0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Pembaharuan Pembelajaran di SD: Prinsip dan Pendekatan

Diunggah oleh

Citra Mentari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Pembaharuan Pembelajaran di SD: Prinsip dan Pendekatan

Diunggah oleh

Citra Mentari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS 2 PEMBAHARUAN PEMBELAJARAN DI SD

NAMA : CITRA DYAH MENTARI


NIM : 857999495

1. Empat prinsip konstruktivistik sosial, antara lain :

 Pembelajaran Sosial (social learning)


Pendekatan pembelajaran yang dipandang sesuai adalah pembelajaran kooperatif yaitu siswa
belajar melalui interaksi bersama dengan orang dewasa atau teman yang lebih cakap
 Zone of Proximal Development (ZPD)
Siswa bekerja dalam ZPD jika siswa tidak dapat memecahkan masalah sendiri, tetapi dapat
memecahkan masalah itu setelah mendapat bantuan orang dewasa atau temannya. Bantuan atau
support diberikan agar siswa mampu mengerjakan tugas atau soal yang lebih tinggi tingkat
kerumitannya daripada tingkat perkembangan kognitif anak.
 Cognitive Apprenticeship
Yaitu proses yang digunakan seorang pelajar secara bertahap untuk memperoleh keahlian melalui
interaksi dengan ahli, bisa orang dewasa seperti gutu atau teman sebaya yang lebih pandai.
Pengajaran siswa adalah suatu bentuk masa magang/ pelatihan.
 Pembelajaran Termediasi (Mediated Learning)
Vygostky menekankan pada scaffolding yaitu bantuan yang diberikan oleh orang lain kepada
anak untuk membantunya mencapai kemandirian. Siswa diberi masalah yang kompleks, sulit, dan
realistik, dan diberi bantuan secukupnya dalam memecahkan masalah tersebut. Bantuan yang
diberikan dapat berupa petunjuk, peringatan, motivasi, menguraikan masalah ke dalam bentuk
lain yang lebih mudah untuk dipahami

2. Perbedaan proses enkulturasi dan akulturasi budaya dalam pendidikan anak:


a) Proses enkulturasi
Suatu proses sosial yang dilakukan oleh seorang individu dalam mempelajari dan menyesuai kan
pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem norma, tata sosial, dan peraturan-peraturan
yang hidup dalam kebudayaannya. Terjadinya enkulturasi seringkali dimulai dari kegiatan belajar
dengan meniru, kemudian dari tindakan meniru tersebut dapat diinternalisasikan atau di masukan
dalam kepribadiannya
Contoh:
 ketika siswa sejak kecil sudah terbiasa untuk mendapatkan pendidikan mengenal pancasila, sebagai
ideologi atau landasan negara yang tidak dapat diganggu gugat. Pengenalan ini kemudian diterapkan
terus menerus dalam kehidupan, hingga akhirnya anak tersebut benar-benar mengenal ideologi bangsa
bahkan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya sehingga kebiasaan disiplin, bertanggung
jawab, hidup rukun bahkan semangat nasionalisme sudah terbawa hingga ia dewasa.
b) Proses akulturasi
Perpaduan dua buah budaya yang menghasilkan budaya baru tanpa menghilangkan unsur-unsur asli dalam
budaya tersebut.
Contoh:
 Pada saat masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia sudah mulai mengenal budaya baca
tulis. Beberapa bukti yang nyata adalah digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam
kehidupan sebagian masyarakat Indonesia.

3. Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), merupakan kepanjangan


dari sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat. Dasar pendekatan ini, diharapkan siswa
akan memiliki kemampuan memandang suatu cara yang terintegrasi
dengan memperhatikan keempat unsur tersebut, sehingga dapat diperoleh pemahaman yang lebih
mendalam tentang pengetahuan. Urutan ringkasan pendekatan ini memberi makna bahwa untuk
menggunakan sains (S-pertama) ke bentuk teknologi (T) dalam memenuhi kebutuhan masyarakat (S-
kedua) diperukan pemikiran tentang berbagai implikasinya pada lingkungan (E) secara fisik maupun
mental.
Secara tidak langsung, hal ini menggambarkan arah pendekatan SETS yang relative memiliki
kepedulian terhadap lingkungan kehidupan atau sistem kehidupan manusia itu sendiri. Jadi,
pendidikan SETS (Science, Environment, Technology, and Society), bukan
hanya sebatas angan-angan saja, melainkan benar-benar membahas sesuatu yang nyata yang bisa
dipahami, dilihat, dibahas dan dipecahkan jalan keluar atau dicari solusinya. Dengan
kata lain, pendekatan ini didefinisikan sebagai sarana belajar mengajar mengenai sains dan teknologi
dalam konteks pengalaman manusia. Hal tersebut berarti bahwa peserta didik dalam tidak hanya
mempelajari teori tentang sains (ilmu pengetahuan) saja, melainkan juga melihat dalam kehidupan
nyata atas segala sesuatu yang berhubungan dengan teori yang dipelajari, sehingga akan berdampak
positif dalam pemahaman untuk diterapkan.

