0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan27 halaman

Analisis Semiotika Film Budi Pekerti

Diunggah oleh

lia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
25 tayangan27 halaman

Analisis Semiotika Film Budi Pekerti

Diunggah oleh

lia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS SEMIOTIKA PESAN MORAL DALAM FILM

BUDI PEKERTI KARYA WREGAS BHANUTEJA

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program


Strata Satu (S1) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pekalongan
Disusun oleh :

Cindy Tri Anggiri


0819014691

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2024
DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................................1
A. Latar Belakang Masalah......................................................................................1
B. Rumusan Masalah................................................................................................5
C. Tujuan penelitian..................................................................................................5
D. Manfaat Penelitian...............................................................................................5
E. Definisi Istilah.......................................................................................................5
F. Sistematika Penulisan..........................................................................................6
BAB II LANDASAN TEORI ........................................................................................8
A. Tinjauan Pustaka..................................................................................................8
B. Landasan Teoritis...............................................................................................12
C. Kerangka Berpikir.............................................................................................20
BAB III METODE PENELITIAN...............................................................................21
A. Jenis Penelitian...................................................................................................21
B. Tempat dan Waktu Penelitian..........................................................................21
C. Data dan Sumber data.......................................................................................22
D. Teknik pengumpulan data.................................................................................23
E. Teknik Analisis Data..........................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................24
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sastra merupakan karya inovatif, imajinatif dan fiktif. Acuan karya satra
bukanlah dunia nyata, melainkan dunia fiksi, imajinasi. Sastra berasal dari bahasa
Sanskerta yang diserap, yakni, shaastra, yang berarti “teks yang mengandung
instruksi” atau “pedoman”. Asal kata dasar Shaastra adalah śās- atau shaas- yang
berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk atau instruksi, dan tra yang
berarti alat atau sarana. Sejalan dengan KBBI (2017:1001) sastra ialah bahasa,
katakata, gaya bahasa yang digunakan dalam kitab-kitab bukan bahasa sehari-hari.
Berdasarkan hal itu, karya sastra tentu bermanfaat untuk kehidupan, sebab dengan
adanya karya sastra pembaca memiliki kesadaran kepada kebenaran-kebenaran
dalam hidup, meskipun digambarkan berupa bentuk fiksi.
Karya sastra memiliki berbagai macam jenis, salah satunya adalah film. Film
adalah suatu karya seni dengan berbentuk gambar yang dapat bergerak di mana
terdapat pesan yang dapat diambil dari tayangan film tersebut. Film lebih dari
sekedar hiburan karena film merupakan media yang berperan penting dalam
menanamkan pesan-pesan yang baik guna generasi penerus bangsa agar tidak
menjadi bangsa yang hilang ingatan terhadap sejarah bangsa (Trianton, 2013: 7)
dalam (Rinaja, 2024). Film merupakan produk dari media massa yang sangat
populer. Film juga media hiburan yaitu merupakan salah satu fungsi dari
komunikasi, film mempunyai tempat tersendiri bagi khalayak, dibanding dengan
media massa lainnya. Tidak hanya menyuguhkan alur cerita yang menarik, namun
juga gambar dan efek suara yang dapat menciptakan suasana bagi khalayak
membuat film tidak pernah bosan untuk dinikmati (Diputra, 2021).
Menurut (Berliana & Abidin, 2020) Saat ini, film di Indonesia mengalami
perkembangan yang pesat. Banyak film produksi Indonesia yang telah mencapai
prestasi baik di dalam maupun di luar negeri. Terdapat berbagai genre film yang
tersedia, seperti komedi, drama, horor, dan fiksi. Namun, penonton Indonesia lebih
cenderung menyukai film bergenre drama yang mengangkat kisah kehidupan
sehari-hari. Film sejatinya memberikan informasi dan dapat mengedukasi para
penonton nya serta bahkan menginspirasi jika kita benar-benar mencoba
memahami, membuka pikiran kita dan menginterpretasikan film tersebut.
Di dalam sebuah film tersebut terdapat pesan moral yang biasanya bisa kita
petik apabila kita benar-benar memahami film tersebut. Untuk itu, tidak salahnya
jika menganalisis film dilakukan demi mendapatkan pemahaman akan film
tersebut. Pesan-pesan moral dalam film pun biasanya menggambarkan kejadian
sebenarnya di kehidupan nyata. Hal ini sesuai dengan peran film sebagai media
massa yakni memotret realitas. Dengan banyaknya pesan moral dalam sebuah film,
dapat membuat kita terbantu dalam menjalani kehidupanserta mengajarkan kita
bagaimana menghadapi permasalahan - permasalahan di dunia nyata terutama di
bidang sosial yaitu masalah pribadi kita dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga
peran film sebagai media massa yang mengedukasi masyarakat dan pemberi
informasi kepada masyarakat dapat terwujud.
Menurut (Ginanti, 2015) dalam (Iskandar, 2023) Pesan moral sendiri adalah
suatu amanat yang berupa nilai dan norma seseorang yang menjadi pegangannya
dalam mengatur tingkah lakunya di kehidupan bermasyarakat. Pesan moral juga
dapat diartikan sebagai tolak ukur manusia untuk alat intropeksi diri. Pesan moral
umumnya juga merupakan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada
pembaca yang bisa disebut juga sebagai pesan moral, karena pesan moral itu sendiri
