Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin di TPMB
Asuhan Kebidanan Ibu Bersalin di TPMB
Disusun Oleh:
Nama : Herawati
NIM : 23159010098
Mengetahui :
2
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan karunia-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus pada Stase Persalinan dan BBL.
Penulisanan laporan ini dalam rangka menerapkan tugas mata kuliah Keterampilan
Persalinan dan BBL merupakan salah satu mata kuliah yang harus dilalui dalam
proses pendidikan profesi bidan. Dalam penyusunan laporan kasus ini penulis banyak
mendapatkan bantuan, bimbingan serta pengarahan dari berbagai pihak. Oleh karena
itu dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
a. Imas Yoyoh, [Link]., selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Tangerang
b. Catur Erty Suksesty, [Link], selaku Ketua Prodi Profesi Bidan Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhammadiyah Tangerang
c. Dewi Puspitasari, SST, MKM, selaku Dosen Pembimbing Institusi
d. Bdn. [Link], [Link], selaku Pembimbing Lahan
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa laporan kasus ini masih jauh dari
kesempurnaan dengan demikian penulis sangat mengharapkan petunjuk dan saran
serta kritik dari berbagai pihak. Akhir kata semoga hasil laporan ini memberikan
manfaat yang berguna bagi yang membutuhkannya.
Penulis
Herawati
3
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN...........................................................................................i
KATA PENGANTAR..................................................................................................ii
DAFTAR ISI...............................................................................................................iii
TINJAUAN TEORI......................................................................................................1
A. Persalinan..........................................................................................................1
1. Definisi Persalinan........................................................................................9
2. Tanda-Tanda Persalinan..............................................................................13
3. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Persalinan .........................................2
4. Tahapan pada Persalinan...............................................................................4
5. Lima Benang Merah .....................................................................................7
6. Asuhan Kebidanan Pada Persalinan .............................................................9
7. Robekan Perineum ……………………………………......................…...13
8. Dokumentasi Asuhan Kebidanan ...............................................................16
9. Partograf .....................................................................................................167
DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................33
4
TINJAUAN TEORI
A. Persalinan
1. Definisi Persalinan
Persalinan normal menurut WHO adalah persalinan yang dimulai secara
spontan, beresiko rendah pada awal persalinan dan tetap demikian selama
proses persalinan, bayi lahir secara spontan dalam presentasi belakang kepala
pada usia kehamilan 37-42 minggu lengkap dan setelah persalinan ibu maupun
bayi berada dalam kondisi sehat
Jenis-jenisPersalinan
Menurut Sarwono (2018), persalinan menurut caraya itu sebagai berikut:
a. Persalinan Normal (fisiologis)
Proses persalinan pada ibu yang hamil cukup bulan, dengan janin
letaknormal(letak kepala), dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan obat dan
alat yang berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam serta tidak
menimbulkan komplikasi pada ibu dan atau bayinya.
b. Persalinan dengan masalah (patologis)
Proses persalinan yang terjadi karena ada masalah pada ibu maupun janin
yang dikandungnya. Persalinan patologi adalah persalinan yang
memerlukan bantuan dari luar. Seperti pada persalinan sungsang, distosia
bahu, kala 1 memanjang, KPD. Persalinan patologi juga dapat lahir secara
pervaginam dengan alat bantu atau intervensi, atau persalinan dengan
operasi secsio.
2. Tanda– tanda persalinan
Yang merupakan tanda pasti persalinan adalah :
a. Timbul kontraksi uterus biasa juga disebut dengan his persalinan yaitu his
pembukaan yang mempunyai sifat sebagai berikut:
Nyeri melingkar dari punggung memancar keperut bagiandepan
Pinggang terasa sakit dan menjalar kedepan
Mulas–mulas sifatnya teratur, interval makin lama makin pendek dan
kekuatannya makin besar.
b. Mempunyai pengaruh pada pendataran dan atau pembukaan serviks
c. Makin beraktifitas ibu akan menambah kekuatan kontraksi
1
Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan pada serviks (frekuensi
minimal 2 kali dalam 10 menit). Kontraksi yang terjadi dapat menyebabkan
pendataran, penipisan dan pembukaan serviks.
d. Penipisan dan pembukaan serviks.
Penipisan dan pembukaan serviks ditandai dengan adanya pengeluaran
lendir dan darah sebagai tanda pemula
e. Bloodyshow (lendir disertai darah dari jalan lahir).
Dengan pendataran dan pembukaan, lendir dari canalis cervicallis keluar
disertai dengan sedikit darah. Perdarahan yang sedikit ini disebabkan karena
lepasnya selaput janin pada bagian bawah segmen bawah rahim hingga
beberapa capillar darah terputus.
f. Premature rupture of membrane. Keluarnya cairan banyak dari jalan lahir.
Hal ini terjadi akibat ketuban pecah atau selaput janin robek. Ketuban pecah
pada pembukaan kecil dan kadang–kadang selaput janin robek sebelum
persalinan.(Kemenkes, 2018)
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persalinan
Pada setiap persalinan, ada 5 faktor yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Power
Tenaga yang mendorong keluar janin. Kekuatan yang berguna untuk
mendorong keluar janin adalah his, kontraksi otot –otot perut, kontraksi
diagfragma dan aksiligament, dengan kerjasama yang baik dan sempurma.
Ada dua power yang bekerja dalam proses persalinan Yaitu HIS dan Tenaga
mengejan ibu. His merupakan kontraksi uterus karenaotot–otot polos
bekerja dengan baik dan sempurna, pada saat kontraksi,otot–otot rahim
menguncup sehingga menjadi tebal dan lebih pendek. Kavum uteri lebih
kecil mendorong janin dan kantong amnion kearah bawah rahim dan
serviks. Sedangkan tenaga mengejan ibu adalah tenaga selain his yang
membantu pengeluaran
b. Passenger
Faktor yang juga sangat mempengaruhi persalinan adalah faktor janin.
