Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
PENERAPAN TEMA ARSITEKTUR EKOLOGI DALAM
RANCANGAN PUSAT KONSERVASI MACAN TUTUL JAWA DI
BANYUWANGI
THE APPLICATION OF ECOLOGICAL ARCHITECTURE THEME ON
JAVANESE LEOPARD CONSERVATION CENTER DESIGN IN
BANYUWANGI
Fitri Sri Maudina Febriyani¹, Firdha Ayu Atika², Esty Poedjioetami3
1,2,3
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan,
Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya
Email: maudinafebriyani@[Link]
ABSTRAK
Macan Tutul Jawa merupakan satwa khas Pulau Jawa yang saat ini populasinya
semakin menurun. Hal tersebut disebabkan oleh perburuan liar yang sampai saat
ini tidak terkendali, serta semakin berkurangnya habitat asli mereka. Apabila tidak
segera dilakukan sebuah tindakan kepunahan Macan Tutul Jawa, dapat berdampak
buruk bagi ekosistem alam. Tindakan yang dapat dilakukan untuk
mempertahankan populasi mereka adalah dengan kegiatan konservasi. Konservasi
merupakan wadah yang dapat digunakan untuk melindungi, menjaga, serta
mengembangbiakan satwa yang populasinya semakin berkurang. Oleh karena itu
penelitian ini bertujuan untuk menjaga serta mengembangbiakan Macan Tutul
Jawa agar terhindar dari kepunahan yang menggunakan penerapan tema
Arsitektur Ekologi. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif.
Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, teknik dokumen, dan
teknik wawancara. Penerapan konsep makro pada perancangan ini bertajuk
Nature. Nature berarti sebagai alam adalah basis dari desain rancangan. Mikro
konsep tatanan lahan terarah Tatanan lahan memiliki mikro konsep terarah, yang
bertujuan untuk mengerahkan antara zona publik dan zona private. Mikro konsep
pada bentuk menggunakan konsep adaptif. Arsitektur ekologi sangat adaptif
terhadap arsitektur tradisional, oleh sebab itu bentuk bangunan akan
mencerminkan bentuk arsitektur tradisional khas Banyuwangi. Sedangkan mikro
konsep ruangan menggunakan konsep open space. Konsep pada setiap ruangnya
didesain dengan menggunakan banyak bukaan sehingga sirkulasi pada setiap
ruangnya dapat berjalan dengan baik.
Kata kunci : Arsitektur Ekologi, Banyuwangi, Konservasi, Macan Tutul Jawa.
ABSTRACT
The Javanese leopard is a typical animal of Java Island, whose population
currently decreasing. This is caused by illegal hunting that is currently
uncontrolled, as well as the decreasing of their natural habitat. If an action is not
taken on the extinction of the Javanese leopard, it can have a bad impact on the
natural ecosystem. Actions that can be taken to maintain their population are
conservation activities. Conservation is a place that can be used to protect,
241
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
maintain, and breed animals whose populations are decreasing. Therefore, this
study aims to maintain and breed the Javanese Leopard in order to avoid
extinction using the application of the Ecological Architecture theme. The
research method used is qualitative research. Data collection techniques used
observation techniques, document techniques in the form of journals, and
interview techniques. The application of the macro concept in this design is
entitled Nature. Nature means as nature is the basis of the design. The micro
concept of directional land order Land arrangement has a directional micro
concept, which aims to mobilize between the public zone and the private zone.
Micro concept on form using adaptive concept. The micro concept of form is
adaptive. Ecological architecture is very adaptive to traditional architecture,
therefore the shape of the building will reflect the traditional architectural form of
Banyuwangi. While the micro concept of the room uses the concept of open space.
The concept in each room is designed by using many openings so that circulation
in each space can run well.
Key words: Ecological Architecture, Banyuwangi, Conservation, Japanese
Leopard.
