 = 0.0737 + (0.1899 − 0.0016 𝑃𝐼) 𝑥 𝜎′ (2. 28)
Untuk PI ≥ 120%
𝐶𝑢 𝑏𝑎𝑟𝑢 = 0.0737 + (0.0454 − 0.00004 𝑃𝐼) 𝑥 𝜎′ (2. 29)
2.4.6 Stabilitas Reklamasi
a. Stabilitas Terhadap Sliding
Kontrol sliding pada timbunan reklamasi perlu dilakukan
untuk mengetahui apakah timbunan reklamasi yang direncanakan
tersebut sudah aman terhadap kemungkinan bahaya longsor
34
rotasional (sliding). Pada saat ini banyak dipakai program
komputer untuk perhitungan stabilitas lereng terhadap sliding.
Gambar 2. 5 Sliding Rotasional pada Timbunan
Sumber: Teknik Reklamasi, 1997
b. Stabilitas Terhadap Puncture Failure
Kontrol stabilitas terhadap puncture failure ini berfungsi
untuk mengetahui kondisi tanah di bawah timbunan akan ambles
atau tidak bila diberi beban timbunan tersebut. Prinsipnya dapat
dianalogikan dengan perhitungan daya dukung pondasi dangkal di
kondisi short term. Sehingga didapatkan nilai safety factor (SF)
menggunakan persamaan berikut.
𝑘𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑎ℎ𝑎𝑛
𝑆𝐹 = 𝑘𝑒𝑘𝑢𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑔𝑒𝑟𝑎𝑘
35
Gambar 2. 6 Punture Failure Pada Timbunan
Sumber: Teknik Reklamasi, 1997
Apabila timbunan reklamasi memiliki lebar yang relatif
sangat besar bila dibangdingkan dengan tebal lapisan compressible
soil maka menggunakan persamaan berikut.
𝐶𝑢 𝑥 𝑁𝑐
𝑆𝐹 = (2. 30)
𝛾 𝑥 𝐻𝑡𝑖𝑚𝑏
Koefisien Nc bergantung pada B/H sesuai dengan grafik
pada Gambar 2. 7. Nilai SF yang disyaratkan adalah lebih besar
dari 1.2. Bila timbunan terendam air, maka γ= γ’.
2.5 Perencanaan Breakwater
2.5.1 Refraksi Gelombang
Kecepatan rambat gelombang tergantung pada kedalaman
air dimana gelombang menjalar. Apabila cepat rambat gelombang
berkurang dengan kedalaman, panjang gelombang juga berkurang
secara linier. Variasi cepat rambat gelombang terjadi di sepanjang
garis puncak gelombang yang bergerak dengan membentuk suatu
sudut terhadap garis kedalaman laut, karena bagian dari gelombang
di laut dalam bergerak lebih cepat daripada bagian di laut yang
lebih dangkal. Variasi tersebut menyebabkan puncak gelombang
36
membelok dan berusaha untuk sejajar dengan garis kontur dasar
laut.
Gambar 2. 7 Koefisien Daya Dukung (Nc) vs B/H
Sumber: Teknik Reklamasi, 1997
Refraksi dan pendangkalan gelombang (wave shoaling)
akan dapat menentukan tinggi gelombang di suatu tempat berda-
sarkan karekteristik gelombang datang (Gambar 2. 8). Refraksi
mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap tinggi dan arah
gelombang serta distribusi energi gelombang di sepanjang pantai.
Perubahan arah gelombang karena refraksi tersebut meng-
hasilkan konvergensi (pengucupan) atau divergensi (penyebaran)
energi gelombang (Gambar 2. 9) dan mempengaruhi energi gelom-
bang yang terjadi di suatu tempat di daerah pantai.
Anggapan-anggapan yang digunakan dalam studi refraksi
adalah sebagai berikut ini.
a. Energi gelombang antara dua ortogonal adalah konstan.
37
b. Arah penjalaran gelombang tegak lurus pada puncak
gelombang, yaitu dalam arah ortogonal gelombang.
c. Cepat rambat gelombang yang mempunyai periode tertentu
di suatu tempat hanya tergantung pada kedalaman di tempat
tersebut.
d. Perubahan topografi dasar adalah berangsur-angsur.
e. Gelombang mempunyai puncak yang panjang, periode
konstan, amplitudo kecil dan monokhromatik.
f. Pengaruh arus, angin dan refleksi dari pantai dan perubahan
topografi dasar laut diabaikan.
Gambar 2. 8 Refraksi Gelombang Pada Kontur Lurus Dan Sejajar
Sumber: Shore Protection Manual, 1984
Apabila ditinjau gelombang di laut dalam dan di suatu titik
yang ditinjau, maka :
𝐶
sin 𝛼 = ( ) sin 𝛼0 (2. 31)
𝐶0
dimana :
o = sudut antara puncak gelombang dengan kontur dasar
α = sudut yang sama diukur saat garis puncak gelombang
melintasi kontur dasar
38
Co = kecepatan gelombang pada kontur pertama
C = kecepatan gelombang pada kontur kedua
Gambar 2. 9 Konvergensi dan Divergensi Energi Gelombang
Sumber : Shore Protection Manual, 1984
Seperti terlihat dalam gambar 2.4, jarak antara ortogonal di
laut dalam dan disuatu titik adalah bo dan b. Apabila kontur dasar
laut adalah lurus dan sejajar maka jarak x di titik 0 dan di titik
berikutnya adalah sama sehingga :
𝑏 𝑏
𝑥 = cos0𝛼 = cos 𝛼
0
maka koefisien refraksi (Kr) adalah :
𝑏0 cos 𝛼0
𝐾𝑟 = √ =√ (2. 32)
𝑏 cos 𝛼
2.5.2 Difraksi Gelombang
Apabila gelombang datang terhalang oleh suatu rintangan
seperti pemecah gelombang atau pulau, maka gelombang tersebut
akam membelok di sekitar ujung rintangan dan masuk di daerah
terlindung di belakangya. Difraksi terjadi ketika terdapat
perbedaan energi gelombang yang tajam di sepanjang puncak
gelombang. Pada awalnya kondisi di daerah yang terlindung
39
penghalang cukup tenang (tidak terdapat gelombang), saat
gelombang melintasi penghalang. Perairan yang jauh dari
penghalang akan memiliki energi lebih banyak (energi gelombang
awal) dibandingkan perairan di belakang penghalang yang semula
tenang (tidak ada energi karena tidak ada gelombang), terjadilah
proses pemindahan energi di panjang puncak gelombang tersebut
ke arah daerah yang terlindung bangunan pantai.
Transfer energi ke daerah terlindung menyebabkan
terbentuknya gelombang di daerah tersebut, meskipun tidak
sebesar gelombang di luar daerah terlindung. Garis puncak
gelombang di belakang rintangan membelok dan mempunyai
bentuk busur lingkaran dengan pusatnya pada ujung rintangan.
Dianggap bahwa kedalaman air adalah konstan. Apabila tidak
maka selain difraksi juga terjadi refraksi gelombang. Biasanya
tinggi gelombang berkurang di sepanjang puncak gelombang
menuju daerah terlindung.
Persamaan tinggi gelombang akibat pengaruh difraksi
gelombang dapat dilihat dalam persamaan HA = K ′ ∙ HP (2. 33)
yang merupakan penyelesaian matematis untuk difraksi cahaya. K'
merupakan koefisien difraksi yang merupakan perbandingan
antara tinggi gelombang di titik yang terletak di daerah terlindung
dan tinggi gelombang datang. Nilai K’ untuk θ, β, r/L dapat dicari
melalui diagram difraksi yang dikembangkan oleh Wiegel, 1962
dengan berbagai macam sudut antara puncak gelombang terhadap
pemecah gelombang yang terdapat di shore protection manual.
HA = K ′ ∙ HP (2. 33)
Dengan :
HA = Tinggi gelombang yang ditinjau (m)
HP = Tinggi gelombang di ujung rintangan (m)
K' = Koefisien difraksi
40
Gambar 2. 10 Difraksi Gelombang di Belakang Rintangan
Sumber : Shore Protection Manual, 1984
2.5.1 Layout Breakwater
Perencanaan layout ini untuk merencanakan layout terhadap
besar dan arah gelombang datang sehingga didapatkan arah pintu,
lebar pintu dan alur pelayarannya. Sehingga layout yang sudah di-
rencanakan dapat melayani kapal secara aman dan nyaman di areal
pelabuhan.
Bentuk Layout breakwater dapat ditentukan dari beberapa
faktor :
a. Tinggi, arah, dan frekuensi dari gelombang yang datang,
serta kondisi lingkungan alam lainnya, direkomendasikan
agar posisi mulut berada pada arah datang gelombang tinggi
dengan frekuensi terendah.
b. Lebar dan posisi mulut serta efek defraksi yang terjadi,
direkomendasikan lebar mulut sesuai kebutuhan lebar alur
tanpa ada penambahan sebab besaran faktor defraksi ber-
gantung pada lebar mulut ini.
41
c. Rencana elevasi puncak dari struktur breakwater, apakah
submerged (terendam), overtopping (lidah gelombang
melampaui puncak breakwater); non-overtopping (lidah ge-
lombang tidak melampaui puncak breakwater). Penentuan
elevasi yang dipilih bergantung biaya yang tersedia, kesi-
bukan lalu lintas dan kegiatan di pelabuhan, dan fungsi dari
breakwater, serta gaya gelombang atau gaya alam yang ter-
jadi. Untuk fungsi sebagai penangkis gelombang, umumnya
digunakan overtopping karena relatif murah, dan tidak ter-
lalu tinggi.
d. Arah dan kecepatan arus, hal ini akan menentukan panjang
kaki breakwater.
e. Biaya pembangunan dan biaya perawatannya perlu dipilih
yang paling murah.
2.5.2 Dimensi Breakwater
a. Elevasi puncak
Elevasi puncak breakwater dihitung berdasarkan kenaikan
(run-up) gelombang yang tergantung pada karakteristik gelom-
bang dan beda pasang surut di masing-masing lokasi. Elevasi
puncak breakwater dapat dihitung dengan rumus :
El. Permukaan = Beda Pasang surut + Run up atau
transmisi gelombang + settlement (2. 34)
Pada umumnya breakwater yang diterapkan berupa struktur
overtopping, agar ekonomis meskipun akan terlimpas air pada
bagian permukaan breakwater. Dan hal ini dapat diterapkan bila di
sisi pelabuhan tidak terdapat struktur yang membutuhkan
perlindungan. Untuk itu tinggi struktur dapat ditetapkan dengan
memperhatikan besaran transmisi gelombang yang terjadi dimana
tinggi gelombang yang diharapkan akan terjadi di sisi pelabuhan
42
maksimum 80 cm. Elevasi permukaan terhadap muka air tertinggi
HWS, Zc :
Zc > ¾ Hi untuk gelombang minor
Zc = 0 Bila Ht = 0,5 Hi
Zc > -1/2 Hi Bila Ht= 3/4 Hi
Perhitungan Zc tersebut perlu ditambah dengan alokasi
untuk settlement tanah. Berdasar perhitungan elevasi dan kese-
luruhan penampang selanjutnya perlu dihaluskan dengan menye-
suaikan terhadap posisi breakwater pada berbagai posisi keda-
laman perairan.
b. Lebar Breakwater
Lebar puncak juga tergantung pada limpasan yang diijinkan.
Selain itu, lebar puncak juga harus cukup lebar untuk keperluan
operasi peralatan pada waktu pelaksanaan dan perbaikan. Lebar
pun-cak breakwater dapat dihitung dengan rumus berikut :
𝑊 1/3
𝐵 = 𝑛 𝑘Δ (𝛾𝑟) (2. 35)
Dengan :
B: lebar puncak
n : jumlah armour unit tiap lapisan
kΔ : koefisien lapis
W : berat butir armour unit
γr : berat jenis armour unit
c. Berat Unit Lapisan Breakwater
Berat unit Armour dapat dihitung dengan rumus berikut :
γr H3
W= kD (Sr−1)3 cotθ
(2. 36)
43
Dimana
𝛾𝑟
𝑆𝑟 =
𝛾𝑎
Dengan :
W : berat butir pelindung
γr : berat jenis armour
γa : berat jenis air laut
H : tinggi gelombang rencana
⊖ : sudut kemiringan sisi breakwater
KD : koefisien stabilitas
d. Jumlah Unit pada Lapisan Breakwater
Tebal lapis pelindung dari sebuah breakwater dapat dihitung
dengan menggunakan rumus berikut ini :
𝑊 1/3
𝑡 = 𝑛 𝑘Δ (𝛾𝑟) (2. 37)
Sedangkan jumlah armour unit yang dibutuhkan dalam
perencanaan ini dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
𝑝 𝛾𝑡 2/3
𝑁 = 𝐴 𝑛 𝑘Δ (1 − )( ) (2. 38)
100 𝑊
Dengan :
t : tebal lapis pelindung
n : jumlah unit armour dalam lapis pelindung
kΔ : koefisien lapis
A : luas permukaan
P : porositas rerata lapis pelindung
N : jumlah armour unit untuk satuan luas permukaan A
γt : berat jenis armour
44
2.5.3 Stabilitas Breakwater
Stabilitas breakwater pada tipe rubble mound ini harus
ditinjau berdasarkan sliding rotasional, settlement, serta puncture
failure. Perhitungan stabilitas pada breakwater sama dengan
perhitungan stabilitas pada reklamasi. Untuk perhitungan stabilitas
terhadap sliding dan punture failure dapt dilihat pada sub-bab 2.4.6.
sedangkan untuk settlement yang terjadi dapat dilihat pada sub-bab
2.4.2.
BAB III
PENGUMPULAN DAN ANALISA DATA
3.1 Umum
Perencanaan reklamasi dan breakwater ini berada di
pantai utara jawa tepatnya berada di Desa Tunggul,
Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Propinsi
Jawa Timur. Sebelum dilakukan perencanaan reklamasi
serta evaluasi layout dan perencanaan detail struktur
breakwater maka perlu adanya pengumpulan serta
analisa data. Data-data yang dianalisa merupakan data
sekunder.
3.2 Data Bathymetri
Peta Bathymetri merupakan peta yang menunjukkan
kontur permukaan dasar laut dari posisi 0.00 mLWS.
Dalam tugas akhir ini menggunakan hasil survey
bathymetri yang dilakukan oleh tim dari LPPM ITS
menggunakan peralatan echo sounder. Peta
bathymmetri dapat dilihat pada Gambar 3. 1 dan
potongan melintang dari peta bathymetri tersebut dapat
dilihat pada Gambar 3. 2.
Dari data yang didapat terlihat bahwa kondisi
kedalaman pada sekitar wilayah pantai utara Jawa di
Paciran, Kabupaten Lamongan memiliki kemiringan
dasar laut yang bervariasi untuk setiap kedalamannya.
Kemiringan rata-rata dasar laut untuk setiap keda-
lamannya adalah 1:30, sehingga kondisi dasar laut dapat
dikategorikan cukup curam. Untuk kebutuhan kapal,
diperlukan kedalaman minimal -5 m dengan jarak rata-
rata 1.1 km dari garis pantai untuk alur masuk /
entrance channel. Kebutuhan kedalaman untuk alur
masuk akan semakin jauh apabila kearah timur. Titik
benchmark yang digunakan pada koordinat
651201.8017 E, 9240564.2122 N, serta pada elevasi
+3.63 mLWS.
45
46
3.3 Data Arus
Data arus yang digunakan dalam tugas akhir kali ini
adalah data yang di peroleh dari tim LPPM ITS.
Kecepatan rata-rata arus pada wilayah perairan 0.1083
m/dt, kecepatan arus maksimum yang dijinkan adalah 3
knot atau 1.5 m/det berdasarkan Thoressen Handbook
Standard. Pergerakan arah arus cenderung bolak-balik,
dimana pada saat pasang arah arus cenderung dari arah
Timur ke arah barat. Sedangkan saat surut cenderung
dari arah barat ke timur. Pengaruh arus tidak signifikan.
3.4 Data Pasang Surut
Data pasang surut yang digunakan merupakan hasil
survey yang dilakukan oleh tim dari LPPM ITS. Lokasi
pengamatan secara detail berada di Desa Tunggul,
Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Propinsi
Jawa Timur, data pasang surut yang diperoleh selama
15 (lima belas) hari dari tanggal 22 Juni 2016 sampai
dengan 6 Juli 2016, dengan Interval waktu pengamatan
setiap 30 menit. Hasil pengukuran dapat dilihat pada
Gambar 3. 3.
Dari grafik tersebut, dilakukan analisa oleh tim
LPPM ITS menggunakan metoda Harmonic British
Admiralty dengan menghitung konstanta harmonis
pasang surut dan didapatkan 9 konstanta harmonik
sebagaimana pada Tabel 3. 1.
47
Gambar 3. 1 Peta Bathymetri Perairan Paciran
Sumber: LPPM ITS, 2016
Gambar 3. 2 Potongan Melintang bathymetri Perairan Paciran
48
49
Gambar 3. 3 Grafik Pasang Surut
Sumber: LPPM ITS, 2016
Tabel 3. 1 Konstanta Harmonik
S0 M2 S2 N2 K1 O1 M4 MS4 K2 P1
A (cm)
119 9 2 1 45 9 2 1 0 15
go 0 245 305 214 1 22 35 175 305 1
Sumber: LPPM ITS, 2016
Dari analisa yang dilakukan oleh Tim LPPM ITS, dida-
patkan hasil analisa sebagai berikut:
- Type pasang surut bersifat harian tunggal (Diurnal Tide)
- Beda pasang surut 1.3 m diatas mLWS
- Elevasi HWS (High Water Spring) pada +0.7 mLWS
- Elevasi LWS (Low Water Spring) pada -0.6 mLWS
3.5 Data Angin
Data angin yang diasumsikan mewakili daerah Paciran
yaitu Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
(BMKG) Stasiun Pengamatan A. Yani, Semarang yang di-
kumpulkan dari tahun 2013 hingga 2017 (5 tahun). Pe-
nyajian data angin pada penulisan laporan tugas akhir ini
50
dalam bentuk tabel frekuensi kejadian Tabel 3. 2), wind rose
(Gambar 3. 4) untuk memberikan arah angin dominan, serta
kecepatan angin maksimum tahun 2013 s/d 2017 (
Tabel 3. 3).
Tabel 3. 2 Distribusi Fekuensi Data Angin Stasiun A. Yani, Semarang
Tahun 2006-2015
Kecepatan Arah Angin Jumlah
(m/s) U TL T Tg S BD B BL
1.0 - 1.9 0.2% 0.1% 0.3% 0.0% 0.0% 0.1% 0.1% 0.3% 1.0%
2.0 - 2.9 9.6% 2.1% 4.4% 2.7% 0.4% 0.5% 0.7% 6.1% 26.6%
3.0 - 3.9 12.2% 5.4% 8.2% 5.0% 0.6% 1.0% 2.1% 12.1% 46.6%
4.0 - 4.9 1.9% 0.9% 2.0% 1.4% 0.2% 0.7% 0.9% 5.5% 13.4%
5.0 - 5.9 0.2% 0.1% 0.2% 0.1% 0.0% 0.1% 0.1% 1.0% 1.8%
6.0 - 6.9 0.0% 0.1% 0.0% 0.0% 0.0% 0.1% 0.1% 0.1% 0.3%
7.0 - 7.9 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.1% 0.1%
8.0 - 8.9 0.0% 0.0% 0.1% 0.1% 0.1% 0.0% 0.1% 0.0% 0.3%
≥ 9.00 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0% 0.0%
SUB TOTAL 24.1% 8.5% 15.2% 9.3% 1.3% 2.4% 4.1% 25.2% 90.0%
MISSING 10.0% 10.0%
TOTAL 100%
Tabel 3. 3 Kecepatan Angin Maksimum Tahunan Stasiun A. Yani,
Semarang
KEC. ANGIN MAKSIMUM (m/s)
TAHUN
U TL T Tg S BD B BL
2013 4.5 4.0 5.0 4.5 4.0 3.0 6.0 7.5
2014 4.5 4.0 4.5 4.0 3.0 6.0 6.0 4.0
2015 5.0 4.0 5.0 8.0 2.0 1.0 4.5 5.0
2016 4.0 3.5 4.5 5.0 4.0 2.5 4.0 6.0
2017 5.5 6.5 8.5 4.0 3.0 3.5 8.5 5.0
Dari data angin diatas diketahui bahwa angin dominan
yang terjadi pada Stasiun A. Yani, Semarang pada tahun
2013-2017 adalah angin yang berhembus dari barat laut
dengan frekuensi kejadian sebesar 25.2%.