Meliputi sikap janin, letak janin, dan bagian terendah. Sikap janin
menunjukkan hubungan bagian–bagian janin dengan sumbu tubuh janin,
misalnya bagaimana sikap fleksi kepala, kaki, dan lengan. Letak janin
dilihat berdasarkan hubungan sumbutubuh janin dibandingkandengan
2
sumbu tubuh ibu. Ini berarti seorang janin dapat dikatakan letak longitudinal
(preskep dan presbo), letak lintang, serta letak oblik. Bagian terbawah
adalah istilah untuk menunjukkan bagian janin apa yang paling bawah
c. Passage
Merupakan faktor jalan lahir,terbagi menjadi 2 yaitu:
1) Bagian keras
Bagian ini terdiri dari tulang panggul (Os coxae, Os Sacrum, Os
Coccygis), dan Artikulasi (Simphisis pubis, Artikulasi sakro-iliaka,
artikulasi sakro-koksigis). Dari tulang–tulang dasar dan artikulasi yang
ada, maka bagian keras janin dapat dinamakan Ruang panggul (Pelvis
mayor dan minor), pintu panggul (Pintu atas panggul, Ruang tengah
panggul, Pintu bawah panggul, dan ruang panggul yang sebenarnya yaitu
antara inlet dan outlet),
Sumbup anggul (merupakan garis yang menghubungkan titik-titik tengah
ruang panggul yang melengkung kedepan), Bidang–bidang (Hogde
I,Hodge II, Hodge III dan Hodge IV)
2) Bagian lunak
Jalan lunak yang berpegaruh dalam persalinan adalah SBR, Serviks
Utreri dan vagina. Disamping itu otot–otot, jaringan ikat dan ligament
yang menyokong alat–alat urogenital juga sangat berperan penting dalam
persalinan
d. Psikis Ibu
Psikis ibu dalam persalinan akan sangat mempengaruhi daya kerja otot–otot
yang dibutuhkan dalam persalinan baik itu yang otonom maupun yang
sadar. Jika seorang ibu menghadapi persalinan dengan rasa tenang dan
sabar, maka persalinan akan terasa mudah untuk ibu tersebut. Namun jika
ibu merasa tidak ingin ada kehamilan dan persalinan, maka hal ini akan
menghambat proses persalinan
e. Penolong
Dalam persalinan, ibu tidak mengerti apa yang dinamakan dorongan ingin
mengejan asli atau yang palsu. Untuk itu, seorang mitra yang dapat
membantunya mengenali tanda gejala persalinan sangat dibutuhkan. Tenaga
ibu akan menjadi sia–sia jika saat untuk mengejan yang ibu lakukan tidak
tepat.
3
4. Tahapan Dalam Persalinan
a. Kala I
Kala satu persalinan didefinisikan sebagai permulaan kontraksi
persalinan sejati, yang ditandai dengan perubahan serviks yang progresif
dan diakhiri dengan pembukaan lengkap (10cm). Hal ini sering dikatakan
sebagai tahap pembukaan serviks (Sarwono,2018).
Fase Laten dimulai sejak pebukaan awal sampai dengan 4 cm
biasanya fase ini berlangsung kurang dari 8 jam. Sedangkan fase aktif
persalinan berlangsung ketika pembukaan 4 sampai dengan lengkap. Dalam
proses ini terjadi penurunan bagian terbawah janin. Penangananyang harus
dilakukan bidan pada fase ini adalah memberi perhatian lebih kepada ibu,
jika tampak ibu merasa kesakitan maka bidan harus dapat menghiburnya,
baik itu dengan mengalihkan perhatiannya maupun dengan memberi support
kepada ibu tentang bayi yang dikandungnya untuk pertama kali akan ia
lahirkan.
Makan dan minum tidak boleh dibatasi, hal ini agar ibu memiliki cadangan
energi yang mencukupi saat harus mengejan di kala II persalinan. Lakukan
semua tindakan dengan tetap menjaga privasi klien, agar klien merasa
dihormati selayaknya manusia. Pada saat his berkurang, dapat ditawarkan
berbagai posisi melahirkan kala II yang akan dirasa cukup memberinya rasa
nyaman. Persilahkan ibu untuk memilih yang sesuai dengan keadaannya
serta berikan konseling tentang kelebihan dan kekurangan berbagai metode
tersebut.
Frekuensi minimal penilaian dan Intervensi dalam persalinan normal
4
Penurunan Setiap 4jam* Setiap 4 jam*
b. KalaII
Pada kala pengeluaran janin, his terkoordinir, kuat, cepat dan lebih lama,
kira-kira 2-3 menit sekali. Kepala janin telah turun masuk ruang panggul
sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara
reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Karena tekanan pada rektum, ibu
merasa seperti mau buang air besar, dengan tanda anus terbuka. Pada waktu
his kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka, perineum meregang.
Dengan his yang terpimpin terlahirlah kepala, diikuti oleh seluruh badan
janin.
c. Kala III
Kala III dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya
plasenta dan selaput ketuban. Lepasnya plasenta sudah dapat
diperkirakandenganmemperhatikantandan lepasnya plasenta yaitu
perubahan bentuk dan tinggi fundus, tali pusat memanjang, semburan darah
mendadak dan singkat (Depkes RI,2018).
5
Penatalaksanaan Manjemen Aktif pada Kala III (pengeluaran aktif
plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca persalinan.
Penatalaksanaan Manajemen Aktif Kala III meliputi
1) Pemberian oksitosin segera,
2) Peregangan tali pusat terkendali,
3) Pemijatan uterus segera setelah plasenta lahir,
Tujuan manajemen aktif kala III adalah untuk menghasilkan kontraksi
uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu, mencegah
perdarahan, dan mengurangi kehilangan darah (Depkes RI,2018).
Kala III dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta,
yang berlangsung tidak lebih dari 30 [Link] normal memiliki berat
rata-rata 1/6 dari berat janin dengandiameter 15 sampai 20 cm sedangkan
tebalnya 2,5 sampai 3 cm.
Tanda-tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal-hal
dibawah ini:
1) Perubahan bentuk dan tinggi fundus. Setelah bayi lahir dan sebelum
miometrium mulai berkontraksi, uterus berbentuk bulat penuh dan tinggi
fundus biasanya dibawah pusat.
2) Setelah uterus berkontraksi dan plasenta terdorong kebawah, uterus
berbentuk segitiga atau seperti buah pear dan fundus berada diatas pusat
(sering kali mengarah kesebelah kanan).
3) Tali pusat memanjang. Tali pusat terlihat menjulur keluar melalui vulva
(Tanda Ahfeld).
4) Semburan darah mendadak dan singkat. Darah yang terkumpul
dibelakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar dibantu
oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retro placental pooling)
dalam ruang diantara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta
melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi
plasenta yang terlepas.
d. Kala IV
Kala IV adalah kala pengawasan setelah bayi dan uri lahir untuk
mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan pos partum
karena perdarahan post partum paling sering terjadi pada 2 jam pertama.
6
Pengawasan kala IV dilakukan selama 2 jam yaitu observasi tekanan darah,
nadi, tinggi fundus uteri, kandung kemih, perdarahan, dan kontraksi uterus
setiap 15 menit dalam 1 jam pertama dan setiap 30 menit dalam 1 jam kedua
kala IV, serta temperatur tubuh setiap jam selama 2 jam pertama pasca
persalinan.
Tujuh pokok penting didalam kala IV antara lain:
1) Kontraksi rahim: baik atau tidak kontraksi rahim dapat diketahui
dengan palpasi. Bila perlu lakukan massase dan berikan uteretonika.
2) Perdarahan: ada perdarahan aktif atau tidak dan jumlah dari
perdarahan.
3) Kandung kemih
4) Luka-luka jahitan baik atau tidak.
5) Penilaian terhadap kelengkapan plasenta.
6) Keadaan umum ibu seperti tanda-tanda vital
7) Memeriksa Kemungkinan Perdarahan dari Perineum. Perhatikan dan
temukan penyebab perdarahan dari laserasi atau robekan perineum
dan vagina
1) Derajat I : Terdiri dari mukosa dan kulit perenium. Tidak perlu dijahit
jika tidak ada perdarahan dan posisi luka baik.
2) Derajat II: Terdiri dari mukosa vagina, kulit dan otot perineum.
3) Derajat III : Terdiri dari mukosa vagina, kulit, otot perineum dan otot
sfingter ani eksterna.
4) Derajat IV : Terdiri dari mukosa vagina, kulit, otot perineum, otot
sfingter ani eksterna dan dinding rectum anterior. Pada drajat III dan IV
tidak diperkenankan dilakukan pada APN, Rujuk segera.
7
Lima benang merah dirasa sangat penting dalam memberikan asuhan
persalinan dan kelahiran bayi yang besih dan aman.
a. Membuat keputusan klinik
Membuat keputusan merupakan proses yang mempunyai tujuan untuk
menyelesaikan masalah dan menentukan asuhan yang diperlukan oleh
pasien. Keputusan harus akurat, komprehensif dan aman, baik bagi ibu dan
keluarga maupun petugas yang memberikan pertolongan. Membuat
keputusan klinik dihasilkan melalui serangkaian proses dan metode yang
sistematik menggunkan informasi dan dari hasil intervensi berdasar
kanbukti, keterampilan dan pengalaman yang dikembangankan melalui
berbagai tahap dan logis dalam upaya menyelesaikan masalah dan terfokus
kepada pasien
1) Pengumpulan data
2) Diagnosis
3) Penatalaksanaan asuhan
4) evaluasi
8
emosional
7) Memastikan ibu mendapat informasi, penjelasan dan konseling yang
cukup
8) Mendukung ibu dan keluarga untuk berperan aktif dalam pengambilan
keputusan
9) Menghormati praktek-praktek adat dan keyakinan agama
10) Memantau kesejahteraan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu atau
keluarganya selama kehamilan, persalinan dan nifas.
11) Memfokuskan perhatian pada peningkatan kesehatan dan pencegahan
penyakit
c. Pencegahan infeksi
9
Asuhan yang diberikan oleh bidan selamaproses persalinan dimulai sejak
uterus berkontraksi dan menyebabkan perubahan serviks dan berakhir dengan
lahirnnya plasenta dengan lengkap. Peran petugas kesehatan adalah memantau
dengan seksama dan memberikan dukungan serta kenyamanan pada ibu, baik segi
emosi atau perasaan maupun fisik.
1) Asuhan persalinan pada kala I
Berdasarkan Asuhan Persalinan Normal tanda dan gejala inpartu adalah:
- Penipisan dan pembukaan serviks
- Kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan serviks (frekuensi minimal
2 kali dalam10 menit)
- Cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina.
Asuhan sayang ibu selama persalinan meliputi:
Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami,
keluarga, atau teman terdekat. Suami dan keluarga dianjurkan berperan
aktif dalam mendukung dan melakukan kegiatan yang memberikan
kenyamanan bagi ibu
Mengatur aktivitas dan posisi ibu. Ibu diperbolehkan melakukan aktivitas
sesuai dengan kesanggupannya. Posisi sesuai dengan keinginan ibu,
namun bila ibu ingin di tempat tidur sebaiknya tidak dianjurkan tidur
dalam posisi terlentang lurus.
Membimbing ibu untuk rileks ketika ada his, misalnya ibu diminta
menarik nafas panjang dan kemudian dilepaskan dengan cara meniup
sewaktu ada his.