PENDAHULUAN
Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas) masuk kedalam daftar IUCN
2012 mengenai spesies yang keberadaannya terancam punah. Macan Tutul Jawa
termasuk dalam kategori kritis (Critically Endangered kategori C2al) dan juga
termasuk dalam kategori appendix 1 CITIES di Indonesia. Selain itu juga Macan
Tutul Jawa termasuk satwa dilindungi (UU No. 5 tahun 1990 dan PP. No. 7 tahun
1999). Sejak tahun 1970 Macan Tutul Jawa masuk kedalam kategori satwa
dilindungi berdasarkan SK Mentan No.421/Kpts/Um.9.1970 (tertulis: Felis
Pardus). Macan Tutul Jawa adalah satwa pemangsa yang memiliki peran penting
dalam sebuah ekosistem. Akan tetapi, populasi Macan Tutul semakin lama
semakin berkurang. Hal ini disebabkan oleh perburuan liar yang sampai saat ini
masih terus terjadi di alam liar (Romansyah, n.d.).
Menurut pengelola Taman Nasional Alas Purwo ditemukan bangkai Macan
Tutul yang sudah terkuliti, akibat dari perburuan liar. Pernyataan tersebut
merupakan salah satu bukti bahwa Macan Tutul Jawa belum lepas dari perburuan
liar. Selain perburuan liar, faktor yang menyebabkan populasi Macan Tutul Jawa
menurun adalah habitat macan tutul yang semakin berkurang. Hal ini dikarenakan
aktivitas manusia yang semakin meningkat, kemudian berimbas terhadap
terbatasnya ketersediaan mangsa dan tempat tinggal Macan Tutul Jawa.
242
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
Penurunan populasi atau bahkan kepunahan Macan Tutul dapat berakibat
buruk bagi ekosistem alam (Forda, n.d.). Oleh sebab itu dibutuhkan wadah yang
bersifat melindungi, serta mengembangbiakan satwa tersebut agar terhindar dari
kepunahan. Wadah yang cocok untuk melaksanakan kegiatan tersebut adalah
Pusat Konservasi. Tentunya objek ini dirancang sejalan dengan Rencana
Pemerintah dalam melakukan kegiatan konservasi Macan Tutul Jawa. Pusat
Konservasi memiliki tujuan merabilitasi, melindungi, serta melestarikan populasi
Macan Tutul. Diharapkan dengan adanya perencanaan dan perancangan Pusat
Konservasi Macan Tutul Jawa di Banyuwangi, dapat melestarikan kembali
populasi Macan Tutul Jawa yang sedang diambang kepunahan.
Ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari hubungan atau timbal
balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Frick & Suskiyatno, 2007).
Prinsip arsitektur ekologi menurut Heinz Frick adalah bagaimana merespon iklim
setempat serta meminimalkan penggunaan energi, memanfaatkan material lokal,
serta menyediakan sumber energi, air, dan pembuangan limbah. Arsitektur
ekologi juga memiliki unsur pokok yang menghubungkan bangunan dengan
lingkungannya. Lingkungan diupayakan terjaga keserasian dan keseimbangannya,
dengan meminimalkan dampak pembangunan (Laksmiyanti & Poedjioetami,
2021).
Dari uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka dari itu diperlukan
sebuah wadah untuk kegiatan Konservasi Macan Tutul Jawa di Banyuwangi, yang
menggunakan Tema Arsitektur Ekologi. Tema tersebut dipilih agar proses desain
Pusat Konservasi Macan Tutul Jawa tetap memperhatikan lingkungan
disekitarnya, dengan cara memanfaatkan segala sumber daya yang berasal dari
alam. Lokasi objek rancang berada di Alas Purwo Banyuwangi, dimana dipilih
karena berdekatan dengan habitat asli Macan Tutul Jawa.
