BAB I
PENDAHULUAN
A . Latar Belakang
Pemecahan masalah merupakan suatu cara mengatasi masalah yang sedang di
hadapi untuk dapat mencapai suatu tujuan yang akan dicapai dalam memecahkan
masalah tersebut. Solusi adalah jalan untuk memecahkan masalah yang sedang
dihadapi, karena apabila tanpa solusi masalah tersebut tidak akan pernah terpecahkan.
Namun dalam mencari solusi juga harus dengan solusi yang tepat dan sesuai, karena
apabila solusi tersebut tidak sesuai bukan memecahkan masalah tapi justru masalah
tersebut menjadi besar. Pemecahan masalah merupakan upaya untuk mencari solusi
suatu masalah sebagaimana disebutkan oleh Wahyudin (2011, hlm. 3). bahwa
“Pemecahan masalah (problem solving) dapat di definisikan sebagai proses dengan
mana seseorang berupaya mencari solusi untuk suatu pertanyaan matematis nonrutin.”
Masalah adalah hal yang lumrah bagi manusia. Tanpa masalah, kehidupan
akan menjadi hambar dan kurang berwarna. Manusia akan selalu menemui masalah,
bahkan penyelesaian masalah tertentu justru kadang memunculkan masalah baru,
yang perlu dicari pemecahannya. Demikian seterusnya hidup Individu senantiasa
berhadapan dengan masalah. Apapun bentuk masalah yang dihadapi, setiap masalah
perlu diselesaikan agar tidak menghambat roda perjalanan hidup individu dan roda
perjalanan hidup organisasi. Masalah yang tidak ditangani dengan semestinya akan
menjadi duri bagi perjalanan hidup pribadi dan organisasi di hari-hari selanjutnya.
Dalam hal menyelesaikan masalah yang memiliki kemungkinan memunculkan
masalah baru, maka masalah perlu dianggap sebagai tantangan dan peluang yang
memungkinkan organisasi menemukan pelajaran baru, yang membuat anggota
organisasi dapat belajar sesuatu yang belum ditemui sebelumnya.
Pengambilan keputusan adalah tugas penting seorang manajer. Pembuatan
keputusan menggambarkan proses bagaimana serangkaian kegiatan dipilih sebagai
penyelesaian dari suatu masalah yang ada. Kualitas keputusan-keputusan manajer
akan menentukan efektifitas rencana yang disusun. Pengambilan keputusan yang baik
merupakan bagian vital dari manajemen yang baik karena setiap keputusan yang
diambil akan menentukan bagaimana sebuah organisasi dapat mencapai tujuan-
tujuannya. Seorang manajer harus bisa menentukan dan memutuskan keputusan yang
harus diambil yaitu keputusan terbaik dan mempertimbangkan hal-hal yang
menyangkut perusahaan secara menyeluruh. Manajemen suatu organisasi ataupun
perusahaan membutuhkan individu yang kompeten dan dapat mempertimbangkan
risiko dan keuntungan yang terjadi jika memilih suatu keputusan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan pemecahan masalah?
2. Bagaimana pendekatan-pendekatan dalam pemecahan masalah?
3. Bagaimana pemecahan masalah secara perorangan?
4. Bagaimana pemecahan masalah secara kelompok (group)?
5. Bagaimana jenis-jenis keputusan (decision classification)?
6. Bagaimana tipe-tipe pengambil keputusan (decision-maker types)?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa yang di maksud dengan pemecahan masalah.
2. Untuk mengetahui bagaimana pendekatan-pendekatan dalam pemecahan masalah.
3. Untuk mengetahui bagaimana pemecahan masalah secara perorangan.
4. Untuk mengetahui bagaimana pemecahan masalah secara kelompok (group).
5. Untuk mengetahui bagaimana jenis-jenis keputusan (decision classification).
6. Untuk mengetahui bagaimana tipe-tipe pengambil keputusan (decision-maker
types).