termasuk kedalam unsur instrinsik yang dimana didalamnya merupakan sebuah
cerita. Unsur inilah yang nantinya akan membangun suatu pesan moral tersebut
sebagai suatu keutuhan dalam cerita tersebut.
Pesan-pesan, simbol-simbol, yang tergambarkan secara langsung maupun
tidak langsung dalam suatu film, kemudian peran suatu film dalam menceritakan
dan menggambarkan suatu kisah, serta arti dan makna yang terdapat didalamnya
yang sudah penulis jelaskan diatas bisa diketahui dengan cara menggunakan
metode analisis semiotika yang termasuk salah satu ilmu dalam komunikasi.
Semiotika merupakan suatu ilmu dan juga metode analisis yang mengkaji tanda.
Tanda-tanda adalah perangkat yang kita gunakan dalam usaha mencari jalan di
dunia ini, di tengah-tengah manusia dan bersama manusia. Semiotika, atau dalam
istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya akan mempelajari bagaimana
kemanusiaan (humanity) memaknai berbagai hal(things), memaknai (to signify)
dalam hal ini tidak dapat dicampur aduk dengan mengkomunikasikan (to
communicate). Memaknai berarti objek- objek tidak hanya membawa informasi,
dalam hal mana objek-objek itu hendak melakukan komunikasi, tetapi juga
mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes, 1998: 179; Kurniawan, 2001:
53; Sobur, 2004: 15) dalam (Bagus, 2017).
Telah banyak film yang dirilis dengan mengangkat tema kehidupan di
masyarakat. Unsur pesan yang terkandung sering kali dapat memengaruhi pola
pikir atau sudut pandang dari para penonton. Dalam konteks ini, film "Budi
Pekerti" hadir sebagai karya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi
wahana untuk mengilhami dan mendidik karakter melalui penggunaan ruang
digital. Film Budi Pekerti rilis pada bulan November 2023 dan merupakan salah
satu film dengan latar yang sesuai dengan keadaan masyarakat saat ini. Film ini
menceritakan sisi gelap dari dunia maya yang saat ini tengah ramai dipergunakan
oleh khalayak umum dari segala usia.
Film “Budi Pekerti” ini menjadi pilihan penulis dalam melakukan penelitian
analisis semiotika. Terdapat alasan mengapa penulis memilih menggunakan teori
analisis Roland Barthes, yaitu karena teori analisis ini banyak digunakan sebagai
dasar penelitian-penelitian semiotika sehingga terbukti keandalannya dan penulis
memilih menggunakan teori analisis ini. Film Budi Pekerti memberikan pesan
moral tentang dampak dari sosial media sesuai dengan fenomena yang terjadi pada
masa kini. Film ini menyuguhkan cerita yang merentang di sepanjang
perkembangan karakter utama, menggambarkan perjalanan menuju kedewasaan
sambil menyoroti nilai-nilai moral yang esensial. Keunikan film ini terletak pada
kemampuannya mengintegrasikan teknologi digital sebagai alat untuk
menyampaikan pesan-pesan moral secara cerdas. Dengan memanfaatkan ruang
digital, film ini memasuki dimensi baru dalam pendidikan karakter, menyesuaikan
diri dengan realitas di mana teknologi semakin melekat dalam kehidupan sehari-
hari.
Tak hanya itu, film ini juga mengeksplorasi konsep pembelajaran karakter
yang inklusif. Berbagai nilai dan sikap baik seperti kejujuran, empati, tanggung
jawab, dan kesabaran diangkat ke permukaan melalui konflik dan perkembangan
karakter. Ruang digital menjadi panggung di mana karakter-karakter ini
berinteraksi, saling mempengaruhi, dan tumbuh bersama. Dalam mengeksplorasi
tema ini, film "Budi Pekerti" bukan hanya menyajikan cerita yang menggugah hati,
tetapi juga memberikan dorongan untuk merenung tentang peran teknologi dalam
mendidik karakter.
Film Budi Pekerti mengisahkan sosok Bu Prani, seorang guru BK di suatu
sekolah di Yogyakarta yang terlilit permasalahan karena video perselisihannya
ketika sedang mengantre membeli kue putu viral. Hal ini berdampak pada dirinya,
keluarga, serta karier dari Bu Prani. Identitas Bu Prani sebagai guru seharusnya
menjadi teladan dari siswa-siswanya. Penggunaan citra diri menjadi karakteristik
kepribadian tertentu sebagai bagian dari komponen kepribadian sosial
(Dwiningrum, 2014) dalam (Listiyapinto, 2024).
Kejadian ini mencerminkan betapa mudahnya media, terutama media online,
dapat memengaruhi persepsi publik terhadap suatu peristiwa. Film "Budi Pekerti"
secara cerdas menyoroti bagaimana pengeditan konten video dapat mengubah
makna dari suatu peristiwa, mengubah perspektif penonton video yang berpengaruh
kepada orang yang menjadi objek bahkan sampai ke dalam keluarganya dan bahkan
menimbulkan permasalahan yang sangat serius selaim itu film ini juga membuat
masyarakat dapat merasakan suasana yang tentunya sering terjadi di sekitar
lingkungannya. Agar dapat menemukan suatu penjelasan mengenai film Budi
Pekerti maka perlu dilakukan suatu penelitian agar dapat memahami pesan yang
dimaksudkan pada film. Pesan tersebut dikemas dalam bahasa yang dipakai dalam
keseharian.
Berdasarkan penjelasan diatas menyimpulkan bahwa Film Budi Pekerti
memiliki informasi dan pesan-pesan penting didalamnya. Namun, memaknai film
ini dengan sembarangan justru akan semakin menjerumuskan para penonton
[Link] untuk memahami pesan-pesan positif dalam film ini diperlukan
analisis ketika selesai menonton film ini, Untuk itu penulis melakukan penelitian
dengan film ini dengan judul penelitian “Analisis Semiotika Pesan Moral dalam
Film Budi Pekerti Karya Wregas Bhanuteja”
B. Rumusan Masalah
Dari penjabaran latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang
dapat dirumuskan adalah “Bagaimana semiotika pada pesan moral yang terdapat
dalam Film Budi Pekerti?”
C. Tujuan penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan semiotika pesan
moral yang yang terdapat dalam Film Budi Pekerti.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang dilakukan ini diharapkan mampu bermanfaat
dalam segi teoritis maupun segi praktis.
a. Manfaat secara teoritis
1) Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan
terutama dalam bidang bahasa indonesia melalui media massa film.
2) Memberikan pemahaman bagi penonton bahwa film sebagai media massa
dapat dijadikan sebagai salah satu media yang memuat pesan moral.
b. Manfaat secata praktis.
1) Diharapkan mampu menjadi bahan masukan kepada berbagai pihak untuk
