KETERAMPILAN KLINIS
1. Penilaian GCS (GlasGOW Coma Scale)
Eye (respon membuka mata)
- Membuka mata spontan 4
- Membuka mata dengan perintah 3
- Membuka mata setelah rangsang nyeri 2
- Tidak membuka mata 1
Verbal (respon verbal)
- Orientasi baik 5
- Bingung/disorientasi, tp masih bisa jawab 4
- Mengeluarkan kata tdk sesuai/tdk tepat 3
- Mengerang 2
- Tidak ada respon verbal 1
Motorik (respon motoric)
- Mematuhi perintah 6
- Melokalisir nyeri 5
- Menjauhi rangsang nyeri 4
- Flexi abnormal 3
- Ekstensi abnormal 2
- Tidak ada Gerakan 1
Cara penilaian :
- GCS 15 : COMPOSMENTIS
- GCS 13-14 : APATIS
- GCS 11-12 : DELIRIUM
- GCS 7-10 : SOMNOLEN
- GCS 4-6 : SOPORO KOMA
- GCS 3 : KOMA
2. Pemeriksaan EKG
- Indikasi : membantu diagnosis masalah jantung seperti aritmia jantung,
serangan jantung dan gangguan irama jantung
- Cara pemeriksaan :
-
3. Interpretasi Hasil EKG
Syarat baca EKG
a. Layak baca
b. Irama teratur/tidak/regular/tidak
c. Tentukan axis nya normal/tidak
d. Moroflogi gel P ada yg abnormal/tidak
e. Cek PR interval teratur/tidak
f. Cek morfologi gel QRS
g. Ada/tidaknya ST segmen yang abnormal
h. Tentukan Lokasi jantung yang terkena
i. Nilai morfologi gel T
Kesimpulan EKG
4. Resusitasi Bayi baru lahir
5. Bantuan hidup dasar
1. Mengenali kondisi Korban
2. Meminta tolong/ bantuan /aktifkan code blue
3. Melakukan penilaian korban/ cek respon korban
Dalam melakukan penilaian , melakukan 3A dan MARCH
3A( aman diri, aman pasien dan aman lingkungan)
MARCH (massive hemorrage, Airway, Respirasi-Breathing, Circulation,Head injury)
4. Kompresi dada
Golden period RJP dilakukan saat itu juga saar pasien mengalami henti jantung
Terlambat 1 menit keberhasilan 98 /100
Terlambat 4 menit keberhasilan 50/100
Terlambat 10 menit keberhasilan 1/100
Rincian RJP ada di poin 6
5. Memberikan nafas bantuan sesuai dengan rasio 30:2
6. Resusitasi jantung paru
Prinsip RJP push hard, push fast, minimal interruption, complete recoil
Cara melakukan RJP
a. Posisikan pasien di tempat yang datar
b. Penolong berlutut di samping korban/ kalua di rs/pkm berdiri disamping korban
c. Penolong meletakkan tumit tangan di 1/3 bawah dinding dada dan meletakkan tumit
lainnya di atas tumit tangan yang pertama
d. Komresi kedalaman 2 inchi/ 5cm
e. Dengan frekuensi 100-120x/menit
f. Rasio kompresi 30;2
g. Minimal interupsi
h. Recoil sempurna
i. Tiap 2 menit sekali ganti penolong RJP/ setelah 5 siklus langsung ganti penolong
j. RJP dilakukan sampai ALAT AED tiba setelah dipasang AED RJP pun tetap dilakukan
RJP dihentikan saat :
a. Kembalinya denyut jantung pasien/rosc
b. Pasien alih rawat ke tempat perawatan
c. Penolong terancam keselamatannya
d. Penolong kelelahan
e. DNR
7. Resusitasi cairan
8. Tatalaksana dehidrasi
9. Transpot pasien
Prosedur Transport Pasien :
A. Lakukan pemeriksaan menyeluruh.
Pastikan bahwa pasien yang sadar bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas
usungan. Jika pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway).
B. Amankan posisi tandu di dalam ambulans.
Pastikan selalu bahwa pasien dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit.
C. Posisikan dan amankan pasien.
Selama pemindahan ke ambulans, pasien harus diamankan dengan kuat ke usungan.
D. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat keamanan digunakan ketika
pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan kekencangan tali pengikat sehingga
dapat menahan pasien dengan aman.
E. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung.
Jika kondisi pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung, letakkan spinal board
pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans dijalankan.
F. Melonggarkan pakaian yang ketat.
G. Periksa perbannya.
H. Periksa bidainya.
I. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien
J. Naikkan barang-barang pribadi.
K. Tenangkan pasien.
Teknik Pemindahan Pada Pasien
Teknik pemindahan pada klien termasuk dalam transport pasien, seperti pemindahan pasien dari
satu tempat ke tempat lain, baik menggunakan alat transport seperti ambulance, dan branker yang
berguna sebagai pengangkut pasien gawat darurat.
1. Pemindahan klien dari tempat tidur ke brankar
Memindahkan klien dri tempat tidur ke brankar oleh perawat membutuhkan bantuan klien. Pada
pemindahan klien ke brankar menggunakan penarik atau kain yang ditarik untuk memindahkan
klien dari tempat tidur ke branker. Brankar dan tempat tidur ditempatkan berdampingan
sehingga klien dapat dipindahkan dengan cepat dan mudah dengan menggunakan kain
pengangkat. Pemindahan pada klien membutuhkan tiga orang pengangkat
2. Pemindahan klien dari tempat tidur ke kursi
Perawat menjelaskan prosedur terlebih dahulu pada klien sebelum pemindahan. Kursi
ditempatkan dekat dengan tempat tidur dengan punggung kursi sejajar dengan bagian kepala
tempat tidur. Emindahan yang aman adalah prioritas pertama, ketika memindahkan klien dari
tempat tidur ke kursi roda perawat harus menggunakan mekanika tubuh yang tepat.