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemecahan Masalah
Masalah pada dasarnya merupakan suatu hambatan atau rintangan yang harus
disingkirkan, atau pertanyaan yang harus dijawab atau dipecahkan. Masalah diartikan
pula sebagai kesenjangan antara kenyataan dan apa yang seharusnya. Situasi yang
mencerminkan adanya kesenjangan itu disebut dengan situasi problematic. Dalam
rangka pengenalan situasi problematic itu, upaya yang dapat dilakukan adalah
mengenali terlebih dahulu, berbagai fakta yang ada, terutama yang terkait dengan
munculnya situasi problematic tadi. Berpijak pada fakta tersebut, selanjutnya
direnungkan atau dipikirkan bagaimana seharusnya situasi itu, dengan cara mencari
penjelasan, baik berdasarkan suatu teori ilmiah tertentu, asumsi-asumsi yang
diturunkan dari suatu teori, atau konsep-konsep yang didapat dari berbagai bahan
pustaka terkait, baik bentuk buku, majalah, jurnal, maupun laporan penelitian. Dari
pemikiran ini dapat dimunculkan deskripsi yang jelas tentang masalah yang dihadapi,
serta rumusan masalah umumnya.1
Pemecahan masalah diartikan sebagai penggunaan (yaitu menstrasfer)
pengetahuan dan keterampilan yang sudah ada untuk menjawab pertanyaan yang
belum terjawab atau situasi yang sulit. Memecahkan suatu masalah merupakan contoh
pemikiran sendiri. Dalam pemecahan masalah, kita mencoba mencapai tujuan tetapi
masih belum memiliki cara untuk mendapatkannya.2
Pemecahan masalah atau problem solving merupakan suatu proses untuk
menemukan suatu masalah yang dihadapi berupa aturan-aturan baru yang tarafnya
lebih tinggi. Setiap kali suatu masalah dapat dipecahkan berarti mempelajari sesuatu
yang baru dan dapat digunakan untuk memecahkan masalah yang baru. Masalah
merupakan titik tolak proses pemecahan masalah yang dibahas, dianalisis, disintesi
1
Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, CV. Wacana Prima, Bandung, 2009,
hlm. 133
2
Eva Latifah, Pengantar Psikologi Pendidikan, PT Pustaka Insan Madani,
Yogyakarta, 2012, hlm. 117-118
dalam mencari pemecahan atau jawaban. Proses pemecahan masalah memberikan
kesempatan kepada siswa terlibat aktif dalam mempelajari, mencari, menemukan
sendiri informasi untuk diolah menjadi konsep, prinsip, teori dan kesimpulan.3
Kreitner dan Kinicki mengemukakan bahwa timbulnya suatu masalah
(problem) adalah manakala kenyataan (situasi nyata) yang dihadapi berbeda dengan
situasi yang dikehendaki. Dalam hal ini, telah terjadi kesenjangan (gap) antara situasi
nyata dengan situasi yang dikehendaki. Menurut Robbins, masalah dapat diartikan
sebagai peristiwa yang timbul karena perbedaan atau kesenjangan (discrepancy)
antara kenyataan yang kita hadapi dengan apa yang kita inginkan, dan masalah
(kesenjangan) tersebut menuntut untuk segera diselesaikan.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa masalah
merupakan perbedaan atau kesenjangan antara kenyataan yang dihadapi atau diterima
dengan sesuatu yang diinginkan atau dikehendaki, dan masalah tersebut menuntut
untuk segera dipecahkan atau diselesaikan. Suatu masalah akan dirasakan semakin
berat manakala perbedaan atau kesenjangan antara kenyataan yang dihadapi dengan
keinginan atau kehendak dituntut untuk sesegera mungkin harus dilakukan
pemecahan atau penyelesaian.