tetap selektif melihat Pesan Moral yang ada dalam Film “Budi Pekerti”.
2) Hasil penelitian ini di harapkan dapat menjadi sumber informasi dan sebagai
bahan rujukan bagi para peneliti selanjutnya.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah merupakan penjelasan makna dari masing-masing kata kunci
yang terdapat pada judul dan fokus (rumusan masalah) penelitian berdasarkan
maksud dan pemahaman peneliti. Beberapa definisi istilah-istilah penting yang
digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
a. Definisi Moral
Perkata moral berasal dari bahasa latin mores. Mores berasal dari kata mos
yang berarti kesusilaan, tabiat atau kelakuan. Moral dengan demikian dapat
diartikan ajaran kesusilaan.
b. Definisi Pesan Moral
Pesan Moral adalah suatu ajaran berupa perilaku baik dan buruk yang
disampaikan oleh pembuat pesan kepada penerima pesan yang bertujuan untuk
memberikan suatu pembelajaran yang bermanfaat.
c. Definisi Film
Pengertian Film, film merupakan selaput tipis yang dibuat dari seluloid untuk
tempat gambar negatif (yang akan dibuat potret) atau untuk tempat gambar
positif (yang akan dimainkan dalam bioskop).
d. Definisi Analisis Semiotika
Secara etimologi, istilah semiotika berasal dari kata Yunani, yaitu Semeion
yang berarti tanda. Sedangkan secara terminologi, semiotika adalah suatu ilmu
atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
F. Sistematika Penulisan
Dalam menyusun penelitian ini, agar dalam pembahasan terfokus pada pokok
permasalahan dan tidak melebar kemasalah yang lain, maka membuat sistematika
penulisan pada penelitin ini adalah sebagai berikut :
a. BAB 1 : PENDAHULUAN
Dalam bab ini menguraikan tentang latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, definisi istilah, serta sistematika penulisan.
b. BAB 2 : LANDASAN TEORI
Dalam bab ini menguraikan tentang tinjuan pustaka, landasan teori, dan
kerangka berpikir.
c. BAB 3 : METODE PENELITIAN
Dalam bab ini dipaparkan mengenai jenis penelitian, lokasi penelitian, jenis
dan sumber data, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data.
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
Ada beberapa penelitian yang mempunyai relevan dengan penelitian yang
akan dilaksanakan, yaitu :
Penelitian (Bagus, 2017) dengan judul “Representasi Pesan Moral dalam Film
Rudy Habibie Karya Hanung Bramantyo (Analisis Semiotika Roland Barthes)”.
Hasil penelitian menunjukkan adanya pesan-pesan moral dalam film Rudy Habibie
karya Hanung Bramantyo, Pertama, melihat hubungan manusia dengan tuhan.
Kedua, melihat hubungan manusia dengan manusia. Ketiga, melihat hubungan
manusia dengan lingkungan sosial. Adapun persamaan dan perbedaan dengan
penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai pesan moral dan
menggunakan analisis semiotika, bedanya di penelitian ini mengenai konten yang
terkandung dalam film.
Penelitian (Iskandar, 2023) dengan judul “Analisis Semiotika Pesan Moral
dalam Film Jendela Karya Randi Pratama”. Hasil penelitian menunjukan pesan
moral yang terdapat dalam film Jendela yaitu pertama menghargai makanan selaku
wujud rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh sang pencipta Allah S.W.T.,
kedua adalah bersabar ketika menghadapi ujian, ketiga pengorbanan besar sosok
ayah dalam menuju jalan kesuksesan dan kebahagian anak dan keempat, adalah
anak yang berbakti kepada orang tua. Adapun persamaan dan perbedaan dengan
penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai pesan moral dan analisis
semiotika, bedanya di penelitian ini mengenai konten yang terkandung dalam film.
Penelitian (Diputra, 2021) dengan judul “Analisis Semiotika dan Pesan Moral
Pada Film Imperfect 2019 Karya Ernest Prakasa”. Hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa Pesan moral kategori hubugan manusia dengan Tuhan :
menjelaskan tentang moral yang dapat memberikan pelajaran dalam membina
hubungan manusia dengan Pencipta. Pesan moral kategori hubungan individu
dengan dirinya sendiri : yaitu moral yang mempelajari bagaimana semestinya
seseorang dapat belajar menghargai dirinya sendiri. Pesan moral kategori hubungan
individu dengan individu lainnya dalam lingkungan masyarkat : yaitu moral yang
mempelajari bagaimana seseorang dapat berperilaku positif terhadap orang lain dan
lingkungan sekitarnya dengan norma yang berlaku. Dalam film Imperfect pesan
moral kategori ini mengajarkan bagaimana seharusnya kita tidak mencemooh fisik
seseorang. Adapun persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini adalah sama-
sama membahas mengenai pesan moral dan analisis semiotika dan perbedaannya
terdapat pada konten film.
Penelitian (Berliana & Abidin, 2020) dengan judul “Analisis Semiotika Pesan
Moral dalam Film Ku Kira Kau Rumah”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film
ku kira kau rumah yaitu pengajaran tentang keluarga, persahabatan, keberanian
serta impian dan meghargai kesempatan dalam hidup sehari-hari dan interpretasi
nilai moral dalam Film Ku Kira Kau Rumah yaitu, dengan mengajarkan nilai-nilai
seperti cara mengatasi masa lalu yang ada pada Niskala, memberikan kesempatan
kedua, menghargai nilai kekeluargaan, mengejar impian, ketulusan, kepercayaan
dan menghargai persahabatan. Dapat juga menjadi inspirasi kepada penonton agar
menghadapi hidup dengan optimisme, dapat menghargai hubungan yang penting
dalam hidup, dan tidak menyerah pada impian mereka. Adapun persamaan dan
perbedaan dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai pesan
moral dan analisis semiotika dan perbedaannya pada konten film.
Penelitian (Dwiwasa & Sihotang, 2024) dengan judul “Film ‘Budi Pekerti’:
Inspirasi Pendidikan Karakter Melalui Ruang Digital”. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa film "Budi Pekerti" mengandung pesan-pesan tersirat yang
ingin disampaikan oleh Wregas Bhanuteja kepada penontonnya, mencakup aspek
hiburan, moral, dan [Link] mengingatkan penonton kepada buku
Pendidikan Moral Pancasila; Tanaman yang tetap tumbuh meskipun di hina; serta
perjuangan seorang guru untuk memperjuangkan kebenaran yang mengajarkan kita
juga untuk senantiasa mengutamakan kebenaran. Adapun persamaan dan perbedaan
dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai konten film Budi