Tahapan yang dilakukan dalam proses memasukan satwa ke dalam Pusat
Konservasi adalah dengan mengisi formulir atau data terhadap satwa yang akan
dikarantina. Setelah itu akan dilakukan pengecekan asal muasal satwa,
pengecekan kesehatan (berat badan, jenis kelamin, panjang, tinggi, dan kondisi
fisik). Pengecekan dilakukan agar dapat mengetahui satwa, apakah dalam keadaan
243
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
sehat atau kurang sehat (sakit). Setelah pengecekan selesai akan dilakukan
karantina dalam beberapa hari. Hal tersebut berfungsi agar satwa dapat
beradaptasi terhadap lingkungan yang baru. Setelah dilakukan karantina, satwa
mulai dikenalkan dengan satwa yang lain secara bertahap. Satwa yang dalam
kondisi sehat dan memungkinkan untuk melakukan perkembangbiakan, akan dites
kesehatan kembali sebelum melakukan proses penjodohan. Apabila proses
penjodohan dan perkawinan berhasil, satwa akan didata dalam buku silsilah.
Pendataan silsilah berfungsi untuk mengetahui catatan keturunan, yang kemudian
disimpan oleh Pusat Konservasi. Satwa yang sehat secara fisik, jasmani dan dirasa
sudah cukup memenuhi standar untuk pelepasan, akan secepatnya dikembalikan
ke habitat aslinya. Sebelum melakukan pelepasan, satwa akan dicek kesehatan
terlebih dahulu dan didata oleh Pusat Konservasi (GUNAWAN &
KEHUTANAN, n.d.).
Pengembangbiak
an
Satwa Karantina Kandang utama
datang Kembali ke alam
Gambar 1. Alur Konservasi
Alur penjelasan konservasi yang dijelaskan sebelumnya, dijadikan sebagai
dasar dalam menentukan kebutuhan ruang. Selain itu, penataan massa bangunan
juga ditentukan berdasarkan proses satwa datang hingga siap untuk dilepaskan ke
habitat aslinya. Sedangkan rancang bentuk Pusat Konservasi, dimunculkan dari
transformasi gubahan Rumah Adat Osing. Hal ini merujuk kepada peraturan
setempat, yang mengharuskan bangunan yang dikelola Pemerintah mengadaptasi
bentuk khas dari Rumah Adat Osing.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Teknik observasi,
teknik dokumen, dan teknik wawancara dipakai dalam mengumpulkan data
primer maupun data sekunder. Teknik observasi adalah teknik pengumpulan data
dengan menggunakan penelitian, pengamatan, dan pengindraan pada lokasi
244
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
rancangan maupun objek kasus studi banding. Teknik pengumpulan data
dokumen adalah teknik mengkaji dokumen yang terkait dengan topik penelitian.
Dokumen yang dimaksud berupa jurnal dan data referensi preseden/studi kasus.
Sedangkan teknik pengumpulan data wawancara adalah teknik pengumpulan data
melalui narasumber yang ahli dibidang konservasi Macan Tutul Jawa.
Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik
analisis deskriptif kualitatif, dimana memanfaatkan data kualitatif yang dijelaskan
secara deskriptif. Untuk menyusun konsep desain, dibutuhkan sebuah pedoman
dan arahan yang mencakup ide/gagasan aplikatif dalam merealisasikan objek
rancang melalui proses pemrograman. Program rancangan sendiri bertujuan
sebagai analisa bagaimana rancangan desain dapat tercipta. Pendekatan rancang
dari Donna P. Duerk digunakan dalam proses mendesain, dimana dimulai dengan
pencarian fakta dan issue. Data yang ada, kemudian dianalisis dan ditentukan
rekomendasi ide konsep rancangan dengan mempertimbangkan performance
requirement (Rohman et al., 2021).
FACT ISSUE GOAL PERFORMANCE REQUIREMENT PARTIAL IDEA CONCEPT
Gambar 2. Program Rancangan
HASIL DAN PEMBAHASAN
Perencanaan dan Perancangan Pusat Konservasi Macan Tutul Jawa di
Banyuwangi memiliki tema rancangan Arsitektur Ekologi. Tema merupakan awal
dari sebuah gagasan ide yang dapat menghasilkan tujuan yang diinginkan dari
bentuk rancangan bangunan. Tema rancangan yang digunakan dalam perancangan
ini adalah tema Arsitektur Ekologi. Ekologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang
mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya.