Berdasarkan pengertian masalah dari aspek kesenjangan atau perbedaan, dapat
diklasifikasikan dan diuraikan beberapa jenis masalah yang sering dijumpai dalam
organisasi, yaitu sebagai berikut:4
1. Masalah (problem) adalah peristiwa terjadinya perbedaan atau kesenjangan (gap)
antara rencana, target atau harapan yang diinginkan dibandingkan dengan realisasi
atau kenyataan, yang menuntut diselesaikan/dipecahkan. Sebagai contoh,
terjadinya perbedaan atau kesenjangan antara rencana jumlah siswa yang
ditargetkan untuk diterima dengan kenyataan (realisasi) jumlah siswa yang
diterima. Semakin besar kesenjangannya (gap), maka semakin besar masalah yang
dihadapi.
2. Masalah adalah peristiwa terjadinya kebutuhan waktu yang mendesak (rush-time)
untuk menyelesaikan suatu pekerjaan yang menuntut untuk diselesaikan pada
batas waktu tertentu (dead-line). Sebagai contoh, pekerjaan yang rencananya akan
diselesaikan dalam 6 hari, di dalam perjalanan waktu ternyata harus diselesaikan
segera dalam 3 hari. Semakin singkat ‘rush-time’, semakin besar masalahnya.
3
Ibid, 120
4
Assholekhah, Alimatul Fitri, et al. "Problem Solving Mahasiswa Dalam Menghadapi
Tantangan Dunia Kerja." Student Scientific Creativity Journal 1.1 (2023): 345-352.
3. Masalah adalah peristiwa terjadinya penyimpangan (deviasi) dari proses yang
seharusnya berjalan normal, yang menuntut untuk diselesaikan/dipecahkan.
Sebagai contoh, pada waktu yang lalu, kehadiran para siswa di kelas selalu tepat
waktu, namun akhir-akhir ini terlihat adanya penyimpangan di mana indeks
kedisiplinan siswa mengalami penurunan dari waktu ke waktu. Semakin besar
penyimpangannya, semakin besar masalah yang dihadapinya.
4. Masalah adalah peristiwa terjadinya penyimpangan (deviasi) dari pola distribusi
normal atau pola umum, yang menuntut untuk diselesaikan/dipecahkan. Sebagai
contoh, pada waktu-waktu yang lalu rentang nilai-nilai tes siswa mengikuti
distribusi normal yang bergerak dari nilai 50 sampai dengan 100, tetapi tahun lalu
rentang nilai menurun yang bergerak dari nilai 40 sampai dengan 85 dan dengan
distribusi nilai yang tidak normal, dengan kata lain semakin banyak siswa yang
mendapat nilai rendah. Semakin besar deviasinya, semakin besar masalah yang
dihadapinya.
5. Masalah Potensial (Potential Problem), peristiwa yang diproyeksikan atau
diprediksikan akan terjadi pada waktu yang akan datang, didasarkan pada trend
(perkembangan) dari rangkaian fakta atau data yang ada pada saat kini, yang
menuntut dipersiapkan penyelesaian atau pemecahannya. Probabilitas
(kemungkinan) terjadinya peristiwa (masalah) secara kuantitatif dapat diprediksi
berdasarkan ‘trend analysis’, teknik perhitungan probabilitas atau teknik statistik
regresi linear.
B. Pendekatan-pendekatan dalam Pemecahan Masalah
Secara umum, proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan dapat
diklasifikasikan menjadi 2 tahap yang berurutan, yaitu sebagai berikut:5
1. Tahap Pemecahan Masalah merupakan tahap yang mengandung upaya-upaya
untuk merumuskan masalah, mengumpulkan data/fakta relevan, melakukan
analisis masalah, dan menyusun alternatif-alternatif pemecahan masalah.
2. Tahap Pengambilan Keputusan merupakan tahap yang mengandung unsur
memilih dan memutuskan alternatif (solusi) terbaik dari beberapa alternatif
5
Adisel, Adisel, and Robeet Thadi. "Sistem Informasi Manajemen Organisasi Perannya
Dalam Pengambilan Keputusan Dan Pemecahan Masalah." Journal Of Administration and
Educational Management (ALIGNMENT) 3.2 (2020): 145-153.
pemecahan masalah yang tersedia. Berdasarkan alternatif yang dipilih, selanjutnya
diputuskan langkah-langkah (rencana) tindakan untuk menyelesaikan masalah.