51
Gambar 3. 4 Windrose Data Angin Stasiun Pengamatan A. Yani
semarang
3.6 Peramalan Gelombang
3.6.1 Panjang Fetch
Penentuan besaran Fetch efektif yang merupakan jarak
tak terhalang/bebas di atas permukaan air laut sebagai
daerah pembangkit gelombang yang ditimbulkan oleh angin
pada waktu tertentu dengan arah dan kecepatan yang tidak
berubah. Orientasi pantai Paciran menghadap ke utara, maka
arah angin atau gelombang yang berpengaruh pada
perhitungan fetch adalah barat laut, utara dan timur laut.
Sedangkan untuk arah barat, barat daya, selatan, tenggara
dan timur tidak perlu diperhitungkan karena merupakan
daratan dan bukan merupakan bangkitan gelombang.
Perhitungan panjang fetch disini menggunakan media
bantu citra satelit dari google earth. Dengan ditarik garis
panjang melalui Pantai Utara Tuban, panjang fetch efektif
dengan daerah bangkitan Barat Laut, Utara, dan Timur Laut
dapat dilihat melalui Gambar 3. 5 sampai Gambar 3. 7.
52
Gambar 3. 5 Fetch Arah Barat Laut
Sumber: google earth
Gambar 3. 6 Fetch Arah Utara
Sumber: google earth
53
Gambar 3. 7 Fetch Arah Timur Laut
Sumber: google earth
Untuk mendapatkan fetch efektif dari arah barat laut
dilakukan perhitungan sebagai berikut.
1. Menarik garis lurus dari pantai ke arah angin datang
(Barat Laut) hingga menabrak pulau, mengukur panjang
garis tersebut (Xi). Garis ini menjadi acuan dengan α =
0º. Sehingga di dapatkan,
𝑋9 = 619.00 𝑘𝑚 ; 𝛼 = 0°
2. Menarik garis dari pantai dengan sudut 3º hingga 24º
terhadap acuan dengan interval 3º dari setiap garisnya.
Pengukuran garis tersebut dilakukan pada posisi kanan
dan kiri dari acuan.
𝑋1 = 455.25 𝑘𝑚 ; 𝛼 = 24°
𝑋2 = 461.93 𝑘𝑚 ; 𝛼 = 21°
𝑋3 = 483.22 𝑘𝑚 ; 𝛼 = 18°
3. Mengkalikan setiap panjang garis dengan nilai cos α.
𝑋1 cos 𝛼 = 455.25 𝑘𝑚 x cos 24°
𝑋2 cos 𝛼 = 461.93 𝑘𝑚 x cos 21°
𝑋3 cos 𝛼 = 483.22 𝑘𝑚 x cos 18°
54
Menghitung panjang fetch efektif untuk setiap arah
datangnya angin yang berpengaruh menggunakan rumus
2.4 pada bab 2. Adapun hasil perhitungan panjang fetch
efektif untuk setiap arah datangnya angin yang ber-
pengaruh tersaji pada Tabel 3. 4. Dari tabel tersebut,
maka panjang fetch efektif dari masing-masing arah yang
berpengaruh adalah sebagai berikut:
Arah Barat Laut = 597 km
Arah Utara = 333 km
Arah Timur Laut = 456 km
3.6.2 Tinggi Gelombang pada Laut Dalam Berdasarkan Data
Kecepatan Angin Maksimum Tahun 2013-2017
Metode Sverdrup Munk Bretschneider (SMB) yang telah
dimodifikasi, Shore Protection Manual, 1984 terdapat 2
indikator yang menentukan tinggi dan periode gelombang
laut dalam, yaitu panjang fetch efektif dan kecepatan angin.
Kecepatan angin yang digunakan adalah kecepatan angin
maksimum dengan arah angin yang berpengaruh terhadap
lokasi breakwater yaitu arah barat laut, utara, dan timur laut.
Perhitungan tinggi dan periode gelombang adalah sebagai
berikut.
55
Tabel 3. 4 Perhitungan Fetch Efektif
Xi Xi cos α
No α cos α
timur laut utara barat Laut timur laut utara barat Laut
1 24 0.914 122 461.93 455.25 111.45 421.99 415.89
2 21 0.934 415.05 455.25 461.93 387.48 425.01 431.25
3 18 0.951 435.94 449.24 483.22 414.60 427.25 459.57
4 15 0.966 436.69 452.97 500.39 421.81 437.54 483.34
5 12 0.978 438.32 438.64 685.75 428.74 429.05 670.76
6 9 0.988 417.32 367.72 941.12 412.18 363.19 929.53
7 6 0.995 400.38 380.58 619.51 398.19 378.50 616.12
8 3 0.999 398.36 392.54 629.83 397.81 392.00 628.97
9 0 1.000 468.91 392.54 619.00 468.91 392.54 619.00
10 3 0.999 537.30 378.42 583.45 536.56 377.90 582.65
11 6 0.995 316.99 392.54 629.83 315.25 390.39 626.38
12 9 0.988 279.56 410.33 735.29 276.12 405.28 726.24
13 12 0.978 268.84 113.13 758.12 262.97 110.66 741.55
14 15 0.966 420.56 114.09 768.78 406.23 110.20 742.58
15 18 0.951 799.47 114.39 233.62 760.34 108.79 222.19
16 21 0.934 837.58 122.00 257.87 781.95 113.90 240.74
17 24 0.914 533.84 415.05 747.03 487.69 379.17 682.45
total 14.619 6669.15 4862.20 8720.87
fetch efektif (km) 456.19 332.59 596.54
fetch efektif (km) 456 333 597
56
Tinggi gelombang laut dalam arah timur laut
Kec. Maks 2013, U5 = 8.0 knots
= 4.0 m/s
Kec. Pada +10 mLWS = Uz x (10/Z)1/7
= 4.0 m/s x (10/5)1/7
= 4.4 m/s
Kor. Temperatur, RT = 1.10
Kor. Lokasi, RL = 1.50
U = 4.4 m/s x 1.1 x 1.5
= 7.3 m/s
Ua = 0.71 x U1.23
= 0.71 X 7.31.23
= 8.1 m/s
Fetch efektif > fetch maks
597 km > 200 km, menggunakan analisa fully
developed.
𝐻0 = 2,482 × 20−2 ∙ 𝑈𝐴 2
𝐻0 = 2,482 × 20−2 ∙ 8.1 2
𝐻0 = 1.6 m
𝑇 = 8,308 × 10−1 ∙ 𝑈𝐴
𝑇 = 8,308 × 10−1 ∙ 8.1 𝑚/𝑠
𝑇 =7s
Pada Tabel 3. 5 tersaji hasil perhitungan tinggi gelom-
bang dan periode gelombang pada laut dalam setiap tahun-
nya dengan arah datangnya angin yang berpengaruh
terhadap breakwater.
Tabel 3. 5 Analisa Tinggi Gelombang dengan Menggunakan Metode SBM
fetch kec. Max U10 faktor koreksi U Ua Ho To
tahun arah keterangan
km knots m/s m/s RT RL (m/s) (m/s) (m) (S)
timur laut 456 8.0 4.0 fully develop 4.4 1.1 1.50 7.3 8.1 1.6 7
2013 utara 333 9.0 4.5 fully develop 5 1.1 1.48 8.1 9.4 2.2 8
barat laut 597 14.0 7.0 fully develop 7.7 1.1 1.25 10.6 12.9 4.2 11
timur laut 456 8.0 4.0 fully develop 4.4 1.1 1.50 7.3 8.1 1.6 7
2014 utara 333 9.0 4.5 fully develop 5 1.1 1.48 8.1 9.4 2.2 8
barat laut 597 8.0 4.0 fully develop 4.4 1.1 1.50 7.3 8.1 1.6 7
timur laut 456 8.0 4.0 fully develop 4.4 1.1 1.50 7.3 8.1 1.6 7
2015 utara 333 10.0 5.0 fully develop 5.5 1.1 1.40 8.5 9.8 2.4 8
barat laut 597 10.0 5.0 fully develop 5.5 1.1 1.40 8.5 9.8 2.4 8
timur laut 456 7.0 3.5 fully develop 3.9 1.1 1.85 7.9 9.1 2.0 8
2016 utara 333 8.0 4.0 fully develop 4.4 1.1 1.50 7.3 8.1 1.6 7
barat laut 597 12.0 6.0 fully develop 6.6 1.1 1.30 9.4 11.2 3.1 9
timur laut 456 13.0 6.5 fully develop 7.2 1.1 1.35 10.7 13.1 4.3 11
2017 utara 333 11.0 5.5 fully develop 6.1 1.1 1.28 8.6 10.0 2.5 8
barat laut 597 10.0 5.0 fully develop 5.5 1.1 1.40 8.5 9.8 2.4 8
57
58
Setelah tinggi gelombang maksimum selama 5 tahun
didapatkan, maka selanjutnya dilakukan perhitungan
refraksi gelombang hingga kedalaman -8 mLWS.
3.6.4 Refraksi Gelombang
Refraksi terjadi karena adanya pengaruh perubahan
kedalaman laut. Dimana di laut transisi dan di laut dangkal
puncak gelombang akan menjalar dengan lebih lambat dan
dengan panjang gelombang yang lebih kecil di daerah yang
lebih dangkal, (Triatmojo, 1999). Akibat dari peristiwa
tersebut garis puncak gelombang akan membelok dan
berusaha untuk sejajar dengan garis kedalam laut.
Perhitungan refraksi pertama kali yang harus dilakukan
adalah menentukan sudut garis puncak gelombang dengan
kontur dasar pantai (θo). Dari pemetaan bhatymetri
didapatkan bahwa kontur dasar laut perairan di daerah
paciran tidak beraturan, maka untuk mempermudah perhi-
tungan dilakukan penyederhanaan garis kontur pantai
dengan menarik garis kontur rata-rata. Garis rata-rata ini
dibuat berdasarkan asumsi yang mendekati keadaan kontur
sebenarnya. Sehinggga perhitungan refraksi gelombang
adalah sebagai berikut. Tinggi gelombang yang digunakan
dalam perhitungan refraksi ini menggunakan tinggi
gelmbang pada laut dalam yang telah didapatkan pada sub
bab sebelumnya. Tinggi gelombang dan periode gelombang
pada laut dalam tahun 2013 – 2017 dapat dilihat pada Tabel
3. 6.
.
59
Tabel 3. 6 Ho Tahun 2013 - 2017
Ho To
TAHUN ARAH
(m) (s)
Timur Laut 1.6 7
2013 Utara 2.2 8
Barat Laut 4.2 11
Timur Laut 1.6 7
2014 Utara 2.2 8
Barat Laut 1.6 7
Timur Laut 1.6 7
2015 Utara 2.4 8
Barat Laut 2.4 8
Timur Laut 2.0 8
2016 Utara 1.6 7
Barat Laut 3.1 9
Timur Laut 4.3 11
2017 Utara 2.5 8
Barat Laut 2.4 8
Adapun perhitungan refraksi sebagai berikut.
Gelombang Arah Timur Laut tahun 2013
Ho = 1.6 m
To =7s
αo = 65º
kedalaman yang ditinjau mulai dari kedalam -10 m
hingga -4 m. sehingga dilakukan perhitungan sebagai
berikut.
𝑑 = 10 𝑚
𝐿𝑜 = 1.56 𝑥 𝑇 2
𝐿𝑜 = 1.56 𝑥 72 = 66 𝑚
60
𝑑⁄ = 10 𝑚 ⁄
𝐿𝑜 66 𝑚 = 0.152
Dari nilai d/Lo dapat dicari beberapa parameter
menggunakan tabel C-1 dari SPM 1984. Parameter-
parameter tersebut adalah sebagai berikut.
𝑑
= 0.152
𝐿𝑜
𝑑
= 0.219
𝐿
𝑡𝑎𝑛ℎ 2𝜋𝑑
= 0.880
𝐿
Karena 0.5 > d/L > 0.04, maka tipe perairan pada
kedalaman -10 m adalah perairan transisi. Untuk analisa
selanjutnya menggunakan tipe perairan transisi.
𝑔 𝑇2 2𝜋𝑑
𝐿 = tanh
2𝜋 𝐿
9.81 𝑥 72
𝐿 = 𝑥 0.880 = 57.8 𝑚
2𝜋
𝐿𝑜
𝐶1 =
𝑇
66 𝑚
= = 10.12 𝑚/𝑠
7𝑠
𝐿
𝐶2 =
𝑇
57.8 𝑚
= = 8.91 𝑚/𝑠
7𝑠
61
Dapat dicari sudut datang gelombang pada kedalaman
selanjutnya akibat pembelokan.
𝐶1
sin 𝛼 = sin 𝛼1
𝐶2
10.12 𝑚/𝑠
= sin 65° = 0.245
8.91 𝑚/𝑠
𝛼 = 53°
Maka koef. Refraksi didapatkan sebagai berikut.
cos 𝛼1
𝐾𝑟 = √
cos 𝛼2
cos 65°
= √
cos 53°
= 0.837
Selain Kr, Koefisen pendangkalan, Ks, mempengaruhi
perhitungan refraksi. Ks didapatkan dar tabel c-1, SPM
1984, sehingga nilai Ks adalah sebagai berikut.
𝐾𝑠 = 0.9167
Maka tinggi gelombang akibat refraksi dapat dicari
menggunakan persamaan sebagai berikut.
𝐻′ = 𝐾𝑠 𝐾𝑟 𝐻
= 0.837 𝑥 0.9167 x 1.6 m
= 1.3 m
Hasil perhitungan refraksi gelombang dapat dilihat pada
Tabel 3. 7 s/d Tabel 3. 21.
Tabel 3. 7 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut Tahun 2013
tanh
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H db
2πd/L
65 1.6 6.48 66 10 0.152 0.219 0.880 10.12 57.8 8.91 0.798 53 0.837 0.9167 1.3 1.6 normal
53 1.3 6.48 66 9 0.137 0.203 0.854 8.91 56.1 8.65 0.774 51 0.976 0.9137 1.1 1.4 normal
51 1.1 6.48 66 8 0.122 0.187 0.825 8.65 54.1 8.35 0.748 48 0.976 0.9132 1.0 1.3 normal
48 1.0 6.48 66 7 0.107 0.171 0.791 8.35 51.9 8.00 0.716 46 0.976 0.9156 0.9 1.1 normal
46 0.9 6.48 66 6 0.091 0.155 0.750 8.00 49.2 7.59 0.679 43 0.975 0.9223 0.8 1.0 normal
43 0.8 6.48 66 5 0.076 0.138 0.698 7.59 45.8 7.07 0.633 39 0.973 0.9362 0.7 0.9 normal
39 0.7 6.48 66 4 0.061 0.121 0.639 7.07 41.9 6.47 0.579 35 0.975 0.9576 0.7 0.9 normal
35 0.7 6.48 66 3 0.046 0.102 0.567 6.47 37.2 5.74 0.514 31 0.975 0.9958 0.7 0.9 normal
31 0.7 6.48 66 2 0.030 0.822 0.475 5.74 37.2 5.74 0.514 31 1.000 1.069 0.7 0.9 normal
31 0.7 6.48 66 1 0.015 0.561 0.339 5.74 37.2 5.74 0.514 31 1.000 1.24 0.9 1.1 pecah
Tabel 3. 8 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut Tahun 2014
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
65 1.6 6.48 66 10 0.152 0.219 0.880 10.12 57.8 8.91 0.798 53 0.837 0.9167 1.3 1.6 normal
53 1.3 6.48 66 9 0.137 0.203 0.854 8.91 56.1 8.65 0.774 51 0.976 0.9137 1.1 1.4 normal
51 1.1 6.48 66 8 0.122 0.187 0.825 8.65 54.1 8.35 0.748 48 0.976 0.9132 1.0 1.3 normal
48 1.0 6.48 66 7 0.107 0.171 0.791 8.35 51.9 8.00 0.716 46 0.976 0.9156 0.9 1.1 normal
46 0.9 6.48 66 6 0.091 0.155 0.750 8.00 49.2 7.59 0.679 43 0.975 0.9223 0.8 1.0 normal
43 0.8 6.48 66 5 0.076 0.138 0.698 7.59 45.8 7.07 0.633 39 0.973 0.9362 0.7 0.9 normal
39 0.7 6.48 66 4 0.061 0.121 0.639 7.07 41.9 6.47 0.579 35 0.975 0.9576 0.7 0.9 normal
35 0.7 6.48 66 3 0.046 0.104 0.580 6.47 38.1 5.87 0.526 32 0.979 0.979 0.7 0.8 normal
32 0.7 6.48 66 2 0.030 0.087 0.521 5.87 34.2 5.28 0.472 28 0.982 1.0004 0.6 0.8 normal
28 0.6 6.48 66 1 0.015 0.069 0.462 5.28 30.3 4.68 0.419 25 0.985 1.0218 0.6 0.8 normal
25 0.6 6.48 66 0.8 0.012 0.052 0.403 4.68 26.5 4.08 0.365 21 0.988 1.0432 0.7 0.9 pecah
62
63
Tabel 3. 9 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut Tahun 2015
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
65 1.6 6.48 66 10 0.152 0.219 0.880 10.12 57.8 8.91 0.798 53 0.837 0.9167 1.3 1.6 normal
53 1.3 6.48 66 9 0.137 0.203 0.854 8.91 56.1 8.65 0.774 51 0.976 0.9137 1.1 1.4 normal
51 1.1 6.48 66 8 0.122 0.187 0.825 8.65 54.1 8.35 0.748 48 0.976 0.9132 1.0 1.3 normal
48 1.0 6.48 66 7 0.107 0.171 0.791 8.35 51.9 8.00 0.716 46 0.976 0.9156 0.9 1.1 normal
46 0.9 6.48 66 6 0.091 0.155 0.750 8.00 49.2 7.59 0.679 43 0.975 0.9223 0.8 1.0 normal
43 0.8 6.48 66 5 0.076 0.138 0.698 7.59 45.8 7.07 0.633 39 0.973 0.9362 0.7 0.9 normal
39 0.7 6.48 66 4 0.061 0.121 0.639 7.07 41.9 6.47 0.579 35 0.975 0.9576 0.7 0.9 normal
35 0.7 6.48 66 3 0.046 0.104 0.580 6.47 38.1 5.87 0.526 32 0.979 0.979 0.7 0.8 normal
32 0.7 6.48 66 2 0.030 0.087 0.521 5.87 34.2 5.28 0.472 28 0.982 1.0004 0.6 0.8 normal
28 0.6 6.48 66 1 0.015 0.069 0.462 5.28 30.3 4.68 0.419 25 0.985 1.0218 0.6 0.8 normal
25 0.6 6.48 66 0.8 0.012 0.052 0.403 4.68 26.5 4.08 0.365 21 0.988 1.0432 0.7 0.9 pecah
Tabel 3. 10 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut Tahun 2016
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
65 2.0 7.23 82 10 0.122 0.192 0.835 11.29 68.2 9.43 0.757 49 0.804 0.913 1.5 1.9 normal
49 1.5 7.23 82 9 0.110 0.178 0.808 9.43 66.0 9.12 0.732 47 0.980 0.914 1.3 1.7 normal
47 1.3 7.23 82 8 0.098 0.649 0.776 9.12 66.0 9.12 0.732 47 1.000 0.918 1.2 1.6 normal
47 1.2 7.23 82 7 0.086 0.151 0.740 9.12 60.5 8.36 0.671 42 0.959 0.926 1.1 1.4 normal
42 1.1 7.23 82 6 0.073 0.138 0.698 8.36 57.0 7.89 0.633 39 0.979 0.936 1.0 1.3 normal
39 1.0 7.23 82 5 0.061 0.123 0.649 7.89 53.0 7.33 0.588 36 0.979 0.955 0.9 1.2 normal
36 0.9 7.23 82 4 0.049 0.108 0.591 7.33 48.3 6.68 0.536 32 0.979 0.984 0.9 1.2 normal
32 0.9 7.23 82 3 0.037 0.092 0.545 6.68 44.5 6.15 0.494 30 0.985 1.030 0.9 1.2 normal
30 0.9 7.23 82 2 0.024 0.739 0.433 6.15 44.5 6.15 0.494 30 1.000 1.104 1.0 1.3 normal
30 1.0 7.23 82 1 0.012 0.051 0.323 6.15 26.3 3.64 0.292 17 0.954 1.288 1.2 1.6 pecah
Tabel 3. 11 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Timur Laut Tahun 2017
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
65 3.3 9.20 132 10 0.076 0.120 0.636 14.37 84.1 9.14 0.576 35 0.719 0.9607 2.3 2.9 normal
35 2.3 9.20 132 9 0.068 0.112 0.607 9.14 80.2 8.72 0.550 33 0.989 0.9752 2.2 2.8 normal
33 2.2 9.20 132 8 0.061 0.105 0.579 8.72 76.6 8.33 0.525 32 0.991 0.9907 2.2 2.8 normal
32 2.2 9.20 132 7 0.053 0.097 0.545 8.33 72.1 7.83 0.494 30 0.989 1.013 2.2 2.8 normal
30 2.2 9.20 132 6 0.045 0.089 0.507 7.83 67.0 7.28 0.459 27 0.989 1.042 2.2 2.9 normal
27 2.2 9.20 132 5 0.038 0.081 0.469 7.28 62.0 6.74 0.425 25 0.991 1.075 2.4 3.0 normal
25 2.4 9.20 132 4 0.030 0.071 0.421 6.74 55.6 6.04 0.381 22 0.989 1.125 2.6 3.4 normal
22 2.6 9.20 132 3 0.023 0.062 0.371 6.04 49.1 5.33 0.336 20 0.991 1.189 3.1 4.0 pecah
Tabel 3. 12 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara Tahun 2013
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
68 2.2 7 86.9 10 0.115 0.183 0.817 11.65 71.0 9.51 0.757 49 0.757 0.9134 1.5 1.9 normal
49 1.5 7 86.9 9 0.104 0.170 0.789 9.51 68.6 9.19 0.731 47 0.978 0.9158 1.3 1.7 normal
47 1.3 7 86.9 8 0.092 0.157 0.757 9.19 65.8 8.82 0.702 45 0.978 0.9209 1.2 1.6 normal
45 1.2 7 86.9 7 0.081 0.145 0.720 8.82 62.6 8.39 0.668 42 0.978 0.9297 1.1 1.4 normal
42 1.1 7 86.9 6 0.069 0.131 0.678 8.39 58.9 7.90 0.628 39 0.978 0.9433 1.0 1.3 normal
39 1.0 7 86.9 5 0.058 0.119 0.623 7.90 54.2 7.26 0.578 35 0.976 0.9624 1.0 1.2 normal
35 1.0 7 86.9 4 0.046 0.104 0.575 7.26 50.0 6.70 0.533 32 0.982 0.9932 0.9 1.2 normal
32 0.9 7 86.9 3 0.035 0.089 0.507 6.70 44.0 5.90 0.470 28 0.979 1.042 1.0 1.2 normal
28 1.0 7 86.9 2 0.023 0.071 0.421 5.90 36.6 4.90 0.390 23 0.979 1.125 1.1 1.3 normal
23 1.1 7 86.9 1 0.012 0.050 0.302 4.90 26.3 3.52 0.280 16 0.979 1.049 1.1 1.4 pecah
64
65
Tabel 3. 13 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara Tahun 2014
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
68 2.2 6 65.6 10 0.152 0.183 0.817 10.12 53.6 8.27 0.757 49 0.757 0.9134 1.5 1.9 normal
49 1.5 6 65.6 9 0.137 0.170 0.789 8.27 51.7 7.98 0.731 47 0.978 0.9158 1.3 1.7 normal
47 1.3 6 65.6 8 0.122 0.157 0.757 7.98 49.6 7.66 0.702 45 0.978 0.9209 1.2 1.6 normal
45 1.2 6 65.6 7 0.107 0.145 0.720 7.66 47.2 7.29 0.668 42 0.978 0.9297 1.1 1.4 normal
42 1.1 6 65.6 6 0.091 0.131 0.678 7.29 44.5 6.86 0.628 39 0.978 0.9433 1.0 1.3 normal
39 1.0 6 65.6 5 0.076 0.119 0.623 6.86 40.9 6.31 0.578 35 0.976 0.9624 1.0 1.2 normal
35 1.0 6 65.6 4 0.061 0.104 0.575 6.31 37.7 5.82 0.533 32 0.982 0.9932 0.9 1.2 normal
32 0.9 6 65.6 3 0.046 0.089 0.507 5.82 33.2 5.13 0.470 28 0.979 1.042 1.0 1.2 normal
28 1.0 6 65.6 2 0.030 0.071 0.421 5.13 27.6 4.26 0.390 23 0.979 1.125 1.1 1.3 normal
23 1.1 6 65.6 1 0.015 0.050 0.302 4.26 19.8 3.06 0.280 16 0.979 1.049 1.1 1.4 pecah
Tabel 3. 14 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara Tahun 2015
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
68 2.4 8 95.9 10 0.104 0.268 0.780 12.23 74.8 9.55 0.724 46 0.737 0.9164 1.6 2.1 normal
46 1.6 8 95.9 9 0.094 0.157 0.757 9.55 72.5 9.26 0.702 45 0.984 0.902 1.4 1.8 normal
45 1.4 8 95.9 8 0.083 0.145 0.723 9.26 69.3 8.84 0.670 42 0.980 0.929 1.3 1.7 normal
42 1.3 8 95.9 7 0.073 0.134 0.687 8.84 65.8 8.40 0.637 40 0.981 0.9391 1.2 1.5 normal
40 1.2 8 95.9 6 0.063 0.122 0.646 8.40 61.9 7.90 0.599 37 0.981 0.952 1.1 1.4 normal
37 1.1 8 95.9 5 0.052 0.110 0.599 7.90 57.5 7.33 0.556 34 0.981 0.9793 1.1 1.4 normal
34 1.1 8 95.9 4 0.042 0.973 0.545 7.33 57.5 7.33 0.556 34 1.000 1.013 1.1 1.4 normal
34 1.1 8 95.9 3 0.031 0.083 0.480 7.33 46.0 5.88 0.445 26 0.964 1.064 1.1 1.4 normal
26 1.1 8 95.9 2 0.021 0.066 0.393 5.88 37.7 4.81 0.365 21 0.981 1.159 1.3 1.6 normal
21 1.3 8 95.9 1 0.010 0.046 0.282 4.81 27.0 3.45 0.261 15 0.982 1.35 1.7 2.2 pecah
Tabel 3. 15 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara Tahun 2016
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
68 1.6 6 65.6 10 0.152 0.219 0.880 10.12 57.8 8.91 0.816 55 0.805 0.9167 1.2 1.6 normal
55 1.2 6 65.6 9 0.137 0.203 0.854 8.91 56.1 8.65 0.792 52 0.973 0.9137 1.1 1.4 normal
52 1.1 6 65.6 8 0.122 0.187 0.825 8.65 54.1 8.35 0.765 50 0.973 0.9132 1.0 1.2 normal
50 1.0 6 65.6 7 0.107 0.171 0.791 8.35 51.9 8.00 0.733 47 0.973 0.9156 0.9 1.1 normal
47 0.9 6 65.6 6 0.091 0.155 0.750 8.00 49.2 7.59 0.695 44 0.973 0.9223 0.8 1.0 normal
44 0.8 6 65.6 5 0.076 0.138 0.698 7.59 45.8 7.07 0.647 40 0.971 0.9362 0.7 0.9 normal
40 0.7 6 65.6 4 0.061 0.121 0.639 7.07 41.9 6.47 0.593 36 0.973 0.9591 0.6 0.8 normal
36 0.6 6 65.6 3 0.046 0.102 0.567 6.47 37.2 5.74 0.526 32 0.973 0.975 0.6 0.8 normal
32 0.6 6 65.6 2 0.030 0.082 0.475 5.74 31.1 4.80 0.440 26 0.973 1.069 0.6 0.8 normal
26 0.6 6 65.6 1 0.015 0.056 0.339 4.80 22.2 3.43 0.314 18 0.972 1.240 0.8 1.0 normal
18 0.8 6 65.6 0.5 0.008 0.040 0.292 3.43 19.2 2.96 0.271 16 0.993 1.435 1.1 1.4 pecah
Tabel 3. 16 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Utara Tahun 2017
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
68 2.5 8.0 99.2 10 0.101 0.167 0.780 12.45 77.4 9.71 0.724 46 0.737 0.9169 1.7 2.1 normal
46 1.7 8.0 99.2 9 0.091 0.156 0.752 9.71 74.6 9.36 0.697 44 0.981 0.9218 1.5 1.9 normal
44 1.5 8.0 99.2 8 0.081 0.145 0.720 9.36 71.4 8.96 0.668 42 0.981 0.9297 1.4 1.8 normal
42 1.4 8.0 99.2 7 0.071 0.133 0.638 8.96 63.3 7.94 0.592 36 0.961 0.9411 1.3 1.6 normal
36 1.3 8.0 99.2 6 0.060 0.121 0.646 7.94 64.1 8.04 0.599 37 1.003 0.9576 1.2 1.5 normal
37 1.2 8.0 99.2 5 0.050 0.109 0.595 8.04 59.1 7.41 0.552 34 0.980 0.9815 1.2 1.5 normal
34 1.2 8.0 99.2 4 0.040 0.962 0.540 7.41 59.1 7.41 0.552 34 1.000 1.016 1.2 1.5 normal
34 1.2 8.0 99.2 3 0.030 0.620 0.371 7.41 59.1 7.41 0.552 34 1.000 1.189 1.4 1.8 normal
34 1.4 8.0 99.2 2 0.020 0.661 0.392 7.41 59.1 7.41 0.552 34 1.000 1.159 1.6 2.1 pecah
66
67
Tabel 3. 17 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut Tahun 2013
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
23 4.2 10 166.0 10 0.060 0.108 0.591 16.10 98.2 9.52 0.231 13 0.973 0.9837 4.0 5.1 normal
13 4.0 10 166.0 9 0.054 0.102 0.567 9.52 94.1 9.12 0.221 13 0.999 0.9985 4.0 5.1 normal
13 4.0 10 166.0 8 0.048 0.095 0.537 9.12 89.1 8.65 0.210 12 0.999 1.019 4.0 5.2 normal
12 4.0 10 166.0 7 0.042 0.089 0.507 8.65 84.1 8.16 0.198 11 0.999 1.042 4.2 5.4 normal
11 4.2 10 166.0 6 0.036 0.082 0.475 8.16 78.8 7.64 0.185 11 0.999 1.046 4.4 5.6 normal
11 4.4 10 166.0 5 0.030 0.074 0.433 7.64 71.9 6.97 0.169 10 0.999 1.111 4.9 6.2 pecah
Tabel 3. 18 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut Tahun 2014
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
23 1.6 6 65.6 10 0.152 0.219 0.880 10.12 57.8 8.91 0.344 20 0.990 0.9167 1.5 1.9 normal
20 1.5 6 65.6 9 0.137 0.203 0.854 8.91 56.1 8.65 0.334 20 0.998 0.9137 1.4 1.7 normal
20 1.4 6 65.6 8 0.122 0.187 0.825 8.65 54.1 8.35 0.322 19 0.998 0.9132 1.2 1.6 normal
19 1.2 6 65.6 7 0.107 0.171 0.791 8.35 51.9 8.00 0.309 18 0.998 0.9156 1.1 1.4 normal
18 1.1 6 65.6 6 0.091 0.155 0.750 8.00 49.2 7.59 0.293 17 0.997 0.9223 1.0 1.3 normal
17 1.0 6 65.6 5 0.076 0.138 0.698 7.59 45.8 7.07 0.273 16 0.997 0.9362 1.0 1.2 normal
16 1.0 6 65.6 4 0.061 0.121 0.639 7.07 41.9 6.47 0.250 14 0.997 0.9576 0.9 1.2 normal
14 0.9 6 65.6 3 0.046 0.102 0.567 6.47 37.2 5.74 0.221 13 0.996 0.999 0.9 1.2 normal
13 0.9 6 65.6 2 0.030 0.082 0.475 5.74 31.1 4.80 0.185 11 0.996 1.069 1.0 1.3 normal
11 1.0 6 65.6 1 0.015 0.056 0.339 4.80 22.2 3.43 0.132 8 0.996 1.240 1.2 1.6 pecah
Tabel 3. 19 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut Tahun 2015
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
23 2.4 8 95.9 10 0.104 0.168 0.784 12.23 75.2 9.60 0.306 18 0.983 0.9164 2.2 2.8 normal
18 2.2 8 95.9 9 0.094 0.157 0.757 9.60 72.5 9.26 0.296 17 0.998 0.9209 2.0 2.5 normal
17 2.0 8 95.9 8 0.083 0.145 0.722 9.26 69.2 8.83 0.282 16 0.998 0.929 1.8 2.4 normal
16 1.8 8 95.9 7 0.073 0.134 0.687 8.83 65.8 8.40 0.268 16 0.998 0.9401 1.7 2.2 normal
16 1.7 8 95.9 6 0.063 0.122 0.646 8.40 61.9 7.90 0.252 15 0.998 0.952 1.6 2.1 normal
15 1.6 8 95.9 5 0.052 0.110 0.599 7.90 57.5 7.33 0.234 14 0.998 0.9793 1.6 2.1 normal
14 1.6 8 95.9 4 0.042 0.973 0.545 7.33 57.5 7.33 0.234 14 1.000 1.013 1.6 2.1 normal
14 1.6 8 95.9 3 0.031 0.083 0.480 7.33 46.0 5.88 0.188 11 0.995 1.064 1.7 2.2 normal
11 1.7 8 95.9 2 0.021 0.066 0.393 5.88 37.7 4.81 0.154 9 0.997 1.159 2.0 2.5 pecah
Tabel 3. 20 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut Tahun 2016
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
23 2.4 8 95.9 10 0.104 0.168 0.784 12.23 75.2 9.60 0.306 18 0.983 0.9164 2.2 2.8 normal
18 2.2 8 95.9 9 0.094 0.157 0.757 9.60 72.5 9.26 0.296 17 0.998 0.9209 2.0 2.5 normal
17 2.0 8 95.9 8 0.083 0.145 0.722 9.26 69.2 8.83 0.282 16 0.998 0.929 1.8 2.4 normal
16 1.8 8 95.9 7 0.073 0.134 0.687 8.83 65.8 8.40 0.268 16 0.998 0.9401 1.7 2.2 normal
16 1.7 8 95.9 6 0.063 0.122 0.646 8.40 61.9 7.90 0.252 15 0.998 0.952 1.6 2.1 normal
15 1.6 8 95.9 5 0.052 0.110 0.599 7.90 57.5 7.33 0.234 14 0.998 0.9793 1.6 2.1 normal
14 1.6 8 95.9 4 0.042 0.973 0.545 7.33 57.5 7.33 0.234 14 1.000 1.013 1.6 2.1 normal
14 1.6 8 95.9 3 0.031 0.083 0.480 7.33 46.0 5.88 0.188 11 0.995 1.064 1.7 2.2 normal
11 1.7 8 95.9 2 0.021 0.066 0.393 5.88 37.7 4.81 0.154 9 0.997 1.159 2.0 2.5 pecah
68
69
Tabel 3. 21 Perhitungan Refraksi Gelombang Arah Barat Laut Tahun 2017
tanh Gelombang Pecah
α1 Ho T Lo d d/L0 d/L C1 L C2 sin α2 α2 Kr Ks H
2πd/L db ket
23 2.4 8 95.9 10 0.104 0.168 0.782 12.23 75.0 9.57 0.306 18 0.983 0.9166 2.2 2.8 normal
18 2.2 8 95.9 9 0.094 0.157 0.988 9.57 94.7 12.09 0.386 23 1.016 0.9214 2.0 2.6 normal
23 2.0 8 95.9 8 0.083 0.145 0.723 12.09 69.3 8.84 0.282 16 0.981 0.929 1.8 2.4 normal
16 1.8 8 95.9 7 0.073 0.134 0.687 8.84 65.8 8.40 0.268 16 0.998 0.9401 1.7 2.2 normal
16 1.7 8 95.9 6 0.063 0.122 0.646 8.40 61.9 7.90 0.252 15 0.998 0.9562 1.6 2.1 normal
15 1.6 8 95.9 5 0.052 0.110 0.599 7.90 57.5 7.33 0.234 14 0.998 0.9793 1.6 2.1 normal
14 1.6 8 95.9 4 0.042 0.973 0.545 7.33 57.5 7.33 0.234 14 1.000 1.013 1.6 2.1 normal
14 1.6 8 95.9 3 0.031 0.083 0.480 7.33 46.0 5.88 0.188 11 0.995 1.064 1.7 2.2 normal
11 1.7 8 95.9 2 0.021 0.066 0.393 5.88 37.7 4.81 0.154 9 0.997 1.159 2.0 2.6 pecah
70
3.6.3 Tinggi Gelombang Berdasarkan Periode Ulang.
Dalam metode ini prediksi dilakukan untuk mem-
perkirakan tinggi gelombang dengan berbagai periode ulang
dengan penentuan perilaku gelombang maksimum yang
pernah terjadi untuk analisa selanjutnya. Prediksi tinggi
gelombang dengan periode ulang tertentu menggunakan
regresi linear, dengan persamaan 2.13.
Dengan komponen A dan B dihitung dengan regresi
linear untuk tipe distribusi weibull. Untuk perhitungan
menggunakan periode ulang, tinggi gelombang hasil refraksi
hingga kedalaman -8 mLWS yang telah didapatkan pada sub
bab sebelumnya yang tersaji pada Tabel 3. 22. Kemudian
tinggi gelombang tersebut diurutkan dari terbesar ke
terkecil.
Tabel 3. 22 Tinggi Gelombang Setelah Refraksi pada -8 mLWS
H (m)
Tahun Timur Barat
Utara
Laut Laut
2013 1.0 1.2 4.0
2014 1.0 1.6 1.2
2015 1.0 1.3 1.8
2016 1.2 1.0 1.8
2017 2.2 1.4 1.8
Tinggi gelombang arah timur laut
𝐻𝑜1 = 3.31 𝑚
0.27
𝑚 − 0.22 −
𝑃 (𝐻𝑜 ≤ 𝐻𝑜𝑚 ) =1− √𝑘
0.23
𝑁𝑇 + 0.2 +
√𝑘
𝑁𝑇 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎 = 5
𝑘 = 2
71
0.27
1 − 0.22 −
𝑃 (𝐻𝑜 ≤ 𝐻𝑜𝑚 ) = 1 − √2
0.23
5 + 0.2 +
√2
= 0.895
1⁄
𝑘
𝑌𝑚 = {−𝑙𝑛(1 − 𝑃(𝐻𝑜 ≤ 𝐻𝑜𝑚 ))}
1
𝑌𝑚 = {−𝑙𝑛(1 − 0.895)} ⁄2
= 1.834
Untuk mendapatkan koefisien A dan B dapat dilakukan
dengan menabelkan perhitungan diatas seperti pada Tabel 3.
23.
Tabel 3. 23 Perhitungan Regresi linear
No. Urut H P Ym [Link] Ym²
1 0.5 0.895 1.834 0.99 3.36
2 0.5 0.710 1.172 0.63 1.37
3 0.5 0.525 0.802 0.43 0.64
4 0.7 0.339 0.518 0.36 0.27
5 2.6 0.154 0.263 0.70 0.07
jumlah 4.96 2.62 4.59 3.12 5.72
rata-rata 0.99 0.52 0.92 0.62 1.14
Maka nilai koefisien A dan B dapat dihitung sebagai
berikut.