Arsitektur Ekologi mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Prinsip
perencanaan yang sesuai dengan ekologis adalah perencanaan yang dapat dicapai
dengan memperhatikan sub tujuan dan mengutamakan cara membangun yang
menghemat energi dan bahan baku. Penggunaan bahan bangunan, teknologi yang
245
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
terjangkau dan ramah lingkungan, juga turut menyukseskan penerapan Arsitektur
Ekologi (Atika, 2016).
Dalam proses melakukan Perencanaan dan Perancangan suatu bangunan
diperlukan adanya proses program ruang. Proses program ruang bertujuan sebagai
acuan atau panduan ruang – ruang apa saja yang dibutuhkan dalam bangunan
tersebut. Apabila kebutuhan ruang telah tersusun, kemudian dilanjutkan dengan
mengelompokkan ruang ke dalam kategori fasilitas utama, fasilitas penunjang,
fasilitas servis, serta fasilitas perparkiran.
Fasilitas utama terdiri atas lobby utama, ruang informasi, ruang tunggu, ruang
dokter hewan, ruang perawat satwa (keeper), ruang bedah, ruang perawatan
Macan tutul Jawa (ruang perawatan bagi bayi dan induk Macan Tutul Jawa, ruang
penyimpanan obat - obatan, vitamin, serta alat kesehatan), kandang Macan Tutul
Jawa (kandang dalam, kandang exhibition, kandang karantina). Sedangkan
fasilitas penunjang dilengkapi dengan ruang monitoring, ruang rapat, ruang
penelitian, ruang baca, ruang opengelola (ruang direktur atau manajer, sekertaris,
bendahara), ruang penyimpanan dan persiapan makanan, ruang souvenir, menara
pandang. Pusat Konservasi Macan Tutul Jawa juga dilengkapi dengan fasilitas
service berupa pos jaga, masjid, Gudang perabotan, toilet (pengunjung dan
pengelola), ruang mekanikal elektrikal, dan perparkiran.
Pusat Konservasi Macan Tutul Jawa terletak kecamatan Tegaldlimo,
Banyuwangi. Lokasi tersebut terletak berdekatan dengan Taman Nasional Alas
Purwo, Banyuwangi, Jawa Timur, dimana merupakan salah satu habitat Macan
Tutul Jawa. Ketentuan umum instensitas bangunan yaitu Koefisien Dasar
Bangunan (KDB) yang diizinkan sebesar 10% (sepeluh persen), Koefisien Lantai
Bangunan (KLB) sebesar 10% (sepuluh persen) dan Koefisien Dasar Hijau
(KDH) sebesar 90% (sembilan puluh persen).
Makro konsep pada rancangan ini adalah Nature. Nature dipahami bahwa
alam menjadi basis utama dari desain rancangan. Konsep ini juga turut
mendukung Tema Arsitektur Ekologi. Proses desain menggabungkan alam
dengan teknologi, mendukung strategi konservasi, perbaikan lingkungan, serta
dapat diterapkan pada semua tingkatan dan skala.
246
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
Konsep terarah dipilih sebagai konsep Mikro Tatanan Lahan, yang bertujuan
untuk mengarahkan user saat berada di zona publik dan zona privat. Sirkulasi juga
didesain secara terarah, dengan membedakan antara sirkulasi khusus pengunjung,
dan pengelola. Jalur pedestrian dibuat langsung mengarah ke zona yang akan
dituju, dengan menggunakan sistem sirkulasi liniear. Selain untuk efisiensi, hal ini
bertujuan sebagai bentuk penyesuaian dengan regulasi intensitas lahan hijau pada
site. Dalam mendukung penerapan tema Arsitektur Ekologi, Ruang Terbuka Hijau
(RTH) dimunculkan untuk menjaga stabilitas iklim. Adanya RTH juga
memberikan manfaat dalam mengendalikan pencemaran sekaligus melakukan
konservasi keanegaragaman alam (Atika et al., 2022).