Pendekatan-pendekatan dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan,
secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) pola pendekatan, sebagaimana
gambar berikut ini.
C. Pemecahan Masalah Secara Perorangan
Pada umumnya, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara
perorangan (individual) berorientasi pada sumber-sumber yang dimiliki individu
secara perorangan. Sumber-sumber tersebut antara lain adalah intuisi pribadi, keahlian
pribadi, legalitas (legitimasi) wewenang, atau kekuatan-kekuatan yang dimiliki
individu , karakteristik individu yang melakukan pemecahan masalah secara
perorangan, antara lain:6
1. Memiliki kebutuhan kemandirian (autonomy) yang tinggi dan menyenangi
tanggung jawab pribadi dalam bekerja.
2. Memiliki daya intuisi yang tinggi (tanggap melihat peluang, berani mengambil
risiko, dan cepat dalam mengambil keputusan/tindakan).
3. Memiliki keahlian (expertise) dan keyakinan-diri (self-confidence) yang kuat.
4. Memiliki dukungan (back-up) legalitas wewenang untuk bertindak mandiri.
5. Memiliki kekuasaan atau kekuatan (power-based) yang diakui lingkungannya.
Hasil (out-put) pemecahan masalah secara perorangan cenderung kearah
keputusan-keputusan yang bersifat atau berbentuk:
1. Personal Intuitive Judgment (keputusan berdasarkan intuisi pribadi)
2. Personal-Expertise Judgment (keputusan berdasarkan kemampuan atau keahlian
yang dimiliki)
3. Legal-or-Power Based Judgment (keputusan berdasarkan kekuasaan atau
kekuatan yang dimiliki)
Menurut Robbins keputusan berdasarkan intuisi pribadi adalah tindakan
pengambilan keputusan yang berlangsungnya (prosesnya) secara tidak disadari
(unconscious), dan merupakan kombinasi dari unsur-unsur pengalaman dan
kemampuan rasional, serta berantisipasi pada peluang di masa yang akan datang.
‘Intuitive decision Maker’ (pengambil keputusan intuitif) memiliki karakteristik
6
Syahputra, Andrian, Ragil Wiranti, and Widiya Astita Widiya Astita. “Peran sistem
informasi manajemen organisasi dalam pengambilan keputusan.” Jurnal Manajemen
Sistem Informasi (JMASIF) 1.1 (2022): 26-31.
kepribadian yang menonjol dalam hal keberanian mengambil risiko (risk-taking),
jangkauan antisipasi ke masa depan (visionary), dan kepercayaan diri (self-
confidence). Proses pengambilan keputusan intuitif pada umumnya berlangsung pada:
1. Situasi-situasi yang mengandung taraf ‘uncertainty’ (ketidakpastian) yang tinggi
2. Tidak ada kondisi-kondisi sebelumnya (precedent) yang dapat dijadikan acuan
3. Pengambil keputusan belum menemukan landasan konseptual untuk bertindak
4. Data atau fakta pendukung terbatas, atau sukar digunakan untuk melakukan
analisis
5. Tidak ada ‘petunjuk’ yang dapat digunakan untuk melakukan tindakan
6. Kemungkinan terlalu banyak alternatif solusi yang sukar dipilih mana yang
terbaik
7. Terdesak waktu, dituntut untuk segera menentukan keputusan yang harus diambil.
D. Pemecahan Masalah Secara Kelompok (Group)
Merupakan proses pemecahan dan pengambilan keputusan yang dilakukan
oleh suatu kelompok (group or team). Beberapa karakteristik pemecahan masalah
secara kelompok antara lain adalah:7
1. Adanya saling-ketergantungan (interdependency) antar individu-individu dalam
kelompok
2. Individu-individu anggota kelompok memiliki orientasi yang kuat terhadap
hubungan antar-pribadi, serta menyenangi situasi keharmonisan dan keserasian
(non-conflict situation)
3. Memiliki pola bekerja secara bersama, partisipatif, dan bermusyawarah
(teamwork, participative and comprommistic)
4. Pada kasus-kasus tertentu, adanya kecenderungan individu-individu yang mencari
dukungan kekuatan dari mayoritas anggota kelompok
Pada umumnya, hasil (out-put) pemecahan masalah dan pengambilan
keputusan secara kelompok bersifat/berbentuk konsensus (kesepakatan) antar anggota
kelompok, komitmen (tekad) bersama antar anggota kelompok, dan pada kasus-kasus
tertentu, keputusan kelompok diambil berdasarkan jumlah suara terbanyak (decision
by majority).