𝑛. ∑𝐻 𝑥 𝑌𝑚 − ∑H 𝑥 ∑𝑌𝑚
A =
𝑛∑𝑌𝑚 2 − (∑𝑌𝑚 )2
5 𝑥3.12 − 4.96 𝑥 4.59
A = = −0.956
5 𝑥 5.72 − (4.59)2
𝐵 = ̅𝐻̅̅̅ − 𝐴 . ̅̅̅̅
𝑌𝑚
𝐵 = 0.99 − (−0.956) 𝑥 0.92 = 1.871
72
Sehingga tinggi gelombang dengan periode ulang dapat
dihitung menggunakan persamaan berikut.
𝐻 = 𝐴. 𝑌𝑟 + 𝐵
Dimana
1⁄
𝑌𝑟 = {𝑙𝑛(𝐿 𝑥 𝑇𝑟 )} 𝑘 , dengan
𝑁𝑇
𝐿 =
𝐾
𝑁𝑇 = 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎 =5
𝐾 = 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑎𝑡𝑎 (𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛) =5
𝑘 = 𝑘𝑜𝑒𝑓. 𝑤𝑒𝑖𝑏𝑢𝑙𝑙 = 2, maka
𝑇𝑟 = 𝑝𝑒𝑟𝑖𝑜𝑑𝑒 𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 =2
1⁄
5 2
𝑌𝑟 = {𝑙𝑛 ( 𝑥 2)} = 0.761
5
𝐻′ = −0.956 𝑥 0.761 + 1.871 = 1.143 𝑚 ≈ 1.1 𝑚
Mengingat tingkat ketidak pastian yang tinggi dalam
prediksi tinggi gelombang laut dalam, maka perkiraan
interval keyakinan sangat penting dalam analisis ini. Batas
keyakinan sangat dipengaruhi oleh penyebaran data,
sehingga nilainya bergantung pada deviasi standar. Deviasi
standar dapat dihitung dengan rumus 2.14. Sebelumnya
perlu dihitung beberapa parameter sebagai berikut.
𝑁
𝛼2 .𝑁−1.3 +𝑘.√− ln
𝛼 = 𝛼1 . 𝑒 𝑁𝑇
Dimana koefisien-koefisien yang digunakan adalah
seperti tabel dibawah.
73
Tabel 3. 24 Koefisien untuk Menghitung Deviasi Standar
Sumber: OCDI, 2002
Sehingga standar deviasi dapat dihitung sebagai berikut.
5
11.4 𝑥 5−1.3 +2√− ln
𝛼 = 2.24 𝑥 𝑒 5 = 9.146
1/2
1 5 2
𝜎𝑛𝑟 = [1 + 9.146 (0.833 − 0.5 + 0.54 𝑥 ln ) ]
√5 5
= 0.569
Deviasi standar untuk prediksi tinggi gelombang perlu
dicari kesalahan standarnya. Kesalahan standar ini yang
nantinya akan menjadi batas interval keyakinan prediksi
tinggi gelombang. Batas interval yang digunakan dapat
dilihat pada Tabel 3. 25.
Tabel 3. 25 Batas interval Keyakinan Prediksi Tinggi Gelombang
Sumber: Triatmojo, 1999
Dimana,
𝜎𝑟 = 𝜎𝑛𝑟 𝑥 𝜎𝐻𝑠
74
𝑁 1/2
1 2
𝜎𝐻𝑠 = [ ∑(𝐻 − 𝐻 ) ]
𝑁−1
𝑖=1
1
1 2
𝜎𝐻𝑠 = [ 𝑥 2.07] = 0.720
5−1
Maka,
𝜎𝑟 = 0.569 𝑥 0.720 = 0.410
𝑏𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑎𝑡𝑎𝑠 𝐻𝑜 = 𝐻𝑜 − 1.28 𝜎𝑟
= 2.2 𝑚 − 1.28 𝑥 0.042
= 2.221 𝑚 ≈ 2.2 𝑚
Perhitungan prediksi tinggi gelombang laut dalam arah
timur laut, utara, dan barat lau dengan menggunakan ber-
bagai periode ulang. Direncanakan breakwater meng-
gunakan periode ulang 50 tahun, maka prediksi tinggi
gelombang pada laut dalam dengan periode ulang tersebut
dapat dilihat pada Tabel 3. 26.
Tabel 3. 26 Tinggi Gelombang pada kedalaman -8 mLWS Arah Timur
Laut dengan Periode Ulang 50 Tahun
Periode
Yr H' H'+1.28σr
Ulang α σnr σr
(Tahun) (Tahun) (m) (m)
2 0.761 1.2 9.146 0.569 0.120 1.3
5 1.426 1.7 9.146 1.330 0.280 2.0
10 1.863 2.0 9.146 1.897 0.400 2.5
20 2.268 2.3 9.146 2.432 0.512 2.9
50 2.768 2.7 9.146 3.099 0.653 3.5
100 3.126 2.9 9.146 3.579 0.754 3.9
75
Tabel 3. 27 Tinggi Gelombang pada kedalaman -8 mLWS Arah Utara
dengan Periode Ulang 50 Tahun
Periode
Yr H' H'+1.28σr
Ulang α σnr σr
(Tahun) (Tahun) (m) (m)
2 0.761 1.5 9.146 0.569 0.206 1.8
5 1.426 1.8 9.146 1.330 0.482 2.4
10 1.863 1.9 9.146 1.897 0.688 2.8
20 2.268 2.1 9.146 2.432 0.881 3.2
50 2.768 2.2 9.146 3.099 1.123 3.7
100 3.126 2.4 9.146 3.579 1.297 4.0
Tabel 3. 28 Tinggi Gelombang pada kedalaman -8 mLWS Arah Barat
Laut dengan Periode Ulang 50 Tahun
Periode
Yr H' H'+1.28σr
Ulang α σnr σr
(Tahun) (Tahun) (m) (m)
2 0.761 1.5 9.146 0.569 0.075 1.6
5 1.426 1.7 9.146 1.330 0.174 1.9
10 1.863 2.0 9.146 1.897 0.249 2.3
20 2.268 2.3 9.146 2.432 0.319 2.7
50 2.768 2.7 9.146 3.099 0.406 3.2
100 3.126 2.9 9.146 3.579 0.469 3.5
3.7 Data Tanah
3.7.1 Data Tanah Dasar
Data tanah yang digunakan didapat dari pekerjaan soil
investigation di desa Tunggul, Kecamatan Paciran
Kabupaten Lamongan yang dilakukan oleh tim LPPM ITS
dengan pemboran inti hingga kedalaman 30 meter. Dari
pengujian tersebut dapat dilihat pada tabel Tabel 3. 29.
76
Tabel 3. 29 Hasil Soil Investigation di Desa Tunggul, Kecamatan Paciran
Depth
Deskripsi N-SPT
(m)
0 2
lempung berlanau
-3 2
-5 4
-15 50
pasir berlanau
-23 19
-25 50
Pasir padat / batuan gamping -30 27
Dari data tersebut dapat diketahui tanah didominasi
dengan pasir berlanau. Lapisan tanah keras berupa limestone
yang porous. Berdasarkan Peta Geologi Lembar Tuban,
daerah perairan paciran berupa batuan gamping atau
limestone seperti pada Gambar 3. 8 s/d Gambar 3. 9.
Dalam data tanah yang dimiliki hanya terdapat data SPT
sehingga perlu dilakukan korelasi nilai SPT untuk mendapat
parameter tanah yang lain dengan menggunakan korelasi
dari Bowles dan Biarez & Favre seperti pada Tabel 3. 30.
Gambar 3. 8 Peta Geologi Perairan Paciran
Sumber: Hartono dan Suharsono, 1997
77
Gambar 3. 9 Keterangan Peta Geologi
Sumber: Hartono dan Suharsono, 1997
78
Tabel 3. 30 Korelasi SPT dan Korelasinya
Sumber: Bowles, 1984
Dari tabel bowles diatas, didapatkan nilai ϒdry serta Ø
pasir seperti pada Tabel 3. 31
Tabel 3. 31 Parameter ϒ Dan Ø Tanah Dasar
Depth N Ø γ dry
Deskripsi
(m) T / m³
-3 lempung berlanau 2 1.10
-5 lepas 4 14 1.20
-15 padat 50 22 2.00
-23 pasir berlanau sedang 19 16 1.70
-25 padat 50 22 2.00
-30 sedang 27 17 1.80
Setelah didapatkan nilai ϒsat, parameter tanah berupa
angka pori (e), compression index (Cc), dan swelling index
(Cs) dapat dicari menggunakan tabel numerik parameter
tanah dengan Gs = 2,7, berdasarkan Biarez & Favre.
Parameter – parameter tanah tersebut dapat dilihat pada
Tabel 3. 32
79
Tabel 3. 32 Parameter Tanah e, Cc, dan Cs
γ sat Cv
Deskripsi e Cc Cs
kN / m³ cm2/s
lempung berlanau 1.69 1.45 0.354 0.051 0.00060
lepas 1.76 1.25 0.294 0.042 0.00070
padat 2.23 0.35 0.024 0.003 0.10000
pasir berlanau sedang 2.07 0.59 0.096 0.014 0.00100
padat 2.23 0.35 0.024 0.003 0.10000
sedang 2.13 0.50 0.069 0.010 0.01000
Parameter lainnya yang dibutuhkan oleh lapisan tah
lempung adalah batas cair (LL) dan indeks plastisitas (PI).
Untuk mencari nilai batas cair dapat menggunakan grafik
plastisitas cassagrande dengan mengkorelasikan jenis tanah
seperti pada gambar.
Gambar 3. 10 Grafik Plastisitas Cassagrande
Sumber: Principles of Geothecnical Engineering, 1985
80
Dari grafik diatas didapatkan nilai batas cair untuk tanah
lempung anorganik berkisar diantara 15-50. Sehingga nilai
LL yang digunakan adalah 30.
Berdasarkan pengujian yang dilakukan Casagrande,
1932, nilai PI untuk daerah diantara garis U dan garis A pada
gambardapat dicari menggunakan persamaan sebagai
berikut.
𝑃𝐼 = 0.9 (𝐿𝐿 − 8)
= 0.9 (30 − 8) = 19.8
3.7.2 Data Material Timbunan
Kondisi yang ideal untuk material reklamasi adalah
dengan Relative density (Dr) timbunan minimum 80% dan
prosentase material halus ≤ 20%. Dari kondisi tersebut dapat
direncanakan material timbunan berupa sirtu pilihan serta
dapat dicari nilai SPT menggunakan table 3.11. Sehingga
didapatkan parameter tanah ϒsat, serta Ø sebagai berikut.
Dr = 80%
N-SPT = 45
ϒsat = 1.85 T/m3
Ø = 30º
C =0
Prosentase material halus = 12%
BAB IV
EVALUASI LAYOUT PERAIRAN
4.1 Umum
Perencanaan layout yang akan dilakukan pada bab ini
hanya perencanaan fasilitas wilayah perairan saja karena
breakwater direncanakan untuk melindungi layout
perairan pelabuhan dari gelombang besar yang datang.
Pada dasarnya prinsip peren-canaan lokasi perairan adalah
agar kapal dapat bernavigasi secara aman dan nyaman di
areal pelabuhan, sehingga didapatkan layout pelabuhan
yang paling efektif dan efisien.
Perhitungan perencanaan layout perairan akan
menggunakan data kapal yang paling besar agar dapat
memenuhi persyaratan sandar kapal sesuai dengan buku
Technical Standards and Commentaries for Port and
Harbour Facilities in Japan dipadukan dengan KM 54
tahun 2002.
4.2 Data Kapal
Tersus ini direncanakan untuk dok dan galangan kapal
dengan maksimum kapal berukuran 10000 DWT. Berikut
ini merupakan data singkat mengenai kemungkinan kapal
terbesar yang akan memasuki galangan kapal tersebut :
- DWT (Dead Weight Tonage) = 10000 ton
- LOA (Panjang kapal) = 137 m
- Lebar kapal (B) = 19.9 m
- Draft kapal (D) = 8.2 m
- Ballast draft = 2.7 m
4.3 Layout Masterplan
Berdasarkan masterplan pengembangan Tersus
Galangan Kapal di Paciran, telah direncanakan layout
perairan seperti pada Gambar 4. 1, dengan penjelasan pada
sub bab dibawah.
83
Gambar 4. 1 Layout Perairan Masterplan Tersus Galangan Kapal
Sumber: LPPM ITS, 2016
84
85
4.3.1 Area Penjangkaran (Anchorage Area)
Pada perhitungan masterplan, anchorage area
direncanakan mampu menampung kapal 2000 DWT
sebanyak 4 unit. Kebutuhan jari-jari anchorage area
direncanakan 200 m, dan kedalaman anchorage area
adalah 5 meter.
4.3.2 Alur Masuk (Entrance Channel)
Berdasarkan masterplan, lebar alur masuk adalah 97 m,
panjang alur yang direncanakan adalah 280 m, dan dengan
kedalaman -5 m.
4.3.3 Kolam Putar (Turning Basin)
Dalam perencanaan masterplan, guna memenuhi
kebutuh-an manuver kapal disediakan kolam putar.
Rencana diameter kolam putar adalah 160 m, dan dengan
kedalaman -4 m sesuai dengan masterplan pengembangan
Tersus Galangan Kapal ini.
4.4 Kajian Perencanaan Layout Perairan
Layout perairan dari masterplan perlu dikaji ulang
berdasarkan perkiraan ukuran kapal terbesar yang akan
memasuki Tersus ini. Kajian perencanaaan layout perairan
akan dibahas pada sub bab berikut.
4.4.1 Area Penjangkaran (Anchorage Area)
Areal penjangkaran di asumsikan dengan metoda
swinging dan berada pada kondisi penjangkaran baik,
kemudian anchorage areanya mampu menampung 1 unit
kapal dengan muatan maksimum 10000 DWT atau
maksimum 4 unit kapal dengan muatan 2000 DWT. Untuk
layout dari anchorage area sebagai berikut
Kedalaman = 1.5 x draft ballast
= 1.5 x 2.7
= 4,1 m ≈ 5 m
86
Radius = LOA + 6 D
= 137 + 6 (2.7)
= 153 m ≈ 155 m
4.4.2 Alur Masuk (Entrance Channel)
Kapal pada saat sudah masuk alur pelabuhan
direncanakan dalam keadaan ballast dan dipandu oleh
kapal pemandu, maka perhitungannya adalah sebagai
berikut:
Panjang alur = 5 LOA
= 5 (137)
= 685 m
Perencanaan lebar alur masuk disesuaikan dengan tipe
alur one way channel atau double way channel. Dalam
perencanaan ini direncanakan tarsus ini akan menerima
kunjungan hingga 142 kapal/ tahun, sehingga alur ini
direncanakan dengan tipe one-way channel. Perhitungan
lebar alur ini serdasarkan rumus pada tabel 2.8.
Lebar alur = 6 x B
= 6 x 19.9 m
= 119.4 m ≈ 120 m
Untuk menetukan kedalaman alur masuk pelabuhan ini,
hal-hal yang harus diperhatikan adalah kecepatan kapal
mendekati pelabuhan untuk perairan terbuka dan dalam
keadaan ballast. Kedalaman minimum untuk kondisi
perairan pada tarsus ini berupa perairan terbuka, maka
kedalaman alur masuk ini adalah 1.2x draft . Sehingga
kedalaman alur masuk adalah :
Kedalaman = 1.2 x draft ballast
= 1.2 x 2.7 m
=4m≈4m
4.4.3 Kolam Putar (Turning Basin)
Kapal direncanakan dipandu dengan bantuan kapal
pandu, maka perhitungannya adalah sebagai berikut:
Diameter kolam = 3 x LOA
= 3 (137m)
87
= 411 m ≈ 415 m
Untuk kebutuhan kedalaman kolam putar, sebagai
berikut.
D = 1.1 x Draft ballast
= 1.1 x 2.7 m
= 3.1 m ≈ 4 m
4.5 Evaluasi Layout Perairan
Perencanaan layout perairan untuk Tersus Galangan
Kapal baik perencanaan dari masterplan maupun kajian
ulang peren-canaan layout perairan dapat disimpulkan di
hasil evaluasi layout pada Tabel 4. 1.
Tabel 4. 1 Hasil Evaluasi Layout Perairan
Fasilitas d
no Tinjauan
Perairan p
jumlah 4
Anchorage
1 radius 1
Area
kedalaman 5
Alur Lebar 1
Masuk Panjang 9
2
(Entrance
Channel) Kedalaman 4
kolam diameter 4
3 putar (turning
Basin) kedalaman 4
88
Halaman ini sengaja dikosongkan.
BAB V
PERENCANAAN REKLAMASI
5.1 Umum
Untuk pengadaan lahan guna mendukung kegiatan pada
Tersus Galangan Kapal, dilakukan reklamasi. Reklamasi
direncanakan total luas lahan reklamasi ± 7.035 Ha (ter-
masuk talud). Layout masterplan pengembangan tersus
dapat dilihat pada Gambar 5. 2.
5.2 Data perencanaan Reklamasi
5.2.1 Material Reklamasi
Material yang digunakan untuk reklamasi sesuai
spesifikasi yang telah dibahas dalam Sub bab 3.7.2. berupa
sirtu.
5.2.2 Elevasi dan Tinggi Rencana
Elevasi rencana timbunan berada pada +4 mLWS.
Kedalaman sea bed maksimum adalah -4 mLWS, maka
tinggi akhir timbunan yang direncanakan adalah 8 meter.
Sketsa timbunan reklamasi dapat dilihat pada Gambar 5. 1.
Gambar 5. 1 Sketsa Timbunan Reklamasi
89
Gambar 5. 2 Layout Pengembangan Tersus
Sumber: LPPM ITS, 2016
90
91
5.3 Perhitungan Besar Pemampatan (Settlement)
Penurunan tanah atau settlement terjadi akibat adanya
timbunan reklamasi perlu diperhitungkan agar tinggi
timbunan akhir sesuai dengan tinggi timbunan yang
direncanakan dan tidak berkurang akibat penurunan tanah
yang terjadi.
5.3.1 Penurunan Konsolidasi Primer (Primary Consolidation
Settlement)
Tegangan Overburden Efektif (σo)
Tegangan overburden efektif adalah tegangan vertikal
efetif dari tanah asli yang dapat dihitung sebagai berikut.
𝜎𝑜 = 𝛾 ′ − 𝑧
Dimana,
𝛾 = 𝛾sat − 𝛾air
𝑧 = tebal lapisan yang ditinjau
Untuk sketsa tebal lapisan tanah yang ditinjau untuk
perhitungan tegangan overburden efektif dapat dilihat pada
Gambar 5. 3.
Gambar 5. 3 Sketsa Tebal Lapisan untuk Perhitungan σo
92
Dengan tinggi timbunan reklamasi 4.0 m, maka σo dapat
dihitung sebagai berikut.
𝛾𝑠𝑎𝑡 = 1.69 𝑡/𝑚3
𝛾𝑙𝑎𝑢𝑡 = 1.03 𝑡/𝑚3
𝛾′ = 0.66 𝑡/𝑚3
𝜎𝑜1 = 𝛾 ′ 𝑥 𝑍1
= 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 0.5 𝑚
= 0.333 𝑡/𝑚2
𝜎𝑜2 = 𝛾 ′ 𝑥 𝑍2 + 𝛾 ′ 𝑥 ℎ1
= 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 0.5 𝑚 + 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 1 𝑚
= 0.998 𝑡/𝑚2
𝜎𝑜3 = 𝛾 ′ 𝑥 𝑍3 + 𝛾 ′ 𝑥 ℎ1 + 𝛾 ′ 𝑥 ℎ2
= 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 0.5 𝑚 + 2 (0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 1 𝑚)
= 1.663 𝑡/𝑚2
Distribusi Tegangan Akibat Beban Timbunan (Δσ)
Besarnya penambahan tegangan (∆σ) akibat adanya
beban timbunan pada muka tanah yang didistribusikan ke
lapisan tanah dapat dihitung dengan rumus 2. 21.
Tinggi timbunan yang tidak terendam air adalah 4 m dan
sketsa setengah geometri timbunan dapat dilihat pada
Gambar 5. 4, sehingga perhitungan distribusi tegangan
akibat beban timbunan sebagai berikut.
𝑞 = 𝐻𝑡𝑑𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑥 𝛾𝑡𝑖𝑚𝑏 + 𝐻𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑥 𝛾′𝑡𝑖𝑚𝑏
= 0 𝑚 𝑥 1.78 𝑡/𝑚3 + 4𝑚 𝑥 (1.80 − 1.03) 𝑡/𝑚3
2
= 7.12 𝑡/𝑚
228 𝑚 + 16 𝑚 228 𝑚
𝛼1 = 𝑡𝑎𝑛−1 ( ) − 𝑡𝑎𝑛 −1 ( ) (rad)
0.5 𝑚 16 𝑚
= 0.01°
228 𝑚
𝛼2 = 𝑡𝑎𝑛−1 ( ) (rad)
0.5 𝑚
= 89.9°
93
Gambar 5. 4 Sketsa Setengah Geometri Timbunan
10.42 228 + 16 228
∆𝜎 = [( ) (0.01 + 89.9) − ( ) (89.9)]
𝜋 16 16
= 3.56 𝑡/𝑚2
Penurunan Konsolidasi Primer (Sc)
Pada perencanaan tugas akhir ini menggunakan tanah
overkonsolidasi karena mengalami fluktuasi muka air akibat
pasang surut. Tinggi fluktuasi muka air ini sebesar 1.3 m.
Perhitungan penurunan untuk jenis tanah ini dibedakan
menjadi 2 tergantung dengan nilai σo+Δσ dan nilai σc’. Nilai
σc’ dapat dihitung menggunakan cara sebagai berikut.
𝜎𝑐′ = 𝜎𝑜 + 𝐻𝑓𝑙𝑢𝑘𝑡𝑢𝑎𝑠𝑖 𝑥 𝛾𝑙𝑎𝑢𝑡
= 0.333 𝑡/𝑚2 + 1.3 𝑚 𝑥 1.03 𝑡/𝑚3
= 1.67 𝑡/𝑚2
𝜎𝑜 + ∆𝜎 = 0.333 𝑡/𝑚2 + 3.56 𝑡/𝑚2
= 3.893 𝑡/𝑚2
Sehingga nilai σo+Δσ > σc’, nilai penurunan konsolidasi
primer dapat dicari menggunakan 2. 20.
𝐶𝑠 𝜎𝑐′ 𝐶𝑐 𝜎𝑜 + 2∆𝜎
𝑆𝑐 = [ 𝑙𝑜𝑔 + log ]𝑍
1 + 𝑒0 𝜎𝑜 1 + 𝑒0 𝜎′𝑐
0.051 1.67 0.354 0.333 + 3.893
=[ 𝑙𝑜𝑔 + log ]1
1 + 1.45 0.333 1 + 1.45 1.67
94
= 0.07 𝑚
Perhitungan penurunan konsolidasi primer ini dilakukan
untuk setiap lapis pada lapisan tanah lempung. Adapun
perhitungan penurunan ini di setiap lapisnya tersaji pada
Tabel 5. 1. Jumlah penurunan konsolidasi primer untuk
semua lapisan tanah lempung adalah sebesar 0.16 m.
Untuk perhitungan selanjutnya perlu dilakukan
perhitungan penurunan konsolidas primer untuk tinggi
timbunan 6m s/d 12m yang tersaji pada Tabel 5. 2 hingga
Tabel 5. 5.
5.3.2 Penurunan Segera (Immidiate Settlement)
Penurunan segera hanya akan terjadi pada lapisan
compressible soil. Lapisan compressible soil untuk tanah
kohesif adalah untuk tanah dengan N-SPT < 30, sedangkan
untuk tanah non kohesif akan mengalami pemampatan
hingga konsistensinya rapat hingga sangat rapat (N-SPT >
31). Sehingga dalam perencanaan ini lapisan tanah yang
ditinjau hingga kedalaman -15 m seperti pada Gambar 5. 1.
Untuk menghitung penurunan segera dari tanah yang
berlapis-lapis menggunakan persamaan 2. 17. Dimana
modulus oedometrik lapisan didapatkan menggunakan
korelasi dari modulus Young (Wahyudi, 1997). Berikut cara
mencari modulus oedomterik.
Modulus Young (E) = 2000 kN/m2
Koef. Poisson (μ) = 0.200
2𝜇 2
𝐸 = 𝐸 ′ (1 − )
1−𝜇
2 𝑥 0.22
2000 𝑘𝑁/𝑚2 = 𝐸 ′ (1 − )
1 − 0.2
2000 𝑘𝑁/𝑚2
𝐸′ = = 2222 𝑘𝑁/𝑚2
0.900
95
Tabel 5. 1 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan Htimb = 4m
tebal σo +
ϒsat σo σfluktuasi σc' b1 b2 α1 α2 Δσ Sc
lapisan z eo Cc Cs 2Δσ
3 2 2 2 2
(m) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (m) (m) (°) (°) (t/m ) (t/m2) m
1 0.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.333 1.33 1.67 226 16 0.01 89.9 3.560 3.8925 0.07
1 1.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.998 1.33 2.33 226 16 0.03 89.6 3.560 4.5575 0.05
1 2.5 1.69 1.45 0.354 0.051 1.663 1.33 2.995 226 16 0.04 89.4 3.560 5.2225 0.04
Sc total 0.16
Tabel 5. 2 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan Htimb = 6m
tebal σo +
ϒsat σo σfluktuasi σc' b1 b2 α1 α2 Δσ Sc
lapisan z eo Cc Cs Δσ
3 2 2 2 2
(m) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (m) (m) (°) (°) (t/m ) (t/m2) m
1 0.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.333 1.33 1.67 228 24 0.01 89.9 4.385 4.7175 0.08
1 1.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.998 1.33 2.33 228 24 0.04 89.6 4.385 5.3825 0.06
1 2.5 1.69 1.45 0.354 0.051 1.663 1.33 2.995 228 24 0.06 89.4 4.385 6.0475 0.05
Sc total 0.19
Tabel 5. 3 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan Htimb = 8m
tebal σo +
ϒsat σo σfluktuasi σc' b1 b2 α1 α2 Δσ Sc
lapisan z eo Cc Cs Δσ
3 2 2 2 2
(m) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (m) (m) (°) (°) (t/m ) (t/m2) m
1 0.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.333 1.33 1.67 228 24 0.01 89.9 5.210 5.5425 0.09
1 1.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.998 1.33 2.33 228 24 0.04 89.6 5.210 6.2075 0.07
1 2.5 1.69 1.45 0.354 0.051 1.663 1.33 2.995 228 24 0.06 89.4 5.210 6.8725 0.06
Sc total 0.22
Tabel 5. 4 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan Htimb = 10m
tebal lapisan ϒsat σo σfluktuasi σc' b1 b2 α1 α2 Δσ σo + Δσ Sc
z eo Cc Cs
(m) (t/m3) (t/m2) (t/m2) (t/m2) (m) (m) (°) (°) (t/m2) (t/m2) m
1 0.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.333 1.33 1.67 228 24 0.01 89.9 6.035 6.3675 0.10
1 1.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.998 1.33 2.33 228 24 0.04 89.6 6.035 7.0325 0.08
1 2.5 1.69 1.45 0.354 0.051 1.663 1.33 2.995 228 24 0.06 89.4 6.035 7.6975 0.06
Sc total 0.24
Tabel 5. 5 Perhitungan Penurunan Konsolidasi Primer dengan Htimb = 12m
tebal
ϒsat σo σfluktuasi σc' b1 b2 α1 α2 Δσ σo + Δσ Sc
lapisan z eo Cc Cs
(m) (t/m3) (t/m2) (t/m2) (t/m2) (m) (m) (°) (°) (t/m2) (t/m2) m
1 0.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.333 1.33 1.67 228 24 0.01 89.9 6.860 7.1925 0.11
1 1.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.998 1.33 2.33 228 24 0.04 89.6 6.860 7.8575 0.08
1 2.5 1.69 1.45 0.354 0.051 1.663 1.33 2.995 228 24 0.06 89.4 6.860 8.5225 0.07
Sc total 0.26
96
97
Maka, penurunan segera (Si) dapat dicari seperti berikut
dengan nilai q seperti yang sudah di bahas pada sub bab
5.3.1.
ℎ𝑖
𝑆𝑖 =
𝐸′𝑖
3𝑚
= 10.42 𝑡/𝑚2 𝑥
2222 𝑘𝑁/𝑚2
= 0.01 𝑚
Untuk perhitungan penurunan segera di setiap lapisnya
tersaji pada Tabel 5. 6. Jumlah penurunan segere yang terjadi
pada semua lapisan tanahnya adalah sebesar 0.01 m.
Untuk perhitungan selanjutnya perlu dilakukan pe-
nurunan segera untuk tinggi timbunan reklamasi 6m s/d 12
m seperti pada Tabel 5. 7 s/d Tabel 5. 10.
5.3.3 Penurunan Total (Stot)
Total penurunan akibat beban timbunan reklamasi pada
tanah dasar yang berlapis merupakan jumlah dari seluruh
penurunan yang terjadi pada setiap lapisannya. Penurunan
total yang terjadi dapat dihitung sebagai berikut.
𝑆𝑡𝑜𝑡 = 𝑆𝑐 + 𝑆𝑖
= 0.16 𝑚 + 0.01 𝑚 = 0.17 𝑚
Total penurunan segera yang terjadi akibat tinggi
timbunan 4 m s/d 12 m dapat dilihat pada Tabel 5. 11.
Tabel 5. 6 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 4m
hi z E' Si
lapisan ke- deskripsi tanah N-SPT E μ 1-(2μ/(1-μ)) hi/E'i
(m) (m) (kN/m2) (m)
1 lempung lunak 3 -3 2 2000 0.2 0.900 2222 0.00135 0.01
2 pasir lepas 2 -5 4 15000 0.3 0.743 20192 0.00010 0.00
3 pasir padat 10 -15 50 40000 0.35 0.623 64198 0.00016 0.00
Si total 0.01
Tabel 5. 7 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 6m
hi z E' Si
lapisan ke- deskripsi tanah N-SPT E μ 1-(2μ/(1-μ)) hi/E'i
(m) (m) (kN/m2) (m)
1 lempung lunak 3 -3 2 2000 0.2 0.900 2222 0.00135 0.01
2 pasir lepas 2 -5 4 15000 0.3 0.743 20192 0.00010 0.01
3 pasir padat 10 -15 50 40000 0.35 0.623 64198 0.00016 0.01
Si total 0.04
Tabel 5. 8 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 8m
hi z E' Si
lapisan ke- deskripsi tanah N-SPT E μ 1-(2μ/(1-μ)) hi/E'i
(m) (m) (kN/m2) (m)
1 lempung lunak 3 -3 2 2000 0.2 0.900 2222 0.00135 0.01
2 pasir lepas 2 -5 4 15000 0.3 0.743 20192 0.00010 0.01
3 pasir padat 10 -15 50 40000 0.35 0.623 64198 0.00016 0.01
Si total 0.04
98
99
Tabel 5. 9 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 10m
hi z E' Si
lapisan ke- deskripsi tanah N-SPT E μ 1-(2μ/(1-μ)) hi/E'i
(m) (m) (kN/m2) (m)
1 lempung lunak 3 -3 2 2000 0.2 0.900 2222 0.00135 0.02
2 pasir lepas 2 -5 4 15000 0.3 0.743 20192 0.00010 0.02
3 pasir padat 10 -15 50 40000 0.35 0.623 64198 0.00016 0.02
Si total 0.05
Tabel 5. 10 Perhitungan Penurunan Segera dengan Htimb = 12m
hi z E' Si
lapisan ke- deskripsi tanah N-SPT E μ 1-(2μ/(1-μ)) hi/E'i
(m) (m) (kN/m2) (m)
1 lempung lunak 3 -3 2 2000 0.2 0.900 2222 0.00135 0.02
2 pasir lepas 2 -5 4 15000 0.3 0.743 20192 0.00010 0.02
3 pasir padat 10 -15 50 40000 0.35 0.623 64198 0.00016 0.02
Si total 0.06
Tabel 5. 11 Total Penurunan yang Terjadi
Htimbunan qtimbunan Sc Si Stot
(m) (t/m2) (m) (m) (m)
4 7.12 0.16 0.01 0.17
6 8.77 0.19 0.03 0.22
8 10.42 0.22 0.04 0.25
10 12.07 0.24 0.04 0.28
12 13.72 0.26 0.05 0.31
100
5.3.4 Penurunan Akibat Timbunan Bertahap
Dalam pelaksanaan di lapangan, timbunan diletakkan
secara bertahap. Dalam perencanaan ini kecepatan
penimbunan adalah sebesesar 0.5 m/minggu. Sehingga
tahapan yang dibutuhkan untuk mencapai tinggi timbunan
setinggi 8.4 meter adalah sebagai berikut.
8.4 𝑚
𝑛= = 17 𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
0.5 𝑚/𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
Pemampatan akibat penimbunan bertahap sesuai dengan
perubahan tegangan akibat setiap tahap penimbunannya.
Perhitungan pemampatan tersebut adalah sebagai berikut
seperti berikut.
𝑍 = −0.5 𝑚
𝜎0 = 0.333 𝑡/𝑚2
𝜎𝑐 = 1.665 𝑡/𝑚2
𝜎1 = 0.745 𝑡/𝑚2
Dimana σ1 adalah perubahan tegangan akibat timbunan
tahap 1 dengan U=100%. Selain harga perubahan tegangan,
dibutuhkan parameter tanah sebagai berikut.
𝑒0 = 1.45
𝐶𝑐 = 0.35
𝐶𝑠 = 0.051
Karena nilai σ1 ≤ σc, maka besarnya pemampatan tanah
adalah sebagai berikut.
𝐻 𝜎1
𝑆𝑐 = [𝐶 log ( )]
1 + 𝑒0 𝑠 𝜎0
1𝑚 0.745 𝑡/𝑚2
= [0.051 log ( )]
1 + 1.45 1.665 𝑡/𝑚2
= 0.02 𝑚
101
Perubahan tegangan akibat penimbunan tahap 1 pada saat
z= -1.5 m adalah sebagai berikut.
𝑍 = −1.5 𝑚
𝜎0 = 0.998 𝑡/𝑚2
𝜎𝑐 = 2.330 𝑡/𝑚2
𝜎1 = 2.408 𝑡/𝑚2
Karena nilai σ1 ≥ σc, maka besarnya pemampatan tanah
adalah sebagai berikut.
𝐻 𝜎1
𝑆𝑐 = [𝐶𝑐 log ( )]
1 + 𝑒0 𝜎0
1𝑚 0.745 𝑡/𝑚2
= [0.35 log ( )]
1 + 1.45 1.665 𝑡/𝑚2
= 0.01 𝑚
Perubahan tegangan akibat penimbunan tahap 1 pada saat
z= -2.5 m adalah sebagai berikut.
𝑍 = −2.5 𝑚
𝜎0 = 1.663 𝑡/𝑚2
𝜎𝑐 = 2.995 𝑡/𝑚2
𝜎1 = 3.738 𝑡/𝑚2
Karena nilai σ1 ≥ σc, maka besarnya pemampatan tanah
adalah sebagai berikut.
𝐻 𝜎1
𝑆𝑐 = [𝐶𝑐 log ( )]
1 + 𝑒0 𝜎0
1𝑚 3.738 𝑡/𝑚2
= [0.35 log ( )]
1 + 1.45 1.663/𝑚2
= 0.02 𝑚
102
Maka pemampatan total akibat penimbunan tahap ke-1
adalah sebagai berikut.
𝑆𝑐 𝑡𝑜𝑡 = (0.019 + 0.010 + 0.019)𝑡/𝑚2
= 0.05 𝑚
Pemampatan yang terjadi sesuai dengan derajat
konsolidasi. Besarnya pemampatan perminggunya akibat
penimbunan tahap-1 adalah sebagai berikut.
Pada saat umur timbunan 1 minggu
𝑆𝑐 𝑘𝑢𝑚 = 0.12 𝑚
𝑈1 = 22.09%
𝑆𝑐1 = 0.05 𝑚 𝑥 0.1705
= 0.03 𝑚
Pada saat umur timbunan 2 minggu
𝑆𝑐 𝑘𝑢𝑚 = 0.20 𝑚
𝑈1 = 25.13%
𝑆𝑐1 = 0.0205 𝑚 𝑥 0.2525
= 0.03 𝑚
Pemampatan tanah akibat penimbunan bertahap setiap
minggunya dapat dilihat pada Gambar 5. 5.
103
0.000
-0.100
-0.200
-0.300
Sc (m)
-0.400
-0.500
-0.600
-0.700
-0.800
0 10 20 30 40
Umur Timbunan (minggu)
tahap 1 tahap 2 tahap 3 tahap 4
tahap 5 tahap 6 tahap 7 tahap 8
tahap 9 tahap 10 tahap 11 tahap 12
tahap 13 Tahap 14 Tahap 15 tahap 16
Gambar 5. 5 Grafik Pemampatan Tanah Akibat Timbunan Bertahap
5.4 Penentuan Tinggi Timbunan Awal
Untuk mencapai tinggi timbunan yang sesuai rencana,
diperlukan tinggi timbunan awal (Hinitial). Kemudian tinggi
timbunan awak akan mengalami penurunan, sehingga tinggi
timbunan yang terjadi (Hfinal) merupakan hasil pengurungan
dari tinggi timbunan awal dengan penurunan yang terjadi.
Adapun perhitungannya menggunakan persamaan 2. 22.
Dari perhitungan pada sub bab sebelumnya, didapatkan
nilai-nilai sebagai berikut.
q = 7.12 t/m2
Stot = 0.17 m
Hw = Htimb – 4 m = 0 m
ϒtimb = 1.78 t/m3
ϒ’timb = 0.83 t/m3
Sehingga,
104
7.12 t/m2 + [(0.17 + 0 )m x (1.78 − 0.83 ) t/m3]
𝐻𝑖𝑛𝑖𝑡𝑖𝑎𝑙 =
1.78 t/m3
= 4.1 𝑚
Tinggi timbunan awal akan mengalami penurunan
sebesar Stot, sehingga tinggi timbunan yang terjadi adalah
sebagai berikut.
𝐻𝑓𝑖𝑛𝑎𝑙 = 𝐻𝑖𝑛𝑖𝑡𝑖𝑎𝑙 − 𝑆𝑡𝑜𝑡
= 4.1 𝑚 − 0.28 𝑚
= 3.9 𝑚
Perlu dilakukan perhitungan tinggi awal timbunan dan
tinggi timbunan yang terjadi untuk tinggi timbunan 6 m s/d
12 m untuk perhitungan selanjutnya. Hasil perhitungan
tersaji pada Tabel 5. 12.
Tabel 5. 12 Perhitungan Hintial dan Hfinal
Htimbunan qtimbunan Sc Si Stot Hinitial Hfinal
(m) (t/m2) (m) (m) (m) (m) (m)
4 7.12 0.16 0.01 0.17 4.1 3.9
6 8.77 0.19 0.03 0.22 6.1 5.9
8 10.42 0.22 0.04 0.25 8.1 7.9
10 12.07 0.24 0.04 0.28 10.2 9.9
12 13.72 0.26 0.05 0.31 12.2 11.9
Dari perhitungan tabel diatas, dapat dibuat grafik antara
tinggi timbunan awal dengan tinggi timbunan yang terjadi
seperti pada Gambar 5. 6. Grafik tersebut menghasilkan
suatu persamaan garis lurus yang nantinya akan digunakan
untuk mencari tinggi timbunan awal.