pekerti dan perbedaannya pada penelitian ini tidak membahas pesan moral dan
analisis semiotika.
Penelitian (Akhmad, 2023) dengan judul “Analisis Semiotika Pesan Moral
dalam Film “Pituduh” (Film Pendek Juara 1 Festival Ekonomi Syariah Regional
Jawa Timur)”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyampaian pesan
moral dijelaskan dalam penulisan skenario film Pituduh. Dalam skenario film
pendek Pituduh terdapat naskah serta deskripsi visual dan audio yang terangkai
untuk menjadi acuan peradeganan yang mengandung urutan adegan, tempat,
suasana dan dialog, dan bentuk pesan moral dalam film berupa sikap sopan santun,
tanggung jawab, bijaksana, dan takwa. Adapun persamaan dan perbedaan dengan
penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai analisis semiotika dan pesan
moral, perbedaannya pada penelitian ini membahas konten yang berbeda.
Penelitian (Ramadhan, 2023) dengan judul “Analisis semiotika tentang pesan
moral dalam film ngeri-ngeri sedep”. hasil penelitian yang berjudul “Analisis
Semiotika Pesan Moral Dalam Film Ngeri-Ngeri Sedap”, Hasil penelitin ini dapat
disimpulkan dari film ini menunjukkan nilai-nilai penting dalam konteks budaya
Batak, seperti kekeluargaan, kepedulian, tolong-menolong, dan tanggung jawab.
Film ini juga menggambarkan hubungan keluarga yang harmonis yang didasarkan
pada nilai- nilai yang dianut secara kolektif dan dipahami sebagai mitos keluarga.
Selain itu, film ini menekankan tuntutan kedua orang tua untuk anak-anaknya, yang
menunjukkan bahwa tanggung jawab orang tua terhadap anak juga mempengaruhi
konflik dalam film tersebut. Adapun persamaan dan perbedaan dengan penelitian
ini adalah sama-sama membahas mengenai analisis semiotika dan pesan moral,
perbedaannya pada penelitian ini membahas konten yang berbeda.
Penelitian (Lotulung, 2021) dengan judul “Analisis semiotika pesan moral
sikap dermawan dalam film a man called ahok”. Hasil penelitian membuktikan
bahwa pesan moral sikap dermawan terkandung dalam film ini dan sesuai dengan
ciri khas sikap dermawan yang kemudian dikualifikasikan ke dalam tiga makna,
yaitu makna denotasi, makna konotasian mitos. Adapun persamaan dan perbedaan
dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai analisis semiotika
dan pesan moral, perbedaannya pada penelitian ini membahas konten yang berbeda.
Penelitian (Fadlan et al., 2023) dengan judul “Pesan Moral dalam Film The
Platfrom (Analisis Semiotik Roland Barthes). Hasil dari penelitian ini, yaitu: (1)
terdapat makna positif dan makna negatif dalam tiap-tiap adegan di film “The
Platform”, di antaranya makna positif : pemeran utama mempunyai sikap yang
baik, ramah, penolong, bersih, dan pembela kebenaran mencoba untuk mengubah
sistem yang selama ini dibuat oleh pengelola penjara vertikal agar menjadi lebih
adil dan tidak ada yang teraniaya, adapun makna negatif : sikap para penghuni
penjara tingkat atas yang rakus memakan makanan yang dihidang di atas mimbar
dan tidak memikirkan nasib penghuni- penjara di tingkat bawah; dan (2) bentuk
pesan moral dalam film “The Platform” berupa moral baik danburuk, di antaranya
moral baik: kepedulian tokoh utama yang membela kebenaran, suka menolong,
peduli terhadap sesama dan orang-orang di sekitarnya, adapun moral buruk : sistem
penyediaan makanan yang tidak memungkinkan semua penghuni penjara
mendapatkan jatahnya masingmasing sehingga menimbulkan kesenjangan sosial
antara yang di tingkat atas dengan di tingkat bawah. Adapun persamaan dan
perbedaan dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas mengenai analisis
semiotika dan pesan moral, perbedaannya pada penelitian ini membahas konten
yang berbeda.
Penelitian skripsi (Angioni et al., 2021) dengan judul “Analisis semiotika
pesan moral dalam film selesai”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1)
Makna denotatif yang terdapat pada film Selesai menggambarkan tentang sulitnya
kehidupan yang dijalani oleh Ayu dan Broto dan konflik yang terjadi didalam
rumah tangga mereka, (2) makna denotatif pada adegan film Selesai berupa tekad,
usaha, perjuangan dan bentuk-bentuk interaksi lainnya, seperti saling menyayangi,
mengingatkan dalam hal kebaikan, dan menghargai antar sesama. Adapun
persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas
mengenai analisis semiotika dan pesan moral, perbedaannya pada penelitian ini
membahas konten yang berbeda.
B. Landasan Teoritis
1. Film
Industri film adalah industri yang tidak ada habisnya. Sebagai media massa,
film digunakan sebagai media yang merefleksikan realitas, atau bahkan
membentuk realitas. Cerita yang ditayangkan lewat film dapat berbentuk fiksi
atau non fiksi. Lewat film, informasi dapat dikonsumsi dengan lebih mendalam
karena film berbentuk media audio visual. Media ini banyak digemari oleh orang
banyak karena dapat dijadikan sebagai hiburan dan penyalur hobi (Lamintang,
2013:2) dalam (Bagus, 2017).
Film merupakan media perkembangan teknologi. Film dikembangkan
melalui unsur- unsur fotografi dan proyektor. Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, film merupakan sebuah kisah yang tergambar secara hidup. Menurut
(Berliana & Abidin, 2020) definisi film adalah campuran karya dan seni dan
bagian dari media komunikasi massa bersifat audio visual yang diciptakan
secara sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita vidio, piringan
vidio atau berhak atas hasil penemuan teknologi lainnya dalam berbagai
jenis,bentuk dan ukuran melewati berbagai proses seperti kimiawi, proses
elektronik atau proses lainnya, menggunakan atau tidak dengan audio yang bisa
ditampilkan melalui sistem proyeksi mekanik dan lainnya. Sehingga film terdiri
dari sekumpulan foto yang menjadi sebuah cerita yang disebut Video.
Sesuai dengan perkembangannya dari masa ke masa, menurut (Diwanda &
Astuti, 2023) film sampai saat ini mempunyai beberapa jenis, di antaranya
sebagai berikut:
a. Film Cerita
Film cerita adalah film yang menyajikan sebuah cerita kepada publik.
Sebagai cerita tentu harus mengandung unsur-unsur yang dapat menyentuh
rasa manusia.
b. Film Berita
Film berita adalah film mengenai fakta, peristiwa yang benar-benar terjadi.

c. Film Dokumenter
Film dokumenter yaitu sebuah film yang menggambarkan kejadian nyata,
kehidupan dari seseorang, suatu periode dalam kurun sejarah.
Berikut unsur-unsur pembentukan film yang saling berhubungan dan selaras
antara satu sama lainya menurut (Sulistiya et al., 2024),
a. Sutradara, merupakan pemimpin pengambilan gambar.
b. Skenario, merupakan naskah cerita yang digunakan sebagai landasan bagi
penggarapan sebuah produksi film.
c. Penata fotografi, penata fotografi atau juru kamera adalah orang yang
bertugas mengambil gambar dan bekerjasama dengan sutradara menentukan
jenis-jenis shoot, jenis lensa, diafragma kamera, mengatur lampu.
d. Penata artistik, bertugas menyusun segala sesuatu yang melatarbelakangi
cerita sebuah film, melakukan setting tempat- tempat dan waktu
berlangsungnya cerita film.
e. Penata suara, adalah tenaga ahli dibantu tenaga perekam lapangan yang
bertugas merekam suara baik di lapangan maupun di studio.
f. Penata musik, bertugas menata paduan musik yang tepat.
g. Pemeran, pemeran atau aktor yaitu orang yang memerankan suatu tokoh
dalam sebuah cerita film.
h. Penyunting, penyunting disebut juga editor yaitu orang yang bertugas
menyusun hasil shooting sehingga membentuk rangkaian cerita sesuai
konsep yang diberikan oleh sutradara.
Sementara itu, dilihat dari segi teknisnya, menurut (Sofiani, 2016) film juga
memiliki unsur- unsur sebagai berikut:
a. Audio; Dialog dan Sound Effect.
1) Dialog berisi kata-kata. Dialog dapat digunakan untuk menjelaskan
perihal tokoh atau peran, menggerakkan plot maju dan membuka fakta.
2) Sound Effect adalah bunyi-bunyian yang digunakan untuk
melatarbelakangi adegan yang berfungsi sebagai penunjang sebuah
gambar untuk membentuk nilai dramatik dan estetika sebuah adegan.
b. Visual; Angle, Lighting, Teknik pengambilan gambar dan Setting.
1) Angle Angle kamera dibedakan menurut karakteristik dari gambar yang
dihasilkan ada 3 yaitu:
a) Straight Angle, yaitu sudut pengambilan gambar yang normal,
biasanya ketinggian kamera setinggi dada dan sering digunakan pada
acara yang gambarnya tetap.
b) Low Angle, yaitu sudut pengambilan gambar dari tempat yang
letaknya lebih rendah dari obyek.
c) High Angle, yaitu sudut pengambilan gambar dari tempat yang lebih
tinggi dari obyek.
2) Pencahayaan/Lighting
Pencahayaan adalah tata lampu dalam film. Ada dua macam
pencahayaan yang dipakai dalam produksi yaitu :
a) Pencahayaan Front Lighting (Cahaya Depan), cahaya merata dan
tampak natural / alami.
b) Side Lighting (Cahaya Samping), subyek lebih terlihat memiliki
dimensi.
c) Back Lighting (Cahaya Belakang), menghasilkan bayangan dan
dimensi.
d) Mix Lighting (Cahaya Campuran), gabungan dari tiga pencahayaan
sebelumnya.
c. Teknik Pengambilan Gambar
Pengambilan atau perlakuan kamera juga merupakan salah satu hal yang
penting dalam proses penciptaan visualisasi simbolik yang terdapat dalam
film. Proses tersebut akan dapat mempengaruhi hasil gambar yang
diinginkan, apakah ingin menampilkan karakter tokoh, ekspresi wajah dan
setting yang ada dalam sebuah film. Ada beberapa contoh teknik
pengambilan gambar sebagai berikut:
1) Full Shot (seluruh tubuh), subyek utama berinteraksi dengan subyek lain,
interaksi tersebut menimbulkan aktivitas sosial tertentu.
2) Long Shot Setting dan karakter lingkup dan jarak, audience diajak oleh
sang kameramen untuk melihat keseluruhan obyek dan sekitarnya.
3) Medium Shot (bagian pinggang ke atas), audience diajak untuk sekedar
mengenal obyek dengan menggambarkan sedikit suasana dari arah tujuan
kameramen.
4) Close up (hanya bagian wajah), gambar memiliki efek yang kuat
sehingga menimbulkan perasaan emosional karena audience hanya
melihat hanya pada satu titik interes.
d. Setting
Setting yaitu tempat atau lokasi untuk pengambilan sebuah adegan visual
dalam film
Berdasarkan definisi beberapa ahli, Film adalah media yang bersifat visual
dan audio visual untuk menyampaikan pesan kepada sekelompok orang yang
berkumpul di suatu tempat.
2. Pesan Moral
Menurut Marhaeni (2009 : 58-59) dalam (Astuti, 2016), pesan merupakan
unsur kedua dari proses komunikasi setelah komunikator, yaitu seperangkat
lambang bermakna dari apa yang disampaikan komu- nikator. Pesan ini
mempunyai inti pesan (tema) yang sebenarnya menjadi pengarah di dalam usaha
mencoba mengubah sikap dan tingkah laku komunikan. Penyampaian pesan bisa
dilakukan secara verbal yakni dengan menggunakan bahasa dan secara non-
verbal yakni dengan menggunakan alat, isyarat, simbol, gambar atau warna
untuk mendapatkan umpan balik (feedback) dari komunikan.
Definisi pesan lainnya adalah pesan berisi pikiran, ide, gagasan, perasaan
yang dikirim komunikator kepada komunikan dalam bentuk simbol. Simbol
adalah sesuatu yang digunakan untuk mewakili maksud tertentu, misalnya dalam
kata-kata verbal yang diucapkan atau ditulis, atau simbol nonverbal yang
diperagakan melalui gerak-gerik tubuh, warna, artifak, gambar, pakaian dan lain-
lain (Tampati, Djakfar, & Ms, 2020) dalam (Berliana & Abidin, 2020).
Moral merupakan suatu hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Sebab seseorang yang bermoral akan selalu berbuat baik untuk dirinya sendiri
maupun orang lain. Orang yang bermoral tidak pernah membohongi serta
mengelabuhi kebenaran dan berani dalam memberantas penyelewengan. Mereka
tidak akan lunak dengan rayuan atau suapan. Mereka yang bermoral senantiasa
menghormati orang lain betapapun rendahnya kedudukan orang tersebut.
Mereka juga senantiasa memberi contoh yang baik dalam setiap menjalankan
aktifitas kehidupannya. Untuk itu moral merupakan suatu hal yang sangat
penting bagi kehidupan umat manusia (Rokhayah, 2015) dalam (Bagus, 2017).
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (2006:775) Moral merupakan
ajaran tentang baik atau buruk perbuatan dan kelakuan meliputi ahlak, kewajiban
dan sebagainya. Sedangkan moral menurut (Wantah,2005) dalam (Bagus, 2017)
sesuatu yang berkaitan atau ada hubungannya dengan kemampuan menentukan
benar salah dan baik buruknya tingkah laku. Moral merupakan patokan yang
digunakan oleh masyarakat sebagai penentu tindakan yang baik dan buruk atau
masyarakat sebagai manusia (Listiyapinto, 2024).
Selanjutnya beberapa pesan moral menurut (Suseno, 2007) dalam
(Nurhanifah et al., 2022) meliputi sebagai berikut :
a. Kejujuran
Jujur adalah sesuatu yang bersifat apa adanya tanpa ada yang
disembunyikan ataupun sesuatu yang ditutup-tutupi.
b. Kerja Keras
Kerja keras adalah suatu sifat usaha yang dilakukan oleh seseorang dengan
sungguh- sungguh untuk mencapai tujuan sesuai dengan kemampuan
masing-masing orang dan tidak mudah putus asa.
c. Bertanggung Jawab
Bertanggung jawab adalah menjalakan suatu tugas atau pekerjaan dengan
baik serta menerima dan menanggung resiko apapun yang akan terjadi.
d. Keberanian Moral
Keberanian moral merupakan keyakinan yang ada didalam hati nurani,
keteguhan hati dalam menjaga sesuai perilaku dengan tekad dan prinsip
yang kuat meskipun mendapatkan permasalahan akan tetap diterima.