7
Utaminingtyas, Siwi. "Implementasi Problem Solving Berorientasi Higher Order Thingking
Skill (Hots) Pada Pembelajaran Ips Sekolah Dasar." Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 7.2 (2020): 84-
98.
Berdasarkan pengumpulan data hasil-hasil penelitian tentang pengambilan
keputusan, Gibson, mengemukakan suatu perumusan bahwa metode pengambilan
keputusan perorangan (individual) memiliki probabilitas yang paling rendah dalam
menghasilkan keputusan berkualitas. Sedangkan metode pengambilan keputusan
secara konsensus (keputusan kelompok) memiliki probabilitas yang paling tinggi
dalam menghasilkan keputusan yang berkualitas.
E. Jenis-Jenis Keputusan (Decision Classification)
Greenberg dan Baron mengemukakan tentang jenis-jenis keputusan, yang
secara ringkas dapat diklasifikasikan sebagai berikut:8
1. Keputusan Terprogram (Programmed Decision): keputusan yang bersifat rutin,
pada umumnya dilakukan oleh ‘lower-level personnel’, dan dilakukan berdasarkan
aturanaturan (kebijakan) yang telah ditetapkan. Jenis keputusan ini tergolong
memiliki frekuesi terbanyak dalam organisasi.
2. Keputusan Tidak-Terprogram (Non-programmed Decision): keputusan yang
diambil pada situasi-situasi tertentu (tidak terduga), memerlukan pemikiran kreatif
untuk menemukan solusi. Pada umumnya dilakukan oleh ‘upper-level personnel’.
3. Keputusan Strategik (Strategic Decision): keputusan yang membawa dampak
(konsekuensi, risiko atau benefits) jangka panjang bagi organisasi. Pada umumnya
dilakukan oleh ‘high-level executives’, dan berorientasi terhadap visi dan misi
(mengarahkan) organisasi.
4. ‘Top-Down Decision Making’: pengambilan keputusan dilakukan oleh pimpinan
organisasi (high-level executives) yang wajib ditaati oleh bawahan (karyawan).
5. ‘Empowered Decision Making’: para karyawan didorong oleh pimpinan untuk
mengambil keputusan-keputusan yang diperlukan dalam pekerjaannya.
F. Tipe-Tipe Pengambil Keputusan (Decision-Maker Types)
Keputusan yang diambil individu atau kelompok individu, pada umumnya
dipengaruhi oleh karakteristik-karakteristik kepribadian (personality characteritics)
atau gaya kepemimpinan (type of leadership) individu. Berbagai teori dan instrumen
telah dikembangkan oleh para ahli untuk memahami karakteristik-karakteristik
kepribadian seorang individu yang dapat mempengaruhi proses pengambilan
keputusan yang dilakukannya. Demikian pula, gaya kepemimpinan (leadership types)
8
Ibid, 102
individu juga merupakan faktor yang membentuk perilaku individu dalam
pengambilan keputusan.
Hubungan antara gaya kepemimpinan dan perilaku pengambilan keputusan
secara individual dapat dijelaskan secara ringkas, sebagai berikut:9
1. Authocrative Leadership: sang pemimpinan memiliki kecenderungan untuk
melakukan pengambilan keputusan sendiri. Pada umumnya keputusan yang
diambil adalah berbasis keahlian yang dimiliki pemimpin atau berdasarkan
“intuitive judgment” dari sang pemimpin.