Menjaga privasi ibu. Penolong tetap menjaga hak privasi ibu dalam
persalinan, antara orang lain menggunakan penutup atau tirai, tidak
menghadirkan orang lain tanpa sepengetahuan dan seijin pasien atau ibu.
- Pemberian informasi yaitu mengenai penjelasan tentang kemajuan
persalinan, perubahan yang terjadi pada tubuh ibu, serta prosedur yang
akan dilaksanakan dan hasil pemeriksaan. Setiap pengobatan atau
intrvensi yang mungkin dan akan dilakukan harus dijelaskan terlebih
dahulu. Ibu dan suaminya dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
- Menjaga kebersihan diri, membolehkan ibu untuk mandi, menganjurkan
ibu untuk membasuh sekitar kemaluannya selesai BAK/BAB.
- Mengatasi rasa panas. Ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak
10
keringat menggunakan kipas angin /AC dalam kamar.
- Massase pada punggung mengurangi rasa sakit. Lakukan pijatan atau
masase pada punggung dengan lembut.
- Pemberian cukup minum untuk memenuhi kebutuhan energi dan
mencegah dehidrasi.
- Mempertahankan kandung kemih tetap kosong untuk memfasilitasi
kemajuan persalinan, memberi rasa nyaman bagi ibu.
- Pencegahan infeksi.
- Sentuhan bertujuan untuk mengurangi rasa kesendirian selama proses
persalinan. Bidan harus berusaha memberikan dorongan semangat
kepada ibu selama proses persalinan sehingga ibu merasa aman, nyaman,
secara emosional merasa didukung.
11
(>160).
m. Menyiapkan ibu dan keluarga untuk membantu proses bimbingan meneran.
n. Beritahukan bahwa pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik dan
bantu ibu dalam menentukan posisi yang nyaman dan sesuai dengan
keinginannya.
o. Meminta keluarga membantu menyiapkan posisi ibu meneran (bila adarasa
ingin meneran dan terjadi kontraksi yang kuat, bantu ibu ke posisi lain yang
diinginkan dan pastikan ibu merasa nyaman).
p. Laksanakan bimbingan meneran pada saat ibu merasa ada dorongan kuat
untuk meneran.
q. Anjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau mengambil posisi yang
nyaman jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60
menit.
r. Persiapan pertolongan persalinan: letakkan handuk bersih (untuk
mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva5-6
cm. Letakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah bokongi bu.
Buka tutup partus set dan perhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan.
Pakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.
s. Kemajuan persalinan dalam kala II Penurunan yang teratur dan mengalami
kemajuan dari janin dijalan lahir dan dimulainya fase pengeluaran
merupakan kemajuan yang cukup baik, sedangkan kemajuan yang kurang
baik adalah tidak turunnya dijalan lahir serta gagalnya proses pengeluaran
bayi
t. Melahirkan bayi mengusap lendir yang terdapat di muka bayi dan
memotong tali pusat bayi serta mengeringkan dan menghangatkan bayi.
3) Asuhan Persalinan pada Kala III
a. Kala tiga adalah dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta,
yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit
b. Tanda-tanda lepasnya plasenta
12
tiga atau seperti buah pear atau alpukat dan fundus berada diatas
pusat(sering kali mengarah kesisi kanan).
- Tali pusat memanjang.
Tali pusat menjulur keluar melalui vulva (tandaAhfeld). Semburan darah
mendadak dan singkat.
4) Melakukan manajemen aktif kala III
- Pemberian suntikan oksitosin dalam1menit pertama setelah bayi lahir.
7. Robekan Perineum
1) Definisi Robekan Perineum
13
Robekan perineum, istilah lainnya adalah ruptur perineum. Ruptur merupakan
robekan yang terjadi pada perineum yang biasanya disebabkan karena trauma
saat persalinan. Rupture perineum adalah robekan yang terjadi pada perineum
yang biasanya disebabkan oleh trauma saat persalinan (Anik, 2016). Robekan
perineum adalah robekan yang terjadi pada saat bayi lahir baik secara spontan
maupun dengan menggunakan alat atau tindakan.
Robekan perineum ada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarang juga
pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah
dan bisa menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat.
2) Derajat Laserasi Perineum
a. Derajat I
Mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum
b. Derajat II
Robekan perineum terjadi pada semua persalinan pertama dan tidak jarang juga
pada persalinan berikutnya. Robekan ini dapat dihindarkan maupun dikurangi
dengan menjaga agar jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin
dengan cepat, sebaliknya apabila kepala janin akan lahir jangan ditahan terlalu
kuat dan lama karena akan menyebabkan asfiksia dan perdarahan dalam
14
tengkorak janin, dan melemahkan otot-otot dan fasia pada dasar panggul
karena diregangkan terlalu lama.
Robekan perineum umumnya terjadi digaris tengah dan bisa menjadi luas
apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubis lebih kecil dari biasa
sehingga kepala janin terpaksa lahir lebih belakang dari pada biasanya, kepala
janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar dari pada
sirkum ferensia suboksipito bregmatika, atau anak dilahirkan dengan
pembedahan vaginal.
5) Penjahitan
Penjahitan luka adalah suatu tindakan untuk mendekatkan tepi luka dengan
benang sampai sembuh
a. Tujuan
1) Untuk mendekatkan jaringan-jaringan perlukaan sehingga proses
penyembuhan bisa terjadi, proses penyembuhan itu bukanlah hasil dari
penjahitan tersebut tetapi hasil dari pertumbuhan jaringan
2) Untuk menghentikan perdarahan
b. Prinsip dasar penjahitan perineum
1) Ibu dalam posisisi litotomi
2) Penggunaan cahaya yang cukup terang
3) Tindakan cepat
4) Bekerja hati-hati
15
Tutup mukosa vagina dengan dengan jelujur, jahit kebawah kearah
cincin hymen
Tepat sebelum cincin hymen, masukan jarum kedalam mukosa vagina
lalu kebelakang cincin hymen sampai jarum ada dibawah laserasi
kemudian ditarik keluar pada luka perineum.
Gunakan teknik jelujur saat menjahit lapisan otot lihat kedalam
lukauntuk mengetahui letak ototnya.
Setelah dijahit sapai ujung luka, putarlah jarum dan mulailah kearah
vagina dengan mengunakan jahitan subkutis. Pindahkan dari bagian
luka perineum kembali kevagina dibelakang cincin hymen untuk
diikat dengan simpul mati dan dipotong benangnya.
6). Robekan perineum derajat III dan IV dilakukan penjahitan dengan teliti,
mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit kemudian fasia
prarektal ditutup dan mukosa sfingter ani yang robek dijahit.
Selanjutnya dilakukan penutupan robekan seperti pada robekan
perineum derajat II
Pastikan anus tidak terjahit dengan memasukkan jari kelingking
kedalam anus
Periksa kembali vagina dengan lembut untuk memastikan tidak ada
kassa yang tertinggal didalam
Cuci area genital dan kompres dengan kasa betadin
16
disusun.
2) Data Objektif
Data objektif merupakan pendokumentasian hasil observasi yang jujur, hasil
pemeriksaan fisik klien, hasil pemeriksaan laboratorium Catatan medik dan
informasi dari keluarga atau orang lain dapat dimasukkan dalam data objektif
ini sebagai data penunjang. Data ini akan memberikan bukti gejala klinis
klien dan fakta yang berhubungan dengan diagnosis.
3) Analysis
Langkah selanjutnya adalah analysis. Langkah ini merupakan
Pendokumentasian hasil analisis dan intrepretasi ( kesimpulan) dari data
ubjektif dan objektif. Karena keadaan klien yang setiap saat bisa mengalami
perubahan, dan akan ditemukan informasi baru dalam data subjektif maupun
data objektif, maka proses pengkajian data akan menjadi sangat dinamis.
Saudara-saudara, di dalam analisis menuntut bidan untuk sering melakukan
analisis data yang dinamis tersebut dalam rangka mengikuti perkembangan
klien. Analisis yang tepat dan akurat mengikuti perkembangan data klien
akan menjamin cepat diketahuinya perubahan pada klien, dapat terus diikuti
dan diambil keputusan/tindakan yang tepat. Analisis data adalah melakukan
intrepretasi data yang telah dikumpulkan, mencakup diagnosis, masalah
kebidanan, dan kebutuhan.
4) Penatalaksanaan
Penatalaksanaan adalah mencatat seluruh perencanaan dan penatalaksanaan
yang sudah dilakukan seperti tindakan antisipatif, tindakan segera, tindakan
secara komprehensif; penyuluhan, dukungan, kolaborasi, evaluasi/follow up
dan rujukan. Tujuan penatalaksanaan untuk mengusahakan tercapainya
kondisi pasien seoptimal mungkin dan mempertahankan kesejahteraanya.
(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Dokumentasi kebidanan 2019)
9. Patograf
Partograf adalah alat pencatatan yang digunakan dalam persalinan yang berfungsi
sebagai alat bantu untuk observasi kemajuan kala I persalinan, dari catatatan
tersebut memberikan informasi tentang keadaan ibu, janin, dan seluruh proses
persalinan. Partograf merupakan alat utama dalam mengambil keputusan klinik
17
khususnya pada persalinan kala I fase aktif (Gustiawati, 2012).
1) Kegunaan Partograf
Tujuan utama dari penggunaan partograf adalah :
Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan
Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan
demikian juga dapat mendeteksi secara dini, setiap kemungkinan terjadinya
pertus lama.
2) Manfaat Patograf
Jika digunakan dengan tepat dan konsisten, partograf akan membantu penolong
persalinan untuk :
Mencatat kemajuanpersalinan
Mencatat kondisi ibu danjanin.
Mencatat asuhan yang diberikan selama persalinan dankelahiran
Menggunakan informasi yang tercatat untuk identifikasi dini
penyulitpersalinan
Menggunakan informasi yang tersedia untuk membuat keputusan klinik
yang sesuai dan tepatwaktu
3) Waktu Pemantauan
Kondisi ibu dan bayi yang harus dinilai dan dicatat dengan seksama yaitu:
18
o J : Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
o M : Selaput ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur
mekonium
o K : Selaput ketuban sudah pecah tapi air etuban tidak mengalir lagi
(kering)
Penyusupan tulang kepala janin (molase):
o 0 :Sutura terpisah
o 1 :Tulang kepala janin hanya saling bersentuhan
o 2 :Tulang kepala janin saling tumpang tindih tetapi masih dapat
dipisahkan
o 3 : Tulang kepala janin saling tumpang tindih dan tidak dapat
dipisahkan
Pembukaan mulut rahim (serviks) dinilai setiap 4 jam dan diberikan tanda
silang (x)
19
Halaman Depan Patograf
20
Haman Belakang Patograf
21
B. Bayi Baru Lahir
1. Pengertian dan Batasan Neonatus
BBL Normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu – 42 minggu
dengan berat badan 2500-4000 gram.(Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks
Keluarga, 1993). BBL Normal adalah bayi yang dikeluarkan dari hasil konsepsi
melalui jalan lahir dan dapat hidup diluar dengan berat 2,5 – 4 kg, dengan usia
kehamilan 36 – 42 minggu menangis spontan dan bernafas spontan teratur dan
tonus otot baik.(Asuhan Persalinan Normal 2003).
Bayi Baru Lahir Normal adalah adaptasi fisiologi yang sangat berguna bagi
bayi untuk menjaga kelangsungan hidupnya diluar uterus artinya nantinya bayi
harus dapat melakukan sendiri segala kegiatan untuk mempertahankan hidupnya
(fitra maya 2000). BBL Normal adalah Bayi yang lahir dari kehamilan 2500 –
4000 gram.(Depkes, RI, 1998, hal. 93). Bayi baru lahir (neonatus) adalah
bayi yang berusia 0-28 hari (Kementerian Kesehatan RI, 2010).
Bayi baru lahir adalah
bayi berusia satu jam yang lahir pada usia kehamilan 37-42
minggu dan berat badannya 2.500-4000 gram (Dewi, 2010).
2. Asuhan Segera Bayi Baru Lahir
Bidan harus mengetahui kebutuhan transisional bayi dalam
beradaptasi dengan kehidupan diluar uteri sehingga ia dapat
membuatpersiapan yang tepat untuk kedatangan bayi baru lahir.
Adapun asuhannya sebagai berikut (Fraser Diane, 2011):
a. Pencegahan kehilangan panas seperti mengeringkan bayi baru
lahir, melepaskan handuk yang basah, mendorong kontak kulit
dari ibu ke bayi, membedong bayi dengan handuk yang kering.
b. Membersihkan jalan nafas.
c. Memotong tali pusat.
d. Identifikasi dengan cara bayi diberikan identitas baik berupa
gelang nama maupun kartu identitas.
e. Pengkajian kondisi bayi seperti pada menit pertama dan
kelima setelah lahir, pengkajian tentang kondisi umum bayi
22
dilakukan dengan menggunakan nilai Apgar
24
bercak. Bayi sering berkemih dan mengeluarkan mekonium, terjadi
peningkatan sekresi mukus dan bayi bisa tersedak pada saat sekresi. Refleks
mengisap bayi sangat kuat dan bayi sangat aktif. Kebutuhan asuhan bayi pada
periode ini memantau secara ketat kemungkinan bayi tersedak saat
mengeluarkan mukus yang berlebihan, memantau setiap kejadian apnea dan
mulai melakukan rangsangan taktil, seperti mengusap punggung,
memiringkan bayi serta mengkaji keinginan dan kemampuan bayi untuk
mengisap dan menelan (Muslihatun, 2010)
b. Periode Pasca Transisional
Setelah bayi melewati periode transisi, bayi dipindahkan ke ruang rawat
gabung bersama ibunya. Asuhan bayi baru lahir normal umumnya mencakup
pengkajian tanda-tanda vital setiap 4 jam, pemeriksaan fisik setiap 8 jam,
pemberian ASI on demand, menggganti popok serta menimbang berat badan,
selain asuhan transisional dan pasca transisional asuhan bayi baru lahir juga
diberikan pada bayi berusia 2-6 hari, serta bayi berusia 6 minggu pertama
(Muslihatun, 2010)
Perubahan fisiologis pada bayi baru lahir
a. Sistem pernafasan
Perkembangan sistem pulmoner
Umur kehamilan Perkembangan
24 hari Bakal paru – paru
terbentuk
26 – 28 hari Kedua bronchi
membesar
6 minggu dibentuk segmen
bronkus
12 minggu Diferensial lobus
28 minggu Dibentuk surfaktan
34 – 36 minggu Sudah matang
25
Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru – paru [Link]
pertama pada bayi normal terjadi dalam waktu 30 menit pertama sesudah
lahir. Usaha bayi untuk pertama kali mempertahankan alveoli, selain adanya
sulfaktan yang menarik nafas atau mengeluarkan nafas dengan merintih,
sehingga udara tertahan didalam.
Respirasi pada neonatus biasanya pernapasan diafragmatik dan abdominal,
sedangkan frekuensi dan dalamnya belum teratur. Apabila surfaktan
berkurang, maka alveoli akan kolaps dan paru paru akan kaku, sehingga
terjadi atelektasis dalam keadaan anoksia neonatus masih dapat
mempertahankan hidupnya karena adanya kelanjutan metabolisme anaerobik.
c. Peredaran darah
Pada fase fetus darah dari plasenta ke vena umbikalis dan sebagian ke hati,
sebagian langsug ke serambi kiri jantung, kemudian ke bilik kiri jantung. Dari
bilik kiri darah dipompa melalui aorta ke seluruh tubuh. Dari biik kanan
darah dipompa sebagian ke paru dan sebagian melalui duktus arteriosus ke
aorta.
Setelah bayi lahir, paru akan berkembang mengakibatkan tekanan arteriol
dalam paru menurun. Tekanan dalam jantung kanan turun, sehingga tekanan
jantung kiri lebih besar daripada jantung kanan yang mengakibatkan
menutupnya foramenovale secara fungsionil. Hal ini terjadi pada jam – jam
pertama setelah kelahiran. Oleh karena tekanan dalam paru turun dan tekanan
aorta desenden naik dan karena rangsangan biokimia ( PaO2 yang naik)
duktus arteriosus berobliterasi ini terjadi pada hari pertama.
Aliran darah paru pada hari pertama adalah 4-5 liter per
menit/m2(Gessner,1965). Aliran darah sistoik pada hari pertama rendah yaitu
1,96 liter/menit/m2 dan bertambah pada hari kedua dan ketiga (3.54 liter/m 2)
karena penutupan duktus arteriosus. Tekanan darah waktu lahir dipengaruhi
oleh jumah darahyang melalui trasfusi plasenta dan jam – jam pertama sedikit
menuru, dan naik lagi dan menjadi kostankira – kira 85/40 mmHg
d. Suhu Tubuh
Mekanisme kemungkinan hilangnya panas tubuh dari bayi baru lahir
kelingkungannya melalui cara pertama evaporasi yaitu kehilangan panas
melalui proses penguapan atau perpindahan panas dengan cara merubah
cairan menjadi uap. Pencegahannya, setelah bayi lahir segera mengeringkan
26
bayi secara seksama dan menyelimuti bayi dengan selimut atau kain bersih
dan kering serta menutup bagian kepala bayi. Cara kedua konduksi yaitu
kehilangan panas dari tubuh bayi kebenda sekitarnya yang kontak langsung
dengan tubuh bayi, misalnya menimbang bayi tanpa mengalasi timbangan
bayi dan menggunakan stetoskop untuk pemeriksaan bayi baru lahir
(Muslihatun. [Link].12).