e. Kritis
Kritis adalah suatu perbuatan yang bertujuan memperbaiki dan menjelaskan
suatu nasehat yang bertujuan lebih baik atas semua kemampuan dan
kekuasaan yang mampu memberi dampak negatif terhadap seseorang atau
sekelompok masyarakat.
Berdasarkan definisi beberapa ahli, pesan moral adalah amanat atau ajakan
untuk berbuat baik sehingga dapat dijadikan sebagai tolak ukur seseorang
sebagai alat introspeksi diri setelah membaca suatu karya sastra baik karya sastra
modern maupun karya sastra tradisional.
3. Semiotika
Semiotika adalah studi tentang tanda. Tanda dapat dianggap sebagai
petunjuk yang mengindikasikan keberadaan atau hal lain, seperti asap yang
menunjukkan adanya api. Selain itu, semiotika juga membahas tentang variasi
makna dari tanda, termasuk makna yang sangat spesifik. (Lestari, 2021) dalam
(Iskandar, 2023).
Semiotika adalah suatu ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda.
Tanda adalah perangkat yang kita pakai dalam upaya berusaha mencari jalan di
dunia ini, di tengah manusia dan bersama sama manusia. Semiotika, atau dalam
istilah Barthes, semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana
kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things), memaknai (to signify)
dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkonsumsikan (to
communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa
informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak berkomunikasi, tetapi juga
meng- konstitusi sistem terstruktur dari tanda (Sobur, 2009:15) dalam (Astuti,
2016).
Teori modern pertama yang membahas tanda dikemukakan oleh ahli filsafat
dari abad kesembilan belas yaitu Charles Saunders Pierce yang dianggap sebagai
pendiri semiotika modern. Ia mendefinisikan semiotika sebagai suatu hubungan
antara tanda (simbol), objek, dan makna. Tanda mewakili objek (referent) yang
ada di dalam pikiran orang yang menginterpretasikannya (interpreter). Pierce
menyatakan bahwa representasi dari suatu objek disebut dengan interpretant.
Interpretant adalah sebuah konsep mental yang dimiliki pengguna tanda, baik
pengguna berperan sebagai pembicara maupun pendengar, penulis maupun
pembaca, pelukis maupun pemirsa (Fiske, 2016: 47).
Semiotika menurut Ferdinand De Saussure adalah kajian yang membahas
tentang tanda dalam kehidupan sosial dan hukum yang mengaturnya. Hal ini
mengisyaratkan bahwa tanda terikat dengan hukum yang ada di masyarakat.
Saussure lebih menekankan bahwa tanda memiliki makna karena dipengaruhi
peran bahasa. Dibandingkan bagian – bagian lainnya seperti, adat istiadat, agama
dan lain sebagainya. Saussure membagi konsep semiotikanya menjadi 4 konsep.
Yaitu signifiant dan signifie, langue dan parole, synchronic dan diachronic,
serta syntagmatic dan paradigmatic, (Winda, 2020)
Menurut Roland Barthes, mengembangkan gagasan tentang signifikasi dua
tahap (two order of signification). Dua tahap tersebut mengacu pada istilah
denotasi dan konotasi untuk menunjukkan tingkatan makna. Makna denotasi
adalah makna tingkat pertama yang bersifat obejektif yang dapat diberikan
terhadap lambang-lambang, yakni dengan mengaitkan secara langsung antara
lambang dengan realitas atau gejala yang ditunjuk. Kemudian makna konotasi
adalah makna-makna yang dapat diberikan pada lambang-lambang dengan
mengacu pada nilai-nilai budaya dan bertemu dengan perasaan dan emosi yang
karenanya berada pada tingkatan kedua (Illahi, 2021).
Pengaturan hubungan antara penanda dengan pertanda bersibat arbitrer
Penanda dan pertanda merupakan kesatuan, seperti dua sisi dari sehelai kertas.
Jadi, meskipun antara penanda dan pertanda tampak sebagai entitas yang
terpisah, namun keduanya hanya ada sebagai komponen tanda. Signifikasi tahap
pertama merupakan hubungan antara signifer (penanda) dan signifier (petanda)
dalam sebuah tanda terhadap kualitas eksternal. Menurut (Fadlan et al., 2023)
Barthes menyebutnya dengan denotasi dan konotasi. Denotasi adalah makna
yang nyata dari tanda. Sedangkan konotasi merupakan istilah Barthes untuk
menunjukkan signifikasi tahap kedua. Hal tersebut menggambarkan interaksi
ketika tanda bertemu dengan perasaan atau emosi pembaca, dan nilai-nilai
sosialnya. Konotasi mempunyai makna subjektif atau intersubjektif (Setya et al.,
2017).
Denotasi adalah apa yang digambarkan tanda terhadap sebuah objek,
sedangkan konotasi bagaimana menggambarkannya. Dengan demikian
keseluruhan tanda dalam denotasi berfungsi sebagai penanda pada konotasi atau
mitos. Aspek subjektif berkaitan dengan kemampuan artistik dan daya
kreativitas yang dibentuk oleh kebudayaan, mitos, kepercayaan atau
ketidaksadaran itu sendiri. Jadi, dalam konsep Barthes dalam (Iskandar, 2023),
tanda konotatif tidak sekedar memiliki makna tambahan, namun juga
mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya.
Berdasarkan definisi beberapa ahli, semiotika adalah suatu ilmu atau metode
analisis untuk mengkaji tanda.
4. Teknik Penyampaian Pesan Moral Pada Film
Teknik penyampaian merupakan metode atau suatu cara yang dilakukan
untuk memberikan informasi melalui proses transformasi, memindahkan atau
menyalurkan suatu informasi dari tempat yang menyediakan banyak informasi
ke tempat yang kekurangan informasi. Dalam proses pembuatan atau produksi
film, penerapan teknik penyampaian pesan moral dilihat dari pengambilan
gambar sangat penting. Setiap gambar yang diambil dari beberapa scene
tersebut bertujuan untuk dapat menjelaskan kepada penonton tentang isi cerita
dari sebuah film. Melalui film penyampaian pesan-pesan yang positif
merupakan aspek yang sangat berhubungan dengan alat atau media perantara.
Teknik penyampaian pesan moral pada film merupakan cara atau metode,
yang dimaksud adalah sutradara dan penulis scenario untuk menyampaikan
pesan melalui dua aspek yaitu audio dan visual. Aspek audio visual ini
digunakan guna menunjukkan kepada penonton dengan menampilkan audio
suara dari percakapan dan iringan musik yang sejejar dengan visualnya (dilihat
dari pengambilan gambar). Teknik penyampaian pesan moral dalam film “Budi
pekerti” ini, dapat dilihat dari dua aspek yaitu audio dan visualnya. Dilihat dari
segi audionya, terdapat beberapa aspek yaitu percakapan atau dialog, musik,
sound effect (efek suara). Sedangkan ditinjau dari visualnya, dapat dilihat dari
aspek setting dan teknik pengambilan gambar.
C. Kerangka Berpikir
Kerangka berpikir atau kerangka pemikiran merupakan model konseptual
mengenai bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah
diidentifikasiikan sebagai masalah yang penting. Dalam kerangka pemikiran,
peneliti harus menguraikan konsep atau variabel penelitiannya secara lebih perinci.
Tidak hanya mendefenisikan variabel, tetapi juga menjelaskan keterkaitan diantara
variabel. Dalam menguraikan kerangka pikirannya, peneliti tidak sekadar
memfokuskan pada variabel penelitiannya saja tetapi juga harus menghubungkan
konsep penelitian dalam kerangka yang lebih luas lagi. Berdasarkan penjelasan
tersebut peneliti membuat kerangka pemikiran sebagai berikut,