3. Pemindahan pasien ke posisi lateral atau prone di tempat tidur
a. Pindahkan pasien dari ke posisi yang berlawanan
b. Letakan tangan pasien yang dekat dengan perawat ke dada dan tangan yang jauh ari
perawat, sedikit kedapan badan pasien
c. Letakan kaki pasien yang terjauh dengan perawat menyilang di atas kaki yang terdekat
d. Tempatkan diri perawat sedekat mungkin dengan pasien
e. Tempatkan tangan perawat di bokong dan bantu pasien
f. Tarik badan pasien
g. Beri bantal pada tempat yang diperlukan.
4. Jenis-Jenis dari Transportasi Pasien
Transportasi pasien pada umumnya terbagi atas dua : Transportasi gawat darurat dan kritis .
a. Transportasi Gawat Darurat :
Setelah penderita diletakan diatas tandu (atau Long Spine Board bila diduga patah tulang
belakang) penderita dapat diangkut ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan dilakukan Survey
Primer, Resusitasi jika perlu.
Mekanikan saat mengangkat tubuh gawat darurat
Tulang yang paling kuat ditubuh manusia adalah tulang panjang dan yang paling kuat
diantaranya adalah tulang paha (femur). Otot-otot yang beraksi pada tutlang tersebut juga
paling kuat.
Dengan demikian maka pengangkatan harus dilakukan dengan tenaga terutama pada
paha dan bukan dengan membungkuk angkatlah dengan paha, bukan dengan punggung.
Panduan dalam mengangkat penderita gawat darurat
1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita. Nilai beban yang akan
2. diangkat secara bersama dan bila merasa tidak mampu jangan dipaksakan
3. Ke-dua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit didepan kaki sedikit sebelahnya
4. Berjongkok, jangan membungkuk, saat mengangkat
5. Tangan yang memegang menghadap kedepan
6. Tubuh sedekat mungkin ke beban yang harus diangkat. Bila terpaksa jarak maksimal
tangan dengan tubuh kita adalah 50 cm
7. Jangan memutar tubuh saat mengangkat
8. Panduan diatas berlaku juga saat menarik atau mendorong penderita
b. Transportasi Pasien Kritis :
Definisi: pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada satu atau lebih
sistem tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan monitoring dan terapi.
1. Transport intra hospital pasien kritis harus mengikuti beberapa aturan, yaitu:
a. Koordinasi sebelum transport
Informasi bahwa area tempat pasien akan dipindahkan telah siap untuk
menerima pasien tersebut serta membuat rencana terapi
Dokter yang bertugas harus menemani pasien dan komunikasi antar dokter dan
perawat juga harus terjalin mengenai situasi medis pasien
Tuliskan dalam rekam medis kejadian yang berlangsung selama transport dan
evaluasi kondisi pasien
b. Profesional beserta dengan pasien: 2 profesional (dokter atau perawat) harus
menemani pasien dalam kondisi serius.
Salah satu profesional adalah perawat yang bertugas, dengan pengalaman
CPRatau khusus terlatih pada transport pasien kondisi kritis
Profesioanl kedua dapat dokter atau perawat. Seorang dokter harus
menemanipasien dengan instabilitas fisiologik dan pasien yang membutuhkan
urgent action
2. Peralatan untuk menunjang pasien
Transport monitor
Blood presure reader
Sumber oksigen dengan kapasitas prediksi transport, dengan tambahan cadangan30
menit
Ventilator portable, dengan kemampuan untuk menentukan volume/menit, pressure
FiO2 of 100% and PEEP with disconnection alarm and high airway pressure alarm.
Mesin suction dengan kateter suction
Obat untuk resusitasi: adrenalin, lignocaine, atropine dan sodium bicarbonat
Cairan intravena dan infus obat dengan syringe atau pompa infus dengan baterai
Pengobatan tambahan sesuai dengan resep obat pasien tersebut
3. Monitoring selama transport.
Tingkat monitoring dibagi sebagai berikut:
Level 1 = wajib, level 2 = Rekomendasi kuat, level 3 = ideal
Monitoring kontinu: EKG, pulse oximetry (level 1)
Monitoring intermiten: Tekanan darah, nadi , respiratory rate (level 1 pada pasien
pediatri, Level 2 pada pasien lain).
[Link] 7 langkah keselamatan pasien
Patient safety adalah sistem yang dibuat rumah sakit untuk membuat asuhan pasien lebih
aman. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya cedera yang disebabkan oleh kesalahan
dalam melaksanakan tindakan atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Tujuh langkah penerapan keselamatan pasien (patient safety) adalah:
Membangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien
Memimpin dan mendukung staf
Mengintegrasikan aktivitas pengelolaan risiko
Mengembangkan sistem pelaporan
Melibatkan dan berkomunikasi dengan pasien
Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien
Mencegah cedera melalui implementasi sistem keselamatan pasien
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menerapkan keselamatan pasien di rumah sakit, di
antaranya:
Mengidentifikasi pasien dengan benar
Meningkatkan komunikasi yang efektif
Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai
Memastikan lokasi pembedahan yang benar, prosedur yang benar, pembedahan pada pasien
yang benar
Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan