0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan32 halaman

Metode Pavement Condition Index (PCI)

Diunggah oleh

Didik Handoko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
63 tayangan32 halaman

Metode Pavement Condition Index (PCI)

Diunggah oleh

Didik Handoko
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Penilaian Kondisi Perkerasan Jalan

Metode Pavement Condition Index (PCI)


Inspeksi visual permukaan perkerasan digunakan untuk:
 Mengevaluasi kondisi perkerasan saat dilakukan inspeksi
 Menentukan prioritas pemeliharaan perkerasan dan kebutuhan
rehabilitasi
 Mengestimasi kuantitas pemeliharaan
 Mengevaluasi kinerja cara pemeliharaan dan rehabilitasi yang
berbeda
Metode PCI memberikan informasi kondisi perkerasan
hanya pada saat survey dilakukan, tidak untuk prediksi.
PCI sebaiknya tidak diaplikasikan untuk perkerasan beton
bertulang kontinyu dan perkerasan beton prategang.
Metode Pavement Condition Index (PCI) meruapakan salah satu metode
yang sering digunakan untuk menetapkan nilai kondisi suatu perkerasan
jalan (indeks kondisi perkerasan) yang memiliki indeks bernomor berkisar
di antara 0 (nol) sampai dengan 100 (seratus). Nilai 0, menunjukkan
perkerasan dalam kondisi sangat rusak, dan nilai 100 menunjukkan
perkerasan masih sempurna.
Pada metode PCI tingkat keparahan kerusakan perkerasan merupakan
fungsi dari 3 faktor utama:
1. Tipe kerusakan
2. Tingkat keparahan kerusakan
3. Jumlah atau kerapatan kerusakan
Gambar 1 Diagram Nilai Pavement Condition Index (PCI)
Tabel 1. Nilai Pavement Condition Index (PCI)dan Kondisi Perkerasan Jalan

Nilai PCI Kondisi


0 – 10 Gagal (failed)
11 – 25 Sangat Buruk (very poor)
26 – 40 Buruk (poor)
41 – 55 Sedang (fair)
56 – 70 Baik (good)
71 – 85 Sangat baik (very good)
86 – 100 Sempurna (excellent)
Tahapan analisis kondisi kerusakan jalan menggunakan metode
Pavement Condition Index (PCI):

1. Menentukan Kerapatan Kerusakan (Density)


Menurut Hardiyatmo (2015), Density merupakan kepadatan kerusakan yang terjadi pada perkerasan
jalan, yaitu nilai persentase dari luas atau panjang sebuah kerusakan jalan terhadap luas total dari
suatu segmen jalan yang ditinjau. Nilai density dari suatu kerusakan jalan dibedakan berdasarkan
jenis kerusakan jalan yang terjadi pada jalan tersebut. Maka nilai density dapat dihitung dengan
rumus sebagai beriku:
𝐴𝑑
Kerapatan (density)= x100% atau
𝐴𝑠

𝐿𝑑
Kerapatan (density)= × 100%
𝐴𝑠
Keterangan:
Ad = Luas total suatu jenis kerusakan (m2)
Ld = Panjang total suatu jenis kerusakan (m)
As = Luas total suatu segmen ruas jalan (m2)
2. Menentukan Nilai Deduct Value
Deduct value merupakan nilai pengurangan, nilai ini diperoleh dari grafik
hubungan antara tingkat keparahan dan kerapatan dari kerusakan yang terjadi
pada perkerasan lentur (permukaan beton aspal), grafik dari deduct value akan
berbeda untuk tiap jenis kerusakan, dan tingkat keparahannya (Hardiyatmo,
2015). Dapat dilihat pada Gambar 2. Deduct Value untuk jenis kerusakan jalan
Alligator Cracking.
3. Menentukan Nilai Total Deduct Value (TDV)
Total Deduct Value (TDV) merupakan jumlah dari nilai individual deduct value sesuai dengan jenis
kerusakan dan tingkat keparahan kerusakan masing – masing segmen.
4. Menentukan Nilai Izin dari Deduct Value (m)
a. Jika hanya satu deduct value dengan nilai > 5 untuk lapangan udara, dan > 2 untuk jalan, maka
total deduct value digunakan sebagai corrected deduct value, jika tidak maka akan dilanjutkan pada
tahap sebagai berikut:
b. Urutkan nilai deduct value dari nilai terbesar ke terkecil
Menentukan nilai m dengan menggunakan rumus:
9
c. 𝑚 = 1 + × (100 − 𝐻𝐷𝑉)
98