105
H intial vs H final
15.0
10.0
H initial
(m)
y = 1.0172x + 0.1096
5.0
0.0
0.0 5.0 10.0 15.0
H final (m)
Gambar 5. 6 Grafik Hubungan Antara Hinitial dengan Hfinal
Sesuai dengan perencanaan, tinggi timbunan akhir (Hfinal)
yang dibutuhkan adalah sebesar 8 m, maka tinggi timbunan
awal dapat dicari menggunakan persamaan garis yang
dihasilkan dari grafik hubungan diatas.
𝐻𝑖𝑛𝑖𝑡𝑖𝑎𝑙 = 1.02 𝐻𝑓𝑖𝑛𝑎𝑙 + 0.11
= 1.02 𝑥 8 𝑚 − 0.11
= 8.26 𝑚 ≈ 8.3 𝑚
Untuk mencari penurunan yang terjadi menggunakan
grafik hubungan antara tinggi timbunan awal dengan
penurunan seperti pada Gambar 5. 7.
Sehingga nilai penurunan yang terjadi dapat dihitung
sebagai berikut.
𝑆𝑡𝑜𝑡 = −0.001 𝑥 2 + 0.0319𝑥 + 0.054
= −0.001 (8.4)2 + 0.0319 (8.4) + 0.054
= 0.25 𝑚 ≈ 0.3 𝑚
106
Hinitial vs Settlement
0.40
Settlement (m)
0.30
0.20 y = -0.0009x2 + 0.0319x + 0.0544
0.10
0.00
0.0 5.0 10.0 15.0
Hinitial (m)
Gambar 5. 7 Grafik Hubungan Hinitial dengan Settlement
5.5 Perhitungan Waktu Konsolidasi
Tanah lempung mempunyai sifat permeabilitas yang
kecil, sehingga kemampuan mengalirkan air relatif lambat.
Hal ini yang menyebabkan air yang terdesak keluar dari
lapisan tanah akibat penambahan beban timbunan
membutuhkan waktu yang relatif lama. Waktu pemampatan
yang dibutuhkan dapat dihitung menggunakan persamaan 2.
23.
Agar derajat konsolidasi (U) mencapai 80%, maka nilai
faktor waktu (Tv) adalah 0.567 (Das, 1993). Dari perhi-
tungan pada sub bab sebelumnya didapatkan data sebagai
berikut.
𝐶𝑣 = 0.0006 𝑐𝑚2 /𝑠
= 0.0363 𝑚2 /𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
1
𝐻𝑑𝑟 = 𝐻
2
1
= 3𝑚 = 1.5 𝑚
2
Maka waktu yang dibutuhkan untuk pemampatan dengan
derajat konsolidasi sebesar 80% adalah sebagai berikut.
107
0.567 (1.5 𝑚)2
𝑡=
0.0363 𝑚2 /𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
= 35 𝑚𝑖𝑛𝑔𝑔𝑢
Karena waktu yang dibutuhkan untuk pemampatan relatif
cepat, maka tidak diperlukan penggunaan PVD. Adapun
besar derajat konsolidasi berdasarkan waktu dapat dilihat
pada Tabel 5. 13.
5.7 Stabilitas Reklamasi
5.7.1 Stabilitas Terhadap Puncture Failure
Prinsipnya dapat dianalogikan dengan perhitungan daya
dukung pondasi dangkal di kondisi short term. Untuk
perhitungan safety factor (SF) dapat menggunakan
persamaan 2.30. Dari perencanaan diatas didapatkan data-
data sebagai berikut.
𝐶𝑢 = 12.5 𝐾𝑃𝑎
𝛾 = 1.1 𝑡/𝑚3
𝐻𝑡𝑖𝑚𝑏 = 8.4 𝑚
𝐵 = 226 𝑚
𝐵 226 𝑚
= = 75.33
𝐻 3𝑚
Dengan menggunakan grafik daya dukung (Nc) vs B/H
yang terdapat pada bab 2 (Gambar 5.8), maka didapatkan
nilai Nc sebesar 9. Nilai safety factor (SF) terhadap puncture
failure dapat dihitung sebagai berikut.
108
Tabel 5. 13 Derajat Konsolidasi Berdasarkan Waktu
t Tv U
(minggu) (%)
1 0.02 22.09
2 0.03 25.13
3 0.05 28.05
4 0.06 30.86
5 0.08 33.55
6 0.10 36.15
7 0.11 38.64
8 0.13 41.03
9 0.15 43.33
10 0.16 45.55
11 0.18 47.67
12 0.19 49.71
13 0.21 51.67
14 0.23 53.56
15 0.24 55.37
16 0.26 57.11
17 0.27 58.79
18 0.29 60.40
19 0.31 61.94
20 0.32 63.43
21 0.34 64.85
22 0.35 66.22
23 0.37 67.54
24 0.39 68.81
25 0.40 70.03
26 0.42 71.20
27 0.44 72.32
28 0.45 73.40
29 0.47 74.44
30 0.48 75.44
31 0.50 76.39
32 0.52 77.32
33 0.53 78.20
34 0.55 79.05
35 0.56 79.87
36 0.58 80.65
109
Gambar 5. 8 Grafik Daya Dukung
12.5 𝐾𝑃𝑎 𝑥 9
𝑆𝐹 = 1.1 𝑡/𝑚3 𝑥 8.4𝑚 = 12.7
Nilai SF yang terjadi lebih dari SF yang disyaratkan,
timbunan reklamasi aman terhadap puncture failure.
5.7.2 Stabilitas Terhadap Sliding
Kontrol sliding pada timbunan reklamasi perlu dilakukan
untuk mengetahui apakah timbunan reklamasi yang diren-
canakan tersebut sudah aman terhadap kemungkinan bahaya
longsor rotasional (sliding). Dalam pengecekan stabilitas ini
menggunakan media bantu plaxis. SF yang dihasilkan
setelah memodelkan timbunan menggunakan software
tersebut adalah sebesar 1.242. Hal ini menunjukan bahwa
timbunan reklamasi masih aman terhadap sliding karena
SF> SF yang disyaratkan yaitu 1.2. adapun hasil dari
program tersebut dapat dilihat pada gambar.
Gambar 5. 9 Sliding pada Timbunan Reklamasi
110
111
Gambar 5. 10 SF Terhadap Sliding
112
Halaman ini sengaja dikosongkan.
BAB VI
PERENCANAAN BREAKWATER
6.1 Umum
Breakwater yang digunakan dalam tugas akhir ini dipilih
breakwater tipe rubble mound karena mereduksi gelombang
yang datang. Berdasarkan masterplan, breakwater ini akan
dibangun diperairan dangkal dengan kedalaman maksimum
adalah -8 mLWS, sehingga tipe rouble mound dirasa efektif.
Material breakwater yang digunakan menggunakan tumpuk-
an batu kapur atau lime stone hasil peledakan lahan per-
bukitan disekitar lokasi Tersus dengan diameter dan berat
memenuhi syarat dan kualitas batu sesuai spesifikasi yang
dibutuhkan. Adapun material breakwater telah dibahas pada
sub-bab 3.7.2. Layout breakwater sesuai dengan Masterplan
Pengembangan Tersus dapat dilihat pada Gambar 5.2.
6.2 Difraksi Layout Masterplan
Tinggi gelombang pada laut dalam (Ho) yang telah
didapakan pada bab 3 akan mengalami refraksi hingga
kedalaman -8 mLWS. Pada kedalaman -8 mLWS,
gelombang bergerak melewati bangunan yang impermeable.
Hal ini menyebabkan gelombang akan terdifraksi. Di-
harapkan tinggi gelombang pada titik yang digunakan tidak
melebihi persyaratan yang telah ditentukan. Tinggi
gelombang untuk kapal dalam keadaan ballast yang di-
ijinkan adalah 0.5 m.
Dari perhitungan refraksi pada sub bab 3.6.4 didapatkan
data berikut.
𝑑 = 8𝑚
𝐻50 = 3.7 𝑚
𝑇 = 9𝑠
𝐿𝑜 = 89 𝑚
𝑑/𝐿0 = 0.054
𝑑/𝐿 = 0.08991 (𝑠𝑝𝑚, 1984)
𝐿 = 89 𝑚
113
114
Dari masterplan pengembangan Tersus, dengan
meninjau titik 1 didapatkan data seperti pada Gambar 6. 1.
Gambar 6. 1 Titik yang Ditinjau untuk Perhitungan Difraksi
𝐵 = 160 𝑚
𝑥 = 359 𝑚
𝑦 = 189 𝑚
Sehingga koefisien difraksi dapat diperoleh menggu-
nakan beberapa parameter sebagai berikut.
359 𝑚
𝑥/𝐿 = = 4.0
89 𝑚
189 𝑚
𝑦/𝐿 = = 2.1
89 𝑚
115
160 𝑚
𝐵/𝐿 = = 1.80
89 𝑚
Sehingga untuk mendapatkan koefisien difraksi meng-
gunakan grafik koefisien difraksi dengan B/L=1.78 seperti
pada Gambar 6. 2.
Gambar 6. 2 Diagram Difraksi dengan B/L=1.78
Sumber: SPM, 1984
Dari diagram diatas didapatkan koefisien difraksi, K’,
sebersar 0.1. Sehingga tinggi gelombang setelah difraksi
dapat dihitung sebagai berikut.
𝐻′1 = 𝐾 ′ 𝑥 𝐻50
𝐻′1 = 0.2 𝑥 3.7 𝑚 = 0.7 𝑚
Tinggi gelombang pada titik 1 yang telah terdifraksi
akibat adanya breakwater adalah 0.4 m, maka tinggi
116
gelombang pada titik 1 masih diijinkan. Untuk perhitungan
dengan meninjau titi 2 dan titik 3 tersaji pada Tabel 6. 1.
Tabel 6. 1 Tinggi Gelombang Setelah Difraksi
H50 T L x y x/L y/L K H
Titik
(m) (s) (m) (m) (m) (m)
1 3.7 10 89 333 162 3.7 1.8 0.2 0.7
2 3.7 10 89 218 277 2.5 3.1 0.2 0.7
3 3.7 10 89 66 349 0.7 3.9 0.2 0.7
6.3 Evaluasi Layout Breakwater Masterplan
Memperhatikan arah bangkitan gelombang sekaligus
besar frekuensi yang terjadi serta letak alur masuk kapal,
maka celah atau mulut breakwater rencana sudah tepat
berada pada arah utara dengan kondisi tinggi gelombang
refraksi yang rendah serta frakuensi kejadiannya yang paling
jarang dan seuai dengan alur masuk kapal menuju tersus
apabila dibandingkan dari arah bangkitan gelombang yang
lain yaitu arah barat laut dan timur laut. Kedalaman celah
atau mulut breakwater sudah berada pada kedalaman yang
cukup untuk kapal memasuki area tersus, sedangkan lebar
celah yang berkisar 160 meter sesuai dengan lebar celah
minimum yaitu 120 meter.
Gambar 6. 3 Layout Breakwater Masterplan dan Layout Turning Basin
117
Akan tetapi letak kepala breakwater terletak pada area
turning basin seperti pada Gambar 6. 3. Tinggi gelombang
pada titik yang ditunjau (Gambar 6. 1) berhasil tereduksi
dengan adanya breakwater dengan tinggi gelombang yang
masih diijinkan.
6.4 Perencanaan Layout Breakwater
Pada penentuan layout breakwater baru, mulut
breakwater tetap menghadap arah utara dimana frekuensi
dan tinggi gelombang kecil.
Pada breakwater sisi barat, lengan breakwater diper-
panjang sejauh 80 meter kemudian berbelok ke arah timur
untuk kepala breakwater sejauh 322 meter. Untuk
breakwater sisi timur, lengan breakwater diperpanjang
sejauh 100 meter kemudian berbelok ke arah barat laut
sepanjang 248 meter untuk kepala breakwater. Sehingga
menghasilkan celah antar breakwater sepanjang 155 meter
pada kedalaman -8.5 mLWS. Perpanjangan breakwater ini
dimaksudkan agar breakwater tidak mengenai turning basin
area. Penentuan layout breakwater baru dapat dilihat pada
Gambar 6. 4.
Perhitungan tinggi setelah difraksi dengan menggunakan
layout breakwater baru adalah sebagai berikut.
𝐵 = 139 𝑚
𝑥 = 494 𝑚
𝑦 = 286 𝑚
Sehingga koefisien difraksi dapat diperoleh menggu-
nakan beberapa parameter sebagai berikut.
494 𝑚
𝑥/𝐿 = = 5.5
89 𝑚
286 𝑚
𝑦/𝐿 = = 3.2
89 𝑚
𝐵 39 𝑚
= = 1.56
𝐿 89 𝑚
118
Gambar 6. 4 Layout Breakwater Baru
Sehingga untuk mendapatkan koefisien difraksi meng-
gunakan grafik koefisien difraksi dengan B/L=1.64 seperti
pada Gambar 6. 5.
Gambar 6. 5 Diagram Difraksi dengan B/L=1.64
119
Dari diagram diatas didapatkan koefisien difraksi, K’,
sebersar 0.1. Sehingga tinggi gelombang setelah difraksi
dapat dihitung sebagai berikut.
𝐻′1 = 𝐾 ′ 𝑥 𝐻50
𝐻′1 = 0.1 𝑥 3.7 𝑚 = 0.4 𝑚
Tinggi gelombang pada titik 1 yang telah terdifraksi
akibat adanya breakwater dengan layout baru adalah 0.4 m,
maka tinggi gelombang pada titik 1 masih diijinkan. Untuk
perhitungan dengan meninjau titik 2 dan titik 3 tersaji pada
Tabel 6. 2.
Tabel 6. 2 Tinggi Gelombang Setelah Difraksi pada Layout
Breakwater Baru
H50 T L x y x/L y/L K H
Titik
(m) (s) (m) (m) (m) (m)
1 3.7 10 89 492 286 5.5 3.2 0.1 0.4
2 3.7 4 89 353 374 4.0 4.2 0.2 0.7
3 3.7 4 89 201 446 2.3 5.0 0.1 0.4
6.5 Perencanaan Cross Section Breakwater
6.5.1 Berat Unit Amour
Pada perencanaan breakwater ini, lapis pelindung
breakwater menggunakan limestone yang merupakan hasil
peledakan lahan perbukitan di daerah sekitar tersus. Adapun
berat jenis dari limestone (Wr) adalah 2.5 t/m3, (The Rock
Manual, 2007). Berat unit armour yang akan dihitung pada
primary layer, secondary layer, core layer, dan berm.
Terdapat dua berat batuan yang akan mengisi core layer.
120
Gambar 6. 6 Titik Layout Breakwater Baru yang Ditinjau Untuk
Perhitungan Difraksi
Untuk menghitung berat unit armour untuk primary layer
dapat menggunakan persamaan 2.36 dengan mencari nilai
Sr terlebih dahulu sebagai berikut.
𝑊𝑟
𝑆𝑟 =
𝑊𝑤
2.5 𝑇/𝑚3
= = 2.43
1.03 𝑇/𝑚3
Kemiringan lereng breakwater direncanakan 1:2, sehingga
sudut kemiringan breakwater (ϴ) adalah 26.57°. Selain itu
koefisien stabilitas material tergantung pada fisik material
(Kd) juga mempengaruhi berat unit armouruntuk struktur
pada kepala breakwater maupun pada lengan breakwater.
Kd dapat dilihat pada Tabel 6. 3.
121
Sehingga berat unit armour pada struktur kepala breawater
adalah sebagai berikut.
2.5 𝑡/𝑚3 𝑥 (3.7 𝑚)3
𝑊=
2.8 𝑥 cot 26.57° 𝑥 (2.43 − 1)3
= 7.66 𝑡𝑜𝑛
Sedangkan pada lengan breakwater, berdasarkan Tabel 6. 3
nilai Kd didapatkan sebesar 4.0. Maka berat unit Armour
yang dibutuhkan untuk struktur lengan Breakwater adalah
sebagai berikut
2.5 𝑡/𝑚3 𝑥 (3.7 𝑚)3
𝑊=
4.0 𝑥 cot 26.57° 𝑥 (2.43 − 1)3
= 5.36 𝑡𝑜𝑛
Tabel 6. 3 Nilai Kd dari Berbagai Jenis Armour Unit
Sumber: SPM, 1984
122
Berat unit armour untuk setiap lapisan baik pada struktur
kepala breakwater maupun pada struktur lengan breawater
dapat dilihat pada Tabel 6. 4.
Tabel 6. 4 Berat Unit Armour pada Setiap Lapisan Breakwater
Berat (ton)
Lapisan Breakwater
Head Structure Trunk Structure
Primary Layer W 7.66 5.36
Secondary Layer W/10 0.77 0.54
W/200 0.038 0.027
Core Layer
W/4000 0.002 0.001
Berm W/10 0.77 0.54
6.5.2 Tebal Lapisan
Tebal lapisan pada setiap lapisan armour dapat dihitung
menggunakan persamaan 2.37.
Dengan jumlah lapis batu dalam lapisan (n) dan koefisien
lapis (kΔ) didapatkan dari Tabel 6. 5.
Tabel 6. 5 Nilai n dan kΔ dari Berbagai Jenis Armour
Sumber: SPM, 1984
123
Sehingga tebal primary layer adalah sebagai berikut.
7.66 𝑡𝑜𝑛 1/3
𝑡 = 2 𝑥 1.0 𝑥 ( )
2.5 𝑡/𝑚3
= 2.9 𝑚
Tebal setiap lapisan armour layer tersaji pada Tabel 6. 6.
Tabel 6. 6 Tebal Lapisan Armour Layer Breakwater
tebal (m)
Lapisan Breakwater
Head Structure Trunk Structure
Primary Layer 2.9 2.6
Secondary Layer 1.4 1.2
Berm 1.4 1.2
6.5.3 Lebar Puncak Breakwater
Lebar puncak minimum adalah sama dengan lebar dari
tiga butir batu pelindung yang disusun berdampingan. Selain
itu lebar puncak juga harus menyesuaikan keperluan operasi
peralatan pada waktu pelaksanaan dan perawatan. Adapun
lebar puncak breakwater menggunakan persamaan 2.35.
Dimana nilai n yang digunakan adalah 3, serta nilai kΔ
sesuai pada Tabel 6. 5. Sehingga lebar puncak breakwater
pada struktur kepala breakwater adalah sebagai berikut.
7.66 𝑡𝑜𝑛 1/3
B = 3 𝑥 1.0𝑥 ( )
2.5 𝑡/𝑚3
= 4.36 𝑚 ≈ 4.4 𝑚
Lebar puncak pada struktur lengan breakwater adalah
sebagai berikut.
7.66 𝑡𝑜𝑛 1/3
B = 3 𝑥 1.0𝑥 ( )
2.5 𝑡/𝑚3
= 3.40 𝑚
Dalam pelaksanaannya direncanakan menggunakan
dump truck dan alat – alat berat melalui daratan ke arah
lautan, sehingga lebar puncak breakwater disesuaikan
dengan kebutuhan operasional pelaksanaan sebesar 7.0
124
meter untuk struktur kepala breakwater dan 6.1 meter untuk
struktur lengan breakwater.
6.6 Elevasi Puncak Breakwater
6.6.1 Transmisi Gelombang
Penentuan elevasi puncak breakwater berdasarkan boleh
tidaknya terjadi limpasan (overtopping). Dalam perencanaan
ini nonovertopping breakwater dihindari, sehingga perlu
diperhitungkan transmisi gelombang. Direncanakan tinggi
puncak breakwater, Zc > ¾ H, sehingga tinggi transmisi
gelombang adalah sebagai berikut.
𝐻50 = 3.7 𝑚
𝐻𝑡 = 0.5 𝑥 𝐻50
= 0.5 𝑥 3.7 𝑚
= 1.85 𝑚 ≈ 2 𝑚
6.6.2 Settlement
Breakwater memiliki beban yang sangat besar, sehingga
tanah dasar akan mengalami settlement. Besarnya settlement
diasumsikan sebesar 1 meter.
6.6.3 Beda Pasang Surut
Besarnya beda pasang surut telah dibahas pada bab 3
yaitu sebesar 1.3 meter.