Pesan Moral dalam Film Budi Pekerti

Analisis Semiotika Roland


Brathes

Denotasi Konotasi

Analisis Semiotik dalam


film Budi Pekerti
Bagan 2. 1 Skema Kerangka Berpikir
Berdasarkan fokus penelitian dan tujuan artikel ini, maka konsep utama yang
harus dijelaskan adalah penelitian ini ingin mengetahui apa saja pesan moral
dengan menggunakan metode analisis semiotika dan melihat dari tahapan pertama
denotasi dan tahapan kedua konotasinya, kemudian menafsirkan pesan moral yang
ada dalam film “Budi Pekerti”.
BAB 3
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan jenis metode penelitian deskriptif kualitatif.
Menurut (Djajasudarma, 2010) dalam (Illahi, 2021) metode deskriptif merupakan
metode yang bersifat sistematis, faktual dan cermat terkait penelitian data, properti
dan koneksi dari fenomena yang diteliti. Hal ini berarti bahwa penelitian kualitatif
bersifat deskriptif, data yang didapat cenderung berbentuk kata-kata atau gambar
daripada angka.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat dan waktu penelitian merupakan sumber data dan dianggap sebagai
suatu populasi sehingga dapat diambil sebagai sampelnya. Penentuan lokasi
penelitian ini dianggap sangat penting karena berhubungan dengan data-data yang
akan dicari oleh peneliti sesuai dengan fokus yang telah ditentukan. Pemilihan
tempat penelitian ini dengan maksud menemukan sumber data dari penelitian
(Astuti, 2016). Peneliti melakukan penelitian ini di berbagai tempat, baik itu
dirumah maupun tempat lain seperti perpustakaan, kampus, cafe, dan sebagainya.
peneliti tidak memiliki lokasi fisik khusus dikarenakan objek yang diteliti adalah
berupa film yang bisa ditonton dan diamati dimana saja. Lamanya waktu penelitian
ini terhitung sejak mei 2024 sampai september 2024.
Tabel 3.1 Waktu Pelaksanaan Penelitian
Bulan 2024
Nama Kegiatan Jul
Feb Mar Apr Mei Juni Agust Sept
i
Tahap Perencanaan
1. Pengajuan judul
2. Penyusunan proposal
3. Seminar Proposal
4. Revisi Proposal
5. Pengumpulan Data
6. Analisis Data
7. Ujian Skripsi
8. Revisi Skripsi
9. Publikasi Jurnal