Cara ketiga konveksi yaitu kehilangan panas tubuh yang terjadi saat bayi
terpapar udara sekitar yang lebih dingin, misalnya aliran udara dingin dari
kipas angin, dan hembusan udara dingin melalului ventilasi. Cara keempat
radiasi yaitu kehilangan panas yang terjadi karena bayi ditempatkan di dekat
benda-benda yang mempunyai suhu lebih rendah dari suhu tubuh bayi,
misalnya bayi terlalu dekat ke dinding tanpa memakai penutup kepala atau
topi (JNPK-KR, 2012).
e. Hati
Segera setelah lahir, hati menunjukan perubahan kimia dan morfologis yaitu
kenaikan kadar protein dan dan penurunan kadar lemak serta glikogen. Sel
hemopoetik juga mulai berkurang, walaupun memakan waktu agak lama.
Enzim hati belum aktif benar pada bayi baru lahir, daya detoksifikasi hati
pada neonatus juga belum sempurna contohnya pemberian obat
kloramfenikoldengan dosisi lebih dari 50/mg/KgBB/hari dapat menimbulkan
grey baby syndrome.
f. Keseimbangan asan dan basa
PH darah dalam waktu lahir rendah karena glikolisis anaerobik. Dalam 24
jam neonatus mengompensasi asidosis ini.
g. Metabolisme glukosa
Otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada saat kelahiran, setelah
talipusat diklem, seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa
darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir kadar glukosa darah akan turun
dalam waktu 1-2 jam. Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan
dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen. Hal ini
hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang
bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen, terutama dalam
hati, selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Bayi yang
mengalami hipotermi saat lahir, kemudian mengakibatkan hipoksia akan
27
menggunakan persediaan glikogen dalam satu jam pertama kelahiran.
Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam pertama
pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua persediaan digunakan dalam
satu jam pertama, otak bayi akan mengalami risiko. Bayi baru lahir kurang
bulan, IUGR, dan gawat janin merupakan kelompok yang paling berisiko,
karena simpanan energi mereka berkuang atau digunakan sebelum lahir
(Rochmah, 2012.)
h. Adaptasi Ginjal
Sebagian besar bayi baru lahir berkemih dalam 24 jam pertama setelah lahir,
dan dua sampai enam kali sehari pada 1-2 hari pertama, setelah itu mereka
berkemih 5 sampai 20 kali dalam 24 jam. Urine dapat keruh karena lendir dan
garam asam urat, noda kemerahan dapat diamati pada popok karena kristal
asam urat (Stright, [Link].217) Menurut Muslihatun (2010,hlm.18). Fungsi
ginjal belum sempurna karena jumlah nefron masih belum sebanyak orang
dewasa, ketidak seimbangan luas permukaan glomerulus dan volume tubulus
froksimal, serta renal blood flow relatif kurang bila dibandingkan orang
dewasa.
i. Adaptasi Gastrointestinal
Secara fungsional, saluran gastrointestinal bayi belum matur dibandingkan
orang dewasa, membran mukosa pada mulut berwarna merah jambu dan
basah. Gigi tertanam didalam gusi dan sekresi ptialin sedikit. Sebelum lahir
janin cukup bulan akan mulai mengisap dan menelan. Kapasitas lambung
sangat terbatas, kurang dari 30 ml untuk bayi baru lahir cukup bulan.
Kapasitas lambung ini akan bertambah secara perlahan, seiring dengan
pertumbuhan bayi. Pengaturan makan yang sering oleh bayi sendiri sangat
penting, contohnya memberikan makan sesuai keinginan bayi (ASI on
demand) (Rochmah, [Link].10).
Refleks gumoh dan batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada
saat lahir. Kemampuan neonatus cukup bulan untuk menelan dan mencerna
makanan selain susu masih terbatas, hubungan antara esofagus bawah dan
lambung masih belum sempurna sehingga mengakibatkan gumoh pada
neonatus (Maryanti. [Link].20).
Pemeriksaan pada bayi baru lahir
Pemeriksaan pada bayi baru lahir, segera setelah bayi dilahirkan adalah Skor
28
Apgar. Ini adalah metode sederhana dan efektif yang digunakan untuk
mengukur kesehatan bayi dan menentukan apakah bayi memerlukan
penanganan segera. Pengukurannya cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, dan
meyakinkan. Pengukuran dilakukan pada menit pertama dan menit kelima
setelah lahir. Setiap faktor diberi nilai antara 0 dan 2, kemudian skornya
[Link] adalah faktor-faktor yang dinilai pada Skor Apgar:
a. Denyut jantung
0 Tidak ada denyut jantung.
1 Kurang dari 100 kali per menit.
2 Lebih dari 100 kali per menit.
b. Pernapasan
0 Tidak bernapas.
1 Menangis lemah atau pelan, bernapas tidak teratur.
2 Menangis kuat, bagus.
c. Tonus otot
0 Lemah.
1 Lengan dan kaki sedikit menekuk.
2 Bergerak aktif.
d. Respons refleks
0 Tidak ada respons ketika jalan napas disedot dengan mesin.
1 Meringis saat disedot.
2 Meringis dan batuk atau bersin saat disedot.
e. Warna
0 Seluruh tubuh berwarna biru datau pucat.
1 Warna bagus pada tubuh tetapi tangan atau kaki biru.
2 Seluruhnya berwarna merah muda (bagi bayi berkulit gelap, warna
merah muda pada telapak tangan, telapak kaki, bibir, dan mulut).