2. Laissez-faire Leadership: sang pemimpin memiliki kecenderungan untuk
membiarkan bawahan (anak-buah) untuk melakukan pengambilan keputusan. Pola
keputusan ini cenderung mendorong diberikannya kebebasan kepada para
pengikut atau bawahannya, yang secara positif diharapkan akan merangsang dan
menumbuhkan kreativitas-kreativitas dari para pengikutnya.
3. Democratic Leadership: sang pemimipin memiliki kecenderungan untuk
mendorong bawahan berperan-serta dalam pengambilan keputusan. Keputusan
yang diambil pada umumnya bersifat consensus hasil musyawarah, yang
disepakati semua pengikutnya. Secara positif keputusan-keputusan yang diambil
akan mendorong komitmen dari para anggota dalam melaksanakan atau
mempertahankan keputusan.
4. Kepemimpinan Visioner (Visionary Leadership): sang pemimpin menciptakan dan
mengartikulasikan visi (tujuan yang akan dicapai) sebagai dasar pengambilan
keputusan oleh para pengikutnya. Kepemimpinan visioner dipandang sangat
efektif dalam pengambilan keputusan-keputusan tentang aspek perencanaan
(planning), khususnya perencanaan strategik (strategic planning), yaitu pada
organisasi yang ingin melakukan perubahan besar pada masa depan, ingin
merubah/menciptakan citra organisasi yang baru, atau organisasi yang ingin
melakukan konsolidasi internal dalam menetapkan rencana strategik organisasi.
5. Kepemimpinan Transaksional (Transactional Leadership): sang pemimimpin
berupaya mempengaruhi para pengikutnya untuk mencapai kinerja tinggi dengan
transaksi akan memperoleh imbalan yang tinggi. Para pemimpin transaksional,
memiliki pemahaman dan kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan bawahan.
Gaya kepemimpinan ini sangat efektif pada organisasi-organisasi yang relatif
9
Muhali, Muhali. “Pembelajaran inovatif abad ke-21.” Jurnal Penelitian Dan
Pengkajian Ilmu Pendidikan: E-Saintika 3.2 (2019): 25-50.
berskala kecil (small scale enterprise), yang mengalami situasi yang mendesak
untuk melakukan peningkatan kinerja atau produktivitas, atau pada organisasi
yang mengalami stagnasi atau “slow moving” pertumbuhannya.
6. Kepemimpinan Transformasional (Transformational Leadership): sang pemimpin
berupaya mengilhami dan memotivasi pengikutnya untuk meraih hasil kerja yang
lebih besar dari pada target yang ditetapkan dan mendorong pengikutnya untuk
meraih ‘internal rewards’ (kebanggaan berprestasi, tujuan-tujuan transendental,
aktualisasi diri, dll). Pemimpin transformasional akan bekerja efektif pada situasi
organisasi yang menuntut peningkatan dalam aspek pengorganisasian (organizing)
dan pengarahan (directing), sebagai contohnya adalah pada organisasi yang ingin
merombak budaya organisasi, mengatasi masalah-masalah rendahnya kinerja
bawahan, banyak bawahan yang keluar, tingkat absensi yang tinggi, dan
rendahnya kemampuan beradaptasi dengan perubahan lingkungan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pada hakikatnya, masalah adalah kesenjangan antara kenyataan yang diterima dan
rencana yang diinginkan, dan dituntut untuk segera diselesaikan. Masalah yang timbul perlu
segera dipecahkan agar tidak menghambat kelancaran kegiatan kerja dan tidak berakumulasi
menjadi masalah yang lebih besar. Suatu masalah akan dirasakan semakin berat manakala
kesenjangan, antara kenyataan yang dihadapi dengan keinginan atau kehendak, dituntut untuk
sesegera mungkin dilakukan penyelesaian.
