PAPERS
PERANAN KAJIAN SOSIOLOGI ADMINISTRASI MEMBANTU
MENYELESAIKAN MASALAH KESENJANGAN PENDIDIKAN DI DAERAH
TERPENCIL
DOSEN PENGAMPU:
Dr. Zikri Alhadi, [Link]., M.A
DISUSUN OLEH :
Nadila Rahma Cahyani
23042181
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
PRODI ILMU ADMINISTRASI NEGARA
FAKULTAS ILMU SOSIAL
2024/2025
PERMASALAHAN
KEBIJAKAN KESENJANGAN PENDIDIKAN DI INDONESIA
A. Definisi Kesenjangan Pendidikan Di Indonesia
Kesenjangan pendidikan merupakan perbedaan yang signifikan dalam akses,
kualitas, dan hasil pendidikan yang dialami oleh berbagai kelompok masyarakat,
sering kali berdasarkan faktor-faktor geografis, ekonomi, sosial, dan budaya (Tarigan
et al., 2022). Kesenjangan ini menjadi semakin kentara ketika membandingkan
kondisi pendidikan di daerah perkotaan dengan daerah terpencil (Syafi’i, 2023). Di
daerah terpencil, akses terhadap fasilitas pendidikan, tenaga pendidik berkualitas, dan
sumber daya belajar sering kali sangat terbatas, menyebabkan anak-anak di wilayah
ini tertinggal dalam pencapaian akademik dibandingkan dengan rekan-rekan mereka
di kota besar.
B. Statistik Data Kesenjangan Pendidikan di Indonesia
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan menunjukkan bahwa kesenjangan pendidikan di Indonesia masih sangat
nyata. Di daerah terpencil, angka partisipasi sekolah (APS) dan angka partisipasi
kasar (APK) masih jauh di bawah rata-rata nasional. Misalnya, pada tahun 2020, APS
tingkat SD di daerah perkotaan mencapai hampir 98%, sementara di daerah terpencil
hanya sekitar 85%. Kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi juga sangat terbatas; APK untuk pendidikan menengah dan tinggi di daerah
terpencil jauh lebih rendah dibandingkan daerah perkotaan.
Tidak hanya itu, kualitas pendidikan juga sangat terpengaruh. Berdasarkan data
PISA (Program for International Student Assessment), siswa di daerah terpencil
menunjukkan performa yang jauh lebih rendah dalam membaca, matematika, dan
sains dibandingkan siswa di daerah perkotaan. Hal ini menunjukkan bahwa akses
yang terbatas tidak hanya mengurangi partisipasi pendidikan tetapi juga kualitas hasil
pendidikan. Misalnya, data PISA 2018 menunjukkan bahwa Indonesia menempati
peringkat ke-72 dari 78 negara, dan siswa di daerah terpencil berkontribusi signifikan
terhadap rendahnya rata-rata nasional.
Pendidikan membuat kami khawatir. Di Lemhanas, ada tolak ukur ketahanan
nasional yang salah satunya adalah waktu pendidikan rata-rata yang paling pendek.
Meskipun waktu pendidikan rata-rata nasional adalah 12 tahun, waktu pendidikan
sebenarnya hanya 8,3 tahun. Saat perayaan Hari Ulang Tahun Lemhanas ke-59 di
Gedung Panca Gatra, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (20/5/2024), Prof. Dadan
mengatakan kepada wartawan bahwa ini adalah kenyataan yang kita hadapi. Selain
itu, Dadan, seorang guru, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi
pendidikan Indonesia saat ini. Dia menemukan bahwa banyak orang masih tidak
menyelesaikan pendidikan wajib selama 12 tahun.
Tingkat pendidikan mayoritas penduduk Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas
baru mencapai wajib belajar 9 tahun atau setara dengan tamat SMP, menurut data dari
Badan Pusat Statistik (BPS). Meskipun demikian, masih ada perbedaan yang
signifikan dalam pendidikan lanjutan. Menurut data BPS dari Survei Sosial Ekonomi
Nasional (Susenas), pada Maret 2023, persentase lulusan tertinggi di Indonesia adalah
lulusan SMA/sederajat dengan 30,22%. Diikuti oleh lulusan SD/sederajat dengan
24,62% dan lulusan SMP/sederajat dengan 22,74%. Yang lebih mengkhawatirkan,
proporsi penduduk yang memiliki gelar perguruan tinggi hanya 10,15%. Angka-
angka ini menunjukkan betapa terbatasnya akses ke pendidikan tinggi.
Meskipun sekitar 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
Indonesia dialokasikan untuk pendidikan, kualitas pendidikan masih menjadi masalah
besar. Dana yang besar ini belum sepenuhnya berfungsi untuk menyelesaikan
berbagai masalah di bidang pendidikan, terutama dalam hal penyebaran dan
penggunaan yang tepat. Sumber daya penting seperti buku teks, alat peraga, dan
fasilitas laboratorium yang layak masih tersedia di banyak sekolah. Oleh karena itu,
untuk memastikan bahwa semua institusi pendidikan di Indonesia memberikan
pendidikan yang berkualitas, pengelolaan dan pembagian anggaran yang lebih efisien
diperlukan.