Bayi dengan jumlah skor 8-10 berada dalam kondisi yang baik dan biasanya
hanya memerlukan perawatan rutin. Bayi dengan skor 5-7 mungkin
mengalami beberapa masalah selama persalinan sehingga memerlukan sedikit
bantuan pernapasan. Tenaga kesehatan mungkin akan menggosok tubuh bayi
sekuat-kuatnya atau memberikan oksigen melalui hidung.
Hanya sedikit sekali bayi baru lahir dengan Skor Apgar di bawah 5, misalnya
bayi prematur atau yang dilahirkan dengan operasi seksio emergensi, yang
29
mengalami masalah pada jantung atau sistem pernapasan.
Pemeriksaan dalam 24 jam setelah lahir. Dalam 24 jam pertama setelah lahir,
pada bayi akan dilakukan hal-hal berikut:
1. Pemeriksaan pernapasan, tekanan darah, serta kemampuannya untuk
kencing dan buang air besar.
2. Pengukuran panjang, berat badan, dan lingkar kepala.
3. Pemberian salep antibiotik mata. Karena bayi baru saja lahir, maka
ada kemungkinan ia mendapat infeksi mata dari bakteri di dalam vagina
yang dilewatinya saat persalinan. Untuk itu, ia akan diberikan salep atau
tetes mata yang mengandung antibiotik.
4. Injeksi/suntikan, seperti vitamin K dan imunisasi hepatitis B.
Pemantauan tanda – tanda vital
Tanda Vital merupakan parameter tubuh untuk menilai fungsi fisiologis organ
vital tubuh/mekanisme hemostatis tubuh. Pengukuran tanda vital meliputi:
a. Suhu Tubuh Bayi
Suhu tubuh mencerminkan keseimbangan antara pembentukan dan
pengeluaran panas. Pusat pengaturan suhu terdapat di hipotalamus. Suhu
tubuh dipengaruhi oleh usia, jenis kelamin, suhu lingkungan, dan aktivitas.
Bayi baru lahir, pada keadaan normal, memiliki suhu tubuh sekitar
36,50Chingga 37,50C atau sama dengan suhu tubuh ibunya, namun pada kasus
tertentu cenderung terjadi hipotermia. Suhu bayi akan cenderung stabil
setelah 8-10 jam pasca kelahiran.
b. Denyut jantung bayi
Nadi atau pulse diukur untuk mengevaluasi denyut jantung. Denyut jantung
dipengaruhi oleh suhu tubuh, usia, dan aktivitas fisik bayi, dimana bayi
dengan usia lebih muda dan suhu tubuh lebih rendah maka denyut jantungnya
akan lebih tinggi dibanding bayi yang lebih tua dan suhu tubuh lebih tinggi,
sedangkan aktivitas fisik meliputi pergerakan bayi yang berlebih serta
keaadaan bayi yang menangis menyebabkan nilai denyut jantung meningkat.
Denyut jantung akan terus menurun hingga usia 14 tahun kemudian stabil
pada 60-100 kali per menit.
c. Pernapasan bayi
Laju pernapasan atau biasa disebut respiration rate (RR) dipengaruhi oleh
suhu, usia, aktivitas. Pada bayi baru lahir laju pernapasan berkisar antara 40-
30
60 kali per menit kemudian cenderung menurun dan stabil ketika
[Link] pernapasan diukur dengan menghitung jumlah napas seseorang
dalam satu menit serta melihat pola dan kualitas pernapasannya. Biasanya
diukur pada kondisi istirahat atau tenang.
d. Tekanan darah bayi
Tekanan darah merupakan salah satu komponen pemeriksaan tanda vital.
Faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu berat badan dan usia
[Link] yang diukur pada pemeriksaan tekanan darah yaitu tekanan
sistolik, dimana merupakan tekanan maksimal pada dinding arteri selama
kontraksi ventrikel kiri, tekanan diastolik yaitu tekanan minimal selama
relaksasi, dan Mean Arterial Pressure atau biasa disebut MAPyaitu selisih
antara tekanan sistolik dan diastolik (penting untuk menilai derajat syok).
f. Saturasi oksigen bayi
Pulse oximetry adalah metode noninvasif yang memungkinkan pengukuran
saturasi oksigen dalam hemoglobin darah pada [Link] normalnya
memiliki saturasi oksigen diatas 97%.
Penatalaksanaan awal dan asuhan bayi baru lahir
Segera setelah melahirkan bayi
a. Sambil secara cepat menilai pernafasanya, letakkan bayi dengan handuk
diatas perut ibu.
b. Klem , potong tali pusat
o Mengeklem tali pusat dengan 2 buah klem, pada titik kira – kira 2
dan 3 cm dari pangkal pusat bayi.
o Mempertahankan tali pusat diantara 2 klem sambil melindungi bayi
dari gunting sambil dengan tangan kiri.
o Mempertahankan kebersihaan pada saat memotong tali pusat dengan
pisau atau gunting yang steril atau disinfeksi tingkat tinggi.
o Memeriksa tali pusat setiap 15 menit. Apabila masih ada
perdarahaan, lakukan pengikatan ulang yang lebih hangat.
c. Jagalah agar bayi tetap hangat
o Memastikan bayi tersebut tetap hangat dan terjadi kontak antara kulit
bayi dan kulit ibu.
31
o Mengganti handuk atau kain yang basah,dan bungkus bayi tersebut
dengan selimut dan jangan lupa memastikan bahwa kepala telah
terlindungi dengan baik untuk mencegah keluarnya panas tubuh.
d. Kontak dini dengan ibu
o Memberikan bayi kepada ibunya secepat mungkin untuk kehangatan.
o Untuk ikatan batin dan pemberian ASI ( IMD ).
e. Penafasan
Periksa pernafasan dan warna kulit setiap 5 menit.
f. Perawatan mata
Obat mata eritromisin 0,5% tetrasiklin 1% dianjurkan untuk pencegahan
penyakit mata karena klamidia.
o Pemeriksaan fisik bayi
o Identifikasi bayi
32
DAFTAR PUSTAKA
33