Keterangan:
m = nilai izin deduct
HDV = nilai terttinggi dari deduct
Masing – masing deduct value dikurangkan terhadap m. Jika jumlah nilai hasil
pengurangan yang lebih kecil dari m ada, maka semua deduct value dapat
digunakan
5. Menentukan CDV Maksimum (Corrected Deduct Value)
Corrected deduct Value (CDV) merupakan nilai yang diperoleh dari grafik hubungan
total deduct value (TDV) dengan pemilihan lengkung yang sesuai dengan jumlah
individual deduct value yang dapat dilihat pada Gambar 2.24. Apabila nilai dari CDV
lebih keci dari nilai pengurangan tertinggi, maka nilai CDV yang digunakan adalah
nilai pengurangan individual tertinggi
Gambar 3 Hubungan Antara Total Deduct Value (TDV) dan Corrected Deduct Value (CDV)
Sumber: Shahin, 1994
6. Menentukan Nilai PCI
Menurut Hardiyatmo (2015), apabila nilai dari CDV telah diketahui, maka nilai
PCI untuk tiap segmen ruas jalan dapat diketahui dengan rumus sebagai
berikut:

𝑃𝐶𝐼𝑆 = 100 − 𝐶𝐷𝑉


Keterangan:
PCI(S) = Pavement Condition Index untuk tiap unit CDV= Corrected Deduct
Value untuk tiap unit
7. Nilai PCI Kondisi Perkerasan Rata – rata
Setelah menghitung nilai PCI untuk tiap unit, maka langkah selanjutnya adalah
mencari rata – rata dari nilai PCI tersebut. Dengan rumus sebagai berikut:
Σ𝑃𝐶𝐼𝑆
𝑃𝐶𝐼 =
𝑁
Keterangan:
PCI = Nilia PCI perkeserasan keseluruhan PCI(S)= Nilai PCI tiap
unit/segmen
N = Jumlah unit/segmen
Langkah-langkah pada metode PCI digambarkan sbb:
Jenis Kerusakan Jalan Metode Pavement Condition Index (PCI)

Jenis kerusakan pada perkerasan lentur menurut Shahin (1994) sebagai acuan dalam analisis
kerusakan jalan metode Pavement Condition Index (PCI) adalah sebagai berikut:
1. Retak Kulit Buaya (Alligator Cracking)
Tingkat Kerusakan Retak Kulit Buaya (Alligator Cracking)
Tingkat Pilihan untuk perbaikan
Identifikasi kerusakan
Kerusakan
Halus, retak rambut/halus memanjang Masih belum perlu untuk
sejajar satu dengan yang lain, atau hanya diperbaiki; Penutup
L (Low) sedikit retakan yang saling berhubungan. tambahan; Lapisan
Retaknya tidak terkelupas tambahan (overlay)

Retak kulit buaya yang masih ringan Penambalan parsial, atau


yang terus berkembang ke dalam pola diseluruh kedalaman;
M (Medium) Lapisan tambahan;
atau jaringan retakan yang diikuti dengan
gompal ringan Rekontruksi

Jaringan dan pola retak berlanjut, Penambalan parsial, atau


sehingga pecahan – pecahan dapat diseluruh kedalaman;
H (High) Lapisan tambahan;
diketahui dengan mudah, dan dapt terjadi
gompal dipinggir Rekontruksi
Gambar 1. merupakan penggambaran secara visual dari kerusakan retak kulit buaya yang sudah dijelaskan.

Gambar 1 Retak Kulit Buaya (Alligator Cracking)


Kegemukan (Bleeding)

Kerusakan ini merupakan cacat permukaan berupa terjadinya


konsentrasi aspal pada suatu tempat tertentu di permukaan jalan.
Bentuk fisik dari kerusakan ini dapat diketahui dengan terlihatnya
lapisan tipis aspal (tanpa agregat halus) pada permukaan
perkerasan, kerusakan ini terjadi apabila cuaca sangat panas sehinga
aspal memenuhi rongga-rongga pada campuran, dan pada lalu lintas
yang berat akan terlihat jejak bekas ‘bunga ban’ kendaraan yang
melewatinya. Hal ini tentu akan membahayakan bagi pengguna jalan
karena jalan akan menjadi licin.
Tingkat Kerusakan Kegemukan (Bleeding)
Tingkat Pilihan untuk perbaikan
Identifikasi kerusakan
Kerusakan
Kegemukan terjadi hanya pada derajat
rendah dan hanya terjadi pada tingkat Masih belum perlu untuk
L (Low) yang sangat sedikit dan terlihat hanya diperbaiki
beberapa hari dalam setahun. Aspal
melekat pada sepatu atau roda kendaraan
Menambahkan pasir atau
Kegemukan mengakibatkan aspal melekat agregat pada lapisan
M (Medium) pada sepatu atau roda kendaraan, dan permukaan dan
terlihat beberapa minggu dalam setahun dipadatkan

Kegemukan telah terjadi begitu nyata dan Menambahkan pasir atau


banyak aspal yang menempel pada sepatu agregat pada lapisan
H (High) permukaan dan
dan roda kendaraan, terlihat lebih dari
beberapa minggu dalam setahun dipadatkan

Sumber: Shahin, 1994


Gambar 2 Kegemukan (Bleeding)
Sumber: Shahin, 1994
Retak Blok (Block Cracking)

Kerusakan ini merupakan retak yang berbentuk blok atau


kotak pada perkerasan dengan ukuran 200mm x 200mm.
Keruskan jenis ini tidak berhubungan dengan beban lalu
lintas, karena disebabkan oleh fluktuasi temperatur pada
pada satu hari yang mengakibatkan terjadinya proses
tegangan/regangan. Retak blok ini terjadi umumnya
pada lapisan tambahan (overlay), yang menggambarkan
pola retakan perkerasan di bawahnya.
Tingkat Kerusakan Retak Blok (Block Cracking)
Tingkat Pilihan untuk perbaikan
Identifikasi kerusakan
Kerusakan
Penutupan retak (Seal
Kerusakan retak blok didefinisikan oleh cracks) bila retal melebihi
L (Low) (1/8”); Penutupan
retak dengan tingkat kerusakan rendah
permukaan
Penutupan retak (seal
craks); Mengembalikan
Kerusakan retak blok didefinisikan oleh permukaan; Dikasarka
M (Medium)
retak dengan tingkat kerusakan sedang dengan pemanas dan lapis
tambahan
Penutupan retak (seal
craks); Mengembalikan
Kerusakan retak blok didefinisikan oleh permukaan; Dikasarka
H (High)
retak dengan tingkat kerusakan tinggi dengan pemanas dan lapis
tambahan
Sumber: Shahin, 1994
Gambar 3. Retak Blok (Block Cracking)
Sumber: Shahin, 1994
Gundukan dan Cekungan (Bumps and Sags)

Benjol (bumps) merupakan peninggian kecil atau gerakan perpindahan ke


atas, sedangkang turun (sags) merupakan penurunan kecil atau gerakan
perpindahan ke bawah yang terjadi pada permukaan perkerasan lentur.
Kerusakan jenis ini disebabkan adanya penumpukan material campuran
perkerasan yang mengisi retak yang disebabkan pengaruh beban lalu lintas.
Tingkat Kerusakan Gundukan dan Cekungan (Bumps and Sags)
Tingkat Pilihan untuk perbaikan
Identifikasi kerusakan
Kerusakan
Kerusakan dalam skala kecil, Masih belum perlu untuk
L (Low) mengakibatkan sedikit gangguan diperbaiki
kenyamanan kendaraan
Kerusakan dalam skala menengah, Cold Mill; Penambalan
M (Medium) mengakibatkan agak banyak gangguan parsial, atau diseluruh
kenyamanan kendaraan kedalaman

Kerusakan dalam skala besar, Cold Mill; Penambalan


H (High) mengakibtkan banyak gangguan parsial, atau diseluruh
kenyamanan kendaraan kedalaman; Overlay
Gambar 4. Gundukan dan Cekungan (Bumps and Sags)
Sumber: Shahin, 1994
Keriting (Corrugation)

Kerusakan jenis ini dikenal juga dengan istilah lain yaitu Ripples, merupakan
kombinasi dari benjol dan turun atau bisa disebut dengan gelombang pada
lapis permukaan, atau dapat dikatakan alur yang terjadi yang arahnya
melintang jalan, dan sering disebut juga dengan Plastic Movement. Kerusakan
jenis ini disebabkan oleh lapis permukaan atau lapis pondasi yang tidak stabil
dalam menerima beban lalu lintas.
Tingkat Kerusakan Keriting (Corrugation)
Tingkat Pilihan untuk perbaikan
Identifikasi kerusakan
Kerusakan
Masih belum perlu untuk
L (Low) Keriting mengakibatkan sedikit gangguan diperbaiki
kenyamanan kendaraan
M (Medium) Keriting mengakibatkan agak banyak Rekonstruksi
gangguan kenyamanan kendaraa
H (High) Keriting mengakibatkan banyak gangguan Rekonstruksi
kenyamanan kendaraan
Sumber: Shahin, 1994
Gambar 5. Keriting (Corrugation)
Sumber: Shahin, 1994
Amblas (Depression)

Amblas merupakan jenis kerusakan jalan yang terjadi berupa


amblas/turunnya elevasi dari lapisan permukaan perkerasan jalan pada
lokasi tertentu dengan atau tanpa adanya retak. Kedalaman amblas
umumnya sedalam 2 cm dan akan menampung/meresapkan air hujan.
Tingkat Kerusakan Amblas (Depression)
Tingkat Pilihan untuk perbaikan
Identifikasi kerusakan
Kerusakan
Kedalaman maksimum amblas ½ - 1 in Masih belum perlu untuk
L (Low) diperbaiki
(13 – 25 mm)
Penambalan dangkal,
Kedalaman maksimum amblas 1 – 2 in sebagian, atau seluruh
M (Medium)
(25 – 50 mm) kedalaman
Penambalan dangkal,
Kedalaman maksimum amblas > 2 in (> sebagian, atau seluruh
H (High)
50 mm) kedalaman
Sumber: Shahin, 1994
Gambar 6. Amblas (Depression)
Sumber: Shahin, 1994
DAN SETERUSNYA

Anda mungkin juga menyukai