ANALISIS
A. Peranan Sosiologi Administrasi dalam Pendidikan
Sosiologi administrasi adalah cabang ilmu sosiologi yang mempelajari struktur,
proses, dan pengaruh administrasi dalam kehidupan sosial. Dalam konteks pendidikan,
sosiologi administrasi mengeksplorasi bagaimana kebijakan dibuat, dilaksanakan,
dan dievaluasi, serta bagaimana struktur administrasi pendidikan mempengaruhi
distribusi sumber daya, akses ke pendidikan, dan hasil pendidikan. Administrasi
pendidikan mencakup berbagai aspek, mulai dari pengelolaan sekolah hingga
pengelolaan akademik. Pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat
dipengaruhi oleh kebijakan dan struktur administrasi. Berikut ini beberapa peranan
sosiologi administrasi dalam konteks pendidikan:
1. Pemahaman Terhadap Kebijakan Pendidikan
• Analisis Kebijakan: Sosiologi administrasi membantu menganalisis
bagaimana kebijakan pendidikan dirancang, diimplementasikan, dan
dievaluasi. Ini mencakup pemahaman tentang proses legislasi, peran berbagai
aktor dalam pembentukan kebijakan, dan dampak kebijakan tersebut terhadap
institusi pendidikan dan masyarakat.
• Evaluasi Efektivitas: Melalui pendekatan sosiologis, dapat dievaluasi apakah
kebijakan pendidikan yang ada sudah efektif dalam mencapai tujuan yang
diinginkan, seperti peningkatan kualitas pendidikan, pemerataan akses, dan
pengurangan kesenjangan.
2. Struktur dan Dinamika Organisasi Pendidikan
• Hierarki dan Birokrasi: Sosiologi administrasi mengeksplorasi bagaimana
hierarki dan struktur birokrasi dalam lembaga pendidikan mempengaruhi
kinerja dan budaya organisasi. Ini termasuk bagaimana keputusan diambil,
peran dan tanggung jawab berbagai aktor, serta interaksi antar tingkat
manajemen.
• Budaya Organisasi: Memahami budaya organisasi dalam institusi pendidikan
adalah penting untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi. Sosiologi
administrasi membantu mengidentifikasi nilai-nilai, norma, dan praktik yang
mendukung atau menghambat pencapaian tujuan pendidikan.
B. Analisis Kebijakan Pendidikan di Daerah Terpencil
Kebijakan pendidikan di daerah terpencil menjadi topik yang sangat relevan dan
penting mengingat besarnya tantangan yang dihadapi dalam upaya pemerataan akses
pendidikan (Kharismawati, 2022).. Daerah terpencil di Indonesia seringkali
mengalami kesulitan dalam mendapatkan akses pendidikan yang memadai, baik dari
segi fasilitas, tenaga pendidik, maupun dukungan infrastruktur. Berbagai upaya telah
dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi kesenjangan ini melalui berbagai
kebijakan dan program, namun efektivitas dan keberlanjutannya masih menjadi
perdebatan.
Kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas
pendidikan di daerah terpencil mencakup berbagai program seperti Program
Indonesia Pintar (PIP), Program Guru Garis Depan (GGD), dan pembangunan
sekolah-sekolah terpadu. Program Indonesia Pintar, misalnya, bertujuan untuk
memberikan bantuan keuangan kepada siswa dari keluarga kurang mampu agar dapat
terus melanjutkan pendidikan mereka. Sementara itu, Program Guru Garis Depan
berfokus pada penempatan guru-guru berkualitas di daerah terpencil dan tertinggal
untuk mengatasi kekurangan tenaga pengajar (Molle & Dalensang, 2022).
Namun, evaluasi terhadap kebijakan-kebijakan ini menunjukkan bahwa meskipun
ada peningkatan akses, masih terdapat banyak kendala dalam implementasi. Misalnya,
distribusi bantuan seringkali tidak merata dan terlambat sampai ke sasaran. Di sisi
lain, penempatan guru di daerah terpencil seringkali dihadapkan pada tantangan besar
seperti kurangnya fasilitas dasar, isolasi sosial, dan rendahnya insentif bagi para guru
untuk bertahan dalam jangka panjang.
Kelemahan utama dari kebijakan pendidikan di daerah terpencil terletak pada
implementasi yang tidak konsisten dan kurangnya dukungan infrastruktur. Banyak
sekolah di daerah terpencil masih kekurangan fasilitas dasar seperti bangunan sekolah
yang layak, akses internet, dan buku pelajaran yang memadai. Selain itu, distribusi
sumber daya seringkali tidak merata, sehingga ada daerah yang mendapat perhatian
lebih sementara daerah lain terabaikan.