C. Data dan Sumber data


a. Data
Data yang digunakan oleh peneliti adalah data kualitatif. Data adalah suatu
informasi tentang objek atau subjek yang tidak dapat dihitung dengan angka,
namun bisa dilihat atau dirasakan. Data ini biasanya dikumpulkan melalui teks,
gambar, audio, hingga video. Adapun yang termasuk data dalam penelitian ini
yaitu gambaran umum daru objek penelitian, yang meliputi : tangkapan layar
film Budi Pekerti yang memuat pesan moral untuk dianalisis.
b. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah berupa kata-kata, dan tindakan. Data
lainnya yang mendukung adalah dokumen dan lain-lain (Lofland, 2013). Selain
itu, menurut (Arikunto, 2010) dalam (Nurhayati, 2022) sumber data adalah
subjek dari mana data dapat diperoleh. Jadi sumber data merupakan informasi
yang diperoleh oleh peneliti untuk menjawab pertanyaan dalam penelitian.
Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan yaitu sumber data primer, dan
sumber data sekunder.
1. Sumber data primer, yaitu data yang diperoleh dari film Budi Pekerti berupa
video mp4, baik itu dalam audio, gambar, dialog, dan background dari
adegan-adegan film yang berdurasi 1 jam 50 menit tersebut. Dalam film
“Budi Pekerti” yang termasuk dalam data primer adalah dialog yang
didalamnya mengandung makna pesan moral.
2. Sumber data sekunder, yaitu data pendukung yang diperoleh dari berbagai
literatur, seperti buku-buku, jurnal-jurnal penelitian, skripsi, artikel, dan
internet. Data sekunder dapat diperoleh dan didukung dari studi pustaka,
jurnal ataupun dokumen-dokumen yang terkait dengan penelitian analisis
semiotika pemaknaan pesan moral dalam film. Peneliti bisa mendapatkan
data penelitian selain dari dialog, scene, dan potongan adegan melalui data
sekunder.
D. Teknik pengumpulan data
Agar mendapatkan hasil yang relevan dan runtut dalam penelitian, maka perlu
untuk memperhatikan langkah-langkah dalam mengumpulkan data. Adapun
tahapan yang dilakukan agar mempermudah dan mempercepat selama proses
penelitian. Langkah-langkah yang akan dilakukan dalam mengumpulkan data
adalah :
a. Menonton secara cermat dan keseluruhan film “Budi Pekerti” untuk memperoleh
gambaran tentang tema umum film tersebut.
b. Memahami isi keseluruhan film “Budi Pekerti”
c. Mengdentifikasi bagian-bagian cerita dalam film “Budi Pekerti” yang terdapat
pesan moral
d. Menangkap layar dari film “Budi Pekerti” pada bagian-bagian yang terdapat
pesan moral untuk dianalisis
e. Mencatat bagian yang memuat nilai moral untuk dianalisis semiotika
E. Teknik Analisis Data
Menggunakan semiotika Roland Barthes sebagai teknik analisis data,
potongan-potongan adegan dalam film “Budi Pekeri” dikelompokkan sesuai dengan
rumusan masalah penelitian. Teknik analisis data yang diterapkan adalah sebagai
berikut :
a. Dari hasil penyimakan, peneliti menyeleksi bagian-bagian yang sesuai dengan
topik penelitian.
b. Tahap selanjutnya, peneliti mengelompokkan bagian-bagian yang
menginterpretasikan representasi pesan moral pada film.
c. Bagian yang dikelompokkan dianalisis menggunakan semiotika menurut Roland
Barthes.
d. Peneliti kemudian melakukan interpretasi atau hasil analisis tersebut
berlandaskan pada konsep-konsep mengenai representasi pesan moral
menggunakan semiotika menurut teori Roland Barthes
e. Tahap terakhir, peneliti menarik kesimpulan dari hasil analisis.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, G. A. M. F. (2023). Analisis Semiotika Pesan Moral Dalam Film “Pituduh”


(Film Pendek Juara 1, Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa Timur). 1–102.
Angioni, S. A., Giansante, C., Ferri, N., Ballarin, L., Pampanin, D. M., Marin, M. G.,
Bargione, G., Vasapollo, C., Donato, F., Virgili, M., Petetta, A., Lucchetti, A.,
Cabuga Jr, C. C., Masendo, C. B. ., Hernando, B. J. ., Joseph, C. C. ., Velasco, J. P.
., Angco, M. K. ., Ayaton, M. A., … Barile, N. B. (2021). ANALISIS
SEMIOTIKA PESAN MORAL DALAM FILM “SELESAI” Skripsi. Fisheries
Research, 140(1), 6.
[Link]
sequence=1&isAllowed=y
Astuti, H. (2016). MAKNA PESAN MORAL DALAM SERIAL KARTUN.
Bagus, F. (2017). menjelaskan hubungan penanda dan petanda pada realitas,
menghasilkan makna eksplisit. Konotasi. 4(1), 1–14.
Berliana, M., & Abidin, S. (2020). Analisis Semiotika Pesan Moral Film Kukira Kau
Rumah film.
Diputra, R. (2021). ANALISIS SEMIOTIKA DAN PESAN MORAL PADA FILM
IMPERFECT 2019 KARYA ERNEST PRAKASA. 2(2), 111–122.
Diwanda, B. A., & Astuti, S. B. (2023). Pesan Moral dalam Film Menjelang Maghrib
Karya Helfi Kardit. Prosiding Seminar Nasional Hasil Riset Dan Pengabdian,
882–888.
Dwiwasa, B. P., & Sihotang, H. (2024). Film ‘ Budi Pekerti ’: Inspirasi Pendidikan
Karakter Melalui Ruang Digital. 8, 809–822.
Fadlan, M., Siregar, A., Daulay, M., Sazali, H., Islam, U., & Sumatera, N. (2023).
PESAN MORAL DALAM FILM THE PLATFORM ( ANALISIS SEMIOTIK
ROLAND BARTHES ). 2(4), 1283–1290.
Illahi, R. (2021). Pesan Moral Dalam Film Menolak Diam. 1–30.
Iskandar, D. (2023). ANALISIS SEMIOTIKA PESAN MORAL DALAM FILM sebuah
alternatif dalam menyampaikan sebuah pesan atau dakwah . Hal demikian seperti
yang dilansir media online INewsJatim . id pada bulan Desember 2021 agresivitas
remaja karena terpengaruh adegan-adegan sadis ya. 7(1), 24–35.
[Link]
Listiyapinto, R. Z. (2024). Analisis Wacana Kritis dalam Film Budi Pekerti. 8(1), 11–
17.
Lotulung, L. J. H. (2021). Analisis semiotika pesan moral sikap dermawan dalam film.
Nurhanifah, R., Sufanti, M., & Surakarta, U. M. (2022). ANALISIS PESAN MORAL
NOVEL RAPIJALI 1 ” MENCARI ” KARYA DEE LESTARI SEBAGAI BAHAN
AJAR SASTRA. 17(01), 1–10.
Ramadhan, N. (2023). Analisis Semiotika Tentang Pesan Moral dalam Film “Ngeri
Ngeri Sedap.” Jurnal Ekonomi Bisnis Indonesia, 17(2), 116.
[Link]
sequence=1&isAllowed=y
Rinaja, A. F. (2024). Nilai Moral Dalam Film Budi Pekerti Karya Wregas Bhanuteja.
1(2), 80–86.
Setya, G., Pada, N., Instagram, A., & Com, D. (2017). Jurnal An- nida’. 41(2), 213–
239.
Sofiani, R. (2016). Pesan Moral Pada Film Dalam Mihrab Cinta. Fakultas Dakwah,
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1–74.
Sulistiya, E., Setyowati, H., & Rochimansyah, R. (2024). KAJIAN STRUKTURAL DAN
NILAI MORAL DALAM FILM PENDEK LEMANTUN KARYA WREGAS
BHANUTEJA STRUCTURAL STUDY AND MORAL VALUES IN THE SHORT
FILM LEMANTUN Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa , Universitas
Muhammadiyah Purworejo , Purworejo , Indonesia * Corresp. 3(1), 47–59.
Winda, F. (2020). Teori Komunikasi : Individu Hingga Massa.

Anda mungkin juga menyukai