Gambar 3. Hirarki Tema dan Konsep Rancangan
Alur sirkulasi pada pusat konservasi macan tutul adalah pengunjung datang
melalui area A menuju area parkir kendaraan. Lalu pengunjung diarahkan menuju
lobby dan ruang pengelola untuk mendaftarkan diri. Pengunjung yang dimaksud
dalam hal ini adalah pengunjung yang ingin melakukan kegiatan penelitian.
247
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
Setelah melalui area lobby, pengunjung dapat langsung menuju ke area
Konservasi Macan Tutul Jawa. Sedangkan alur sirkulasi bagi pengelola yang
mengangkut satwa, dipisahkan dengan alur sirkulasi pengunjung. Pintu masuk
pengelola ditunjukkan dengan panah merah (Gambar 4) yang diarahkan langsung
menuju ke bangunan karantina satwa (J).
Mikro konsep bentuk yang diterapkan pada rancangan adalah adaptif.
Arsitektur ekologi sangat adaptif terhadap lokalitas setempat, dimana Pusat
Konservasi Macan Tutul menggunakan Bentuk khas Rumah Osing. Selain itu
terdapat peraturan setempat, dimana bangunan yang dikelola oleh pemerintah
harus mengadaptasi bentuk bangunan Rumah Osing. Peraturan tersebut diatur
dalam Peratuan Bupati Banyuwani Nomor 11 Tahun 2019 tentang Arsitektur
Osing Banyuwangi. Bentuk Arsitektur dari suatu rumah adat mempunyai
kekhasan serta kenunikan yang mencerminkan budaya yang terkandung di
dalamnya (Atika, 2018). Maka dari itu, bentukan unik Arsitektur Osing
dihadirkan kembali dengan mempertahankan prinsip-prinsip dan norma yang ada.
Gambar 4. Tatanan Lahan
248
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
Gambar 5. Mikro Konsep Gubahan Bentuk
Konsep mikro ruang open space diterapkan, agar setiap ruang memiliki
sirkulasi udara dan pencahayaan yang baik. Setiap ruang dirancang memiliki
banyak bukaan, seperti jendela maupun lubang angin. Konsep tersebut sangat
berhubungan erat dengan arsitektur ekologi, dimana memanfaatkan alam sebagai
sumber energi.
Gambar 6. Mikro Konsep Ruang
Selain itu, bentuk pengaplikasian Tema Arsitektur Ekologi pada objek
rancangan adalah dengan memanfaatkan energi matahari yang diolah menjadi
energi listrik. Setiap bangunan pada Pusat Konservasi Macan Tutul Jawa di
Banyuwangi memiliki sistem panel surya. Adapun sistem kerja panel surya dapat
dilihat pada Gambar 7. Hal tersebut juga turut mendukung penerapan Arsitektur
Ekologi, karena memanfaatkan energi yang ada di alam.
Gambar 7. Sistem Kerja Panel Surya
249
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
Gambar 8. Desain Menara Pandang
Arsitektur Ekologi juga diterapkan dalam pengelolaan air hujan. Air hujan
diolah dan dimanfaatkan kembali, untuk memenuhi kebutuhan air pada Kandang
Macan Tutul Jawa. Sistem pengelolaan air tersebut biasa disebut dengan sistem
Rain Water Harvesting, yang diletakan pada bangunan menara pandang. Bagian
atap pada Menara pandang digunakan sebagai area penampung air hujan.
Kemudian air hujan tersebut disalurkan pada pipa – pipa, yang akan dialirkan ke
sumur penampungan. Sesampainya di sumur penampungan, air hujan akan
dipompa dan dialirkan ke arah Kandang Dalam Macan Tutul Jawa.