4. Gandal dan Finn:1992; Bahmuller : 1996; Winataputra, 1999 menyatakan bahwa wujud
pendidikan dalam paradigma baru menuntut adanya hal-hal sebagai berikut, yaitu:
 Memberikan perhatian yang cermat serta usaha yang sungguh-sungguh pada pengembangan
pengertian tentang the root and branches of democratic ideas yaitu hakikat dan karakteristik
aneka ragam demokrasi yang berkembang diseluruh penjuru dunia bukan hanya di Indonesia
 Mengembangkan kurikulum pendidikan yang sengaja dirancang untuk memfasilitasi siswa
agar mampu mengeksplorasi terkait cita-cita demokrasi
 Tersedianya sumber belajar yang memungkinkan siswa mengeksplorasi sejarah
demokrasi di negaranya untuk dapat menjawab persoalan apakah kekuatan dan
kelemahan demokrasi yang diterapkan dinegaranya sendiri
 Tersedianya sumber belajar yang dapat memfasilitasi siswa untuk memahami penerapan
demokrasi di negara lain sehingga mereka memiliki wawasan yang luas tentang ragam ide
dan sistem demokrasi dalam berbagai konteks
 Dikembangkannya sebagai kelas democratic laboratory, lingkungan sekolah/ kampus sebagai
micro cosmos of democracy dan masyarakat luas sebagai openglobal classroom yang
memungkinkan siswa dapat belajar demokrasi dalam situasi berdemokrasi dan untuk melatih
diri menjadi warga negara yang demokratis.

5. Model PKKBI memilki karakeristik substansi dan psiko-pedagogis sebagai berikut:

 Bergerak dalam konteks substansif dari sosio-kultural kebijakan publik sebagai salah satu
koridor demokrasi yang berfungsi sebagai wahana interaksi warga negara dengan negara dalam
melaksanakan hak, kewajiban, dan tanggung jawabnya sebagai warga negara Indonesia yang
cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab, yang secara kurikuler dan pedagogis merupakan
misi utama pendidikan kewarganegaraan.

 Menerapkan model portofolio-based learning atau “model belajar yang berbasis pengalaman utuh
peserta didik”dan potofolio-assisted assesment atau ”penilaian berbantuan hasil belajar utuh
peserta didik”yang dirancang dalam desain pembelajaran yang memadukan secara sinergis
model-model social problem solving (pemecahan masalah), social inquiry (penelitian sosial),
social involement (perlibatan sosial), cooperativel learning (belajar bersama), simulated hearing
(simulasi dengar pendapat), deep-dialogues and critical thinking (dialog mendalam dan berpikir
kritis), value clarification (klarifikasi nilai), democratic teaching (pembelajaran demokrasi)”.
Dengan demikian pembelajaran ini potensial mengahsilkan “powerful learning”atau belajar yang
berbobot dan bermakna yang secara pedagogis bercirikan prinsip “meaningful (bermakna),
integrative (terpadu), value-based (berbasis nilai), chalenging (menantang), activating
(mengaktifkan), and joyfull (menyenangkan)”.

 Kerangka operasional pedagogis dasar yang digunakan adalah modifikasi langkah strategi
pemecahan masalah dengan langkah-langkah, identifikasi masalah, pemilihan masalah,
pengumpulan data, pembuaatn portofolio, show case, dan refleksi. Sedangkan kemasan
portofolionya mencakup panel sajian/file dokumentasi dikemas dengan menggunakan sistematika
identifikasi dan pemilihan masalah, alternatif kebijakan, usulan kebijakan, dan rencana tindakan.
Sementara itu kegiatan show case didesain sebagai forum dengar pendapat (simulated public
hearing).

Anda mungkin juga menyukai