6.6.4 Elevasi Puncak
Breakwater yang direncanakan akan mengalami
penurunan pada tanah dasarnya (settlement) akibat beban
breakwater yang besar. Besarnya settlement diasumsikan
sebesar 1meter. Selain dari settlement, elevasi puncak
breakwater memperhitungkan besarnya beda pasang surut
air laut dan wave run up yang telah dibahas pada bab dan
sub bab sebelumnya. Sehingga elevasi breakwater adalah
sebagai berikut.
𝑏𝑒𝑑𝑎 𝑝𝑎𝑠𝑢𝑡 = 1.3 𝑚
𝑡𝑟𝑎𝑛𝑠𝑚𝑖𝑠𝑖 𝑔𝑒𝑙𝑜𝑚𝑏𝑎𝑛𝑔 = 2.0 𝑚
125
𝑠𝑒𝑡𝑡𝑙𝑒𝑚𝑒𝑛𝑡 = 1.0 𝑚
𝑒𝑙𝑒𝑣𝑎𝑠𝑖 𝑝𝑢𝑛𝑐𝑎𝑘 = 1.3 𝑚 + 2.0 𝑚 + 1.0 𝑚
= 4.3 𝑚 ≈ 4.5 𝑚
6.7 Stabilitas Breakwater
6.7.1 Settlement
Settlement yang akan dihitung dalam laporan ini berada
pada kedalaman -8 mLWS serta elevasi yang akan dicapai
adalah +5 mLWS, maka tinggi timbunan breakwater adalah
sebesar 11 meter. Perhitungan settlement yang terjadi pada
breakwater sama seperti perhitungan settlement pada
timbunan reklamasi dengan menggunakan material
breakwater seperti pada sub-bab 3.7.2, sehingga perhitungan
settlement yang terjadi adalah sebagai berikut.
a. Primary Consolidation Settlement
Untuk tinggi timbunan sebesar 11 meter dengan
timbunan berada pada kedalaman -8 mLWS, besar tegangan
overburden tanah yang ditinjau seperti pada gambar 5.2
sebagai berikut.
𝛾𝑠𝑎𝑡 = 1.69 𝑡/𝑚3
𝛾𝑙𝑎𝑢𝑡 = 1.03 𝑡/𝑚3
𝛾′ = 0.66 𝑡/𝑚3
𝜎𝑜1 = 𝛾 ′ 𝑥 𝑍1
= 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 0.5 𝑚
= 0.333 𝑡/𝑚2
𝜎𝑜2 = 𝛾 ′ 𝑥 𝑍2 + 𝛾 ′ 𝑥 ℎ1
= 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 0.5 𝑚 + 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 1 𝑚
= 0.998 𝑡/𝑚2
𝜎𝑜3 = 𝛾 ′ 𝑥 𝑍3 + 𝛾 ′ 𝑥 ℎ1 + 𝛾 ′ 𝑥 ℎ2
= 0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 0.5 𝑚 + 2 (0.66 𝑡/𝑚3 𝑥 1 𝑚)
= 1.663 𝑡/𝑚2
126
Besarnya penambahan tegangan (∆σ) akibat adanya
beban timbunan pada muka tanah yang didistribusikan ke
lapisan tanah dengan menggunakan parameter-parameter
sebagai berikut.
𝑞 = 𝐻𝑡𝑑𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑥 𝛾𝑡𝑖𝑚𝑏 + 𝐻𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑥 𝛾′𝑡𝑖𝑚𝑏
= (13 − 8) 𝑚 𝑥 2.5 𝑡/𝑚3 + 8 𝑚 𝑥 (2.5 − 1.03) 𝑡/𝑚3
= 24.3 𝑡/𝑚2
7.0 𝑚 + 17.5 𝑚 7.0 𝑚
𝛼1 = 𝑡𝑎𝑛−1 ( ) − 𝑡𝑎𝑛−1 ( ) (rad)
17.5 𝑚 0.5 𝑚
= 2.92°
7.0 𝑚
𝛼2 = 𝑡𝑎𝑛−1 ( ) (rad)
0.5 𝑚
= 85.9°
Sehingga besarnya penambahan tegangan total (2∆σ)
adalah sebagai berikut.
24.3 7.0 + 17.5 7.0
∆𝜎 = [( ) (2.92 + 85.9) − ( ) (85.9)]
𝜋 17.5 17.5
2
= 12.15 𝑡/𝑚
2∆𝜎 = 2 𝑥 12.150 𝑡/𝑚2
= 24.30 𝑡/𝑚2
Untuk mengihitung primary consolidation settlement
perlu dihitung nilai σo+Δσ dan σc’ terlebih dahulu.
𝜎𝑐′ = 𝜎𝑜 + 𝐻𝑓𝑙𝑢𝑘𝑡𝑢𝑎𝑠𝑖 𝑥 𝛾𝑙𝑎𝑢𝑡
= 0.333 𝑡/𝑚2 + 1.3 𝑚 𝑥 1.03 𝑡/𝑚3
= 1.67 𝑡/𝑚2
𝜎𝑜 + 2∆𝜎 = 0.333 𝑡/𝑚2 + 24.30 𝑡/𝑚2
= 24.63 𝑡/𝑚2
127
𝐶𝑠 𝜎𝑐′ 𝐶𝑐 𝜎𝑜 + 2∆𝜎
𝑆𝑐 = [ 𝑙𝑜𝑔 + log ]𝑍
1 + 𝑒0 𝜎𝑜 1 + 𝑒0 𝜎′𝑐
0.051 1.67 0.354 0.333 + 24.631
=[ 𝑙𝑜𝑔 + log ]1
1 + 1.45 0.333 1 + 1.45 1.67
= 0.18 𝑚
Perhitungan penurunan konsolidasi primer ini dilakukan
untuk setiap lapis pada lapisan tanah lempung. Adapun
perhitungan penurunan ini di setiap lapisnya tersaji pada
Tabel 6. 7. Jumlah penurunan konsolidasi primer untuk
semua lapisan tanah lempung adalah sebesar 0.48 m.
b. Immidiate Settlement
Besar immidiate settlement dengan timbunan setinggi 8
meter pada kedaman -8 mLWS untuk lapisan tanah
berlempung adalah sebagai berikut dengan lapisan tanah
yang ditinjau seperti pada gambar 5.4.
2𝜇 2
𝐸 = 𝐸 ′ (1 − )
1−𝜇
2 𝑥 0.22
2000 𝑘𝑁/𝑚2 = 𝐸 ′ (1 − )
1 − 0.2
2000 𝑘𝑁/𝑚2
𝐸′ = = 2222 𝑘𝑁/𝑚2
0.900
ℎ𝑖
𝑆𝑖 = 𝑞 𝑥
𝐸′𝑖
3𝑚
= 10.42 𝑡/𝑚2 𝑥
2222 𝑘𝑁/𝑚2
= 0.02 𝑚
Untuk perhitungan penurunan segera di setiap lapisnya
tersaji pada Tabel 6. 8. Jumlah penurunan segera yang terjadi
pada semua lapisan tanahnya adalah sebesar 0.03 m.
128
c. Settlement total
Total penurunan akibat beban timbunan reklamasi pada
tanah dasar yang berlapis merupakan jumlah dari seluruh
penurunan yang terjadi pada setiap lapisannya. Sehingga
settlement total yang terjadi untuk tinggi timbunan
breakwater adalah sebagai berikut.
𝑆 = 𝑆𝑐 + 𝑆𝑖
= 0.48 𝑚 + 0.03
= 0.51 𝑚
Perhitungan total settlement tersebut menunjukkan
bahwa besar total settlement yang terjadi masih dibawah
asumsi settlement yang digunakan dalam perencanaan
penampang breakwater sebelumnya yaitu 1 m. Maka
breakwater yang direncanakan sudah mampu meng-
antisipasi besar settlement yang terjadi.
Tabel 6. 7 perhitungan Primary Conssolidation Setttlement Breakwater
σo +
H ϒsat σo σfluktuasi σc' b1 b2 α1 α2 Δσ 2Δσ Sc
z eo Cc Cs 2Δσ
3 2 2 2 2 2
(m) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (t/m ) (m) (m) (°) (°) (t/m ) (t/m ) (t/m2) m
1 0.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.333 1.33 1.67 4.4 26 5.54 83.5 12.149 24.299 24.6313 0.18
1 1.5 1.69 1.45 0.354 0.051 0.998 1.33 2.33 4.4 26 16 71.2 12.134 24.268 25.2659 0.16
1 2.5 1.69 1.45 0.354 0.051 1.663 1.33 2.995 4.4 26 24.9 60.4 12.084 24.169 25.8310 0.14
Sc total 0.48
Tabel 6. 8 Perhitungan Immidiate Settlement Breakwater
lapisan hi z 1-(2μ/(1- E' Si
deskripsi tanah N-SPT E μ hi/E'i
ke- (m) (m) μ)) (kN/m2) (m)
1 lempung lunak 2.5 -2.5 2 2000 0.2 0.900 2222 0.00113 0.03
2 pasir lepas 2.5 -5 4 15000 0.3 0.743 20192 0.00012 0.00
3 pasir padat 10 -15 50 40000 0.35 0.623 64198 0.00016 0.00
jumlah 0.03
129
130
6.7.2 Puncture Failure
Kontrol terhadap puncture failure ini bertujuan untuk
mengetahui apakah tanah dibawah timbunan akan ambles
apabila dibebani. Analisa stabilitas ini hanya dilakukan pada
kondisi yang paling kritis, sehingga dalam perhitungan tanah
di bawah breakwater ini hanya memperhatikan pada lapisan
tanah lempung.
Berikut data- data dari perencanaan breakwater.
𝑙𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑏𝑟𝑒𝑎𝑘𝑤𝑎𝑡𝑒𝑟, 𝐵 = 7.0 𝑚
𝑡𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑙𝑎𝑝. 𝑙𝑒𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔, 𝐻 = 3 𝑚
7.0 𝑚
𝐵/𝐻 =
3𝑚
= 2.33
Maka nilai qmax dari timbunan breakwater dapat dihitung
dengan mencari nilai nc menggunakan grafik pada Gambar
6. 1 Grafik B/H vs Nc berikut.
Gambar 6. 1 Grafik B/H vs Nc
131
𝑁𝑐 = 5.5
𝑞𝑚𝑎𝑥 = 𝐶𝑢 𝑥 𝑁𝑐
= 12.5 𝑡/𝑚2 𝑥 5.5
= 68.75 𝑡/𝑚2
𝑞 = 𝐻𝑡𝑑𝑘 𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑥 𝛾𝑡𝑖𝑚𝑏 + 𝐻𝑡𝑒𝑟𝑒𝑛𝑑𝑎𝑚 𝑥 𝛾′𝑡𝑖𝑚𝑏
= (13 − 8) 𝑚 𝑥 2.5 𝑡/𝑚3 + 8 𝑚 𝑥 (2.5 − 1.03) 𝑡/𝑚3
= 24.3 𝑡/𝑚2
Maka SF dari timbunan breakwater adalah sebagai
berikut.
𝑞𝑚𝑎𝑥
𝑆𝐹 =
𝑞
68.75 𝑡/𝑚2
=
24.3 𝑡/𝑚2
= 2.83
Perhitungan stabilitas breakwater terhadap puncture
failure menunjukkan bahwa safety factor yang dihasilkan
aman karena SF > SFmin yaitu 1,2.
6.7.3 Sliding
Kontrol sliding pada struktur breakwater perlu dilakukan
untuk mengetahui apakah struktur breakwater yang
direncanakan tersebut sudah aman terhadap kemungkinan
bahaya longsor (sliding) atau sebaliknya. Perhitungan
stabilitas terhadap sliding ini menggunakan media bantu
program plaxis. Program ini akan menghasilkan angka
keamanan tertentu berdasarkan data yang dimasukkan.
Dalam perhitungan stabilitas, struktur head breakwater (-
8 mLWS) ditinjau terhadap sliding. Parameter yang digu-
nakan adalah pada kondisi undrained. Hal ini digunakan
karena kondisi ini memiliki kemungkinan paling kritis.
Dengan kemiringan slope breakwater adalah 1:1.5 didapat-
kan nilai SF adalah 3.09 (SF> SFmin). Maka struktur
breakwater tersebut aman terhadap sliding. Hasil output
132
perhitungan dan analisa kelongsoran dapat dilihat pada
Gambar 6. 2 s/d Gambar 6. 3.
Gambar 6. 2 Output Perhitungan Menggunakan Plaxis
Gambar 6. 3 Analisa Sliding Menggunakan Plaxis
133
134
Halaman ini sengaja dikosongkan.
BAB VII
METODE PELAKASANAAN DAN RENCANA
ANGGARAN BIAYA
7.1 Umum
Dalam bab ini akan direncanakan metode pelaksanaan
dan membahas rincian biaya yang diperlukan untuk peren-
canaan reklamasi dan struktur breakwater.
7.2. Pekerjaan Persiapan
Pekerjaan persiapan atau pekerjaan prakonstruksi
merupakan tahapan pekerjaan untuk mempersiapkan segala
kebutuhan baik di wilayah darat maupun di wilayah laut
sebelum memulai pekerjaan struktur. Secara detail
pekerjaan yang dilakukan dalam masa prakonstruksi ini
adalah sebagai berikut:
Pembersihan lahan
Mobilisasi dan demobilisasi
Pemasangan bowplank
Pengadaan direksi kit
7.3 Pelaksanaan Reklamasi
Dalam perencanaan ini material reklamasi akan dituang
dari areal darat ke arah laut. Adapun pelaaksanaan rekla-
masi terdiri dari beberapa langkah sebagai berikut.
7.3.1 Pemasangan Tanggul Reklamasi
Pekerjaan tanggul reklamasi ini berfungsi sebagai peri-
meter penahan material reklamasi agar tidak keluar. Tanggul
ini menggunakan sandbag yaitu berupa karung PVC yang
kemudian diisi dengan pasir dengan menggunakan mesin
hingga terisi sesuai berat yang dibutuhkan yaitu 10 kg. Sand
bag akan dipasang sepanjang perairan mengelilingi areal
tepi reklamasi hingga elevasi rencana yaitu +4.00 mLWS
dengan kemiringan 1:2, seperti pada Gambar 5.1.
Pemasangan sandbag menggunakan back hoe dari sisi darat.
135
136
7.3.2 Pemasangan Instrument Soil Monitoring
Pemasangan Instrument Soil Monitoring perlu dilakukan
guna mengetahui volume, settlement, dan sliding yang
terjadi. Alat-alat soil monitoring akan dipasang selama
reklamasi. Adapun alat-alat yang digunakan adalah sebagai
berikut.
Settlement plate
Merupakan pelat dengan pipa paralon yang diletakkan
diatas muka tanah asli. Alat ini berfungsi untuk melihat
besarnya penurunan tanah asli. Alat ini dipasang setiap
luasan 50 x 50 meter hingga 300 x 300 meter.
Inclinometer
Alat ini berfungsi untuk mengetahui pergerakan
horizontal tanah dan memprediksi kelongsoran. Alat ini
dibenamkan dari muka tanah asli hingga lapisan tanah yang
relatif keras.
Piezometer
Alat ini berfungsi untuk mengetahui tekanan tanah air,
tegangan air pori, dan memprediksi keruntuhan. Alat ini
dipasang setiap luasan 200 x 200 meter hingga 400 x 400
meter pada lapisan compressible soil.
7.3.3 Pekerjaan Timbunan Reklamasi
Timbunan reklamasi dilakukan sesuai dengan gambar
rencana. Pengurugan lahan reklamasi dilakukan dari darat.
Material reklamasi yang berasal dari darat dibawa meng-
gunakan dump truck kemudian dituangkan ke area reklamasi
ke arah laut. Hal ini dilakukan hingga mencapai elevasi +3.0
mLWS. Nantinya air yang berada di area reklamasi akan
menjadi keruh, air tersebut akan keluar area reklamasi
karena terdesak oleh timbunan reklamasi sedangkan mate-
rial yang tidak tersuspensi akan mengendap. Pengurugan
dilakukan kembali hingga elevasi +4.0 mLWS dengan
menggunakan pemadatan. Pemadatan ini meng-gunakan
137
pneumatic tyred roller yang sebelumnya dilakukan perataan
muka tanah timbunan menggunakan buldozer. Pemadatan
dilakukan hingga mencapai nilai CBR yang disayaratkan.
7.4 Pelakasanaan Breakwater
7.4.1 Core layer
Material core layer ini dibawa menggunakan dump truck
melalui sisi darat selanjutnya ditumpahkan oleh dump truk
ke arah laut hingga mencapai elevasi rencana seperti pada
Gambar 7. 1. Perapian lapisan ini dikerjakan dengan
menggunakan bulldozer.
Gambar 7. 1 Penimbunan Material Core Layer dengan
Menggunakan Dump Truck
7.4.2 Toe Berm
Pemasangan toe berm dilakukakn setelah pemasangan
core layer menggunakan dump truck dan dirapikan
menggunakan buldozer. Pekerjaan ini dilakukan untuk
memenuhi kedalaman bawah dari primary layer yaitu -2H.
7.4.3 Secondary Layer
Pemasangan secondary layer dilaksanakan melalui jalur
darat menggunakan excavator. Material dibawa meng-
gunakan dump truck kemudian di tuangkan ke areal kerja
bagian lereng. Untuk pemasangan secondary layer bagian
puncak, dikerjakan setelah primary layer bagian lereng
138
sudah selesai. Kemudian bagian puncak dirapikan
menggunakan excavator seperti pada gambar dan dibantu
olek crane.
Gambar 7. 2 Perapian Puncak Secondary Layer
7.4.4 Primary Layer
Hampir sama dengan pemasangan secondary layer yaitu
menggunakan metode pelaksanaan dari darat. Material di-
bawa menggunakan dump truck kemudian ambil meng-
gunakan crane kemudian diletakkan di lereng breakwater.
Setelah lereng breakwater mencapai elevasi yang diten-
tukan, dilanjutkan dengan memasang unit armor pada
puncak breakwater. Perapian unit armor menggunakan
crane.
7.5 Rencana Anggaran Biaya
7.5.1 Harga Material, Upah Pekerja, dan Sewa Alat
Harga material dan upah diambil dari Peraturan Bupati
Lamongan no 40 tahun 2016. Adapun rinciannya tersaji
pada Tabel 7. 1 s/d Tabel 7. 3.
139
Tabel 7. 1 Daftar Harga Material
No Jenis Peralatan Satuan Harga Lamongan 2018
1 batu armor 100-150 kg/unit m3 Rp 407,000.00
2 batu armor 10-15 kg/unit m3 Rp 313,000.00
3 batu belah 15/20 m3 Rp 212,000.00
4 bambu batang Rp 20,000.00
5 papan (3 x 30 cm) m3 Rp 6,090,000.00
6 Sirtu m3 Rp 215,000.00
Tabel 7. 2 Daftar Harga Sewa Alat
No Jenis Peralatan Satuan Harga Lamongan 2018
1 Buldozer Jam Rp 254,000.00
2 Dump Truck Jam Rp 250,000.00
3 Excavator Jam Rp 388,000.00
4 Vibrator Roller Jam Rp 731,000.00
5 Crane Jam Rp 782,000.00
6 Tanki Air Hari Rp 375,000.00
7 Alat Bantu Timbunan Ls Rp 23,000.00
Tabel 7. 3 Daftar Upah Tenaga Kerja
No Jenis Peralatan Satuan Harga Lamongan 2018
1 Mandor OH Rp 95,000.00
2 Kepala Tukang OH Rp 90,000.00
3 Tukang OH Rp 85,000.00
4 Pembantu Tukang OH Rp 54,000.00
5 Operator Alat Berat OH Rp 108,000.00
6 Pembantu Operator OH Rp 54,000.00
7 Pekerja OH Rp 70,000.00
8 Juru Ukur OH Rp 82,000.00
9 Sopir OH Rp 85,000.00
140
7.5.2 Analisa Harga Satuan
Analisa harga satuan pekerjaan reklamasi dan breakwater
tersaji pada Tabel 7. 4 berikut.