KESIMPULAN
Perencanaan dan Perancangan Pusat Konservasi Macan tutul Jawa di
Banyuwangi dirancang dan disesuaikan dengan Tema Arsitektur Ekologi. Konsep
tatanan lahan terarah, konsep bentuk adaptif, konsep ruang open space
disesuaikan dengan Tema Arsitektur Ekologi, dimana proses perancangan tetap
memperhatikan alam sebagai basis desain. Desain pada bentuk Kandang Macan
Tutul Jawa juga didesain menyerupai habitat aslinya, dengan menyediakan
vegetasi yang sama dengan habitat asli satwa. Konsep Tatanan lahan terarah
mengarahkan user saat berada di zona publik dan zona privat, yang langsung
membedakan jalur untuk pengunjung dan pengelola. Penerapan Tema Arsitektur
Ekologi juga diterapkan dengan pemanfaatan energi sinar matahari menjadi energi
250
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
listrik dengan sistem solar panel, dan pemanfaatan air hujan dengan sistem Rain
Water Harvesting.
Rancangan Pusat Konservasi Macan Tutul diupayakan untuk tidak merusak
alam dan menyesuaikan dengan habitat asli satwa. Namun dalam proses desain
kandang Macan Tutul Jawa, terdapat kekurangan data dalam mencari informasi
mengenai standar ruang yang menyesuaikan dengan habitat asli satwa. Hal ini
diperlukan agar kebiasaan dan tingkah laku dari Macan Tutul tidak berubah.
Sehingga mereka tetap bisa hidup dan beradaptasi, apabila dilepasliarkan kembali
ke habitat aslinya.
DAFTAR PUSTAKA
Atika, F. A. (2016). Optimalisasi Fungsi Perumahan Yang Berkelanjutan Dalam
Menunjang Pariwisata (Studi Kasus: Makam Sunan Giri, Desa Klangonan,
Kebomas, Gresik) [Masters, Institut Teknologi Sepuluh Nopember].
[Link]
Atika, F. A. (2018). TRANSFORMASI BENTUK ARSITEKTUR RUMAH
ADAT BUGIS DI JALAN USMAN SADAR III/36, GRESIK. Prosiding
Seminar Nasional Sains dan Teknologi Terapan, 0, 243–248.
Atika, F. A., Poedjioetami, E., Oktafiana, B., & Rosilawati, H. (2022). STUDI
KUALITAS RUANG TERBUKA HIJAU DITINJAU DARI
PENGAPLIKASIAN DESAIN UNIVERSAL (Studi Kasus: Taman
Nginden Intan, Surabaya). Mintakat: Jurnal Arsitektur, 23(1), 28–38.
[Link]
Forda, H. (n.d.). STRATEGI DAN RENCANA AKSI KONSERVASI MACAN
TUTUL JAWA (Panthera pardus melas) [Link] | Hendra Forda—
[Link]. Retrieved May 31, 2022, from
[Link]
SI_KONSERVASI_MACAN_TUTUL_JAWA_Panthera_pardus_melas_2
016_2026_pdf
Frick, H., & Suskiyatno, B. (2007). Dasar-dasar arsitektur ekologis. Yogyakarta:
Kanisius.
251
Volume 6 Nomor 1, Juli 2022 CERMIN : JURNAL PENELITIAN
P-ISSN 2580 – 7781
E-ISSN 2615 – 3238
GUNAWAN, H., & KEHUTANAN, K. L. H. D. (n.d.). INOVASI
KONSERVASI HABITAT MACAN TUTUL JAWA (Panthera pardus
melas) DI LANSKAP HUTAN TERFRAGMENTASI.
Laksmiyanti, D. P. E., & Poedjioetami, E. (2021). Application of Ecological
Architecture Concepts to Industrial Villages in Surabaya (Case Study:
Gundih Village). OPSI, 14(1), 59–65.
[Link]
Rohman, A. D. F., Widjajanti, W. W., & Atika, F. A. (2021). RANCANGAN
PUSAT KREATIVITAS PEMUDA DI KABUPATEN GRESIK
DENGAN TEMA ARSITEKTUR KONTEMPORER. Prosiding Seminar
Nasional Sains dan Teknologi Terapan, 9(1), 215–220.
Romansyah, H. (n.d.). Manajemen Pemeliharaan Macan Tutul Jawa (Panthera
pardus melas) di Taman Satwa [Link]. Retrieved May 31, 2022,
from
[Link]
Tutul_Jawa_Panthera_pardus_melas_di_Taman_Satwa_Cikembulan_pdf
252