Di sisi lain, kekuatan dari kebijakan ini terletak pada komitmen pemerintah untuk
meningkatkan akses pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Adanya program-
program seperti PIP dan GGD menunjukkan adanya upaya nyata untuk mengatasi
kesenjangan pendidikan. Selain itu, keterlibatan berbagai pemangku kepentingan
seperti organisasi non-pemerintah, sektor swasta, dan komunitas lokal juga menjadi
salah satu faktor positif yang dapat mendukung keberhasilan kebijakan pendidikan di
daerah terpencil.
REKOMENDASI
A. Strategi Peningkatan Akses Pendidikan
Untuk meningkatkan akses pendidikan di daerah terpencil, ada beberapa hal yang
harus dilakukan. Ini termasuk membangun infrastruktur pendidikan, menyediakan
transportasi dan akomodasi, dan menerapkan teknologi untuk pembelajaran jarak jauh
(Lukitasari et al., 2017). Untuk membuat lingkungan belajar yang layak, sekolah
harus dibangun baru dan diperbarui fasilitas yang ada. Selain itu, hambatan fisik untuk
akses pendidikan dapat dikurangi dengan menyediakan bus sekolah, subsidi
transportasi, dan asrama untuk siswa yang tinggal jauh. Siswa di daerah terpencil
dapat mengikuti pelajaran tanpa harus selalu hadir secara fisik berkat penggunaan
platform pembelajaran daring dan kelas virtual, sementara peningkatan akses internet
dan penyebaran perangkat teknologi memastikan keterhubungan yang memadai.
Selain itu, kolaborasi dengan sektor swasta, komunitas lokal, dan organisasi non-
pemerintah sangat penting. Partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan
pelaksanaan program pendidikan memastikan bahwa program tersebut relevan dan
bertahan lama. Berkolaborasi dengan organisasi non-pemerintah (NGO) dan sektor
swasta melalui program CSR, sponsor, dan beasiswa dapat memberikan dukungan
tambahan. Untuk menjamin keberlanjutan program-program ini, juga diperlukan
kebijakan pemerintah yang inklusif dan dukungan pendanaan yang memadai. Selain
itu, evaluasi dan pengawasan berkala sangat penting untuk mengevaluasi seberapa
efektif program dan melakukan perubahan yang diperlukan. Metode yang menyeluruh
ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan pendidikan di wilayah terpencil secara
signifikan.
B. Kebijakan dan Program Pemerintah
Kebijakan dan program pemerintah memiliki peranan penting dalam mengatasi
kesenjangan pendidikan di daerah terpencil. Kebijakan inklusif yang mendukung
akses pendidikan bagi anak-anak di daerah terpencil adalah langkah awal yang krusial.
Kebijakan afirmatif dapat diterapkan untuk memastikan bahwa daerah yang tertinggal
mendapatkan prioritas dalam pembangunan infrastruktur pendidikan (Tanyid, 2014).
Misalnya, pemerintah dapat mengalokasikan dana khusus untuk membangun
sekolah, memperbaiki fasilitas yang ada, dan menyediakan kebutuhan dasar seperti
buku dan alat tulis. Selain itu, regulasi yang mewajibkan pemerintah daerah untuk
memprioritaskan pembangunan infrastruktur pendidikan dapat membantu
menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi anak-anak di daerah terpencil.
Implementasi kebijakan ini harus didukung oleh sistem monitoring yang efektif untuk
mengevaluasi progres dan memastikan bahwa dana yang dialokasikan digunakan
dengan tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Kharismawati, S. A. (2022). Evaluasi Pelaksanaan Asesmen Nasional Berbasis Komputer
di Sekolah Dasar Terpencil. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 7(2), 229–234.
[Link]
Lukitasari, S. W., Sulasmono, B. S., & Iriani, A. (2017). Evaluasi Implementasi Kebijakan
Pendidikan Inklusi. Kelola: Jurnal Manajemen Pendidikan, 4(2), 121.
[Link]
Molle, M., & Dalensang, R. F. (2022). Evaluasi Pelaksanaan Program Pendidikan Gratis
Guna Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar di Kecamatan Bacan Timur Kabupaten
Halmahera Selatan Provinsi Maluku Utara. Al-Irsyad, 105(2), 79.
[Link]
Syafi’i, A., Saied, M., & Rohman Hakim, A. (2023). Efektivitas Manajemen Pendidikan
dalam Membentuk Karakter Diri. Journal of Economics and Business UBS, 12(3),
1905–1912. [Link]
Tanyid, M. (2014). Etika dalam Pendidikan: Kajian Etis tentang Krisis Moral Berdampak
Pada Pendidikan. Jurnal Jaffray, 12(2), 235.
[Link]
Tarigan, W. F., Kerebungu, F., & Sidik, S. (2022). Kesenjangan Sosial pada Pendidikan
Anak di Desa Kandibata Kecamatan Kabanjahe, Kabupaten Karo Provinsi
Sumatera Utara. Indonesian Journal of Social Science and Education, 2(1), 43–
51.