Masalah dalam organisasi dapat berbentuk sebagai suatu kesenjangan antara realisasi
dibandingkan dengan rencana, adanya kebutuhan atau tuntutan waktu yang mendesak untuk
segera memecahkan masalah, adanya penyimpangan terhadap suatu keadaan atau proses yang
seharusnya berjalan normal, atau suatu masalah masih bersifat potensial atau diprediksi akan
menjadi masalah. Secara umum, proses pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
dapat diklasifikasikan menjadi 2 tahap yang berurutan, yaitu (1) Tahap Pemecahan Masalah
merupakan upaya-upaya merumuskan masalah, mengumpulkan fakta relevan, melakukan
analisis masalah, dan menyusun alternatif-alternatif pemecahan masalah, serta (2) Tahap
Pengambilan Keputusan merupakan kegiatan memilih dan memutuskan alternatif (solusi)
terbaik dari beberapa alternatif pemecahan masalah yang tersedia. Berdasarkan alternatif
yang dipilih, selanjutnya diputuskan (decision) langkah-langkah (rencana) tindakan untuk
menyelesaikan masalah.
Pendekatan dalam melakukan pemecahan masalah dan pengambilan keputusan
diklasifikasikan menjadi (1) Pemecahan Masalah secara Kelompok (Collective), yang
menghasilkan keputusan-keputusan dalam bentuk konsensus, komitmen atau keputusan
berdasarkan suara terbanyak, sedangkan (2) Pemecahan masalah secara Perorangan
(individual), yang menghasilkan keputusan-keputusan yang bersifat intuitif, berdasarkan
keahlian atau kekuasaan sang pengambil keputusan. Tipe-tipe kepemimpinan sangat berperan
dalam perilaku pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Tipe Kepemimpinan
Visioner lebih efektif pada organisasi yang ingin melakukan perubahan besar pada masa
depan, ingin merubah/menciptakan citra organisasi yang baru, atau organisasi yang ingin
melakukan konsolidasi internal dalam menetapkan strategi organisasi. Tipe Kepemimpinan
Transformasional lebih efektif Pada organisasi yang ingin merombak budaya organisasi,
mengatasi masalah-masalah rendahnya kinerja bawahan, banyak bawahan yang keluar,
tingkat absensi yang tinggi, dan rendahnya kemampuan beradaptasi dengan perubahan
lingkungan. Tipe Kepemimpinan Transaksional lebih efektif pada organisasi-organisasi yang
relatif berskala kecil (small scale enterprise), organisasi yang mengalami situasi yang
mendesak untuk melakukan peningkatan kinerja atau produktivitas, atau pada organisasi yang
mengalami stagnasi atau “slow moving” dalam tahap pertumbuhan.
B. Saran
Demikianlah makalah ini kami buat sedemikian rupa mungkin masih ada kesalahan
yang ada mulai dari penyusunan kata maupun penyuntingan kalimat, karena keterbatasan
kami. Saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan perbaikan makalah selanjutnya
dan semoga makalah ini bermanfaat bagi semuanya.
DAFTAR PUSTAKA
Adisel, Adisel, and Robeet Thadi. “Sistem Informasi Manajemen Organisasi Perannya
Dalam Pengambilan Keputusan Dan Pemecahan Masalah.” Journal Of
Administration and Educational Management (ALIGNMENT) 3.2 (2020)
Assholekhah, Alimatul Fitri, et al. “Problem Solving Mahasiswa Dalam Menghadapi
Tantangan Dunia Kerja.” Student Scientific Creativity Journal 1.1 (2023)
Eva Latifah, Pengantar Psikologi Pendidikan, PT Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2012
Muhali, Muhali. “Pembelajaran inovatif abad ke-21.” Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmu
Pendidikan: E-Saintika 3.2 (2019)
Sumiati dan Asra, Metode Pembelajaran, CV. Wacana Prima, Bandung, 2009
Syahputra, Andrian, Ragil Wiranti, and Widiya Astita Widiya Astita. “Peran sistem informasi
manajemen organisasi dalam pengambilan keputusan.” Jurnal Manajemen Sistem
Informasi (JMASIF) 1.1 (2022)
Utaminingtyas, Siwi. “Implementasi Problem Solving Berorientasi Higher Order Thingking
Skill (Hots) Pada Pembelajaran Ips Sekolah Dasar.” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
7.2 (2020).