Tabel 7. 4 Analisa Harga Satuan
No Uraian Sat Koef Harga satuan Jumlah
Urugan Reklamasi
1 m3
tanpa Pemadatan
Bahan:
Sirtu m3 1.200 Rp 215,000 Rp 258,000
Upah:
mandor OH 0.020 Rp 95,000 Rp 1,900
pekerja OH 0.240 Rp 70,000 Rp 16,800
alat:
excavator jam 0.005 Rp 254,000 Rp 1,270
Jumlah Rp 277,970
Urugan Reklamasi
2 m3
dengan Pemadatan
Bahan:
Sirtu m3 1.200 Rp 215,000 Rp 258,000
Upah:
mandor OH 0.020 Rp 95,000 Rp 1,900
pekerja OH 0.240 Rp 70,000 Rp 16,800
alat:
Rp
jam 0.005
excavator 388,000 Rp 1,940
Rp
jam 0.001
buldozer 254,000 Rp 159
Rp
jam 0.003
vibrator roller 731,000 Rp 2,284
Jumlah Rp 281,083
141
Tabel 7. 4 Analisa Harga Satuan (lanjutan)
3 core layer m3
Bahan:
batu belah 15/20 m3 1.000 Rp 212,000 Rp 212,000
Alat:
excavator jam 0.026 Rp 388,000 Rp 10,088
dump truck jam 0.150 Rp 250,000 Rp 37,500
Upah:
Mandor OH 0.075 Rp 95,000 Rp 7,125
operator alat berat OH 0.029 Rp 108,000 Rp 3,132
pembantu operator OH 0.043 Rp 54,000 Rp 2,322
sopir OH 1.500 Rp 85,000 Rp 127,500
Jumlah Rp 399,667
4 Secondary Layer m3
Bahan:
batu armor m3 1.000 Rp 313,000 Rp 313,000
Alat:
excavator jam 0.026 Rp 388,000 Rp 10,088
dumptruck jam 0.150 Rp 250,000 Rp 37,500
crane jam 0.256 Rp 782,000 Rp 200,192
Upah:
Mandor OH 0.050 Rp 95,000 Rp 4,750
operator alat berat OH 0.040 Rp 108,000 Rp 4,320
sopir OH 0.500 Rp 85,000 Rp 42,500
Jumlah Rp 612,350
5 Primary Layer m3
Bahan:
batu armor m3 1.200 Rp 407,000 Rp 488,400
Alat:
excavator jam 0.026 Rp 388,000 Rp 10,088
buldozer jam 0.003 Rp 254,000 Rp 826
dumptruck jam 0.150 Rp 250,000 Rp 37,500
crane jam 0.256 Rp 782,000 Rp 200,192
Upah:
mandor OH 0.050 Rp 95,000 Rp 4,750
operator alat berat OH 0.040 Rp 108,000 Rp 4,320
sopir OH 0.500 Rp 85,000 Rp 42,500
Jumlah Rp 788,576
142
7.5.3 Rencana Anggaran Biaya
Rencana anggaran biaya dalam perencanaan terdiri dari
beberapa pekerjaan, meliputi:
Pekerjaan persiapan
Pekerjaan reklamasi
Pekerjaan breakwater
Rincian anggaran biaya pekerjaan persiapan disajikan
dalam Tabel 7. 5.
Tabel 7. 5 Rencana Anggaran Biaya
Satua
No.
Uraian Volume n Harga Satuan Jumlah
IPekerjaan persiapan
1Pembersihan lapangan 1 Ls Rp 15,000,000 Rp 15,000,000
2Pemasangan bowplank 1 Ls Rp 25,000,000 Rp 25,000,000
Mobilisasi dan
3 demobilisasi 1 Ls Rp 78,372,900 Rp 78,372,900
4 Pengadaan Direksi keet 1 Ls Rp 26,245,800 Rp 26,245,800
Jumlah Rp 144,618,700
II Reklamasi
Urugan Reklamasi
1 tanpa Pemadatan 676959 m3 Rp 277,970 Rp 188,174,293,230
Urugan Reklamasi
2 dengan Pemadatan 521400 m3 Rp 281,083 Rp 146,556,741,375
Jumlah Rp 334,731,034,605
III Breakwater
1 core layer 87212 m3 Rp 399,667 Rp 34,855,746,414
2 Secondary Layer 55049 m3 Rp 612,350 Rp 33,708,959,691
3 Primary Layer 150486 m3 Rp 788,576 Rp 118,669,852,637
4 berm 6188 m3 Rp 612,350 Rp 3,789,050,342
Jumlah Rp 191,023,609,084
143
Dari rencana anggaran biaya diatas, perlu direkap-
itulasikan dengan pajak yang harus dibayarkan. Sehingga
biaya total tersaji pada Tabel 7. 6.
Tabel 7. 6 Rekapitulasi Anggaran Total
No. Uraian Jumlah
I Pekerjaan persiapan Rp 144,618,700.00
II Reklamasi Rp 334,731,034,605.00
III Breakwater Rp 191,023,609,084.42
Jumlah total Rp 525,899,262,389.42
PPn 10% Rp 52,589,926,238.94
Total + PPn Rp 578,489,188,628.36
Jumlah akhir dibulatkan Rp 578,489,189,000.00
144
Halaman ini sengaja dikosongkan.
BAB VIII
KESIMPULAN
8.1 Umum
Berdasarkan perencanaan masterplan, didapatkan data
kapal maksimum untuk perencanaan untuk pengermbangan tersus
galangan kapal sebagai berikut.
DWT (Dead Weight Tonage) = 10000 ton
LOA (Panjang kapal) = 137 m
Lebar kapal (B) = 19.9 m
Draft kapal (D) = 8.2 m
Ballast draft = 2.7 m
8.2 Perencanaan Reklamasi
Dari hasil perencanaan reklamasi pada bab sebelumya
didapatkan hasil perencanaan sebagai berikut.
a. Material Reklamasi.
Jenis material = sirtu pilihan
Dr = 80%
N-SPT = 45
ϒsat = 1.85 T/m3
Ø = 30º
C =0
b. Settlement
Settlement total = 0.3 meter
Tinggi timbunan awal = 8.3 meter
Waktu settlement = 35 minggu
Karena waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya
settlement relatif cepat, maka tidak perlu pemasangan PVD.
145
146
c. Stabilitas Timbunan Reklamasi
Stabilitas terhadap sliding = aman
Stabilitas terhadap puncture failure = aman
Timbunan aman terhadap sliding dan puncture failure,
maka tidak diperlukan perkuatan geotextile maupun cerucuk.
8.3 Perencanaan Breakwater
Direncanakan breakwater tipe ruble mound, dengan
kedalaman maksimum adalah -8 mLWS. Tinggi gelombang akibat
adanya breakwater masih diijinkan, akan tetapi layout breakwater
bertabrakan dengan layout perairan untuk manuver kapal. Maka
breakwater perlu diperpanjang kearah laut agar tidak mengganggu
manuver kapal. Adapun data-data perencanaan breakwater sebagai
berikut.
Elv puncak = 4.5 meter
Lebar puncak (head) = 7.0 meter
Lebar puncak (trunk) = 6.1 meter
Berat armour unit setiap bagian adalah sebagai
berikut
Tabel 8. 1 Berat Armour unit Setiap Bagian
Berat (ton)
Lapisan Breakwater
Head Structure Trunk Structure
Primary Layer W 7.66 5.36
Secondary Layer W/10 0.77 0.54
W/200 0.038 0.027
Core Layer
W/4000 0.002 0.001
Berm W/10 0.77 0.54
Tebal lapisan setiap bagian breakwater adalah
sebagai berikut.
147
Tabel 8. 2 Tebal Lapisan Breakwater setiap Bagian
tebal (m)
Lapisan Breakwater
Head Structure Trunk Structure
Primary Layer 2.9 2.6
Secondary Layer 1.4 1.2
Berm 1.4 1.2
8.4 Rencana Anggaran Biaya
Total rencana anggaran biaya yang dibutuhkan untuk
pekerjaan reklamasi dan breakwater berdasarkan bab 7 adalah
sebesar Rp. 569,980,714,000. Adapun rekapan dari RAB dapat
dilihat pada Tabel 8. 3.
Tabel 8. 3 Rekapitulasi Anggaran Total
No. Uraian Jumlah
I Pekerjaan persiapan Rp 144,618,700.00
II Reklamasi Rp 334,731,034,605.00
III Breakwater Rp 191,023,609,084.42
Jumlah total Rp 525,899,262,389.42
PPn 10% Rp 52,589,926,238.94
Total + PPn Rp 578,489,188,628.36
Jumlah akhir dibulatkan Rp 578,489,189,000.00
148
Halaman ini sengaja dikosongkan.
DAFTAR PUSTAKA
Braja M, Das. 1985. Mekanika Tanah 1. Diterjemahkan oleh
Noor Endah dan Indrasurya B.M. Jakarta : Erlangga.
Department Of The Army. 1984. Shore Protection
Manual,Vicksburg Missisipi.
Look, Burt. 2007. Handbook of Geotechnical Investivigation
and Design Tables.
Triatmodjo, Bambang. 1999. Teknik Pantai. Yogyakarta :Beta
Offset
Triatmodjo, Bambang. 2008. Teknik Pelabuhan. Yogyakarta:
Beta Offset
Wahyudi, Herman. 1999. Daya Dukung Pondasi Dangkal.
Surabaya: Jurusan Teknik Sipil-FTSP ITS.
Wahyudi, Herman. 1997. Teknik Reklamasi. Surabaya: Institut
Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
The Overseas Coastal Area Development Institute of Japan
(OCDI).2002. Technical Standards and
Commentaries for Port and Harbour Facilities in
Japan. Japan: Daikousha Printing Co.,Ltd.
xix
LAMPIRAN
16.7 7.0 7.5 10
5.2
4.4
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m
-4.5 mLWS CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m
HWS
LWS -0.0 mLWS
-1.0 mLWS
1.5
1
13
TOE CORE LAYER
BERM DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
2 LINGKUNGAN, DAN
KEBUMIAN
1.4 INSTITUT TEKNOLOGI
-8.5 mLWS
SEPULUH NOPEMBER
TUGAS AKHIR
RC-091380
POTONGAN E - E
15.2 7.0 7.5 9.8
Perencanaan Reklamasi dan Detail
5.2
4.4 Breakwater untuk Tersus Galangan
Kapal di Paciran, Lamongan
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m
+4.5 mLWS CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m DOSEN PEMBIMBING
HWS
LWS -0.0 mLWS
Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
-1.0 mLWS Cahya Buana, [Link]
1.5
12
TOE 1
BERM
CORE LAYER NAMA MAHASISWA
2
1.4 -7.5 mLWS
FIANY DARA NOVELITA
3111645000027
POTONGAN F - F
15.2 6.1 8.5 5.0
4.3 JUDUL GAMBAR
3.4
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m
CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
+4.5 mLWS Potongan Melintang
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m Breakwater
HWS
9.9
LWS -0.0 mLWS SKALA
-1.0 mLWS
TOE 1.5
BERM 1
CORE LAYER
2 -5.0 mLWS
1.4
POTONGAN G-G LEMBAR JUMLAH
0 250
8
11.3 6.1 11.3
4.3
3.4
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m
+4.5 mLWS CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m
HWS
6
LWS -0.0 mLWS
1.5
1 CORE LAYER
-1.5 mLWS
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
LINGKUNGAN, DAN
POTONGAN I - I KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
SEPULUH NOPEMBER
16.7 7.0 7.5 10
5.2
TUGAS AKHIR
RC-091380
4.4
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m
CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
-4.5 mLWS Perencanaan Reklamasi dan Detail
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m Breakwater untuk Tersus Galangan
Kapal di Paciran, Lamongan
HWS
LWS -0.0 mLWS
-1.0 mLWS DOSEN PEMBIMBING
1.5
1
13
CORE LAYER Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
TOE
Cahya Buana, [Link]
BERM
2
1.4 -8.5 mLWS NAMA MAHASISWA
POTONGAN J - J FIANY DARA NOVELITA
3111645000027
15.4 7.0 7.5 9.8
5.2
4.4
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m
CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
JUDUL GAMBAR
+4.5 mLWS
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m
HWS Potongan Melintang
LWS -0.0 mLWS Breakwater
-1.0 mLWS
1.5
12.5
1
TOE SKALA
CORE LAYER
BERM
2
1.4 -8.0 mLWS
LEMBAR JUMLAH
POTONGAN K- K
0 250
9
13.7 6.1 8.5 8.2
4.3
4.4
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
-4.5 mLWS
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m LINGKUNGAN, DAN
PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
HWS
SEPULUH NOPEMBER
LWS -0.0 mLWS
11.5 -1.0 mLWS TUGAS AKHIR
1.5 RC-091380
1
TOE
BERM
2 CORE LAYER
Perencanaan Reklamasi dan Detail
1.4 -7.0 mLWS Breakwater untuk Tersus Galangan
Kapal di Paciran, Lamongan
POTONGAN L - L DOSEN PEMBIMBING
Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
Cahya Buana, [Link]
13.7 6.1 8.5 7.2
4.3
4.4
NAMA MAHASISWA
-4.5 mLWS CORE LAYER 2 - 40 kg, T = 1.4 m
SECONDARY LAYER 0.8 ton, T = 1.4 m PRIMARY LAYER 7.7 ton, T = 2.9 m
HWS FIANY DARA NOVELITA
7.8 LWS -0.0 mLWS 3111645000027
-1.0 mLWS
TOE 1.5
BERM CORE LAYER
2 1
-4.0 mLWS
1.4 JUDUL GAMBAR
Potongan Melintang
POTONGAN M - M Breakwater
SKALA
LEMBAR JUMLAH
0 250
10
0.9
+4.0 mLWS
+4.0 mLWS
2
1
MATERIAL +0.0 mLWS
SAND BAG
REKLAMASI
-4.0 mLWS
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
LINGKUNGAN, DAN
KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
POTONGAN 1 - 1 SEPULUH NOPEMBER
TUGAS AKHIR
RC-091380
+4.0 mLWS 0.9
+4.0 mLWS
Perencanaan Reklamasi dan Detail
Breakwater untuk Tersus Galangan
2
MATERIAL Kapal di Paciran, Lamongan
1 +0.0 mLWS
-2.0 mLWS REKLAMASI SAND BAG
DOSEN PEMBIMBING
Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
Cahya Buana, [Link]
POTONGAN 2 - 2
NAMA MAHASISWA
0.9
+4.0 mLWS FIANY DARA NOVELITA
+4.0 mLWS
3111645000027
2
1
-1.0 mLWS MATERIAL REKLAMASI +0.0 mLWS
SAND BAG
JUDUL GAMBAR
POTONGAN 3 - 3 Potongan Melintang
Layout Reklamasi
0 20 SKALA
LEMBAR JUMLAH
4
0.9 +4.0 mLWS
+4.0 mLWS
2
+0.0 mLWS 1 MATERIAL
SAND BAG REKLAMASI
-4.0 mLWS
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
LINGKUNGAN, DAN
KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
SEPULUH NOPEMBER
POTONGAN 4 - 4 TUGAS AKHIR
RC-091380
Perencanaan Reklamasi dan Detail
Breakwater untuk Tersus Galangan
0.9 +4.0 mLWS Kapal di Paciran, Lamongan
+4.0 mLWS
DOSEN PEMBIMBING
2
+0.0 mLWS 1 MATERIAL
SAND BAG REKLAMASI Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
-3.0 mLWS Cahya Buana, [Link]
NAMA MAHASISWA
POTONGAN 5 - 5
FIANY DARA NOVELITA
3111645000027
0.9 +4.0 mLWS
+4.0 mLWS
JUDUL GAMBAR
2
+0.0 mLWS 1 MATERIAL
SAND BAG REKLAMASI -2.0 mLWS Potongan Melintang
Layout Reklamasi
SKALA
POTONGAN 6 - 6
0 20
LEMBAR JUMLAH
5
-10.0 DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
U FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
LINGKUNGAN, DAN
KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
SEPULUH NOPEMBER
TUGAS AKHIR
0 250 500 RC-091380
390 Perencanaan Reklamasi dan Detail
139
Breakwater untuk Tersus Galangan
Kapal di Paciran, Lamongan
382 -9.0 DOSEN PEMBIMBING
160
Ø415 Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
Turning Basin Cahya Buana, [Link]
1
2
NAMA MAHASISWA
362
3 -8.0
-7.0
-6.0 FIANY DARA NOVELITA
-5.0 3111645000027
-4.0
-3.0
-2.0
JUDUL GAMBAR
IK BM -1.0
R ES 651201.8017 E, 9240564.2122 N
Layout Breakwater
-G Baru
N
BA ASDP Batas Lahan Tersus
TU .
JL Kontur
Lahan Reklamasi SKALA
BM
+3.0 +2.0 +1.0 +0.0
112° 22' 25" LEMBAR JUMLAH
6° 52' 5.5"
6
-10.0 DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
U FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
LINGKUNGAN, DAN
KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
SEPULUH NOPEMBER
TUGAS AKHIR
0 250 500 RC-091380
Perencanaan Reklamasi dan Detail
Breakwater untuk Tersus Galangan
315 Kapal di Paciran, Lamongan
160
-9.0 DOSEN PEMBIMBING
236
Breakwater
Sisi Barat
227 Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
221 Cahya Buana, [Link]
226 C Breakwater
Sisi Timur
410
NAMA MAHASISWA
B
-8.0
274
-7.0
-6.0 FIANY DARA NOVELITA
C -5.0 3111645000027
-4.0
-3.0
-2.0
368
B JUDUL GAMBAR
IK BM -1.0
R ES 651201.8017 E, 9240564.2122 N
Masterplan Layout
-G Reklamasi dan Layout
N
BA ASDP Batas Lahan Tersus Breakwater
TU .
JL Kontur
Lahan Reklamasi SKALA
BM
+3.0 +2.0 +1.0 +0.0
112° 22' 25" LEMBAR JUMLAH
6° 52' 5.5"
2
-10.0 DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
U FAKULTAS TEKNIK SIPIL,
LINGKUNGAN, DAN
KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI
SEPULUH NOPEMBER
TUGAS AKHIR
0 250 500 RC-091380
Perencanaan Reklamasi dan Detail
K J Breakwater untuk Tersus Galangan
Kapal di Paciran, Lamongan
K J
E -9.0 DOSEN PEMBIMBING
L
L E
Ir. Dyah Iriani Widyastuti,MSc
M F Cahya Buana, [Link]
M
F
G NAMA MAHASISWA
G
-8.0
I -7.0
I -6.0 FIANY DARA NOVELITA
-5.0 3111645000027
-4.0
-3.0
-2.0
JUDUL GAMBAR
IK BM -1.0
R ES 651201.8017 E, 9240564.2122 N
Layout Breakwater
-G Baru
N
BA ASDP Batas Lahan Tersus
TU .
JL Kontur
Lahan Reklamasi SKALA
BM
+3.0 +2.0 +1.0 +0.0
112° 22' 25" LEMBAR JUMLAH
6° 52' 5.5"
7
BIODATA PENULIS
Penulis dilahirkan di Wonosobo
pada 7 November 1995, merupakan
anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis telah menempuh pendidikan
formal di SD Muhammadiyah I
Sidoarjo, SMPN 3 Sidoarjo dan
SMAN 1 Sidoarjo. Setelah lulus
SMA pada tahun 2013 penulis
melanjutkan pendidikan di Jurusan
D3 Teknik Sipil Institut Teknologi
Sepuluh Nopember, dengan
mengambil konsentrasi bidang bangunan transportasi. Selama
berkuliah di ITS, penulis aktif di organisasi mahasiswa yaitu
BEM FTSP. Pada September 2016 penulis melanjutkan
pendidikan di S1 Lintas Jalur Jurusan Teknik Sipil ITS dan
terdaftar dengan NRP : 3111645000027. Apabila pembaca
ingin berkorespondensi dengan penulis dapat melalui e-mail:
fianydara@[Link].